Anda di halaman 1dari 24

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kelistrikan merupakan sesuatu yang biasa di gunakan dalam kehidupan


sehari-hari dan biasanya kita tidak terlalu banyak memikirkan hal tersebut.
Walaupun pemakaian praktis dari kelistrikan telah dikembangkan khususnya
pada abad keduapuluh, penelitian dibidang kelistrikan mempunyai sejarah
yang panjang. Pengamatan terhadap gaya listrik dapat ditelusuri sampai pada
zaman Yunani kuno. Orang-orang Yunani telah mengamati bahwa setelah
batu amper digosok, batu tersebut akan menarik benda kecil seperti jerami
atau bulu. Kata listrik berasal dari bahasa Yunani untuk amper yaitu electron.
Selama periode hujan badai pada tahun 1786, Luigi Galvani menyentuh otot
tungkai seekor katak dengan menggunakan suatu metal, dan teramati bahwa
otot katak tersebut berkontraksi. Dari pengamatan tersebut, ia menyimpulkan
bahwa aliran listrik akibat badai tersebut merambat melalui saraf si katak
sehingga otot-ototnya berkontraksi. Sel saraf menghantarkan impuls dari satu
bagian tubuh ke bagian tubuh yang lain. Namun dengan mekanisme yang
jauh berbeda dengan hantaran aliran listrik pada suatu konduktor metal.
Dalam rentang waktu yang cukup lama, kita mengetahui implus dalam system
saraf terdiri dari ion-ion yang mengalir sepanjang sel-sel saraf lebih lambat
dan kekuatannya lebih rendah (konduksinya ada atau tidak sama sekali
dibandingkan konduksi pada metal)
Alessandro Volta meneliti fenomena ini dan, dalam prosesnya
menemukan baterai salah satu penemuan terpenting dalam sejarah fisika.
Temuan tersebut merupakan sumber arus listrik tetap yang pertama.
Kelistrikan memegang peranan penting dalam bidang kedokteran. Ada
dua aspek kelistrikan dan magnetis dalam bidang kedokteran, yaitu listrik dan
magnet yang timbul dalam tubuh manusia, serta penggunaan listrik dan
magnet pada permukaan tubuh manusia. Listrik yang dihasilkan di dalam

1
tubuh berfungsi untuk mengendalikan dan mengoperasikan saraf, otot dan
berbagai organ. Kerja otak pada dasarnya bersifat elektrik.
Paper ini membahas tentang sinyal listrik yang dihasilkan oleh tubuh.
Listrik yang dihasilkan di dalam tubuh berfungsi mengendalikan dan
mengoperasikan saraf, otot, dan berbagai organ. Pada dasarnya, semua fungsi
dan aktivitas tubuh sedikit banyak melibatkan listrik. Gaya- gaya yang
ditimulkan oleh otot disebabkan tarik-menarik antara muatan listrik yang
berbeda. Kerja otot, otak dan jantung pada dasarya bersifat elektrik. System
saraf berperan penting pada hamper semua fungsi tubuh. Otak, yang pada
dasarnya adalah suatu computer sentral, menerima sinyal eksternal dan
internal dan biasanya menghasilkan respon yang sesuai. Informasi disalurkan
sebagai sinyal listrik di sepanjang saraf-saraf. Saat kita menjalankan fungsi-
fungsi khusus tubuh, banyak sinyal listrik yang dihasilkan. Sinyal-sinyal ini
dihasilkan dari proses elektrokimiawi tertentu.
Oleh karena itu maka paper ini akan membahas sebagian dari sinyal-
sinyal listrik dalam tubuh yaitu mengenai system saraf dan neuron.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa yang dimaksud dengan biolistrik?
2. Apa saja klasifikasi sistem saraf beserta fungsinya?
3. Apa saja penyusun dari sistem saraf?
4. Bagaimana klasifikasi neuron?
5. Bagaimana mekanisme penghantar impuls?
6. Bagaimana sistem kerja potensial aksi saraf?
7. Apa saja kelainan dan penyakit pada sistem saraf?

1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui definisi dari biolistrik.
2. Untuk mengetahui klasifikasi dari sistem saraf serta fungsinya.
3. Untuk mengetahui apa saja penyusun dari sistem saraf.
4. Untuk mengetahui klasifikasi neuron.

2
5. Untuk mengetahui bagaimana mekanisme penghantar impuls.
6. Untuk mengetahui sistem kerja potensial aksi saraf.
7. Untuk mengetahui apa saja kelainan dan penyakit pada sistem saraf?

