Anda di halaman 1dari 26

MAKALAH PERPEJAKAN

“PAJAK BUMI DAN BANGUNAN”


Makalah untuk memenuhi Tugas Perpajakan
dengan Dosen Pembimbing :
Merida, S.E., M.Ak

Oleh Kelompok 6
Nama Anggota :
1. Siti Anis Arisah 1616220067
2. Lufi Aulia Ramadanti 1716220013
3. Waldetrudis Anum 1716220038
4. Romasni Elizabeth P 1716220052
5. Anggi Septikasari 1716220054
6. Lutfita Syahrani 1716220070
7. Eva Zullifah 1716220092

SEKOLAH TINGGI ILMU EKONOMI


PUTRA PERDANA INDONESIA
2019
ii

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI ................................................................................................................. ii


KATA PENGANTAR ................................................................................................. iv
BAB I
PENDAHULUAN ........................................................................................................ 5
1. Latar Belakang ................................................................................................... 5
2. Rumusan Masalah .............................................................................................. 6
3. Tujuan ................................................................................................................ 6
1. Pajak Bumi dan Bangunan ................................................................................. 7
1.1 Pengertian Pajak Bumi dan Bangunan........................................................ 7
1.2 Asas Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) ..................................................... 7
1.3 Dasar Hukum Pajak Bumi dan Bangunan .................................................. 8
2. Objek dan Subjek Pajak ..................................................................................... 8
2.1 Objek Pajak ................................................................................................. 8
2.2 Subjek Pajak ............................................................................................. 11
3. Tarif Dasar Pengenaan, Cara Menghitung Pajak Bumi dan Bangunan ........... 12
3.1 Tarif Pajak Bumi dan Bangunan ............................................................... 12
3.2 Dasar Pengenaan Pajak Bumi dan Bangunan ........................................... 12
4. Cara Menghitung Pajak Bumi dan Bangunan .................................................. 14
5. Tahun, Saat dan Tempat Pajak Terutang ......................................................... 16
5.1 Tahun Pajak .............................................................................................. 16
5.2 Saat Pajak Terutang .................................................................................. 16
5.3 Tempat Pajak Terutang ............................................................................. 17
6. Surat Pemberitahuan Objek Pajak (SPOP), Surat Pemberitahuan Pajak
Terutang (SPPT) dan Surat Ketetapan Pajak (SKP) ................................................... 17
6.1 Surat Pemberitahuan Objek Pajak (SPOP), Surat Pemberitahuan Pajak
Terutang (SPPT) .................................................................................................. 18
6.2 Surat Ketetapan Pajak (SKP) .................................................................... 19
iii

7. Tata Cara Pembayaran dan Penagihan Pajak Bumi dan Bangunan ................. 19
7.1 Tata Cara Pembayaran Pajak Bumi dan Bangunan .................................. 19
7.2 Pembagian Hasil Pajak Bumi dan Bangunan ........................................... 21
8. Sanksi ............................................................................................................... 22
8.1 Sanksi Administrasi .................................................................................. 22
8.2 Sanksi Pidana ............................................................................................ 23
BAB III ....................................................................................................................... 25
PENUTUP ................................................................................................................... 25
1. Simpulan .............................................................................................................. 25
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................. 26
iv

KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur saya panjatkan kepada tuhan yang maha esa, karena atas
berkat dan limpahan rahmat-Nya maka kami bisa menyelesaikan sebuah karya tulis
dengan tepat waktu. Berikut ini penulis mempersembahkan sebuah makalah dengan
judul “Makalah Pajak Bumi dan Bangunan”, yang menurut saya dapat memberikan
manfaat yang besar bagi kita untuk mempelajari Pajak Bumi dan Bangunan.

Melalui kata pengantar ini penulis lebih dahulu meminta maaf dan memoho
permakluman bila mana isi makalah ini ada kekurangan dan ada tulisan yang saya
buat kurang tepat atau menyinggung perasaan pembaca.

Dengan ini kami mempersembahkan makalah ini dengan penuh rasa terima kasih dan
semoga allah SWT memberkahi makalah ini sehingga dapat memberikan manfaat.

