Anda di halaman 1dari 111

Modul Praktikum Mata Kuliah

Geografi Pariwisata

LABORATORIUM PARIWISATA
PROGRAM STUDI PARIWISATA
PROGRAM PENDIDIKAN VOKASI
UNIVERSITAS INDONESIA
Kata Pengantar

Perubahan paradigma orientasi pendidikan dari teacher-center learning menuju


paradigma baru yang berorientasi pada peserta didik/mahasiswa (student-center
learning) harus didukung kuat oleh seluruh pemangku Universitas Indonesia.
Pelaksanaan perubahan orientasi baru tersebut diantaranya penggunaan metode
pemelajaran active learning yang menjadikan peserta didik sebagai tanggung jawab
pemelajaran dan pengajar lebih berperan sebagai fasilitator atau motivator.

Keberhasilan paradigma baru tersebut harus dilakukan melalui peninjauan kembali


sasaran pembelajaran yang selama ini digunakan. Untuk itu perlu dibuat perancangan
pemelajaran yang jelas, mampu laksana, dan mengacu pada tujuan dan sasaran
pemelajaran yang baru dengan tidak lupa memperhatikan karakteristik mahasiswa.
Modul untuk mata ajar geografi pariwisata ini merupakan dokumen dari rancangan
pembelajaran yang bersifat menyeluruh. Modul ini diharapkan dapat digunakan
sebagai acuan bagi pengajar atau tim pengajar, sehingga memudahkan koordinasi
dalam pembelajaran. Modul ini diharapkan dapat semakin disempurnakan sesuai
dengan perkembangan kurikulum dan bahan pemelajaran.

Mata ajar geografi pariwisata memberikan pengetahuan dan membekali mahasiswa


mengenai teori dan konsep geografi dalam kepariwisataan serta mampu menata dan
pengembangan ruang secara lebih efektif, sesuai dengan potensi dan daya dukungnya,
dengan tetap melihat partisipasi masyarakat secara optimal dan tuntutan segmentasi
pasar tertentu. Setelah mengikuti mata kuliah ini diharapkan mampu menjelaskan
konsep-konsep geografi dalam membahas kepariwisataan, model dan pengembangan
pariwisata, dan pembangunan pariwisata yang berkelanjutan.

Depok, Oktober 2019

1
Identitas Mata Kuliah Geografi Pariwisata

Deskripsi mata kuliah:

Mata kuliah ini membahas tentang pendekatan, teori dan konsep geografi dalam
kepariwisataan dengan berbagai analisis dan aplikasinya untuk menata dan
pengembangan ruang secara lebih efektif, sesuai dengan potensi dan daya dukungnya,
partisipasi masyarakat yang optimal, dan tuntutan segmentasi pasar tertentu.

Capaian pembelajaran mata kuliah:

1. Mahasiswa mampu memahami pengertian dan ruang lingkup geografi


pariwisata
2. Mahasiswa mampu memahami konsep-konsep geografi dalam membahas
kepariwisataan
3. Mahasiswa mampu memahami geosfer sebagai sumberdaya wisata
4. Mahasiswa mampu memahami keragaman objek dan daya tarik pariwisata
5. Mahasiswa mampu memahami keterkaitan antar sektor dalam kepariwisataan
6. Mahasiswa mampu memahami segmentasi wisatawan
7. Mahasiswa mampu memahami gerak dan aliran wisatawan
8. Mahasiswa mampu memahami model dan pengembangan pariwisata
9. Mahasiswa mampu memahami perencanaan dalam pariwisata
10. Mahasiswa mampu memahami pembangunan pariwisata yang berkelanjutan

Tujuan mata kuliah:

Mahasiswa diharapkan memiliki wawasan pengetahuan, mengembangkan daya nalar,


dan kreativitas mahasiswa dalam menganalisis dan mengaplikasikan pendekatan, teori
dan konsep geografi dalam kepariwisataan serta mampu menata dan mengembangkan
ruang secara lebih efektif, sesuai dengan potensi dan daya dukungnya, dengan tetap
melihat partisipasi masyarakat secara optimal dan tuntutan segmentasi pasar tertentu.

2
Penilaian:

1. Komponen nilai praktikum terdiri dari : tugas pendahuluan, tugas individu,


tugas kelompok, keaktifan praktikum, dan jurnal/tugas besar.
2. Seluruh komponen penilaian beserta pembobotannya ditentukan oleh Dosen
Pengampu mata kuliah
3. Penilaian permodul dilakukan oleh asisten praktikum, sedangkan nilai seluruh
modul diserahkan kepada Dosen Pengampu mata kuliah.
4. Baik mahasiswa maupun asisten tidak diperkenankan meminta atau
memberikan tugas tambahan untuk perbaikan nilai.

3
Tata Tertib Praktikum

1. Praktikum diampu oleh Dosen Mata Kuliah Praktikum dan dibantu oleh Asisten
Praktikum .
2. Praktikum dilaksanakan di Laboratorium sesuai jadwal yang ditentukan.
3. Mahasiswa wajib membawa modul praktikum, kartu praktikum, dan alat tulis.
4. Mahasiswa wajib mengisi daftar hadir praktikum dengan bolpoin
5. Durasi kegiatan praktikum = (2x170 menit).
6. Mahasiswa wajib hadir minimal 75% dari seluruh pertemuan praktikum di lab.
Jika total kehadiran kurang dari 75% maka nilai Mata Praktikum = 0.
7. Mahasiswa yang datang terlambat :
a) <= 30 menit : diperbolehkan mengikuti praktikum
b) 30 menit : tidak diperbolehkan mengikuti praktikum
8. Saat praktikum berlangsung, asisten praktikum dan mahasiswa:
a) Wajib mematuhi aturan laboratorium.
b) Wajib mematikan/ men-silent semua alat komunikasi (smartphone, tab,
iPad, dan alat komunikasi lainnya).
c) Dilarang membuka aplikasi yang tidak berhubungan dengan praktikum
yang berlangsung.
d) Dilarang mengubah setting software maupun hardware komputer tanpa
ijin.
e) Dilarang membawa makanan maupun minuman di ruang praktikum.
f) Dilarang membuang sampah/sesuatu apapun di ruangan praktikum.
9. Setiap mahasiswa dapat mengikuti praktikum susulan maksimal 1 modul untuk
satu praktikum.
a) Praktikan yang dapat mengikuti praktikum susulan hanyalah mahasiswa
yang memenuhi syarat sesuai ketentuan Institusi, yaitu rawat inap di
Rumah Sakit (menunjukkan bukti rawat inap dan resep obat dari RS),
tugas dari Institusi (menunjukkan surat dinas dari Institusi), atau

4
mendapat musibah (menunjukkan surat keterangan dari orangtua/ wali
mahasiswa).
b) Persyaratan untuk praktikum susulan diserahkan sesegera mungkin ke
asisten laboratorium untuk keperluan administrasi.
10. Pelanggaran terhadap peraturan praktikum ini akan ditindak secara tegas secara
berjenjang di lingkup Kelas, Laboratorium, Program Studi, hingga Vokasi.

5
Daftar Isi

Kata Pengantar .............................................................................................................. 1

Identitas Mata Kuliah Geografi Pariwisata ................................................................... 2

Tata Tertib Praktikum ................................................................................................... 4

Daftar Isi........................................................................................................................ 6

Modul 1: Pengenalan Geografi Pariwisata .................................................................... 7

Modul 2: Pariwisata sebagai kajian geografi .............................................................. 12

Modul 3: Iklim dan Pariwisata .................................................................................... 24

Modul 4: Geografi Pariwisata Indonesia..................................................................... 32

Modul 5: Destinasi Wisata di Indonesia ..................................................................... 38

Modul 6: Destinasi Wisata di Indonesia (Bagian Dua) ............................................... 44

Modul 7: Industri Pariwisata Indonesia dalam Prespektif Geografis ......................... 48

Modul 8: Geografi Pariwisata Asia Tengah, Asia Timur, dan Asia Tenggara ........... 54

Modul 9: Geografi Pariwisata Asia Selatan, Timur Tengah, dan Afrika .................... 61

Modul 10: Geografi Pariwisata Eropa Dan Amerika .................................................. 70

Modul 11: Geografi Pariwisata Australia ................................................................... 81

Modul 12: Wisata Halal .............................................................................................. 93

Modul 13: Desa Wisata dan Ekowisata .................................................................... 100

Modul 14: Wisata Pilgrim ......................................................................................... 106

6
Modul 1: Pengenalan Geografi Pariwisata

1.1 Tujuan

Setelah mengikuti praktikum ini mahasiswa diharapkan mampu menjelaskan


konsep dan ruang lingkup geografi pariwisata.

1.2 Alat dan Bahan

1. RPS
2. Laptop
3. LCD

1.3 Dasar Teori

1.3.1 Geografi, Pariwisata, dan Geografi Pariwisata

Geografi merupakan ilmu pengetahuan yang mengajarkan manusia


mencakup tiga hal pokok, yaitu spasial (ruang), ekologi, dan region (wilayah).
Dalam hal spasial, geografi mempelajari persebaran gejala baik yang alami
maupun buatan di muka Bumi. Kemudian dalam hal ekologi, geografi mempelajari
bagaimana manusia harus mampu beradaptasi dengan lingkungannya. Adapun
dalam hal region, geografi mempelajari wilayah sebagai tempat tinggal manusia
berdasarkan kesatuan fisiografisnya. Geografi sebagai ilmu mengkaji interaksi
manusia dan lingkungan sebagai suatu sistem rumah tangga (ekosistem) dan
sistem keruangan (spatial sistem) (Bintarto dan Surastopo, 1979).

Kegiatan pariwisata merupakan suatu perwujudan geografis, yaitu hasil


adaptasi dan aktivitas manusia dalam memanfaatkan sumber daya bagi
kehidupannya. Wisata adalah kegiatan perjalanan yang dilakukan oleh seseorang
atau sekelompok orang dengan mengunjungi tempat tertentu untuk tujuan rekreasi,
pengembangan pribadi, atau mempelajari keunikan daya tarik wisata yang
dikunjungi dalam jangka waktu sementara (UU RI No 10, Tahun 2009). Pariwisata
merupakan Berbagai macam kegiatan wisata yang didukung berbagai fasilitas
serta layanan disediakan oleh masyarakat, pengusaha, dan pemerintah.

7
Geografi Pariwisata adalah cabang dari pada bidang ilmu geografi yang
mengkaji berbagai hal yang terkait dengan aktivitas perjalanan wisata, meliputi
karakteristik destinasi (objek) wisata, aktivitas dan berbagai fasilitas wisata serta
aspek lain yang mendukung kegiatan pariwisata di suatu daerah (wilayah).

Geografi Mutakhir memastikan arah perkembangan konsep geografi untuk


dapat diterapkan pada berbagai lingkugan geografi yang beraneka tingkat
perkembangan ekonomi, budaya, dan penguasaan teknologi. Dalam tahapan ini
studi geografi dapat berorientasi pada masalah interaksi manusia dengan
lingkungan, selain itu juga dapat berorientasi pada studi wilayah, permukaan bumi
dipandang sebagai lingkungan hidup dimana manusia dapat memanfaatkan
sumberdaya alam. Potensi dan masalah unsur-unsur geografi sangat bervariatif,
sehingga perlu kajian secara spasial dan temporal untuk dapat mengenali
watak/sifat wilayah. Konsep esensial geografi yang relevan dengan pembahasan
pariwisata yaitu konsep letak, jarak, persebaran, keterjangkauan, interaksi,
diferensiasi keruangan, nilai dan keterpaduan.

Berbagai konsep geografi dikemukakan dalam pembahasan pariwisata,


agar pembahasan pariwisata tetap pada bingkai geografi, walaupun pada
pembahasan materi yang sama. Beberapa peranan geografi pariwisata dalam
kepariwisataan:

a) Mengetahui kesesuaian lahan daerah tujuan pariwisata


b) Memetakan daerah tujuan wisata
c) Mengkaji permasalahan dalam pariwisata dengan menggunakan
pendekatan dan prinsip geografi

1.3.2 Perencanaan dalam Pariwisata

Definisi perencanaan adalah suatu usaha untuk memikirkan masa depan (cita-
cita) secara rasional dan sistematik dengan cara memanfaatkan sumber daya yang
ada secara efektif dan efisien. Perencanaan pariwisata merupakan suatu proses
pembuatan keputusan yang berkaitan dengan masa depan suatu atraksi wisata yang

8
secara sistematis mempertimbangkan berbagai alternatif tindakan untuk mencapai
tujuan. Menurut Paturusi (2008), suatu perencanaan memiliki syarat-syarat
sebagai berikut :

a) Logis, yaitu bisa dimengerti dan sesuai dengan kenyataan yang


berlaku.
b) Luwes, yaitu dapat mengikuti perkembangan.
c) Obyektif, yaitu didasarkan pada tujuan dan sasaran yang dilandasi
pertimbangan yang sistematis dan ilmiah.

Menurut Paturusi (2008) orientasi perencanaan ada dua bentuk yaitu :

a) Perencanaan berdasarkan pada kecenderungan yang ada (trend


oriented planning) yaitu suatu perencanaan untuk mencapai tujuan
dan sasaran di masa yang akan datang, dilandasi oleh pertimbangan
dan tata laku yang ada dan berkembang saat ini.
b) Perencanaan berdasarkan pertimbangan target (target oriented
planning) yaitu suatu perencanaan yang mana tujuan dan sasaran
yang ingin dicapai di masa yang akan datang merupakan faktor
penentu.

1.3.3 Pilar Pembangunan Pariwisata

Menurut Yoeti (1997), komponen dasar pengembangan pariwisata di dalam


proses perencanaan adalah :

a) Atraksi wisata dan aktivitasnya. (Attraction)


b) Fasilitas akomodasi dan pelayanan (Amenities)
c) Fasilitas wisatawan lainnya dan jasa seperti : operasi perjalanan
wisata, tourism information, restoran, retail shopping, bank, money
changer, medical care, public safety dan pelayanan pos. (Ancillaries)
d) Fasilitas dan pelayanan transportasi (Accessibility)
e) Infrastruktur lainnya meliputi persediaan air, listrik, pembuangan
limbah dan telekomunikasi.

9
f) Elemen kelembagaan yang meliputi program pemasaran, pendidikan
dan pelatihan, perundang-undangan dan peraturan, kebijakan
investasi sektor swasta, organisasi struktural private dan public serta
program sosial ekonomi dan lingkungan. (Ancillaries)

Pengembangan adalah suatu strategi yang dipergunakan untuk memajukan,


memperbaiki, dan meningkatkan kondisi kepariwisataan suatu objek wisata
sehingga dapat dikunjungi wisatawan serta mampu memberikan manfaat bagi
masyarakat maupun pemerintah. Pola Pengembangan Pariwisata terdiri atas:

a) Potensi ekologis (perkebunan, hutan, sungai, mata air dan


pegunungan)
b) Revitalisasi dan konservasi kebudayaan lokal
c) Pemeliharaan dan penyelamatan peninggalan budaya
d) Pembangunan pariwisata berkelanjutan termasuk Pengembangan
Pariwisata

1.4 Latihan

Jenis latihan: Tugas pendahuluan

Mahasiswa membentuk kelompok, kemudian mendiskusikan:

1. Definisi pariwisata, kriteria yang membedakan perjalanan dengan pariwisata


2. Bagaimana hubungan antara geografi dan pariwisata
3. Apa peran geografi pariwisata

Hasil diskusi kemudian dipresentasikan

10
1.5 Daftar Pustaka

1. Bintarto & Surastopo Hadisumarno. 1979. Metode Analisis Geografi. Jakarta :


LP3ES
2. Paturusi, Syamsul Alam.2008.Perencanaan Kawasan Pariwisata. Denpasar :
Press UNUD
3. Robinson. 1976. Geography of Tourism. London Mc Donnal.
4. Yoeti, Oka. 1997. Perencanaan dan Pengembangan Pariwisata. Jakarta: PT.
Pradnya Paramita
5. Undang-Undang Republik Indonesia No. 10 Tahun 2009

11
Modul 2: Pariwisata sebagai kajian geografi

2.1 Tujuan

Setelah mengikuti praktikum ini mahasiswa diharapkan mampu menjelaskan


tujuan mempelajari geografi pariwisata, menjelaskan hubungan kondisi geografi ke
kepariwisataan, dan menjelaskan pendekatan dan konsep geografi di industri
pariwisata.

2.2 Alat dan Bahan

1. RPS
2. Laptop
3. LCD

2.3 Dasar Teori

2.3.1 Tahapan Pengembangan Wisata

Pada tahun 1980, R. W. Butler dalam Hwang (2017: 2) menerbitkan siklus


model evolusi kawasan pariwisata yang menggambarkan korelasi jumlah
wisatawan pada sumbu y dan waktu pada sumbu x (Lihat gambar 2.1). Meskipun
kapasitas lokasi untuk jumlah wisatawan dan jumlah tahun berkelanjutan tertentu
dapat bervariasi dari satu lokasi ke lokasi lainnya, Butler mengusulkan agar setiap
lokasi wisata berkembang melalui serangkaian tahapan umum: exploration,
involvement, development, consolidation, stagnation, dan rejuvenation atau
decline. Model Butler membingkai sumber daya yang memungkinkan suatu
daerah menjadi tujuan wisata sebagai terbatas dan pada akhirnya dapat habis.

12
Gambar 2.1 Siklus Evolusi Area Wisata
Sumber: Hwang, 2017: 2

Daripada membayangkan tujuan wisata yang selalu menjadi tujuan wisata,


Butler mengakui bahwa perubahan itu konstan dan bahwa, pada akhirnya, alasan
awal suatu lokasi menjadi tujuan wisata yang diinginkan tidak akan ada lagi dan
lokasi tersebut perlu mencari peremajaan atau menghadapi penurunan. Tertanam
dalam model Butler adalah seruan untuk keberlanjutan dan konservasi sumber
daya, sehingga meningkatkan lamanya waktu suatu lokasi dapat dipertahankan
menjadi tujuan wisata yang layak. Ada juga seruan implisit untuk kolaborasi dan
integrasi yang lebih dekat dari industri pariwisata dan komunitas lokal untuk
melindungi komunitas lokal dari kemungkinan eksploitasi atau pencabutan hak.

1. The Exploration Stage


Model Butler dimulai dengan tahap penemuan dan eksplorasi di mana
lokasi ditemukan oleh sekelompok kecil orang terpilih sebagai tempat
dengan aset yang diinginkan. Seringkali, penemuan ini dibuat secara
independen dari anggota populasi asli yang mungkin melihat aset yang
dirasakan hanya sebagai aspek biasa dari lingkungan mereka atau budaya
lokal. Para wisatawan awal hanya memiliki sedikit dukungan dalam bentuk
fasilitas, dan biasanya, ini lebih disukai dan merupakan bagian dari daya
tarik lokasi yang belum ditemukan dan tidak cacat. Para wisatawan awal,

13
oleh karena itu, sangat bergantung dan sering berinteraksi dengan
penduduk di wilayah tersebut.
Kedatangan wisatawan adalah hal yang relatif baru bagi masyarakat, dan
beberapa akomodasi dibuat khusus untuk kebutuhan pengunjung.
Gangguan terhadap kehidupan sehari-hari warga sangat minim. Kelompok
kecil wisatawan awal ini sebagian besar mandiri dan berbagi informasi
tentang tujuan dari mulut ke mulut atau oleh kelompok afinitas tertentu.
Seiring waktu, karena semakin banyak orang diperkenalkan ke tujuan,
jumlah pengunjung mulai meningkat.
2. The Involvement Stage
Akhirnya, karena semakin banyak wisatawan mengunjungi suatu daerah
dengan keteraturan, penduduk mulai menyediakan sumber daya dan
fasilitas bagi para pengunjung dan lokasi memasuki tahap keterlibatan.
Pada tahap ini, penghuni menyediakan fasilitas bagi para pengunjung, dan
ekonomi pariwisata mulai berkembang dengan bisnis baru yang diciptakan
untuk memenuhi kebutuhan pengunjung secara khusus. Ini bisa berupa
pemandu wisata, hotel, restoran, toko cenderamata, perkemahan, perluasan
festival budaya, pasar seni dan kerajinan, dan sebagainya.
Pemasaran di fokuskan pada waktu-waktu tertentu dalam setahun untuk
menyoroti aset lokal, apakah itu fitur alami atau perayaan budaya,
dikembangkan untuk mendukung ekonomi wisata yang berkembang.
Ketika ekonomi pariwisata mulai terbentuk, peningkatan pengunjung
menciptakan kebutuhan tambahan untuk mendukung populasi sementara
yang baru dalam bentuk layanan publik yang lebih besar — misalnya,
peningkatan kehadiran polisi, akses ke perawatan kesehatan darurat,
transportasi umum, dan layanan keramahtamahan.
3. The Development Stage
Pada akhirnya, sumber daya lokal tidak cukup untuk memenuhi
peningkatan kebutuhan industri pariwisata yang terkadang berkembang
pesat. Pada tahap pengembangan, perusahaan dan orang-orang dari luar

14
daerah menggantikan penyedia layanan lokal di tujuan wisata. Sumber
daya waralaba regional atau nasional dapat membuat hotel bertingkat yang
dapat membuat industri lokal seperti bed and breakfast, dan losmen tidak
relevan atau terdegradasi ke pasar niche yang sangat kecil. Rantai restoran
dapat memanfaatkan keakraban dan rencana pemasaran nasional untuk
menarik pelanggan pada skala yang tidak dapat bersaing dengan
perusahaan lokal.
Komunitas mulai membagi dua dengan cara yang mengisolasi para
wisatawan dari komunitas lokal yang sebenarnya. Penghuni semakin
sedikit kontak dengan pengunjung ke wilayah tersebut dan hanya terlibat
secara periferal melalui pekerjaan layanan. Wisatawan kurang memiliki
kontak dengan penduduk dan mengalami lokasi terutama melalui
pengalaman yang dikelola dari tujuan wisata. Seringkali, aset alam dan
budaya asli membutuhkan infrastruktur tambahan yang ditambahkan untuk
membantu lebih memikat pengunjung ke daerah dengan kenyamanan dan
kemudahan.
Meningkatnya popularitas dan aksesibilitas dari aset-aset ini dapat menarik
begitu banyak pengunjung ke wilayah tersebut sehingga terkadang
pengunjung dapat menyamai atau melampaui populasi lokal. Pada titik ini,
wisatawan penjelajah asli telah pindah ke tujuan yang kurang terkenal dan
telah digantikan oleh wisatawan yang mencari pengalaman terstruktur yang
andal. Tuntutan yang dibawa wisatawan baru ke masyarakat setempat
dapat menjadi sumber gesekan dalam hal sumber daya masyarakat dapat
tergerus dari fokus pada kesejahteraan pengunjung sementara dan ekonomi
pariwisata, sedemikian rupa sehingga anggota masyarakat jangka panjang
mungkin merasa diabaikan atau kehilangan haknya.
4. The Consolidation Stage
Ketika suatu daerah mencapai tahap konsolidasi batas-batas pertumbuhan
mulai menjadi jelas. Meskipun jumlah pengunjung terus meningkat,
tingkat kenaikannya melambat. Fasilitas yang disediakan oleh perusahaan

15
regional dan nasional sekarang mendominasi ekonomi pariwisata lokal,
tetapi beberapa fasilitas baru dikembangkan setelah titik ini. Beberapa
fasilitas milik lokal yang tersisa terus kehilangan pangsa pasar dan
tampaknya ketinggalan zaman karena mereka tidak dapat bersaing untuk
klien dengan bisnis yang lebih baru, lebih modern, atau baru-baru ini
diperbarui. Tujuan dapat mencoba menggunakan pemasaran untuk
mengimbangi pertumbuhan yang melambat dengan memperpanjang
musim pariwisata di luar tanggal tradisional dan dengan berfokus pada
kelompok wisatawan khusus.
Ini dapat memiliki beberapa efek positif dalam menarik populasi baru,
tetapi pertumbuhan pengunjung tidak dapat menyamai laju pertumbuhan
yang disaksikan pada tahap awal siklus. Dalam komunitas, pengunjung
melebihi jumlah penduduk, dan permusuhan dapat terus meningkat dari
layanan yang tidak proporsional yang disediakan untuk dan melayani
wisatawan dan ketidaknyamanan terkait dengan peningkatan populasi
selama musim pariwisata. Pengakuan permusuhan ini dapat muncul ketika
konfrontasi antara pengunjung dan penduduk terjadi, konfrontasi tersebut
dapat menurunkan beberapa daya tarik tujuan.
5. The Stagnation Stage
Setelah jumlah pengunjung berhenti meningkat, wilayah tersebut akan
mencapai kapasitas puncaknya dan mulai memasuki tahap stagnasi. Pada
puncak kapasitasnya, sebuah lokasi berjuang dengan kurangnya sumber
daya, kekurangan layanan sosial, dan kerusakan lingkungan. Kurangnya
sumber daya mulai memiliki efek kumulatif membuat lokasi terlihat
ketinggalan zaman, tidak terpelihara dengan baik, atau jompo. Meskipun
lokasi tetap diakui sebagai tujuan tradisional, itu tidak lagi menarik banyak
pengunjung baru. Sebaliknya, pariwisata bergantung pada kembalinya
pengunjung sebelumnya untuk mempertahankan tradisi.
Seiring berjalannya waktu, ada lebih sedikit pengunjung yang kembali,
meskipun ada upaya pemasaran untuk membuat mereka tetap terlibat.

