Anda di halaman 1dari 22

1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Apendiks veriformis merupakan saluran kecil dengan diameter kurang
lebih sebesar pensil dengan panjang 2-6 inci di daerah iliaka kanan, di bawah
titik Mc Burney (Jamil, 2009). Apendiksitis merupakan infeksi yang terjadi di
umbai cacing, kondisi ini dimana terjadi peradangan pada veriformis.
Apendiktomi menurut KBBI adalah operasi usus buntu. Apendiktomi adalah
pengangkatan apendiks terinflamasi dengan prosedur atau pendekatan
endoskopi. Apendiktomi merupakan pembedahan untuk mengangkat
apendiks. Pembedahan diindikasikan bila diagnosa apendiksitis telah
ditegakkan. Hal ini dilakukan sesegerah mungkin untuk menurunkan resiko
perforasi. Pilihan apendiktomi elektif untuk apendiksitis kronik (Suratun dkk,
2010)..
Angka kejadian apendiksitis di dunia cukup tinggi setiap tahun.
Berdasarkan data yang diperoleh dari World Health Organization (WHO,
2013), jumlah pasien dengan tindakan operasi mencapai angka peningkatan
sangat signifikan dari tahun ke tahun. Tercatat ditahun 2011 terdapat 140 juta
pasien diseluruh rumah sakit didunia, sedangkan pada tahun 2012 data
mengalami peningkatan sebesar 148 juta jiwa.
Menurut lubis (2008), setiap tahun apendiksitis menyerang 10 juta
penduduk Indonesia dan saat ini mortilitas angka apendiksitis di Indonesia
mencapai 95 per 1000 penduduk angka ini merupakan tertinggi di antara
negara-negara di Association of Soutt East Asia Nation (ASEAN). Kasus ini
merupakan salah satu indikasi untuk dilakukan operasi kegawat daruratan
abdomen. Insiden apendiksitis di Indonesia menempati urutan tertinggi di
antara kasus kegawat daruratan abdomen lainnya (DEPKES RI,2010).
2

Penyebab apendiktomi akibat dari apendiksitis terjadi karena infeksi


bakteri. Berbagai hal berperan sebagai factor pencetusnya, antaranya adalah
obstruksi yang terjadi pada lumen apendiks. Obstruksi ini biasanya
disebabkan karena adanya timbunan tinja yang keras, hyperplasia jaringan
limfoid, tumor apendiks, striktur, benda asing dalam tubuh dan cacing askaris.
Penelitian epidemitologi menujukkan peranan kebiasaan mengkonsumsi
rendah serat dan pengaru konstipasi terdapat timbulnya penyakit apendiksitis
(Ida Mardalena, 2018).
Tanda dan gejala yang muncul pada pasien apendiktomi tampak lelah,
gelisah, takikardi, mual, muntah, meringis, perubahan tekanan darah dan
melindungi area nyeri daerah operasi. Appendictomy nyeri yang diakibatkan
oleh luka insisi post operasi, kondisi dimana ketidaknyamanan yang bersifat
individual. Individu yang merasakan nyeri merasa tertekan atau menderita.
(Porter Perry, 2005).
Komplikasi setelah post operasi apendiktomi antara lain perdarahan,
perlengketan organ dalam, infeksi pada daerah operasi dan luka yang akan
ditemukan pada apendiktomi nyeri yang tidak teratasi. Banyak teori berusaha
untuk menjelaskan secara sempurna bagaimana nyeri ditransmisikan. Dampak
nyeri pada pasien post operasi apendiktomi akan meningkatkan dan
mengurangi penyembuhan. Kontrol nyeri yang penting setelah operasi, nyeri
yang didapatkan mengurangi kecemasan, pernapasan lebih mudah dan dalam
mobilisasi dengan cepat.
Penatalaksanaan post apendiktomi disini berfokus pada nyeri yang
dialami pasien, dengan cara penatalaksanaan farmakologi dan non
farmakologi. Farmakologi keputusan perawat dan tim medis lain dalam
penggunaan obat-obatan. Non farmakologi maka perlu cara perawat secara
mandiri tanpa tergantung pada petugas medis lain, dimana dalam pelaksanaan
perawat dengan pertimbangan dan keputusannya sendiri. Namun, banyak
aktifitas keperawatan non farmakologi yang dapat membantu menghilangkan
3

