Anda di halaman 1dari 28

KATA PENGANTAR

Dengan memanjatkan puji dan syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan
karunia-Nya kepada penulis sehingga akhirnya penulis dapat menyelesaikan makalah ini tepat pada
waktunya.Makalah yang berjudul Pengantar Kesehatan yang ditulis guna memenuhi salah satu tugas
mata kuliah Keperawatan komunitas 1

Pada kesempatan yang baik ini, izinkanlah penulis menyampaikan rasa hormat dan ucapan terima
kasih kepada semua pihak yang dengan tulus ikhlas memberikan bantuan dan dorongan kepada penulis
dalam menyelesaikan masalah ini dengan sebaik-baiknya.

Jakarta, 26 Oktober 2018

Kelompok 1

1
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................................................. ........1


DAFTAR ISI ............................................................................................................................ …....2

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang ........................................................................................................... …. . 3


B. Rumusan Masalah .................................................................................................... ….. .3
C. Tujuan Penulisan ..................................................................................................... ……3

BAB II TINJAUAN TEORI

I. Pengertian Kesehatan ………………………………………………………………........ 4


II. Pengertian Komunitas ........................................................................………………. .......4-7
III. Indikator Sehat Komunitas.....…………………………………………………………........... 7-10
IV. Karakteristik dan Prilaku Sehat ……………………………………………………….............10-12
V. Tahapan Pencegahan ……………………………………………………………………….....12-19
VI. Paradigma Keperawatan Kesehatan Komunitas …………………………………...................19- 21

BAB III PENUTUP

A. Simpulan ........................................................................................................................... ............ 22

B. Saran ..............................................................................................................................................22

DAFTAR PUSTAKA..........................................................................................................................23

2
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Menurut WHO, kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa, dan social
yang utuh,tidak hanya terhindar dari penyakit atau kelemahan (Grad, 2002, p 984)
Sehat menurut model Neuman adalah suatu keseimbangan biopsiko-sosio-
cultural dan spiritual pada tiga garis pertahanan klien yaitu fleksibel, normal dan resisten.
Keperawatan ditujukan untuk mempertahankan keseimbangan tersebut dengan berfokus
pada empat intervensi yaitu: intervensi yang bersifat promosi dilakukan apabila
gangguan yang terjadi pada garis pertahanan normal yang terganggu. Sedangkan
intervensi yang bersifat kurasi atau rehabilitasi dilakukan apabila garis pertahanan
resisten yang terganggu.

B. Rumusan Masalah
1. Apa itu Pengertian Kesehatan?
2. Apa itu Pengertian Komunitas?
3. Apa saja Indikator Sehat Komunitas?
4. Apa saja Karakteristik dan Prilaku Sehat?
5. Apa saja Tahapan Pencegahan?
6. Apa saja Paradigma Keperawatan Kesehatan Komunitas?

C. Tujuan Penulisan
1. Mengetahui Apa itu Pengertian Kesehatan?
2. Mengetahui Apa itu Pengertian Komunitas?
3. Mengetahui Apa saja Indikator Sehat Komunitas?
4. Mengetahui Apa saja Karakteristik dan Prilaku Sehat?
5. Mengetahui Apa saja Tahapan Pencegahan?
6. Mengetahui Apa saja Paradigma Keperawatan Kesehatan Komunitas?

3
BAB II

TINJAUAN TEORI
A. Kesehatan Komunitas
Manusia adalah makhluk sosial. Kita semua, tanpa pengecualian, menjalani hidup kita dengan
orang lain. Komunitas adalah fitur yang penting dan permanen dari pengalaman manusia.
Komunitas tempat kita tinggal dan bekerja memiliki pengaruh besar pada kesehatan dan
kesejahteraan kolektif kita (World Health Organization [WHO], 2006a). Dan, sejak awal, orang
telah berusaha untuk menciptakan komunitas yang lebih sehat. Berikut ini tiga contoh terbaru:

Seperti halnya teori sistem yang mengingatkan kita bahwa keseluruhan lebih besar
daripada jumlah bagian-bagiannya, kesehatan suatu komunitas lebih dari jumlah kesehatan
warganya sendiri. Komunitas yang mencapai tingkat kesehatan yang tinggi terdiri dari warga
yang sehat, berfungsi dalam lingkungan yang melindungi dan meningkatkan kesehatan.
Kesehatan masyarakat, sebagai bidang praktik, berusaha untuk menyediakan struktur organisasi,
seperangkat sumber daya yang luas, dan kegiatan kolaboratif yang diperlukan untuk mencapai
tujuan komunitas yang sehat secara optimal. Ketika Anda bekerja di rumah sakit atau tempat
perawatan akut lainnya, fokus utama anda adalah masing-masing pasien. Keluarga pasien
dipandang sebagai tambahan. Kesehatan masyarakat, bagaimanapun, memperluas pandangan
untuk fokus pada keluarga, agregat, populasi, dan masyarakat luas. Masyarakat menjadi
penerima layanan, dan kesehatan menjadi produk. Dilihat dari perspektif lain, kesehatan
masyarakat berkaitan dengan pertukaran antara kelompok populasi dan lingkungan total mereka,
dan dengan dampak dari pertukaran itu pada kesehatan kolektifPerawat profesional adalah
anggota integral dari tim ini, peniti dan penghubung antara dokter, pekerja sosial, pejabat
pemerintah, dan petugas penegak hukum. Perawat kesehatan masyarakat bekerja di setiap jenis
agensi komunitas, dari departemen kesehatan publik negara bagian ke kelompok advokasi
berbasis komunitas. Tugas mereka berkisar dari memeriksa bayi di klinik bayi-baik, mengajar
para korban stroke yang lanjut usia di rumah mereka, untuk melaksanakan penelitian
epidemiologi atau terlibat dalam analisis kebijakan kesehatan dan pengambilan keputusan.
Meskipun luasnya, bagaimanapun, keperawatan kesehatan masyarakat adalah praktik khusus.
Ini menggabungkan semua elemen dasar keperawatan klinis profesional dengan kesehatan
masyarakat dan praktik masyarakat. Bersama-sama, kami akan memeriksa kontribusi unik yang
dibuat oleh perawat kesehatan masyarakat ke sistem perawatan kesehatan kami.

