Anda di halaman 1dari 14

KATA PENGANTAR

Bismillahirrahmanirrahim

Puji syukur kita panjatkan atas kehadirat Allah SWT, yang senantiasa melimpahkan
rahmat serta karunia-Nya kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan makalah Konseling
Lintas Budaya dengan judul “Sikap dan Keterampilan Konselor dalam Konseling Lintas
Budaya ” ini tepat pada waktu yang telah direncanakan sebelumnya. Tak lupa sholawat serta
salam kita haturkan kepada Baginda Rasulullah Muhammad Saw beserta keluarga dan
sahabatkarena berkat perjuangan beliau dan sahabat, kita dapat merasakan indahnya cahaya
islam saat ini.
Untuk menyelesaikan makalah ini adalah suatu hal yang mustahil apabila kami tidak
mendapatkan bantuan dan kerjasama dari berbagai pihak. Dalam kesempatan ini saya
menyampaikan terimakasih kepada Orang tua yang telah memberikan dorongan moril maupun
material dan semangat, serta Dosen pembimbing yang telah membantu memberikan kritik
maupun saran. Dan semua teman-teman yang telah membantu baik secara langsung maupun
tidak langsung hingga terselesaikan makalah ini.
Kami berharap semoga makalah ini bermanfaat bagi semua pihak dan bila terdapat
kekurangan dalam penulisan makalah ini, kami mohon maaf karena kami menyadari makalah
ini masih jauh dari kata sempurna.

Banda Aceh, Oktober 2019


Kelompok 2

1
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR 1
DAFTAR ISI 2

BAB 1 PENDAHULUAN
1. Latar Belakang 3
2. Rumusan Masalah 3

BAB II PEMBAHASAN
1. konsep dasar aliran behavioral 4
2. tujuan utama aliran behavioral 5
3. struktur kepribadian Aliran Behavioral 6
4. hubungan konselor dengan klien 7
5. pengalaman klien dalam konseling 8
6. Apa peranan konselor 8
7. tehnik-tehnik aliran behavioral 9
8. kerekteristik menurut aliran behavioral 9
9. syarat-syarat konseling 11
10. kelebihan dan kekurangan aliran behavioral 11

BAB III PENUTUP


1. Kesimpulan 13
2. Saran 13

DAFTAR PUSTAKA 14

2
BAB I
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Konseling berkembang pertama kali di Amerika yang dipelopori oleh Jesse B. Davis tahun
1898 yang bekerja sebagai konselor sekolah di Detroit (Surya,1988:39). Banyak factor yang
mempengaruhi perkembangan konseling, salah satunya adalah perkembangan yang terjadi
pada kajian psikologis, Surya (1988:42) mengungkapkan bahwa kekuatan-kekuatan tertentu
dalam lapangan psikologis telah mempengaruhi perkembangan konseling baik dalam konsep
maupun teknik.
Aliran-aliran yang muncul dalam lapangan psikologi memberikan pengaruh yang cukup
besar terhadap perkembangan konseling, diantara aliran-aliran psikologi yang cukup
memberikan pengaruh terhadap perkembangan konseling adalah sebagai berikut ; aliran
strukturalisme (Wundt), Fungsionalisme (James), dan Behaviorisme (Watson).
Perkembangan koseling behavioral bertolak dari perkembanngan aliran behavioristik
dalam perkembangan psikologi yang menolak pendapat aliran strukturalisme yang berpendapat
bahwa mental, pikiran dan perasaan hendaknya ditemukan terlebih dahulu bila perilaku
manusia ingin difahami, maka munculah teori introspeksi.
Aliran Behaviorisme menolak metode introspeksi dari aliran strukturalisme dengan sebuah
keyakinan bahwa menurut para behaviorist metode introspeksi tidak dapat menghasilkan data
yang objektif, karena kesadaran menurut para behaviourist adalah sesuatu yang Dubios, yaitu
sesuatu yang tidak dapat diobservasi secara langsung, secara nyata (Walgito,2002:53).

2. Rumusan Masalah
a. apa konsep dasar aliran behavioral?
b. apa tujuan utama aliran behavioral?
c. Bagaimana struktur kepribadian Aliran Behavioral?
d. Bagaimana hubungan konselor dengan klien?
e. Bagaimana pengalaman klien dalam konseling?
f. Apa peranan konselor?
g. Bagaimana tehnik-tehnik aliran behavioral?
h. Bagaimana kerekteristik menurut aliran behavioral?
i. Apa saja syarat-syarat konseling?
j. Apa kelebihan dan kekurangan aliran behavioral?

