Anda di halaman 1dari 18

AKHLAK TASAWUF

“MAHABBAH RABI’AH AL-ADAWIYAH”


Makalah ini disusun untuk memenuhi salah satu tugas Mata Kuliah
Akhlak Tasawuf yang diampu oleh:
Dr. Akhmad Sodiq, M.A.

Oleh:
Farhan Ali Akbar 11170110000111
Ahmad Najib 11170110000090
Mila Sari 11170110000026

PENDIDIKAN AGAMA ISLAM


FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF
HIDAYATULLAH JAKARTA
2019
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT. karena atas segala rahmat dan karunia-
Nya pemakalah dapat menyelesaikan makalah yang sederhana ini. Semoga
makalah yang telah pemakalah buat dapat digunakan sebagai acuan, petunjuk,
ataupun pedoman bagi para pembaca dalam memahami “Mahabbah Rabi’ah Al-
Adawiyah”.
Harapan pemakalah kedepan adalah semoga makalah ini dapat membantu
para pembaca untuk lebih memahami dan juga menambah pengetahuan serta
pengalaman yang diperoleh dari hasil membaca ataupun mengkaji makalah yang
bertemakan “Mahabbah Rabi’ah Al-Adawiyah” ini, sehingga pemakalah dapat
memperbaiki segala kekurangan yang terdapat dalam makalah ini.
Dalam pembuatan makalah ini, pemakalah sadari masih terdapat banyak
kekurangan baik dari segi penulisan maupun isi. Oleh karena itu, pemakalah
berharap kepada para pembaca untuk memberikan kritik dan saran yang
membangun untuk kesempurnaan makalah yang telah dibuat.

Ciputat, 01 Oktober 2019

Kelompok 5

i
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

Tasawuf adalah salah satu pilar Islam. Tasawuf secara umum merujuk kepada
kebersihan batin yang menjadi sikap dan ajaran di dalam mendekatkan diri kepada
Allah swt. Apabila Allah adalah sesuatu yang maha suci dan Maha Agung, maka
Dia hanya bisa didekati dengan kesucian dan kebersihan diri serta keagungan
tingkah laku hamba-Nya. Dengan demikian, tasawuf ingin membawa manusia
kepada kedekatan hakiki hingga hidup menjadi utuh.

Tasawuf merupakan salah satu jalan dalam mendekatkan diri kepada Tuhan,
sebuah kesadaran akan adanya komunikasi dengan Tuhan. Jika melihat sejarah
bahwa tasawuf merupakan amalan dan ajaran rasulullah saw. dan para sahabat.
Tasawuf sangat erat hubungannya dengan keadaan menjauhi hidup duniawi dan
kesenangan material atau biasa disebut dengan istilah zuhud. Setelah menajadi
seorang yang zahid, barulah meningkat menjadi seorang sufi. Jika dilihat dari
pemaknaan zuhud, bahwa yang dimaksud dengan zuhud adalah meninggalkan
kehidupan dunia serta kesenangan material dan memperbanyak ibadah kepada
Allah dan ingin selalu mendekatkan diri dengan Sang pencipta.

Kalangan sufi yang termasuk dalam kalangan ini adalah Rabi’ah al-Adawiah,
dengan konsep pemikiran tasawufnya yaitu mahabbah illahiyah (kecintaan kepada
Tuhan). Seorang wanita sufi dari Basrah yang terkenal dengan ibadah dan
kedekatannya dengan Allah Swt dengan memasukkan konsep kecintaan terhadap
Tuhan dalam dunia tasawuf.

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana biografi Rabi’ah Al-Adawiyah?
2. Apa yang dimaksud dengan Mahabbah Ilahiyah?
3. Bagaimana pemikiran dan syair-syair Mahabbah Ilahiyah Rabi’ah Al-
Adawiyah?
C. Tujuan Penulisan

2
1. Untuk Mengetahui bagaimana biografi Rabi’ah Al-Adawiyah
2. Untuk Mengetahui apa yang dimaksud dengan Mahabbah Ilahiyah
3. Untuk Mengetahui bagaimana pemikiran dan syair-syair Mahabbah
Ilahiyah Rabi’ah Al-Adawiyah
D. Manfaat
Manfaat dari pembuatan makalah ini agar dapat menambah ilmu pengetahuan
bagi penulis lebih utamanya dan bagi para pembaca pada umumnya mengenai
indikator kompetensi dan tujuan pembelajaran.

