Anda di halaman 1dari 15

MAKALAH

PEMERIKSAAN BIAYA DIBAYAR DIMUKA (PREPAID EXPENSES)

DAN PAJAK DIBAYAR DIMUKA (PREPAID TAXES)

Disusun untuk memenuhi tugas

Mata Kuliah : Auditing 1

Dosen Pengampu : Muhammad Imam Hafidz S.E. , M.M.

Disusun oleh :

1. Oktavia Siti Kristiana 181011200696


2. Prima Kurniawan 181011200693
3. Windu Shabriellia 181011200738

RUANG K-613
JURUSAN AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS PAMULANG
TAHUN AJARAN 2019/2020
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan Kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat
serta karunia-Nya kepada kami sehingga kami berhasil menyelesaikan Makalah ini yang bejudul
“Pemeriksaan Biaya Dibayar Dimuka dan Pajak Dibayar Dimuka”.

Makalah ini berisikan informasi tentang Definisi biaya dan pajak dibayar dimuka, tujuan
dari pemeriksaan dari pemeriksaan biaya dan pajak dibayar dimuka, prosedur yang harus
dilakukan dalam proses pemeriksaan biaya dan pajak dibayar dimuka, dan penentuan resiko dalam
pemeriksaan biaya dan pajak dibayar dimuka.

Kami harap makalah ini dapat memberikan informasi kepada kita semua, tentang hal-hal
mengenai pemeriksaan biaya dan pajak dibayar dimuka.

Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik dan
saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu kami harapkan demi kesempurnaan
makalah ini.

Akhir kata, kami sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah bereperan serta
dalam penyusunan makalah ini dari awal sampai akhir.

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .................................................................................................................... i


DAFTAR ISI.................................................................................................................................. ii
BAB I PENDAHULUAN .............................................................................................................. 1
A. LATAR BELAKANG ..................................................................................................................... 1
B. RUMUSAN MASALAH ................................................................................................................. 1
C. TUJUAN MASALAH ..................................................................................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN ............................................................................................................... 3
A. Definisi Biaya Dibayar Dimuka dan Pajak Dibayar Dimuka ..................................................... 3
B. Sifat dan Contoh Biaya Dibayar Dimuka dan Pajak Dibayar Dimuka ..................................... 3
C. Tujuan Pemeriksaan Biaya dan Pajak Dibayar Dimuka ............................................................ 4
D. Memahami Prosedur Pemeriksaan Biaya Dibayar Dimuka dan Pajak Dibayar Dimuka ....... 5
E. Memahami Penentuan Resiko Pemeriksaan dan Pajak Dibayar Dimuka ................................ 9
BAB III PENUTUP ..................................................................................................................... 11
A. KESIMPULAN ............................................................................................................................. 11
B. SARAN ........................................................................................................................................... 11
DAFTAR PUSTAKA .................................................................................................................. 12

ii
BAB I

PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG

Aktivitas sebuah entitas, baik entitas yang berorientasi pada laba (profit) maupun
non laba (profit), tidak dapat dipisahkan dari beban. Di dalam suatu perusahaan, beban
adalah suatu elemen penting dalam aktivitas operasional, investasi, maupun pendanaan
perusahaan tersebut. Hal ini dikarenakan beban merupakan biaya yang dikeluarkan
perusahaan untuk menjalankan operasi sehingga mencerminkan kinerja perusahaan.
Disamping itu, Beban adalah perkiraan perusahaan yang cukup mudah untuk
diselewengkan termasuk beban-beban yang dibayar dimuka.
Untuk menghindari terjadinya berbagai macam penyelewengan terhadap beban,
maka diperlukan adanya sistem pengendalian (pengawasan) yang cukup terhadap beban.
Sistem Pengendalian Intern (SPI) yang baik akan mengurangi potensi penyelewengan
terhadap beban perusahaan.
Pemeriksaan pada beban yang dibayar dimuka menjadi salah satu fokus utama
auditor dalam tugasnya dalam melakukan audit kepada perusahaan/entitas. Apabila
auiditor tidak mendapatkan temuan-temuan yang janggal pada saat pemeriksaan beban dan
penilaian yang baik terhadap pengendalian internal beban perusahaan, auditor akan lebih
mudah untuk melanjutkan pemeriksaan pada elemen keuangan perusahaan yang lainnya.

