Anda di halaman 1dari 18

PENGARUH PENDIDIKAN PANCASILA DI PERGURUAN TINGGI

Disusun Oleh :

Nama : Irene Viandari Narandini

NIM : 20180043281

Dosen Pembimbing : I Gusti Bagus Wirya Agung, S.Psi.,M.B.A

FAKULTAS EKONOMI MANAJEMEN

UNIVERSITAS NGURAH RAI DENPASAR

2018

i
LEMBAR PENGESAHAN

Profil identitas mahasiswa tertera di bawah ini:

Nama : Irene Viandari Narandini

NIM : 20180043281
Fakultas/Prodi : EKONOMI MANAJEMEN
Sehubungan tugas pada mata kuliah Pendidikan Pancasila/Kewarganegaraan,
kami menugaskan mahasiswa untuk dharma wisata ke Museum Bali dan Yayasan
Sosial. Harapan kami, mahasiswa dapat belajar menjalin perikatan historia
peradaban tempat dimana mengeyam ilmu sekaligus menanamkan jiwa filantropi
pada anak didik kami.

Mohon Bapak/Ibu memberikan arahan dan membubuhkan paraf bahwa yang


bersangkutan memang benar turut serta hadir di tempat. Atas kerjasama yang
baik, kami sampaikan terimakasih.

Denpasar, 27 Oktober 2018


Hormat Kami, Yth. Bapak/Ibu Yth. Bapak/Ibu

IGB. Wirya Agung ----------------------- --------------------


Pembimbing Kuliah Museum Bali Panti
Foto 1 Foto 2

ii
KATA PENGANTAR

Puji syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmat-Nya sehingga
makalah ini dapat tersusun hingga selesai. Makalah ini disusun untuk memenuhi
tugas pada mata kuliah Pendidikan Pancasila. Tidak lupa kami juga mengucapkan
banyak terima kasih kepada pihak yang telah mendukung kami selama
penyusunan makalah ini.

Dalam makalah ini, kami akan membahas beberapa materi mengenai Ketentuan
UU yang mengatur tentang Pendidikan Pancasila dan beberapa Fenomena Sosial
yang Menunjukkan Urgensi Penyelenggaran Mata Kuliah Pendidikan Pancasila di
Perguruan Tinggi.

Akhir kata, semoga makalah ini bermanfaat bagi para pembaca. Dan karena
keterbatasan pengetahuan maupun pengalaman kami, kami yakin masih banyak
kekurangan dalam makalah ini. Oleh karena itu, kami sangat mengharapkan saran
dan kritik yang membangun dari pembaca demi kesempurnaan makalah ini.

Denpasar, Oktober 2018

Penulis,

iii
DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN

KATA PENGANTAR

DAFTAR ISI

BAB I – PENDAHULUAN

a. Latar Belakang
b. Tujuan
c. Rumusan Masalah

BAB II – LANDASAN TEORI

a. Pengertian Pendidikan Pancasila


b. Ketentuan UU Yang Megatur Tentang Pendidikan Pancasila Lengkap
dengan Bunyinya
c. Fenomena Sosial yang Menunjukan Urgensi Penyelenggaraan Mata
Kuliah Pendidikan Pancasila di Perguruan Tinggi

BAB III – PENUTUP

a. Kesimpulan
b. Saran
c. Daftar Pustaka
d. Lampiran

iv
BAB I

PENDAHULUAN

a. Latar Belakang
Sejarah telah mengungkapkan bahwa Pancasila adalah jiwa seluruh
rakyat Indonesia, yang memberi kekuatan hidup kepada bangsa Indonesia
serta membimbingnya dalam mengejar kehidupan lahir batin yang makin
baik, di dalam masyarakat Indonesia yang adil dan makmur.
Bahwasanya Pancasila yang telah diterima dan ditetapkan sebagai dasar
negara seperti tercantum dalam pembukaan UUD 1945 merupakan
kepribadian dan pandangan hidup bangsa, yang telah diuji kebenaran,
kemampuan dan kesaktiannya, sehingga tak ada satu kekuatan manapun
juga yang mampu memisahkan Pancasila dari kehidupan bangsa
Indonesia.
Menyadari bahwa untuk kelestarian kemampuan dan kesaktian
Pancasila itu, perlu diusahakan secara nyata dan terus menerus
penghayatan dan pengamalan nilai-nilai luhur yang terkandung di
dalamnya oleh setiap warga negara Indonesia, setiap penyelenggara negara
serta setiap lembaga kenegaraan dan lembaga kemasyarakatan, baik di
pusat maupun di daerah, sebagai upaya membentuk karakter bangsa dan
tidak menyimpang dari nilai-nilai pancasila.
Sebagai upaya membentuk karakter bangsa, tentu tidak terlepas dari
pendidikan karena pendidikan merupakan usaha mengembangkan potensi
dan kreativitas dirinya, yaitu nilai agama, kebudayaan nasional Indonesia.

