Anda di halaman 1dari 21

MAKALAH

“LANDASAN HISTORIS PENDIDIKAN”


Untuk Memenuhi Tugas
Dosen Pengampu:
Prof. Dr DYP Sugiharto, M.Pd., Kons

Disusun Oleh:
Burhanudin : 0106519019
Ryan Eka Hidayat : 0106519020

PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING


PASCASARJANA UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2019

ii
KATA PENGANTAR

Sebagai Kata Pengantar. Pertama, saya mengucapkam syukur Alhamdulillah


yang sedalam dalamnya kepada Allah SWT. Yang mana atas berkah dan rahmatnya
dapat memberikan tuntunan jalan dan kemudahan pada kami untuk dapat menyusun
dan menyelesaikan makalah ini.
Tak lupa juga saya ucapkan terima kasih yang sebesar besarnya kepada dosen
pengampu yang telah memberikan ilmu dan bimbingannya pada kami, sehingga
dapat mempermudah kami dalam memahami materi yang diberikan.
Makalah ini tersusun dengan berbagai keterbatasan. Oleh karena itu, kritik dan
saran yang kontruktif akan senantiasa kami nanti dalam upaya evaluasi diri demi
terciptanya makalah yang lebih baik kedepanya.
Dengan demikian saya berharap, bahwa dibalik ketidaksempurnaan kami dan
penyusunan makalah ini bisa ditemukan sesuatu yang dapat memberikan manfaat
atau bahkan hikmah bagi kami selaku penyusun dan para pembaca lainnya. Amin ya
Rabbal Alamin.

, September 2019

Penyusun

iii
DAFTAR ISI
HALAMAN COVER ............................................................................................. iii
KATA PENGANTAR ........................................................................................... iii
DAFTAR ISI .......................................................................................................... iv
BAB I PENDAHULUAN ....................................................................................... 1
A. Latar Belakang ................................................................................................... 1
B. Rumusan Masalah .............................................................................................. 2
C. Tujuan Penulisan ................................................................................................ 2
BAB II PEMBAHASAN ........................................................................................ 3
A. Landasan Historis Pendidikan Di Indonesia ...................................................... 3
B. Sejarah Pendidikan di Indonesia Sebelum Kemerdekaan .................................. 4
1. Pendidikan Zaman Kolonial Portugis............................................................. 4
2. Zaman Kolonial Belanda ................................................................................ 4
3. Zaman Kolonial Jepang .................................................................................. 8
C. Sejarah Pendidikan di Indonesia Setelah Kemerdekaan .................................... 9
1. Zaman Orde Lama ........................................................................................ 12
2. Zaman Orde Baru ......................................................................................... 12
3. Zaman Reformasi ......................................................................................... 13
D. Keterlibatan Tokoh Pendidikan Monumental .................................................. 14
BAB III PENUTUP .............................................................................................. 16
A. Kesimpulan ...................................................................................................... 16
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................... 17

iv
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Historis yang berasal dari kata history dalam bahasa Inggris yang memiliki
arti sejarah, namun sebenarnya kata history itu sendiri asal mulanya merupakan
bahasa Yunani yaitu dari kata istoria yang artinya orang yang pandai sejarah.
Perlunya mempelajari sejarah karena melalui sejarah kita dapat memperoleh
informasi dan manfaat dari sejarah tersebut. Informasi-informasi tersebut
mengandung kejadian, model, konsep, moral, teori, praktik, cita-cita, bentuk
dan sebagainya Sedangkan pendidikan, secara umum merupakan pengalaman
belajar yang berlangsung dalam lingkungan sepanjang hidup, dan secara khusus
pendidikan adalah usaha sadar yang dilakukan oleh keluarga, masyarakat dan
pemerintah melalui kegiatan bimbingan, pengajaran dan/atau latihan yang
berlangsung di dalam dan luar sekolah sepanjang hayat, guna mempersiapkan
individu agar dapat memainkan peranan dalam berbagai lingkungan hidup
secara tepat di masa yang akan datang.
Indonesia sendiri telah mengalami berbagai perubahan dan salah satunya di
bidang pendidikan. Perubahan tersebut dipengaruhi oleh berbagai macam faktor
salah satunya karena tuntutan zaman. Setelah kemerdekaan dan menerapkan
sistem pendidikan kontinental karena pada saat itu kita masih menjalin kontak
dengan negara-negara Eropa seperti Belanda, namun seiring berjalan waktu
semakin disadari bahwa sistem pendidikan tersebut tidaklah cocok lagi dengan
perkembangan zaman, sehingga akhirnya mendorong bangsa Indonesia untuk
melakukan-melakukan berbagai penyesuaian.

