Anda di halaman 1dari 28

KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH

LAPORAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN


FRAKTUR HUMERUS DI RUANG ANGSOKA 1
RSUP SANGLAH DENPASAR

OLEH :

Ni Kadek Diah Widiastiti Kusumayanti

1902621006

PROGRAM STUDI SARJANA KEPERAWATAN DAN PROFESI NERS

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS UDAYANA

2019
A. Konsep Dasar
1. Definisi
Fraktur adalah patah tulang, biasanya disebabkan oleh trauma atau tenaga
fisik kekuatan dan sudut dari tenaga tersebut, kedaan tulang itu sendiri dan
jaringan lunak disekitar tulang akan menentukan apakah fraktur yang
terjadi itu lengkap atau tidak lengkap (Price, Wilson, 2003).
Fraktur adalah patah tulang yang biasanya disebabkan oleh trauma atau
tenaga fisik (Brunner & Suddarth, 2000).
Fraktur adalah terputusnya kontuinitast ulang dan ditentukan sesuai jenis
dan luasnya, fraktur terjadi jika tulang dikenai stress yang lebih besar dari
yang dapat diabsorbsinya (Smeltzer dan Bare,2002).
Dari beberapa pengertian diatas dapat disimpukan bahwa fraktur adalah
terputusnya kontinuitas tulang yang dapat disebabkan oleh trauma,
rudapaksa atau oleh penyebab patologis yang dapat digolongkan sesuai
dengan jenis dan kontinuitasnya.

2. Tulang Humerus
Humerus merupakan tulang panjang pada lengan atas, yang berhubungan
dengan skapula melalui fossa glenoid. Di bagian proksimal, humerus
memiliki beberapa bagian antara lain leher anatomis, leher surgical,
tuberkel mayor, tuberkel minor dan sulkus intertuberkular. Di bagian
distal, humerus memiliki beberapa bagian antara lain condyles, epicondyle
lateral, capitulum, trochlear, epicondyle medial dan fossa olecranon (di
sisi posterior). Tulang ulna akan berartikulasi dengan humerus di fossa
olecranon, membentuk sendi engsel. Pada tulang humerus ini juga
terdapat beberapa tonjolan, antara lain tonjolan untuk otot deltoid.
Secara anatomis tulang humerus terbagi menjadi tiga bagian yaitu :
a. Bagian atas humerus/ kaput (ujung atas)
Sepertiga dari ujung atas humerus terdiri atas sebuah kepala yang
membuat sendi dengan rongga glenoid dari skapla dan merupakan
bagian dari banguan sendi bahu. Di bawahnya terdapat bagian yang
lebih ramping disebut leher anatomik. Di sebelah luar ujung atas di
bawah leher anatomik terdapat sebuah benjolan yaitu tuberositas
mayor dan di sebelah depan terdapat sebuah benjolan lebih kecil yaitu
tuberositas minor. Di antara tuberositas terdapat celah bisipital (sulkus
intertuberkularis) yang membuat tendon dari otot bisep. Di bawah
tuberositas terdapat leher chirurgis yang mudah terjadi fraktur (Pearce,
2009).
b. Corpus humerus (badan humerus)
Sebelah atas berbentuk silinder tetetapi semakin ke bawah semakin
pipih. Di sebelah lateral batang, tepat di atas pertengahan disebut
tuberositas deltoideus (karena menerima insersi otot deltoid). Sebuah
celah benjolan oblik melintasi sebelah belakang, batang, dari sebelah
medial ke sebelah lateral dan memberi jalan kepada saraf radialis atau
saraf muskulo-spiralis sehingga disebut celah spiralis atau radialis
(Pearce, 2009).
c. Bagian bawah humerus/ ujung bawah.
Berbentuk lebar dan agak pipih di mana permukaan bawah sendi
dibentuk bersama tulang lengan bawah. Trokhlea yang terlatidak di sisi
sebelah dalam berbentuk gelendong-benang tempat persendian dengan
ulna dan di sebelah luar terdapat kapitulum yang bersendi dengan
radius. Pada kedua sisi persendian ujung bawah humerus terdapat
epikondil yaitu epikondil lateral dan medial. (Pearce, 2009).

