Anda di halaman 1dari 35

MENERAPKAN PENGOLAHAN DATA HASIL

PENILAIAN

Makalah ini disusun untuk memenuhi salah satu tugas Mata Kuliah
Evaluasi Pembelajaran yang diampu oleh:

Heny Narendrany Hidayati S.Ag, M.Pd

oleh

oleh
Diana Riski Sapitri Siregar 11170110000001
Atma Faizahturrahmah 11170110000028
Rizky Uswar Pratama 11170110000058
Risma Rahmalia 11170110000104
Farhan Ali Akbar 11170110000111

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM


FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF
HIDAYATULLAH JAKARTA
2019
KATA PENGANTAR
Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha
Penyayang, Penulis panjatkan puja dan puji syukur kepada Allah SWT yang telah
memberikan Rahmat dan TaufikNya sehingga penulis dapat menyelesaikan
penyusunan makalah yang berjudul “menerapkan pengolahan data hasil
penilaian”

Penulis sebagai manusia biasa menyadari sepenuhnya bahwa masih


banyak kekurangan dalam penulisan makalah ini, baik dari segi tata bahasa,
susunan kalimat, tanda baca maupun isi. Oleh sebab itu dengan segala kerendahan
hati, penulis menerima segala kritik dan saran yang membangun dari pembaca.

Jakarta, 30 September 2019

Penulis

ii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ................................................................... ii

DAFTAR ISI .................................................................................. iii

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang ..................................................................................... 1

B. Rumusan Masalah ................................................................................ 2

C. Tujuan Penulisan .................................................................................. 2

BAB II PEMBAHASAN

A. Apa Apa saja macam-macam teknik pengoreksian?.........................3


B. Bagaimana teknik pengoreksian dan pemberian skor?......................7
C. Bagaimana teknik pengolahan dan pengubahan hasil tes?.................13

BAB IV PENUTUP
A. Kesimpulan .......................................................................................... 29
B. Saran ..................................................................................................... 29

DISTRIBUSI TUGAS ................................................................... 30

DAFTAR PUSTAKA .................................................................... 31

iii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar belakang

Penilaian pembelajaran merupakan suatu kegiatan yang dilakukan untuk


mengetahui sejauh mana kemampuan siswa dalam memahami pelajaran yang
telah disampaikan guru. Penerapan berbagai cara dan penggunaan beragam alat
penilaian untuk memperoleh informasi tentang sejauh mana hasil belajar peserta
didik atau ketercapaian kompetensi (rangkaian kemampuan) peserta didik dengan
memiliki beberapa tujuan. Penilaian atau assesmen merupakan kegiatan informasi
hasil belajar peserta didik secara berkesinambungan menetapkan apakah peserta
didik telah menguasai kompetensi yang ditetapkan oleh kurikulum. Berdasarkan
data informasi yang telah diproses.

Penilaian adalah suatu istilah umum yang meliputi tentang belajar siswa
dan format penilaian kemajuan belajar siswa. Selain itu penilaian juga
didefinisikan sebagai sebuah proses yang ditempuh untuk mendapatkan informasi
yang digunakan dalam rangka membuat keputusan mengenai siswa, kurikulum,
program-program, dan kebijakan pendidikan.

Dalam proses belajar mengajar, perlu diketahui hasil dari proses belajar
mengajar tersebut. Hasil dari proses pembelajaran yang dilakukan oleh guru dapat
diketahui dari nilai siswanya. Penilaian sangat di lakukan oleh guru, hal ini dapat
bermanfaat bagi guru dan siswanya sendiri. Bagi buru nilai siswa dapat dijadikan
acuan bagi proses pembelajaran yang akan dilakukan. Bagi siswa nilai bermanfaat
untuk mengetahui tolak ukur pemahaman siswa terhadap suatu materi
pembelajaran yang sudah diajarkan.

B. Rumusan masalah
D. Apa saja macam-macam teknik pengoreksian?
E. Bagaimana teknik pengoreksian dan pemberian skor?
F. Bagaimana teknik pengolahan dan pengubahan hasil tes?

1
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui macam-macam teknik pengoreksian
2. Untuk mengetahui teknik pengoreksian dan pemberian skor
3. Untuk mengetahui teknik pengolahan dan pengubahan skor

2
BAB II

PEMBAHASAN

A. Macam-Macam Teknik Pengoreksian

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) pengoreksian berasal dari


kata koreksi berarti pembetulan, perbaikan, pemeriksaan. Sedangkan
pengoreksian berarti proses, cara, ataupun perbuatan membetulkan
(memperbaiki) kesalahan.1 Guru dalam kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan
disekolah selalu melakukan kegiatan pengoreksian (pemeriksaan), hal ini
ditujukan untuk mengetahui tes hasil belajar yang dilakukan oleh muridnya.

Teknik pemeriksaan tes hasil belajar dapat dibedakan berdasarkan dari


bentuk tes yang dilakukan, terdapat 3 macam bentuk tes yaitu tes tertulis (written
test), tes lisan (oral test), dan tes tindakan atau perbuatan (performance test).
Adapun teknik pemeriksaannya terdiri dari:

1. Teknik Pemeriksaan Hasil Tes Tertulis

Tes hasil belajar yang diselenggarakan secara tertulis dapat dibedakan


menjadi dua golongan, yaitu: tes hasil belajar (tertulis) bentuk uraian (subjective
test/essay test) dan tes hasil belajar (tertulis) bentuk obyektif (objective test).
Karena kedua bentuk tes hasil belajar itu memiliki karakteristik yang berbeda,
maka teknik pemeriksaan hasil-hasilnya pun berbeda. Maka, tekniknya pun
dilakukan dengan cara sebagai berikut:

a. Teknik Pemeriksaan Hasil Tes Bentuk Uraian

Dalam pelaksanaan pemeriksaan hasil tes uraian ini ada dua hal yang perlu
dipertimbangkan, yaitu:

1
Koreksi. (n.d.). Kamus Besar Bahasa Indonesia. Badan Pengembangan dan Pembinaan
Bahasa, Kemdikbud. Kbbi.web.id. Diakses 29 September 2019, dari https://kbbi.web.id/koreksi

3
1) Apakah pengolahan dan penentuan nilai hasil tes uraian itu akan
didasarkan pada standar mutlak
2) Apakah pengolahan dan penentuan nilai hasil tes subyektif itu akan
didasarkan pada standar relatif.

