Anda di halaman 1dari 16

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Asuhan Kesehatan Gigi dan Mulut

1. Pengertian Asuhan Kesehatan Gigi dan Mulut

Asuhan Kesehatan Gigi dan Mulut adalah pelayanan asuhan yang

terencana, diikuti dalam kurun waktu tertentu secara berkesinambungan di

bidang promotif, preventif, dan kuratif sederhana untuk meningkatkan derajat

kesehatan gigi dan mulut yang optimal pada individu, kelompok, dan

masyarakat. (Permenkes No.20 Pasal 1 ayat 2 Tahun 2016)

2. Proses Asuhan Kesehatan Gigi dan Mulut

Proses asuhan kesehatan gigi meliputi enam kegiatan yaitu

pengkajian, diagnosis kesehatan gigi, perencanaan, implementasi,

evaluasi, dan dokumentasi. Ke-enam proses tersebut saling

berkesinambungan dalam rangka perawatan kesehatan gigi secara

holistik (perawatan hingga tuntas). Tujuannya untuk:

a. Menyediakan kerangka kinerja dalam rangka memenuhi kebutuhan

pasien dalam perawatan gigi dan mulut.

b. Mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi atau

menyebabkan masalah kesehatan gigi dan mulut yang dapat

6
7

dikurangi, dihilangkan dan atau dicegah oleh perawat gigi (Wilkins

2005).

Proses Asuhan Kesehatan Gigi dan Mulut menurut Darby and

Walsh (2015) , yaitu:

a. Pengkajian

Pengkajian adalah seni mengumpulkan dan menganalisis data-data

subyektif maupun obyektif dari klien dan mengarahkan penilaian kepada

kebutuhan manusia dari klien dan hal-hal yang dapat menghalangi

pemenuhan kebutuhan tersebut yang berhubungan dengan asuhan

kesehatan gigi.

Pengkajian klien meliputi pemeriksaan kesehatan secara menyeluruh,

data pribadi, riwayat sosioetnokultural, pemeriksaan intra oral dan extra

oral, analisis serta pengambilan keputusan berdasarkan hal-hal yang

ditemukan selama pemeriksaan.

b. Diagnosa Keperawatan Gigi

Diagnosa adalah kesimpulan dari pengkajian dan fokus kepada

kebutuhan-kebutuhan manusia yag dapat dipenuhi melalui pelayanan

asuhan keperawatan gigi. Diagnosa keperawatan gigi harus diprioritaskan

untuk mengarahkan tindakan kesehatan gigi selanjutnya.

Ketika diagnosa keperawatan gigi telah valid, maka hal tersebut

merupakan faktor utama yang dapat membantu klien untuk mencapai


8

pemenuhan kebutuhannya untuk mencapai kondisi yang baik pada

mulutnya melalui intervensi (tindakan) keperawatan gigi yang layak.

c. Perencanaan

Perencanaan adalah tindakan penentuan tipe-tipe intervensi kesehatan

gigi yang dapat dilaksanakan (diimplementasikan) untuk mengatasi

masalah klien dan membantu klien mencapai pemenuhan kebutuhan yang

berhubungan dengan kesehatan gigi dan mulut.

d. Implementasi

Implementasi adalah pelaksanaan perencanaan kesehatan gigi yang

telah dirancang dengan khusus untuk memenuhi kebutuhan klien yang

berhubungan dengan kesehatan gigi dan mulut. Implementasi termasuk

tindakan yang dilaksanakan oleh perawat gigi, klien atau direncanakan

lain dalam rangka mencapai tujuan klien, setiap tindakan ditampilkan

(dilaksanakan) dan hasilnya dicatat dalam catatan klien (medical record).