3
BAB II
PEMBAHASAN
1. Konsep Dasar Aliran Behavioral
Konseling Behavioral adalah salah satu dari teori-teori konseling yang ada pada saat ini.
Konseling behavioral merupakan bentuk adaptasi dari aliran psikologi behavioristik, yang
menekankan perhatiannya pada perilaku yang tampak.
Pada hakikatnya konseling merupakan sebuah upaya pemberian bantuan dari seorang
konselor kepada klien, bantuan di sini dalam pengertian sebagai upaya membantu orang lain
agar ia mampu tumbuh ke arah yang dipilihnya sendiri, mampu memecahkan masalah yang
dihadapinya dan mampu menghadapi krisis-krisis yang dialami dalam kehidupannya
(Yusuf&Juntika,2005:9).konsep dasar dari behaviorisme adalah prediksi&control atas perilaku
manusia yang tampak. Dan dapat dibagi dua bagian:1

a. Hakikat Tingkah Laku


Konseling behavioral berpandangan, bahwa tingkah laku manusia pada dasarnya:
i. Tingkah laku manusia diperoleh melalui belajar dan kepribadian adalah hasil
proses belajar. Belajar merupakan suatu perubahan perilaku yang relatif
permanen sebagai hasil dari latihan atau pengalaman.
ii. Tingkah laku manusia tersusun dari respons-respons kognitif, motorik dan
emosional terhadap stimulus yang datang baik dari internal maupun eksternal.
iii. Tingkah laku manusia dipengaruhi oleh variabel-variabel kompetensi, setrategi
dan susunan pribadi, harapan-harapan, nilai stimulus, sistem dan rencana
pengaturan diri.

b. Prinsip Belajar
Tingkah laku manusia dapat dilihat dari aspek kondisi yang menyertai atau akibat
yang menyertai tingkah laku setelah terbentuk dengan anticedent yang disebut dengan
consequence. Tingkah laku dipelajari ketika individu berinteraksi dengan lingkungan
melalui hukum-hukum belajar :
i. Pembiasaan klasik, yang ditandai dengan satu stimulus yang menghasilkan satu
respon. Misalnya bayi merespon suara keras dengan takut.

1
Drs. Alex Sobur,M.Si. psikologi Umum dalam Lintas Budaya,Bandung:2013 hlm126

4
ii. Pembiasaan operan, ditandai dengan adanya satu stimulus yang menghasilkan
banyak respon. Pengondisian operan memberikan penguatan positif yang bisa
memperkuat tingkah laku. Sebaliknya penguatan negatif bisa memperlemah
tingkah laku. Munculnya perilaku akan semakin kuat apabila diberikan penguatan
positif dan akan menghilang apabila dikenai hukuman.
iii. Peniruan, yaitu orang tidak memerlukan reinforcement agar bisa memiliki
tingkah laku melainkan ia meniru. Syarat dalam meniru tingkah laku yaitu:
a. Tingkah laku yang ditiru memang mampu untuk ditiru oleh individu yang
bersangkutan.
b. Tingkah laku yang ditiru adalah perbuatan yang dinilai publik positif.

2. Tujuan Utama Aliran Behavioral2


Tujuan konseling behavior adalah untuk membantu konseli membuang respon-respon
yang lama yang merusak diri, dan mempelajari respon-respon yang baru yang lebih sehat. Jadi
tujuan konseling behaviour adalah untuk memperoleh perilaku baru, mengeliminasi perilaku
yang maladaptif dan memperkuat serta mempertahankan perilaku yang diinginkan dalam
jangka waktu lama. Adapun tujuan umumnya yaitu menciptakan kondisi baru untuk belajar.
Dengan asumsi bahwa pembelajaran dapat memperbaiki masalah perilaku.
Tujuan umum dari suatu terapi perilaku ialah membentuk kondisi baru untuk belajar,
karena melalui proses belajar dapat mengatasi masalah yang ada. Teknik-teknik behavioristik
tidak mengancam untuk menghapuskan atau mengurangi kebebasan memilih. Tujuan-tujuan
dari konseling behavioristik adalah :
a. Upaya menolong diri sendiri (self-help).
b. Meningkatkan ketrampilan-ketrampilan sosial klien.
c. Memperbaiki tingkah laku yang menyimpang dari klien.
d. Membantu setiap klien dalam mengembangkan suatu sistem pengaturan diri (self-
management).
e. Klien dapat mengontrol nasibnya sendiri (self-control) baik didalam konseling maupun
diluar situasi konseling.