Jika pengolahan dan penentuan nilai hasil tes uraian itu akan didasarkan
pada standar mutlak (dimana penentuan nilai secara mutlak akan didasarkan
pada prestasi individual), maka prosedur pemeriksaannya adalah sebagai
berikut:

1) Membaca setiap jawaban yang diberikan oleh testee dan


membandingkannya dengan pedoman yang sudah disiapkan.
2) Atas dasar hasil perbandingan tersebut, tester lalu memberikan skor
untuk setiap butir soal dan menuliskannya di bagian kiri dari jawaban
testee tersebut.
3) Menjumlahkan skor-skor yang telah diberikan.

Sedangkan jika pengolahan dan penentuan nilainya akan didasarkan pada


standar relative (di mana penentuan nilai akan didasarkan pada prestasi
kelompok), maka prosedur pemeriksaannya adalah sebagai berikut:

1) Memeriksa jawaban atas butir soal nomor 1 yang diberikan oleh


seluruh testee, sehingga diperoleh gambaran secara umum mengenai
keseluruhan jawaban yang ada.
2) Memberikan skor terhadap jawaban soal nomor 1 untuk seluruh
testee.
3) Mengulangi langkah-langkah tersebut untuk soal tes kedua, ketiga,
dan seterusnya
4) Setelah jawaban atas seluruh butir soal yang diberikan oleh seluruh
testee dapat diselesaikan, akhirnya dilakukanlah penjumlahan skor
(yang nantinya akan dijadikan bahan dalam pengolahan dan
penentuan nilai)2

2
Nahjiah Ahmad, Buku Ajar Evaluasi Pembelajaran, (Yogyakarta: Interpena, 2015), h. 91-93

4
b. Teknik Pemeriksaan Hasil Tes Bentuk Obyektif

Memeriksa atau mengoreksi jawaban dari soal tes objektif pada


umumnya dilakukan dengan jalan menggunakan kunci jawaban, ada beberapa
macam kunci jawaban yang dapat digunakan untuk mengoreksi jawaban soal
tersebut, antara lain:

1) Kunci berdampingan (strip keys) Kunci jawaban berdamping ini


terdiri dari jawaban–jawaban yang benar ditulis dalam satu kolom
yang lurus dari atas kebawah dilakukan dengan cara meletakan kunci
jawaban tersebut berjajar dengan lembar jawaban yang akan
diperiksa, lalu cocokkan, apabila jawaban yang diberikan oleh testee
benar maka diberi tanda (+) dan apabila salah diberi tanda (-).3
2) Kunci system karbon (carbon system key) Pada kunci jawaban system
ini testee diminta membubuhkan tanda silang (X) pada salah satu
jawaban yang mereka anggap benar, kemudian kunci jawaban yang
telah dibuat oleh tester tersebut diletakan diatas lembar jawaban yang
sudah ditumpangi karbon, lalu tester memberikan lingkaran pada
setiap jawaban yang benar sehingga ketika diangkat dapat diketahui
apabila jawaban testee yang berada diluar lingkaran berarti salah
sedangkan yang berada didalam lingkaran berarti benar.4
3) Kunci system tusukan (panprick system key) Pada dasarnya kunci
system tusukan adalah sama dengan kunci system karbon. Letak
perbedaannya ialah pada kunci sistem ini, untuk jawaban yang benar
diberi tusukan dengan paku atau alat penusuk lainnya sementara
lembar jawaban testee berada dibawahnya, sehingga tusukan tadi

3
Ibid., h. 93
4
Ibid.,

5
menembus lembar jawaban yang ada dibawahnya dan jawaban yang
benar akan tekena tusukan sedangkan yang salah tidak.5
4) Kunci berjendela (window key) Prosedur kunci berjendela ini adalah
sebagai berikut : a) Ambil blanko lembar jawaban yang masih kosong,
b) Pilihan jawaban yang benar dilubangi sehingga seolah–olah
menyerupai jendela, c) Lembar jawaban testee diletakan dibawah
kunci berjendela, d) Melalui lubang tersebut kita dapat membuat garis
vertical dengan pencil warna sehingga jawaban yang terkena pencil
warna tersebut berarti benar dan sebaliknya.6
2. Teknik Pemeriksaan Hasil Tes Lisan

Pemeriksaan yang dilaksanakan dalam rangka menilai jawaban–jawaban


testee pada tes hasil belajar secara lisan umumnya bersifat subjektif, sebab dalam
tes lisan itu tester tidak berhadapan dengan lembar jawaban soal yang wujudnya
adalah benda mati, melainkan berhadapan dengan individu atau makhluk hidup
yang masing–masing mempunyai ciri dan karakteristik berbeda sehingga
memungkinkan bagi tester untuk bertindak tidak objektif.

Dalam hal ini, pemeriksaan terhadap jawaban testee hendaknya dikendalikan


oleh pedoman yang pasti, misalnya sebagai berikut :

a. Kelengkapan jawaban yang diberikan oleh testee. Pernyataan tersebut


mengandung makna “apakah jawaban yang diberikan oleh testee sudah
memenuhi semua unsur yang seharusnya ada dan sesuai dengan kunci
jawanban yang telah disusun oleh tester
b. Kelancaran testee dalam mengemukakan jawaban Mencakup apakah
dalam memberikan jawaban lisan atas soal–soal yang diajukan kepada
testee itu cukup lancar sehingga mencerminkan tingkat pemahaman testee
terhadap materi pertanyaan yang diajukan kepadanya
c. Kebenaran jawaban yang dikemukakan jawaban panjang yang
dikemukakan oleh testee secara lancar dihadapan tester, belum tentu

5
Ibid., h. 93-94
6
Ibid., h. 94

6
merupakan jawab an yang benar sehingga tester harus benar–benar
memperhatikan jawaban testee tersebut, apakah jawaban testee itu
mengandung kadar kebenaran yang tinggi atau sebaliknya.
d. Kemampuan testee dalam mempertahankan pendapatnya Maksudnya,
apakah jawaban yang diberikan dengan penuh keyakinan akan
kebenarannya atau tidak. Jawaban yang diberikan oleh testee secara ragu–
ragu merupakan salah satu indikator bahwa testee kurang menguasai
materi yang diajukan kepadanya.
e. Penguji dapat menambahkan unsur lain yang dirasa perlu dijadikan bahan
penilaian seperti: perilaku, kesopanan, kedisiplinan dalam menghadapi
penguji (tester).7
3. Teknik Pemeriksaan Hasil Tes Perbuatan

Dalam tes perbuatan ini pemeriksaan hasil-hasil tesnya dilakukan dengan


menggunakan observasi (pengamatan). Sasaran yang perlu diamati adalah tingkah
laku, perbuatan, sikap dan lain sebagainya. Untuk dapat menilai hasil tes tersebut
diperlukan adanya instrument tertentu dan setiap gejala yang muncul diberikan
skor tertentu pula.