1
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana sejarah pendidikan sebelum kemerdekaan?
2. Bagaimana sejarah pendidikan sesudah kemerdekaan?
3. Siapa saja tokoh yang terlibat dalam sejarah pendidikan?

C. Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui sejarah pendidikan sebelum kemerdekaan.
2. Untuk mengetahui sejarah pendidikan sesudah kemerdekaan.
3. Untuk mengetahui siapa saja tokoh yang terlibat dalam sejarah pendidikan.

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Landasan Historis Pendidikan di Indonesia


Landasan historis pendidikan Nasional Indonesia tidak terlepas dari
sejarah bangsa indonesia itu sendiri. Bangsa Indonesia terbentuk melalui suatu
proses sejarah yang cukup panjang sejak zaman kerajaan Kutai, Sriwijaya,
Majapahit sampai datangnya bangsa lain yang menjajah serta menguasai bangsa
Indonesia. Beratus-ratus tahun bangsa Indonesia dalam sebuah perjalanan
hidupnya berjuang untuk bisa menemukan jati dirinya sebagai suatu bangsa
yang merdeka, mandiri serta memiliki suatu prinsip yang tersimpul dalam suatu
pandangan hidup serta sebuah filsafat hidup bangsa. Yang pada akhirnya bangsa
Indonesia bisa menemukan jati dirinya, yang di dalamnya tersimpul sebuah ciri
khas, sifat dan karakter bangsa yang sangat berbeda dengan bangsa yang lain.
Para pendiri negara kita kemudian merumuskan negara kita di dalam suatu
rumusan yang lebih sederhana namun mendalam, yang berupa 5 prinsip yaitu
lima sila yang kemudian diberi sebuah nama Pancasila.
Pancasila memiliki kedudukan sebagai sebuah dasar filsafat negara dan
ideologi bangsa, dan tinjauan landasan sejarah atau historis dari Pendidikan
Nasional Indonesia merupakan pandangan ke masa lampau atau pandangan
yang retrospektif. Pandangan ini juga melahirkan studi-studi historis tentang
sebuah proses perjalanan dari pendidikan nasional Indonesia yang terjadi pada
periode tertentu di masa yang lampau. Setiap bidang dari kegiatan yang ingin
dicapai, pada umumnya selalu dikaitkan dengan bagaimana dari keadaan bidang
tersebut pada masa yang lalu.1 Sejarah pendidikan adalah suatu bahan
pembanding untuk bisa memajukan pendidikan suatu bangsa. Sejarah telah
memberi penerangan, contoh, serta teladan bagi manusia yang diharapkan akan
bisa meningkatkan peradaban manusia di masa sekarang dan juga di masa yang
akan datang.

1
Made Pidarta, Landasan Pendidikan: Stimulus Ilmu Pendidikan Bercorak Indonesia, (Jakarta: PT
Rineka Cipta, 2007), 110.

3
B. Sejarah Pendidikan di Indonesia Sebelum Kemerdekaan
Perjalanan sejarah pendidikan yang terjadi di Indonesia sangatlah
panjang bahkan semenjak sebelum Indonesia merdeka pada tahun 1945 sampai
akhirnya sekarang setelah Indonesia merdeka yang telah mewujudkan pola
Pendidikan Nasional seperti yang sekarang. Dengan demikian di setiap bidang
kegiatan yang ingin dicapai manusia untuk maju, pada umumnya dikaitkan
dengan bagaimana keadaan bidang tersebut pada masa lampau. Berikut ini
merupakan uraian dan rincian perjalanan sejarah pendidikan Indonesia:
1. Pendidikan pada Masa Portugis
Pada permulaan abad ke-16 bangsa Portugis adalah bangsa Eropa
pertama dating ke Indonesia. Namun tidak begitu lama disusul oleh bangsa
spanyol. Tujuan utama mendatangi Indones adalah mencari (berdagang)
rempah-rempah yang banyak dihasilkan di Maluku. Perdagangan mereka
makin maju dan makin banyak bangsa Portugis dan Spanyol yang datangke
Maluku. Di samping berdagang, mereka bertujuan menyebarkan agama
Katolik. Untuk tugas-tugas ini didatangkan para misionaris. Fransiskus
Xaverius, setelah menyelesaikan studinya di Sarekat Yesus, diberi tugas ke
daerah-daerah timur Asia. Maka, itu juga tujuan beliau dating ke Maluku.
Beliaulah yang dianggap sebagai peletak daar agama Katolik di Indonesia.
Untuk menyebarkan agama Katolik itu, para misionaris mendirikan
sekolah. Pada 1536, di Ternate didirikan sekolah yang mendidik calon-calon
misionaris/pekerja agama. Sekolah seminari ini juga didirikan di Pulau
Solor. Banyak anak-anak Indonesia yang masuk sekolah ini. Dengan adanya
usaha-usaha social ini, kehidupan orang-orang Maluku makin menjadi
maju.
Pada 1536, penguasa Portugis di Maluku bernama Antonio Galvano
mendirikan sebuah sekolah seminari untuk anak-anak pemuka-pemuka
pribumi. Selain pelajaran agama, diajarkan juga membaca, menulis dan
berhitung. Sekolah serupa didirikan di pulau Solor, yang muridnya
mencapai 50 orang. Sekolah ini memakai bahasa latin. Murid-murid
bumipura yang ternyata dapat mengikuti dan ingin melanjutkan , dapat
melanjutkan studinya di Goa, pusat kekuatan Portugis di Asia. Sedangkan

