Anda di halaman 1dari 7

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Pembangunan kesehatan merupakan bagian dari pembangunan nasional yang
dilaksanakan secara bertahap dan berkesinambungan serta ditujukan untuk
meningkatkan kesejahteraan rakyat secara menyeluruh. Pemberantasan penyakit
menular merupakan salah satu upaya pembangunan dibidang kesehatan yang
berperanan penting dalam menurunkan angka kesakitan dan kematian akibat penyakit
infeksi. Salah satu kegiatan pengendalian penyakit menular terutama TB dapat
berlangsung efektif, efisien dan tepat sasaran maka diperlukan suatu kegiatan
surveilans epidemiologi dimana hasil kegiatan surveilans sangat menentukan tindakan
pengambilan keputusan dalam perencanaan, pelaksanaan maupun evaluasi kegiatan.
Dengan adanya kegiatan surveilans TB ini juga dapat memantau kemampuan program
TB baik dalam hal mendeteksi kasus TB, menjamin selesainya pengobatan TB dan
kesembuhan pasien TB.
Penyakit Tuberculosis (TBC) adalah penyakit menular langsung yang
disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis dan merupakan salah
satu penyakit infeksi kronis menular yang menjadi masalah kesehatan. Penyakit yang
sudah cukup lama ada ini merupakan masalah global di dunia dan diperkirakan
sepertiga penduduk dunia telah terinfeksi oleh bakteri ini. Hal-hal yang
menjadi penyebab semakin meningkatnya penyakit TBC di dunia antara lain karena
kemiskinan, meningkatnya penduduk dunia dan perubahan struktur usia manusia
yang hidup, perlindungan kesehatan yang tidak mencukupi di negara-negara
miskin, tidak memadainya pendidikan mengenai TBC di antara para dokter,kurangnya
biaya untuk obat, sarana diagnostik dan pengawasan kasus TBC serta adanya epidemi
HIV terutama di Afrika dan Asia
Gejala utama pasien TBC paru yaitu batuk berdahak selama 2 minggu atau lebih.
Batuk dapat diikuti dengan gejala tambahan yaitu dahak bercampur darah, batuk darah,
sesak nafas, badan lemas, nafsu makan menurun, berat badan menurun, malaise,
berkeringat malam hari tanpa kegiatan fisik, demam meriang lebih dari satu bulan. Pada
pasien dengan HIV positif, batuk sering kali bukan merupakan gejala TBC yang khas,
sehingga gejala batuk tidak harus selalu selama 2 minggu atau lebih.
Sumber penularan TB adalah pasien yang pada pemeriksaan dahaknya dibawah
mikroskop ditemukan adanya kuman TB, disebut juga basil tahan asam (BTA). Makin
tinggi derajat hasil pemeriksaan dahak, makin menular penderita tersebut. Tidak semua
pasien TB akan ketemu kuman TB pada saat pemeriksaan, tergantung dari jumlah
kuman yang ada. Artinya pada sebagian pasien yang yang kuman TB nya tidak terlalu
banyak, walaupun memang dia sakit TB, tetapi dalam dahaknya tidak ada BTA, artinya
dia tidak menular ke orang lain. Untuk yang ada BTA pada dahaknya, pada waktu batuk
atau bersin dll. Pasien dapat menyebarkan kuman ke udara dalam bentuk percikan
dahak, yang dalam istilah kedokteranya disebut droplet nuclei (Aditama, 2006)
Beberapa factor yang menyebabkan menularnya penyakit TB adalah kebiasaan
buruk pasien TB paru yang meludah sembarangan (Anton, 2008; Currie, 2005). Selain
itu kebersihan lingkungan juga dapat mempengaruhi penyebaran virus. Misalnya,
rumah yang kurang baik dalam pengaturan ventilasi. Kondisi lembab akibat kurang
lancarnya pergantian udara dan sinar matahari dapat membantu berkembang biaknya
virus (Guy, 2009; Talu, 2006). Oleh karena itu orang sehat yang serumah dengan
penderita TB paru merupakan kelompok yang sangat rentan terhadap penyakit tersebut.
Ligkungan rumah, lama kontak serumah dan prilaku pencegahan baik oleh penderita
maupun orang yang rentan sangat mempengaruhi proses penularan penyakit TB paru
Penyakit Tuberkulosis sebagai salah satu penyakit menular, sampai saat ini upaya