Contoh: instrument yang digunakan dalam mengamati calon guru yang


melaksanakan praktek mengajar, aspek-aspek yang diamati meliputi 17 unsur
dengan skor minimum 1 (satu) dan maksimum 5 (lima).8

B. Menerapkan teknik pengoreksian dan pemberian skor

Sebelum membahas mengenai skor, terlebih dahulu akan dibahas


mengenai bobot (weight). Bobot adalah bilangan atau angka yang digunakan
setiap butir soal yang nilainya ditentukan berdasarkan usaha peserta tes dalam
menyelesaikan soal itu. Tinggi-rendahnya usaha itu dipengaruhi oleh derajat
kesukaran dan waktu yang diperlukan dalam menjawab soal tersebut dengan
benar. Jika tingkat kesukaran sebuah soal semakin tinggi maka semakin besar pula
bobot untuk soal tersebut, karena memerlukan usaha (kognitif) yang derajanya
7
Ibid., h. 94-95
8
Ibid., h. 95

7
lebih tinggi. Disamping itu memerlukan waktu lebih lama untuk
menyelesaikannya dibanding soal lainnya.9

Bobot suatu butir soal disebut skor untuk butir soal tersebut.skor untuk
keseluruhan butir soal dari prangkat tes yang diperoleh seseorang disebut skor tes
dari orang tersebut. Skor ini bisa disebut skor aktual, artinya skor kenyataann
(empirik) atau skor mentah yang diperoleh peserta tes. Jika seluruh soal dapat
dijawab dengan benar sesuai harapan pembuat soal, skor untuk menyatakan
kondisi ini disebut skor maksimal ideal. Sebaliknya untuk kondisi tidak ada
satupun benar disebut skor minimal ideal. Dengan demikian, skor adalah bilangan
yang merupakan data mentah dari hasil suatu evaluasi, belum diolah lebih lanjut
dan bersifat kuantitatif.10

Penskoran merupakan langkah pertama dalam proses pengolahan hasil tes


pekerjaan siswa/mahasiswa. Penskoran adalah suatu proses pengubahan jawab-
jawaban tes menjadi angka-angka (mengadakan kuantifikasi).11

Angka-angka hasil penskoran itu kemudian diubah menjadi nilai-nilai,


melalui suatu proses pengolahan tertentu. Nilai ini bisa berupa bilangan
(kuantitafif), misalnya nilai 9 dalam skala 1 sampai 10, atau berupa kualitatif,
misalnya B dalam skala penilaian A, B, C, D dan E. Cara penskoran terhadap
hasil tes biasanya disesuaikan dengan bentuk soal-soal tes yang dipergunakan,
apakah tes objektif atau tes essay.12

Untuk soal-soal objektif biasanya untuk setiap jawaban benar diberi skor 1
(satu) dan jawaban salah diberi skor 0 (nol),total skor diperoleh dengan
menjumlahkan seluruh skor yang diperoleh dari semua soal. Untuk soal-soal essay
dalam penskorannya biasanya digunakan cara memberi bobot (weighting) pada
tiap soal menurut tingkat kesukarannya atau banyak sedikitnya unsur-unsur yang

9
Ahmad Sofyan, dkk, Evaluasi Pembelajaran IPA Berbasis Kompetensi, (Ciputat:
Lembaga Penelitian UIN JKT, 2006), hal. 115
10
Ibid.
11
Ngalim Purwanto, Prinsip-Prinsip dan Teknik Evaluasi Pengajaran, (Bandung:
Remadja Kerya CV: 1986), hal. 92
12
Ibid.

8
dianggap paling baik. Misalnya: untuk soal nomer 1 diberi skor maksimum 4, soal
nomer 3 diberi skor maksimum 6, dan soal nomer 5 diberi skor maksimum 10,
dan seterusnya.13

Untuk tes uraian (non-objektif) setiap butir diberi skor dari 0 sampai
dengan 10 tergantung dari tingkat kebenaran jawabannya, yaitu diberi skor 10 jika
jawabannya tepat sama dengan pendapat pemberi skor, diberi skor 5 jika
jawabannya setengah benar, diberi skor 0 jika jawabannya salah sama sekali. Skor
setiap peserta tes diperoleh dari jumlah skor semua item atau butir tes. Skor yang
disebut di sini disebut skor mentah. Misalnya seorang peserta mendpat skor 75
dengan SMI-nya 100 berarti peserta tersebut telah mencapai 75% tingkat
penguasaan dari tes uraian tersebut.14

Cara memberi skor tes objektif. Tes objektif terdiri dari beberapa macam
diantaranya:

1. Fill-in dan completion ( tes isian dan melengkapi ). Mengenai cara menilai
tes bentuk ini ada dua pendapatt. Yang pertama mengatakan bahwa skor
maksimum setiap bentuk fill-in sama dengan jumlah isian yang ada pada
tes tersebut. Jika suatu tes bentuk fill-in ada 10 item, dan tiap item berisi
satu isian, dua isian, atau tiga isian, maka cara menilainya dihitung
menurut jumlah isian yang ada pada seluruh item.