4
Franciscus Xaverius pada 1547 pergi ke Goa dari Ternate dengan membawa
pemuda-pemuda Maluku untuk melanjutkan pendidikan di Goa.
Peneyebaran agama katolik di Maluku, demikian pula
penyelenggaraan pendidikan, tidak banyak mengalami kemajuan yang
berarti. Hal tersebut terjadi karena selain hubungan orang-orang Portugis
dengan Sultan Ternate kurang baik, mereka juga harus bersaing dan
berperang melawan orang-orang Spanyol dan kemudian dengan orang –
orang Inggris. Akhirnya, kedatangan Belanda dengan agama Kristen yang
dibawanya mengambil alih segala harta benda, termasuk gereja KAtolik
beserta lembaga pendidikannya walaupun sebagian penduduk masih juga
ada yang setia kepada agama Katolik hingga sekarang.2
2. Zaman Kolonial Belanda
Tujuan bangsa Belanda ke Indonesia juga sama dengan bangsa
Spanyol dan Portugis. Belanda mendirikan sekolah-sekolah yang tidak
hanya mengajarkan agama saja, tetapi juga mengajarkan pengetahuan
umum. Sekolah-sekolah banyak didirikan di Pulau Ambon, Ternate, dan
Bacan (Maluku).
a. Pendidikan dasar meliputi jenis sekolah dengan pengantar bahasa
Belanda untuk anak Belanda , Indonesia dan Cina. Sekolah dengan
pengantar bahasa daerah, dan sekolah peralihan.
b. Pendidikan lanjutan yang meliputi pendidikan umum dan pendidikan
kejuruan.
Ada enam prinsip politik pendidikan kolonial Belanda di Indonesia,
yaitu:
a. Dualisme dalam pendidikan dengan adanya sekolah anak belanda dan
untuk anak pribumi, untuk anak yang berada dan anak yang tidak
berada.
b. Gradualisme yang ekstrim dengan mengusahakan pendidikan rendah
yang sederhana mungkin bagi anak Indonesia.

2
Muhammad Rifa’i, Sejarah Pendidikan Indonesia, (Jogjakarta: Ar-ruzz Media, 2014), 54.

5
c. Prinsip konkordansi yang memaksa semua sekolah berorientasi barat
mengikuti model sekolah di Netherland dan menghalangi penyesuaian
dengan keadaan di Indonesia.
d. Kontrol sentral yang ketat.
e. Tidak adanya perencanaan pendidikan sistematis.
f. Pendidikan pegawai sebagai tujuan utama sekolah.
Meskipun sekolah-sekolah telah banyak berdiri, tetapi secara
formal, sekolah-sekolah itu tidak didirikan atas nama VOC, tetapi didirikan
oleh orang-orang dari kalangan agama, yaitu agama Kristen Protestan.
Keuntungan besar dari sekolah ini adalah setelah kita mencapai
kemerdekaan dimana kebutuhan akan pendidikan sangat diperlukan.
Sebagian besar penduduk di Indonesia bagian timur sudah tidak mengalami
tuna aksara. Ini karena telah lama penduduk Indonesia bagian timur telah
mengenal pendidikan/sekolah.
Sejak dijalankannya Politik Etis ini tampak kemajuan yang lebih
pesat dalam bidang pendidikan selama beberapa dekade. Pendidikan yang
berorientasi Barat ini meskipun masih bersifat terbatas untuk beberapa
golongan saja, antara lain anak-anak Indonesia yang orang tuanya adalah
pegawai pemerintah Belanda, telah menimbulkan elite intelektual baru.
Golongan baru inilah yang kemudian berjuang merintis kemerdekaan
melalui pendidikan. Perjuangan yang masih bersifat kedaerahan berubah
menjadi perjuangan bangsa sejak berdirinya Budi Utomo pada tahun 1908
dan semakin meningkat dengan lahirnya Sumpah Pemuda tahun 1928.
Di zaman pemerintahan Hindia-Belanda, terdapat tiga jenis
tingkatan pendidikan, yaitu pendidikan rendah, pendididkan menengah dan
pendidikan tinggi. Penggambaran masing-masing tingkatan dan jenis
pendidikan itu adalah aebagai berikut:
a. Pendidikan Rendah ( Lagere Oderwijs)
1) Sekolah kelas satu (De scholeh Der Erste Klasse)
Sekolah ini diperuntukan bagi anak-anak pemuka atau tokoh
masyarakat, pegawai pemerintah, atau orang-orang bumi putera