16
Pengunjung baik usia keluar dari lokasi atau pindah ke tujuan lain.
Ekonomi pariwisata dalam tahap stagnasi tegang karena berkurangnya
pendapatan dari pengunjung, sehingga menyebabkan lebih sedikit
dorongan untuk berinvestasi dalam fasilitas tambahan atau untuk
memperbarui fasilitas yang ada. Peluang berkurang untuk mendapatkan
keuntungan membuat lokasi lain lebih diinginkan untuk waralaba dan
perusahaan rantai, yang pada gilirannya dapat menyebabkan etalase toko
yang kosong dan gedung-gedung yang tertutup. Semakin banyak etalase
toko yang kosong dan bangunan yang ditutup, daya tarik bagi wisatawan
menurun lagi, fasilitas berkurang, dan semakin banyak bisnis tutup atau
pindah tempat lain.
6. The Decline Stage
Ketika potensi peningkatan keuntungan berkurang, banyak dari perusahaan
tertutup yang berfokus pada pariwisata mengalami perubahan dalam
kepemilikan ketika perusahaan nasional dan regional pindah ke lokasi yang
lebih menguntungkan dan menjual aset dengan harga terjangkau.
Keterjangkauan pendirian memungkinkan penduduk untuk memasuki
kembali ekonomi pariwisata sebagai pemilik. Selain itu, banyak dari
perusahaan-perusahaan ini, di bawah kepemilikan lokal yang baru, berubah
menjadi usaha yang tidak berfokus pada pariwisata yang lebih berpusat
pada kebutuhan penduduk. Karena semakin sedikit fasilitas yang tersedia
untuk melayani wisatawan secara khusus, semakin sedikit wisatawan yang
menemukan lokasi yang diinginkan.
Tahap penolakan melihat pengunjung terutama sebagai wisatawan jangka
pendek yang tiba untuk akhir pekan atau perjalanan sehari saat mereka
dalam perjalanan ke tujuan lain. Ada sedikit kapasitas dalam bisnis lokal
untuk pemasaran skala besar untuk menarik atau mempertahankan
pengunjung, dan pada akhirnya, lokasi tersebut mungkin tidak lagi diakui
sebagai tujuan wisata. Sisa-sisa kejayaan pariwisata lokasi jatuh ke dalam

17
kerusakan, dan ekonomi pariwisata tidak lagi menjadi sektor substantif
dalam ekonomi lokal.
7. The Rejuvenation Stage
Butler menyarankan bahwa, pada kesempatan yang jarang, jika suatu lokasi
dapat mengubah dirinya sendiri baik melalui atraksi buatan manusia atau
dengan menggunakan sumber daya alam yang kurang dihargai, itu dapat di
remajakan. Butler memberikan contoh lokasi membangun kasino atau
reorientasi lokasi musim panas ke pasar olahraga musim dingin sebagai
contoh reinvention substansial. Peremajaan bukanlah pengembalian
sepenuhnya ke tahap eksplorasi, melainkan penyesuaian dari tahap stagnasi
dengan menargetkan populasi spesifik baru — misalnya, penjudi atau
pemain ski. Peremajaan ini dapat menciptakan kemunculan kembali
ekonomi wisata di mana investasi dari negara dan bisnis mendorong
pengembangan fasilitas baru.

Namun, dalam banyak kasus, persaingan dari lokasi lain yang mencoba
rencana peremajaan serupa membatasi peremajaan hingga masa hidup yang
terbatas. Ketika satu kasino merangsang pengembangan tiga kasino lainnya, tidak
ada satu pun kasino yang melihat turis yang sama dengan yang dimiliki kasino
pertama. Pada akhirnya, dalam model Butler, kecuali dalam kasus langka di mana
objek wisata yang benar-benar unik terus menarik wisatawan dari generasi ke
generasi (misalnya, Grand Canyon, Air Terjun Niagara, Menara Eiffel, atau
Tembok Besar Cina) atau jika ada sumber daya untuk terus-menerus
menghidupkan kembali objek wisata ( misalnya, taman hiburan Walt Disney, dan
ada infrastruktur untuk mendukung para pengunjung), semua area pariwisata
ditakdirkan untuk keberadaan yang terbatas.

2.3.2 Pariwisata Alternatif

Jika seseorang mengakui bahwa kawasan wisata memiliki masa hidup yang
terbatas, maka seseorang dapat memasukkan pengetahuan itu ke dalam model
pengembangan bisnis dan masyarakat di mana konservasi dan keberlanjutan dapat

18
membatasi kerusakan yang dilakukan karena melebihi kapasitas daya tampung
pengunjung dari komunitas atau lingkungan. Faktor penurunan utama untuk model
Butler adalah melebihi kapasitas untuk jumlah pengunjung dalam kerangka waktu
tertentu. Pengelolaan sumber daya dalam tahap eksplorasi, keterlibatan,
pengembangan, dan stagnasi Butler dapat mengubah dinamika sehingga tujuan
dapat melayani lebih sedikit pengunjung selama periode yang lebih lama sambil
mencapai daya dukung sumber dayanya dan memungkinkan stabilitas ekonomi
yang dikelola untuk masyarakat.

Siklus hidup pariwisata Butler dapat menginformasikan model bisnis dan


perencanaan regional bagi ekonomi pariwisata untuk mempertahankan visi jangka
panjang tentang keberlanjutan daripada tujuan yang menekankan keuntungan
langsung terbesar. Dengan melakukan hal itu, sebuah komunitas dapat
memprioritaskan keberlanjutan dengan cara yang mempertahankan pendapatan
dari pariwisata untuk jangka waktu yang lebih lama dan melestarikan sumber daya
manusia dan lingkungan alam yang membuat lokasi diinginkan.

Koslowski dan Travis (1985) dalam Smith (2001), Pariwisata Alternatif


merupakan suatu kegiatan kepariwisataan yang tidak merusak
lingkungan/berpihak pada ekologi dan menghindari dampak negatif dari
pembangunan pariwisata berskala besar yang dijalankan pada suatu area yang
tidak terlalu cepat pembangunannya dan segala aktivitasnya turut melibatkan
masyarakat.

Holden (1984:45 dalam Smith 2001) menyatakan bahwa variasi pariwisata


alternatif dapat dibagi menjadi tiga bagian yaitu :

1. Pariwisata Adventure Merupakan suatu kegiatan pariwisata alternatif yang


bernuansa petualangan (adventure). Petualangan dalam skala kecil dapat
terdiri dari bird watching, scuba diving, dalam skala menengah terdiri dari
kegiatan yang bernuansa olahraga seperti canoing dan rafting sedangkan
dalam skala besar kegiatan petualangan seperti taman safari.

19
2. Pariwisata Alam Merupakan kegiatan pariwisata alternatif yang
menfokuskan diri pada studi dan observasi yang berkaitan dengan flora
(tumbuhan) dan fauna (binatang) serta kegiatan landscape.
3. Community Tourism atau pariwisata berbasis masyarakat merupakan suatu
kegiatan pariwisata yang dijalankan oleh masyarakat, baik dari segi
perencanaan sampai evaluasi dan segala manfaat yang diperoleh dari
kegiatan tersebut sepenuhnya untuk masyarakat yang bersangkutan.

2.3.3 Tipologi Atraksi Wisata

Studi menyeluruh tentang klien potensial dan kondisi mobilisasi


diperlukan untuk keberhasilan setiap pengembangan pariwisata. Pengembangan
pariwisata dan strategi pemasaran harus menargetkan sumber daya untuk menarik
pasar-pasar yang menghasilkan manfaat ekonomi terbesar. Lokasi harus dinilai
dalam kaitannya dengan kedekatan dengan daerah-daerah pengumpan utama yang
telah bertindak sebagai magnet wisata. Tujuannya adalah untuk menciptakan
pengembangan yang lebih menyeluruh yang meningkatkan viabilitas keseluruhan
dan kualitas pengalaman pengunjung.

Empat metode dasar analisis lokasi ritel dapat dipertimbangkan dalam


konteks kriteria evaluasi manajemen yang ditentukan. Metode penilaian
bergantung pada keterlibatan manajemen langsung. Survei dapat dianggap sebagai
metode pencacahan untuk permintaan dan sisi penawaran dari pertanyaan lokasi.
Survei sumber daya situs terutama menyangkut (1) tempat wisata; (2) kondisi
iklim; (3) infrastruktur dan fasilitas; (4) cadangan tanah; dan (5) ketersediaan
tenaga kerja. Situs proyek pariwisata biasanya memerlukan karakteristik khusus
tertentu agar dapat berhasil. Ini tidak berlaku untuk semua sektor industri, karena
ada banyak perusahaan yang tidak bergantung pada lokasi. Dalam pariwisata,
lokasi memiliki pengaruh yang sangat penting terhadap kelayakan finansial.

Karakteristik atau kriteria untuk pemilihan lokasi dan evaluasi bervariasi


sesuai dengan jenis proyek pariwisata yang dipertimbangkan. Oleh karena itu,

20
langkah pertama dalam analisis lokasi adalah mengidentifikasi kriteria yang
penting bagi proyek yang sedang dipertimbangkan. Kriteria atau karakteristik situs
proyek pariwisata dapat dibagi menjadi tiga kategori: (1) kriteria situs terkait pasar;
(2) kriteria yang terkait dengan karakteristik fisik situs; dan (3) kriteria lainnya.

Kriteria situs yang terkait dengan pasar mencakup kedekatan lokasi dengan
pasar potensial, fasilitas/rute transportasi, fasilitas pendukung penting dan fasilitas
kompetitif. Faktor-faktor pembobotan dapat dilampirkan pada
kriteria/karakteristik pemilihan lokasi yang berbeda untuk memberikan skor
numerik pada setiap situs. Penggandaan faktor bobot dan skor numerik
memberikan skor akhir untuk setiap kriteria di setiap situs yang diberikan. Banyak
organisasi pariwisata menggunakan jenis matriks evaluasi ini.

Perkiraan permintaan pasar potensial dan keinginan dan harapan yang


diungkapkan pelanggan potensial memberikan input utama dalam
menggambarkan konsep proyek yang terperinci. Posisi pasar yang diusulkan juga
merupakan elemen penting dalam proses pengembangan situs pariwisata. Teknik
analog menggunakan pendekatan geografi pemasaran berdasarkan peta yang
merinci distribusi konsumen (tempat konsumen) di sekitar lokasi yang diusulkan.
Ketika karakteristik situs, demografi, persaingan, perilaku konsumen, dan
penjualan memenuhi syarat secara statistik dan terkait catatan pengalaman ini
menjadi analog, sebuah tolok ukur untuk referensi.

Pengembang pariwisata juga harus mempertimbangkan apakah pilihan


lokasi situs tertentu akan membantu organisasi menjangkau pasar yang belum
dimanfaatkan. Ada banyak bentuk tujuan wisata, hal ini bergantung pada bentuk-
bentuk pariwisata dan diidentifikasi secara terpisah dan dipromosikan sebagai situs
kunjungan di mana produk pariwisata di koordinasikan oleh satu atau beberapa
otoritas yang dapat diidentifikasi, daerah pantai, daerah perkotaan atau pedesaan
yang menarik wisatawan yang ingin menikmati manusia Sumber daya buatan atau
alam. Setiap daerah dapat menjadi tujuan wisata lokal jika pengunjung
menghabiskan setidaknya satu malam di daerah tersebut dan jika ada produk

21
pariwisata yang disediakan sebagai layanan dan atraksi dan terutama sebagai
sumber daya pariwisata.

1. Coastal Tourism
Destinasi pesisir umumnya dikaitkan dengan citra resor tepi laut. Holloway
(2006) menunjukkan bahwa itu adalah daya tarik paling populer dari suatu
tujuan. Daya tarik resor tepi laut ini adalah kombinasi antara matahari, laut,
dan pasir. Page et al. (2001) menyatakan bahwa destinasi pesisir tetap
menjadi salah satu jenis liburan paling signifikan di dunia.
2. Urban Tourism
Wisata perkotaan adalah jenis tujuan wisata lainnya. Holloway (2006)
menyatakan bahwa kota-kota menarik banyak wisatawan dengan
meningkatnya minat dalam kegiatan budaya misalnya kunjungan ke
museum dan galeri seni, kegiatan rekreasi seperti belanja dan hiburan untuk
olahraga.
3. Rural Tourism
Wisata pedesaan adalah kombinasi dari danau dan gunung yang menarik
pasar yang berbeda. Pengunjung bersantai menikmati pemandangan,
sementara turis yang lebih aktif menikmati pendakian, dan melakukan
olahraga di waktu lain.

22
2.4 Latihan

Jenis latihan: Tugas individu

Mahasiswa, tugas individu, mencari studi kasus (penelitian terdahulu) mengenai


geografi pariwisata:

1. Mendeskripsikan dengan ringkas studi kasus kemudian memberikan tanggapan


terhadap studi kasus tersebut
2. Menjelaskan hubungan kondisi geografi dengan kepariwisataan
3. Menjelaskan konsep geografi pariwisata dalam penelitian

2.5 Daftar Pustaka

1. Essays, UK. 2018. Different types of tourism destinations.


2. Holloway, Christopher J. 2006. The Buisness of Tourism. New Jersey: Prentice
Hall.
3. Hwang, Leo. 2017. Butler’s Tourism Area Life Cycle and Its Expansion to the
Creative Economy. Newbury Park, California: SAGE Publications
4. Moutinho L., Paton R. 2015. “Site Selection Analysis In Tourism: Selected
Findings. Proceedings of the 1989 Academy of Marketing Science (AMS)
Annual Conference. Hal 560-564. Orlando: Springer International Publishing
5. Page, et al. 2001. “A randomized efficacy and feasibility study of imagery in
acute stroke.” Clinical Rehabilitation. Vol 15. Hal 233-240. New Jersey:
Kessler Medical Rehabilitation Research and Education Corporation
(KMRREC).
6. Smith, Valene L. 2001. “Space Tourism.” Annals of Tourism Research. Vol 28.
Hal 238-240. Chico: California State University.

23
Modul 3: Iklim dan Pariwisata

3.1 Tujuan

Setelah mengikuti praktikum ini mahasiswa diharapkan mampu menjelaskan


distribusi iklim dunia dan signifikansinya bagi pariwisata.

3.2 Alat dan Bahan

1. RPS
2. Laptop
3. LCD

3.3 Dasar Teori

3.3.1 Iklim-iklim di Dunia

Wisatawan biasanya membutuhkan informasi tentang curah hujan rata-rata


dan suhu yang dapat mereka harapkan di lokasi tertentu, daripada peristiwa cuaca
ekstrem yang menjadi berita utama. Namun demikian, dalam beberapa tahun
terakhir gelombang panas, badai dan banjir semakin sering terjadi, dan ini telah
dikaitkan dengan perubahan iklim. Setidaknya untuk beberapa tujuan, kita harus
memperhitungkan suhu ekstrem yang mungkin kita alami serta rata-rata untuk
bulan tertentu. Sejak awal abad kedua puluh, suhu rata-rata untuk dunia secara
keseluruhan telah meningkat sebesar 0,6 ° C dan laju perubahan tampaknya
semakin cepat. Sebagian besar ilmuwan menghubungkan pemanasan global ini
dengan emisi karbon dioksida (CO2), metana (CH4) dan dinitrogen oksida ke
atmosfer, akibat pembakaran bahan bakar fosil sejak Revolusi Industri. Diketahui
bahwa CO2 sebagian besar bertanggung jawab atas 'efek rumah kaca' yang
mencegah radiasi panas berlebihan dari permukaan bumi kembali ke angkasa.
Iklim ditentukan oleh tiga faktor utama:

1. Lintang atau jarak dari khatulistiwa


Latitude adalah faktor utama, karena ini menentukan sudut sinar matahari
pada waktu tertentu dalam setahun; jika ini terlalu miring, daya panas

24
matahari akan terbatas. Lintang rendah menikmati iklim hangat sepanjang
tahun karena matahari tinggi di langit hampir sepanjang hari. Hasil
peningkatan jarak dari Khatulistiwa adalah musim panas yang lebih pendek
dan perbedaan yang lebih besar dalam panjang hari antara musim.
2. Distribusi daratan dan laut
Permukaan daratan menjadi panas dan mendingin lebih cepat daripada area
air yang luas. Lautan, oleh karena itu, bertindak sebagai reservoir
kehangatan, sehingga pantai dan pulau-pulau yang berangin memiliki iklim
maritim yang setara. Samudra Pasifik, karena jauh lebih besar daripada
badan air lainnya, memiliki pengaruh dunia terhadap iklim seperti yang
ditunjukkan oleh fenomena El Nino. Jantung dari Eurasia dan Amerika
Utara pada garis lintang jauh dari pengaruh laut dan mengalami iklim
benua, yang ditandai oleh variasi suhu yang ekstrem.
3. Pegunungan dan Lembah
Di banyak bagian dunia di mana terdapat pegunungan tinggi, Pegunungan
dan lembah memiliki pengaruh besar pada pola cuaca. Pendaki sangat
menyadari bahwa suhu udara jauh lebih rendah di puncak gunung. Ada
juga pengurangan tekanan barometri dengan meningkatnya ketinggian;
pada 5.000 meter, kepadatan udara kurang dari 60 persen dari nilai
permukaan lautnya. Atmosfer yang lebih tipis pada ketinggian seperti itu
berarti bahwa, meskipun lebih banyak radiasi matahari mencapai tanah
pada siang hari, panas hilang lebih cepat ke langit di malam hari. Karena
ada lebih sedikit oksigen di udara, aktivitas fisik menjadi lebih sulit.
Penghalang gunung sangat mengubah iklim dataran rendah yang
berdekatan karena udara lembab dari laut dipaksa untuk naik di atasnya,
menjadi lebih kering dan lebih hangat saat turun.

3.3.2 Unsur Iklim dan Pariwisata

Suhu adalah elemen iklim yang memiliki pengaruh terbesar pada aktivitas
wisata dan jumlah pakaian yang diperlukan untuk kenyamanan. Zona nyaman bagi

25
kebanyakan orang, mengenakan pakaian bisnis standar, adalah rentang suhu yang
sempit, sedikit bervariasi antara musim dingin dan musim panas, di mana udaranya
tidak terlalu kering atau terlalu lembab. 'Ini bukan panas, tetapi kelembaban' adalah
keluhan yang sering dibuat tentang cuaca musim panas. Ini mengakui pentingnya
kelembaban relatif, yang merupakan ukuran kadar air dari udara sebagai
persentase dari jumlah total yang dapat disimpan pada suhu tertentu.

Wisatawan sangat bervariasi dalam kemampuan mereka untuk


menyesuaikan diri, sesuai dengan usia, jenis kelamin, indeks massa tubuh, tingkat
metabolisme dan asal etnis mereka. Tubuh manusia dapat beradaptasi dengan
mudah terhadap kondisi tropis melalui peningkatan laju keringat dan suplai darah
ke kulit, tetapi banyak tergantung pada bagaimana wisatawan memodifikasi gaya
hidup dan pola perilaku kita. Dalam iklim dingin, adaptasi fisiologis karenanya
jauh kurang efektif. Panas radiasi dari gerakan matahari dan udara juga
mempengaruhi tingkat kenyamanan.

Sinar matahari sangat penting di pantai, di mana sinar ultraviolet


dipantulkan dari permukaan air dan pasir, menambah beban panas yang diterima
kulit dari langit. Radiasi ultraviolet (UV) bahkan lebih intens di lintang tropis,
meskipun langit sering mendung dan durasi sinar matahari cerah. Indeks UV
adalah skala numerik sederhana yang mengukur radiasi ultraviolet yang mencapai
permukaan bumi dalam hal potensinya untuk kerusakan kulit. Ini dapat
dimasukkan ke dalam prakiraan cuaca lokal untuk memperingatkan orang-orang
tentang risiko terbakar matahari. Persediaan tabir surya melindungi kulit luar dari
sinar UVB gelombang pendek, yang menyebabkan kulit terbakar tetapi
membiarkan sinar UVA jangka panjang merangsang produksi melanin untuk
berjemur. Pemain ski, trekker, dan pendaki gunung di ketinggian tinggi sangat
berisiko terkena sengatan matahari karena udaranya jernih dan sinar matahari
sangat terpantul dari salju dan bebatuan. 'Kejadian radiasi' semacam itu dapat
memberikan kehangatan yang cukup besar pada kulit, memungkinkan berjemur
dan bermain ski di lokasi yang sama.

26
Angin dipengaruhi arah dan kekuatannya oleh rotasi, topografi, dan
gradien bumi antara area bertekanan tinggi dan rendah. Pada skala lokal, angin
gunung dan lembah adalah karakteristik dari banyak daerah dataran tinggi,
sementara angin laut darat di siang hari dan angin darat lepas pantai yang lebih
lemah di malam hari adalah fitur dari banyak daerah pantai selama periode hangat,
cuaca tenang. Pengetahuan tentang angin ini sangat penting bagi penggemar
olahraga berbasis udara dan air.

Di daerah tropis biasanya ada pembagian tahun yang di definisikan dengan


baik ke musim 'basah' dan 'kering', di mana hujan biasanya turun dalam hujan lebat
pendek setelah pemanasan konveksi yang kuat di udara dan penumpukan awan
kumulus selama sore hari.

Pemantauan kualitas udara semakin penting sebagai bagian dari kepedulian


tentang masalah lingkungan dan kualitas hidup secara umum. Kendaraan bermotor
secara luas dianggap sebagai pencemar utama, memancarkan nitro oksida,
hidrokarbon dan ozon di permukaan tanah (tidak menjadi bingung dengan ozon di
atmosfer atas). Baru-baru ini perhatian telah di fokuskan pada pertumbuhan
transportasi udara, dan seringnya selebaran didorong untuk mengurangi 'jejak
karbon' mereka sebagai respons terhadap ancaman perubahan iklim. Masalah yang
lebih tua di sebagian besar kota-kota besar dunia, terutama di negara-negara yang
mengalami perkembangan pesat, adalah emisi sulfur dioksida dari 'industri
cerobong asap'. Asap, atau episode pencemaran udara yang parah, sangat umum
di daerah di mana kondisi antiklonik, yang menghambat pergerakan udara, terjadi
hampir sepanjang tahun.

3.3.3 Klasifikasi Iklim

Iklim dunia sebagai sebuah kontinum, dari kondisi panas dan lembab di
satu ekstrem menjadi dingin dan kering di sisi lain. Namun, sebagian besar dunia
memiliki iklim yang terletak di antara ekstrem, dan yang di cirikan oleh variasi

27
musiman yang berbeda. Iklim seperti itu dijelaskan secara konvensional dalam hal
suhu dan karakteristik curah hujannya.

1. Iklim Tropis yang Lembab


Iklim tropis mungkin memiliki potensi terbesar untuk pengembangan
pariwisata. Di sini masalah utamanya adalah menjaga bangunan dan
penghuninya tetap dingin, karena suhu jarang turun di bawah 20 ° C
bahkan di malam hari, sementara kelembaban umumnya tinggi. Pakaian
untuk turis harus ringan, dari tekstur terbuka dan terbuat dari bahan
penyerap. Sebagian besar penyakit di mana daerah tropis terkenal
terutama disebabkan, bukan karena iklim, tetapi karena standar sanitasi
yang buruk yang berlaku di banyak negara Dunia.
Sebagian besar habitat alami, pada kenyataannya, terancam oleh laju
pertumbuhan yang berkembang di Selatan tropis, yang masih dianggap
terutama sebagai sumber bahan baku untuk negara-negara industri di
Utara. Penghancuran hutan hujan Lembah Amazon dan Indonesia adalah
dua contoh yang terkenal. Konsekuensi lingkungan mungkin serius, tidak
hanya untuk zona tropis tetapi untuk Bumi secara keseluruhan, dalam hal
hilangnya keanekaragaman hayati. Masalah curah hujan yang tidak
menentu, bagaimanapun, paling sulit menghantam ekonomi maju.
2. Iklim Kering dan Panas
Suhu sedang dan sinar matahari berlimpah dari musim dingin mendukung
pariwisata musim dingin-matahari, terutama di daerah pesisir. Kondisi
musim panas bisa jadi tidak menyenangkan. Lingkungan gurun menarik
ekspedisi trekking. Kurang menguntungkan. Cakupan untuk olahraga air,
terutama memancing. Sedikit atau tidak ada curah hujan. Variasi harian
yang luar biasa dalam suhu karena radiasi matahari yang kuat dan
pendinginan nokturnal yang kuat. Kelembaban rendah kecuali di
beberapa wilayah pesisir. Temperatur sedang, sepanjang tahun tetapi
angin sarat debu lepas pantai, terutama di malam hari.

28
3. Iklim Hangat
Sangat menguntungkan: cuaca memungkinkan rekreasi luar ruangan
sepanjang tahun. Musim panas ideal untuk wisata pantai. Musim dingin
yang sejuk dengan curah hujan sedang: di belahan bumi utara terkadang
terjadi cuaca dingin. Musim panas cenderung menjadi musim hujan
dengan cuaca yang panas dan lembab.
4. Suhu dingin dan Benua dengan iklim dingin
Musim dingin yang ringan hingga mentah. Cuaca sangat bervariasi.
Musim panas berawan yang agak sejuk dan musim dingin tidak
menguntungkan. Musim pendek untuk wisata pantai; cocok untuk jenis
rekreasi luar ruangan yang berat. Fasilitas segala cuaca diinginkan di
resor liburan.
Musim dingin yang dingin dengan lapisan salju yang luas. Musim panas
yang hangat dengan curah hujan sedang selama Juni hingga Agustus.
Perubahan musiman yang cocok untuk bermain ski dan kegiatan berbasis
salju lainnya. Musim pendek untuk wisata pantai: danau lebih penting
untuk olahraga air daripada wilayah pesisir.
5. Iklim Dingin-Basah
Musim dingin baku, tidak ada musim panas yang nyata. Langit yang
tertutup dan angin kencang yang lazim sepanjang tahun tidak disukai,
tetapi kehidupan burung dan hewan laut yang kaya menarik pencinta alam.
6. Iklim Dingin-Kering
Umumnya tidak menguntungkan.
Suhu musim dingin di bawah 20 ° C membatasi rekreasi di luar ruangan.
Permafrost menghambat pembangunan fasilitas wisata. Bermain ski dan
kegiatan berbasis salju lainnya mungkin terjadi di akhir musim dingin;
kano dan memancing di musim panas.
7. Iklim Highland
Perbedaan suhu yang hebat antara siang / malam dan lokasi yang diterangi
matahari / teduh. Radiasi ultraviolet yang intens, kelembaban rendah,

29
tidak adanya debu dan serbuk sari pada ketinggian tinggi di atas
permukaan awan. Mozaik iklim dan zona kehidupan di ketinggian
berbeda. Pada ketinggian yang lebih tinggi, meningkatkan risiko 'mabuk
ketinggian' akan membatasi kegiatan ski dan kegiatan lainnya bagi
individu yang sudah terbiasa. Cakupan untuk trekking, pendakian dan
studi alam, tetapi ekosistem gunung rentan terhadap dampak pariwisata.