Seperti yang diatur pada UU no 20 tahun 2013 tentang Sistem Pendidikan


Nasional : Bab 1 ayat (2)

1
‘’Pendidikan nasional adalah pendidikan yang berdasarkan Pancasila
dan Undang-Undang Dasar Negara Republik IndonesiaTahun 1945,
yang berakar pada nilai-nilai agam, kebudayaan nasional Indonesia
dan tanggap terhadap tuntunan perubahaan zaman’’.

Pancasila memiliki peranan yang sangat penting untuk membentuk


karakter bangsa Indonesia. Memlaui belajar Pancasila secara benar, maka
bangsa Indonesia akan tegar dala mwnghadapi tantangan sekaligus
menggapai peluang. Upaya untuk mengimplementasikan nilai-nilai luhur
Pancasila mengalami hambatan, terlebih setelah munculnya gerakan
reformasi 1998. Tidak ada keraguan lagi bahwa Pancasila adalah dasar
negara sekaligus pandangan hidup bangsa Indonesia. Mata kuliah
Pendidikan Pancasila merupakan mata kuliah yang termasuk dalam
kelompok Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian (MPK).

b. Rumusan Masalah
1. Pengertian Pendidikan Pancasila
2. Ketentuan UU Yang Megatur Tentang Pendidikan Pancasila Lengkap
dengan Bunyinya
3. Fenomena Sosial yang Menunjukan Urgensi Penyelenggaraan Mata
Kuliah Pendidikan Pancasila di Perguruan Tinggi

c. Tujuan
1. Memenuhi tugas mata kuliah Pendidikan Pancasila yang diberikan
oleh dosen.
2. Memahami ketentuan UU yang mengatur tentang Pendidikan Pancasila
lengkap dengan bunyinya.
4. Memahami dan mengetahui fenomena sosial apa saja yang
menunjukkan urgensi penyelenggaraan mata kuliah Pendidikan
Pancasila di Perguruan Tinggi.

2
5. Sebagai tolak ukur bagi dosen dan penilaian terhadap mahasiswa
dalam memahami ketentuan UU yang mengatur tentang Pendidikan
Pancasila dan fenomena sosial yang menunjukkan urgensi
penyelenggaraan mata kuliah Pendidikan Pancasila di Perguruan
Tinggi.
6. Sebagai sarana / wadah yang bermanfaat bagi penulis untuk dapat
memahami serta menambah pengetahuan tentang pentingnya
pendidikan Pancasila bagi generasi penerus bangsa di jaman sekarang
ini.

3
BAB II

PEMBAHASAN

a. Pengertian Pendidikan Pancasila


Pendidikan pancasila yang selama ini merupakan bagian penting
dari SISDIKNAS (Sistem Pendidikan Nasional) di Indonesia sebagai
bagian dari upaya mencerdaskan kehidupan bangsa.
Pengertian Pendidikan Pancasila , di dalam UU No. 20 tahun 2003 tentang
Sistem Pendidikan Nasional, tercantum pengertian pendidikan sebagai
berikut:
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana
belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif
mengembangkan pontensi dirinya sehingga memiliki kekuatan spiritual
keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta
keterampilan yang diperlukan oleh dirinya, masyarakat, bangsa dan negara
(Depdiknas, 2003: 20).
Dengan kata lain, yang dimaksud dengan pendidikan adalah proses
pengembangan potensi, kemampuan, dan kepribadian peserta didik yang
dilakukan dengan usaha sadar dan terencana dengan tujuan agar dapat
bermanfaat bagi dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.
Selanjutnya, pengertian pendidikan pancasila tentu akan merujuk pada
pengertian pendidikan dan pengertian pancasila sebagaimana yang
masing-masing telah diuraikan di atas. Dalam ungkapan sederhana,
pengertian pendidikan pancasila adalah “Pendidikan tentang Pancasila”.
Kalimat itulah yang dapat kami cerna sebagaimana dijelaskan dalam
sejumlah literatur.