3. Etiologi
Penyebab fraktur diantaranya:
a. Fraktur Fisiologis
Suatu kerusakan jaringan tulang yang diakibatkan dari kecelakaan,
tenaga fisik, olahraga, dan trauma dapat disebabkan oleh:
1) Cidera langsung berarti pukulan lansung terhadap tulang sehingga
tulang patah secara spontan.
2) Cidera tidak langsung berarti pukulan langsung berada jauh dari
lokasi benturan,misalnya jatuh dengan tangan terjulur
menyebabkan fraktur klavikula, atau orang tua yang terjatuh
mengenai bokong dan berakibat fraktur kolom femur.
b. Fraktur Patologis
Dalam hal ini kerusakan tulang terjadi akibat proses penyakit dimana
dengan trauma minor dapat mengakibatkan fraktur. Dapat terjadi pada
berbagai keadaan berikut:
1) Tumor tulang, terbagi menjadi jinak dan ganas
2) Infeksi seperti Osteomielitis
3) Scurvy (penyakit gusi berdarah)
4) Osteomalasia
5) Rakhitis
6) Osteoporosis ( Rasjad, 2007)
Umumya fraktur disebabkan oleh trauma dimana terdapat tekanan yang
berlebihan pada tulang. Fraktur cenderung terjadi pada laki-laki,
biasanya fraktur terjadi pada umur dibawah 45 tahun dan sering
berhubungan dengan olahraga, pekerjaan, atau luka yang disebabkan
oleh kecelakaan kendaraan bermotor. Sedangkan pada orang tua,
perempuan lebih sering mengalami fraktur dari pada laki-laki yang
berhubungan dengan meningkatnya insiden osteoporosis yang terkait
dengan perubahan hormon pada menopause.
Etiologi Fraktur Humeru
Fraktur humerus adalah hilangnya kontinuitas tulang, tulang rawan sendi,
tulang rawan epifisial baik yang bersifat total maupun parsial pada tulang
humerus (Rasjad, 2007). Fraktur humerus adalah fraktur pada tulang
humerus yang disebabkan oleh benturan atau trauma langsung maupun
tidak langsung (De Jong, 2010). Dari beberapa pengertian di atas dapat
disimpulkan bahwa fraktur humerus adalah terputusnya kontinuitas
jaringan tulang humerus yang disebabkan oleh benturan atau trauma
langsung maupun tidak langsung. Fraktur humerus dibagi menjadi dua
yaitu (Mansjoer, et al, 2000):
a. Fraktur suprakondilar humerus
Fraktur ini ini dibagi menjadi jenis ekstensi dan fleksi. Jenis ekstensi
yang terjadi karena trauma langsung pada humerus distal melalui
benturan pada siku dan lengan bawah pada posisi supinasi dan lengan
siku dalam posisi ekstensi dengan tangan terfiksasi. Jenis fleksi
biasanya terjadi akibat jatuh pada telapak tangan dengan tangan dan
lengan bawah dalam posisi pronasi dan siku dalam posisi sedikit fleksi.
b. Fraktur interkondiler humerus
Fraktur yang sering terjadi adalah fraktur kondiler lateralis dan fraktur
kondiler medialis humerus.
c. Fraktur batang humerus
Fraktur ini disebabkan oleh trauma langsung yang mengakibatkan
fraktur spiral (fraktur yang arah garis patahnya berbentuk spiral yang
disebabkan trauma rotasi).
d. Fraktur kolum humerus
Fraktur ini dapat terjadi pada kolum antomikum (terletak di bawah
kaput humeri) dan kolum sirurgikum (terletak di bawah tuberkulum).

4. Klasifikasi
a. Fraktur terbuka
Fraktur terbuka atau patah tulang terbuka adalah hilangnya kontinuitas
tulang disertai kerusakan jaringan lunak (otot, kulit, jaringan saraf, dan
pembuluh darah) yang dapat disebabkan oleh trauma langsung pada
area yang terkena.
b. Farktur tertutup
Fraktur tertutup atau patah tulang tertutup adalah hilangnya kontinitas
tulang tanpa disertai kerusakan jaringan kulit yang dapat disebabkan
oleh trauma langsung atau kodisi tertentu, seperti degenerasi tulang
(osteoporosis).
Fraktur Humerus
Fraktur humerus dibagi menjadi 2 berdasarkan mekanisme terjadinya
adalah: (Mansjoer, et al, 2000):
a. Tipe Ekstensi
Trauma terjadi ketika siku dalam posisi hiperekstensi, lengan bawah
dalam posisi supinasi. Tipe ekstensi ini sering terjadi pada fraktur
humerus suprakondiler. Fraktur terjadi akibat hyperextension injury
(outstreched hand), gaya diteruskan melalui elbow joint sehingga
terjadi fraktur proksimal terhadap elbow joint. Fragmen ujung
proksimal terdorong melalui periosteum sisi anterior di mana
m.brachialis terdapat, ke arah a.brachialis dan n.medianus. Fragmen ini
mungkin menembus kulit sehingga terjadi fraktur terbuka. Klasifikasi
fraktur suprakondiler humerus tipe ekstensi dibuat atas dasar derajat
displacement.
1. Tipe I undisplaced
2. Tipe II partially displaced
3. Tipe III completely displaced
b. Tipe Fleksi
Trauma terjadi ketika siku dalam posisi fleksi, sedang lengan dalam
posisi pronasi. Tipe ini jarang menyebabkan fraktur humerus
suprakondiler. Trauma terjadi akibat trauma langsung pada aspek
posterior elbow dengan posisi fleksi. Hal ini menyebabkan fragmen
proksimal menembus tendon triceps dan kulit. Klasifikasi fraktur
suprakondiler humerus tipe fleksi juga dibuat atas dasar: derajat
displacement.
1. Tipe I undisplaced
2. Tipe II partially displaced
3. Tipe III completely displaced