6
terhormat lainnya. Sekolah ini hanya ada di kota keresidenan,
kecamatan atau tempat-tempat pusat perdagangan perusahaan
2) Sekolah kelas dua (De Scholen Der Tweede Klasse)
Sekolah bagi anak-anak bumiputera pada umummya. Berbeda
dengan sekolah kelas satu tadi, sekolah ini didirikan di daerah kota
kecamatan atau di daerah desa yang maju. Lama belajarnya 5 tahun.
Tujuannya tidak jelas. Bahasa pengantarnya bahasa daerah atau
bahasa melayu.
b. Pendidikan Menengah (Middelbaar Onderwijs)
Sekolah ini merupakan kelanjutan dari sekolah dasar (rendah) yang
berbahasa pengantar bahasa belanda. Lama sekolah 3 dan 4 tahun.
Didirikan pertama kali tahun1914 dan diperuntukan bagi golongan
bumiputera dan timur asing.
Selain itu, terdapat pula sekolah menengah bagi warga negara Eropa,
bangsawan dan bumiputera, atau tokoh-tokoh terkemuka. Sekolah ini
disebut Hoogere Burger School (HBS). Bahasa pengantarnya adalah
bahasa Belanda. Bahan ajar yang diberikan berorientasi ke Eropa Barat
(Khususnya Belanda). Lama sekolah 3 tahun.
c. Pendidikan Tinggi
1. Sekolah Tinggi kedokteran (GHS=Geneskundige Hoge School)
2. Sekolah Tinggi Hukum (RHS=Rechts Hoge School)
3. Sekolah Tinggi Teknik (THS= Technische Hoge School).3
d. Sekolah-sekolah kejuruan
1. Sekolah Pertukangan (Ambachts Leergang)
2. Sekolah Teknik (Technisch Onderwijs)
3. Sekolah Dagang (Handels Onderwijs)
4. Sekolah Pertanian (Landbouw Onderwijs)
5. Sekolah Kewanitaan (Maisjes Vakonderwijs)
c. Sekolah Guru
Sekolah guru ini ditujukan bagi murid yang akan menjadi guru
sekolah rendah, maka, dengan didirikannya sekolah rendah, semakin

3
Muhammad Rifa’i, Sejarah Pendidikan Indonesia, (Jogjakarta: Ar-ruzz Media, 2014), 56.

7
banyak diperlukan guru. Alasan didirikannya sekolah guru inijuga
karena pemerintah Belanda merasa keberatan jika harus menggaji
guru-guru Belanda.