nyeri terdiri dari intervensi perilaku kognitif yang meliputi, tindakan distraksi
dan tehnik relaksasi. Distraksi disini dengan genggam jari dan masasse
punggung sedangkan relaksasi teknik nafas dalam. Salah satu strategi
menggem jari sambil mengatur nafas dilakukan kurang lebih 3-5 menit dapat
mengurangi ketegangan fisik dan emosi, karena ganggam jari akan
menghantarkan titik-titik keluar dan masuknya energy meridian (energy
channel) yang terletak pada jari tangan kita (Naila dkk, 2017). Massase
punggung stimulasi kulit, masase dapat dilakukan dengan jumlah tekanan dan
stimulasi terhadap berbagai titk-titk pemicu miofasial diseluruh tubuh. Untuk
mengurangi gesekan digunakan minyak atau lotion. Masase punggung
memiliki efek yang kuat dan apabila dilakukan oleh orang lain yang penuh
perhatian sehingga dapat memberikan rasa nyaman (Wilson, 2006 dalam
Irwan, 2011). Nafas dalam disini, sangat bermanfaat bagi pasien untuk
mengurangi nyeri setelah operasi dan dapat membantu pasien rileks dan juga
meningkatkan kualitas tidur (Irwan dkk, 2011).
Peran perawat dalam penanganan apendiktomi memenuhi kebutuhan
dasar pasien harus secara professional. Karena perawat merupakan tenaga
terbesar dalam upaya penyembuhan pasien. Kebutuhan dasar aman dan
nyaman yang diberikan perawat, penanganan nyeri dengan non farmakologi
seperti distraksi dan relaksasi. Distraksi suatu metode untuk menghilangkan
nyeri dengan cara mengalihkan perhatian pasien pada hal-hal lain, sehingga
pasien lupa terhadap nyeri yang dirasakan. Distraksi yang diberikan disini
dengan massase punggung dan genggam jari. Sedangkan, relaksasi merupakan
metode efektif untuk mengurangi nyeri pada pasien post operasi dengan cara
relaksasi nafas dalam.
Survey awal yang dilakukan di Rumah Sakit Bhayangkara TK III Kota
Bengkulu perawatan yang dilakukan pada pasien dengan post op
appendictomy adalah perawatan post bedah yang bertujuan agar dapat
meraskankan kenyamanan selain itu juga pasien dengan post operasi
4

dilakukan mobilisasi dini pada 6 jam pertama, 12 jam dan 24 jam selanjutnya.
Bhayangkara TK III Kota Bengkulu didapatkan kasus kejadian Post Op
Appendictomy pada tahun 2018 yaitu sebanyak 92 orang yang terdiri dari 44
perempuan dan 48 laki-laki, selain itu pada tahun 2019 dari bulan Januari
sampai September data yang didapatkan pada Kasus dengan Post Op
Appendictomy adalah sebanyak orang yang terdiri dari 56 perempuan dan 58
laki-laki (Rekam Medis,2019).
Penelitian ini dilakukan penulis agar para perawat memberikan
penanganan nyeri dengan non farmakologi seperti distraksi dan relaksasi. Hal
ini masih sangat jarang dilakukan oleh perawat, serta dalam pengurangan rasa
nyeri kebanyakan perawat hanya memberikan analgetik yang telah di berikan
oleh dokter peran perawat disini masih sangat kurang dalam mengurangi rasa
nyeri sebagai peran perawat dapat juga melakukan pemberian relaksasi nafas
dalam, masase punggung dan relaksasi genggam jari dalam pemenuhan
kebutuhan aman dan nyaman pasien saat nyeri timbul.
B. TUJUAN
1. Tujuan umum
Mendeskripsikan penerapan manajemen nyeri pada pasien Post Op
Appendictomy di Rumah Sakit Bhayangkara TK III Kota Bengkulu tahun
2019
2. Tujuan Khusus
Melalui karya tulis ini penulis diharapkan mampu:
a. Mendeskripsikan pengkajian manajemen nyeri pada pasien Post Op
Appendictomy di Rumah Sakit Bhayangkara TK III Kota Bengkulu.
b. Dideskripsikan diagnose keperawatan sesuai prioritas mengenai
manajemen nyeri pada pasien Post Op Appendictomy di Rumah
Sakit Bhayangkara TK III Kota Bengkulu.
c. Dideskripsian rencana perawatan mengenai manajemen nyeri pada
pasien Post Op Appendictomy di Rumah Sakit Bhayangkara TK III
5

