Anda di halaman 1dari 11

Ca COLON

A. DEFINISI

Kanker colon adalah suatu kanker yang yang berada di colon. Kanker colon adalah
penyebab kedua kematian di Amerika Serikat setelah kanker paru-paru (ACS 1998)

Penyakit ini termasuk penyakit yang mematikan karena penyakit ini sering tidak
diketahui sampai tingkat yang lebih parah. Pembedahan adalah satu-satunya cara untuk
mengubah kanker Colon.

B. ETIOLOGI

Penyebab dari pada kanker Colon tidak diketahui. Diet dan pengurangan waktu
peredaran pada usus besar (aliran depan feces) yang meliputi faktor kausatif. Petunjuk
pencegahan yang tepat dianjurkan oleh Amerika Cancer Society (The National Cancer
Institute), dan organisasi kanker lainnya.

Makanan-makanan yang pasti di curigai mengandung zat-zat kimia yang


menyebabkan kanker pada usus besar. Makanan tersebut juga mengurangi waktu peredaran
pada perut, yang mempercepat usus besar menyebabkan terjadinya kanker. Makanan yang
tinggi lemak terutama lemak hewan dari daging merah,menyebabkan sekresi asam dan
bakteri anaerob, menyebabkan timbulnya kanker didalam usus besar. Daging yang di
goreng dan di panggang juga dapat berisi zat-zat kimia yang menyebabkan kanker. Diet
dengan karbohidrat murni yang mengandung serat dalam jumlah yang banyak dapat
mengurangi waktu peredaran dalam usus besar. Beberapa kelompok menyarankan diet
yang mengadung sedikit lemak hewan dan tinggi sayuran dan buah-buahan (e.g Mormons,
seventh Day Adventists).

Makanan yang harus dihindari :

• Daging merah
• Lemak hewan
• Makanan berlemak
• Daging dan ikan goreng atau panggang
• Karbohidrat yang disaring (example:sari yang disaring)

Makanan yang harus dikonsumsi:

• Buah-buahan dan sayur-sayuran khususnya Craciferous Vegetables dari golongan


kubis (seperti brokoli,brussels sprouts)
• Butir padi yang utuh
• Cairan yang cukup terutama air

Karena sebagian besar tumor Colon menghasilkan adenoma, faktor utama yang
membahayakan terhadap kanker Colon menyebabkan adenoma. Ada tiga type adenoma
Colon : Tubular, Villous dan Tubulo Villous. Meskipun hampir sebagian besar kanker
Colon berasal dari adenoma, hanya 5% dari semua Adenoma Colon menjadi manigna,
Villous Adenoma mempunyai potensial tinggi untuk menjadi manigna.

Faktor yang menyebabkan adanya adenoma benigna atau manigna tumor tidak
diketahui, poliposis yang bergerombol bersifat herediter yang tersebar pada gen autosom
dominan. Ini di karakteristikkan pada permulaan adematus polip pada colon dan rektum.
Resiko dari kanker pada tempat femiliar poliposis mendekati 100 % dari orang yang
berusia 20 – 30 tahun.

Orang-orang yang telah mempunyai Ulcerative Colitis atau penyakit Crohn’s juga
mempunyai resiko terhadap kanker Colon. Penambahan resiko pada permulaan usia muda
dan tingkat yang lebih tinggi terhadap keterlibatan colon. Resiko dari kanker Colon akan
menjadi 2/3 kali lebih besar jika anggota keluarga menderita penyakit tersebut

C. KLASIFIKASI

Klasifikasi kanker kolon menurut modifikasi DUKES adalah sebagai berikut


(FKUI, 2001 : 209) :

A : kanker hanya terbatas pada mukosa dan belum ada metastasis.


B1 : kanker telah menginfiltrasi lapisan muskularis mukosa.
B2 : kanker telah menembus lapisan muskularis sampai lapisan propria.
C1 : kanker telah mengadakan metastasis ke kelenjar getah bening sebanyak
satu sampai empat buah.
C2 : kanker telah mengadakan metastasis ke kelenjar getah bening lebih dari 5
buah.
D : kanker telah mengadakan metastasis regional tahap lanjut dan penyebaran
yang luas & tidak dapat dioperasi lagi.

