Anda di halaman 1dari 5

DELAYED CEREBRAL INJURY

Cedera otak traumatis dapat menyebabkan cedera serius dan melemahkan, tetapi
seringkali gejalanya cukup halus sehingga tidak terdiagnosis dan tidak diobati. Cidera
otak yang tidak diobati dapat menyebabkan gangguan kepribadian, kerusakan otak
lebih lanjut, cacat seumur hidup dan bahkan kematian.

Setelah cedera otak, Anda harus mencari bantuan medis segera. Meskipun Anda
mungkin merasakan gejala langsung, itu adalah gejala tertunda seperti amnesia,
kelumpuhan, dan ketidakmampuan untuk berbicara atau berpikir jernih yang paling
harus Anda khawatirkan. Mungkin butuh berjam-jam atau berhari-hari sampai Anda
merasakan efek penuh dari cedera Anda.

Di bawah ini kita akan membahas dua jenis cedera otak traumatis — ringan dan
sedang / berat — dan gejala yang tertunda untuk dicari.

Gejala Tertunda untuk Cedera Otak Trauma Ringan


Cidera otak traumatis ringan (TBI), seperti gegar otak, biasanya terdiri atas kehilangan
kesadaran ringan (kurang dari 30 menit) atau tidak ada kehilangan kesadaran sama
sekali. Tergelincir dan jatuh di tempat kerja yang membuat Anda bingung dan bingung,
tetapi masih sadar, dapat diklasifikasikan sebagai TBI ringan. Gejala langsung meliputi
kebingungan, sakit kepala, mual, bicara cadel dan kantuk.

Gejala yang tertunda untuk cedera otak traumatis ringan meliputi:

 Kelelahan
 Depresi
 Insomnia
 Masalah memori
 Perubahan indera penciuman dan / atau rasa
 Perubahan suasana hati
 Hilang ingatan
 Sakit kepala
 Perhatian / konsentrasi buruk
 Pusing / kehilangan keseimbangan
 Sensitivitas cahaya
PERBEDAAN LESI FOSSA ANTERIOR DAN POSTERIOR

Fossa crania anterior menampung lobus frontal cerebri, dibatasi di anterior oleh permukaan
dalam os frontale, batas superior adalah ala minor ossis spenoidalis. Dasar fossa dibentuk oleh pars
orbitalis ossis frontale di lateral dan oleh lamina cribiformis os etmoidalis di. Permukaan atas
lamina cribiformis menyokong bulbus olfaktorius, dan lubung lubang halus pada lamini cribrosa
dilalui oleh nervus olfaktorius.
Pada fraktur fossa cranii anterior, lamina cribrosa os etmoidalis dapat cedera. Keadaan ini
dapat menyebabkan robeknya meningeal yang menutupi mukoperiostium. Pasien dapat
mengalami epistaksis dan terjadi rhinnore atau kebocoran CSF yang merembes ke dalam
hidung. Fraktur yang mengenai pars orbita os frontal mengakibatkan perdarahan subkonjungtiva
(raccoon eyes atau periorbital ekimosis) yang merupakan salah satu tanda klinis dari fraktur basis
cranii fossa anterior.

Fossa cranii posterior menampung otak otak belakang, yaitu cerebellum, pons dan medulla
oblongata. Di anterior fossa di batasi oleh pinggi superior pars petrosa os temporal dan di posterior
dibatasi oleh permukaan dalam pars squamosa os occipital. Dasar fossa cranii posterior dibentuk
oleh pars basilaris, condylaris, dan squamosa os occipital dan pars mastoiddeus os temporal. 1,2
Foramen magnum menempati daerah pusat dari dasar fossa dan dilalui oleh medulla oblongata
dengan meningens yang meliputinya, pars spinalis assendens n. accessories dan kedua
a.vertebralis. 2
Pada fraktur fossa cranii posterior darah dapat merembes ke tengkuk di bawah otot otot
postvertebralis. Beberapa hari kemudian, darah ditemukan dan muncul di otot otot trigonu
posterior, dekat prosesus mastoideus. Membrane mukosa atap nasofaring dapat robek, dan darah
mengalir keluar. Pada fraktur yang mengenai foramen jugularis n.IX, X dan XI dapat cedera.2
LESI BATANG OTAK
 Definisi :
Segala jenis lesi yang melibatkan batang otak. Bisa berupa gangguan vaskuler
(infark atau perdarahan), tumor, proses inflamasi dan degenerasi.