Pendidikan tentang pancasila merupakan salah satu cara untuk


menanamkan pribadi yang bermoral dan berwawasan luas dalam

4
kehidupan berbangsa dan bernegara. Oleh karena itu, pendidikan tentang
pancasila perlu diberikan disetiap jenjang pendidikan mulai dari tingkat
dasar, menengah hingga perguruan tinggi.

Dalam Pendidikan dan Kehidupan bangsa Indonesia peran Pancasila


sangat dibutuhkan peran Pancasila didalamnya. Program Wajib Belajar
Sembilan Tahun merupakan satu-satunya program peningkatan pendidikan
yang masih bertahan sejak 1984 sampai saat ini, meski telah beberapa kali
kabinet dan presiden berganti. Kebijakan pendidikan di luar program wajib
belajar pada pendidikan dasar terus mengalami evolusi sesuai jargon
"ganti menteri berarti ganti kebijakan".Selain itu, kebijakan bidang
pendidikan lainnya di era Orde Baru yang wajib dilaksanakan, baik siswa
maupun masyarakat, adalah penataran Pedoman Penghayatan dan
Pengamalan Pancasila (P4) yang ditetapkan berdasarkan Tap MPR No II
Tahun 1978 dalam bentuk 36 butir Pancasila. Dengan tujuan mulia agar
nilai-nilai Pancasila yang luhur itu dapat diresapi, kemudian diamalkan,
maka setiap warga negara Indonesia harus mengikuti penataran P4. Dan di
sekolah, setiap siswa baru harus mengikuti penataran P4 selama satu atau
dua minggu.

Selain itu dalam kehidupan di Indonesia peran pancasila sangat


dibutuhkan, yaittu Pancasila sebagai dasar mempunyai arti bahwa
Pancasila dijadikan sebagai pedoman dan sekaligus landasan dalam
penyelenggaraan Negara. Fungsi ini telah diimplementasikan dalam UUD
1945 yang kemudian menjadi sumber tertib hukum di Indonesia. Dalam
struktur hukum di Indonesia, UUD 1945 menjadi hukum tertulis tertinggi,
yang menaungi peraturan perundang-undangan dibawahnya, seperti
undang-undang. Fungsi Pancasila dalam dalam tata hukum di Indonesia
menjadi sumber dari segala sumber tertib hukum. Nilai-nilai Pancasila
harus menjiwai dalam setiap peraturan perundang-undangan di Indonesia,
atau dengan kata lain peraturan perundang-undangan di Indonesia tidak
boleh bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila.

5
b. Ketentuan UU Yang Megatur Tentang Pendidikan Pancasila Lengkap
dengan Bunyinya

Maksud dari Pendidikan Pancasila ialah pendidikan yang seluruh


sumber, dasar, pemikiran, serta orientasinya berdasarkan Pancasila.
Sehingga makna utamanya ialah Pancasila dijadikan patokan dan tujuan
akhir dari proses pembelajaran yang ada.

Pendidikan Pancasila sendiri secara tidak langsung telah diatur dalam


Undang – Undang Republik Indonesia No. 20 Th 2003 Tentang Sistem
Pendidikan Nasional. Dalam Undang – Undang ini, tercantum pengertian
pendidikan sebagai berikut :

Pendidikan merupakan salah satu usaha yang dilakukan secara sadar dan
sistematis guna para generasi muda yang terdidik mampu melindungi
segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan
kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, melaksanakan
ketertiban dunia, meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan
Yang Maha Esa, berakhlak mulia, peningkatan kualitas SDM, serta
menghadapi tantangan sesuai tuntuan perubahan kehidupan lokal maupun
nasional.

Dalam pengertian diatas, maka dapat disimpulkan bahwa dalam


Undang – Undang Republik Indonesia No. 20 Th 2003 Tentang Sistem
Pendidikan Nasional telah mengatur tentang Pendidikan Pancasila.