Kesehatan masyarakat adalah ilmu dan seni mencegah penyakit, memperpanjang hidup,
dan meningkatkan kesehatan dan efisiensi melalui upaya masyarakat yang terorganisir untuk
sanitasi lingkungan, pengendalian infeksi menular, pendidikan individu dalam kebersihan
pribadi, organisasi layanan medis dan keperawatan untuk diagnosis dini dan pengobatan
pencegahan penyakit, dan pengembangan mesin sosial untuk memastikan semua orang memiliki
standar hidup yang memadai untuk pemeliharaan kesehatan. (Clinton County Health

4
Department, 2006, hal. 1) Definisi kesehatan masyarakat yang lebih baru dan ringkas termasuk
"upaya yang diselenggarakan oleh masyarakat untuk melindungi, mempromosikan, dan
memulihkan kesehatan masyarakat" (Trust for America's Health, 2006, hlm. 27) dan "kesehatan
penduduk secara keseluruhan daripada perawatan kesehatan medis, yang berfokus pada
pengobatan penyakit individu" (Kesehatan Data Standar Konsorsium, 2006, hal. 120). Fungsi-
fungsi kesehatan masyarakat inti telah digambarkan sebagai penilaian, pengembangan
kebijakan, dan jaminan. Ini akan dibahas lebih rinci di Bab 3. Dengan pemahaman dasar tentang
kesehatan masyarakat ini, konsep kesehatan masyarakat dapat didefinisikan. Kesehatan
masyarakat adalah identifikasi kebutuhan, bersama dengan perlindungan dan peningkatan
kesehatan kolektif, di dalam wilayah yang didefinisikan secara geografis. Salah satu tantangan
yang dihadapi oleh praktik kesehatan masyarakat adalah tetap responsif terhadap kebutuhan
kesehatan masyarakat. Akibatnya, strukturnya kompleks; banyak layanan dan program
kesehatan saat ini tersedia atau akan dikembangkan. Contohnya termasuk pendidikan kesehatan,
keluarga berencana, pencegahan kecelakaan, perlindungan lingkungan, imunisasi, nutrisi,
skrining periodik awal dan pengujian perkembangan, program sekolah, layanan kesehatan
mental, program kesehatan kerja, dan perawatan populasi yang rentan.

I. PENGERTIAN KESEHATAN
1. UU No.23, 1992 tentang Kesehatan menyatakan bahwa: Kesehatan adalah keadaan
sejahtera dari badan, jiwa dan sosial yang memungkinkan hidup produktif secara sosial
dan ekonomi. Dalam pengertian ini maka kesehatan harus dilihat sebagai satu kesatuan
yang utuh terdiri dari unsur-unsur fisik, mental dan sosial dan di dalamnya kesehatan
jiwa merupakan bagian integral kesehatan.
2. Sehat menurut model Neuman adalah suatu keseimbangan biopsiko-sosio-cultural dan
spiritual pada tiga garis pertahanan klien yaitu fleksibel, normal dan resisten.
Keperawatan ditujukan untuk mempertahankan keseimbangan tersebut dengan berfokus
pada empat intervensi yaitu: intervensi yang bersifat promosi dilakukan apabila
gangguan yang terjadi pada garis pertahanan normal yang terganggu. Sedangkan
intervensi yang bersifat kurasi atau rehabilitasi dilakukan apabila garis pertahanan
resisten yang terganggu.

3. Menurut WHO, kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa, dan social yang
utuh, tidak hanya terhindar dari penyakit atau kelemahan (Grad, 2002, p 984)
4. American Nurse Association (ANA) pada tahun 1980 mendefinisikan sehat sebagai
keadaan dinamik ketika potensi perkembangan dan perilaku individu terpenuhi seoptimal

5
mungkin. Dalam definisi ini sehat lebih dari sekedar kondisi terbebas dari penyakit, tetapi
mencakup upaya mencapai fungsi optimal.

Rentang Konsep Sehat-Sakit

6
II. PENGERTIAN KOMUNITAS

A. DEFINISI KOMUNITAS

1. Menurut WHO (1974)

Komunitas adalah sebagai suatu kelompok sosial yang ditentukan oleh batas-batas
wilayah, nila-nilai keyakinan dan minat yang sama, serta ada rasa saling mengenal dan
interaksi antara anggota masyarakat satu dan yang lainnya.

2. Menurut Spradley (1985)

Komunitas sebagai sekumpulan orang yang saling bertukar pengalaman penting dalam
hidupnya.

3. Menurut Koentjaraningrat (1990)

Komunitas sebagai suatu kesatuan hidup manusia yang menepati suatu wilayah nyata dan
berinteraksi menurut suatu sistem adat istiadat, serta terikat oleh rasa identitas suatu
komunitas.

4. Menurut Riyadi (2007)

Komunitas adalah sekelompok dari masyarakat yang tinggal di suatu lokasi yang sama
dibawah pemerintahan yang sama, area atau lokasi yang sama dimana merek atinggal,
kelompok sosial yang mempunyai interest yang sama.

5. Menurut Sumijatun dkk. (2006)

Komunitas (communiy) adalah sekelompok masyarakat yang mempunyai persamaan nilai


(values), perhatian (interest) yang merupakan kelompok khusus dengan batas-batas
geografi yang jelas, dengan norma dan nilai yang telah melembaga.

B. DEFINISI KEPERAWATAN

Keperawatan adalah suatu bentuk pelayanan professional sebagi bagian integral pelayanan
kesehatan berbentuk pelayanan biologi, psikologi, social, dan spiritual secara

7
komperhensif, ditujukan kepada individu, keluarga, dan masyarakat baik sehat maupun
sakit mencakup siklus hidup manusia (Riyadi, 2007)

C. DEFINISI KEPERAWATAN KOMUNITAS

Berbagai definisi dari keperawatan kesehatan komunitas telah dikeluarkan oleh organisasi-
organisasi profesional. Berdasarkan pernyataan dari American Nurses Association (2004)
yang mendefinisikan keperawatan kesehatan komunitas sebagai tindakan untuk
meningkatkan dan mempertahankan kesehatan dari populasi dengan mengintegrasikan
ketrampilan dan pengetahuan yang sesuai dengan keperawatan dan kesehatan masyarakat.
Praktik yang dilakukan komprehensif dan umum serta tidak terbatas pada kelompok
tertentu, berkelanjutan dan tidak terbatas pada perawatan yang bersifat episodik. Definisi
keperawatan kesehatan komunitas menurut American Public Health Association (2004)
yaitu sintesis dari ilmu kesehatan masyarakat dan teori keperawatan profesional yang
bertujuan meningkatkan derajat kesehatan pada keseluruhan komunitas.