1.4 Manfaat

Dalam penulisan paper, dengan selesainya penulisan paper ini serta


pembahasan paper ini diharapkan mempunyai manfaat bagi pribadi maupun
rekan-rekan mahasiswa. Menambah ilmu dan wawasan penulis khususnya
pembaca pada umumnya mengenai kelistrikan dalam tubuh.

1.5 Sistematika Penulisan


Untuk memudahkan pembaca mengetahui arah pembahasan paper ini,
maka secara garis besar akan diuraikan sebagai berikut :

1. BAB I Pendahuluan
Bab ini berisi latar belakang, rumusan masalah, tujuan, manfaat,
serta sistematika penulisan.

2. BAB II Tinjauan Pustaka


Bab ini membahas tentang pengertian-pengertian umum dan dasar
teori tentang sistem saraf.

3. BAB III Pembahasan


Bab ini membahas tentang definisi biolistrik, klasifikasi sistem saraf,
penyusun sistem saraf, klasifikasi neuron, mekanisme penghantar impuls,
mekanisme sistem kerja potensial aksi saraf, kelainan dan penyakit pada
sistem saraf.

4. BAB IV Penutup
Bab yang paling akhir ini memebahas tentang kesimpulan, saran,
daftar pustaka, dan lampiran.

3
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Susunan saraf pusat merupakan pusat kegiatan mental dan pengatur fungsi
alat-alat tubuh manusia. Di dalam otak dijumpai bagian-bagian yang menjadi
pusat pergerakan, perasaan penglihatan, pendengaran dan fungsi-fungsi lain.
(Markam, 1982; Katzung, 1992).
Efek perangsangan susunan saraf pusat oleh obat yang berasal dari alam
atau sintetis dapat diperlihatkan pada hewan dan manusia. Perangsangan susunan
saraf pusat pada umumnya melalui dua mekanisme yaitu dengan mengadakan
blokade sistem penghambat dan meninggikan perangsangan sinaps. Beberapa efek
yang terlihat pada perangsangan susunan saraf pusat adalah peningkatan aktifitas
motorik, perpendekan lama tidur, peningkatan daya tahan tubuh dan peningkatan
rasa ingin tahu (Gan,1987).
Menurut Budi Jatmiko (2004), dua jenis muatan yang menyebabkan
adanya arus listrik adalah muatan positif dan muatan negatif, sedangkan menurut
Campbell, (2004), membran plasma mengandung cairan intraseluler dan
ekstraseluler yang mengandung berbagai zat terlarut yang meliputi beragam zat
yang bermuatan listrik (ion), di dalam sel kation (ion positif) adalah K+ meskipun
terdapat Na+ dan juga terdapat anion utama yakni protein, asam amino, sulfat,
fosfat , contohnya adalah Cl-.
Menurut Vinores et al. (1984) yang disitasi oleh Iwanaga et al. (1989)
Neuron Specific Enolase (NSE) adalah protein yang dapat larut, terdistribusi
secara merata dalam sitoplasma (perikarion, akson dan dendrit) sel saraf, akan
tetapi tidak terdapat dalam nukleus. Imunoreaktivitas NSE terdistribusi dalam
semua tipe sel saraf baik sistem saraf pusat maupun tepi (Marangos dan
Schmechel, 1980). Imunoreaktivitas positif NSE berlokasi pada perikarion,
dendrit dan axon (Yoshie et al., 1988). Imunoreaktivitas NSE dari sel olfaktorius
ditemukan pertama kali pada fetus manusia dan kemudian pada manusia dewasa
serta marmut (Yamagishi et al., 1987). Deteksi NSE secara imunohistokimia
ditemukan pada paraneuron sensoris termasuk sel olfaktori, sel gustatori dan

4
badan karotid dari sel chief (Kondo et al., 1982 ; Fujita et al., 1983 ; Takahashi et
al., 1984).

5
BAB III
PEMBAHASAN

3.1 Definisi Biolistrik

Biolistrik adalah daya listrik hidup yang terdiri dari pancaran electron-
elektron yang keluar dari setiap titik tubuh (titik energi) dan muncul akibat
adanya rangsangan penginderaan. Sebuah pikiran terdiri dari dayab listrik
hidup, semua daya ini berkumpul didalam pusat akal didalam otak dalam
bentuk daya potensial daya listrik. Dari pusat akal, daya ini kemudian
diarahkan kesuluruh anggota tubuh, yang kemudian digerakkan oleh
perangsangnya.

Biolistrik merupakan energi yang dimiliki setiap manusia yang bersumber


dari ATP, dimana ATP dihasilkan dari proses respirasi. Biolistrik merupakan
lapisan tipis muatan positif pada permukaan luar dan lapisan tipis muatan
negative pada permukaan membrane yang merupakan hasil dari potensial sel-
sel.