Pendapat kedua mengatakan bahwa skor maksimum tes berbentuk fill-in


dihitung menurut jumlah itemnya. Tiap item dinilai satu, meskipun jumlah
isiannya tidak sama banyaknya.
Rumus penskoran untuk fill-in dan completion adalah sebagai
berikut:
(S=R)
S = Skor terakhir/yang diharapkan
R = Jumlah isian yang dijawab betul (right)

13
Ibid.
14
Ibid., hal 116-117.

9
Contoh penggunaan:
Misalkan sebuah tes berbentuk fill-in mengandung 30 isian. Ahmad
mengerjakan tes tersebut, 23 isian betul, 5 isian salah, 2 isian
kosong/tidak di jawab.
Maka skor Ahmad = 23 ( tiap isian diberi nilai satu).
2. True-false ( tes benar-salah )
Setiap item tes bentuk true-false diberi skor maksimum 1 (satu). Jadi,
apabila suatu item di jawab betul (sesuai dengan kunci jawaban), maka skornya
adalah 1 (satu). Tetapi jika di jawab salah maka skornya adalah nol.
Untuk menghitung skor terakhir dari seluruh item tes bentuk true-false
biasanya dipergunakan rumus sebagai berikut:
S=R–W atau S=R–W
n–1
Keterangan:
S = Skor terakhir/yang diharapkan.
R = Jumlah item yang dijawab betul (right).
W = Jumlah item yang dijawab salah (wrong).
N = Banyaknya option; untuk true-false selalu dua.
1 = bilangan tetap.
Contoh penggunaan:
Umpamakan jumlah item true-false (B – S) = 20
Seorang siswa bernama Ali dapat menjawab betul 13 item, dan salah
7 item. Maka skor yang diperoleh adalah sebagai berikut:
S = 13 – 7 = 6
2–1
3. Multiple choice ( tes pilihan berganda )
Cara menskor untuk bentuk tes ini adalah sebagai breikut. Item yang
dijawab betul diberi skor 1 (satu) dan yang salah diberi skor 0 (nol).
Untuk menghitung skor terakhir dari tes yang berbentuk multiple choice
dipergunakan rumus sebagai berikut: S = R – W
n–1

10
Contoh penggunaan:
Misal kita membuat soal multiple choice sebanyak 20 item, dengan option
atau alternatif jawaban (a, b, c, d) 4 setiap item. Seorang siwa bernama Farhan
dapat menjawab betl 14 item, dan salah 6. Maka skor yang diperoleh Farhan dari
tes tersebut adalah sebagai berikut:
S = 14 – 6 = 14 – 2 = 12
4–1
Jika dalam mengerjakan tes yang berbentuk true-false atau multiple choice
terdapat item-item yang tidak dijawab (dikosongkan), maka dalam penilaian atau
scoring, item yang tidak dijawab itu tidak diperhitugkan (tidak dianggap benar
dan salah).
Sebagai contoh:
a. True-false
jumlah item 30 item
dijawab betul 19 item
dijawab salah 8 item
tidak dijawab 3 item
skor yang diperoleh:
S = 19 – 8 = 11
2–1
Jadi yang diperhitungkan di dalam scoring hanya 27 item saja.
b. Multiple choice:
Jumlah item 20 item dengan option 4.
Dijawab betul 16 item
Dijawab salah 3 item
Tidak dijawab 1 item
Skor yang doperoleh = 16 - 3 = 16 – 1 = 15
4–1
Akan tetapi ada juga yang berpendapat lain, yaitu ssemua item yang tidak
dijawab (dikosongkan) berarti salah. Hal ini tergantung pada perjanjian antara
pentes dengan yang di tes. Oleh karena itu, sebelum tes dimulai, sebaiknya guru

11
menjelaskan terlebih dahulu bagaimana cara penskoran akan dilakukan, dan
bagaimana pula cara mengolah skor menjadi nilai. Dengan demikian siswa yang
dites akan lebih berhati-hati dalam mengerjakannya.15
4. Matching ( tes menjodohkan )

Untuk menilai suatu tes yang berbentuk matching, diperhitungkan dari


jumlah item yang dijawab betul saja. Rumusnya sama dengan completion, yaitu:

S=R

Cara lain dalam penilaian tes berbentuk matching dapat juga dilakukan
dengan menentukan tingkat kesukaran (difficulty index) dari tes tersebut
dibandingkan dengan tes-tes bentuk lain yang digunakan bersama-sama dalam
suatu tes.
Misal suatu tes terdiri dari tiga macam bentuk yaitu true-false, multiple
choice, dan matching. Kita telah menetapkan bahwa tingkat kesukaran tiap item
dari ketiga macam bentuk tes tersebut berturut-turut adalah 1, 2, 4. Ini berarti
bahwa nilai tiap item yang betul dari true-false = 4, multiple choice = 2, dan
matching = 4.
Seumpama tes yang berbentuk matching itu ada 10 item, dan Rizki dapat
menjawab betul 7 item, maka skor yang diperoleh Rizki = 7 x 4 = 28.

5. Skor terakhir dari tiap siswa


a. Jika suatu tes terdiri dari satu macam bentuk tes saja, maka skor terakhir dari
tiap siswa yang dites dihitung dengan menggunakan skor rumus masing-
masing seperti yang telah diuraikan di atas.
b. Jika suatu tes terdiri dari berbagai macam bentuk, maka skor terakhir siswa
yang dites berupa jumlah skor dari seluruh bentuk tes yang telah dihitung
menurut rumus masing-masing. Misal suatu tes terdiri atas empat macam
bentuk, yakni:
True-false = 30 item; tingkat kesukaran ditentukan 1.

15
Hal. 89.

12
Multiple choice = 20 item, tingkat kesukaran ditentukan 2. Option = 4.
Matching = 10 item; tingkat kesukaran ditentukan 3.
Essay = 4 item; tingkat kesukaran ditentukan 5.
Seorang siswa bernama Ali mengerjakan tes tersebut dengan hasil sebagai
berikut:
Betul Salah Tidak Skor
dijawab
True-false 22 6 2 S = 22 – 6 = 16
Multiple choice 14 6 - S = (2 x 14) – ( 2 x 6 ): (4-
1) = 24
Matching 7 2 1 S = 7 x 3 = 21
Essay 3 - S = 3 x 5 = 15
Skor terakhir yang
diperoleh = 76
Skor terakhir yang diperoleh Ali sebesar 76 itu merupakan skor mentah
(raw score) yang belum diolah ke dalam skor standar atau skala penilaian yang
dikehendaki.