1. Menurut WHO (1947)

Keperawatan komunitas mencakup perawatan kesehatan keluarga (nurse health family)


juga kesehatan dan kesejahteraan masyarakat luas, membantu masyarakat mengidentifikasi
suatu masalah kesehatannya sendiri, serta memecahkan masalah kesehatan tersebut sesuai
dengan kemampuan yang ada pada mereka sebelum mereka meminta bantuan kepada
orang lain.

2. Menurut Ruth B. Freeman (1991)

Kesatuan yang unik dari praktik keperawatan dan kesehatan masyarakat yang ditunjukan
pada pengembangan serta peningkatan kemampuan kesehatanya, baik diri sendiri sebagai
perorangan maupun secara kolektif sebagai keluarga, kelompok khusus ataupun
masyarakat.

3. Menurut DEPKES RI (1986)

Suatu upaya pelayanan keperawatan yang merupakan bagian integral dari pelayanan
kesehatan yang dilaksanakan oleh perawat dengan mengikutsertakan tim kesehatan lainnya

8
dan masyarakat untuk memperoleh tingkat kesehatan individu, keluarga, dan masyarakat
lebih tinggi.

4. Menurut Pradley (1985)

Pelayanan keperawatan profesional yang ditunjukan kepada masyarakat dengan penekanan


pada kelompok risiko tinggi, dalam upaya pencapaian derajat kesehatan yang optimal
melalui pencegahan penyakit dan peningkatan kesehatan, dengan menjamin
keterjangkauan pelayanan kesehatan yang dibutuhkan.

D. PERBEDAAN KEPERAWATAN KOMUNITAS DARI DISIPLIN


KEPERAWATAN LAIN

Keperawatan kesehatan komunitas pada awalnya bekerja di sektor pemerintahan seperti


Departemen Kesehatan, Dinas Kesehatan dan puskesmas tetapi dalam perkembangannya
perawat komunitas juga bekerja di setting lainnya misal pusat layanan kesehatan mandiri,
organisasi home care maupun organisasi kemasyarakatan lainnya. Menurut Institute of
Medicine (IOM) tahun 2003 mendefinisikan Keperawatan Kesehatan Komunitas sebagai
layanan keperawatan profesional yang diberikan oleh perawat yang telah memeperoleh
pendidikan keperawatan komunitas atau disiplin lain yang berkaitan dan bekerja untuk
meningkatkan derajat kesehatan yang berfokus pada masyarakat.

III. INDIKATOR SEHAT KOMUNITAS

Indikator adalah variabel yang digunakan untuk mengevaluasi situasi atau status dan
memungkinkan untuk mengukur setiap perubahan yang terjadi dalam waktu yang singkat. Indikator
harus memenuhi 5 syarat yaitu simpel, dapat diukur, ada penyebab, terpercaya, serta waktunya
pasti. Indikator untuk Indonesia Sehat dikelompokkan dalam 3 kategori :

1. Indikator Hasil Akhir (Derajat Kesehatan)

Indikator ini berupa indikator mortalitas, morbiditas, dan status gizi.

2. Indikator Hasil Antara

Indikator ini berupa indikator lingkungan, perilaku hidup masyarakat, dan akses serta mutu
pelayanan kesehatan.

3. Indikator Proses dan Masukan

9
Indikator ini berupa pelayanan kesehatan, sumber daya kesehatan, manajemen kesehatan serta
konstribusi sektor-sektor terkait.

Menurut WHO beberapa indikator dari masa kasar menurun, rasio angka mortalitas proporsional
menurun, umur harapan hidup meningkat.

Indicator spesifik: angka kematian ibu dan anak menurun, angka kematian karena penyakit
menular menurun, angka kelahiran menurun.

2. Indicator pelayanan kesehatan

a. Rasio angka tenaga kesehatan dan jumlah penduduk seimbang

b. Distribusi tenaga kesehatan merata

c. Informasi lengkap tentang jumlah tempat tidur di rumah sakit, fasilitas kesehatan lain, dan
sebagainya

d. Informasi tentang jumlah sarana pelayanan kesehatan diantaranya rumah sakit, puskesmas,
rumah bersalin, dan sebagainya (Nasrul Efendy, 1998).

Dalam hal perawatan kesehatan masyarakat ada beberapa aspek sehat yang perlu diperhatikan:

1. Pencapaian jadi diri atau pemenuhan dan pengembangan pontesi secara sempurna.

2. Keadaan dimana terjadi efektivitas interaksi fisik dan lingkungan sosial (teori adaptif).

3. Kemampuan penampilan peran sebagai cara efektif.

4. Terhindar dari tanda-tanda dan gejala penyakit atau ketidakmampuan. (Zaidin Ali, 2000).

Dan Hendric L. Blum (1974) mengatakan bahwa ada 4 faktor utama yang mempengaruhi
kesehatan masyarakat, yaitu lingkungan, perilaku, pelayanan kesehatan dan keturunan. Lingkungan
merupakan faktor yang paling dominan mempengaruhi kesehatan masyarakat, karena di
lingkunganlah manusia mengadakan interaksi dan interelasi dalam proses kehidupannya, baik
dalam lingkungan fisik, psikologis, sosial-budaya, ekonomi, dimana kondisi tersebut sangat
dipengaruhi oleh perilaku individu, keluarga, kelompok maupun masyarakat, yang erat kaitannya
dengan kebiasaan dengan norma, adat istiadatyang berlaku dimasyarakat. Kemudian baru ditunjang
oleh tersedianya fasilitas kesehatan yang terjangkau oleh masyarakat, dan yang terakhir adalah
faktor keturunan yang dibawa sejak lahir yang erat kaitannya dengan gen yang diturunkan oleh
orang tua. (Nasrul Efendy, 1998).

A. Ada 24 indikator kesehatan yang digunakan dalam IPKM dengan nilai korelasi UHH yang
tertinggi.

Indikator kesehatan tersebut adalah sebagai berikut :

1. prevalensi balita gizi buruk dan kurang,

10
2. prevalensi balita sangat pendek dan pendek,

3. prevalensi balita sangat kurus dan kurus,

4. prevalensi balita gemuk,

5. prevalensi diare,

6. prevalensi pnemonia,

7. prevalensi hipertensi,

8. prevalensi gangguan mental,

9. prevalensi asma,

10. prevalensi penyakit gigi dan mulut,

11. prevalensi disabilitas,

12. prevalensi cedera,

13. prevalensi penyakit sendi,

14. prevalensi ISPA,

15. proporsi perilaku cuci tangan,

16. proporsi merokok tiap hari,

17. akses air bersih,

18. akses sanitasi,

19. cakupan persalinan oleh nakes,

20. cakupan pemeriksaan neonatal-1,

21. cakupan imunisasi lengkap,

22. cakupan penimbangan balita,

23. ratio Dokter/Puskesmas, dan

24. ratio bidan/desa.