3.3.4 Zona Waktu

Perjalanan internasional biasanya memerlukan perubahan waktu jika


perjalanan ke arah lain selain ke selatan atau utara. Perbedaan waktu ini
diakibatkan oleh rotasi bumi relatif terhadap matahari; pada suatu waktu tertentu
di satu tempat itu siang, sedangkan separuh dunia jauh ke timur atau barat tengah
malam. Matahari tampak melakukan perjalanan dari timur ke barat dan membuat
satu rangkaian lengkap bumi setiap 24 jam. Dilihat dari luar angkasa, bumi, pada
kenyataannya, membuat poros penuh melalui 360 derajat bujur.

Sedangkan para wisatawan melalui jalan darat atau kereta api hanya
mengatur jam tangan mereka satu jam ketika melintasi batas zona waktu,
perjalanan udara jarak jauh menghadirkan lebih banyak masalah. Sebagai contoh,
perbedaan waktu antara London dan Singapura adalah delapan jam, dan ini perlu
diperhitungkan ketika menghitung waktu terbang yang telah berlalu (berapa lama
penerbangan sebenarnya memakan waktu antara London dan Singapura).
Perjalanan jet melintasi sejumlah besar zona waktu juga menyebabkan gangguan
pada ritme alami tubuh manusia, yang merespons siklus 24 jam siang dan gelap.
Efek jetlag sangat bervariasi antara wisatawan.

30
3.4 Latihan

Jenis latihan: Tugas individu

1. Mahasiswa membuat resume singkat ttg materi yang sudah diberikan yang
sesuai dengan konsep dasar Geografi Pariwisata
2. Membuat ringkasan waktu dan musim di dunia

3.5 Daftar Pustaka

Boniface, et al. 2009. Worldwide Destinations: The Geography of Travel and Tourism.
London: Elsevier

31
Modul 4: Geografi Pariwisata Indonesia

4.1 Tujuan

Setelah mengikuti praktikum ini mahasiswa diharapkan mampu menjelaskan


destinasi wisata dan keunikan wilayah Sumatra, Jawa, Bali, Kalimantan, Sulawesi,
Papua.

4.2 Alat dan Bahan

1. Power point,
2. Video/film
3. Laptop, projektor LCD

4.3 Dasar Teori

4.3.1 Sumber Daya Wisata Indonesia

Geosfer adalah sumber daya wisata di Indonesia. Geosfer adalah lapisan


yang terdapat pada bumi terletak pada permukaan bumi dan di bawah permukaan
bumi dan lapisan bumi tempat kehidupan yang ada di bumi. Geosfer terdiri dari:
atmosfer, litosfer , hidrosfer, biosfer, dan antroposfer. Lapisan-lapisan tersebut
saling terkait, saling berinteraksi membentuk satu sistem hubungan atau
keterkaitan antara masing-masing lapisan bumi tersebut.

1. Atmosfer
Merupakan selubung gas yang menyelimuti permukaan padat dan cair pada
bumi. Yang terdapat pada atmosfer : angin, awan, suhu, udara, kelembaban
udara, dan hujan disebut cuaca.
2. Litosfer
Litosfer atau disebut juga kerak bumi adalah lapisan bumi yang paling luar
dan keras. Kerak bumi sangat tipis dibandingkan dengan lapisan lainnya.
3. Hidrosfer
Hidrosfer adalah lapisan air yang menutupi permukaan bumi. Baik air
tawar (Permukaan dan Air Tanah) maupun air laut.

32
4. Biosfer
Biosfer adalah sering juga di sebut dengan lapisan kehidupan. Biosfer
adalah kesatuan hidup flora dan fauna yang tersebar di muka bumi.
5. Antroposfer
Antroposfer adalah ruang di permukaan bumi tempat hidup manusia
dengan segala aktivitasnya kehidupannya. Antroposfer tidak sepenuhnya
berimpitan dengan biosfer, ada bagian yang berimpitan dan ada pula yang
sangat terpisah. Antroposfer berimpitan dengan biosfer apabila manusia
dapat hidup secara normal dan alami tanpa rekayasa

4.3.2 Atmosfer dan Pariwisata

Situs web promosi pariwisata resmi adalah sumber informasi utama bagi
wisatawan, sehingga perlu untuk mengontrol tingkat kualitas informasi yang
terkandung di dalamnya. Tujuannya adalah untuk mendeteksi kelemahan yang
dapat diperbaiki untuk mencapai peningkatan layanan publik yang ditawarkan oleh
situs web ini. Informasi cuaca yang disediakan di situs web institusional tidak
memenuhi kebutuhan informasi wisatawan dalam fase berbeda dari pengalaman
perjalanan, berkontribusi pada pengambilan keputusan taktis dan strategis
mengenai berbagai kegiatan untuk wisatawan, di dimana cuaca atau iklim
merupakan faktor yang relevan. Ini bisa membuat wisatawan lebih sulit untuk
berinteraksi dan berintegrasi dengan tujuan dan memperburuk kualitas
pengalaman wisatanya.

4.3.3 Litosfer dan Pariwisata

Litosfer adalah lapisan Bumi yang paling luar atau biasa disebut dengan
kulit Bumi. Litosfer ini sangat berpengaruh terhadap tempat tempat pariwisata
khususnya di kawasan daerah Karst, contohnya :

1. Goa
Goa merupakan lubang alami di dalam tanah yang di lapisi batuan kapur
yang membentuk stalaktit dan stalakmit pada dinding-dinding gua

33
tersebut. Gua terdapat di permukaan bumi, di darat dan di bawah lautan,
proses terbentuknya gua melalui proses pelarutan batuan alam oleh air
hujan membentuk celah di dalam tanah yang semakin besar dan
membentuk gua.
2. Gunung
Pegunungan terbentuk karena pergerakan lempeng tektonik antara
lempeng samudera dan lempeng benua saling berbenturan yang
menghasilkan gunung berapi dan pegunungan.
3. Karang
Batuan karang adalah batuan yang terdapat di pesisir maupun di dalam
perairan laut yang terkikis dengan gelombang air laut.

4.3.4 Hidrosfer dan Pariwisata

Hidrosfer dapat diartikan sebagai lapisan air. Hidrosfer meliputi semua


jenis perairan yang ada di darat, laut, dan di udara. Pariwisata yang berkait dengan
Hidrosfer:

1. Alami
a) Sungai
Sungai adalah sejumlah massa air tawar yang mengalir secara alami
pada suatu lembah memanjang. Sungai yang mempunyai kejernihan
dan kemurnian pada alirannya yang bersih memberikan dampak positif
untuk di jadikan tempat wisata. Air Terjun, Rafting, Tubing, Fishing,
Explore.
b) Laut
Fenomena hidrosfer yang paling luas adalah laut, dimana luasnya ini
lebih dari 70% dari luas seluruh permukaan bumi. Laut merupakan
kumpulan massa air asin yang terdapat pada sebuah cekungan yang
sangat luas. (Fishing, diving, selancar, snorkling, banana boat, etc)
c) Danau

34
Danau adalah cekungan besar di permukaan bumi yang tertutupi oleh
air bisa tawar ataupun asin yang seluruh cekungan tersebut dikelilingi
oleh daratan. Semakin danau itu luas dan mempunyai faktor
pendukung seperti Litosfer akan menambah pesona danau tersebut
menjadi menarik dan biasa dimanfaatkan sebagai obyek pariwisata.
d) Air Tanah
Air tanah adalah air yang terdapat dalam lapisan tanah atau bebatuan
di bawah permukaan tanah. Hubungan air tanah sebagai tempat
pariwisata adalah Sumber Air Panas, Mata air panas atau sumber air
panas adalah mata air yang dihasilkan akibat keluarnya air tanah dari
kerak bumi setelah dipanaskan secara geotermal. Air yang keluar dari
mata air panas dipanaskan oleh geotermal (panas bumi), Semakin
dalam letak batu-batuan di dalam perut bumi, semakin meningkat pula
temperatur batu-batuan tersebut dan sebaliknya semakin dangkal
batuan tersebut. Sehingga daerah yang memiliki mata air panas akan
menjadi daerah wisata pemandian air hangat dan, berpotensi bagi
pembangunan pariwisata.
2. Buatan
Wisata buatan yang berkaitan dengan Hidrosfer salah satunya adalah
Kolam pemandian atau kolam renang, Kolam arus, Kolam luncur, hal
tersebut ada campur tangan

4.3.5 Biosfer dan Pariwisata

Biosfer sering juga di sebut dengan lapisan kehidupan. Biosfer adalah


kesatuan hidup flora dan fauna yang tersebar di muka bumi. Faktor-faktor
lingkungan yang berpengaruh terhadap keberadaan flora dan fauna di antaranya
adalah iklim, tanah, dan makhluk hidup.

Biosfer dapat dimanfaatkan sebagai pariwisata yang menguntungkan, dan


dapat dijadikan sebagai pelestarian flora dan fauna. Contoh dari yang
dimanfaatkan sebagai pariwisata adalah sebagai berikut :

35
1. Suaka Marga Satwa
2. Kebun Binatang.
3. Hutan Lindung.
4. Taman Nasional.
5. Cagar Alam.

4.3.6 Antroposfer dan Pariwisata

Antroposfer adalah ruang di permukaan bumi tempat hidup manusia


dengan segala aktivitas kehidupan. Manusia memiliki akal budi, daya cipta dan
kreatifitas maka manusia dapat menempati dan memanfaatkan biosfer sesuai
dengan pengtahuanan teknologi yang mereka miliki.

Dalam kehidupan sehari-hari Antroposfer biasanya lebih dikenal dengan


kehidupan bermasyarakat, Budaya, kebiasaan, dan kegiatan. Antroposfer yang
dijadikan pariwisata :

1. Wisata Budaya.
2. Wisata Agama.
3. Agro Wisata.
4. Wisata Kuliner.

4.4 Latihan

Jenis latihan: Tugas kelompok

1. Mahasiswa mempresentasikan ke unikan dan sumber daya pariwisata yang ada


pada wilayah: Sumatra, Jawa, Bali, Kalimantan, Sulawesi, Papua
2. Menjelaskan setiap unsur-unsur sumber daya pariwisata seperti Atmosfer,
Litosfer, Hidrosfer, Biosfer, dan Antroposfer dari wilayah tersebut

4.5 Daftar Pustaka

Yani, et al. 2007. Geografi: Menyingkap Fenomena Geosfer. Jakarta: Grafindo Media
Pratama

36
37
Modul 5: Destinasi Wisata di Indonesia

5.1 Tujuan

Setelah mengikuti praktikum ini mahasiswa diharapkan mampu menjelaskan,


memahami keunikan dan kekayaan, serta mengenal destinasi wisata di Indonesia

5.2 Alat dan Bahan

1. Power point,
2. Video/film
3. Laptop, projektor LCD

5.3 Dasar Teori

5.3.1 “10 Bali Baru”

Pada tahun 2016, Presiden Jokowi memberikan 8 arahan dengan topik


“Tahun 2016 adalah Tahun Percepatan” sebagaimana dalam Surat Setkab No : B-
652/Seskab/Maritim/11/2015, tanggal 6 November 2015, salah satu arahan
tersebut adalah pastikan kemajuan di lapangan pada 10 destinasi wisata nasional.
Pemerintah Pusat melalui Kementerian Pariwisata menyebut destinasi wisata
nasional tersebut sebagai “10 Bali Baru”. Ke 10 (sepuluh) destinasi nasional ini
dipilih oleh Kementerian Perekonomian Bidang Maritim dan Sumber Daya
menjadi 10 Destinasi Pariwisata Prioritas sebagaimana dalam Surat Menteri
Koordinator Bidang Maritim dan Sumber Daya Nomor S-54/Menko/Maritim/VI/
2016 tanggal 29 Juni 2016.

Didasarkan pada arahan presiden tersebut Kementerian Pariwisata


menyebut 10 destinasi wisata nasional itu sebagai “10 Bali Baru”. 10 Bali baru ini
diharapkan mampu menjadi pintu gerbang utama pariwisata nasional agar dapat
meningkatkan kunjungan wisatawan yang berkunjung ke Indonesia. Sebelum di
fokuskan menjadi “10 Bali baru”, Kementerian Pariwisata telah mempercepat
pembangunan di 25 destinasi pariwisata yang disebut sebagai Kawasan Strategis
Pariwisata Nasional (KSPN) yang kemudian di fokuskan menjadi 10 Destinasi

38
Pariwisata Prioritas yang sekarang kita kenal sebagai 10 Bali baru sebagaimana
dijelaskan dalam Surat Menteri Koordinator Bidang Maritim dan Sumber Daya
Nomor S54/Menko/Maritim/VI/2016.

Berikut adalah 10 Bali Baru:

1. Danau Toba
Danau Toba merupakan danau alami dan vulkanik terbesar di Indonesia
yang terletak di Sumatera Utara. Untuk mencapai Danau Toba, pemerintah
membuka rute penerbangan dari Bandara Kualanamu di Medan, ibu kota
Sumatera Utara ke Bandara Silangit.
2. Tanjung Kelayang
Pantai Tanjung Kelayang terletak di Tanjung Pandan, Bangka Belitung.
Pantai ini memiliki ciri khas batu granit raksasa yang mirip dengan kepala
burung garuda. Selain menjadi bagian dari 10 Bali Baru, pantai ini juga
ditetapkan pemerintah sebagai Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) di bidang
pariwisata.
3. Tanjung Lesung
Pantai Tanjung Lesung terletak di Pandeglang, Banten atau 160 kilometer
dari ibu kota Jakarta, sehingga bisa ditempuh dengan perjalanan darat.
Pantai ini memiliki pasir putih dan lokasinya dekat Taman Nasional Ujung
Kulon, Gunung Krakatau, dan Pulau Umang.
4. Pulau Seribu
Kepulauan Seribu merupakan gugusan pulau yang terletak di utara Jakarta.
Beberapa pulau memiliki penghuni, sedangkan yang lainnya merupakan
pulau yang hanya diperuntukkan demi kepentingan wisata dan riset,
sehingga tidak berpenghuni.
5. Candi Borobudur
Candi Borobudur merupakan candi Buddha terbesar di Indonesia yang
terletak di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Setiap Hari Waisak,

39
Borobudur menjadi tujuan ibadah bagi para umat Buddha, khususnya di
kawasan Asia.
6. Mandalika
Pantai Mandalika merupakan salah satu KEK yang diresmikan langsung
oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi). Pantai ini terletak di Lombok, Nusa
Tenggara Barat (NTB) dan hanya berjarak sekitar 30 menit dari Bandara
Lombok.
7. Gunung Bromo
Gunung Bromo terletak di Taman Nasional Bromo Tengger yang meliputi
empat kawasan sekaligus, yaitu Kabupaten Probolinggo, Kabupaten
Pasuruan, Kabupaten Lumajang, dan Kabupaten Malang di Jawa Timur.
Gunung Bromo merupakan salah satu gunung api aktif di Indonesia.
Gunung ini dikelilingi lembah, ngarai, dan kaldera atau lautan pasir.
8. Wakatobi
Wakatobi merupakan salah satu kabupaten di Sulawesi Tenggara sekaligus
salah satu taman nasional di Tanah Air. Wakatobi merupakan taman
nasional kehidupan bawah air yang kaya dengan panorama terumbu karang.
9. Labuan Bajo
Labuan Bajo merupakan salah satu desa di Kecamatan Komodo,
Kabupaten Manggarai Barat, provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).
Kawasan ini menawarkan balutan panorama laut biru dengan bukit-bukit
hijau.
10. Morotai
Pulau Morotai merupakan pulau paling utara Indonesia yang merupakan
bagian dari Kepulauan Halmahera, Maluku Utara. Morotai menawarkan
keindahan pantai pasir putih dengan paduan hutan lebat.

5.3.2 Pembangunan 10 Bali Baru

Setelah ditetapkan selanjutnya Pemerintah memiliki waktu tiga tahun


untuk menentukan kesiapan masing-masing kawasan untuk beroperasi. Namun

40
jika belum kunjung rampung, maka Pemerintah dapat memperpanjang tenggang
maksimal selama 2 tahun. Pembangunan yang dilakukan di 10 Destinasi
Pariwisata Prioritas tersebut akan dilaksanakan dengan menggunakan beberapa
strategi, diantaranya adalah :

1. Pengembangan infrastruktur dan ekosistem pariwisata;


2. Peningkatan kualitas dan kuantitas destinasi wisata budaya, alam, dan
buatan;
3. Tata Kelola Destinasi Pariwisata di Kawasan Strategis Pariwisata Nasional;
4. Pemberdayaan masyarakat.
5. Profil dan promosi investasi pariwisata
6. Dukungan Lintas Sektor.

Pembangunan pariwisata selain diatur dalam Undang-undang Nomor 10 Tahun


2009 tentang Kepariwisataan, juga diatur dalam Peraturan Presiden Republik
Indonesia No. 63 Tahun 2014 Tentang Pengawasan Pengendalian Kepariwisataan,
serta Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 50 Tahun 2011 Tentang
Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Nasional Tahun 2010-2025. Ketiga
kebijakan tersebut pada dasarnya bertujuan untuk mengatur tentang segala sesuatu
yang bersangkutan dengan sektor pariwisata di Indonesia.

Perencanaan telah disusun oleh Kementerian Pariwisata demi terciptanya


hasil yang maksimal seperti yang diharapkan sesuai dengan perencanaan yang
telah disusun. Dalam pengembangan pariwisata yang dilaksanakan di Kawasan 10
Bali Baru Kementerian Pariwisata telah membentuk beberapa strategi, diantaranya
mengacu pada 3 strategi pariwisata yaitu Aksesibilitas, Amenitas dan Atraksi.
Serta telah di susun key success factor, yaitu :

1. Review Masterplan dan Penyusunan Detail Plan;


2. Pembangunan Kawasan CulturalVillage;
3. Pembangunan Fisherman Wharf;
4. Pembangunan Kawasan Konservasi Mangrove;

41
5. Pembangunan Pelabuhan Cruise dan Marina beserta fasilitas penunjangnya;
6. Pengembangan Kargo Logistik di Bandara Internasional;
7. Peningkatan fasilitas kesehatan dan keselamatan skala internasional;
8. Sekolah Tinggi Pariwisata.

Hambatan dan rintangan harus dihadapi terutama jika tidak didukung oleh
masyarakat sekitar tempat wisata tersebut. Disinilah pentingnya peraturan dan
kesadaran dari Pemerintah Daerah yang melaksanakan pembangunan di sektor
pariwisata. Sektor pariwisata memerlukan suatu strategi dengan pola
pengembangan kepariwisataan yang terencana atau tersusun agar potensi yang
dimiliki bisa dikembangkan secara optimal. Penerapan semua Peraturan
Pemerintah dan Undang–undang yang berlaku mutlak dilaksanakan oleh
pemerintah. Pengembangan pariwisata harus merupakan pengembangan yang
berencana secara menyeluruh, sehingga dapat diperoleh manfaat yang optimal
bagi masyarakat, baik dari segi ekonomi, sosial dan kultural. Perencanaan tersebut
harus mengintegrasikan pengembangan pariwisata kedalam suatu program
pembangunan ekonomi, fisik, dan sosial dari suatu negara.

Pada sisi lain keterlibatan masyarakat merupakan kunci sukses


pengembangan destinasi. Namun perlu dipertimbangkan keterlibatan masyarakat,
sehingga pengembangan destinasi tidak mengganggu kualitas masyarakat dimana
destinasi dikembangkan. Bentuk keterlibatan masyarakat berupa pertimbangan
isu-isu yang berhubungan dengan keramaian ditempat tradisi, perubahan tatanan
masyarakat, peningkatan komoditas dan perubahan lingkungan alam. Dalam
asesmen ini, keterlibatan masyarakat akan memudahkan proses asesmen kesiapan
destinasi melalui peran serta memberikan informasi mengenai potensi masyarakat
yang belum diterima dari sumber lain.

Oleh karena itu dalam pengembangan pariwisata yang dilakukan di


destinasi wisata selain koordinasi antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah
serta dengan berbagai Stakeholder, dalam hal ini hubungan Pemerintah Pusat dan
Pemerintah Daerah merupakan Dekonsentrasi. Perlu diperhatikan juga apa saja

42
yang dibutuhkan oleh daerah sehingga implementasi program pengembangan
pariwisata ini dapat terlaksana dengan tepat sasaran.

5.4 Latihan

Jenis latihan: Tugas kelompok

Mahasiswa (dalam kelompok) bermain peran sebagai pelaku industri pariwisata,


menjabarkan sesuai dengan destinasi 10 Bali Baru yang dipilih mengenai:

1. Keunikan wilayah
2. Kondisi destinasi wisata saat ini
3. Strategi pengembangan yang akan dilaksanakan

5.5 Daftar Pustaka

1. Andaliya, SP. 2018. Kebijakan Kementerian Pariwisata Tentang


Pembangunan Destinasi Pariwisata Prioritas Mandalika (Studi di Deputi
Pengembangan Destinasi dan Industri Pariwisata). Bachelors Degree (S1)
thesis. Malang: University of Muhammadiyah Malang.
2. Ramadhani, et al. 2018. Government Cooperation : Kerjasama Pemerintah
Pusat dan Daerah dalam Pengembangan Destinasi Prioritas Pariwisata di
Tanjung Kelayang, Bangka Belitung. Journal. Malang: Universitas
Muhammadiyah Malang
3. Tim. 2018. Indonesia Pamer '10 Bali Baru' di Pertemuan IMF-Bank Dunia.
(Diunduh dari https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20181014151703-
269-338377/indonesia-pamer-10-bali-baru-di-pertemuan-imf-bank-dunia,
Oktober 2018)

43
Modul 6: Destinasi Wisata di Indonesia (Bagian Dua)

6.1 Tujuan

Setelah mengikuti praktikum ini mahasiswa diharapkan mampu menjelaskan,


memahami keunikan dan kekayaan, serta mengenal kawasan karangbolong, karst, dan
batu granit sebagai destinasi wisata di Indonesia.

6.2 Alat dan Bahan

1. RPS
2. Laptop
3. LCD

6.3 Dasar Teori

6.3.1 Karangbolong

Dilihat dari sisi fisiologis dan struktural, Karangbolong biasanya terletak


di sebuah semenanjung. Semenanjung ini memiliki singkapan-singkapan kecil di
sekelilingnya yang memotong (menghalangi) daerah pantai. Sebagian besar pantai
yang memiliki bentuk Karangbolong memiliki tipikal yang hampir sama di daerah
pantai selatan Jawa Timur dan Jawa Barat. Karangbolong diperkirakan terbentuk
karena adanya kenaikan lapisan yang terjadi di daerah tertentu, dan adanya
penurunan lapisan tanah yang terjadi di sekitar lokasi tersebut.

Struktur tanah/batuan di Karangbolong sebagian besar adalah terdiri dari


batu gamping dan napal. Batu gamping adalah batuan fosfat yang sebagian besar
tersusun oleh mineral kalsium karbonat (CaCo3). Sedangkan Napal adalah
kalsium karbonat atau kapur kaya lumpur yang mengandung sejumlah variabel
tanah liat dan aragonit.

Di bagian pusat pegunungan Karangbolong terdapat batu gamping. di


antara lapisan breksi gunungapi di sekitarnya yang memiliki perbedaan sifat. Di
beberapa tempat terjadi perbatasan antara daerah kapur dengan daerah marine

44
yang cenderung berpasir yang disebabkan oleh ketidak-selarasan antarendapan
fasies marine dan kapur.

Di pegunungan Karangbolong banyak dijumpai gua kapur dengan berbagai


luasan. Hal ini disebabkan adanya jenis batu gamping terumbu yang memiliki sifat
mudah larut dan mudah mengalami erosi pada iklim tropis yang kemudian akan
menyebabkan kemungkinan pembentukan gua kapur lebih besar.

Batuan breksi andesit berupa endapan material gunungapi yang berbentuk


menyudut, tajam, Endapan fasies vulkanik formasi Halang terdiri dari Tufa yang
menebal dan membentuk batuan berlapis-lapis. Tufa tadi didominasi oleh breksi
andesit dan endapan lahar. Aliran-aliran lava ini memiliki struktur glassis yang
mengindikasikan bahwa telah terjadi pendinginan cepat sehingga membentuk lava
bantal. Pada daerah pantai, sebagian besar dari tufa breksi terdiri dari batu kuarsa
dan batu karang yang berstruktur menyudut, runcing, dan tajam.

6.3.2 Batu Granit di Pulau Belitung

Batu granit di Pulau Belitung sebenarnya adalah bagian dari batuan dasar
Indonesia bagian barat yang disebut sebagai Batolit. Tersebar di Kepulauan Riau
hingga Semenanjung Malaysia. Umur Batuan Granit di Pulau Belitung
diperkirakan mencapai 65-200 juta tahun Batuan ini merupakan hasil pembekuan
magma yang bersifat asam, yaitu dengan kandungan silika yang tinggi lebih dari
65%. Umur absolut dari granit Belitung di bagian barat laut yakni 208-245 juta
tahun dan termasuk dalam Zaman Trias. Kemunculan bongkahan itu diawali dari
pembekuan granit di bawah permukaan bumi pada kedalaman puluhan kilometer.

Ketika tubuh granit yang retak-retak ini muncul di permukaan Bumi,


proses pelapukan dan erosi atau abrasi selama ribuan tahun mengikisnya.
Akibatnya, batu granit yang muncul di permukaan seolah-olah merupakan
bongkah batuan yang terpisah-pisah. Granit raksasa ini sebenarnya hanya bagian
atas dari tubuh sangat besar batu granit yang ada di bawah permukaan Bumi. Di
sekitar Belitung yang menyatakan bahwa jurang-jurang bawah laut terdiri dari

45
lereng-lereng terjal. Lereng batu granit itu menyambung antara satu pulau dengan
pulau lainnya.