D. MANIFESTASI KLINIS KANKER KOLON

Gejala sangat ditentukan oleh lokasi kanker, tahap penyakit, dan fungsi segmen
usus tempat kanker berlokasi. Adanya perubahan dalam defekasi, darah pada feses,
konstipasi, perubahan dalam penampilan feses, tenesmus, anemia dan perdarahan rectal
merupakan keluhan yang umum terjadi.

1. Kanker kolon kanan, dimana isi kolon berupa caiaran, cenderung tetap tersamar
hingga stadium lanjut. Sedikit kecenderungan menimbulkan obstruksi, karena
lumen usus lebih besar dan feses masih encer. Anemia akibat perdarahan sering
terjadi, dan darah bersifat samara dan hanya dapat dideteksi dengan tes Guaiak
(suatu tes sederhana yang dapat dilakukan di klinik). Mucus jarang terlihat, karena
tercampur dalam feses. Pada orang yang kurus, tumor kolon kanan mungkin dapat
teraba, tetapi jarang pada stadium awal. Penderita mungkin mengalami perasaan
tidak enak pada abdomen, dan kadang – kadang pada epigastrium.
2. Kanker kolon kiri dan rectum cenderung menyebabkan perubahan defekasi sebagai
akibat iritasi dan respon refleks. Diare, nyeri kejang, dan kembung sering terjadi.
Karena lesi kolon kiri cenderung melingkar, sering timbul gangguan obstruksi.
Feses dapat kecil dan berbentuk seperti pita. Baik mucus maupun darah segar sering
terlihat pada feses. Dapat terjadi anemia akibat kehilangan darah kronik.
Pertumbuhan pada sigmoid atau rectum dapat mengenai radiks saraf, pembuluh
limfe atau vena, menimbulkan gejala – gejala pada tungakai atau perineum.
Hemoroid, nyeri pinggang bagian bawah, keinginan defekasi atau sering berkemih
dapat timbul sebagai akibat tekanan pada alat – alat tersebut. Gejala yang mungkin
dapat timbul pada lesi rectal adalah evakuasi feses yang tidak lengkap setelah
defekasi, konstipasi dan diare bergantian, serta feses berdarah (Gale, 2000).

E. PENATALAKSANAAN MEDIS

Bila sudah pasti karsinima kolon, maka kemungkinan pengobatan adalah sebagai
berikut :

1. Pembedahan (Operasi)

Operasi adalah penangan yang paling efektif dan cepat untuk tumor yang diketahui
lebih awal dan masih belum metastatis, tetapi tidak menjamin semua sel kanker telah
terbuang. Oleh sebab itu dokter bedah biasanya juga menghilangkan sebagian besar
jaringan sehat yang mengelilingi sekitar kanker.

2. Penyinaran (Radioterapi)

Terapi radiasi memakai sinar gelombang partikel berenergi tinggi misalnya sinar X,
atau sinar gamma, difokuskan untuk merusak daerah yang ditumbuhi tumor, merusak
genetic sehingga membunuh kanker. Terapi radiasi merusak sel-sel yang pembelahan
dirinya cepat, antara alin sel kanker, sel kulit, sel dinding lambung & usus, sel darah.

Kerusakan sel tubuh menyebabkan lemas, perubahan kulit


dan kehilangan nafsu makan.
3. kemotherapy

Chemotherapy memakai obat antikanker yang kuat , dapat masuk ke dalam sirkulasi darah,
sehingga sangat bagus untuk kanker yang telah menyebar. Obat chemotherapy ini ada kira-
kira 50 jenis. Biasanya di injeksi atau dimakan, pada umumnya lebih dari satu macam obat,
karena digabungkan akan memberikan efek yang lebih bagus (FKUI, 2001 : 211).

F. PENGKAJIAN KEPERAWATAN

Pengkajian adalah langkah awal dan dasar dalam proses keperawatan secara
menyeluruh (Boedihartono, 1994 : 10).

