Anda di halaman 1dari 17

Teori Lawrence Green dan Aplikasinya Dalam Penelitian Kesehatan

BAB 1
PENDAHULUAN

Dalam visi Indonesia sehat 2015 yang tertuang dalam MDGs, terkait dengan kesehatan
reproduksi, yaitu mengendalikan penularan penyakit menular, khususnya TBC dan HIV,
sehingga pada tahun 2015 nanti jumlahnya tidak meningkat lagi tetapi justru menurun. Hal
tersebut erat kaitannya dengan kesehatan dan faktor penyebabnya.
Undang-undang kesehatan No. 36 Tahun 2009 memberikan batasan kesehatan adalah
keadaan sehat, baik secara fisik, mental, spiritual maupun sosial yang memungkinkan setiap
orang untuk hidup produktif secara sosial dan ekonomi. Hal tersebut berarti kesehatan tidak
hanya diukur dari aspek fisik, mental, spiritual, dan sosial saja, tetapi diukur produktivitasnya
dalam arti mempunyai pekerjaan atau menghasilkan secara ekonomi. Hal ini sangat berkaitan
erat dengan promosi kesehatan yang memiliki peran penting dalam meningkatkan derajat
kesehatan.
Promosi kesehatan dalam arti pendidikan, secara umum adalah segala upaya yang
direncanakan untuk mempengaruhi orang lain, baik individu, kelompok atau masyarakat,
sehingga mereka melakukan apa yang diharapkan oleh pelaku pendidikan atau promosi
kesehatan. Dari batasan tersebut tersirat unsur-unsur input (sasaran pendidikan baik individu,
kelompok, masyarakat dan pendidik pelaku pendidikan); unsur proses (upaya yang
direncanakan untuk mempengaruhi orang lain); unsur output (melakukan apa yang
diharapkan atau perilaku).
Hasil output yang diharapkan dari suatu promosi atau pendidikan kesehatan adalah perilaku
kesehatan atau perilaku untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan yang kondusif.
Perubahan perilaku yang belum atau tidak kondusif ke perilaku yang kondusif ini
mengandung berbagai dimensi, meliputi perubahan perilaku, pembinaan perilaku,
pengembangan perilaku. Dalam hal pengembangan perilaku (Green, 1980), terdapat tiga
faktor penyebab terbentuknya perilaku, yaitu faktor predisposisi (predisposing factors), faktor
pemungkin (enabling factors), faktor penguat (reinforcing factors).
Teori Lawrence W Green merupakan salah satu teori modifikasi perubahan perilaku yang
dapat digunakan dalam mendiagnosis masalah kesehatan ataupun sebagai alat untuk
merencanakan suatu kegiatan perencanaan kesehatan atau mengembangkan suatu model
pendekatan yang dapat digunakan untuk membuat perencanaan kesehatan yang dikenal
dengan kerangka kerja Precede dan Proceed. Oleh karena itu, penulis ingin membahas topik
tentang teori perilaku Lawrence W. Green.
BAB 2
TEORI PRECEDE AND PROCEED

Lawrence Green mencoba menganalisis perilaku manusia dari tingkat kesehatan. Kesehatan
seseorang atau masyrakat dipengaruhi oleh dua faktor pokok, yakni faktor perilaku (behavior
causes) dan faktor di luar perilaku (non-behaviour causes). Selanjutnya perilaku itu sendiri
ditentukan atau terbentuk dari 3 faktor :
Faktor-faktor predisposisi (Predisposing factors), yang terwujud dalam pengetahuan, sikap,
kepercayaan, keyakinan, nilai-nilai, dan sebagainya.
Faktor-faktor pendukung (Enabling factors), yang terwujud dalam fasilitas-fasilitas atau
sarana-sarana, alat-alat kontrasepsi, jamban, dan sebagainya.
Faktor-faktor pendorong (Renforcing factors) yang terwujud dalam sikap dan Perilaku
petugas kesehatan atau petugas lain, yang merupakan kelompok referensi dari perilaku
masyarakat.
Model ini dapat digambarkan sebagai berikut:
B=f (PF, EF, RF )Keterangan :
B = Behavior
PF = Predisposing Factors
EF = Enabling Factors
RF = Reinforcing Factors
F = Fungsi
Teori Lawrence W Green merupakan salah satu teori modifikasi perubahan perilaku yang
dapat digunakan dalam mendiagnosis masalah kesehatan ataupun sebagai alat untuk
merencanakan suatu kegiatan perencanaan kesehatan atau mengembangkan suatu model
pendekatan yang dapat digunakan untuk membuat perencanaan kesehatan yang dikenal
dengan kerangka kerja Precede dan Proceed. Kerangka kerja precede mempertimbangkan
beberapa faktor yang membentuk status kesehatan dan membantu perencana terfokus pada
faktor tersebut sebagai target untuk intervensi.
Precede juga menghasilkan tujuan spesifik dan kriteria untuk evaluasi. Kerangka Procede
menyediakan langkah-langkah tambahan untuk mengembangkan kebijakan dan memulai
pelaksanaan dan proses evaluasi.

The PRECEDE-PROCEED models for health promotion planning and evaluation


Menurut Green (1980) penggunaan kerangka kerja PRECEDE and PROCEED adalah sebagai
berikut:
PRECEDE terdiri dari:
Predisposing;
Reinforcing;
Enabling cause in educational diagnosis and evaluation
Akan memberikan wawasan spesifik menyangkut evaluasi. Kerangka kerja ini menunjukkan
sasaran yang sangat terarah untuk intervensi. PRECEDE digunakan pada fase diagnosis
masalah, penetapan prioritas dan tujuan program.