B. Adapun indikator sehat menurut WHO:

A. Berhubungan dengan status kesehatan masyarakat

11
1. Indikator komprehensi

2. Angka kematian kasar menurun

3. Rasio angka moralitas proporsional rendah

4. Umur harapan hidup meningkat

5. Indikator spesifi

6. Angka kematian ibu dan anak menurun

7. Angka kematian karena penyakit menular menurun

8. Angka kelahiran menurun

B. Berhubungan dengan pelayanan kesehatan

1. Rasio antara pelayanan kesehatan dan jumlah penduduk seimbang

2. Distribusi tenaga kesehatan merata

3. Informasi lengkap tentang fasilitas kesehatan

4. Informasi tentang sarana Pelayanan kesehatan di Rumah Sakit, Puskesmas, dan lain-lain

C. Indikator Sehat Komunitas menurut Allender

Indikator sehat digunakan untuk mengukur kesehatan nasional lebih dari 10 tahun ke
depan. Setiap indicator memiliki satu atau lebih sasaran yang yang berhubungan dengan
Healthy people 2010. Indikator sehat dipilih berdasarkan kemampuan untuk melakukan
aktivitas, ketersediaan atas data untuk mengukur perkembangan dan kepentingan sebagai isu
kesehatan masyarakat.

1. Aktivitas fisik
2. Kelebihan berat badan dan obesitas
3. Penggunaan tembakau
4. Penyalahgunaan obat
5. Perilaku seksual
6. Kesehatan mental
7. Cedera dan kekerasan
8. Kualitas lingkungan
9. Imunisasi
10. Akses ke pelayanan kesehatan

12
Indikator adalah variabel yang digunakan untuk mengevaluasi situasi atau status dan
memungkinkan untuk mengukur setiap perubahan yang terjadi dalam waktu yang singkat.
Indikator harus memenuhi 5 syarat yaitu simpel, dapat diukur, ada penyebab, terpercaya, serta
waktunya pasti. Indikator untuk Indonesia Sehat dikelompokkan dalam 3 kategori :

1. Indikator Hasil Akhir (Derajat Kesehatan)

Indikator ini berupa indikator mortalitas, morbiditas, dan status gizi.

2. Indikator Hasil Antara

Indikator ini berupa indikator lingkungan, perilaku hidup masyarakat, dan akses serta
mutu pelayanan kesehatan.

3. Indikator Proses dan Masukan

Indikator ini berupa pelayanan kesehatan, sumber daya kesehatan, manajemen kesehatan
serta konstribusi sektor-sektor terkait.

Menurut WHO beberapa indikator kesehatan yang berhubungan dengan status kesehatan
masyarakat:

1. Indicator komprehensif: angka kematian kasar menurun, rasio angka mortalitas


proporsional rendah, umur harapan hidup meningkat

2. Indicator spesifik: angka kematian ibu dan anak menurun, angka kematian karena
penyakit menular menurun, angka kelahiran menurun.

Indicator pelayanan kesehatan

1. Rasio angka tenaga kesehatan dan jumlah penduduk seimbang

2. Distribusi tenaga kesehatan merata

3. Informasi lengkap tentang jumlah tempat tidur di rumah sakit, fasilitas kesehatan lain,
dan sebagainya

4. Informasi tentang jumlah sarana pelayanan kesehatan diantaranya rumah sakit,


puskesmas, rumah bersalin, dan sebagainya (Nasrul Efendy, 1998).

Dalam hal perawatan kesehatan masyarakat ada beberapa aspek sehat yang perlu diperhatikan:

1. Pencapaian jadi diri atau pemenuhan dan pengembangan pontesi secara sempurna.

2. Keadaan dimana terjadi efektivitas interaksi fisik dan lingkungan sosial (teori adaptif).

13
3. Kemampuan penampilan peran sebagai cara efektif.

4. Terhindar dari tanda-tanda dan gejala penyakit atau ketidakmampuan. (Zaidin Ali, 2000).

Dan Hendric L. Blum (1974) mengatakan bahwa ada 4 faktor utama yang mempengaruhi
kesehatan masyarakat, yaitu lingkungan, perilaku, pelayanan kesehatan dan keturunan.
Lingkungan merupakan faktor yang paling dominan mempengaruhi kesehatan masyarakat,
karena di lingkunganlah manusia mengadakan interaksi dan interelasi dalam proses
kehidupannya, baik dalam lingkungan fisik, psikologis, sosial-budaya, ekonomi, dimana kondisi
tersebut sangat dipengaruhi oleh perilaku individu, keluarga, kelompok maupun masyarakat,
yang erat kaitannya dengan kebiasaan dengan norma, adat istiadatyang berlaku dimasyarakat.
Kemudian baru ditunjang oleh tersedianya fasilitas kesehatan yang terjangkau oleh masyarakat,
dan yang terakhir adalah faktor keturunan yang dibawa sejak lahir yang erat kaitannya dengan
gen yang diturunkan oleh orang tua. (Nasrul Efendy, 1998).

Ada 24 indikator kesehatan yang digunakan dalam IPKM (Indeks Pembangunan Kesehatan
Masyarakat) dengan nilai korelasi UHH (Usia Harapan Hidup) yang tertinggi.

Indikator kesehatan tersebut adalah sebagai berikut :

1. prevalensi balita gizi buruk dan kurang,

2. prevalensi balita sangat pendek dan pendek,

3. prevalensi balita sangat kurus dan kurus,

4. prevalensi balita gemuk,

5. prevalensi diare,

6. prevalensi pnemonia,

7. prevalensi hipertensi,

8. prevalensi gangguan mental,

9. prevalensi asma,

10. prevalensi penyakit gigi dan mulut,

11. prevalensi disabilitas,

12. prevalensi cedera,

14
13. prevalensi penyakit sendi,

14. prevalensi ISPA,

15. proporsi perilaku cuci tangan,

16. proporsi merokok tiap hari,

17. akses air bersih,

18. akses sanitasi,

19. cakupan persalinan oleh nakes,

20. cakupan pemeriksaan neonatal-1,

21. cakupan imunisasi lengkap,

22. cakupan penimbangan balita,

23. ratio Dokter/Puskesmas, dan

24. ratio bidan/desa.