B. RUMUSAN MASALAH
1. Apa yang dimaksud dengan pemeriksaan biaya dibayar dimuka dan pajak dibyar
dimuka ?
2. Apa tujuan dari pemeriksaan biaya dibayar dimuka dan pajak dibayar dimuka ?
3. Prosedur yang harus dilakukan dalam proses pemeriksaan biaya dibayar dimuka dan
pajak dibayar dimuka ?
4. Resiko dalam pemeriksaan biaya dibayar dimuka dan pajak dibayar dimuka ?

1
C. TUJUAN MASALAH
1. Mampu menjelaskan definisi pemeriksaan biaya dan pajakdibyara dimuka;
2. Mengetahuai tujuan dari pemeriksaan biaya dan pajak dibayar dimuka;
3. Dapat memehami prosedur yang harus dilakukan dalam proses pemeriksaan biaya dan
pajak dibayar dimuka;
4. Dapat memahami penetuan resiko dalam pemeriksaan biaya dan pajak dibayar dimuka.

2
BAB II

PEMBAHASAN

A. Definisi Biaya Dibayar Dimuka dan Pajak Dibayar Dimuka


Definisi biaya dibayar dimuka dan pajak dibayar dimuka adalah sebagai berikut :
1. Biaya dibayar dimuka
Biaya dibayar dimuka adalah biaya yang belum menjadi kewajiban perusahaan
untuk membayar pada periode saat ini, namun perusahaan sudah membayar terlebih
dahulu.
2. Pajak dibayar dimuka
Pajak dibayar dimuka adalah pajak yang dibyar oleh perusahaan setiap bulan atau
dipotong/dipungut oleh pihak ketiga dan akan diperhitungkan sebagai kredit pajak di
akhir tahun (untuk pajak penghasilan) atau di akhir bulan (untuk PPN).

B. Sifat dan Contoh Biaya Dibayar Dimuka dan Pajak Dibayar Dimuka
1. Sifat Biaya Dibayar Dimuka dan Pajak Dibayar Dimuka
Keduanya mempunyai manfaat kurang atau sama dengan satu tahun, sehingga
dikelompokkan sebagai harta lancar (current assets)
2. Sifat Biaya Dibayar Dimuka dan Pajak Dibayar Dimuka menurut Standar Akuntansi
Keuangan
a. Biaya dibayar muka dimaksudkan sebagai biaya yang telah terjadi, yang akan
digunakan untuk aktivitas perusahaan yang akan datang.
b. Bagian dari biaya dibayar di muka yang akan memberikan manfaat untuk beberapa
periode kegiatan diklasifikasikan sebagai aktiva tidak lancar.
3. Contoh dari perkiraan-perkiraan yang biasa digolongkan sebagai biaya dibayar dimuka
adalah :
a. Premi asuransi (prepaid insurance).
b. Sewa dibayar di muka untuk masa satu tahun yang akan datang (prepaid rent).
c. Biaya lain-lain dibayar di muka (prepaid others), misalnya: biaya iklan di radio,
televisi yang berdasarkan kontrak, barang-barang untuk promosi (hadiah berupa
gantungan kunci, payung).

3
4. Contoh dari pajak dibayar dimuka adalah :
a. PPh 22 (dari import barang).
b. PPh 23 (dari bunga, dividen, royalty, mamagement fee).
c. PPh 25 (setoran masa pajak penghasilan).
d. PPN Masukan (Pajak Pertambahan Nilai yang dipungut oleh pengguna kena pajak
pada waktu perusahaan membeli barang atau jasa kena pajak).