5. Patofisiologi
Tulang bersifat rapuh namun cukup mempunyai kekeuatan dan gaya pegas
untuk menahan tekanan. Tapi apabila tekanan eksternal yang datang lebih
besar dari yang dapat diserap tulang, maka terjadilah trauma pada tulang
yang mengakibatkan rusaknya atau terputusnya kontinuitas tulang. Ketika
patah tulang, terjadi kerusakan di korteks, pembuluh darah, sumsum tulang
dan jaringan lunak. Akibat dari hal tersebut terjadi perdarahan, kerusakan
tulang dan jaringan sekitarnya. Keadaan ini menimbulkan hematom pada
kanal medul antara tepi tulang bawah periostrium dengan jaringan tulang
yang mengatasi fraktur. Terjadinya respon inflamasi akibat sirkulasi
jaringan nekrotik ditandai dengan fase vasodilatasi dari plasma dan
leukosit, ketika terjadi kerusakan tulang, tubuh mulai melakukan proses
penyembuhan untuk memperbaiki cedera, tahap ini menunjukkan tahap
awal penyembuhan tulang.
Hematom yang terbentuk biasa menyebabkan peningkatan tekanan dalam
sumsum tulang yang kemudian merangsang pembebasan lemak dan
gumpalan lemak tersebut masuk kedalam pembuluh darah yang mensuplai
organ-organ yang lain. Hematom menyebabkan dilatasi kapiler di otot,
sehingga meningkatkan tekanan kapiler di otot, sehingga meningkatkan
tekanan kapiler, kemudian menstimulasi histamin pada otot yang iskemik
dan menyebabkan protein plasma hilang dan masuk ke interstitial. Hal ini
menyebabkan terjadinya edema. Edema yang terbentuk akan menekan
ujung syaraf, yang bila berlangsung lama bisa menyebabkan syndrom
comportement.
Tulang bergenerasi sama seperti jaringan tubuh yang lain. Fraktur
merangsang merangsang tubuh untuk menyembuhkan tulang yang patah
dengan jalan membentuk tulang baru diantara ujung patahan tulang-tulang
baru dibentuk oleh aktivitas sel-sel. Pada stadium poliferasi sel menjadi
fibrokartilago. Sel yang mengalami poliferasi terus masuk kedalam lapisan
yang lebih dalam dan bergenerasi sehingga terjadi osteogenesis. Sel-sel
yangberkembang memiliki potensi yang kardiogenik

6. Manisfestasi Klinis
Secara umum tanda dan gejala yang akan timbul pada fraktur adalah:
a. Nyeri hebat di tempat fraktur
b. Tak mampu menggerakkan ekstremitas
c. Diikuti tanda gejala fraktur secara umum, seperti : fungsi berubah,
bengkak, kripitasi, sepsis pada fraktur terbuka, deformitas.
Manisfestasi klinis fraktur adalah nyeri, hilangnya fungsi deformitas,
pemendekan ekstremitas, krepitus, pembekakan lokal, dan perubahan
warna.
a. Nyeri terus menerus dan bertambah beratnya sampai fragmen tulang
diimobilisasi. Spasme otot yang menyertai fraktur merupakan bentuk
bidai alamiah yang dirancang untuk meminimalkan gerakan antar
fragmen tulang.
b. Setelah terjadi fraktur, bagian-bagian tak dapat digunakan dan
cenderung bergerak secara tidak alamiah (gerakan luar biasa) bukannya
tetap rigid seperti nomalnya. Pergeseran fragmen pada fraktur lengan
atau tungkai menyebabkan deformitas (terlihat maupun teraba)
ekstremitas yang bisa diketahui dengan membandingkan dengan
ekstremitas normal. Ekstremitas tak dapat berfungsi dengan baik karena
fungsi normal otot bergantung pada integritas tulang tempat
melengketnya otot.
c. Pada fraktur panjang, terjadi pemendekan tulang yang sebenarnya
karena kontraksi otot yang melekat diatas dan bawah tempat fraktur.
Fragmen sering saling melingkapi satu sama lain 2,5 – 5 cm (1 – 2
inci).
d. Saat eksremitas diperiksa dengan tangan, teraba adanya derik tulang
dinamakan krepitus yang teraba akibat gesekan antara fragmen satu
dengan yang lainnya ( uji krepitus dapat mengakibatkan kerusakan
jaringan lunak yang lebih berat.
e. Pembengkakan dan perubahan warna lokal pada kulit terjadi sebagai
akibat trauma dan perdarahan yang mengikuti fraktur. Tanda ini bisa
baru terjadi setelah beberapa jam atau hari setelah cidera ( Brunner &
Suddarth, 2002 ).

7. Pemeriksaan Diagnostik
a. Pemeriksaan rontgen : menetukan lokasi, luasnya fraktur, trauma, dan
jenis fraktur.
b. Scan tulang, temogram, CT scan/MRI :memperlihatkan tingkat
keparahan fraktur, juga dan mengidentifikasi kerusakan jaringan lunak.
c. Arteriogram : dilakukan bila dicurigai adanya kerusakan vaskuler.
d. Hitung darah lengkap : Ht mungkin meningkat (hemokonsentrasi) atau
menurun (perdarahan bermakna pada sisi fraktur atau organ jauh pada
multipel trauma) peningkatan jumlah SDP adalah proses stres normal
setelah trauma.
e. Kretinin : trauma otot meningkatkan beban kreatinin untuk pasien
ginjal.
f. Profil koagulasi : perubahan dapat terjadi pada kehilangan darah,
tranfusi mulpel atau cidera hati.

8. Penatalaksanaan Medis
Penatalaksanaan fraktur mengacu kepada empat tujuan utama yaitu:
1. Mengurangi rasa nyeri,
Trauma pada jaringan disekitar fraktur menimbulkan rasa nyeri yang
hebat bahkan sampai menimbulkan syok. Untuk mengurangi nyeri dapat
diberi obat penghilang rasa nyeri, serta dengan teknik imobilisasi, yaitu
pemasangan bidai / spalk, maupun memasang gips.
2. Mempertahankan posisi yang ideal dari fraktur.
Fraktur harus segera diimobilisasi untuk memungkinkan pembentukan
hematoma fraktur dan meminimalkan kerusakan. Penyambungan kembali
tulang (reduksi) penting dilakukan agar terjadi pemulihan posisi yang
normal dan rentang gerak. Sebagian besar reduksi dapat dilakukan tanpa
intervensi bedah (reduksi tertutup/OREF), misalnya dengan pemasangan
gips, skin traksi maupun bandaging. Apabila diperlukan pembedahan
untuk fiksasi (reduksi terbuka/ORIF), pin atau sekrup dapat dipasang
untuk mempertahankan sambungan. (Elizabeth J. Corwin, 2009; 339)
3. Membuat tulang kembali menyatu
Imobilisasi jangka panjang setelah reduksi penting dilakukan agar terjadi
pembentukan kalus dan tulang baru. Imobilisasi jangka panjang biasanya
dilakukan dengan pemasangan gips atau penggunaan bidai.
4. Mengembalikan fungsi seperti semula
Imobilisasi dalam jangka waktu yang lama dapat menyebabkan atrofi
otot dan kekakuan pada sendi. Maka untuk mencegah hal tersebut
diperlukan upaya mobilisasi. (Anonim, 2008)

