Anda di halaman 1dari 35

PROGRAM PENGENDALIAN PENYAKIT CHRONIC

RESPIRATORY DISEASE PADA AYAM BROILER DI


KABUPATEN BOGOR

Oleh:

Kelompok K1
PPDH Angkatan IV Tahun 2017/2018

Afiqah binti Abd Latif, SKH B94174403


Daud Julius Djari, SKH B94174412
Muammar Khodafi B94174432

Dosen Pembimbing:

Dr Ir Etih Sudarnika, MSi

LABORATORIUM EPIDEMIOLOGI
PENDIDIKAN PROFESI DOKTER HEWAN
FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2018
BAB 1
PENDAHULUAN

Latar Belakang

Chronic Respiratory Disease (CRD) adalah penyakit menular menahun pada


ayam yang disebabkan oleh Mycoplasma gallisepticum yang ditandai dengan
sekresi hidung katar, kebengkakan muka, batuk dan terdengarnya suara sewaktu
bernafas. Ayam semua umur dapat terserang CRD. Pada kondisi tertentu dapat
menyebabkan gangguan pernapasan akut terutama pada ayam muda, sedangkan
bentuk kronis dapat menyebabkan penurunan produksi telur. CRD memiliki derajat
morbiditas tinggi dan derajat mortalitas rendah. Infeksi dapat menyebar secara
vertikal melalui telur yang terinfeksi. Penyakit ini akan lebih parah apabila diikuti
dengan infeksi sekunder dengan virus lain seperti ND, IB atau bakteri seperti
misalnya Escherichia coli.
Kejadian CRD di Indonesia pertama kali dilaporkan oleh Richey dan
Dirdjosoebroto pada tahun 1965 mengemukakan bahwa ayam ras yang
memperlihatkan gejala respirasi di Jawa Barat 90% menunjukkan gejala serologis
positif. Hasil pemeriksaan serum ayam di beberapa daerah di Indonesia, diketahui
bahwa CRD telah menyebar luas di Jakarta, Bogor, Bandung, Semarang, Tegal,
Yogyakarta, Surabaya, Malang, Bali, Ujung pandang, Palembang, dan Medan.
Reaktor tidak hanya terjadi pada ayam ras tetapi juga pada ayam kampung. Ayam
yang dibeli di Bogor dan berasal dari Jawa tengah, Sukabumi dan Priangan
menunjukkan angka 80% ayam jantan dan 92% ayam betina positif, sedangkan
ayam kampung di Bali 80% reaktor. Kasus CRD di Indonesia tersebar di mana-
mana, namun tidak dilaporkan (Diskeswan 2014).
CRD pada ayam merupakan penyakit yang sangat merugikan industri
perunggasan di seluruh dunia. Di Indonesia, kerugiannya mencapai ratusan milyar
rupiah per tahun. sedang di Amerika mencapai ratusan juta dolar per tahun.
Kerugian ekonomi yang terjadi akibat CRD bukan disebabkan oleh angka
mortalitas yang tinggi, tetapi disebabkan oleh menurunnya produksi telur, fertilitas
dan daya tetas dalam kisaran 8 – 30%, kematian embrio 5 – 20%, kematian anak
ayam 5 – 10%, kenaikan berat badan terhambat 8 – 25%, serta konversi pakan naik
(Soripto 2009). Ayam yang sakit atau mati akibat CRD tidak berhubungan dengan
kesehatan masyarakat veteriner, karena penyakit ini bukan penyakit zoonosis yang
dapat ditularkan ke manusia (Diyantoro & Wulandari 2017).
Menurut OIE (2008), CRD masuk dalam kategori notifiable diseases yang
berarti jika terjadi kasus CRD di lapangan harus segera dilaporkan ke pemerintah
untuk segera ditanggulangi. Belum banyak peternak yang menyadari bahwa CRD
mengkibatkan dampak kerugian ekonomi dari hulu hingga hilir (Buim et al. 2009).
Penyakit ini juga menyebabkan kondisi imunosupresif pada tubuh ayam yang
mengakibatkan terjadinya kegagalan vaksinasi (Szathmary dan Stipkovits 2006).
Selain itu, ayam yang terinfeksi menjadi pembawa patogen yang mengakibatkan
wilayah tempat peternakan terinfeksi menjadi daerah endemik (Diyantoro &
Wulandari 2017).
Pengendalian yang dapat dilakukan terhadap penyakit CRD yaitu
menjauhkan ternak dari kemungkinan tertular penyakit, meningkatkan daya tahan
tubuh ternak dengan vaksinasi, pengelolaan dan pengawasan yang baik serta
melakukan diagnosis dini secara cepat dan tepat. Demi mencapai keberhasilan dari
pengendalian, perlu adanya program yang dapat membasmi penyakit CRD.
Program pengendalian dapat dilakukan melalui test and slaughter, yaitu apabila
ternak dicurigai positif menderita penyakit CRD harus dimusnahkan, test and
treatmen, apabila diketahui terdapat penyakit dilakukan pengobatan, dan yang
terakhir adalah stamping out, yaiut apabila terjadi kasus penyakit menular dan
menyerang seluruh ayam dipeternakan, maka ayam, kandang, dan peralatan harus
dimusnahkan (Suryana 2008).
Selain program pengendalian di atas, program pengendalian lain yang dapat
dilakukan adalah program biosecurity. Program ini dipandang sebagai cara
termurah dan efektif. Bahkan tidak satupun program pengendalian penyakit dapat
bejalan baik tanpa disertai program biosecurity (Hadi 2004). Telah disebutkan
bahwa salah satu cara pengendalian yang dapat mencegah CRD adalah dengan
vaksinasi. Vaksin baru yang ditemukan untuk mencegah CRD adalah vaksin Mutan
MGTS 11, yang merupakan isolat Mycoplasma gallisepticum yang telah diproses
dengan kondisi tertentu (Soeripto 2009). Vaksin MGTS 11 ini merupakan vaksin
aktif dan dinilai lebih efektif dibandingkan dengan vaksin inaktif inang karena
memiliki daya proteksi yang lebih baik, bersifat avirulen, dan daya sebar ke ungags
lainnya yang rendah (Kleven 2005).

Tujuan

Tujuan penyusunan program pengendalian ini adalah untuk menekan


frekuensi kejadian penyakit Chronic Respiratory Disease pada ayam broiler di
Kabupaten Bogor sehingga dapat meminimalisir kerugian ekonomi akibat penyakit
tersebut.

BAB II
SIFAT ALAMIAH PENYAKIT

Riwayat Alamiah Penyakit

Tingkat Kerentanan
Ayam dan kalkun secara alami rentan terhadap inefeksi M. galliseptikum.
selain itu burung dara, ayam hutan, dan beberapa burung liar dapat terserang oleh
penyakit ini. Pada umumnya ayam umur muda lebih rentan. 90% ayam ras di Jawa
Barat yang memperlihatkan gejala menunjukkan hasil uji serologis positif tahun
1965. 80% Jantan dan 92% betina positif di Bogor pada tahun 1974. Data tersebut
menunjukkan fluktuasi jumlah reaktor tahun demi tahun tetap masih dalam batas
presentase yang tinggi (Dikeswan 2014).
Tahap Penyakit Subklinis dan Klinis
Gejala klinis bervariasi dari subklinis sampai kesulitan pernapasan
tergantung dari derajat keparahan infeksi. Gejala klinis diawali dengan keluarnya
cairan eksudat bening (catarrhal) dari rongga hidung, bersin-bersin, batuk, ngorok
dan radang conjunctiva (conjunctivitis). Ayam jantan biasanya memperlihatkan
gejala klinis yang lebih jelas (Ley, 2003). Jika infeksi berlanjut dan disertai infeksi
sekunder maka eksudat hidung yang keluar menjadi agak kental. Gejala pernapasan
ini kemudian diikuti dengan turunnya nafsu makan, berat badan dan produksi telur,
sedangkan konversi pakan naik (Soeripto 2002). Gejala pernapasan ini tidak
spesifik karena bisa dikelirukan dengan penyakit pernapasan lain seperti Infectious
coryza (Snot), Newcastle disease (ND) atau Infectious bronchitis (IB). Pada infeksi
yang kompleks dengan infeksi lain seperti infeksi Escherichia coli atau viral maka
gejala klinis menjadi lebih parah (Ley 2003).

