Anda di halaman 1dari 23

LAPORAN PRAKTIKUM OPERASI TEKNIK KIMIA I

“NERACA MASSA PADA ABSORBER”

DISUSUN OLEH :

Kelompok VI

1. GEMA AIDIL FITRA (1507036948)


2. FRAN SUENO SIHOMBING (1507037719)
3. ELLYN SILVIANA (1507037670)
4. ARIANA RAHMA WINDI (1507037790)

LABORATORIUM INSTRUKSIONAL
PROGRAM STUDI DIII TEKNIK KIMIA
JURUSAN TEKNIK KIMIA
UNIVERSITAS RIAU
2016
Abstrak

Absorpsi merupakan salah satu proses pemisahan dengan cara


mengontakkan campuran gas dengan cairan sebagai penyerapnya. Dalam
percobaan ini digunakan air untuk menyerap gas CO2. Percobaan bertujuan
untuk menghitung neraca massa pada absorber dengan proses penyerapan gas
CO2 kedalam air yang mengalir ke bawah menara isian menggunakan alat
analisa gas Hempl. Percobaan ini dilakukan dengan mengalirkan air dari atas
menara isian dengan kecepatan alir air 3 Liter/menit, sampai diperoleh aliran
yang stabil, kemudian mengalirkan udara dengan kecepatan alir udara
divariasikan yaitu 20,40,dan 60 Liter/menit dan mengalirkan gas CO2 dari bawah
menara isian dengan kecepatan alir gas CO24 Liter/menit, sehingga
memungkinkan keduanya terjadi kontak di dalam menara isian tersebut.
Pengambilan sampel dilakukan setiap 5 menit.

Kata kunci : Absorpsi, Neraca Massa, Menara Isian.


BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Landasan Teori


1.1.1 Pengertian Absorpsi
Absorbsimerupakan salah satu operasi pemisahan dalam industri kimia
dimana suatu campuran gas dikontakkan dengan suatu cairan penyerap yang
sesuai, sehingga satu atau lebih komponen dalam campuran gas larut dalam cairan
penyerap.
Absorpsi gas atau penyerapan gas merupakan proses perpindahan massa.
Pada absorpsi gas, uap yang diserap dan campurannya dengan gas tidak aktif atau
lembab (inert gas) dengan bantuan zat cair dimana gas yang larut atau terlarut
(solute gas) dapat larut banyak atau sedikit.
Alat yang digunakan dalam absoprsi gas beberapa menara isian. yang terdiri
dari sebuah kolom berbentuk silinder atau menara yang dilengkapi dengan
pemasukan gas dan ruang distribusi pada bagian bawah. Pemasukan zat cair dan
distribusinya di atas, sedangkan pengeluaran gas dan zat cair masing-masing di
atas dan dibawah, serta suatu proses massa bentuknya zat padat (tak aktif/innert)
diatas penyannganya. Bentuk ini disebut isisan menara atau packing tower. Jenis-
jenis menara isian adalah :
 Rashing Ring
 Lessing Ring
 Intalox Saddle
 Ben Saddle
Persyaratan pokok yang diperlukan menara isisan :
 Harus bereaksi tidak dengan fluida dalam menara
 Tidak terlalau berat
 Hanya banyak mengandung cukup banyak larutan untuk arus banyak zat
cair yang terperangkap atau meyebabkan penurunan tekanan.
 Harus memungkinkan terjadinya kontak yang memuaskan antara zat cair
dan gas.
 Tidak terlalu mahal.
Pada absorbsi sendiri ada dua macam proses yaitu :
a. Absorbsi fisik
Absorbsi fisik merupakan absorbsi dimana gas terlarut dalam cairan
penyerap tidak disertai dengan reaksi kimia. Contoh absorbsi ini adalah absorbsi
gas H2S dengan air, metanol, propilen, dan karbonat. Penyerapan terjadi karena
adanya interaksi fisik, difusi gas ke dalam air, atau pelarutan gas ke fase cair.
Dari asborbsi fisik ini ada beberapa teori untuk menyatakan model
mekanismenya, yaitu :
1. Teori model film
2. Teori penetrasi
3. Teori permukaan yang diperbaharui
b. Absorbsi kimia
Absorbsi kimia merupakan absorbsi dimana gas terlarut didalam larutan
penyerap disertai dengan adanya reaksi kimia. Contoh absorbsi ini adalah
absorbsi dengan adanya larutan MEA, NaOH, K2CO3, dan sebagainya. Aplikasi
dari absorbsi kimia dapat dijumpai pada proses penyerapan gas CO2 pada pabrik
amoniak. Penggunaan absorbsi kimia pada fase kering sering digunakan untuk
mengeluarkan zat terlarut secara lebih sempurna dari campuran gasnya.
Keuntungan absorbsi kimia adalah meningkatnya koefisien perpindahan massa
gas, sebagian dari perubahan ini disebabkan makin besarnya luas efektif
permukaan. Absorbsi kimia dapat juga berlangsung di daerah yang hampir
stagnan disamping penangkapan dinamik.

