Anda di halaman 1dari 20

LAPORAN PRAKTIKUM BIOLOGI UMUM

MODUL II
PENGAMATAN SEL

DISUSUN OLEH :
NAMA : ANNISA GUNAWAN
NIM : G 101 19 032
KELOMPOK : IV (EMPAT)
ASISTEN : ELIF FITRIANA

LABORATORIUM BIOSISTEMATIKA TUMBUHAN


JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS TADULAKO

OKTOBER , 2019
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Sel merupakan satuan struktural terkecil dari suatu organisme hidup. Pada
makhluk hidup bersel tunggal segala fungsi kehidupan harus dilakukan oleh sel
itu sendiri, contohnya metabolisme zat yang menghasilkan energi untuk
aktifitas kehidupan, tumbuh dan berkembang biak, dan kemampuannya
menganggai berbagai keadaan di lingkungannya. Pada makhluk hidup bersel
banyak, berbagai fungsi kehidupan dilakukan oleh kelompok-kelompok sel
yang berbeda yang membentuk suatu jaringan, organ atau membentuk suatu
sistem (Tim Dosen Pembina, 2017:6).

Sel adalah bagian tanaman atau hewan yang paling kecil. Beberapa organisme
misalnya amuba dan bakteri hanya terdiri dari satu sel sedangkan yang lain
misalnya pohon dan manusia memiliki jutaan sel. Sebuah sel terdiri atas
protoplasma dan membran yang membungkus protoplasma. Protoplasma
adalah materi berwarna abu – abu dan kental seperti jelly serta mengandung
banyak senyawa kimia organik dan organela. Sel mampu mengambil zat – zat
kimia dan menggunakannya untuk menghasilkan bermacam – macam zat yang
diperlukan untuk proses kehidupan (Godman, 2000).

Dalam jenjang organisasi biologis, sel merupakan kumpulan materi paling


sederhana yang dapat hidup. Bahkan terdapat beraneka ragam bentuk
kehidupan yang hadir sebagai organisme bersel tunggal. Organisme yang lebih
kompleks, termasuk tumbuhan dan hewan, bersifat multiseluler; tubuh
organisme semacam itu merupakan hasil kerja sama antara banyak jenis sel
yang terspesialisasi yang tidak dapat berthan hidup dalam waktu lama secara
sendirian. Akan tetapi, bahkan ketika tersusun ke dalam tingkat organisasi yang
lebih tinggi, misalnya jaringan dan organ, sel merupakan unit dasar bagi
struktur dan fungsi organisme. Setiap tindakan organisme dimulai pada tingkat
seluler (Campbell, 2008:102).

Berdasarkan uraian di atas, maka yang melatarbelakangi diadakannya


praktikum ini adalah agar lebih mengetahui tentang sel yaitu sebagai struktur
terkecil dalam kehidupan yang mengatur semua sistem metabolisme dalam
tubuh.

1.2 Tujuan

Tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengenal bentuk dan struktur sel secara
umum, membandingkan dan membedakan berbagai jenis sel dari berbagai jenis
organisme, menggambarkan bentuk sel tumbuhan, sel hewan, protozoa dan
mikroorganisme, mengetahui perbedaan antara sel mati dan sel hidup.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Istilah “sel” pertama kali dipakai oleh Robert Hooke, kira kira 300 tahun yang lalu,
untuk ruang – ruang kecil seperti kotak yang dilihatnya waktu ia mengamati gabus
dan bahan tumbuhan lain di bawah mikroskop, yang pada waktu itu baru
ditemukan. Dalam tahun 1839 fisiologiwan Purkinye memperkenalkan istilah
“protoplasma” bagi zat hidup dari sel. Setelah pengetahuan meningkat mengenai
struktur dan fungsi sel meningkat, maka menjadi jelas bahwa isi yang hidup dari sel
merupakan suatu sistem yang kompleks dari bagian – bagian yang heterogen. Istilah
“protoplasma” Purkinye tidak memberi pengertian kimiawi dan fisik yang jelas,
tetapi dapat dipakai untuk menyebut semua zat yang terorganisasi di dalam sel
(Villee dkk, 1999).