C. Tujuan Pemeriksaan Biaya dan Pajak Dibayar Dimuka


1. Untuk memeriksa apakah terdapat internal control yang cukup baik atas Biaya dibayar
dimuka dan pajak dibayar di muka. Jika akuntan publik dapat meyakinkan dirinya
bahwa internal control atas Biaya berjalan efektif, maka luasnya pemeriksaan dalam
melakukan substantive test dapat dipersempit.
 Setiap pengeluaran untuk Biaya diotorisasi oleh pejabat perusahan yang
berwenang.
 Setiap pengeluaran untuk Biaya didukung oleh bukti-bukti yang sah dan lengkap.
Misalnya : polis asuransi, perjanjian sewa menyewa (lease agreement)
2. Untuk memeriksa apakah Biaya dibayar dimuka yang mempunyai kegunaan untuk
tahun berjalan telah dibebankan/dicatat sebagai Biaya tahun berjalan. Maksudnya
adalah auditor harus memeriksa apakah bagian expired (masa manfaatnya sudah
berlalu) sudah dibebankan sebagai Biaya tahun berjalan.
3. Untuk memeriksa apakah penyajian Biaya dalam laporan keuangan sudah sesuai
dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia (paybudi)/ PSAK. Biasanya
Biaya dibayar di muka yang mempunyai masa manfaat kurang dari atau sama dengan
satu tahun disajikan sebagai harta lancar, sedangkan yang masa manfaatnya lebih dari
satu disajikan sebagai aktiva tak lancar.
4. Untuk memeriksa apakah pajak dibayar di muka didukung oleh bukti
setoran/pemungutan pajak yang sah dan lengkap sehingga bisa diperhitungkan sebagai
kredit pajak pada akhir periode. Untuk bisa diperhitungkan sebagai kredit pajak,
perusahaan harus mempunyai bukti pendukung sebagai berikut : PPh 22 : bukti
pemungutan dari bank devisa dan PIUD (Pemberitahuan Import Untuk Dipakai) PPh
23 : bukti pemotongan dari perusahaan yang membayar dividen, sewa, royalty atau

4
bank yang membayar bungan deposito/jasa giro. PPh 25 : SSP PPN Masukan : faktur
pajak dari pengusaha kena pajak.

D. Memahami Prosedur Pemeriksaan Biaya Dibayar Dimuka dan Pajak Dibayar


Dimuka
Menurut Soekrisno Agoes (2012:169), Prosedur pemeriksaan dibagi atas prosedur
compliance test dan prosedur substantive test. Pembahasan prosedur pemeriksaan untuk
substantive test akan dibagi dalam beberapa bagian, yaitu sewa dibayar di muka, premi
asuransi dibayar di muka dan beban advertensi dibayar dimuka. Dalam praktiknya,
prosedur pemeriksaan yang dibahas disini harus disesuaikan dengan kondisi perusahaan
yang diaudit.
1. Prosedur Pemeriksaan Untuk Compliance Test
1) Pelajari dan evaluasi internal control atas pajak yang dibayar di muka :
a. Dalam hal ini internal control questionnaires yang dipergunakan tercakup
dalam internal control questionnaires atas pengeluaran kas dan bank :
 Apakah setiap pembayaran yang menyangkut pajak dibayar dimuka
didukung oleh bukti-bukti sah dan lengkap.
 Apakah pembayaran tersebut diotorisasi oleh pejabat prusahaan yang
berwenang.
 Apakah bukti setoran pajak, faktur pajak masukan, bukti pemotongan
pajak oleh pihak ketiga di file dengan baik dan rapi.
 Apakah lease agreement, insurance policy di file dengan baik dan rapi.
b. Lakukan test transaksi ( compliance test ) atas biaya dan pajak dibayar di muka.
Yang digunakan sebagai sample biasanya adalah bukti pengeluaran kas dan
bank dan sample cukup dipilih secara random.
2) Tarik kesimpulan mengenai internal control atas biaya dan pajak dibayar di muka.
Jika dari test transaksi auditor tidak menemukan sesuatu kesalahan, maka auditor
bisa menyimpulkan bahwa internal control atas pajak dibayar di muka berjalan
efektif. Karena itu subtantive test atas perkiraan pajak dibayar di muka bisa di
persempit.
2. Prosedur Pemeriksaan Subtantive Sewa Dibayar Dimuka (Prepaid Rent)