Kemampuan sel saraf (neuron) sangatlah penting. Transmisi sinyal


biolistrik (TSB) mempunyai sebuah alat yang dinamakan Dendries yang
berfungsi mentransmisikan isyarat dari sensor ke neuron. Aktifasi biolistrik
pada suatu otot dapat menyebar keseluruh tubuh.

3.2 Klasifikasi Sistem Saraf


System saraf dibagi menjadi dua, system saraf pusat dan system saraf tepi
1. Sistem Saraf Pusat
System saraf pusat terdiri dari otak, medulla spinalis, dan saraf perifer.
Saraf ferifer ini adalah serat saraf (neuron) yang menyalurkan informasi
sensorik ke otak atau medulla spinalis yang disebut saraf afferent. Saraf
afferent merupakan serat saraf yang menyalurkan atau menghantarkan
informasi dari otak atau ke medulla spinalis ke otot dan kelenjar.

6
a. Otak
Otak merupakan bagian penting didalam tubuh karena merupakan
pusat pengatur dari segala kegiatan. Bagian utama otak yaitu
Cerebrum (Otak besar), Cerebellum (otak kecil), dan batang otak.
Otak besar berfungsi sebagai pusat pengendali kegiatan tubuh yang
disadari. Otak kecil yang terletak di bagian belakang otak besar
(dibawah otak besar) berfungsi sebagai pengatur keseimbangan
tubuh dan mengkoordinasikan kerja otot. Batang otot yang terletak
didepan otak kecil, dibawah otak besar, yang merupakan bagian
yang menghubungkan antara otak besar dan otak kecil ini berfungsi
untuk mengatur refleks fisiologis (kecepatan napas, denyut jantung,
suhu tubuh, tekanan darah, dan kegiatan yang tidak disadari).
b. Sumsum tulang belakang
Terletak memanjang didalam rongga tulang belakang. Didalam
sumsum tulang belakang terdapat saraf sensorik, saraf motorik, dan
saraf penghubung. Yang memiliki fungsi yaitu sebagai penghantar
implus dari otak dan ke otak sebagai pusat pengatur gerak refleks.
2. Sistem Saraf Tepi
Sistem saraf tepi tersusun dari semua saraf yang membawa pesan dari
dan ke sistem saraf pusat. Kerjasama antara sistem pusat dan sistem saraf
tepi membentuk perubahan cepat dalam tubuh untuk merespon
rangsangan dari lingkunganmu. Sistem saraf ini dibedakan menjadi
sistem saraf somatis dan sistem saraf otonom.
a. Sistem saraf somatik
Sistem saraf somatis terdiri dari 12 pasang saraf kranial dan 31
pasang saraf sumsum tulang belakang. Kedua belas pasang saraf
otak akan menuju ke organ tertentu, misalnya mata, hidung, telinga,
dan kulit. Saraf sumsum tulang belakang keluar melalui sela-sela
ruas tulang belakang dan berhubungan dengan bagian-bagian tubuh,
antara lain kaki, tangan, dan otot lurik. Saraf-saraf dari sistem
somatis menghantarkan informasi antara kulit, sistem saraf pusat,

7
dan otot-otot rangka. Proses ini dipengaruhi saraf sadar, berarti kamu
dapat memutuskan untuk menggerakkan atau tidak menggerakkan
bagian-bagian tubuh di bawah pengaruh sistem ini. Contoh dari
sistem saraf somatis adalah sebagai berikut :
 Ketika kita mendengar bel rumah berbunyi, isyarat dari telinga
akan sampai ke otak. Otak menterjemahkan pesan tersebut dan
mengirimkan isyarat ke kaki untuk berjalan mendekati pintu dan
mengisyaratkan ke tangan untuk membukakan pintu.
 Ketika kita merasakan udara di sekitar kita panas, kulit akan
menyampaikan informasi tersebut ke otak. Kemudian otak
mengisyaratkan pada tangan untuk menghidupkan kipas angin.
 Ketika kita melihat kamar berantakan, mata akan
menyampaikan informasi tersebut ke otak, otak akan
menterjemahkan informasi tersebut dan mengisyaratkan tangan
dan kaki untuk bergerak membersihkan kamar.
b. Sistem saraf otonom
Contohnya apabila kita kejatuhan cicak, kita merasa kaget
ketakutan, dan menjerit keras. Jantung berdetak dengan cepat.
Pikiran kacau. Reaksi yang membuat respon dalam situasi ketakutan
ini dikontro oleh sistem saraf otonom. Sistem saraf otonom mengatur
kerja jaringan dan organ tubuh yang tidak disadari atau yang tidak
dipengaruhi oleh kehendak kita. Jaringan dan organ tubuh diatur
oleh sistem saraf otonom adalah pembuluh darah dan jantung.
Sistem saraf otonom terdiri atas sistem saraf simpatik dan sistem
saraf parasimpatik.