Sel adalah bagian tanaman atau hewan yang paling kecil. Beberapa organisme
misalnya amuba dan bakteri hanya terdiri dari satu sel sedangkan yang lain
misalnya pohon dan manusia memiliki jutaan sel. Sebuah sel terdiri atas
protoplasma dan membran yang membungkus protoplasma. Protoplasma adalah
materi berwarna abu – abu dan kental seperti jelly serta mengandung banyak
senyawa kimia organik dan organela. Sel mampu mengambil zat – zat kimia dan
menggunakannya untuk menghasilkan bermacam – macam zat yang diperlukan
untuk proses kehidupan (Godman, 2000).

Sel merupakan mikrokosmos yang mendemonstrasikan sebagian besar tema yang


diperkenalkan pada kita. Suatu teknik yang berguna untuk mempelajari struktur dan
fungsi sel adalah fraksionasi sel (cell fractionation), yang menjauhkan sel – sel dan
memisah – misahkan organel – organel utama serta struktur subselular lain.
Instrumen yang digunakan adalah sentrifus, alat yang memutar tabung reaksi berisi
campuran sel – sel yang pecah pada berbagai kecepatan. Gaya yang dihasilkan
menyebabkan fraksi komponen sel mengendap di dasar benda yang berbentuk
gelas. Fraksionasi sel memungkinkan peneliti menyiapkan komponen – komponen
sel spesifik dalam jumlah banyak dan mengklasifikasikan fungsi komponen
tersebut, tugas yang akan lebih sulit digunakan dengan sel utuh. Misalnya, uji
biokimiawi menunjukkan bahwa salah satu fraksi sel yang dihasilkan melalui
sentrifugasi antara lain adalah enzim yang terlihat dalam respirasi selular
(Campbell, 2008).

Unit dasar bagi struktur dan fungsi setiap makhluk adalah salah satu dari dua tipe
sel yaitu prokariotik atau eukariotik. Hanya organisme dari domain Bacteria dan
Archaea yang terdiri dari sel – sel prokariot. Protista, fungi, hewan dan tumbuhan
terdiri atas sel – sel eukariot. Semua sel memiliki persamaan dan perbedaan.
Semuanya dibatasi oleh perintang selektif yang disebut membran plasma. Membran
itu menyelubungi sel dan serupa jeli yang semi cair, disebut sitosol dimana organel
dan komponen – komponen lain berada. Semua sel mengandung kromosom, yang
membawa gen dalam DNA. Dan semua sel memiliki ribosom, kompleks sel yang
membuat protein berdasarkan instruksi (Campbell, 2008).

Perbedaan utama antara sel prokariot dan sel eukariot adalah lokasi DNA – nya,
seperti yang tercermin dalam nama kedua jenis sel ini. Dalam sel eukariot
(eucaryotic cell), sebagian besar DNA berada pada dalam organel yang disebut
nukleus yang dibatasi oleh membran ganda. Kata eucaryotic berasal dari kata
Yunani eu, sejati dan karyon, bagian dalam biji, disini mengacu pada nukleus.
Dalam sel prokariot (procaryotic cell), dari kata Yunani pro, sebelum dan karyon,
bagian dalam biji. DNA terkonsentrasi di wilayah yang tidak diselubung oleh
membran, disebut nukleoid. Interior sel prokariot disebut sitoplasma. Istilah ini juga
digunakan untuk menyebut wilayah di antara nukleus dan membran plasma pada
sel eukariot. Dalam sitoplasma sel eukariot, terdapat berbagai macam organel
dengan bentuk dan fungsi yang terspesialisai, yang tersuspensi dalam sitosol.
Struktur yang dibatasi membran ini tidak ditemukan pada sel prokariot. Dengan
demikian, adanya atau tidak adanya nukleus sejati hanya salah satu contoh
perbedaan kompleksitas struktural antara kedua tipe sel (Campbell, 2008).
Sel eukariot umumnya lebih besar daripada sel prokariot. Ukuran merupakan aspek
yang umum dari struktur sel yang berhubungan dengan fungsinya. Logistik dalam
pelaksanaan metabolisme selular menentukan batasan terhadap ukuran sel. Pada
batas terendah, sel terkecil yang diketahui adalah bakteri yang disebut
mikroplasma, dengan diameter antara 0,1 dan 1,0 𝜇m. Sel mikroplasma mungkin
merupakan kemasan terkecil dengan DNA yang cukup untuk memprogram
metabolisme serta enzim dan peralatan selular lain yang cukup untuk melaksanakan
segenap aktifitas yang dibutuhkan agar sel bisa mencukupi kebutuhan hidupnya dan
bereproduksi. Bakteri tipikal 1-5 𝜇m, dimensi yang sekitar sepuluh kali lebih besar
daripada dimensi mikroplasma. Sel eukariot umumnya berdiameter 10 – 100 𝜇m
(Campbell, 2008).

