Anda di halaman 1dari 24

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Manusia merupakan makhluk vertebrata yang memiliki tulang


belakang yang membantu menyokong kerangka tubuh. Tulang belakang
berfungsi juga untuk membentuk postur tubuh. Seringkali tulang belakang
terabaikan kepentingannya karena merupakan bagian yang kurang terlihat.
Hal ini sangat disayangkan karena banyak orang menjadi tidak peduli akan
bentuk serta kekuatan tulang belakangnya. Tak sedikit dari mereka yang
mengalami kelainan pada tulang belakang. Kelainan pada tulang belakang
bermacam-macam bentuknya, salah satunya adalah lordosis. Lordosis adalah
kelainan pada vertebra lumbalis yang mengalami deviasi secara berlebihan
kebagian anterior. Lordosis dapat disebabkan karena aktifitas dan sikap
duduk yang tidak benar. Orang yang mengalami kelainan ini, pinggangnya
terlihat lebih menonjol kedepan. Hal ini dapat mengakibatkan timbulnya
berbagai gejala, seperti nyeri punggung bawah dan mengganggu pergerakan
penderita, serta dapat juga menimbulkan gangguan eliminasi urin dan alvi.
Meski demikian, masih banyak masyarakat yang tidak memperdulikan atau
bahkan tidak mengetahui penyakit ini, dan baru memeriksakan dirinya setelah
rasa sakit yang dialaminya sudah sangat mengganggu. Berdasarkan hal
tersebut, penulis tertarik untuk mengangkat judul “Asuhan Keperawatan Pada
Klien Dengan Lordosis”.

B. Rumusan Masalah
1. Apa definisi lordosis?
2. Apa saja etiologi lordosis?
3. Bagaimana patofisiologi lordosis?
4. Apa saja manifestasi klinis lordosis?
5. Apa saja klasifikasi lordosis?
6. Apa saja komplikasi yang dapat muncul pada penderita lordosis?

1
7. Bagaimana penatalaksanaan pasien dengan lordosis?
8. Apa saja pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan pada pasien
dengan lordosis?
9. Bagaimana cara mencegah terjadinya lordosis?
C. Tujuan Penulisan
1. Tujuan umum

Mengetahui konsep dasar medis dan asuhan keperawatan pada anak


dengan retardasi mental

2. Tujuan khusus
a. Mengetahui definisi lordosis
b. Mengetahui etiologi lordosis
c. Mengetahui patofisiologi lordosis
d. Mengetahui manifestasi klinis lordosis
e. Mengetahui klasifikasi lordosis
f. Mengetahui komplikasi yang dapat muncul pada penderita lordosis
g. Mengetahui penatalaksanaan pasien dengan lordosis
h. Mengetahui pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan pada
pasien dengan lordosis
i. Mengetahui cara mencegah terjadinya lordosis

2
BAB II
KONSEP MEDIS
A. Anatomi Fisiologi

Tulang belakang (kolumna vertebralis) adalah pilar yang kuat,


melengkung dan dapat bergerak, serta berperan menopang tengkorak, dinding
dada, dan ekstremitas atas, melindungi medulla spinalis. Tulang belakang
terdiri dari sejumlah vertebra yang dihubungkan oleh discus intervertebralis
dan beberapa ligamentum. Setiap vertebra terdiri dari tulang spongiosa yang
terisi dengan sumsum tulang merah dan dilapisi oleh selapis tipis tulang
padat.

Ruas tulang belakang dibentuk oleh 33 os vertebra yang tersusun


dari atas kebawah mulai dari leher sampai ke tulang ekor. Meliputi :

Pada manusia, tulang belakang terbagi atas lima bagian, yaitu:

1. 7 ruas tulang leher (vertebrae cervicalis) yang mendukung bagian leher


2. 12 ruas tulang punggung ( vertebrae dorsalis ) yang menghubungkan
tulang rusuk
3. 5 ruas tulang pinggang (vertebrae lumbaris ) yang merupakan bagian
terlemah pada tulang punggung, namun tulangnya merupakan tulang
yang terbesar diantara tulang lainnya
4. 5 ruas tulang kelangkang (sacrum vertebrae ) merupakan potongan tulang
pelindung yang menghubungkan bagian punggung dengan tulang
panggul
5. 4 ruas tulang ekor (vertebrae cocigues ) adalah akhir dari tulang
belakang, tulang ini terdiri dari tulang punggung yang sangat kecil dan
menyatu pada sumbu yang sama.
Kolumna vertebralis adalah sebuah struktur lentur yang dibentuk
oleh sejumlah tulang yang disebut vertebra atau ruas tulang belakang.
Diantara tiap dua ruas tulang pada tulang belakang terdapat bantalan tulang
rawan. Panjang rangkaian tulang belakang pada orang dewasa dapat