Adapun manfaat – manfaat dengan diadakannya Pendidikan Pancasila,


diantaranya :

a. Para Generasi Muda menjadi generasi yang lebih religius karena


diajarkan tentang ke – Tuhanan Yang Maha Esa.
b. Terciptanya generasi muda yang bermoril dalam kehidupan sehari –
hari.

6
c. Persatuan dan Kesatuan bangsa yang semakin kuat karena para
generasi mudanya ditanami sifat – sifat Nasionalisme dan Patriotisme.
d. Sistem Demokrasi di Indonesia semakin berjaya dengan diadakannya
Pendidikan Pancasila.
e. Tujuan Utama bangsa yaitu Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat
Indonesia menjadi selangkah lebih mudah di raih karena para generasi
penerusnya dijadikan generasi yang berkualitas.

c. Fenomena Sosial yang Menunjukan Urgensi Penyelenggaraan Mata


Kuliah Pendidikan Pancasila di Perguruan Tinggi
1. Masalah Kesadaran Perpajakan

Kesadaran perpajakan menjadi permasalahan utama bangsa, karena


uang dari pajak menjadi tulang punggung pembiayaan pembangunan.
APBN 2016, sebesar 74,6 % penerimaan negara berasal dari pajak.
Masalah yang muncul adalah masih banyak Wajib Pajak Perorangan
maupun badan (lembaga/instansi/perusahaan/dan lain-lain) yang masih
belum sadar dalam memenuhi kewajiban perpajakan. Laporan yang
disampaikan masih belum sesuai dengan harta dan penghasilan yang
sebenarnya dimiliki, bahkan banyak kekayaannya yang disembunyikan.
Masih banyak warga negara yang belum terdaftar sebagai Wajib Pajak,
tidak membayar pajak tetapi ikut menikmati fasilitas yang disediakan oleh
pemerintah. Contohnya yaitu, Free rider yang menikmati manfaat
pembangunan tanpa berkontribusi melalui pajak. Hal ini diibaratkan
seperti penumpang kereta api yang tidak membeli tiket tetapi menikmati
manfaat transportasi tersebut.

2. Masalah Korupsi

Masalah korupsi sampai sekarang masih banyak terjadi, baik di pusat


maupun di daerah. Transparency Internasional (TI) merilis situasi korupsi

7
di 188 negara untuk tahun 2015. Berdasarkan data dari TI tersebut,
Indonesia masih menduduki peringkat 88 dalam urutan negara paling
korup di dunia. Contohnya yaitu, Unjuk rasa mahasiswa menentang
korupsi.

Hal tersebut menunjukkan bahwa masih ditemukan adanya perilaku


pejabat publik yang kurang sesuai dengan standar nilai/moral Pancasila.
Agar perilaku koruptif tersebut ke depan dapat makin direduksi, maka
mata kuliah pendidikan Pancasila perlu diintensifkan di perguruan tinggi.
Hal tersebut dikarenakan mahasiswa merupakan kelompok elit intelektual
generasi muda calon-calon pejabat publik di kemudian hari. Sebenarnya,
perilaku koruptif ini hanya dilakukan oleh segelintir pejabat publik saja.
Tetapi seperti kata peribahasa, karena nila setitik rusak susu sebelanga.
Hal inilah tantangan yang harus direspon bersama agar
prinsip good governance dapat terwujud dengan lebih baik di negara
Indonesia.

3. Masalah Lingkungan

Indonesia dikenal sebagai paru-paru dunia. Namun dewasa ini, citra


tersebut perlahan mulai luntur seiring dengan banyaknya kasus
pembakaran hutan, perambahan hutan menjadi lahan pertanian, dan yang
paling santer dibicarakan, yaitu beralihnya hutan Indonesia menjadi
perkebunan. Selain masalah hutan, masalah keseharian yang dihadapi
masyarakat Indonesia saat ini adalah sampah, pembangunan yang tidak
memperhatikan ANDAL dan AMDAL, polusi yang diakibatkan pabrik
dan kendaraan yang semakin banyak. Hal tersebut menunjukkan bahwa
kesadaran masyarakat terhadap kelestarian lingkungan masih perlu
ditingkatkan. Peningkatan kesadaran lingkungan tersebut juga merupakan
perhatian pendidikan Pancasila. Contohnya yaitu, Gunung Sampah di
Bantar Gebang.