C. Menerapkan pengolahan dan pengubahan (skor) hasil tes


Pengolahan hasil pengukuran yang dilaksanakan dalam evaluasi
pembelajaran dilakukan sesuai dengan tujuan pengukuran yang dilaksanakan. Jika
penilaian bertujuan untuk membandingkan keberhasilan seorang peserta didik
secara relatif dengan peserta didik lainnya, maka dilakukan penilaian acuan norma
(PAN). Apabila penilaian bertujuan untuk mengetahui keberhasilan seorang
peserta didik berdasarkan satu acuan tertentu maka dilakukan penelitian acuan
patokan (PAP).16
Tujuan penilaian acuan norma adalah untuk membedakan peserta didik
atas kelompok-kelompok tingkat kemampuan, mulai dari yang terendah sampai

16
Asrul, dkk. Evaluasi Pembelajaran. Medan: Citapustaka Media, 2014, Hlm,,161.

13
yang tertinggi. Secara ideal, pendistribusian tingkat kemampuan dalam satu
kelompok menggambarkan suatu kurva normal.17

Sedangkan penilaian acuan patokan (PAP) meneliti apa yang dapat


dikerjakan oleh peserta didik, dan bukan membandingkan seorang peserta didik,
dan bukan membandingkan seorang peserta didik dengan teman sekelasnya,
melainkan dengan suatu kriteria atau patokan yang spesifik. Tujuan penilaian
acuan patokan adalah untuk mengukur secara pasti tujuan atau kompetensi yang
ditetapkan sebagai kriteria keberhasilannya.18

1. Pengolahan acuan patokan

Lembaga pendidikan membuat kriteria atau patokan penilaian berdasarkan


persentase dengan skala nilai 0-100, maka peserta didik yang memperoleh nilai
atau skor 75 dipandang telah memiliki 75% kemampuan atau penguasaan
pengetahuan dan keterampilan mengenai mata pelajaran yang bersangkutan. Nilai-
nilai 80-100 ditransformasikan menjadi nilai A, nilai 70-79 ditransformasikan
nilai B dan seterusnya. Selanjutnya ditentukan pula ketentuan batas lulus (passing
grade) misalnya 60.19

Selanjutnya untuk menentukan batas lulus dengan pendekatan PAP maka


setiap skor peserta didik dibandingkan dengan skor ideal yang mungkin dicapai
oleh peserta didik. Misalnya dalam suatu tes ditetapkan skor idealnya adalah 100,
maka peserta didik yang memperoleh skor 65 sama dengan memperoleh nilai 6,5
dalam skala 0-10, demikian seterusnya.

Perhatikan perhitungan PAP sebagai berikut:

1. Suatu lembaga pendidikan menetapkan PAP sebagai berikut:


Tingkat penguasaan Skor Standar
90% - 100% A

17
Asrul. Ibid.
18
Asrul. Ibid.
19
Asrul. Ibid. hlm, 162.

14
80% - 89% B
70% - 79% C
60% - 69% D

 59% E

Jika skor maksimum ditetapkan berdasarkan kunci jawaban = 80, maka


penguasaan 90% = 0,90 x 80 = 72. Penguasaan 80% = 0,80% x 80 = 64.
Penguasaan 70% = 0,70 x 80= 56. Penguasaan 60%= 0,60 x 80= 48. Dengan
demikian diperoleh tabel konversi sebagai berikut:

Skor Mentah Skor Standar


72 – 80 A
64 – 71 B
56 – 63 C
48 – 55 D
0 – 47 E

Berdasarkan tabel di atas maka dapat dilakukan pengambilan keputusan


nilai yang diperoleh peserta didik. Peserta didik yang memperoleh skor 65 berarti
memperoleh nilai B, peserta didik dengan skor 58 memperoleh nilai C, dan
peserta didik dengan skor 45 memperoleh nilai E, demikian seterusnya.20

2. Suatu lembaga pendidikan menetapkan PAP sebagai berikut:


Tingkat Penguasaan Skor Standar
95% - 100% 10
85% - 94% 9
75% - 84% 8

20
Asrul, dkk. Evaluasi Pembelajaran. Medan: Citapustaka Media, 2014, Hlm, 164.

15
65% - 74% 7
55% - 64% 6
45% - 54% 5
35% - 44% 4
25% - 34% 3
15% - 24% 2
0 % - 14% 1

Jika skor maksimum ditetapkan berdasarkan kunci jawaban = 80, maka


penguasaan 95% = 0,95 x 80 = 76. Penguasaan 85% =0,85 x 80 = 68. Peguasaan
75% = 0,75 x 80 = 60. Penguasaan 65% = 0,65 x 80 = 52. Penguasaan 55% = 0,55
x 80 = 44. Penguasaan 45% = 0,45 x 80 = 36. Penguasaan 35% = 0,35 x 80 = 28.
Penguasaan 25% = 0,25 x 80 = 20. Penguasaan 15% = 0,15 x 80 = 12. Dengan
demikian diperoleh tabel berikut:21

Skor Mentah Skor Standar


76 – 80 10
68 – 75 9
60 – 67 8
52 – 59 7
44 – 51 6
36 – 43 5
28 – 35 4
20 – 27 3
12 – 19 2
0 – 11 1

21
Asrul, dkk. Evaluasi Pembelajaran. Medan: Citapustaka Media, 2014, Hlm, 165.

16
Berdasarkan tabel di atas, maka dapat dilakukan pengambilan keputusan
penilaian yang diperoleh peserta didik. Peserta didik yang memperoleh skor 70
berarti memperoleh nilai 9, peserta didik dengan skor 65 memperoleh nilai 8 dan
peserta didik dengan skor 45 memperoleh nilai 6, demikian seterusnya.

Selain dua ilustrasi di atas, maka pendekatan PAP dapat dilakukan dengan
cara berikut:

1. Mencari skor ideal, yaitu skor yang mungkin dicapai oleh peserta
didik, jika semua soal dapat dijawab dengan benar.
2. Mencari rata-rata (X ) ideal dengan rumus:
X = 1⁄2 x skor ideal
3. Mencari simpangan baku (s) ideal dengan rumus:
s ideal = 1⁄3 x X ideal
4. Menyusun pedoman konversi.

Contoh: skor ideal yang ditetapkan suatu lembaga pendidikan berdasarkan


kunci jawaban = 80.