3
mencapai 57-67cm. seluruhnya terdapat 33 ruas tulang, 24 buah diantaranya
adalah tulang-tulang terpisah dan 9 ruas sisanya bergabung membentuk 2
tulang.
Fungsi columna vertebralis adalah :
1. Menyangga berat kepala dan batang tubuh
2. Memungkinkan pergerakan kepala dan batang tubuh
3. Melindungi medulla spinalis
4. Memungkinkan keluarnya nervus spinalis dari canalis spinalis
5. Tempat perlekatan otot-otot
Vertebra yang khas terdiri dari corpus vertebra dan arcus vertebra.
Corpus vertebra adalah bagian ventral yang member kekuatan pada columna
vertebralis dan menanggung berat tubuh. Arcus vertebra adalah bagian dorsal
vertebra yang terdiri dari pediculus arcus vertebra dan lamina arcus vertebra.
Pediculus arcus vertebra adalah taju pendek yang kokoh dan menghubungkan
lengkung pada corpus vertebra, incisura vertebralis merupakan torehan pada
pediculus arcus vertebra. Incisura vertebralis superior dan incisura vertebralis
inferior pada vertebra yang bertetangga membentuk sebuah foramen
intervertebral. Pediculus arcus vertebra menjorok kearah dorsal untuk
bertemu dengan dua lempeng tulang yang lebar dan gepeng yaitu lamina
arcus vertebra. Foramen vertebra berurutan pada columna vertebralis yang
utuh membentuk canalis vertebralis yang berisi medulla spinalis, meninges,
jaringan lemak,akar saraf, dan pembuluh.
Tulang-tulang yang menyusun rangka tubuh manusia terdiri atas
tiga kelompok besar, yaitu tulang tengkorak, tulang badan, dan tulang
anggota gerak. Tulang punggung berfungsi sebagai alat pelindung
sekumpulan sistem saraf yang disebut sistem saraf pusat. Tulang belakang
berbentuk tulang pendek dan tulang berjumlah 33 ruas.
Ruas-ruas tulang belakang membentuk sumbu tubuh yang tidak
lurus. Jika dilihat dari samping, tulang belakang berbentuk melengkung.
Lengkungan ini berfungsi untuk menunjang keseimbangan badan. Ruas
tulang belakang saling berhubungan melalui saluran di tengah setiap ruas.

4
Saluran tersebut melindungi sumsum tulang belakang yang terdapat di dalam
sepanjang tulang belakang.
B. Definisi Lordosis
Lordosis adalah kondisi dimana lumbal spinalis atau tulang
belakang tepat diatas bokong melengkung ke dalam. Sedikit kelengkungan
lordotik adalah normal, terlalu banyak kelengkungan lordotik disebut
lordosis. Lordosis adalah kebalikan dari kifosis. Tulang belakang yang
normal jika dilihat dari belakang akan tampak lurus, lain hal nya pada tulang
belakang penderita lordosis akan tampak bengkok terutama di punggung
bagian bawah.
Lordosis adalah kelainan pada vertebra lumbalis yang mengalami
deviasi secara berlebihan kebagian anterior. Orang yang mengalami kelainan
ini, pinggangnya terlihat lebih menonjol kedepan. Lordosis bisa disebabkan
karenaperut penderita yang terlalu besar (obesitas atau kehamilan), riketsia,
atau kebiasaan yang salah. Hal ini dapat mengakibatkan timbulnya berbagai
gejala, seperti nyeri punggung bawah dan mengganggu pergerakan penderita,
serta dapat juga menimbulkan gangguan eliminasi urin dan alvi.
Lordosis adalah tulang belakang yang konkaf dan abnormal yang
biasa juga disebut punggung pelana.
Lordosis adalah penekanan ke arah dalam kuvatura servikal lumbal
melebihi batas fisiologis.Biasanya terlihat cekung pada daerah
pinggang.Lordosis banyak terjadi pada wanita dibandingkan dengan pria.
Lordosis adalah tulang belakang membebek atau
kurvatura/pembengkokan tulang belakang bagian pinggang yang berlebihan.
Lordosis adalah salah satu bentuk kelainan tulang belakang dimana tulang
cervical dan thorax melengkung ke arah depan sehingga penderita tampak
seperti sedang membusungkan dada. Lordosis ini sering juga disebut
swayback atau saddle back.
C. Etiologi Lordosis

5
Lordosis adalah salah satu kondisi khusus pada tulang yang bisa
terjadi mulai dari anak-anak, orang dewasa hingga orang tua. Pada anak-anak
biasanya kondisinya memang tidak terlalu terlihat, dan akan terlihat lagi
ketika sudah dewasa. Kondisi ini akan menjadi lebih menyakitkan sesuai
dengan pertambahan usia. Berikut ini adalah beberapa penyebab lordosis dari
berbagai faktor:

1. Kondisi tubuh yang memang sudah buruk sejak anak-anak hingga orang
dewasa. Berbagai kebiasaan buruk saat duduk maupun berdiri akan
memperparah kondisi. Sikap tubuh yang salah merupakan penyebab
nyeri pinggang dan kelainan tulang belakang yang sering tidak disadari
oleh penderitanya. Terutama sikap tubuh yang menjadi kebiasaan.
Kebiasaan seseorang, seperti duduk, berdiri, tidur, mengangkat beban
pada posisi yang salah dapat menimbulkan nyeri pinggang.
2. Aktivitas berat. Selain sikap tubuh yang salah yang seringkali menjadi
kebiasaan, beberapa aktivitas berat juga dapat menimbulkan lordosis,
misalnya:
a. Jika berdiri dalam waktu yang sangat panjang, maka akan terjadi
pergeseran pada tulang belakang bagian pinggang. Lordosis akan
lebih terlihat pada mereka yang memiliki otot pada bagian pinggang
lemah.
b. Melakukan aktivitas dengan posisi berdiri lebih dari 1 jam dalam
sehari.
c. Melakukan aktivitas dengan posisi duduk yang monoton lebih dari 2
jam dalam sehari.
d. Naik turun anak tangga lebih dari 10 anak tangga dalam sehari.
e. Berjalan lebih dari 3,2 km dalam sehari dapat pula meningkatkan
resiko timbulnya nyeri pinggang dan resiko terjadinya kelainan
bentuk tulang punggung.
3. Masalah berat badan yang lerlebihan sehingga bisa menyebabkan tubuh
tidak kuat menahan beban

6
4. Gangguan yang terjadi pada bagian tulang belakang yang menyebabkan
lordosis yaitu:
a. Spondylolisthesis adalah kondisi di mana tulang (vertebra) di tulang
belakang slip keluar dari posisi yang tepat ke tulang di bawahnya
atau suatu kondisi dimana tulang belakang tergelincir kedepan.
b. Achondroplasia adalah gangguan di mana tulang tumbuh secara
tidak normal yang dapat mengakibatkan perawakan pendek seperti
kekerdilan. Gangguan pertumbuhan tulang yang menyebabkan jenis
yang paling umum dari dwarfisme.
c. Osteoporosis adalah penyakit tulang yang paling umum di mana
kepadatan tulang hilang mengakibatkan kelemahan tulang dan
meningkatkan kemungkinan fraktur Perubahan status keschatan
dapat menimbulkan keadaan yang tidak optimal terdapat organ atau
bagian tubuh yang mengalami kelelahan atau kelemahan sehingga
dapat mempengaruhi pembentukan postur tubuh.
5. Jenis kelamin
Lordosis lebih sering terjadi pada perempuan, terutama saat dalam masa
kehamilan. Pada saat hamil, tubuh perempuan akan menghasilkan lebih
banyak hormon relaksin untuk meregangkan otot dan sendi daerah
pinggul sehingga tulang punggung akan cenderung lebih melengkung ke
depan mengikuti beban dari janin.
6. Nutrisi
Nutrisi merupakan bahan untuk menghasilkan yang digunakan dalam
membantu proses pengaturan keseimbangan organ, otot, tendon, ligamen
dan persendian. Apabila status nutrisi kurang, kebutuhan energi pada
organ tersebut akan kurang sehingga dapat proses keseimbangan.
7. Gaya hidup
Perilaku gaya hidup dapat membuat seseorang jadi lebih baik atau
bahkan sebaliknya menjadi buruk. Seseorang yang memiliki gaya hidup
yang tidak sehat misalnya selalu menggunakan alat bantu dalam

7
melakukan kegiatan sehari-hari, dapat mengalami ketergantungan
sehingga postur tubuh tidak berkcmbang dengan baik.
Penggunaan alas kaki dengan hak tinggi juga akan meningkatkan resiko
lordosis. Hak tinggi menyebabkan pusat gravitasi tubuh berpindah ke
depan dan peningkatan kelengkungan tulang punggung.
D. Patofisiologi

Kolumna vertebralis dapat dianggap sebagai sebuah batang elastis


yang tersusun atas banyak unit rigid (vertebrae) dan unit fleksibel (diskus
intervertebralis) yang diikat satu sama lain oleh kompleks sendi faset,
berbagai ligament dan otot paravertebralis. Konstruksi punggung normal
yang unik memungkinkan fleksibilitas sementara disisi lain tulang punggung
memberikan perlindungan yang maksimal terhadap sumsum tulang belakang.
Lengkungan tulang belakang akan menyerap goncangan vertical pada saat
berlari atau melompat. Batang tubuh membantu menstabilkan tulang
belakang. Otot-otot abdominal dan toraks sangat penting pada aktivitas
mengangkat beban. Kurva anterior pada spinal lumbal yang melengkung
berlebihan pada saat pertumbuhan di dalam janin dapat memicu terjadinya
lordosis (Brunner and Suddarth, 2002) Posisi duduk yang salah dapat
menyebabkan pertumbuhan dan posisi tulang individu mengalami kelainan.
Kelainan tulang ini disebabkan oleh kebiasaan duduk yang salah. Lordosis ini
paling sering terlewatkan diantara ketiga bentuk kelainan tulang punggung.
Bahkan lordosis ringan cenderung memberikan penampilan gagah. Namun
penderita lordosis ini akan sering mengalami sakit pinggang.

