Anda di halaman 1dari 13

MAKALAH SURVEILANS

KESEHATAN MASYARAKAT
“Vektor dan binatang pembawa penyakit”

Oleh :

FAJRIA PURNAMA RISDA


1811213033
Kelas : IKM.A3

Dosen Pengampu:
Vivi Triana, SKM, MPH.

PRODI ILMU KESEHATAN MASYARAKAT


FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS ANDALAS
2019
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, karena dengan rahmat dan
hidayah-Nya sehingga saya dapat menyusun makalah ini yang tentang “Vektor dan Binatang
Pembaya Penyakit” dengan lancar.

Penulisan makalah ini dimaksudkan untuk memenuhi tugas Mata kuliah Surveilans
Kesehatan Masyarakat. Selanjutnya saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya
kepada Ibu Vivi Triana, SKM, MPH. selaku dosen pembimbing mata kuliah ini dan kepada
segenap pihak yang telah memberikan bimbingan serta arahan selama penulisan makalah ini.
Saya berharap agar makalah ini dapat bermanfaat khususnya bagi saya selaku penulis dan
bagi para pembaca secara umumnya.

Saya menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini masih banyak kekurangan dan
masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, saya mengharapkan kritik dan saran dari pembaca
sehingga dalam pembuatan makalah selanjutnya menjadi lebih baik lagi. Semoga makalah ini
dapat bermanfaat bagi kita semua.

Padang, 24 Oktober 2019

Penulis

2
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .....................................................................................................................2


DAFTAR ISI....................................................................................................................................3
BAB I ..............................................................................................................................................4
PENDAHULUAN ...........................................................................................................................4
1.1 Latar Belakang .......................................................................................................................4
1.2 Rumusan Masalah ..................................................................................................................4
1.3 Tujuan Penulisan ....................................................................................................................4
BAB II..............................................................................................................................................5
PEMBAHASAN ..............................................................................................................................5
2.1 Definisi Vektor Penyakit ...................................................... Error! Bookmark not defined.
2.2 Macam – Macam Vektor dan Binatang Penganggu ............. Error! Bookmark not defined.
2.3 Vektor dan Permasalahnya ....................................................................................................6
2.4 Penyakit Akibat Vektor .........................................................................................................9
2.5 Langkah-langkah Analisis Data Surveilans Keseshatan ......................................................10
BAB III ..........................................................................................................................................12
PENUTUP......................................................................................................................................12
3.1 Kesimpulan...........................................................................................................................12
3.2 Saran .....................................................................................................................................12
DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................................................13

3
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Penyakit-penyakit di Indonesia yang ditularkan melalui serangga merupakan penyakit


endemis pada daerah tertentu, antara lain demam berdarah dengue (DBD), malaria, dan kaki
gajah. Akhir-akhir ini, muncul penyakit virus chikungunyah yang ditularkan melalui gigitan
nyamuk Aedes aegypti. Selain itu, juga terdapat penyakit saluran pencernaan, seperti disentri,
kolera, demam tifoid dan paratifoid yang ditularkan secara mekanis oleh lalat rumah.
Beberapa vektor yang sering ada di Indonesia adalah nyamuk, lalat, kutu, pinjal dan
tungau. Nyamuk yang menjadi vector penyakit penting di Indonesia yaitu genus culex,
anopheles, dan aedes. Genus lalat yang penting adalah musca. Peran kutu sebagai vector
belum definitif, akan tetapi karena ia menghisap darah, maka besar sekali kemungkinannya
bahwa kutu dapat menyebarkan penyakit. Pinjal yang pernah terkenal dimasa lalu adalah
pinjal tikus (xenopsylla cheopis), penyebaran penyakit pest, yang disebabkan bakteri
pasteurella pestis, saast ini penyakit pest sudah jarang didapat.
Pemutusan rantai penularan (mode of transmission) dari arthroodborne disease dapat
dilakukan dengan mempelajari cara penularan dari penyakit yang ada.