3
BAB II
PEMBAHASAN

A. Biografi Robi’ah al-Adawiyah

Rabi’ah al-Adawiyah memiliki nama lengkap Ummu al-Khai bin Ismail al-
Adawiyah al-Qaisyiyah. Ia adalah seorang sufi perempuan yang dapat menghias
lembaran sejarah sufi dalam abad kedua hijrah. Ia lahir di Bashrah pada tahun 714
M.1 Pada malam kelahiran Rabi’ah, tidak terdapat suatu barang berharga yang
didapat dalam rumah Ismail. Bahkan tidak terdapat setetes minyak untuk
mengoles pusar putrinya, apalagi minyak untuk lampu penerang. Rumah tersebut
juga tidak terdapat sehelai kain pun yang dapat digunakan untuk menyelimuti bayi
yang baru lahir.2

Ayah Rabi’ah tertidur malam itu dalam keadaan tertekan karena tidak
memiliki sesuatupun disaat kelahiran putrinya, ia bermimpi didatangi Nabi
Muhammad saw, dan bersabda, “ Janganlah bersedih hati, sebab anak
perempuanmu yang baru lahir ini adalah seorang suci yang agung, yang
pengaruhnya akan dianut oleh tujuh ribu umatku.” Dalam mimpi tersebut Nabi
juga memberi perintah agar besok menemui Isa Zaidan, seorang amir dengan
menyampaikan sepucuk surat yang berisi pesan Rasulullah seperti yang
diperintahkan dalam mimpi. Isi surat itu: “Hai amir, engkau biasanya membaca
shalawat seratus kali setiap malam dan empat ratus kali tiap malam Jum’at. Tetapi
dalam Jum’at terakhir ini engkau lupa melaksanakannya. Oleh karena itu,
hendaklah engkau membayar empat ratus dinar kepada yang membawa surat ini,
sebagai kafarat atas kelalaianmu.”3

Ayah Rabi’ah terbangun dan menangis, ia lalu bangkit dari tempat tidurnya
dan langsung menulis surat serta mengirimkannya kepada Amir melalui pembawa

1
Abuddin Nata, Ilmu Kalam, Filsafat dan Tasawuf, (Jakarta: PT Raja Grafindo, 2001)
hlm 169
2
Ahmad Bangun dan Rayani, Akhlak Taswuf, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2015)
hlm 208
3
Smith, Rabi’ah Pergulatan Spiritual Perempuan(Surabaya: Risalah Gusti, 1997) hlm 8

4
surat pemimpin itu. Ketika Amir telah selesai membaca surat itu ia
berkata:“Berikan dua ribu dinar kepada orang miskin itu sebagai tanda terima
kasihku, sebab Nabi telah mengingatkanku untuk memberi empat ratus dinar
kepada orang tua itu dan katakanlah kepadanya bahwa aku ingin agar ia
menghadapku supaya aku dapat bertemu dengannya. Tetapi aku rasa tidaklah
tepat bahwa orang seperti itu harus datang kepadaku, akulah yang akan datang
kepadanya dan mengusap penderitaanya dengan jenggotku.”4

Kedua orang tuanya meninggal sewaktu ia masih kecil. Ketiga orang kakak
perempuannya juga meninggal ketika wabah kelaparan melanda Basrah. Rabi’ah
menghabiskan hidupnya untuk mengabdi kepada majikannya dan suatu malam ia
berdoa kepada Allah “Ya Rabb engkau telah membuatku menjadi budak belian
seorang manusia sehingga aku terpaksa mengabdi kepadanya, seandainya aku
bebas pasti aku akan persembahkan seluruh sisa hidupku untuk berdo’a kepada-
Mu.5 Pada akhirnya ia memperoleh kemerdekaan, menurut cerita orang yang
memilikinya bahwa ia melihat cahaya di atas kepala Rabi’ah, dan sewaktu ia
beribadah cahaya itu menerangi seluruh ruangan rumahnya.

Setelah bebas, Rabi’ah pergi menyendiri ke padang pasir dan memilih hidup
sebagai zahid, yaitu sepenuhnya mengabdikan diri hanya untuk berdo’a kepada
Allah sang khalik.

Rabiah juga pernah menerima pinangan untuk sebuah perkawinan yang baik.
Di antaranya dari Gubernur Basrah juga dari Hasan Basri. Tetapi Rabi’ah terlalu
sibuk mengabdikan dirinya kepada Allah hingga sisa waktunya sangat sedikit
sekali untuk urusan duniawi. Karena itulah semua pinangan ditolaknya.