Sel hewan memiliki berbagai organel. Sel hewan secara umum memiliki membran
sel, retikulum endoplasma, sitoskeleton, mitokondria, lisosom, aparatus golgi dan
ribosom. Organel yang paling menonjol dalam sel hewan biasanya nukleus.
Sebagian besar aktifitas metabolisme sel terjadi dalam sitoplasma, keseluruhan
wilayah antara nukleus dan membran plasma. Sitoplasma mengandung banyak
organel dan komponen sel lain yang tertanam dalam medium semicair, sitosol.
Labirin membran yang disebut retikulum endoplasma (RE) menjulur ke sana –
kemari di dalam sitoplasma (Campbell, 2008).

Selain sebagian besar sel yang terdapat pada sel hewan, sel tumbuhan memiliki
organel yang disebut plastida. Jenis plastida terpenting adalah kloroplas yang
melaksanakan fotosintesis. Banyak sel tumbuhan memiliki vakuola sentral yang
besar, sel tumbuhan lain mungkin memiliki satu atau lebih vakuola yang lebih kecil.
Diantara tugas – tugas vakuola adalah melaksanakan fungsi yang dilakukan lisosom
pada sel hewan. Pada sitoplasma sel tumbuhan terdapat dinding sel serta saluran –
saluran bernama plasmodesma. Organel yang dimiliki sel hewan namun tidak ada
dalam sel hewan adalah lisosom, sentrosom dengan sentriol dan flagela (namun ada
pada beberapa jenis sperma tumbuhan). Organel yang dimiki sel tumbuhan namun
tidak ada dalam sel hewan adalah kloroplas, vakuola, dinding sel dan plasmodema
(Campbell, 2008).
Darah tersusun atas sel – sel darah dan plasma darah. Sel – sel darah terdiri dari sel
– sel darah merah (eritrosit), sel darah putih (leukosit) dan kepingan darah. Plasma
darah terdiri dari fibrinogen dan serum darah (Tim dosen, 2010).

Plasma darah adalah bagian cair dari darah yang tidak menggumpal misalnya darah
yang berada di dalam sistem vaskuler (pembuluh darah) tubuh atau darah in vitro
yang sebelumnya diberi antikoagulansia. Diantara sepertiga sampai setengah
volume darah merupakan eritrosit, yang tersuspensi di dalam plasma darah yang
kaya akan protein. Eritrosit dibentuk dari sel protektor yang disebut retikulasit
(Winarno, 2004).

Beberapa fungsi darah dalam tubuh adalah pernapasan, transpor oksigen dari paru
– paru ke jaringan – jaringan dan karbon dioksida dari jaringan ke paru – paru, gizi
dan transpor zat –zat yang di absorbsi melalui dinding usus untuk dibuang
(Poedjadi, 2004).