PROCEED terdiri dari:


Policy
Regulation
Organizational and environmental development
Menampilkan kriteria tahapan kebijakan dan implementasi serta evaluasi.
Precede mengarahkan perhatian awal pendidik kesehatan terhadap keluaran dan bukan
terhadap masukan dan memaksanya memulai proses perencanaan pendidikan kesehatan dari
ujung “Keluaran”. Ini mendorong munculnya pertanyaan “mengapa” sebelum pertanyaan
“bagaimana”. Dari sudut perencanaan, apa yang terlihat sebagai ujung yang salah sebagai
tempat untuk memulai, kenyataannya adalah sesuatu yang benar. Orang mulai dengan
keluaran akhir, kemudian bertanya tentang apa yang harus mendahului keluaran itu, yakni
dengan cara menentukan sebab-sebab keluaran itu. Dinyatakan dalam cara lain, semua faktor
yang penting untuk suatu keluaran harus didiagnosis sebelum intervensi dirancang; jika tidak,
intervensi akan didasarkan atas dasar tebakan (kira-kira) dan mempunyai resiko salah arah.
Bekerja menggunakan precede dan proceed, mengajak orang berpikir deduktif, untuk
memulai dengan akibat akhir dan bekerja ke belakang ke arah sebab-sebab yang asli.
Adapun penjelasan dari tiap fase dalam kerangka Precede Proceed Theory adalah sebagai
berikut:
Fase 1 (diagnosa sosial)
Adalah proses penentuan persepsi seseorang terhadap kebutuhan dan kualitas hidupnya dan
aspirasi untuk lebih baik lagi, dengan penerapan berbagai informasi yang didesain
sebelumnya. Partisipasi masyarakat adalah sebuah konsep pondasi dalam diagnosis sosial dan
telah lama menjadi prinsip dasar bagi kesehatan dan pengembangan komunitas. Hubungan
sehat dengan kualitas hidup merupakan hubungan sebab akibat. Input pendidikan kesehatan,
kebijakan, regulasi dan organisasi menyebabkan perubahan out come, yaitu kualitas hidup.
Fase ini membantu masyarakat (community) menilai kualitas hidupnya tidak hanya pada
kesehatan. Adapun untuk melakukan diagnosa sosial dilaksanakan dengan mengidentifikasi
masalah kesehatan melalui review literature (hasil-hasil penelitian), data (misalnya BPS,
Media massa), group method.

Hubungan Antara Kesehatan dan Masalah Sosial

Hubungan sebab akibat dapat terjadi secara langsung melalui kebijakan sosial, intervensi
pelayanan sosial, kebijakan kesehatan dan program kesehatan.
Bagian atas yaitu kebijakan sosial atau keadaan sosial, mengindikasikan masalah kesehatan
mempengaruhi kualitas hidup, sehingga kualitas hidup dapat memotivasi dan mampu
mengatasi berbagai masalah kesehatan.
Kualitas hidup sulit diukur dan sulit didefinisikan; ukuran obyektif (indikator sosial), yaitu
angka pengangguran, kepadatan hunian, kualitas air. Ukuran subyektif (informasi dari
anggota masyarakat tentang kepuasan hidup, kejadian hidup yang membuat stress, individu
dan sumber daya sosial.
Bagian bawah yaitu intervensi kesehatan, mengindikasikan kondisi sosial dan kualitas hidup
dipengaruhi oleh masalah kesehatan.
Fase 2 (diagnosa epidemiologi)
Masalah kesehatan merupakan hal yang sangat berpengaruh terhadap kualitas hidup
seseorang, baik langsung maupun tidak langsung. Yaitu penelusuran masalah-masalah
kesehatan yang dapat menjadi penyebab dari diagnosa sosial yang telah diprioritaskan. Ini
perlu dilihat data kesehatan yang ada dimasyarakat berdasarkan indikator kesehatan yang
bersifat negatif yaitu morbiditas dan mortalitas, serta yang bersifat positif yaitu angka
harapan hidup, cakupan air bersih, cakupan rumah sehat.
Untuk menentukan prioritas masalah kesehatan, dilakukan dengan beberapa tahapan,
diantaranya:
Masalah yang mempunyai dampak terbesar pada kematian, kesakitan, lama hari kehilangan
kerja, biaya rehabilitasi, dan lain-lain.
Apakah kelompok ibu dan anak-anak yang mempunyai resiko.
Masalah kesehatan yang paling rentan untuk intervensi.
Masalah yang merupakan daya ungkit tinggi dalam meningkatkan status kesehatan, economic
savings.
Masalah yang belum pernah disentuh atau di intervensi.
Apakah merupakan prioritas daerah/ nasional.
Fase 3 (diagnosa perilaku dan lingkungan)
Pada fase ini terdiri dari 5 tahapan, antara lain:
Memisahkan penyebab perilaku dan non perilaku dari masalah kesehatan.
Mengembangkan penyebab perilaku
Preventive behaviour (primary, secondary, tertiary)
Treatment behaviour
Melihat important perilaku
Frekuensi terjadinya perilaku
Terlihat hubungan yang nyata dengan masalah kesehatan
Melihat changebility perilaku
Memilih target perilaku
Untuk mengidentifikasi masalah perilaku yang mempengaruhi status kesehatan, digunakan
indikator perilaku seperti: pemanfaatan pelayanan kesehatan (utilisasi), upaya pencegahan
(prevention action), pola konsumsi makanan (consumtion pattern), kepatuhan (compliance),
upaya pemeliharaan sendiri (self care).
Untuk mendiagnosa lingkungan diperlukan lima tahap, yaitu: membedakan penyebab
perilaku dan non perilaku; menghilangkan penyebab non perilaku yang tidak bisa diubah;
melihat important faktor lingkungan, melihat changeability faktor lingkungan, memilih target
lingkungan.
Fase 4 (diagnosa pendidikan dan organisasi )
Mengidentifikasi kondisi-kondisi perilaku dan lingkungan yang status kesehatan atau kualitas
hidup dengan memperhatikan faktor-faktor penyebabnya. Mengidentifikasi faktor-faktor
yang harus diubah untuk kelangsungan perubahan perilaku dan lingkungan. Merupakan target
antara atau tujuan dari program.
Ada 3 kelompok masalah yang berpengaruh terhadap perilaku, yaitu:
Faktor predisposisi (predisposing factor): pengetahuan, sikap, kepercayaan, keyakinan, nilai,
dan lain-lain.
Faktor penguat (reinforcing factor): perilaku petugas kesehatan atau petugas lain, dan lain-
lain.
Faktor pemungkin (enabling factor): lingkungan fisik tersedia atau tidak tersedianya fasilitas-
fasilitas atau sarana-sarana kesehatan, dan lain-lain.

