Anda di halaman 1dari 9

Laporan Pemicu 3 BLOK 15

Sakitnya Tuh Disini Dok…

Kelompok 6

DOSEN PEMBIMBING:
 Cut Nurlizadrg.,M.Kes., Sp.KG
 Irma Ervina drg., Sp,Perio (K)
 Nurdiana drg., Sp.PM

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI


UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2018
STRUKTUR KELOMPOK 6

Ketua : Riqky Makhpela Sitepu 160600202


Sekretaris : Luthfi Ramadhana 160600194
Anggota : Aldyta Emirsyal Rianto Chan 160600184
Metta Winni 160600185
Difia Basri 160600186
Ruth Christine Paulina Tarigan 160600187
Dhea Chrisnadevi Sari Br Hutabarat 160600188
Frisca Charoline Miranda Ginting 160600189
Dea Sabrina Putri 160600190
Kristanto 160600191
Reza Dimansyah Azis Montahir 160600192
Vina Tri Larissa 160600193
Haliza Nanda Hasti 160600195
Hogla 160600196
Tiya Wira Agustini Lubis 160600197
Michael Dany 160600199
Putri Anisa BR PA 160600200
Nadya Nabilla 160600201
Jesica Dwiasta Octaria MP 160600203
Erika Monalisa 160600205
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kepada Tuhan yang Maha Esa karena atas rahmat dan
karunianya, kami dapat menyelesaikan makalah ini tepat pada waktunya. Makalah ini berisi
tentang laporan hasil diskusi yang berjudul “Sakitnya Tuh Disini Dok….”

Harapan kami, semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan dan pengalaman
bagi para pembaca. Untuk kedepannya, semoga kami dapat memperbaiki bentuk maupun
menambah isi makalah ini agar menjadi lebih baik.

Karena keterbatasan pengetahuan maupun pengalaman kami, kami yakin masih


banyak terdapat kekurangan di dalam makalah ini. Oleh karena itu, kami sangat
mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari pembaca demi kesempurnaan makalah
ini.

Medan, 20 September 2018

Tim Penulis
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Mempertahankan gigi selama mungkin di dalam rongga mulut merupakan


salah satu tujuan kesehatan gigi, khususnya di bidang ilmu konservasi gigi. Idealnya
gigi dalam keadaan utuh, vital dan berfungsi dengan baik, tetapi selama pemakaian
dapat terjadi kerusakan pada email dan dentin yang pada akhirnya melibatkan
jaringan pulpa. Kerusakan yang terjadi dapat berupa karies. Gigi yang sudah rusak
akibat karies dapat direstorasi kembali dengan bahan dan teknik tertentu sesuai
indikasi.

1.2 Deskripsi Topik

Seorang laki laki berusia 30 tahun datang ke RSGM USU dengan keluhan
ingin memperbaiki gigi belakang yang sakit ketika mengunyah dan sakit pada
gusinya. Dari anamnesis diketahui beberapa hari yang lalu gigi tersebut ditambal oleh
dokter gigi lain. Pemeriksaan objektif terlihat gigi 25 ada tumpatan yang kurang baik.
Pada gingiva dekat dengan gigi 25 terdapat ulser ± 5 mm, bentuk tidak beraturan,
berwarna putih kekuningan dikelilingi eritema difuse dan terasa sakit. Tes vitalitas
dengan EPT gigi 25 respon positif dan test perkusi gigi terasa sakit. Interpretasi
radiografi periapikal gigi 25 terlihat restorasi RK yang lama dengan gambaran
adaptasi yang tidak baik, radiopak mencapai daerah dentin belum mencapai pulpa dan
tidak ada kelainan jaringan periapeks.

1.3 Learning Issue

o Lesikaries :etiologi, pemeriksaandanperawatan 



o Penyakitmukosamulut :etiologi, pemeriksaandanperawatan 

o Sisaakar :etiologi, pemeriksaandanperawatan 

o Pemilihanbahanrestorasikedokterangigi 

o Prosedur perawatan periodontal
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Jelaskan diagnosis dari keluhan yang dirasakan pada pasien tersebut !
Pada Skenario, pasien datang dengan keluhan utama untuk memperbaiki
tambalan pada gigi 25 dan gigi terasa sakit dan nyeri.

a) Diagnosis Konservasi – Restorasi yang overhang

Restorasi gigi yang berlebih dan tidak sesuai dengan bentuk dan kontur gigi yang alami
disebut restorasi yang overhang. Restorasi yang tidak sesuai dengan pola oklusal akan
menimbulkan disharmoni dan mencederai jaringan pendukung gigi dan meyebabkan
rasa sakit. 5