penanggulangan dan pemberantasannya belum begitu menggembirakan. Menurut data
survei kesehatan rumah tangga (SKRT) Tahun 2012 penyakit Tuberkolosis merupakan
penyebab kematian ketiga terbesar setelah penyakit Kardiosvaskuler dan penyakit
saluran pernapasan, sedangkan menurut laporan WHO 2009, Indonesia merupakan
penyumbang penderita TB terbesar No.3 di Dunia setelah India dan China, serta
diperkirakan setiap tahun terjadi 583.000 kasus baru TB, dan kematian karena TB
sekitar 130.000 atau secara kasar diperkirakan setiap 100.000 penduduk di Indonesia
terdapat 130 penderita baru TB Paru atau BTA Positif.2
Angka prevalensi TBC Indonesia pada tahun 2014 sebesar 297 per 100.000
penduduk. Eliminasi TBC juga menjadi salah satu dari 3 fokus utama pemerintah di
bidang kesehatan selain penurunan stunting dan peningkatan cakupan dan mutu
imunisasi. Visi yang dibangun terkait penyakit ini yaitu dunia bebas dari tuberkulosis,
nol kematian, penyakit, dan penderitaan yang disebabkan oleh TBC. Tema Hari TBC
Sedunia tahun 2018 yaitu “Wanted: Leader for a TB Free World” yang bertujuan pada
pembangunan komitmen dalam mengakhiri TBC, tidak hanya pada kepala negara dan
menteri tetapi juga di semua level baik bupati, gubernur, parlemen, pemimpin suatu
komunitas, jajaran kesehatan, NGO, dan partner lainnya. Setiap orang dapat menjadi
pemimpin dalam upaya mengakhiri TBC baik di tempat kerja maupun di wilayah tempat
tinggal masing-masing. Walaupun setiap orang dapat mengidap TBC, penyakit tersebut
berkembang pesat pada orang yang hidup dalam kemiskinan, kelompok terpinggirkan,
dan populasi rentan lainnya. Kepadatan penduduk di Indonesia sebesar 136,9 per 2 km
dengan jumlah penduduk miskin pada September 2017 sebesar 10,12% (Susenas,
2017)
Sasaran nasional Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN)
yang tertuang pada Peraturan Presiden Nomor 59 Tahun 2017 tentang SDGs
menetapkan target prevalensi TBC pada tahun 2019 menjadi 245 per 100.000
penduduk. Sementara prevalensi TBC tahun 2014 sebesar 297 per 100.000 penduduk.
Sedangkan di Permenkes Nomor 67 Tahun 2016 tentang Penanggulangan
Tuberkulosis menetapkan target program Penanggulangan TBC nasional yaitu
eliminasi pada tahun 2035 dan Indonesia Bebas TBC Tahun 2050. Eliminasi TBC
adalah tercapainya jumlah kasus TBC 1 per 1.000.000 penduduk. Sementara tahun
2017 jumlah kasus TBC saat ini sebesar 254 per 100.000 atau 25,40 per 1 juta
penduduk.
Secara global pada tahun 2016 terdapat 10,4 juta kasus insiden TBC (CI 8,8 juta
– 12, juta) yang setara dengan 120 kasus per 100.000 penduduk. Lima negara dengan
insiden kasus tertinggi yaitu India, Indonesia, China, Philipina, dan Pakistan.
Jumlah kasus baru TB di Indonesia sebanyak 420.994 kasus pada tahun 2017 (data
per 17 Mei 2018). Berdasarkan jenis kelamin, jumlah kasus baru TBC tahun 2017 pada
laki-laki 1,4 kali lebih besar dibandingkan pada perempuan. Bahkan berdasarkan Survei
Prevalensi Tuberkulosis prevalensi pada laki-laki 3 kali lebih tinggi dibandingkan pada
perempuan. Begitu juga yang terjadi di negara-negara lain. Hal ini terjadi kemungkinan
karena laki-laki lebih terpapar pada fakto risiko TBC misalnya merokok dan kurangnya
ketidakpatuhan minum obat.
Pada tahun 2016, jumlah kasus baru TB paru basil tahan asam (BTA) positif
adalah 156.723 kasus dengan jumlah kasus tertinggi di provinsi Jawa Barat yaitu 23.774
kasus baru. Menurut jenis kelamin, jumlah kasus baru pada laki-laki yaitu 61% dan pada
perempuan yaitu 39%. Sedangkan, menurut kelompok umur, kasus baru TB paru
terbanyak ditemukan pada kelompok umur 45-54 tahun yaitu sebesar 19,82%,
kelompok umur 25–34 tahun yaitu sebesar 19,69% dan kelompok umur 35-44 tahun
yaitu sebesar 19,12% (Profil Kesehatan Indonesia, 2017).
