Anda di halaman 1dari 38

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Mikronutrien (zat gizi mikro) adalah zat gizi yang dibutuhkan oleh
tubuh dalam jumlah sedikit, namun mempunyai peran yang sangat penting
dalam pembentukan hormon, aktivitas enzim serta mengatur fungsi sistem
imun dan sistem reproduksi. Yang termasuk mikronutrien adalah vitamin (baik
yang larut air maupun larut lemak) dan mineral. Mineral dibagi menjadi dua
kelompok yaitu makromineral dan mikromineral. Makromineral adalah
mineral yang dibutuhkan tubuh sebanyak minimal 100 mg per hari (contoh:
kalsium, fosfor), sedangkan mikromineral (trace elements) adalah mineral
yang dibutuhkan tubuh dalam jumlah kurang dari 100 mg per hari (contoh:
seng, besi). Adapula mikromineral dibutuhkan dalam jumlah hanya beberapa
mikrogram per hari, seperti cuprum dan molibdenum. Mikronutrien diperoleh
dari luar tubuh seperti dari makanan atau suplemen, karena tubuh tidak mampu
memproduksinya dalam jumlah yang cukup sesuai dengan kebutuhan tubuh.
Meskipun hanya dibutuhkan tubuh dalam jumlah yang sangat sedikit,
mikronutrien sangat dibutuhkan oleh tubuh. Kekurangan zat gizi mikro dapat
meningkatkan resiko terserang penyakit menular, kematian akibat diare,
campak, malaria dan paru-paru. Kondisi tersebut merupakan bagian dari 10
penyebab utama kematian di dunia saat ini. WHO mencatat bahwa lebih dari
2000 juta penduduk di dunia menderita kekurangan vitamin dan mineral,
terutama vitamin A, vitamin C, besi dan seng.
Vitamin A mempunyai peranan penting dalam fungsi penglihatan,
kekebalan tubuh, diferensiasi sel (perubahan bentuk dan fungsi sel), reproduksi
(pembentukan sperma pada laki-laki dan menjaga kesuburan pada perempuan),
pertumbuhan embrio, dan pertumbuhan serta perkembangan sel, antara lain
tulang dan gigi. Vitamin A terdapat dalam bentuk retinol, retinal dan asam
retinoat sedangkan pro-vitamin A terdapat dalam bentuk karotenoid (alfa, beta
dan gama karoten). Sumber vitamin A sebagian besar berasal dari bahan pangan
hewani seperti hati ayam, telur, minyak ikan, susu dan mentega. Sedangkan
sayur-sayuran berwarna hijau tua seperti daun singkong, daun kacang,

1
kangkung, brokoli, bayam dan buah-buahan berwarna kuning-jingga seperti
wortel, tomat, papaya, mangga banyak mengandung pro-vitamin A
(karotenoid). Kekurangan vitamin A dapat menyebabkan buta senja (night
blindness), menurunnya fungsi kekebalan tubuh, gangguan pertumbuhan sel,
terutama tulang dan gigi, kulit menjadi kering dan kasar. Defisiensi vitamin A
yang sudah berat dapat mengakibatkan kebutaan. Angka kecukupan vitamin A
rata-rata yang dianjurkan per hari untuk laki-laki dan perempuan dewasa
masing-masing adalah 600 dan 500 mikrogram per hari. Untuk ibu hamil
sampai dengan 6 bulan pertama, perlu ada penambahan sebanyak 350 mikro
gram vitamin A per hari. Kelebihan vitamin A dapat terjadi akibat konsumsi
suplemen vitamin A dalam dosis tinggi dalam jangka waktu lama. Gejala yang
ditimbulkan antara lain adalah sakit kepala, pusing, mual, rambut rontok, kulit
kering, tidak ada nafsu makan (anoreksia) dan sakit pada tulang.
Zat besi merupakan mineral esensial bagi pembentukan hemoglobin
yang berfungsi untuk membawa oksigen dari paru-paru ke seluruh jaringan
tubuh, elektron ke dalam sel, dan membentuk enzim zat gizi besi yang
dibutuhkan untuk produksi energi seluler, sistem kekebalan tubuh, dan fungsi
otak.
Zat seng adalah salah satu zat gizi mikro yang menarik perhatian para
ahli gizi akhir-akhir ini karena fungsinya bagi tubuh. Zat seng merupakan
komponen dari enzim atau sebagai katalisator pada kegiatan lebih dari 200
enzim. Zat seng berperan dalam fungsi metabolisme seperti reaksi-reaksi yang
berkaitan dengan sintesis dan degradasi karbohidrat, protein, lemak dan asam
nukleat. Di samping itu, seng juga berperan dalam proses replikasi sel, fungsi
kekebalan tubuh, penglihatan, mencegah kerusakan sel akibat radikal bebas,
pengembangan fungsi reproduksi laki-laki dan pembentukan sperma,
perkembangan janin, kondisi bayi yang akan dilahirkan, perkembangan fungsi
pengecapan dan nafsu makan, serta kesehatan tulang.
Morbiditas merupakan derajat sakit yang biasanya dinyatakan dalam
angka prevalensi atau insidensi yang umum. Angka kesakitan merupakan
indikator penting dalam rangka penilaian dan perencanaan program untuk
menurunkan kesakitan dan kematian di suatu wilayah. Angka kesakitan

2
merupakan masalah kesehatan penting terutama bagi anak-anak dibawah
umur 5 tahun (balita) karena kesakitan paling sering ditemukan pada
golongan anak usia dini dimana pada usia tersebut balita sangatlah rentan
terserang penyakit. Angka kesakitan ialah jumlah kejadian suatu penyakit
yang dirumuskan sebagai jumlah anak yang sakit per 1000 anak yang bisa
terkena penyakit (Kardjati, 1985).

Angka tingkat sakit mempunyai peranan penting yang lebih penting


dibandingkan dengan angka kematian. Karena apabila angka kesakitan
tinggi maka akan memicu kematian sehingga menyebabkan angka kematian
juga tinggi. Angka kesakitan lebih mencerminkan keadaan kesehatan yang
sesungguhnya sebab mempunyai hubungan yang erat dengan faktor
lingkungan seperti kemiskinan, kurang gizi, penyakit infeksi, perumahan,
air minum yang sehat, kebersihan lingkungan dan pelayanan kesehatan
(Kardjati, 1985).
Berdasarkan hasil Riskesdas tahun 2018 menunjukan tingkat mobiditas
di Indonesia pada anak masih tinggi, hal ini dapat dilihat dari beberapa
prevalesi penyakit seperti ispa 4,4%, pnemomonia 2,0%, TB paru 0,4%, dan
diare 11.0%. Provinsi Jawa Barat prevalesi penyakit ispa 5,0%, pnemomonia
2,5%, TB paru 0,5%, dan diare 13.0% sedangkan Kabupten Sukabumi di
wilayah kerja Puskesmas Limbangan Kecamatan Sukaraja prevalesi penyakit
ispa 3,1%, pnemomonia 2,2%, TB paru 0,4%, dan diare 12.8%
Berdasarkan latar belakang di atas, maka penulis ingin melakukan
penelitian dengan judul “Hubungan Antara Asupan Mikronutrien Dengan
Tingkat Morbiditas Pada Anak Stunting Usia 6-59 Bulan di Puskesmas
Limbangan Kecamatan Sukaraja Kabupaten Sukabumi”.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka perumusan masalah nya
adalah Adakah Hubungan Antara Asupan Mikronutrien Dengan Tingkat
Morbiditas Pada Anak Stunting Usia 6-59 Bulan di Puskesmas Limbangan
Kecamatan Sukaraja Kabupaten Sukabumi ?

