Anda di halaman 1dari 19

LABORATORIUM PENGUKURAN HF

NOMOR PERCOBAAN : 02

JUDUL PERCOBAAN : Receive Signal Level Via Spectrum Analyzer


pada Kombinasi Antena OMNI dengan Antena
DIPOL

KELAS / GROUP : TT 5B / 1
NAMA : 1. Naufal Rachmadiantoro
2. Niken Pratiwi
3. Randiansah
4. Rury Eka Septiani
5. Salsabila Shofi
6. Shafarris Zidane S M
7. Vira Ulitama

TANGGAL PERCOBAAN : 10 Oktober 2019 dan 17 Oktober 2019


TGL. PENYERAHAN LAP : 24 Oktober 2019
NILAI :
DOSEN : Sukma W. ST

PROGRAM STUDI TEKNIK TELEKOMUNIKASI


JURUSAN TEKNIK ELEKTRO
POLITEKNIK NEGERI JAKARTA
2019
DAFTAR ISI

DAFTAR ISI ............................................................................................................ i

1 Tujuan ....................................................................................................... 1

2 Dasar Teori Percobaan ............................................................................. 1

3 Peralatan Yang Digunakan ....................................................................... 8

4 Langkah-Langkah Percobaan ................................................................... 9

5 Data Hasil Percobaan ............................................................................. 10

6 Analisa dan Pembahasan ........................................................................ 12

7 Kesimpulan ............................................................................................ 12

Lampiran ........................................................................................................... 13
PERCOBAAN 2
RECEIVE SIGNAL LEVEL VIA SPECTRUM ANALYZER
KONFIGURASI ANTENA OMNI VS ANTENA DIPOL

1. TUJUAN PERCOBAAN
Tujuan percobaan ini adalah :
 Mengenal teori tentang Receive Signal Level (RSL)
 Mampu membaca sinyal yang diterima melalui spectrum analyzer
 Menganalisa RSL dari konfigurasi antena omni dan antena dipole
 Mengetahui hal-hal yang mempengaruhi nilai RSL

2. DASAR TEORI PERCOBAAN


2.1. LOS (Line Of Sight)
Line Of Sight (LOS) merupakan jalur ruang bebas langsung yang berada
diantara dua titik.Dengan menggunakan gelombang radio di atas
frekuensi 1 GHz dan merupakan transmisi point to point.

Suatu sistem transmisi Radio Link dapat berupa sebuah hop dengan jarak
maksimum 50km atau sebuah backbone yang berupa multiplehop, dengan
jarak sampai ratusan atau ribuankilometer. Secara garis besar, tujuan
darisistem komunikasi radio link adalah untuk mentransmisikan informasi
dari satu tempat ketempat lain tanpa gangguan. Untuk mendapatkan hasil
yang baik, diperlukan suatu kondisi dimana antena pengirim dan
penerima dapat saling melihat tanpa ada halangan (LineOf Sight) dalam
batas-batas tertentu. Oleh karena itu propagasi yang digunakan adalah
line of sight.

1
2.2. Path Calculation Transmisi Radio Link
Path calculation Radio Link merupakan perhitungan daya pancar sinyal
dari pemancar sampai ke penerima, sehingga Informasi yang ada di dalam
sinyal tersebut dapat diterima dengan baik dengan adanya sinyal
gangguan (noise) dan pelemahan sinyal (absorbtion dan attenuation).
Parameter-parameter yang mempengaruhi kondisi propagasi suatu kanal
Radio Link adalah sebagai berikut:
2.2.1. Daya Pemancar ( Tx Power )
Semua radio akan mempunyai daya pancar tertentu. Daya pancar
ini menentukan energi yang ada sepanjang lebar bandwidth
tertentu. Biasanya di ukur dengan salah satuan berikut:
 dBm : daya relatif terhadap satu (1) milliwatt
 W : daya linier sebagai Watts
Hubungan antara dBm dan Watts dapat dihitung melalui
persamaan berikut:
Daya (dBm) = 10 x log[Daya (W) /0.001W]
Daya (W) = 0.001 x 10^[Daya (dBm) /10 dBm]
2.2.2. Penguatan Antena ( Gain )
Penguatan antenna adalah besarnya penguatan energi yang dapat
dilakukan oleh antena pada saat memancarkan dan menerima
sinyal.Gain antena parabolik sangat bervariasi tergantung dari
diameternya, kaitan antara besarnya gain dengan diameter parabola
dituliskan pada persamaan berikut ini:

𝑦2
𝑋=
4𝐹

2
4𝜋𝐷𝐹
𝐺=
𝜆2
Keterangan :
G = Gain (penguatan)
𝜋 = 3,14
D = Diameter (meter)
F = Fokus (meter)
𝜆= Panjang gelombang (meter)
Untuk menghitung panjang gelombang digunakan persamaan
berikut :
300
𝜆=
𝑓
𝜆 = panjang gelombang (meter)
f = frekuensi (MHz)
Untuk menentukan jarak titik fokus yaitu darititik nol ke f (dimana
driven antena diletakkan) ditentukan oleh persamaan berikut:

𝑄𝐷2
𝐹=√
16

F = jarak titik F dari titik nol (meter)


Q = faktor kualitas berkisar antara 2-4 (ambil2,6)
D = diameter parabola (meter)

2.2.3. Rugi-Rugi Propagasi


Perambatan gelombang radio di ruangbebas dari stasiun pemancar
ke stasiun penerima akan mengalami penyebaran energidi
sepanjang lintasannya, yang mengakibatkan kehilangan energi
yang disebut rugi (redaman)propagasi. Rugi propagasi adalah
akumulasidari redaman saluran transmisi, redaman ruang
bebas(free space loss), redaman oleh gas(atmosfer), dan redaman
hujan.

3
a. Redaman saluran transmisi
Redaman saluran transmisi ditentukanoleh loss feeder dan
branching. Redaman feeder terjadi karena hilangnya daya
sinyal sepanjang feeder, sehingga redaman feeder identik
dengan panjang dari feeder tersebut.Sedangkan redaman
branching terjadi pada percabangan antara perangkat transmisi
radioTx/Rx.
b. Redaman ruang bebas (free space loss)
Redaman ruang bebas merupakan redaman sinyal yang terjadi
akibat dari mediaudara yang dilalui oleh gelombang radio
antara pemancar dan penerima. Perambatan gelombang radio di
ruang bebas akan menghalangi penyebaran energi di sepanjang
lintasannya sehingga terjadi kehilangan energi. Untuk
mengetahui kondisi point to point dengan saluran transmisi,
maka perhitungan redaman ruang bebasnya menggunakan
rumus model propagasi umum (Free Space Loss)sebagai
berikut:
FSL (dB) = 20 log (d) + 20 log (f) + 92,44
Dimana:
f = frekuensi kerja (GHz)
d = panjang lintasan propagasi (Km)

2.2.4. Sensitivitas Penerima Radio


Rx adalah kependekan dari “Receive”atau penerima.Semua radio
mempunyai titik minimal, dimana jika sinyal yang diterima lebih
rendah dari titik minimal tersebut maka data yang dikirim tidak
dapat di terima.Titik minimal sensitifitas Rx didefinisikan dalam
dBm atau W.
Bagi sebagian besar radio, sensitifita sRx di definisikan sebagai
level dari Bit ErrorRate (BER). Biasanya digunakan standard Bit
Error Rate (BER) sama dengan 10-5(99.999%).