Tangerang, 23 Juni 2019

Penulis
5

BAB I

PENDAHULUAN

1. Latar Belakang

Bumi yang kita pijakan ini sebenarnya merupakan hak kita tetapi kita memiiki
kewajiban tersendiri pula untuk membayar atas apa yang telah kita gunakan
dipermukaan Bumi seperti bangunan, sawah, lading dan lainnya. Sejak
diberlakuknya peraturan perudang-udangan pendaerahan PBB, Pengelolaan
PBB bukan lagi jadi wewenang Kantor Pelayanan Pajak tetapi berpindah
tangan ke pemerintahan Kota/Kabupaten, jadi SPPT PBB yang kita terima
akan berbeda baik bentuk, warna dan tarif pajak serta susunannya karena
menyeseuaikan dengan peraturan dan ketentuan perundangan yang ditetapkan
di wilayah Kabupaten/Kota. Jadi jangan pernah heran jika kita memiliki
banyak property da tersebar dibeberapa kota dan kita akan menerima SPT
yang bermacam warna pula karena ini bersifat regional Sebenernya peraturan
yang ditetapkan oleh Pemerintah Kota/Kabupaten tentang PBB umumnya
mengadopsi dari peruturan perundangan yang telah ada ( UU No 12 tahun
1984 Jo UU No 12 Tahun 1994 ) tetapi karena kondisi, kebutuhan dan
kemampuan setiap daerah berbeda maka biasanya tiap pemerintah kota/
kabupaten akan membuat peraturan tentang PBB sesuai dengan kemampuan
dan kebutuhan. Pembayaran PBB ini sebenarnya wajib bagi masyarakat yang
memanfaatkan dan menggunakan lahan di bumi dan bangunan, dimana
besarnya pembayaran akan tergantung kepada berapa banyak asset yang
dimiliki serta berapa besar objek yang tidak kena pajak di daerah masing-
masing. Penduduk Indonesia yang masih sangat minim pengetahuan
mengenai PBB ini terkadang sering menunggak pembayaran Pajak ini
sehingga ini akan berdampak negative pula pada perkembangan ekonomi
Indonesia nantinya, oleh karena itu sebagai masyarakat yang baik kita harus
6

mau mebayar pajak ini guna kepentingan bersama.

2. Rumusan Masalah
A. Apa itu pajak bumi dan bangunan, serta asas dan dasar hukumnya.
B. Apa yang termasuk objek dan subjek pajak bumi dan bangunan.
C. Bagaimana tarif dasar pengenaan, cara menghitung Pajak Bumi dan
Bangunan.
D. Apa itu tahun, saat dan tempat pajak terutang.

3. Tujuan
A. Untuk mengetahui apa itu pajak bumi bangunan, asas dan dasar
hukumnya.
B. Untuk mengetahui apa saja yang termasuk objek pajak dan siapa subjek
pajak itu.
C. Untuk mengetahui tarif dasar pengenaan dan cara menghitungnya.
D. Untuk mengetahui apa itu tahun, saat dan tempet pajak terutrang.
7

BAB II

PEMBAHASAN

1. Pajak Bumi dan Bangunan


1.1 Pengertian Pajak Bumi dan Bangunan
Menurut Darwin (2009:6) mendefinisikan Pajak Bumi dan Bangunan
sebagai berikut:
”Pajak Bumi dan Bangunan adalah pajak yang dikenakan atas harta
tak gerak berupa bumi dan atau bangunan”.
Menurut para ahli pajak Penulis menyimpulkan definisi Pajak Bumi dan
Bangunan sebagai berikut:
”Pajak Bumi dan Bangunan adalah pajak yang dikenakan terhadap
bumi dan bangunan dan besarnya pajak terutang ditentukan oleh
keadaan objek pajak yaitu bumi dan bangunan”.

1.2 Asas Pajak Bumi dan Bangunan (PBB)


Menurut Mardiasmo (2008:315) asas Pajak Bumi dan Bangunan telah
ditentukan oleh undang-undang, yaitu:
1. Memberikan kemudahan dan kesederhanaan

2. Adanya kepastian hukum

3. Mudah dimengerti

4. Menghindari pajak berganda

Berdasarkan asas tersebut Penulis menyimpulkan asas Pajak Bumi dan


Bangunan telah ditentukan oleh undang-undang serta untuk meningkatkan
kesejahteraan masyarakat.
8

1.3 Dasar Hukum Pajak Bumi dan Bangunan


Dasar hukum pengenaan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) adalah undang-
undang No.12 tahun 1985, sebagaimana telah diubah dengan undang-
undang No.12 tahun 1994 perubahan tersebut menyangkut terhadap
peraturan pelaksanaannya, yang dalam hal ini berupa keputusan Menteri
Keuangan No.1007/KMK/04/1985, keputusan bersama Direktorat Jenderal
Pajak dan Direktorat Jenderal Pemerintahan Umum dan Otonomi Daerah
No.Kep.30/PJ.7/1986, No.973-562 yang isinya pelaksanaan pelimpahan
kewenangan Menteri Keuangan dalam hal penagihan pajak Bumi dan
Bangunan kepada Gubernur dan Bupati/Walikota.
Berdasarkan dasar hukum Pajak Bumi dan Bangunan diatas Penulis
menyimpulkan perubahan atas dasar hukum pengenaan Pajak Bumi dan
Bangunan mengenai pelaksanaan pelimpahan kewenangan Menteri
Keuangan dalam hal penagihan Pajak Bumi dan Bangunan kepada
Gubernur/Walikota.

2. Objek dan Subjek Pajak


2.1 Objek Pajak

Menurut Mardiasmo (2008:315) yang dimaksud objek pajak adalah bumi


dan bangunan :

“Bumi adalah permukaan bumi dan tubuh bumi yang ada dibawahnya.
Permukaan bumi meliputi tanah dan perairan pedalaman (termasuk
rawa-rawa, tambak, perairan) serta laut wilayah Republik Indonesia”.