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana cara atau transmisi sebuah vektor saat menularkan penyakit ?
2. Apa saja metode yang digunakan dalam pengendalian dari vektor penyakit ?
3. Apa saja langkah-langkah analisis data pada surveilans kesehatan?

C. Tujuan Penulisan
1. Mengetahui cara penularan atau transmisi sebuah vektor saat menularkan penyakit
2. Mengetahui metode yang digunakan dalam pengendalian dari vektor penyakit
3. Mengetahui langkah-langkah analisis data surveilans kesehatan

4
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Vektor Penyakit


1. Vektor adalah antropoda yang dapat memindahkan atau mengeluarkan agen infection
dari sumber infeksi kepada host yang rentan (Adang, I).
2. Vektor adalah organisme hidup yang dapat menularkan agen penyakit dari satu hewan
ke hewan lain atau ke manusia (Budiman, C. 2006).
3. Vektor adalah seekor binatang yang membawa bibit penyakit dari seekor binatang
atau seorang manusia kepada binatang lainnya atau manusia lainnya (Adi , H.S.
1993).

B. Macam – Macam Vektor dan Binatang Pengganggu


Binatang pengganggu adalah binatang yang dapat mengganggu bahkan menyerang dan
menularkan penyakit terhadap manusia, binatang dan tumbuh-tumbuhan. Sebagian athropoda
bertindak sebagai vektor. Arthropoda adalah suatu phylum yang mempunyai ciri-ciri kakinya
beruas.( Arthorm= sendi, poda=kaki). Athropoda dibagi menjadi empat kelas:
1. Kelas Crustacea (kaki 10), misalnya udang.
2. Kelas Myriapoda: chilopoda dan dipoppoda, misalnya kaki seribu.
3. Kelas Arachnoida (kaki 8), misalnya tungau.
4. Kelas Hexapoda, misalnya nyamuk.
Sedangkan binatang pengganggu adalah klasifikasi lain dari hewan Antropoda namun
dapat juga menjadi vektor, contohnya tikus, kecoa, kutu dan hewan lainnya.
Klasifikasi arthropodborner disease menurut J.E.Park
Arthropodborner Penyakit yang ditularkan
Malaria, filarial, yellow fever, ensefalitis, dengue
1. Nyamuk
haemofhagic fever.
2. Lalat rumah Demam tifoid dan paratifoid, diare, disentri, kolera,
gastroenteritis, amebiasis, infestasi, helmintik,
yaws, poliomyelitis, konjungtivitis, trakoma,
antraks.
Kalaazar, oriental sore, oraya fever, sandfly fever.
3. Lalat pasir
Sleeping sickness
4. Lalat tsetse
Epidemic typus, relapsing fever, trench fever.
5. Tuma
Bubonic plague, chiggerosis, endemic thypus,
6. Pinjal tikus
hymenolepsi diminuta.
Onkosersiasis
7. Lalat hitam

5
Chagus disease
8. Reduvid
bug
Tick typus, tick paralysis, ensefalitis viral,
9. Sengkenit
tularemia, haemorrhagic fever, human babesiosis.
keras
Relapsing fever
10. Sengkenit
lunak
11. Trambiculid Scrub typhus
mite
Scabies
12. Itch-mite
Guinea-worm disease, fish tupewarm(D.latus)
13. Cyclops

C. Vektor dan permasalahannya


Permasalahan vektor didasarkan pada tingkat bahaya yang ditimbulkan, tigkat populasi
vektor, dan tingkat toleransi terhadap vektor. Dibagi atas 3 unsur :
a. Masalah nyata : Keadaan nyata akibat adanya vektor. Contoh : Adanya kasus demam
berdarah di daerah populasi.
b. Masalah Potensial : masalah sebenarnya belum tampak tapi berpotensi untuk timbul.
Contoh : adanya hama disuatu wilayah
c. Masalah semu : Masalah yang masih dalam nilai ambang tolerasi