Protista yang menelan makanannya secara informal dikelompokkan sebagai


protozoa. Protozoa dibagi menjadi enam filum sebagai berikut yaitu (a) Rhizopoda
yaitu merupakan protozoa sederhana yang bergerak dengan pseudopodia.
Contohnya amoeba sp (b) Actinopoda, contohnya yaitu heliozoa dan radiolaria (c)
Foraminifera, merupakan protozoa yang hidup di laut (d) Apicomplexa, merupakan
parasit pada hewan, contohnya yaitu plasmodium (e) Zoonastigina, dicirikan
adanya flagel, bersifat heterotrof dan hidup bersimbiosis, contohnya yaitu
tripanosoma (f) Ciliapora, dicirikan adanya silia dan mempunyai dua nuklei, yaitu
makronuklei yang mengontrol metabolisme dan mikronuklei yang berfungsi dalam
konjugasi (Nugroho, 2004).

Protozoa (Bahasa Yunani : proto = pertama ; zoa = hidup) adalah hewan


mikroskopik yang terdapat di semua lingkungan dimana kehidupan dapat terjadi.
Banyak dari mereka bisa membentuk sista (cist), atau semacam cangkang yang
menutupi sekujur badannya sehingga mereka dapat hidup dalam kondisi yang
kering sama sekali yang tidak memungkinkan makhluk lain hidup. Sifat khas utama
ialah bahwa mereka terdiri dari satu sel. Protozoa dapat dikelompokkan menurut
habitatnya menjadi dua, yakni mereka yang hidup di dalam air atau di tempat –
tempat lembab dan dikenal sebagai protozoa yang hidup bebas, dan mereka yang
hidup di dalam atau pada hewan atau tumbuh – tumbuhan lain disebut protozoa
parasitik (Rohmimohtartu, 2007).

Flagela dan silia merupakan penjuluran yang mengandung mikrotubulus dari


beberapa jenis sel. Banyak eukariota uniseluler terdorong melewati air oleh silia
atau flagela yang bertindak sebagai embelan lokomotor (penggerak). Pola denyut
flagela dan silia berbeda. Flagela memiliki gerak merombak (undulasi) yang
menghasilkan gaya dengan arah yang sama dengan sumbu flagela. Sebaliknya silia
bekerja dayung dengan ayunan mendorong dan mendorong silih – berganti yang
menghasilkan gaya dengan arah tegak lurus sumbu silia (Campbell, 2008).
BAB III

METODE PRAKTIKUM

3.1 Waktu Dan Tempat

Praktikum ini di laksanakan pada hari rabu tanggal 2 Oktober 2019 pada pukul
13:00 sampai dengan 15:00 WITA, bertempat di Laboratorium Biosistematika
Tumbuhan Jurusan Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Universitas Tadulako.

3.2 Alat dan Bahan

Alat yang digunakan pada praktikum ini adalah mikroskop, cawan petri, kaca
objek / kaca preparat, kaca penutup, pipet tetes, silet, jarum/lanset, wadah air.
Bahan yang digunakan pada praktikum ini adalah batang ubi kayu (Manihot
esculenta), bawang merah (Allium cepa), daun Hydrila vertilicata, Ephitelium
/ Sel selaput rongga mulut, darah manusia dan darah katak, air rendaman
jerami, alkohol 70 %, pewarna metilen blue, air, tissue, cotton buds, dan tusuk
gigi.