Pengkajian pasien Post Operatif Ca Colon (Doenges, 1999) adalah meliputi :

1. Sirkulasi

Gejala : riwayat masalah jantung, GJK, edema pulmonal, penyakit vascular perifer, atau
stasis vascular (peningkatan risiko pembentukan trombus).

2. Integritas Ego

Gejala : perasaan cemas, takut, marah, apatis ; factor-faktor stress multiple, misalnya
financial, hubungan, gaya hidup.
Tanda : tidak dapat istirahat, peningkatan ketegangan/peka rangsang ; stimulasi simpatis.

3.Makanan / cairan

Gejala : insufisiensi pancreas/DM, (predisposisi untuk hipoglikemia/ketoasidosis) ;


malnutrisi (termasuk obesitas) ; membrane mukosa yang kering (pembatasan
pemasukkan / periode puasa pra operasi).

4. Pernapasan

Gejala : infeksi, kondisi yang kronis/batuk, merokok.

5. Keamanan

Gejala : alergi/sensitive terhadap obat, makanan, plester, dan larutan ; Defisiensi immune
(peningkaan risiko infeksi sitemik dan penundaan penyembuhan) ; Munculnya kanker
/terapi kanker terbaru ; Riwayat keluarga tentang hipertermia malignant/reaksi anestesi ;
Riwayat penyakit hepatic (efek dari detoksifikasi obat-obatan dan dapat mengubah
koagulasi) ; Riwayat transfuse darah / reaksi.
Tanda : menculnya proses infeksi yang melelahkan ;
demam.

6. Penyuluhan / Pembelajaran

Gejala : pengguanaan antikoagulasi, steroid, antibiotic, antihipertensi, kardiotonik


glokosid, antidisritmia, bronchodilator, diuretic, dekongestan, analgesic, antiinflamasi,
antikonvulsan atau tranquilizer dan juga obat yang dijual bebas, atau obat-obatan
rekreasional. Penggunaan alcohol (risiko akan kerusakan ginjal, yang mempengaruhi
koagulasi dan pilihan anastesia, dan juga potensial bagi penarikan diri pasca operasi).

G. DIAGNOSA KEPERAWATAN DAN INTERVENSI


1. Diagnosa keperawatan utama

Pasien dengan tipe Ca Colon mempunyai diagnosa keperawatan seperti dibawah ini:

1. Resiko tinggi terhadap luka s.d efek dari tumor dan kemungkinan metastase.
2. Ketidakefektifan koping individu s.d gangguan konsep diri.

2. Diagnosa keperawatan tambahan

1. Nyeri s.d obstruksi tumor pada usus besar dengan kemungkinan menekan organ
yang lainnya.
2. Gangguan pemeliharaan kesehatan s.d kurangnya pengetahuan tentang proses
penyakit, program diagnosa dan rencana pengobatan.
3. Ketidakefektifan koping keluarga : Kompromi s.d gangguan pada peran, perubahan
gaya hidup dan ketakutan pasien terhadap kematian.
4. Gangguan nutrisi : Kurang dari kebutuhan tubuh s.d program diagnosa.
5. Ketakutan proses penyakit
6. Ketidakberdayaan s.d penyakit yang mengancam kehidupan dan pengobatannya.
7. Gangguan pola sexual s.d gangguan konsep diri.

INTERVENSI/IMPLEMENTASI
Tujuan
Tujuan utama dapat mencakup eliminasi produk sisa tubuh yang adekuat ; reduksi /
penghilangan nyeri; peningkatan toleransi aktivitas; mendapatkan tingkat nutrisi optimal;
mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolik;penurunan ansietas; memahami
tentang diagnosis; prosedur pembedahan dan perawatan diri setelah pulang;
mempertahankan penyembuhan jaringan optimal; perlindungan kulit periostomal yang
adekuat; penggalian dan pengungkapan perasaan dan masalah tentang kolostomi dan
pengaruhnya pada diri sendiri;

Intervensi Keperawatan PraOperatif

1.Mempertahankan eliminasi

Frekuensi dan konsistensi defekasi dipantau

Laksatif dan enema diberikan sesuai resep

Pasien yang menunjukkan tanda perkembangan ke arah obstruksi total disiapkan untuk
mejalani pembedahan.