3. Zaman Kolonial Jepang


Bangsa jepang muncul sebagai Negara terkuat di Asia. Ketika
kondisi dunia saat terjadi perang, jepang tak tinggal dian dan menampilkan
diri ikut dalam peperangan tersebut. Jepang mendapatkan prestasinya ketika
menghadapi Russia. Jepang bercita-cita besar, yaitu menjadi pemimpin Asia
Timur Raya dan berhasil menaklukan Belanda yang telah lama menjajah
Indonesia. Sekolah-sekolah yang ada di Zaman Belanda diganti dengan
sistem Jepang. Selama Jepang menjajajh Indonesia, hamper sepanjang hari
hanya diisi dengan kegiatan latihan perang atau bekerja. Jika ada kegiatan-
kegiatan sekolah hal tersebut tidak jauh dengan konteks Jepang sedang
berperang. Kegiatan yang dikatakan berhubungan dengan sekolah, hal
tersebut antara lain:
a. Mengumpulkan batu dan pasir untuk kepentingan perang.
b. Membersihkan bengkel-bengkel dan asrama-asrama militer
c. Menanam ubi-ubian dan sayur-sayuran di pekarangan sekolah untuk
persediaan bahan makanan
d. Menanam pohon jarak untuk bahan pelumas.
Adapun murid setiap pagi wajib mengucapkan sumpah setia kepada
Kaisar Jepang , lalu dilatih kemiliteran.
Ada tiga macam sekolah guru di zaman Jepang, yaitu
a. Pendidikan/ Sekolah Rakyat, lama studi 6 tahun termasuk SR adalah
Sekolah Pertama yang merupakan konversi dari Sekolah Dasar 3 atau 5
tahun bagi pribumi pada masa Belanda.
b. Pendidikan Lanjutan, terdiri dari Shoto Chu Gakko (Sekolah Menengah
Pertama) dengan lama studi 3 tahun dan Koto Chu Gakko (Sekolah
Menengah Tinggi) juga dengan lama studi 3 tahun
c. Sekolah guru, ada tiga macam sekolah guru :
(1) Sekolah guru 2 tahun = Sjootoo Sihan Gakoo

8
(2) Sekolah Guru Menengah 4 tahun = Guutoo Sihan Gakko
(3) Sekolah Guru Tinggi 6 tahun = Kooto Sihan Gakko
Pelajaran-pelajaran yang diberikan meliputi Sejarah Ilmu Bumi,
Bahasa Indonesia (Melayu), Adat Istiadat, Bahasa Jepang, Ideologi Jepang,
dan Kebudayaan Jepang.
Untuk menyebarluaskan ideology dan semangat Jepang para guru
ditatar secara khusus oleh pemimpin-pemimpin Jepang selama tiga bulan di
Jakarta. Mereka diharuskan dan diwajibkan meneruskan materi yang telah
diterima kepada teman-temannya. Untuk menannam semangatJepang itu
kepada murid-murid, diajarkan bahasa Jepang, nyanyian-nyanyian
perjuangan, atau nyanyian-nyanyian semangat kemiliteran kepada murid-
murid.
Memang kehadiran jepang di Indonesia menanamkan jiwa “berani”
pada bangsa Indonesia. Akan tetapi, semua itu demi kepentingan Jepang. di
bidang social dan politik, Jepang jelas merupakan penjajah yang menindas
bangsa Indonesia dengan kejam. Jepang menguras banyak kekayaan kita.
Namun, Negara kita dapat menyadari hal itu sebagai hal yang
membahayakan. Maka, jepangpun menjanjikan kemerdekaan bagi bangsa
Indonesia. Akan tetapi, janji jepang belum terlaksana karena jepang harus
sudah meninggalkan bumi Indonesia sejak 17 Agustus 1945.
Sebenarnya, tujuan dari pendidikan zaman Jepang tidaklah banyak
dapat diuraikan sebab murid disibukan dengan peperangan sehingga
perhatian terhadap pendidikan sangat sedikit. Rayuan jepang terhadap
Indonesia mengatakan bahwa Jepang adalah “saudara tua” yang dating ke
Indonesia untuk mencapai kemakmuran bersama di Asia Timur Raya atau
terkenal dengan hakko ichiu sebagai landasan utama pendidikan di zaman
pendudukan Jepang
Dari sudut lain, dapat kita lihat bahwa secara konkret tujuan pendidikan
Jepang di Indonesia adalah menyediakan tenaga kerja Cuma-Cuma yang
disebut “romusha” dan prajurit-prajurit untuk membantu peperangan demi

9
kepentingan Jepang. Pengaruhnya adalah pelajar diharuskan mengikuti
latihan fisik, latihan kemiliteran, dan indoktrinisasi ketat. 4
Pada akhir zaman pendudukan jepang terdapat tanda-tanda upaya
dominasi jepang terhadap pendidikan Indonesia. Hal tersebut dapat dilihat
dari hal berikut.
a. Guru
Beberapa guru diwajibkan untuk mengikuti induktrinasi khusus di
Jakarta. Kemudian setelah mengikuti latihan khusus tersebut
sekembalinya mereka ke daerah masing-masing mereka harus melatih
teman-teman guru mereka mengenai hal yang mereka peroleh di
Jakarta. Bahan-bahan pkok yang mereka terima antara lain:
1. Indoktrinisasi mental dan ideology mengenai Hakko Ichiu dalam
rangka mencapai kemakmuranbersama Asia Raya
2. Latihan kemiliteran dan semangat Jepang (Nippon Seisyin)
3. Bahasa dan sejarah Jepang dan adat istiadatnya
4. Ilmu bumi ditinjau dari segi politisnya
5. Olahraga, lagu-lagu, dan nyanyian Jepang
b. Murid
Karena siswa mengemban masa depan Indonesia dalam rangka
kemakmuran bersama asia timur Raya, kepada murid-murid dikenakan
ketentuan dan indoktrinisasi yang sangat ketat. Mereka antara lain
dibebankan kewajiban dan keharusan sebagai berikut:
1. Setiap pagi harus menyanyikan lagu kebangsaan JEpang Kimigayo
2. Setiap pagi harus mengibarkan bendera Jepang Hino Maru
3. Setiap pagi harus menghadap kea rah Negara Jepang sambil
menghormat dengan membungkukan badan 90 derajat yang disebut
Saikeirei kepada kaisar Jepang Tenno Heika.
4. Setiap pagi harus mengucapkan sumpah setia kepada cita-cita
Indonesia dalam rangka Asia Raya , yaitu Dai Toa
5. Setiap pagi harus melakukan senam pagi (Taiso) untuk memelihara
semangat Jepang