Rabiah seorang sufi paling terkemuka yang mengajarkan kasih sayang


terhadap Tuhan tanpa pamrih. “Aku mengabdi kepada Tuhan bukan untuk
mendapatkan pahala apa pun, jangan takut pada neraka, jangan mendambakan
surga, aku akan menjadi abdi yang tidak baik jika pengabdianku untuk

Sururin, Rabi’ah Al-Adawiyah Hubb Al Ilahi (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2002)
4

hlm 35.
5
Ahmad Bangun dan Rayani, Akhlak Taswuf, hlm 208

5
mendapatkan keuntungan materi, aku memtaatiAllah tanpa mengharapkan apa
pun itulah bukti pengabdianku pada-Nya”.

Rabi’ah sebagaimana para Sufi lainnya, menjalani hidup hingga usia lanjut,
hampir mendekati usia 90 tahun pada saat beliau wafat. Beberapa ahli mengutip
para penulis riwayat hidupnya dimana baru mengenal Rabi’ah di masa tuanya,
pada saat tubuhnya telah lemah, tetapi pemikirannya masih cemerlang, dan hingga
di akhir hayat ia masih menjadi panutan bagi orang yang membutuhkannya.
Rabi’ah wafat pada tahun 801 M dan ia dimakamkan di Basrah.6 Rabi’ah telah
mencapai tujuan pencariannya danakhirnya ia menyaksikan Keindahan Yang
Abadi itu.

Kisah diatas menggambarkan bahwa kehidupan Rabi’ah sejak dini telah sufi,
tanpa dinodai oleh barang-barang yang syuhbat, apalagi barang yang diperoleh
dengan maksiat. Kehidupan Rabi’ah sejak awal, tanpa dipengaruhi oleh perilaku-
perilaku yang merugikan orang lain, bahkan Nabi telah memberi suatu tanda,
bahwa kelak Rabi’ah akan menjadi manusia yang besar.

B. Hakekat Mahabbah Ilahiyah

Secara etimologi, mahabbah adalah bentuk masdar dari kata hubb (ّ‫ )ﺣﺐ‬yang
mempunyai arti: a) membiasakan dan tetap, b) menyukai sesuatu karena punya
rasa cinta. Dalam bahasa Indonesia kata cinta, berarti: a) suka sekali, sayang
sekali, b) kasih sekali, c) ingin sekali, berharap sekali, rindu, makin ditindas
makin terasa betapa rindunya, dan d) susah hati (khawatir) tiada terperikan lagi 7

Dalam Mu’jam al-Falsafi, Jamil Shaliha mengatakan Mahabbah adalah


lawan dari al-Baghd, yakni cinta lawan dari benci. Al-Mahabbah dapat pula
diartikan al-Wadud yang berarti yang sangat kasih atau penyayang. Selain itu al-
Mahabbah dapat pula berarti kecenderungan kepada sesuatu yang sedang berjalan
dengan tujuan untuk memperoleh kebutuhan yang bersifat material maupun

6
Abuddin Nata, Op. Cit., h. 169
7
Badrudin, Pengantar Ilmu Tasawuf, (Serang: A-Empat, 2015), h. 63

6
spiritual. Cinta Allah dan Rasul-Nya melebihi cintanya pada apa saja selain
keduanya.8

Menurut Harun Nasution, mahabbah ialah:

1. Memeluk kepatuhan kepada Tuhan dan membenci sikap melawan kepada-


Nya.
2. Menyerahkan seluruh diri kepada yang dikasihi
3. Mengosongkan hati dari segala-galanya kecuali dari diri yang dikasihi.9

Sedangkan secara terminologi, terdapat perbedaan definisi di kalangan ulama.


Pendapat kaum Teologi yang dikemukakan oleh Webster bahwa mahabbah
berarti: a) keridhaan Tuhan yang diberikan kepada manusia, b) keinginan manusia
menyatu dengan Tuhan, dan c) perasaan berbakti dan bersahabat seseorang
kepada yang lainnya. Pengertian tersebut bersifat umum, sebagaimana yang
dipahami masyarakat bahwa ada mahabbah Tuhan kepada manusia dan
sebaliknya, ada mahabbah manusia kepada Tuhan.10

Mahabbah kepada Allah merupakan suatu keajaiban yang harus ditanamkan


kepada setiap individu, karena tanpa adanya mahabbah, seseorang baru berada
pada tingkatan yang paling dasar sekali yaitu tingkat muallaf.11