Yang dimaksud dengan klasifikasi bumi dan bangunan adalah


pengelompokkan bumi dan bangunan menurut nilai jualnya dan digunakan
sebagai pedoman, serta untuk memudahkan penghitungan pajak yang
terutang.Dalam menentukan klasifikasi bumi/tanah diperhatikan faktor-
9

faktor sebagai berikut:


1. Letak

2. Peruntukan

3. Pemanfaatan

4. Kondisi lingkungan dan lain-lain

“Bangunan adalah konstruksi teknik yang ditanam atau dilekatkan


secara tetap pada tanah atau perairan”.

Dalam menentukan klasifikasi bangunan diperhatikan faktor-faktor sebagai


berikut:

1. Bahan yang digunakan

2. Rekayasa

3. Letak

4. Kondisi lingkungan dan lain-lain

Termasuk dalam pengertian bangunan adalah:

1. Jalan lingkungan dalam satu kesatuan dengan komplek bangunan

2. Jalan tol

3. Kolam renang

4. Pagar mewah

5. Tempat olah raga

6. Galangan kapal, dermaga

7. Taman mewah
10

8. Tempat penampungan/kilang minyak, air dan gas, pipa minyak

9. Fasilitas lain yang memberikan manfaat

Berdasarkan penjelasan diatas, Penulis dapat menyimpulkan selain tanah,


perairan juga merupakan objek pajak sehingga tidak heran bahwa objek-
objek yang ada di perairan seperti tambang minyak lepas pantai, budidaya
mutiara di laut merupakan objek pajak dari Pajak Bumi dan Bangunan.
A. Pengecualian objek Pajak
Objek pajak yang tidak dikenakan Pajak Bumi dan Bangunan adalah
objek pajak yang :
a. Digunakan semata-mata untuk melayani kepentingan umum
dan tidak untuk mencari keuntungan, antara lain:
1) Di bidang tanah, contoh: masjid, gereja, wihara
2) Di bidang kesehatan, contoh: rumah sakit
3) Di bidang pendidikan, contoh: madrasah, pesantren
4) Di bidang sosial, contoh: panti asuhan
5) Di bidang kebudayaan nasional, contoh: museum,
candi
b. Digunakan untuk kuburan, peninggalan purbakala, atau yang
sejenis.
c. Merupakan hutan lindung, hutan suaka alam, hutan wisata,
taman nasional, tanah penggembalaan yang dikuasai oleh
desa, dan tanah negara yang belum di bebani suatu hak.
d. Digunakan oleh perwakilan diplomatik, konsulat berdasarkan
asas perlakuan timbal balik.
e. Digunakan oleh badan atau perwakilan organisasi
internasional yang ditentukan oleh Menteri Keuangan.
B. Objek pajak yang digunakan oleh negara untuk penyelenggaraan
pemerintahan, penentuan pengenaan pajaknya diatur lebih lanjut
11

dengan peraturan pemerintah.


Yang dimaksud dengan objek pajak adalah objek pajak yang
memiliki/dikuasai/digunakan oleh Pemerintah Pusat dan Pemerintah
Daerah dalam menyelenggarakan pemerintahan. Pajak Bumi dan
Bangunan adalah pajak negara yang sebagian besar penerimaannya
merupakan pendapatan daerah yang antara lain dipergunakan untuk
penyediaan fasilitas yang juga dinikmati oleh Pemerintah Pusat dan
Pemerintah Daerah. Oleh sebab itu wajar Pemerintah Pusat juga ikut
membiayai penyediaan fasilitas tersebut melalui pembayaran Pajak
Bumi dan Bangunan. Mengenai bumi atau bangunan milik
perseorangan atau bukan yang digunakan oleh negara, kewajiban
perpajakannya tergantung pada perjanjian yang diadakan.
C. Pemerintah menaikkan batas Nilai Jual Objek Pajak Tidak Kena
Pajak (NJOPTKP) Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) dari Rp.
12.000.000,- menjadi Rp. 24.000.000,- NJOPTKP terbaru ini,
berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor
67/PMK.03/2011 yang ditetapkan paling tinggi Rp. 24.000.000,-.
Angka tersebut naik jika bandingan NJOPTKP yang diatur
Keputusan Menteri Keuangan (KMK) Nomor 201/KMK.04/2000
yakni Rp. 12.000.000,-. NJOPTKP terbaru ini, berlaku 1 Januari
2012. sehingga, semua transaksi jual- beli tanah dan rumah atau
bangunan setelah 1 Januari 2012 dapat diperhitungkan besaran
PBB-nya dengan menggunakan NJOPTKP Rp. 24.000.000,-

2.2 Subjek Pajak

Menurut pasal 4 ayat (1) undang-undang No.12 Tahun 1985 sebagaimana


telah diubah dengan undang-undang No.12 Tahun 1994 subjek pajak adalah
orang atau badan yang secara nyata mempunyai suatu hak atas tanah dan
12

atau bangunan atau memperoleh manfaat atas bumi dan atau bangunan serta
memiliki, menguasai dan atau memperoleh manfaat atas subjek pajak
sebagaimana dimaksud di atas yang dikenakan kewajiban membayar pajak
menjadi wajib pajak menurut undang- undang Pajak Bumi dan Bangunan.
Dalam hal atas suatu objek pajak yang belum jelas diketahui wajib pajaknya,
Direktur Jenderal Pajak dapat menetapkan subjek pajak sebagai wajib pajak.

