Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN PRAKTIKUM TEKNOLOGI SEDIAAN III

STUDI PREFORMULASI

DISUSUN OLEH:

KELOMPOK 2

NAMA ANGGOTA:

Rizky Ginanjar 11161020000065

Muzaik Zuhuuriyah Kamas 11171020000037

Dea Yulia Fitris 11171020000041

Nisa Faikhotus Sarifa 11171020000046

Tifany Putri Sahara 11171020000049

PROGRAM STUDI FARMASI

FAKULTAS ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

OKTOBER / 2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur kita ucapkan kepada Allah SWT atas rahmat dan karunia-Nya,
sehingga kami dapat menyelesaikan laporan praktikum “Studi Preformulasi” ini
dengan baik.

Kami menyadari laporan praktikum ini jauh dari kata sempurna. Oleh
karena itu kami mengharapkan kritik dan saran untuk memperbaiki kesalahan-
kesalahan yang ada.

Kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah


membantu dalam proses pembuatan laporan praktikum ini, sehingga dapat
terselesaikan tepat pada waktunya. Kami juga mengucapkan terima kasih kepada
tim dosen pengajar matakuliah Praktikum Teknologi Sediaan Farmasi 3 yang telah
memberikan arahan dan bimbingannya.

Ciputat, 6 Oktober 2019

Penyusun

ii
DAFTAR ISI

COVER .................................................................................................. i

KATA PENGANTAR ........................................................................... ii

DAFTAR ISI .......................................................................................... iii

A. Tujuan Praktikum ............................................................................ 1


B. Studi Preformulasi ........................................................................... 2
C. Alat dan Bahan ................................................................................. 4
D. Prosedur Kerja ................................................................................. 5
E. Hasil ................................................................................................... 6
F. Pembahasan ...................................................................................... 7
G. Kesimpulan ....................................................................................... 12
H. Saran .................................................................................................. 12

DAFTAR PUSTAKA ............................................................................ 13

LAMPIRAN ........................................................................................... 14

iii
A. Tujuan
1. Mahasiswa dapat melakukan studi praformulasi berupa penelusuran
literatur zat aktif dalam desain sediaan padat oral.
2. Mahasiswa dapat melakukan studi praformulasi berupa pemeriksaan
sifat fisik zat aktif (sifat alir, ukuran partikel, distribusi ukuran partikel,
bentuk kristal) dalam desain sediaan padat oral.
B. Studi Preformulasi
Preformulasi meliputi pengkajian tentang karakteristik atau sifat-sifat
dari bahan obat dan bahan tambahan obat yang akan diformulasikan.
Preformulasi dapat juga dikatakan sebagai tahap awal dalam rangkaian proses
pembuatan sediaan farmasi yang berpusat pada sifat-sifat fisika kimia zat aktif
dimana dapat mempengaruhi penampilan obat dan perkembangan suatu bentuk
sediaan farmasi (Murtini, 2018).
Tujuan preformulasi untuk menghasilkan informasi yang berguna bagi
formulator dalam mengembangkan bentuk sediaan yang stabil dan
ketersediaan hayati yang dapat di produksi dalam skala besar. Studi
preformulasi awal mempelajari sifat fisik dan kimia senyawa dengan sasaran
pemilihan formulasi sediaan dalam komposisi yang optimal (Murtini, 2018).
Studi preformulasi yang berkaitan dengan pembuatan sediaan tablet
yaitu:
a. Organoleptis
Dalam istilah organoleptis ini menekankan bahwa preformulasi
harus dimulai dengan pemerian zat aktif, warna, bau, dan rasa zat aktif
harus dicatat dengan menggunakan terminologi deskriptif (Murtini, 2018).
b. Analisis fisikokimia
Analisis fisikokimia merupakan bagian penting dalam preformulasi
karena analisis fisikokimia ini dilakukan untuk identitas dan kadar zat
aktif. Untuk penetapan kualitatif digunakan kromatografi lapis tipis,
spektrum serapan inframerah, reaksi warna, spektrum serapan ultraviolet,
dan reaksi lainnya. Penetapan kadar dilakukan dengan metode
spektrofotometri, kromatografi gas, kromatografi cair kinerja tinggi, titrasi
kompleksometri, asam basa, argentometri, dan iodometri (Murtini, 2018).