Tahap proses menyeleksi faktor dan mengatur program:


Identifikasi dan menetapkan faktor-faktor menjadi 3 kategori
Mengidentifikasi penyebab-penyebab perilaku dan dipilah-pilah sesuai dengan 3 kategori
yang ada: predisposing, enabling, reinforcing factors.
Metode:
Formal
Literatur
Checklist dan kuesioner
Informal
Brainstorming
Normal group process (NGP)
Menetapkan prioritas antara kategori
Menetapkan faktor mana yang menjadi obyek intervensi, dan seberapa penting dari ke-3
faktor yang ada.
Menetapkan prioritas dalam kategori
Berdasarkan pertimbangan:
Important: prevalensi, penting dan segera di atasi menurut logis, pengalaman, data dan teori
Immediacy: seberapa penting
Necessity: mungkin prevalensi rendah, tapi masih harus dimunculkan perubahan lingkungan
dan perilaku yang terjadi
Changeability: mudah untuk diubah
Fase 5 (diagnosa administrasi dan kebijakan)
Pada fase ini dilakukan analisis kebijakan, sumber daya dan kejadian-kejadian dalam
organisasi yang mendukung atau menghambat perkembangan promosi kesehatan.
Administrative diagnosis
Memperkirakan atau menilai resorces/ sumber daya yang dibutuhkan program
Menilai resorces yang ada didalam organisasi atau masyarakat
Mengidentifikasi faktor penghambat dalam mengimplementasi program

Tahap diagnosa administrasi, antara lain:


Menilai kebutuhan sumber daya
Time
Personnel
Budget
Menilai ketersediaan sumber daya
Personnel
Budgetary contraints (keterbatasan budget)
Menilai penghambat implementasi
Staff commitment and attitude
Goal conflict
Rate of change
Familiarity
Complexity
Space
Community barriers
Policy diagnosis
Menilai dukungan politik
Dukungan regulasi atau peraturan
Dukungan sistem didalam organisasi
Hambatan yang ada dalam pelaksanaan program
Dukungan yang memudahkan pelaksanaan program

Tahapan diagnosa kebijakan, antara lain:


Menilai kebijakan, regulasi dan organisasi
Issue of loyality
Consistency
Flexibility
Administrative of professional direction
Menilai kekuatan politik
Level of analysis
The zero-sum game
System approach
Exchange theory
Power equalization approach
Power educative approach
Conflict approach
Advocacy and education and community development

Implementasi:
Kunci keberhasilan implementasi:
Pengalaman
Sensitif terhadap kebutuhan
Fleksibel dalm situasi kondisi
Fokus pada tujuan
Sense of humor

Evaluasi dan accountability:


Evaluasi: membandingkan tujuan dengan standar object of interest:
Mengukur quality of life
Indikator status kesehatan
Faktor perilaku dan lingkungan
Faktor predisposing, enabling, reinforcing
Aktivitas intervensi
Metode
Perubahan kebijakan, regulasi atau organisasi
Tingkat keahlian staf
Kualitas penampilan dan pendidikan

Object of interest:
Input
Intermediate effects
Outcome
Tingkatan Objective:
Ultimate objectives : sosial dan kesehatan
Intermediate objectives: perilaku dan lingkungan
Immediate objective: educational, regulatory, policy
Tingkat Evaluasi:
Evaluasi proses
Evaluasi dari program promosi kesehatan yang dilaksanakan
Evaluasi impact
Menilai efek langsung dari program pada target perilaku (predisposing, enabling, reinforcing
factors) dan lingkungan
Evaluasi outcome
Evaluasi terhadap masalah pokok yang apada proses awal perencanaan akan diperbaiki: satus
kesehatan dan quality of life.
BAB III
APLIKASI MODEL PRECEDE DAN PROCEED

Dalam bidang kesehatan masyarakat, banyak sekali aplikasinya dan berragam aplikasinya.
Model ini digunakan untuk merencanakan, merancang, melaksanakan, dan atau mengevaluasi
program untuk kesehatan dan berragam permasalahan kesehatan, seperti masalah kualitas
seperti kanker payudara, pemeriksaan payudara sendiri, pendidikan kanker, kesehatan
jantung, kesehatan ibu dan anak, pencegahan cidera, pengendalian penyalahgunaan obat.
Narkoba, kesehatan gizi berbasis sekolah, kebijakan pendidikan dan pengembangan
kurikulum dan pelatihan kurikulum dan pelatihan bagi para professional perawatan
kesehatan.
Contoh aplikasi dalam kesehatan reproduksi dan HIV AIDS, sebagai berikut:
Tren penyebaran HIV AIDS pada wanita pekerja seksual sangat tinggi. Kasus HIV/AIDS di
Indonesia sejak tahun 2008 terus mengalami peningkatan (Ditjen PPM dan PL Depkes RI,
2011). Pada Tahun 2010, Jawa Timur berada pada posisi kedua sedangkan tahun 2011 pada
posisi keempat untuk kasus HIV/AIDS di Indonesia. Meskipun menunjukkan penurunan
peringkat namun jumlah kasusnya tetap mengalami peningkatan yaitu 235 kasus (6,6%) dari
tahun 2010 (Ditjen PPM dan PL Depkes RI, 2011).
Kasus HIV/AIDS di kota Surabaya mengalami kenaikan yang cukup tinggi dari tahun 2008
ke tahun 2009 yaitu sekitar 214%. Namun pada tahun 2010 jumlah penderita HIV/AIDS
menurun sekitar 71 kasus (9%) dari kasus sebelumnya. Hal ini menunjukkan penurunan
kasus tidak terlalu besar jika dibandingkan lonjakan kasus yang terjadi. Salah satu kelompok
risiko tinggi adalah Wanita Pekerja Seks (WPS).
Estimasi WPS di Indonesia pada tahun 2006 diperikirakan mencapai 0,30% dari populasi
perempuan dewasa (15-49 tahun). Kelompok WPS sangat rentan tertular HIV akibat
hubungan seks dan perilaku seks yang tidak aman (KPA, 2009). Berdasarkan hasil Surveilans
Terpadu Biologis dan Perilaku (STBP) 2011 dalam BKKBN 2011 diketahui bahwa
pengetahuan masyarakat tentang HIV/AIDS dan kesadaran menggunakan kondom pada
hubungan seks berisiko tinggi cenderung menurun dibanding tahun-tahun sebelumnya.
Menurut hasil Surveilans Terpadu Biologis dan Perilaku tahun 2011 beberapa faktor yang
mempengaruhi penggunaan kondom antara lain adalah pengetahuan, aksesibilitas,
penjangkauan, dan aturan penggunaan kondom.
Aplikasi Precede-Procede model, dicontohkan sebagai berikut:
DAFTAR
PUSTAKA