Absorben adalah cairan yang dapat melarutkan bahan yang akan


diabsorpsi pada permukaannya, baik secara fisik maupun secara reaksi kimia.
Absorben sering juga disebut sebagai cairan pencuci. Persyaratan absorben :
1. Memiliki daya melarutkan bahan yang akan diabsorpsi yang sebesar
mungkin (kebutuhan akan cairan lebih sedikit, volume alat lebih kecil).
2. Selektif
3. Memiliki tekanan uap yang rendah
4. Tidak korosif.
5. Mempunyai viskositas yang rendah
6. Stabil secara termis.
7. Murah

Faktor-faktor yang mempengaruhi proses absorber yaitu :


 Perbedaan konsentrasi
 Luas permukaan absorber
 Suhu
 Tekanan
 Viskositas

Jenis-jenis bahan yang dapat digunakan sebagai absorben adalah air (untuk
gas-gas yang dapat larut, atau untuk pemisahan partikel debu dan tetesan cairan),
natrium hidroksida (untuk gas-gas yang dapat bereaksi seperti asam) dan asam
sulfat (untuk gas-gas yang dapat bereaksi seperti basa).

1.1.2 Kolom Absorpsi


Adalah suatu kolom atau tabung tempat terjadinya proses pengabsorbsi
(penyerapan/penggumpalan) dari zat yang dilewatkan di kolom/tabung tersebut.
Proses ini dilakukan dengan melewatkan zat yang terkontaminasi oleh komponen
lain dan zat tersebut dilewatkan ke kolom ini dimana terdapat fase cair dari
komponen tersebut.

Gambar 1 : Kolom Absorbsi


Gambar 2 : Alat Absorbsi

1.1.3 Struktur dalam absorber


1. Bagian atas: Spray untuk megubah gas input menjadi fase cair.
2. Bagian tengah: Packed tower untuk memperluas permukaan sentuh
sehingga mudah untuk diabsorbsi
3. Bagian bawah: Input gas sebagai tempat masuknya gas ke dalam 6eactor.

1.1.4 Prinsip Kerja Kolom Absorbsi


1. Kolom reactor adalah sebuah kolom, dimana ada zat yang berbeda fase
mengalir berlawanan arah yang dapat menyebabkan komponen kimia
ditransfer dari satu fase cairan ke fase lainnya, terjadi 6eacto pada setiap
6eactor kimia. Proses ini dapat berupa absorpsi gas, destilasi,pelarutan
yang terjadi pada semua reaksi kimia.
2. Campuran gas yang merupakan keluaran dari 6eactor diumpankan
kebawah menara absorber. Didalam absorber terjadi kontak antar dua
fasa yaitu fasa gas dan fasa cair mengakibatkan perpindahan massa
difusional dalam umpan gas dari bawah menara ke dalam pelarut air
sprayer yang diumpankan dari bagian atas menara. Peristiwa 7eactor ini
terjadi pada sebuah kolom yang berisi packing dengan dua tingkat.

Keluaran dari absorber pada tingkat I mengandung larutan dari gas yang
dimasukkan tadi.