Tidak ditemukan sumber yang jelas mengenai patomekanisme


terjadinya lordosis. Namun hal-hal yang berkaitan dan merupakan faktor
resiko terjadinya lordosis pada seseorang adalah usia, jenis kelamin,
kegemukan, kehamilan, posturtubuh yang buruk, memakai alas kaki yang
tinggi, etnis, pekerjaan, aktivitas/olahraga, dan Indeks Massa Tubuh
seseorang. Lordosis menyebabkan terjadinya pembengkokan pada tulang dan
penonjolan bokong. gejala lain berfariasi sesuai dengan keadaan usia dan

8
kesehatan seseorang.biasanya ditandai dengan salah satu bentuk kelainan
tulang punggung, di mana punggung yang seharusnya berberntuk kurva dan
simetris antara kiri dan kanan ternyata melengkung kedepan melebihi batas
normal.

E. Manifestasi Klinis
1. Kelelahan
Adanya kelainan dalam kelengkungan tulang belakang ke depan
mengakibatkan transmisi berat badan kearah depan tubuh, sehingga
penderita merasakan mudah lelah.
2. Nyeri punggung ringan
3. Kekakuan pada tulang belakang
Penderita mungkin mengeluh bahwa tidak dapat menekuk baik maju atau
mundur. Jika pasien dapat menekuk sangat sulit dan menyakitkan
4. Postur tubuh
a. Punggung tampak menonjol kebelakang
b. Terdapat lengkungan bermakna antara punggung dan bokong
c. Postur tulang belakang yang cekung
d. Perut menonjol ke depan
e. Pantat menonjol
5. Pada kasus ringan tidak terdapat tanda, gejala dan keluhan
6. Pada kasus berat dapat terjadi gejala antara lain; kesulitan bernapas, mati
rasa, kesemutan, nyeri sengatan listrik
F. Klasifikasi
Menurut Nation Lordosis bisa menyerang pada usia muda maupun tua. Hal
ini disebabkan dari berbagai alasan dan penyebab dari masing-masing pasien.
Tedapat 5 tipe utama lordosis , antara lain:
1. Postural Lordosis
Kondisi ini terjadi karena berat yang berlebih di abdomen dan kurangnya
kondisi otot abdomen dan tulang belakang. Ketika seseorang membawa
beban yang berlebih di bagian depan (area abdomen) hal ini akan

9
menarik tubuh bagian belakang ke depan. Ketika otot abdomen dan otot
tulang belakang melemah, maka tidak dapat memperthankan tulang
belakang dan menarik tulang belakang kedepan, sehingga membentuk
kurvatura (kurva dengan arah melengkung kedepan).
2. Congenital/ traumatic lordosis
Trauma yang terjadi pada tulang belakang menyebabkan rasa nyeri pada
tulang belakang. Hal ini dapat menyebabkan penderita cenderung untuk
mengistirahatkan daerah yang mengalami trauma (fraktur) dan
membatasi pergerakan, agar rasa sakit pada tulang belakang rendah. Hal
tersebut dapat mengakibatkan otot penyangga tulang belakang menjadi
lemah dan terjadi perubahan pada tulang belakang. Pada anak-anak ini
sering terjadi akibat cedera olahraga, atau jatuh dari daerah tinggi.
3. Post surgical laminectomy hyperlordosis
Laminektomi adalah prosedur pembedahan di mana bagian dari vertebra
(tulang belakang) dikeluarkan untuk memberikan akses ke sumsum
tulang belakang atau saraf akar. Bila ini dilakukan selama beberapa
tingkat di tulang belakang, dapat menyebabkan tulang belakang menjadi
tidak stabil dan meningkatkan kurva normal ke posisi hyperlordotic
(terlalu melengkung). Pada orang dewasa hal ini jarang terjadi, namun
bisa terjadi pada anak-anak dengan tumor sumsum tulang belakang
setelah operasi untuk mengangkat tumor.
4. Neuroomuscular lordosis
Mencakup berbagai macam kondisi / gangguan yang dapat menyebabkan
berbagai jenis masalah kelengkungan tulang belakang
5. Lordosis secondary to Hip Flexion contracture
Terjadi akibat mcontracture dari sendi pinggul yang menyebabkan tulang
belakang ditarik keluar dari garis tengah tubuh. Kontracture dapat
disebabkan oleh berbagai hal antara lain; infeksi, cedera, atau masalah
ketidakseimbangan otot dari beberapa gangguan yang berbeda.
G. Komplikasi
1. Cidera neurologis (4-5%)

10
2. Kebocoran cerebrospinal (samapai 7,4%)
3. Pseudoarthrosis (10-22%)
4. Koreksi yang inadekuat (5-11%)
H. Penatalaksanaan
1. Penatalaksanaan Konservatif

