Anda di halaman 1dari 18

EVALUASI MULTIMEDIA PEMBELAJARAN

Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah


Evaluasi Pembelajaran
Dosen Pengampu: Dr. Haryanto, M.Pd

Oleh:

Nur Eva Yanti : 18707251011


Ahmad Zuhudy : 18707251035
Navizah : 18707251035

PRODI TEKNOLOGI PEMBELAJARAN


PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2019
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latarbelakang
Evaluasi dapat diartikan sebagai suatu kegiatan yang terencana untuk
mengetahui keadaan suatu objek dengan menggunakan instrumen dan hasilnya
dibandingkan dengan suatu tolak ukur untuk memperoleh suatu kesimpulan. Fungsi
utama evaluasi adalah menelaah suatu objek atau keadaan untuk mendapatkan
informasi yang tepat sebagai dasar untuk pengambilan keputusan.
Untuk memperoleh informasi yang tepat dalam kegiatan evaluasi dilakukan
melalui kegiatan pengukuran. Pengukuran merupakan suatu proses pemberian skor
atau angka-angka terhadap suatu keadaan atau gejala berdasarkan atura-aturan
tertentu. Dengan demikian terdapat kaitan yang erat antara pengukuran
(measurment) dan evaluasi (evaluation) kegiatan pengukuran merupakan dasar
dalam kegiatan evaluasi.
Multimultimedia berasal dari dua kata, yaitu multi dan multimedia. Multi
berarti banyak, sedangkan multimedia berarti sarana komunikasi untuk
memberikan informasi. Jadi, multimultimedia adalah sarana atau multimedia yang
menggabungkan antara teks, gambar, audio, video, dan animasi.
Penilaian atau evaluasi multimultimedia pembelajaran bertujuan untuk
melihat apakah penggunaan multimedia itu bisa membentuk atau mempengaruhi
tingkah laku pebelajar atau tidak. Serta untuk mengetahui apakah multimedia yang
digunakan dalam proses belajar mengajar dapat mencapai tujuan.

B. Rumusan Masalah
1. Jelaskan tujuan evaluasi multimultimedia pembelajaran ?
2. Jelaskan jenis – jenis multimultimedia pembelajaran ?
3. Jelaskan ciri – ciri efektif multimultimedia pembelajaran ?
4. Bagaimana prosedur evaluasi multimultimedia pembelajaran ?
5. Apasaja kriteria evaluasi multimultimedia pembelajaran ?
6. Bangaimana bentuk contoh instrument evaluasi multimultimedia
pembelajaran ?

C. Tujuan
Tujuan makalah ini untuk mengetahui :
1. Tujuan evaluasi multimedia pembelajaran
2. Jenis – jenis multimedia pembelajaran
3. Ciri – ciri efektif multimedia pembelajaran
4. Prosedur evaluasi multimedia pembelajaran
5. Kriteria evaluasi multimedia pembelajaran
6. Bentuk contoh instrument evaluasi multimedia pembelajaran
BAB II
PEMBAHASAN

