Anda di halaman 1dari 23

BAB 8

FRAUD DAN TINDAKAN ILEGAL

Salah satu risiko paling signifikan yang dihadapi organisasi kontemporer adalah risiko
fraud/kecurangan. Ketika fraud muncul, apakah dilakukan oleh indibidual karyawan, kolusi
diantara banyak karyawan, atau pihak ketiga diluar perusahaan yang merugiikan perusahaan bisa
menyebabkan kerugian tidak hnaya kerugian finansial tetapi juga rusaknya reputasi yang serius.
Dalam banyak kasus, terjadinya fraud pada perusahaan publik dengan cepat menyebabkan
penurunan pada harga saham dan kapitalisasi pasar, dan dapat menjadi indikator awal dari
financial distress/ kesulitan keuangan.

Mengingat konsekuensi ekonomi yang serius dari fraud, manajemen senior dan governing boards
semakin menekankan program anti fraud dan kontrol untuk menangani bisnis utama, kepatuhan
terhadap peraturan, dan driver pasar. Pembaruan fokus global pada tata kelola perusahaan berasal
dari kesadaran bahwa kecurangan pelaporan keuangan dengan mudah dapat menyebabkan
kegagalan organisasi.

Tindakan llegal adalah kegiatan yang melanggar hukum dan peraturan yurisdiksi tertentu di
mana perusahaan beroperasi. Auditor internal di perusahaan besar sering mengambil peran untuk
memastikan kepatuhan terhadap peraturan. Langkah pertama biasanya termasuk penyelesaian
penilaian risiko fraud. Telah terjadi peningkatan dalam penerapan peran baru dalam banyak
organisasi, seperti direktur kepatuhan (CCO) dan pejabat risiko kepala (CRO).

OVERVIEW OF FRAUD IN TODAY'S BUSINESS WORLD

Fraud tidak terbatas hanya pada negara atau industri tertentu. Fraud dapat timbul dalam
organisasi hampir setiap saat. Pada awal abad kedua puluh satu, skandal akuntansi besar di AS
(misalnya, Enron dan World Com) adalah berita utama di seluruh dunia. Skandal perusahaan
tersebut tidak hanya merugikan investor miliaran dolar AS, kejadian tersebut juga
mengakibatkan hilangnya kepercayaan pasar modal AS.
Association of Certified Fraud Examiners (ACFE) melakukan survei dua tahunan kepada
anggotanya dan menyiapkan A Report To The Nation On Occupational Fraud And Abuse
(Report To Nation).. Akhir tahun 2012 Laporan mencakup 94 negara dan dengan demikian
memberikan wawasan tentang fraud di seluruh dunia. Laporan tahun 2012 didasarkan pada data
yang dikumpulkan dari 1.388 kasus penipuan dari berbagai industri yang diteliti pada tahun 2010
dan 2011. Fraud terus menjadi perhatian utama bagi organisasi di seluruh dunia, dengan lebih
dari seperlima dari insiden fraud yang menyebabkan kerugian sebesar $ 1 juta pada 2011

Informasi dari kasus-kasus tersebut dilaporkan oleh certified fraud examiners (CFEs) yang
menyelidiki kasus-kasus tersebut . Berikut rangkuman dari beberapa temuan selama tahun 2012 :

 Peserta dalam survei memperkirakan bahwa organisasi kehilangan 5 persen dari


pendapatan tahunan mereka dari fraud, sedikit menurun dari 6 persen diperkirakan (untuk
AS saja) pada tahun 2010 laporan kepada bangsa.

 Skema penipuan kerja cenderung sangat mahal.

 Skema penipuan Kerja sering berlanjut selama bertahun-tahun sebelum mereka


terdeteksi.

 Skema penipuan yang paling umum adalah penyalahgunaan aset, yang terjadi pada 87
persen dari semua kasus, dan mengakibatkan kerugian rata-rata $ 120.000.

 Penipuan kerja jauh lebih mungkin untuk dideteksi dengan tip(petunjuk/informasi)


daripada audit, kontrol, atau cara lain.

 Corruption and billing schemes menimbulkan risiko terbesar bagi organisasi di seluruh
dunia.

 Semakin lama pelaku fraud telah bekerja untuk sebuah organisasi, kerugian akan fraud
cenderung semakin tinggi.