Ariani. 2011. Analisis Hubungan Pengetahuan, Sikap dengan Tindakan Berdasarkan


Indikator Surveylands Perilaku HIV AIDS pada Wanita Pekerja Seksual. Surabaya.
Departemen Epidemiologi FKM Unair
Green. 1991. Health Promotion Planning An Aducational and Environmental Approach
Second Edition. London.Mayfield publishing company.
Notoatmodjo. 2012. Promosi Kesehatan dan Perilaku Kesehatan. Jakarta. Rineka Cipta.
LAMPIRAN-LAMPIRAN

ANALISIS HUBUNGAN ANTARA PENGETAHUAN, SIKAP DENGAN TINDAKAN


BERDASARKAN INDIKATOR SURVEILANS PERILAKU HIV/AIDS PADA WANITA
PEKERJA SEKS
(Studi Penelitian Di Klinik IMS Puskesmas Putat Jaya Surabaya)

The Analysis of relationship between knowledge, attitude with bahavior based on Indicator of
Behavior Surveillance of HIV/AIDS in the Female Sex Workers.
(Research Study In STD Clinic The Health Center Putat Jaya Surabaya)

Putu Desi Ariani1, Arief Hargono2


1 Alumni FKM Unair, putudesia@yahoo.com
2 Departemen Epidemiologi FKM Unair, ririef73@yahoo.com

ABSTRAK
Wanita Pekerja Seks (WPS) merupakan kelompok yang rentan tertular HIV mellaui
hubungan seks yang tidak aman. Tujuan penelitian ini adalah melakukan analisis hubungan
antara pengetahuan, sikap dengan tindakan tindakan berdasarkan indikator surveilans
perilaku HIV/AIDS. Desain penelitian adalah cross sectional. Populasi adalah semua (WPS)
yang periksa di klinik kelamin Puskesmas Putat Jaya Surabaya. Jumlah responden sebanyak
172 responden. Pemilihan sampel dengan systematic random sampling. Variabel yang diteliti
adalah karakteristik, pengetahuan, sikap dan tindakan WPS. Hasil penelitian menunjukkan
bahwa sebagian besar responden memiliki pengetahuan yang kurang tentang HIV/AIDS
(58,7%), sikap yang bagus (50,6%) dan tindakan yang kurang terhadap HIV/AIDS (55,2%).
Uji chi-square menunjukkan bahwa ada hubungan antara pengetahuan dengan sikap,
pengetahuan dengan tindakan serta ada hubungan antara sikap dengan tindakan terhadap
HIV/AIDS.
Kata Kunci: Pengetahuan, Sikap, Tindakan, Indikator survei perilaku HIV/AIDS pada WPS

ABSTRACT
Female Sex Workers (FSW) was very susceptible group to HIV through sexual intercourse
and unsafe sexual behavior with the customer. The purpose of this study was analyzing the
relationship of knowledge and attitudes with behavior based on indicators of behavioral
surveillance of HIV / AIDS in the FSW. The design of the study was cross sectional
approach. The population was all FSW who had examination in STD clinic of Putat Jaya
Health Center in Surabaya. The numbers of sample were 172 respondents. The sampling
technique in this study used systematic random sampling. The variabels of this study were the
characteristics of FSW, knowledge, attitudes and behavior. This study used chi-square test to
analyze the relationship. The results of this study showed that most of respondents had lack
knowledge about HIV/AIDS (58.7%), had a good attitude about HIV/AIDS (50.6%) and had
lack behavior about HIV/AIDS (55.2%). Chi-square test showed that there was a relationship
between knowledge with attitude based on indicators of Behavior Surveillance of HIV/AIDS
in the FSW. There was a relationship between knowledge with behavior. There was a
relationship between attitudes with behavior.
Keywords : Knowledge, Attitude, Behavior, Indicator Behavior Surveillance of HIV/AIDS in
the FSW.
PENDAHULUAN
Perkembangan Human Immunodeficiency Virus/Acquired Immunodeficiency Syndrome
(HIV/AIDS) berdasarkan data WHO tahun 2007-2009 diketahui bahwa trend penyakit
tersebut naik turun. Epidemi AIDS di Indonesia sudah berlangsung hampir 20 tahun namun
diperkirakan masih akan berlangsung terus dan memberikan dampak yang tidak mudah
diatasi (Nurbani, 2008). Kasus HIV/AIDS di Indonesia sejak tahun 2008 terus mengalami
peningkatan ( Ditjen PPM dan PL Depkes RI, 2011).
Pada Tahun 2010, Jawa Timur berada pada posisi kedua sedangkan tahun 2011 pada posisi
keempat untuk kasus HIV/AIDS di Indonesia. Meskipun menunjukkan penurunan peringkat
namun jumlah kasusnya tetap mengalami peningkatan yaitu 235 kasus (6,6%) dari tahun
2010 (Ditjen PPM dan PL Depkes RI, 2011).
Kasus HIV/AIDS di kota Surabaya mengalami kenaikan yang cukup tinggi dari tahun 2008
ke tahun 2009 yaitu sekitar 214%. Namun pada tahun 2010 jumlah penderita HIV/AIDS
menurun sekitar 71 kasus (9%) dari kasus sebelumnya. Hal ini menunjukkan penurunan
kasus tidak terlalu besar jika dibandingkan lonjakan kasus yang terjadi.
Salah satu kelompok risiko tinggi adalah Wanita Pekerja Seks (WPS). Estimasi WPS di
Indonesia pada tahun 2006 diperikirakan mencapai 0,30% dari populasi perempuan dewasa
(15-49 tahun). Kelompok WPS sangat rentan tertular HIV akibat hubungan seks dan perilaku
seks yang tidak aman (KPA, 2009). Berdasarkan hasil Surveilans Terpadu Biologis dan
Perilaku (STBP) 2011 dalam BKKBN 2011 diketahui bahwa pengetahuan masyarakat
tentang HIV/AIDS dan kesadaran menggunakan kondom pada hubungan seks berisiko tinggi
cenderung menurun dibanding tahun-tahun sebelumnya. Menurut hasil Surveilans Terpadu
Biologis dan Perilaku tahun 2011 beberapa faktor yang mempengaruhi penggunaan kondom
antara lain adalah pengetahuan, aksesibilitas, penjangkauan, dan aturan penggunaan kondom.
Salah satu wilayah yang kasus HIV/AIDS nya tinggi di Kota Surabaya adalah Kecamatan
Sawahan. Puskesmas Putat Jaya merupakan Puskesmas di kecamatan tersebut dengan
wilayah kerja yaitu lokalisasi Dolly dan Jarak. Menurut hasil laporan VCT kasus HIV/AIDS
di Puskesmas Putat Jaya mengalami peningkatan dari tahun 2010 ke tahun 2011 sebesar 65%.
Tujuan penelitian ini mengidentifikasi hubungan pengetahuan dan sikap dengan tindakan
berdasarkan indikator surveilans perilaku HIV/AIDS pada WPS di klinik IMS Puskesmas
Putat Jaya Surabaya.