Berdasarkan kasus, dari hasil pemeriksaan objektif , ditemukan adanya tumpatan yang
kurang baik pada gigi 25, dan hasil interpretasi radiologi gigi 25 juga terlihat adaptasi
restorasi RK yang digunakan tidak baik.

b) Diagnosis Penyakit Mulut - Ulser traumatik

Ulser traumatik mengakibatkan terjadinya kerusakan fisik pada mukosa oral


yang disebabkan oleh permukaan yang tajam di dalam mulut, seperti komponen gigi
tiruan, alat ortodontik, restorasi gigi, atau tonjol gigi yang berlebihan. Pada pasien
ulser yang terbentuk diakibatkan oleh kontur gigi yang direstorasi tidak sesuai dengan
oklusi pasien sehingga mengakibatkan cedera pada jaringan lunak di rongga mulutnya.
Diagnosis ulser traumatik ditegakkan dengan menyesuaikan gambaran klinis ulser
traumatik dengan ulser yang terdapat pada kasus. Ulser traumatik memiliki
karakteristik berupa ulser tunggal terlokalisir, dalam, serta outline yang tidak teratur.4
Selain itu, di dalam ulser traumatik juga ditandai dengan membran fibrin purulen
berwarna kekuningan yang disertai dengan timbulnya rasa nyeri. Menurut Neville tepi
ulkus traumatik ditandai dengan area berwarna kekuningan yang dikelilingi oleh
eritematous, namun pada beberapa kasus, tepi ulkus dapat berwarna putih karena
adanya hiperkeratosis. Karakteristik tersebut sesuai dengan gambaran klinis pada kasus
yaitu ulser dengan bentuk tidak beraturan, berwarna putih kekuningan, dikelilingi
eritema difuse dan terasa sakit.

c) Diagnosis Periodonsia - Trauma karena oklusi

Adanya trauma saat gigi beroklusi, secara berkesinambungan dapat menyebabkan


jaringan penyangga gigi rusak (jaringan periodontal). Trauma karena oklusi merupakan
salah satu bentuk rangsangan fisik yang datang menimpa jaringan periodontal dan
mampu merusak struktur jaringan periodontal. Penderita akan mengeluh gigi sakit saat
berkontak dengan antagonisnya (“..sakit ketika mengunyah”).

Glickman menggambarkan konsep trauma karena oklusi sebagai faktor yang


merusak keadaan jaringan periodontal, diantaranya :

(1) Trauma karena oklusi primer adalah lesi patologis disebabkan oleh gaya-gaya
kuat yang mengganggu jaringan penyangga gigi yang normal dan utuh.

(2) Trauma karena oklusi sekunder adalah lesi patologis disebabkan oleh gaya-gaya
kuat yang mengganggu jaringan penyangga gigi yang lemah dan sakit.

Jika disesuaikan dengan kasus, maka pasien mengalami Trauma oklusi primer
dikarenakan trauma yang ditimbulkan terjadi pada jaringan penyangga gigi yang
normal dan utuh, namun telah terjadi kerusakan berupa karies pada gigi tersebut.1,2,3

2.2 Jelaskan etiologi dari keluhan yang dirasakan pada pasien tersebut !
Etiologi dari keluhan yang dirasakan pasien berasal dari gigi 25 yang memiliki
tumpatan/restorasi yang tidak baik. Restorasi yang tidak sesuai dengan pola oklusal a
kan menimbulkan disharmoni (peningkatan tekanan oklusal) yang bisa mencederai jar
ingan periodontal pendukung dan menyebabkan rasa sakit ketika mengunyah.6
Kesalahan restorasi gigi terutama restorasi proksimal sering kali menyebabkan
inflamasi gusi, kerusakan periodontal, dan kehilangan tulang alveolar. Restorasi gigi
yang berlebih dan tidak sesuai dengan bentuk dan kontur gigi yang alami disebut resto
rasi yang overhang. Restorasi yang overhang dapat disebabkan oleh karena kesalahan
dalam preparasi, pemasangan matriks, pembentukan kontur gigi,pemolesan, dan opera
tor yang tidak kompeten misalnya dilakukan bukan oleh dokter gigi. Tepi restorasi pr
oksimal yang overhang merupakan tempat yang ideal untuk akumulasi plak dan perub
ahan keseimbangan ekologis pada daerah sulkus gusi tempat terjadi peningkatan juml
ah organisme penyebab penyakit periodontal. Meskipun demikian, apabila overhang d
ihilangkan, kontrol plak akan dapat dilakukan dengan lebih efektif, inflamasi gusi hila
ng, dan dukungan terhadap tulang alveolar akan meningkat.. Kebanyakan restorasi ov
erhang dapat diperbaiki dengan cara dibentuk ulang tanpa mengganti restorasi tersebu
t. Hal ini dipertimbangkan sebagai komponen standar perawatan nonbedah.7