 Fraud dapat terjadi dalam setiap jenis organisasi, industri yang paling sering menjadi
korban adalah perbankan dan jasa keuangan, pemerintah dan administrasi publik, dan
manufaktur.

 Occupational frauds yang paling sering dilakukan oleh individu yang bekerja di salah
satu dari enam departemen: akuntansi, operasional, penjualan, eksekutif / manajemen
atas, layanan pelanggan, dan pembelian.

 Occupational fraudsters umumnya merupakan pelanggar pertama kali.

 Fraud perpetrators / Pelaku penipuan sering menampilkan ciri-ciri perilaku yang


mengindikasikan kemungkinan perilaku ilegal; ini tercatat dalam 81 persen dari kasus
yang dilaporkan.
Poin kunci di sini adalah bahwa tidak ada organisasi yang kebal terhadap fraud. Hal ini dapat
terjadi di organisasi besar dan kecil, dan di negara atau industri. Selama manusia, dengan
kelemahan yang melekat pada mereka, yang terlibat dalam organisasi, risiko fraud adalah nyata

DEFINITIONS OF FRAUD

 Black's Authoritative Definition Of Fraud

Fraud adalah istilah generik, yang mencakup segala cara dimana kecerdikan manusia dapat
merancang, dan yang dilakukan oleh satu individu untuk mendapatkan keuntungan lebih dari
yang lain dengan saran palsu atau dengan menekan kebenaran, dan mencakup semua kejutan,
trik, licik, dissembling, dan cara yang tidak adil dimana ada pihak lain yang ditipu.

 The Institute of Internal Auditors (IIA)

(From the Glossary to its Standards in the International Professional Practices Framework)

Fraud adalah setiap tindakan ilegal yang ditandai dengan tipu daya, penyembunyian, atau
pelanggaran kepercayaan. Penipuan dilakukan oleh partai dan organisasi untuk memperoleh
uang, properti, atau layanan; untuk menghindari hilangnya pembayaran jasa, atau untuk
mengamankan keuntungan pribadi atau bisnis.

 The American Institute of Certified Public Accountants


(AICPA) (From Statement on Auditing Standard No. 99)
Fraud adalah tindakan disengaja yang mengakibatkan salah saji material dalam laporan
keuangan yang tunduk pada audit. Salah saji timbul dari kecurangan pelaporan keuangan dan
penyalahgunaan aset.

 Association of Certified Fraud Examiners (ACFE)

(From the 2008 Report to the Nation on Occupational Fraud)


Penggunaan kedudukan seseorang untuk memperkaya diri melalui penyalahgunaan yang
disengaja atau penyalahgunaan sumber daya atau aset organisasi.

The ACFE's Occupational Fraud and Abuse Classification System menjelaskan tiga
jenis utama fraud: pernyataan palsu, yang umumnya melibatkan pemalsuan laporan keuangan
suatu organisasi (misalnya, melebih-lebihkan pendapatan dan mengecilkan kewajiban dan
beban); penyalahgunaan aset, yang melibatkan pencurian atau penyalahgunaan aset
organisasi (misalnya, menggelapkan pendapatan, mencuri persediaan, atau penipuan gaji);
dan korupsi, di mana pelaku fraud menggunakan pengaruh mereka dalam sebuah transaksi
bisnis untuk mendapatkan manfaat bagi diri sendiri atau orang lain, bertentangan dengan
kewajiban mereka kepada atasan mereka atau hak-hak dari pihak lain.

EXHIBIT 8-6

OUTLINE OF THE ACFE'S OCCUPATIONAL FRAUD AND ABUSE CLASSIFICATION


SYSTEM

1. Manipulasi secara sengaja terhadap laporan keuangan, yang dapat menyebabkan:

a. Tidak tepatnya pelaporan pendapatan.

b. Tidak tepatnya pelaporan biaya.

c. Tidak tepatnya penggambaran jumlah neraca, termasuk cadangan.

d. Tidak tepatnya peningkatan dan / atau pengungkapan yang tidak transparan.

e. Menyembunyikan penyalahgunaan aset.

f. Menyembunyikan penerimaan dan pengeluaran yang tidak sah.

g. Menyembunyikan akuisisi tidak sah, disposisi, dan penggunaan aset.

2. Penyelewengan atas:

a. Aset berwujud oleh:

i. Karyawan

ii. Pelanggan
iii. Vendors.

iv. Mantan karyawan dan lain-lain di luar organisasi

b. Aset tak berwujud.

c. Peluang bisnis yang dimilik.