METODE
Rancang bangun penelitian ini adalah penelitian cross sectional. Populasi pada penelitian ini
diperoleh dari jumlah perkiraan seluruh WPS yang sedang melakukan kunjungan ke klinik
IMS di Puskesmas Putat Jaya Surabaya pada bulan April-Mei 2011 yaitu sebanyak 259 WPS.
Sampel pada penelitian ini adalah sebagian dari WPS yang sedang melakukan kunjungan ke
klinik IMS di Puskesmas Putat Jaya Surabaya yaitu sebanyak 172 WPS. Cara pengambilan
sampel dengan systematic random sampling dengan interval 2 WPS.
Variabel penelitian dalam penelitian ini yaitu karakteristik responden (umur, asal daerah,
tingkat pendidikan, status pernikahan, lama bekerja menjadi WPS, lama bekerja di tempat
kerja yang sekarang dan pengalaman bekerja di tempat lain), pengetahuan, sikap dan tindakan
berdasarkan indikator Surveilans Perilaku HIV/AIDS pada WPS.
Pengumpulan data primer dengan kuesioner yang berasal dari hasil modifikasi kuesioner
Behavioral Surveillance Survey (BSS) dengan judul Guidlines For Repeated Behavioral
Surveys In Populations At Risk of HIV oleh The United States Agency for International
Development (USAID) tahun 2000. Data sekunder yang dibutuhkan antara lain adalah jumlah
kunjungan WPS di klinik VCT dan IMS pada bulan April-Mei 2011, data registrasi WPS
yang melakukan pemeriksaan VCT, Catatan Medik (CM) WPS dan data distribusi kondom.
Data dianalisis dengan menggunakan uji Chi-Square.
HASIL
Responden didominasi oleh kelompok umur 21-30 tahun dan 31-40 tahun (49%). Asal
wilayah para WPS sebagian besar merupakan penduduk yang berasal dari luar Surabaya
sebanyak 168 responden (97,7%). Meraka berasal dari daerah Jawa Timur (91,07%) yaitu
Malang, Jember, Probolinggo, Kediri, Pasuruan, Jombang, Tulunggagung, Banyuwangi,
Tuban, Nganjuk dan beberapa kota lainnya. Sebagian besar responden adalah tamatan SD
(52,33%).
Status perkawinan perlu dipertimbangkan terkait dengan kemungkinan interaksi antara
populasi paling berisiko (populasi berisiko tinggi) dengan populasi umum (STBP, 2011).
Hasil penelitian yang dilakukan menunjukan bahwa sebagian besar status pernikahan dari
WPS yang bekerja dilokalisasi Dolly dan Jarak adalah berstatus janda (85,5%). Namun ada
juga yang statusnya menikah (8,1%).
Lama bekerja menjadi WPS paling banyak terdapat pada kelompok 3-5 tahun (48,8%).
Lamanya responden bekerja di lokalisasi Dolly atau Jarak paling banyak menunjukan selama
3-5 tahun (48,8%). Untuk riwayat bekerja di tempat lain selain dilokalisasi Dolly dan Jarak
paling banyak menunjukan bahwa respoden tidak pernah bekerja sebelumnya kecuali di
lokalisasi tersebut (95,5%).

PEMBAHASAN
Distribusi tingkat pengetahuan responden tentang HIV/AIDS meliputi penyebab HIV/AIDS,
kelompok berisiko tinggi, cara penularan, tanda dan gejala HIV/AIDS, keterkaitan dengan
HIV/AIDS dengan IMS, cara pencegahan dan Tes HIV.