Sistem saraf simpati disebut juga sistem saraf torakolumbar,


karena saraf preganglion keluar dari tulang belakang toraks ke-1
sampai dengan ke-12. Sistem saraf ini berupa 25 pasang ganglion
atau simpul saraf yang terdapat di sumsum tulang belakang yang
terletak di sepanjang tulang belakang sebelah depan, dimulai dari
ruas tulang leher sampai tulang ekor. Masing-masing simpul saraf

8
dihubungkan dengan sistem saraf spinal yang keluar menuju organ-
organ tubuh seperti jantung, paru-paru, ginjal, pembuluh darah, dan
pencernaan. Fungsi dari sistem saraf simpatik adalah sebagai berikut
:

 Mempercepat denyut jantung.


 Memperlebar pembuluh darah.
 Memperlebar bronkus.
 Mempertinggi tekanan darah.
 Memperlambat gerak peristaltis.
 Memperlebar pupil.
 Menghambat sekresi empedu.
 Menurunkan sekresi ludah.
 Meningkatkan sekresi adrenalin.

Sistem saraf parasimpatik disebut juga dengan sistem saraf


kraniosakral, karena saraf preganglion keluar dari daerah otak dan
daerah sakral. Susunan saraf parasimpatik berupa jaring-jaring yang
berhubung-hubungan dengan ganglion yang tersebar di seluruh
tubuh. Saraf parasimpatetik menuju organ yang dikendalikan oleh
saraf simpatetik, sehingga bekerja pada efektor yang sama. Urat
sarafnya menuju ke organ tubuh yang dikuasai oleh susunan saraf
simpatik. Sistem saraf parasimpatik memiliki fungsi yang
berkebalikan dengan fungsi sistem saraf simpatik. Misalnya pada
sistem saraf simpatik berfungsi mempercepat denyut jantung,
sedangkan pada sistem saraf parasimpatik akan memperlambat
denyut jantung.

3.3 Penyusun Sistem Saraf

Sistem saraf tersusun atas sel-sel saraf yang disebut neuron. Neuron
merupakan struktur dasar dari system saraf. Sistem saraf dibina lebih dari 80

9
jaringan saraf utama. Setiap jaringan saraf tersusun atas 1 juta neuron, yaitu
unit fungsional sistem saraf (sel-sel saraf).

Neuron atau sel saraf memiliki bagian-bagian sel yang berbeda dengan
tipe sel lainnya. Berikut bagian-bagian sel saraf beserta fungsinya dalam
menghantarkan impuls (rangsangan) sebagai unit fungsional sistem saraf.

Gambar 3.1 Neuron

1. Inti sel, merupakan struktur inti sel pada umunya yang di dalamnya
terdapat asam nukleat (materi inti). Inti sel berperan sebagai pengatur
segala aktifitas sel saraf.
2. Badan sel (perykaryon), merupakan struktur utama dari sel saraf yang
kaya akan sitoplasma dan di bagian tengahnya terdapat inti sel saraf.
Badan sel berfungsi sebagai tempat metabolisme sel saraf.
3. Dendrit, merupakan serabut pendek dan bercabang-cabang yang
merupakan penjuluran badan sel pada badan sel. Dendrit berfungsi
menerima dan menghantarkan rangsangan dari luar ke badan sel saraf.
4. Neurit, merupakan serabut panjang hasil penjuluran badan sel yang
mengandung struktur benang-benag halus yang disebut mikrofibril dan
neurofibril.
Mikrofibril dan neurofibril berfungsi untuk menjaga bentuk dan
kepadatan sel saraf. Neurit atau yang sering dikenal akson memiliki peranan

10
menghantarkan rangsangan dari badan sel saraf yang satu ke sel saraf lain.
Rangsangan akan dihantarkan melalui akson dari satu sel saraf menuju
dendrit dari sel saraf yang lain.
Struktur neurit merupakan struktur yang lebih kompleks daripada dendrit.
Neurit memeliki pembungkus yang disebut selaput myelin yang didalamnya
terdapat sel Schwann. Bagian neurit yang tidak terbungkus oleh selaput
myelin disebut nodus Ranvier.

3.4 Klasifikasi Neuron


Neuron dikelompokkan berdasarkan struktur dan fungsinya. Neuron
berdasarkan strukturnya dibagi menjadi tiga tipe, yaitu neuron multipolar,
neuron bipolar, neuron unipolar.
a) Neuron multipolar
Neuron Multipolar merupakan tipe neuron yang memiliki banyak
dendrite dan satu akson.