e. Evaluasi

Evaluasi adalah membandingkan data klien setelah selesai perawatan

dengan data yang telah dikumpulkan pada waktu pengkajian awal, untuk

menentukan ada atau tidaknya kemajuan (perubahan) dari klien, atau

tercapai tidaknya tujuan perawatan. Fase evaluasi harus menghasilkan

informasi tentang tujuan klien yang telah dicapai atau perlu diperbaiki.
9

f. Dokumentasi

Dokumentasi adalah rekaman lengkap dan akurat dari semua data yang

dikumpulkan, perawatan yang direncanakan dan disediakan, rekomendasi,

dan informasi lain yang relevan dengan perawatan klien. Dental Hygienist

mendokumentasikan semua komponen lain dari proses perawatan

kesehatan gigi (yaitu, pengkajian, diagnosis kesehatan gigi dan mulut,

perencanaan, implementasi, dan evaluasi). Dokumentasi ini melibatkan

rekaman objektif dan akurat, ringkas, dan dapat dibaca dari semua

informasi dan interaksi antara klien dan Dental Hygienist (yaitu, panggilan

telepon, keadaan darurat, resep, termasuk tanggal dan tanda tangan) untuk

memastikan bahwa penyedia selanjutnya dapat memahami semua

informasi klinis yang relevan pada catatan klien.

B. Kebiasaan Buruk

Kebiasaan menjadi faktor penting penyebab dan berkembangnya penyakit

periodontal.Sering kali, kebiasaan dilakukan tanpa disadari yang ternyata dapat

merusak atau membahayakan bagian rongga mulutnya. Kebiasaan dalam rongga

mulut dapat berpengaruh kepada jaringan keras (gigi, tulang alveolar), jaringan

pendukung gigi (gingival, ligamentum periodontal) maupun mukosa mulut

lainnya (lidah, bibir, pipi, palatum, dan lain-lain). (Putri, 2010)

Kebiasaan yang secara signifikan dapat menyebabkan penyakit periodontal,

diklasifikasikan oleh Sorrin sebagai berikut:


10

1. Kebiasaan akibat neurosis atau stress emosional, seperti menggigit bibir,

menggigit pipi, yang dapat mengarah menjadi posisi mandibula yang

ekstrafungsi; menggigit-gigit tusuk gigi diantara gigi, mendorongkan lidah,

menggigit-gigit kuku, menggigit-gigit pinsil, dan kebiasaan parafungsional,

seperti brukisme, clenching, dan lain-lain.

2. Kebiasaan akibat pekerjaanya (occupational habits), seperti menggigit atau

menahan paku di mulut seperti yang dilakukan oleh tukang sepatu, tukang

kayu, tukang meubel, dan sebagainya., pemangkas rambut yang membuka

jepit rambut dengan giginya.

3. Kebiasaan lainnya, seperti merokok, mengunyah sirih atau tembakau,

menyikat gigi yang terlalu keras dalam arah vertikal maupun horizontal,

bernapas melalui mulut, mengunyah satu sisi rahang, minum susu dalam botol

yang dibawa tidur, memakai perhiasan atau aksesoris yang ditusukan pada

bibir, lidah, menghisap jari, dan sebagainya.

C. Abrasi Gigi

1. Pengertian Abrasi Gigi

Abrasi adalah keausan pada bagian servikal gigi karena trauma

mekanis, seperti menggosok gigi, kebiasaan tertentu, pekerjaan, atau ritual

tetapi bukan karena proses pengunyahan. Gigi yang mengalami Abrasi

tampak aus pada permukaan Email sampai ke Dentin, dibatasi oleh daerah

yang tajam dengan permukaan licin dan mengkilap. (Usri, dkk, 2012)
11

2. Etiologi Abrasi Gigi

Menurut Mozartha (2007) penyebab abrasi gigi adalah disebabkan

gaya friksi (gesekan) langsung antara gigi dan objek eksternal, atau gaya

friksi antara bagian gigi yang berkontak dengan benda abrasi. Kebanyakan

keausan merupakan bentuk baji pada email atau dentin akar gigi (Houwink

et al, 1993). Beberapa penyebabnya adalah:

a. Terlalu kuat menekan dengan sikat gigi

b. Gerakan agresif pada waktu menyikat gigi

c. Terlalu lama menyikat gigi

d. Terlalu sering menyikat gigi

e. Menyikat gigi terlalu keras

3. Gambaran Klinis Abrasi Gigi

Menurut Mozartha (2007) akibat dari abrasi adalah gigi menjadi

hipersensitifitas di daerah tersebut, akan terasa sakit atau linu bila terkena

minuman dingin atau bila ada hembusan angin. Secara klinis dapat dilihat

seperti membentuk irisan atau parit berbentuk ‘V’ pada daerah cervical gigi.