1
c. Sifat-sifat fisikomekanik
Sifat-sifat fisikomekanik ini mencakup ukuran partikel, luas
permukaan, pembahasan higroskopisitas, aliran serbuk, karakteristik
pengempaan, dan bobot jenis.
1) Ukuran partikel
Berbagai sifat kimia dan fisik zat aktif dipengaruhi oleh
distribusi ukuran dan bentuk partikel. Zat aktif yang sangat halus sulit
ditangani, tetapi banyak kesulitan dapat diatasi dengan membuat
dispersi padat zat aktif dengan suatu pembawa, seperti polimer larut
air. Ukuran partikel mempengaruhi faktor dalam stabilitas, bahan
halus agak lebih terbuka pada pajanan oksigen atmosfer, panas,
cahaya, kelembapan, dan interaksi eksipien daripada bahan kasar.
Tidak hanya ukuran, tetapi bentuk juga mempengaruhi aliran dan
efisiensi pencampuran serbuk dan granul (Murtini, 2018).
2) Teknik menetapkan ukuran partikel
Metode yang digunakan untuk memantau ukuran partikel,
antara lain metode mikroskopik, pengayakan, penetapan volume
partikel. Pengukuran volume partikel menggunakan alat yang disebut
coulter counter, memungkinkan menghitung suatu diameter setara
dengan volume. Untuk analisis kuantitatif, distribusi ukuran partikel
bahan yang berkisar lebih dari 50μm dapat menggunakan metode
pengayakan, walaupun bentuknya mempunyai pengaruh kuat pada
hasil (Murtini, 2018).
3) Bentuk dan luas permukaan partikel
Bentuk dan luas permukaan partikel diperlukan karena bentuk
memengaruhi aliran dan sifat permukaan suatu serbuk dan
mempunyai pengaruh pada luas permukaan (Murtini, 2018).
4) Sifat aliran serbuk
Sifat aliran serbuk sangat penting untuk pembuatan tablet yang
efisien. Sifat aliran serbuk yang baik merepukan hal penting untuk
pengisian yang seragam dan untuk memudahkan gerakan bahan
disekitar fasilitas produksi. Sifat aliran dipengaruhi oleh aliran,

2
ukuran partikel, bobot jenis, muatan elektrostatik dan kelembapan
(Murtini, 2018).

5) Karakteristik pengempaan/ kompaktibilitas/ ketermampatan


Ketermampatan adalah kemampuan mengurangi volume di
bawah tekanan. Manfaat dari uji kemampatan adalah memberi
petunjuk tentang sifat serbuk yang elastis, plastis atau rapuh.
Kompaktibilitas adalah kemampuan bahan serbuk yang dikempa
menjadi suatu tablet dengan kekuatan regang tertentu (Murtini, 2018).
6) Sifat terbasahi
Sifat terbasahi dapat memengaruhi granulasi solid, perembesan
cairan disolusi ke dalam tablet dan granul, dan adhesi bahan solut pada
tablet. Sifat terbasahi diuraikan dengan sudut kontak dengan
menempatkan setetes cairan pada bahan yang dipadatkan. Semakin
hidrofobik suatu bahan, semakin tinggi sudut kontak (Murtini, 2018).
7) Higroskopisitas
Jumlah lembap yang diadsorpsi oleh suatu bobot tetap sampel
anhidrat berada dalam keseimbangan dengan lembap dari udara pada
suhu tertentu disebut “kandungan keseimbangan lembap”. Zat-zat
higroskopis harus disimpan dalam suatu wadah tertutup rapat, yang
lebih baik dilengkapi dengan suatu zat pengering (Murtini, 2018).
d. Polimorfisme
Faktor penting pada formulasi yaitu bentuk kristal atau amorf dari
bahan obat. Bentuk polimorfik biasanya menunjukkan perbedaan sifat
fisikokimia, seperti titik lebir dan kelarutan. Bentuk polimorfik cukup
banyak dijumpai pada obat. Diperkirakan sekurangnya satu pertiga dari
seluruh senyawa organik menunjukkan polimorfisme (Allen, 2013).
Selain bentuk polimorfisme, senyawa dapat berbentuk non-kristal
atau amorf. Energi yang dibutuhkan suatu molekul obat untuk lepas dari
kristal jauh lebih besar daripada energi yang dibutuhkan untuk lepas dari