Tingkat Patogenitas
Keganasan baketeri M. gallisepticum yang menyebabkan sakit atau
kematian pada ayam telah banyak dilaporkan. Galur M. gallisepticum yang sangat
bervariasi, tergantung pada karakter fenotipik dan genotipik isolat, induk semang,
rute inokulasi dan jumlah kuman M. gallisepticum yang diinokulasikan serta
jumlah pasase yang dilakukan (Ley 2003). Keganasan M. gallisepticum ditentukan
oleh kemampuan M. gallisepticum untuk melekat pada jaringan epitel. Keganasan
M. gallisepticum tidak saja ditentukan oleh kemampuan M. gallisepticum untuk
melekat, tetapi juga memiliki kemampuan untuk menyebabkan airsacculitis
(Soeripto 2002).
Namun kemampuan untuk melekat pada jaringan epitel organ pernapasan
bagian atas tidak sepenuhnya dikatakan ganas. Sebagai contoh galur vaksin
MGTS11 mampu melekat pada epitel mukosa rongga hidung dan trakea tetapi tidak
mampu untuk menyebabkan airsacculitis (Soeripto 2003). Airsacculitis yang
terjadi akibat infeksi M. gallisepticum akan sulit diobati karena antibiotika yang
digunakan tidak mampu menembus kapiler darah yang sangat kecil pada kantung
membran udara (Bywater, 1991). M. gallisepticum yang sudah bersarang pada
kantung membran udara akan bertahan seumur hidup sehingga ayam menjadi
karier.

Mata Rantai Infeksi


Agen
Penyakit CRD disebabkan oleh Mycoplasma. Mycoplasma merupakan
bakteri patogen pada berbagai jenis unggas. Ada 4 jenis Mycoplasma pada unggas
yang dapat menyebabkan CRD yaitu Mycoplasma gallisepticum (MG),
Mycoplasma synoviae (MS), Mycoplasma meleagridis (MM), dan Mycoplasma
iowae (MI). Dari keempat jenis Mycoplasma tersebut, MG merupakan penyebab
utama CRD pada ayam broiler (Ahmad & Rabbani 2012). Mycoplasma memiliki
beberapa strain yang bervariasi dalam sifat patogenitasnya terhadap unggas.
Mycoplasma berasal dari famili Mycoplasmataceae dan Ordo Mycoplasmatales.
Mycoplama berukuran 0.25-0.50 mikron berbentuk pleomorfik, biasanya kokoid
dan tidak memiliki dinding sel sejati. Bersifat Gram negatif, dapat dibiakan dalam
telur ayam bertunas, biakan sel, medium buatan yang dilengkapi dengan 10-15%
serum babi atau kuda yang diinaktifkn (Dikeswan 2014)

Sumber
Penyakit dapat ditularkan melalui udara atas pengaruh angin. Lingkungan
yang lembab atau suhu yang sangat fluktuatif akan memudahkan timbulnya
penyakit. Kadar amoniak yang tinggi, kandang atau lingkungan yang berdebu
akibat manajemen yang kurang baik dapat mempengaruhi timbulnya penyakit.

Cara Keluar
Habitat utama Habitat utama Mycoplasma adalah membran mukosa saluran
pernapasan terutama trakea dan saluran urogenital, mukosa mata, dan persendian.
Mycoplasma pada umumnya keluar bersama udara yang melalui saluran pernapasan
dan juga keluar bersama sekreta hidung. Selain itu, Mycoplasma juga terdapat pada
telur ayam yeng terinfeksi.

Transmisi
Penyebaran infeksi M. gallisepticum dapat terjadi secara horizontal dan
vertikal. Penyebaran secara horizontal horizontal dapat terjadi secara langsung
melalui udara atau percikan air liur terhadap ayam yang peka di sekitarnya,
sedangkan secara tidak langsung dapat melalui pakan, air minum, peralatan dan
pakaian pekerja yang terkontaminasi M. gallisepticum. Penyebaran secara vertikal
dapat terjadi melalui indung telur atau oviduct. Pada fase akut, kejadian penyebaran
vertikal biasanya tinggi, tetapi pada fase kronik kejadiannya rendah (Ley 2003).

Cara Masuk
Mekanisme infeksi M. gallisepticum masuk melalui rongga hidung
kemudian melekat pada reseptor epitel yang disebut sialoglycoprotein (Patron
recognition receptors sites) yang dimediasi oleh adhesin dan protein yang disebut
bleb (Pathogen associate molecular patrons) yang terletak pada ujung organ sel
Mycoplasma. Selanjutnya, sel Mycoplasma melakukan penetrasi dan merusak
mukosa epitel sambil memperbanyak diri. Dengan perantaraan gerakan silia epitel
dan bleb, sel Mycoplasma bergerak menuju kantong membran udara abdominal
Mekanisme infeksi M. gallisepticum sampai masuk ke indung telur atau oviduct
dan menyebabkan penyebaran vertikal sampai saat ini belum diketahui (Szathmary
& Stipkovits 2006).
Inang Rentan
Kejadian CRD yang disebabkan oleh M. gallisepticum dilaporkan telah
menyebar luas di seluruh dunia. Penyakit CRD tidak hanya menyebar pada ayam
pembibit melainkan juga terjadi pada ayam komersial di seluruh Indonesia. Ayam
muda lebih peka dibandingkan dengan ayam dewasa. Selain itu, ayam jantan lebih
rentan terkena CRD dibandingkan ayam betina. Selain ayam, M. gallisepticum juga
menyebabkan sinusitis pada kalkun. Penyebaran infeksi M. gallisepticum juga
telah dilaporkan pada burung, itik dan angsa (Soeripto 2009). M. gallisepticum
pernah dilaporkan telah diisolasi dari elang yang terinfeksi, burung beo, dan burung
puyuh (Okwara 2016).

Vaksin
Vaksin strain F M. gallisepticum adalah strain unik bersifat imunogenik.
Pada tahun 2007, vaksin oil emulsified M. gallisepticum sudah tersedia di USA dan
Jepang (Kelven 1984) . Vaksin ini juga sudah beredar di Indonesia. Ayam yang
terimunisasi dengan M. gallisepticum dengan ICGN adalah resisten terhadap
radang kantong hawa (Elfaki 1992).
Vaksin hidup lainnya yang diproduksi di Amerika yaitu vaksin MG 6/85.
Vaksin ini dipasarkan dalam bentuk kering beku. Pemberian vaksin ini dilakukan
dengan cara disemprotkan (spray). Vaksin ini dilaporkan memiliki keganasan
minimal pada ayam dan kalkun serta sedikit atau tidak menyebar pada ayam di
sekitarnya (Ley et al. 1997). Jumlah kolonisasi kuman M. gallisepticum 6/85 yang
bersarang pada mukosa trakea ayam yang divaksin dilaporkan relatif tidak tinggi
(Ley et al., 1997). Vaksin ini juga sudah beredar di Indonesia.

Uji Diagnosa
Menurut Dikeswan 2014, diagnosa pada ayam atau kalkun yang terinfeksi
M. gallisepticum dapat dilakukan dengan isolasi dan identifikasi organisme, DNA
atau antibodi humoral spesifiknya. Metode uji dapat dilakukan dengan identifikasi
agen penyebab dan atau dengan uji serologis. Uji identifikasi agen penyebab CRD
dapat dilakukan dengan Indirect Flourescent Antibody Technique (FAT), Growth
Inhibition Test dan Metoda penentuan DNA. Manakala uji serologis dapat
dilakukan dengan uji aglutinasi serum cepat (Rapid Serum Aglution test), uji
hambat hemaglutinasi atau hemaglutination inhibition test (HI) dan Enzyme Linked
Imuno Sorbent Assay (ELISA).