Kota Bengkulu.
d. Dideskripsikan implementasi manajemen nyeri pada pasien Post Op
Appendictomy di Rumah Sakit Bhayangkara TK III Kota Bengkulu.
e. Dideskripsikan evaluasi manajemen nyeri pada pasien Post Op
Appendictomy di Rumah Sakit Bhayangkara TK III Kota Bengkulu
secara tepat.
C. Batasan Masalah
Agar karya tulis ini terarah pada kasusu yang dituju, sehingga batasan
masalah pada yang penulis angkat dalam karya tulis ini adalah asuhan
keperawatan yang berfokus penerapan manajemen nyeri dengan pendekatan
asuhan keperawatn pada pasien Post Op Appendictomy di Rumah Sakit Kota
Bengkulu tahun 2019.
D. Manfaat Penulis
1. Bagi pelayanan kesehatan
Penelitian bermanfaat bagi perawat untuk melakukan tindakan terapi
manajemen nyeri pada penatalaksanaan pasien Post Op Appendictomy
agar dapat melakukannya dengan baik dan benar.
2. Bagi instansi pendidikan
Sebagai sumber informasi kepustakaan dan sebagai referensi dalam
pemberian materi manajemen nyeri terhadap Post Op Appendictomy dan
menjadi referensi untuk tingkatan selanjutnya dalam membuat karya tulis
ilmiah pada jurusan keperawatan Poltekkes Kemenkes Bengkulu.
3. Bagi peneliti lain
Di harapkan hasil penelitian ini dapat dijadikan sumber data dan
informasi bagi pengembangan penelitian selanjutnya tentang manajemen
nyeri pada pasien Post Op Appendictomy.
6

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Asuhan Keperawatan Dalam Kebutuhan Nyeri


1. Pengkajian
Pengkajian merupakan dasar utama langka awal dari proses
keperawatan secara keseluruhan. Pada tahap ini semua data informasi
klien yang dibutuhkan dikumpulkan dan dianalisa untuk menentukan
diagnose keperawatan (Gaffar, 2007). Beberapa ketidaknyamanan
dialami karena tegangan. Nyeri menandakan strangulasi dan kebutuhan
terhadap pembedahan segera. Pada tahap pengkajian keperawatan pada
klien dengan post apendiktomi sama seperti pada kasus keperawatan
lainnya Pengkajian dilakukan secara sistematis mulai dari pengumpulan
data, identifikasi dan evaluasi status kesehatan klien (Nursalam, 2001).
Keluhan tentang ketidaknyamanan. yaitu terdiri dari beberapa tahap:
a) Identitas klien dan penanggung jawab
1) Identitas klien
Identitas klien terdiri dari: nama, umur, jenis kelamin,
pendidikan, pekerjaan, alamat, diagnose medis, tanggal masuk
rumah sakit, tanggal pengkajian.
2) Penanggung jawab
Identitas penanggung jawab terdiri dari: nama, umur, jenis
kelamin, pendidikan, hubungan dengan klien dan alamt
b) Riwayat kesehatan klien.
1) Keluhan Utama
Riwayat utama ini diambil dari data subjektif atau yang paling
menonjol yang dialami klien. Klien post Apendiktomi sering kali
mengalami nyeri lebih dari 5 (0-10) yang merupakan efek dari
7

insisi pada luka post operasi, mual, muntah, distensi abdomen,


badan terasa lemas (Brunner & Suddarth, 2012 : 1104).
2) Riwayat Kesehatan Sekarang
Riwayat kesehatan sekarang adalah pengembangan dari keluhan
utama dan data yang menyertai menggunakan pendekatan
PQRSR (Priharjo, 2006 : 10) :
1. P (Paliatif) : factor pencetus / penyebab yang dapar
memperingan dan memperberat keluhan klien. Biasanya
klien mengeluh nyeri pada daerah luka post operasi. Nyeri
berkurang bila klien tidak banyak bergerak atau istirahat
dan setalah diberikan obat analgesic.
2. Q (Qualitas) : menggambarkan seperti apa keluhan
dirasakan. Yaitu, bagaimana gejala dirasakan Nampak atau
terdengar dan sejaug mana klien merasakan keluhan
utamanya. Nyeri dirasakan seperti ditusuk-tusuk dengan
skala kurang lebih 5 (0-10) dan biasanya membuat klien
kesulitan untuk beraktivitas.
3. R (Region) : mengetahui lokasi dari keluhan yang
dirasakan, apakah keluhan itu menyebar atau
mempengaruhi area lain yaitu, dimana terasa gejala, apakah
menyebar atau tidak. Biasanya aktivitas klien terganggu
karena kelemahan dan keterbatasan gerak akibat nyeri luka
post operasi.
4. S (Severity) : Merupakan sekala / intensitas keluhan yaitu,
intensitas dari keluhan utama apakah sampai menggangu
aktivitas atau tidak. Biasanya aktivitas klien terganggu
karan kelemahan dan keterbatasan gerak akibat nyeri luka
poat operasi.
8