Tujuan menurut krumboltz hendaknya memperhatikan kriteria berikut :


a. Tujuan harus diinginkan klien.

2
Prof.Dr.H.Sufyan Wills. Teori individual, Teori dan Praktek. Alfabeta 2014 hlm 70

5
b. Konselor harus beringinan untuk membantu klien mencapai tujuan.
c. Tujuan harus mempunyai kemungkinan untuk dinilai pencapainya oleh klien.

3. Stuktur Kepribadian aliran behavioral


a. Kepribadian dan Belajar
Kepedulian utama dari Skinner adalah mengenai perubahan tingkah laku. Jadi hakikat
teori Skinner adalah teori belajar, bagaimana individu menjadi memiliki tingkah laku baru,
menjadi lebih terampil, menjadi lebih tahu. Kehidupan terus-menerus dihadapkan dengan
situasi eksternal yang baru, dan organisme harus belajar merespon situasi baru itu memakai
respon lama atau memakai respon yang baru dipelajari. Dia yakin bahwa kepribadian dapat
difahami dengan mempertimbangkan pertimbangan tingkah laku dalam hubungannya
yang terus menerus dengan lingkungannya. Cara efektif untuk mengubah dan mengontrol
tingkah laku adalah dengan melakukan penguatan, suatu strategi kegiatan yang membuat
tingkah laku tertentu berpeluang untuk terjadi atau sebaliknya pada masa yang akan
datang. Konsep dasarnya sangat sederhana yakni bahwa semua tingkah laku dapat
dikontrol oleh konsekuensi tingkah laku itu. (Alwisol,2005:403)

b. Generalisasi dan Deskriminasi Stimulus


Generalisasi stimulus adalah proses timbulnya respon dari stimulus yang mirip dengan
stimulus yang mestinya menimbulkan respon itu. Sedangkan diskriminasi stimulus adalah
kemampuan untuk membedakan stimulus, sehingga stimulus itu tidak diberi respon,
walaupun mirip dengan stimulus yang diberi penguat. Generalalisasi dan diskriminasi
sangat penting sebagai sarana belajar, karena kalau keduanya tidak ada, orang tidak belajar
sama sekali. Kita selalu belajar dari permulaan, dan kita terus menerus akan belajar tingkah
laku baru kalau tidak ada generalisasi, karena tidak ada orang yang dapat berada dalam
situasi yang sama persis dan melakukan respon yang sama persis pula.
Menurut Skinner, generalisasi stimulus itu memiliki arti penting bagi integritas
tingkah laku individu. Tanpa adanya generalisasi stimulus, tingkah laku individu akan
terbatas dan tidak terintegritas, yang menyebabkan individu tersebut harus selalu
mengulang-ulang pembelajarannya, bagaiman bertingkah laku secar layak. Disamping
generalisasi stimulus, menurut Skinner individu mengembangkan tingkah laku adaptif atau
penyesuaian diri melalui kemampuan membedakan atau diskriminasi stimulus.
Deskriminasi stimulus merupakan kebalikan dari generalisasi stimulus, yakni suatu proses
belajar bagaimana merespons secara tepat terhadap berbagai stimulus yang berbeda.

6
Menurut Skinner, kemampuan mendiskriminasikan stimulus itu pada setiap orang tidaklah
sama.

c. Tingkah Laku Kontrol Diri


Prinsip dasar pendekatan Skinner adalah: Tingkah laku disebabkan dan dipengaruhi
oleh variable eksternal. Tidak ada sesuatu dalam diri manusia, tidak ada bentuk kegiatan
internal, yang mempengaruhi tingkah laku. Namun betapapun kuatnya stimulus dan
penguat eksternal, manusia masih dapat mengubahnya memakai proses kontrol diri.
Pengertian kontrol diri ini bukan mengontrol kekuatan dalam diri, tetapi bagaimana diri
mengontrol variable-variabel luar yang menentukan tingkah laku. Tingkah laku tetap
ditentukan oleh variable luar, namun dengan cara kontrol diri berikut, pengaruh variable
itu dapat diperbaiki-diatur atau dikontrol.