3
serbuk amorf. Dengan demikian bentuk amorf senyawa selalu lebih mudah
larut daripada bentuk kristalnya (Allen, 2013).
Evaluasi struktur kristal, polimorfisme, dan bentuk solvat
merupakan suatu aktivitas praformulasi yang penting. Perubahan
karakteristik kristal dapat mempengaruhi ketersediaan hayati serta
stabilitas fisika dan kimia dan dapat berperan penting dalam fungsi proses
bentuk sediaan (Allen, 2013).
e. Sifat Kristal
Polimorfisa adalah sifat zat aktif yang terdiri atas satu bentuk kristal
dengan pengaturan ruang kisi-kisi yang berbeda. Polimorf adalah bentuk
kristal yang berbeda. Pseudopolimorf adalah suatu kristal solid yang sering
menjerat molekul pelarut dalam suatu posisi kisi-kisi tertentu dan dalam
stokiometri (Murtini, 2018).
Banyak solid dapat dibuat dalam suatu bentuk polimorfisa tertentu
melalui perlakuan kondisi kristalisasi yang tepat. Ada 2 (dua) tipe
polimorfisa, yaitu tipe monotorik dan tipe polimorf enantiotropik.
1) Monotropik adalah polimorfisa yang hanya satu bentuk zat aktif yang
stabil (terlepas dari suhu dan tekanan) dan bentuk menstabil akan
kembali ke bentuk stabil seiring dengan waktu.
2) Polimorf enantiotropik adalah perubahan dari suatu bentuk ke bentuk
lain yang bersifat reversible (Murtini, 2018).
C. Alat dan Bahan
Alat
- Corong
- Jolting Volumeter
- Heating Drying Oven
- Gelas ukur
Bahan
- Isoniazid
- Theofilin
- Paracetamol
- CTM

4
D. Prosedur Kerja
1. Kadar Air
Alat : Heating Drying Oven
Cara :
- Menimbang masing masing zat 100g dan mencatat.
- Memanaskan dalam lemari pengering sampai bobot konstan (105oC)
selama 2jam

Persyaratan kadar air : 2-4%

2. Uji sifat alir

Alat : Corong alat uji waktu alir

Cara :

- Menimbang seksama 10 gram masing masing zat


- Menempatkan pada corong alat
- Menguji waktu alir dalam keadaan tertutup
- Membuka tutup nya dan membiarkan serbukmengalir
- Mencatat waktu (gunakan stopwatch)
- Melakukan sebanyak 3 kali
- Kemudian untuk mengukur sudut istirahat dengan menghitung jari jari
dan tinggi dari tumpukan serbuk setelah metode corong

3. Uji Kompresibilitas

Alat : Jolting Volumeter

Cara :

- Menimbang 100 gram serbuk ke da;am gelas ukur dan mencatat


volumenya (V0)
- Kemudia memampatkan serbuk sebanyak 300 kali ketukan dengan alat
uji
- Mencatat volume setelah dimampatkan dengan pengetukan (300 kali)
(V1)
-

5
E. Hasil Percobaan
4.1.Pemerian
Bahan Hasil Pengamatan
CTM Kristal, warna putih, tidak berbau
INH Kristal jarum, putih kekuningan
Teofilin Serbuk, putih kekuningan
PCT Bubuk kristal putih

4.2.Ukuran Partikel
Ukuran Partikel
Bahan
1 2 3 4
CTM √
INH √
Teofilin √
PCT √
Keterangan:
1 – 4: kecil – besar