5. T (Time) : Waktu dimana keluhan itu dirasakan yaitu,


kapan mulai munculnya serangan nyeri dan berapa lama
nyeri itu hilang selama periode akut. Nyeri dapat timbul
maupun menetap sepanjang hari.
3) Riwayat Kesehatan Masa Lalu
Pada kesehatan masa lalu ini dikaji tentang factor resiko
penyebab masalah kesehatan sekarang serta jenis penyakit dan
kesehatan masa lalu. Pada klien post operasi akibat peritonitis,
perlu dikaji riwayar penyakit saluran pencernaan dan riwayat
pembedahan sebelumnya.
c) Pola Aktivitas Seharian
Data yang diperoleh dalam kasus pembedahan menurut Doenges
(2007) adalah sebagai berikut :
1) Aktivitas / istirahat
Malaise, kesulitan tidur/istirahat.
2) Lemah, letih, sulit bergerak / berjalan, kekakuan otot, nyeri
abdomen akibat luka operasi, gelisah.
3) Makanan dan cairan
Anoreksia, mual, dan muntah.
4) Eliminasi
Klien mengalami konstipasi pada awal dan tidak bias flatus
karena peristaltic usus/berhentik, distensi perubahan pola BAB.
Perubahan pola BAK, rasa nyeri, kesulitan berkemih.
d) Pemeriksaan Fisik
1) Penampilan Umum
Penampilan umum klien setalah dilakukan pembedahan biasanya
tampak lemah, gelisah, meringis (Doengoes, 2007 : 514)
2) Pemeriksaan Fisik Persistem
1. System Pernafasan
9

Kepatenan jalan nafas, kedalaman, frekuensi dan karakter


pernafasan, sifat dan bunyi merupakan hal yang harus dikaji
pada klien dengan post operasi. Pernafasan cepat dan pendek
sering terjadi mungkin akibat nyeri.
2. System Kardiovaskuler
Pada klien post operasi biasanya ditemukan tanda-tanda
syok seperti takikardi, berkeringat, pucat, hipertensi dan
penurunan suhu tubuh.
3. System Gastrointestinal
Ditemukan distensi abdomen, kembung (penumpukan gas),
mukosa bibir kering, penurunan peristaltic usus juga
biasanya ditemukan muntah dan konstipasi akibat
pembedahan dan nafsu makan berubah.
4. System Perkemihan
Terjadi penurunan haluran urine dan warna urine menjadi
pekat/gelap, terdapat distensi kanding kemih dan retensi
urine.
5. System musculoskeletal
Kelemhan dan kesulitan ambulasi terjadi akibat nyeri di
abdomen dan efek samping dari anastesis yang sering
menjadi adalah mual dan muntah, kekakuan otot setelah
operasi. Hal ini dapat berlangsung selama beberapa jam dan
biasanya diatasi dengan resep antibiotic. Selain mual dan
muntah pasien juga dapat merasakan sakit tenggorokan. Hal
ini biasanya terjadi ketika alat tabung dimasukkan ke dalam
tenggorokan untuk membantu pernapasan. Rasa sakit dapat
bertahun selama beberapa jam dan hal ini biasanya dapat
biobati dengan obat pengilang rasa sakit.
6. System Integumen
10

Ditemukan nyeri luka akibat pembedahan di area abdomen.


Karakeristik luka tergantung pada lamanya waktu setelah
pembedahan.
2. Diagnosa Keperawatan
Diagnose keperawatan yang difokuskan pada kebutuhan aman nyaman
yang dapat ditemukan pada pasien post op Apendiktomi. Berdasarkan
tanda dan gejala post op Apendiktomi, diagnosa keperawatan yang dapat
muncul sesuai dengan toksonomi SDKI PPNI adalah:
1) Nyeri akut berhubungan dengan agen pencedera fisik (prosedur
operasi).
a) Data Mayor
Subjektif : mengeluh nyeri.
Objektif: tampak meringis, bersikap protektif (mis. Waspada,
pasisi menghindari nyeri), gelisah, kesulitan tidur.
b) Data Minor
Sabjektif : -
Objektif : Pola nafas berubah, nafsu makan berubah, proses
berfikir terganggu, berfokus pada diri sendiri.
11