9. Komplikasi
1. Non-union, delayed-union dan mal-union tulang dapat terjadi, yang
menimbulkan deformitas atau hilangnya fungsi.
2. Sindrom kompartemen.
3. Ditandai dengan kerusakan atau destruksi saraf dan pembuluh darah yang
disebabkan oleh pembengkakan dan edema di daerah fraktur. Dengan
pembengkakan interstitial yang intens, tekanan pada pembuluh darah
yang menyuplai daerah tersebut dapat menyebabkan pembuluh darah
tersebut kolaps. Hal ini menyebabkan hipoksia jaringan dan dapat
menyebabkan kematian saraf yang mempersarafi area tersebut. Biasanya
timbul nyeri hebat. Individu mungkin tidak dapat menggerakkan jari
tangannya. Untuk memeriksa sindrom kompartemen, hal berikut harus
dievaluasi dengan sering pada tulang yang cedera atau digips: nyeri,
pucat, parestesia dan paralisis. Denyut nadi mungkin teraba atau mungkin
tidak.
4. Embolus lemak dapat timbul setelah patah tulang, terutama tulang
panjang, termasuk humerus. Embolus lemak dapat timbul akibat pajanan
sumsum tulang, atau dapat terjadi akibat sistem saraf simpatis yang
menimbulkan stimulasi mobilisasi asam lemak bebas setelah trauma.
Embolus lemak yang timbul setelah patah tulang panjangsering
tersangkut di sirkulasi paru dan dapat menimbulkan gawat napas dan
gagal napas. (Elizabeth J. Corwin, 2009; 338)
B. Konsep Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian
a. Identitas pasien
Meliputi tanggal pengkajian, ruangan, nama (inisial), No MR, umur,
pekerjaan, agama, jenis kelamin, alamat, tanggal masuk RS, alasan
masuk RS, cara masuk RS, penanggung jawab.
b. Riwayat kesehatan
1) Riwayat kesehatan dahulu
Tanyakan juga penyakit yang pernah dialami pasien sebelumnya,
riwayat penyakit pasien yang pernah dirawat dirumah sakit serta
pengobatan yang pernah didapatkan dan hasilnya. Dan ada tidaknya
riwayat DM pada masa lalu yang akan mempengaruhi proses
perawatan post operasi.
2) Riwayat kesehatan sekarang
Tanyakan pada pasien dan atau keluarga tentang keluhan pasien
saat ini, biasanya pasien mengalami nyeri pada daerah fraktur,
kondisi fisik yang lemah, tidak bisa melakukan banyak aktifitas,
mual, muntah, dan nafsu makan menurun.
3) Riwayat kesehatan keluarga
Tanyakan pada pasien dan atau keluarga mengenai penyakit yang
berhubungan dengan yang diderita pasien saat ini dan penyakit
herediter/keturunan lainnya (anggota keluarga dengan riwayat
penyakit yang sama).