Semua tubuh granit yang tersebar di Bangka-Belitung, Kepulauan Riau,


Singapura, Semenanjung Malaysia, di bawah Selatan Karimata dan Laut Cina
Selatan, Pulau Natuna dan sebagian Kalimantan Barat, menyatu. Dalam geologi
dikenal sebagai batolit.

6.3.3 Karts

Kawasan Karts sering menunjukkan ciri-ciri khas seperti:

1. Terdapatnya sejumlah cekungan (depresi) dengan bentuk dan ukuran yang


bervariasi, cekungan tersebut digenangi air atau tanpa air dengan
kedalaman dan jarak yang berbeda-beda.

2. Bukit-bukit kecil dalam jumlah banyak yang merupakan sisi-sisi erosi


akibat pelarutan kimia pada batu gamping, sehingga terbentuk bukit-
bukit (conical hills).

3. Sungai-sungai tidak mengalami perkembangan pada permukaan. Sungai


pada daerah karst umumnya terputus-putus, hilang ke dalam tanah dan
begitu saja muncul dari dalam tanah.

4. Terdapatnya sungai-sungai di bawah permukaan, adanya gua-gua kapur


pada permukaan atau di atas permukaan.

5. Terdapatnya endapan sedimen lumpur berwarna merah (terrarosa) yang


merupakan endapan resedual akibat pelapukan batu gamping.

6. Permukaan yang terbuka mempunyai penampakan yang kasar, pecah-


pecah atau lubang-lubang maupun runcing-runcing (lapis)

Tidak semua batu gamping akan mengalami proses karstifikasi, proses ini
sangat dipengaruhi oleh banyak faktor diantaranya adalah sifat dari batuan

46
karbonat (batu gamping) itu sendiri yang meliputi : biota penyusun, kemurnian/
pengotoran mineral lain maupun porositas.

6.4 Latihan

Jenis latihan: Tugas kelompok

1. Mahasiswa membuat materi presentasi mengenai objek wisata karangbolong,


batu granit, dan karst di Indonesia
2. Kemudian mengemukakan ide strategi pengembangan ekowisata karangbolong,
batu granit, dan karst pada objek wisata yang sudah ditentukan melalui sebuah
brosur

6.5 Daftar Pustaka

1. Paturusi, Syamsul Alam.2008.Perencanaan Kawasan Pariwisata. Denpasar :


Press UNUD
2. Robinson. 1976. Geography of Tourism. London Mc Donnal.
3. Wasidi, et al. 2017. Strategi Pengembangan Ekowisata Karst Pada Obyek
Wisata Air Terjun Sri Getuk Di Kabupaten Gunungkidul. Thesis Pasca Sarjana.
Makassar: Universitas Hasanuddin

47
Modul 7: Industri Pariwisata Indonesia dalam Prespektif Geografis

7.1 Tujuan

Setelah mengikuti praktikum ini mahasiswa diharapkan mampu menjelaskan


mengenai unsur-unsur industri pariwisata, dan potensinya dalam perspektif geografi.

7.2 Alat dan Bahan

1. Power point,

2. Video/film

3. Laptop, projektor LCD

7.3 Dasar Teori

7.3.1 Industri Pariwisata

Tanpa turis, tidak akan ada industri pariwisata. Wisatawan melakukan


perjalanan ke tempat-tempat wisata dan menemukan tempat-tempat baru bahkan
ketika pengembang dan penduduk setempat belum menemukan atau
mempromosikannya. Akan tetapi, lebih umum bahwa turis (atau wisatawan
potensial) adalah orang yang di bombardir dengan iklan dan penjaja yang berusaha
membuat mereka membelanjakan uang mereka.

Geografi, termasuk jarak yang ditempuh dan tempat asal, adalah salah satu
bentuk segmentasi pasar pengunjung yang paling banyak digunakan. Biasanya ini
merupakan bentuk data pengunjung yang paling mudah diperoleh karena hanya
membutuhkan satu pertanyaan sederhana dari para pengunjung, dan dapat
diperoleh dari catatan pendaftaran hotel dan motel (dengan langkah-langkah
privasi yang sesuai). Iklan dan kampanye promosi kemudian dapat dirancang
untuk digunakan di setiap tempat utama dari mana pengunjung dan pengguna
berasal. Bentuk data terpenting kedua untuk segmentasi pasar adalah motivasi
pengunjung atau pengguna. Meskipun lebih sulit diperoleh, banyak penelitian
telah dilakukan untuk menentukan beragam motivasi wisatawan.

48
Pariwisata adalah salah satu industri jasa terbesar di dunia. Pengeluaran
pariwisata internasional dan akun penerimaan untuk 30 persen dari semua
perdagangan jasa internasional (data 2002, Organisasi Pariwisata Dunia). Definisi
pariwisata ini mencakup sebagian besar kegiatan rekreasi yang terjadi di planet ini,
terutama apa pun yang dianggap sebagai daya tarik, juga hampir semua industri
perhotelan (hotel, restoran, dan bisnis terkait), dan sebagian besar transportasi
yang baik. industri (terutama pesawat terbang, bus antarkota dan kereta api).
Namun, definisi internasional tentang apa yang merupakan sektor-sektor tertentu
penting dalam menentukan perkiraan ukuran relatifnya.

Permintaan untuk perjalanan dan pariwisata terus meningkat, meskipun


ada ancaman teroris, dan terutama karena waktu luang dan kesejahteraan ekonomi
meningkat di ekonomi yang baru berkembang di Asia, Amerika Latin, Eropa
Timur dan di tempat lain. Bahkan, menurut UNWTO dan pabrikan pesawat,
seperti Airbus dan Boeing, jumlah pelancong internasional dan kursi yang
dipasang di pesawat diharapkan meningkat dua kali lipat antara tahun 2000 dan
2020. Sebagai akibat dari pertumbuhan jumlah pesawat di seluruh dunia dan
permintaan untuk perjalanan, jarak keseluruhan penerbangan diprediksi meningkat,
dengan jarak rata-rata terbang tumbuh dari 1.437 km pada 2002 menjadi 1.516 km
pada 2022.

Namun pariwisata di definisikan, sebagian besar orang akan memasukkan


unsur-unsur pergerakan (transportasi), dari tetap sementara di satu tempat
(akomodasi), mengkonsumsi makanan dan minuman (yang bisa menjadi daya
tarik), dan berpartisipasi dalam kegiatan (atraksi). Sektor transportasi umumnya
mencakup maskapai penerbangan dan bandara, kereta api, bus, taksi, mobil pribadi,
kapal dan feri, layanan dan perbaikan moda transportasi ini, dan agen perjalanan
dan perusahaan wisata yang memfasilitasi transportasi. Sektor akomodasi dapat
mencakup hotel, motel, resor, perkemahan, rumah teman dan kerabat, kapal pesiar,
agen pemesanan akomodasi, dan bisnis yang melayani berbagai akomodasi ini.

49
Konsumsi makanan dan minuman sering terkait erat dengan akomodasi,
meskipun tidak selalu. Industri makanan dan minuman mencakup semua bentuk
restoran dan tempat makan (termasuk yang ada di hotel dan tempat wisata),
penyedia makanan dan minuman lain untuk wisatawan (termasuk toko bahan
makanan), pedagang grosir yang menjual makanan dan minuman ke restoran, dan
bisnis yang menyediakan layanan lain untuk restoran dan penyedia makanan.
Makanan dan minuman, sebagai sektor industri pariwisata, sangat menantang
untuk diukur karena sebagian besar bisnis ini melayani penduduk lokal sebanyak
atau lebih dari wisatawan. Keseimbangan antara turis yang dilayani dan penduduk
yang dilayani sangat bervariasi dari satu tempat ke tempat lain.

Atraksi sangat beragam, bervariasi berdasarkan skala dan minat. Kota San
Francisco dianggap sebagai objek wisata, seperti halnya distrik Dermaga Nelayan
kota, dan Ghirardelli (Lembah Napa), dan akomodasi (misal., Resor lengkap).
Jenis objek wisata dapat dikategorikan berdasarkan bentuknya (misal., Bangunan
terkenal, gunung atau taman hiburan) dan pengalaman mereka (misal. Rekreasi,
relaksasi, hiburan, dan pendidikan).

7.3.2 Tourism Expenditures

Apa pun yang dapat dibeli adalah komoditas. Dengan menciptakan tempat-
tempat wisata, industri pariwisata cenderung mengkomodifikasi hampir semua
aspek dunia kontemporer. Ini dikenal sebagai komodifikasi. UNWTO telah
mendefinisikan komoditas pariwisata sebagai barang atau jasa yang sebagian besar
permintaannya berasal dari orang yang terlibat dalam pariwisata sebagai
konsumen. Namun, sebagian besar tidak di definisikan, jika kita mengasumsikan
bahwa ini lebih dari 50%, maka komoditas pariwisata adalah produk atau layanan
apa pun yang setidaknya 50% pembeli adalah wisatawan. (Tergantung pada
produk, layanan, dan tempat, permintaan wisatawan dapat kurang dari 50%) Lebih
jauh, hampir semua hal dapat menjadi daya tarik wisata, dengan pemasaran yang
tepat. Atraksi dapat mencakup bentuk transportasi (misal, Cable Car San
Francisco), makanan dan minuman (misal, Wisata anggur di California).

50
Besarnya pariwisata sebagai kegiatan ekonomi di suatu tujuan biasanya
diukur terutama dengan memperkirakan total pengeluaran yang dilakukan oleh
pengunjung dalam perjalanan (atau atas nama pengunjung, seperti kontrak dengan
hotel yang dibuat oleh operator tur dalam perakitan). tur untuk dijual). Beberapa
pembelian sebelum dan sesudah perjalanan dapat dianggap sebagai bagian dari
biaya perjalanan, seperti pembelian barang habis pakai yang dibuat segera sebelum
keberangkatan, seperti gas untuk mobil, dan pengeluaran seperti dry cleaning
pakaian perjalanan segera setelah perjalanan.

7.3.3 Tourism Commodities

Tantangan utama dalam mengukur besarnya ekonomi pariwisata dapat


disimpulkan sebagai empat dilema:

1. Pengunjung mengkonsumsi komoditas pariwisata dan non-pariwisata


2. Warga mengkonsumsi komoditas pariwisata dan non-pariwisata
3. Industri pariwisata menghasilkan komoditas pariwisata dan non-pariwisata
4. Industri non-pariwisata menghasilkan komoditas pariwisata dan non-
pariwisata
5. Banyak komoditas yang dibeli oleh wisatawan juga dibeli oleh non-turis.

Makanan dan minuman, misalnya, adalah produk yang banyak digunakan


oleh wisatawan dan penduduk lokal. Mereka adalah komoditas pariwisata, rekreasi,
komoditas hiburan, dan komoditas kebutuhan pokok. Selain itu, keseimbangan
dalam proporsi konsumsi makanan dan minuman wisatawan dan non-turis sering
bervariasi di antara masyarakat dan lingkungan, dari satu musim ke musim lain,
dan pada hari yang berbeda dalam seminggu.

51
7.4 Latihan

Jenis latihan: Tugas individu

1. Mahasiswa melakukan kunjungan industri dan melakukan wawancara dengan


pelaku industri
2. Membuat essay 300 - 500 kata mengenai potensi industri pariwisata Indonesia
dari perspektif geografi berlandaskan pada hasil kunjungan industri

7.5 Daftar Pustaka

1. Boniface, et al. 2009. Worldwide Destinations: The Geography of Travel and


Tourism. London: Elsevier
2. Lew, et al. 2008. World Geography Of Travel And Tourism: A Regional
Approach. Oxford: Butterworth-Heinemann

52
UJIAN TENGAH SEMESTER

53
Modul 8: Geografi Pariwisata Asia Tengah, Asia Timur, dan Asia Tenggara

8.1 Tujuan

Setelah mengikuti praktikum ini mahasiswa diharapkan mampu menjabarkan


kondisi geografis dan destinasi wisata di Asia Tengah, Asia Timur, dan Asia Tenggara.

8.2 Alat dan Bahan

1. Power point,
2. Video/film
3. Laptop, projektor LCD

8.3 Dasar Teori

8.3.1 Geografi Pariwisata Asia Tengah

Asia Tengah meliputi negara-negara Afghanistan, Kazakhstan, Kirgistan,


Tajikistan, Turkmenistan, dan Uzbekistan. Lanskap fisik Asia Tengah pada
dasarnya dapat dibagi menjadi dua sub wilayah:

1. Daerah pegunungan tinggi di tenggara, tempat Asia Tengah bertemu


dengan Dataran Tinggi Tibet
2. Dataran datar yang mengelilingi Laut Aral dan Kaspia di selatan dan barat
wilayah tersebut.

Dua negara pegunungan di Asia Tengah adalah Tajikistan dan Kirgistan.


Tajikistan adalah rumah bagi Pegunungan Pamir (berbatasan dengan India dan
Pakistan) dan memiliki puncak gunung tertinggi di Asia Tengah, mencapai
ketinggian lebih dari 23.000 kaki / 7.000 m di Pamir Knot (juga dikenal sebagai
Atap Asia). Gunung-gunung ini adalah daya tarik wisata utama, meskipun
ketidakstabilan politik dan badai salju musim dingin yang hebat, yang dapat
berlangsung berhari-hari, membuat perjalanan ke sana sangat menantang.

Bagian utara Asia Tengah mencapai ke arah Siberia dan pusat benua Asia,
dan karena itu mengalami panas musim panas dan musim dingin yang ekstrem,

54
meskipun tidak ekstrem seperti Siberia di utara. Kondisi kering paling menonjol
di daerah dataran rendah selatan, dengan curah hujan yang lebih tinggi di
pegunungan di Kazakstan utara, yang berbatasan dengan Siberia. Bahkan dengan
pegunungan timur yang tinggi, hampir seluruh wilayah Asia Tengah menerima
curah hujan kurang dari 20 inci 51 cm setiap tahun, menciptakan kondisi padang
rumput, gurun, dan kekeringan. Iklim kering menciptakan ekosistem perairan yang
sangat sensitif di semua laut dan danau di Asia Tengah, yang terbesar di antaranya
adalah Laut Hitam, Laut Kaspia, dan Laut Ural. Badan-badan air ini memusatkan
drainase dari DAS di sekitarnya dan berfungsi sebagai langkah sensitif degradasi
lingkungan regional. Kebanyakan dari mereka sangat tercemar, meskipun upaya
internasional bersama pada 1990-an untuk mengatasi masalah ini telah membantu
sampai taraf tertentu. Ekowisata menawarkan alternatif bagi industri skala besar
dan berat yang telah menyebabkan kerusakan luas ini.

Persimpangan padang pasir, padang rumput, dan gunung-gunung juga


menciptakan keragaman ekosistem yang kaya yang menarik para pemburu dan
nelayan, meskipun beberapa pihak berpendapat bahwa mereka mulai mengancam
beberapa permainan besar yang terancam punah di kawasan itu. Mengamati
burung yang bermigrasi di lahan basah antara bukit pasir dan dataran yang lebih
kering adalah objek wisata utama di daerah dataran rendah di Asia Tengah. Namun,
perbedaan yang lebih besar antara suhu musim panas dan musim dingin di dataran
rendah Asia Tengah menghasilkan sejumlah besar serangga musim panas, yang
dapat menjadi gangguan utama bagi pengunjung. Karena lokasinya di tepi laut
Jurassic yang luas, pegunungan tenggara Turkmenistan dan Uzbekistan memiliki
beberapa situs dinosaurus yang luar biasa, termasuk Cagar Kugitang, yang terletak
di sisi Turkmenistan dari perbatasan bersama mereka.

Asia Tengah memiliki banyak kesamaan karakteristik dengan Asia Barat


Daya (juga dikenal sebagai Timur Tengah) dan Afrika Utara. Ketiganya memiliki
kepadatan populasi keseluruhan yang rendah, meskipun pusat kepadatan yang
lebih tinggi memang ada. Ketiganya sebagian besar memiliki padang rumput

55
kering dan iklim gurun. Sebagian besar orang dari ketiga wilayah berbagi
keyakinan agama Islam, dan ikatan sejarah yang melibatkan Kekaisaran Arab dan
Ottoman.

8.3.2 Geografi Pariwisata Asia Timur

Asia Timur adalah ras yang merupakan salah satu wilayah paling homogen
di dunia. Cina adalah 90,5 persen etnis Han Cina, Jepang 98,4 persen Jepang dan
Korea sekitar 99 persen Korea. Sebagai perbandingan, Amerika Serikat sekitar 60
persen Kaukasia non-Hispanik. Meskipun mencakup wilayah yang lebih luas dari
sebagian besar wilayah lain yang di cakup sejauh ini, hanya ada lima negara di
Asia Timur: Cina, Jepang, Korea Utara, Korea Selatan, dan Mongolia. Selain itu,
ada wilayah Cina Taiwan, Hong Kong dan Makau, yang sebagian besar otonom
dari daratan Cina. Secara budaya, Asia Timur telah didominasi oleh Cina, dan
semua negaranya memandang Tiongkok klasik sebagai bagian dari pengaruh awal
mereka. Sebagai contoh, baik Buddhisme Mahayana (yang datang ke Cina dari
Tibet) dan nilai-nilai Konfusianisme mendominasi di seluruh Asia Timur.

Jangkauan barat Asia Timur meluas ke pusat benua Eurasia. Cina Barat
dan Mongolia memiliki banyak karakteristik serupa dengan negara-negara Asia
Tengah. Ini adalah tanah pegunungan tinggi dan cekungan luas, yang sebagian
besar sangat gersang. Dari Pamir Knot di Tajikistan, Pegunungan Tian Shan
membentang di barat laut untuk membentuk perbatasan barat Cina dengan
Kirgistan. Dataran tinggi Tibet (dikenal sebagai Dataran Tinggi Qinghai-Xizang
di Cina) memiliki ketinggian pangkalan sekitar 15.000 kaki, yang darinya
pegunungan yang lebih tinggi naik. Di sebelah utara Dataran Tinggi Tibet adalah
gurun dan padang rumput yang mengarah ke Asia Tengah dan perbatasan antara
Cina dan Mongolia. Ini termasuk Cekungan Tarim (rumah dari Gurun Taklamakan)
dan Gurun Gobi (atau Shamo).

Tenggara Dataran Tinggi Tibet adalah wilayah pegunungan terjal dengan


lembah curam yang dilalui banyak sungai besar di Asia Timur dan Tenggara. Di

56
satu daerah, sungai Salween (Myanmar), Mekong (IndoCina) dan Yangtze (Cina)
mengalir paralel satu sama lain dalam jarak 50 mil (80 km). Di sebelah utara
Sungai Yangtze terletak Dataran Cina Utara, dan di sebelah utara itu, di seberang
Laut Bo Hai adalah Dataran Manchuria (atau Heilongjiang). Dataran Tiongkok
Utara pernah ditutupi oleh air, tetapi secara bertahap diisi oleh sedimen yang
dibawa dari barat oleh dua sungai besar Tiongkok. Di utara, Sungai Kuning (atau
Huang He) mengalir dari Dataran Tinggi Tibet melalui Gurun Gobi dan terus ke
Dataran Cina Utara. Lebih jauh ke selatan adalah Sungai Yangtze (Changjiang
atau Long River, dalam bahasa Cina), yang merupakan sungai paling penting di
Cina. Sungai ini mengalir dari Dataran Tinggi Tibet, melalui Chongqing
(Chungking) dan Cekungan Merah Provinsi Sichuan (wilayah yang paling padat
penduduknya di Cina), melalui Tiga Ngarai Yangtze, melalui daerah Danau
Kembar dekat Wuhan, dan ke Timur. Laut Cina di Shanghai.

Pesisir Asia Timur adalah bagian dari Cincin Api Pasifik, yang mengacu
pada cincin wilayah vulkanik dan gempa bumi yang mengelilingi sebagian besar
Samudra Pasifik. Gunung Fuji Jepang adalah bagian dari Cincin Api; itu adalah
kerucut gunung berapi besar dan puncak tertinggi di Jepang (12.389 kaki; 3.776
m), yang terakhir meletus pada 1707 Masehi. Asia Timur terdiri dari lebih dari
sekadar wilayah pesisir ini, meskipun di sinilah sebagian besar penduduk kawasan
itu tinggal. Ada juga transisi besar iklim dari timur ke barat. Lebih jauh ke barat,
iklim menjadi lebih kering. Sepanjang pantai, kondisi yang lembab dan hangat
memungkinkan untuk aktivitas pertanian intensif. Lebih jauh ke barat, pertanian
menjadi luas dengan fokus pada produksi gandum dan biji-bijian lainnya, dan
penggembalaan hewan. Di ujung barat Cina, pertanian oasis umum terjadi karena
kondisi gersang yang keras.

Negara-negara ini dikenal sebagai naga kecil Asia, dengan Jepang menjadi
naga besar. Semua negara ini, termasuk Jepang, memiliki pengaruh budaya Cina
yang kuat. Transisi ekonomi yang paling luar biasa dalam sejarah dunia telah
terjadi di Cina, yang telah berubah dari menjadi salah satu negara termiskin di

57
dunia menjadi kekuatan ekonomi dunia yang terkemuka hanya dalam dua dekade.
Di Asia Timur, hanya negara-negara Korea Utara dan Mongolia yang berjuang
dalam upaya pembangunan ekonomi.

8.3.3 Geografi Pariwisata Asia Tenggara

Asia Tenggara adalah wilayah besar tanah dan air yang terletak di antara
India di barat dan Cina di utara. Istilah lama untuk wilayah ini termasuk IndoCina
dan India Lanjutan, yang keduanya sebagian besar merujuk ke bagian
semenanjung Asia Tenggara (dari Myanmar ke Vietnam, dan tidak termasuk
Indonesia dan Filipina). Wilayah kepulauan Asia Tenggara secara historis dikenal
sebagai Hindia Timur dan Kepulauan Rempah-rempah, meskipun istilah terakhir
juga disebut Maluku, sekelompok pulau yang merupakan bagian dari Indonesia.
Dibandingkan dengan wilayah tetangganya, Asia Tenggara memiliki kepadatan
penduduk yang relatif rendah. Populasi yang diperkirakan pada tahun 2004 adalah
sekitar 560 juta, yang merupakan setengah dari populasi India dan Cina. Sekitar
20 persen populasi Asia Tenggara (110 juta) tinggal di pulau Jawa, Indonesia.

Terletak di antara Asia Selatan (didominasi oleh India) dan Asia Timur
(didominasi oleh Cina), Asia Tenggara adalah tempat perpecahan budaya di mana
banyak pengaruh budaya yang berbeda bergabung melalui sejarah. (Ini mirip
dengan Semenanjung Balkan dan Transkaukasus antara Eropa dan Asia.) Saat ini,
budaya dominan di wilayah ini termasuk Burma (Myanmar), Thailand, Vietnam,
Kamboja (Khmer), Melayu, Cina, India, dan Eropa. Sejumlah besar orang adalah
pengikut agama Buddha, Islam dan Katolik, yang semuanya dapat digabungkan
dengan tradisi animisme yang lebih tua. Pemerintah yang berkuasa mematuhi
ideologi politik yang mencakup komunisme, kapitalisme, demokrasi, kediktatoran,
monarki, dan pemerintahan militer. Daerah-daerah besar sebelumnya berada di
bawah kendali kolonial Belanda, Inggris, Spanyol, Prancis, dan Amerika Serikat.
Keragaman ekonomi di Asia Tenggara saat ini meliputi beberapa negara terkaya
di dunia (Singapura dan Brunei) dan beberapa negara termiskin (Timor Timur,
Laos, Myanmar dan Kamboja).

58
Perbedaan geografi fisik utama di Asia Tenggara adalah antara
Semenanjung Asia Tenggara dan Insular Asia Tenggara. Semenanjung Asia
Tenggara sangat bergunung-gunung di daerah utara yang berbatasan dengan Cina,
meskipun daerah ini juga jarang didiami. Barisan pegunungan membentang ke
selatan dari Cina selatan dan Dataran Tinggi Tibet, dan kaya akan mineral,
termasuk timah, besi, bauksit (aluminium) dan minyak. Puncak tertinggi di Asia
Tenggara adalah Hkakabo Razi (19.240 kaki; 5.881 m), yang sebenarnya berada
di tepi Himalaya di Myanmar utara.

Insular Southeast Asia terdiri dari busur besar pulau-pulau vulkanik yang
dibentuk oleh tabrakan lempeng benua Eurasia dengan lantai Samudra Pasifik
(lempeng Pasifik dan lempeng Filipina) dan lempeng benua Indo-Australia. Di
tengah busur ini adalah pulau Kalimantan, yang secara politis dibagi antara tiga
negara: Malaysia, Indonesia dan Brunei. Borneo, yang bukan gunung berapi secara
geologis, adalah bagian dari daratan Asia. Ini adalah pulau terbesar kedua di dunia
(setelah Greenland), dan puncak tertinggi adalah Gunung Kinabalu (4.095 m,
13.435 kaki), yang merupakan perjalanan hiking yang populer ke luar kota Kota
Kinabalu di negara bagian Sabah, Malaysia .

Sementara beberapa pulau internal Asia Tenggara yang terisolasi adalah


vulkanik, hampir semua pulau terluar adalah, dari Sumatra Indonesia sampai Jawa,
ke Timor di barat dan barat wilayah, ke Filipina di timur laut. Semua pulau-pulau
ini memiliki sistem seismik aktif yang menghasilkan tanah pertanian yang kaya
dan lanskap hijau subur, diselingi oleh puncak gunung berapi yang curam yang
kadang-kadang mendatangkan malapetaka di pedesaan sekitarnya.

Salah satu mamalia yang paling terancam punah adalah orangutan (atau
orang hutan, yang berarti manusia dari hutan). Orangutan pernah berkeliaran di
seluruh Asia Tenggara tetapi hari ini hanya ditemukan di hutan hujan Kalimantan
dan Sumatra - dan di rumah-rumah orang di seluruh Asia yang mengadopsi bayi
orangutan sebagai hewan peliharaan. Mereka dikenal dengan rambut coklat

59
kemerahan dan tingkat kecerdasan yang sangat tinggi, dan menjadi semakin langka
di alam liar.