3. Korupsi, termasuk:

a. Penyuapan dan Bribery and gratifikasi untuk:

i. Perusahaan

ii. Individu

iii. Pejabat publik

b. Penerimaan suap, kickbacks dan gratifikasi

c. Membantu dan bersekongkol penipuan oleh pihak lain (misalnya, pelanggan, vendor)

THE FRAUD TRIANGLE

Sebuah kerangka konseptual penting dalam memahami fraud adalah konsep fraud triangle yang
terdiri dari kesempatan (opportunity), kebutuhan/tekanan (need/pressure) dan rasionalisasi
(rationalization).
Opportunity biasanya muncul sebagai akibat lemahnya pengendalian inernal di organisasi
tersebut. Terbukanya kesempatan ini juga dapat menggoda individu atau kelompok yang
sebelumnya tidak memiliki motif untuk melakukan fraud.

Pressure atau motivasi pada sesorang atau individu akan membuat mereka mencari kesempatan
melakukan fraud, beberapa contoh pressure dapat timbul karena masalah keuangan pribadi,
Sifat-sifat buruk seperti berjudi, narkoba, berhutang berlebihan dan tenggat waktu dan target
kerja yang tidak realistis.

Rationalization terjadi karena seseorang mencari pembenaran atas aktivitasnya yang


mengandung fraud. Pada umumnya para pelaku fraud meyakini atau merasa bahwa tindakannya
bukan merupakan suatu kecurangan tetapi adalah suatu yang memang merupakan haknya,
bahkan kadang pelaku merasa telah berjasa karena telah berbuat banyak untuk organisasi. Dalam
beberapa kasus lainnya terdapat pula kondisi dimana pelaku tergoda untuk melakukan fraud

karena merasa rekan kerjanya juga melakukan hal yang sama dan tidak menerima sanksi atas
tindakan fraud tersebut.

KEY PRINCIPLES FOR MANAGING FRAUD RISK

The Fraud Guide menekankan betapa pentingnya bagi entitas untuk menetapkan upaya ketat
dan berkelanjutan untuk melindungi diri dari tindakan penipuan. Ada lima prinsip inti yang perlu
diikuti oleh organisasi:

Prinsip 1: Fraud Risk Governance

Sebuah entitas perlu membangun struktur tata kelola yang kuat untuk mengawasi manajemen
risiko dan aktivitas lainnya yang berada di tempat untuk membantu memastikan pencapaian
tujuan bisnis, terutama untuk mengidentifikasi dan mengelola risiko fraud.

Prinsip 2: Fraud Risk Assessment

Entitas harus terlebih dahulu mengidentifikasi kejadian fraud yang potensial atau scenario
yang mungkin rentan.
Prinsip 3 dan 4: Fraud Prevention and Detection

Program manajemen risiko fraud harus memiliki keseimbangan pencegahan dan deteksi
kontrol yang tepat. Kontrol Pencegahan dapat dirancang untuk menghentikan penipuan dari
yang terjadi.

Sementara organisasi biasanya lebih memilih untuk mencegah penipuan, yang tidak selalu
efektif, adalah penting untuk merancang dan menerapkan kontrol deteksi yang efektif juga.

Prinsip 5: Fraud Reporting, Investigation and Resolution

Penting bagi suatu organisasi untuk membangun sistem pelaporan untuk memfasilitasi dan
mendorong pelaporan insiden penipuan potensial.

GOVERNANCE OVER THE FRAUD RISK MANAGEMENT PROGRAM

Pada organisasi yang telah mengembangkan budaya perusahaan yang mencakup praktik
tatakelola dewan sampai dengan operasional di level manajemen, termasuk:

- Arus informasi dan agenda Dewan Komisaris

- Akses ke berbagai level manajemen dan pengendalian efektif dari jalur whistleblower

- Proses nominasi yang independen

- Tim Manajemen Senior yang efektif  evaluasi, manajemen kinerja, kompensasi dan
rencana suksesi

- Pedoman perilaku yang spesifik bagi manajemen senior, sebagai tambahan pedoman
perilaku organisasi
- Penekanan yang kuat pada efektivitas independen BoC dan proses melalui evaluasi BoC,
sesi pimpinan dan partisipasi aktif dalam upaya pengawasan strategis dan mitigasi risiko.