A. Tujuan Evaluasi Multimultimedia Pembelajaran


Multimultimedia merupakan hasil dari perkembangan teknologi yang cukup
banyak berguna dalam kegiatan sehari-hari. Saat ini multimultimedia banyak
dipergunakan untuk penyajian hiburan dan karya, lihat saja banyak video, film,
maupun lagu yang diproduksi dan disebarluaskan untuk keperluan entertainment.
Namun tak hanya dalam dunia hiburan, dalam dunia pendidikan multimultimedia
dapat diterapkan terutama dalam pembelajaran.
Sangat banyak hal yang bisa dieksploitasi dari multimultimedia untuk
keperluan pembelajaran, utamanya dapat digunakan untuk sumber belajar maupun
diterapkan sebagai multimedia pembelajaran. Karena pentingnya multimultimedia
dalam pembelajaran maka produksi multimultimedia tidak dilakukan dengan
sembarangan. Multimultimedia yang akan digunakan dalam pendidikan terutama
dalam pembelajaran harus dikembangkan dengan terencana dan terprogram dengan
baik sehingga produk multimultimedia yang dihasilkan dapat diterapkan dalam
dunia pendidikan dengan baik.
Pengembangan multimultimedia dalam dunia pendidikan khususnya dalam
pembelajaran perlu melalui prosedur atau tahap-tahap pengembangan
multimultimedia. Salah satu contoh tahapan pengembangan multimultimedia dapat
dilakukan dengan metode Multimultimedia Development Life Cycle (MDLC).
Dalam setiap akhir tahap pengembangan perlu dilakukan evaluasi terhadap tahap
yang sudah dilakukan serta juga evaluasi ketika produk multimultimedia sudah
dihasilkan.
Evaluasi dalam pengembangan multimultimedia untuk pendidikan bukan tanpa
tujuan dan manfaat. Dalam buku Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam
Pendidikan (Sutopo, 2012:137) disebutkan bahwa evaluasi pengembangan
multimultimedia dalam pendidikan memiliki beberapa tujuan, antara lain:
1. Meningkatkan Produk Multimultimedia. Produk yang dihasilkan dalam
pengembangan multimultimedia tentu tidak selalu sempurna, oleh karena
itu evaluasi sangat perlu diperlukan terutama dalam tahap Testing dan
Distribution
2. Menentukan Efektifitas dari Bahan Instruksional. Evaluasi ini sangat
berperan untuk mengetahui kesesuaian produk multimultimedia dengan
tujuan dan bahan instruksional yang sudah ditentukan sebelumnya. Dengan
demikian, dapat diketahui bahwa produk multimultimedia cocok untuk
diterapkan dalam pendidikan atau pembelajaran.
3. Meningkatkan Kemampuan Tim. Adanya evaluasi tentu juga dapat
mengetahui kelemahan dan kekurangan tim pengembang. Setelah
mengetahui kelemahan masing-masing personel tentu dapat meningkatkan
kemampuan dan menutupi kekurangan tim tersebut. Sehingga dalam
pengembangan produk multimultimedia selanjutnya dapat dihasilkan
produk yang jauh lebih baik.
4. Meningkatkan Proses Pengembangan Multimultimedia. Dalam
pengembangan multimultimedia proses juga harus berkembang apalagi
dengan semakin majunya teknologi. Denga adanya evaluasi maka dapat
diketahui dengan posti proses dan tahapan mana yang harus dikembangkan.
Pentingnya evaluasi dalam setiap tahap dan evaluasi keseluruhan
pengembangan multimultimedia untuk pendidikan bermanfaat untuk melakukan
koreksi terhadap setiap perkembangan dari tahap yang sudah dilakukan. Evaluasi
ini dapat lebih memastikan agar produk multimultimedia yang dihasilkan nantinya
dapat digunakan dan diterapkan dalam pendidikan dan khususnya pembelajaran
dengan baik. Data evaluasi ini juga dapat dijadikan acuan untuk mengembangkan
produk multimultimedia yang sudah dihasilkan tersebut nantinya.

