Anda di halaman 1dari 4

1.

Etiologi:

Faktor-faktor yang mempengaruhi penyalahgunaan alkohol Karamoy (2004) menyebutkan bahwa ada
dua faktor yang mempengaruhi perilaku minum minuman beralkohol yaitu faktor internal dan faktor
eksternal, yaitu sebagai berikut:

a. Faktor internal individu

1) Faktor kepribadian anak, antara lain adanya gangguan kepribadian, kurang rasa percaya diri atau
rendah diri adanya kepahitan, gangguan emosi dan kehendak dan cara berfikir yang keliru.

2) Pengaruh usia, remaja anak masih kurang pengalaman, kurang pengertian dan penalaran. Mudah
terpengaruh oleh lingkungan dan hal-hal yang baru dialami.

3) Pandangan atau keyakinan yang keliru, karena kurangnya pengertian yang dimiliki dan anak
mendapatkan informasi yang keliru namun tidak disadari, maka anak akan terjerumus kedalam
kekeliruan sehingga membahayakan diri sendiri.

4) Religiusitas yang rendah, kurang pengertian Allah Tuhannya maka anak kurang mengenal kontrol diri
dan etika moral yang terkandung didalam ajaran agama.

5) Ego yang tidak realistis, yang tidak mengenal diri sendiri dengan baik, tidak ada keyakinan akan
dirinya, tidak tahu dimana tempatnya biasanya akan mudah terombang-ambing oleh keadaan dan
mudah hanyut oleh pengaruh lingkungan.

b. Faktor eksternal individu atau faktor lingkungan

1) Faktor keluarga Keluarga yang tidak harmonis dan suasana keluarga yang tidak baik, tidak ada
perhatian cinta dan kasih sayang, tidak ada ketenangan membuat anak tidak nyaman di rumah dan
akibatnya anak mencari kesenangan di luar rumah atau di lingkungan sekitarnya

. 2) Lingkungan tempat tinggal Lingkungan hidup sangat besar pengaruhnya terhadap perkembangan
jiwa anak. Di daerah hitam atau lampu merah, anak akan menganggap kejahatan atau perbuatan asusila
adalah hal yang wajar. Terlebih lagi kalau sampai anak berkelompok dengan orangorang yang nakal,
pasti anak akan menjadi nakal pula.

3) Keadaan di sekolah Sekolah adalah tempat para sebaya remaja bertemu dan bergaul dengan leluasa.
Banyak anak menjadi nakal akibat di sekolah tidak dapat membina hubungan dengan anak yang baik,
akan tetapi malahan akrab atau mendapatkan teman yang nakal sehingga anak menjadi nakal
bersamanya.

4) Pendidikan Selain ilmu pengetahuan anak juga perlu mendapatkan pendidikan moral dan kepribadian,
yang dasarnya di peroleh dari keluarga dan di sekolah. Tidak pandai membawa diri, dan awal dari sikap
tidak bersahabat atau anti sosial.

2. Tahapan
Ada beberapa tahapan pemakaian NAPZA yaitu sebagai berikut :
1. Tahap pemakaian coba-coba (eksperimental) Karena pengaruh kelompok sebaya sangat
besar, remaja ingin tahu atau coba-coba. Biasanya mencoba mengisap rokok, ganja, atau
minum-minuman beralkohol. Jarang yang langsung mencoba memakai putaw atau minum pil
ekstasi.
2. Tahap pemakaian sosial Tahap pemakaian NAPZA untuk pergaulan (saat berkumpul atau pada
acara tertentu), ingin diakui/diterima kelompoknya. Mula-mula NAPZA diperoleh secara gratis
atau dibeli dengan murah. Ia belum secara aktif mencari NAPZA.
3. Tahap pemakaian situasional Tahap pemakaian karena situasi tertentu, misalnya kesepian
atau stres. Pemakaian NAPZA sebagai cara mengatasi masalah. Pada tahap ini pemakai berusaha
memperoleh NAPZA secara aktif.
4. Tahap habituasi (kebiasaan) Tahap ini untuk yang telah mencapai tahap pemakaian teratur
(sering), disebut juga penyalahgunaan NAPZA, terjadi perubahan pada faal tubuh dan gaya
hidup. Teman lama berganti dengan teman pecandu. Ia menjadi sensitif, mudah tersinggung,
pemarah, dan sulit tidur atau berkonsentrasi, sebab narkoba mulai menjadi bagian dari
kehidupannya. Minat dan cita-citanya semula hilang. Ia sering membolos dan prestasi
sekolahnya merosot. Ia lebih suka menyendiri daripada berkumpul bersama keluarga.
5. Tahap ketergantungan Ia berusaha agar selalu memperoleh NAPZA dengan berbagai cara.
Berbohong, menipu, atau mencuri menjadi kebiasaannya. Ia sudah tidak dapat mengendalikan
penggunaannya. NAPZA telah menjadi pusat kehidupannya. Hubungan dengan keluarga dan
teman-teman rusak. Pada ketergantungan, tubuh memerlukan sejumlah takaran zat yang
dipakai, agar ia dapat berfungsi normal