IV. KARAKTERISTIK DAN PRILAKU SEHAT


Berikut ini adalah karakteristik sehat :

1. Adanya peningkatan kemampuan dari masyarakat untuk hidup sehat.


2. Mampu mengatasi masalah kesehatan sederhana melalui upaya pengangkatan
kesehatan (Health Promotion), pencegahan penyakit (Health Prevention), penyembuhan
penyakit (Curative Health), dan pemulihan kesehatan (Rehabilitatif Health), terutama ibu
dan anak.
3. Berupaya untuk meningkatkan kesehatan lingkungan, terutama penyediaan
sanitasi dasar yang dikembangkan dan di manfaatkan oleh masyarakat untuk
meningkatkan mutu lingkungan hidup.
4. Selalu meningkatkan status gizi masyarakat berkaitan dengan peningkatan status
social ekonomi masyarakat.
5. Berupaya selalu menurunkan angka kesakitan dan kematian dari berbagai sebab
dan penyakit.

15
Perilaku sehat adalah tindakan yang dilakukan seseorang yg merasa dirinya sehat, dan
bertujuan memelihara, mempertahankan dan meningkatkan kesehatan. 3 tujuan yang ingin
dicapai dlm perilaku sehat ini adalah : Perilaku preventive Protective Promotive

a. Perilaku preventif: upaya memelihara kesehatannya dengan mencegah datangnya


penyakit. Caranya dapat dlilakukan dengan Medical activities & non-medical activities
Terdapat 2 tingkatan yaitu: Primary preventive: langsung mencegah penyakit: medical
actiities (imunisasi), non medical actities (minum jamu) Secondary preventive: tidak
langsung mencegah penyakit (mandi, rekresi).
Model ini fokusnya adalah perilaku kesehatan preventif. Ada 3 golongan variable yang
diidentifikasi sebagai yang determinan dalam perilaku pencegahan yaitu motivasi
prediposisi, variable kendala dan variable Kondisi.

1. Motivasi predisposisi. Bahwa setiap perilaku ada motivasinya yaitu untuk mencapai
suatu tujuan. Ada 3 tipe tujuan orang melakukan perilaku pencegahan penyakit ggi yang
masing-masing orang berbeda : Untuk meningkatkan derajat kesehatan atau menghindari
kemungkinan sakit. Untuk mendapatkan persetujuan orang2 terdekat Untuk memperoleh
pengertian agar perilaku tertentu disetujui atau diakui sendiri manfaatnya.
2. Variabel Kendala Yang merintangi orang yang telah termotivasi untuk melakukan
suatu perilaku kesehatan : Internal = kurang pengetahuan tentang perilaku sehat dan
ketakutan dalam pengobatan gigi. Eksternal = kekurangan sumberdaya (uang, waktu atau
dokter yang diperlukan)
3. Variabel Kondisi Tingkat pendidikan sama halnya megurangi kendala Pengalaman
kesehatan sebelumnya Status social ekonomi Melindungi tubuh dari gangguan penyakit
(minum vit, pakai kondom, jas hujan atau payung) Peningkatan kualitas/ derajat kesehatan,
konsumsi vit, olah raga, menu makan diatur, berat badan diatur.

b. Perilaku protective, yaitu upaya untuk melindungi badan dari rasa sakit, seperti
melakukan pengobatan segera ketika didapatkan rasa sakit pada tubuhnya untuk mencegah
terjadinya komplikasi sejak dini. Misalnya minum oralit ketika terjadinya diare, sebelum
terjadi dehidrasi.

16
c. Perilaku promotif. Yaitu upaya untuk memelihara kesehatannya dengan ikut serta
melakukan penyuluhan tentang pencegahan penyakit, dengan cara meningkatkan
pengetahuan. Seperti mengikuti penyuluhan tentanng pemeriksaan payudara sejak dini,
meningkatkan pengetahuan tentang pencegahan stroke dengan rajin mengikuti penyuluhan
yang ada.

Faktor yang Mempengaruhi Perilaku Kesehatan


Dalam teori Snehandu B. Kar menganalisis perilaku manusia dari tingkat kesehatan yaitu:
1. Faktor-faktor predisposisi (predisposing faktors)
Faktor-faktor predisposisi yang terwujud dalam pengetahuan, sikap, kepercayaan,
keyakinan, nilai-nilai, dan sebagainya.
2. Faktor-faktor pendukung (enabling factors)
Faktor-faktor pendukung yang terwujud dalam lingkungan fisik, tersedia, atau tidak
tersedianya fasilitas-fasilitas atau sarana-sarana kesehatan. Misalnya: puskesmas, alat-alat
kontrasepsi, jamban, dan sebagainya
3. Faktor-faktor pendorong (renforcing factors)
Faktor-faktor pendorong yang terwujud dalam sikap dan perilaku petugas kesehatan
atau petugas lain, yang merupakan kelompok referensi dari perilaku masyarakat.

V. TAHAPAN PENCEGAHAN ( Tujuan dan Strategi serta Pelayanan


Kesehatan Utama)

A. Tahapan Pencegahan

1. Prevensi Primer

17
Prevensi primer ditujukan bagi orang-orang yang termasuk kelompok risiko
tinggi, yakni mereka yang belum menderita tetapi berpotensi untuk menderita .Perawat
komunitas harus mengenalkan faktor-faktor yang berpengaruh terhadap timbulnya dan
upaya yang perlu dilakukan untuk menghilangkan faktor-faktor tersebut.Sejak masa
prasekolah hendaknya telah ditanamkan pengertian tentang pentingnya latihan jasmani
teratur, pola dan jenis makanan yang sehat, menjaga badan agar tidak terlalu gemuk, dan
risiko merokok bagi kesehatan.
Contoh kegiatan di bidang prevensi primer anatara lain:
1. Stimulasi dan bimbingan dini/awal dalam kesehatan keluarga dan asuhan anak/balita.
2. Imunisasi
3. Penyuluhan tentang gizi balita
4. Penyuluhan tentang pencegahan terhadap kecelakaan
5. Asuhan prenatal.
6. Pelayanan Keluarga Berencana
7. Perlindungan gigi (dental prophylaxis)
8. Penyuluhan untuk pencegahan keracunan

2. Prevensi Sekunder
Prevensi sekunder bertujuan untuk mencegah atau menghambat timbulnya
penyulit dengan tindakan deteksi dini dan memberikan intervensi keperawatan sejak
awal penyakit.Dalam mengelola, sejak awal sudah harus diwaspadai dan sedapat
mungkin dicegah kemungkinan terjadinya penyulit menahun.Penyuluhan mengenai dan
pengelolaannya secara mandiri memegang peran penting untuk meningkatkan kepatuhan
pasien. Sistem rujukan yang baik akan sangat mendukung pelayanan kesehatan primer
yang merupakan ujung tombak pengelolaan.
Pencegahan sekunder menekankan diagnosa dini dan intervensi yang tepat untuk
menghambat proses psikologik sehingga memperpendek waktu sakit dan tingkat
keparahan/keseriusan penyakit.
Contoh kegiatan di bidang prevensi sekunder antara lain:
1. Mengkaji keterbelakangan tumbuh kembang seorang anak/balita

18
2. Memotivasi keluarga untuk melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala
termasuk gigi dan mata terhadap balita.