D. Penyakit Akibat Vektor


Vektor dan binatang pengganggu pada dasarnya dapat mempengaruhi kehidupan
manusia dengan berbagai cara. Berikut ini adalah penyakit yang ditimbulkan berdasarkan
jumlah faktor kehidupan yang terlibat.
1. Penyakit –penyakit dengan dua faktor dua kehidupan (manusia-Antrhopoda).
2. Penyakit dengan tiga faktor kehidupan (manusia – Antrhopoda-vektor-kuman).
3. Penyakit –penyakit dengan empat faktor dua kehidupan (manusia-
Antrhopodav vektor-kuman-reservoir).
Menurut sumbernya penyakit akibat vektor dibagi dua yaitu:
1. Penyakit Bawaan Vektor
Perpindahan penyakit melalui organisme hidup, seperti nyamuk, lalat, atau kutu.
Penularannya dapat berlangsung secara mekanis, melalui bagian mulut yang terkontaminasi
atau kaki vector, atau secara biologis, yang melibatkan perubahan multiplikasi atau
perkembangan agens dalam vector sebelum penularan berlangsung. Pada penularan mekanis,
penggandaan dan perkembangan organisme penyakit biasanya tidak terjadi. Contoh,
organisme penyebab disentri, kolera, dan demam tifoid telah diisolasi dari serangga seperti
kecoak dan lalat rumah dan diperkirakan tersimpan pada makanan yang disiapkan untuk
konsumsi manusia. Contoh lain, vector penyakit dan penyakit yang disebarkannya mencakup
nyamuk (malaria, filariasis).

6
2. Penularan biologis
Perubahan multiplikasi dan/atau perkembangan agens penyakit berlangsung dalam
vector sebelum penularan terjadi. Contoh vector biologis antara lain nyamuk, pinjal, kutu,
tungau, lalat. Nyamuk sampai saat ini merupakan vector paling penting dalam penyakit
manusia. Nyamuk menularkan virus yang menyebabkan yellow fever dan demam berdarah
dengue, sekaligus menularkan 200 virus lainnya. Tungau, vector penting lainnya, menularkan
Rocky Mountain spotted fever, demam berulang dal Lyme Disease. Vektor serangga lainnya
adalah lalat (African sleeping sickness), pinjal (pes), kutu (tifus epidemic dan trench fever).

E. Penularan vektor
Berikut ini ada 3 jenis cara penularan Antrophoda disease:
1. Kontak langsung
Arthropoda secara langsung memindahkan penyakit atau infestasi dari satu orang ke
orang lain melalui kontak langsung. Contoh: scabies dan pedikulus
2. Transmisi secara mekanis
Misalnya penularan penyakit diare, tifoid, keracunan makanan, dan trakoma oleh lalat.
Secara karakteristik, arthropoda sebagai vector mekanis membawa agens penyakit dari
manusia yang berasal dari tinja, darah, ulkus superfisial atau eksudat.
3. Transmisi secara biologis
Agens penyakit mengalami perubahan siklus dengan atau tanpa multiplikasi di dalam
tubuh arthropoda. Ada 3 cara transmisi biologis yaitu:
a. Propagative, agens penyakit tidak mengalami perubahan siklus, tetapi bermultiplikasi
didalam tubuh vector. Contoh: plague bacilli pada pinjal tikus.
b. Cyclo-propagative, agens penyakit mengalami perubahan siklus dan bermultiplikasi
didalam tubuh arthropoda. Contoh: parasit malaria pada nyamuk anopheles.
c. Cyclo-developmental, agens penyakit mengalami perubahan siklus, tetapi tidak
bermultiplikasi didalam tubuh arthropoda. Contoh: parasil filarial pada nyamuk culex,
dan cacing pita pada Cyclops.