2.Menghilangkan Nyeri

Analgesic diberikan sesuai resep

Lingkungan dibuat kondusif untuk relaksasi dengan meredupkan lampu, mematikan TV


atau radio, dan membatasi pengunjung dan telepon bila diinginkan oleh pasien

Tindakan kenyamanan tambahan ditawarkan : perubahan posisi, gosokan punggung, dan


teknik relaksasi.

3.Meningkatkan Toleransi Aktivitas

Kaji tingkat toleransi aktivitas pasien

Ubah dan jadwalkan aktivitas untuk memungkinkan periode tirah baring yang adekuat
dalam upaya untuk menurunkan keletihn pasien.

Terapi komponendarah diberikan sesuai resep bila pasien menderita anemia berat.
Apabila transfusi darah diberikan, pedoman keamanan umum dan kebijakan institusi
mengenai tindakan pengamanan harus diikuti.

Aktivitas post op ditingkatkan dan toleransi dipantau.

4.Memberikan Tindakan Nutrisional

Bila kondisi pasien memungkinkan, diet tinggi kalori, protein, karbohidrat serta rendah
residu diberikan pada pra op selama bberapa hari untuk memberikan nutrisi adekuat dan
meminimalkan kram dengan menurunkan peristaltic berlebih.

Diet cair penuh 24 jam pra op, untuk menggantikan penipisan nutrient, vitamin dan
mineral.

Penimbangan BB harian dicatat, dan dokter diberitahu bila terdapat penurunan BB pada
saat menerima nutrisi parenteral.

5.Mempertahankan Keseimbangan Cairan & Elektrolit

Catat masukan dan haluaran, mencakup muntah, yang akan menyediakan data akurat
tentang keseimbangan cairan

Batasi masukan maknan oral dan cairan untuk mencegah muntah.

Berikan antiemetik sesuai indikasi

Pasang selang nasogastrik pada periode pra op untuk mengalirkan akumulasi cairan dan
mencegah distensi abdomen

Pasang kateter indwelling untuk memantau haluaran urin setiap jam. Haluaran kurang dari
30 ml / jam dilaporkan sehingga terapi cairan intravena dapat disesuaikan.

Pantau pemberian cairan IV dan elktrolit, terutama kadar serum untuk mendeteksi
hipokalemia dan hiponatremia, yang terjadi akibat kehilangan cairan gastrointestinal.
Kaji TTV untuk mendeteksi hipovolemia : takikardi, hipotensi dan penurunan jumlah
denyut.

Kaji status hidrasi, penurunan turgor kulit, membrane mukosa kering, urine pekat, serta
peningkatan berat jenis urine dilaporakan.

6.Menurunkan Ansietas

Kaji tingkat ansietas pasien serta mekanisme koping yang digunakan

Upaya pemberian dukungan, mencakup pemberian privasi bila diinginkan dan


menginstruksikan pasien untuk latihan relaksasi.

Luangkan waktu untuk mendengarkan ungkapan, kesedihan atau pertanyaan yang diajukan
oleh pasien.

Atur pertemuan dengan rohaniawan bila pasien menginginkannya, dengan dokter bila
pasien mengharapkan diskusi pengobatan atau prognosis.

Penderita stoma lain dapat diminta untuk berkunjung bila pasien mengungkapkan minat
untuk berbicara dengan mereka.

Untuk meningkatkan kenyamanan pasien, perawat harus mengutamakan relaksasi dan


perilaku empati.

Jawab pertanyaan pasien dengan jujur dan menggunakan bahasa yang mudah dipahami.

Setiap informasi dari dokter harus dijelaskan, bila perlu. Kadang – kadang kecemasan
berkurang, bila pasien mengetahui persiapan fisik yang diperlukan selama periode pra op
dan mengetahui kemungkinan post op. beberapa pasien akan lebih senang jika
diperbolehkan untuk melihat hasil pemeriksaan, sementara yang lain memilih untuk tidak
mengetahuinya.