.
Gambar 3.2 Neuron Multipolar
b) Neuron bipolar
Neutron Bipolar memiliki hanya satu dendrite dan satu akson.

Gambar 3.3 Neuron Bipolar

11
c) Neuron unipolar
Neuron Unipolar tidak memiliki dendrite dan proses penghantaran
impuls dilakukan oleh satu akson.

Gambar 3.4 Neuron Unipolar


Sedangkan berdasarkan fungsinya dibedakan atas sel saraf sensorik
(afferent), sel saraf motorik (efferent), dan sel saraf konektor (association).
a) Sel saraf sensorik
Sel saraf sensorik berfungsi menghantarkan rangsangan (impuls) dari
indra ke saraf pusat (otak) dan sumsum tulang belakang.

Gambar 3.5 Sel Saraf Sensorik


b) Sel saraf motorik
Sel saraf motorik berfungsi menghantarkan rangsangan dari saraf
pusat (otak) atau sumsum tulang belakang ke otot atau kelenjar.

12
Gambar 3.6 Sel Saraf Motorik
c) Sel saraf konektor
Sel saraf sensorik merupakan rangsangan yang meruskan menuju sel
saraf motorik melalui sel saraf konektor.

Gambar 3.7 Sel Saraf Konektor

Membran neuron layaknya membrane sel lainnya bersifat semipermeabel


(hanya molekul-molekul tertentu yang dapat keluar masuk misalnya ion-ion
tetapi tidak untuk molekul berukuran besar).
Membran sel saraf juga secara elektrikal bersifat polar (adanya ion-ion
bermuatan negative yang disebut kation di sekitar permukaan luar membrane
dan ion-ion bermuatan negative yang disebut anion di bagian sebelah dalam

13
membran). Impuls saraf berhasil ditranmisikan (disalurkan) dari sel saraf
yang satu ke sel saraf yang lain disebabkan oleh potensial aksi yang
berpindah di dekat sel saraf. Stimulus merubah kemampuan spesifik
permeable lapisan membrane dan menyebabkan depolarisasi kation dan
anion. Perubahan ini menyebar sepanjang serabut saraf yang selanjutnya
disebut sabagai impuls saraf itu sendiri. Polarisasi kembali terjadi setelah
depolarisasi yang diikuti oleh periode refractory selama impuls selanjutnya
datang lagi.

3.5 Mekanisme Penghantar Impuls


Impuls dapat dihantarkan melalui beberapa cara, di antaranya melalui sel
saraf dan sinapsis. Berikut ini akan dibahas secara rinci kedua cara tersebut.
1. Penghantaran Impuls Melalui Sel Saraf
Penghantaran impuls baik yang berupa rangsangan ataupun
tanggapan melalui serabut saraf (akson) dapat terjadi karena adanya
perbedaan potensial listrik antara bagian luar dan bagian dalam sel. Pada
waktu sel saraf beristirahat, kutub positif terdapat di bagian luar dan
kutub negatif terdapat di bagian dalam sel saraf. Diperkirakan bahwa
rangsangan (stimulus) pada indra menyebabkan terjadinya pembalikan
perbedaan potensial listrik sesaat. Perubahan potensial ini (depolarisasi)
terjadi berurutan sepanjang serabut saraf. Kecepatan perjalanan
gelombang perbedaan potensial bervariasi antara 1 sampai dengart 120 m
per detik, tergantung pada diameter akson dan ada atau tidaknya
selubung mielin.
Bila impuls telah lewat maka untuk sementara serabut saraf tidak
dapat dilalui oleh impuls, karena terjadi perubahan potensial kembali
seperti semula (potensial istirahat). Untuk dapat berfungsi kembali
diperlukan waktu 1/500 sampai 1/1000 detik.
Energi yang digunakan berasal dari hasil pemapasan sel yang
dilakukan oleh mitokondria dalam sel saraf.