ROLES AND RESPONSIBILITIES

Peran dan TanggungJawab dalam program manajemen risiko fraud harus dilakukan secara
formal dan dikomunikasikan. Kebijakan dan prosedur, job description, piagam dan delegasi dari
pihak berwenang penting dalam mendefinisikan beragam peran dan tanggungjawab program
tersebut.

1. Board of Directors

Board of Director melakukan praktik governace seperti yang dijelaskan di atas. Board of
Director menjalankan peran oversight termasuk dalam program manajemen risiko perusahaan

2. Manajemen

Manajemen senior selain harus memberikan contoh atau “tone of the top” juga berperan dalam
membangun sistem monitoring dan pelaporan yang memungkinkan evaluasi apakah manajemen
risiko fraud berjalan secara efektif.

3. Pegawai

Pelaksanaan program manajemen risiko fraud, khususnya kontrol yang dirancang untuk
mencegah dan mendeteksi kecurangan, harus melibatkan setiap orang dalam organisasi. Seluruh
pegawai dilibatkan dalam pelaksanaan program manajemen risiko fraud melalui internalisasi
budaya perusahaan dan dibekali pemahaman untuk membangun fraud awareness

4. Unit Audit Internal

Sebagai unit yang memiliki peran assurance dalam perusahaan memegang peran penting dalam
tatakelola dan program manajemen risiko kecurangan di perusahaan.
FRAUD RISK ASSESMENT

Proses Fraud Risk Assesment mirip dengan tahapan pelaksanaan pengukuran risiko perusahaan
secara keseluruhan. Terdapat tiga langkah kunci sbb:

1. Mengidentifikasi Risiko Fraud yang melekat (inherent)

2. Mengukur dampak dan keterjadian (impact & likelihood) dari risiko yang diidentifikasi

3. Mengembangkan respon atas risiko yang memiliki dampak dan keterjadian tinggi pada
kejadian diluar toleransi manajemen

Dalam melakukan pengukuran risiko fraud, penting untuk melibatkan individu dengan beragam
pengetahuan, kemampuan dan perspektif. Umumnya terdiri atas personel sebagai berikut:

 Personel Akuntansi dan Keuangan

membantu mengidentifikasi skenario kecurangan pelaporan keuangan maupun pencurian


aset perusahaan

 Personel Unit Bisnis Non-Keuangan

meningkatkan pengetahuan mereka dari operasi harian perusahaan, interaksi dengan


pelanggan dan vendor, serta skenario kecurangan terkait industri lainnya

 Personel Bidang Hukum dan Kepatuhan (Legal & Compliance Officer)

meningkatkan pengetahuan mereka dari operasi harian perusahaan, interaksi dengan


pelanggan dan vendor, serta skenario kecurangan terkait industri lainnya
 Personel Manajemen Risiko

membantu mengidentifikasi skenario kecurangan pasar dan asuransi dan memastikan


bahwa fraud risk assesment terintegrasi dengan risk assesment perusahaan secara
keseluruhan

 Auditor Internal

sebagai pihak yang memiliki pemahaman luas tentang skenario risiko kecurangan dan
pengendalian

 Serta Pihak lain dari intern maupun ekstern yang dapat menyediakan tambahan keahlian

Proses Fraud Risk Assesment mirip dengan proses risk assesment dalam tahapan manajemen
risiko perusahaan (enterprise Risk Management) yang di Garuda dijalankan oleh fungsi VP Risk
Management, yaitu menilai dampak dan keterjadian (impact & likelihood) fraud pada
perusahaan. Metode yang dilakukan antara lain melalui (1) Wawancara ; (2) Survei, dan (3)
Rapat fasilitasi (facilitated meeting) dengan pihak terkait

FRAUD RISK IDENTIFICATION

Identifikasi Fraud Risk yang dilakukan harus dapat mengidentifikasi hal-hal sebagai berikut:

 Insentif, Tekanan dan Kesempatan

 Risiko Pelanggaran Pengendalian dari manajemen

 Populasi Fraud Risk

 Kecurangan Pelaporan Keuangan

 Penyalahgunaan Aset

 Korupsi
 Risiko Kecurangan Lainnya

Penilaian dampak dan kemungkinan risiko Fraud

Menentukan potential impact dan likelihood dari tiap scenario fraud merupakan proses yang
subjektif. Berikut adalah beberapa poin yang harus dipertimbangkan ketika melakukan
assessment resiko fraud