Berdasarkan penjelasan diatas, Penulis dapat menyimpulkan seseorang


yang memiliki tanah atau bangunan merupakan subjek pajak, penyewa atas
tanah dan bangunan tersebut juga merupakan subjek pajak karena kedua
pihak tersebut sama-sama memperoleh manfaat atas bumi dan bangunan
yang dimiliki atau disewanya.

3. Tarif Dasar Pengenaan, Cara Menghitung Pajak Bumi dan


Bangunan
3.1 Tarif Pajak Bumi dan Bangunan

Menurut Pasal 5 undang-undang No.12 Tahun 1985 sebagaimana telah


diubah terakhir dengan undang-undang No. 12 Tahun 1994 tentang Pajak
Bumi dan Bangunan (PBB), tarif pajak yang dikenakan atas objek pajak
adalah sebesar 0,5 (lima persepuluh persen).

Berdasarkan penjelasan diatas, maka penulis dapat menyimpulkan tarif


pajak yang dikenakan atas objek pajak adalah tarif tunggal sebesar 0,5%
(lima persepuluh persen). Pajak yang dibayar selalu akan berubah sesuai
dengan jumlah yang dikenakannya.

3.2 Dasar Pengenaan Pajak Bumi dan Bangunan

Menurut Mardiasmo (2008:321) dasar pengenaan pajak adalah :

1. Dasar pengenaan pajak adalah Nilai Jual Objek Pajak (NJOP).


13

2. Besarnya Nilai Jual Objek Pajak (NJOP) ditetapkan setiap tiga


tahun oleh Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak atas
nama Menteri Keuangan dengan mempertimbangkan pendapat
Gubernur/Bupati/Walikota (Pemerintah Daerah) setempat.
3. Dasar penghitungan pajak adalah yang ditetapkan serendah-
rendahnya 20% dan setinggi-tingginya 100% dari Nilai Jual Objek
Pajak (NJOP).
4. Besarnya presentase ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah
dengan memperhatikan kondisi ekonomi nasional.
Pada dasarnya penetapan Nilai Jual Objek Pajak (NJOP) adalah 3 (tiga)
tahun sekali. Namun demikian untuk daerah tertentu yang karena
perkembangan pembangunan mengakibatkan kenaikan NJOP cukup
besar, maka penetapan nilai jual ditetapkan setahun sekali.
Dalam menetapkan nilai jual, Kepala Kantor Wilayah Direktorat
Jenderal Pajak atas nama Menteri Keuangan dengan mempertimbangkan
pendapat Gubernur/Bupati/Walikota (Pemerintah Daerah) setempat
serta memperhatikan asas self assessment. Yang dimaksud (assessment
value) adalah nilai jual yang dipergunakan sebagai dasar penghitungan
pajak, yaitu suatu persentase tertentu dari nilai jual sebenarnya.
Untuk perkembangan sekarang ini, terutama untuk tidak terlalu
membebani wajib pajak di daerah pedesaan, tetapi dengan tetap
memperhatikan penerimaan, khususnya bagi Pemerintah Daerah, maka
telah ditetapkan besarnya persentase untuk menentukan besarnya NJKP,
yaitu :

1. Sebesar 40% (empat puluh persen) dari NJOP untuk :

a. Objek pajak perkebunan

b. Objek pajak kehutanan


14

c. Objek pajak lainnya, yang wajib pajaknya perorangan


dengan NJOP atas bumi dan bangunan sama atau lebih besar
dari Rp. 1.000.000.000,- (satu milyar rupiah).

2. Sebesar 20% (dua puluh persen) dari NJOP untuk :

a. Objek pajak pertambangan

b. Objek pajak lainnya yang NJOP-nya kurang dari Rp.


1.000.000.000,- (satu milyar rupiah).

4. Cara Menghitung Pajak Bumi dan Bangunan


Faktor-faktor penting dalam penghitungan Pajak Bumi dan Bangunan adalah
sebagai berikut:

1. Tarif

Berdasarkan ketentuan dalam undang-undang Pajak Bumi dan


Bangunan No.12 tahun 1985 yang diubah dengan undang-undang
Pajak Bumi dan Bangunan No.14 tahun 1994 menyatakan bahwa
tarif pajak yang dikenakan atas objek pajak (bumi dan bangunan)
adalah sebesar 0,5%.
Tarif yang sebesar 0,5% tersebut, efektifnya adalah:
- 0,5% x 40% = 0,2%
- 0,5% x 20% = 0,1%
2. Nilai Jual Objek Pajak (NJOP)

Adalah harga rata-rata yang diperoleh dari transaksi jual beli yang
terjadi secara wajar. Apabila tidak terjadi transaksi jual beli, NJOP
ditentukan melalui perbandingan harga dengan objek lain yang
sejenis atau dengan nilai perolehan baru.