Perbaikan kelengkungan sejak dini dapat membantu mencegah


komplikasi di kemudian hari, seperti radang sendi dan sakit punggung
kronis. Penatalaksanan untuk lordosis tergantung pada tingkat keparahan
kelengkungan dana dan gejala lain di antaranya adalah :

a. Obat-obatan seperti NSAID atau penghilang rasa sakit dapat


digunakan untuk mengurangi rasa sakit atau bengkak jika ada.
b. Jika pasien mengalami gejala atau ketidaknyamanan, maka pasien
dapat mengikuti program terapi fisik dimana latihan bisa dilakukan,
di bawah bimbingan terapis, untuk memperkuat otot-otot dan
meningkatkan jangkauan gerak.
c. Yoga (untuk meningkatkan kesadaran tubuh, kekuatan, fleksibilitas,
dan rentang gerak)
d. Penurunan berat badan
e. Operasi (pada kasus yang berat)
f. Jika lordosis ringan, maka pengobatan biasanya tidak diperlukan.
Bagi kebanyakan orang, lordosis tidak menyebabkan masalah kesehatan
yang signifikan jika tidak ditangani. Namun, karena tulang belakang
bertanggung jawab untuk banyak gerakan dan fleksibilitas maka sangat
penting untuk menjaga tulang belakang yang sehat. Peningkatan risiko
masalah dengan tulang belakang, pinggul korset, kaki, dan organ internal
dapat terjadi apabila penanganan tidak dilakukan.
2. Penatalaksaan Operatif
Untuk kasus lordosis yang parah, operasi diperlukan dimana tulang
belakang diluruskan menggunakan batang logam, sekrup atau kait.

11
Selama operasi, pencangkokan tulang juga bisa dilakukan untuk
merangsang pertumbuhan baru dan untuk menstabilkan tulang belakang.
3. Penatalaksanaan Terapi Fisik Lordosis
a. Mengeliat (Mad Cat)

Sikap awal : Merangkak

Pelaksanaan :

1) Mendorongkan punggung bagian bawah ke atas dengan


kekuatan otot perut dan patat, tundukan kepala sambil menarik
nafas.
2) Kembali ke posisi semula dengan menghembuskan nafas.
b. Menekuk lutut ke dada (Knee - chest curl)

Sikap awal : Telentang dengan lutut ditekuk membentuk sudut, kaki


lurus pada lantai, lengan lurus di samping bahu, siku, lengan lurus di
samping bahu, siku ditekuk 90 derajat, telapak tangan ke atas.

Pelaksaanaan :

1) Bawa lutut ke arah dada sambil mendorong dengan otot perut


dan menekuk bagian tulang punggung.
2) Usahakan lutut menyentuh dada, bahu tahan. Kemudia luruskan
kembali ke posisi awal.
c. Abdominal Curl

Sikap awal : Telentang, siku di samping atas tubuh dan ditekuk 90


derajat, lutut ditekuk dan kaki di lantai

Pelaksanaan :

1) Mulai dengan kepala, tekuk tubuh perlahan-lahan ke muka


kurang lebih 45 derajat, anggkat punggung sebagian dilantai.
2) Control dan luruskan perlahan-lahan.
I. Pemeriksaan Penunjang

12
1. Pemeriksaan fisik dengan Uji Adams Forward Bend dilakukan
dengan meminta pasien membungkuk kedepan dengan lengan
ekstensi dan lutut lurus (Setiap peningkatan atau penurunan lordosis dan
kifosis normal dilihat dari samping).
2. Paramedis akan melakukan pemeriksaan fisik untuk menentukan posisi
kelainan tulang belakang. Anak mungkin akan diminta untuk
membungkuk ke depan, ke samping, dan untuk berbaring di atas meja
sehingga tulang belakang dapat diperiksa dalam berbagai posisi. Jika
kurva lordotic fleksibel (ketika anak membungkuk ke depan kurva
berbalik sendiri), umumnya tidak menjadi perhatian. Jika kurva tidak
bergerak, evaluasi medis dan pengobatan yang diperlukan. (Benjamin et
al, 2014).
3. Tes-tes lain mungkin diperlukan, terutama jika kurva tampaknya "tetap"
(tidak ditekuk). Tes diagnostik yang dapat dilakukan, yakni :
a. Rontgen tulang belakang lumbosakral atau spine x-ray
X-Ray Proyeksi Foto polos : Harus diambil dengan posterior dan
lateral penuh terhadap tulang belakang dan krista iliaka dengan
posisi tegak, untuk menilai derajat kurva dengan metode Cobb dan
menilai maturitas skeletal dengan metode Risser. Kurva structural
akan memperlihatkan rotasi vertebra; pada proyeksi posterior-
anterior, vertebra yang mengarah ke puncak prosessus spinosus
menyimpang kegaris tengah; ujung atas dan bawah kurva
diidentifikasi sewaktu tingkat simetri vertebra diperoleh kembali.
b. Pengukuran dengan skoliometer (alat untuk mengukur kelengkungan
tulang belakang)
Skoliometer adalah sebuah alat untuk mengukur sudut kurvaturai.
Cara pengukuran dengan skoliometer dilakukan pada pasien dengan
posisi membungkuk, kemudian atur posisi pasien karena posisi ini
akan berubah-ubah tergantung pada lokasi kurvatura, sebagai contoh
kurva dibawah vertebra lumbal akan membutuhkan posisi
membungkuk lebih jauh dibanding kurva pada thorakal. Kemudian