c. Data pola kebiasaan sehari-hari


1) Nutrisi
a) Makanan
Catat pola kebiasaan makan saat sehat dan sakit. Catat diit yang
diberikan rumah sakit pada pasien dan jumlahnya. Tanyakan
konsumsi diit atau makanan sehari-hari lainnya pada waktu sakit
dan bandingkan pada waktu sehat, catat porsi makan yang
dihabiskan, keluhan saat makan serta kemandirian dalam
pelaksanannya.
b) Minuman
Tanyakan jumlah cairan yang diminum dan ragamnya,
bandingkan jumlahnya pada saat sakit dengan sehat. Catat
keluhan yang dirasakan pasien dan kemandirian dalam
melaksanakannya.
2) Eliminasi
a) Miksi
Tanyakan frekuensi buang air kecil dan perkiraan jumlahnya,
bandingkan pada keadaan sakit dengan sehat serta catat
karakteristik urine (warna, konsistensi dan bau serta temuan
lain) serta keluhan yang dirasakan selama BAK dan
kemandirian dalam melaksanakannya serta alat bantu yang
dipakai.
b) Defekasi
Tanyakan frekuensi buang air besar, bandingkan pada keadaan
sakit dengan sehat serta catat karakteristik feses(warna,
konsistensi dan bau serta temuan lainnya) serta keluhan yang
dirasakan selama BAB dan kemandirian dalam
melaksanakannya.
d. Pemeriksaan Fisik
1) Keadaan umum pasien
a) Tingkat kesadaran
b) Berat badan
c) Tinggi badan
2) Kepala
Amati bentuk kepala, adanya hematom/oedema, perlukaan (rinci
keadaan luka, luas luka, adanya jahitan, kondisi luka).
a) Rambut : Amati keadaan kulit kepala dan rambut
sertakebersihannya dan temuan lain saat melakukan inspeksi.
b) Wajah: Amati adanya oedema/hematom, perlukaan
disekitarwajah (rinci keadaan luka, luas luka, adanya jahitan,
kondisi luka) dan temuan lain saat melakukan inspeksi.
c) Mata : Amati kesimetrisan kedua mata, reflek cahaya,
diameterpupil, kondisi bola mata (sklera, kornea, atau lensa,
dll) keadaan kelopak mata dan konjungtiva serta temuan lainya.
d) Hidung : Amati keadaan hidung, adanya perlukaan,
keadaanseptum, adanya sekret pada lubang hidung, darah atau
obstruksi), adanya pernafasan cuping hidung dan temuan lain
saat melakukan inspeksi (rinci keadaan luka, luas luka, adanya
jahitan, kondisi luka).
e) Bibir : Amati adanya oedema, permukaan (rinci
keadaanluka, luas luka, adanya jahitan, kondisi luka), warna
bibir dan kondisi mukosa bibir serta temuan lain saat
melakukan inspeksi.
f) Gigi : Amati kelengkapan gigi, kondisi gigi dan
kebersihanserta temuan lain saat melakukan inspeksi.
g) Lidah : Amati letak lidah, warna, kondisi dan kebersihanlidah
serta temuan lain saat melakukan inspeksi.
3) Leher
Amati adanya pembesaran kelenjar thyroid, kelenjar getah bening
dileher serta deviasi trakea, adanya luka operasi, pemasangan drain
serta temuan lain saat melakukan inspeksi. Lakukan auskultasi
pada kelenjar thyroid jika ditemukan pembesaran. Ukur jugularis
vena pressure (JVP), tuliskan lengkap dengan satuannya.
4) Dada/thorak
a.) Inspeksi : Pengamatan terhadap lokasi pembengkakan, warna
kulit pucat, laserasi, kemerahan mungkin timbul pada area
terjadinya fraktur adanya spasme otot dan keadaan kulit.
b.) Palpasi : Pemeriksaan dengan cara perabaan, yaitu
penolakanotot oleh sentuhan kita adalah nyeri tekan, lepas dan
sampai batas mana daerah yang sakit biasanya terdapat nyeri
tekan pada area fraktur dan didaerah luka insisi.
c.) Perkusi : Perkusi biasanya jarang dilakukan pada kasusfraktur.
d.) Auskultasi : Periksaan dengan cara mendengarkan gerakanudara
melalui struktur merongga atau cairan yang mengakibatkan
struktur sulit bergerak. Pada pasian fraktur pemeriksaan ini pada
area yang sakit jarang dilakukan.
5) Jantung
a.) Inspeksi : Amati ictus cordis.
b.) Palpasi : Raba lokasi dirasakan ictus cordis dan
kekuatanangkanya.
c.) Perkusi : Tentukan batas-batas jantung.
d.) Auskultasi : Dengarkan irama denyutan jantung, keteraturandan
adanya bunyi tambahan.
6) Perut/abdomen
a.) Inspeks : Amati adanya pembesaran rongga abdomen,keadaan
kulit, luka bekas operasi pemasangan drain dan temuan lain saat
melakukan inspeksi.
b.) Auskultasi : Dengarkan bunyi bising usus dan
catatfrekuensinya dalam 1 menit.
c.) Palpasi : Raba ketegangan kulit perut, adanya
kemungkinanpembesaran hepar, adanya massa atau cairan.
d.) Perkusi : Dengarkan bunyi yang dihasikan dari
ketukandirongga abdomen bandingkan dengan bunyi normal.
7) Genitourinaria
Amati keadaan genetalia, kebersihan dan pemasangan kateter serta
temuan lain saat melakukan inspeksi.
8) Ekstremitas
Amati adanya bentuk, adanya luka (rinci keadaan luka), oedema,
dan pengisian kapiler, suhu bagian akral serta temuan lain saat
pemeriksaan.
9) Sistem integumen
Amati warna kulit, rasakan suhu kulit, keadaan turgor kulit, adanya
luka serta temuan lain saat pemeriksaan.
10) Sistem neurologi (diperiksa lebih rinci jika pasien mengalami
penyakit yang berhubungan dengan sistem neurologis)
a.) Glascow Come score
b.) Tingkat kesadaran
c.) Refleks fisiologis
d.) Reflek patologis
e.) Nervus cranial I – XII
e. Pola Fungsi Kesehatan
1) Pemeliharaan dan persepsi terhadap kesehatan
 Bagaimana pengetahuan mengenai status kesehatan klien saat ini?
 Apakah klien sering melakukan pemeriksaan kesehatan di
pelayanan kesehatan disekitar tempat tinggalnya? Berapa kali
dalam sebulan frekuensi kunjungan klien?
 Bagaimana cara klien dalam memelihara kesehatannya?