B. Jenis – jenis multimultimedia pembelajaran

1. Multimultimedia Hiperaktif, multimultimedia jenis ini mempunyai struktur


dengan elemen elemen terkait yang dapat diarahkan oleh pengguna melalui
tautan(link) dengan elemen elemen multimultimedia yang ada. Isitilah
Richmultimedia juga dipakai untuk menyebut Multimultimedia Hiperaktif.
Contoh: world wide web, web site, mobile banking, Game on line, dll
2. Multimultimedia Interaktif, pengguna/ user dapat mengontrol secara penuh
mengenai apa dan kapan elemen multimultimedia akan ditampilkan atau
dikirimkan. Contoh: Game, CD interaktif, apilkasi program, virtual
reality,dll
3. Multimultimedia Linear / Squential, multimultimedia Liner adalah jenis
multimultimedia yang berjalan lurus. Multimultimedia jenis ini bisa dilihat
pada semua jenis film, tutorial video, dll. sedangkan Multimultimedia
Interaktif adalah jenis multimultimedia interaksi, artinya ada interaksi
antara multimedia dengan pengguna multimedia melalui bantuan komputer,
mouse, keyboard dan sebagainya. Multimultimedia linear berlangsung
tanpa kontrol navigasi dari pengguna. Penyajian multimultimedia liner
harus berurutan atau sekuensial dari awal sampai akhir. Contoh:
Movie/film, e-book, musik, siaran TV
4. Multimultimedia presentasi pembelajaran, multimultimedia presentasi
pembelajaran adalah alat bantu guru dalam proses pembelajaran dikelas dan
tidak menggantikan guru secara keseluruhan. Contohnya Microsoft Power
Point.
5. Multimultimedia pembelajaran mandiri, multimultimedia pembelajaran
mandiri adalah sofware pembalajaran yang dapat dimanfaatkan oleh siswa
secara mandiri tanpa bantuan guru. Multimultimedia pembelajaran mandiri
harus dapat memadukan explicit knowledge dan tacit knowledge ,
mengandung fitur assemen untuk latihan,ujian dan simulasi termasuk
tahapan pemecahan masalah. Contohnya Macromultimedia Authorware
atau Adobe Flash.
6. Multimultimedia kits adalah kumpulan pengajaran, bahan pembelajaran
yang melibatkan lebih dari satu jenis multimedia dan diorganisir sekitar
topik tunggal. yang termasuk diantaranya yaitu: CD-ROM, slide, kaset,
audio, Gambar diam, study cetak ,Transparasi overhead. Keunggulan :
multimultimedia kits membakitkan minat karena mereka multi
sensorik, kits menjadi mekanisme ideal untuk merangsang kerja kelompok
proyek kecil, kitys memiliki keunggulan yaitu dapat diangkut dan
digunakan di luar kelas(logiostik).
7. Hypermultimedia, dokumen berurut non terdiri dari teks,audio,informsi
visual disampan dalam komputer. Contohnya adalah dengan pembelajaran
menggunakan link pada sebuah web.
8. Multimedia Interaktif, Sistem ini merupakan sistem pengiriman
pembelajaran yang direkam visual,suara,dan bahan video disajikan di
bawah kontrol komputer untuk tinjauan yang tidak tidak hanya melihat dan
mendengar gambar dan suara tetapi juga membuat tanggapan aktif.
Keunggulan: beberapa multimedia.teks,audio,grafik,gambar diam,dan
semua gerak gambar dapat dikombinasikan dalam satu system yang mudah
digunakan.
9. Virtual Realitas adalah multimedia yang dapat disulasiakn tempat di dunia
nyata Keunggulan: untuk digunakan menggambarkan berbagaqi jenis
aplikasi umumnya terkait dengan mendalam,sangat visual,3D lingkungan.

C. Aspek Multimedia Pembelajaran

Multimedia pembelajaran dimaksudkan sebagai media pembelajaran yang

digunakan secara mandiri oleh siswa. Program multimedia pembelajaran

akan memberi kesempatan kepada siswa untuk lebih leluasa dan lebih

individual terhadap materi pelajarannya. Oleh karena itu, aspek-aspek

dalam multimedia pembelajaran harus menunjang tercapainya maksud

tersebut. Beberapa aspek yang harus ada dalam multimedia pembelajaran

antara lain sebagai berikut.

1. Umpan balik

Setelah memberikan respon, siswa harus segera diberi umpan balik yang

bisa berupa komentar, pujian, peringatan atau perintah tertentu bahwa


respon siswa tersebut benar atau salah. Umpan balik akan semakin menarik

dan menambah motivasi belajar apabila disertai ilustrasi suara, gambar atau

video klip.

2. Percabangan

Percabangan adalah beberapa alternatif jalan yang perlu ditempuh oleh

siswa dalam kegiatan belajarnya melalui program multimedia

pembelajaran. Program memberikan percabangan berdasarkan respon

siswa. Misalnya, siswa yang selalu salah dalam menjawab pertanyaan-

pertanyaan tentang materi tertentu, maka program harus merekomendasikan

untuk mempelajari lagi bagian tersebut. Atau apabila siswa mencapai skor

tertentu, siswa bisa langsung menuju ke tingkat atas, dan bila kurang perlu

mengulangi bagian sebelumnya atau diberi tambahan latihan-latihan.

Model percabangan yang lain adalah yang bisa dikontrol oleh siswa. Yaitu

pada saat siswa sedang mempelajari suatu topik, pada bagian-bagian

tertentu yang dirasa sulit bisa diberi tanda khusus sehingga bila diinginkan

siswa bisa mendapat informasi lebih lanjut dan kemudian kembali lagi ke

topik semula.