3. Prevensi tersier.
Apabila sudah muncul penyulit menahun , maka perawat komunitas harus
berusaha mencegah terjadinya kecacatan/komplikasi lebih lanjut dan merehabilitasi
pasien sedini mungkin, sebelum kecacatan tersebut menetap. Pendidikan kesehatan
bertujuan untuk melindungi upaya rekonstitusi, yaitu: mendorong untuk patuh mengikuti
program PKP , pendidikan kesehatan kepada dan keluarga untuk mencegah hipoglikemi
terulang dan melihara stabilitas klien (Allender & Spradley, 2005).
Pencegahan tersier mulai pada saat cacat atau ketidakmampuan terjadi sampai
stabil/menetap atau dapat diperbaiki (irreversible). Rehabilitasi sebagai tujuan
pencegahan primer lebih dari upaya menghambat proses penyakit sendiri, yaitu :
mengembalikan individu keopada tingkat berfungsi yang optimal dari
ketidakmampuannya.
Contoh kegiatan dibidang prevensi tersier antara lain :
1. Perawat mengajar kepada keluarga untuk melakukan perawatan anak dengan
kolostomi di rumah.
2. Membantu keluarga yang mempunyai anak dengan kelumpuhan anggota gerak untuk
latihan secara teratur di rumah.

B. Tingkat Pencegahan
Berdasarkan Levell dan Clark tingkatan pencegahan dalam keperawatan
komunitas dapat digunakan pada tahap sebelum terjadinya suatu penyakit
(Prepathogenesis Phase) dan pada tahap Pathogenesis Phase.
1. Prepathogenesis Phase
Pada tahapan ini yang dapat digunakan melalui kegiatan primary prevention
atau pencehan primer.Pencegahan primer ini dapat dilakukan selama fase pre
pathogenesis terjadinya penyakit atau masalah kesehatan.Pencegahan dalam arti
sebenarnya yaitu, terjadinya sebelum sakit atau ketidakfungsian dan di
aplikasikan ke dalam populasi sehat pada umumnya. Pencegahan primer

19
merupakan suatu usaha agar masyarakat yang berada dalam stage of optinum
health tidak jatuh kedalam stage yang lain dan yang lebih buruk. Pencegahan
primer ini melibatkan tindakan yang diambil sebelum terjadinya masalah
kesehatan dan mencakup aspek promosi kesehatan dan perlindungan.
Dalam aspek promosi kesehatan, pencegahan primer berfokus pada
peningkatan kesehatan secara keseluruhan dari mulai individu, keluarga, dan
kelompok masyarakat.perlindungan kesehatan ini ditujukan untuk mencegah
terjadinya masalah kesehatan yang spesifik. Misalnya, imunisasi adalah ukuran
pelindung untuk penyakit menular tertentu. Aspek perlindungan kesehatan dari
pencegahan primer ini juga dapat melibatkan, mengurangi atau menghilangkan
faktor risiko sebagai cara untuk mencegahpenyakit.Primary prevention dilakukan
dengan dua kelompok kegiatan yaitu :
a. Health Promotion atau peningkatan kesehatan
Peningkatan status kesehatan masyarakat, dengan melalui beberapa kegiatan,
sebagi berikut:
1) Pendidikan kesehatan atau health education
2) Penyuluhan kesehatan masyarakat (PKM) seperti: penyuluhan
tentang masalah gizi
3) Pengamatan tumbuh kembang anak atau growth and development
monitoring
4) Pengadaan rumah yang sehat
5) Pengendalian lingkungan masyarakat
6) Program P2M (pemberantasan penyakit tidak menular)
7) Simulasi dini dalam kesehatan keluarga dan asuhan pada anak atau balita
penyuluhan tentang pencegahan penyakit
b. General and spesific protection (perlindungan umum dan khusus
Merupakan usaha kesehatan untuk memberikan perlindungan secara khusus
dan umum terhadap seseorang atau masyaraka, antara lain :
1) Imunisasi untuk balita
2) Hygine perseorangan
3) Perlindungan diri dari terjadinya kecelakaan

20
4) Perlindungan diri dari lingkungan kesehatan dalam kerja
5) Perlindungan diri dari carsinogen, toxic dan allergen

2. Pathogenesis phase
Pada tahap pathogenesis ini dapat dilakukan dengan dua kegiatan pencegahan
yaitu :
a. Sekodary prevention (pencegahan sekunder)
Yaitu pencegahan terhadap masyarakat yang masih atau sedang sakit, dengan
dua kelompok kegiatan:
1) Early diagnosis and prompt treatment (diagnosis awal dan pengobatan
segera atau adekuat), antara lain melalui:
a) Pemeriksaan kasus dini (early case finding)
b) Pemeriksaan umum lengkap (general check up)
c) Pemeriksaan missal (mass screening)
d) Survey terhadap kontak, sekolah dan rumah (contactsurvey, school
survey, household survey),
e) Kasus (case holding)
f) Pengobatan adekuat (adekuat tretment)
2) Disability limitation (pambatasan kecacatan)
Penyempurnaan dan intensifikasi terhadap terapi
lanjutan, pencegahan komplikasi, perbaikan fasilitas kesehatan,
penurunan beban sosial penderita, dan lain- lain.

Pada pencegahan level ini menekankan pada upaya penemuan kasus secara dini
atau awal dan pengobatan tepat atau “early diagnosis and prompt treatment”.
Pencegahan sekunder ini dilakukan mulai saat fase patogenesis (masa inkubasi)
yang dimulai saat bibit penyakit masuk kedalam tubuh manusia sampai saat
timbulnya gejala penyakit atau gangguan kesehatan. Diagnosis dini dan
intervensi yang tepat untuk menghambat prosespatologik (proses perjalanan
penyakit) sehingga akan dapat memperpendek waktu sakit dan tingkat keparahan
atau keseriusan penyakit.