4
2.2.5. Perhitungan EIRP (Effective Isotropic Radiated Power)
EIRP merupakan besaran yang menyatakan kekuatan daya pancar
suatu antena di bumi, dapat dihitung dengan rumus :

EIRP = PTX + GTX – LTX


dimana :
PTX = daya pancar (dBm)
GTX = penguatan antena pemancar (dB)
LTX =rugi-rugi pada pemancar/feeder loss (dB)

2.2.6. Perhitungan RSL (Receive Signal Level)


RSL (Receive Signal Level) adalah leve lsinyal yang diterima di
penerima dan nilainya harus lebih besar dari sensitivitas perangkat
penerima (RSL _ Rth). Sensitivitas perangka tpenerima merupakan
kepekaan suatu perangkat pada sisi penerima yang dijadikan
ukuran threshold. Nilai RSL dapat dihitung dengan persamaan
berikut :
RSL = EIRP – Lpropagasi + GRX– LRX
Dimana :
EIRP = Effective Isotropic Radiated Power (dBm)
Lpropagasi = rugi-rugi gelombang saat berpropagasi (dB)
GRX = penguatan antena penerima(dB)
LRX = rugi-rugi pada pemancar/feederloss (dB)

2.3. Fading Margin


Fading margin adalah level daya yangharus dicadangkan yang besarnya
merupakan
selisih antara daya rata-rata yang sampai dipenerima dan level sensitivitas
penerima.
F = RSL – Rth
Dimana :

5
RSL = level daya terima (dBm atau dBw)
Rth = level sensitivitas penerima / treshold(dB)
2.4. Antenna Omnidirectional

Antena omnidirectional yaitu jenis antena yang memiliki pola


pancaran sinyal ke segala arah dengan daya sama. Untuk menghasilkan
cakupan area yang luas, gain dari antena omnidirectional harus
memfokuskan dayanya secara horizontal (mendatar,dengan mengabaikan
pola pemancaran ke atas dan ke bawah,sehingga antean dapat di letakan di
tengah-tengah base station. Dengan demikian, keuntungannya dari antena
jenis ini adalah dapat melayani jumlah pengguna yang lebih banyak.
Namun kesulitannya adalah pada pengalokasian frequensi untuk setiap sel
agar tidak terjadi interferensi. Antena jenis ini biasanya di gunakan pada
lingkup yang mempunyai base station terbatas dan cenderung untuk posisi
pelanggan yang melebar.

Antena ini mempunyai sudut pancaran yang besar (wide beamwidth)


yaitu 360 derajat; dengan daya lebih meluas, jarak yang lebih pendek
tetapi dapat melayani area yang luas Omni antena tidak dianjurkan
pemakaian-nya, karena sifatnya yang terlalu luas sehingga ada
kemungkinan mengumpulkan sinyal lain yang akan menyebabkan
interferensi. antena omnidirectional mengirim atau menerima sinyal radio
dari semua arah secara sama, biasanya digunakan untuk koneksi multiple
point atau hotspot.

6
2.5. 1. Antenna Dipol Tunggal
Antena dipole tunggal adalah suatu antena resonan yang
mempunyai panjang total nominal ½ λ pada frekuensi pembawa,
biasanya disebut antena dipole setengah gelombang atau antena
dipole tunggal. Antena dipole sebenarnya merupakan sebuah antena
yang dibuat dari kawat tembaga dan dipotong sesuai ukuran agar
beresonansi pada frekwensi kerja yang diinginkan. Antena dipole bisa
terdiri hanya satu kawat saja disebut single wire dipole, bisa juga
dengan dua kawat yang ujung-ujungnya dihubungkan dinamakan two
wire folded dipole, bisa juga terdiri atas 3 kawat yang ujung-ujungnya
disambung dinamakan three wire folded dipole.

2. Antenna Dipol Reflektor


Antena dipole reflektor adalah antena direksional yaitu antena
dalam bentuk satu arah sebagai pengembangan dari antena ½ λ
dipole, dengan menggunakan reflektor yang dapat digunakan sebagai
antena penerima pada sistem komunikasi. Setiap antena didesain
dengan menentukan daerah panjang gelombang antena tersebut.
Panjang gelombang (λ) antena dapat ditentukan dengan
menggunakan persamaan 2.1.

