Anda di halaman 1dari 2

FIQH SHOLAT 'IED

A) definisi 'Ied
kata 'Ied dalam bahasa Arab menunjukkan sesuatu yang kembali berlulang-ulang baik dari
sisi waktu ataupun tempatnya. Kata ini berasala dari kata al'aud yang berarti kembali dan
berulang. Dinamakan 'ied karena pada hari itu Allah memiliki berbagai macam kebaikan
yang dierikan kembali untuk hamba-hambaNya dan terdapat kebahagiaan, kegembiraan dan
semangat baru dengan berulangnya kebaikan (ahkamul 'iedain, Syaikh Ali Bin Hasan)

B) Pensyariatan Ied adalah Tauqifiyyah


hari raya yang dimiliki oleh Kaum Muslimin hanya ada dua yaitu 'iedul fitri dan 'iedul adha.
Karena pensyariatan hari raya merupakan hak Khusus Allah karena suatu hari dinamakan
hari raya apabila Allah telah menetapkan hari tersebut adalah hari raya.
Dari Anas Ra bahwa beliau berkata, "Rasulullah Saw datang ke Madinah dan (pada saat
itu) penduduk Madinah memiliki dua hari raya yang digunakan untuk bermain (dengan
permainan) di masa Jahiliyyah. Lalu beliau bersabda: 'Aku telah datang kepada kalian, dan
kalian memiliki dua hari raya yang kalian gunakan untuk bermain di masa Jahiliyyah.
Sungguh Allah telah menggantikan untuk kalian dua hari raya yang lebih baik dari itu,
yakni hari nahr (iedul adha) dan hari fitr (iedul fitri)." (HR. Ahmad dan Abu Dawud,
shohih)
dua hari raya penduduk Madinah saat itu adalah hari Nairuz dan Mihrojan yang dirayakan
dengan berbagai macam permainan. Kedua hari raya itu ditetapkan oleh orang-orang yang
bijak pada zaman tersebut karena memasuki musim semi sehingga cuaca dan waktu pada
saat sangat bagus. Tatkala Nabi datang Allah menggantikan kedua hari tersebut dengan dua
hari raya yang Allah pilih bagi hamba-hambaNya. Berdasarkan hal ini, pensyariatan hari
raya adalah tauqifiyyah (sesuai ketetapan Allah)

C) Sunnah Nabi pada Hari raya


• mandi sebelum sholat Ied
• makan pada dua hari raya
• berhias diri pada hari raya
• berbeda jalan antara pergi dan pulang ke tempat sholat 'ied
• saling mengucapkan selamat

Hal-hal ringkas terkait sholat Ied


1. Hukum Sholat Ied
Hukum Sholat 'ied Sunnah Muakkadah

2. waktu sholat 'ied


antara terbit matahari setinggi tombak hingga datangnya Dhuha (tergelincirnya
matahari)

3. tempat pelaksanaan Sholat Ied


disunnahkan di tanah lapang dan diperbolehkan di masjid berdasarkan perbuatan
Sayidina Ali bin Abi Thalib yang memindahkan tempat sholat Ied ke Masjid.

4. Kaifiyyah Sholat Ied


Kaifiyyah bacaan antara takbiratul Ihram dan Takbiratul Intiqol (Takbir
perpindahan)

5. Adzan dan Iqamah pada Sholat 'Ied


tidak ada
6. Sholat Qobliyyah dan Ba'diyah pada Sholat 'ied
tidak ada jika dilaksanakan di tanah lapang dan jika dilaksanakan di masjid
hanyalah sholat tahiyyatul masjid

7. orang yang ketinggalan rakaat Sholat 'ied


tentang orang yang ketinggalan takbir zawaid bersama imam ketika shalat ied
ketika dia datang dan imam sudah membaca al fatihah maka hendaknya dia
melakukan takbiratul ihram kemudian melakukan takbir zawaid (sendirian). Ini
adalah pendapat Imam Hanafi, Imam Malik dan pendapat awal Imam Syafii (Qoul
Qadim; pendapat beliau ketika masih di Baghdad)
ketika Imam Syafii pindah ke Mesir beliau memiliki pendapat baru (Qoul Jadid)
dan inipun dipegang oleh Imam Hambali bahwa makmum yang ketinggalan dan
imam telah melakukan takbir zawaid maka makmum tidak perlu mengganti takbir
yang ketinggalan karena takbir ini hanya dilakukan pada waktu tertentu sementara
dia sudah ketinggalan waktu tersebut.

Ibnu Qudamah berkata:

"Takbir zawaid dan bacaan antara takbir (hukumnya) sunnah dan tidak wajib. Sholat
ied tidak batal disebabkan tidak melakukan takbir tersebut baik disengaja ataupun
lupa. Saya tidak mengetahui adanya perbedaan pendapat dalam masalah ini" (Al
Mughni Bab 2/234)