 Gejala Klinis :
Karena rapatnya struktur batang otak, suatu lesi hampir selalu menimbulkan
kerusakan sekaligus pada beberapa daerah sehingga lesi di batang otak
menimbulkan sindroma yang kha suntuk batang otak yaitu hemiplegia alternans,
dimana terjadi kelumpuhan ekstremitas pada sisi kontralateral tipe UMN dan
kelumpuhan nervus kraniales sisi ipsilateral tipe LMN.

Beberapa sindrom batang otak :

- Sindrom mesensefalon (sindrom Weber)


Hemiplegia alternans okulomotorius (didapatkan hemiplegia kontralateral
lesi dan parese nervus III ipsilateral)

- Sindrom Pons (sindrom Millard Gubler)


Hemiplegia alternans n.abdusens dan n.fasialis (didapatkan hemiplegia
kontralateral lesi dan parese n.VI dan n.VII tipe LMN)

- Sindrom Medula Oblongata


Hemiplegia alternans n.hipoglosus, hemiplegia alternans
.glossopharyngeus dan n.vagus (sindrom Wallenberg)

- Sindrom Benedict
Parese N.III ipsilateral, hemiparesis kontralateral, hiperkinesis kontralateral
dan ataxia.

- Sindrom Avellis
Paralisis palatum molle dan pita suara disertai hemianestesia kontralateral

- Sindrom Jackson
Sindrom Avellis disertai paralisis lidah ipsilateral
- Sindrom Claude
Parese N.III ipsilateral disertai ataxia cerebellum

- Sindrom Parinaud
Hilangnya tatapan vertikal, midriasis, hilangnya konvergensi , refleks
cahaya menghilang, retraksi kelopak mata dan nistragmus retraktorius

- Sindrom Top O Basillar


Sindrom Parinaud, parese N.III ipsilateral dan abulia inisiatif

- Sindrom Nothnagel
Parese N.III unilateral atau bilateral disertai ataxai cerebellar
PERBEDAANN SIRKULASI ANTERIOR DAN POSTERIOR
Tiga sirkulasi yang membentuk sirkulus willisi di otak. Ketiga sirkulasi tersebut adalah:
1. Sirkulasi anterior, terdiri dari middle cerebral artery (MCA), anterior cerebral artery
(ACA) dan arteri komunikans anterior yang menghubungkan kedua ACA
2. Sirkulasi posterior yang terdiri dari PCA
3. Arteri komunikans posterior yang menghubungkan MCA dengan PCA.
Kegunaan sirkulus willisi ini adalah untuk proteksi terjaminnya pasokan darah ke otak
apabila terjadi sumbatan di salah satu cabang. Misal bila terjadi sumbatan parsial pada
proksimal dari anterior cerebral artery kanan, maka arteri serebri kanan ini akan
menerima darah dari arteri karotis komunis lewat ACA kiri dan anterior communicating
artery (Modul Neurovaskular Perdossi, 2009).
Anterior cerebral artery memperdarahi daerah medial hemisfer serebri, lobus frontal
bagian superior dan lobus parietal bagian superior. Middle cerebral artery memperdarahi
daerah frontal inferior, parietal inferolateral dan lobus temporal bagian lateral. Posterior
cerebral artery memperdarahi lobus oksipital dan lobus temporal bagian medial. Batang
otak diperdarahi secara eksklusif dari sirkulasi posterior. Medula oblongata menerima
darah dari arteri vertebralis melalui arteri perforating medial dan lateral, sedangkan pons
dan midbrain (mesensefalon) menerima darah dari arteri basilaris lewat cabangnya yaitu
arteri perforating lateral dan medial. Serebelum mendapat darah dari tiga pembuluh
darah serebelar, yaitu:
1. posterior inferior cerebellar artery (PICA) yang merupakan akhir dari cabang arteri
vertebralis
2. anterior inferior cerebellar artery (AICA) yang merupakan cabang pertama dari arteri
basilaris
3. superior cerebellar artery (SCA) yang merupakan cabang akhir dari arteri basilaris.
Basal ganglia diperdarahi oleh arteri lentikulostriata kecil percabangan dari MCA,
talamus diperdarahi oleh arteri perforating thalamo geniculata yang merupakan cabang
dari PCA. Cabang intrakranial pertama dari ICA adalah arteri ophtalmika dan cabang
pertama dari arteri basilar adalah AICA