4.3.Sifat Alir
Bahan Wakt Tinggi/ Diamete r= Tan α = α Sifat alir
u (s) h (cm) r (cm) ½d h/r
(cm)
CTM 02.67 1,5 8,5 4,25 0,35294 19,4
4
Sangat
CTM 02.53 1,5 8,45 4,22 0,35502 19,5
mudah
5 5
mengali
CTM 01.80 1,8 8,3 4,15 0,43373 23,4
r
1
x CTM - - - - - 20,1
INH - 2,4 10,75 5,37 0,44651 24,0
5 6
INH - 2,4 10,8 5,4 0,4444 23,9 Sangat
6 mudah
INH - 2,3 10,7 5,35 0,42990 23,2 mengali
6 6 r
x INH - - - - - 23,7
6
Teofilin - 4,4 10 5 0,88 41,3
5
Teofilin - 4,2 10 5 0,84 40,0 Mengali
3 r
Xteofili - - - - - 40,6
n 9
PCT - 3,4 10,5 5,25 0,64761 32,9
3

6
PCT - 3,8 9,65 4,82 0,78756 38,2 Mudah
5 4 2 mengali
PCT - 3,6 9,8 4,9 0,73469 36,3 r
3 0
x PCT - - - - - 35,8
2

4.4.Kadar Air
Bahan W awal (g) W 1 (g) W 2 (g) W 3 (g) Kadar air
CTM 87,7005 86,67 86,66 87,64 0,069%
PCT 112,4136 112,39 112,38 112,38 0,029%
Teofilin 114,9229 114,88 114,89 114,89 0,029%
INH 114,4961 114,46 114,45 114,45 0,04%

4.5.Kompresibilitas
Bahan Volume Volume Kompresibilitas
Sebelum Sesudah
CTM 37 32 13,51%
INH 47 35 25,53%
Teofilin 53 35 33,96%
PCT 56 38 32,14%

4.6.Berat jenis ruah dan berat jenis mampat


Bahan Massa (g) Volume Volume BJ BJ ruah
sebelum sesudah mampat
CTM 25 37 32 0,78125 0,6757
INH 25 47 35 0,7143 0,5319
Teofilin 25 53 35 0,7143 0,4717
PCT 25 56 38 0,6579 0,4464

F. Pembahasan
Pada praktikum kali ini kami melakukan studi preformulasi pada zat aktif
CTM, Isoniazid, Theofilin dan Paracetamol sebelum nantinya akan membuat
sediaan tablet pada praktikum selanjutnya. Studi preformulasi yang kami
lakukan ialah dimulai dengan mengamati pemerian zat aktif lalu dibandingkan
dengan literatur. Pada pengamatan zat aktif CTM didapatkan hasil berupa
kristal berwarna putih dan tidak berbau sedangkan menurut Farmakope
Indonesia edisi V ialah berupa serbuk hablur putih, tidak berbau. Pada
pengamatan pemerian Isoniazid didapatkan hasil berupa kristal jarum berwarna