3.3 Prosedur Kerja

Kegiatan 1

1. Dibuat potongan melintang empulur batang ubi kayu setipis mungkin.


2. Dipotongan kecil empulur batang ubi kayu diletakkan pada kaca objek dan
dijaga agar tidak terdapat lipatan atau kerutan.
3. Ditambahkan satu atau dua tetes air lalu ditutup dengan kaca penutup.
4. objek diamati dengan perbesaran lemah 40 X dan perbesaran kuat 100 X
(lensa okuler 10 X dan lensa objektif 10 X).
5. Digambar beberapa sel yang terlihat beserta bagian – bagiannya.
Kegiatan 2

1. Disiung bawang merah segar atau dipotong kecil.


2. Diambil salah satu lapisan siung yang berdaging. Kemudian bagian tersebut
dipatahkan sehingga bagian yang cekung tampak adanya epidermis tipis.
3. Epidermis dijepit dan dilepaskan dari umbinya perlahan – lahan.
4. Potongan kecil epidermis diletakkan pada kaca objek dan dijaga agar tidak
terdapat lipatan atau kerutan.
5. Ditambahkan satu atau dua tetes air dan ditutup dengan kaca penutup.
6. Objek diamati dengan perbesaran 40 X dan 100 X ( lensa okuler 10 X dan
lensa objektif 10 X).
7. Sel yang terlihat digambar beserta bagian – bagiannya.
8. Satu tetes zat warna metilen blue diteteskan pada salah satu tepi kaca
penutup dan pada bagian yang berlawanan ditempelkan tissue.
9. Sel kembali digambar dengan bagian – bagian yang bisa dikenali.

Kegiatan 3

1. Diambil selembar daun yang muda ( atau daun yang pucuk ) Hydrila
vertilicata yang telah disiapkan.
2. Diletakkan di atas kaca objek dalam posisi bentangan membujur yang rata
lalu ditetesi air.
3. Preparat diamati di bawah mikroskop. Langkah terakhir digambar beberapa
sel yang terlihat beserta bagian – bagiannya.

Kegiatan 4

1. Epitel pada bagian dalam pipi dikeruk menggunakan ujung tumpul skalpel
atau memakai sebuah tusuk gigi.
2. Epitel yang diperoleh ditebarkan ke dalam setetes air pada kaca objek.
3. Sediaan tersebut ditutup dengan kaca penutup.
4. Metilen blue kemudian diteteskan secara hati – hati pada salah satu tepi
gelas penutup dan pada bagian tepi yang berlawanan ditempelkan tissue
untuk menghisapnya.
5. Objek diamati dengan perbesaran lemah 10 X dan perbesaran kuat 40 X (
lensa okuler 10 X dan lensa objektif 4 X). Langkah terakhir adalah digambar
struktur sel epitel rongga mulut.

Kegiatan 5

1. Direndam dengan alkohol 70% dalam kaca arloji. Lalu, jari tengah
dibersihkan dengan alkohol 70%.
2. Jari tengah ditusk dengan hati – hati menggunakan lanset dan darah tersebut
dioleskan pada kaca objek dengan membuang tetesan darah pertama.
3. Sediaan apusan darah tersebut diamati di bawah mikroskop dengan
perbesaran lemah 10 X. Kemudian, sel darah yang diamati digambar.
4. Metilen blue diteteskan secara hati – hati pada salah satu tepi gelas penutup
dan pada bagian tepi yang berlawanan ditempelkan tissue untuk
menghisapnya.
5. Sel darah yang telah diwarnai digambar. Dilakukan hal yang sama terhadap
seekor katak.

Kegiatan 6

1. Air rendaman jerami diteteskan ke atas kaca objek lalu ditutup dengan kaca
penutup. Sebaiknya tidak ditekan karena sel protozoa akan hancur.
2. Sel protozoa yang diamati digambar dan dituliskan jenis protozoa yang
teramati.
BAB IV

HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Pengamatan

Hasil pengamatan yang diperoleh :

No. Gambar Keterangan

1.
a. Ruang antar sel
b b. Dinding sel
cd c. Sel mati (sel tanpa
b
c inti sel).
a a
A
A

