Anda di halaman 1dari 3

Nama : Norhatijah

NIM : 170574201092
Mata Kuliah : Hukum Dagang (Senin, 12.30)

ANALISIS PUTUSAN PENGADILAN NEGERI JAKARTA SELATAN DENGAN


NOMOR REGISTER PERKARA No. 241/Pdt.G/2010/PN.Jkt.Sel. ANTARA TUAN
JOYO SOETOMO MELAWAN PT. BANK DANAMON INDONESIA TBK, DENGAN
MENGGUNAKAN PRINSIP KEHATI-HATIAN DALAM PERBANKAN ATAU
(PRUDENT BANKING PRINCIPLE)

Bisnis perbankan merupakan bisnis yang penuh resiko, disamping menjanjikan


keuntungan yang besar jika dikelola secara baik dan berhati-hati. Salah satu penyebab
keroposnya perbankan nasional adalah akibat perilaku para pengelola dan pemilik bank yang
cenderung mengeksploitasi dan mengabaikan prinsip kehati-hatian dalam perbankan
sebagaimana yang telah diatur dalam UU Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perbankan pada pasal
2 yang berbunyi “Perbankan Indonesia dalam melakukan usahanya berasaskan demokrasi
ekonomi dengan menggunnakan asas kehati-hatian”. Selain itu terkait prinsip kehati-hatian ini
juga diatur pada pasal 29 ayat (2) yaitu “ Bank wajib memelihara tingkat kesehatan bank sesuai
dengan ketentuan yang kecukupan modal, kualitas aset, kualitas manajemen, likuiditas,
rentabilitas, solvabilitas, dan aspek lain yang berhubung-an dengan usaha bank, dan wajib
melakukan kegiatan usaha sesuai dengan prinsip kehati-hatian.”
Berdasarkan uraian diatas sudah sangat jelas bahwa perbankan dalam menjalankan
tugas dan fungsinya haruslah mematuhi peraturan yang berlaku. Dalam kasus ini ditemukan
fakta bahwa peraturan yang telah ditetapkan belum cukup maksimal dalam penggunaannya.
Dimana masih ditemukan kasus yang melanggar prinsip perbankan sebagaiman yang telah
ditetapkan. Dalam putusan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan dengan nomor register perkara
No. 241/Pdt.G/2010/PN.Jkt.Sel menyatakan bahwa PT. Bank Danamon Indonesia Tbk selaku
tergugat telah bersalah dan dijatuhi hukuman ganti rugi kepada Joyo Soetomo selaku
Pengguggat. Hal ini adalah salah satu contoh bahwa masih belum berjalan efektifnya prinsip
kehati-hatian yang diamanahkan oleh undang-undang.
Dalam putusan yang menyatakan bahwa pihak tergugat dalam hal ini PT. Bank
Danamon Indonesia telah melakukan kesalahan yaitu melanggar prinsip kehati-hatian dalam
perbankan yang berupa lalai dan tidak teliti sehingga tidak sesuai standar prosedur dalam
proses penarikan uang nasabah yang mana Tergugat tidak menkonfirmasikan terlebih dahulu
kepada Penggugat akan kebenaran atas penarikan sejumlah uang yang dilakukan oleh Turut
Tergugat I. Yang mana dalam kasus ini turut tergugat I telahpun terlebih dahulu membuat
pernyataan bahwa turut tergugat I telah melakukan pemalsuan tanda tangan Penggugat dalam
Slip penarikan uang penggugat.
Terlihat duduk perkara dalam kasus ini adalah sebagai akibat dari kurangnya perhatian
pihak Bank terhadap prinsip kehati-hatian. Salah satu hal menarik dalam penerapan prinsip
kehati-hatian ini adalah adanya kewajiban bagi Bank untuk menyediakan informasi mengenai
kemungkinan timbulnya resiko kerugian sebagaimana dengan traksaksi nasabah yang melalui
Bank. Prinsip kehati-hatian bank merupakan pemegang peran penting terkait berjalan atau
tidaknya sebuah Bank. Semakin baik penerapan prinsip ini dalam kehidupan maka semakin
baik pula lah perbankan tersebut.
Tujuan dari diberlakukannya prinsip kehati-hatian itu sendiri tak lain adalah agar bank
selalu dalam keadaan sehat. Dengan kata lain, Bank selalu dalam keadaan likuid dan solvent.
Diberlakukan prinsip kehati-hatian diharapkan kadar kepercayaan masyarakat terhadap
perbankan tetap tinggi, sehingga masyarakat bersedia dan tidak ragu-ragu apabila dananya
disimpan di Bank.
Prinsip kehati-hatian ini harus dijalankan oleh bank, bukan hanya sekedar dihubungkan
dengan kewajiban bank agar tidak merugikan kepentingan nasabah yang mempercayakan
dananya kepada Bank , tetapi hal ini juga berkaitan dengan sistem moneter yang menyangkut
kepentingan semua masyarakat nasabah. Prinsip kehati-hatian dalam bentuk sederhana
sebagaiman yang telah dicontohkan kasus ini adalah bahwa pihak bank harus lebih teliti dalam
memeriksa perkara dan dokumen yang masuk kepadanya. Agar hal-hal seperti kasus ini tidak
terjadi lagi.
Dalam kasus ini, dimana duduk perkara yang terjadi adalah diawali dengan pihak
penggugat yang mengalami kerugian sejumlah uang, yang mana uang tersebut ternyata ditarik
oleh turut tergugat I yang mengambil uang dari rekening pengunggat dengan cara memalsukan
tanda tangan penggugat sebagai modusnya untuk mendapatkan uang dari rekening penggugat.
Maka kemudian yang menjadi tergugat utama adalah pihak Bank, yang dalam hal ini telah
dipercayakan oleh penggugat untuk menyimpan dan menjaga uangnya, namun ternayta pihak
Bank telah lalai sehingga uang tersebut bisa ditarik oleh pihak yang tidak bertanggungjawab
tanpa sepengetahuan penggugat.
Pemalsuan tanda tangan yang dilakukan oleh turut terngugat I terhadap penggugat
merupakan satu perbuatan melawan hukum, yang dapat merugikan orang lain. Disinilah peran
prinsip kehati-hatian dalam perbankan, sekiranya pihak tergugat dalam hal ini PT. Danamon
Indonesia sudah seharusnya lebih dulu memeriksa dan mengkonfirmasi tanda-tangan yang
dikirimkan oleh pihak turun tergugat I. Namun akibat dari kelalaian tergugat yang tidak
memeriksa dan mengonfirmasikan terlebih dahulu tanda tangan tersebut, pengugat harus
menderita sejumlah kerugian yang tidak sedikit.
Maka keberadaan dan penerapan prinsip kehati-hatian dalam perbankan tidak bisa
dianggap remeh, mengingat kerugian yang terjadi akan sangat besar apalagi ini tidak sekedar
kerugian dan tanggungjawab materil semata, namun apabila prinsip ini diabaikan akan
berakibat pada tanggungjawab moril dimana akan berdampak pada tingkat kepercayaan
masyarakat untuk menabungkan dananya dibank yang bersangkutan. Hal ini mengingat bahwa
hubungan antara bank dan nasabah bukan semata hubungan antara debitur dan kreditur semata,
melainkan lebih dari itu, yaitu hubungan kepercayaan (fiduaciary relationship).