7.Mencegah Infeksi
Berikan antibiotic seperti kanamisin sulfat ( Kantrex ), eritromisin (Erythromycin), dan
Neomisin Sulfat sesuai resep, untuk mengurangi bakteri usus dalam rangka persiapan
pembedahan usus. Preparat diberikan per oral untuk mengurangi kandungan bakteri kolon
dan melunakkan serta menurunkan bulk dari isi kolon.

Selian itu, usus juga dapat dibersihkan dengan enema, atau irigasi kolon.

8.Pendidikan Pasien Pra Operatif

Kaji tingkat kebutuhan pasien tentang diagnosis, prognosis, prosedur bedah, dan tingkat
fungsi yang diinginkan pasca op.

Informasi yang diperlukan pasien tentang persiapan fisik untuk pembedahan, penampilan
dan perawatan yang diharapkan dari luka pasca op, teknik perawatan kolostomi,
pembatasan diet, control nyeri, dan penatalaksanaan obat dimsukkan ke dalam materi
penyuluhan.

Intervensi Keperawatan Pasca Operatif

1.Perawatan Luka

Luka abdomen diperiksa dngan sering dalam 24 jam pertama, untuk meyakinkan bahwa
luka akan sembuh tanpa komplikasi ( infeksi, dehidens, emoragik, edema berlebihan ).

Ganti balutan sesuai kebutuhan untuk mencegah infeksi.

Bantu pasien untuk membebat insisi abdomen selama batuk dan napas dalam untuk
mengurangi tegangan pada tepi insisi.

Pantau adanya peningkatan TTV yang mengindikasikan adanya proses infeksi.


Periksa stoma terhadap edema ( edema ringan akibat manipulasi bedah adalah normal ),
warna ( stoma sehat adalah mera jambu ), rabas ( rembesan berjumlah sedikit adalah
normal ), dan perdarahan ( tanda abnormal ).

Bersihkan kulit peristoma dengan perlahan serta keringkan untuk mencegah iritasi, berikan
pelindung kulit sebelum meletakkan kantung drainase.

Apabila malignansi telah diangkat dengan rute perineal, luka diobservasi dengan cermat
untuk tanda hemoragik. Luka dapat mengandung drain atau tampon yang diangkat secara
bertahap. Mungkin terdapat jaringan yang terkelupas selama beberapa minggu. Proses ini
juga dipercepat dengan irigasi mekanis luka atau rendam duduk yang dilakukan dua atau
tiga kali sehari.

Dokumentasikan kondisi luka perineal, adanya perdarahan, infeksi atau nekrosis.

2.Citra Tubuh Positif

Dorong pasien untuk mengungkapkan masalah yang dialami serta mendiskusikan tentang
pembedahan dan stoma ( bila telah dibuat ).

Ajarkan pasien mengenai perawatan kolostomi dan pasien sudah harus ulai untuk
memasukkan perawatan stoma dalam kehidupan sehari – hari.

Berikan lingkungan yang kondusif bagi pasien serta berikan dukungan dalam
meningkatkan adaptasi pasien terhadap perubahan yang terjadi akibat pembedahan
H. DAFTAR PUSTAKA

Carpenito, Lynda Juall. (2000.). Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Edisi 8.


(terjemahan). Penerbit buku Kedokteran EGC. Jakarta.

Doenges, Marilynn E. (1999). Rencana Asuhan Keperawatan. Edisi 3. (terjemahan).


Penerbit buku Kedokteran EGC. Jakarta.

Engram, Barbara. (1998). Rencana Asuhan Keperawatan Medikal Bedah. Volume 2,


(terjemahan). Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta.

Junadi, Purnawan. (1982). Kapita Selekta Kedokteran, Jakarta: Media Aesculapius


Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Mansjoer, Arif., et all. (1999). Kapita Selekta Kedokteran. Fakultas Kedokteran UI :


Media Aescullapius.

http:www.scribd.com/.../ASUHAN-KEPERAWATAN-KLIEN-DENGAN-
CARSINOMA-COLON-CA-COLON.html

http:www.ilmukeperawatan.com/askep.html

http:www.kerjakarir.info/.../Kumpulan+Askep:+Askep+Ca

http:www.dxportal.com/stats/.../250169-askep-ca-colon.html

http:www.ilmukeperawatan.com/asuhan_keperawatan_penyakit_bedah.html