Sel Batang Ubi Kayu

2. Sebelum diwarnai a. Inti sel


b. Sitoplasma
c. Dinding sel

a
a
b

c b

Sel Bawang Merah


3. Sesudah diwarnai a. Inti sel
b. Sitoplasma
c. Dinding sel

c b

a
a
b
c

Sel Bawang Merah


a. Inti sel
a b b. Dinding sel
c. Sitoplasma
ca

Sel Hydrilla
a. Membran sel
b. Inti sel
c. Jaringan epitel

b
c

Sel Epitel
a. Plasma darah

Sel Darah Manusia


a. Plasma darah

Sel Darah Katak

a a. Flagella
b. Bintik mata
b
a c. Vakuola
c kontraktil

d d. Kloroplas
e e. Nukleus
f f. Vakuola makanan
g g. Mitokondrio
h h. Pelikel
4.2 Pembahasan

Berdasarkan hasil pengamatan diamati struktur sel empulur batang ubi kayu
(Manihot esculenta ) sebagai bentuk pengamatan dari sel mati. Objek yang
diambil adalah bagian yang berbentuk seperti gabus pada batang ubi kayu
(Manihot esculenta ). Pada hasil pengamatan di bawah mikroskop, terlihat
bagian – bagian dari struktur sel empulur batang ubi kayu (Manihot esculenta)
yang berupa sel tumpuk, ruang antar sel, dinding sel dan sel mati. Ruang antar
sel adalah ruang diantara sebuah sel empulur batang ubi kayu (Manihot
esculenta) dengan sel empulur yang lain. Dinding sel adalah bagian terluar dari
sel empulur batang ubi kayu (Manihot esculenta ). Sel empulur batang ubi kayu
(Manihot esculenta) adalah sel mati. Hal tersebut dapat dilihat dari sel yang
tidak memiliki inti sel. Hasil pengamatan ini terlihat dengan menggunakan
perbesaran 40 X dan 100 X di bawah mikroskop.

Struktur sel umbi lapis bawang merah (Allium cepa) sebagai bentuk
pengamatan dari sel hidup. Objek yang diamati adalah potongan kecil dan tipis
dari bawang merah. Pada hasil pengamatan sel yang belum diwarnai dengan
metilen blue di bawah mikroskop, terlihat bagian – bagian dari struktur sel
umbi lapis bawang merah (Allium cepa) yang berupa inti sel, sitoplasma dan
dinding sel. Setelah beri warna dengan metilen blue, struktur yang teramati
adalah inti sel, sitoplasma dan dinding sel sama seperti sebelum diwarnai oleh
metilen blue hanya saja, bagian – bagian sel terlihat lebih jelas dibanding
sebelumnya. Hasil pengamatan ini terlihat dengan menggunakan perbesaran 40
X dan 100 X di bawah mikroskop.

Diamati struktur daun Hydrila vertilicata sebagai perwakilan dari pengamatan


struktur sel tumbuhan. Objek yang diamati adalah potongan daun Hydrila
vertilicata. Pada hasil pengamatan di bawah mikroskop, terlihat bagian –
bagian dari struktur sel daun Hydrila vertilicata yang teramati adalah dinding
sel dan urat daun. Dinding sel ini yang menyebabkan bentuk dari sel tumbuhan
tetap dan tidak berubah. Terlihat juga urat daun yang berfungsi untuk
mengalirkan hasil dari proses fotosintesis. Sel daun Hydrila vertilicata
merupakan sel hidup sebab memiliki inti sel.

Sel selaput rongga mulut sebagai perwakilan dari sel hewan. Pada hasil
pengamatan sel selaput rongga mulut setelah diwarnai oleh metilen blue di
bawah mikroskop, terlihat bagian – bagian dari struktur sel selaput rongga
mulut yang berupa inti sel, membran sel dan jaringan epitel. Dari hasil
pengamatan, dapat diketahui bahwa sel selaput rongga mulut juga tersusun dari
jaringan epitel pipih berlapis. Sel selaput rongga mulut memiliki membran sel
namun tidak memiliki dinding sel sehingga bentuknya tidak tetap. Jaringan
epitel pada sel selaput rongga mulut berfungsi untuk melindungi jaringan yang
ada dibawahnya. Hasil pengamatan ini terlihat dengan menggunakan
perbesaran 40 X di bawah mikroskop.