Berdasarkan data tersebut dapat dilakukan pengolahan:

1. Skor ideal = 80.


2. Rata-rata (X ) ideal:
X = 1⁄2 x 80
= 40
3. Simpangan baku (s) ideal:
s ideal = 1⁄3 x 40
= 13,33
4. Pedoman konversi:
a. Skala lima
X + (1,5 SD) ke atas =A
X + (0,5 SD) ke atas = B
X – (0,5 SD) ke atas = C

17
X – (1,5 SD) ke atas = D
X – (1,5 SD) ke bawah = E
Maka diperoleh:
40 + (1,5 x 13,33) = 60
40 + (0,5 x 13,33) = 47
40 – (0,5 x 13,33) = 33
40 – (1,5 x 13,33) = 20
40 – (1,5 x 13,33) = 𝑒 " 19

Sehingga diperoleh tabel konversi skala lima sebagai berikut:

Skor Mentah Skor Standar


60 – 80 A
44 – 59 B
33 – 43 C
20 – 32 D
0 – 19 E

Berdasarkan tabel di atas maka dapat dilakukan pengambilan keputusan


nilai yang diperoleh peserta didik. Peserta didik yang memperoleh skor 70 berarti
memperoleh nilai A, peserta didik dengan skor 45 memperoleh nilai B dan peserta
didik dengan skor 35 memperoleh nilai C, demikian seterusnya.22

b. Skala sepuluh

X + (2,25 SD) ke atas = 10

X + (1,75 SD) ke atas = 9

X + (1,25 SD) ke atas = 8

X + (1,25 SD) ke atas = 7

22
Asrul, dkk. Evaluasi Pembelajaran. Medan: Citapustaka Media, 2014, Hlm, 167.

18
X + (0,75 SD) ke atas = 6

X + (0,24 SD) ke atas = 5

X – (0,25 SD) ke atas = 4

X – ( 0,75 SD) ke atas = 3

X – (1,75 SD) ke atas = 2

X – (2,25 SD) ke atas = 1

Maka diperoleh:

40 + (2,25 x 13,33) = 70

40 + (1,75 x 13,33) = 63

40 + (1,25 x 13,33) = 57

40 + (0,75 x 13,33) = 50

40 + (0,25 x 13,33) = 43

40 – (0,75 x 13,33) = 37

40 – (1,25 x 13,33) = 23

40 – (1,75 x 13,33) = 17

40 – (2,25 x 13,33) = 10

Sehingga, diperoleh tabel konversi skala lima sebagai berikut:

Skor Mentah Skor Standar


70 – 80 10
63 – 69 9
57 – 62 8
50 – 56 7
43 – 49 6

19
37 – 42 5
30 – 36 4
23 – 29 3
17 – 22 2
10 – 16 1
0–9 0

Berdasarkan tabel di atas maka dapat dilakukan pengambilan keputusan


nilai yang diperoleh peserta didik. Peserta didik yang memperoleh skor 70 berarti
memperoleh nilai 10, peserta didik dengan skor 65 memperoleh nilai 9 dan
peserta didik dengan skor 58 memperoleh nilai 8, demikian seterusnya.

c. Skala 100

Penggunaan skala 100 diformulakan sebagai berikut:

T skor = 50 + ( 𝑋−𝑠𝑋 ) x 10

Keterangan:

X = skor mentah yang diperoleh peserta didik

X = rata-rata

s = simpangan baku

contoh:

Peserta didik Faturrahman memperoleh skor mentah 60, nilai rata-rata =


40 dan simpangan baku = 13,33. Maka nilai yang diperoleh faturrahman adalah:

T skor = 50 + (60−40
13,33
) x 10
= 65.
d. Z score

20
Z score adalah suatu ukuran yang menunjukkan berapa besarnya
simpangan baku peserta didik berada di bawah atau di atas rata-rata dalam
kelompok atau kelasnya.

Formula Z score adalah:

Z = 𝑋−𝑠𝑋

Keterangan:

X = skor mentah yang diperoleh peserta didik

X = rata-rata

S = simpangan baku

Contoh:

Peserta didik Faturrahman memperoleh skor mentah 60, nilai rata-rata =


40 dan simpangan baku = 13,33. Maka nilai yang diperoleh Faturrahman adalah:

60−40
Z= 13,33

= 1,50.

D. Penilaian Acuan Normatif (PAN)


Penilaian acuan norma, kata “norma” menunjukan pada kapasitas/prestasi
kelompok. Sedangkan yang dimaksud dengan kelompok adalah semua peserta
didik yang mengikuti tes tersebut. Jadi pengertian “kelompok” yang dimaksud
dapat berarti sejumlah peserta didik dalam satu kelas, rayon, provinsi, atau
wilayah. Dalam penilaian acuan norma peserta didik dikelompokan berdasarkan
jenjang hasil belajar peserta didik lainnya dalam satu kelompok/kelas. Peserta
didik dikelompokan berdasarkan jenjang hasil belajar, sehingga dapat diketahui
kedudukan relatif seorang peserta didik dibandingkan dengan teman sekelasnya.
Tujuan dari penilaian ini adalah untuk membedakan peserta didik atas kelompok-
kelompok tingkat kemampuan, mulai dari yang rendah sampai yang tertinggi.

21
Pengolahan dan pengubahan skor mentah menjadi nilai dilakukan dengan
mengacu pada normatif atau kelompok.

Dalam penentuan kriteria norma, kebanyakan penulis mengidentifikasikan


ada tiga kriteria dasar yaitu representativeness, relevance, dan recency.23
Representativeness yaitu kriteria ini berkaitan dengan pemilihan sample. Dimana
sampel yang diambil harus bisa menggambarkan populasi. Ukuran sampel yang
cukup besar memungkinkan untuk kestabilan skor dan kestabilan statistik.
Sedangkan relevance, berkaitan dengan kemampuan membandingkan norma
kelompok dengan kelompok yang dijadikan pembanding. Dan adapun recency
berkaitan dengan penentuan norma.