Imam al-Ghazāli mengatakan bahwa mahabbah adalah kecenderungan hati


kepada sesuatu. Kecenderungan yang dimaksud oleh al-Ghazali adalah
kecenderungan kepada Tuhan, karena bagi kaum sufi mahabbah yang sebenarnya
bagi mereka hanya mahabbah kepada Tuhan. Hal ini dapat dilihat dari ucapannya,
“Barangsiapa yang mencintai sesuatu tanpa ada kaitannya dengan mahabbah
kepada Tuhan adalah suatu kebodohan dan kesalahan karena hanya Allah yang
berhak dicintai.” Al-Ghazali juga mengatakan,“Cinta adalah inti keberagamaan.
Ia adalah awal dan juga akhir dari perjalanan kita. Kalau pun ada maqam yang

8
Ibid., h. 71
9
Wasalmi, “Mahabbah dalam Tasawuf Rabi’ah Al-Adawiyah”, Sulesana, Vol. 9, No. 2,
2014, h. 83
10
Badrudin, Op. Cit., h. 64
11
Wasalmi, Op. Cit., h. 83

7
harus dilewati seorang sufi sebelum cinta, maqam itu hanyalah pengantar ke arah
cinta, maqam itu akibat dari cinta saja.”12

Dapat dipahami bahwa mahabbah (cinta) merupakan keinginan yang sangat


kuat terhadap sesuatu melebihi kepada yang lain atau ada perhatian khusus,
sehingga menimbulkan usaha untuk memiliki dan bersatu dengannya, sekalipun
dengan pengorbanan. Dengan demikian dapat dikatakan, Mahabbah adalah
perasaan cinta yang mendalam secara ruhaniah kepada Allah.13

Menurut al-Saraf sebagaimana yang dikutip oleh Harun Nasution bahwa


mahabbah itu mempunyai tiga tingkatan:

1. Cinta biasa, yaitu selalu mengingat Tuhan dengan zikir, suka menyebut
nama-nama Allah dan memperoleh kesenangan dalam berdialog dengan
Tuhan senantiasa memuji-Nya.
2. Cinta orang yang siddiq yaitu orang yang kenal kepada Tuhan, pada
kebesaran-Nya, pada ilmu-Nya dan lainnya. Cinta yang dapat
menghilangkan tabir yang memisahkan diri seseorang dari Tuhan, dan
dengan demikian dapat melihat rahasia-rahasia yang ada pada Tuhan. Ia
mengadakan dialog dengan Tuhan dan memperoleh kesenangan dari
dialog itu. Cinta tingkat kedua ini membuat orang sanggup
menghilangkan kehendak dan sifat-sifatnya sendiri, sedang hatinya penuh
dengan perasaan cinta dan selalu rindu kepada Tuhan.
3. Cinta orang arif, yaitu orang yang tahu betul kepada Tuhan. Cintanya
yang serupa ini timbul karena telah tahu betul kepada Tuhan. Yang dilihat
dan dirasa bukan lagi cinta tapi diri yang dicintai. Akhirnya sifat-sifat
yang dicintai masuk ke dalam diri yang dicintai14

Terlepas dari banyaknya penjelasan mengenai defenisi cinta atau mahabbah


tersebut, mahabbah pada dasarnya merupakan sebuah sikap operasional. Dengan
kata lain, konsep mahabbah (cinta kepada Allah) adalah salah satu ajaran pokok

12
Badrudin, Op. Cit., h. 64
13
Ibid., h. 63
14
Wasalmi, Op. Cit., h. 83

8
yang memungkinkan Islam membawa rahmat bagi seluruh isi alam. Cinta pada
hakikatnya bukanlah sebutan untuk emosi semata-mata yang hanya dipupuk di
dalam batin saja, akan tetapi ia adalah cinta yang memiliki kecenderungan pada
kegiatan nyata sekaligus menjadi sumber keutamaan moral.