14
Stimulasi yang kurang kuat atau di bawah ambang (threshold) tidak
akan menghasilkan impuls yang dapat merubah potensial listrik. Tetapi
bila kekuatannya di atas ambang maka impuls akan dihantarkan sampai
ke ujung akson. Stimulasi yang kuat dapat menimbulkan jumlah impuls
yang lebih besar pada periode waktu tertentu daripada impuls yang
lemah.
2. Penghantaran Impuls Melalui Sinapsis
Titik temu antara terminal akson salah satu neuron dengan neuron lain
dinamakan sinapsis. Setiap terminal akson membengkak membentuk
tonjolan sinapsis. Di dalam sitoplasma tonjolan sinapsis terdapat struktur
kumpulan membran kecil berisi neurotransmitter; yang disebut vesikula
sinapsis. Neuron yang berakhir pada tonjolan sinapsis disebut neuron
pra-sinapsis. Membran ujung dendrit dari sel berikutnya yang
membentuk sinapsis disebut post-sinapsis. Bila impuls sampai pada
ujung neuron, maka vesikula bergerak dan melebur dengan membran
pra-sinapsis. Kemudian vesikula akan melepaskan neurotransmitter
berupa asetilkolin. Neurontransmitter adalah suatu zat kimia yang dapat
menyeberangkan impuls dari neuron pra-sinapsis ke post-sinapsis.
Neurontransmitter ada bermacam-macam misalnya asetilkolin yang
terdapat di seluruh tubuh, noradrenalin terdapat di sistem saraf simpatik,
dan dopamin serta serotonin yang terdapat di otak. Asetilkolin kemudian
berdifusi melewati celah sinapsis dan menempel pada reseptor yang
terdapat pada membran post-sinapsis. Penempelan asetilkolin pada
reseptor menimbulkan impuls pada sel saraf berikutnya. Bila asetilkolin
sudah melaksanakan tugasnya maka akan diuraikan oleh enzim
asetilkolinesterase yang dihasilkan oleh membran post-sinapsis.
Bagaimanakah penghantaran impuls dari saraf motor ke otot? Antara
saraf motor dan otot terdapat sinapsis berbentuk cawan dengan membran
pra-sinapsis dan membran post-sinapsis yang terbentuk dari sarkolema
yang mengelilingi sel otot. Prinsip kerjanya sama dengan sinapsis saraf-
saraf lainnya.

15
Gerak merupakan pola koordinasi yang sangat sederhana untuk
menjelaskan penghantaran impuls oleh saraf. Gerak pada umumnya
terjadi secara sadar, namun, ada pula gerak yang terjadi tanpa disadari
yaitu gerak refleks. Impuls pada gerakan sadar melalui jalan panjang,
yaitu dari reseptor, ke saraf sensori, dibawa ke otak untuk selanjutnya
diolah oleh otak, kemudian hasil olahan oleh otak, berupa tanggapan,
dibawa oleh saraf motor sebagai perintah yang harus dilaksanakan oleh
efektor.
Gerak refleks berjalan sangat cepat dan tanggapan terjadi secara
otomatis terhadap rangsangan, tanpa memerlukan kontrol dari otak. Jadi
dapat dikatakan gerakan terjadi tanpa dipengaruhi kehendak atau tanpa
disadari terlebih dahulu. Contoh gerak refleks misalnya berkedip, bersin,
atau batuk. Pada gerak refleks, impuls melalui jalan pendek atau jalan
pintas, yaitu dimulai dari reseptor penerima rangsang, kemudian
diteruskan oleh saraf sensori ke pusat saraf, diterima oleh set saraf
penghubung (asosiasi) tanpa diolah di dalam otak langsung dikirim
tanggapan ke saraf motor untuk disampaikan ke efektor, yaitu otot atau
kelenjar. Jalan pintas ini disebut lengkung refleks. Gerak refleks dapat
dibedakan atas refleks otak bila saraf penghubung (asosiasi) berada di
dalam otak, misalnya, gerak mengedip atau mempersempit pupil bila ada
sinar dan refleks sumsum tulang belakang bila set saraf penghubung
berada di dalam sumsum tulang belakang misalnya refleks pada lutut.

3.6 Potensial Aksi


Potensial aksi merupakan suatu perubahan cepat pada potensial membran
yang menyebar sepanjang serabut saraf. Setiap potensial aksi dimulai dengan
perubahan dari potensial membran negatif istirahat normal menjadi potensial
positif dan kemudian berakhir dengan kecepatan yang hampir sama dan
kembali ke potensial negatif. Untuk menghantarkan sinyal saraf, potensial
aksi bergerak di sepanjang serabut saraf sampai tiba di ujung serabut.