Daerah yang mengalami abrasi biasanya mengkilat atau licin dan berwarna

kuning (karena dentin yang terbuka), dentin biasanya keras dan tidak ada

karies, dengan sedikit akumulasi plak dan tepi gingiva sehat. (Kalangie,

Gunawan, Anindita, 2016)


12

4. Pencegahan Abrasi Gigi

Pencegahan abrasi gigi menurut (Andlaw and Rock, 1992citKhotimah,

2017) dapat dilakukan dengan berbagai cara, diantaranya adalah:

a. Dengan memberikan penyuluhan tentang kesehatan gigi dan mulut

Memberikan penyuluhan tentang kesehatan gigi dan mulut terhadap

klien bertujuan untuk memberikan informasi yang jelas terhadap klien

agar menjadi tahu akan pentingnya memelihara kesehatan gigi dan mulut,

misalnya dengan menjaga pola makan dengan mengkonsumsi makan-

makanan yang sehat (bernilai gizi baik). Selain itu klien juga diberi tahu

untuk menghindari mengkonsumsi makanan yang dapat merusak gigi

yaitu makanan manis dan lengket seperti permen, coklat, dodol, dan

sebagainya. Lalu klien juga diberi penyuluhan tentang bagaimana cara

merawat kebersihan gigi dan mulut serta bagaimana cara menyikat gigi

yang baik dan benar, dan menghentikan kebiasaan buruk seperti menyikat

gigi terlalu keras secara horizontal maupun vertikal.

b. Memberikan petunjuk atau teknik cara menyikat gigi yang benar

Menyikat gigi dilakukan untuk membersihkan gigi dari sisa makanan

yang menempel pada gigi, dan merupakan tindakan preventif dalam

menuju keberhasilan dan kesehatan rongga mulut yang optimal. Oleh

karena itu, teknik menyikat gigi harus dimengerti dan dilaksanakan secara

aktif dan teratur.


13

c. Memberikan bahan Topikal Aplikasi Fluor (TAF)

Pemberian Topikal Aplikasi Fluor bertujuan untuk memberikan

ketahanan terhadap gigi dengan cara melapisi gigi yaitu mengulaskan gel

dengan kapas kecil atau cotton pellet yang dijepit dengan pinset, oleskan

pada semua permukaan interproksimal dari bukal dan lingual. Jaga agar

kapas tidak mengenai saliva. Biarkan gigi tertutup gel selama 1 menit dari

setiap regio. Aplikasi selama 4 menit merupakan tindakan standar (Putri,

2010). Setelah aplikasi, pasien diinstruksikan untuk tidak makan dan

minum selama 30 menit (Usri, dkk. 2012)

d. Memberikan instruksi untuk mengurangi resiko abrasi gigi

Menggunakan sikat gigi yang seratnya lembut, menyikat gigi dengan

cara yang baik dan benar tidak melukai jaringan lunak maupun jaringan

keras gigi, menggunakan pasta gigi untuk gigi sensitif, frekuensi menyikat

gigi dilakukan minimal 2 kali sehari, jangan langsung menyikat gigi

setelah makan/minum yang bersifat asam, karena gigi akan mudah terkikis

sesudahnya. Lebih baik sebelumnya berkumur-kumur terlebih dahulu,

melakukan pemeriksaan teratur/konsultasi ke dokter gigi, dan

mengkonsumsi makanan atau minuman yang baik untuk gigi (Hernawati,

2010).