Gambar 4 : Prinsip Kerja Kolom Absorbsi

Keterangan : (a). gas keluaran (b). gas input (c). pelarut (d). gas output

Gambar 5 : Proses Kolom Absorbsi

Proses Pengolahan Kembali Pelarut Dalam Proses Kolom Absorber

1. Konfigurasi 7 reactor akan berbeda dan disesuaikan dengan sifat alami


dari pelarut yang digunakan
2. Aspek Thermodynamic (suhu dekomposisi dari pelarut),volalitas
pelarut,dan aspek kimia/fisika seperti korosivitas, viskositas,toxisitas, juga
termasuk biaya, semuanya akan diperhitungkan ketika memilih pelarut
untuk spesifik sesuai dengan proses yang akan dilakukan.
3. Ketika volalitas pelarut sangat rendah, contohnya pelarut tidak muncul
pada aliran gas, proses untuk meregenerasinya cukup sederhana yakni
dengan memanaskannya.

1.1.5 Laju Absorbsi


Di dalam merancang suatu menara absorbsi, harga koefisien perpindahan
massa merupakan besaran yang sangat penting. Penurunan korelasi harga Kga
berdasarkan pada absorbsi fisik. Dengan adanya harga Kga dapat ditentukan
besaran-besaran lainnya seperti
a. Kecepatan perpindahan massa
Kecepatan perpindahan massa dapat dihitung setelah konsentrasi gas yang
berkesinambungan dengan fase cairnya diketahui. Dalam hal ini gas harus
berdifusi ke aliran cairan tiap satuan waktu.
b. Waktu operasi
Jika harga Kga diketahui maka kecepatan perpindahan massanya dapat juga
ditentukan sehingga waktu operasi bisa dihitung pula.
c. Ukuran alat dan bahan
Untuk mengetahui dimensi alat dan besarnya biaya pembuatan alat tersebut,
dapat diturunkan dari persamaan berikut : Rumus untuk menentukan harga
Kga dapat didasarkan pada absorbsi fisik dengan menganggap bahwa kurva
kesetimbangan berurutan pada selang waktu tertentu dimana perpindahan
massa berlangsung. Kecepatan perpindahan massa dapat ditentukan
berdasarkan persamaan yang diturunkan oleh Maxwell dan Stefan :
Persamaan tersebut merupakan persamaan untuk difusi gas dalam keadaan
tetap di komponen A melalui B yang tidak bergerak dan gas berdifusi dalam
tubuh gas ke permukaan batas gas-cair. Dari persamaan tersebut dapat
digunakan untuk mencari korelasi Kga, yaitu : Apabila volume cairan
diabaikan, maka : Neraca massa A pada fase cair di sepanjang elemen
volume A Δz, menghasilkan persamaan : Neraca massa A pada fase gas
pada elemen volum yang sama menghasilkan persamaan : Pada absorbsi
CO2 dengan larutan NaOH menjadi :
CO2 (g) + 2NaOH (l) → Na2CO3 (l) + H2O

Jika laju reaksi pembentukan Na2CO3 jauh lebih besar dibandingkan laju
difusi CO2 kedalam larutan NaOH, maka konsentrasi CO2 pada batas film cairan
dengan bahan utama cairan adalah nol. Hal ini disebabkan oleh konsentrasi CO2
yang sangat cepat selama reaksi di sepanjang film. Pada reaksi instan (sangat
cepat) bilangan Ha (Ha = CL{K1,Cb}1/DA>>>1), maka konsentrasi reaktan akan
habis pada posisi X*<L, hal ini berakibat [A]2 = 0. Letak X* adalah suatu tempat
dimana fluks A dari antar muka dan B dari bagian utama cairan berada pada
perbandingan stokiometri. Pada kasus ini, perbandingan stokiometri A terhadap B
adalah 1 : 2, berlaku persamaan : Dengan enchancement faktor (E) = 1 + β dengan
Tebal film (X*) dapat ditentukan dengan menganggap bahwa semua CO 2 yang
berpindah fase dari gas ke cair habis bereaksi di sepanjang film.
1.1.6 Analisa Hempl (Hempl Analysis)
Dalam skala laboratorium, peralatan kolom absorber gas biasanya sudah
dilengkapi dengan peralatan analisa sampel gas (Hempl Analysis) mapun analisa
cairan (titrasi). Perangkat peralatan analisa gas Hempl berisi larutan NaOH yang
reaksinya dengan CO2 :
CO2 + 2NaOH ↔ Na2CO3+ H2O

dimana jumlah CO2 yang diserap sebanding dengan pertambahan volume


larutan dalam peralatan analisa tersebut.