21
b. Tertiary prevention (pencegahan tersier)
Yaitu usaha pencegahan terhadap masyarakat yang setelah sembuh dari sakit
serta mengalami kecacatan antara lain :
1) Pendidikan kesehatan lanjutan
2) Terapi kerja (work therapy)
3) Perkampungan rehabilitsi social
4) Penyadaran terhadap masyarakat
5) Lembaga rehabilitasi dan partisipasi masyarakat

Upaya pencegahan tersier dimulai pada saat cacat atau ketidakmampuan


terjadi penyembuhan sampai stabil/ menetap atau tidak dapat diperbaiki
(irreversaible).Dalam pencegahan ini dapat dilaksanakan melalui program
rehabilitas untuk mengurangi ketidakmampuan dan meningkatkan efisiensi hidup
penderita.Kegiatan rehabilitasi ini meliputi aspek medis dan sosial. Pencegahan
tersier dilaksanakan pada fase lanjut proses patogenese suatu penyakit atau
gangguan pada kesehatan. Penerapannya pada upaya pelayanan kesehatan
masyarakat melalui program PHN (Public Health Nursing) yaitu merawat
penderita penyakit kronis di luar pusat-pusat pelayanan kesehatan yaitu di
rumahnya sendiri.

Perawatan penderita pada stadium terminal (pasian yang tidak mampu


diatasi penyakitnya) jarang dikategorikan sebagai pencegahan tersier tetapi
bersifat paliatif, prinsip upaya pencegahan adalah mencegah agar individu atau
kelompok masyarakat tidak jatuh sakit, diringankan gejala penyakitnya atau
akibat komplikasi sakitnya, dan ditingkatkan fungsi tubuh penderita setelah
perawatan dilakukan. Rehabilitas sebagai tujuan pencegahan tersier lebih dari
upaya untuk menghambat proses penyakitnya sendiri yaitu mengembalikan
individu kepada tingkat yang optimal dari ketidakmampuannya. Jadi pencegahan
pada tahap pathogenesis inidimaksudkan untuk memperbaiki keadaan
masyarakat yang sudah jatuhpada tahap sakit ringan, sakit, dan sakit berat agar
dapat mungkin kembali ke tahap sehat optimum.

C. Strategi Intervensi Keperawatan Komunitas

22
Strategi intervensi keperawatan komunitas adalah sebagai berikut:
1. Proses kelompok (group process)
Seseorang dapat mengenal dan mencegah penyakit, tentunya setelah belajar
dari pengalaman sebelumnya, selain faktor pendidikan/pengetahuan individu,
media masa, Televisi, penyuluhan yang dilakukan petugas kesehatan dan
sebagainya. Begitu juga dengan masalah kesehatan di lingkungan sekitar
masyarakat, tentunya gambaran penyakit yang paling sering mereka temukan
sebelumnya sangat mempengaruhi upaya penangan atau pencegahan penyakit
yang mereka lakukan. Jika masyarakat sadar bahwa penangan yang bersifat
individual tidak akan mampu mencegah, apalagi memberantas penyakit tertentu,
maka mereka telah melakukan pemecahan-pemecahan masalah kesehatan
melalui proses kelompok.
2. Pendidikan Kesehatan (Health Promotion)
Pendidikan kesehatan adalah proses perubahan perilaku yang dinamis,
dimana perubahan tersebut bukan hanya sekedar proses transfer materi/teori dari
seseorang ke orang lain dan bukan pula seperangkat prosedur. Akan tetapi,
perubahan tersebut terjadi adanya kesadaran dari dalam diri individu, kelompok
atau masyarakat sendiri. Sedangkan tujuan dari pendidikan kesehatan menurut
Undang-Undang Kesehatan No. 23 Tahun 1992 maupun WHO
yaitu ”meningkatkan kemampuan masyarakat untuk memelihara dan
meningkatkan derajat kesehatan; baik fisik, mental dan sosialnya; sehingga
produktif secara ekonomi maupun secara sosial.
3. Kerjasama (Partnership)
Berbagai persoalan kesehatan yang terjadi dalam lingkungan masyarakat
jika tidakditangani dengan baik akan menjadi ancaman bagi lingkungan
masyarakat luas. Oleh karena itu, kerja sama sangat dibutuhkan dalam upaya
mencapai tujuan asuhan keperawatan komunitas melalui upaya ini berbagai
persoalan di dalam lingkungan masyarakat akan dapat diatasi dengan lebih cepat.

D. Pelayanan Kesehatan komunitas

23
Menurut Depkes (2006) Pelayanan keperawatan kesehatan komunitas dapat
diberikan
secara langsung pada semua tatanan pelayanan kesehatan , yaitu :
1. Di dalam unit pelayanan kesehatan (Rumah Sakit, Puskesmas, dll) yang
mempunyaipelayanan rawat jalan dan rawat nginap
2. Di rumah
Perawat “home care” memberikan pelayanan secara langsung pada keluarga di
rumah yangmenderita penyakit akut maupun kronis. Peran home care dapat
meningkatkan fungsikeluarga dalam merawat anggota keluarga yang mempunyai
resiko tinggi masalah kesehatan.
3. Di sekolah
Perawat sekolah dapat melakukan perawatan sesaat (day care) diberbagai
institusipendidikan (TK, SD, SMP, SMA, dan Perguruan tinggi, guru dan
karyawan).Perawatsekolah melaksanakan program screening kesehatan,
mempertahankan kesehatan, danpendidikan kesehatan
4. Di tempat kerja/industry
Perawat dapat melakukan kegiatan perawatan langsung dengan kasus
kesakitan/kecelakaanminimal di tempat kerja/kantor, home industri/ industri,
pabrik dll.Melakukan pendidikankesehatan untuk keamanan dan keselamatan
kerja, nutrisi seimbang, penurunan stress, olahraga dan penanganan perokok serta
pengawasan makanan.
5. Di barak-barak penampungan
Perawat memberikan tindakan perawatan langsung terhadap kasus akut, penyakit
kronis, dankecacatan fisik ganda, dan mental.
6. Dalam kegiatan Puskesmas keliling
Pelayanan keperawatan dalam puskesmas keliling diberikan kepada individu,
kelompokmasyarakat di pedesan, kelompok terlantar.Pelayanan keperawatan
yang dilakukan adalahpengobatan sederhana, screening kesehatan, perawatan
kasus penyakit akut dan kronis,pengelolaan dan rujukan kasus penyakit.