3. Penilaian

Untuk mengetahui seberapa jauh siswa memahami materi yang dipelajari,

pada setiap sub-topik siswa perlu diberi tes atau soal-soal latihan. Hasil

penilaian sebaiknya bisa terdokumentasi secara otomatis, sehingga guru

bisa memonitor di waktu yang lain. Atau bahkan bisa diakses setiap saat

siswa belajar sehingga bisa dibuat grafik kemajuan belajarnya.


4. Monitoring Kemajuan

Program multimedia pembelajaran akan lebih efektif bila selalu memberi

informasi kepada siswa pada bagian mana dia sedang bekerja, apa yang

akan dipelajari berikutnya dan yang akan dicapai setelah selesai nanti.

5. Petunjuk

Guru yang baik adalah yang bisa memberi petunjuk kepada siswa ke arah

pencapaian jawaban yang benar. Demikian juga program multimedia

pembelajaran yang efektif adalah yang bisa melakukan hal seperti itu.

Variasi kata-kata petunjuk tersebut misalnya: “jawaban anda hampir benar”,

“coba kerjakan dengan cara lain” dan lain sebagainya.

6. Tampilan

Komponen tampilan yang perlu dipertimbangkan yaitu identifikasi tampilan

seperti nomer halaman, judul atau sub-judul yang sedang dipelajari,

perintah-perintah seperti untuk maju, mundur, berhenti dan sebagainya.

Jenis informasi yang ditampilan bisa berupa katakata/teks dan

gambar/grafik sedangkan untuk yang multimedia bisa ditambah suara,

animasi, video klip. Tingkat abstraksi gambar/grafik atau simbol-simbol

perlu disesuaikan dengan tingkat kemampuan siswa. Ilustrasi dan warna

bisa menarik perhatian siswa, tetapi bila berlebihan akan menganggu.

D. Prosedur Evaluasi Multimultimedia Pembelajaran

Prosedur/tahapan evaluasi multimedia terkait dengan bagaimana langkah-


langkah yang dilakukan dlam evaluasi multimedia yang telah dibuat. Evaluasi ini
diharapkan hasil multimedia yang dibuat terjamin keandalannya. Prosedur atau
tahapan evaluasi multimedia yang dapat ditempuh terdiri dari; evaluasi satu lawan
satu (one to one), evaluasi kelompok kecil (small grup evaluation), dan evaluasi
lapangan (field evaluation).
1. Evaluasi satu lawan satu (one to one)
Evaluasi multimedia tahap satu lawan satu atau yang disebut dengan
istilah one to one evaluation, dilaksanakan dengan memilih dua orangatau
lebih siswa yang dapat mewakili populasi target dari multimedia yang
dibuat. Sajikan multimedia tersebut kepada mereka secara individual. Kalau
multimedia itu didesain untuk belajar mandiri, biarkan mereka
mempelajarinya sementara kita mengamatinya. Kedua orang siswa yang
dipilih tersebut hendaknya satu orang dari populasi target yang kemampuan
umumnya sedikit dibawah rata-rata. Prosedur pelaksaan evaluasi
multimedia tahap satu lawan satu ini sebagai berikut:
a. Jalaskan kepada siswa jika kita sedang merancang suatu multimedia
baru dan ingin mengetahui bagaimana reaksi mereka terhadap
multimedia yang dibuat tersebut.
b. Samapikan kepada mereka bahwa apabila mereka nanti berbuat
salah, hal tersebut bukanlah karena kekurangan mereka tetapi karena
kekurangsempurnaan multimedia tersebut, sehingga perlu
diperbaiki.
c. Usahakan agar mereka bersikap relaks dan bebas mengemukakan
pendapatnya tentang multimedia tersebut.
d. Selanjutnya berikan tes awal untuk mengetahui sejauh mana
kemampuan dan pengetahuan siswa terhadap topik yang
dimultimediakan.
e. Sajikan multimedia dan catat berapa lama waktu yang kita butuhkan
atau dibutuhkan siswa untuk menyajikan /mempelajari multimedia
tersebut. catat pula bagaimana reaksi siswa dan bagian-bagian yang
sulit untuk dipahami; apakah contoh-contohnya, penjelasannya,
petunjuk-petunjuknya, ataukah yang lain.
f. Berikan tes yang mengukur keberhasilan multimedia tersebut (post-
test).
g. Analisis informasi yang terkumpul. Jumlah dua orang untuk
kegiatan ini adalah jumlah minimal. Setelah selesai, anda bisa
mencobakannya kepada ahli bidang studi (content expert). Mereka
seringkali memberikan umpan balik yang bermanfaat. Atas dasar
data atau informasi dari kegiatan-kegiatan tersebut akhirnya revisi
dilakukan sebelum multimedia dicobakan ke kelompok kecil.

