Anda di halaman 1dari 1

Serunya Siswa SD Plus Gembala Baik Belajar Memasak,

Salurkan Hobi dan Latih Motorik

Bagi sebagian orang, mendengar kata “cooking” atau memasak sudah terbayang betapa repotnya persiapan dan
pengolahan bahan-bahan makanan hingga tersaji. Terlebih lagi kegiatan memasak dilakukan oleh anak-anak, semakin
terbayang akan lebih repot dan berantakan pada hasil akhirnya. Anggapan tersebut tidak sepenuhnya salah. Memang akan
lebih berantakan, namun bila dilihat dari manfaatnya, banyak yang akan didapat dari kegiatan masak-memasak tersebut.
Akhir-akhir ini pun ada pula televisi swasta yang menayangkan kompetisi memasak untuk anak-anak.
Tidak perlu melarang anak-anak bermain dengan peralatan dapur. Di SD Plus Gembala Baik Pontianak, siswa kelas
IV (empat) diajari memasak. Layaknya orang dewasa, mereka juga menggunakan kompor dan minyak. Namun, tentu saja
tetap diawasi guru.
AROMA nikmat masakan tercium dari salah satu ruangan di sekolah. Dari baunya, bisa diketahui bahwa itu berasal
dari bahan makanan yang digoreng. Pagi itu (Rabu, 29 Januari 2019) sedang ada kegiatan cooking class di ruang aula lantai
4 sekolah tersebut.
Di samping penggorengan, ada chef cilik yang memakai celemek biru. Tangannya lihai membolak-balik makanan
dengan happy call. Hawa panas dari kompor dan minyak sama sekali tak membuatnya takut. Dengan santai, dia memanggang
ayam untuk dijadikan steeak.’’Aku memang suka masak,’’ ujar Vincent siswa kelas 4B.
Banyak pilihan menu yang dapat dimasak oleh anak-anak. Seperti menu pecel yang ditampilkan oleh kelompok 3
dengan leadearnya Nicole. Menurut anak-anak di kelompok 4, dengan menampilkan menu pecel semakin menambah
wawasan akan menu nusantara sekaligus melestarikannya.
Kegiatan masak memasak yang dilakukan bersama-sama kelompok akan melatih anak untuk bisa kreatif, saling
berbagi, dan kerja sama. Proses dari persiapan hingga makanan terhidang dapat melatih anak dalam berbagai hal. Semisal
saat mempersiapan bahan memasak, anak-anak mempersiapkannya dengan teliti dan penuh tanggung jawab karena jika tidak
masakan akan gagal. Proses pencampuran bahan pun dapat melatih ketelitian mereka dalam membaca resep. Mereka juga
bisa dilatih untuk bersabar saat menunggu makanan dimasak hingga matang.
Sekitar sejam, proses memasak pun rampung. Anak-anak lantas mengerjakan tahap selanjutnya. Yakni, menghias
makanan di piring masing-masing. Mereka bebas berkreasi sesuai dengan petunjuk menu sehat. Ada karbohidrat, protein,
dan vitamin dalam satu porsi.
Mr. Yanes dan beberapa guru yang sejak awal mengawasi kegiatan para siswa
ikut membantu. Selain itu guru juga membimbing anak-anak menyiapkan cetakan
berbagai bentuk untuk menghias nasi. Ada yang berbentuk bunga, hati dan bulat.
Setelah di siapkan untuk dihias, makanan yag masih dimakan oleh teman-teman dalam
satu kelompok. ’’Hayo, dibagi dengan temannya, ya,’’ ujarnya mengingatkan agar
siswa tidak mengambil porsi lebih dan bisa membagi dengan temannya.

Dengan belajar memasak anak-anak dapat mengenal berbagai bahan makanan.


Terlebih apabila mereka tahu bagaimana proses memasaknya, mereka akan bisa lebih
menghargai makanan dan tidak menutup kemungkinan akan lebih menyukai variasi
makanan-makanan yang tidak mereka sukai sebelumnya.

(Hasil masakan siswa kelas 4)