Determinan Penyakit
Determinan penyakit merupakan berbagai macam karakteristik atau faktor
yang menyebabkan timbulnya suatu penyakit. Tabel 1 menunjukkan determinan-
determinan penyakit Chronic Respiratory Diseases pada ayam broiler.
Tabel 1 Determinan penyakit Chronic Respiratory Diseases pada ayam broiler.
Determinan Primer Determinan sekunder
Determinan ekstrinsik
Determinan Determinan Determinan
Unsur hidup Unsur tidak
intrinsik intrinsik ekstrinsik
hidup
Inang rentan Mycoplasma Kandang yang  Fisiologis  Peternakan
gallisepticum terkontaminasi  Imunitas  Status
virus dari  Umur vaksinasi
cairan tubuh.
Jarum suntik
terkontaminasi
virus yang
dipakai
berulang.

BAB III
PENYUSUNAN RENCANA SURVEI

Tujuan
Penyusunan rencana survei dilakukan untuk menentukan status tingkat
kejadian penyakit chronic respiratory disease pada ayam broiler di Kabupaten
Bogor dengan penentuan prevalensi penyakit dan identifikasi faktor risiko
penyebab penyakit CRD.

Jenis Data

Jenis data yang dikumpulkan berupa data prevalensi kejadian penyakit CRD
pada ayam broiler di Kabupaten Bogor dan faktor-faktor resiko yang berhubungan
dengan kejadian penyakit tersebut. Jenis sampel yang diambil untuk diuji adalah
sampel darah yang langsung diambil dari flock peternakan. Sampel darah yang
didapatkan kemudian dibawa ke laboratorium dan dilakukan uji serologis
menggunakan rapid test dan ELISA (enzyme-linked immunosorbent assay) untuk
mendeteksi adanya bakteri penyebab CRD.
Data mengenai faktor-faktor resiko yang berhubungan dengan penyakit CRD
didapatkan dengan pengisian kuesioner oleh peternak ayam broiler di Kabupaten
Bogor. Kuesioner berisi faktor-faktor resiko yang diduga menjadi penyebab
kemunculan dan penyebaran penyakit CRD. Hasil yang diperoleh dari data
kuesioner akan dianalisis untuk mengetahui hubungan antara faktor-faktor resiko
dalam kuesioner dengan kejadian dan penyebaran penyakit CRD. Faktor-faktor
resiko penyakit CRD meliputi manajemen pemeliharaan, manajemen kesehatan,
manajemen pakan, sanitasi ternak, biosekuriti serta tingkat pengetahuan peternak.
Populasi Target
Populasi target dalam program pengendalian penyakit CRD pada ayam
broiler di Kabupaten Bogor meliputi seluruh populasi ayam broiler di Kabupaten
Bogor. Jumlah populasi ayam broiler di Kabupaten Bogor tahun 2018 menurut
Badan Pusat Statistik Kabupaten Bogor (2018) adalah 28.864.988 ekor. Ayam
broiler tersebar ke dalam 40 kecamatan seperti yang tertera dalam Tabel 2.

Tabel 2 Data populasi ternak ayam broiler di Kabupaten Bogor serta perhitungan
contoh sampel yang diambil
Kecamatan Populasi jumla Jumlah Flock selang Nomor
h flock/fa kumu contoh
farm rm (est latif yang
(esti 5rb diambil
masi ekor/flo pada
105 ck kecamatan
ekor/f
arm)
Nanggung 1 116 954 11 220 220 1-220 31
Leuwiliang 289 040 3 60 280 221-280
Leuwisadeng 189 000 2 40 320 281-320 318
Pamijahan 1 037 000 10 200 520 321-520
Cibungbulang 698 850 7 140 660 521-660 605
Ciampea 606 880 6 120 780 661-780
Tenjolaya 18 800 1 20 800 781-800
Dramaga 764 680 8 160 960 801-960 892
Ciomas - - - - -
Tamansari 367 950 4 80 1040 961-1040
Cijeruk 322 320 3 60 1100 1041-1100
Cigombong 153 522 1 20 1120 1101-1120
Caringin 140 463 1 20 1140 1121-1140
Ciawi 301 026 3 60 1200 1141-1200 1179
Cisarua 64 092 1 20 1220 1201-1220
Megamendung 124 714 1 20 1240 1221-1240
Sukaraja 241 000 2 40 1280 1241-1280
Babakan Madang 27 620 1 20 1300 1281-1300
Sukamakmur 695 984 7 140 1440 1301-1440
Cariu 2 411 000 24 480 1920 1441-1920 1466, 1753
Tanjungsari 4 023 308 40 800 2720 1921-2720 2040, 2327, 2614
Jonggol 633 750 6 120 2840 2721-2840
Cileungsi 209 900 2 40 2880 2841-2880
Klapanunggal - - - - -
Gunungputri 42 640 1 20 2900 2881-2900
Citeureup 52 610 1 20 2920 2901-2920 2901
Cibinong 409 000 4 80 3000 2921-3000
Bojonggede 80 015 1 20 3020 3001-3020
Tajurhalang 129 358 1 20 3040 3021-3040
Kemang 221 726 2 40 3080 3041-3080
Rancabungur 97 000 1 20 3100 3081-3100
Parung 2 432 183 24 480 3580 3101-3580 3188, 3475
Ciseeng 1 003 273 10 200 3780 3581-3780 3762
Gunungsindur 1 616 800 16 320 4100 3781-4100 4049
Rumpin 1 474 400 14 280 4380 4101-4380 4336
Cigudeg 1 524 839 15 300 4680 4381-4680 4623
Sukajaya 278 630 3 60 4740 4681-4740
Jasinga 978 489 10 200 4940 4741-4940 4910
Tenjo 792 892 8 160 5100 4941-5100
Parungpanjang 3 293 280 32 640 5740 5101-5740 5197, 5484
Jumlah 28 864 988 287 5740 5740

Metode

Teknik Pengambilan Contoh


Teknik pengambilan contoh yang dilakukan adalah dengan menggunakan
metode cluster random sampling. Teknik ini diawali dengan menentukan
kecamatan yang akan dijadikan contoh. Penentuan kecamatan didasarkan pada
penggunaan metode probability proportional to size (PPS). Metode ini dipilih
berdasarkan sebaran populasi yang berbeda pada tiap kecamatan di Kabupaten
Bogor sehingga harus diasumsikan bahwa setiap flock memiliki peluang yang sama
untuk terpilih sebagai contoh.
Besaran Contoh
Besaran contoh yang diinginkan diambil dengan menentukan interval
populasi ternak ayam broiler di Kabupaten Bogor untuk mendapatkan selang
populasi. Penghitungan interval menggunakan rumus sebagai berikut:
𝐔𝐤𝐮𝐫𝐚𝐧 𝐩𝐨𝐩𝐮𝐥𝐚𝐬𝐢
𝐈𝐧𝐭𝐞𝐫𝐯𝐚𝐥 𝐊 =
𝐔𝐤𝐮𝐫𝐚𝐧 𝐜𝐨𝐧𝐭𝐨𝐡 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐝𝐢𝐢𝐧𝐠𝐢𝐧𝐤𝐚𝐧
5,740
= = 𝟐𝟖𝟕
𝟐𝟎
Ukuran contoh yang diinginkan pada program pengendalian ini adalah
sebanyak 20 kecamatan. Pemilihan jumlah kecamatan ini dilakukan dengan
mempertimbangkan efisiensi biaya dan kemudahan mendapatkan data. Setelah
interval diperoleh, pengambilan nilai acak bergerombol dilakukan dengan
menggunakan aplikasi microsoft excel dengan formula =RANDBETWEEN. Nilai
yang muncul kemudian menjadi nilai gerombol pertama. Selanjutnya untuk
mendapatkan nilai gerombol kedua sampai ke-20, angka gerombol sebelumnya
dijumlahkan dengan nilai interval. Berdasarkan cara tersebut, didapatkan bahwa
gerombol pertama hingga gerombol ke-20 berada di 15 kecamatan, yaitu
Kecamatan Nanggung, Leuwisadeng, Cibungbulang, Dramaga, Cariu, Tanjung
Sari, Citeureup, Parung, Ciseeng, Gunung Sindur, Ciawi, Rumpin, Cigudeg,
Jasinga dan Parung Panjang.
Ukuran contoh ditentukan menggunakan rumus dengan asumsi selang
kepercayaan 95%, galat 5%, dan nilai prevalensi dugaan 20% (Agustini et al. 2014),
sehingga didapatkan nilai ukuran contoh yaitu 250. Untuk mendapatkan jumlah
contoh yang akan diambil, dilakukan pengalian dengan faktor koreksi. Faktor
koreksi yang digunakan adalah 2 karena terdapat dua tahap pengambilan contoh
yaitu satu kali di kecamatan dan satu kali di flock unggas. Selanjutnya, total contoh
yang didapatkan dibagi dengan 20 yang merupakan jumlah gerombol yang akan
dilakukan penarikan contoh pada tingkat kecamatan.