13
letakkan skoliometer pada apeks kurva, biarkan skoliometer tanpa
ditekan, kemudian baca angka derajat kurva. Pada screening,
pengukuran ini signifikan apabila hasil yang diperoleh lebih besar
dari 5 derajat, hal ini biasanya menunjukkan derajat kurvatura > 200
pada pengukuran cobb’s angle pada radiologi sehingga memerlukan
evaluasi yang lanjut. MRI (jika ditemukan kelainan saraf atau
kelainan pada rontgen).
J. Pencegahan
Pencegahan meliputi: pencegahan primer (agar tidak terkena lordosis),
pencegahan sekunder (bertujuan agar lordosis ditemukan sedini mungkin, dan
agar dapat diketahui oleh seluruh aspek masyarakat). Pencegahan primer dan
sekunder meliputi :
1. Duduk dengan posisi yang benar
2. Berolahraga teratur
3. Diet yang cukup kalsium dan Vit D

14
BAB III

KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

A. Pengkajian
1. Keluhan Utama :
Gejala lordosis pada setiap orang berbeda, namun gejala yang paling
sering muncul adalah pantat penderitanya terlihat sangat menonjol.
Selain itu, penderitanya juga akan mengalami gangguan neuromuskular,
distrofi otot dan gangguan displasia pinggul. Gejala lain yang sering
dialami oleh seorang penderita lordosis adalah terjadinya perubahan pada
kandung kemih, rasa sakit pada punggung, dan rasa nyeri pada kaki. Jika
ternyata penderita lordosis mengalami gejala ini, maka sebaiknya segera
diperiksakan ke dokter untuk mendapatkan evaluasi medis.
2. Data Demografi :
Penyakit lordosis ini biasanya banyak ditemukan pada perempuan,
terutama pada masa kehamilan. Pada saat hamil, tubuh perempuan akan
menghasilkan lebih banyak hormon relaksin untuk meregangkan otot dan
sendi daerah pinggul sehingga tulang punggung akan cenderung lebih
melengkung ke depan mengikuti beban dari janin. Lordosis terjadi lebih
banyak pada wanita daripada laki-laki dikarenakan indeks massa tubuh
yang dimiliki laki-laki lebih tinggi (Murrie, et al. 2003). Beberapa
sumber menyebutkan, masih diperdebatkan apakah usia berpengaruh
pada lordosis. Lordosis bisa sembuh dengan bertambahnya usia, atau
bahkan lebih parah dan atau malah tidak berefek sama sekali dengan
bertambahnya usia.
3. Riwayat Perkembangan :
Riwayat perkembangan neonates saat kehamilan harus diperhatikan,
misalnya diet yang cukup kalsium dan vitamin D.
4. Riwayat Sosial dan kebiasaan:
Pekerjaan-pekerjaan yang meningkatkan tekanan pada punggung dapat
meningkatkan resiko terjadinya lordosis. Kebiasaan duduk yang salah

15
sejak kecil bisa berdampak pada pertumbuhan tulang dengan lordosis.
Alas kaki dengan hak tinggi akan meningkatkan resiko lordosis,karena
hak tinggi menyebabkan pusat gravitasi tubuh berpindah ke depan dan
peningkatan kelengkungan tulang punggung. Namun lordosis juga dapat
disebabkan karena bawaan lahir.
5. Riwayat Diet (nutrisi) :
Diet dengan kaya calcium dan vitamin D dapat mengurangi resiko tinggi
lordosis.
6. Riwayat kesehatan masa lalu :
a. Achondroplasia (gangguan di mana tulang tumbuh secara tidak
normal yang dapat mengakibatkan perawakan pendek seperti
kekerdilan).
b. RiwayatSpondylolisthesis (kondisi di mana tulang (vertebra) di
tulang belakang slip keluar dari posisi yang tepat ke tulang di
bawahnya atau suatu kondisi dimana tulang belakang tergelincir
kedepan).
7. Riwayat kesehatan sekarang :
Sejak kapan timbul keluhan, lalu apakah ada riwayat trauma. Pasien
dengan lordosis biasanya mempunyai karakteristik penonjolan cekungan
lumbal pada tulang belakang, perut cekung, pantat menonjol, dan
hiperekstensi lutut.
8. Riwayat Psikososial Spiritual.
Kaji respon emosi klien terhadap penyakit yang dideritanya, peran klien
dalam keluarga dan masyarakat serta respon atau pengaruhnya dalam
kehidupan sehari - hari, baik dalam keluarganya maupun dalam
masyarakat.
9. Pemeriksaan Fisik :
a. Mengkaji skelet tubuh
b. Mengkaji tulang belakang Lordosis (membebek, kurvatura tulang
belakang bagian pinggang berlebihan)