3. Perencanaann keperawatan

No Diagnosa Keperawatan Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi Rasional


1. Nyeri akut berhubungan Setalah dilakukan intervensi SIKI:
dengan agen pencerdera keperawatan selama …x24 Manajemen Nyeri
fisik (prosedur pembedahan) jam, diharapkanz Observasi
SLKI: Kontrol Nyeri 1. Identifikasi lokasi, 1. lihat dan gali lokasi nyeri
Data Mayor: Dipertahankan pada level … karakteristik, durasi, yang dialami pasien post
 Subjektif Ditingkatkan ke level … frekuensi, kualitas, itensitas op
 Mengeluh nyeri  Skala 1 (Menurun) nyeri.
 Objektif  Skala 2 (Cukup 2. Identifikasi skala nyeri. 2. Mengetahui seberapa nyeri

 Tampak meringis Menurun) yang dirasakan

 Bersikap  Skala 3 (sedang) 3. Identifikasi factor yang 3. Mengetahui nyeri timbul

protektif  Skala 4 (Cukup memperberat dan biasanya apa yang membuat

 Gelisah Menurun) memperingan nyeri. memperberat nyeri dan apa

 Skala 5 (Meningkat) yang membuat nyeri


 Frekuensi nadi
Dengan kriteria hasil: berkurang.
meningkat
 Sulit tidur 1. Melaporkan nyeri 4. Identifikasi pengetahuan dan 4. Menanyakan apa yang

terkontrol. keyakinan tentang nyeri. pasien lakukan saat nyeri

2. Kemampu mengenali muncul.


Data Minor:
5. Monitor efek samping 5. Pantau pemberian analgesik.
 Subjektif penyebab nyeri.
3. Kemampuan penggunaan analgesik.
-
Terapeutik
12

 Objektif mengenali osnet nyeri. 6. Berikan teknik non 6. Anjurkan pasien mengontrol
 Tekanan darah 4. Kemampuan farmakologis untuk nyeri dengan nafas dalam
meningkat menggunakan teknik mengurangi rasa nyeri (nafas dan massase punggung.
 Pola nafas non-farmakologi. dalam dan massase
berubah 5. Dukung orang punggung (Irwan Wirya,

 Nafsu makan terdekat. dkk., 2011) ).

berubah 6. Pengunaan analgesic. 7. Berikan teknik non 7. Anjurkan pasien mengontrol

 Proses berpikir farmakologis untuk nyeri dengan menggengam

teganggu mengurangi rasa nyeri jari saat nyeri muncul.

 Berfokus pada (teknik relaksasi genggam

diri sendiri jari (Neila Sulung, dkk.,


2017) ).
8. Kontrol lingkungan yang 8. Buatlah lingkungan disekitar
memperbesar rasa nyeri pasien nyaman dalam
(suhu ruangan, pencahayaan, mengurangi nyeri yang
dan kebisingan). dirasakan.
9. Fasilitas istirahat dan tidur. 9. Berikan fasilitas yang pasien
butuhkan dalam pemenuhan
istrirahat dan tidur pasien.
Edukasi
10. Jelaskan strategi meredakan 10. Memberitahu pasien teknik
nyeri. yang telah direncanakan
13

dalam mengurangi rasa


nyeri.
11. Anjurkan memonitor nyeri 11. Bicarakan bersama pasien
secara mandiri cara mengontrol nyeri
dengan sendiri.
12. Ajarkan teknik non 12. Mengajarkan pada pasien
framakologis untuk teknik nafas dalam, massase
mengurang nyeri. punggung, dan genggam jari.
Kalaborasi
13. kalaborasi pemberian 13. Analgesic berfungsi sebagai
analgetik. depresan system saraf pusat
sehingga menggurangi atau
menghilangkan nyeri.
14