𝟒𝐩𝐪 𝟒 (𝟎.𝟐)(𝟎.𝟖)
𝐧= = = 𝟐𝟓𝟔 ≈ 250
𝐋𝐱𝐋 𝟎.𝟎𝟓 𝒙 𝟎.𝟎𝟓

Total contoh dalam 2 tahap pengambilan sampel:

250 x 2 = 500

Jumlah contoh per kecamatan:

500 : 20 = 25

Semua flock unggas di masing-masing kecamatan diambil sebagai contoh.


Terdapat total 5740 flock unggas yang diambil sebagai contoh di seluruh
kecamatan yang dipilih. Sebanyak 220 flock unggas terdapat di Kecamatan
Nanggung, 40 di Leuwisadeng, 140 di Cibungbulang, 160 di Dramaga, 480 di
Cariu, 800 di Tanjung Sari, 20 di Citeureup, 480 di Parung, 200 di Ciseeng, 316 di
Gunung Sindur, 60 di Ciawi, 14 di Rumpin, 15 di Cigudeg, 10 di Jasinga dan 32 di
Parung Panjang. Jumlah flock dari masing-masing kecamatan ditentukan secara
proporsional. Selanjutnya, pengambilan contoh flock dalam satu kecamatan
dilakukan menggunakan metode simple random sampling. Data lainnya yang
diambil adalah faktor risiko penyakit yang didapatkan melalui kuesioner yang
terlampir (Lampiran 1). Data yang diperoleh dari kuesioner selanjutnya
dimasukkan dan diolah dengan menggunakan perangkat lunak SPSS 20 for
Windows yang terdapat di komputer.
Tabel 3 Jumlah ayam broiler di kabupaten Bogor yang dijadikan contoh

Kecamatan Jumlah Jumlah Flock Nomor Jumlah Jumlah Jumlah contoh yang
farm flock kumulatif contoh contoh flock/farm diambil/farm
yang yang
diambil diambil/kec
pada
kecamatan
Nanggung 11 220 220 31 25 20 J= (20/220)×25 = 2 flock
J untuk 11 farm: 2×11=22
flock
Leuwisadeng 2 40 320 318 25 20 J= (20/40)×25 = 12 flock
J untuk 2 farm: 2×12=24
flock
Cibungbulang 7 140 660 605 25 20 J= (20/140)×25 = 3 flock
J untuk 7 farm= 3×7=21
flock
Dramaga 8 160 960 892 25 20 J= (20/160)×25 = 3 flock
J untuk 2 farm= 3×8=24
flock
Ciawi 3 60 1200 1179 25 20 J= (20/60)×25 = 8 flock
J untuk 2 farm= 8×3=24
flock

Cariu 24 480 1920 1466, 2×25=50 20 J= (20/480)×50 = 2 flock


1753 J untuk 2 farm= 2×24=48
flock
Tanjungsari 40 800 2720 2040, 3×25=75 20 J= (20/800)×75 = 2 flock
2327, J untuk 2 farm= 2×40=80
2614 flock
Citeureup 1 20 2920 2901 25 20 J= (20/20)×25 = 20 flock
J untuk 1 farm= 1×20=20
flock
Parung 24 480 3580 3188, 2×25=50 20 J= (20/480)×50 = 2 flock
3475 J untuk 24 farm=
2×24=48 flock
Ciseeng 10 200 3780 3762 25 20 J= (20/200)×25 = 2 flock
J untuk 10 farm=
2×10=20 flock
Gunungsindur 16 320 4100 4049 25 20 J=(20/320)×25=2 flock
J untuk 16 farm=
2×16=32 flock
Rumpin 14 280 4380 4336 25 20 J=(20/280)×25=2 flock
J untuk 14 farm=
2×14=28 flock
Cigudeg 15 300 4680 4623 25 20 J=(20/300) ×25=2 flock
J untuk 15 farm=2×15=
30 flock
Jasinga 10 200 4940 4910 25 20 J=(20/200) ×25= 2 flock
J untuk 10 farm=
2×10=20 flcok
Parungpanjang 32 640 5740 5197, 2×25=50 20 J=(20/640) ×50= 2 flock
5484 J untuk 32 farm=
2×32=64 flock
Jumlah: 505 flock

Uji Diagnostik
Pengujian diagnostik dilakukan dengan mengambil sampel darah ayam
broiler di Kabupaten Bogor. Sampel darah diambil dengan menggunakan syringe
dan dimasukkan ke dalam tabung darah berantikoagulan EDTA. Sampel darah yang
didapatkan kemudian dibawa ke laboratorium dan dilakukan pemeriksaan Rapid
test dan ELISA untuk mendeteksi bakteri penyebab penyakit CRD.

Kuesioner
Kuesioner merupakan salah teknik yang digunakan dalam pengumpulan data
terkait faktor-faktor risiko kejadian penyakit CRD di Kabupaten Bogor. Kuesioner
diberikan dan diisi oleh peternak ayam broiler Contoh kuesioner terlampir sebagai
Lampiran 1.

Analisis Statistik
Data hasil uji diagnostik diolah untuk menentukan estimasi prevalensi
penyakit CRD di Kabupaten Bogor. Data kuesioner yang diperoleh akan dianalisis
untuk melihat korelasi antara tingkat kejadian penyakit dengan faktor-faktor risiko
penyakit. Faktor risiko yang paling berpengaruh terhadap tingkat kejadian penyakit
ditentukan dengan perhitungan odd ratio (OR) dan relative risk (RR).

Aspek Keorganisasian
Susunan organisasi dibentuk dalam pelaksanaan survei untuk penyusunan
dan penyelenggaraan program pengendalian penyakit. Berikut adalah susunan
organisasi dalam program pengendalian penyakit CRD pada ayam broiler di
Kabupaten Bogor (Tabel 5).

Tabel 4 Aspek keorganisasian kegiatan survei penyakit CRD


No Aspek keorganisasian Jumlah Keterangan
1 Ketua pelaksana 1
2 Pegawai administrasi 1
3 Bendahara 1
4 Supervisor 8 Terdiri atas dokter hewan
berwenang
5 Dokter hewan 8 Terdiri atas dokter hewan
pelaksana
6 Paramedis 16 Bertugas membantu dokter
hewan dalam pelaksanaan
7 Enumerator dan pengolah 4 Bertugas untuk melakukan
data wawancara kuesioner dan
pengolahan data
8 Pegawai logistik dan 8
transportasi

Target kerja pelaksanaan survei dilakukan pada 15 wilayah kecamatan di


Kabupaten Bogor. Petugas dibagi ke dalam 8 tim yang terdiri atas satu supervisor,
satu dokter hewan, dua paramedis, dan 1 pegawai logistik. Survei pada masing-
masing kecamatan akan dilaksanakan oleh 2 tim. Rapat dilakukan pada awal
kegiatan untuk mendukung kelancaran survei.

Aspek Logistik

Daftar peralatan yang dibutuhkan dalam kegiatan survei meliputi daftar alat
pengambilan contoh, sarana pengolahan data, dan sarana pendukung. Alat yang
dibutuhkan untuk pengambilan contoh meliputi syringe 5 mL, needle 18G, alkohol
70%, kapas, tabung darah berantikoagulan EDTA, cool box untuk transporatasi
sampel, ice pack, dan sarung tangan. Sarana pengolahan data meliputi kit rapid test,
alat pengujian ELISA, alat tulis, komputer, dan printer. Sarana pendukung meliputi
baju lapang, sepatu kandang, alat transportasi, dan bahan bakar alat transportasi.