Hanya saja dalam perjalanan sejarah umat Islam, istilah “cinta” atau
“mahabbah” telah menjadi salah satu pokok pembicaraan dikalangan sufi. Mereka
menggeser penekanan cinta ke arah idealisme emosional yang dibatinkan secara
murni. Sehingga, mahabbah adalah satu istilah yang hampir selalu berdampingan
dengan ma’rifat, baik dalam penempatannya maupun dalam pengertiannya. Kalau
ma’rifat merupakan tingkat pengetahuan tentang Tuhan melalui hati, sedang
mahabbah adalah merupakan perasaan kedekatan dengan Tuhan melalui cinta.
Seluruh jiwa terisi oleh rasa kasih dan cinta kepada Tuhan. Rasa cinta yang
tumbuh dari pengetahuan dan pengenalan kepada Tuhan, yang sudah sangat jelas
dan mendalam, sehingga yang dilihat dan dirasa bukan cinta, tetapi diri yang
dicintai. Oleh karena itu menurut Imam al-Ghazali, mahabbah itu adalah
manifestasi dari ma’rifat kepada Tuhan Yang Maha Esa. 15

Demikian cintanya orang-orang sufi kepada Tuhan, mereka rela


mengorbankan dirinya demi memenuhi keinginan Tuhannya. Oleh karena itu,
cinta atau mahabbah pada hakikatnya adalah lupa terhadap kepentingan diri
sendiri, karena mendahulukan kepentingan yang dicintainya yaitu Tuhan.
Mahabbah adalah suatu ajaran tentang cinta atau kecintaan kepada Allah. Tetapi
bagaimana bentuk pelaksanaan kecintaan kepada Allah itu tidak bisa dirumuskan
secara pasti karena hal itu menyangkut perasaan dan penghayatan subyektif tiap
sufi.16

Cinta Ilahi (al-Hubb al-Ilah) dalam pandangan kaum sufi memiliki nilai
tertinggi. Bahkan kedudukan mahabbah dalam sebuah maqamat sufi tak ubahnya
dengan maqam ma’rifat , atau antara mahabbah dan ma’rifat merupakan kembar
dua yang satu sama lain tidak bisa dipisahkan. Abu Nashr as-Sarraj ath-Thusi

15
Badrudin, Op. Cit., h. 65-66
16
Ibid., h. 66

9
mengatakan, cinta para sufi dan ma’rifat itu timbul dari pandangan dan
pengetahuan mereka tentang cinta abadi dan tanpa pamrih kepada Allah. Cinta itu
timbul tanpa ada maksud dan tujuan apa pun.

Sebagai agama rahmatan lil’alamin, Islam menawarkan cinta kasih yang


sempurna. Cinta kasih juga menjadi tema sentral kitab-kitab suci, baik Al-Qur’an
maupun kitab-kitab suci sebelumnya. Berkaitan dengan mahabbah ilallah ini
banyak ayat-ayat Al-Qur’an yang mengisyaratkannya, diantaranya surat al-
Baqarah ayat 165, Ali ’Imran ayat 30, dan al-Maidah ayat 54. Secara potensi
kemanusiaan, kita berkewajiban untuk mencintai Tuhan, karena kita sangat butuh
dan bergantung kepada-Nya. 17

Yang paling menarik dari ajaran cinta Allah ini ialah pengaruhnya terhadap
kehidupan para sufi. Seluruh hidup dikerahkan demi tercapainya tujuan utama,
yaitu untuk bertemu dengan yang dicintainya (Allah). Para sufi dengan ikhlas
mengorbankan segala yang dimiliki (kekayaan, kehormatan, kehendak, kehidupan
dan apapun yang dianggap bermakna bagi manusia) semata hanya untuk tercinta,
tanpa berfikir atau mengharapkan ganjaran. Mereka sudah tidak mengenal
berbagai hal yang bermakna manusia lagi. Kalau masih ada rasa bahwa aku adalah
aku dan engkau adalah engkau, belumlah sampai kepada inti cinta.18

C. Pemikiran dan Syair-syair mahabbah ilahiyah Robi’atul al-Adawiyah

Rabi’ah dipandang sebagai pelopor tasawuf mahabbah, yaitu penyerahan diri


total kepada “kekasih” (Allah) dan ia pun dikenang sebagai ibu para sufi besar
(The Mother of The Grand Master). Hakikat tasawufnya adalah habbul-ilah
(mencintai Allah SWT). Ibadah yang ia lakukan bukan terdorong oleh rasa takut
akan siksa neraka atau rasa penuh harap akan pahala atau surga, melainkan
semata-mata terdorong oleh rasa rindu pada Tuhan untuk menyelami keindahan–
Nya yang azali. Mahabbah Rabi’ah merupakan versi baru dalam masalah
ubudiyah kedekatan pada Tuhan.19