7
Dimana c adalah kecepatan cahaya pada ruang hampa yang bernilai
3.108 m/det dan f adalah frekuensi kerja antena dalam Hz.
Selanjutnya panjang elemen peradiasi antena (L) adalah :

Selanjutnya untuk menentukan jarak antara antena (S) dengan


reflektornya adalah: S = 0,5 λ ………………………………(2.3)
Menghitung tinggi reflektor antena (H) menggunakan rumus :
H = 0,6 λ ……………………………………………………(2.4)
Panjang reflektor antena (L) adalah :
L = 2S ……………………………………………………..(2.5)

3. PERALATAN YANG DIGUNAKAN


No Alat Yang Digunakan Jumlah
1 Antena Omni 1 buah
2 Antena Dipol 1 buah
3 Signal Generator 1 buah
4 Spectrum Analyzer 1 buah
5 Set kabel penghubung Secukupnya

GAMBAR ALAT :

Signal Generator

8
Spectrum Analyzer

Antena Dipole

4. LANGKAH-LANGKAH PERCOBAAN
Langkah-langkah dalam melakukan percobaan adalah sebagai berikut :
5.1. Hubungkan signal generator pada antena dipol sebagai transmitter dan
spectrum analyzer pada antena omni sebagai receiver.
5.2. Atur frekuensi center pada signal generator sebesar 144 MHz.
5.3. Atur daya input pada 0 dBm, kemudian naikkan daya input menjadi 5
dBm, 10 dBm, dan 15 dBm.
5.4. Amati hasil yang ditampilkan (daya output) pada spectrum analyzer saat:
1) Antena dipol diarahkan pada posisi vertikal dengan jarak antara
transmitter (dipol ) dan receiver (omni) adalah 3m dan 6m).

9
2) Antena dipol diarahkan pada posisi Horizontal dengan jarak antara
transmitter (dipol ) dan receiver (omni) adalah 3m dan 6m.
3) Posisi antena dipol di swing pada 0o, 90o, 180o, dan 270o.
5.5. Catatlah hasil yang didapatkan dalam bentuk tabel.
5.6. Ulangi percobaan diatas dengan mengubah transmitter dan receiver nya
yaitu antena omni sebagai transmitter dan antena dipol sebagai receiver.

5. DATA HASIL PERCOBAAN


Tabel 1.Tx (dipol) vertikal – Rx (omni) dengan jarak 3m
Tx (Dipol) (dBm) Rx (Omni) (dBm)
0o 90o 180o 270o 0o 90o 180o 270o
0 0 0 0 -65 -56,80 -56,80 -56,80
5 5 5 5 -39 -64,24 -56,80 -56,80
10 10 10 10 -38 -60,64 -56,80 -56,80
15 15 15 15 -37,5 -56,80 -56,80 -51,92

Tabel 2.Tx (dipol) vertikal – Rx (omni) dengan jarak 6m


Tx (Dipol) Rx (Omni)
0o 90o 180o 270o 0o 90o 180o 270o
0 0 0 0 -70,10 -53,63 -59,60 -66,23
5 5 5 5 -61,85 -53,63 -79,33 -71,03
10 10 10 10 -59 -63,40 -72,74 -68,66
15 15 15 15 -53,63 -60,47 -67,07 -65,29

Tabel 3.Tx (dipol) horizontal – Rx (omni) dengan jarak 3m


Tx (Dipol) Rx (Omni)
0o 90o 180o 270o 0o 90o 180o 270o
0 0 0 0 -78,41 -56,47 -69,79 -69,75
5 5 5 5 -59,47 -56,47 -67,95 -75,67
10 10 10 10 -63,65 -56,47 -60 -75,08
15 15 15 15 -61,16 -54,36 -55,29 -68,42

Tabel 4.Tx (dipol) horizontal – Rx (omni) dengan jarak 6m


Tx (Dipol) Rx (Omni)
0o 90o 180o 270o 0o 90o 180o 270o
0 0 0 0 -73,95 -60 -60,85 -91,57
5 5 5 5 -73,70 -70,96 -85,57 -90.77
10 10 10 10 -68,44 -66,98 -80,98 -87,70
15 15 15 15 -63,63 -61,96 -76,50 -85,22