Tabel 1. Gambaran Pengetahuan Responden di


Puskesmas Putat Jaya tahun 2012
Pengetahuan RespondenJumlah%Baik7141,3Kurang 10158,7Total172100
Sebagian besar responden memiliki tingkat pengetahuan yang kurang tentang HIV/AIDS
(58,7%). Hasil STBP tahun 2011 pada kelompok berisiko tinggi di Indonesia yaitu salah
satunya WPSL menunjukkan bahwa pengetahuan komprehensif di kalangan WPSL masih
rendah (<40%). Ada beberapa pengetahuan dasar tentang HIV/AIDS yang masih banyak
dijawab salah oleh responden, misalnya HIV/AIDS dapat disebabkan karena gigitan nyamuk
(51,2%), HIV/AIDS dapat disembuhkan dengan obat (45,3%), seseorang yang terkena
HIV/AIDS dapat dilihat dari kondisi fisik (48,8%), HIV/AIDS dapat menular melalui berbagi
makanan (57%), Pekerjaan menjadi WPS bukan merupakan pekerjaan dengan risiko tinggi
terkena HIV/AIDS (43,6%), menggunaan Narkoba suntik secara bergantian tidak dapat
menularkan HIV/AIDS (32,6%), serta pemberian ASI dari ibu yang berstatus HIV tidak dapat
menularkan HIV ke anaknya (33,1%). Ternyata masih banyak WPS yang tidak pernah
mendengar kondom wanita (41,9%), sebanyak 172 responden (100%) menjawab bahwa
dirinya tidak pernah menderita IMS padahal ketika di cross ceck dengan pertanyaan riwayat
mendapat obat di klinik IMS, semua WPS menjawab pernah mendapat obat. Masih banyak
juga yang menjawab bahwa seseorang yang menderita penyakit IMS (sifilis, GO, Jengger
Ayam) tidak memiliki kemungkinan untuk terkena HIV/AIDS (52,3%).
Hasil penelitian untuk variabel sikap diketahui sikap responden terhadap HIV/AIDS paling
banyak tergolong baik (50,6%). Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan
oleh Tsuroyya (2009) pada WPS Dolly dan Jarak binaan Yayasan Abdi Asih Surabaya,
bahwa sebagian besar responden memiliki sikap yang baik (55%).

Tabel 2. Gambaran Sikap Responden Berdasarkan Indikator Surveilans Perilaku HIV/AIDS


pada WPS di Puskesmas Putat Jaya tahun 2012
Sikap RespondenJumlah%Baik8750,6Kurang8549,4Total172100
Ternyata ada beberapa sikap responden yang tergolong tidak baik yaitu masih banyak
responden yang setuju bahwa WPS yang tidak terkena HIV/AIDS tidak perlu melakukan
konseling dan pemeriksaan di klinik VCT (64,5%), masih banyak responden setuju bahwa
WPS yang terkena HIV/AIDS masih dapat berhubungan seks dengan pelanggan meskipun
tidak menggunakan kondom (63,4%), masih banyak responden setuju bahwa responden akan
berhubungan seks tanpa kondom jika pelanggan menolak tawaran untuk menggunakan
kondom (64%) dan masih banyak responden yang tidak setuju untuk merawat keluarga
mereka jika ada yang terkena HIV/AIDS (54,1%).
Tindakan HIV/AIDS berdasarkan indikator Survey Surveilans Perilaku meliputi penggunaan
kondom saat berhubungan seks terakhir, konsistensi penggunaan kondom, penggunaan
narkoba suntik, WPS yang melakukan tes HIV dan keikutsertaan WPS dalam program
intervensi yang pernah dilakukan untuk menanggulangi HIV/AIDS. Jumlah responden yang
mempunyai tindakan yang kurang mengenai HIV/AIDS sebanyak 95 responden (55,2%).

Tabel 3. Gambaran Tindakan Responden di Puskesmas Putat Jaya tahun 2012


Tindakan RespondenJumlah %Baik7744,8Kurang 9555,2Total172100
Masih banyak pelanggan dari responden yang tidak menggunakan kondom saat berhubungan
seks terakhir (61%). Selain itu untuk konsistensi pemakaian kondom, masih banyak
pelanggan responden yang belum konsisten dalam menggunakan kondom (73,8%). Hasil
Survey Surveilans Perilaku (SSP) di Jawa Timur yaitu pada kota Surabaya tahun 2004
tentang pemakaian kondom menunjukkan hasil yang sama yaitu masih banyak WPS yang
tidak menggunakan kondom saat berhubungan terakhir (59,6%) dan WPS yang selalu
menggunakan kondom pada seks komersial seminggu terakhir hanya 17,3%. Menurut STBP
tahun 2011 WPSL yang menggunakan kondom saat berhubungan seks terakhir sebanyak
61% dari responden dan yang selalu menggunakan kondom hanya 47 %
Kondisi condome use di bawah 100% ini merupakan ancaman serius apabila tidak segera
dilakukan intervensi. Hubungan seksual antara WPS dan pelanggannya tanpa menggunakan
kondom merupakan perilaku yang berisiko tinggi terhadap penularan HIV (USAID dalam
Susantie, 2007). Menurut Daus dan Welle dalam Lubis (2008) memperkirakan penggunaan
kondom dapat menurunkan penularan HIV/AIDS sebanyak 85% dibanding dengan yang
tidak pernah menggunakan.
Semua responden (100%) tidak ada yang menggunakan Narkoba suntik dalam enam bulan
terakhir hal ini. Bila ada WPS yang juga menggunakan napza suntik, maka dapat
diperkirakan risiko penularan HIV akan semakin cepat meningkat.
Responden sudah banyak yang rutin melakukan pemeriksaan baik pemeriksaan di klinik
VCT (69,8%) maupun pemeriksaan di klinik IMS (65,1%). Semua responden (100%) pernah
masuk ke ruang VCT dan semua responden (100%) yang pernah masuk ke ruang VCT
melanjutkan pemeriksaan darah setelah masuk ke ruang VCT. Namun ternyata ada responden
yang pernah tidak membuka hasil pemeriksaan darah (24,4%) dengan alasan karena takut
(50%) dan tidak siap mental untuk melihat hasilnya (50%).
Semua responden (100%) pada penelitian ini pernah mengikuti program intervensi untuk
menanggulangi HIV/AIDS. Program yang paling sering diikuti oleh responden adalah
pemeriksaan di klinik VCT dan pembagian kondom gratis.
Perubahan perilaku merupakan salah satu cara yang efektif dalam mencegah tertularnya
HIV/AIDS karena HV/AIDS merupakan penyakit yang sangat erat hubungannya dengan
perilaku. Penularan utama HIV di Indonesia adalah melalui jalur seks dengan pasangan seks
yang banyak dan berganti-ganti maupun penggunaan suntik tak steril secara bersamaan pada
penggunaan Narkoba suntik (Survey Surveilans Perilaku di Jawa Timur, 2004).
Menurut hasil uji chi-square untuk hubungan pengetahuan dengan sikap WPS berdasarkan
indikator surevilans perilaku HIV/AIDS hasilnya signifikan (p = 0,00 <0,005 ; χ2 =53,385)
artinya ada hubungan antara variabel pengetahuan dengan sikap responden.
Pengetahuan yang kurang ternyata juga berdampak pada sikap WPS yang kurang. Masih
banyak WPS yang belum menyadari bahwa mereka termasuk sebagai kelompok risiko tinggi.
Hal ini membuat WPS tidak sadar bahwa mereka sangat rentan untuk terkena HIV/AIDS
sehingga masih banyak yang memiliki sikap yang kurang dimana masih banyak WPS yang
mau melayani pelanggan yang tidak menggunakan kondom ataupun yang menolak
menggunakan, Banyak WPS yang setuju bahwa WPS yang sehat tidak perlu melakukan
konseling dan pemeriksaan VCT.
Masih banyak WPS yang memiliki pengetahuan yang kurang tentang cara penularan
HIV/AIDS karena ternyata banyak WPS yang masih mengira bahwa HIV/AIDS ditularkan
lewat gigitan nyamuk dan berbagi makanan sehingga hal ini mengakibatkan sikap yang salah
pada WPS terkait dengan penularan HIV/AIDS