8.4 Latihan

Jenis latihan: Tugas kelompok


Mahasiswa membuat itinerary perjalanan dengan Asia sebagai destinasi wisata, dalam
bentuk material promosi dengan memperhatikan:
1. Kondisi geografis di Asia Tengah, Asia Timur, atau Asia Tenggara
2. Transportasi dan Akomodasi
3. Kondisi cuaca, waktu, currency, dan informasi lainnya yang berguna bagi
wisatawan

8.5 Daftar Pustaka


Lew, et al. 2008. World Geography Of Travel And Tourism: A Regional Approach.
Oxford: Butterworth-Heinemann

60
Modul 9: Geografi Pariwisata Asia Selatan, Timur Tengah, dan Afrika

9.1 Tujuan

Setelah mengikuti praktikum ini mahasiswa diharapkan mampu menjabarkan


kondisi geografis dan destinasi wisata pada wilayah Asia Selatan, Timur Tengah, dan
Afrika.

9.2 Alat dan Bahan

1. Power point,
2. Video/film
3. Laptop, projektor LCD

9.3 Dasar Teori

9.3.1 Geografi Pariwisata Asia Selatan

Asia Selatan meliputi negara-negara India, Pakistan, Bangladesh, negara-


negara kepulauan Sri Lanka dan Maladewa, dan negara-negara Himalaya di Nepal
dan Bhutan. Asia Selatan kadang-kadang disebut sebagai anak benua India karena
didominasi oleh negara dan semenanjung India. Ini adalah wilayah yang sangat
beragam, tetapi seperti Afrika, geografi fisiknya cukup mudah dan mudah
dipahami.

Bagian utara anak benua Asia Selatan dikelilingi oleh pegunungan tinggi.
Di barat jangkauan dominan adalah Pegunungan Sulaiman, ditemukan di Pakistan
dan di sepanjang perbatasannya dengan Afghanistan. Pegunungan yang relatif
rendah ini membentang ke utara menuju Simpul Pamir, yang merupakan tempat
Pegunungan Himalaya dimulai. Orang-orang Sulaiman adalah pintu gerbang ke
Asia Selatan untuk menyerang kelompok-kelompok dari Asia Tengah dan Timur
Tengah.

Batas-batas di India sebagian besar didasarkan pada garis etno-linguistik.


Asia Selatan mengandung salah satu keanekaragaman etnis terbesar di dunia.

61
Wilayah ini didominasi oleh India, yang memiliki populasi lebih dari satu miliar
orang (sekitar 1/6 dari populasi dunia) dan sangat beragam. Bahasa nasional India
adalah bahasa Hindi, yang hanya dituturkan oleh sekitar 35 persen populasi; selain
itu, bahasa Inggris secara luas digunakan sebagai lingua franca, yang
memungkinkan semua orang berpendidikan di negara itu berkomunikasi dalam
bahasa yang sama. Selain bahasa Hindi ada 14 bahasa resmi lainnya di India, yang
masing-masing dikaitkan dengan kelompok etnis yang berbeda dan beberapa di
antaranya memiliki sistem penulisan sendiri.

Kelompok-kelompok ras utama termasuk orang-orang Indo-Arya yang


sebagian besar hidup di utara, dan orang-orang Dravida, yang sebagian besar di
timur dan selatan. Orang-orang Australoid-Negrito tinggal dalam jumlah yang
lebih kecil di bukit tengah Dataran Tinggi Deccan, dan orang-orang Mongoloid
(yang berhubungan dengan orang Tibet dan Cina) mendominasi di pegunungan
utara dan di Assam di bagian timur laut negara itu. Negara-negara lain di Asia
Selatan kurang beragam daripada India tetapi masih menghadapi tantangan
keragaman etnis di dalam perbatasan mereka. Pakistan, misalnya, memiliki empat
kelompok etnis besar, yang masing-masing dikaitkan dengan provinsi yang
berbeda. Ibukotanya, Islamabad, dibangun sebagai kota baru di lokasi sentral dan
netral.

Negara terkecil di Asia Selatan adalah Kerajaan Himalaya Bhutan dan


negara Islam Maladewa di Samudra Hindia. Afghanistan dianggap sebagai bagian
dari Asia Selatan selama masa kolonial, tetapi lebih sering dikelompokkan dengan
Timur Tengah saat ini.

9.3.2 Geografi Pariwisata Timur Tengah

Asia Barat Daya dan Afrika Utara sering disebut sebagai Timur Tengah.
Meskipun diterima secara luas oleh organisasi media berita, istilah Timur Tengah
masih belum jelas. Sebagian besar waktu mengacu pada negara-negara di
Semenanjung Arab, ditambah Turki dan Iran di utara, dan Mesir melintasi Laut

62
Merah. Namun, itu dapat mencakup Afghanistan dan Pakistan (yang masing-
masing ditempatkan di Asia Tengah dan Asia Selatan, dalam buku ini), dan negara-
negara yang tersisa di Afrika Utara, sebelah barat Mesir. Negara-negara Muslim
di Tanduk Afrika (Ethiopia, Eritrea, Djibouti, dan Somalia) dan negara Sudan
kadang-kadang dimasukkan sebagai bagian dari Timur Tengah, tetapi lebih sering
dianggap sebagai Afrika Sub-Sahara. Dalam definisi lain, Wilayah Maghreb, yang
terdiri dari bagian barat laut benua Afrika (misal., Maroko, Aljazair, Tunisia, dan
kadang-kadang Libya dan Mauritania), tidak termasuk dalam definisi Timur
Tengah. Karena kebingungan ini, buku ini merujuk pada konsep geografis Asia
Barat Daya dan Afrika Utara yang lebih akurat.

Area daratan di bagian selatan Timur Tengah dan Afrika Utara ini terdiri
dari anjungan masif (dikenal sebagai massif) dari batuan yang sangat purba. Benua
Afrika dan massif Semenanjung Arab dipisahkan oleh Laut Merah tetapi dulunya
merupakan struktur geologis tunggal. Namun, pergerakan magma cair jauh di
dalam bumi menyebabkan permukaannya retak di sepanjang Laut Merah, Teluk
Aden, dan Great Rift Valley di Afrika timur, yang semuanya saat ini perlahan-
lahan melebar dan mendorong wilayah tanah yang berdekatan selain dari satu sama
lain. Daerah daratan datar ini ditutupi oleh lautan pasir besar di Gurun Sahara dan
Semenanjung Arab. Bersama-sama lautan pasir ini memanjang 5.000 mil (8050
km) dari timur ke barat. Seluruh wilayah, membentang di Afrika Utara dan ke Asia
Tengah, memiliki iklim panas dan kering, meskipun bagian utara yang lebih
bergunung lebih dingin di bulan-bulan musim dingin.

Asia Barat Daya telah lama menjadi persimpangan perjalanan antara Asia,
Eropa dan Afrika. Itu adalah pusat peradaban manusia yang paling awal diketahui,
termasuk bangsa Sumeria (3500 hingga 199 SM), Mesir kuno (3000 hingga sekitar
30 SM), dan orang Babilonia dan Asyur (900 hingga 500 SM). Seperti di bagian
lain dunia, daerah pertanian menetap memiliki jumlah penduduk terbesar dan
sebagian besar ditemukan di sepanjang sungai, di daerah dataran tinggi yang lebih
lembab, dan di oasis gurun yang tersebar.

63
Peradaban Mesir kuno ada di sepanjang bagian tengah hingga hilir Sungai
Nil ribuan tahun, dengan periode dinasti berlangsung dari sekitar 3150 SM hingga
31 SM. Dinasti Mesir mencapai wilayah teritorial terbesar mereka sekitar 2000
SM, dan berakhir ketika ditaklukkan oleh Kekaisaran Romawi awal. Peradaban
Mesir didasarkan pada struktur sosial yang dirancang untuk mengelola perairan
Sungai Nil untuk mendukung pertanian. Ini termasuk pengembangan kolektif dan
pengelolaan sistem irigasi dan penguasa semi-ilahi untuk memengaruhi
ketidakpastian alam. Dari sinilah tumbuh sistem penulisan dan sastra, hubungan
perdagangan, dan dominasi militer atas wilayah tetangga, dan sistem kepercayaan
agama yang rumit. Piramida dan sphinx Giza adalah salah satu keajaiban dunia
kuno, dan terus menjadi salah satu pencapaian arsitektur paling luar biasa dalam
sejarah manusia.

Di negara-negara Islam yang lebih miskin, pemerintah dan organisasi


internasional menawarkan hibah bagi yang membutuhkan untuk membantu
membayar perjalanan ke Mekah, dan beberapa acara TV menawarkan perjalanan
haji sebagai hadiah pintu kompetitif. Karena banyaknya orang yang berpartisipasi
dalam haji dalam waktu singkat, pemerintah Saudi telah mengembangkan
infrastruktur yang luas untuk mengelola haji. Pemerintah Saudi mengeluarkan visa
khusus untuk warga negara non-Saudi untuk tujuan ziarah, dan hanya sejumlah
visa yang di alokasikan untuk masing-masing negara yang berasal dari peziarah.
Panduan sering kali disewa untuk membantu pelancong melakukan ritual haji,
mengatur penginapan, dan menyediakan makanan, minuman, transportasi, dan
layanan juru bahasa. Wanita didorong untuk melakukan haji bersama dengan
kerabat dekat pria, meskipun pemerintah Saudi akan mengizinkan wanita untuk
bepergian ditemani oleh sekelompok wanita lain jika mereka memiliki izin tertulis
dari kerabat pria. Pintu masuk ke Mekah dilarang untuk non-Muslim karena
seluruh kota dianggap sebagai situs suci bagi Islam.

Keyakinan agama di negara-negara Muslim terutama sangat


mempengaruhi pertumbuhan, operasi dan manajemen pariwisata. Bentuk

64
pariwisata yang menekankan budaya daripada rekreasi cenderung ditekankan, dan
resor wisata lebih cenderung berlokasi di pedalaman daripada di dekat pantai di
pantai. Wisata berbasis pantai dan pantai, khususnya, umumnya dipandang sebagai
penggerak utama kejahatan dengan mempromosikan rekreasi secara terbuka dan
kesenangan tubuh. Pandangan dunia ini telah mendorong dorongan perjalanan
domestik dan intra-regional daripada melayani orang asing non-Muslim, yang
berfungsi sebagai langkah perlindungan untuk mengurangi pengaruh wisatawan
Barat pada populasi tujuan.

Meskipun jumlah totalnya relatif rendah dibandingkan dengan daerah yang


lebih maju di dunia, dalam beberapa tahun terakhir Asia Barat Daya dan Afrika
Utara telah menjadi daerah dengan pertumbuhan tercepat untuk pariwisata
internasional di dunia. Dubai, salah satu dari tujuh emirat yang terdiri dari UEA,
telah menjadi pemimpin di daerah ini, membangun lanskap postmodern pulau
buatan manusia (dalam bentuk pohon-pohon palem raksasa), lintasan ski dalam
ruangan (terbesar di dunia), dan gedung tertinggi di dunia (160 lantai, akan selesai
pada 2009). Bahkan Arab Saudi, di antara negara-negara yang paling konservatif
beragama di kawasan itu, secara bertahap mendorong lebih banyak wisatawan
internasional. Investasi telah di fokuskan pada pengembangan hotel, rekreasi,
olahraga dan belanja serta maskapai penerbangan. Bahkan, dengan cara yang sama
bahwa di Asia Tenggara telah terjadi persaingan ketat antara Kuala Lumpur dan
Singapura untuk status hub, sehingga Negara-negara Teluk juga telah bersaing
untuk pariwisata internasional yang berkembang dan pasar perjalanan ke wilayah
teluk, serta pengembangan pariwisata persinggahan antara Asia Selatan dan Eropa.

9.3.3 Geografi Pariwisata Afrika

Afrika adalah yang terbesar kedua di benua dan kaya akan sumber daya
wisata alam dan budaya. Negara-negara Afrika Utara memiliki banyak
karakteristik yang sama dengan negara-negara di Timur Tengah. Memang ada
perbedaan budaya dan fisik utama antara Afrika Utara dan seluruh benua. Secara
fisik, Maroko, Aljazair, dan Tunisia sebagian besar terdiri atas gunung lipat yang

65
secara geologis mirip dengan Eropa Selatan. Sebagian besar pemandangan, kecuali
zona gurun pasir, menyerupai Yunani, Spanyol, atau Italia Selatan dan orang-
orangnya sebagian besar adalah orang Arab atau Berber.

Sebaliknya, sebagian besar Afrika selatan Sahara terdiri dari dataran tinggi
dan pegunungan blok, dengan hanya dataran pantai yang sempit yang dipisahkan
dari interior oleh tebing curam. Dalam hal etnis dan budaya mereka, negara-negara
berkembang di Afrika sub-Sahara berbeda dari negara-negara Arab di utara. Untuk
sebagian besar abad kedua puluh, semua negara ini, dengan pengecualian Ethiopia
dan Liberia, berada di bawah kekuasaan kolonial. Ini juga pengalaman negara-
negara Afrika Utara, yang memainkan peran penting di Uni Afrika (AU).
Meskipun Gurun Sahara bertindak sebagai penghalang fisik yang tangguh antara
negara-negara Afrika Utara dan negara-negara di selatan, sering dilintasi oleh
kafilah unta, yang memungkinkan pertukaran barang dagangan dan gagasan.

Luasnya Afrika sekaligus merupakan aset dan penghalang untuk


mengembangkan industri pariwisata. Di satu sisi, sebagian besar benua
berpenduduk jarang, menawarkan ruang terbuka lebar, kekayaan satwa liar yang
hampir unik, pemandangan spektakuler, dan budaya suku yang telah memikat
pelancong selama berabad-abad. Namun terlepas dari Afrika Utara, yang telah
memanfaatkan kedekatannya dengan Eropa, dan Afrika Selatan, dengan
infrastrukturnya yang berkembang dengan baik, potensi wisata benua ini sebagian
besar belum dimanfaatkan. Ini disebabkan oleh faktor-faktor berikut:

1. Aksesibilitas
Sebelum munculnya perjalanan udara, sebagian besar wilayah pedalaman
Afrika hampir tidak dapat di akses. Meskipun transportasi udara telah
menunjukkan pertumbuhan yang substansial, kontrol lalu lintas udara dan
infrastruktur bandara kurang dari standar Barat, dan banyak ahli
menganggap ini menghambat pengembangan pariwisata.
Ada sangat sedikit pelabuhan alami di sepanjang

66
pantai, dan bahkan penetrasi ke sungai terbesar, Kongo atau Zambezi
misalnya, di blokir oleh jeram dan air terjun. Infrastruktur jalan dan kereta
api umumnya tidak memadai di sebagian besar negara Afrika, sehingga
liburan wisata dapat menjadi tugas utama. Dengan tidak adanya
transportasi umum yang memadai, alternatif yang di improvisasi, seperti
'taksi semak' dari Gambia dan matatu Kenya, dapat digunakan oleh para
pelancong independen yang lebih berani.
2. Tingkat perkembangan ekonomi yang rendah
Sebagian besar negara Afrika termasuk dalam kategori 'paling tidak
berkembang' dengan hanya beberapa yang mencapai tingkat menengah
pembangunan. Mereka cenderung bersifat pedesaan, meskipun populasi
ibu kota nasional berkembang lebih cepat daripada penyediaan pekerjaan
atau layanan publik. Tingkat kemiskinan dan buta huruf pada umumnya
berarti bahwa perjalanan keluar terbatas hanya untuk kalangan elit,
sementara volume pariwisata domestik tidak signifikan dibandingkan
dengan negara-negara Barat. Meskipun beberapa negara melihat
pariwisata sebagai sumber mata uang asing yang penting dan stimulus
bagi perekonomian, banyak pemerintah memberikan pariwisata prioritas
rendah untuk investasi dibandingkan dengan sektor ekonomi lainnya.
3. Organisasi yang buruk
Ada tingkat organisasi yang umumnya buruk, terutama di tingkat regional.
Pemerintah juga menempatkan hambatan birokrasi di jalan wisatawan,
membuat perjalanan antar negara sulit. Pendidikan dan pelatihan untuk
sektor pariwisata memiliki standar yang buruk, dan anggaran pemasaran
tidak memadai.
4. Ketidakstabilan Politik
Beberapa 'tempat masalah' dunia terletak di Afrika, dipicu oleh kerusuhan
suku, persaingan etnis atau perselisihan perbatasan, karena batas-batas
politik yang dibuat pada era kolonial jarang sesuai dengan fitur alam atau
wilayah kesukuan. Beberapa negara Afrika karenanya adalah negara-

67
bangsa dalam pengertian Eropa. Ketidakstabilan ini telah menimbulkan
keprihatinan di media Barat atas keamanan fisik wisatawan, dan juga
telah mengecilkan investasi Barat di industri pariwisata.
5. Resiko kesehatan dan keselamatan
Tingginya insiden AIDS, serta penyakit yang ditularkan serangga seperti
malaria dan demam kuning, sebagian besar disebabkan oleh infrastruktur
yang tidak memadai dari layanan kesehatan masyarakat di sebagian besar
Afrika.
6. Lingkungan investasi yang skeptis
Investor sering enggan untuk berinvestasi di pariwisata di negara-negara
di mana iklim politik berubah, di mana pengembalian investasi mereka
tidak dijamin, dan inflasi harga tidak terkendali. Namun ini perlahan
berubah dan Afrika mendapat manfaat dari investasi dari Cina dan
sumber-sumber asing lainnya.

Semua kendala dan kelemahan struktural ini telah menggagalkan


kemampuan Afrika untuk memanfaatkan pasar jangka panjang yang sedang
tumbuh, dan jelas bahwa pariwisata masih merupakan industri yang masih baru.
Dari lebih dari 50 negara yang dipertimbangkan di kawasan ini, kurang dari
setengahnya telah mengembangkan industri pariwisata yang signifikan. Di negara-
negara yang tersisa, akomodasi hotel jarang ditemukan di luar ibukota nasional.
Namun, ada sejumlah faktor positif yang meningkatkan pariwisata Afrika di
milenium baru:

1. Ketertarikan pada masyarakat dan budaya Afrika;


2. Meningkatnya kecepatan dan variasi pengembangan pariwisata;
3. Afrika akan menarik bagi segmen populasi di pasar penghasil yang
memiliki waktu dan penghasilan untuk bepergian;
4. Meningkatnya pentingnya ikatan etnis antara Afrika dan Eropa. Sebagai
contoh, telah terjadi emigrasi besar-besaran sejak 1990-an dari Afrika

68
Utara dan Barat ke Eropa, dan juga arus dua arah imigran antara Inggris
dan Afrika Selatan;
5. Pertumbuhan pariwisata olahraga, menyatukan peserta dari banyak negara
di kawasan ini, seperti yang ditunjukkan oleh acara sepak bola Piala Afrika
dan All Africa Games;
6. Mengejar kebijakan ekonomi pasar bebas di banyak negara Afrika dan
7. Akses udara yang ditingkatkan.

9.4 Latihan

Jenis latihan: Tugas individu


Mahasiswa membuat itinerary perjalanan dengan Afrika sebagai destinasi wisata,
dalam bentuk material promosi dengan memperhatikan:
1. Kondisi geografis di Asia Tengah, Asia Timur, atau Asia Tenggara
2. Transportasi dan Akomodasi
3. Kondisi cuaca, waktu, currency, dan informasi lainnya yang berguna bagi
wisatawan
4. Lingkungan alam yang memiliki potensi wisata

Hasil kemudian dipresentasikan

9.5 Daftar Pustaka

1. Boniface, et al. 2009. Worldwide Destinations: The Geography of Travel and


Tourism. London: Elsevier
2. Lew, et al. 2008. World Geography Of Travel And Tourism: A Regional
Approach. Oxford: Butterworth-Heinemann

69
Modul 10: Geografi Pariwisata Eropa Dan Amerika

10.1 Tujuan

Setelah mengikuti praktikum ini mahasiswa diharapkan mampu menjabarkan


kondisi geografis dan destinasi wisata menarik pada wilayah Eropa dan Amerika.

10.2 Alat dan Bahan

1. Power point,
2. Video/film
3. Laptop, projektor LCD

10.3 Dasar Teori

10.3.1 Geografi Pariwisata Eropa

Fitur fisik menentukan batas-batas Eropa, namun dalam batas-batas ini,


Eropa adalah wilayah dengan keragaman ekonomi, sosial dan budaya yang
sangat besar. Meskipun demikian, Eropa terus mendominasi pariwisata dunia. Ini
terlepas dari kenyataan bahwa ia menyumbang hanya 11 persen dari populasi
dunia dan bagian yang lebih kecil dari total luas daratannya. Ekonomi yang kuat
di wilayah ini menyumbang sebagian besar negara-negara penghasil wisata
utama dunia, mendominasi arus keluar perjalanan internasional, dan juga
diperkirakan menghasilkan permintaan besar untuk perjalanan domestik. Eropa
unggul dalam sistem pariwisata dunia karena alasan berikut:

1. Sebagian besar ekonomi di kawasan ini berada pada tahap konsumsi


massal yang tinggi, atau dalam dorongan menuju kedewasaan. Bahkan
populasi yang menua, pada umumnya, kaya dan mobile, dan memiliki
kecenderungan tinggi untuk bepergian;
2. Eropa terdiri dari mozaik kaya bahasa, sumber daya budaya, dan tempat
wisata kaliber dunia;
3. Adopsi mata uang tunggal Eropa, euro, di banyak negara Eropa telah
memfasilitasi pariwisata;

70
4. Eropa terdiri dari banyak negara yang relatif kecil di dekatnya,
mendorong volume tinggi perjalanan internasional singkat;
5. Perbedaan iklim di kawasan ini sangat signifikan, yang mengarah - sejak
tahun 1950-an - ke arus wisatawan yang mencari matahari dari Eropa
Utara ke selatan;
6. Infrastruktur pariwisata Eropa sudah matang dan berstandar tinggi;
7. Sektor pariwisata di sebagian besar wilayah sangat maju, dan standar
layanan - meskipun bukan yang terbaik di dunia - bagus
8. Sebagian besar pemerintah Eropa memiliki otoritas wisata kompeten
yang didanai dengan baik dengan kekuatan pemasaran dan
pengembangan.

Struktur politik dan ekonomi Eropa stabil, yang menyediakan lingkungan


yang aman untuk investasi dalam pariwisata. Sejak 1980-an, pembongkaran Tirai
Besi dan pembukaan Eropa Timur, bersama dengan munculnya Pasar Eropa
Tunggal dan adopsi euro, telah menghilangkan hambatan bagi pergerakan
pariwisata di Eropa.

Secara fisik, tetapi tidak secara budaya, Eropa sebenarnya merupakan


perpanjangan dari Asia, semenanjung yang dikelilingi oleh tiga sisi melalui laut.
Batas timur jauh lebih tak tentu, ditandai oleh Pegunungan Ural yang tidak terlalu
mengesankan, Laut Kaspia, dan saluran air sempit yang menghubungkan Laut
Tengah dan Laut Hitam. Pandangan sekilas pada peta akan menunjukkan kepada
Anda bahwa batas ini, pada kenyataannya, diangkangi oleh dua negara penting,
Rusia dan Turki. Di Eropa kita dapat membedakan dua divisi fisik / iklim utama,
utara dan selatan, dipisahkan oleh serangkaian pegunungan seperti Alpen.

Ciri dominan Eropa Utara adalah dataran, dilintasi banyak sungai dan
membentang dari Inggris Selatan ke Rusia, dengan sisa-sisa sistem gunung yang
rusak di sepanjang pinggirannya. Di dataran inilah industri besar dan kota-kota
terletak, dan karenanya, bertindak sebagai sumber banyak wisatawan ke seluruh
Eropa. Eropa Selatan, di sisi lain, berbukit atau bergunung-gunung, hanya berisi

71
kantong-kantong kecil dataran rendah yang subur dan beberapa saluran air
pedalaman dengan panjang berapa pun.

Laut Eropa juga patut dipertimbangkan mengingat pentingnya pariwisata pantai,


di sebagian besar negara dengan garis pantai, lebih dari dua pertiga dari stok
akomodasi ditemukan di tepi laut. Pariwisata, bagaimanapun, hanya satu dari
banyak kegunaan pantai, yang menghasilkan masalah serius pencemaran dan
degradasi ekosistem laut.

Secara iklim, Eropa sangat bervariasi, di pinggiran barat dataran Eropa,


pengaruh Atlantik menjaga iklim tetap ringan, tetapi tidak dapat diprediksi,
sementara di timur lebih jauh, suhu lebih ekstrem di musim panas dan musim
dingin. Di pegunungan, tekanan tinggi dalam waktu lama menghadirkan langit
yang cerah dan visibilitas yang sangat baik, sementara iklim Mediterania dinilai
hampir sempurna untuk sebagian besar kegiatan pariwisata, dengan musim panas
yang cerah dan musim dingin yang ringan. Meskipun demikian, Eropa tidak luput
dari dampak perubahan iklim, dengan banyak resor olahraga musim dingin yang
menderita karena kurangnya salju dan negara-negara di selatan kawasan itu
mengalami gelombang panas yang berkepanjangan di musim panas.

Eropa tidak mewakili populasi atau masyarakat yang homogen, ada


mozaik bahasa, tradisi, dan budaya. Bagi mata orang Asia atau Afrika, ada
banyak kesamaan budaya dengan negara-negara Eropa, tetapi ini jauh lebih tidak
jelas bagi orang Amerika Utara, atau dalam hal ini bagi turis Inggris,
mengunjungi benua. Perbedaan budaya ini berakar pada sejarah dan sebagian
ditentukan oleh bahasa dan agama.

Banyak daerah pegunungan di Eropa mengandung komunitas yang secara


budaya berbeda dari dataran rendah di sekitarnya. Keterasingan mereka
sebelumnya membantu melestarikan gaya hidup tradisional, tetapi sekarang ini
semakin terancam, sebagian sebagai akibat dari pariwisata dan pembangunan
rumah kedua oleh penduduk kota yang makmur. Sejarah interaksi yang kompleks

72
antara berbagai budaya yang mencakup lebih dari dua milenium telah
meninggalkan warisan arsitektur yang kaya di seluruh Eropa yang sekarang
menjadi sumber daya pariwisata yang penting.