16
Gambar 3.8 Tahap Potensial Aksi
Tahapan potensial aksi adalah sebagai berikut :
1) Tahap Istirahat
Tahap ini merupakan potensial membran istirahat yang ada sebelum
terjadinya potensial aksi. Pada saat ini, membran dapat dikatakan
“terpolarisasi”, karena selama tahap ini erlangsung, potensial
membrannya bersifat negatif dengan nilai sekitar -90 milivolt.
2) Tahap Depolarisasi
Pada tahap ini, membran secara tiba-tiba menjadi sangat permeabel
terhadap ion natrium. Yang menyebabkan kanal ion natrium terbuka
dengan sepat dan sejumlah besar ion natrium yang bermuatan positif
berdifusi masuk ke dalam akson. Keadaan membran yang awalnya
terpolarisasi dengan nilai -90 milivolt secara cepat menjadi semakin
positif, karena difusi natrium sekaligus menetralisir keadaan tersebut. Hal
ini meningkatkan potensial membran.
Aktifnya kanal ion natrium pada awal depolarisasi memunculkan suatu
feedbac positif, berupa trigger untuk terbukanya kanal-kanal ion natrium
yang lain, sehingga natrium akan terus berdifusi ke dalam akson hingga
tercapai konsentrasi tertentu.
Pada serabut saraf besar (bermielin), sejumlah besar ion natrium yang
berdifusi ke dalam akson tersebut menyebabkan potensial mencapai nilai
0, atau bahkan melampaui nilai 0 itu sendiri (menjadi sedikit positif).
Namun pada serabut saraf kecil (tidak bermielin), difusi ion natrium

17
hanya mampu menyebabkan potensial membran meningkat hingga nilai
dibawah 0, dan tidak pernah melampaui sampai keadaan positif.
3) Tahap Repolarisasi
Tahapan ini berlangsung setelah tahap depolarisasi berakhir, dan
membran menjadi lebih permeabel terhadap ion kalium. Berakhirnya
tahap depolarisasi adalah ketika kanal ion natrium tertutup dengan cepat
yang diikuti oleh pembukaan kanal ion kalium secara lambat. Saat kanal
ion kalium telah terbuka secara sempurna, sejumlah besar ion kalium
akan berdifusi keluar akson secara cepat. Hal ini menyebabkan potensial
membran yang tadinya menjadi positif karena depolarisasi kembali
bersifat negatif, dan ketika sifat negatif itu telah dicapai, kanal ion kalium
akan kembali menutup secara lambat.
4) Hiperpolarisasi
Setelah tahap repolarisasi berakhir, dikenal suatu kondisi yang disebut
positive after potential. Keadaan ini merupakan kondisi potensial
membran yang lebih negatif dari kondisi istirahat. Terjadi beberapa
milidetik setelah berakhirnya potensial aksi, terjadi akibat lambatnya
penutupan kanal ion K dan merupakan istilah yang salah kaprah akibat
faktor historis dalam pengukuran para ilmuan terhadap aksi potensial
membran.

Potensial aksi ditimbulkan oleh adanya sensasi yang dirasakan oleh tubuh.
Sense berarti otak mendapatkan informasi tentang keadaan lingkungan sekitar
dan tubuh. Sejarahnya, Terdapat 5 rasa yang dapat kita terima yaitu bau,
suara, rasa, sentuhan, dan cahaya.

Pada saat ini kita dapat membagi sensasi menjadi dua, yaitu :
1) General sense
Dimana reseptornya secara luas tersebar di tubuh. General sense ini
dapat dibagi menjadi 2 bagian yaitu :
a) Somatic sense

18
Menyediakan informasi sensorik tentang tubuh dan lingkungan
sekitar, yang termasuk dalamnya adalah sentuhan, tekanan,
suhu, propriosepsi, dan nyeri.
b) Visceral sense
Menyediakan informasi tentang keadaan organ internal, yang
terutamanya nyeri dan tekanan.
2) Special sense
Lebih mengkhusus pada struktur maupun penempatan pada organ
tubuh. Yang termasuk dalam special sense adalah bau, rasa, suara,
cahaya, keseimbangan.

3.7 Kelainan dan Penyakit pada Sistem Saraf


Ada berbagai jenis kelainan dan penyakit yang menyerang sistem saraf
manusia, antara lain.
1. Amnesia
Amnesia merupakan gangguan yang terjadi pada otak yang
disebabkan oleh kecelakaan (cidera) sehingga menyebabkan trauma
pada kepala atau dapat disebut dengan geger otak. Penderita amnesia
umumnya akan mengalami kebingungan serta kehilangan ingatan.
Amnesia dapat bersifat sementara atau permanen tergantung dari parah
tidaknya trauma yang diderita oleh otak.
2. Stroke
Stroke merupakan kerusakan pada otak akibat
tersumbatnya/pecahnya pembuluh darah pada otak. Penyebab
penyumbatan adalah adanya penyempitan pembuluh darah dan juga
penyumbatan karena suatu emboli. Umumnya, wajah pada penderita
stroke terlihat tidak simetris.
3. Epilepsi (Ayan)
Epilepsi merupakan penyakit yang menyebabkan kejang pada
tubuh. Kejang yaitu periode hilang kesadaran yang mungkin termasuk
kontraksi otot yang sangat keras. Hal tersebut dikarenakan adanya