4. Implementasi
Implemntasi keperawatan adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan
oleh perawat untuk membantu klien dari masalah status kesehatan yang
dihadapi kestatus kesehatan yang lebih baik, sehingga menggambarkan
criteria hasil yang diharapkan (Potter & Perry, 2011).
Implementasi adalah tahap keempat dalam proses keperawatan dimana
rencana keperawatan dilaksanakan (melaksanakan intervensi yang telah
ditentukan sebelumnya) (Marilyn.E.Doengoes , 1999: 105). Tujuan
implementasi adalah membantu klien dalam mencapai peningkatan
kesehatan baik yang dilakukan secata mandiri, maupun kalaborasi dan
rujukan (Bluechek & McCloskey: dikutip dari Potter, 2014).
Implementasi yang dilakukan pada pasien post op apendiktomi dapat
bersifat mandiri dimana perawat dapat melakukannya tanpa bantuan dari
tenaga kesehatan lain, implementasi kalaborasi seperti pemberian obat dan
analisa,kemudian implementasi edukasi untuk meningkatkan pemahaman
pasien dan keluarga mengenai tindakan pencegahan nyeri yang dirasakan.
Pelaksanaan adalah inisiatif dan rencana tindakan untuk mencapai tujuan
(Iyer et al,1996).
5. Evaluasi
Evaluasi adalah tindakan intelektual perawat untuk melengkapi proses
keperawatan,yang menendakan seberapa jauh diagnosa keperawatan,
rencana keperawatan dan pelaksanaannya sudah dicapai berdasarkan tujuan
yang telah dibuat dalam perencanaan keperawatan (potter &perry, 2005).
Hasil evaluasi yang diharapkan setelah dilakukan intervensi terhadap
pasien adalah kemampuan mengontrol nyeri post operasi. Evaluasi
didefinisikan sebagai keputusan dari efektifitas asuahan keperawatan antara
dasar tujuan keperawatan klien yang telah ditetapkan dengan respon
perilaku yang tampil (Craven & Himle, 2011).
Tujuan evaluasi antara lain :
15

1. Untuk menentukan perkembangan kesehatan klien.


2. Untuk menilai pelaksanaan asuhan keperawatan.
3. Mendapatkan umpan balik.
4. Sebagai tanggung jawab dan tanggung gugat dalam pelaksanaan
pelayanan keperawatan.
5. Untuk menilai efektifitas, efiniensi, dan prodoktifitas dari tindakan
keperawatan yang telah diberikan.
B. Manajemen Nyeri Berdasarkan Evidance Base Nursing
1. Definisi
Menurut Internasional Association for Study of Pain (IASP), nyeri
adalah merupakan pengalaman sensoris subjektif dan emosional yang
tidak menyenangkan yang didapatkan terkait dengan kerusakan jaringan.
Secara umum nyeri dapat didefenisikan sebagai suatu rasa yang tidak
nyaman baik ringan maupun berat.
Nyeri merupakan pengalaman sensoris dan emosional yang tidak
menyenangkan yang dihubungkan dengan kerusakan jaringan yang telah
atau akan terjadi yang digambarkan dengan kata-kata kerusakan jaringan
(Torrance, 1997).
Manajemen nyeri bertujuan untuk membantu pasien dalam mengontrol
nyeri secara optimal. Tidak hanya itu, manajemen nyeri juga berguna
untuk mengurangi resiko lajut dari efek samping nyeri tersebut, yang pada
akhirnya pasien mampu mengontrol ataupun nyeri yang dirasakan tersebut
hilang (Ditjen Yankes, 2018).
2. Intervensi Manajemen Nyeri Berdasarkan Evidance Base Nursing
a) Relaksasi Nafas Dalam
Relaksasi adalah status kehilangan dari ketegangan otot rangka
dimana individu mencapainya melalu praktek teknik yang disengaja
(Smeltzer, 2002). Pernafasan dalam adalah pernafasan melelui
hidung, pernafasanan dada rendah serta pernapasan abdominal
16

dimana perut meluas secara perlahan saat menarik nafas dan


mengeluarkan nafas (Smith, 2007).
Menurut Ridwan (2002), setiap manusia mengambil 20,96% oksigen
dengan volume tidal 350 ml, maka dalam satu detik manusia
mengambil oksigen sebesar 73,36 ml. dengan memaksimalkan
pengmbangan paru-paru maka didapatkan volume inspirasi maksimal
adalah 3000 ml dengan bernafas maka hemoglobin yang akan lebih
banyak menangkat oksigen dengan perkiraan bahwa 1,34 ml x
jumlah hb/g, bila Hb 14 x 350 ml = 6566 g oksigen per detik yang
dibawa oleh darah ke seluruh tubuh. Fungsi hemoglobin adalah
meningkatkan oksigen ke seluruh jaringan tubuh dan mengikat
karbon dioksida dari jaringan tubuh dikeluarkan melalui paru-paru,
jadi nafas dalam berguna sebagai sarana meditasi atau distraksi,
sehingga focus pikiran pasien dialihkan terhadap nyeri sekaligus
mengoptimalkan penghirupan oksigen bagi sel-sel yang mengalami
stress atau injury (dalam jurnal Irwan Wirya,2011).
b) Massase Punggung
Masase adalah tindakan penekanan oleh tangan pada jaringan lunak,
biasanya otot tendon atau ligament, tanpa menyebabakan pergeseran
atau perubahan posisi sendi guna menurunkan nyeri, menghasilkan
relaksasi, dan/atau meningkatkan sirkulasi. Gerakan-gerakan dasar
meliputi: gerakan memutar yang dilakukan oleh telapak tangan,
gerakan menekan dan mendorong kedepan dan kebelakang
menggunakan tenaga, menepuk-nepuk, memotong-motonh,
meremas-remas dan gerakan meliuk-liuk.
Menurut Pupung (2009) manfaat atau efek masase adalah sebagai
berikut:
1. Memperlancar peredaran darah .
17