4. Hubungan konselor dan klien


Yang menjadi perhatian utama konselor behavioral adalah perilaku yang tampak, dengan
alasan ini banyak asumsi yang berkembang tentang pola hubungan konselor klien lebih
manupulatif- mekanistik dan sangat tidak Pribadi, namun seperti dituturkan Rosjidan
(1988:243) salah satu aspek yang essensial dalam terapi behavioral adalah proses penciptaan
hubungan Pribadi yang baik.3
Untuk melihat hubungan konselor-klien dalam seting konseling behavioral dapat kita
perhatikan dari proses konseling behavioral. Proses konseling behavioral yaitu sebuah proses
membantu orang untuk belajar memecahkan masalah interpersonal,emosional, dan keputusan
tertentu. Jika kita perhatikan lebih lanjut, pendekatan dalam konseling behavioral lebih
cenderung direktif, karena dalam pelaksanaannya konselor-lah yang lebih banyak
berperan.
i. Peran Konselor :
a. Menyebutkan tingkah laku maladaptip
b. Memilih tujuan-tujuan yang masuk akal
c. Mengarahkan dan membimbing keluarga untuk merubah tingkah laku yang tak
sesuai.

3
Ibid ., hlm71

7
5. Pengalaman konseli
Kontribusi unik dari terapi behavior adalah behavior terapi menyediakan terapis dengan
sistem yang bagus dari prosedur yang dipakai. Baik terapis maupun klien memiliki peran yang
jelas, dan ditekankan akan pentingnya kesadaran serta partisipasi klien dalam proses terapeutik.
Terapi behavior dicirikan dengan peran aktif terapis dan klien. Peran terapis adalah mengajari
skil-skil konkrit melalui pemberian instruksi, modeling, dan melalui feedback performance.
Klien campur tangan dalam pengulangan behavioral dengan feedback sampai skil-skil telah
dipelajari dengan baik dan umumnya menerima aktif tugas-tugas rumah (seperti pemantauan
diri dari masalah behavioral). Klien harus dimotivasi untuk mengubah dan bekerja sama dalam
aktivitas terapeutik, baik dalam sesi terapi maupun dalam kehidupan sehari-hari.
Klien diberi semangat untuk bereksperimen terhadap tujuan untuk meningkatkan repertoir
tingkah laku adaptif mereka. Mereka dibantu untuk menggeneralisasikan dan mentransfer
pembelajaran yang didapat dalam situasi terapi menuju situasi di luar terapi. Verbalisasi dalam
konseling digunakan ketika transfer perubahan dibuat dari sesi terapi menuju kehidupan sehari-
hari dan ketika efek dari terapi diperluas di luar pengakhiran dimana treatmen dapat dianggap
berhasil.
Klien memiliki frame of reference untuk menilai kemajuan mereka dalam menyelesaikan
tujuan mereka. Ketika tujuan telah diselesaikan, maka klien dan terapis mengakhiri treatmen.
Setelah terapi behavior yang sukses, klien mengamalkan pilihan-pilihan yang lebih baik dalam
berperilaku.

6. Peranan konselor
Hakikatnya fungsi dan peranan konselor terhadap konseli dalam teori behavioral ini adalah:
a. Mengaplikasikan prinsip dari mempelajari manusia untuk memberi fasilitas pada
penggantian perilaku maladaptif dengan perilaku yang lebih adaptif.
b. Menyediakan sarana untuk mencapai sasaran konseli, dengan membebaskan
seseorang dari perilaku yang mengganggu kehidupan yang efektif sesuai dengan
nilai demokrasi tentang hak individu untuk bebas mengejar sasaran yang dikehendaki
sepanjang sasaran itu sesuai dengan kebaikan masyarakat secara umum.