 Apa saja perilaku yang dilakukan oleh klien untuk mengatasi
masalah kesehatannya ?
2) Nutrisi/ metabolik
 Mengkaji kebiasaan makan dan minum klien serta menanyakan
apakah terjadi perubahan nafsu makan setelah klien mengalami
keadaan sakit
 Mengetahui jenis makanan yang dikonsumsi klien saat ini dan
dalam jumlah berapa.
 Mengkaji jumlah asupan nutrisi yang masuk ke dalam tubuh dari
oral maupun parenteral.
 Mengkaji ada tidaknya alergi terhadap jenis makanan tertentu pada
klien.
 Mengkaji berat badan pasien sebelum dan setelah MRS serta
menghitung IMT pasien untuk menentukan jenis nutrisi yang tepat
sesuai kondisi pasien.
 Mengkaji adanya perasaan mual ataupun muntah.
 Mengkaji kemampuan klien dalam memasukkan atau memenuhi
input nutrisi tubuh.
 Mengkaji adanya keluhan kesulitan mengunyah maupun menelan
makanan.
 Mengkaji proses penyakit yang menyebabkan terjadinya gangguan
metabolisme nutrisi pada pasien.
 Mengkaji adanya penurunan fungsi indra pengecap maupun
penciuman pasien.
 Mengkaji perubahan pada tanda-tanda vital klien, hasil
pemeriksaan laboratorium klien yang relevan yang dapat
menggambarkan terjadinya gangguan nutrisi pada pasien (albumin,
transferin, hemoglobin).
 Mengkaji pengaruh pengobatan tertentu yang tengah dijalani oleh
klien yang dapat mengganggu status cairan.
 Mengkaji adanya pengeluaran cairan tubuh yang abnormal dan
darimana asalnya serta tipe ketidak seimbangan yang biasanya
menyertai pengeluaran cairan itu.
 Mengkaji adanya pembatasan diet yang bisa memengaruhi
keseimbangan cairan.
 Mengkaji perubahan pada tanda-tanda vital klien, hasil
pemeriksaan laboratorium klien yang relevan yang dapat
menggambarkan terjadinya gangguan keseimbangan cairan dan
elektrolit.
 Mengkaji status hidrasi klien dengan melakukan pemeriksaan fisik.
3) Pola eliminasi
Eliminasi BAK
 Mengkaji kebiasaan pola BAK klien sehari-harinya serta
menanyakan apakah terjadi perubahan selama klien sakit.
 Menanyakan kepada klien ada atau tidaknya merasakan nyeri atau
kesulitan saat melakukan BAK.
 Menanyakan kebiasaan pola BAK klien (frekuensi, jumlah, bau,
kemampuan mengontrol).
 Mengkaji input dan output cairan pada pasien apakah seimbang.
Eliminasi BAB
 Mengkaji kebiasaan pola BAB klien sehari-harinya serta
menanyakan apakah terjadi perubahan selama klien sakit.
 Menanyakan kepada klien ada atau tidaknya merasakan nyeri atau
kesulitan saat melakukan BAB.
 Menanyakan kebiasaan pola BAB klien (konsistensi, frekuensi,
jumlah, bau, kemampuan mengontrol).
 Mengkaji asupan nutrisi yang telah dikonsumsi oleh klien.
4) Pola aktivitas dan latihan (ADL dan latihan)
Kemampuan perawatan diri 0 1 2 3 4
Makan/minum
Mandi
Toileting
Berpakaian
Mobilisasi di tempat tidur
Berpindah
Ambulasi ROM
0: mandiri, 1: alat bantu, 2: dibantu orang lain, 3: dibantu orang lain
dan alat, 4: tergantung total.
5) Pola tidur dan istirahat
 Mengkaji kebiasaan tidur sehari-hari klien.
 Mengkaji preferensi klien dalam membantu memudahkan tidur,
klien haru menggunakan musik, atau bantuan lainnya.
 Mengkaji apakah klien mengalami gangguan sewaktu tidur.
 Mengkaji terjadinya perubahan pola tidur selama sakit ataupun
selama menjalani proses perawatan kesehatan.
6) Pola kognitif-perseptual
 Bagaimana nyeri yang dirasakan klien PQRST (presipitasi, kualitas
nyeri, nyeri menetap di satu bagian tubuh klien atau menjalan,
skala nyeri serta waktu munculnya nyeri maupun waktu
berkurangnya nyeri serta durasi nyeri)?
 Bagaimana klien mengontrol dan mengatasi nyeri yang
dirasakannya?
 bagaimana gambaran tentang panca indra klien? apakah mengalami
gangguan?
7) Pola persepsi diri/konsep diri
 Bagaimana keadaan sosial klien ?
 Bagaimana pandangan klien terhadap dirinya sendiri ?
8) Pola seksual dan reproduksi
 Berapa jumlah anak klien?
 Bagaimana pengetahuan klien terkait dengan seksualitas dan
reproduksi ?
 Apakah klien masih menstruasi atau sudah menopause? Apakah
terjadi gangguan atau masalah ketika klien mengalami menstruasi,
teratur atau tidak dan lama menstruasi biasanya berapa hari?
9) Pola peran-hubungan
 Apakah klien bekerja sebelum sakit ?
 Bagaimana peran klien di kehidupan sehari-harinya ? apakah klien
mengalami perubahan peran selama sakit ?
 Apakah klien puas menjalani perannya dalam kehidupan sehari-
hari maupun selama sakit ?
 Bagaimana hubungan klien dengan lingkungan sekitarnya ? apakah
klien aktif mengikuti kegiatan di lingkungan rumahnya sebelum
sakit dan bagaimana setelah klien mengalami penurunan
kesehatan?
 Bagaimana struktur, hubungan dan dukungan keluarga untuk klien
selama sehat maupun selama menjalani perawatan kesehatan ?
 Bagaimana peran klien di kehidupan sehari-harinya ? apakah klien
mengalami perubahan peran selama sakit ?
10) Pola manajemen koping stress
 Apakah klien sering merasakan stres akhir-akhir ini ?
 Bagaimana cara klien dalam mengatasi stress yang dirasakannya ?
 Strategi koping apa yang biasanya diterapkan oleh klien apabila
sedang mengalami stres?
11) Pola keyakinan-nilai
 Apa tujuan kehidupan bagi klien ?
 Seberapa penting spiritual atau agama dalam kehidupan klien ?
 Bagaimana dampak masalah kesehatan yang dialami oleh klien
terhadap tingkat spiritualitas klien ?
 Apa saja keyakinan atau mitos yang dipercayai oleh klien terkait
dengan kesehatan ?