7
putih kekuningan sedangkan menurut Farmakope Indoesia edisi V ialah berupa
hablur tidak berwarna atau serbuk hablurputih, tidak berbau, rasa agak
pahit, terurai perlahan-lahan oleh cahaya dan udara. Pada pengamatan
pemerian Teofilin didapatkan hasil berupa serbuk hablur putih kekuningan.
Hasil ini mendekati data pemerian pada Farmakope Indonesi edisi V yaitu
berupa serbuk hablur, putih, tidak berbau, rasa pahit, stabil di udara. Pada
pengamatan zat aktif paracetamol didapatkan hasil berupa bubuk kristal putih
sedangkan data yang terdapat pada Farmakope Indonesia edisi V ialah berupa
serbuk hablur, putih; tidak berbau; rasa sedikit pahit. Ketidak sesuaian pada
pengamatan pemerian ini dikarenakan berbagai faktor diantaranya ialah
kesalahan praktikan dalam mengidentifikasi zat aktif dan mungkin dapat juga
dikarenakan zat aktif yang tersedia sudah tercampur dengan zat lain.
Pada percobaan selanjutnya dilakukan pengujian ukuran partikel dengan
merasakan tingkat kehalusan serbuk. Ukuran partikel dan distribusi ukuran
partikel, keduanya memiliki pengaruh yang signifikan dalam sifat alir dan sifat
lainnya, seperti bulk density, angle of repose dan compressibility dari bulk
solids. Perubahan kecil pada ukuran partikel bisa menyebabkan perubahan
yang signifikan dalam sifat alir. Dimensi serbuk yang halus akan lebih mudah
bereaksi bila dibandingkan dengan dimensi serbuk yang lebih besar yang dapat
menurunkan sifat alir material. Ukuran partikel juga mempunyai peranan
penting dalam compressibility serbuk karena meningkatnya ukuran partikel
biasanya menyebabkan meningkatnya compressibility. Dalam kebanyakan
kasus, ketika serbuk menjadi lebih halus maka serbuk akan menjadi lebih
kohesif dan sulit untuk dikendalikan (ASM Handbook, Vol.7, 1998).
Ukuran partikel dalam bidang farmasi sangat penting karena berhubungan
dengan kestabilan suatu sediaan. Pada tablet dan kapsul, ukuran partikel
menentukan sifat alir serta pencampuran yang benar dari granul.
Percobaan selanjutnya ialah dilakukan evaluasi terhadap sifat alir untuk
menentukan kemampuan alir dari beberapa zat aktif. Sifat aliran zat aktif
maupun bahan tambahan sangat penting diketahui untuk pembuatan tablet yang
baik. Aliran serbuk yang baik untuk dikempa sangat penting untuk memastikan
pencampuran yang homogen dan keseragaman bobot yang dapat diterima

8
untuk tablet kempa. Jika suatu zat aktif pada tahap formulasi diidentifikas
memiliki sifat alir yang buruk, masalah ini dapat diatasi dengan memilih bahan
tambahan yang tepat. Sifat alir ini penting untuk dievaluasi karena berperan
penting dalam keseragaman pengisian masa tablet kedalam ruang kompresi
ataupun untuk homogenitas masa tabletnya. Selain itu, sifat alir serbuk yang
baik penting untuk pengisian seragam ke dalam lubang cetak mesin dan untuk
memudahkan gerakan bahan di sekitar fasilitas produksi.(Khairunissa, R.
2016)
Hal-hal yang berpengaruh terhadap aliran yaitu bentuk dan ukuran partikel,
distribusi ukuran partikel, higroskopitas, kandungan lembab, porositas, dan
bobot jenis. Ukuran partikel granul makin kecil akan memperbesar daya
kohesinya sehingga granul akan menggumpal dan menghambat kecepatan
alirnya (Banker dan Anderson, 1986).
Sudut diam merupakan sudut tetap yang terjadi antara timbunan partikel
yang berbentuk kerucut dengan bidang horisontal, semakin datar kerucut yang
dihasilkan maka sudut diamnya semakin kecil (Voight, 1995). Besar kecilnya
sudut diam dipengaruhi oleh bentuk, ukuran, dan kelembaban granul (Wadke
& Jacobson, 1980).
Berdasarkan hasil yang kami dapatkan, CTM diperoleh sudut diam 20,1°
dengan waktu alir 02,33 detik. Dari data tersebut, CTM memiliki sudut diam
dengan karakter aliran yang sangat mudah mengalir karena sudut diam yang
dihasilkan berada pada rentang ˂ 25-30°. CTM juga memenuhi persyaratan
waktu alir tablet yang ideal karena tidak melebihi 10 detik. Kedua, Isoniazid
diperoleh sudut diam 23,76 dan tidak dilakukan uji waktu alir karena tidak
dapat mengalir melewati corong. Dari data tersebut, Isoniazid memiliki sudut
diam dengan karakter aliran yang sangat mudah mengalir karena sudut diam
yang dihasilkan berada pada rentang ˂ 25-30°. Isoniazid tidak memenuhi
persyaratan waktu alir tablet yang ideal karena melebihi 10 detik. Selanjutnya,
Paracetamol diperoleh sudut diam 35,82° dan tidak dilakukan uji waktu alir
karena tidak dapat mengalir melewati corong. Dari data tersebut, Paracetamol
memiliki sudut diam dengan karakter aliran mudah mengalir karena sudut diam