Waktu Pelaksanaan

Kegiatan survei akan dilaksanakan selama 1 bulan pada hari kerja dimulai
dari tanggal 21 November hingga 19 Desember 2018. Kegiatan ini meliputi
pengambilan sampel serta penyebaran kuesioner. Hasil yang didapatkan akan
dianalisis dan diinterpretasikan kemudian dilakukan pembuatan laporan
pertanggungjawaban. Jadwal pelaksanaan kegiatan survei secara detail disajikan
dalam Tabel 6.

Tabel 5 Jadwal pelaksanaan survei dalam rangka pengendalian penyakit CRD pada
ayam broiler di Kabupaten Bogor
Kegiatan Minggu ke-1 Minggu ke-2 Minggu ke-3 Minggu ke-4
1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5
Persiapan
survei dan
sosialisasi
program
Pengambila
n sampel
dan
pengisian
kuesioner
Uji
diagnostik
Input data
Pengolahan
dan analisis
data
Pembuatan
laporan

Anggaran Dana Survei

Kegiatan survei membutuhkan anggaran dana untuk pelaksanaan yang baik


dan maksimal. Anggaran dana untuk kegiatan survei penyakit CRD di Kabupaten
Bogor terlampir pada Lampiran 2.

BAB IV
PENYUSUNAN PROGRAM PENGENDALIAN PENYAKIT

Penyusunan Program Pengendalian

Penyakit Chronic Respiration Disease memberikan dampak dan kerugian


yang cukup besar. Tingkat morbitas yang tinggi pada ayam broiler yang terinfeksi
menyebabkan kerugian yang besar pada para penternak di Kabupaten Bogor.
Penurunan tingkat produksi telur dan pertumbuhan berat badan ternak akan
menimbulkan kerugian ekonomi yang besar ini disebabkan oleh penurunan
produksi daging. Selain itu, ternak yang sakit akan meningkatkan biaya pengobatan
oleh peternak.
Pengendalian penyakit Chronic Respiration Disease perlu dilakukan untuk
menekan tingkat kejadian penyakit. Pengetahuan peternak mengenai manajemen
kandang terkait sanitasi penting untuk mengurangi paparan sumber penyakit.
Program pencegahan dan pengendalian penyakit CRD di Kabupaten Bogor
disajikan pada Tabel 6. Rincian biaya program pengendalian dapat dilihat pada
Lampiran 3.
Tabel 6 Strategi program pencegahan dan pengendalian penyakit Chronic
Respiration Disease pada ayam broiler di Kabupaten Bogor.
No Strategi Program Tujuan Aktivitas
1 Pendidikan Penyuluhan Meningkatkan  Sosialisasi kepada
peternak ayam pengetahuan peternak mengenai
broiler peternak ciri-ciri ayam
mengenai broiler yang
manajemen terinfeksi dan alur
kandang yang pelaporan hewan
baik untuk sakit yang dapat
mengurangi dilakukan
resiko terkena  Sosialisasi kepada
penyakit Chronic peternak mengenai
Respiratory pemilihan DOC
Disease. yang sehat dan
berkualitas.
 Sosialisasi
mengenai kerugian
yang dapat
ditimbulkan oleh
Chronic
Respiration
Disease
 Sosialisasi
mengenai vaksinasi
terhadap penyakit
Chronic
Respiration
Disease

Kegiatan dilakukan
satu kali dalam satu
tahun
Pelatihan Meningkatkan  Edukasi
manajemen pengetahuan dan manajemen
kandang dan pemahaman peternakan yang
sanitasi yang peternak baik
baik mengenai  Edukasi
manajemen manajemen
kandang terutama memperketatkan
sanitasi yang baik biosekuriti seperti
kontrol lalu lintas,
isolasi ternak sakit
dan zona loading &
unloading serta
sanitasi.
Pelatihan
dilaksanakan satu
kali dalam satu
tahun
2 Pengendalian Vaksinasi Meningkatkan  Vaksinasi CRD
sistem kekebalan melalui tetes mata
tubuh ayam dan air minum pada
broiler sehingga semua flock unggas
diharapkan dapat di setiap peternakan
menekan
frekuensi Vaksinasi
kejadian penyakit dilakukan satu kali
Chronic dalam satu tahun
Respiration
Disease

Penyusunan Biaya dan Manfaat Pengendalian Penyakit (Analisis


Ekonomi)
Biaya pengendalian penyakit Chronic Respiration Disease di Kabupaten
Bogor terdiri dari biaya untuk tim pelaksana, biaya operasional, logistik, dan biaya
pengeluaran lain. Cost dan benefit survei dan pengendalian penyakit CRD pada
ayam broiler dapat dilihat pada tabel 8 dan 9.

Tabel 8 Total cost dari survei dan pengendalian penyakit CRD pada ayam broiler
di Kabupaten Bogor
Tahun Biaya survei (Rp) Biaya pengendalian (Rp) Cost (Rp)

1 801,644,000 2,192,802,000 2,994,446,000


2 801,144,000 2,186,802,000 2,987,946,000
3 797,644,000 2,156,802,000 2,954,446,000
4 802,144,000 2,179,802,000 2,981,946,000
5 802,144,000 2,186,802,000 2,988,946,000
Jumlah 4,004,720,000 10,903,010,000.00 14,907,730,000
Tabel 2 Total benefit dari survei dan pengendalian penyakit CRD pada ayam broiler
di Kabupaten Bogor

Total ayam
Penurunan yang Harga ternak
Tahun Morbiditas Benefit
Mortalitas terselamatkan (Rp)
(ekor)
1 30.00% - 0 - -
2 29.00% 1.00% 293650 14,000 4,111,100,000
3 28.00% 1.00% 298650 14,000 4,181,100,000
4 27.00% 1.00% 303650 14,000 4,251,100,000
5 26.00% 1.00% 308650 14,000 4,321,100,000
Jumlah 1204600 16,864,400,000

Asumsi yang digunakan dalam pembuatan proyek ini adalah:


1. Populasi ternak ayam broiler di Kabupaten Bogor adalah sebanyak 28.864. 988
ekor. Dan bertambah 500000 ekor setiap tahun
2. Mortalitas ayam broiler akibat penyakit Chronic Respiration Disease pada
tahun pertama adalah 30%. Setelah dilakukan pengendalian selama 5 tahun,
menurun setiap tahunnya menjadi 29%, 28%, 27%, dan 26%.
3. Harga ayam broiler adalah Rp 12.000,-
Data mengenai dinamika populasi setelah dilakukannya program pengendalian
disajikan pada Tabel 8.
Tabel 8 Dinamika populasi ayam broiler di Kabupaten Bogor setelah dilakukan program
pengendalian

Populasi ayam (ekor) Total ayam


Penurunan Angka
angka Total Persentase yang
Tahun Populasi persentase mortalitas
pertambahan populasi mortalitas terselamatkan
awal (ekor) mortalitas (ekor)
poplasi (ekor) (ekor)
1 28864988 28864988 30% 8659496 0
2 28864988 500000 29364988 29% 1% 8515847 293650
3 37864988 500000 29864988 28% 1% 8362197 298650
4 46864988 500000 30364988 27% 1% 8198547 303650
5 55864988 500000 30864988 26% 1% 8024897 308650
total 198324940 149324940 41760983 1204600