8
4. Masalah Disintegrasi Bangsa

Demokratisasi mengalir dengan deras menyusul terjadinya reformasi di


Indonesia. Disamping menghasilkan perbaikan-perbaikan dalam tatanan
Negara Republik Indonesia, reformasi juga menghasilkan dampak negatif,
antara lain terkikisnya rasa kesatuan dan persatuan bangsa. Sebagai contoh
acapkali mengemuka dalam wacana publik bahwa ada segelintir elit politik
di daerah yang memiliki pemahaman yang sempit tentang otonomi daerah.
Mereka terkadang memahami otonomi daerah sebagai bentuk keleluasaan
pemerintah daerah untuk membentuk kerajaan-kerajaan kecil.
Implikasinya mereka menghendaki daerahnya diistimewakan dengan
berbagai alasan. Bukan itu saja, fenomena primordialisme pun terkadang
muncul dalam kehidupan masyarakat. Beberapa kali Anda menyaksikan di
berbagai media massa yang memberitakan elemen masyarakat tertentu
memaksakan kehendaknya dengan cara kekerasan kepada elemen
masyarakat lainnya. Berdasarkan laporan hasil survei Badan Pusat Statistik
di 181 Kabupaten/Kota, 34 Provinsi dengan melibatkan 12.056 responden
sebanyak 89,4 % menyatakan penyebab permasalahan dan konflik sosial
yang terjadi tersebut dikarenakan kurangnya pemahaman dan pengamalan
nilai-nilai Pancasila

5. Masalah Dekadensi Moral

Dewasa ini, fenomena materialisme, pragmatisme, dan hedonisme


makin menggejala dalam kehidupan bermasyarakat. Paham-paham
tersebut mengikis moralitas dan akhlak masyarakat, khususnya generasi
muda. Fenomena dekadensi moral tersebut terekspresikan dan
tersosialisasikan lewat tayangan berbagai media massa. Perhatikan
tontonan-tontonan yang disuguhkan dalam media siaran dewasa ini. Begitu
banyak tontonan yang bukan hanya mengajarkan kekerasan, melainkan
juga perilaku tidak bermoral seperti pengkhianatan dan perilaku pergaulan
bebas. Bahkan, perilaku kekerasan juga acapkali disuguhkan dalam

9
sinetron-sinetron yang notabene menjadi tontonan keluarga. Sungguh
ironis, tayangan yang memperlihatkan perilaku kurang terpuji justru
menjadi tontonan yang paling disenangi. Hasilnya sudah dapat ditebak,
perilaku menyimpang di kalangan remaja semakin meningkat.

6. Masalah Narkoba

Dilihat dari segi letak geografis, Indonesia merupakan negara yang


strategis. Namun, letak strategis tersebut tidak hanya memiliki dampak
positif, tetapi juga memiliki dampak negatif. Sebagai contoh, dampak
negatif dari letak geografis, dilihat dari kacamata bandar narkoba,
Indonesia strategis dalam hal pemasaran obat-obatan terlarang. Tidak
sedikit bandar narkoba warga negara asing yang tertangkap membawa zat
terlarang ke negeri ini. Namun sayangnya, sanksi yang diberikan terkesan
kurang tegas sehingga tidak menimbulkan efek jera. Akibatnya, banyak
generasi muda yang masa depannya suram karena kecanduan narkoba.
Berdasarkan data yang dirilis Kepolisian Republik Indonesia (POLRI)
tahun 2013, POLRI mengklaim telah menangani 32.470 kasus narkoba,
baik narkoba yang berjenis narkotika, narkoba berjenis psikotropika
maupun narkoba jenis bahan berbahaya lainnya. Angka ini meningkat
sebanyak 5.909 kasus dari tahun sebelumnya. Pasalnya, pada tahun 2012
lalu, kasus narkoba yang ditangani oleh POLRI hanya sebanyak 26.561
kasus narkoba

7. Masalah Penegakan Hukum yang Berkeadilan

Salah satu tujuan dari gerakan reformasi adalah mereformasi sistem


hukum dan sekaligus meningkatkan kualitas penegakan hukum. Memang
banyak faktor yang berpengaruh terhadap efektivitas penegakan hukum,
tetapi faktor dominan dalam penegakan hukum adalah faktor manusianya.
Konkretnya penegakan hukum ditentukan oleh kesadaran hukum
masyarakat dan profesionalitas aparatur penegak hukum. Inilah salah satu

10
urgensi mata kuliah pendidikan Pancasila, yaitu meningkatkan kesadaran
hukum para mahasiswa sebagai calon pemimpin bangsa.