3. FAKTOR RESIKO
1. Faktor Genetik Risiko faktor genetik didukung oleh hasil penelitian bahwa remaja dari orang
tua kandung alkoholik mempunyai risiko 3-4 kali sebagai peminum alkohol dibandingkan
remaja dari orang tua angkat alkoholik. Penelitian lain membuktikan remaja kembar
monozigot mempunyai risiko alkoholik lebih besar dibandingkan remaja kembar dizigot.
2. . Lingkungan Keluarga Pola asuh dalam keluarga sangat besar pengaruhnya terhadap
penyalahgunaan NAPZA. Pola asuh orang tua yang demokratis dan terbuka mempunyai
risiko penyalahgunaan NAPZA lebih rendah dibandingkan dengan pola asuh orang tua
dengan disiplin yang ketat. Fakta berbicara bahwa tidak semua keluarga mampu
menciptakan kebahagiaan bagi semua anggotanya. Banyak keluarga mengalami problem-
problem tertentu. Salah satunya ketidakharmonisan hubungan keluarga. Banyak keluarga
berantakan yang ditandai oleh relasi orangtua yang tidak harmonis dan matinya komunikasi
antara mereka. Ketidakharmonisan yang terus berlanjut sering berakibat perceraian. Kalau
pun keluarga ini tetap dipertahankan, maka yang ada sebetulnya adalah sebuah rumah
tangga yang tidak akrab dimana anggota keluarga tidak merasa betah. Orangtua sering
minggat dari rumah atau pergi pagi dan pulang hingga larut malam. Ke mana anak harus
berpaling? Kebanyakan diantara penyalahguna NAPZA mempunyai hubungan yang biasa-
biasa saja dengan orang tuanya. Mereka jarang menghabiskan waktu luang dan bercanda
dengan orang tuanya (Jehani, dkk, 2006)
3. . Pergaulan (Teman Sebaya) Di dalam mekanisme terjadinya penyalahgunaan NAPZA, teman
kelompok sebaya (peer group) mempunyai pengaruh yang dapat mendorong atau
mencetuskan penyalahgunaan NAPZA pada diri seseorang. Menurut Hawari (2006)
perkenalan
4. pertama dengan NAPZA justru datangnya dari teman kelompok. Pengaruh teman kelompok
ini dapat menciptakan keterikatan dan kebersamaan, sehingga yang bersangkutan sukar
melepaskan diri. Pengaruh teman kelompok ini tidak hanya pada saat perkenalan pertama
dengan NAPZA, melainkan juga menyebabkan seseorang tetap menyalahgunakan NAPZA,
dan yang menyebabkan kekambuhan (relapse). Bila hubungan orangtua dan anak tidak baik,
maka anak akan terlepas ikatan psikologisnya dengan orangtua dan anak akan mudah jatuh
dalam pengaruh teman kelompok. Berbagai cara teman kelompok ini memengaruhi si anak,
misalnya dengan cara membujuk, ditawari bahkan sampai dijebak dan seterusnya sehingga
anak turut menyalahgunakan NAPZA dan sukar melepaskan diri dari teman kelompoknya.
Marlatt dan Gordon (1980) dalam penelitiannya terhadap para penyalahguna NAPZA yang
kambuh, menyatakan bahwa mereka kembali kambuh karena ditawari oleh teman-
temannya yang masih menggunakan NAPZA (mereka kembali bertemu dan bergaul). Kondisi
pergaulan sosial dalam lingkungan yang seperti ini merupakan kondisi yang dapat
menimbulkan kekambuhan. Proporsi pengaruh teman kelompok sebagai penyebab
kekambuhan dalam penelitian tersebut mencapai 34%.
5. Karakteristik Individu
a. Umur Berdasarkan penelitian, kebanyakan penyalahguna NAPZA adalah mereka yang
termasuk kelompok remaja. Pada umur ini secara kejiwaan masih sangat labil, mudah
terpengaruh oleh lingkungan, dan sedang mencari identitas diri serta senangmemasuki
kehidupan kelompok. Hasil temuan Tim Kelompok Kerja Pemberantasan
Penyalahgunaan Narkoba Departemen Pendidikan Nasional menyatakan sebanyak 70%
penyalahguna NAPZA di Indonesia adalah anak usia sekolah (Jehani, dkk, 2006). Hasil
penelitian yang dilakukan oleh Siregar (2004) proporsi penyalahguna NAPZA tertinggi
pada kelompok umur 17-19 tahun (54%). b. Pendidikan Menurut Friedman (2005) belum
ada hasil penelitian yang menyatakan apakah pendidikan mempunyai risiko
penyalahgunaan NAPZA. Akan tetapi, pendidikan ada kaitannya dengan cara berfikir,
kepemimpinan, pola asuh, komunikasi, serta pengambilan keputusan dalam keluarga.
Hasil penelitian Prasetyaningsih (2003) menunjukkan bahwa pendidikan penyalahguna
NAPZA sebagian besar termasuk kategori tingkat pendidikan dasar (50,7%). Asumsi
umum bahwa semakin tinggi pendidikan, semakin mempunyai wawasan/pengalaman
yang luas dan cara berpikir serta bertindak yang lebih baik. Pendidikan yang rendah
memengaruhi tingkat pemahaman terhadap informasi yang sangat penting tentang
NAPZA dan segala dampak negatif yang dapat ditimbulkannya, karena pendidikan
rendah berakibat sulit untuk berkembang menerima informasi baru serta mempunyai
pola pikir yang sempit.
c. Pekerjaan Hasil studi BNN dan Pusat Penelitian Kesehatan Universitas Indonesia tahun
2009 di kalangan pekerja di Indonesia diperoleh data bahwa penyalahguna NAPZA
tertinggi pada karyawan swasta dengan prevalensi 68%, PNS/TNI/POLRI dengan
prevalensi 13%, dan karyawan BUMN dengan prevalensi 11% (BNN, 2010).

Beri Nilai