2. Membantu pembentukan sisa-sisa pembakaran dalam jaringan-


jaringan.
3. Masase juga membantu pengalihan cairan lympa lebih cepat.
4. Membantu kelancaran pengaliran cairan lympa didalam
pembuluh-pembuluh lympa kecil ke lympa yang lebih besar
yang dapat menurunkan intensitas nyeri.

c) Teknik Relaksasi Genggam Jari


Menurut Chanif, Petpichrtcchain & Chongchaeron, (2003) salah
satu jenis relaksasi yang digunakan dalam menurunkan intensitas
nyeri setelah pasca oprasi adalah dengan relaksasi genggam jari yang
mudah dilakukan oleh siapapun yang berhubungan dengan jari
tangan dan aliran energy di dalam tubuh kita. Teknik genggam jari
disebut juga finger hold (Liana 2006 ; andika 2008).
Menggenggam jari sambil mengatur nafas (relaksasi) dilakukan
selama kurang lebih 3-5 menit dapat mengurangi ketegangan fisik
dan emosi, karena genggam jari akan menghangatkan titik-titik
keluar dan masuknya energy meridian (enery channel) yang terletak
pada jari tangan kita. Titik-titik refleksi pada tangan akan
memberikan rangsangan secara reflex (spontan) pada saat genggam.
Rangsangan tersebit akan mengalirkan gelombong listrik menuju
otak yang akan diterima dan diproses dengan organ tubuh yang
mengalami gangguan sehingga sumbatan di jalur energy menjadi
lancer (Puwahang, 2011 ; Andika 2006)..
Hal ini pernah dibuktikan oleh Iin Pinandita dkk, (2012) yang
mengatakan terdapat perbedaan skala nyeri rata-rata sebesar 4,88 %
pada pasien kelompok eksperimen yang dapat perlakuan relaksasi
genggam jari selam 3-5 menit berturut-turut sebanyak 3 kali. Teknik
18

relaksasi genggam jari dapat menurunkan intensitas nyeri pada pasien


post operasi.
19

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A. Pendekatan/Desain Penelitian
Penelitian kualitatif inimenggunakan desain studi kasusu yang bertujuan
untuk mengeksplorasi tahapan penerapan manajemen nyeri dengan
pendekatan proses asuhan keperawatan pada pasien post op apendiktomi.
Pendekatan yang digunakan pada studi kasus ini yaitu asuhan keperawatan
yang meliputi pengkajian, diagnose keperawatan, intervensi, implementasi,
dan evaluasi keperawatan.
B. Subjek Penelitian
Subyek penelitian dalam studi kasus ini yaitu pasien post op
apendiktomi dengan nyeri yang menjalani perawatan di RS Bhayangkara TK
III Kota Bengkulu. Jumlah subyek penelitian yang direncanakan yaitu 2 orang
pasien dengan minimal perawatan selama 3 hari. Kriteria inklusi dan ekslusi
yang ditetapkan pada subjek penelitian yaitu:
1. Kriteria Inklusi
a) Penderita post op apendiktomi yang dirawat di RS Bhayangkara TK
III Kota Bengkulu.
b) Penderita lebih dari 15 tahun ke atas.
c) Penderita bersedia menjadi responden.
2. Kriteria Ekslusi
Penderita tidak bersedia menjadi responden.
C. Batasan Istilah (Definisi Opersional)
1. Asuhan keperawatan dalam studi kasus ini didefinisikan sebagai suatu
proses pelayanan keperawatan manajemen nyeri meliputi tahap
pengkajian, intervensi, implenentasi, dan evaluasi keperawatan pada
pasien post op apendiktomi.
20