3
C. Tujuan

1. Tujuan Umum
Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk menganaliSIS
Hubungan Antara Asupan Mikronutrien Dengan Tingkat Morbiditas Pada
Anak Stunting Usia 6-59 Bulan di Puskesmas Limbangan Kecamatan
Sukaraja Kabupaten Sukabumi
2. Tujuan Khusus
a. Menganalisis asupan mikronutrien (Vitamin A, Vitamin C, Zat
besi dan Zinc) dan tingkat kecukupan zat gizi.
b. Mengkaji morbiditas penyakit infeksi (Ispa, Pnemonia,TB paru
dan Diare).
c. Menganalisis hubungan antara asupan mironutrien (Vitamin A,
Vitamin C, Zat besi dan Zinc) dengan tingkat morbiditas.
d. Menganalisis hubungan antara status gizi balita sampel dengan
tingkat morbiditas.
.
D. Manfaat
1. Manfaat Teoritis
Penelitian ini diharapkan dapat membuktikan teori – teori sebelumnya
yang dapat mendukung dan memperkuat teori – teori tersebut.
2. Manfaat Praktisi
a. Bagi Instansi
Penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan masukan dalam
meningkatkan dan mengembangkan intervensi gizi spesifik dalam
upaya menurunkan angka morbiditas pada anak stunting.
b. Bagi Masyarakat
Penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan mengenai
pentingnya asupan mikronutrien bagi anak stunting dalam upaya
mempertahankan kesehatannya.
c. Bagi Peneliti
Penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan dan
pengetahuan dalam menerapkan ilmu yang didapat selama kuliah.
4
d. Bagi sampel
Penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan dan
kesadaran tentang pentingnya asupan mikronutrien bagi anak stunting
dalam upaya mempertahankan kesehatannya.
e. Bagi jurusan gizi STIKI IMMANUEL Bandung
Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat sebagai tambahan
referensi mengenai gizi masyarakat dan untuk bahan pengembangan
penelitian bagi para mahasiswa selanjutnya.

5
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
1. Balita

Periode penting dalam tumbuh kembang anak adalah masa balita


karena pada masa ini pertumbuhan dasar yang akan mempengaruhi dan
menentukan perkembangan anak selanjutnya (Soetjiningsih,1995). Umur
balita merupakan salah satu fase perkembangan individu. Berdasarkan
karakteristiknya yang baru lepas dari masa bayi (0-1 tahun), maka umur
balita perlu dilakukan pemisahan dengan tahap perkembangan lainnya
(Hurlock,1999). Tahun-tahun awal masa kanak-kanak yaitu umur satu
hingga enam tahun berada dalam situasi yang rawan (Suhardjo,1989).
Menurut Sediaoetama (2008), anak balita juga merupakan kelompok yang
menunjukkan pertumbuhan badan yang pesat, sehingga memerlukan zat-zat
gizi yang tinggi setiap kg berat badannya. Anak balita ini justru merupakan
kelompok umur yang paling sering menderita akibat kekurangan gizi.
2. Asupan Gizi Anak
Gizi adalah suatu proses organisme menggunakan makanan yang
dikonsumsi secara normal melalui proses digesti, absorpsi, transportasi,
penyimpanan, metabolism dan pengeluaran zat-zat yang tidak digunakan
untuk mempertahankan kehidupan, pertumbuhan, dan fungsi normal dari
organ-organ, serta menghasilkan energi (Supariasa et al 2002). Kebutuhan
gizi merupakan kebutuhan yang sangat penting dalam membantu proses
pertumbuhan dan perkembangan pada balita. Gizi adalah salah satu
komponen yang penting dalam menunjang keberlangsungan proses
pertumbuhan dan perkembangan yang menjadi kebutuhan untuk tumbuh
dan berkembang selama masa pertumbuhan serta mencegah terjadinya
berbagai penyakit akibat kurang gizi dalam tubuh seperti kekurangan energi
dan protein, anemia, defisiensi iodium, defisiensi seng (Zn), defisiensi
vitamin A, defisiensi thiamin, defisiensi kalium dan lain-lain yang dapat
menghambat proses tumbuh kembang balita. Terdapat kebutuhan zat gizi
yang diperlukan seperti protein, karbohidrat, lemak, mineral, vitamin dan
air. Kebutuhan zat-zat gizi tersebut sangat diperlukan pada masa-masa
6
balita, apabila kebutuhan tersebut tidak atau kurang terpenuhi maka dapat
menghambat dalam pertumbuhan dan perkembangannya. Terpenuhinya
kebutuhan gizi pada balita diharapkan balita dapat tumbuh dengan cepat
sesuai dengan umur tumbuh kembang dan dapat meningkatkan kualitas
hidup serta mencegah terjadinya morbiditas dan mortalitas (Hidayat,2004).
3. Vitamin A

Vitamin A adalah vitamin larut lemak yang pertama ditemukan.


Vitamin A terdapat di dalam pangan hewani, sedangkan karoten terutama
di dalam pangan nabati. Sumber vitamin A adalah hati, kuning telur, susu
(di dalam lemaknya) dan mentega. Sumber karoten adalah sayuran
berwarna hijau tua serta sayuran dan buah-buahan yang berwarna kuning-
jingga, seperti daun singkong, daun kacang, kangkung, bayam, kacang
panjang, buncis, wortel, tomat, jagung kuning, pepaya, mangga, nangka
masak dan jeruk (Almatsier,2004).
Vitamin A berfungsi dalam penglihatan, diferensiasi sel, fungsi
kekebalan tubuh, pertumbuhan dan perkembangan, reproduksi, pencegahan
kanker dan penyakit jantung. Kelebihan konsumsi vitamin A dapat
menyebabkan toksisitas dan mempunyai efek teratogenik bagi wanita
hamil. Oleh karena itu, asupan vitamin A harus sesuai dan memenuhi
kebutuhan serta menghindari kelebihan vitamin A (Almatsier,2004).
Vitamin A mengatur banyak aspek dari fungsi kekebalan tubuh, termasuk
komponen-komponen baik sistem kekebalan nonspesifik dan sistem
kekebalan spesifik (Semba,2002). Defisiensi berdampak pada kekebalan
nonspesifik yaitu akibat terhambatnya regenerasi normal dari dinding
mukosa sel epitel selama terjadi infeksi dan berdampak pada berkurangnya
resistensi terhadap infeksi pathogen. Semba (2002) juga menyatakan bahwa
vitamin A merupakan faktor yang penting untuk perkembangan sistem
limfoid dan untuk pemeliharaan permukaan mukosa dari gastrointestinal,
pernapasan dan saluran genitourinary serta pada morbiditas dan mortalitas
anak-anak.
Vitamin A berpengaruh terhadap fungsi kekebalan tubuh. Retinol
tampaknya berpengaruh terhadap pertumbuhan dan diferensiasi limfosit B,
7
disamping itu kekurangan vitamin A menurunkan respon antibodi yang
bergantung pada sel T. Sebaliknya infeksi dapat memperburuk kekurangan
vitamin A. Kaitan vitamin A dan fungsi kekebalan ditemukan bahwa ada
hubungan kuat antara status vitamin A dan resiko terhadap penyakit infeksi
pernafasan; kekurangan vitamin A pada campak cenderung menimbulkan
komplikasi yang dapat berakibat kematian (Almatsier,2004).
4. Vitamin C

Vitamin C merupakan vitamin larut air. Kekurangan vitamin C


dikelan dengan scurvy. Penyakit ini banyak diderita oleh orang-orang yang
mengadakan perjalanan jauh dengan kapal yang mengalami kekurangan
konsumsi bahan makanan segar seperti buah-buahan dan sayur-sayuran
(Almatsier,2004).
Asam askorbat (vitamin C) adalah suatu zat organis yang merupakan
ko- enzim atau askorbat ko-faktor pada berbagai reaksi biokimia tubuh.
Salah satu perannya yang utama adalah proses hidroksilasi praline dan
lysine pada pembentukan kolagen. Kolagen adalah komponen penting
jaringan ikat, oleh sebab itu vitamin C penting untuk kelangsungan hidup
jaringan ikat. Hal ini menunjukkan bahwa vitamin C berperan penting pada
proses penyembuhan luka, adaptasi tubuh terhadap trauma dan infeksi
(Soerjodibroto,1985).
Vitamin C termasuk golongan vitamin yang larut dalam air, dan
akan dieksresikan melalui urine apabila kadar dalam darah melebihi batas
normal. Oleh karena itu vitamin C harus tersedia secara kontinu dalam
makanan sehari- hari agar tidak sampai timbul gejala defisiensi. Defisiensi
vitamin C ini disebut sebagai skorbut (Almatsier,2004).
Vitamin C mempunyai banyak fungsi di dalam tubuh yaitu untuk
mensintesis kolagen; mensintesis karnitin, noradrenalin, serotin; absorpsi
dan metabolisme besi; absorpsi kalsium; mencegah infeksi; dan mencegah
kanker dan penyakit jantung. Vitamin C meningkatkan daya tahan terhadap
infeksi, kemungkinan karena pemeliharaan terhadap membran mukosa atau
pengaruh terhadap fungsi kekebalan (Almatsier,2004).