1.1.7 Packing
Di dalam absorber terdapat packing yang memberikan kontak yang bagus
antar kedua fasa sehingga luas permukaan menjadi maksimum. Beragam jenis
packing telah dikembangkan untuk memperluas daerah dan efisiensi kontak
gascairan. Ukuran packing yang umum digunakan adalah 3-75 mm. Bahan yang
digunakan dipilih berdasarkan sifat inert terhadap komponen gas maupun cairan
solven dan pertimbangan ekonomis, antara lain tanah liat, porselin, grafit dan
plastik. Packing yang baik biasanya memenuhi 60-90% dari volume kolom.
Ada 3 jenis packing :
1. Raschig ring: potongan pipa
2. Berl saddle
3. Pall ring

Gambar 1.3 Macam-macam packing

Untuk memperluas permukaan kontak, digunakan kolom berisi packing


(packed coloum) dengan kriteria pemilihan packing sebagai berikut :

1. Memiliki luas permukaan terbasahi tiap unit volume yang besar.


2. Memiliki ruang kosong yang cukup besar sehingga kehilangan
tekanan kecil.
3. Karakteristik pembasahan baik.
4. Densitas kecil agar berat kolom keseluruhan kecil.
5. Tahan korosi dan ekonomis.
BAB II

METODOLOGI PERCOBAAN

2.1 Alat

Alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah absorber yang di


lengkapi dengan tabung gas COyang dilengkapi pengatur tekanan pada saluran
gas masuk. Dan menggunakan alat-alat jelas seperti labu ukur, botol
semprot,corong,batang pengaduk dan gelas kimia.

2.2. Bahan

Dalam praktikum neraca massa pada absorber, bahan-bahan yang


dibutuhkan yaitu: udara, CO₂, air, dan larutan NaOH 1 M.

2.3. Prosedur Percobaan

2.3.1. Pembuatan Larutan NaOH 1 M

1. Menimbang kristal NaOH sebanyak 20 gr.

2. Melarutkan kristal NaOH tersebut dalam gelas kimia dengan aquadest.

3. Setelah kristal NaOH larut, pindahkan kedalam labu ukur 500 ml dan
tambahkan aquadest sampai tanda batas.

4.Kemudian labu ukur tersebut diguncangkan agar NaOH larut dalam


aquadest secara merata.

2.3.2. Pelaksanaan Percobaan

Langkah-langkah pelaksanaan percobaan sebagai berikut:

1. Mengisi Hempl analisis dengan larutan NaOH 1 N sampai batas 0 ml


2. Menyalakan alat kemudian mengatur laju alir udara dan air
3. Mengatur arah aliran valve untuk S1, S2, dan S3
4. Membersihkan sisa gas yang terdapat pada saluran pengambilan
sampel dengan cara menghisap saluran itu menggunakan piston dan
mendorong / mengeluarkannya ke atmosfer.
5. Menghidupkan gas CO2 dan kemudian mengatur laju alirnya
6. Melakukan penyerapan pada piston sebanyak 20 ml
7. Menunggu selama waktu yang telah ditentukan
8. Mengontakkan CO2 yang terserap ke NaOH
9. Menarik piston dan menghitung kadar CO2 yang terserap.
BAB III

HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Penyerapan CO2 Menggunakan Kecepatan aliran air CO2 3 L/menit


dengan Memvariasikan Kecepatan aliran udara

Penyerapan gas CO2 dari campuran CO2 dan udara dengan cara mengalirkan
air dari atas dan gas serta udara dari bawah.Kecepatan air yang di gunakan
3L/menit,dengan kecepatan udara divariasikan yaitu
20L/menit,40L/menit,60L/menitdengan kecepatan CO2 3L/menit.Hasilnya dapat
dilihat pada tabel dibawah ini :
Tabel 3.1. Data Hasil Percobaan Absorber