16
c. Mengkaji system persendian Luas gerakan dievaluasi baik aktif
maupun pasif, deformitas, stabilitas, dan adanya benjolan, adanya
kekakuan sendi.
d. Mengkaji sistem otot Kemampuan mengubah posisi, kekuatan otot
dan koordinasi, dan ukuran masing-masing otot. Lingkar ekstremitas
untuk mementau adanya edema atau atropfi, nyeri otot.
b. Mengkaji cara berjalan Pada saat inspeksi tulang belakang sebaiknya
baju pasien dilepas untuk melihat seluruh punggung, bokong dan
tungkai. Pemeriksaan kuevatura tulang belakang dan simetrisitas
batang tubuh dilakukan dari pandangan anterior, posterior, dan
lateral. Dengan berdiri dibelakang pasien, pehatikan setiap
perbedaan tinggi bahu dan krista iliaka. Lipatan bokong normalnya
simetris. Simetrisitas bahu, pinggul, dan kelurusan tulang belakang
diperiksa ketika pasien dalam posisi berdiri tegak dan membungkuk
kedepan.
c. Status Lokal
1) Look : penonjolan pantat (membebek, kurvatura tulang bagian
pinggang yang berlebihan), deformitas tulang belakang bagian
bawah yang cekung.
2) Feel : nyeri.
3) Move : penurunan rentang gerak sendi.
10. Pemeriksaan penunjang
a. Rontgen tulang belakang : Nampak melengkung kedepan
b. MRI (jika ditemukan kelainan saraf atau kelainan pada rontgen).
B. Diagnosa
1. Nyeri b.d penjepitan saraf tulang belakang
2. Gangguan mobilitas fisik b.d kontraktur.
3. Gangguan body image b.d perubahan bentuk tulang.
4. Resiko cedera b.d standing alignment dan sitting alignment yang jelek.
C. Intervensi
1. Nyeri b.d penjempitan saraf tulang belakang

17
NOC NIC
 Comfort level Pain Manajemen
 Pain control 1. Kaji tingkat nyeri
 Pain level 2. Monitor kepuasan pasien terhadap
Setelah dilakukan tindakan manajemen nyeri
keperawatan selama …. nyeri kronis 3. Tingkatkan istirahat dan tidur yang
pasien berkurang dengan kriteria adekuat
hasil: 4. Lakukan tehnik nonfarmakologis

 Tidak ada gangguan tidur (relaksasi, masase punggung)

 Tidak ada gangguan konsentrasi 5. Jelaskan pada pasien penyebab nyeri

 Tidak ada gangguan hubungan 6. Kolaborasi pemberian analgetik


interpersonal
 Tidak ada ekspresi menahan nyeri
dan ungkapan secara verbal
 Tidak ada tegangan otot

2. Gangguan mobilitas fisik b.d kontraktur

NOC NIC
 Joint Movement : Active Exercise therapy : ambulation
 Mobility Level 1. Kaji kemampuan pasien dalam
 Self care : ADLs mobilisasi

 Transfer performance 2. Monitoring vital sign

Setelah dilakukan tindakan sebelum/sesudah latihan dan lihat

keperawatan selama….gangguan respon pasien saat latihan

mobilitas fisik teratasi dengan kriteria 3. Berikan alat bantu jika klien

hasil: memerlukan.

 Klien meningkat dalam aktivitas 4. Bantu klien untuk menggunakan


fisik tongkat saat berjalan dan cegah

 Mengerti tujuan dari peningkatan terhadap cedera


5. Latih pasien dalam pemenuhan

18
mobilitas kebutuhan ADLs secara mandiri
 Memverbalisasikan perasaan dalam sesuai kemampuan
meningkatkan kekuatan dan 6. Dampingi dan bantu pasien saat
kemampuan berpindah mobilisasi dan bantu penuhi
 Memperagakan penggunaan alat kebutuhan ADLs.
Bantu untuk mobilisasi 7. Ajarkan pasien tentang teknik
ambulasi
8. Ajarkan pasien bagaimana merubah
posisi dan berikan bantuan jika
diperlukan
9. Konsultasikan dengan terapi fisik
tentang rencana ambulasi sesuai
dengan kebutuhan

3. Gangguan body image b.d perubahan bentuk tulang

NOC NIC

 Body image Body image enhancement


 Self esteem 1. Kaji secara verbal dan nonverbal
Setelah dilakukan tindakan respon klien terhadap tubuhnya
keperawatan selama …. gangguan body 2. Monitor frekuensi mengkritik
image pasien teratasi dengan kriteria dirinya
hasil: 3. Dorong klien mengungkapkan
perasaannya
 Body image positif
4. Fasilitasi kontak dengan individu
 Mampu mengidentifikasi kekuatan
lain dalam kelompok kecil
personal
5. Jelaskan tentang pengobatan,
 Mendiskripsikan secara faktual
perawatan, kemajuan dan prognosis
perubahan fungsi tubuh
penyakit
 Mempertahankan interaksi sosial

19
4. Resiko cedera b.d standing alignment dan sitting alignment yang jelek.