Yang dimaksud dengan perbandingan harga dengan objek lain


yang sejenis adalah, suatu pendekatan/metode penentuan nilai jual
15

suatu objek pajak dengan cara membandingkan dengan objek pajak


lain yang sejenis yang letaknya berdekatan dan fungsinya sama serta
telah diketahui harga jualnya. Sedangkan nilai perolehan baru
adalah suatu pendekatan/metode penentuan nilai jual objek pajak
dengan cara menghitung seluruh biaya yang dikeluarkan untuk
memperoleh objek pajak tersebut pada saat penilaian dilakukan
yang dikurangi dengan penyusutan berdasarkan kondisi fisik objek
tersebut.

3. Nilai Jual Kena Pajak

Merupakan dasar penghitungan Pajak Bumi dan Bangunan yang


ditetapkan oleh pemerintah serendah-rendahnya 20% dan setinggi-
tingginya 100%. Besarnya persentase NJKP ditetapkan berdasarkan
peraturan pemerintah dengan memperhatikan keadaan
perekonomian pada umumnya terutama untuk tidak terlalu
membebani wajib pajak di daerah pedesaan, tetapi dengan tetap
memperhatikan penerimaan khususnya bagi Pemerintah Daerah dan
tidak ditentukan jangka waktu masa berlakunya, tergantung pada
kondisi ekonomi nasional.

4. Nilai Jual Objek Pajak Tidak Kena Pajak (NJOPTKP)

Adalah batasan nilai jual objek pajak yang tidak kena pajak dan
bertujuan untuk lebih memberikan keadilan dalam pengenaan pajak.
NJOPTKP yang ditetapkan adalah sebesar Rp. 24.000.000,- (dua
puluh empat juta rupiah). Setelah diketahui factor-faktor
sebagaimana disebutkan diatas, maka penghitungan Pajak Bumi dan
Bangunan (PBB) terutang dilakukan dengan formula sebagai
berikut:
16

 NJOP Tanah = luas x nilai jual/m2 = Rp.

 NJOP Bangunan = luas x nilai jual/m2 = Rp. +

 NJOP Dasar Pengenaan = Rp.

 NJOPTKP = Rp. -

 NJOP untuk perhitungan PBB = Rp.

Besarnya pajak terutang dihitung dengan cara mengkalikan tariff pajak


dengan NJKP

Pajak Bumi dan Bangunan= Tarif Pajak x NJKP

= 0,5% [Persentase NJKP x (NJOP-NJOPTKP)

5. Tahun, Saat dan Tempat Pajak Terutang


5.1 Tahun Pajak

Menurut pasal 8 ayat (1) 1985 sebagaimana telah diubah terakhir dengan
undang-undang No.12 Tahun 1994, tahun pajak adalah jangka waktu satu
tahun takwim, yaitu dari 1 Januari sampai dengan 31 Desember.

Berdasarkan penjelasan diatas Penulis dapat menyimpulkan bahwa tahun


pajak telah ditetapkan menurut undang-undang dan tanpa membebankan
wajib pajak karena disesuaikan dengan kemampuan ekonomi masyarakat.

5.2 Saat Pajak Terutang

Menurut Pasal 8 ayat (2) No.12 Tahun 1985 sebagaimana telah diubah
terakhir dengan undang-undang No.12 Tahun 1994 tentang Pajak Bumi dan
Bangunan (PBB), saat yang menentukan pajak yang terutang adalah menurut
keadaan objek pajak pada tanggal 1 Januari. Karena tahun pajak dimulai
17

pada tanggal 1 Januari, maka keadaan objek pajak pada tanggal 1 Januari,
maka keadaan objek pajak pada tanggal merupakan saat yang menentukan
pajak yang terutang.

Contoh:

1. Objek pajak pada tanggal 1 Januari 2008 berupa tanah dan bangunan.
Pada tanggal 10 Januari 2008 bangunannya terbakar, maka pajak
yang terutang tetap berdasarkan keadaan objek pajak pada tanggal 1
Januari 2008 yaitu keadaan sebelum bangunan tersebut terbakar.

2. Objek pajak pada tanggal 1 Januari 2008 berupa sebidang tanah


tanpa bangunan di atasnya. Pada tanggal 10 Agustus 2008 dilakukan
pendataan, ternyata diatas tanah tersebut telah berdiri satu bangunan,
maka pajak yang terutang untuk tahun 2008 tetap dikenakan pajak
berdasarkan keadaan pada tanggal 1 Januari 2008. Sedangkan
bangunannya baru akan dikenakan pajak pada tahunn 2009.