V2 (ml)
F1 F2 F3
V1 (ml)
(L/m) (L/m) (L/m)
S1 S2 S3

3 20 4 20 1,7 2,2 3,1

3 40 4 20 1,8 1,9 3,4

3 60 4 20 1,6 1,8 2,3

Keterangan : F1 = Kecepatan aliran air (Liter/menit)


F2 = Kecepatan aliran udara (Liter/menit)
F3 = Kecepatan aliran CO2 (Liter/menit)
V1 = Volume gas pada tabung piston (ml)
V2 = Volume gas CO2 yang terabsorpsi (ml)
S1 = Valve pada posisi kolom atas
S2 =Valve pada posisi kolom tenggah
S3 =Valve pada posisi kolom bawah
Berdasarkan tabel 3.1 dapat dilihat bahwa penyerapan gas CO2 dengan
media penyerap yaitu air dari campuran CO2 dan udara dengan cara mengalirkan
air dari atas dan gas serta udara dari bawah. Air digunakan sebagai penyerap gas
CO2 karena air merupakan media penyerap yang lebih baik.Jumlah V2 yang
dihasilkan memiliki perbedaan.S1adalahpengambilanpadabagianataskolom,
S2adalahpengambilanpadabagiantengahkolom, dan
S3adalahpengambilanpadabagianbawahkolom.

Semakinkebawahkolom, jumlah CO2 yang diserap semakin banyak.Hal ini


karenapadabagianbawah kolom, kontak antara kolom dan pemasukan gas lebih
besar dibandingkan kolom yang diatas nya. Serta bagian S3lebih dekat dengan
sistim pemasukan gasnya.Semakinbesarkecepatanaliran air dihasilkanjumlah CO2
yang terserap lebihsedikitpadasetiappengambilan (S1, S2, S3). Hal ini karena
kontak antara packing dengan CO2 yang terserap kecil dibanding dengan
kecepatan laju alirnya yang kecil.

Kurva Hubungan V2 pada valve S1, S2, dan S3 terhadap Kecepatan


Aliran Udara
0.2
0.18
V2 pada valve S1, S2, dan S3

0.16
0.14
0.12
0.1 s1 S1
0.08 s2 S2
0.06 s3 S3
0.04
0.02
0
0 10 20 30 40 50 60 70
Kecepatan Aliran Udara (Liter/menit)

Gambar 3.1Kurvahubungan V2pada valve S1, S2dan S3terhadapkecepatanalir


udara
Berdasarkan Gambar 3.1 dapat dilihat bahwa volume gas CO2 yang
terabsorpsi (V2) lebih banyak pada valve S3 dengan kecepatan alir CO2 4 L/menit.
Hal ini disebabkan karena posisi S1 berada di menara isian bagian atas, sehingga
gas CO2 yang di alirkan dari bawah menara isian sedikit yang sampai pada S 1,
maka gas CO2 yang terserap hanya sedikit. Sedangkan pada posisi S2 yang berada
di menara isian bagian tengah, gas CO2 yang diserapnya lebih besar dibanding
penyerapan pada S1, karena jumlah gas yang di alirkan dari bawah menara isian
sama dengan jumlah air yang dialirkan dari atas menara isian, sehingga banyak
gas yang diserap oleh air. Dan pada posisi S3 yang berada di menara isian bagian
bawah, gas CO2 yang diserapnya lebih banyak dibanding S1dan S2. Karena
posisinya yang dekat dengan pemasukan gasnya.