- Impact

Penting untuk mempertimbangkan impact yang tidak hanya terkait laporan keuangan
maupun dampak moneter. Karena impact yang lain bisa jadi mempunyai kemungkinan
dampak negative yang lebih besar terhadap laporan keuangan maupun dampak moneter.
Contohnya, legal impact, reputational impact, operational impact, dll
- Likelihood

Response to Fraud Risk

Berikut merupakan COSO ERM – Integrated Framework dalam merespon resiko fraud

- Jika resiko tidak dapat ditoleransi untuk terjadi pada perusahaan, bahkan dalam skala
kecil, manajemen dapat mempertimbangkan untuk menghindari resiko tersebut

- Jika organisasi tidak mempunyai toleransi terhadap resiko, tetapi tidak dapat
menghindarinya tanpa mengganggu tujuan organisasi, pengendalian harus didesign untuk
mengurangi kemungkinan terjadinya insiden/resiko.

- jika suatu organisasi menginginkan untuk mengurangi dampak atau kemungkinan risiko,
tetapi tidak yakin memiliki keterampilan atau pengalaman untuk melakukannya secara
efektif dan efisien, organisasi dapat membagi pengoperasian kontrol preventif dan
detektif dengan organisasi yang lebih siap untuk melaksanakan kontrol tersebut
- jika terjadinya risiko dapat ditoleransi, manajemen dapat memutuskan untuk menerima
risiko sebagaimana level saat ini dan tidak membuat upaya khusus untuk mengelola
risiko

Illegal Act and Response

IIA mendefinisikan fraud sebagai “setiap tindakan ilegal dengan karakteristik tipu daya,
menyembunyikan, atau pelanggaran terhadap kepercayaan”. Beberapa topik seputar Foreign
Corrupt Practices Act (FCPA) yang relevan untuk auditor internal yang berfokus pada upaya
kepatuhan adalah:

- Ketentuan anti-penyuapan dan masalah terkait kepatuhan.

- pencatatan dan ketentuan pengendalian akuntansi internal.

- melakukan due diligence dan menetapkan langkah-langkah terhadap kepatuhan.

- penyelidikan internal, kewajiban keterbukaan, dan monitor

- bisnis terkait, kontrak, dan masalah ketenagakerjaan.

- tindakan untuk tetap menghindari pelanggaran terhadap FCPA dan tindakan penegakan
hukum preemptif

Fraud Prevention

Sebagai tambahan terhadap pelaksanaan lingkungan tata kelola yang kuat, panduan fraud
menguraikan unsur-unsur umum yang dapat memainkan peran penting dalam mencegah
penipuan:

- Melakukan investigasi latar belakang


- memberikan pelatihan anti-fraud
- mengevaluasi kinerja dan program kompensasi
- melakukan wawancara ketika pegawai keluar
- Pembatasan otoritas

- Prosedur transaksi yang berlapis

Fraud Prevention

Berikut ini merupakan beberapa metode deteksi:

- Whistleblower hotlines

- Process Control

Pengendalian yang umum dilakukan adalah melalui proses yang dilakukan sehari-hari.

- Proactive fraud detection procedures

Proactive procedure yang umum dilakukan termasuk diantaranya data analysis, auditing
berkelanjutan, dan penggunaan tools lainnya yang dapat mendeteksi anomaly, maupun
tren yang tidak wajar.

Fraud investigation and corrective action

Menerima Tuduhan/laporan

The investigation and response system should include a process for:

- Mengkategorikan permasalahan
- Mengkonfirmasi validitas laporan/aduan
- Mendefinisikan tingkat keparahan laporan/aduan
- Menyelidiki permasalahan disaat yang tepat
- Mengacu pada isu isu permasalahan di luar lingkup program
- Melakukan investigasi dan pencarian fakta
- Menjaga permasalahan yang dikategorikan confidential
- Mendefinisikan bagaimana investigasi akan didokumentasikan
- Mengelola dan mempertahankan, menjaga keamanan dokumen dan informasi

Mengevaluasi laporan/aduan

- Menentukan apakah laporan ini memerlukan investigasi formal atau informasi sudah
didapatkan secara cukup untuk menarik kesimpulan
- Siapa yang harus memimpin investigasi?
- Apakah diperlukan keahlian atau tools khusus untuk investigasi?
- Siapa yang perlu diwaspadai, dan kapan?