2. Pasien dalam studi kasusu ini didefinisikan sebagai orang yang menerima
pelayanan kesehatan atas penyakit post op apendiktomi yang dialami.
3. Post op apendiktomi dalam studi kasus ini didefinisikan sebagai suatu
diagnose penyakit yang ditetapkan dokter RS Bhayangkara TK III Kota
Bengkulu berdasrkan manifestasi klinis, hasil pemeriksaan fisik, dan
pemeriksaan laboratorium.
4. Manajemen nyeri dalam studi kasus didefinisikan sebagai rangkaian
tindakan keperawatan untuk mengetahui dan mengontrol nyeri pada
pasien dengan post op apendiktomi.
D. Lokasi dan Waktu Penelitian
Studi kasus ini akan dilakukan di RS Bhayangkara TK III Kota
Bengkulu. Studi kasus ini direncanakan akan dilaksanakan pada bulan Januari
tahun 2020.
E. Prosedur Penelitian
Penelitian diawali dengan penysunan usulan proposal studi kasus
tentang manajemen nyeri pada pasien post op apendiktomi di RS
Bhayangkara TK III Kota Bengkulu tahun 2019. Setelah proposal disetujui
dewan penguji, maka tahap yang dilakukan adalah pengurusan surat izin
penelitian. Selanjutnta penulis mulai melakukan pengumpulan data, analisa
data, penegakan diagnose keperawatan, dan melaksanakan implementasi, serta
evaluasi keperawatan.
F. Metode Instrumen Pengumpulan Data
1. Tekni Pengumpulan Data
a) Wawancara
Hasil anamnesis yang harus didapatkan berisi tentang identitas
klien, keluhan utama, riwayat penyakit sekarang, riwayat penyakit
dahulu, riwayat penyakit keluarga, pola fungsi kesehatan. Data hasil
wawancara dapat bersumber dari klien, keluarga klien dan dari
perawat lainnya.
21

b) Observasi dan pemeriksaan fisik


Teknik pengumpulan data ini meliputi keadaan umum,
pemeriksaan integument, pemeriksaan kepala leher, pemeriksaan
dada, pemeriksaan abdomen, pemeriksaan inguinal, genetalia, anus,
ekstermitas, pemeriksaan system pencernaan (dengan pendekatan:
inspeksi, palpasi, perkusi, auskultasi) pada sistem tubuh klien. Data
fokus yang harus didapatkan adalah pada sistem pencernaan.
c) Studi dokumentasi
Instrument dilakukan dengan mengambil data dari MR
(Medical Record), mencatat pada status pasien, mencatat hasil
laboratorium, melihat cataan harian perawat ruangan, mencatat
hasil pemeriksaan diagnostic.
2. Instrumen Penfumpulan Data
Alat atau insrumen pengumpulan data mengunakan format pengkajian
asuhan keperawatan sesuai ketentuan yang ada di prodi DIII keperawatan
Poltekkes Kemenkes Bengkulu, data di status klien, dan data
laboratorium, alat pemeriksaan fisik. (Format terlampir)
G. Keabsahan Data
Keabsahan data yang dilakukan oleh peneliti dengan cara peneliti
mengumpulkan data secara langsung pada pasien dengan menggunakan
format pengkajian yang telah dibuat terhadap 2 orang pasien.
Pengumpulan data dilakukan pada catatan medis/status pasien,
anamnesa dengan klien langsung, anamnesa dengan keluarga klien, dokter
dan perawat ruangan agar mendapatkan data yag yang valid, disamping itu
untuk menjaga validitas dan keabsahan data peneliti melakukan observasi dan
pengukuran ulang terhadap data klien yang meragukan yang ditemukan
melalui data sekunder.
H. Analisa Data
Analisa data dilakukan dengan pengkajian data hasil pengkajian
22

keperawatan, yang diperoleh dari hasil wawancara, observasi, pemeriksaan


fisik, dan studi dokumentasi hasil laboratorium dalam bentuk narasi.
Selanjutnya, data pengkajian yang berhasil dikumpulkan tersebut akan
dianalisis dengan membandingkannya terhadap pengkajian teori yang telah
disusun.
Analisa data terhadap diagnosis keperawatan, intervensi keperawatan,
implementasi, serta evaluasi keperawatan, yamg dilaksanakan pada studi
kasus ini akan dianalisis dengan membandingkan antara hasil dengan tahapan
proses yang telah diuraikan dalam tinjuan teori.