F. Pengendalian Penyakit Vektor


Pengendalian vektor adalah usaha yang dilakukan untuk mengurangi atau menurunkan
populasi vektor dengan maksud mencegah atau memberantas penyakit yang ditularkan oleh
vektor atau ganguan (nuisanse) yang diakibatkan oleh vektor. Penegendalian vektor dan
binatang pengganggu harus menerapakan bermacam-macam cara pengendalian, sehingga
tetap berada di bawah garis batas yang tidak merugikan dan membahayakan. Serta
pengendalian tidak menimbulkan kerusakan atau gangguan ekologis terhadap tata lingkungan
hidup.
1. Pengendalian lingkungan
Merupakan cara terbaik untuk mengontrol arthropoda karena hasilnya dapat bersifat
permanen. Contoh, membersihkan tempat-tempat hidup arthropoda. Terbagi atas dua
cara yaitu :

7
a. Perubahan lingkungan hidup (environmental management), sehingga vektor dan
binatang penggangu tidak mungkin hidup. Seperti penimbunan (filling), pengeringan
(draining), dan pembuatan (dyking).
b. Manipulasi lingkungan hidup (environmental manipulation), sehingga tidak
memungkinkan vektor dan binatang penggangu berkembang dengan baik. Seperti
pengubahan kadar garam (solinity), pembersihan tanaman air, lumut, dan penanaman
pohon bakau (mangrouves) pada tempat perkembangbiakan nyamuk.
2. Pengendalian biologi
Pengendalian ini ditujukan untuk mengurangi pencemaran lingkungan akibat pemakaian
insektisida yang berasal dari bahan-bahan beracun. Cara yang dilakukan dengan
memanfaatkan tumbuh-tumbuhan atau hewan, parasit, predator maupun kuman
patogen terhadap vector. Contoh pendekatan ini adalah pemeliharaan ikan.
3. Pengendalian Genetik
Metode ini dimaksudkan untuk mengurangi populasi vektor dan binatang penggangu
melalui teknik-teknik pemandulan vektor jantan (sterila male techniques), pengunaan
bahan kimia penghambat pembiakan (chemosterilant), dan
penghilangan (hybiriditazion). Masih ada usaha yang lain seperti :
a. Perbaikan sanitasi : bertujuan menghilangkan sumber-sumber makanan(food
preferences), tempat perindukan (breeding places), dan tempat tinggal (resting
paces), yang dibutuhkan vektor.
b. Peraturan perundangan : mengatur permasalahan yang menyangkut usaha karantina,
pengawasan impor-ekspor, pemusnahan bahan makanan atau produk yang telah rusak
karena vektor dan sebagainya.
c. Pencegahan (prevention) : menjaga populasi vektor dan binatang pengganggu tetap
pada suatu tingkat tertentu dan tidak menimbulkan masalah.
d. Penekanan (supresion) : menekan dan mengurangi tingkat populasinya.
e. Pembasmian (eradication) : membasmi dan memusnakan vektor dan binatang
pengganggu yang menyerang daerah/wilayah tertentu secara keseluruhan.
4. Pengendalian kimia
Pada pendekatan ini, dilakukan beberapa golongan insektisida seperti golongan
organoklorin, golongan organofosfat, dan golongan karbamat. Namun, penggunaan
insektisida ini sering menimbulkan resistensi dan juga kontaminasi pada lingkungan.
Macam – macam insektisida yang digunakan:
a. Mineral (Minyak), misalnya minyak tanah, boraks, solar, dsb.
b. Botanical (Tumbuhan), misalnya Pyrethum, Rotenone, Allethrin, dsb. Insektisida
botanical ini disukai karena tidak menimbulkan masalah residu yang toksis.
c. Chlorined Hyrocarbon, misalnya DDT, BHC, Lindane, Chlordane, Dieldrin, dll.
Tetapi penggunaan insektisida ini telah dibatasi karena resistensinya dan dapat
mengkontaminasi lingkungan.