- Menentukan prosedur formal

Establishing investigation protocols

- Time sensitivity
- Notification
- Confidentiality
- Legal previleges
- Compliance
- Securing evidence
- Objectivity

- Goals

UNDERSTANDING FRAUDSTERS

Selain harus memiliki pengetahuan mengenai karakteristik fraud, teknik-teknik yang digunakan
dalam melakukan fraud, dan jenis-jenis fraud yang mungkin terjadi pada berbagai proses bisnis,
Auditor internal harus mampu memahami pola pikir dan perilaku para pelaku fraud serta
memiliki rasa professional skepticism yang tinggi dan tidak berasumsi bahwa orang akan
"melakukan hal yang benar." Auditor internal harus "berpikir seperti seorang penjahat untuk
menangkap penjahat." Mereka harus mencoba untuk memahami mengapa seorang individu yang
dinyatakan jujur akan melakukan tindakan yang tidak jujur. Dengan pemahaman ini maka akan
meningkatkan kemungkinan bahwa internal auditor dapat mendeteksi, dan dalam beberapa kasus
bahkan mencegah, seorang individu dari melakukan fraud.
Behavioral science/ Ilmu perilaku sejauh ini belum mampu mengidentifikasi satu karakteristik
psikologis atau seperangkat karakteristik yang dapat berfungsi sebagai penanda yang andal atas
kecenderungan seseorang untuk melakukan fraud. Salah satu forensic accountant and fraud
examiner berpengalaman, Thomas Golden, percaya bahwa pelaku fraud pelaporan keuangan
akan sesuai dengan salah satu dari dua profil berikut ini, yaitu: "greater good oriented" or
"scheming, self-centered" types. Mereka yang cocok dengan profil greater good oriented adalah
"individu tidak jujur yang menggambarkan angka dengan rasionalisasi bahwa apa yang mereka
lakukan yang terbaik bagi perusahaan. Scheming, self-centered adalah "individu yang
menunjukkan pengabaian atas kebenaran, sangat menyadari apa yang mereka lakukan, dan
mencoba untuk mencapai tujuan dengan tidak jujur.

Dengan mendapatkan wawasan atas red flag potensial yang mensinyalkan individu yang lebih
rentan terhadap melakukan fraud akan membantu auditor internal memahami kapan risiko
penipuan akan meningkat.

Red flags tersebut adalah termasuk orang-orang yang:

 Menunjukkan gaya hidup yang tampaknya di luar kemampuan mereka saat ini.
 Apakah mengalami masalah keuangan yang ekstrim dan / atau memiliki utang pribadi
yang luar biasa.
 Memiliki kecenderungan yang tidak biasa untuk menghabiskan uang.
 Apakah menderita depresi atau masalah emosional lainnya.
 Memiliki obsesi perjudian.
 Memiliki kebutuhan atau keinginan atas status, dan percaya bahwa uang bisa membeli
status.

Auditor internal tidak diharapkan untuk menjadi behavioral psychologists or criminologists/


psikolog perilaku atau kriminolog. Namun, dengan mendapatkan wawasan yang mendalam
tentang apa yang memotivasi pelaku fraud dapat membantu auditor internal "menjaga antena
mereka" di tempat kerja dan mengantisipasi individu yang dapat menimbulkan risiko fraud yang
lebih besar.
IMPLICATIONS FOR INTERNAL AUDITORS AND OTHERS

Seharusnya sudah jelas bahwa auditor internal memainkan peran kunci dalam program
manajemen risiko fraud. Standar memberikan petunjuk khusus untuk auditor internal. Sebagai
contoh:

 Standar 1210.A2 - Auditor internal harus memiliki pengetahuan yang cukup untuk
mengevaluasi risiko fraud dan cara yang dikelola oleh organisasi, tetapi tidak diharapkan
memiliki keahlian seseorang yang tanggung jawab utamanya adalah mendeteksi dan
menyelidiki fraud.

 Standar 1220.A1 - Auditor internal harus bekerja secara profesional dengan


mempertimbangkan
... kemungkinan kesalahan yang signifikan, fraud, atau ketidakpatuhan.