Berbagai tempat wisata di Eropa mengesankan dan banyak yang


berkualitas tinggi. Meskipun ada dorongan ke Eropa yang bersatu, perbedaan
yang sangat signifikan ada di antara negara-negara penyusunnya, dan
keanekaragaman di daerah yang kecil ini merupakan bagian utama dari daya tarik
Eropa bagi wisatawan. Sebuah divisi dapat dilihat dari segi fisik dan budaya
antara negara-negara utara dan selatan pegunungan Alpen dan antara negara-
negara Eropa Timur dan Barat.

Sektor akomodasi dan katering terutama ditandai oleh usaha kecil di


seluruh Eropa; di Inggris, lebih dari setengah perusahaan akomodasi dimiliki
secara independen, dan di Belanda dua pertiga memiliki kurang dari 16 kamar.
Namun, ada kecenderungan ke arah dominasi oleh jaringan hotel besar seperti
grup Prancis Accor. Ini dapat memanfaatkan peluang yang ditawarkan oleh
globalisasi dan Uni Eropa yang berkembang untuk memperluas operasi mereka
di seluruh Eropa, termasuk negara-negara Blok Timur sebelumnya.

Organisasi pariwisata di Eropa sangat kompleks. Setiap negara memiliki


administrasi dan tradisi tersendiri yang memengaruhi sektor publik dan swasta
dalam pariwisata. Setiap negara di Eropa memiliki organisasi pariwisata nasional,
didukung oleh organisasi regional dan lokal. Secara umum, fungsi organisasi-
organisasi ini adalah untuk mengembangkan dan mempromosikan pariwisata,
walaupun dalam beberapa kasus kekuatan mereka lebih luas dan mencakup
pendaftaran dan penilaian akomodasi serta pendidikan dan pelatihan. Ada
kecenderungan yang dapat diidentifikasi terhadap pelimpahan kekuatan
pariwisata dari tingkat nasional ke daerah, dan sebuah langkah untuk melibatkan
sektor swasta dalam kegiatan-kegiatan dewan pariwisata. Organisasi individual
dan kekuatan mereka dijelaskan dalam bab-bab yang relevan, tetapi sejak awal

73
1980-an, Uni Eropa juga telah terlibat dalam organisasi dan administrasi
pariwisata.

10.3.2 Geografi Pariwisata Amerika

Meskipun benua Amerika hanya menduduki peringkat ketiga di tujuan


wisata dunia, setelah Eropa dan kawasan Asia-Pasifik, pariwisata di Amerika
tetap merupakan fenomena penting, dengan 210,9 juta kedatangan internasional
untuk 2017, mewakili 16% dari kedatangan wisatawan dunia. Sejumlah negara
Amerika, seperti AS dan Kanada, memiliki pariwisata rumah yang sangat maju.
Secara keseluruhan, pergerakan wisata memiliki pengaruh struktural yang kuat
pada ekonomi, masyarakat dan wilayah di seluruh Amerika. Mayoritas
kedatangan wisatawan terkonsentrasi di Amerika Utara, dengan 137 juta
kedatangan untuk 2017, sedangkan, untuk periode yang sama, hanya ada 36,7
juta di Amerika Selatan, 26 juta di Karibia dan 11,2 juta di Amerika Tengah.

Dalam ketidakseimbangan geografis ini, AS muncul sebagai pemimpin


yang tidak diperdebatkan baik untuk rumah dan pariwisata internasional, mencari
secara teratur sebagai negara ketiga yang paling banyak dikunjungi di dunia,
seperti pada 2017, dengan 76,9 juta pengunjung internasional, jauh di depan
Meksiko dan Kanada. Keadaan ini sebagian disebabkan oleh perkembangan
pariwisata yang sudah berlangsung lama di AS dan Kanada, di mana itu dimulai
pada tahun 1850-an, meskipun di Argentina sudah ada sejak tahun 1880-an,
tetapi pada dasarnya ini mencerminkan kesenjangan antar negara di tingkat
pembangunan ekonomi dan mereproduksi hegemoni North-over-South ekonomi
dan sosial-politik yang biasanya diamati.

Efek kumulatif dari pariwisata sudah terkenal: negara-negara terkaya


mendapatkan wisatawan terbanyak dan mendapatkan keuntungan terbesar dari
dampak langsung pariwisata. Sejak 1995, jumlah pengunjung internasional telah
tumbuh 330% untuk Amerika Tengah dan 230% untuk Amerika Selatan,
sedangkan pertumbuhannya masing-masing 86% dan 70% untuk Karibia dan

74
Amerika Utara. Sejak tahun 1970-an, penelitian tentang pariwisata dalam disiplin
ilmu sosial telah memberikan banyak pertimbangan ke wilayah Amerika,
sehingga membantu memperluas bidang "Studi pariwisata".

Pendekatan Amerika Utara cenderung selama periode yang cukup lama


untuk memperdagangkan dinamika yang beragam dari daerah-daerah wisata
daripada berkontribusi pada teori tentang pengembangan pariwisata. Banyak
penelitian terus membahas topik-topik seperti pengembangan pariwisata di
kawasan lindung, beragam bentuk wisata pedesaan yang terlihat dalam kaitannya
dengan pertanyaan identitas dan penggunaan lahan, atau pengembangan kota
yang dihasilkan dari infrastruktur wisata berskala besar. Secara lebih luas,
banyak pekerjaan telah dilakukan pada sejarah pariwisata sebagai hasil dari peran
perintis yang dimainkan oleh AS dalam menciptakan model spasial spesifik,
yang disebarluaskan berdasarkan budaya wisata massal. Baru-baru ini penelitian
anglophone dan hispanophone telah bergerak ke arah visi politik tentang
konsekuensi pariwisata global khususnya di Amerika Latin.

Ahli etnologi dan ahli geografi khususnya telah menyoroti dampak buruk
pariwisata yang berasimilasi dengan perluasan kolonialisme atau pariwisata yang
dipandang sebagai realitas pasca-kolonial. Kecaman kritis terhadap pariwisata
hari ini telah bergeser ke arah analisis ketergantungan yang berfokus pada Utara
/ Selatan dan ketidaksetaraan kelas dalam konteks globalisasi. Setelah konferensi
PBB tentang pembangunan berkelanjutan, penelitian cenderung berhubungan
dengan manajemen publik wilayah, gerakan sosial dan komunitas atau pariwisata
solidaritas. Di Brasil dan tempat lain di Amerika Latin, studi pariwisata melihat
secara teratur artikulasi antara lingkungan, kawasan lindung, dan inklusi sosial.

Di seluruh benua Amerika, inilah alasan di balik kreasi bersejarah dan


kontemporer dari fasilitas yang dibuat khusus, sebuah fakta yang menjelaskan
diferensiasi dan diversifikasi seluruh tipologi kawasan wisata. Membedakan
alasan di balik pengembangan wisata daerah adalah pertanyaan menganalisis dan

75
mendekonstruksi apa yang disebut oleh ahli geografi Prancis tertentu le moment
de lieu, faktor waktu tempat.

Ketika tempat-tempat baru muncul di bidang pariwisata, penjelasannya


biasanya membawa evolusi permainan dalam representasi budaya, penemuan
dan keberhasilan dalam praktik wisata dan peningkatan daya beli. Hervé Théry
di sini menunjukkan peran yang dimainkan di Brasil oleh pertumbuhan kelas
menengah di bawah pemerintah Lula dalam pembentukan perdagangan wisata
yang kuat di mana pariwisata rumah lebih dominan. Konsolidasi dua tujuan
utama, Nordeste dan wilayah Sao Paulo, Berasal dari kedekatan tempat wisata
dengan populasi sarana yang meningkat dan dari pembangunan "Keinginan"
sosial untuk berlibur. Lebih jarang dipanggil, perubahan iklim juga mendorong
munculnya tujuan baru di mana aksesibilitas baru membuka bidang wisata
perintis.

Alain Grenier menggambarkan bagaimana pemanasan global dan


pencairan es Kutub Utara di Kanada telah menyebabkan perkembangan kapal
pesiar kutub di mana wisatawan kaya mengaktifkan kembali impian perbatasan
yang tidak terjangkau. Mengenai peran representasi dalam pengembangan wisata,
Serge Jaumain memberikan studi tentang presentasi sejarah Quebec dalam
panduan wisata yang di produksi sejak 1960-an. Pemandu wisata
mengungkapkan representasi pergeseran dari suatu wilayah dan mencerminkan
transformasi sosial, budaya dan politiknya.

Pengembangan wisata jangka panjang dapat dipelajari dari sudut pandang


geopolitis dan ekonomi karena tujuan wisata utama berubah baik sebagai hasil
dari persaingan di pasar wisata yang sangat mengglobal dan model wilayah yang
diberlakukan. Model terkenal yang menggambarkan siklus hidup pertumbuhan
berturut-turut dan kemerosotan tujuan wisata yang ditemukan oleh ahli geografi
Richard W. Butler, Siklus Hidup Area Pariwisata, berutang banyak reputasi
ilmiahnya dengan cara yang memberikan pemahaman tentang banyak wilayah
Amerika, baik taman nasional, daerah perkotaan atau resor tepi laut. Michel

76
Desse, Jusline Rodné, Monique Gherardi dan Simon Charrier
mendemonstrasikan bagaimana pengembangan wisata kepulauan Karibia,
terutama berdasarkan atas kapal pesiar, dapat dipertanggungjawabkan baik oleh
konteks ekonomi global dan cara di mana aktor publik dan swasta lokal
berpartisipasi dalam pengembangan . Dua model pembangunan yang
bertentangan terlibat: model tertutup, eksklusif, secara genealogis dari komunitas
resor, dan model inklusif di integrasikan ke dalam wilayah kehidupan penduduk
lokal.

Akhirnya, tema klasik studi pariwisata, terutama yang berkaitan dengan


Amerika Latin, adalah efek dari pengembangan wisata di daerah dan masyarakat
di dalamnya. Dalam perspektif ini, Laura Henry menggunakan analisis terperinci
tentang pengembangan wisata daerah penghasil kakao di Republik Dominika dan
Kosta Rika untuk menunjukkan bagaimana pariwisata telah menghasilkan
valorisasi bidang pertanian tertentu. Dengan menghapus banyak sekali dari stok
gambar resor pantai Dominika dan wisata alam Kosta Rika, pengembangan
wisata pedesaan ini telah memberikan karya untuk kualitas kakao lokal
sementara pada saat yang sama berkontribusi pada pemberdayaan perempuan.

Wisata komunitas dianggap sebagai penggerak pembangunan sosial dan


ekonomi tetapi pada kenyataannya sesuai dengan pemikiran yang berlangsung
pada akhir 1990-an yang sering disebut sebagai "pariwisata yang berpihak pada
masyarakat miskin". Berpromosi seperti halnya aksesibilitas, peluang, dan
pekerjaan di daerah-daerah yang lebih terpencil dan kurang beruntung, pariwisata
komunitas juga dapat memicu kesadaran baru yang mendukung keanekaragaman
budaya dan, selanjutnya, sebuah penaikan nilai terhadap warisan alam, budaya,
atau material. Populasi asli Yucatán berbagi dalam pengembangan komunitas
mereka dengan mengembalikan warisan alam dan mengambil bagian dalam
berlakunya proyek pariwisata alternatif nasional di daerah-daerah asli.

Menganalisis prakarsa wisata masyarakat, Samuel Jouault merinci


kemunculan situs perintis yang menawarkan praktik wisata alternatif di kawasan

77
yang ditandai oleh pariwisata massal. Cenote ini sebelumnya dipandang sebagai
tempat marginal, kadang-kadang digunakan sebagai tempat pembuangan sampah
terbuka, tetapi sekarang telah diubah menjadi situs yang sangat penting,
menawarkan fasilitas menyelam dan dikelola dengan cara masyarakat. Terlepas
dari sejumlah contoh yang menggembirakan, ada kritik terhadap pariwisata yang
berpihak pada orang miskin dengan alasan ketidakmampuannya untuk
mengurangi kemiskinan atau untuk memecahkan masalah sosial dan lingkungan
di masyarakat setempat. Contoh masyarakat adat Gunas di Panama menunjukkan
bahwa meskipun dikelola sendiri, pariwisata asli belum tentu berkelanjutan.

Jauh dari ekowisata, struktur manajemen masyarakat yang sangat hierarki


agaknya mempromosikan pendekatan yang tidak berkelanjutan dan sangat
menguntungkan untuk pariwisata yang menimbulkan konflik sosial dan
lingkungan baik dalam masyarakat Guna maupun dengan pemerintah Panama.
Sehubungan dengan kemunculan tujuan baru, Alain Grenier secara khusus
memunculkan masalah tentang seberapa jauh populasi lokal benar-benar
berpartisipasi sejak itu, sejauh menyangkut Arktik Kanada, pariwisata di wilayah
Inuit akan berlangsung sebagian besar tanpa keterlibatan masyarakat setempat.

Pariwisata terletak di jantung keprihatinan berkaitan dengan pelestarian


dan pengembangan benda-benda peninggalan, baik sebagai validasi strategi
pembangunan yang timbul dari label kualitas yang diberikannya atau sebagai
sesuatu yang harus dikelola dan dikendalikan. Keinginan untuk pengakuan
internasional, bersama dengan tugas panjang menyusun aplikasi untuk status
warisan UNESCO, mengarah ke dialog lokal / global dan menyisihkan area
dalam proses patrimonialisasi ke dalam arena pariwisata global. Untuk Konvensi
Warisan Dunia, konsep Outstanding Universal Value menjamin kesatuan di
seluruh properti yang terdaftar, sementara pada saat yang sama menekankan
keanekaragaman situs dan presentasi mereka, dan mempercepat pembaruan
pendekatan berdasarkan pengenalan kategori baru seperti yang dari lanskap
budaya pada tahun 1992.

78
Ketiganya, kopi di Kolombia, agave di Meksiko dan Quebrada de
Humahuaca di Argentina, mengirim berkas yang berusaha membangun narasi
peninggalan yang bertujuan untuk pengembangan wisata. Gambar dan bahasa,
kadang-kadang eksterior di alam dan / atau disampaikan oleh aktor daerah
tertentu, disorot sedemikian rupa untuk menunjukkan munculnya identitas, atau
bahkan merek daerah yang kuat, dengan estetika lanskap, bahkan dengan harga
membangun citra buatan yang sesuai dengan gagasan yang sudah dimiliki
pengunjung tentang tempat itu.

Ketidaksepakatan berkaitan dengan manajemen dan dengan faktor-faktor


immaterial dan simbolis yang terlibat dalam peruntukan menimbulkan
pertanyaan tentang warisan dan tata kelola wisata. Properti warisan dapat di
integrasikan ke dalam kebijakan pariwisata sebagai keunggulan yang
membedakan, memperkuat daya tarik suatu daerah. Instrumentasi demonstratif
dari tango, yang dinyatakan sebagai warisan budaya tidak material oleh otoritas
Buenos Aires pada tahun 2009, berjalan seiring dengan sejumlah inisiatif swasta
yang membentuk ekonomi wisata tango yang lengkap.

Tidak ada tingkat ketegangan yang tidak signifikan antara warisan


immaterial global, di umpankan ke wisatawan dalam pertunjukan tango dan
kejadian besar, dan tango yang lebih berbasis sosial, dilihat oleh portofolio dunia
tanguero sebagai warisan lokal mereka. Gagasan resistensi terhadap bentuk
hegemonik konstruksi warisan yang berkorelasi dengan pengembangan wisata
daerah juga dipelajari oleh Sébastien Jacquot, yang melihat kota Valparaiso
melalui prisma kemunculannya yang kontroversial sebagai tujuan wisata budaya.

Untuk memulihkan citra pasca-krisis kota, otoritas sipil telah memilih


wisata warisan yang digarisbawahi oleh status Warisan Dunia yang diperoleh
oleh Valparaiso pada tahun 2003. Logika perlindungan dan pencatatan, bersama
dengan proyek pembangunan kota besar, telah memunculkan topografi ,
perubahan sosial dan kewirausahaan yang telah mengubah seluruh lanskap kota.

79
Ketidakpuasan yang diungkapkan oleh penduduk berpusat pada proses
gentrifikasi, penggusuran penduduk lokal, bersama dengan spekulasi yang
berlebihan dan pengembangan wisata pada cerro status warisan sekarang, yang
merupakan penyitaan dan penugasan kembali dari distrik berlabel UNESCO.
Pengembangan wisata yang meluas juga di luar area yang paling simbolis
menghasilkan alternatif, geografi kota wisata dan warisan.

10.4 Latihan

Jenis latihan: Tugas individu

Mahasiswa secara Individu membuat itinerary perjalanan menuju Eropa dan Amerika
sebagai destinasi wisata, dalam bentuk brosur dengan memperhatikan:

1. Kondisi geografis di Eropa


2. Transportasi yang digunakan
3. Akomodasi
4. Tanggal perjalanan
5. Kondisi cuaca, waktu, currency, dan informasi lainnya yang berguna bagi
wisatawan

Desain brosur kemudian dipresentasikan di Kelas.

10.5 Daftar Pustaka

1. Andreu-Boussut, et al. 2018. “Tourism in the Americas: Territories,


Experiences and New Issues?”. Journal Le tourisme dans les Amériques. Vol
12. Le Mans, France: le mans université
2. Boniface, et al. 2009. Worldwide Destinations: The Geography of Travel and
Tourism. London: Elsevier

80
Modul 11: Geografi Pariwisata Australia

11.1 Tujuan

Setelah mengikuti praktikum ini mahasiswa diharapkan mampu menjabarkan


kondisi geografis dan destinasi wisata menarik pada wilayah Australia, New Zealand,
dan Pacific Island.

11.2 Alat dan Bahan

1. Power point,
2. Video/film
3. Laptop, projektor LCD

11.3 Dasar Teori

11.3.1 Geografi Pariwisata Australia

Australia dianggap sebagai benua terkecil atau pulau terbesar di dunia.


Ukurannya 3/4 ukuran Eropa, benua terkecil kedua. Ini tiga kali ukuran Greenland,
pulau terbesar di dunia. Australia dianggap sebagai benua daripada pulau, sebagian,
karena perbedaan budayanya dari daerah sekitarnya. Secara budaya, Australia
terutama Eropa dengan populasi kecil di Asia dan minoritas asli. Jika diselesaikan
oleh orang-orang Melayu-Polinesia, seperti Indonesia di utara dan Polinesia di
timur, Australia mungkin dianggap sebagai perpanjangan dari Asia dan pulau
terbesar di dunia, alih-alih dari benua yang terpisah.

Populasi Australia memiliki lebih dari 21 juta orang (Biro Statistik


Australia), yang kira-kira sama dengan pulau-pulau di Sri Lanka dan Taiwan,
tetapi jumlah penduduknya jauh lebih sedikit daripada peningkatan tahunan di
India atau Cina. Keterbatasan utama pada populasi Australia adalah daya dukung
benua yang rendah. Hanya 8 persen dari tanah Australia yang subur (cocok untuk
pertanian), dan hanya 1 persen cocok untuk pertanian intensif, seperti yang
ditemukan di Amerika Serikat bagian tengah dan di Ukraina. Perubahan iklim
memiliki dampak mendalam pada produksi pertanian Australia karena negara itu

81
semakin hangat, dan meningkatnya kemungkinan kejadian cuaca berfrekuensi
tinggi dengan frekuensi tinggi, seperti banjir dan kekeringan, meningkat.

Australia memiliki potensi wisata yang luar biasa, berkat iklimnya yang
cerah, satwa liar yang unik, dan fitur alami, serta garis pantai - panjangnya lebih
dari 36.000 kilometer - yang mencakup beberapa pantai sarang terbesar di dunia
dan terumbu karang terbesar. Namun, sebagian besar benua telah rusak oleh ribuan
tahun erosi dan akibatnya, letaknya relatif rendah dibandingkan dengan benua lain,
dengan hanya beberapa pegunungan dan inselberg - singkapan berbatu terisolasi
yang naik tiba-tiba dari dataran sekitarnya. Pengecualian utama adalah sistem
gunung - yang dikenal sebagai Great Dividing Range - yang membentang
sepanjang 3600 kilometer di sepanjang batas timur benua, mencapai titik tertinggi
- 2200 meter - di Gunung Kosciuszko. Pegunungan ini memisahkan sabuk pantai
yang subur - tempat sebagian besar kota dan fasilitas wisata berada - dari
pedalaman. Australia juga dapat mengklaim sebagai benua paling kering di dunia.
Sebagian besar pedalaman - negara semak yang luas dan berpenduduk sedikit yang
membentang di sebelah barat Sungai Darling - adalah gurun atau semi-gurun, di
mana danau-danau yang ditunjukkan pada peta biasanya berupa hamparan garam
dan sungai-sungai hanyalah serangkaian kolam atau billabong.

Sumber daya alam Australia yang paling menarik adalah tanaman -


terutama gusi dan pial yang tahan kekeringan (eucalypts dan acacias),
menghasilkan lanskap yang sangat khas, dan hewan berkantung yang hanya asli di
pulau. Memang, Australia memiliki lebih dari 2000 kawasan alam yang dilindungi,
termasuk taman nasional, bukti lanskap unik dan budaya dan fauna benua. Bentang
alam ini memberikan peluang besar untuk pariwisata. Wisatawan dapat mencari
emas atau batu permata, melakukan wisata mengamati paus atau lumba-lumba,
ikut serta dalam safari kendaraan roda empat yang memungkinkan lebih banyak
petualang untuk mengunjungi daerah-daerah terpencil yang jauh dari jalan-jalan
segala cuaca atau mencoba olahraga petualangan seperti abseiling dan arung jeram.
Australia adalah pemimpin dalam meminimalkan dampak lingkungan dari

82
kegiatan rekreasi ini. ATC memiliki tanggung jawab keseluruhan untuk memantau
dampak lingkungan dari pariwisata dan telah memprakarsai sejumlah strategi dan
penghargaan ekowisata federal dan negara bagian untuk praktik pariwisata
berkelanjutan.

Populasi Australia melebihi 21 juta pada 2007 dan terkonsentrasi di


beberapa kota besar - Sydney dan Melbourne merupakan hampir 40 persen dari
populasi. Pusat-pusat utama lainnya termasuk Brisbane, Adelaide dan Perth.
Canberra adalah kota yang relatif kecil, meskipun merupakan ibukota federal.
Karakter perkotaan populasi Australia memiliki pengaruh penting pada pola
pariwisata yang telah berkembang. Ekonomi yang maju dan beragam berarti
bahwa orang Australia menikmati standar hidup yang tinggi. Tingkat kepemilikan
mobil, misalnya, mendekati tingkat Amerika Utara, dengan total hampir 10 juta
kendaraan pada tahun 2001, dan pengaruhnya terlihat pada penyebaran pinggiran
kota di sekitar kota-kota besar. Partisipasi dalam kegiatan di luar ruangan sangat
tinggi menurut standar Eropa. Olahraga peserta yang paling populer adalah tenis,
berenang, berlayar, dan berselancar. Fasilitas olahraga sangat baik, didorong oleh
Olimpiade Sydney pada tahun 2000, dan olahraga penonton termasuk sepak bola,
kriket, dan pacuan kuda - dilambangkan oleh Piala Melbourne. Judi juga populer,
dengan kasino dan klub menghasilkan pendapatan yang besar dan menarik
pengunjung asing, terutama dari Asia.

Di Australia, 95 persen fauna dan 85 persen keanekaragaman flora


endemik, yang berarti mereka hanya ditemukan di Australia. Di antara tumbuhan
dan hewan asli Australia, spesies non-endemik sebagian besar ditemukan di bagian
paling utara benua, bermigrasi ke sana dari Asia Tenggara. Gurun dan langkah
Australia tengah membuat para migran ini berada di utara benua dan menjauhi
spesies endemik lebih jauh ke selatan. Di antara spesies hewan endemik Australia,
58 persen adalah mamalia plasenta, dan 43 persen adalah mamalia berkantung.
Hewan-hewan plasenta mungkin bermigrasi ke Australia dari Asia Tenggara sejak

83
lama. Hampir sepertiga dari plasenta adalah tikus dan tikus, 25 persen adalah
kelelawar, dan yang terbesar adalah anjing dingo (anjing liar) sebesar 0,3 persen.

Industri pariwisata di Australia terutama melayani permintaan domestik


yang besar, dan hingga 1980-an sedikit perhatian diberikan pada kebutuhan
pengunjung asing. Sampai baru-baru ini, standar layanan acuh tak acuh, sebagian
karena sikap egaliter yang lazim di negara ini. Sebagian perubahan terjadi sebagai
akibat dari banyaknya emigran dari Eropa Selatan dan Eropa Timur, dan, pada
tingkat lebih rendah, dari Asia. Orang-orang Australia Baru ini telah memperluas
jangkauan hiburan dan restoran yang ditawarkan di kota-kota yang mereka adopsi
dan standar yang sangat ditingkatkan di hotel-hotel Australia, yang totalnya ada
lebih dari 5.000.

11.3.2 Geografi Pariwisata New Zealand

Selandia Baru dipisahkan dari Australia oleh Laut Tasman, yang lebarnya
1900 kilometer dan sering badai. Selandia Baru secara scenically sangat berbeda
dari tetangganya yang besar, membual gunung berapi, gletser, dan fjord di antara
daya tarik alamnya - latar belakang untuk penyajian trilogi Lord of the Rings. Flora
dan fauna asli sangat berbeda dengan Australia. Sebagian besar dari ini, termasuk
burung-burung unik yang tak dapat terbang, terancam punah sebagai akibat dari
diperkenalkannya spesies baru oleh orang Eropa dalam proses pembukaan 'semak-
semak' untuk tanah pertanian. Selandia Baru adalah salah satu negara pertama
yang membangun taman nasional dengan model Amerika, untuk melestarikan apa
yang tersisa dari warisan alam. Ada minat luas dalam masalah lingkungan, yang
di contohkan oleh oposisi terhadap uji coba nuklir Prancis di Kepulauan Tuamotu.
Selandia Baru juga aktif melindungi garis pantai dan perairan lepas pantai yang
luas dengan sistem cadangan laut.