Tabel 4 Analisis Hubungan Pengetahuan dengan Sikap Responden Berdasarkan Indikator


Surveilans Perilaku HIV/AIDS pada WPS di Puskesmas Putat Jaya
tahun 2012
PengetahuanSikapTotalKurangBaikn%n%n%Kurang7487,1273110158,7Baik1112,96069714
1,3Total8510087100172100
Menurut Walgito dalam Kusumastuti (2010), sikap sangat berkaitan erat dengan tingkat
pengetahuan seseorangnya. Sikap seseorang terhadap suatu objek menunjukkan pengetahuan
orang tersebut terhadap objek yang bersangkutan. Berdasarkan teori adaptasi apabila tingkat
pengetahuan baik setidaknya dapat mendorong untuk mempunyai sikap dan perilaku yang
baik pula (Widodo dalam Juliastika,dkk, 2012). Responden yang memiliki pengetahuan
kurang dan sikap kurang lebih banyak dari yang lain yaitu 74 responden (87,1%).
Menurut Lawrence Green dalam Notoatmodjo (2005) ada 3 faktor yang mempengaruhi
perubahan perilaku individu maupun kelompok salah satunya adalah pengetahuan yang
tergolong sebagai faktor yang mempermudah (Presdisposing factor). Pengetahuan juga
merupakan domain koginitif yang sangat penting dalam terbentuknya tindakan seseorang.
Apabila penerimaan perilaku baru didasari pengetahuan maka akan bersifat langgeng,
sebaliknya jika perilaku tidak didasari oleh pengetahuan maka tidak akan berlangung lama.
Hasil uji chi-square untuk hubungan pengetahuan dengan tindakan WPS berdasarkan
indikator surevilans perilaku HIV/AIDS hasilnya signifikan (p = 0,00 <0,005 ; χ2 =74,512)
artinya ada hubungan antara variabel pengetahuan dengan tindakan responden.

Tabel 5 Analisis Hubungan Pengetahuan dengan Tindakan Responden Berdasarkan Indikator


Surveilans Perilaku HIV/AIDS di Puskesmas Putat Jaya tahun 2012
PengetahuanTindakanTotalKurangBaik
n%n%n%Kurang8488,41722,110158,7Baik1111,66077,97141,3Total 9510077100172100
Responden yang memiliki pengetahuan kurang dan tindakan kurang lebih banyak dari yang
lain yaitu 84 responden (88,4%). Semua responden dalam penelitian ini mengaku sudah
pernah mendengar kondom namun yang pernah mendengar tentang kondom wanita hanya
100 responden (58,1%). Angka ini menunjukan bahwa pengetahuan tentang kondom sudah
bagus namun untuk tingkat penggunaan kondom masih rendah. Responden yang
menggunakan kondom saat berhubungan terakhir hanya 39% sedangkan yang konsisten
untuk selalu menggunakan kondom hanya 26,2%. Menurut data distribusi kondom di
Puskesmas Putat Jaya tahun 2011, jumlah kondom yang dibagikan jumlahnya sangat kurang
jika dibandingkan dengan pelanggan yang didapat tiap hari
Pengetahuan WPS tentang pemeriksaan darah sebagai cara untuk mengetahui kondisi HIV
sudah cukup bagus (86,6%), namun ada WPS yang masih belum pernah mendengar klinik
VCT (41,3%), dan masih ada WPS yang tidak mengetahui bahwa pemeriksaan HIV di klinik
VCT (35,5%). Hal ini berbeda dengan hasil tindakan dari WPS tentang pemeriksaan VCT
bahwa semua WPS pernah masuk ke ruang VCT dan melanjutkannya dengan pengambilan
darah. Hal ini dikarenakan di wilayah WPS tempat mereka bekerja sudah ada pihak yang
mengkoordinir mereka untuk rutin melakukan pemeriksaan VCT.
Menurut Suesen dalam Soelistijani (2003), pencegahan penularan HIV melalui hubungan
seksual memerlukan pendidikan/penyuluhan yang intensif dan ditujukan untuk mengubah
perilaku seksual masyarakat tertentu sehingga mengurangi kemungkinan penularan HIV
sehingga diharapkan pengetahuan yang diterima WPS nantinya mampu merubah sikap dan
perilaku untuk mencegah HIV/AIDS.
Menurut Theory “S-O-R” dalam Notoatmodjo (2005) sikap merupakan respon tertutup yang
dapat memicu seseorang untuk melakukan suatu tindakan (respon terbuka). Meskipun sikap
WPS tergolong baik namun ada beberapa sikap yang masih kurang dan dapat berisiko untuk
terkena HIV/AIDS.
Hasil uji chi-square untuk hubungan sikap dengan tindakan WPS berdasarkan indikator
surveilans perilaku HIV/AIDS hasilnya signifikan (p = 0,00 <0,005 ; χ2 =39,733) artinya ada
hubungan antara variabel sikap dengan tindakan responden.