5
1) Minta rincian (schedule) prepaid rent per tanggal neraca.
2) Check ketelitian perhitungan mathematic (mathematical accuracy).
3) Cocokkan saldo prepaid rent per tanggal neraca dengan saldo buku besar (general
ledger) prepaid rent.
4) Cocokkan saldo awal prepaid rent dengan kertas kerja pemeriksaan tahun lalu.
5) Lakukkan vouching untuk pembayaran prepaid rent di tahun berjalan dan
pemeriksaan lease agreement ( jika sudah dilakukan di compaliance test, refer ke
kertas kerja compliance test ).
6) Tie-upltie-in (cocokkan) total yang dibebankan sebagai biaya sewa ke buku besar
biaya sewa.
Dalam hal ada biaya sewa yang langsung dibebankan ke perkiraan biaya sewa (
tanpa melalui prepaid rent ), jumlah biaya sewa di buku besar akan terlihat lebih
besar.
7) Buat usulan audit adjustment jika diperlukan.
3. Prosedur Pemeriksaan Substantive Premi Asuransi Dibayar Dimuka (Prepaid
Insurance)
Pada banyak audit, auditor dapat mengumpulkan bukti yang memadai dan
kompeten atas asuransi dibayar di muka dengan melakukan prosedur analitis
substantive. Pengujian terinci atas transaksi, jika dilakukan, dilaksanakan sebagai
bagian dari pengujian proses pembelian. Pengujian terinci atas saldo asuransi dibayar
di muka biasanya diperlukan hanya ketika salah saji diperkirakan. Karena pada
umumnya terdapat beberapa transaksi pada akun asuransi dibayar di muka dank arena
jumlah yang dilaporkan pada laporan keuangan untuk asuransi dibayar di muka
biasanya tidak material, prosedur analitis substantive adalah efektif untuk
memverifikasi saldo akun.
a. Prosedur Amalisi Subtantive
1. Minta rincian prepaid insurance per tanggalll neraca.
2. Check mathematical accuracy.
3. Cocokkan saldo prepaid insurance per tanggal neraca dengan saldo buku besar
(general ledger) prepaid insurance.

6
4. Cocokkan saldo awal prepaid insurance dengan kertas kerja pemeriksaan tahun
lalu.
5. Lakukkan vouching untuk pembayaran premi asuransi di tahun berjalan,
perhatikan apakah ada discount untuk pembayaran tersebut.
6. Periksa polis asuransi dan cocokkan data dalam polis asuransi dengan rincian
prepaid insurance.
7. Tie-up total yang dibebankan sebagai biaya asuransi ke buku besar biaya
asuransi.
8. Periksa apakah nilai pertanggungan ( insurance coverage ) cukup atau tidak
dalam arti tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil.
9. Perhatikan apakah di dalam polis asuransi terdapat BANKER’S CLAUSE,
maksudnya apakah dalam polis asuransi tersebut ada salah satu pasal yang
menyebutkan bahwa kalau terjadi klaim, karena yang diasuransikan terbakar
atau hilang, maka ganti rugi harus dibayarkan kepada bank.
10. Buat usulan audit adjustment jika diperlukan.
b. Pengujian Terinci atas Akun Asuransi Dibayar Dimuka
Pengujian terinci atas saldo asuransi dibayar di muka dan beban asuransi
mungkinperlu ketika auditor mencurigai salah saji berdasarkan audit tahun lalu atau
ketika prosedur analitis substantive menunjukan bahwa saldo akun mungkin
mengandung salah saji. Auditor mulai menguji saldo akun asuransi dibayar di muka
dengan memperoleh skedul dari klien yang berisi analisis terinci mengenai polis
yang termasuk dalam akun asuransi dibayar di muka.
c. Keberadaan dan kelengkapan (Existence and Completensess)
Auditor dapat menguji keberadaan dan kelengkapan dari polis asuransi yang
tercakup dalam analisis akun dengan mengirimkan konfirmasi kea gen asuransi
entitas, meminta informasi dari tiap nomor polis, cakupan, tanggal akhir masa
berlaku, dan premi. Hal ini merupakan cara yang efektif dan efisien dalam
mendapatkan bukti mengenai dua asersi. Pendekatan alternative adalah
pemeriksaan dokumen pendukung yang mendasarinya seperti tagihan dan polis
asuransi. Auditor dapat juga menguji kelengkapan dengan membandingkan polis