8. Masalah Terorisme

Salah satu masalah besar yang dihadapi Indonesia saat ini adalah
terorisme. Asal mula dari kelompok terorisme itu sendiri tidak begitu jelas
di Indonesia. Namun, faktanya terdapat beberapa kelompok teroris yang
sudah ditangkap dan dipenjarakan berdasarkan hukum yang berlaku. Para
teroris tersebut melakukan kekerasan kepada orang lain dengan melawan
hukum dan mengatasnamakan agama. Mengapa mereka mudah
terpengaruh paham ekstrim tersebut? Sejumlah tokoh berasumsi bahwa
lahirnya terorisme disebabkan oleh himpitan ekonomi, rendahnya tingkat
pendidikan, pemahaman keagamaan yang kurang komprehensif terkadang
membuat mereka mudah dipengaruhi oleh keyakinan ekstrim tersebut.
Agama yang sejatinya menuntun manusia berperilaku santun dan penuh
kasih sayang, di tangan teroris, agama mengejawantah menjadi keyakinan
yang bengis tanpa belas kasihan terhadap sesama.

11
BAB III

PENUTUP

a. Kesimpulan
Setelah memahami pengertian dari Pendidikan Pancasila,
mengetahui Ketentuan UU Yang Megatur Tentang Pendidikan Pancasila,
dan dapat memahami Fenomena Sosial apa saja yang menunjukkan
Urgensi Penyelenggaraan Mata Kuliah Pendidikan Pancasila di Perguruan
Tinggi, diharapkan agar mahasiswa dapat mencerminkan / menerapkan
nilai – nilai Pancasila dalam kehidupan sehari – hari dalam masyarakat.
Diharapkan juga agar mahasiswa / generasi muda penerus bangsa dapat
berpikir kritis dan terbuka dalam menghadapi berbagai persoalan /
permasalahan yang ada di negeri ini. Dengan menjadikan nilai – nilai
dalam Pancasila itu sendiri sebagai pedoman kehidupan berbangsa dan
bernegara.

b. Saran
Dalam makalah ini, penulis ingin memberikan saran kepada
pembaca untuk memahami makna dari pentingnya Pendidikan Pancasila
itu sendiri. Pancasila sangat penting dijadikan sebagai pedoman hidup
berbangsa dan bernegara, terutama bagi kita semua generasi muda penerus
bangsa. Semoga dengan adanya makalah ini, para generasi muda dapat
mengamalkan nilai – nilai Pancasila dalam kehidupan sehari – hari.

12
DAFTAR PUSTAKA

Endang Poerwanti, dkk, 2002. Perkembangan Peserta Didik.Universitas


Muyhamadiyah Malang, MalangH.A.W Widjaja, 2002. Pedoman Pelaksanaan
Pendidikan Pancasila pada Perguruan Tinggi. Raja Grafindo Persada Kaelan, M.S,
2004. Pendidikan Pancasila ”Edisi Reformasi”. Paradigma, Yogyakarta.Kaelan,
M.S, 2002. Pendidikan Kewarganegaraan untuk Perguruan Tinggi. Paradigma,
Yogyakarta.Pamoe Rahardjo, dkk, 2002.Bung Karno dan Pancasila Menuju
Revolusi Nasional, Galang Printika, Yogyakarta.Mustafa Kamal Pasha, dkk,
2002. Pancasila dalam Tinjauan Historis, Yuridis dan Filosofis,.Kuasa Mandiri,
Yogyakarta Pandji Setijo, 2006. Pendidikan Pancasila Perspektif Sejarah
Perjuangan Bangsa dan Amandemen UUD 1945. Gramedia, Jakarta.Redja
Mudyaharjo, 2002. Filsafat ilmu Pendidikan Suatu Pengantar. PT Remaja
Rosdakarya, Bandung.

13
LAMPIRAN

14

Anda mungkin juga menyukai