Kelayakan Program Secara Ekonomi

Analisis dilakukan untuk mengetahui apakah suatu program yang akan


dilakukan layak atau tidak. Analisis kelayakan program pengendalian penyakit
Chronic Respiration Disease menggunakan metode partial analysis. Dalam metode
ini, ada tiga kriteria pengambilan keputusan, yaitu net present value (NPV), benefit-
cost ratio (BCR), dan internal rate of return (IRR). Analisis ini dilakukan
menggunakan penghitungan cost benefit.
Tabel 9 Analisis biaya ekonomi kegiatan pengendalian penyakit CRD Pada Ayam Broiler Di
Kabupaten Bogor pada tingkat suku bunga 12%.
Discount
T Cost (C) Rp PVC Rp Benefit (B) Rp df PVB Rp BCR NPV Rp B-C
Rate (DR)
-
1 2,994,446,000 0.893 2673612500 0 0.893 0 - -2673612500
2,994,446,000
2 2,987,946,000 0.797 2381972258 4,111,100,000 0.797 3276546700 1.38 894574442.3 1,123,154,000
3 2,954,446,000 0.712 2102916306 4,181,100,000 0.712 2976943200 1.42 874026894 1,226,654,000
4 2,981,946,000 0.636 1895080592 4,251,100,000 0.636 2703699600 1.43 808619008.2 1,269,154,000
5 2,988,946,000 0.567 1696008231 4,321,100,000 0.567 2450063700 1.44 754055469.3 1,332,154,000
14,907,730,000 10749589886 16,864,400,000 11407253200 5.66 657,663,314 1,956,670,000

NPV = PVB-PVC
= Rp 11407253200 - Rp 10749589886
= Rp 657663314
Suatu proyek dapat diterima apabila PVB > PVC atau dengan kata lain NPV
bernilai positif. NPV memberikan gambaran tentang jumlah keuntungan yang
diperoleh dari proyek dalam ukuran nilai sekarang. NPV telah memenuhi syarat
kelayakan program pengendalian.

PVB
BCR =
PVC
Rp 11407253200
= =1.061
Rp 10749589886

Suatu proyek dapat diterima apabila nilai benefit cost ratio (BCR) lebih
besar dari 1. BCR merupakan kriteria yang sangat berguna dalam menentukan
urutan prioritas proyek. Pada proyek ini, setiap Rp 1 yang dikeluarkan akan
memberikan manfaat sebesar Rp 1.061. Hal ini menandakan bahwa proyek ini dapat
memberi keuntungan bila dilakukan.
Nilai IRR ditentukan berdasarkan discount rate (DR) yang membuat NPV
bernilai 0. IRR berkisar antara 22% dan 23%. Nilai IRR ditentukan dengan rumus
berikut:

(𝐷𝑅 ↑ −𝐷𝑅 ↓) × 𝑁𝑃𝑉 𝑠𝑎𝑎𝑡 𝐷𝑅 ↓


𝐼𝑅𝑅 = 𝐷𝑅 ↓ +
|𝑁𝑃𝑉 𝑠𝑎𝑎𝑡 𝐷𝑅 ↓| + |𝑁𝑃𝑉 𝑠𝑎𝑎𝑡 𝐷𝑅 ↑|

(23 − 22) × 41458759


𝐼𝑅𝑅 = 22 + = 23
|−5267064| + |41458759|
IRR merupakan kriteria yang lebih disukai dibandingkan kriteria lain,
karena menggambarkan persentase tingkat pengembalian yang diperoleh (rate of
return). Nilai IRR dari proyek ini yaitu 23%. Nilai IRR lebih tinggi dari
nilai discount rate yang digunakan, yaitu 12%, sehingga proyek ini layak secara
ekonomi dan dapat diterima. Interpretasi nilai IRR yang lebih besar dari discount
rate menunjukan bahwa program pengendalian dapat mengembalikan nilai
ekonomi dana yang diinvestasikan untuk program pengendalian.

BAB V
SIMPULAN

Berdasarkan metode partial analysis, program pengendalian penyakit di


yang diusulkan, layak untuk dijalankan. Program pengendalian ini dapat
mengembalikan nilai ekonomi dana yang diinvestasikan. Melalui program
pengendalian ini diharapkan frekuensi kejadian penyakit CRD dapat ditekan
sehingga dapat meminimalisir kerugian ekonomi akibat penyakit tersebut.
DAFTAR PUSTAKA

[OIE] Office International des Epizooties (FR). 2008. Avian Mycoplasmosis


(Mycoplasma gallisepticum, Mycoplasma sinoviae). OIE terrestrial
manual 2008. Chapter 2.3.4. 482-496.
[Dikeswan] Direktur Kesehatan Hewan. 2014. Manual Penyakit Hewan Unggas.
Jakarta (ID): Direktorat Kesehatan Hewan, Direktorat Bina Produksi
Peternakan, Departemen Pertanian RI.
Ahmad M, Rabbani M. 2012. Chronic respiratory disease of poultry. Pakistan
Times.
Buim MR. 2007. Avian mycoplasmosis. Arq Inst Biol. 73:23-26.
Bywater, R.J. 1991. Macrolide and Lincosamide antibiotics. Part III. The control
of infectious diseases: Chemotheraphy. In: Veterinary Applied
Pharmacology and Therapeutics. Educational Low-priced Book Scheme.
Funded by the British Government. pp. 461 – 473.
Diyantoro, Wulandari S. 2017. Deteksi Antibodi Salmonella pullorum dan
Mycoplasma gallisepticum pada anak ayam (DOC) pedaging beberapa
perusahaan yang dijual di Kabupaten Lamongan. Agroveteriner. 5 (2):
152-127.
Elfaki MG. 1992. Sequential intracoelomic and intrabursal immunization of
chickens with inactivated Mycoplasma gallisepticum bacterin and iota
carrageenan adjuvant. Vaccine. 10: 656.
Hadi UK. 2004. Pelaksanaan biosekuritas pada peternakan ayam [makalah].
Bogor: Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor.
Kelven SH. 1984. Israel Journal of Health Policy Research. Israel Journal Medical
Science. 20:989
Kleven SH. 2005. Prevention and control of Avian Mycoplasmas [artikel]. Georgia:
Avian Insight.
Ley, D.H. 2003. Mycoplasma galisepticum infection. In: Diseases of Poultry. 11th
Ed. A Blackwell Publishing Company. pp. 722 – 744.

Ley, D.H., J.M. Mclaren, A.M. Miles, H.J. Barnes, S.H. Miller And G. Franz. 1997.
Transmissibility of live Mycoplasm gallisepticum vaccine strains ts-11 and
6/85 from vaccinated layer pullets to sentinel poultry. Avian Dis. 41: 187
– 194.
Okwara N.2016. Avian mycoplasmosis: A review. IOSR Journal of Agricultural
and Veterinary Science. 9(5): 6-10.
Soeripto. 2002. The effect of Mycoplasma gallisepticum TS11 vaccination on egg
production. Proc. the 3rd International Seminar on Trop. Anim. Prod.
Yogyakarta, 15 – 16 October 2002. pp. 1 – 10.
Soeripto. 2009. Chronic respiratory disease (CRD) pada ayam. Wartazoa. 19 (3):
134-142.
Suryana AH. 2008. Usaha tani ayam buras di Indonesia: permasalahan dan
tantangan. Jurnal Litbang Pertanian. 27(3):75-83.

Szathmary S, Stipkovits L. 2006. Interaction of mycoplasma and the chicken


immune system. International Novartis Poultry Symposium, Puerto
Vallarta (MX). 1-24.