4
Muhammad Rifa’i, Sejarah Pendidikan Indonesia, (Jogjakarta: Ar-ruzz Media, 2014), 84.

10
6. Melakukan latiha-latihan fisik dan kemiliteran (Kyoren)
7. Melakukan kerja bakti (Kinrohosyi)
Di zaman pendudukan jepang terjadi perubahan yang signifikan dalam
sistem persekolahan karena penghapusan sistem penggolongan, baik
menurut golongan bangsa maupun menurut status sosial. Dengan demikian,
terjadi integrasi terhadap macam-macam sekolah sejenis. Jenjang-jenjang
sekolah juga berubah dalam penggunaan istilah dan nama yaitu:
a. Jenjang sekolah dasar menggunakan istilah “sekolah rakyat” atau
Kokumin Gakko
b. Jenjang sekolah di atasnya yaitu sekolah lanjutan pertama (umum)
atau SMP (Sekolah Menengah Pertama) disebut Choto Chu Gakko
c. Jenjang sekolah di atasnya bagi kelanjutan sekolah menengah
tingkat pertama yakni
1) Sekolah Menanagah Tinggi (Koto Chu Gakko)
2) Sekolah Teknik Menengah (Kagyo Semmon Gakko)
3) Sekolah Pelayaran Tinggi
d. Sekolah Tinggi
Hampir semua perguruan Tinggi ditutup yang masih ada ialah:
1) Sekolah Tinggi Kedokteran (Ikka Dai Gakko)
2) Sekolah Teknik Tinggi (Kagyo Dai Gakko)

C. Sejarah Pendidikan di Indonesia Setelah Kemerdekaan


Setelah Indonesia merdeka, perjuangan bangsa Indonesia tidak berhenti
sampai di sini karena gangguan-gangguan dari para penjajah yang ingin
kembali menguasai Indonesia datang silih berganti sehingga bidang pendidikan
pada saat itu bukanlah prioritas utama. Hal tersebut terjadi karena konsentrasi
bangsa Indonesia adalah bagaimana mempertahankan kemerdekaan yang sudah
diraih dengan perjuangan yang amat berat.
Tujuan pendidikan belum dirumuskan dalam suatu undang-undang yang
mengatur pendidikan. Sistem persekolahan di Indonesia yang telah
dipersatukan oleh penjajah Jepang terus disempurnakan. Namun dalam
pelaksanaannya belum tercapai sesuai dengan yang diharapkan bahkan banyak

11
pendidikan di daerah-daerah tidak dapat dilaksanakan karena faktor keamanan
para pelajarnya. Di samping itu, banyak pelajar yang ikut serta berjuang
mempertahankan kemerdekaan sehingga tidak dapat bersekolah.
1. Zaman Orde Lama
Saat gangguan-gangguan itu mereda, pembangunan untuk mengisi
kemerdekaan mulai digerakkan. Pembangunan dilaksanakan serentak di
berbagai bidang, baik spiritual maupun material. Setelah diadakan
konsolidasi yang intensif, sistem pendidikan Indonesia terdiri atas:
Pendidikan Rendah, Pendidikan Menengah, dan Pendidikan Tinggi. Dan
pendidikan harus membimbing para siswanya agar menjadi warga negara
yang bertanggung jawab. Sesuai dengan dasar keadilan sosial, sekolah harus
terbuka untuk tiap-tiap penduduk Negara.
Pendidikan Nasional zaman Orde Lama adalah pendidikan yang
diharapkan dapat membangun bangsa agar mandiri sehingga dapat
menyelesaikan revolusinya baik di dalam maupun di luar; pendidikan yang
secara spiritual membina bangsa yang ber-Pancasila dan melaksanakan
UUD 1945, Sosialisme Indonesia, Demokrasi Terpimpin, Kepribadian
Indonesia, dan merealisasikan ketiga kerangka tujuan Revolusi Indonesia
sesuai dengan Manipol yaitu :
a. Membentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia berwilayah dari
Sabang sampai Merauke
b. Menyelenggarakan masyarakat Sosialis Indonesia yang adil dan
makmur lahir-batin, melenyapkan kolonialisme,
c. Mengusahakan dunia baru, tanpa penjajahan, penindasan dan
penghisapan, ke arah perdamaian, persahabatan nasional yang sejati
dan abadi.5