Ada beberapa indicator yang dapat digunakan untuk menilai tingkat keberhasilan
program pengendalian TB, yang terutama adalah idikator penemuan kasus, indicator
pengobatan dan angka keberhasilan pengobatan TB, beberapa capaian yang dipilih
untuk mengambarkan keberhasilan program pengendalian TB yaitu Case Detection
Rate (CDR), Case Notification Rate (CNR).
Case Detection Rate adalah presentase pasien baru TB paru BTA positif yang
ditemukan dibanding jumlah pasien baru TB paru BTA positif yang diperkirakan ada
dalam suatu wilayah. Saat ini indicator CDR masih digunakan untuk mengambarkan
cakupan penemuan pasien baru TB paru BTA positif dilevel nasional yang berguna
untuk mengevaluasi pencapaian MDGs 2015 untuk program pengendalian TB. setelah
tahun 2015, indikator CDR tidak akan digunakan lagi dan diganti dengan Case
Notification Rate (CNR) sebagai indikator yang mengambarkan cakupan penemuan
pasien TB.
Angka Notifikasi kasus (Case Notification Rate) semua kasus TB di Indonesia
dari tahun 1999 – 2014 memperlihatkan angka penemuan kasus baru TB secara
nasional mengalami penurunan dalam tiga tahun terakhir. Tahun 2012 CDR 61 %, turun
menjadi 60 % (2013) dan 46 % (2014). Case Notification Rate adalah angka yang
menunjukan jumlah seluruh pasien TB yang ditemukan dan tercatat diantara 100.000
penduduk disuatu wilayah.angka CNR berguna untuk menunjukan kecendrungan
peningkatan atau penurunan penemuan pasien TB di suatu wilayah. Case Notification
Rate (CNR) semua kasus TB antar provinsi tahun 2014 menunjukan CNR semua kasus
TB di tingkat nasional sejak tahun 1999 cenderung meningkat, namun CNR mengalami
stagnasi selama 4 tahun terakhir (2011 – 2014).
Surveilans epidemiologi adalah kegiatan analisis secara sistematis dan terus
menerus terhadap penyakit atau masalah-masalah kesehatan dan kondisi yang
mempengaruhi terjadinya peningkatan serta penularan penyakit atau masalah-masalah
kesehatan tersebut, agar dapat melakukan tindakan penanggulangan secara efektif dan
efisien melalui proses pengumpulan data, pengolahan dan penyebaran informasi
epidemiologi kepada penyelenggara program kesehatan. Surveilans akan berjalan
dengan baik apabila terintegrasi antara petugas puskesmas hingga dinas kesehatan
provinsi bahkan sampai kementerian kesehatan. Secara singkat surveilans disebut juga
pencatatan yang dilakukan secara terus menerus. Dalam pelaksanaannya surveilans
banyak mengalami kendala, seperti ketidaktepatan waktu pengumpulan yang
dipengaruhi oleh tidak pahamnya petugas kesehatan terkait kompoonen-komponen
survailans.
Atribut surveilans adalah karakteristik-karakteristik yang melekat pada suatu
kegiatan surveilans, yang digunakan sebagai parameter keberhasilan suatu surveilans.
Menurut WHO (1999), atribut-atribut tersebut adalah sebagai berikut: Simplicity
(Kesederhanaan), Flexibility (Fleksibel atau tidak kaku), Acceptability (akseptabilitas),
Sensitivity (sensitifitas), Predictive value positif (memiliki nilai prediksi positif),
Representativeness (Keterwakilan), Timeliness (Ketepatan waktu), Kualitas Data, dan
Stabilitas.
Surveilens TB adalah suatu rangkaian kegiatan mulai dari pengumpulan data
penyakit secara sistematik, lalu dilakukan analisis, dan interpretasi data. Hasil analisis
didiseminasikan untuk kepentingan tindakan kesehatan masyarakat dalam upaya
menurunkan angka kesakitan dan angka kematian TB serta untuk meningkatkan derajat
kesehatan masyarakat (Kemenkes, 2014).
Puskesmas adalah unit pelayanan kesehatan terdepan yang dekat dengan
masyarakat dan berperan juga dalam menyedikan data utama mengenai masalah
kesehatan masyarakat bagi mnajemen kesehatan. Oleh karena itu, focus penelitian
yang diambil dalam makalah ini adalah tentang evaluasi sistim surveilens TB di
Puskesmas Kecamatan Kebayoran Baru.