2. Evaluasi Kelompok Kecil (small group evaluation)


Pada tahap ini multimedia perlu dicobakan kepada 10-20 orang siswa yang
dapat mewakili populasi target. kalau multimedia tersebut kita buat untuk
siswa kelompok B, maka pilihlah 10-20 orang siswa dari kelompok B.
Mengapa jumlahnya tersebut? sebab kalu kurang dari 10 data yang anda
peroleh kurang dapat menggambarkan populasi target. sebaliknya, jika lebih
dari 20 data atau informasi yang anda peroleh melebihi yang anda perlukan
akan kurang bermanfaat untuk dianalisis dalam evaluasi kelompok kecil.
Siswa yang anda pilih hendaknya mencerminkan karakteristik populasi.
Usahakan sampel-sampel tersebut terdiri dari siswa-siswa yang kurang
pandai, sedang, dan pandai; laki-laki dan perempuan; berbagai usia dan latar
belakang. Prosedur yang perlu ditempuh diantaranya:
a. Jelaskan bahwa multimedia tersebut berada pada tahap formatif dan
memerlukan umpan balik untuk menyempurnakannya.
b. Berikan tes awal (pratest) untuk mengukur kemampuan dan
pengetahuan siswa tentang topik yang dimultimediakan.
c. Sajikan multimedia atau minta kepada siswa untuk mempelajari
multimedia tersebut.
d. Catat waktu yang diperlukan dan semua bentuk umpan balik
(langsung ataupun tidak langsung) selama penyajian multimedia.
e. Berikan tes untuk mengetahui sejauh mana tujuan bisa tercapai
(post-test).
f. Bagikan kuesioner dan minta siswa untuk mengisinya. Apabila
mungkin adakan diskusi yang mendalam dengan beberapa siswa.
Beberapa pertanyaan yang perlu di diskusikan antara lain:
a. Menarik tidaknya multimedia tersebut
b. Apa sebabnya
c. Mengerti tidaknya siswa akan pesan yang disampaikan
d. Konsistensi tujuan dan materi program
e. Cukup tidaknya atau jelas tidaknya latihan dan contoh yang
diberikan. Apabila pertanyaan-pertanyaan tersebut telah ditanyakan
lewat kuesioner, informasi yang lebih detaildan jauh dapat dicari
lewat diskusi ini.
f. Analisis data-data yang terkumpul, atas dasar umpan balik semua ini
multimedia disempurnakan.
3. Evaluasi Lapangan (Field Evaluation)
Evaluasi lapangan atau field evaluation adalah tahap akhir dari evaluasi
formatif yang perlu dilakukan. Usahakan memperoleh situasi yang semirip
mungkin dengan situsi sebenarnya. Setelah melalui dua tahap evaluasi
diatas tentulah multimedia yang kita buat sudah mendekati
kesempurnaannya. Namun, dengan itu masih harus dibuktikan. Lewat
evaluasi lapangan inilah kebolehan multimedia yang kita buat itu diuji. Pilih
sekitar 30 orang siswa dengan berbagai karakteristik (tingkat kepandaian,
kelas, latar belakang, jenis kelamin, usia, kemajuan belajar, dll) sesuai
dengan karakteristik populasi sasaran.satu hal yang perlu dihindari baik
untuk dua tahap evaluasi terdahulu maupun lebih-lebih lagi untuk tahap
evaluasi lapangan adalah apa yang disebut efek halo (hallo effect). Situasi
seperti muncul apabila multimedia kita cobakan pada kelompok responden
yang salah. Maksudnya, apabila kita membuat program multimedia lalu
mencobakannya kepada siswa-siswa yang belum pernah melihat program
tersebut. pada situasi seperti ini informasi yang kita peroleh banyak
dipengaruhi oleh sifat kebaruantersebut sehingga kurang dapat dipercaya.
Prosedur pelaksanaannya sebagai berikut:
a. Mula-mula pilih siswa yang benar-benar mewakili populasi target,
kira-kira 30 orang siswa. Usahakan agar mereka mewakili berbagai
tingkat kemampuan dan ketrampilan siswa yang ada. Tes
kemampuan awal perlu dilakukan bila karakteristik siswa belum
diketahui. Atas dasar itu pemilihan siswa dilakukan. Tetapi bila kita
kenal benar siswa-siswa yang akan dipakai dalam uji coba tak perlu
tes itu dilakukan.
b. Jelaskan kepada mereka maksud uji lapangantersebut dan apa yang
anda harapkan pada akhir kegiatan. Pada umumnya siswa tak
terbiasa mengkritik bahan-bahan atau multimedia yang diberikan,
karena mereka beranggapan sudah benar dan efektif. Usahakan
mereka bersikap relaks dan berani mengemukakan penilaian.
Jauhkan sedapat mungkin perasaan bahwa uji coba ini menguci
kemampuan mereka.
c. Berikan test awal untuk mengukur sejauh mana pengetahuan dan
ketrampilan mereka terhasap topik yang dimultimediakan.
d. Sajikan multimedia tersebut kepada mereka. Bentuk penyajiannya
tentu sesuai dengan tujuan pembuatannya; untuk prestasi kelompok
besar, untuk kelompok kecil, atau belajar mandiri.
e. Catat semua respons yang muncul dari siswa selama sajian. Begitu
pula waktu yang diperlukan.
f. Berikan tes untuk mengukur seberapa jauh pencapaian hasil belajar
siswa setelah penyajian multimedia tersebut. hasil tes ini
dibandingkan dengan hasil tes pertama akan menunjukan seberapa
efektif dan efisien multimedia yang anda buat tersebut.
g. Berikan kkuesioner untuk mengetahui pendapat atau sikap mereka
terhadap multimedia tersebut dan sajian yang diterimanya.
h. Ringkas dan analisislah data-data yang anda peroleh dengan
kegiatan-kegiatan tadi; kemampuan awal, skor tes awal dan tes
akhir, waktu yang diperlukan, perbaikan bagian-bagian yang sulit,
dan pengayaan yang diperlukan, kecepatan sajian, dan sebaginya.
i. Atas dasar itu multimedia diperbaiki dan semakin disempurnakan.
Demikianlah, dengan tiga tahap evaluasi tesebut dapat dipastikan
kebenaran efektivitas dan efisiensi multimedia yang kita
kembangkan.