2. Zaman Orde Baru


Orde Baru dimulai setelah penumpasan G-30S pada tahun 1965 dan
ditandai oleh upaya melaksanakan UUD 1945 secara murni dan konsekuen.
Haluan penyelenggaraan pendidikan dikoreksi dari penyimpangan-

5
Muhammad Rifa’i, Sejarah Pendidikan Indonesia, (Jogjakarta: Ar-ruzz Media, 2014), 160.

12
penyimpangan yang dilakukan oleh Orde Lama yaitu dengan menetapkan
pendidikan agama menjadi mata pelajaran dari sekolah dasar sampai dengan
perguruan tinggi. Di samping itu, dikembangkan kebijakan link and match
di bidang pendidikan. Konsep keterkaitan dan kepadanan ini dijadikan
strategi operasional dalam meningkatkan relevansi pendidikan dengan
kebutuhan pasar. Inovasi-inovasi pendidikan juga dilakukan untuk
mencapai sasaran pendidikan yang diinginkan. Sistem pendidikannya
adalah sentralisasi dengan berpusat pada pemerintah pusat.
Namun demikian, dalam dunia pendidikan pada masa ini masih
memiliki beberapa kesenjangan. Beberapa kesenjangan, yaitu (1)
kesenjangan okupasional (antara pendidikan dan dunia kerja), (2)
kesenjangan akademik (pengetahuan yang diperoleh di sekolah kurang
bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari), (3) kesenjangan kultural
(pendidikan masih banyak menekankan pada pengetahuan klasik dan
humaniora yang tidak bersumber dari kemajuan ilmu dan teknologi), dan
(4) kesenjangan temporal (kesenjangan antara wawasan yang dimiliki
dengan wawasan dunia terkini).
Namun demikian keberhasilan pembangunan yang menonjol pada
zaman ini adalah (1) kesadaran beragama dan kebangsaan meningkat
dengan pesat, (2) persatuan dan kesatuan bangsa tetap terkendali,
pertumbuhan ekonomi Indonesia juga meningkat.
3. Zaman Reformasi
Selama Orde Baru berlangsung, rezim yang berkuasa sangat leluasa
melakukan hal-hal yang mereka inginkan tanpa ada yang berani melakukan
pertentangan dan perlawanan, rezim ini juga memiliki motor politik yang
sangat kuat yaitu partai Golkar yang merupakan partai terbesar saat itu.
Hampir tidak ada kebebasan bagi masyarakat untuk melakukan sesuatu,
termasuk kebebasan untuk berbicara dan menyampaikan pendapatnya.
Begitu Orde Baru jatuh pada tahun 1998 masyarakat merasa bebas.
Reformasi ini pada awalnya lebih banyak bersifat mengejar kebebasan tanpa
program yang jelas.

13
Korupsi semakin hebat dan semakin sulit diberantas. Namun
demikian, dalam bidang pendidikan ada perubahan-perubahan dengan
munculnya Undang-Undang Pendidikan yang baru dan mengubah sistem
pendidikan sentralisasi menjadi desentralisasi, di samping itu kesejahteraan
tenaga kependidikan perlahan-lahan meningkat. Hal ini memicu
peningkatan kualitas profesional mereka. Instrumen-instrumen untuk
mewujudkan desentralisasi pendidikan juga diupayakan, misalnya KBK
(Kurikulum Berbasis Kompetensi), MBS (Manajemen Berbasis Sekolah),
Life Skills (Lima Ketrampilan Hidup), TQM (Total Quality Management),
KTSP (Kurikulum Satuan Pendidikan).
Sekarang sudah ada Undang-undang yang mengatur tentang sistem
pendidikan di Indonesia yaitu UU RI No.20 Th.2003, Bab VI. Setiap tahun
dan setiap ada pergantian pimpinan selalu berupaya untuk
menyempurnakan kurikulum, pola dan strategi pembelajaran,
penyempurnaan terarah pada pembinaan pola dan strategi pembelajaran dan
peningkatan mutu pendidikan.