5.3 Tempat Pajak Terutang


Menurut Pasal 8 ayat (3) N0.12 Tahun 1985 sebagaimana telah diubah terakhir
dengan undang-undang No.12 Tahun 1994 tentang Pajak Bumi dan Bangunan,
tempat pajak yang terutang adalah sebagai berikut :

1. Untuk Daerah Jakarta, di wilayah Daerah Khusus Ibukota Jakarta

2. Untuk daerah lainnya, di wilayah Kabupaten Daerah tingkat II atau


Kotamadya Daerah Tinngkat II yang meliputi letak objek pajak.

6. Surat Pemberitahuan Objek Pajak (SPOP), Surat


Pemberitahuan Pajak Terutang (SPPT) dan Surat Ketetapan
Pajak (SKP)

6.1 Surat Pemberitahuan Objek Pajak (SPOP), Surat Pemberitahuan


18

Pajak Terutang (SPPT)

Menurut Mardiasmo (2008:316) definisi surat pemberitahuan objek pajak


(SPOP) sebagai berikut:

”Surat pemberitahuan objek pajak (SPOP) adalah surat yang


digunakan oleh wajib pajak untuk melaporkan data objek pajak
menurut ketentuan undang-undang Pajak Bumi dan Bangunan”.

Menurut Mardiasmo(2008:316) definisi surat pemberitahuan pajak terutang


(SPPT) sebagai berikut:

“Surat pemberitahuan pajak terutang (SPPT) adalah surat yang


digunakan oleh Direktorat Jenderal Pajak untuk memberitahukan
besarnya pajak terutang kepada wajib pajak. Direktorat Jenderal
Pajak menerbitkan SPPT (surat pemberitahuan pajak terutang)
berdasarkan SPOP ( surat pemberitahuan objek pajak) wajib pajak”.
SPOP harus diisi dengan jelas, benar, lengkap dan tepat waktu serta
ditandatangani dan disampaikan kepada Dirjen Pajak yang wilayah
kerjanya meliputi letak objek pajak selambat-lambatnya 30 (tiga puluh)
hari setelah tanggal diterimanya SPOP oleh subjek pajak.

Yang dimaksud dengan jelas dan benar adalah :

Jelas dimaksudkan agar penulisan data yang diminta dalam SPOP dibuat
sedemikian rupa sehingga tidak menimbulkan salah tafsir yang dapat
merugikan negara maupun wajib pajak sendiri.

Benar berarti data yang dilaporkan harus sesuai dengan keadaan yang
sebenarnya, seperti luas tanah atau bangunan, tahun dan harga perolehan dan
seterusnya sesuai dengan kolom-kolom/pertanyaan yang ada pada surat
pemberitahuan objek pajak (SPOP).

Dirjen Pajak akan menerbitkan SPPT berdasarkan SPOP yang diterimanya.


SPPT diterbitkan atas dasar SPOP, namun untuk membantu wajib pajak
19

SPPT dapat diterbitkan berdasarkan data objek pajak yang telah ada pada
Direktorat Jenderal Pajak.

6.2 Surat Ketetapan Pajak (SKP)

Surat ketetapan pajak adalah surat keputusan kepala kantor Pelayanan


Pajak Pratama atau kepala kantor pelayanan Pajak Bumi dan Bangunan yang
memberitahukan besarnya pajak yang terutang termasuk denda administrasi,
kepada wajib pajak. Dalam rangka pendataan, subjek pajak wajib
mendaftarkan objek pajaknya dengan mengisi SPOP yang telah diberikan
dan harus dikembalikan kepada Direktorat Jenderal Pajak.

Menurut Waluyo (2009:163) surat ketetapan pajak dapat dikeluarkan oleh


Direktur Jenderal Pajak, dalam hal:

SPOP tidak disampaikan dalam jangka waktu yang telah ditetapkan dan
telah ditegur secara tertulis tidak disampaikan sebagaimana ditentukan
dalam surat teguran. Berdasarkan hasil pemeriksaan atau keterangan lain
ternyata jumlah pajak yang terutang lebih besar dari jumlah pajak yang
dihitung berdasarkan SPOP yang disampaikan oleh wajib pajak.

7. Tata Cara Pembayaran dan Penagihan Pajak Bumi dan


Bangunan
7.1 Tata Cara Pembayaran Pajak Bumi dan Bangunan

Menurut Mardiasmo (2008:328) tata cara pembayaran Pajak Bumi dan


Bangunan sebagai berikut :

1. Pajak yang terutang berdasarkan SPPT harus dilunasi selambat-


lambatnya 6 (enam) bulan sejak tanggal diterimanya SPPT oleh
wajib pajak.
20

2. Pajak yang terutang berdasarkan SKP harus dilunasi selambat-


lambatnya 1 (satu) bulan sejak tanggal diterimanya SKP oleh wajib
pajak.