Lampiran 1

KUESIONER
PROGRAM PENGENDALIAN PENYAKIT CHRONIC RESPIRATORY
DISEASE (CRD) DI KABUPATEN BOGOR

Tanggal wawancara
Enumerator
Kabupaten
Kecamatan
Banjar/Desa/Kelurahan
Jumlah sampel
Biodata Peternak
Nama
Alamat

No. Telp
Pendidikan
terakhir
Pekerjaan
Pengalaman
beternak

Pengetahuan Peternak
1. Apa pendidikan formal terakhir?
a. Tidak sekolah formal e. Lulus SMA
b. Tidak tamat SD f. Lulus Diploma I/II/III
c. Lulus SD g. Lulus S1/S2/S3
d. Lulus SMP
2. Apakah memiliki pendidikan nonformal mengenai pertanian/peternakan?
a. Pernah mengikuti kursus mengenai ………….
b. Pernah mengikuti pelatihan singkat mengenai …..
c. Pernah mengikuti penyuluhan tentang ……….
3. Berapa lama memiliki pengalaman beternak?
a. < 1 tahun b. 1-5 tahun c. >5 tahun
4. Hewan apa saja yang pernah diternakkan?
a. Sapi f. kuda
b. Kerbau g. ayam
c. Kambing h. Lainnya, sebutkan …..
d. Domba
e. Babi
5. Apakah pernah mengetahui tentang penyakit pada ayam?
(ajukan 4-5 pertanyaan tentang penyakit ayam, bila benar 2-3 pertanyaan
maka “cukup mengetahui, bila benar 4-5 pertanyaan maka “sangat
mengetahui”)
a. Sangat mengetahui c. tidak tahu
b. Cukup mengetahui
6. Penyakit yang sering ditemui pada ayam yang diternakkan
(sebutkan 3 penyakit yang paling sering, abaikan bila jawaban no. 5 “tidak
tahu”)
a. Sebutkan ……………………
b. Sebutkan ……………………
c. Sebutkan ……………………
7. Apakah pernah mengalami hewan yang diternakkan terdampak penyakit
Chronic Respiratory Disease?
(abaikan bila jawaban no. 5 “tidak tahu”)
a. Pernah b. Belum pernah
8. Bagaimanakah tindakan saat itu (no. 7) terjadi?
………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………
9. Apakah mengetahui bahwa penyakit Chronic Respiratory Disease pada
ayam broiler dapat dicegah dengan vaksinasi?
a. Mengetahui b. Tidak tahu
10. Adakah anda pernah mendapat penyuluhan tentang penyakit Chronic
Respiratory Disease pada ayam broiler? Jika ya, dari mana?
a. Tidak
b. Ya, dari program di televisi
c. Ya, dari kursus
d. Ya, dari bacaan sendiri
e. Ya, lain-lain sebutkan……………
Manajemen Kesehatan
1. Apakah ternak pernah divaksinasi?
a. Ya, sebutkan jenis, tujuan & rutenya………………
b. Tidak
2. Jika iya, apakah peternak memiliki dokumen riwayat vaksinasi ternak?
a. Tidak ada
b. Ada, sebutkan……………..
3. Apakah ada penggunaan antibiotik?
a. Tidak ada
b. Ada, sebutkan jenis, tujuan & rutenya………………
4. Apakah ada pemberian vitamin?
c. Tidak ada
d. Ada, sebutkan jenis, tujuan & rutenya………………
5. Apakah memiliki jadwal pelaporan rutin kepada petugas kesehatan hewan?
a. Tidak ada
b. Setiap minggu
c. Setiap 1 bulan
d. Setiap 6 bulan
6. Bagaimanakah cara mengetahui ternak sakit saluran respirasi atas?
a. Tidak tahu
b. Bersin dan batuk
c. Melihat dari eksudat keluar dari hidung ternak
d. Lainnya, sebutkan ………………
7. Siapa yang melakukan pemeriksaan kesehatan pada ternak?
a. Dokter hewan
b. Paramedis
c. Petugas kandang
d. Tidak ada
e. Lain-lain. Sebutkan…………..
Manajemen Sanitasi & Biosekuriti
1. Kapankah dilakukan sanitasi berkala pada kandang?
a. Setiap hari
b. Setiap 3 hari
c. Setiap 7 hari
d. Tergantung kapan terlihat sangat kotor saja
2. Apakah dilakukan fumigasi setelah semua ayam dipanen?
a. Ya b. Tidak
3. Bagaimana cara pembuangan hasil sanitasi kandang?
a. Ditumpuk di sekitar kandang, beberapa hari kemudian dibuang ke luar
b. Ditumpuk di sekitar kandang, kemudian dibakar bersama sampah
c. Dibuang ke selokan atau sungai terdekat
d. Dibuang ke area pertanian
e. Lainnya, sebutkan …………………
4. Apakah terdapat banyak lalat di sekitar kandang?
a. Ya b. Tidak
5. Apakah lokasi kandang terhindar dari burung liar, hewan pengerat, dan
hewan liar lainnya?
a. Ya b. Tidak
6. Apakah ada penerapan higiene personal pada operator atau pengunjung
seperti mandi, penyemprotan desinfektan, penyediaan pakaian seragam
sebelum dan setelah keluar kandang?
a. Ya b. Tidak
7. Apakah tempat pakan dan minum dibersihkan setiap hari?
a. Ya b. Tidak
8. Apakah penanganan setiap flock dilakukan oleh orang yang berbeda?
f. Ya b. Tidak
9. Berapa kali truk pakan masuk ke peternakan? Apakah ada sistem
disenfektan?
a. Ya b. Tidak
10. Apakah ada penangan khusus untuk ayam mati?
a. Ya , jelaskan……..
b. Tidak
Manajemen Pemeliharaan dan Pakan
1. Berapa jumlah flock dan jumlah ayam per flock? jelaskan …………
2. Berapa jumlah ayam berdasarkan jenis kelamin?
Jumlah ayam jantan = …… ekor
Jumlah ayam betina = ……. ekor
3. Dari manakah asal ayam yang diternakkan?
a. Dari Bogor, kabupaten ….
b. Luar Bogor, dari provinsi ….
4. Apakah ternak ayam yang dimiliki memiliki surat keterangan kesehatan
hewan?
a. Ya b. Tidak
5. Apakah ada hewan lain yang diternakkan selain ayam?
a. Ada, yaitu …………..
b. Tidak ada
6. Apakah hewan (no.5) tersebut memiliki surat keterangan kesehatan hewan?
a. Ya b. Tidak
7. Apakah perkandangan dilakukan terpisah antara ayam dan hewan lainnya
(no. 5) ?
a. Ya b. Tidak
8. Bagaimana sistem pemeliharaan hewan (no. 5)? jelaskan…………
9. Bagaimana sistem kandang ternak ayam?
a. Kandang closed house
b. Kandang open house
c. Lainnya, jelaskan …………
10. Apa bahan dasar bangunan kandang ternak ayam?
a. Semen
b. Kayu
c. Tanah
d. Lainnya, sebutkan ……
11. Berapa kali pemberian pakan ternak ayam?
a. Satu kali sehari
b. Dua kali sehari
c. Tidak terhingga
12. Apa sumber pakan ternak ayam?
a. Kosentrat, yaitu …..
b. Ransum, yaitu …..
c. Gabungan berbagai ransum dan konsentrat
d. Lainnya, yaitu …….
13. Bagaimana cara & di mana penyimpanan pakan?jelaskan………..
14. Berapa lama pakan disimpan hingga diberikan ke ternak ayam?
jelaskan………..
15. Berapa kali pemberian pakan dalam sehari?
a. 1 kali sehari
b. 2 kali sehari
c. Lainnya, yaitu …….
16. 1 chicken feeder untul berapa ekor ayam?
a. 20-25 ekor
b. 30-50 ekor
c. 36-65 ekor
d. 50-75 ekor
17. Apakah jenis air minum yang digunakan dan apakah air minum tersedia
adlibitum? jelaskan………..
Catatan Penting
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………… ………………………………..….