8
Secara alami vitamin C dapat diperoleh dari buah-buahan. Buah
yang tinggi kandungan vitamin C-nya adalah jambu biji, jeruk, tomat,
mangga, dan sirsak. Sayuran juga banyak mengandung vitamin C terutama
brokoli, cabai, dan kentang. Vitamin C rusak oleh udara, oleh karena itu
untuk mendapatkannya secara maksimal sebaiknya memakan sayur dan
buah dalam keadaan segar dan sesegera mungkin (belum terlalu lama dalam
kondisi terbuka atau sudah dikupas di udara bebas) (Wirakusumah,1998).
Pemeliharaan terhadap membran mukosa fungsi vitamin C meningkatkan
daya tahan terhadap infeksi, kemungkinan karena pemeliharaan terhadap
membran mukosa atau pengaruh terhadap fungsi kekebalan. Dosis vitamin
C yang tinggi dapat mencegah dan menyembuhkan pilek, namun belum
tentu dapat dibuktikan. Selain itu vitamin C juga dapat mencegah dan
menyembuhkan kanker. Hal ini dikarenakan vitamin C dapat mencegah
pembentukan nitrosamine yang bersifat karsinogenik. Disamping itu
peranan vitamin C sebagai antioksidan dapat mempengaruhi pembentukan
sel-sel tumor (Khomsan,2002)
5. Zat Besi
Ada dua jenis zat besi dalam makanan, yaitu zat besi yang berasal
dari hem dan bukan hem. Walaupun kandungan zat besi hem dalam
makanan hanya antara 5 – 10% tetapi penyerapannya hanya 5%. Makanan
hewani seperti daging, ikan dan ayam merupakan sumber utama zat besi
hem. Zat besi yang berasal dari hem merupakan Hb. Zat besi non hem
terdapat dalam pangan nabati, seperti sayur-sayuran, biji-bijian, kacang-
kacangan dan buah-buahan (Wirakusumah, 1999)
Asupan zat besi selain dari makanan adalah melalui suplemen tablet
zat besi. Suplemen ini biasanya diberikan pada golongan rawan kurang zat
besi yaitu balita, anak sekolah, wanita usia subur dan ibu hamil. Pemberian
suplemen tablet zat besi pada golongan tersebut dilakukan karena kebutuhan
akan zat besi yang sangat besar, sedangkan asupan dari makan saja tidak
dapat mencukupi kebutuhan tersebut. Makanan yang banyak mengandung
zat besi antara lain daging, terutama hati dan jeroan, apricot, prem kering,

9
telur, polong kering, kacang tanah dan sayuran berdaun hijau (Pusdiknakes,
2003).
Besi diserap (absorbsi) terutama dalam duodenum dalam bentuk fero
dan dalam suasana asam (Soeparman, 1990). Penyerapan zat besi non hem
sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor penghambat maupun pendorong,
sedangkan zat besi hem tidak. Asam askorbat (vitamin C) dan daging adalah
faktor utama yang mendorong penyerapan zat besi dikenal sebagai Meat,
Fish, Poultry factory (MFP).
Tingkat keasaman dalam lambung ikut mempengaruhi kelarutan dan
penyerapan zat besi di dalam tubuh. Suplemen zat besi lebih baik
dikonsumsi pada saat perut kosong atau sebelum makan, karena zat besi
akan lebih efektif diserap apabila lambung dalam keadaan asam (ph rendah).
Disamping faktor yang mendorong penyerapan zat besi non hem, terdapat
pula faktor yang menghambat penyerapan yaitu teh, kopi dan senyawa
Ethylene Diamine Tetraacetit Acid (EDTA) yang biasa digunakan sebgai
pengawet makanan yang menyebabkan penurunan absorbsi zat besi non
hem sebesar 50% (Wirakusumah, 1999).
6. Zinc

Zinc merupakan mineral penting yang ikut membentuk lebih dari


300 enzim dan protein. Zinc atau seng dibutuhkan agar fungsi tubuh berjalan
sempurna. Kecukupan seng akan mencegah masalah kesehatan termasuk
juga mendorong sistem kekebalan. Beberapa studi menyebutkan bahwa zinc
telah digunakan untuk mencegah cidera, mencegah diare, dan melambatkan
degenerasi macula (kondisi yang menyebabkan masalah penglihatan)
(Harmandini 2010).

Zinc merupakan komponen penting dari berbagai macam enzim.


Kebutuhan zinc adalah 15 mg bagi setiap anak di atas usia 11 tahun. Para
ahli gizi berpendapat dengan mengkonsumsi jumlah protein hewani yang
dianjurkan kebutuhan tubuh akan zinc akan tercukupi. Sumber utama zinc
terdapat pada berbagai bahan pangan yaitu daging, unggas, ikan laut, telur,
keju, susu serta pecel (peanut butter) (Winarno,2004).

10
Seng (Zn) memegang peranan esensial dalam banyak fungsi tubuh.
Seng berperan dalam berbagai aspek metabolisme, seperti reaksi-reaksi
yang berkaitan dengan sintesis dan degradasi karbohidrat, protein, lipida
dan asam nukleat. Seng berperan dalam fungsi kekebalan, yaitu fungsi sel
T dan dalam pembentukan antibodi oleh sel B (Almatsier, 2004).

Sistem imun dalam tubuh dipengaruhi oleh tingkat zinc dalam tubuh.
Kekurangan zinc yang parah akan melemahkan fungsi imun. Zinc
diperlukan bagi pengembangan dan pengaktifan T-limposit, yaitu sejenis sel
darah putih yang berfungsi untuk memerangi penyakit. Pada saat suplemen
zinc diberikan pada individu yang memiliki zinc rendah, jumlah sel T-
limposit dalam darah meningkat dan kemampuan sel limposit untuk
memerangi infeksi meningkat .
7. Metode pengukuran konsumsi makanan (Food Recall)
Prinsip dari metode recall 24 jam, dilakukan dengan mencatat jenis
dan jumlah makanan yang di konsumsi pada 24 jam yang lalu. Dalam
meyode ini, responden, ibu, atau pengasuh di minta untuk menceritakan
smuayang di makanan dan di minum selama 24 jam yang lalu (kemarin).
Biasanya di mulai sejak bangun pagi kemarin sampai istirahat tudur
dimalam harinya, atau dapat juga waktu saat dilakukan wawancara mundur
kebelakang sampai 24 jam penuh.
8. Stunting
Stunting merupakan suatu keadaan dimana tinggi badan anak yang
terlalu rendah. Stunting atau terlalu pendek berdasarkan umur adalah tinggi
badan yang berada di bawah minus dua standar deviasi (<-2SD) dari tabel
status gizi WHO child growth standard (WHO, 2012).
Stunting dapat disebabkan oleh berbagai faktor. WHO (2013)
membagi penyebab terjadinya stunting pada anak menjadi 4 kategori besar
yaitu faktor keluarga dan rumah tangga, makanan tambahan / komplementer
yang tidak adekuat, menyusui, dan infeksi. Faktor keluarga dan rumah
tangga dibagi lagi menjadi faktor maternal dan faktor lingkungan rumah.
Faktor maternal berupa nutrisi yang kurang pada saat prekonsepsi,
kehamilan, dan laktasi, tinggi badan ibu yang rendah, infeksi, kehamilah
11
pada usia remaja, kesehatan mental, Intrauterine growth restriction (IUGR)
dan kelahiran preterm, Jarak kehamilan yang pendek, dan hipertensi. Faktor
lingkungan rumah berupa stimulasi dan aktivitas anak yang tidak adekuat,
perawatan yang kurang, sanitasi dan pasukan air yang tidak adekuat, akses
dan ketersediaan pangan yang kurang, alokasi makanan dalam rumah
tangga yang tidak sesuai, edukasi pengasuh yang rendah.
Faktor kedua penyebab stunting adalah makanan komplementer
yang tidak adekuat yang dibagi lagi menjadi tiga, yaitu kualitas makanan
yang rendah, cara pemberian yang tidak adekuat, dan keamanan makanan
dan minuman. Kualitas makanan yang rendah dapat berupa kualitas
mikronutrien yang rendah, keragaman jenis makanan yang dikonsumsi dan
sumber makanan hewani yang rendah, makanan yang tidak mengandung
nutrisi, dan makanan komplementer yang mengandung energi rendah. Cara
pemberian yang tidak adekuat berupa frekuensi pemberian makanan yang
rendah, pemberian makanan yang tidak adekuat ketika sakit dan setelah
sakit, konsistensi makanan yang terlalu halus, pemberian makan yang
rendah dalam kuantitas. Keamanan makanan dan minuman dapat berupa
makanan dan minuman yang terkontaminasi, kebersihan yang rendah,
penyimpanan dan persiapan makanan yang tidak aman. Faktor ketiga yang
dapat menyebabkan stunting adalah pemberian Air Susu Ibu (ASI) yang
salah bisa karena inisiasi yang terlambat, tidak ASI eksklusif, penghentian
menyusui yang terlalu cepat. Faktor keempat adalah infeksi klinis dan
subklinis seperti infeksi pada usus : diare, environmental enteropathy,
infeksi cacing, infeksi pernafasan, malaria, nafsu makan yang kurang akibat
infeksi, inflamasi.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Nasikhah (2012) pada
anak usia 24 – 36 bulan di Semarang menunjukkan terdapat beberapa faktor
risiko yang paling berpengaruh untuk terjadinya stunting, yaitu tinggi badan
orang tua yang rendah, pendidikan ayah yang rendah, dan pendapatan
perkapita yang rendah. Mamiro (2005) juga melakukan penelitian yang
serupa kepada anak usia 3 – 23 bulan di Tanzania menunjukkan bahwa
malaria, berat badan lahir rendah (BBLR), pendapatan keluarga yang