3. Pajak yang terutang yang pada saat jatuh tempo pembayaran tidak
dibayar atau kurang dibayar, dikenakan denda administrasi sebesar
2% (dua persen) sebulan, yang dihitung dari saat jatuh tempo sampai
dengan hari pembayaran untuk jangka waktu paling lama 24 (dua
puluh empat) bulan. Menurut ketentuan ini, pajak yang terutang pada
saat jatuh tempo pembayaran tidak atau kurang bayar, dikenakan
denda administrasi 2% (dua persen) setiap bulan dari jumlah yang
tidak atau kurang bayar tersebut untuk jangka waktu paling lama 24
(dua puluh empat) bulan, dan bagian dari bulan dihitung penuh 1
(satu) bulan.

4. Denda administrasi sebagaimana dimaksud dalam No.3 di atas,


ditambah dengan utang pajak yang belum atau kurang bayar ditagih
dengan surat tagihan pajak (STP) yang harus dilunasi selambat-
lambatnya 1 (satu) bulan sejak tanggal diterimanya STP oleh wajib
pajak. Menurut ketentuan ini denda administrasi dan pokok pajak
seperti dalam No.3 diatas, ditagih dengan menggunakan STP yang
harus dilunasi dalam waktu satu bulan sejak tanggal diterimanya STP
tersebut.

5. Pajak yang terutang dapat dibayar di Bank, Kantor Pos dan Giro, dan
tempat lain yang ditunjuk oleh Menteri Keuangan

6. Tata cara pembayaran dan penagihan pajak diatur oleh Menteri

7. Surat pemberitahuan pajak terutang (SPPT), surat ketetapan pajak,


dan surat tagihan pajak (STP) merupakan dasar penagihan pajak

8. Jumlah pajak yang terutang berdasarkan STP yang tidak dibayarkan


21

pada waktunya dapat ditagih dengan surat paksa.

Dalam hal tagihan pajak yang terutang dibayar setelah jatuh tempo yang
telah ditentukan, penagihannya dilakukan dengan surat paksa yang saat ini
berdasarkan undang-undang No.19 tahun 1997 sebagaimana telah diubah
dengan undang-undang No.19 tahun 2000 tentang penagihan pajak dengan
surat paksa.

Berdasarkan penjelasan diatas, maka Penulis menyimpulkan pembayaran


PBB dapat dilakukan oleh setiap wajib pajak melalui 4 (empat) cara
diantaranya, pembayaran langsung ke Bank / kantor pos tempat pembayaran,
pembayaran menggunakan mekanisme pengiriman uang / transfer,
pembayaraan PBB melalui petugas pemungut, dan pembayaran PBB secara
elektronik melalui Anjungan Tunai Mandiri (ATM).

7.2 Pembagian Hasil Pajak Bumi dan Bangunan

Menurut Waluyo (2009:165) pembagian Pajak Bumi dan Bangunan sebagai


berikut:

Hasil penerimaan Pajak Bumi dan Bangunan merupakan penerimaan


negara yang dibagi antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah dengan
imbangan pembagian sekurang-kurangnya 90% (sembilan puluh persen)
untuk Pemerintah Daerah Tingkat II dan Pemerintah Daerah Tingkat I
sebagai pendapatan Daerah yang bersangkutan, sedangkan sisanya 10%
merupakan bagian Pemerintah Pusat. Dengan memperhatikan pembagian
tersebut terlihat bahwa hasil penerimaan Pajak Bumi dan Bangunan
diarahkan untuk kepentingan masyarakat di Daerah Tingkat II. Imbangan
pembagian hasil penerimaan diatur dengan Peraturan Pemerintah.

Berdasarkan penjelasan diatas, maka Penulis menyimpulkan hasil


penerimaan PBB merupakan penerimaan negara dan disetor sepenuhnya ke
22

rekening kas negara. Hasil penerimaan PBB dibagi untuk Pemerintah Pusat
10% dan 90% untuk Pemerintah Daerah.

8. Sanksi
8.1 Sanksi Administrasi

Menurut Waluyo (2009:163) sanksi administrasi dalam pengenaan Pajak


Bumi dan Bangunan meliputi kondisi:

1. Wajib pajak yang tidak menyampaikan SPOP walaupun telah ditegur


secara tertulis, dikenakan sanksi administrasi berupa denda sebesar
25% (dua puiuh lima persen) dihitung dari pokok pajak.

2. Wajib pajak yang berdasarkan hasil pemeriksaan atau keterangan lain


ternyata jumlah pajak yang terutang lebih besar dari jumlah pajak
yang dihitung berdasarkan SPOP, maka selisih pajak yang terutang
tersebut ditambah/dikenakan sanksi administrasi berupa denda
sebesar 25% (dua puluh lima persen) dari selisih pajak yang terutang.

3. Wajib pajak tidak membayar atau kurang membayar. Pajak yang


terutang pada saat jatuh tempo pembayaran, dikenakan sanksi
administrasi berupa bunga sebesar 2% (dua persen) sebulan yang
dihitung dari saat jatuh tempo sampai dengan hari pembayaran untuk
jangka waktu paling lama 24 (dua puluh empat) bulan.