5. Perawatan Abrasi Gigi

Ada penelitian mengatakan, perawatan abrasi gigi tergantung dari tingkat

keparahan kerusakan giginya: (Bhumi, 2012cit Khotimah Khusnul)


14

a. Tidak semua keadaan abrasi membutuhkan perawatan, bila jaringan gigi

yang hilang masih sangat sedikit namun terasa keluhan seperti linu atau

sensitive dokter gigi akan memberikan fluor yang dapat digunakan sendiri

oleh klien di rumah, bias dalam bentuk gel atau obat kumur juga fluor

yang dioleskan langsung pada gigi oleh dokter gigi.

b. Jika kerusakan gigi sudah melibatkan permukaan yang lebih dalam (gigi

sudah kehilangan semua email dengan dentin terbuka). Hal pertama yang

perlu dilakukan adalah menghilangkan faktor yang menjadi penyebab

gigi abrasi dan sebaiknya dilakukan penambalan gigi yang bertujuan

untuk menghilangkan atau mengurangi dari rasa linu.

c. Kerusakan gigi yang masih ringan cukup dengan menghilangkan faktor

atau mengubah kebiasaan yang menjadi penyebab gigi abrasi. Pemilihan

pasta gigi yang tepat juga dapat memberikan dampak yang signifikan

terhadap berkurangnya rasa linu pada gigi.

D. Menyikat Gigi

1. Pengertian Menyikat Gigi

Menurut Darmawan (2007) menyikat gigi adalah bentuk penyingkiran

plak secara mekanis. Menyikat gigi akan memberikan tampilan gigi yang

lebih baik dari segi estetika, karena setiap hari gigi menampung sisa-sisa

makanan yang harus dienyahkan pada hari itu juga, yang bertujuan untuk

mencegah terjadinya penyakit pada jaringan keras maupun jaringan lunak.

(Putri, 2010)
15

2. Alat dan Bahan Menyikat Gigi

a. Sikat Gigi

Sikat gigi merupakan salah satu alat fisioterapi oral yang digunakan

secara luas untuk membersihkan gigi dan mulut. Sikat gigi banyak

ditemukan dengan berbagai macam, baik itu manual maupun elektrik

dengan berbagai ukuran dan bentuk. Selain itu, banyak berbagai macam

bulu sikat yang sering ditemukan berbeda-beda dari mulai dari

bahan,tekstur,panjang, dan kepadatan bulu sikat. (Putri, 2010). Adapun

karakteristik sikat gigi yang efektif yang perlu diperhatikan, yaitu:

1) Kenyamanan bagi setiap individu meliputi ukuran, bentuk, berat dan

tekstur sikat gigi. (Darby, Walsh, 2009)

2) Mudah digunakan.

3) Mudah dibersihkan dan cepat kering sehingga tidak lembab.

4) Awet dan tidak mahal.

5) Bulu sikat lembut tetapi cukup kuat dan tangkainya ringan.

6) Ujung bulu sikat membulat.

b. Pasta Gigi

Pasta gigi merupakan bahan yang biasa digunakan dengan sikat gigi

yang bertujuan untuk membersihkan dan menghaluskan permukaan gigi-

geligi, serta memberikan rasa nyaman dalam rongga mulut, karena aroma

yang terkandung di dalam pasta tersebut nyaman dan menyegarkan.


16

Pasta gigi biasanya mengandung bahan-bahan abrasif, pembersih,

bahan penambah rasa dan warna, serta pemanis, selain itu dapat juga

ditambahkan bahan pengikat, pelembab, pengawet, fluor, dan air. Pasta

gigi yang mengandung bahan abrasif dapat membantu membersihkan dan

memoles permukaan gigi tanpa merusak email, mempertahankan

ketebalan pelikel, dan mencegah pertumbuhan stain. (Putri, 2010)

3. Frekuensi dan Durasi Menyikat Gigi

Menurut Putri (2010) frekuensi penyikatan gigi sebaiknya 3 kali

sehari, setiap kali sesudah makan, dan sebelum tidur. Namun dalam

praktiknya hal tersebut tidak selalu dapat dilakukan, terutama pada siang hari

ketika seseorang berada di kantor, sekolah atau ditempat lain. Pada penelitian

Manson (1971) berpendapat bahwa penyikatan gigi sebaiknya dua kali sehari,

yaitu setiap kali setelah makan pagi dan sebelum tidur.