12
rendah, dan indeks massa tubuh (IMT) ibu yang rendah berperan sebagai
faktor risiko terjadinya stunting pada anak. Berat badan lahir rendah dan
indeks massa tubuh ibu yang rendah merupakan dua faktor risiko terkuat
untuk penyebab stunting.
Menurut penelitian yang dilakukan oleh Senbanjo (2011) pada anak
usia 5 – 19 tahun di Abeokuta Nigeria ditemukan beberapa hal yang menjadi
faktor risiko terjadinya stunting, yaitu anak yang bersekolah di sekolah
pemerintah, keluarga poligami, pendidikan orang tua yang rendah, dan juga
kelas sosial yang rendah. Pendidikan ibu yang rendah merupakan faktor
risiko terjadinya stunting yang paling tinggi dibanding dengan faktor risiko
lainnya. Menurutnya hal tersebut bisa disebabkan karena ibu dengan
pendidikan yang tinggi cenderung memiliki finansial yang lebih baik dan
dapat meningkatkan pendapatan keluarga. Hal tersebut membuat keluarga
di kelas sosial yang lebih tinggi dan memiliki status gizi keluarga yang lebih
baik, sedangkan menurut penelitian Olukamakaiye (2013) terhadap anak
sekolah di Nigeria, asupan makanan mempengaruhi kejadian stunting.
Penelitiannya menunjukkan bahwa anak dengan rendahnya
keanekaragaman jenis makanan yang dikonsumsi menjadi faktor risiko
terjadinya stunting. Olukamakaiye juga mendukung bahwa anak dari
sekolah pemerintah lebih banyak yang menderita stunting dibanding dengan
sekolah swasta. Hal tersebut dikarenakan malnutrisi yang disebabkan oleh
keanekaragaman jenis makanan yang rendah.
9. Metode Pengukuran Stunting
Pengukuran antropometri berdasarkan tinggi badan menurut umur
berguna untuk mengukur status nutrisi pada populasi, karena pengukuran
pertumbuhan tulang ini mencerminkan dampak kumulatif yang
mempengaruhi status nutrisi yang menyebabkan terjadinya stunting dan
juga mengacu sebagai malnutrisi kronis (Alderman, 2011). Cara
pengukuran antropometri pada anak dengan menggunakan grafik standar
panjang / tinggi badan menurut umur menurut WHO pada Training Course
on Child Growth Assessment yang diterbitkan pada tahun 2008. Data ini

13
menggunakan Z-score sebagai cut-off point untuk menentukan status
antropometri anak yang disusun dalam tabel dibawah ini :

Tabel 1
Indikator Pertumbuhan WHO
Z – Score Panjang/Tinggi badan menurut umur
>3 Very tall
>2 Normal
>1 Normal
0 (median) Normal
<-1 Normal
<-2 Stunted
<-3 Severely Stunted
Sumber : Training Course on Child Growth Assessment (WHO,2008)
Sedangkan :
Tabel 2
Klasifikasi Status Gizi berdasarkan PB/U atau TB/U
Anak Umur 0-60 Bulan
Indeks Status gizi Ambang Batas
Panjang Badan menurut Sangat Pendek < -3 SD
Umur (PB/U) atau Tiinggi Pendek -3SD sampai <-2
Badan mmenurut Umur SD
(TB/U) Normal -2 SD sampai 2 SD
Tinggi  2 SD
Sumber : SK Menkes 2010
10. Morbiditas
Morbiditas dan status gizi merupakan variabel yang mencerminkan
status kesehatan. Morbiditas ini meliputi prevalensi penyakit menular dan
penyakit tidak menular. Derajat kesehatan atau status kesehatan adalah
tingkat kesehatan perorangan, kelompok atau masyarakat yang diukur
dengan angka kematian, umur harapan hidup, status gizi, dan angka
kesakitan (morbiditas). Kesehatan merupakan masalah yang kompleks
14
hingga tidak mungkin diukur semua faktor yang mempengaruhinya, baik
secara langsung maupun tidak langsung, karena itu diperlukan suatu alat
yang dapat memberi indikasi untuk menggambarkan keadaan kesehatan.
Alat tersebut ialah indikator. Indikator kesehatan dapat digunakan untuk
mengukur status kesehatan, memonitor kemajuan keadaan kesehatan dan
merupakan alat bantu dalam mengadakan evaluasi program kesehatan
Depkes (2008). Menurut sediaoetama (2006)salah satu indicator ynag dapat
digunakan untuk menilai keadaan gizi masyaraat secara tidak langsungyaitu
mobiditas (angka sakit), motalitas, dan berat lahir bayi rendah.
Pada hakikatnya derajat kesehatan di pengaruhi oleh empat factor
penentu yaitu : factor bawaan, pelayanan kesehatan, perilaku dan faktor
lingkungan (fisik, biologi, kemasyarakatan). Dua faktor tersebut terakhir
merupakan faktor penentu yang sangat besar pengaruhnya terhadap derajat
kesehatan masyarakat.
Statatus gizi yang rendah menyebabkan kondisi daya tahan tubuh
menurun, sehingga berbagai penyakit dapat timbul dengan mudah. Seorang
anak yang sehat tidak akan mudah terserang berbagai jenis penyakit,
termasuk penyakit infeksi, karena mempunyai daya tahan tubuh yang cukup
kuat. Daya tahan tubuh yang meningkat pada keadaan kesehatan gizi yang
baik, dan akan menurun bila kondisi kesehatan gizinya menurun
(Sediaoetama,2006).