Berdasarkan penjelasan diatas Penulis dapat menyimpulkan apabila


wajib pajak tidak menyampaikan kembali SPOP pada waktunya dan
setelah ditegur secara tertulis tidak disampaikan, maka akan diterbitkan
surat ketetapan pajak (SKP) dengan sanksi berupa denda administrasi
sebesar 25% dari selisih besarnya PBB yang terutang.
23

8.2 Sanksi Pidana

Menurut Waluyo (2009:164) sanksi pidana diatur sebagai berikut:

1. Barang siapa karena kealpaannya :

a. Tidak mengembalikan/menyampaikan surat pemberitahuan


objek pajak kepada Direktorat Jenderal Pajak

b. Menyampaikan surat pemberitahuan objek pajak tetapi isinya


tidak benar atau tidak lengkap dan melampirkan keterangan
yang tidak benar.

Sehingga menimbulkan kerugian pada negara, dipidana dengan


pidana kurungan selama-lamanya 6 (enam) bulan atau denda
setinggi-tingginya sebesar 2 (dua) kali pajak yang terutang.

2. Barang siapa dengan sengaja :

a. Tidak mengembalikan/menyampaikan surat pemberitahuan


objek pajak kepada Direktorat Jenderal Pajak

b. Menyampaikan surat pemberitahuan objek pajak, tetapi isinya


tidak benar atau tidak lengkap atau melampirkan keterngan
yang tidak benar

c. Memperlihatkan surat palsu atau dipalsukan atau dokumen


lain yang palsu atau dipalsukan seolah-olah benar

d. Tidak memperlihatkan atau tidak meminjamkan surat atau


dokumen lainnya

e. Tidak menunjukkan data atau tidak menyampaikan


keterangan yang diperlukan

Sehingga menimbulkan kerugian pada negara, dipidana dengan


pidana penjara selama-lamanya 2 (dua) tahun atau denda setinggi-
tingginya sebesar 5 (lima) kali pajak yang terutang.
24

3. Terhadap kategori bukan wajib pajak yang bersangkutan yang


melakukan tindakan sebagaimana dimaksud pada angka 2 huruf d
dan e, dipidana dengan pidana kurungan selama-lamanya 1 (satu)
tahun atau denda setinggi-tingginya Rp. 2.000.000,- (dua juta
rupiah).

Pengertian bukan wajib pajak diatas adalah pejabat yang bertugas


dan pekerjaannya berkaitan langsung atau ada hubungannya dengan
objek pajak atau pihak lainnya. Ancaman pidana pada angka 2
dilipatkan dua apabila seseorang melakukan lagi tindak pidana
dibidang perpajakan sebelum lewat 1 (satu) tahun, terhitung sejak
selesainya menjalani sebagian atau seluruh pidana penjara yang
dijatuhkan atau sejak dibayarnya denda. Selanjutnya tindak pidana
tidak dapat dituntut setelah lampau 10 (sepuluh) tahun sejak
berakhirnya tahun pajak yang bersangkutan.

Berdasarkan penjelasan diatas penulis dapat menyimpulkan barang


siapa dengan sengaja tidak menyampaikan SPOP, menyampaikan
SPOP tetapi isinya tidak benar atau lengkap atau tidak melapirkan
keterangan yang tidak benar, memperlihatkan surat palsu, tidak
memperlihatkan atau meminjamkan surat atau dokumen lainnya, dan
tidak menunjukkan data atau tidak menyampaikan keterangan yang
diperlukan sehingga menimbulkan kerugian pada negara, dipidana
dengan pidana penjara selama-lamanya 2 (dua) tahun atau denda
setinggu-tingginya sebesar 5 (lima) kali pajak yang terutang.
25

BAB III

PENUTUP

1. Simpulan

Pajak Bumi dan Bangunan adalah pajak yang dikenakan atas harta tak gerak
berupa bumi dan atau bangunan. Objek PBB adalah bumi dan bangunan,
sedangkan subjek PBB adalah orang atau badan yang secara nyata mempunyai
suatu hak atas tanah dan atau bangunan atau memperoleh manfaat atas bumi dan
atau bangunan serta memiliki, menguasai dan atau memperoleh manfaat atas
subjek pajak yang dikenakan kewajiban membayar pajak menjadi wajib pajak
menurut undang- undang Pajak Bumi dan Bangunan.
26

DAFTAR PUSTAKA

http://www.pajakonline.com/engine/learning/view.php?id=578

https://www.pajak.go.id/id/spop-dan-lspop-pbb-sektor-lainnya

http://www.pajakonline.com/engine/learning/view.php?id=565

https://www.softwarepajak.net/news/111-seri-pbb-surat-pemberitahuan-objek-pajak

https://www.online-pajak.com/njop-adalah

http://www.pajakonline.com/engine/learning/view.php?id=588

https://www.google.com/search?q=makalah+pajak+bumi+dan+bangunan&rlz=1C1G
GGE_enID585ID585&oq=makala&aqs=chrome.1.69i57j35i39l2j0l3.9713j0j7&sourc
eid=chrome&ie=UTF-8