NOC NIC
Risk Kontrol Safety Behavior Setelah Environment Management (Manajemen
dilakukan tindakan keperawatan lingkungan)
selama…. Klien tidak mengalami injury 1. Identifikasi kebutuhan keamanan
dengan kriterian hasil: pasien, sesuai dengan kondisi fisik
 Klien terbebas dari cedera dan fungsi kognitif pasien dan
 Klien mampu menjelaskan riwayat penyakit terdahulu pasien
cara/metode untuk mencegah 2. Sediakan lingkungan yang aman
injury/cedera untuk pasien
 Klien mampu menjelaskan factor 3. Hindarkan lingkungan yang
risiko dari lingkungan/perilaku berbahaya (misalnya
personal memindahkan perabotan)

 Mampumemodifikasi gaya hidup 4. Pasang side rail tempat tidur

untuk mencegah injury 5. Sediakan tempat tidur yang

 Menggunakan fasilitas kesehatan nyaman dan bersih

yang ada 6. Tempatkan saklar lampu ditempat

 Mampu mengenali perubahan yang mudah dijangkau pasien.

status kesehatan 7. Berikan penerangan yang cukup


8. Anjurkan keluarga untuk
menemani pasien.
9. Pindahkan barang-barang yang
dapat membahayakan
10. Berikan penjelasan pada pasien
dan keluarga atau pengunjung
adanya perubahan status kesehatan
dan penyebab penyakit.

D. Implementasi

20
Implementasi dilakukan sesuai dengan intervensi yang telah
disusun, dan disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan pasien serta peralatan
yang dimiliki. Setiap implementasi disertai dengan evaluasi disetiap akhir
tindakannya.

E. Evaluasi
Evaluasi adalah tahap menilai apakah implementasi yang dilakukan
telah mencapai tujuan yang diharapkan dan apakah perlu ada perubahan pada
intervensi yang telah disusun. Pada klien dengan lordosis hal-hal yang
diharapkan dalam evaluasi adalah:
1. Nyeri hilang/berkurang
2. Tidak ada ekspresi menahan nyeri
3. Gangguan mobilitas fisik klien teratasi
4. Klien dapat melakukan aktivitas sehari-harinya secara mandiri
5. Body image positif
6. Klien tidak mengalami cidera

21
BAB IV

KESIMPULAN

A. Kesimpulan

Lordosis adalah kondisi dimana lumbal spinalis atau tulang


belakang tepat diatas bokong melengkung ke dalam. Lordosis dapat
disebabkan oleh kondisi tubuh yang memang sudah buruk sejak anak-anak
hingga orang dewasa. Berbagai kebiasaan buruk saat duduk maupun berdiri
akan memperparah kondisi, aktivitas berat, obesitas, Spondylolisthesis,
Achondroplasia, Osteoporosis, faktor jenis kelamin, faktor nutrisi dan gaya
hidup (seperti sering menggunakan sendal hak tinggi). Lordosis dapat
menimbulkan berbagai gejala seperti kelelahan, nyeri punggung ringan,
kekakuan pada tulang belakang, punggung tampak menonjol kebelakang,
terdapat lengkungan bermakna antara punggung dan bokong, postur tulang
belakang yang cekung, perut menonjol ke depan, pantat menonjol, pada kasus
berat dapat terjadi gejala antara lain; kesulitan bernapas, mati rasa,
kesemutan, nyeri sengatan listrik. Lordosis dapat menimbulkan komplikasi
seperti cidera neurologis, kebocoran cerebrospinal, sseudoarthrosis, koreksi
yang inadekuat. Penatalaksanaan lordosis dibagi menjadi penatalaksanaan
konservatif, operatif dan terapi fisik.

Diagnosa keperawatan yang dapat muncul pada pasien dengan


masalah lordosis diantaranya adalah :

1. Nyeri
2. Gangguan mobilitas fisik
3. Gangguan body image
4. Resiko cedera
B. Saran
1. Perawat hendaknya melakukan tindakan keperawatan menggunakan
proses keperawatan yang koprehensif agar terlaksana asuhan

22
keperawatan yang bermutu sesuai dangan apa yang di harapkan dan
selalu mendokumentasikan setiap melakukan tindakan.
2. Pasien diharapkan mampu memahami penyakit dan pengobatan yang
dialaminya serta mengikuti instruksi yang diberikan oleh petugas
kesehatan, agar sakit yang dialaminya bisa teratasi dan tidak mengalami
kekambuhan.
3. Diharapkan masyarakat untuk mengetahui dan memahami tentang
penyakit lordosis, sehingga dapat mencegah terjadinya penyakit tersebut
misalnya dengan olahraga teratur, mengonsumsi vit. D dan kalsium serta
menghindari aktifitas atau posisi duduk yang dapat menyebabkan
lordosis

23
DAFTAR PUSTAKA

Nurarif, Amin Huda & Hardhi Kusuma. 2015. Aplikasi Asuhan Keperawatan
Diagnosa Medis dan Nanda Nic-Noc Edisi Revisi Jilid 3.
Mediaction. Jogjakarta

https://id.scribd.com/dokument/360216818/T8-Lordosis-Kifosis-Skoliosis diakses
tanggal 15 Oktober 2019

https://www.academia.edu/33108590/MAKALAH_SISTEM_muskuloskeletal_1
diakses tanggal 15 Oktober 2019

24

Anda mungkin juga menyukai