8
d. Organophosphate, misalnya Abate, Malathion, Chlorphyrifos, dsb. Umumnya
menggantikan Chlorined Hydrocarbon karena dapat melawan vektor yang resisten dan
tidak mencemari lingkungan.
e. Carbamate, misalnya Propoxur, Carbaryl, Dimetilen, Landrin, dll. Merupakan
suplemen bagi Organophosphate.
f. Fumigant, misalnya Nophtalene, HCN, Methylbromide, dsb. Adalah bahan kimia
mudah menguap dan uapnya masuk ke tubuh vektor melalui pori pernapasan dan
melalui permukaan tanah.
g. Repelent, misalnya diethyl toluemide. Adalah bahan yang menerbitkan bau yang
menolak serangga, dipakaikan pada kulit yang terpapar, tidak membunuh serangga
tetapi memberikan perlindungan pada manusia.
5. Upaya pengendalian binatang pengganggu
Dalam pendekatan ini ada beberapa teknik yang dapat digunakan, diantaranya steril
technique, citoplasmic incompatibility, dan choromosom translocation. Upaya
pencegahan yang dapat dilakukan adalah :
a. Menempatkan kandang ternak di luar rumah
b. Merekonstruksi rumah
c. Membuat ventilasi
d. Melapisi lantai dengan semen
e. Melapor ke puskesmas bila banyak tikus yang mati
f. Mengatur ketinggian tempat tidur setidaknya >20 cm dari lantai.

G. Langkah-langkah Analisis Data Surveilans


Menurut WHO (1999) serta Myrnawati (2001) langkah-langkah surveilans kesehatan
masyarakat meliputi :
1. Pengumpulan Data

Tahapan ini merupakan permulaan kegiatan surveilans yang sangat penting untuk
menghasilkan data kejadian penyakit yang baik. Kegiatan pengumpulan data dapat dilakukan
secara aktif dan pasif. Sumber data yang digunakan dalam surveilans antara lain :
 Laporan penyakit
 Pencatatan kematian
 Laporan wabah
 Survey atau studi epidemiologi
 Penyelidikan distribusi vektor dan reservoir
 Penggunaan obat, serum, vaksin
 Laporan kependudukan dan lingkungan
 Laporn status gizi dan kondisi sebagainya

9
Sedangkan jenis data surveilans meliputi : data kesakitan, data kematian, data
demografi, data geografi, data laboratorium, data kondisi lingkungan, data status gizi dan
kondisi pangan, data vektor dan reservoir, data dan informasi lainnya.

2. Pengolahan Data

Pengolahan data merupakan kegiatan data yang sudah dikumpulkan ke dalam format-
format tertentu, menggunakan teknik-teknik pengolahan data yang sesuai. Dalam pengolahan
data, ada dua aspek yang perlu dipertimbangkan yaitu ketepatan waktu dn sensitifitas data.
Pengolahan yang baik memenuhi kriteria antara lain :
 Selama proses pengolahan data tidak terjadi kesalan sistematik.
 Kecendrungan perbedaan anatara distribusi frekuensi dengan distribusi kasus dapat
diidentifikasi dengan bik,
 Tidak ada perbedaan atau tidak ada kesalahan dalam menyajikan pengertian/definisi
 Menerapkan metode pembuatan tabel, grafik, dan peta yang benar.

3. Analisis Data

Data yang telah diolah kemudian dilakukan analisis untuk membantu dalam
penyusunan perencanaan program, monitoring, evaluasi dana dalam upaya pencegahan serta
penanggulangan penyakit.

Penganalisis data harus memahami dengan baik data yang akan dianalisa. Data yang
telah diolah dan disusun dalam format tertentu umumnya lebih mudah dipahami. Beberapa
cara berikut biasanya dilakukan untuk memahami data dengan baik antara lain :
 Pada data sederhana dan jumlah variabel tidak terlalu banyak, cukup dengan
mempelajaritabel saja.
 Pada data kompleks, selain mempelajari tabel juga dilengkapi dengan data dan
gambar. Peta dan gambar berfungsi untuk mempermudah pemahaman akan tren,
variasi, dan perbandingan.

Hasil analisi akan memberikan arah dalam menentukan besaran masalah,


kecendrungan suatu keadaan, sebab akibat suatu kejadian, dan penarikan kesimpulan.
Penarikan kesimpulan hasil analisis harus didukung dengan teori dan kajian ilmiah yang
sudah ada.