E. Kriteria evaluasi multimedia pembelajaran


Ada beberapa kriteria aspek yang harus diperhatikan dalam evaluasi
multimedia pembelajaran
1. Aspek Rekayasa Perangkat Lunak
a. Efektif dan efisien dalam pengembangan maupun penggunaan media
pembelajaran
b. Reliable (handal)
c. Maintainable (dapat dipelihara/dikelola dengan mudah)
d. Usabilitas (mudah digunakan dan sederhana dalam pengoperasiannya)
e. Ketepatan pemilihan jenis aplikasi/software/tool untuk pengembangan
f. Kompatibilitas (media pembelajaran dapat diinstalasi/dijalankan di
berbagai hardware dan software yang ada)
g. Pemaketan program media pembelajaran terpadu dan mudah dalam
eksekusi
h. Dokumentasi program media pembelajaran yang lengkap meliputi:
petunjuk instalasi (jelas, singkat, lengkap), trouble shooting (jelas,
terstruktur, dan antisipatif), desain program (jelas, menggambarkan alur
kerja program)
i. Reusable (sebagian atau seluruh program media pembelajaran dapat
dimanfaatkan kembali untuk mengembangkan media pembelajaran lain)
2. Aspek Desain Pembelajaran
a. Kejelasan tujuan pembelajaran (rumusan, realistis)
b. Relevansi tujuan pembelajaran dengan SK/KD/Kurikulum
c. Cakupan dan kedalaman tujuan pembelajaran
d. Ketepatan penggunaan strategi pembelajaran
e. Interaktivitas
f. Pemberian motivasi belajar
g. Kontekstualitas dan aktualitas
h. Kelengkapan dan kualitas bahan bantuan belajar
i. Kesesuaian materi dengan tujuan pembelajaran
j. Kedalaman materi
k. Kemudahan untuk dipahami
l. Sistematis, runut, alur logika jelas
m. Kejelasan uraian, pembahasan, contoh, simulasi, latihan
n. Konsistensi evaluasi dengan tujuan pembelajaran
o. Ketepatan dan ketetapan alat evaluasi
p. Pemberian umpan balik terhadap hasil evaluasi
3. Aspek Komunikasi Visual
a. Komunikatif; sesuai dengan pesan dan dapat diterima/sejalan dengan
keinginan sasaran
b. Kreatif dalam ide berikut penuangan gagasan
c. Sederhana dan memikat
d. Audio (narasi, sound effect, backsound,musik)
e. Visual (layout design, typography, warna)
f. Media bergerak (animasi, movie)
g. Layout Interactive (ikon navigasi)