7
terinci di daftar asuransi tahun berjalan dengan polis yang ada di daftar asuransi
tahun lalu.
d. Hak dan Kewajiban (Right and Obligation)
Pemegang polis dapat diuji dengan meminta informasi tersebut dikonfirmasi yang
dikirimkan kea gen asuransi atau dengan memeriksa polis asuransi. Jika pemegang
polis adalah orang lain di luar klien, auditor dapat memiliki bukti atas kewajiban
yang tidak tercatat atau bukti behwa pihak lain memiliki klaim atas aktiva yang
diasuransikan.
e. Penilaian (Valuation)
Auditor berkepentingan dengan apakah porsi yang belum jatuh tempo atas asuransi
dibayar di muka, dan juga beban asuransi, telah dinilai dengan tepat. Hal ini dapat
dengan mudah diuji dengan menghitung kembali porsi asuransi yang belum jatuh
tempo setelah mempertimbangkan premi yang dibayar dan termin polis. Drngan
memverifikasi porsi asuransi dibayar di muka yang belum jatuh tempo, auditor juga
memverifikasi jumlah total beban asuransi.
f. Klasifikasi (Classification)
Pertimbangan auditor mengenai klasifikasi adalah bahwa berbagai jenis asuransi
dialokasikan secara tepat ke berbagai akun beban asuransi. Biasanya, pemerikasaan
mengenai cakupan polis asuransi menunjukan jenis asuransi. Misalnya, polis
asuransi kebakaran pada fasilitas pabrik dan administrasi utama harus dibebankan
baik kea kun beban asuransi overhead manufaktur maupun kea kun beban asuransi
umum dan administrasi.
4. Prosedur Pemeriksaan Substantive Prepaid Advertising :
1) Minta rincian prepaid Advertising per tanggal neraca.
2) Check footing dan cocokkan saldo akhir prepaid advertising ke buku besar dan
saldo awal ke kertas kerja pemeriksaan tahun lalu.
3) Periksa bukti pembayaran dan surat perjanjian ( untuk iklan di tv/radio/bill board )
dan bukti pembelian ( untuk barang-barang souvenir ).
4) Periksa kebenaran pembebanan ke biaya; untuk barang-barang souvenir harus
dilakukan stock opname ( perhitungan fisik ) pada akhir tahun.
5. Prosedur Pemeriksaan Substantive Prepaid Taxes :

8
1) Minta rincian prepaid taxes pertanggal neraca (rincian bisa per jenis pajak atau di
campur).
2) Check footing dan cocokan saldonya dengan buku besar.
3) Untuk pajak penghasilan, bandingkan angka prepaid taxes di rincian dengan SPT
PPH Badan.
4) Untuk Pajak Pertambahan nilai (PPN Masukan), bandingkan angka prepaid taxes
di rincian dengan SPT Masa (SPM).

Di dalam top schedule biasanya si auditor harus mencantumkan kesimpulan dari hasil
pemeriksaan atas perkiraan tersebut, apakah menurut pendapat auditor, perkiraan tersebut
disajikan secara wajar atau tidak.