A. Kerangka teori
Stunting sebagai suatu masalah gizi di Indonesia disebabkan beberapa
faktor baik secara langsung maupun tidak langsung.
1. Penyebab langsung
Stunting secara langsung dipengaruhi oleh asupan makan dan
penyakit infeksi. Kedua faktor ini saling berpengaruh satu sama lain.
Kurangnya asupan makan, baik jumlah maupun kualitas secara terus
menerus akan menyebabkan anak mudah terkena penyakit infeksi dan
menghambat pertumbuhan anak. Sebaliknya anak yang terus menerus sakit
akan malas makan sehingga asupan makanan yang dia dapatkan tidak

15
cukup. Akibanya, anak dapat menjadi stunting. Sebagai contoh, penyakit
infeksi seperti diare dan infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) dapat
mempengaruhi asupan makan anak sehingga dapat mengakibatkan
gangguan pertumbuhan, yang kemudian dapat menyebabkan anak stunting.
2. Penyebab tidak langsung
Stunting juga dipengaruhi oleh aksesibilitas pangan, pola asuh,
ketersediaan air minum/sanitasi, dan pelayanan kesehatan. Aksesibilitas
pangan yang mudah dan dengan harga yang terjangkau akan memudahkan
keluarga mengonsumsi makanan yang beragam, bergizi seimbang, dan
aman. Selain itu konsumsi makanan juga dipengaruhi oleh pengetahuan
keluarga dalam memilih bahan makanan yang dibeli dan mengolahnya
secara aman dan sehat. Pola asuh, misalnya pemberian makan bayi dan anak
(PMBA) juga mempengaruhi status gizi anak. Ketersediaan air minum dan
sanitasi yang aman dan layak juga sangat berpengaruh pada status gizi dan
kesehatan ibu hamil dan anak, terutama dalam menerapkan Perilaku Hidup
Bersih dan Sehat (PHBS). Kemudahan memperoleh pelayanan kesehatan
yang baik, juga turut menentukan status gizi ibu hamil dan anak.
Dari faktor penyebab langsung dan tidak langsung di atas, diketahui
bahwa akar masalah status gizi tidak sepenuhnya masalah kesehatan tetapi
menyangkut masalah-masalah di luar kesehatan seperti kelembagaan,
politik dan idelogi, kebijakan ekonomi, sumber daya, lingkungan,
teknologi, dan kependudukan. Oleh karena itu untuk melakukan perbaikan
gizi, maka sektor yang terkait dengan akar masalah gizi ini perlu dilibatkan.
Secara lengkap penjelasan di atas dapat dilihat pada gambar berikut:

16
Gambar 1 :
Kerangka pikir penyebab masalah kesehatan gizi

Sumber: World Bank 2011, diadaptasi dari UNICEF 1990 & Ruel 2008

B. Hipotesis

Hipotesis berasal dari 2 penggalan kata, “Hipo” yang artinya dibawah


dan “Thesa” yang artinya kebenaran. (Arikunto, 2006)
Hipotesis adalah jawaban sementara penelitian, patokan duga, atau dalil
sementara, yang kebenarannya akan dibuktikan dalam penelitian tersebut.
(Notoatmodjo, 2010)
Bentuk Hipotesis dalam penelitian ini adalah :
 Ada hubungan antara asupan mikronutrien dengan tingkat
morbiditas pada anak stunting di UPTD Puskesmas Limbangan
Kecamatan Sukaraja.
 Ho : Tidak ada hubungan antara asupan mikronutrien dengan tingkat
morbiditas pada anak stunting di UPTD Puskesmas Limbangan
Kecamatan Sukaraja.
 H1 : Ada hubungan antara asupan mikronutrien dengan tingkat
morbiditas pada anak stunting di UPTD Puskesmas Limbangan
Kecamatan Sukaraja.

17
BAB III
METODE PENELITIAN

A. Kerangka Konsep

Asupan
Mikronutrien Tingkat Morbiditas
1. Zat besi, Pada anak Stunting
2. Zinc
3. Vit A
4. Vit C

Keterangan :

= Variabel yang diteliti


= Hubungan yang diteliti

B. Desain
Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan
metode korelasional dengan pendekatan Cross Sectional.
Penelitian korelasional adalah penelitian yang bertujuan untuk mengetahui
apakah terdapat hubungan antara dua variabel atau lebih serta seberapa jauh
korelasi yang ada antara variabel yang diteliti. (Hidayat, 2007)
Penelitian dengan menggunakan pendekatan Cross Sectional merupakan
rancangan penelitian dengan melakukan pengukuran atau pengamatan pada
saat bersamaan (sekali waktu) antara faktor resiko/paparan dengan penyakit.
(Hidayat, 2007)
Dalam penilitian ini, peneliti bermaksud untuk melakukan analisa
hubungan anatara asupan mikronutrien dengan tingkat mobiditas pada anak
stunting usia 6-59 bulan di UPTD Puskesmas Limbangan Kecamatan Sukaraja
kabupaten Sukabumi.

18
C. Variabel
Variabel adalah ukuran atau ciri yang dimiliki oleh anggota– anggota suatu
kelompok yang berbeda dengan yang dimiliki oleh kelompok lain
(Notoatmodjo, 2010).
Variabel dalam penelitian ini terdiri dari dua yaitu variabel Independen
dan variabel Dependen
1. Variabel Independen
Variabel Independen adalah variabel yang nilainya menentukan
variabel lain (Nursalam, 2003). Sedangkan menurut (Hidayat, 2007)
variabel bebas merupakan variabel yang menjadi sebab perubahan dan
timbulnya variabel dependen.
Variabel independen dalam penelitian ini adalah Asupan
Mikronutrien
2. Variabel Dependen
Variabel Dependen adalah variabel yang nilainya ditentukan oleh
variabel lain (Nursalam, 2003). Sedangkan menurut (Hidayat, 2007)
variabel tak bebas merupakan variabel yang dipengaruhi atau menjadi
akibat karena variabel bebas.
Variabel Dependen dalam penelitian ini adalah Tingkat mobiditas
pada Anak Stunting Usia 6-59 Bulan.
D. Definisi Operasional
Definisi operasional adalah mendefinisikan variabel secara operasional
berdasarkan karakteristik yang diamati, memungkinkan peneliti untuk
melakukan observasi atau pengukuran secara cermat terhadap suatu objek atau
fenomena (Hidayat, 2007)
Definisi operasional ditentukan berdasarkan parameter yang dijadikan
ukuran dalam penelitian. Sedangkan cara pengukuran merupakan cara dimana
variabel dapat dikur dan ditentukan karakteristiknya.

19
Tabel 3
Definisi Operasional
No Variabel Definisi Alat Ukur Hasil Ukur Skala
operasional
1 Asupan gizi Asupan Zat besi, Recall 1 x 24 Jumlah asupan Ordinal
Moikronutrien Zinc, dan Vit A jam yang
1. Zat besi yang diperoleh diperoleh
2. Zinc dari hidangan baik dibandingkan
3. Vit A makanan pokok dengan KGA dan
maupun jajanan
dikali 100%.
yang dikonsumsi
perhari dengan Kemudian
recall selama 1 x dikelompokan,
24 jam dengan
( Amelia,2008 ) pengkategorian,
1. Cukup : ≥60%
KGA
2.Kurang : <60%
KGA
(Arnisama,2013).
2 Morbiditas Jumlah hari sakit Kuesioner Jenis penyakit: Nominal
anak stunting 1. ISPA
yang diperoleh 2. Pnemonia
melalui 3. TB paru
pengisian 4. Diare
kuesioner oleh Rasio,
responden Frekuensi sakit
dengan (dalam 2 bulan
menggunakan terakhir) :
kuesioner angka 1. Tidak sakit
kesakitan,yang 2. 1 kali
dilakukan 3. 2 kali
selama satu 4. 3 kali
bulan,diambil 5. 4 kali
pada saat Lama sakit (dalam
wawancara. 2 bulan terakhir) :
Jenis penyakit 1. O hari
tersebut adalah 2. 1-4 hari
batuk,pilek, 3. 5-8 hari
diare dan 4. > 8 hari
demam. Skor morbiditas
dikategorikan
menjadi :
1. Rendah (<6),
2. Sedang (7-12)
3. Tinggi (≥13)
(Sugiono(2009)
20
3 Stunting Suatu keadaan Antropometri 1= Stunting Nominal
dimana tinggi TB/U ( z-skor – 3.0 s/d -
badan anak yang menggunakan 2.0 )
terlalu rendah microtoice 2 = Tidak Stunting
atau terlalu dan ( z Skor ≥ -2.0 s/d
pendek menanyakan 2.0 )
umur anak (
berdasarkan
Supariasa,
umur 2016)