17
Ibid., h. 67-68
18
Ibid., h. 69
19
Badrudin, Pengantar Ilmu Tasawuf, (Serang: A-Empat, 2015), h. 66.

10
Rabi’ah adalah seorang zahidah sejati. Memeluk erat kemiskinan demi
cintanya pada Allah. Lebih memilih hidup dalam kesederhanaan. Definisi cinta
menurut Rabi’ah adalah cinta seorang hamba kepada Allah Tuhannya. Ia
mengajarakan bahwa yang pertama, cinta itu harus menutup yang lain, selain
Sang Kekasih atau Yang Dicinta, yaitu bahwa seorang sufi harus memalingkan
punggungnya dari masalah dunia serta segala daya tariknya. Sedangkan yang
kedua, ia mengajarkan bahwa cinta tersebut yang langsung ditujukan kepada
Allah dimana mengesampingkan yang lainnya, harus tidak ada pamrih sama
sekali. Ia harus tidak mengharapkan balasan apa-apa. Dengan Cinta yang
demikian itu, setelah melewati tahaptahap sebelumnya, seorang sufi mampu
meraih ma’rifat sufistik dari “hati yang telah dipenuhi oleh rahmat-Nya”.
Pengetahuan itu datang langsung sebagai pemberian dari Allah dan dari ma’rifat
inilah akan mendahului perenungan terhadap Esensi Allah tanpa hijab. Rabi’ah
merupakan orang pertama yang membawa ajaran cinta sebagai sumber
keberagamaan dalam sejarah tradisi sufi Islam.20
Cinta Rabi’ah merupakan cinta yang tidak mengharap balasan. Justru, yang
dia tempuh adalah perjalanan mencapai ketulusan. Sesuatu yang diangap sebagai
ladang subur bagi pemuas rasa cintanya yang luas, dan sering tak terkendali
tersebut. Lewat sebuah doa yang mirip syair, ia berujar:21
”Wahai Tuhanku, jika aku menyembah-Mu karena takut neraka, bakarlah aku
di neraka. Jika aku menyembah-Mu karena surga, jangan masukkan ke
dalamnya. Tapi, jika aku menyembah-Mu demi Engkau semata, jangan
sembunyikan dari ku keindahan abadi-Mu.”
Sebagaimana telah kita ketahui, bahwa Rabi’ah dikenal dengan konsep
mahabbah-nya. Hal ini diketahui dari jawabannya atas pertanyaan: Ketika
Rabi’ah ditanya; “ Apakah kau cinta kepada Tuhan yang Maha Kuasa? ‘ya’.
Apakah kau benci kepada syeitan? ‘tidak’, cintaku kepada Tuhan tidak
meninggalkan ruang kosong dalam diriku untuk rasa benci kepada syeitan.”22

20
Ibid.
21
Ibid., h. 67.
22
Wasalmi, “Mahabbah dalam Tasawuf Rabi’ah Al-Adawiyah”, Sulesana, Vol. 9, No. 2,
2014, h. 83.

11
Seterusnya Rabi’ah menyatakan:23
“ saya melihat Nabi dalam mimpi, Dia berkata: Oh Rabi’ah, cintakah
kamu kepadaku? Saya menjawab, Oh Rasulullah, siapa yang menyatakan
tidak cinta? Tetapi cintaku kepada pencipta memalingkan diriku dari cinta
atau membenci kepada makhluk lain.” Menurut riwayat yang lain24 “Adapun
ungkapan Rabi’ah tatkala ditanyakan tentang: Apakah beliau juga mencintai
Rasul?... dia menjawab… Siapa orang yang tidak mencintai Rasul, akan tetapi
cintaku kepada Allah sudah tidak mensisakan satu ruangpun untuk mencintai
yang selain Dia atau untuk membenci Iblis sekalipun.
Mahabbah kepada Allah merupakan suatu keajaiban yang harus ditanamkan
kepada setiap individu, karena tanpa adanya mahabbah, seseorang baru berada
pada tingkatan yang paling dasar sekali yaitu tingkat muallaf. Ajaran yang dibawa
oleh Rabi’ah adalah versi baru dalam kehidupan kerohanian, dimana tingkat
zuhud yang diciptakan oleh Hasan Basri yang bersifat khauf dan raja’ dinaikkan
tingkatnya oleh Rabi’ah al-Adawiyah ke tingkat zuhud yang bersifat hub (cinta).25
Cinta yang suci murni lebih tinggi dari pada khauf dan raja’, karena yang suci
murni tidak mengahrapkan apa-apa. Cinta suci murni kepada Tuhan merupakan
puncak tasawuf Rabi’ah. Rabi’ah betul-betul hidup dalam keadaan zuhud dan
hanya ingin berada dekat dengan Tuhan. Ia banyak beribadah, bertobat dan
menjauhi hidup duniawi, dan menolak segala bantuan materi yang diberikan
orang kepadanya. Bahkan ada doa-doa beliau yang isinya tidak mau meminta hal-
hal yang bersifat materi dari Tuhan.26
Hal ini dapat dilihat dari ketika teman-temannya ia memberi rumah
kepadanya, ia menyatakan; “aku takut kalau-kalau rumah ini akan mengikat
hatiku, sehingga aku terganggu dalam amalku untuk akhirat.” Kepada seorang
pengunjung ia memberi nasehat: “memandang dunia sebagai sesuatu yang hina
dan tak berharga, adalah lebih baik bagimu”. Segala lamaran cinta pada dirinya,