19
aktivitas listrik abnormal di otak. Penyebab epilepsi adalah karena
infeksi, cidera otak, dan tumor. Penderita epilepsi biasanya mengalami
kejang-kejang hingga mulutnya keluar busa serta terjadi secara
mendadak dan berulang-ulang.
4. Hidrosefalus
Hidrosefalus merupakan sebuah kelainan yang terjadi akibat
gangguan aliran yang berupa cairan di dalam otak atau penumpukan
cairan di dalam otak sehingga menyebabkan pembengkakan di dalam
otak. Gangguan tersebut dapat menyebabkan cairan tersebut bertambah
banyak sehingga akan menekan jaringan otak di sekitarnya terutama
pada pusat-pusat saraf vital.
5. Meningitis (Radang Selaput Otak)
Meningitis merupakan infeksi pada selaput yang menutupi otak
dan sumsum tulang belakang. Meningitis disebabkan oleh virus atau
bakteri. Gejala meningitis yaitu badan demam, sakit kepala yang
berlebihan, leher terasa kaku dan adanya ruam-ruam pada kulit.
Meningitis bakteri jauh lebih serius karena dapat menyebabkan
kerusakan otak bahkan kematian.
6. Alzheimer (Pikun)
Pada dasarnya alzheimer bukanlah penyakit yang menular, tetapi
sindrom apoptosis sel-sel otak pada saat yang bersamaan sehingga otak
terlihat mengerut dan mengecil. Penyebabnya adalah perubahan
abnormal di otak sehingga menyebabkan hilangnya sebagian besar
fungsi otak normal. Gejala alzheimer adalah kehilangan memori,
kebingungan, perubahan suasana hati, hilangnya bertahap kontrol atas
kemampuan mental dan fisik. Umumnya, Alzheimer terjadi pada lansia.
7. Polio
Polio dapat disebabkan karena infeksi virus polio pada sumsum
tulang belakang. Polio paling sering menyerang anak-anak. Virus polio
ini dapat menyebabkan demam, kelumpuhan, dan sakit kepala yang

20
berakhir pada hilangnya refleks. Polio dapat dicegah dengan imunisasi
polio.

21
BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Biolistrik adalah daya listrik hidup yang terdiri dari pancaran elektron-
elektron yang keluar dari setiap titik tubuh (titik energi) dan muncul akibat
adanya rangsangan penginderaan. Transmisi sinyal biolistrik menggunakan
dendrit untuk mentransmisikan isyarat dari sensor ke neuron sehingga
kemampuan sel saraf sangatlah penting. Sistem saraf manusia dibagi menjadi
dua , yaitu ; sistem saraf pusat yang dan sistem saraf tepi . Sistem saraf pusat
terdiri dari otak dan sumsum tulang belakang , sedangkan sistem saraf
otonom berfungsi sebagai pengendali atau pengatur berbagai organ internal.
Neuron merupakan struktur dasar dari system saraf. Fungsi neuron
dibedakan menjadi tiga yaitu ; sel saraf sensorik (afferent), sel saraf motorik
(efferent), dan sel saraf konektor ( association ). Potensial aksi ditimbulkan
oleh adanya sensasi yang dirasakan oleh tubuh. Sense berarti otak
mendapatkan informasi tentang keada . Untuk menghantarkan sinyal saraf,
potensial aksi bergerak di sepanjang serabut saraf sampai tiba di ujung
serabut. Tahapan potensial aksi terdiri dari tahap istirahat , tahap depolarisasi
, tahap repolarisasi dan hiperpolarisasi.

4.2 Saran
Untuk dapat memahami sistem saraf, selain membaca dan memahami materi-
materi dari sumber keilmuan yang ada (buku, internet, dan lain-lain) kita
harus dapat mengkaitkan materi-materi tersebut dengan kehidupan kita
sehari-hari, agar lebih mudah untuk paham dan akan selalu diingat.

22
DAFTAR PUSTAKA

Campbell, dkk. 2004. Biologi. Ed. 5 Jil. 3. Jakarta: Erlangga.

Sherwood, Lauralee.2012.Fisiologi Manusia.Buku Kedokteran EGC : Jakarta.

Ensiklozone.2016.Jenis kelainan dan penyakit.https://ensiklozone.blogspot.co.id.

Asriwati. 2017. Fisika dalam kesehatan dalam keperawatan. Yogyakarta.


Deepublish.

Bauman, R. and Steve, D. 1991. Human dan Anatomy and Physiology,


Laboratory Textbook. Whittier Publications Inc, United States of America

Nodine, J.H., Animal and Clinical Pharmacological Technique in Drug


Evaluation, Yearbook, Medical Publ. Inc., Chicago, 1964.

23
LAMPIRAN

24