9
yang berada pada rentang ˂ 30-40°. Paracetamol tidak memenuhi persyaratan
waktu alir tablet yang ideal karena melebihi 10 detik.
Pada teofilin diperoleh sudut diam 40,69 dan tidak dilakukan uji waktu alir
karena tidak dapat mengalir melewati corong. Dari data tersebut, teofilin
memiliki sudut diam dengan karakter aliran mengalir karena sudut diam yang
dihasilkan berada pada rentang 40-45°. Parasetamol juga tidak memenuhi
persyaratan waktu alir tablet yang ideal karena melebihi 10 detik.
Pada percobaan selanjutnya dilakukan uji kadar air. Tujuan dilakukannya
evaluasi kadar air untuk meningkatkan ketebalan lapisan yang mengadsorpsi
air yang akan meningkatkan kekuatan jembatan cair yang terbentuk diantara
partikel serbuk. Meningkatnya kadar air akan menurunkan kemampuan serbuk
untuk mengalir (Hadisoewignyo dan Fudholi.2013). Menurut Literatur kadar
air yang baik <14%. Pada praktikum ini dihasilkan kadar air CTM,
Paracetamol, Teofilin, dan Isoniazid berturut-turut adalah 0,069%, 0,029%,
0,029%, dan 0,04%. Hasil tersebut memenuhi syarat kadar air yang ditetapkan
karena <14%.
Parasetamol mempunyai kompaktibilitas serta sifat alir yang buruk, maka
tablet parasetamol perlu dijadikan granul dengan metode granulasi basah atau
wet granule dengan penambahan binder sehingga dapat memperbaiki
kompresibilitas dan meningkatkan fluiditas (Voight, R. 1984). Salah satu
bahan tambahan yang memiliki peran penting dalam pembuatan tablet adalah
bahan pengikat atau binder. Bahan pengikat memiliki peran sebagai pengikat
zat aktif dengan bahan tambahan sehingga didapatkan granul yang baik,
dengan didapatkannya granul yang baik akan meningkatkan kekompakan
tablet. Parasetamol lebih baik saat dijadikan granul, maka penggunaan binder
dijadikan pengikat antar partikel serbuk agar dapat dibentuk menjadi granul.
Pengikat dapat memperbaiki kerapuhan serta kekuatan granul dan tablet,
sehingga dapat meningkatkan kualitas tablet yang dihasilkan. (Sugiyono S, dll.
2013).
Dari keempat serbuk tersebut dapat disimpulkan bahwa isoniazid dan
chlorpheniramin maleat memiliki sifat alir yang baik karena memenuhi

10
persyaratan waktu alir dan memiliki sudut diam yang sangat baik dibandingkan
dengan theofillin dan paracetamol.
Kompresibilitas merupakan kemampuan bahan menerima tekanan untuk
membentuk massa yang kompak dengan kekerasan optimal tanpa memerlukan
tekanan yang berlebihan. Uji kompresibilitas mengetahui kemampatan
campuran serbuk dan untuk menentukan apakah campuran serbuk layak
dikempa atau tidak. Kompresibilitas dipengaruhi oleh sifat alir suatu campuran
serbuk. (Lachman, 1986)
Hubungan Kompresibilitas dengan Sifat Alir Serbuk (Ikhsan, 2017)
% Kompresibilitas Aliran Serbuk
5-15 Sangat baik
12-16 Baik
18-23 Cukup
23-35 Buruk
33-38 Sangat buruk
>40 Sangat buruk sekali