3.2 Fraksi mol dan fraksi volume CO2 yang diambil dari valve S3

Tabel 3.2 Hasil percobaan fraksi mol dan fraksi volume CO2 yang diambil
darivalve S3

Perhitungan Y1
V2 (ml)
F1 F2 F3 V1
(L/m) (L/m) (L/m) (ml)
S1 S2 S3
S1 S2 S3

3 20 4 20 1,7 2,2 3,1 0,16 0,08 0,11 0,15

3 40 4 20 1,8 1,9 3,4 0,09 0,09 0,09 0,17

3 60 4 20 1,6 1,8 2,3 0,0625 0,09 0,07 0,11

Keterangan : F3/(F2 + F3) = fraksi mol CO2

(V2/V1) = fraksi volume CO2

Berdasarkan Tabel 3.2 diatas dapat dilihat dari perhitungan tersebut,


perbandingan antara nilai Yi fraksi mol F3/(F2 + F3) dengan nilai Yi secara fraksi
volume (V2/V1) memiliki nilai yang berbeda.Jumlah fraksi mol CO2 yang berhasil
diserap dengan laju alir air (F1) sebesar 3 L/menit, laju alir udara (F2) sebesar 20
L/menit, dan laju alir CO2 (F3) sebesar 4 L/menit adalah sebesar 0,16 , 0,09 dan
0,0625.Besar kecilnya fraksi mol CO2 dipengaruhi oleh kecepatan aliran udara
dan CO2 dibuat sama untuk setiap perlakuan.

Jika dilihat dari fraksi volumenya, untuk kecepatan alir air sebesar 3
Liter/menit didapat harga fraksi volume yang berbeda pada S1, S2, S3. Perbedaan
ini dikarenakan adanya perbedaan jumlah V2 yang diserap. Semakin besar harga
V2 (harga V1dibuat konstan), maka semakin besar pula fraksi volumenya.
BAB IV

PENUTUP

4.1 Kesimpulan
1. Absorbsi merupakan salah satu proses pemisahan dengan cara
mengontakkan campuran gas dengan cairan sebagai penyerapnya.
2. Semakin lama waktu pengambialan sampel yang dilakukan, maka semakin
banyak gas CO2 yang terserap.
3. Semakin besar kecepatan alir CO2 di alirkan, maka semakin banyak pula
gas CO2 yang terserap.

4.2 Saran
1. Kepada praktikan selanjutnya diharapkan lebih sering dalam mengganti
larutan NaOH supaya data yang didapat lebih akurat.
2. Kepada praktikan selanjutnya diharapkan untuk memastikan bahwa piston
tidak lagi mengandung CO2 hasil penyerapan sebelumnya. Kesalahan
dalam hal ini akan mempengaruhi volume CO2 yang terserap pada proses
selanjutnya.
LAMPIRAN A
LAPORAN SEMENTARA
Judul Praktikum : Neraca Massa Pada Absorber

Hari/Tanggal Praktikum : Jumat/13 Oktober 2016

Pembimbing : Ir. Rozana SI, M.Si

Asisten Laboratorium : Fitra Novita P

Nama Kelompok VI : Gema Aidil Fitra

Frans Sueno Sihombing

Ellyn Silviana

Ariana Rahma Windi

A.1 Data Hasil Percobaan


Data hasil percobaan neraca massa pada absorber dapat dilihat pada tabel di
bawah ini

Tabel.1Data Hasil Percobaan

Perhitungan Y1
V2 (ml)
F1 F2 F3 V1
𝐹3
(L/m) (L/m) (L/m) (ml)
S1 S2 S3 𝐹2+𝐹3
S1 S2 S3
1 1,5 2,3
3 20 4 20 1,8 2,4 3 0,16 0,08 0,11 0,15
2,4 2,8 3,9
1,3 1,2 2
3 40 4 20 1,7 1,8 3,7 0,09 0,09 0,09 0,17
2,5 2,4 4,5
1,4 1,2 2,1
3 60 4 20 1,9 1,5 2,3 0,0625 0,09 0,07 0,11
2,2 2 2,4
LAMPIRAN B
PERHITUNGAN

1.Perhitungan Pembuatan NaOH 1 M sebanyak 500 ml

𝑔𝑟 1000
M = 𝑚𝑟 × 𝑣
𝑔𝑟 1000
1 M = 𝑚𝑟 × 500

gr = 20 gr NaOH dalam 500 ml.