Durasi menyikat gigi menurut Darby (2009) dalam sebuah penelitian

disarankan selama 2 menit, tetapi ketika waktu menyikat gigi meningkat

hasilnya pun akan meningkat. Lamanya penyikatan gigi yang dianjurkan

adalah 5 menit, tetapi sesungguhnya itu terlalu lama. Umumnya orang

melakukan penyikatan gigi maksimum 2 menit. Cara penyikatan gigi harus

sistematis supaya tidak ada permukaan gigi yang terlewat. (Putri, 2010)

4. Teknik Menyikat Gigi

Menurut Putri (2010) digolongkan ke dalam enam golongan yaitu:

a. Teknik Vertikal
17

Teknik vertikal dilakukan dengan kedua rahang tertutup, kemudian

permukaan bukal gigi disikat dengan gerakan ke atas dan ke bawah.

Untuk permukaan lingual dan palatinal dilakukan gerakan yang sama

dengan mulut terbuka.

b. Teknik Horizontal

Penyikatan menggunakan teknik horizontal yaitu penyikatan pada

permukaan bukal dan lingual dengan gerakan ke depan dan ke belakang.

Untuk permukaan oklusal gerakan horizontal yang sering disebut “scrub

brush technic” dapat dilakukan dan terbukti merupakan cara yang sesuai

dengan bentuk anatomis permukaan oklusal. Kebanyakan orang yang

yang belum diberi pendidikan khusus, biasanya menyikat gigi dengan

teknik vertikal dan horizontal dengan tekanan yang keras. Kedua cara

tersebut tidak baik karena dapt menyebabkan resesi gusi dan abrasi gigi.

c. Teknik Roll atau Modifikasi Stillman

Teknik ini disebut “ADA-roll Technic” dan merupakan cara yang

paling sering digunakan di seluruh bagian mulut. Bulu-bulu sikat

ditempatkan pada gusi sejauh mungkin dari permukaan oklusal dengan

ujung-ujung bulu sikat mengarah ke apeks (akar gigi) dan sisi bulu sikat

digerakan perlahan-lahan melalui permukaan gigi sehingga bagian

belakang dari kepala sikat bergerak dengan lengkungan. Pada waktu

bulu-bulu sikat melalui mahkota klinis, kedudukannya hampir tegak lurus


18

permukaan email. Cara ini terutama sekali bertujuan untuk pemijatan gusi

dan dapat membersihkan sisa makanan dari daerah interproksimal.

d. Vibratory Technic

1) Teknik Charter

Bulu sikat dihadapkan ke mahkota gigi, sikat ditempatkan di

permukaan gigi membentuk sudut 45° terhadap sumbu panjang gigi

mengarah ke oklusal. Kemudian sikat ditekan sedemikian rupa

sehingga ujung-ujung bulu sikat masuk ke interproksimal dan sisi-sisi

bulu sikat menekan tepi gusi. Sikat digetarkan dalam lengkungan-

lengkungan kecil sehingga kepala sikat bergerak secara sirkuler, tetapi

ujung-ujung bulu sikat harus tetap di tempat semula. Setiap kali dapat

dibersihkan dua tau tiga gigi. Setelah tiga atau empat lingkaran kecil,

sikat diangkat, lalu ditempatkan lagi pada posisi yang sama, untuk

setiap daerah dilakukan tiga sampai empat kali. Pada teknik ini tidak

dilakukan gerakan oklusal maupun apikal. Jadi, ujung bulu sikat hanya

akan melepaskan debris dari permukan gigi dan sisibulu sikat memijat

tepi gusi dan gusi interdental.