E. Populasi dan Sampel


1. Populasi
Populasi adalah keseluruhan objek penelitian atau objek penelitian.
(Notoatmodjo, 2010)
Populasi dalam penelitian ini adalah anak balita yang berdasarkan
hasil pengukuran antropometri (pengukuran berat badan dan tinggi badan)
tergolong dalam kategori status gizi (TB/U) sangat pendek dan pendek di
wilayah kerja UPTD Puskesmas Limbangan Kabupaten Sukabumi, Jawa
Barat.
2. Sampel
Sampel adalah objek yang diteliti dan dianggap mewakili seluruh
populasi ini. (Notoatmodjo, 2010)
Sampel dalam penelitian ini adalah anak stunting yang berusia 6-59
bulan dengan hasil penimbangan berat badan dan pengukuran status gizi
termasuk kategori sangat pendek dan pendek.
3. Cara pengambilan sampel
Teknik sampling adalah cara-cara yang ditempuh dalam pengambilan
sampel agar, memperoleh sampel yang benar-benar sesuai dengan
keseluruhan subjek penelitian (Nursalam, 2003).
Cara pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah dengan teknik
secara purposive.
Sampling purposive adalah teknik penentuan sampel
dengan pertimbangan tertentu. (Sugiyono, 2001) Menurut Margono
(2004:128), pemilihan sekelompok subjek dalam purposive
sampling didasarkan atas ciri-ciri tertentu yang dipandang mempunyai

21
sangkut paut yang erat dengan ciri-ciri populasi yang sudah diketahui
sebelumnya, dengan kata lain unit sampel yang dihubungi disesuaikan
dengan kriteria-kriteria tertentu yang diterapkan berdasarkan tujuan
penelitian.
4. Ukuran Sampel
Ukuran sampel dalam penelitian ini menggunakan rumus Slovin.

Keterangan :
S = Jumlah Sampel
N = Jumlah Popilasi
E = Taraf Signifikasi
Adapun jumlah sampel yang di perlukan dalam penelitian ini :
394
𝑆=
1 + 394(0,05)²
394
𝑆=
1 + 0,98
394
𝑆=
1,98

𝑆 = 199 𝐵𝑎𝑙𝑖𝑡𝑎

F. Instrumen
Instrumen penelitian adalah alat-alat yang digunakan untuk
mengumpulkan data, instrumen ini dapat berupa pertanyaan (question) dan
formulir-formulir lain yang berkaitan dengan pendataan data dan lain-lain
(Notoatmodjo, 2010).
Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah : kuesioner
dan formulir recall 2 x 24 jam. Kuesioner di gunakan Sebagai pedoman
dalam wawancara untuk menggali informasi tentang karakteristik keluarga
dan sosial ekonomi pada responden penelitian. Formulir recall 2 x 24 jam
digunakan untuk menanyakan asupan makan anak. (Terlampir)

22
G. Teknik Pengumpulan Data
1. Data Primer
Data primer adalah data yang diperoleh dari responden. Data primer
yang didapat dalam penelitian ini yaitu data yang langsung didapatkan dari
responden melalui kuesioner.
Pengumpulan data primer dilaksanakan melalui wawancara secara
langsung dengan menggunakan alat bantu kuesioner. Adapun data primer
yang dikumpulkan meliputi data karakteristik keluarga (umur orangtua,
pendidikan orangtua, pekerjaan orangtua, besar keluarga, dan pendapatan
keluarga), karakteristik balita (umur balita, jenis kelamin, berta badan dan
tinggi badan balita, urutan kelahiran), asupan zat gizi, tingkat mobiditas
serta status gizi balita. Adapun data status gizi diperoleh dengan cara
antropometri yaitu mengukur berat badan dan tinggi badan balita.
2. Data Sekunder
Data sekunder adalah data yang didapatkan dari pihak lain baik
perorangan maupun lembaga tertentu yang sudah diolah. Data sekunder
yang didapat dalam penelitian ini meliputi lokasi demografi wilayah dan
penduduk yang diperoleh dari kantor Kepala Desa, Puskesmas Limbangan
dan Dinas Kesehatan Kabupaten Sukabumi.
H. Teknik Pengolahan dan analisis Data

Data yang diperoleh dari proses wawancara menggunakan kuesioner


dan form food recall diolah dan dianalisis secara deskriptif. Proses
pengolahan data meliputi coding, entry data, editing, dan analisis data.
Untuk data entry terlebih dahulu dipersiapkan struktur sheet yang terdiri
atas nama variable, type, dan decimal. Setelah data dientry dilakukan
editing yaitu proses pemeriksaan data yang telah dientry dengan data yan
terdapat dalam kuesioner, jika ada perbedaan maka dilakukan koreksi.
Pengolahan data dilakukan dengan menggunakan Microsoft Exel 2007 dan
SPSS versi 16,0 for windows.
Data karakteristik keluarga yang meliputi umur orangtua, besar
keluarga, pendidikan orangtua, pendapatan keluarga, data pola asuh makan,
pola asuh hidup sehat (akses pelayanan kesehatan dasar dan pola hygiene),
23
data konsumsi/intake makanan, data status gizi balita serta morbiditas balita
dikelompokkan berdasarkan kriteria tertentu. Data tersebut kemudian
dianalisis secara deskriptif dan korelasi.
Umur orangtua. Data umur orangtua yang diperoleh
dikelompokkan menjadi empat kelompok menurut Papalia dan Old (1986)
yaitu remaja (< 20 tahun), dewasa awal (20-40 tahun), dewasa tengah (41-
65 tahun), dan dewasa akhir (> 65 tahun).
Pendidikan orangtua. Data tingkat pendidikan orangtua diolah
dengan mengelompokkannya menjadi enam kategori yaitu tidak sekolah,
tidak tamat SD, tamat SD sederajat, tamat SMP/sederajat, tamat
SLTA/sederajat, tamat Perguruan Tinggi.
Pendapatan perkapita. Data pendapatan perkapita perbulan
merupakan hasil dari pembagian jumlah pendapatan orangtua tiap bulannya
dengan jumlah anggota keluarga. Hasil yang diperoleh kemudian
diklasifikasikan berdasarkan kuartil.
Besar keluarga. Data besar keluarga diketahui dengan menanyakan
kepada responden jumlah anggota keluarga. Data yang diperoleh kemudian
dikelompokkan menurut Hurlock (1993) menjadi keluarga kecil (≤ 4
orang), keluarga sedang (5-7orang), dan keluarga besar (≥ 8 orang)
Pekerjaan orangtua. Data jenis pekerjaan orangtua di
dikategorikan menjadi tidak bekerja, petani punya lahan, buruh tani,
nelayan, pedagang, PNS, pegawai swasta, buruh, sopir/ojek, lainnya,
sedangkan pekerjaan ibu dikategorikan menjadi ibu rumah tangga, petani,
pedagang, buruh, lainnya
Karakteristik balita.Data karakteristik balita meliputi data umur
dan jenis kelamin. Umur balita dikategorikan menjadi 6-11 bulan, 12-23
bulan, 24-35 bulan, 36-47 bulan, dan 48-60 bulan. Data jenis kelamin balita
terdiri dari 2 kategori yaitu laki-laki dan perempuan (Depkes 2008)
Pola Asuh. Data pola asuh disajikan dalam bentuk pertanyaan
tertutup mengenai pola asuh makan (bagaimana balita makan, serta situasi
yang terjadi pada saat makan, meliputi pemberian ASI, kolostrum,
pemberian makanan pertama selain ASI dan frekuensi pemberian makan),

24
pola akses pelayanan dasar (imunisasi dan vitamin A), pola hygieny
(mencuci tangan, kebiasaan mandi dan menggosok gigi serta pemakaian
alas kaki/sandal).Penilaian dengan cara memberikan skor pada setiap
pertanyaan. Bila menjawab tidak diberi skor 0, bila menjawab ya diberi skor
1. Total skor yang diperoleh diklsifikasikan menjadi tiga kategori, yaitu
kurang (< 60%), sedang (60-80%) dan baik (> 80%) berdasarkan nilai
maksimum.
Asupan mikronutrien. Data intake/konsumsi pangan balita digali
dengan metode recall 24 jam. Recall dilakukan satu kali pada saat
pengumpulan data. Data konsumsi harian balita dikonversi kedalam zat gizi
menggunakan Sofware Nutrisurvey tahun 2007.
Setiap asupan gizi balita dibandingkan dengan Angka Kecukupan
Gizi (2004) dan kemudian di persentasikan. Jumlah asupan yang diperoleh
dibandingkan dengan KGA dan dikali 100%. Kemudian dikelompokan,
dengan pengkategorian, (Arnisama,dkk 2013).
1. Cukup : ≥60% KGA
2.Kurang : <60% KGA
Status gizi Stunting . Pengolahan data status gizi stunting dilakukan
dengan menggunakan Microsoft Exel 2007 yang diklasifikasikan
berdasarkan standard atropometri Kementrian Kesehatan RI tahun 2010
yaitu :
Stunting ( z-skor – 3.0 s/d -2.0 )
Tidak Stunting ( z Skor ≥ -2.0 s/d 2.0 )
Morbiditas. Data morbiditas dihitung berdasarkan frekuensi dan
lama sakit (dalam hari) selama
1. Melakukan Teknik Analisis
Teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini mengunakan
teknik analisa univariat dan bivariat.
Untuk mempermudah menghitung analisa data dilakukan dengan
menggunakan software program SPSS Versi 15.0 for window.
a. Analisa Univariat