 Standar 2060 - Kepala eksekutif audit (CAE) harus melaporkan secara berkala kepada
manajemen senior dan dewan pada ... risiko fraud ...
 Standar 2120.A2 - audit internal [fungsi] harus mengevaluasi potensi terjadinya fraud dan
bagaimana organisasi mengelola risiko fraud.

Sebagai "mata dan telinga, lengan dan kaki dari komite audit," auditor internal perlu
mempertimbangkan pertanyaan-pertanyaan berikut:

 Risiko fraud apa yang sedang dipantau oleh manajemen secara periodik atau berkala?
Apakah risiko kritis fraud yang berulang dan bahkan terus menerus, monitoring?
 Apa prosedur khusus yang sedang dilakukan oleh fungsi audit internal untuk mengatasi
pengesampingan manajemen atas kontrol internal?
 Apakah sesuatu telah terjadi yang mengarahkan fungsi audit internal untuk mengubah
penilaian risiko atas pengesampingan manajemen atas kontrol internal?
 Kompetensi dan keterampilan apa yang auditor internal butuhkan untuk mengatasi risiko
fraud dalam organisasi? Kapan mereka harus memakai/mendapatkan layanan dari
spesialis dari luar untuk menangani masalah yang sangat kompleks?

 Sebagai tambahan untuk membagun jalur langsung pelaporan kepada komite audit,
bagaimana status organisasi independen dari fungsi audit internal bisa diperkuat? Apakah
mereka diandalkan sebagai profesional yang kompeten dan obyektif dalam menangani
risiko dan pengendalian masalah fraud?

 Bagaimana seharusnya fungsi audit internal mencurahkan perhatiannya pada pencegahan,


penghindaran, detektif, dan aspek investigasi fraud?
 Bagaimana audit internal menambahkan perangkat lunak analisis data untuk memberikan
deteksi dini?

Professional Skepticism, Professional Judgment, And Forensic Technology

Pelaksanaan professional judgment terletak di kegiatan assurance dan konsultasi fungsi audit
internal. Ketika menilai risiko fraud, auditor internal harus menunjukkan tingkat professional
skepticism yang tinggi, yaitu, kemampuan secara kritis mengevaluasi bukti dan informasi yang
tersedia. Hal ini khususnya terjadi karena pelaku fraud yang biasanya "menutupi jejak mereka".
Sebagai contoh, diperlukan ketekunan yang kuat oleh 2004 Time magazine's Person of the Year,
Cynthia Cooper dan tim audit internal nya di WorldCom, untuk menggali fraud besar-besaran
yang dilakukan oleh manajemen WorldCom.

Dengan menggunakan teknologi komunikasi, investigasi forensik dan pemeriksaan fraud di masa
depan akan sangat bergantung pada forensik komputer, pencitraan data komputer, penemuan
bukti elektronik, dan analisis data terstruktur dan tidak terstruktur. Dengan kata lain, penggunaan
teknologi tidak akan terbatas pada analisis data (setelah data terstruktur telah dikumpulkan);
sebaliknya, penggalian dan pelestarian bukti elektronik biasanya dalam bentuk tekstual, data
tidak terstruktur yang membutuhkan pencarian kata kunci. Dalam konteks seperti itu, akan
sangat penting bagi pemeriksa fraud untuk memiliki pemahaman dan penguasaan yang baik atas
alat dan teknik digital teknologi forensik.

Use of Fraud Specialists

Fungsi audit internal dapat memainkan berbagai peran untuk memerangi fraud dalam suatu
organisasi, termasuk melakukan training kesadaran fraud, menilai rancangan program antifraud
dan kontrol, menguji efektivitas operasi pengendalian tersebut, menyelidiki kejanggalan dan
keluhan whistleblower, dan melakukan investigasi penuh dengan matang atas perintah komite
audit. Namun, fungsi audit internal mungkin tidak memiliki pengalaman dan keterampilan untuk
melakukan semua peran ini. Akibatnya, adalah umum bagi CAE untuk mencari bantuan spesialis
fraud untuk melengkapi keterampilan mereka dalam fungsi tersebut.