8
7. Tehnik-tehnik behavioral4
a. Desentisasi sistematik (Systematic desensitization)
teknik ini dikembangkan oleh Wolpe yang mengatakan bahwa semua perilaku
neurotic adalah ekspresi dari kecemasan dan respon terhadap kecemasan dapat dieliminasi
dengan menemukan respon yang antagonistik (keadaan relaksasi).
b. Latihan Asertif (Assertive training)
yaitu konseling yang menitik beratkan pada kasus yang mengalami kesulitan dalam
perasaan yang tidak sesuai dalam menyatakannya (misalnya: ingin marah tetapi tetap
berespon manis). Pelaksanaan teknik ini ialah dengan role playing (bermain peran).
c. Terapi Aversi (Aversion therapy )
Teknik ini bertujuan untuk menghukum perilaku yang negatif dan memperkuat
perilaku yang positif. Dalam hal ini konselor dapat menerapkan punishment (sangsi) dan
reward (pujian/hadiah) secara tepat dan proposional terhadap perubahan perilaku klien.
d. Terapi implosif dan pembanjiran
Teknik ini terdiri atas pemunculan stimulus berkondisi secara berulang-ulang tanpa
pemberian penguatan. Teknik pembanjiran ini tidak menggunakan agen pengkondisian
balik maupun tingkatan kecemasan. Terapis memunculkan stimulus-stimulus penghasil
kecemasan, klien membayangkan situasi, dan terapis berusaha mempertahankan
kecemasan klien.
e. Pekerjaan Rumah (Home work)
Teknik ini berbentuk suatu latihan/ tugas rumah bagi klien yang kurang mampu
menyesuaikan diri terhadap situasi tertentu, caranya dengan memberikan tugas rumah
(untuk satu minggu), misalnya: tidak menjawab apabila klien dimarahi ibunya atau
bapaknya.

8. Kerekteristik behavioral
a. Karakteristik konseling
Karakteristik konseling behavioral adalah sebagai berikut :
i. Kebanyakan perilaku manusia dapat dipelajari dan karena itu dapat pula dirubah.
ii. Perubahan-perubahan khusus terhadap lingkungan individual dapat membantu
dalam merubah perilaku-perilaku yang releven, prosedur-prosedur konseling

4
Ibid,. Hlm 78

9
berusaha membawa perubahan-perubahan yang releven dalam perilaku klien
dengan merubah lingkungan.
iii. Prinsip-prinsip belajar sosial, seperti misalnya “reinforcement” dan “social
Modeling” dapat digunakan untuk mengembangkan prosedur-prosedur
konseling.
iv. Keefektifan konseling dan hasil konseling dinilai dari perubahan-perubahan
dalam perilaku-perilaku khusus diluar dari layanan konseling yang diberikan.
v. Prosedur-prosedur konseling tidak statik, tetap atau ditentukan sebelumnya, tetapi
dapat secara khusus di desain untuk membantu klien dalam memecahkan masalah
khusus.

b. Karakteristik konselor
Didalam konseling behavioral ada beberapa karakteristik yang harus dimiliki konselor
untuk mencapai tujuan dalam proses konseling yaitu :
i. Konselor harus mengutamakan keseluruhan individual yang bertanggung jawab,
yang dapa memenuhi kebutuhannya.
ii. Konselor harus kuat, yakin, dia harus dapat menahan tekanan dari permintaan klien
untuk simpati atau membenarkan perilakunya tidak pernah menerima alasan-alasan
dari perilaku irasional konseli.
iii. Konselor harus sensitif terhadap kemampuan untuk memahami perilak orang lain.
iv. Konselor harus dapat bertukar pikiran dengan konseli tentang perjuangannya dapat
melihat bahwa seluruh individu dapat melakukan secara bertanggung jawab
termasuk ada saat yang sulit.

c. Karekteristik Konseli
Didalam konseling behavioral terdapat adanya peran konseli yang ditentukan dengan
baik dan menekankan pentingnya kesadaran dan partisipasi konseli dalam proses
konseling. Keterlibatan konseli dalam proses konseling dalam kenyataannya menjadi lebih
aktif dan tidak hanya sebagai penerima teknik-teknik yang pasif. Konseli didorong untuk
berekspresimen dengan tingkah laku yang baru sebagai pengganti tingkah laku yang salah
suai.

10
9. Syarat-syarat konselor
a. Tiga sikap pokok, yaitu menerima (acceptance), memahami (understanding), dan
sikap bertindak dan berkata jujur. Sikap menerima berarti pihak konselor menerima
siswa sebagaimana adanya dan tidak segera mengadili siswa karena kebenaran dan
pendapatnya / perasaannya / perbuatannya. Sikap memahami berkaitan dengan
tuntutan seorang konselor agar berusaha dengan sekuat tenaga menangkap dengan
jelas dan lengkap hal-hal yang sedang diungkapkan oleh siswa, baik dalam bentuk
kata-kata maupun tindakan. Sedangkan sikap bertindak dan berkata secara jujur
berarti bahwa seorang konselor tidak berpura-pura sehingga siswa semakin percaya
dan mantap ketika sedang berhadapan dengan konselor.
b. Kepekaan terhadap apa yang ada di balik kata-kata yang diungkapkan konseli.
Kepekaan yang dibangun oleh konselor sekolah akan membantu dalam proses
konseling karena konselor akan mendapatkan banyak data yang mungkin secara
verbal maupun nonverbal diungkapkan oleh konseli.
c. Kemampuan dalam hal komunikasi yang tepat (rapport). Hal ini berarti konselor
mampu menyatakan pemahamannya terhadap hal-hal yang diungkapkan konseli.
d. Memiliki kesehatan jasmani dan mental yang sehat.
e. Wajib menaati kode etik jabatan sesuai dengan yang telah disusun dalam Konvensi
Nasional Bimbingan I.