23
Ibid.
24
Badrudin, Pengantar Ilmu Tasawuf, (Serang: A-Empat, 2015), h. 75.
25
Wasalmi, “Mahabbah dalam Tasawuf Rabi’ah Al-Adawiyah”, Sulesana, Vol. 9, No. 2,
2014, h. 84.
26
Ibid.

12
juga ditolak, karena kesenangan duniawi itu akan memalingkan perhatian pada
akhirat.27
Kecintaan Rabi’ah al-Adawiyah kepada Tuhan, antara lain juga tertuang
dalam syair-syair berikut ini;28

‫الهي انارت النجوم و نامت العيون وغلقت الملوك ابوابها وخال كل ﺣبيﺐ‬
‫بحبيبه وهذا مقامي بين يديك‬
Artinya:
"Ya Tuhan bintang di langit telah gemerlapan, mata telah bertiduran,
pintu-pintu istana telah dikunci dan tiap pecinta telah menyendiri dengan
yang dicintainya dan inilah aku berada di hadirat-Mu”.
‫ فارﺣم اليوم مذنبا قد اتاكا‬.‫يا ﺣبيﺐ القلبى مالى سواكا‬
‫ قد ابى القلﺐ ان يحﺐ سواكا‬.‫يا رجاءي وراﺣتى وسرورى‬
Artinya:
“Buah hatiku, hanya Engkaulah yang kukasihi. Beri ampunlah
pembuat dosa yang datang ke hadirat-Mu. Engkaulah harapanku,
kebahagianku dan kesenanganku. Hatiku telah enggan mencintai selain dari
Engkau".

Dan ada pula doa yang terkenal dan yang pernah diucapkan oleh Rabi’ah
sebagai perwujudan cinta dan rindu seorang sufi terhadap Tuhannya, hingga
baginya tak ada nafas dan detak jantung kecuali untuk merindudambakan
pertemuan dengan Sang penciptanya. Salah satu syairnya pula yang terkenal:
“Tuhan
Apapun karunia-Mu untukku di dunia
Hibahkan pada musuh-musuh-Mu
Dan apapun karunia-Mu untukku di akhirat
Persembahkan pada sahabat-sahabat-Mu
Bagiku cukup Kau Tuhan Bila sujudku pada Mu karena takut nereka
Bakar aku dengan apinya
Dan bila sujudku pada-Mu karena damba surga
Tutup untukku surga itu
Namun, bila sujudku demi Kau semata,
Jangan palingkan wajah-Mu
Aku rindu menatap keindahan-MU”.29

“Aku cinta pada-Mu dua macam cinta; cinta rindu adapun cinta,
karena engkau berhak menerima cintaku.

27
Ibid.
28
Ibid., h. 84-85.
29
Ibid., h. 85.

13
Adapun cinta karena engkau……
Hanya engkau yang aku kenang……. tiada lain.
Adapun cinta….. karena engkau berhak menerimanya…
Agar engkau bukakan bagiku hijab.. .supaya aku dapat melihat
engkau…….
Pujian atas kedua perkara ini bukanlah bagiku……..
Bagimulah pujian untuk kesemuanya……..