Ada banyak keuntungan untuk menggunakan outside fraud specialists, ditambah lagi
independensi yang mereka bawa dalam pekerjaan. Sebagai contoh, mereka memiliki pengalaman
yang luas dalam mengidentifikasi dan menyelidiki berbagai skema fraud yang berbeda. Oleh
karena itu, mereka dapat membantu dalam mengidentifikasi dan menilai "usual suspect
(tersangka biasa)" dan merekomendasikan metode optimal penyelidikan. Selain itu, dengan
pernah bekerja bersama penasihat independen, penasihat umum, pengacara negara, regulator,
aparat penegak hukum, akuntan dan auditor lain, dan jaksa, mereka memiliki pemahaman yang
baik tentang isu-isu seperti:

 Cara terbaik untuk menyelidiki jenis tertentu skema fraud.


 Menilai kualitas dan kuantitas bukti yang dibutuhkan.
 Mengevaluasi diterimanya bukti berkonsultasi dengan pengacara luar.
 Melestarikan bukti dan chain of custody.
 Kebutuhan, serta potensi untuk bertindak sebagai, saksi fakta atau sebagai ahli.

Communicating Fraud Audit Outcomes

Auditor internal merangkum hasil temuan mereka dan mengkomunikasikannya secara sistematis,
terorganisir untuk meningkatkan kejelasan dan pemahaman, yang biasanya meliputi:

 Sebuah pernyataan yang singkat dan jelas tentang masalah.


 Sebuah kutipan dari kebijakan yang relevan, peraturan, standar, hukum, dan peraturan
yang mungkin berlaku untuk kasus yang ditangani.
 Analisis atas bukti yang terkumpul untuk membentuk pendapat profesional.
 Kesimpulan; yaitu temuan dan rekomendasi.

Ini akan membantu membuat komunikasi yang jelas dan berguna, terutama jika sedang
diandalkan oleh penasihat umum (general counsel) atau pengacara luar melakukan penyelidikan,
yang mungkin ingin membuat bagian komunikasi bagian dari komunikasi mereka. Pada setiap
waktu, komunikasi yang dikeluarkan oleh auditor internal harus berisi fakta -fakta saja, dan
setiap upaya harus dilakukan untuk menjauhkan diri dari pendapat pribadi atau segala jenis bias
atau spekulasi yang berpotensi masuk ke analisis.

Dalam hal apapun, mereka tidak harus berusaha untuk memperbaiki kesalahan pada karyawan
tertentu, tetapi hanya harus menyatakan bahwa bukti yang dikumpulkan muncul untuk
mendukung kesimpulan bahwa fraud mungkin telah dilakukan. Menentukan kesalahan adalah
fungsi dari pengadilan (hakim dan juri), dan biasanya di luar lingkup tanggung jawab auditor
internal.

OPPORTUNITIES TO PROVIDE INSIGHT

Auditor internal dapat memberikan pemahaman kepada manajemen senior mengenai pencegahan
dan deteksi fraud dan tindakan ilegal dalam beberapa cara. Sepuluh peluang utama bagi auditor
internal untuk memberikan pemahaman diuraikan dalam exhibit 8-13.

EXHIBIT 8-13
10 oppotunities fungsi auditor internal untuk menyediakan wawasan tentang risiko fraud dan
tindakan ilegal

1. Membantu organisasi dalam pengembangan penilaian risiko fraud yang komprehensif.


2. Mengembangkan proses untuk deteksi dini fraud.
3. Mengembangkan alat analisis data yang dapat digunakan untuk mendeteksi fraud pada
tahap awal.
4. Membantu dengan pengembangan prosedur hotline call.
5. Memberikan pelatihan kesadaran akan fraud di seluruh organisasi.
6. Bertindak tegas pada peristiwa fraud yang signifikan.
7. Membantu dalam analisis postmortem ketika fraud terjadi.
8. Menginformasikan kepada manajemen dari tindakan hukum potensial yang berisiko
untuk organisasi.
9. Membantu manajemen dalam mengembangkan budaya perilaku etis dan toleransi rendah
terhadap fraud.
10. Tetap mengikuti dan menginformasikan pengelolaan atas masalah-masalah yang muncul
dan isu-isu yang berkembang terkait dengan kepatuhan dan peraturan.
FRAUD DAN TINDAKAN ILEGAL RESUME

disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Auditing Internal

Dosen Pembina
Ibnu Rachman,DR.,Drs.,M.Si.,Ak.,C.A.

Oleh
Fikri Naufal (011401027)
Asri Ningsih (011401068)

JURUSAN AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS WIDYATAMA
BANDUNG
2017