10. Kelebihan dan kekurangan aliran behavioral


Setiap teori yang ada pasti mempunyai kelebihan dan kekurangan, kelebihan dan
kekurangan teori behavioristik dintaranya :
a. Kelebihan :
i. Telah mengembangkan konseling sebagai ilmu karena mengundang penelitian
dan menerapkan IPTEK kepada proses konseling
ii. Pengembangan prilaku yang spesifik sebagai hasil konseling yang dapat diukur
iii. Memberikan ilustrasi bagaimana keterbatasan lingkungan
iv. bukan prilaku yang ada dimasa lalu.

b. Kelemahan :
i. Bersifat dingin, kurang menyentuh aspek pribadi sifat manipulatif dan
mengabaikan hubungan pribadi
ii. Lebih konsentrasi pada teknik

11
iii. Pemilihan tujuan sering ditentukan oleh konselor
iv. Meskipun konselor behaviour menegaskan klien unik dan menuntut perlakuan
yang spesifik tapi masalah klien sering sama dengan klien yang lain dan karena
itu tidak menuntut strategi konseling.
v. Konstruk belajar dikembangkan dan digunakan konselor behavioral tidak cukup
komprehensif untuk menjelaskan belajar dan harus dipandang hanya sebagai
hipotesis harus dites.

12
BAB III
PENUTUP
1. Kesimpulan
Konseling behavioral merupakan adaptasi dari aliran psikologi behaviorisme yang
memfokuskan perhatiannya pada tingkah laku yang tampak. Pada hakikatnya konseling
merupakan sebuah upaya pemberian bantuan dari seorang konselor kepada klien, bantuan di
sini dalam pengertian sebagai upaya membantu orang lain agar ia mampu tumbuh ke arah yang
dipilihnya sendiri.
Dalam pandangan kaum behaviorist (termasuk konselor behavioral) manusia dianggap
sebagai sesuatu yang dapat dirubah dan dibentuk, manusia bersifat mekanistik dan fasif.
Banyak pendekatan dalam konseling behavioral, dari keseluruhan pendekatan yang ada semua
menjurus pada pendekatan direktif dimana konselor lebih berperan aktif dalam penangan
masalahnya.
Hakekat konseling menurut Behavioral adalah proses membantu orang dalam situasi
kelompok belajar bagaimana menyelesaikan masalah-masalah interpersonal, emosional, dan
pengambilan keputusan dalam mengontrol kehidupan mereka sendiri untuk mempelajari
tingkah laku baru yang sesuai.
Tujuan konseling behaviour adalah untuk memperoleh perilaku baru, mengeliminasi
perilaku yang maladaptif dan memperkuat serta mempertahankan perilaku yang diinginkan
dalam jangka waktu lama.

2. Saran
Dengan adanya teori tentang pendekatan behavioristik diharapkan agar mampu untuk
memahami secara secara detail apa konseling behavioristik yang sebenarnya, tujuan, serta
hakekattentang manusia, karakteristik dan peran serta fungsi konselor hingga dapat memahami
hubungan konselor dengan konseli, tahap dan teknik konseling bahkan diharapkan mampu
menanggapi kelebihan dan keterbatasan serta asumsi perilaku bermasalah serta cirri khusus
yang ada pada konseling behavioristik.

13
DAFTAR PUSTAKA

Prof.Dr.H.Sufyan Wills.2017 Teori individual, Teori dan Praktek. Alfabeta: Bandung

Corey, Geral. 2010. Teori dan Praktek Konseling dan Psikoterapi. Bandung: Refika Aditama

Drs. Alex Sobur,M.Si. psikologi Umum dalam Lintas Budaya,Bandung:2013

14