Tabel 6 Analisis Hubungan Sikap dengan Tindakan Responden Berdasarkan Indikator


Surveilans Perilaku HIV/AIDS di Puskesmas Putat Jaya tahun 2012
Sikap TindakanTotalKurangBaik
n%n%n%Kurang6871,61722,18549,4Baik2728,46077,98750,6Total9510077100172100
Jumlah responden yang memiliki sikap kurang dan tindakan kurang lebih banyak yaitu 68
responden (71,6%). Mamun ada beberapa sikap yang perlu diperhatikan yaitu misalnya masih
banyak yang menjawab bahwa WPS yang tidak terkena HIV/AIDS tidak perlu untuk
melakukan konseling dan pemeriksaan di klinik VCT. Sikap yang salah seperti ini dapat
memicu tindakan responden, hal ini terbukti bahwa masih ada responden yang tidak rutin
dalam melakukan pemeriksaan di klinik VCT (30,2%). Masih banyak responden yang setuju
bahwa WPS yang terkena HIV/AIDS masih dapat berhubungan seks dengan pelanggan
meskipun tanpa menggunakan kondom selain itu masih banyak responden yang setuju untuk
melayani pelanggan yang tanpa menggunakan kondom jika pelanggan menolak tawaran
untuk menggunakan kondom. Sikap yang salah ini ternyata juga dapat dapat berpengaruh
pada tindakan responden dalam menggunakan kondom, hal ini terbukti dari pertanyaan
tindakan responden yang menolak untuk menggunakan kondom jika pelanggan tidak mau
menggunakan kondom sebanyak 146 responden (84,9%) responden menjawab bahwa mereka
akan tetap bersedia untuk melayani pelanggan tersebut.

KESIMPULAN DAN SARAN


Kesimpulan
Karakteristik responden paling banyak didominasi oleh kelompok umur 21-30 tahun (45,3%)
dan 31-40 tahun (45,3%). Sebagian besar responden berasal dari luar Surabaya (97,7%) dan
paling banyak merupakan tamatan SD (52,3%). Status pernikahan responden paling banyak
berstatus janda (85,5%) dan sudah bekerja menjadi WPS paling banyak selama 3-5 tahun
(48,8%). Responden paling banyak sudah lama bekerja dilokalisasi Dolly atau Jarak sekitar
3-5 tahun (45,3%) dan sebagian besar tidak pernah bekerja ditempat lain (95,5%).
Berdasarkan Survey Surveilans Perilaku HIV/AIDS sebagian besar responden memiliki
pengetahuan yang kurang (58,7%), namun sudah memiliki sikap yang baik (50,6). Sedangkan
untuk tindakan sebagian besar responden memiliki tindakan yang masih kurang (55,2%)
Ada hubungan antara pengetahuan dengan sikap berdasarkan indikator Surveilans Perilaku
HIV/AIDS pada WPS di klinik IMS Puskesmas Putat Jaya Surabaya tahun 2012.
Ada hubungan antara pengetahuan dengan tindakan berdasarkan indikator Surveilans
Perilaku HIV/AIDS pada WPS di klinik IMS Puskesmas Putat Jaya Surabaya tahun 2012.
Ada hubungan antara sikap dengan tindakan berdasarkan indikator Surveilans Perilaku
HIV/AIDS pada WPS di klinik IMS Puskesmas Putat Jaya Surabaya tahun 2012.

Saran
Diharapkan kepada pihak instansi terkait untuk meningkatkan Surveilans Perilaku kepada
WPS sehingga dapat memantau perilaku berisiko yang dilakukan oleh WPS dan membuat
suatu intervensi yang lebih sesuai untuk dapat mengubah perilaku berisiko tersebut.
Meningkatkan intesitas penyuluhan secara formal dan lebih menekankan pada materi-materi
dasar HIV/AIDS yaitu HIV/AIDS tidak ditularkan melalui gigitan nyamuk dan berbagi
makanan, HIV/AIDS juga tidak dapat diobati, WPS merupakan kelompok risiko tinggi
HIV/AIDS, HIV/AIDS dapat menular melalui Narkoba suntik dan ASI dari Ibu yang
berstatus HIV kepada anaknya. Selain itu menekankan pada pemakaian kondom dapat
mencegah HIV/AIDS, mengenalkan pemakaian kondom wanita, hubungan IMS dengan
HIV/AIDS, lebih mengenalkan klinik VCT sebagai tempat pemeriksaan HIV/AIDS dan
jadwal rutin pemeriksaan VCT setiap 3 bulan sekali. Selain itu juga dilakukan tindakan
monitoring dan evaluasi terhadap penyuluhan maupun kegiatan-kegiatan yang dilakukan
terkait dengan HIV/AIDS pada WPS.
Melakukan monitoring penggunaan kondom bagi setiap WPS sehingga bisa menyediakan
jumlah kondom yang dibutuhkan WPS sesuai dengan jumlah pelanggan, adanya upaya untuk
menguatkan bargaining position WPS dalam penggunaan kondom dan lebih mempromosikan
penggunaan kondom wanita sebagai salah satu alternatif dalam mencegah HIV/AIDS.
Diharapkan pada peneliti selanjutnya lebih mengembangkan penelitian ini dengan melihat
kuat hubungan pengetahuan, sikap dan perilaku HIV/AIDS pada WPS berstatus HIV negatif
dengan WPS berstatus HIV positif.