24
7. Di Panti atau kelompok khusus lain, seperti panti asuhan anak, panti wreda, dan
panti social lainya serta rumah tahanan (rutan) atau lembaga pemasyarakatan
(Lapas).

VI. PARADIGMA KEPERAWATAN KESEHATAN KOMUNITAS


Paradigma keperawatan komunitas terdiri dari empat
komponen pokok, yaitu manusia, keperawatan,kesehatan dan lingkungan (Logan & Da
wkins, 1987).

Sebagai sasaran praktik keperawatan klien dapat


dibedakan menjadi individu, keluarga dan masyarakat.

1. Individu Sebagai KlienIndividu adalah anggota keluarga yang unik sebagai


kesatuan utuh dari aspek biologi, psikologi, social dan
spiritual. Peran perawat pada individu sebagai klien,pada dasarnya memenuhi kebutuha
n dasarnya yangmencakup kebutuhan biologi, sosial, psikologi danspiritual karena adan
ya kelemahan fisik dan mental,keterbatasan pengetahuan, kurangnya kemauan
menuju kemandirian pasien/klien.

2. Keluarga Sebagai Klien

Keluarga merupakan sekelompok individu yang


berhubungan erat secara terus menerus dan terjadi
interaksi satu sama lain baik secara peroranganmaupun secara bersama-
sama, di dalam lingkungannya sendiri atau masyarakat secara keseluruhan. Keluarga
dalam fungsinya mempengaruhi dan lingkup kebutuhandasar manusia yaitu kebutuhan f
isiologis, rasa amandan nyaman, dicintai dan mencintai, harga diri dan
aktualisasi diri.Beberapa alasan yang menyebabkan keluarga
merupakan salah satu fokus pelayanan keperawatan yaitu :

a. Keluarga adalah unit utama dalam masyarakat dan


merupakan lembaga yang menyangkut kehidupan masyarakat.

b. Keluarga sebagai suatu kelompok dapat menimbulkan, mencegah, memperbaiki


ataupun mengabaikan masalah kesehatan didalam kelompoknya sendiri.

c. Masalah kesehatan didalam keluarga saling


berkaitan. Penyakit yang diderita salah satu anggota
keluarga akan mempengaruhi seluruh anggota keluarga tersebut.

25
3. Masyarakat Sebagai Klien

Masyarakat memiliki ciriciri adanya interaksi antar


warga, diatur oleh adat istiadat, norma, hukum danperaturan yang khas dan memiliki id
entitas yang kuatmengikat semua warga.Kesehatan dalam keperawatan kesehatan komu
nitas
didefenisikan sebagai kemampuan melaksanakan perandan fungsi dengan efektif. Kese
hatan adalah prosesyang berlangsung mengarah kepada kreatifitas,konstruktif dan prod
uktif.

Menurut Hendrik L. Blum adaempat faktor yang mempengaruhi kesehatan, yaitu


lingkungan, perilaku, pelayanan kesehatan dan
keturunan. Lingkungan terdiri dari lingkungan fisik dan
lingkungan sosial. Lingkungan fisik yaitu lingkungan
yang berkaitan dengan fisik seperti air, udara, sampah,tanah, iklim, dan perumahan. Co
ntoh di suatu daerahmengalami wabah diare dan penyakit kulit akibat
kesulitan air bersih.Keturunan merupakan faktor yang telah ada pada diri
manusia yang dibawanya sejak lahir, misalnya penyakit.Keempat faktor tersebut saling
berkaitan dansaling menunjang satu dengan yang lainnya dalam
menentukan derajat kesehatan individu, keluarga,kelompok dan masyarakat.

Keperawatan dalam keperawatankomunitas


Dipandang sebagai bentuk pelayanan esensial yang
diberikan oleh perawat kepada individu, keluarga, dan
kelompok dan masyarakat yang mempunyai masalah
kesehatan meliputi promotif, preventif, kuratif dan
rehabilitative dengan menggunakan proses
keperawatan untuk mencapai tingkat kesehatan yang
optimal. Keperawatan adalah suatu bentuk pelayanan
professional sebagai bagian integral pelayanankesehatan dalam bentuk pelayanan biolo
gi, psikologi,sosial dan spiritual secara komprensif yang ditujukan
kepada individu keluarga dan masyarakat baik sehat
maupun sakit mencakup siklus hidup manusia.Lingkungan dalam paradigma keperawat
a berfokuspada lingkungan masyarakat, dimana lingkungan dapat
mempengaruhi status kesehatan manusia. Lingkungan disini meliputi lingkungan fisik,
psikologi, sosial, budaya, dan lingkungan spiritual.

BAB III

PENUTUP

26
Kesimpulan
UU No.23, 1992 tentang Kesehatan menyatakan bahwa: Kesehatan adalah keadaan
sejahtera dari badan, jiwa dan sosial yang memungkinkan hidup produktif secara sosial dan
ekonomi. Dalam pengertian ini maka kesehatan harus dilihat sebagai satu kesatuan yang utuh
terdiri dari unsur-unsur fisik, mental dan sosial dan di dalamnya kesehatan jiwa merupakan
bagian integral kesehatan

keperawatan kesehatan komunitas sebagai tindakan untuk meningkatkan dan


mempertahankan kesehatan dari populasi dengan mengintegrasikan ketrampilan dan
pengetahuan yang sesuai dengan keperawatan dan kesehatan masyarakat. Praktik yang dilakukan
komprehensif dan umum serta tidak terbatas pada kelompok tertentu, berkelanjutan dan tidak
terbatas pada perawatan yang bersifat episodik. Definisi keperawatan kesehatan komunitas
menurut American Public Health Association (2004) yaitu sintesis dari ilmu kesehatan
masyarakat dan teori keperawatan profesional yang bertujuan meningkatkan derajat kesehatan
pada keseluruhan komunitas.

Saran
Semoga pembahasan yang sudah dipaparkan dapar bermanfaat untuk semua. Menyadari
bahwa penulis masih jauh dari kata sempurna, Kedepannya penulis akanlebih fokus dan detail
dalam menjelaskan tentang makalah di atas dengan sumber- sumber yang lebih banyak dan dapat
dipertanggung jawabkan.

DAFTAR PUSTAKA

27
Harnilawati, S.Kep., Ns. 2013. Pengantar Ilmu Keperawatan Komunitas. Sulawesi Selatan:
Pustaka As Salam.

Ferry Efendi, Makhfudli. 2010. Keperawatan Kesehatan Komunitas (Teori dan Praktik
dalam Keperawatan). Jakarta: Erlangga

28