25
Analisa univariat yaitu analisa yang dilakukan terhadap tiap variabel
dan hasil penelitian dalam analisa ini hanya menggunakan distribusi dan
persentase dari tiap variabel. (Notoatmodjo, 2010)
Pada penelitian ini analisa univariat digunakan untuk
mendeskripsikan asupan zat gizi anak stunting usia 6-59 bulan dan tingkat
mobiditas.
Cara penghitungan
a
𝑝 = x 100%
b
Keterangan :
P : Persentase
a : Jumlah responden kategori tertentu
b : Jumlah seluruh responden

b. Analisa Bivariat
Analisa bivariat adalah analisa yang dilakukan terhadap dua variabel
yang diduga berhubungan atau berkorelasi (Notoatmodjo, 2010). Variabel
yang akan dianalisa meliputi variabel asupan zat gizi anak stunting usia 6-
59 bulan dan tingkat mobiditas.
Metode analisa statistik yang digunakan adalah dalam penelitian ini
berdasarkan skala pengukuran yang digunakan adalah uji Chi-Square (X2)
dengan derajat kepercayaan 95%.
Uji ini digunakan untuk mengevaluasi frekuensi yang diselidiki atau
menganalisa hasil observasi untuk mengetahui, apakah terdapat hubungan
atau perbedaan yang signifikan pada penelitian yang menggunakan data
nominal.
Cara penggunaan uji ini sebagai berikut :

1. Mencari frekuensi harapan (fe) pada tiap sel dengan rumus :

(∑ 𝑓𝑘 − ∑ 𝑓𝑏)
fe =
∑𝑇

26
Keterangan :
Fe : Frekuensi yang diharapkan
∑ 𝑓𝑘 : Jumlah Frekuensi pada kolom
∑ 𝑓𝑏 : Jumlah frekuensi pada baris
∑𝑇 : Jumlah keseluruhan baris dan kolom
2. Mencari nilai Chi Kuadrat dengan rumus :
(𝑓0 − 𝑓𝑒)2
𝑋2 = ∑
𝑓𝑒
Keterangan :
𝑋2 : Nilai Chi – Quadrat
𝑓0 ∶ Frekwensi yang diobservasi
𝑓𝑛 : Frekwensi yang diharapkan
Untuk menganalisa atau keputusan uji Chi-Square dengan
menggunakan hipotesis dua arah dan tingkat kesalahan/kekeliruan
sebesar 5% adalah sebagai berikut :
Jika P value ≤ 0,05 : H0 ditolak artinya ada pengaruh variabel
bebas terhadap variabel terikat .
Jika P value > 0,05 : H0 diterima artinya tidak ada pengaruh
variabel bebas terhadap variabel terikat.
J. Etika Penelitian
Etika penelitian mencakup perilaku atau perlakuan peneliti terhadap
subjek penelitian serta segala sesuatu yang dihasilkan peneliti bagi
masyarakat. (Notoatmodjo, 2010)
Dalam melaksanakan penelitian khusunya jika menjadi subjek
penelitian adalah manusia, maka peneliti harus memahami hak dasar
manusia. Manusia memiliki kebebasan dalam menentukan dirinya,
sehingga penelitian yang akan dilaksanakan benar-benar menjungjung
tinggi kebebasan manusia. Beberapa prinsip penelitian pada manusia harus
dipahami antara lain :

27
1. Prinsip Manfaat
Segala bentuk penelitian yang dilakukan memiliki harapan dapat
dimanfaatkan untuk kepentingan manusia. Penelitian yang dihasilkan
dapat memberikan manfaat dan mempertimbangkan antara aspek resiko
dengan aspek manfaat.
2. Prinsip Menghormati Manusia
Manusia memiliki hak dan makhluk yang mulia yang harus
dihormati, karena manusia memiliki hak dalam menentukan pilihan
antara mau dan tidak mau untuk diikutsertakan menjadi subjek
penelitian.
3. Prinsip keadilan
Prinsip ini dilakukan untuk menjungjung tinggi keadilan manusia
dengan menghargai hak atau memberikan pengobatan secara adil, hak
menjaga privasi manusia, dan tidak berpihak dalam perlakuan terhadap
manusia.
4. Informed Consent
Subjek penelitian harus menyatakan kesediannya mengikuti
penelitian dengan mengisi Informed Consent. Hal ini merupakan
bentuk kesukarelaan dari subjek penelitian untuk ikut serta dalam
penelitian.
5. Aspek Kerahasiaan
Data yang diperoleh dari subjek akan dijamin kerahasiaannya
dan penggunaan data tersebut hanya untuk kepentingan penelitian saja.
K. Lokasi dan waktu
Lokasi penelitian yaitu di 4 desa (desa Limbangan, Langensari,
Cisarua dan Sukamekar) wilayah kerja UPTD Puskesmas Limbangan
Kecamatan Sukaraja Kabupaten Sukabumi, dan waktu penelitian di
rencanakan pada bulan Februari s/d Maret 2019.

28
L. Rencana Pelaksanaan

BULAN
NO URAIAN KEGIATAN
2 3 4 5 6 7 8

Penyusunan usulan
1
Penelitian

2 Pengumpulan data

3 Pengolahan dan analisis data

4 Seminar

5 Sidang Skripsi

29
DAFTAR PUSTAKA

Kementrian Perencanaan Pembanguan Nasional. 2014. Rancangan Awal rencana


Pembangunan Jangka Menengah 2015-2019 Agenda Pembangunan
Bidang. Jakarta : Badan Perencanaan Pembangunan Nasional
Kemenkes RI. 2013. Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS). Jakarta : Badan
Penelitian dan Pengembangan Kesehatan
Kemenkes RI. 2017. Hasil Pemantauan Status Gizi dan Penjelannya. Jakarta :
Direktorat Gizi Masyarakat.
Notoadmodjo, Sukidjo. 2005. Metodologi Penelitian Kesehatan.. Jakarta : Rineka
Cipta
Kemenkes RI. 2011. Keputusan Menteri Kesehatan RI nomor :
1995/Menkes/SK/XII/2010 tentang Standar Antropometri Penilaian Status Gizi
Anak. Jakarta : Direktorat Jenderal Bina Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak.
Dinas Kesehatan. 2017. Laporan Bulan Penimbangan Balita. Sukabumi : Dinas
Kesehatan Kabupaten Sukabumi
Trihono, Atmarita, Dwi H T, Irawati A, Uami N A, Tejayanti T, Nurlinawati L.
2015. Pendek (Stunting) di Indonesia, Masalah dan Solusinya. Jakarta :
Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan
Suryana. 2010. Metodelogi Penelitian Model Praktis Penelitian Kuantitatif dan
Kualitatif. Bandung : Universitas Pendidikan Indonesia
Hardinsyah,dkk,2014. Ilmu Gizi Teori dan aplikasi. Penerbit buku Kedokteran
EGC.
Gibney, Michael J,dkk. Gizi Kesehatan Masyarakat. Penerbit buku Kedokteran
EGC.
http://digilib.unimus.ac.id/files/disk1/103/jtptunimus-gdl-mardekawat-5135-2-
bab2.pdf Konsep Dasar Keluarga 12/02/2019
http://repository.umy.ac.id/bitstream/handle/123456789/13907/Morbiditas
Morbiditas dan mortalitas 12/02/2019