1.2. Tujuan Penulisan


a. Tujuan Umum
Untuk menganalisis sistim Surveilans epidemiology kasus TB Paru di
Puskesmas Kecamatan Kebayoran Baru Jakarta Selatan.
b. Tujuan Khusus
Tujuan khusus dari penelitian ini antara lain :
1. Untuk mengambarkan Trend TB di Puskesmas ebayoran Baru.
2. Untuk mengambrkan karakteristik status TB berdasarkan orang, tempat,
dan waktu di Puskesmas Kecamatan Kebayoran Baru.
3. Untuk menganalisis simplicity (kesederhanaan) system surveilans TB di
Puskesmas Kecamatan Kebayoran Baru.
4. Untuk menganalisis flexcibility (fleksibel) sistim surveilans TB di
Puskesmas Kecamatan Kebayoran Baru.
5. Untuk menganalisis sensitivity (sensitivitas) sistim surveilans TB di
Puskesmas Kecamatan Kebayoran Baru.
6. Untuk menganalisis predictive value positive (nilai ramal positif) sistim
surveilans TB di Puskesmas Kecamatan Kebayoran Baru.
7. Untuk menganalisis representative (mengambarkan kejadian) sistim
surveilans TB di Puskesmas Kebayoran Baru.
8. Untuk menganalisis acceptability (dapat diterima) sistim surveilans TB di
Puskesmas Kecamatan Kebayoran Baru.
9. Untuk menganalisis timeliness (ketepatan waktu) sistim surveilans TB di
Puskesmas Kecamatan Kebayoran Baru.

1.3. Manfaat Penulisan


Adapun manfaat penelitian surveilans penyakit menular Tuberculosis di
Puskesmas Kecamatan Kebayoran Baru.
a. Bagi Mahasiswa
Dengan melakukan penelitian ini akan menambah wawasan pengetahuan
teori ataupun praktek dan keterampilan bagi mahasiswa dalam menerapkan
ilmu dan pengetahuan mengenai surveilans epidemiology, sistim pelayanan,
dan data informasi penyakit menular tuberculosis yang telah diperoleh dari
Puskesmas.

b. Bagi Institusi Pendidikan


Mengembangkan penelitian di bidang informasi khususnya dalam
pengembangan system informasi manajemen kesehatan yang dapat
memberikan masukan ilmiah tentang sistim informasi kesehatan khususnya
mengenai surveilans epidemiology penyakit tuberculosis.

c. Bagi Puskesmas
Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat dan dijadikan sebagai bahan
pertimbangan dalam upaya perbaikan masalah yang terkait dengan sistim
informasi data pasien puskesmas khususnya tentang penyakit menular dan
peningkatan pelaksanaan sistim surveilans tuberculosis di Puskesmas
Kecamatan Kebayoran Baru.

d. Bagi Pengembangan Ilmu Pengetahuan


Dapat menambah referensi perpustakaan untuk meningkatkan kualitas
pendidikan serta menambah ilmu pengetahuan di bidang surveilans
epidemiology penyakit tuberculosis.