Sebagian besar Selandia Baru berbukit atau bergunung-gunung dan aset


wisata terbesar negara adalah keindahan dan ragam pemandangannya. Dua pulau
besar yang membentuk sebagian besar Selandia Baru menawarkan lingkungan

84
yang sangat berbeda. Sebagian besar Pulau Utara terdiri dari dataran tinggi
vulkanik, sementara Pulau Selatan didominasi oleh pegunungan berlipat tinggi,
Pegunungan Alpen Selatan, yang mengandung gletser, lapangan salju, dan garis
pantai fjord yang terjal dan berindentasi dalam.

Iklim Selandia Baru mendukung jenis rekreasi luar ruangan yang lebih
aktif, dengan suhu yang setara dan suasana bebas polusi. Meskipun pulau-pulau
menikmati lebih banyak sinar matahari daripada Kepulauan Inggris, sinar matahari
tidak dijamin, dan rentang lintang yang ditempati oleh pulau-pulau berarti bahwa
sementara Auckland memiliki iklim sub-tropis, di Invercargill 1600 kilometer
lebih jauh ke selatan, suhu lebih mirip dengan yang dialami di pulau-pulau barat
Skotlandia. Hal ini membuat pariwisata domestik berada pada posisi yang kurang
menguntungkan dibandingkan dengan destinasi asing seperti Gold Coast Australia,
Bali, dan pulau-pulau Pasifik. Gunung-gunung di Kepulauan Utara dan Selatan
cukup tinggi untuk menerima hujan salju lebat, dengan musim ski berlangsung dari
Juli hingga Oktober.

Warisan budaya Selandia Baru meliputi ekonomi pastoral yang


berorientasi ekspor, dan demam emas abad kesembilan belas di Westland dan
Otago yang mengingatkan pada pengalaman Australia. Namun, Selandia Baru
dijajah oleh Inggris sejak awal dengan pemukim bebas, berbeda dengan asal-usul
terpidana imigran Eropa pertama Australia. Orang-orang Maori asli memiliki
budaya yang sangat maju, jika suka perang, berasal dari tanah air mereka di
Polinesia. Mereka sekarang berjumlah sekitar 12 persen dari populasi dan warisan
budaya mereka, yang di ekspresikan dalam kerajinan dan tarian, membentuk unsur
penting dalam daya tarik wisata Selandia Baru. Suku Maori telah menjadi lebih
terintegrasi sepenuhnya ke dalam budaya nasional arus utama daripada penduduk
asli Australia, meskipun insiden pengangguran dan masalah sosial lainnya di
masyarakat Maori lebih tinggi daripada rata-rata nasional.

Sebagian besar perusahaan pariwisata di Selandia Baru adalah usaha kecil


yang melayani permintaan domestik. Namun, pengunjung asing sering tertarik ke

85
daerah pedesaan terpencil dan berpenduduk jarang, di mana sektor swasta tidak
ekonomis untuk mengembangkan fasilitas resor berstandar internasional. Di masa
lalu, pemerintah campur tangan dengan membiayai Tourist Hotel Corporation
untuk mengoperasikan hotel berkualitas di lokasi yang indah. Sejak 1980-an rantai
hotel internasional telah mengembangkan hotel-hotel besar di resor-resor utama,
terutama melayani pasar tur inklusif; sementara pondok-pondok mewah melayani
ujung atas pasar pelancong independen. Ladang pertanian juga tersedia di seluruh
Selandia Baru, memberikan pendapatan selamat datang ke sektor pertanian yang
tidak lagi menerima subsidi pemerintah.

Sistem transportasi Selandia Baru berkembang dengan baik. Topografi


pegunungan telah mendorong meluasnya penggunaan layanan udara domestik
yang menghubungkan kota-kota utama - Auckland, Wellington, Christchurch dan
Dunedin - dan area resor. Pesawat ringan khusus dilengkapi membawa Alpen
Selatan mudah di jangkau wisatawan, sementara jalur hiking dan jalan raya
pegunungan yang indah digunakan oleh yang lebih berani. Transportasi kereta api
telah menurun, kecuali pada beberapa rute yang indah. Sebuah jaringan layanan
bus menyediakan akses ke sebagian besar wilayah negara itu, sedangkan layanan
feri Wellington - Picton melintasi Selat Cook bertindak sebagai penghubung vital
antara Kepulauan Utara dan Selatan. Auckland dan Wellington berfungsi sebagai
gateway penting ke wilayah Pasifik Selatan dan merupakan pusat utama untuk
perjalanan bisnis.

Selandia Baru memiliki basis sumber daya yang luas untuk tamasya,
ekowisata dan wisata petualangan, yang mencakup beberapa hiburan yang tidak
biasa, jika tidak berisiko, seperti berperahu jet, parapenting, zorbing dan bungee-
jumping, serta kayak laut dan arung jeram. Wisata pantai, terutama untuk
memenuhi permintaan domestik, dikembangkan dengan baik di pantai timur Pulau
Utara, dengan resor seperti Hastings dan Napier, dan berselancar adalah kegiatan
yang populer. Auckland, Rotorua, dan Wellington adalah pusat wisata utama di
Pulau Utara, yang melayani sebagian besar permintaan internasional.

86
11.3.3 Geografi Pariwisata Pacific Islands

Gambar 'Kepulauan Laut Selatan' tentang laguna biru, pantai karang


berpohon palem, pemandangan rimbun, dan penduduk pulau yang ramah memiliki
daya tarik yang kuat bagi calon pelarian dari masyarakat industri di Barat. Sejauh
ini, jarak yang sangat jauh yang memisahkan pulau-pulau Pasifik dari negara-
negara penghasil wisatawan telah mencegah pengembangan pariwisata massal,
berdasarkan matahari, pasir, dan laut, jadi secara kolektif mereka hanya
menyumbang 0,15 persen dari kedatangan dunia. Pengecualiannya adalah Hawaii
dan, pada tingkat lebih rendah, Fiji. Ada sedikit permintaan untuk pariwisata
domestik atau outbound, dan sebagian besar kedatangan di bandara di banyak
pulau adalah emigran yang kembali mengunjungi keluarga mereka.

Di dalam wilayah yang dikenal sebagai Pasifik Selatan (timur Australia,


Selandia Baru dan pulau-pulau Samudra Pasifik), dan pulau-pulau Pasifik utara,
pada dasarnya ada dua jenis pulau fisiografi: tinggi dan rendah. Pulau-pulau tinggi
biasanya memiliki gunung berapi tinggi di tengahnya. Gunung ini menyebabkan
angin laut yang lembab naik, membentuk awan dan curah hujan. Pulau-pulau
tinggi cenderung memiliki curah hujan sepanjang tahun (sumber penting air tawar)
dan hutan tropis. Populasi cenderung jauh lebih besar di pulau-pulau tinggi karena
curah hujan dan tanah vulkanik yang kaya mampu mendukung pertanian. Pulau-
pulau rendah biasanya merupakan atol karang. Mereka dulunya adalah pulau-
pulau tinggi tetapi terkikis oleh angin, hujan dan ombak, dan pulau-pulau asli
sekarang sering jauh di bawah permukaan laut. Di atas pulau asli, karang telah
tumbuh dan material cangkang keras telah terkikis untuk membentuk bentangan
tanah berpasir di atas laut. Beberapa di antaranya cukup besar, dan kadang-kadang
memiliki laguna air tawar di tengahnya. Karena ketinggian mereka tidak tinggi,
mereka tidak menangkap banyak curah hujan dari angin yang lewat, dan mereka
cenderung jauh lebih panas dan lebih kering, dengan beberapa memperlihatkan
kondisi hampir seperti gurun. Memancing adalah sumber utama makanan di pulau-
pulau rendah, dan populasinya cenderung lebih kecil daripada di pulau-pulau

87
tinggi. Baik pulau-pulau tinggi dan rendah di Pasifik dibentuk terutama oleh
tabrakan dari beberapa lempeng samudera besar, yang menyebabkan gempa bumi
dan aktivitas gunung berapi.

Sebagian besar pulau Pasifik memiliki iklim lembab tropis, ditandai


dengan curah hujan yang melimpah dan radiasi matahari yang kuat, dengan suhu
udara dan laut rata-rata di atas 20 ° C, sepanjang tahun. Angin laut mengurangi
panas dan kelembaban, terutama di Polinesia, tetapi badai tropis sering terjadi
selama musim hujan dan dapat menyebabkan kerusakan luas. Pulau-pulau yang
lebih besar umumnya berasal dari gunung berapi, bergunung-gunung, dan ditutupi
dengan vegetasi mewah, dengan terumbu karang tepi di sepanjang pantai. Pulau-
pulau yang lebih kecil sebagian besar adalah atol karang, dataran rendah dan terdiri
dari sedikit lebih dari sebaris kecil pasir, hampir menutupi apa yang mungkin
merupakan laguna yang luas.

Jarak antar-pulau jauh lebih baik dibandingkan dengan Karibia, sehingga


sulit untuk mengunjungi lebih dari beberapa negara dalam satu rencana perjalanan,
sementara tidak adanya kesepakatan lintas-jalur antara berbagai maskapai
penerbangan nasional menambah biaya perjalanan. Di masa lalu, layanan
pengiriman menghubungkan pulau-pulau, tetapi ini telah lama menurun. Namun,
sebagian besar pemerintah di kawasan ini mengakui bahwa, mengingat sumber
daya keuangan mereka yang terbatas, beberapa tingkat kerjasama internasional
diperlukan. Organisasi Pariwisata Pasifik Selatan (SPTO) memainkan peran
penting dalam mempromosikan sebagian besar negara di kawasan ini. Investasi
untuk pengembangan fasilitas harus datang terutama dari sumber modal eksternal,
tidak hanya di Barat tetapi juga semakin meningkat di negara-negara Asia seperti
Jepang dan Korea Selatan. Akomodasi hotel umumnya berstandar tinggi,
dirancang sesuai dengan lingkungan dan tradisi bangunan setempat. Masalah
utama adalah kurangnya infrastruktur, terutama jalan yang buruk dan tenaga kerja
lokal yang kurang terampil.

88
Orang-orang Negrito (pertama kali diperkenalkan pada bab Asia Tenggara)
adalah yang paling awal untuk menetap di Oceania. Tidak pasti berapa lama
mereka tinggal di Asia Tenggara dan Australia, meskipun mereka jelas-jelas
mendahului kedatangan orang-orang Melayu. Saat ini, keturunan terdekat mereka
bertahan hidup dalam jumlah kecil di pulau-pulau dan perbukitan pedalaman Asia
Selatan dan Tenggara. Mereka ditandai oleh kulit hitam, bertubuh pendek dan
bergelombang ke rambut keriting. Suku Aborigin Australia dan Melanesia Pasifik
Selatan juga melacak kembali ke orang-orang Negrito awal. Mela berarti hitam,
dan Melanesia adalah salah satu dari tiga wilayah utama Pasifik Selatan. Termasuk
di Melanesia adalah Papua Nugini, Kepulauan Solomon dan Kaledonia Baru,
semua di antara pulau-pulau terbesar di Pasifik Selatan.

Dalam bidang pariwisata dan istilah pembangunan yang lebih luas,


hambatan utama dari kepulauan Pasifik Selatan adalah ukurannya yang kecil dan
lokasinya yang terpencil / terpencil. Karena pulau-pulau kecil, mereka cenderung
memiliki kepadatan populasi yang tinggi dan tekanan penggunaan lahan relatif
terhadap daya dukung mereka. Karena mereka terpencil, pengiriman barang dan
mengangkut pengunjung ke dan antar pulau sangat mahal. Demikian juga,
beberapa pulau sangat terpencil sehingga akses hanya dapat diperoleh sekali atau
dua kali seminggu melalui udara atau bulanan dengan kapal. Meskipun beberapa
telah memiliki sumber daya mineral yang berguna di masa lalu, bagi sebagian
besar, keuntungannya adalah fasilitas alam dan budaya, termasuk pemandangan
alamnya, iklim hangat, budaya yang unik dan peluang rekreasi.

Pariwisata, bersama dengan aspek-aspek lain dari masyarakat konsumen


Barat, telah menjadi berkat beragam bagi Kepulauan Pasifik. Sebagian besar
penduduk pulau telah kehilangan keterampilan mereka untuk swasembada di
bidang pertanian dan perikanan dan menjadi sangat bergantung pada makanan
impor, dengan efek negatif pada standar makanan. Budaya asli dalam hal apa pun
berada di bawah tekanan hebat selama dua abad dari para misionaris, pedagang,
dan administrator Barat yang menerapkan sistem nilai mereka sendiri. Pemerintah

89
di kawasan itu memandang pariwisata sebagai satu-satunya peluang mereka untuk
meningkatkan standar kehidupan dan mengurangi ketergantungan pulau-pulau itu
pada pasar dunia untuk ekspor kopra dan produk lainnya. Pariwisata telah
membantu menghidupkan kembali cerita rakyat pulau dan menyediakan pasar baru
untuk kerajinan tangan tradisional mereka. Namun, sebagian besar pengeluaran
oleh wisatawan gagal memberi manfaat bagi ekonomi lokal karena tidak tinggal
di pulau-pulau. Sebagian besar hotel dimiliki oleh perusahaan asing, dan impor
makanan dan minuman harus dilakukan untuk memenuhi persyaratan wisatawan.
Kecuali jika pengembangan pariwisata direncanakan secara hati-hati sehubungan
dengan daya dukung, kerusakan lebih lanjut kemungkinan besar akan berdampak
pada budaya tradisional pulau-pulau dan lingkungan laut yang rapuh yang
merupakan sumber daya utama mereka. Yang terakhir ini sudah berada di bawah
ancaman dari efek perubahan iklim, dengan suhu laut yang lebih tinggi yang
mengakibatkan kematian karang besar-besaran di seluruh wilayah Pasifik yang
luas, sementara atol dataran rendah terkena kenaikan permukaan laut dan lebih
sering terjadi badai.

Dalam bidang pariwisata dan istilah pembangunan yang lebih luas,


hambatan utama dari kepulauan Pasifik Selatan adalah ukurannya yang kecil dan
lokasinya yang terpencil / terpencil. Karena pulau-pulau kecil, mereka cenderung
memiliki kepadatan populasi yang tinggi dan tekanan penggunaan lahan relatif
terhadap daya dukung mereka. Karena mereka terpencil, pengiriman barang dan
mengangkut pengunjung ke dan antar pulau sangat mahal. Demikian juga,
beberapa pulau sangat terpencil sehingga akses hanya dapat diperoleh sekali atau
dua kali seminggu melalui udara atau bulanan dengan kapal. Meskipun beberapa
telah memiliki sumber daya mineral yang berguna di masa lalu, bagi sebagian
besar, keuntungannya adalah fasilitas alam dan budaya, termasuk pemandangan
alamnya, iklim hangat, budaya yang unik dan peluang rekreasi.

Saat ini, banyak pulau sangat bergantung pada pariwisata untuk


kesejahteraan finansial mereka. Fiji, tujuan paling populer dalam hal kedatangan

90
tahunan, terutama disukai oleh orang Amerika Utara, Australia, dan Selandia Baru.
Negara ini telah menjadi fokus banyak pengembangan resor dalam beberapa
dekade terakhir, dengan resor baru saat ini sedang dibangun. Budaya Fiji, termasuk
kunjungan ke pusat-pusat budaya, dan pantai adalah produk utama di Fiji. Banyak
dari pulau-pulau kecilnya yang terpencil, telah menjadi tempat peristirahatan
dengan hak mereka sendiri, menarik minat terutama bagi para siswa muda, liburan
musim semi yang menyenangkan dan siswa sekolah dari luar negeri. Seperti
disinggung sebelumnya, kudeta militer telah mengganggu Fiji selama beberapa
dekade terakhir, termasuk kudeta non-kekerasan baru-baru ini pada bulan
Desember 2007, yang secara efektif menghentikan pariwisata ke pulau-pulau
selama beberapa bulan, meskipun sejak itu telah pulih dengan baik. Sebagian besar
pulau (misal., Kepulauan Cook, Samoa, Tonga) memiliki produk serupa dengan
tujuan matahari, laut, dan pasir yang terkenal. Kerusuhan politik dalam beberapa
tahun terakhir telah menyelesaikan pariwisata terbatas di Kepulauan Solomon, dan
negara itu telah muncul dalam daftar peringatan di seluruh dunia.

11.4 Latihan

Jenis latihan: Tugas kelompok

Membuat itinerary perjalanan dengan Australia, New Zealand, dan Pacific Island
sebagai destinasi wisata, dan memperhatikan:

1. Keunikan wilayah di Australia, New Zealand, dan Pacific Island


2. Transportasi yang digunakan
3. Akomodasi
4. Tanggal perjalanan
5. Kondisi cuaca, waktu, currency, dan informasi lainnya yang berguna bagi
wisatawan

Hasil diskusi kelompok kemudian dipresentasikan dalam bentuk video.

91
11.5 Daftar Pustaka

1. Boniface, et al. 2009. Worldwide Destinations: The Geography of Travel and


Tourism. London: Elsevier
2. Lew, et al. 2008. World Geography Of Travel And Tourism: A Regional
Approach. Oxford: Butterworth-Heinemann

92
Modul 12: Wisata Halal
12.1 Tujuan

Setelah mengikuti praktikum ini mahasiswa diharapkan mampu menjelaskan


konsep dan menerapkan pengembangan wisata halal.

12.2 Alat dan Bahan

1. Power point,
2. Video/film
3. Laptop, projektor LCD

12.3 Dasar Teori

12.3.1 Wisata Halal

Wisata halal merupakan konsep baru pariwisata berbeda dengan wisata religi
seperti umroh dan menunaikan ibadah haji. Wisata halal adalah pariwisata yang
melayani liburan dengan menyesuaikan gaya liburan dengan menyesuaikan gaya
liburan dengan menyesuaikan gaya liburan sesuai dengan kebutuhan dan
permintaan traveller muslim. Menurut Sucipto dan Andayani (2014: 104) wisata
halal mempunyai panduan umum sebagai berikut:

1. Daya tarik wisata meliputi wisata alam, wisata budaya, dan wisata buatan
2. Tersedia fasilitas ibadah yang layak dan suci
3. Tersedia makanan dan minuman halal
4. Pertunjukkan seni dan budaya serta atraksi yang tidak bertentangan dengan
kriteria umum wisata syariah
5. Terjaga kebersihan sanitasi dan lingkungan

Segmentasi pasar produk halal saat ini sangat potensial, perkiraan


konsumennya mencapai dua miliar muslim di dunia membutuhkan produk halal
dan potensi produk halal global 600 miliar dolar AS dan meningkat 20-30 persen
pertahun.

93
Wisata halal atau halal tourism adalah salah satu sistem pariwisata yang
diperuntukkan bagi wisatawan yang pelaksanaannya mematuhi aturan agama
Islam. Chookaew (2015) menjabarkan empat aspek penting yang harus
diperhatikan untuk menunjang suatu pariwisata halal, diantaranya:

1. Lokasi
Lokasi pariwisata yang dipilih merupakan yang diperbolehkan kaidah
agama dan dapat meningkatkan nilai-nilai spiritual wisatawan. Lokasi
dapat berupa panorama alam, budaya, kuliner, tempat ibadah, serta
peninggalan sejarah.
2. Transportasi
Penerapan sistem dalam transportasi, seperti pemisahan tempat duduk
antara laki-laki dan perempuan yang bukan dalam ikatan pernikahan
ataupun keluarga.
3. Konsumsi
Wisata halal sangat memperhatikan segi ke halalan makanan dan minuman.
Yang dimaksudkan dalam hal ini adalah halal baik dari sifatnya, cara
penyembelihannya, perolehannya, maupun pengolahannya.
4. Hotel
Hotel dalam lingkup wisata halal merupakan seluruh proses kerja dan
fasilitas yang disediakan berjalan sesuai dengan atau ramah bagi prinsip
agama. Pelayanan dalam hotel wisata halal tidak sebatas dalam lingkup
makanan maupun minuman, namun juga dalam fasilitas yang diberikan
seperti adanya fasilitas ibadah.

12.3.2 Potensi Pariwisata Halal di Lombok NTB

Pariwisata Lombok memiliki karakter pulau yang sangat unik dan jarang
sekali ditemui di daerah-daerah lainnya. Pulau yang mendapat julukan sebagai
pulau seribu masjid ini memiliki keragaman budaya yang sangat kaya. Hal ini
tercermin dari beraneka ragamnya suku atau etnis yang mendiami pulau tersebut.
Suku sasak adalah penduduk asli Lombok yang mendiami lebih dari 2/3 wilayah

94
Lombok. Selain suku Sasak, terdapat juga suku Samawa dan Mbojo. Seni dan
budaya masyarakat di Lombok, seperti musik dan tarian, lebih dipengaruhi
kebudayaan Hindu daripada Islam. Kerukunan antar etnis dan beragama
disajikan sebagai suatu identitas kerukunan berbudaya dan beragama yang
humanis dan religius.

Keragaman etnis melahirkan potensi pariwisata yang lebih bagi sebuah


destinasi pariwisata, pulau Lombok memiliki dua potensi wisata andalan yakni
keindahan wisata alam dan keunikan budaya masyarakatnya. Lombok memiliki
wisata alam yang tersebar diseluruh bagian pulau, ketinggian Gunung Rinjani
hingga hamparan pantai di sekelilingnya. Lombok tidak hanya menyajikan
pemandangan dan topografi seperti pantai, gunung, air terjun, sungai, dan danau
tetapi juga peristiwa alam yang tidak ditemukan di destinasi lain.

Potensi wisata yang dimiliki oleh Lombok harus berkomitmen dan selaras
dengan kesiapan sumber daya manusia yang ada dalam melakukan eksplorasi
secara maksimal untuk kemudian digunakan sebesar-besarnya bagi kesejahteraan
masyarakat sekitar. Artinya, potensi pariwisata dikelola dan terus dikembangkan
sehingga memiliki nilai jual dalam bentuk wisata yang berciri khas pulau
Lombok, Nusa Tenggara Barat. Oleh karena itu, hal yang terpenting untuk
dilakukan adalah memilah objek mana yang berpotensi untuk dikembangkan
secara profesional sebagai destinasi maupun pendukung pariwisata halal baru.

Pengembangan wisata di suatu daerah sangat didukung kearifan lokal,


destinasi pariwisata di suatu daerah akan menjadi roh yang menguatkan karakter
unik dan daya tariknya yang spesifik. Sehingga perkembangan destinasi wisata
halal menekankan pada kawasan ekonomi khusus (KEK) Mandalika di Lombok
dipadukan dengan kearifan lokal yang diunggulkan sebagai pariwisata halal
tingkat dunia.

Selanjutnya, untuk lebih memperkenalkan destinasi di setiap kawasan


yang dikembangkan, diperlukan berbagai strategi sosialisasi atau promosi antara

95
lain melalui event-event tertentu, melalui iklan di media elektronik maupun cetak,
pembayaran brosur, kegiatan seminar, lomba karya tulis, dan lain sebagainya.
Semua dimaksudkan agar publik termotivasi untuk mengetahui lebih dekat
mengenai kawasan pariwisata ini.

12.3.3 Potensi Pariwisata Halal di Jepang

Jepang merupakan salah satu destinasi wisata yang populer di Asia,


karena Jepang memiliki aneka ragam budaya dan adat istiadat yang unik.
Walaupun negara maju dan telah mengalami modernisasi, Jepang mampu
mempertahankan budaya tradisionalnya. Bangunan-bangunan dengan arsitektur
khas Jepang, misalnya, masih dipertahankan di antara sekian banyak bangunan
pencakar langit. Tulisan-tulisan berhuruf kanji juga masih dipergunakan dan
menguasai setiap sudut kota hingga abad milenium ini.

Perpaduan unik antara budaya tradisional dan modern, budaya teratur,


bersih, dan disiplin merupakan nilai unik dari pariwisata Jepang yang pertama
kali dirasakan oleh wisatawan ketika menginjakkan kaki di Jepang. Lingkungan
yang bersih dan teratur, serta tidak adanya sampah-sampah yang berserakan
membuat suasana kota menjadi nyaman dan indah dipandang. Hal yang menarik
di Jepang adalah kesadaran penduduk akan kerapian dan kebersihan yang sangat
tinggi.

Masyarakat Jepang, pada umumnya, sangat ramah dan suka menolong,


bahkan beberapa diantaranya tidak segan untuk mengantar wisatawan yang
tersesat sampai ke tempat tujuan, walaupun terkadang ada kendala bahasa antara
masyarakat dengan wisatawan. Selain budaya, adat-istiadat, dan masyarakat,
sistem transportasi Jepang menjadi daya tarik pariwisata. Kereta bawah tanah dan
bus yang selalu datang tepat waktu, aman, dan murah menjadi suatu daya tarik
tersendiri. Warga Jepang sendiri memiliki kesadaran yang tinggi untuk
menggunakan transportasi publik. Di ruas-ruas jalan utama yang terkenal seperti
Shibuya, Shinjuku, dan beberapa tempat lainnya, wisatawan dapat melihat warga

96
sekitar berlalu-lalang, menyeberang jalan dan berjalan kaki daripada kendaraan
pribadi.

Menurut data Organisasi Pariwisata Nasional Jepang (JNTO), jumlah


wisatawan Jepang dari Indonesia terus meningkat dalam waktu lima tahun
terakhir, yakni 158.739 pada tahun 2018. Wisatawan Indonesia yang berkunjung
ke Jepang meningkat setiap tahunya, terutama ketika kebijakan pemberlakuan
bebas visa bagi pemegang paspor elektronik diresmikan pada tahun 2015 lalu.
Menurut Yoichi Matsuyama, pemimpin Organisasi Pariwisata Nasional Jepang,
dalam Nihayati (2017: XIX), menyatakan bahwa peningkatan wisatawan
Indonesia di Jepang juga di motivasi karena adanya penyelenggaraan festival
salju di Hokkaido.