Di dalam norma juga terdapat tipe-tipe norma yaitu norma nasional, norma
lokal, dan norma subkelompok.24

1. Norma Nasional : biasanya lebih sering digunakan pada tes standar


prestasi belajar dan bakat yang nantinya dapat dipergunakan diseluruh
bagian negara. Norma nasional harus dibuat berdasarkan uji coba pada
kelompok yang besar, sampel nya representatif dan dapat mencakup faktor
usia, latar beakang etnik, sosial ekonomi, demografi, dan sebagainya.
2. Norma Lokal : norma lokal dapat dipergunakan antar sekolah, diantar
kota/provinsi.
3. Norma Sub Kelompok : norma sub-kelompok akan dipergunakan apabila
tes sub-kelompok dari populasi memperlihatkan hasil yang berbeda secara
signifikan, dan memungkinkan ada norma terpisah untuk sub-kelompok.
Norma sub-kelompok adalah norma yang diberlakukan untuk kelompok-
kelompok khusus siswa, seperti siswa yang mengalami hambatan, siswa
yang berasal dari keluarga yang secara ekonomi tidak menguntungkan
atau rendah. Jika dicirikan secara lebih spesifik penilaian acuan norma
dapat dicirikan sebagai :

23
Uyu Wahyudin, dkk., Evaluasi Pembelajaran SD, (Bandung:Upi Press, 2006), hal : 20
24
Ibid, hal: 20

22
1. PAN digunakan untuk menentukan status setiap peserta didik terhadap
kemampuan peserta didik lainnya. Maksudnya PAN digunakan apabila
ingin mengetahui kemampuan peserta didik dalam komunitasnya, seperti
di kelas, sekolah, dan sebagainya.
2. PAN menggunakan kriteria yang bersifat "relatif". Artinya, selalu berubah
disesuaikan dengan kondisi dan/atau kebutuhan pada waktu tersebut.
3. Nilai hasil dari PAN tidak mencerminkan tingkat kemampuan dan
penguasaan siswa tentang materi pengajaran yang diteskan, tetapi hanya
menunjuk kedudukan peserta didik (peringkatnya) dalam komunitasnya
(kelompoknya)
4. PAN memiliki kecendrungan untuk menggunakan rentangan tingkat
penguasaan seseorang terhadap kelompoknya, mulai dari yang sangat
istimewa sampai dengan yang mengalami kesulitan serius.25
Adapun langkah-langkah pengolahan data dengan pendekatan PAN
adalah sebagai berikut:26
1. Mencari skor mentah setiap peserta didik.
2. Menghitung rata-rata (𝑋 ̅) actual dengan rumus :
∑ 𝐹𝑑
𝑋= 𝑀𝑑 + ( )𝑖
𝑛

Keterangan:
Md = mean duga
F = frekuensi
D = deviasi
Fd = frekuensi kali deviasi
N = jumlah sampel
I = interval

3. Menghitung simpangan baku (s) aktual dengan rumus :

25
Elis Ratnawulan dan A.Rusdiana,Evaluasi Pembelajaran, (Bandung: CV Pustaka Setia,
2015), hal: 240.
26
Zainal Arifin, Evaluasi Pembelajaran, (Jakarta : Direktorat Jendral Pendidikan Islam,
2009), hal : 236

23
𝑛(∑ 𝑓𝑑 2 )−(∑ 𝑓𝑑)2
𝑠= 𝑖√
𝑛(𝑛−1)

4. Menyusun pedoman konversi


Contoh: Diketahui: 52 orang peserta didik mengikuti Ujian Akhir
Semester mata pelajaran Al-Qur’an Hadits dan memperoleh skor
mentah sebagai berikut: 32 20 35 24 17 30 36 27 37 50 36 35 50 43 31
25 44 36 30 40 27 36 37 32 21 22 42 39 47 28 50 27 43 17 42 34 38
37 31 32 22 31 38 46 50 38 50 21 29 33 34 29
Pertanyaan : tentukan nilai peserta didik dengan pendekatan PAN !
Langkah-langkah penyelesaian :
 Menyusun skor terkecil samapi terbesar
17 25 30 34 37 42 50
17 27 31 34 37 42 50
20 27 31 35 37 43 50
21 27 31 35 38 43 50
21 28 32 36 38 44
22 29 32 36 38 46
22 29 32 36 39 47
24 30 33 36 40 50
Selanjutnya data ini ditabulasikan dalam daftar distribusi
frekuensi, yaitu mengelompokkan data sesuai dengan kelas
interval. Untuk membuat kelas interval dapat digunakan rumus
Sturges. Adapun langkah-langkah perhitungannya adalah sebagai
berikut:
a) Mencari rentang (range), yaitu skor terbesar dikurangi skor
terkecil.
Skor terbesar = 50 Skor terkecil = 17
Rentang = 33
b) Mencari banyak kelas interval:
Banyak kelas = 1 + (3.3)log.𝑛
= 1 + (3.3)log52
= 1 + (3.3)(1,7160) = 1 + 5,6628 = 6,6628 = 7 (dibulatkan)
c) Mencari interval kelas:

24
𝑅𝑒𝑛𝑡𝑎𝑛𝑔 33
𝑖= = = 4,9529 =
𝐵𝑎𝑛𝑦𝑎𝑘 𝐾𝑒𝑙𝑎𝑠 6,6628

5 (𝑑𝑖𝑏𝑢𝑙𝑎𝑡𝑘𝑎𝑛)
d) Menyusun daftar distribusi frekuensi:
Distribusi frekuensi skor tes Al-qur’an Hadits
Kelas Interval Tally Frekuensi

17-21 1111 5

22-26 1111 4

27-31 1111 1111 1 11

32-36 1111 1111 11 12

37-41 1111 111 8

42-46 1111 1 6

47-51 1111 1 6

Jumlah 52

 Menghitung rata-rata aktual dan simpangan baku aktual.


Kelas Frekuensi D Fd F(𝒅𝟐)
Interval
17-21 5 -3 -15 45

22-26 4 -2 -8 16

27-31 11 -1 -11 11

32-36 12 0 0 0

37-41 8 +1 8 8

42-46 6 +2 12 24

47-51 6 +3 18 54

25
Jumlah 52 4 158

∑ 𝐹𝑑 4
𝑋= 𝑀𝑑 + ( ) 𝑖 = 34 + (52) 5 = 34,38
𝑛

𝑛(∑ 𝑓𝑑 2 )−(∑ 𝑓𝑑)2 52 (158)−(4)2


𝑠= 𝑖√ =5√ =
𝑛(𝑛−1) 52(52−1)

8216−16
5 √ 2652
= 5 √3,092006 = 8,79

 Menyusun pedoman konverensi


1) Skala lima (0-5):
𝐴
𝑋 + 1,5 (𝑠) = 34,38 + 1,5 (8,79) = 47,57 →
𝐵
𝑋 + 0,5 (𝑠) = 34,38 + 0,5 (8,79) = 38,78 →
𝐶
𝑋 − 0,5 (𝑠) = 34,38 − 0,5 (8,79) = 29,99 →
𝐷
𝑋 − 1,5 (𝑠) = 34,38 − 1,5 (8,79) = 21,20 →
Dengan demikian, skor 32 nilainya C, skor 20 nilainya E, skor
35 nilainya C, skor 24 nilainya D, dan skor 17 nilainya E.