Jadi, NaOH yang diambil sebanyak 20 gram untuk kemudian dilarutkan kedalam
500 ml akuades

2.Perhitungan Yi

a.untuk F1=3 liter/menit F2=20 liter/menit F3=4 liter/menit

𝑭𝟏
𝒀𝒊 =
𝑭𝟐 + 𝑭𝟑

𝟑
=
𝟐𝟎 + 𝟒

𝟑
=
𝟐𝟒

= 𝟎, 𝟏𝟐𝟓

b. untuk F1=3 liter/menit F2=40 liter/menit F3=4 liter/menit

𝑭𝟏
𝒀𝒊 =
𝑭𝟐 + 𝑭𝟑

𝟑
=
𝟒𝟎+𝟒

𝟑
=
𝟒𝟒
= 𝟎, 𝟎𝟔

c. untuk F1=3 liter/menit F2=40 liter/menit F3=4 liter/menit

𝑭𝟏
𝒀𝒊 =
𝑭𝟐 + 𝑭𝟑

𝟑
=
𝟔𝟎 + 𝟒

𝟑
=
𝟔𝟒

= 𝟎, 𝟎𝟒

d.untuk S1,S2, dan S3 pada F1=3 liter/menit F2=20 liter/menit F3=4


liter/menit

𝑽𝟐
𝑺𝟏 = 𝑽𝟏

𝟏, 𝟕𝟑
=
𝟐𝟎

= 𝟎, 𝟎𝟖

𝑽𝟐
𝑺𝟐 =
𝑽𝟏

𝟑, 𝟎𝟔
=
𝟐𝟎

= 𝟎, 𝟏𝟓

𝑽𝟐
𝑺𝟑 =
𝑽𝟏

𝟐, 𝟐𝟑
=
𝟐𝟎
= 𝟎, 𝟏𝟏

e.untuk S1,S2, dan S3 pada F1=3 liter/menit F2=40 liter/menit F3=4


liter/menit

𝑽𝟐
𝑺𝟏 =
𝑽𝟏

𝟏, 𝟖𝟑
=
𝟐𝟎

= 𝟎, 𝟎𝟗

𝑽𝟐
𝑺𝟐 =
𝑽𝟏

𝟑, 𝟒
=
𝟐𝟎

= 𝟎, 𝟏𝟕

𝑽𝟐
𝑺𝟑 =
𝑽𝟏

𝟏, 𝟖
=
𝟐𝟎

= 𝟎, 𝟎𝟗

f.untuk S1,S2, dan S3 pada F1=3 liter/menit F2=60 liter/menit F3=4 liter/menit

𝑽𝟐
𝑺𝟏 =
𝑽𝟏
𝟏, 𝟖𝟑
=
𝟐𝟎

= 𝟎, 𝟎𝟗

𝑽𝟐
𝑺𝟏 =
𝑽𝟏

𝟐, 𝟐𝟔
=
𝟐𝟎

= 𝟎, 𝟏𝟏

𝑽𝟐
𝑺𝟏 =
𝑽𝟏

𝟏, 𝟓𝟔
=
𝟐𝟎

= 𝟎, 𝟎𝟕
DAFTAR PUSTAKA

MC.Cabe,W.L,Smith,JC,Harriot,P.1985. ”Unit Operation of Chemical


Engineering”, 4th ed. Mc.Graw-Hill,New York.
Tim Laboratorium Dasar Proses dan Operasi Pabrik Program Studi D3 Teknik
Kimia Fakultas Teknik Universitas Riau 2011. Penuntun
Praktikum Dasar-Dasar Proses1. Pekanbaru: Laboratorium
Dasar Proses dan Operasi Pabrik Program Studi D3 Teknik
Kimia Fakultas Teknik Kimia Universitas Riau.
Brown, G.G.1950.” Unit Operation ”. John Willey & Sons inc, New York
Ludwi G, Ernest, E.1979. “Appliend Process for Chemical and Petrochemical
Plants vol II.2nd ed. Gulf Publising Company. Houston Texas
Perry, RH. 1984. “ Chemical Enginering Hnad Book “ 6th ed. Mc Graw Hill
book. Co. Singapore.