10
Tabel 5.Tx (omni) – Rx (dipol) vertikal dengan jarak 3m
Tx (Omni) Rx (Dipol)
0o 90o 180o 270o 0o 90o 180o 270o
0 0 0 0 -67,66 -62,20 -62,40 -65,63
5 5 5 5 -59,64 -56,06 -57,70 -56,40
10 10 10 10 -56,50 -49,43 -53,80 -52,90
15 15 15 15 -54,40 -44,50 -55,80 -46,60

Tabel 6.Tx (omni) – Rx (dipol) vertikal dengan jarak 6m


Tx (Omni) Rx (Dipol)
0 o 90 o 180 o 270 o 0 o 90o 180o 270o
0 0 0 0 -64,12 -70,35 -65,72 -70,82
5 5 5 5 -60,25 -65,80 -60,02 -67,70
10 10 10 10 -56,10 -62,05 -55,52 -64,90
15 15 15 15 -52,05 -56,51 -48,60 -58,61

Tabel 7.Tx (omni) – Rx (dipol) horizontal dengan jarak 3m


Tx (Omni) Rx (Dipol)
0 o 90 o 180 o 270 o 0 o 90o 180o 270o
0 0 0 0 -62,3 -77,8 -63,72 -62,51
5 5 5 5 -60 -65,4 -59,5 -63,7
10 10 10 10 -54,5 -64,6 -52,98 -58,13
15 15 15 15 -45,20 -61,45 -46,88 -52,27

Tabel 8.Tx (omni) – Rx (dipol) horizontal dengan jarak 6m


Tx (Omni) Rx (Dipol)
0 o 90 o 180 o 270 o 0 o 90o 180o 270o
0 0 0 0 -63,47 -85,40 -67,74 -71,13
5 5 5 5 -57,93 -69,40 -62,23 -64,3
10 10 10 10 -51,63 -60.31 -55,56 -60,27
15 15 15 15 -40,37 -54,7 -50,51 -57,06

11
6. ANALISA DAN PEMBAHASAN
a. Pada tabel 1-8 data hasil percobaan diketahui bahwa daya input yang
diberikan mempengaruhi daya pancar yang diterima oleh antenna, semakin
besar daya input yang diberikan maka semakin besar daya pancar yang
diterima oleh antena. Contohnya untuk tabel 1 ketika antenna dipole yang
berfungsi sebagai pemancar diberi daya input sebesar 15 dBm dan antenna
omni yang bertindak sebagai penerima saat posisi 0° daya output sebesar -
37,5 dBm, ketika posisi 90° daya output sebesar -56,80, ketika posisi 180°
daya output sebesar -56,80 dan ketika posisi 270° daya output sebesar -51,92.

b. Dari hasil percobaan dapat diketahui bahwa perbedaan jarak pada pengukuran
mempengaruhi hasil nilai daya pancarnya. Pada pengukuran yang
menggunakan jarak ukur 6 m rata rata daya pancar yang didapatkan kecil dari
pada menggunakan jarak ukur 3 m, sebagai contoh pada tabel 1 diketahui
tabel hasil percobaan pengukuran antena dipol sebagai tx dan antena omni
sebagai rx dengan jarak 3m dan posisi 0° dan dengan daya input 0 dbm
didapatkan daya pancar sebesar -65 dbm, sedangkan pada kondisi yang sama
dengan jarak yang berbeda yaitu 6 m didapatkan daya pancar sebesar -70.10
dbm.
c. Pada tabel 1 dan 3 dapat diketahui perbandingan daya pancar yang diterima
pada posisi horizontal dan vertikal. Pada posisi horizontal daya pancar yang
diterima lebih kecil dari pada posisi vertikal
d. Pada perbandingan tabel yang ada, diketahui bahwa daya pancar antena omni
lebih besar dari pada daya pancar antena dipole

7. KESIMPULAN

a. Semakin dekat jarak antena pemancar dan antena penerima maka semakin
baik atau semakin besar daya pancar yang diterima
b. Semakin besar daya input yang diberikan maka semakin besar daya pancar
yang diterima
c. Posisi antena mempengaruhi daya pancar yang diterima.
d. Antena omni bisa memancarkan daya yang lebih besar dari pada antena
dipole

12
LAMPIRAN

13
14
15
16
17