2) Skala sepuluh (0-10)


10
𝑋 + 2,25 (𝑠) = 34,38 + 2,25 (8,79) = 54,16 →
9
𝑋 + 1,75 (𝑠) = 34,38 + 1,75 (8,79) = 49,76 →
8
𝑋 + 1,25 (𝑠) = 34,38 + 1,25 (8,79) = 45,37 →
7
𝑋 + 0,75 (𝑠) = 34,38 + 0,75 (8,79) = 40,97 →
6
𝑋 + 0,25 (𝑠) = 34,38 + 0,25 (8,79) = 36,58 →
5
𝑋 − 0,25 (𝑠) = 34,38 − 0,25 (8,79) = 32,18 →
4
𝑋 − 0,75 (𝑠) = 34,38 − 0,75 (8,79) = 27,79 →
3
𝑋 − 1,25 (𝑠) = 34,38 − 1,25 (8,79) = 23,39 →

26
2
𝑋 − 1,75 (𝑠) = 34,38 − 1,75 (8,79) = 19,00 →
1
𝑋 − 2,25 (𝑠) = 34,38 − 2,25 (8,79) = 14,60 →
0
Dengan demikian, skor 32 nilainya 4 , skor 20 nilainya 2, skor
35 nilainya 5, skor 24 nilainya 3, dan skor 17 nilainya 1.

3) Skala seratus (0-100) atau T-Skor


𝑋−𝑋̅
Rumus : T- skor = 50 + ( ) 10
𝑠

Keterangan :
50 dan 10 = bilangan tetap
X = skor mentah yang diperoleh setiap peserta didik
𝑋̅ = rata-rata
𝑠 = simpangan baku
Contoh :
Diketahui : peserta didik A memperoleh skor mentah 35. Rata-
rata = 34,38 dan simpangan baku = 8,79. Dengan demikian,
nilai yang diperoleh peserta didik A dalam skala 0-100 adalah
35−34,38
50 + (
8,79
) 10 = 50,71

4) Konversi dengan Z-skor


Z-Skor adalah suatu ukuran yang menunjukan berapa besarnya
simpangan baku seseorang berada di bawah atau di atas rata-
rata dalam kelompok tersebut.
𝑋−𝑋̅
Rumus : Z =
𝑠
Contoh :
Diketahui skor (X) =35; rata-rata 𝑋̅= 34,38 ; simpangan baku
35−34,38
(s) = 8,79. Jadi Z-skor = = 0,07
8,79

Kelebihan dari penilaian acuan norma yaitu

27
1. Diharapkan tingkat kinerja yang sama terjadi pada setiap kelompok siswa
dan
2. Bermanfaat untuk membandingkan siswa atau memberikan penghargaan
utama untuk sejumlah siswa

Kekurangan PAN :
1. Sedikit menyebutkan kompetensi siswa yang diketahui atau dapat
dilakukan
2. Tidak dapat diandalkan siswa yang gagal sekarang dapat lulus tahun depan

28
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan
Teknik pemeriksaan tes hasil belajar dapat dibedakan berdasarkan
dari bentuk tes yang dilakukan, terdapat 3 macam bentuk tes yaitu tes
tertulis (written test), tes lisan (oral test), dan tes tindakan atau perbuatan
(performance test).
Teknik pengolahan dan pengubahan hasil tes dapat dilakukan
melalui cara penilaian acuan patokan dan penilaian acuan norma.

B. Saran
Demikianlah makalah ini disusun, dan diharapkan menjadi
tambahan pengetahuan bagi pembaca. Selamat membaca dan semoga
bermanfaat.

29
DISTRIBUSI TUGAS

1. Diana Riski Sapitri Siregar mencari sumber rujukan, menyusun serta


menjelaskan materi tentang pengolahan dan pengubahan skor hasil tes
penilaian acuan patokan, serta menyusun kerangka makalah.
2. Atma Faizahturrahmah mencari sumber rujukan, menyusun serta
menjelaskan materi tentang pengolahan dan pengubahan skor hasil
penilaian acuan norma, serta menyusun kerangka makalah.
3. Risma Rahmalia mencari sumber rujukan, menyusun serta menjelaskan
materi tentang teknik pengoreksian dan pemberian skor.
4. Farhan Ali Akbar mencari sumber rujukan, menyusun serta menjelaskan
materi tentang macam-macam teknik pengoreksian.
5. Risma Rahmalia mencari sumber rujukan, menyusun serta menjelaskan
materi tentang teknik pengoreksian dan pemberian skor
6. Rizki Uswar Pratama mencari sumber rujukan jurnal materi tentang
menerapkan pengolahan data hasil penilaian serta membuat PPT dan
mencari video.

30
DAFTAR PUSTAKA

Ahmad, N. (2015). Buku Ajar Evaluasi Pembelajaran. Yogyakarta: Interpena.

Arifin, Zainal. 2009. Evaluasi Pembelajaran. Jakarta : Direktorat Jendral


Pendidikan Islam

Asrul, dkk. (2014). Evaluasi Pembelajaran. Medan: Citapustaka Media

Koreksi (Def. 1) (n.d.). Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Online.
Diakses melalui https://kbbi.web.id/koreksi, 29 September 2019.

Purwanto, Ngalim . (1986). Prinsip-Prinsip dan Teknik Evaluasi Pengajaran.


Bandung: Remadja Kerya CV.

Ratnawulan , Elis dan A.Rusdiana. 2015. Evaluasi Pembelajaran. Bandung: CV


Pustaka Setia

Sofyan, Ahmad dkk. (2006). Evaluasi Pembelajaran IPA Berbasis Kompetensi.


Ciputat: Lembaga Penelitian UIN JKT.

Wahyudin,Uyu, dkk. 2006. Evaluasi Pembelajaran SD. Bandung:Upi Press, 2006

Yusuf, Muri. (2015). Asesmen dan Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Kencana

31
32