Al-Ghazali memberikan pendapatnya atas syair tersebut mengatakan bahwa :


Barangkali yang dimaksud dengan cinta kerinduan ialah cinta akan Allah, karena
ikhsan dan ni’matnya diatas dirinya. “Karena Allah telah menganugerahi hidup,
sehingga ia dapat menyebut nama-Nya (Jalal), yang kian hari kian terbuka bagi
dirinya, Maka itulah cinta yang setinggi-tingginya (Kamal) dan cinta yang timbul
kepada Tuhan karena merenungi keindahannya ( Jamal al Rububiyah ). Itulah
yang pernah disabdakan Rasulullah dalam suatu hadits Qudsy : “Aku sediakan
bagi hambaku yang saleh barang yang belum pernah melihat telinga belum pernah
mendengar dan belum pernah terkhayal dalam hati seorang manusiapun juga”.30
Ungkapan lain dari Rabi’ah al-Adawiyah :
“Ya… Allah… apapun yang engkau karuniakan padaku di dunia
ini… berikanlah kepada Musuh-musuhMu
Dan apapun yang akan engkau karuniakan kepadaku
Di akhirat ini… berikanlah kepada Musuh-musuh Mu
Karena engkau sendiri…………….
Cukuplah bagiku”.31

Itulah sebagahagian kecil dari ungkapan Rabi’ah Adawiyah yang


menggambarkan rasa cinta kepada Tuhan, yaitu cinta yang memenuhi seluruh
jiwanya, sehingga ia menolak lamaran kawin dengan alasan bahwa dirinya hanya
milik Allah yang dicintainya, dan siapapun yang ingin kawin dengan dia, haruslah
meminta izin kepada Tuhan. Cinta yang dirintis oleh Rabi’ah ini menandai
memuncaknya ajaran cinta Tuhan dan juga memuncaknya pencapaian cinta
ma’rifat kearah ajaran ittihad (union mistik) dan Hulul dengan konsep cinta yang

30
Badrudin, Pengantar Ilmu Tasawuf, (Serang: A-Empat, 2015), h. 74.
31
Ibid., h. 74-75.

14
semata-mata anugerah Tuhan yang dirintis Rabi’ah berarti cinta mulai meningkat
jadi hal al-sufiyah, bukan lagi terbatas sebagai usaha hamba.32

32
Ibid., h. 75-76.

15
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari Pembahasan diatas Pemakalah dapat menyimpulkan beberapa poin
penting yakni:
Rabi'ah al-Adawiyah adalah sufi wanita yang memberi nuansa tersendiri
dalam dunia tasawuf dengan pengenalan konsep mahabbah. Sebuah konsep
pendekatan diri kepada Tuhan atas dasar kecintaan, bukan karena takut akan siksa
neraka ataupun mengharap surga. Cinta Rabiah merupakan cinta yang tidak
mengharap balasan.
Rabiah adalah seorang zahidah sejati. Beliau merupakan pelopor tasawuf
mahabbah, yaitu penyerahan diri total kepada “kekasih” (Allah) dan ia pun
dikenang sebagai ibu para sufi besar (The Mother of The Grand Master). Hakikat
tasawufnya adalah mencintaiAllahswt
Cinta Ilahi dalam pandangan kaum sufi memiliki nilai tertinggi. Bahkan
kedudukan mahabbah dalam sebuah maqamat sufi tak ubahnya dengan maqam
ma’rifat, atau antara mahabbah dan ma’rifat merupakan kembar dua yang satu
sama lain tidak bisa dipisahkan.
B. Saran
Setelah membuat makalah ini, pemakalah berharap agar setiap mahasiswa
Jurusan Pendidikan Agama Islam pada khususnya dan para pembaca pada
umumnya untuk selalu menambah wawasan dan pengetahuan dengan membaca
karya-karya tulis yang dapat menambahkan wawasan serta pengetahuan para
pembaca. Semoga makalah ini dapat memotivasi kita semua untuk dapat belajar
membuat karya tulis yang baik dan benar.

16
DAFTAR PUSTAKA

Badrudin. (2015). Pengantar Ilmu Tasawuf. Serang: A-Empat.

Bangun Ahmad dan Rayani. (2015). Akhlak Taswuf, Jakarta: PT Raja Grafindo
Persada.
Nata Abuddin,(2001). Ilmu Kalam, Filsafat dan Tasawuf, Jakarta: PT Raja
Grafindo
Smith. (1997). Rabi’ah Pergulatan Spiritual Perempuan. Surabaya: Risalah Gusti

Sururin. (2002). Rabi’ah Al-Adawiyah Hubb Al Ilahi. Jakarta: PT Raja Grafindo


Persada.

Wasalmi. (2014). Mahabbah dalam Tasawuf Rabi'ah Al-Adawiyah. Sulesana, Vol.


9, No. 2, 81-87.
Smith. (1997). Rabi’ah Pergulatan Spiritual Perempuan. Surabaya: Risalah Gusti

17