Pengkajian

1) DS : -
DO : terdapat luka terbuka pada tubuh pasien akibat fraktur
DX Keperawatan : Kerusakan integritas kulit
2) DS : -
DO : terdapat luka terbuka pada pasien, suhu pasien meningkat
DX Keperawatan : Risiko infeksi
3) DS : pasien mengeluh nyeri pada daerah fraktur
DO : pasien tampak meringis dan berkeringat
DX Keperawatan : Nyeri akut
4) DS : -
DO : terjadi perdarahan yang tidak terkontrol pada daerah fraktur
DX Keperawatan : Risiko Syok
5) DS : pasien mengatakan sangat nyeri pada bagian fraktur sehingga tidak dapat
digerakkan
DO : tampak adanya fraktur
DX Keperawatan : Hambatan mobilitas fisik
6) DS : pasien mengatakan operasi ini adalah operasi pertamanya
DO : pasien tampak berkeringat dan cemas
DX : Ansietas
7) DS : -
DO : dilakukan tindakan invasive yang dapat menyebabkan perdarahan
DX keperawatan : Risiko perdarahan
2. Diagnosa Keperawatan

1) Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan faktor mekanis (seperti


imobilitas fisik) yang ditandai dengan perubahan pada integritas kulit.

2) Risiko infeksi berhubungan dengan prosedur invasive dan perubahan


integritas kulit.

3) Risiko syok berhubungan dengan hipovolemi dan infeksi

4) Nyeri akut berhubungan dengan agen luka fisik (seperti prosedur operasi)
yang ditandai dengan diaphoresis, ekspresi wajah akibat kesakitan (seperti
meringis)

5) Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan perubahan bentuk pada


integritas tulang, perburukan musculoskeletal, dan nyeri yang ditandai dengan
berkurangnya rentang gerak, rasa tidak nyaman, dan Gerakan melambat