4. Interpretasi Data

Suatu kegiatan yang menggabungkan hasil analisis dengan pernyataan,


kriteria/standar tertentu untuk menemukan makna dari data yang dikumpulkan untuk
menjawab permasalahan yang sedang diamati.
Kajian interpretasi ini melibatkan hal-hal penting dalam sebuah penelitian yaitu
berupa : diskusi, kesimpulan, dam implikasi seperti kilas balik temuan utama dan bagaimana

10
pertanyaan penelitian terjawab, refleksi peneliti terhadap makna data, pandangan peneliti
yang dikontraskan dengan kajian literatur (teoretik), batasan penelitian, dan saran untuk
penelitian selanjutnya.
Dalam interpretasi dibahas bagaimana cara menemukan makna atau implikasi dari
data yang diperoleh. Hasil interpretasi data digunakan untuk mnegevaluasi proses dan hasil
perbaikan pembelajaran yang dilakukan.

5. Penyebaran Informasi

Tahap selanjutnya adalah menyebarluaskan informasi berdasarkan kesimpulan yang


didapat dari analisis data. Penyebaran informasi disampaikan kepada pihak-pihak yang
berkepentingan dengan program kesehatan, seperti pemimpin program, pengelola program,
dan unit lainnya.
Penyebaran informasi dapat memanfaatkan waktu-waktu atau kegiatan yang
memungkinkan berkumpulnya para pemangku kepentingan, misalnya pada rapat rutin, rapat
koordinasi, atau pertemuan rutin warga masyarakat. Selain berbentuk laporan, media untuk
penyebaran dapat berupa buletin, news letter, jurnal akademis, website, dan media sosial.

11
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Vektor merupakan antropoda organisme hidup yang dapat memindahkan atau


menularkan agen penyakit dari seekor binatang atau seorang manusa kepada binatang lainnya
atau manusia lainnya.

Transmisi sebuah vektor saat menularkan penyakit adalah dengan cara, sebagai berikut:
a. Kontak langsung, yaitu Arthropoda secara langsung memindahkan penyakit atau infestasi
dari satu orang ke orang lain melalui kontak langsung.
b. Transmisi secara mekanis, misalnya penularan penyakit diare, tifoid, keracunan makanan,
dan trakoma oleh lalat. Secara karakteristik, arthropoda sebagai vector mekanis membawa
agens penyakit dari manusia yang berasal dari tinja, darah, ulkus superfisial atau eksudat.
c. Transmisi secara biologis, yaitu agens penyakit mengalami perubahan siklus dengan atau
tanpa multiplikasi di dalam tubuh arthropoda.
Metode yang digunakan dalam pengendalian vektor penyakit adalah dengan
melakukan pengendalian di lingkungan, pengendalian secara biologi, pengendalian secara
genetik, pengendalian secara kimia, dan upaya pengendalian binatang pengganggu seperti
menempatkan kandang ternak di luar rumah.

3.2 Saran
Untuk menghindari timbulnya vektor penyakit, usaha yang dilakukan untuk
mengurangi atau menurunkan populasi vektor dengan maksud mencegah atau memberantas
penyakit yang ditularkan oleh vektor atau ganguan yang diakibatkan oleh vektor. Ada banyak
cara pengendalian tetapi kami sarankan pengendalian tidak menimbulkan kerusakan atau
gangguan ekologis terhadap tata lingkungan hidup. Pengendalian lingkungan merupakan cara
terbaik untuk mengontrol arthropoda karena hasilnya dapat bersifat permanen. Contoh,
membersihkan tempat-tempat hidup arthropoda.

12
DAFTAR PUSTAKA

Budiman, Chandra. 2005. Pengantar Kesehatan Lingkungan. Jakarta : Kedokteran EGC.

McKenzi, James F. Robert R. Pinger. dan Jerome E. Kotecki. 2007. Kesehatan


Masyarakat Suatu Pengantar Edisi 4. Jakarta : Kedokteran EGC.

Mubarak, Wahid Iqbal dan Chayatin Nurul. 2009. ILmu Kesehatan Masyrakat : Teori
dan Aplikasi. Jakarta : Salemba Medika.

Widoyono. 2008. Penyakit Tropis Epidemiologi, Penularan, Pencegahan,


dan Pemberantasannya. Jakarta : Erlangga.

13