Melihat perkembangan wisatawan yang cukup pesat, pemerintah Jepang


menargetkan kunjungan dua puluh juta wisatawan pada tahun 2020 saat
diselenggarakan kegiatan Olimpiade Musim Panas. Guna mencapai target
tersebut, pemerintah Jepang mempersiapkan diri dengan membangun sarana dan
prasarana penunjang, salah satunya bagi wisatawan muslim. Pemerintah Jepang
membangun ruang ibadah bagi wisatawan muslim di bandara-bandara
internasional, serta melakukan perbaikan sarana dan prasarana. Selain itu,
pemerintah Jepang juga menaruh perhatian pada ketersediaan makanan halal.
Restoran halal tidak hanya ditargetkan bagi wisatawan muslim, tetapi juga
diperkenalkan di universitas-universitas yang ada di Jepang guna melayani
mahasiswa muslim.

Pemerintah Jepang dalam rangka mewujudkan wisata halal, bekerja sama


dengan sejumlah asosiasi, di antaranya Ryomo Muslim Inbound Development
Council (Majelis Muslim), Made in Japan Halal Support Committee, dan Japan
Halal Foundation (JHF). Selain dengan Asosiasi, pemerintah Jepang juga bekerja
sama dengan sejumlah perusahaan seperti Sanurai Travel, Halal Gourment Japan,
Laox, dan Sekai Café dalam konteks bahu membahu mengkampanyekan
keberadaan restoran serta café yang menyediakan makanan halal di Jepang.

97
Program kampanye konsorsium ini telah dilakukan dengan tajuk “Muslim
Welcome”.

Konsorsium ini menggandeng konsorsium di Indonesia, yakni Japan


Halal Tour Center (JHTC), dalam rangka meyakinkan wisatawan muslim asal
Indonesia untuk berkunjung ke Jepang. Pada tanggal 6 hingga 10 Agustus 2016,
JHTC diundang oleh Ryomo Muslim Inbound Development Council (majelis
muslim) ke Jepang. Kunjungan ini dipusatkan di restoran, hotel, dan sejumlah
tempat wisata di Tokyo, serta Sano dan Nikko. Tujuannya adalah untuk
memastikan kesiapan fasilitas yang ramah bagi wisatawan muslim dan
memberikan masukan mengenai fasilitas halal di beberapa area kuliner, hotel,
serta tempat-tempat wisata di tiga kota tersebut.

Kunjungan tersebut menghasilkan tiga kerja sama antara Indonesia dan


Jepang, yaitu sertifikasi halal, pertukaran wisatawan, serta pertukaran informasi
dan pengetahuan. Melalui ketiga kerja sama tersebut, diharapkan wisatawan
muslim Indonesia dapat mengetahui fasilitas wisata yang sudah dijamin halal,
sebaliknya pemerintah setempat juga bisa mendapatkan masukan dari JHTC
terkait persiapan fasilitas-fasilitas halal.

Kebijakan pemerintah Jepang dalam mempopulerkan pariwisata halal ini


menciptakan peluang bisnis bagi perusahaan lokal. Beberapa agen perjalanan
telah mulai menawarkan program khusus bagi wisatawan muslim, bahkan
sebagian agen perjalanan menyediakan panduan belajar tentang makanan halal
dan perusahaan perancang paket khusus bagi umat islam

Dua maskapai besar Jepang, yaitu Japan Airlines (JAL) dan All Nippon
Airways (ANA), turut berpartisipasi menyediakan menu halal dalam
penerbangan. Layanan menu halal ini berlaku untuk rute tertentu, dan untuk
menggunakan layanan ini penumpang harus mengirimkan sebuah permintaan
kepada maskapai penerbangan setidaknya satu hari sebelum jadwal penerbangan.

98
Industri busana muslim pun mulai merambah di negara ini. Sejumlah
desainer Jepang yang tergabung dalam asosiasi telah mengikuti berbagai event
Internasional, salah satunya Indonesia Fashion Week di Jakarta, dan
menampilkan koleksi busana muslim. Selain peningkatan di sektor publik,
produk keuangan halal juga tumbuh di Jepang, seperti kartu bank syariat.

12.4 Latihan

Jenis latihan: Tugas Kelompok

1. Mahasiswa analisa potensi wisata halal di Indonesia dan mengkaji potensi


wisatawan mancanegara melalui wisata halal di Indonesia
2. Mahasiswa, dalam kelompok yang terdiri atas 5 orang, membuat surat
penawaran paket perjalanan wisata halal di Indonesia untuk wisatawan
mancanegara

12.5 Daftar Pustaka

1. Andayani, Ni Luh Henny. 2014. Manajemen Pemasaran Pariwisata.


Yogyakarta: Penerbit Graha Ilmu
2. Chookaew, et al. 2015. “Increasing Halal Tourism Potential at Andaman Gulf
in Thailand for Muslim Country” dalam Journal of Economics, Business and
Management, Vol. 3, No. 7. Vilnius, Lithuania: Vilnius Gediminas Technical
University
3. Nihayati, Laily. 2017. Wisata Halal Jepang. Jakarta: PT Gramedia Pustaka
Utama
4. Mahmud, et al. 2018. Mimpi Wisata Syariáh: Studi Atas Pelaksanaan Wisata
Syariáh Pulau Santen Banyuwangi. Banyuwangi: LPPM Institut Agama Islam
Ibrahimy Genteng Banyuwangi
5. Merinda, Maria Fansiska. 2015. Best Of Japan. Jakarta: PT Alex Media
Komputindo
6. Muaini. 2018. Buku Ajar Kebudayaan dan Pariwisata. Yogyakarta: Penerbit
Garudhawaca

99
Modul 13: Desa Wisata dan Ekowisata

13.1 Tujuan

Setelah mengikuti praktikum ini mahasiswa diharapkan mampu menjelaskan


konsep, prinsip, fungsi, dan tujuan ekowisata.

13.2 Alat dan Bahan

1. Power point,
2. Video/film
3. Laptop, projektor LCD

13.3 Dasar Teori

13.3.1 Desa Wisata

Indonesia merupakan Negara kepulauan yang memiliki keindahan alam


untuk mendukung kemajuan sektor pariwisata. Keindahan alam Indonesia saat ini
sudah terkenal bukan hanya di Negara Indonesia sendiri, informasi mengenai
keindahan alam Indonesia sudah menyebar luas ke berbagai Negara di dunia.
Keadaan tersebut, membuat sektor pariwisata tumbuh pesat di Indonesia, menurut
data yang dikemukakan oleh menpar, pada tahun 2014 ini, pertumbuhan
pariwisata di Indonesia adalah sebesar 9,39%, mengalahkan pertumbuhan
ekonomi yang hanya 5,04 %. Artinya, sektor pariwisata tumbuh dengan pesat di
Indonesia.

Saat ini, pariwisata adalah sektor ekonomi mutlak di Indonesia. Pada tahun
2009, pariwisata menempati urutan ketiga dalam hal penerimaan devisa sesudah
komoditi minyak dan gas bumi dan minyak kelapa sawit. Menurut data BPS tahun
2010, jumlah wisatawan mancanegara yang datang ke Indonesia sebesar 7 juta
lebih atau tumbuh sebesar 10, 74% dibanding tahun 2009. Pada mulanya, dan
menyumbangkan devisa untuk negara sebesar 7. 603, 45 juta dolar Amerika
Serikat. Namun, pada kenyataannya kemajuan sektor pariwisata di Indonesia
belum memberikan dampak yang baik pada kehidupan masyarakat di sekitarnya.

100
Keuntungan dari kemajuan pariwisata di Indonesia masih dikuasai oleh investor-
investor yang memiliki modal besar untuk membangun infrastruktur yang
mendukung kegiatan pariwisata di Indonesia. Pengusaha-pengusaha yang
bergerak di bidang perhotelan dan restoran tentu mendapat keuntungan yang
sangat besar akan keberadaan pariwisata di suatu wilayah.

Masyarakat saat ini seharusnya mampu mendapatkan keuntungan lebih


banyak dari pariwisata di wilayahnya. Pariwisata berbasis komunitas (community
based tourism) adalah sebuah konsep yang menekankan masyarakat untuk mampu
mengelola dan mengembangkan objek wisata oleh mereka sendiri.

Ciri-ciri khusus dari Community Based Tourism menurut Hudson (Timothy,


1999:373) adalah berkaitan dengan manfaat yang diperoleh dan adanya upaya
perencanaan pendampingan yang membela masyarakat lokal serta lain kelompok
memiliki ketertarikan/minat, yang memberi kontrol lebih besar dalam proses sosial
untuk mewujudkan kesejahteraan. Sedangkan Murphy (1985:153) menekankan
strategi yang terfokus pada identifikasi tujuan masyarakat tuan rumah dan
keinginan serta kemampuan mereka menyerap manfaat pariwisata. Menurut
Murphy setiap masyarakat harus didorong untuk mengidentifikasi tujuannya
sendiri dan mengarahkan pariwisata untuk meningkatkan kebutuhan masyarakat
lokal. Untuk itu dibutuhkan perencanaan sedemikian rupa sehingga aspek sosial
dan lingkungan masuk dalam perencanaan dan industri pariwisata memperhatikan
wisatawan dan juga masyarakat setempat.

Wujud dari konsep community based tourism adalah dikembangkannya


desa-desa wisata, dimana dalam desa wisata, masyarakat desa yang berada di
wilayah pariwisata mengembangkan potensinya baik potensi sumber daya alam,
budaya, dan juga potensi sumber daya manusianya (masyarakat setempat).
Keberadaan desa wisata di Indonesia saat ini sudah semakin berkembang pesat.
Hanya dalam kurun waktu tiga tahun, jumlah kunjungan ke desa wisata bertambah
lima kali lipat. Mengacu data Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata, saat ini di

101
Indonesia terdapat 987 desa wisata. Jumlahnya semakin meningkat sejak pertama
diselenggarakannya desa wisata pada tahun 2009.

13.3.2 Ekowisata

Konsep pembangunan berkelanjutan dirumuskan oleh The World


Commissions for Environmental and Development (WCED), yaitu komisi dunia
untuk lingkungan dan pembangunan, yang dibentuk oleh Majelis Umum PBB.
WCED mendefinisikan pembangunan berkelanjutan sebagai pembangunan yang
dapat menjamin pemenuhan kebutuhan generasi sekarang tanpa mempertaruhkan
kemampuan generasi mendatang dalam memenuhi kebutuhan mereka sendiri.
Tujuannya adalah memadukan pembangunan dengan lingkungan sejak awal
proses penyusunan kebijakan dan pengambilan keputusan yang strategis sampai
kepada penerapannya di lapangan.

Sekitar tahun 1980-an lahir suatu konsep Alternative tourism yang


memberikan suatu kritikan terhadap paradigma lama tentang pariwisata.
Pembangunan pariwisata pada paradigma lama cenderung merupakan
pembangunan besar-besaran dengan di cirikan oleh pertumbuhan yang cepat,
eksploitasi sumberdaya alam tanpa memperhatikan kelestariannya, dan
marginalisasi kepentingan masyarakat lokal. Paradigma baru pariwisata kemudian
muncul sebagai kritik terhadap segenap penyimpangan praktik pariwisata massal
(mass tourism). Konsep baru inilah yang kemudian populer dinamakan ekowisata.

Ekowisata (Fennel dalam Arida, 2017:15) merupakan wisata berbasis alam


yang berkelanjutan dengan fokus pengalaman dan pendidikan tentang alam,
dikelola dengan sistem pengelolaan tertentu dan memberi dampak negatif paling
rendah terhadap lingkungan, tidak bersifat konsumtif dan berorientasi pada lokal
(dalam hal kontrol, manfaat yang dapat diambil dari kegiatan usaha).

Konsep pembangunan pariwisata yang memperhatikan adanya


keseimbangan antara aspek kelestarian alam dan ekonomi adalah konsep
ekowisata dan wisata minat khusus (Fandeli, 2002). Melalui ekowisata, wisatawan

102
dan seluruh komponen yang terkait dengan penyelenggaraan wisata diajak untuk
lebih peka terhadap masalah lingkungan dan sosial sehingga diharapkan
sumberdaya alam tetap lestari dan wisatawan mempunyai apresiasi lingkungan
yang tinggi. Di samping itu, masyarakat di sekitar objek pariwisata memperoleh
keuntungan dari penyelenggaraan pariwisata, karena wisatawan ekowisata yang
datang umumnya mempunyai tujuan mencari kesempatan untuk bersatu dengan
alam dan budaya lokal dengan menjauhi hiruk-pikuk suasana perkotaan.

Ekowistaa memiliki tiga perspektif, yakni: pertama, ekowisata sebagai


produk; kedua, ekowisata sebagai pasar; dan ketiga, ekowisata sebagai pendekatan
pengembangan. Sebagai produk, ekowisata merupakan semua atraksi yang
berbasis pada sumberdaya alam. Sebagai pasar, ekowisata merupakan perjalanan
yang diarahkan pada upaya-upaya pelestarian lingkungan. Akhirnya sebagai
pendekatan pengembangan, ekowisata merupakan metode pemanfaatan dan
pengelolaan sumberdaya pariwisata secara ramah lingkungan.

Menurut para pengamat ekowisata Indonesia, ekowisata di definisikan


sebagai penyelenggaraan kegiatan wisata yang bertanggung jawab di tempat-
tempat alami dan/atau daerah-daerah yang dikelola berdasarkan kaidah alam,
dengan tujuan selain untuk menikmati keindahan, juga melibatkan unsur
pendidikan, pemahaman, dan dukungan terhadap usaha-usaha konservasi alam dan
peningkatan kesejahteraan masyarakat setempat (G. Sudarto dalam Arida, 2017:
19).

Definisi ini kemudian dijabarkan dalam lima prinsip, yaitu (1) memiliki
kepedulian, tanggung jawab, dan komitmen terhadap kelestarian lingkungan; (2)
pengembangannya harus didasarkan atas musyawarah dan persetujuan masyarakat
setempat; (3) memberikan manfaat kepada masyarakat setempat; (4) peka dan
menghormati nilai-nilai sosial-budaya dan tradisi keagamaan yang dianut
masyarakat setempat; serta (5) memperhatikan peraturan perundang-undangan di
bidang lingkungan hidup dan kepariwisataan.

103
Ekowisata adalah kegiatan wisata yang bersifat khas. Dalam hal ini hanya
kegiatan yang mengandung unsur “eco” saja yang dapat dikelompokkan ke dalam
ekowisata, yaitu memperhatikan aspek ekologis, ekonomi dan persepsi masyarakat,
bahkan secara khusus ada ahli yang yang mengatakan bahwa kegiatan ekowisata
ini mesti melibatkan unsur pendidikan.

Ekowisata merupakan salah satu bentuk wisata alternatif yang bukan


semata-mata memberikan wisatawan hiburan dari alam lingkungan tetapi juga
diharapkan wisatawan dapat berpartisipasi langsung untuk mengembangkan
konservasi lingkungan sekaligus pemahaman yang mendalam tentang seluk beluk
lingkungan tersebut sehingga membentuk suatu kesadaran bagaimana harus
bersikap untuk melestarikan wilayah tersebut dimasa kini dan masa yang akan
datang. Wisata alam juga merupakan jenis wisata yang memanfaatkan keindahan
dan kekayaan alam secara langsung maupun tidak langsung. Kegiatan langsung
diantaranya tracking, bersepeda dan lain-lain. Kegiatan tidak langsung seperti
piknik menikmati keindahan alam dan melihat-lihat flora dan fauna.

Ekowisata mulai menjadi isu nasional di Indonesia sejak digelarnya


seminar dan lokakarya nasional yang diselenggarakan oleh Pact-Indonesia dan
WALHI, Bulan April 1995 di Wisma Kinasih Bogor. Dalam acara tersebut
dihasilkan suatu rumusan kegiatan ekowisata, bahwa masyarakat setempat harus
dilibatkan dalam pengelolaan ekowisata secara proporsional. Pada bulan Juli 1996
di Bali diselenggarakan Lokakarya Nasional kedua, dalam acara tersebut terbentuk
sebuah forum, yaitu Masyarakat Ekowisata indonesia (MEI). Gerakan ekowisata
nasional mencapai titik-titik tonggaknya, antara lain dengan pengembangan
ekowisata di Kepulauan Seribu, di Tanjung Puting (Kalimantan), Gunung Halimun
(Jawa Barat) Gunung Leuser (Sumatra) dan lain-lain.

104
13.4 Latihan

Jenis latihan: Tugas Individu

1. Mahasiswa melakukan kunjungan pada desa wisata yang terletak di wilayah


Jabodetabek
2. Menyusun rangkaian aktivitas wisata yang dapat dikembangkan dalam desa
wisata tersebut dalam sebuah surat penawaran paket wisata

13.5 Daftar Pustaka

1. Aínun, et al. 2014. “Pengembangan Desa Wisata Melalui Konsep Community


Based Tourism” dalam Jurnal Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat.
Bandung: Universitas Padjajaran
2. Arida, I Nyoman Sukma. 2017. Ekowisata: Pengembangan, Partisipasi Lokal,
dan Tantangan Ekowisata. Denpasar: Cakra Press
3. Fandeli, C. 2002. Perencanaan Kepariwisataan Alam. Yogyakarta: Fakultas
Kehutanan UGM
4. Murphy, P.E. 1985. Tourism: A Community Approach. London: Methuen
5. Timothy, et al. 1999. Community-Based Ecotourism Development on the
Periphery of Belize. London: Taylor & Francis

105
Modul 14: Wisata Pilgrim

14.1 Tujuan

Setelah mengikuti praktikum ini mahasiswa diharapkan mampu menjelaskan


konsep, prinsip, fungsi, dan tujuan wisata pilgrim.

14.2 Alat dan Bahan

1. Power point,
2. Video/film
3. Laptop, projektor LCD

14.3 Dasar Teori

14.3.1 Wisata Pilgrim

Wisata pilgrim (ziarah) adalah jenis pariwisata yang sepenuhnya atau


kuat memotivasi wisatawan untuk pencapaian sikap dan praktik keagamaan.
Salah satu jenis tertua mengunjungi atraksi dan pengalaman global di masa
pertumbuhan spiritual, itu dapat dibedakan menjadi bentuk yang berbeda.
Tamasya keagamaan sementara terkenal dengan kunjungan ke dekat dengan
pusat ziarah atau konferensi keagamaan. Tahan lama menyiratkan kunjungan
beberapa hari atau minggu ke konferensi atau situs ziarah nasional dan seluruh
dunia.

Seorang peziarah berbeda dari turis. Bagi seorang pengunjung, perjalanan


itu sendiri adalah perhentian. Bagi seorang peziarah, perjalanan adalah cara untuk
mencapai tujuan. Peziarah dengan wisata pilgrim (ziarah) adalah salah satu
segmen wisata dengan kemunculan tertinggi di planet ini. Istilah "wisata pilgrim
(ziarah)" adalah perjalanan ke tempat suci. Ini adalah salah satu bentuk perilaku
keagamaan yang paling signifikan. Wisata pilgrim (ziarah) adalah perjalanan
yang berorientasi pada rekreasi dan rekreasi dan kebutuhan keagamaan adalah
elemen dari wisata pilgrim (ziarah). Ziarah dipandang sebagai kegiatan di mana
mencapai tempat kudus untuk memenuhi sumpah, untuk meminta sesuatu, untuk

106
mengucap syukur karena menerima bantuan, atau hanya untuk memenangkan
bantuan, adalah motif utama; perjalanan ke acara-acara keagamaan, ditandai
dengan konsentrasi besar pada kesempatan tanggal dan peringatan; perjalanan ke
ruang-ruang yang didorong oleh karakter suci mereka, di motivasi oleh tujuan
utama mengunjungi tempat-tempat karakter spiritual, belum tentu tempat suci,
untuk menghadiri kebaktian atau perayaan keagamaan. Namun, perjalanan ke
ruang-ruang keagamaan atau ziarah juga dapat dipahami sebagai kegiatan yang
sangat termotivasi oleh makna budaya, sejarah dan arsitektur.

Pariwisata dan ziarah erat kaitannya. Hubungan antara narasi perjalanan


dan perubahan-diri, narasi diperiksa berdasarkan dua wacana utama dalam
pariwisata: semi-religius dan romantisme. Ziarah adalah suatu tindakan yang
menjelaskan perasaan, iman, keyakinan, penghormatan yang mendalam kepada
yang ilahi dan terutama ketulusan para penyembah. Ziarah adalah perjalanan ke
situs yang tidak dapat di substitusikan mewujudkan nilai tinggi, sangat bermakna
atau sumber identitas inti bagi para pelancong. Lima motif berbeda untuk
kunjungan ke situs ziarah di identifikasi - spiritual, nasionalistis, ziarah keluarga,
persahabatan dan motif perjalanan (Kenneth et al, 2011).

14.3.2 Ciri-ciri Wisata Pilgrim

Perjalanan wisata ziarah adalah suatu perjalanan dengan ciri- ciri tertentu sebagai
berikut;

1. Perjalanan keliling yang kembali lagi ke tempat asalnya.


2. Pelaku perjalanan hanya tinggal untuk sementara.
3. Perjalanan itu telah direncanakan terlebih dahulu.
4. Ada organisasi atau orang yang mengatur perjalanan tersebut
5. Terdapat unsur-unsur produk wisata.
6. Ada tujuan yang ingin dicapai dalam perjalanan wisata
7. Dilakukan dengan santai
8. Dilakukan perorangan atau rombongan

107
9. Berkunjung ke tempat-tempat suci seperti makam
10. Melaksanakan ritual agama

14.3.3 Kegiatan Wisata Pilgrim

Wisata Ziarah (Pilgrim Tour) diartikan sebagai perjalanan suci


mengunjungi tempat suci bagi penganut suatu agama. Penganut berbagai agama
di muka bumi menganggap penting suatu perjalanan ziarah mengunjungi tempat-
tempat suci masing-masing agamanya. Sebagai contoh, penganut agama Islam
merasa perlu melakukan perjalanan ke tanah suci Mekah (Arab Saudi) sebagai
salah satu ritual agama yang mereka yakini sebagai orang muslim. Kalangan
Kristiani menganggap perlu melakukan kunjungan/ziarah ke Gereja St. Petrus di
Vatikan, Roma (Italia) sebagai pusat aktivitas ritual agama Kristen dunia.
Demikian juga umat Hindu yang merasa perlu melakukan perjalanan suci
(tirthayatra) ke tempat-tempat yang dianggap suci.

Pilgrim tour sudah menjadi kebutuhan rohani bagi penganut agama-


agama yang ada di dunia. Pemahaman mengenai kegiatan ziarah ke tempat-
tempat suci tidak hanya sebagai wujud pelaksanaan ajaran agama semata, namun
sudah menjadi budaya bersifat rutin yang harus dilakukan dalam kurun waktu
tertentu. Bahkan dalam kurun waktu satu dasawarsa terakhir terjadi suatu trend
perjalanan ziarah dikemas dalam suatu paket perjalanan wisata ziarah (pilgrim
tour). Pada umumnya perjalanan pilgrim tour dilakukan dengan mengunjungi
tempat-tempat suci seperti bangunan peribadatan (masjid, gereja, candi, pura
kuno), makam orang/tokoh suci keagamaan atau ke suatu tempat yang dapat
membangkitkan aura ritual keagamaan.

Ziarah adalah salah satu praktik sebagian besar umat beragama yang
memiliki makna moral yang penting. Ziarah dilakukan ke suatu tempat yang suci
dan penting bagi keyakinan dan iman yang bersangkutan. Tujuannya adalah
untuk mengingat kembali, meneguhkan iman atau menyucikan diri. Orang yang
melakukan perjalanan ini disebut peziarah atau bisa juga wisatawan ziarah.

108
Ritual berdoa dan berzikir di kompleks makam para Sultan Demak dan
keluarganya itu merupakan ritual yang umumnya banyak dilakukan para peziarah
yang berkunjung dan beribadah di Masjid Agung Demak. Doa dan zikir itu
merupakan tradisi yang banyak dilakukan para peziarah yang datang berkunjung
ke Masjid Agung Demak. Tradisi yang dikenal dengan “ziarah kubur”. Atau yang
dalam budaya Jawa disebut sebagai “Ngalap Berkah” (memohon berkat), yakni
mendoakan arwah para Sultan Demak dan keluarganya, juga memohon doa
pribadi kepada Tuhan agar diberikan ketenangan dan ketenteraman hidup,
diberikan berkat rezeki, dan juga ampunan atas dosa-dosa yang telah dilakukan.

14.4 Latihan

Jenis latihan: Tugas akhir

1. Mahasiswa dalam kelompok terdiri atas tiga orang, membuat sebuah project
akhir berupa video perjalanan atau infografis dengan topik “Potensi dan daya
tarik objek wisata pilgrim di Indonesia”
2. Hasil karya kemudian diunggah pada media online

14.5 Daftar Pustaka

1. Abad-Galzacorta, et al. 2016. "Pilgrimage As Tourism Experience: The Case


Of The Ignatian Way," International Journal of Religious Tourism and
Pilgrimage: Vol. 4: Iss. 4, Article 5. Dublin: Dublin Institute of Technology
2. Hidayat, Rohmat. 2013. Pengaruh Kegiatan Wisata Ziarah Terhadap
Kecerdasan Spiritual Anak Di SMP YPM 5 Driyorejo Gresik. Undergraduate
thesis, UIN Sunan Ampel Surabaya.
3. Kenneth, et al. 2011. “Motives for a secular pilgrimage to the Gallipoli
battlefields”. Tourism Management, Vol 32, No 6.
4. Pratiwi, Erliana A. 2010. Karakteristik Wisatawan Ziarah Di Obyek Wisata
Masjid Agung Demak. Semarang: Universitas Negeri Semarang
5. Vijay, Saranya. 2016. A Study of Pilgrimage Tourism With Special Reference
to Srirangam. Chennai: Educational and Research Institute University

109
6. Vijayanand, S. 2015. “The Issues and Perspectives of Pilgrimage Tourism
Development in Thanjavur”. International Journal of Tourism & Hospitality
Reviews.

110