6) Ansietas berhubungan dengan ketakutan dengan keadaan sekarang yang


ditandai dengan takut, perubahan pada pola napas

7) Risiko perdarahan berhubungan dengan trauma dan regimen pengobatan


3. Rencana Keperawatan
No Diagnosa Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi Keperawatan Rasional

1 Nyeri akut Setelah dilakukan tindakan NIC: Paint management NIC: Paint management
berhubungan keperawatan selama …x24 jam 1. Kaji nyeri secara komprehensif 1. Mengetahui kondisi umum pasien
dengan diharapkan nyeri dapat berkurang (lokasi, karakteristik, durasi, dan pertimbangan tindakan
fraktur NOC: Pain level frekuensi, kualitas, dan faktor selanjutnya
tulang, 1. Melaporkan bahwa nyeri presipitasi)
spasme otot, berkurang dengan 2. Beri penjelasan mengenai penyebab 2. Pasien memahami keadaan
edema, menggunakan manajemen nyeri sakitnya
kerusakan nyeri 3. Observasi reaksi nonverbal dari 3. Respon nonverbal terkadang lebih
jaringan 2. Mampu mengenali nyeri ketidaknyamanan menggambarkan apa yang pasien
lunak (skala, intensitas, frekuensi, rasakan
dan tanda nyeri) 4. Segera immobilisasi daerah fraktur 4. Mempertahankan posisi fungsional
3. Menyatakan rasa nyaman tulang
setelah nyeri berkurang 5. Tinggikan dan dukung ekstremitas 5. Memperlancar arus balik vena
yang terkena
NOC: Pain Control
6. Ajarkan pasien tentang alternative 6. Mengatasi nyeri misalnya kompres
1. Mampu mengontrol nyeri
lain untuk mengatasi dan mengurangi hangat, mengatur posisi untuk
(tahu penyebab nyeri,
mampu menggunakan tehnik rasa nyeri mencegah kesalahan posisi pada
nonfarmakologi untuk tulang/jaringan yang cedera
mengurangi nyeri, mencari 7. Ajarkan teknik manajemen stress 7. Memfokuskan kembali perhatian,
bantuan) misalnya relaksasi nafas dalam meningkatkan rasa kontrol dan
meningkatkan kemampuan koping
dalam manajemen nyeri yang
mungkin menetap untuk periode
lebih lama
8. Kolaborasi dengan tim kesehatan lain 8. Mengontrol atau mengurangi nyeri
dalam pemberian obat analgeik pasien
sesuai indikasi
2 Kerusakan Setelah dilakukan tindakan NIC: Environment management NIC: Environment management
intergritas keperawatan selama …x24 jam 1. Kaji kulit untuk luka terbuka 1. Memberikan informasi mengenai
kulit/jaringan diharapkan cidera/injuri tidak terhadap benda asing, kemerahan, keadaan kulit pasien saat ini
berhubungan terjadi perdarahan, perubahan warna
dengan NOC: Risk control 2. Massage kulit, pertahankan tempat 2. Menurunkan tekanan pada area
immobilisasi, 1. Pasien terbebas dari cidera tidur kering dan bebas kerutan yang peka dan beresiko rusak
penurunan 2. Pasien mampu menjelaskan 3. Ubah posisi dengan sering 3. Mencegah terjadinya dekubitus
sirkulasi, cara/metode untuk mencegah 4. Bersihkan kulit dengan air hangat 4. Mengurang kontaminasi dengan
fraktur injuri/cedera agen luar
terbuka 3. Pasien mampu menjelaskan 5. Lakukan perawatan luka secara steril 5. Mengurangi resiko gangguan
faktor resiko dari integritas kulit
lingkungan/perilaku personal
4. Mampu memodifikasi gaya
hidup untuk mencegah injury
5. Menggunakan fasilitas
kesehatan yang ada
6. Mampu mengenali
perubahan status kesehatan
3 Hambatan Setelah dilakukan tindakan NIC: Exercise Therapy : Ambulation NIC: Exercise Therapy :
mobilitas keperawatan selama …x24 jam Ambulation
fisik diharapkan pasien mampu 1. Sediakan tempat tidur dengan 1. Menurunkan risiko terjadinya
berhubungan melakukan mobilitas fisik ketinggian yang rendah. jatuh pada pasien.
dengan NOC: Adaptation to Physical 2. Bantu pasien untuk mobilisasi di 2. Memudahkan posisi pasien untuk
nyeri/ketidak Disability tempat tidur guna memfasilitasi berpindah tempat dan mencegah
nyamanan, 1. Dapat beradaptasi terhadap penyesuaian sikap tubuh. terjadinya luka dekubitus.
gangguan keterbatasan fungsi tubuh, 3. Kaji derajat immobilisasi yang 3. Menentukan tindakan
fungsi yaitu salah satunya bagian dihasilkan oleh cidera keperawatan yang tepat
musculoskele ekstremitas. 4. Dorong partisipasi pada aktivitas 4. Menlatih kekuatan otot pasien
tal, 2. Mampu menerima bantuan terapeutik
immobilisasi fisik dari orang lain dalam 5. Bantu pasien dalam rentang gerak 5. Melatih rentang gerak aktif atau
ambulasi, perawatan diri, dll. aktif atau pasif pasif pasien secara bertahap
NOC: Joint movement: active 6. Ubah posisi secara periodik 6. Mencegah terjadinya dekubitus
1. Mengerti tujuan dari 7. Konsultasikan pada ahli terapi fisik 7. Berkolaborasi guna mempercepat
peningkatan mobilitas mengenai rencana ambulasi, sesuai proses penyembuhan pasien.
2. Memverbalisasikan perasaan dengan kebutuhan pasien.
dalam meningkatkan kekuatan
dan kemampuan berpindah
3. Memperagakan penggunaan
alat bantu untuk mobilisasi
(walker)
4 Ansietas Setelah dilakukan tindakan NIC: Anxiety reduction NIC: Anxiety reduction
berhubungan keperawatan selama …x24 jam 1. Kaji tingkat kecemasan pasien 1. Mengetahui tingkat kecemasan
dengan status diharapkan cemas berkurang (ringan, sedang, berat, panik) pasien
kesehatan, NOC: Anxiety level 2. Dampingi pasien
prosedur 1. Pasien mampu 2. Agar pasien merasa aman dan
tindakan mengidentifikasi dan 3. Beri support sistem dan motivasi nyaman
pembedahan mengungkapkan gejala pasien 3. Meningkatkan pola koping yang
dan hasil cemas 4. Beri dorongan spiritual efektif
akhir 2. Mengidentifikasi, 4. Agar pasien dapat menerima
pembedahan mengungkapkan dan kondisinya saat ini
menunjukkan tehnik untuk 5. Jelaskan jenis prosedur dan tindakan 5. Memberikan informasi sehingga
mengontrol cemas pengobatan dapat menurunkan ansietas
3. Vital sign dalam batas
normal
4. Postur tubuh, ekspresi wajah,
bahasa tubuh dan tingkat
aktivitas menunjukkan
berkurangnya kecemasan
5 Resiko Setelah dilakukan tindakan NIC: Infection control NIC: Infection control
infeksi keperawatan …x24 jam infeksi 1. Inspeksi kulit adanya iritasi atau 1. Mengkaji adanya iritasi atau
berhubungan dapat dihindari robekan kontinuitas robekan kontinuitas
dengan tidak NOC: Immune status 2. Kaji kulit yang terbuka terhadap 2. Mengetahui ada/tidaknya tanda-
adekuatnya 1. Pasien terbebas dari tanda dan peningkatan nyeri, rasa terbakar, tanda infeksi
pertahanan gejala infeksi edema, eritema, drainase/bau tidak
primer, NOC: Risk control sedap
kerusakan 1. Mendeskripsikan proses 3. Berikan perawatan kulit dengan steril 3. Mengurangi resiko infeksi
kulit, trauma penularan penyakit, faktor dan aseptik
jaringan yang mempengaruhi 4. Tutup dan ganti balutan dengan 4. Mengurangi resiko penyebaran
penularan serta prinsip steril infeksi
penatalaksanaannya 5. Kolaborasi dengan tim kesehatan 5. Mencegah terjadinya infeksi
2. Jumlah leukosit dalam batas lain terkait pemberian obat antibiotik
normal sesuai indikasi
NOC: Knowledge: Infection
control
1. Menunjukkan perilaku hisup
sehat
DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2008. Fraktur (patah tulang). (online: http://nursingbegin.com/fraktur-


patah-tulang/, akses tanggal 9 januari 2012)
Brunner & Suddarth. (2002). Buku ajar keperawatan medikal bedah, Edisi 8.,
Jakarta: EGC.
Elizabeth J. Corwin. (2009). Buku Saku Patofisiologi Corwin. Jakarta: Aditya
Media.
Price, Sylvia Anderson dan Wilson, Lorraine M. C, 2006, Patofisiologi: Konsep
Klinis Proses-Proses Penyakit, Edisi 6, Vol 2, Alih bahasa, Brahm U.
Pendit, Penerbit Buku Kedokteran, EGC, Jakarta.
Rasjad Chairuddin, 2007, Pengantar Ilmu Bedah Ortopedi edisi ketiga, Jakarta:
PT.Yarsif Watampone (Anggota IKAPI).
Smeltzer C. Suzanne, Brunner & Suddarth. 2002. Buku Ajar Keperawatan
Medikal Bedah. EGC : Jakarta