Permukaan oklusal disikat dengan gerakan yang sama, hanya

saja ujung bulu sikat ditekan ke dalam ceruk dan fisura. Permukaan

lingual dan palatinal umumnya sukar dibersihkan karena bentuk

lengkungan dari barisan gigi. Biasanya kepala sikat tidak dipegang


19

secara horizontal, jadi hanya bulu-bulu sikat pada bagian ujung dari

kepala sikat yang dapat digunakan.

2) Teknik Stilllman-McCall

Sikat gigi ditempatkan sebagian pada gigi dan sebagian pada

gusi, membentuk sudut 45° terhadap sumbu panjang gigi mengarah ke

apikal. Kemudian sikat gigi ditekankan sehingga gusi memucat dan

dilakukan gerakan rotasi kecil tanpa mengubah kedudukan ujung bulu

sikat. Penekanan dilakukan dengan cara sedikit menekuk bulu-bulu

sikat tanpa menimbulkan trauma pada gusi. Bulu-bulu sikat dapat

ditekuk ketiga arah, tetapi ujung-ujung bulu sikat harus pada

tempatnya.

3) Teknik Bass

Sikat ditempatkan dengan sudut 45° terhadap sumbu panjang

gigi mengarah ke apikal dengan ujung-ujung bulu sikat pada tepi gusi.

Dengan demikian, saku gusi dapat dibersihkan dan tepi gusi dapat

dipijat. Sikat digerakkan dengan getaran-getaran kecil ke depan dan ke

belakang selama kurang lebih 10-15 detik ke setiap daerah yang

meliputi dua atau tiga gigi. Untuk menyikat permukaan bukal dan

labial, tangkai dipegang dalam kedudukan horizontal dan sejajar

dengan lengkung gigi. Untuk permukaan lingual dan palatinal gigi

belakang agak menyudut (agak horizontal) dan pada gigi depan, sikat
20

dipegang vertikal. Teknik bass di indikasikan untuk menjaga

kesehatan periodontal dan perawatan periodontal (Darby, 2009)

e. Teknik Fones atau Teknik Sirkuler

Bulu-bulu sikat ditempatkan tegak lurus pada permukaan bukal dan

labial dengan gigi dalam keadaan oklusi.Sikat digerakan dalam

lingkaran-lingkaran besar sehingga gigi dan gusi rahang atas dan rahang

bawah disikat sekaligus. Daerah interproksimal tidak diberi perhatian

khusus. Setelah semua permukaan bukal dan labial disikat, mulut dibuka

lalu permukaan lingual dan palatinal disikat dengan gerakan yang sama,

hanya dalam lingkaran-lingkaran yang lebih kecil. Karena cara ini agak

sukar dilakukan di lingual dan palatinal, dapat dilakukan gerakan maju-

mundur untuk daerah ini. Teknik ini dianjurkan untuk anak kecil karena

mudah dilakukan.

f. Teknik Fisiologik

Tangkai sikat gigi dipegang secara horizontal dengan bulu-bulu sikat

tegak lurus terhadap permukaan gigi. Metode ini didasarkan atas

anggapan bahwa penyikatan gigi harus menyerupai jalannya makanan,

yaitu dari mahkota ke arah gusi. Setiap kali dilakukan beberapa kali

gerakan sebelum berpindah ke daerah selanjutnya. Teknik ini sukar

dilakukan pada permukaan lingual dari premolar dan molar rahang bawah

sehingga dapat diganti dengan gerakan getaran dalam lingkaran kecil.


21

Menurut Putri (2010) dalam teknik penyikatan gigi harus diperhatikan

hal-hal berikut:

1) Teknik penyikatan gigi harus dapat membersihkan semua permukaan

gigi dan gusi secara efisien terutama daerah saku gusi dan daerah

interdental.

2) Pergerakan sikat gigi tidak boleh menyebabkan kerusakan jaringan gusi

atau abrasi gigi.

3) Teknik penyikatan harus sederhana, tepat, dan efisien waktu.