Anda di halaman 1dari 2

KORUPSI

(Kontra)

Kami kontra terhadap pasal-pasal korupsi di RKUHP, dikarenakan terkait dengan


pidana korupsi didalam perumusan RKUHP mengenai adanya perubahan pasal-pasal yang
lama di KUHP tidak sesuai ataupun tidak singkron dengan penjatuhan pidana jika dilihat
didalam undang-undang tindak pidana korupsi no.31 Tahun 1999. Dimana lebih tepat nya
pasal korupsi di RKUHP justru dilengkapi hukuman yang lebih ringan dibanding UU Nomor
31 Tahun 1999 tentang Tindak Pidana Korupsi atau UU Tipikor. Dalam Pasal 604 RKUHP,
disebutkan seorang koruptor dihukum minimal penjara dua tahun dan minimal denda Rp10
juta. Sementara dalam Pasal 2 UU Tipikor yang memiliki rumusan sama persis, hukuman
penjara itu minimal empat tahun dan denda minimal Rp1 miliar.

Didalam RKHUP mengenai tindak pidana korupsi tidak adanya hukuman yang
menjerat orang yang membantu dan mencoba tindak pidana korupsi dan tidak adanya pasal
yang mengatur pidana pengganti uang dari tindak pidana korupsi tersebut.
MAKAR

(Kontra)

Kami kontra dengan pasal mengenai makar yang dirumuskan di RKUHP dikarenakan
pasal makar tersebut masih multitafsir tentang makna makar yang sebenarnya, Sementara
pengaturan makar dimuat dalam pasal 87 KUHP Pasal tersebut menyebutkan dua syarat
makar, yakni niat dan permulaan pelaksanaan. Merujuk ke pasal 167 dalam draf RKUHP,
"Makar adalah niat untuk melakukan suatu perbuatan yang telah diwujudkan dengan adanya
permulaan pelaksanaan perbuatan tersebut."

Definisi itu dinilai bisa menjadi pasal karet, sehingga keberadaan pasal makar
dianggap masih problematik juga membuka celah pemberangusan kebebasan berekspresi dan
berpendapat. Bahkan untuk penjatuhan Hukuman pidananya tak main-main, orang yang
dijerat pasal makar terhadap presiden, wakil presiden atau NKRI misalnya, akan menghadapi
ancaman pidana mati, pidana penjara seumur hidup, atau pidana penjara paling lama 20
tahun.