Dari hasil praktikum, CTM memiliki kompresibilitas sebesar 13,51%,


Isoniazid sebesar 25,53%, teofilin 33,96%, dan paracetamol sebesar 32,14%.
Berdasarkan data kompresibilitas, CTM memiliki sifat alir yang baik, isoniazid
memiliki sifat alir yang buruk, teofilin dan paracetamol memiliki sifat alir yang
sangat buruk.
Selanjutnya dari data kompresibilitas dapat diketahui berat jenis ruah dan
berat jenis mampat. Berat jenis ruah merupakan perbandingan antara massa
serbuk yang belum dimampatkan terhadap volume termasuk kontribusi volume
pori antarpartikel. Kerapatan serbuk ruahan ini dihitung dengan rumus:
𝑀
Bobot jenis ruah = 𝑉𝑜

Keterangan:
M = bobot serbuk
Vo = volume wadah dalam satuan ml (Dirjen POM, 2014)
Sedangkan bobot serbuk mampat adalah tingkatan dari kerapatan serbuk
mampat yang diperoleh dengan cara mengetuk dengan cara mekanis gelas ukur

11
atau bejana pengukur yang berisi serbuk. Kerapatan serbuk mampat ini
dihitung dengan rumus:
𝑀
Bobot jenis mampat = 𝑉𝑓

Keterangan:
M = bobot serbuk
Vf = volume setelah pengetukan (Dirjen POM, 2014)
Berdasarkan hasil percobaan, diketahui bahan aktif yang memiliki berat
jenis ruah dan berat jenis mampat dari besar ke kecil secara berurutan yaitu
CTM (BJ ruah 0,6757; BJ mampat 0,78125), INH (BJ ruah 0,5319; BJ mampat
0,7143), Teofilin (BJ ruah 0,4717; BJ mampat 0,7143), dan PCT (BJ ruah
0,4464; BJ mampat 0,6579.
G. Kesimpulan
Isoniazid dan chlorpheniramin maleat memiliki sifat alir yang baik karena
memenuhi persyaratan waktu alir dan memiliki sudut diam yang sangat baik
dibandingkan dengan theofillin dan paracetamol.
H. Saran
Ketika mengukur waktu alir perlu digunakan corong khusus waktu alir yang
memiliki diameter tertentu sehingga sifat alir serbuk terukur secara tepat.

12
DAFTAR PUSTAKA

Allen, Loyd V. 2013. Ansel Bentuk Sediaan Farmasetis dan Sistem Penghantaran
Obat. Jakarta: EGC.

Banker, S.G., and Anderson, R.N., 1986, Tablet In Lachman, L. Lieberman, The
Theory and Practice of Industrial Pharmacy, 3 rd ed., Lea and Febiger,
Philadelphia.

Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan RI. 2014. Farmakope Indonesia
V. Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
Hadisoewignyo, L., dan Fudholi, A. 2013, Sediaan Solida. Pustaka Pelajar,
Yogyakarta, Indonesia.

Khairunnisa, R. Dll. 2016. Evaluasi Sifat Alir Dari Pati Talas Safira (Colocasia
esculenta Antiquorum) Sebagai Eksipien Dalam Formulasi Tablet.
Fakultas Farmasi Universitas Hasanuddin Makassar, Indonesia.

Lachman L, Lieberman HA and Kanig JL. Teori dan Praktek Farmasi Industri, Edisi
ketiga, Penerbit Universitas Indonesia. Jakarta. 1986.

Metal Handbook Vol. 7, (1998), “Powder Metallurgy”, American Society for


Metals, Ohio..

Murtini, Gloria, Yetri Elisa. 2018. Teknologi Sediaan Solid. Jakarta: Kementerian
Kesehatan Republik Indonesia.

Voigt, R., 1995, Buku Pelajaran Teknologi Farmasi, Diterjemahkan oleh Soendani
N. S., UGM Press, Yogyakarta.

Wadke, H.A., and Jacobson, H., 1980, Preformulation Testing, in Lieberman, H.A.,
and Lachman, L., (eds) Pharmaceutical Dosage Forms: Tablets, Vol I, Marcel
Dekker Inc., New York.

13
LAMPIRAN

Penimbangan Bahan penentuan sifat alir

kompresibilitas

14