Sel darah manusia sebagai perwakilan dari sel darah. Pada hasil pengamatan sel
yang belum diwarnai dengan metilen blue di bawah mikroskop, terlihat bagian
dari struktur sel darah manusia adalah plasma darah. Setelah diberi warna
dengan metilen blue, struktur yang teramati adalah plasma darah sama seperti
sebelum diwarnai oleh metilen blue hanya saja, bagian – bagian sel terlihat
lebih jelas dibanding sebelumnya.

Rendaman air jerami pada hasil pengamatan ini tidak terlihat protoza di dalam
air rendaman jerami setelah diamati menggunakan mikroskop, Sehingga
digunakan literatur.
BAB V

PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil percobaan yang dilakukan, dapat diketahui perbedaan antara


sel mati dan sel hidup. Dari pengamatan yang telah dilakukan bahwa perbedaan
yang signifikan antara sel hidup dan sel mati yaitu adanya inti sel pada sel hidup
sedangkan pada sel mati tidak terdapat inti sel. Selain itu, perbedaan yang
signifikan juga terdapat pada sel hewan dan sel tumbuhan dengan mengamati
sel yang ada pada tumbuhan dan hewan. Dimana diperoleh bahwa pada sel
hewan tidak terdapat membran sel seperti sel tumbuhan yang membuat sel pada
tumbuhan saling berdekatan dan teratur, tidak seperti sel hewan.

Setelah dilakukan pengamatan dari sampel darah manusia dan katak, diperoleh
bahwa pada darah manusia terdiri atas sel darah putih (leukosit), sel darah
merah (eritrosit), dan keping darah (trombosit). Pada sel darah merah tidak
terdapat inti sel. Beda halnya dengan sel darah katak yang hanya terdiri atas
satu sel darah yang memiliki inti sel pada bagian tengahnya.

Pada pengamatan air rendaman jerami setelah dilakukan pengamatan


menggunakan mikroskop, tidak terdapat protozoa dalam rendam air jerami
tersebut. Sehingga digunakan literatur. Pada percobaan menggunakan air
rendaman jerami membuktikan bahwa terdapat organisme yang hidup di
dalamnya dengan kingdom plante.

5.2. Saran

Sebaiknya, alat – alat laboratorium seperti mikroskop dapat diperbanyak


sehingga lebih mengefisienkan waktu dan lebih memudahkan praktikan dalam
memahami tujuan dilakukannya praktikum.
DAFTAR PUSTAKA

Campbell, Neil.A dan Jane B. Reece. (2008). Biologi Edisi Kedelapan Jilid I.
Jakarta : Erlangga.
Godman, Arthur. (2000). Kamus Sains Bergambar. Jakarta : Gramedia Pustaka
Utama.
Nugroho. (2004). Zoologi Dasar. Jakarta : Erlangga.
Poedjadi, Anna. (2004). Dasar – Dasar Biokimia. Jakarta : Universitas Indonesia
Press.
Rohmimotarto, Kasijan. (2007). Biologi Laut Ilmu Pengetahuan tentang Biota Laut.
Jakarta : Djambatan.
Tim Dosen Kimia Biokim. (2010). Penuntun Praktikum Biokimia. Makassar :
Jurusan Kimia.
Tim Dosen Pembina. 2017. Petunjuk Praktikum Biologi Umum. Jember: Doble
Helix Studio
Villee, Claude A. , Warren F. Walker, Jr. dan Robert D. Barnes. (1999). Zoologi
Umum. Jakarta : Erlangga.
Winarno, F. (2004). Kimia Pangan dan Gizi. Jakarta : Gramedia.
LEMBAR ASISTENSI

Nama : Annisa Gunawan

Stambuk : G 101 19 032

Kelompok : IV

Nama asisten : Elif Fitriana

NO. Hari / Tanggal Koreksi Paraf

1.

2.

3.

4.

5.

6.

7.

Anda mungkin juga menyukai