E. Memahami Penentuan Resiko Pemeriksaan dan Pajak Dibayar Dimuka


Risiko bawaan untuk beban dibayar di muka seperti asuransi dibayar di muka pada
umumnya akan ditentukan pada tingkat yang rendah karena akun ini tidak melibatkan isu
akuntansi yang kompleks atau mendalam. Terlebih lagi salah saji yang mungkin dapat
dideteksi pada audit terdahulu secara umum akan berjumlah tidak material.Beban yang
ditangguhkan dan aktiva tidak berwujud di sisi lain dapat memerlukan pertimbangan risiko
bawaan yang serius. Contohnya, penilaian dan estimasi umur paten, waralaba dan goodwill
melibatkan pertimbangan mendalam dan dapat mengarah pada perbedaan pendapatan
antara auditor dengan klien. Dalam situasi seperti itu, auditor dapat menentukan risiko
bawaan pada tingkat yang tinggi.
1. Penentuan Risiko Pengendalian Beban Dibayar Dimuka
Transaksi beban dibayar di muka, beban ditangguhkan, dan aktiva tidak berwujud
biasanya diproses melalui proses pembelian. Pembahasan yang tersisa berfokus
pada akun asuransi dibayar di muka karena akun tersebut akan ditemui pada hamper
semua perikatan. Bagian dari penentuan auditor atas risiko pengendalian untuk
transaksi asuransi dibayar di muka didasarkan pada efektivitas prosedur
pengendalian dalam proses pembelian. Contohnya, prosedur pengendalian dalam
proses pembelian harus memastikan bahwa polis asuransi yang baru telah
diotorisasi dengan tepat dan dicatat.

9
Prosedur pengendalian tambahan dapat digunakan untuk mengendalikan
transaksi dan informasi asuransi. Sebagai contoh, daftar asuransi (insurance
register) dapat dibuat sebagai catatan yang terpisah mengenai semua polis asuransi
yang masih berlaku. Daftar asuransi berisi informasi penting seperti hal-hal yang
dijamin asuransi dan tanggal habis masa berlaku tiap polis asuransi. Daftar ini harus
di-review secara berkala oleh orang yang independen untuk memverifikasi bahwa
entitas telah memiliki jaminan asuransi yang konsisten dengan kebutuhannya.
Entitas juga perlu melakukan pengendalian atas alokasi sistematis dari
asuransi dibayar di muka ke beban asuransi. Pada tiap akhir bulan, karyawan klien
harus menyiapkan ayat jurnal untuk mengakui porsi yang jatuh tempo dari asuransi
dibayar di muka. Dalam beberapa kasus, entitas menggunakan jumlah estimasi
ketika mencatat ayat jurnal ini pada tahun berjalan. Pada akhir tahun, akun asuransi
dibayar di muka disesuaikan untuk mencerminkan jumlah actual dari asuransi yang
belum jatuh tempo.

10
BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN

Biaya dibayar muka dimaksudkan sebagai biaya yang telah terjadi, yang akan

digunakan untuk aktivitas perusahaan yang akan datang. Pajak dibayar di muka adalah

pajak yang dibayar oleh perusahaan setiap bulan atau dipotong/dipungut oleh pihak ketiga

dan akan diperhitungkan sebagai kredit pajak di akhir tahun (untuk pajak penghasilan) atau

di akhir bulan (untuk PPN).

Disamping itu, perusahaan tetap harus melakukan pemeriksaan terhadap biaya

dibayar dimuka dan pajak dibayar di muka sesuai dengan prosedur pemeriksaan biaya

dibayar di muka dan pajak dibayar di muka yang berlaku. Hal ini untuk menghindari

adanya penggelapan pajak ataupun beban yang dilakukan oleh pihak pihak yang tidak

bertanggung jawab.

B. SARAN

Adapun saran yang ingin penulis sampaikan adalah keinginan penulis para

pembaca, agar sekiranya mau memberikan kritik dan saran yang sehat dan bersifat

membangun demi kemajuan penulisan makalah ini. Kami sadar bahwa penulis adalah

manusia biasa yang pastinya memiliki kesalahan.

11
DAFTAR PUSTAKA

 Sukrisno Agoes, Auditing: Petunjuk Praktis Pemeriksaan Akuntan oleh Akuntan Publik

Buku 1 dan 2, Edisi 4, Salemba Empat, Jakarta, 2012

 Mulyadi, Auditing Buku 1 dan 2 , Edisi 6, Salemba Empat, Jakarta, 2013

 Alvin A. Arens, Randal J.Elder, Mark S.Beasley, Buku 1 dan 2 , Airlangga, Jakarta, 2006

12

Anda mungkin juga menyukai