D. Keterlibatan Tokoh Pendidikan Monumental


Tokoh yang berjuang di bidang pendidikan adalah sebagai berikut:
1. Ki Hajar Dewantara
Nama aslinya Raden Mas Soewardi Soerjaningrat merupakan
seorang pendiri sebuah Taman Siswa pada tanggal 3 Juli 1922. Semboyan
Ki Hajar Dewantara yang sangat terkenal adalah Ing Ngarsa Sung Tuladha,
Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani yang artinya kurang lebih
adalah yang di depan memberi contoh, yang ditengah membangun
keinginan dan bekerja sama dan yang dibelakang memberikan daya
semangat dan dorongan. Konsep pendidikan yang digagas Soewardi
Soerjaningrat mengakui hak si anak atas kemerdekaannya untuk tumbuh
dan berkembang sesuai dengan bakat serta pembawaannya.
Ki Hajar Dewantara pernah menjabat sebagai Menteri Pendidikan,
Pengajaran dan Kebudayaan pertama RI, serta mendapat bintang Maha
Putera atas jasa-jasanya dalam bidang kebudayaan dan pendidikan.

14
Tahun 1946, Ki Hajar Dewantara menjadi ketua Panitia Penyelidik
Pengajaran yang dibentuk Pemerintah untuk menentukan garis baru dalam
bidang pendidikan dan pengajaran yang sesuai dengan cita-cita bangsa.6
2. Kyai Haji Ahmad Dahlan
yaitu seorang pendiri sebuah organisasi Islam bernama Muhammadiyah
yang berdiri pada tahun 1912. Pendidikan Muhammadiyah oleh KHA
Dahlan mempunyai tujuan yaitu lahirnya seorang manusia-manusia yang
baru dan mampu tampil sebagai “ulama-ulama intelek” yaitu seorang
muslim yang mempunyai keteguhan iman serta ilmu yang sangat luas dan
sehat jasmani maupun rohani.

6
MIF baihaqi, Ensiklopedi Tokoh Pendidikan (Penerbit Nusa Cendekia, 2015) 84.

15
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Pada masa lampau yang memperjelas pemahaman kita tentang masa
kini. Sistem pendidikan yang kita miliki sekarang merupakan hasil dari
perkembangan pendidikan yang telah tumbuh di dalam sejarah sebuah
pengalaman dari bangsa kita pada saat masa lampau. Pembahasan yang
mengenai tentang suatu landasan dari sejarah pendidikan di atas telah memberi
implikasi dan konsep-konsep pendidikan, yaitu sebagai berikut:
1. Tujuan Pendidikan : Pendidikan ini bertujuan untuk mengembangkan
potensi peserta didik serta mengembangkan kepribadian mereka secara
lebih harmonis. Tujuan dari pendidikan diarahkan untuk dapat
mengembangkan aspek keagamaan, kemanusiaan, kemanusiaan, serta
kemandirian dari peserta didik.
2. Proses Pendidikan : Proses pendidikan yang terutama adalah proses belajar-
mengajar dan sebuah materi pelajaran yang harus disesuaikan dengan
tingkat perkembangan seorang peserta didik, mengembangkan kemandirian
serta kerjasama dari seorang siswa dalam pembelajaran, lalu
mengembangkan pembelajaran sebuah lintas disiplin ilmu, demokratisasi di
dalam pendidikan, serta untuk mengembangkan ilmu dan teknologi masa
sekarang.
3. Inovasi Pendidikan : Inovasi-inovasi yang harus bersumber dari sebuah
hasil-hasil penelitian dari pendidikan di Indonesia, bukan hanya sekedar
membuat konsep-konsep dari dunia Barat sehingga bisa diharapkan pada
akhirnya akan membentuk suatu konsep-konsep pendidikan yang memang
bercirikan asli Indonesia.

16
DAFTAR PUSTAKA

Pidarta, Made. 2007. Landasan Pendidikan: Stimulus Ilmu Pendidikan Bercorak


Indonesia. Jakarta: PT Rineka Cipta.
Rifa’I, Muhammad, 2014, Sejarah Pendidikan Indonesia. Jogjakarta: Ar-ruzz
Media
Baihaqi, MIF, 2015, Ensiklopedi Tokoh Pendidikan. Bandung: Penerbit Nuansa
Cendekia

17

Anda mungkin juga menyukai