30
Lampiran 1

Kuesioner Penelitian

Nama Sheet : Data UmumDD


ATa ATUM
1. Kecamatan/Puskesmas : A1________________________
2. Desa : A2 _______ (01,02,03,04,05,06)
3. Nama Ibu Balita : A4 _________________________
4. Nama Suami : A5 _________________________
5. Nomor Rumah/RT/RW : A6 ____/____ /_____
6. No HP/Telp Rumah : A8__________________________
7. Tanggal/Jam Wawancara : A7_________ 2019/ pukul___________
8. Enumerator : A9_________________________

A. KARAKTERISTIK/ IDENTITAS BALITA

Nama Sheet : Identitas Balita


KARBAL
1 Nama anak balita ……………………………………
2 Jenis kelamin (lingkari jawaban ! ) 1. Laki-laki 2. Perempuan
3 Tanggal lahir (harus terisi) ……………………….
4 Usia anak balita (bulan) ......................... (isi dalam bulan)
5 Anak ke - …….....
6 Berat Badan ….….....….Kg
7 Tinggi badan ….….....….cm

B. BIODATA DAN KARAKTERISTIK SOSIAL-EKONOMI KELUARGA

Nama Sheet : Karakteristik KeluargaKARKEL


C1 C2 C3 C4 C5 C6 C7
No Nama Status dalam Jenis Umur Pendidikan Pekerjaan Penghasilan
keluarga Kelamin (tahun) terakhir /bulan
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8)

31
Kode :

(3) Status dalam Keluarga 1=suami (ayah), 2=istri(ibu), 3=anak, 4=saudara lainnya,
5=kakek/nenek,6=lainnya sebutkan

(4) Jenis Kelamin 1=laki-laki, 2=perempuan

(6) Pendidikan Terakhir 0= TS, 1=SD, 2=SMP, 3=SMA, 4=PT

(7) Pekerjaan Kode: 0=Tidak Bekerja, 1=Petani, 2=Pedagang, 3=Buruh tani,


4=Buruh non tani, 5=PNS/ABRI/Polisi, 6=Jasa (tukang ojek, tukang
cukur, calo, dan sebagainya), 7=Ibu rumah tangga (IRT), 8=lainnya,
sebutkan, 9=N/A

(8) Penghasilan/ bulan 1=<Rp.500.000 2=Rp500.000-1.000.000

3≥ Rp.1.000.000- 2.500.000 4≥Rp. 2.500.000

C. KONDISI LINGKUNGAN
1. Kondisi rumah:
 Berbahan dasar apakah dinding rumah yang Anda dan keluarga tempati?
a. tembok b. ½ tembok c. bilik/papan d. Lainnya,sebutkan..
 Jenis lantai rumah yang Anda dan keluarga tempati?
a. keramik/tegel b. Pelur c.tanah d. papan e. kombinasi
 Jenis atap dari rumah yang Anda dan keluarga tempati ?
a. genteng b. asbes c. seng d. kombinasi e. Lainnya,sebutkan
 Apakah Anda memiliki WC pribadi di rumah ?
a. ya, ada b. tidak ada
Jika jawaban Anda “tidak” kemana Anda dan keluarga akan BAB (buang air besar)
atau BAK (buang air kecil) ?
a. menumpang WC tetangga b. WC umum
c. WC terbuka di atas kolam ikan
 Apakah terdapat ventilasi udara dan jendela di rumah Anda?
a. Ya b. tidak
2. Sumber air minum
 Berasal darimanakah air yang Anda gunakan untuk minum ?
a. PAM b. sumur timba c. sumur pompa
d. mata air e. sungai

3. Sumber air mandi


 Berasal darimanakah air yang Anda gunakan untuk minum ?
32
a. PAM b. sumur timba c. sumur pompa
d. sungai/danau e. kombinasi
4.. Sarana pembuangan sampah dan air limbah
 Jika Anda ingin membuang sampah, kemanakah Anda biasanya membuang
sampah?
a. Tempat sampah b. sungai/kali c. jalanan
d. lainnya, sebutkan
 Kemanakah jalur air limbah dari rumah Anda dibuang?
a. selokan/got b. kolam ikan c. sungai/ kali
d. lainnya, sebutkan

33
D. POLA ASUH MAKAN
Ceklis sesuai jawaban responden
No Pertanyaan Jawaban Skor
Hampir tidak Kadang Sering/Ya
pernah/ tidak
D1 Ibu memberikan kolostrum kepada anak
Anda selama beberapa hari setelah
melahirkan
D2 Ibu memberikan ASI eksklusif selama 6
bulan kepada anak
D3 Ibu memberikan madu/ the/ pisang/
sejenisnya pada bayi tak lama setelah
usia 6 bulan
D4 Ibu memberikan MP-ASI pada anak
setelah usia 6 bulan
D5 Ibu memberikan ASI pada anak sampai
usia 2 tahun
D6 Anak makan 3 kali sehari
D7 Ibu memberikan buah setiap hari kepada
anak
D8 Ibu memberikan sayur setiap hari kepada
anak
D9 Anak telat/ tidak teratur makan
D10 Konsumsi protein hewani (telur/ ikan/
unggas/ daging) anak
D11 Konsumsi protein nabati (tempe/ tahu/
oncom/ kacang) anak
D12 Ibu menyediakan menu makanan
lengkap: nasi, lauk pauk (hewani dan
nabati), sayur, dan buah
D13 Anak mengonsumsi nasi dan sayur saja,
atau nasi dan lauk saja
D14 Ibu menyuapi anak yang sedang tidak
nafsu makan
D15 Ibu membujuk anak bila sedang tidak
mau makan

34
E. POLA ASUH KESEHATAN
Ceklis sesuai jawaban responden
No Pertanyaan Jawaban Skor
Hampir Kadang Sering/Ya
tidak
pernah/
tidak
E1 Ibu mengajak anak ke Posyandu tiap bulan
E2 Anaka Anda memiliki KMS/ Buku KIA
yang berisi penuh
E3 Anak Anda menerima kapsul vitamin A
E4 Anak Anda menerima imunisasi lengkap
mencakup : (cek dengan data di KMS/
Buku KIA)
a. BCG
b. DPT 1
c. DPT 2
d. DPT 3
e. Polio
f. Campak
g. Hepatitis
E5 (1-2 tahun) : Ibu membiasakan cuci tangan
sebelum memberi makan anak

(2-5 tahun): Ibu membiasakan anak


mencuci tangan dengan sabun sebelum
dan sesudah makan
E6 (1-2 tahun) : Ibu membiasakan cuci tangan
dengan sabun setelah membersihkan BAB
(buang air besar) anak

(2-5 tahun): Ibu membiasakan anak


mencuci tangan dengan sabun setelah
BAB
E7 Ibu mencuci bersih mainan yang sering
dipegang oleh anak
E8 Ibu memeriksa dan menggunting kuku
anak seminggu sekali

35
E9 Ibu membolehkan anak bermain di lantai
kotor/ tanah
E10 Ibu mencuci rambut/ keramas anak
minimal 2 kali seminggu
E11 Ibu memeriksa kebersihan telinga anak
E12 Ibu menyediakan sandal/ alas kaki untuk
digunakan anak ketika keluar rumah
E13 Ibu mengingatkan/ menyuruh anak
memakai alas kaki ketika keluar rumah
E14 Ibu mengajak anak melakukan aktivitas
fisik seminggu sekali

F. MORBIDITAS
Masalah kesehatan Jenis Frekuensi Lama
penyakit/keluhan/alergi sakit sakit
Penyakit yang pernah diderita ISPA Diare
1 bulan terakhir DBD Campak
Hepatitis
Tuphus
Cacar
Penyakit yang sedang diderita ISPA Diare
DBD Campak
Hepatitis
Tuphus
Cacar

36
ASUPAN MAKAN ANAK
Nama responden :
Nama balita :
Jenis kelamin balita : L/P
Umur balita :
Berat badan balita :
Tinggi badan balita :
 Pola konsumsi makan secara kuantitatif (Recall 1 x 24 jam)
Hari Waktu Menu Bahan Kode URT Gram Keterangan
ke- makan makanan makanan pangan
Pagi

Selingan 1

Siang

Selingan 2

Malam

37
38