Walker dan Hess (1984:2006) memberikan kriteria dalam, me-review media


pembelajaran yang berdasarkan pada kualitas, antara lain:[10]
1. Kualitas isi dan tujuan
a. Ketepatan
b. Kepentingan
c. Kelengkapan
d. Keseimbangan
e. Minat atau perhatian
f. Keadilan
g. Kesesuaian dengan situasi siswa
2. Kualitas pembelajaran
a. Memberikan kesempatan belajar
b. Memberikan bantuan untuk belajar
c. Kualitas memotivasi
d. Fleksibiltas pembelajarannya
e. Kualitas tes dan penilaiannya
f. Dapat memberi dampak bagi siswa
g. Dapat membawa dampak bagi guru dan pemelajarannya
3. Kualitas Teknis
a. Keterbacaan
b. Mudah digunakan
c. Kualitas tampilan atau tayangan
d. Kualitas penanganan jawaban
e. Kualitas pengelolaan programnya
f. Kualitas pendokumentasiannya

F. Bentuk contoh instrument evaluasi multimedia pembelajaran

(Terlampir)
BAB III
PENUTUP

Beberapa tujuan dari evaluasi terhadap multimedia pembelajaran adalah


untuk mengetahui kualitas program, untuk mendapatkan program yang berkualitas
dan untuk mengetahui efektivitas dan dampak program dalam pembelajaran.
Multimedia terdapat banyak ragam dan jenisnya disesuaikan dengan kebutuhan.
Aspek multimedia pembelajaran yang penting untuk diterapkan diantaranya yaitu
aspek umpan baik, percabangan, penilain, monitoring kemajuan, petunjuk, dan
tampilan.
Prosedur atau tahapan evaluasi multimedia yang dapat ditempuh terdiri dari;
evaluasi satu lawan satu (one to one), evaluasi kelompok kecil (small grup
evaluation), dan evaluasi lapangan (field evaluation). Ada beberapa kriteria aspek
yang harus diperhatikan dalam evaluasi multimedia pembelajaran yaitu aspek
rekayasa perangkat lunak, aspek desain pembelajaran, dan aspek komunikasi
visual.
REFERENCE

Anas Sudijono, Pengantar Evaluasi Pendidikan (Jakarta:Raja Grafindo Persada,


2013)

Arif S. Sadiman dkk, Media Pendidikan, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada,
1996).

Arsyad, Azhar. 2017. Media Pembelajaran. Jakarta: Rajawali Press.

Asnawir dan M. Basyiruddin Usman. 2002. Media Pembelajaran. Jakarta: Ciputat


Pers.

Cecep Kustandi dan Bambang Sutjipto, Media Pembelajaran, (Bogor: Ghalia


Indonesia, 2011).

Dharma, Surya. Tanpa Tahun. Media Pembelajaran dan Sumber


Belajar. Jakarta: Direktur Tenaga Pendidikan

Hujair AH Sanaky, Media Pemblajaran, (Yogyakarta, Safiria Insania Press, 2009).

Mudoyoko, Eko Putro. Tanpa Tahun. Evaluasi Program Pembelajaran. Jakarta.

Nana Sudjana dan Ahmad Rivai, Teknologi Pengajaran, (Bandung: Sinar Baru
Algesindo, 2003).

Oemar Hamalik, Perencanaan Pengajaran, (Jakarta: PT Bumi Askara, 2010).

Zainiyati, Husniyatus Salamah. Tanpa Tahun. Pengembangan Media


Pembelajaran Agama Islam Berbasis ICT. Kencana.

Surjono, Herman Dwi. Multimedia Pembelajaran Interaktif, (Yogyakarta : UNY


Press)