2.3 Jelaskan akibat yang terjadi apabila tumpatan tersebut tidak diperbaiki !

Adapun kesalahan-kesalahan yang ditemukan pada tambalan dan resiko yang


ditimbulkan :
a. Restorasi yang tidak sesuai dengan pola oklusal akan menimbulkan disharmoni yang
bisa mencederai jaringan periodontal pendukung.

b. Lokasi tepi tambalan yang overhanging, tepi tambalan yang overhanging


menyebabkan keseimbangan ekologi bakteri berubah dan menghambat jalan atau
percapaian pembuangan akumulasi plak, sehingga berperan dalam terjadinya inflamasi
gingiva dan perusakan periodontal. Jika tidak secepatnya diperbaiki,pada sulkus
gingiva akan berkembang mikroorganisme anaerob gram (-) yang menjadi penyebab
penyakit periodontal. restorasi dengan kontur berlebih (overcontured) akan
mempermudah penumpukan plak dan mencegah mekanisme self-cleansing oleh
pipi,bibir dan lidah.

c. Kontur permukaan oklusan yang tidak baik ( restorasi yang tidak dipoles dengan
baik). Misalnya anatomi dari marginal ridge dan developmental groove yang tidak baik
menyebabkan plak mudah terbentuk dan tertahan, atau bolus makanan terarah
langsung ke proksimal sehingga mudah terjadi impkasi makann.selain itu juga akan
rentan terjadinya karies sekunder apabila didukung OH pasien yang buruk.Restorasi
yang tidak sesuai dengan pola oklusal akan menimbulkan disharmoni yang bisa
mencederai jaringan periodontal pendukung.

d. Embrassure interproksimal yang inadekuat akan mempermudah penumpukan iritan.


Jika tidak diperbaiki akan menimbulkan kelainan pada jaringan periodontal gigi.8
2.4 Jelaskan bagaimana ergonomi untuk perawatan gigi 25 tersebut untuk
menghindari rasa sakit pada sudut mulut !

* Posisikan pasien dipoisisikan di dental unit sehorizontal mungkin untuk memudahkan


pergerakan dokter gigi dalam melakukan tindakan pada pasien.
* Operator berada diposisi jam 10.30 membentuk sudut 45* terhadap bidang vertical
dan berada dikanan pasien. Operator harus dapat melihat RM sejelas mungkin untuk
mengetahui kedalaman ulser.
* Drg dapat menggunakan rubber dam untuk memungkinkan terisolasinya gigi dengan
sempurna & membantu gigi agar daerah kerja tidak mengenai ulser pada mukosa mulut
pasien tersebut rubber dam dapat menghindari terkenanya ulser dari instrument dental
saat drg memperbaiki tumpatan gigi pasien.
* Cara pemegangan instrument harus diperhatikan untuk mencegah terputarnya alat
secara tidak terkontrol yang beresiko dapat mengenai ulser pada sudut mulut pasien.
Instrumen dipegang dengan modified pen grasp untuk mendapat efek tripoid agar
instrument dental dapat terkontro.
* Drg dapat melakukan tumpuan jari dari arah permukaan gigi yang bersebrangan
untuk mencegah tersentuhnya ulser atau dari arah berlawanan.

2.5 Jelaskan bagaimana prosedur penumpatan yang tepat pada kasus


tersebut untuk 
menghindari tumpatan yang tidak baik ! 


1. Preparasi Kavitas : Mengangkat karies / restorasi lama, serta struktur yang rapuh
dengan prinsip minimal intervention.

2. Pemasangan matriks dan wedge


* Matriks : meningkatkan adaptasi restorasi ke margin gingiva dan membentuk
kontur proksimal. Pada kasus gigi 25, maka digunakan matriks transparan
yang precontoured / sectional matriks.
* Wedge : mendapatkan kontak yang baik, melindungi jaringan gingiva
interproksimal, memperbaiki bentuk, kontur dan ruang embrassur.

3. Aplikasikan etsa dan bonding.


4. Aplikasikan resin komposit layer by layer dengan pemilihan warna sesuai mode
guide .
* Tumpatan yang efektif bergantung pada, kontrol shrinkage, dan full cure
dari kedalaman resin.
* Penumpatan secara Incremental ( sedikit demi sedikit ) tidak sampai 2 mm.
* Penyinaran light cured.

5. Contouring : dapat dilakukan setelah penyinaran.

6. Polisnhing : - Menggunakan Enhance (disc, cup, dan point).


- Dilanjutkan menggunakan metal strips, dan brush yang halus.


2.6 Jelaskan pertimbangan dalam pemilihan matrix yang tepat pada kasus
tersebut !

 Matrix Band Retainer : Untuk membangun kembali dinding