……, …. November 2018


Responden Enumerator

(………………………) (………………………)
Lampiran 2

Tabel 1. Rincian anggaran dana kegiatan survey penyakit CRD pada ayam broiler di Kabupaten
Bogor pada tahun pertama
Tabel 2 Rincian anggaran dana kegiatan survey penyakit CRD pada ayam broiler di Kabupaten
Bogor pada tahun kedua

Harga
Kebutuhan Jumlah Satuan Frekuensi Total (Rp)
(Rp)
Tim Pelaksana
Ketua Pelaksana 500,000 1 Orang 40 hari 12,000,000
Kesekretariatan 200,000 1 Orang 40 hari 6,000,000
Bendahara 200,000 1 Orang 40 hari 6,000,000
Supervisor 400,000 8 Orang 40 hari 128,000,000
Dokter hewan 500,000 8 Orang 40 hari 160,000,000
Paramedis 200,000 16 Orang 40 hari 128,000,000
Tenaga enumerator
200,000 6 Orang 40 hari 24,000,000
dan pengolah data
Pegawai logistik
100,000 8 Orang 40 hari 16,000,000
dan transportasi
Subtotal 468,000,000
Operasional
Bensin 8 mobil 12,000 60 Liter 40 hari 28,800,000
Bensin 8 sepeda
12,000 30 Liter 40 hari 14,400,000
motor
Konsumsi 25,000 50 Paket 40 hari 40,000,000
Subtotal 83,200,000
Logistik
Uji ELISA 150,000 500 Sampel 75,000,000
Uji Rapid 20,000 500 Sampel 10,000,000
Syringe 3 ml 65,000 23 Kotak 1,170,000
Needle 21G 20,000 23 Kotak 360,000
Alkohol 70% 1 L 14,500 8 Botol 116,000
Kapas gulung 21,000 8 Gulung 168,000
Microtube EDTA 165000 40 Kotak 6,600,000
Kertas label 5,000 8 Bungkus 40,000
Cooling box 6 L 120,000 10 Buah 1,200,000
Ice pack 26,000 40 Buah 1,040,000
Sarung tangan 50,000 32 Kotak 1,600,000
Baju kandang 200,000 500 Potong 100,000,000
Sepatu kandang 75,000 50 Pasang 3,750,000
Flash disk 16 GB 100,000 4 Buah 400,000
Kertas HVS 70 g 100,000 20 Rim 800,000
Printer 1,000,000 3 Buah 3,000,000
Tinta printer 100,000 2 Paket 200,000
Subtotal 205,444,000
Pengeluaran Lain-lain
Biaya Pelatihan 15,000,000
Biaya tak terduga 30,000,000
subtotal 45,000,000
TOTAL BIAYA 801,644,000
Harga
Kebutuhan Jumlah Satuan Frekuensi Total (Rp)
(Rp)
Tim Pelaksana
Ketua Pelaksana 500,000 1 Orang 40 hari 12,000,000
Kesekretariatan 200,000 1 Orang 40 hari 6,000,000
Bendahara 200,000 1 Orang 40 hari 6,000,000
Supervisor 400,000 8 Orang 40 hari 128,000,000
Dokter hewan 500,000 8 Orang 40 hari 160,000,000
Paramedis 200,000 16 Orang 40 hari 128,000,000
Tenaga
enumerator dan 200,000 6 Orang 40 hari 24,000,000
pengolah data
Pegawai logistik
100,000 8 Orang 40 hari 16,000,000
dan transportasi
Subtotal 468,000,000
Operasional
Bensin 8 mobil 12,000 60 Liter 40 hari 28,800,000
Bensin 8 sepeda
12,000 30 Liter 40 hari 14,400,000
motor
Konsumsi 25,000 50 Paket 40 hari 40,000,000
Subtotal 83,200,000
Logistik
Uji ELISA 150,000 500 Sampel 75,000,000
Uji Rapid 20,000 500 Sampel 10,000,000
Syringe 3 ml 65,000 23 Kotak 1,170,000
Needle 21G 20,000 23 Kotak 360,000
Alkohol 70% 1 L 14,500 8 Botol 116,000
Kapas gulung 21,000 8 Gulung 168,000
Microtube EDTA 165000 40 Kotak 6,600,000
Kertas label 5,000 8 Bungkus 40,000
Cooling box 6 L 120,000 10 Buah 1,200,000
Ice pack 26,000 40 Buah 1,040,000
Sarung tangan 50,000 32 Kotak 1,600,000
Baju kandang 200,000 500 Potong 100,000,000
Sepatu kandang 75,000 50 Pasang 3,750,000
Flash disk 16 GB 100,000 4 Buah 400,000
Kertas HVS 70 g 100,000 20 Rim 800,000
Printer 1,000,000 3 Buah 3,000,000
Tinta printer 100,000 2 Paket 200,000
Subtotal 205,444,000
Pengeluaran Lain-lain
Biaya Pelatihan 14,500,000
Biaya tak terduga 30,000,000
subtotal 44,500,000
TOTAL BIAYA 801,144,000

Tabel 3 Rincian anggaran dana kegiatan survey penyakit CRD pada ayam broiler di Kabupaten
Bogor pada tahun ketiga
Kebutuhan Harga (Rp) Jumlah Satuan Frekuensi Total (Rp)
Tim Pelaksana
Ketua Pelaksana 500,000 1 Orang 40 hari 12,000,000
Kesekretariatan 200,000 1 Orang 40 hari 6,000,000
Bendahara 200,000 1 Orang 40 hari 6,000,000
Supervisor 400,000 8 Orang 40 hari 128,000,000
Dokter hewan 500,000 8 Orang 40 hari 160,000,000
Paramedis 200,000 16 Orang 40 hari 128,000,000
Tenaga
enumerator dan 200,000 6 Orang 40 hari 24,000,000
pengolah data
Pegawai logistik
100,000 8 Orang 40 hari 16,000,000
dan transportasi
Subtotal 468,000,000
Operasional
Bensin 8 mobil 12,000 60 Liter 40 hari 28,800,000
Bensin 8 sepeda
12,000 30 Liter 40 hari 14,400,000
motor
Konsumsi 25,000 50 Paket 40 hari 40,000,000
Subtotal 83,200,000
Logistik
Uji ELISA 150,000 500 Sampel 75,000,000
Uji Rapid 20,000 500 Sampel 10,000,000
Syringe 3 ml 65,000 23 Kotak 1,170,000
Needle 21G 20,000 23 Kotak 360,000
Alkohol 70% 1 L 14,500 8 Botol 116,000
Kapas gulung 21,000 8 Gulung 168,000
Microtube EDTA 165000 40 Kotak 6,600,000
Kertas label 5,000 8 Bungkus 40,000
Cooling box 6 L 120,000 10 Buah 1,200,000
Ice pack 26,000 40 Buah 1,040,000
Sarung tangan 50,000 32 Kotak 1,600,000
Baju kandang 200,000 500 Potong 100,000,000
Sepatu kandang 75,000 50 Pasang 3,750,000
Flash disk 16 GB 100,000 4 Buah 400,000
Kertas HVS 70 g 100,000 20 Rim 800,000
Printer 1,000,000 3 Buah 3,000,000
Tinta printer 100,000 2 Paket 200,000
Subtotal 205,444,000
Pengeluaran Lain-lain
Biaya Pelatihan 13,000,000
Biaya tak terduga 28,000,000
subtotal 41,000,000
TOTAL BIAYA 797,644,000

Tabel 4 Rincian anggaran dana kegiatan survey penyakit CRD pada ayam broiler di Kabupaten
Bogor pada tahun keempat
Kebutuhan Harga (Rp) Jumlah Satuan Frekuensi Total (Rp)
Tim Pelaksana
Ketua Pelaksana 500,000 1 Orang 40 hari 12,000,000
Kesekretariatan 200,000 1 Orang 40 hari 6,000,000
Bendahara 200,000 1 Orang 40 hari 6,000,000
Supervisor 400,000 8 Orang 40 hari 128,000,000
Dokter hewan 500,000 8 Orang 40 hari 160,000,000
Paramedis 200,000 16 Orang 40 hari 128,000,000
Tenaga enumerator
200,000 6 Orang 40 hari 24,000,000
dan pengolah data

Pegawai logistik
100,000 8 Orang 40 hari 16,000,000
dan transportasi
Subtotal 468,000,000
Operasional
Bensin 8 mobil 12,000 60 Liter 40 hari 28,800,000
Bensin 8 sepeda
12,000 30 Liter 40 hari 14,400,000
motor
Konsumsi 25,000 50 Paket 40 hari 40,000,000
Subtotal 83,200,000
Logistik
Uji ELISA 150,000 500 Sampel 75,000,000
Uji Rapid 20,000 500 Sampel 10,000,000
Syringe 3 ml 65,000 23 Kotak 1,170,000
Needle 21G 20,000 23 Kotak 360,000
Alkohol 70% 1 L 14,500 8 Botol 116,000
Kapas gulung 21,000 8 Gulung 168,000
Microtube EDTA 165000 40 Kotak 6,600,000
Kertas label 5,000 8 Bungkus 40,000
Cooling box 6 L 120,000 10 Buah 1,200,000
Ice pack 26,000 40 Buah 1,040,000
Sarung tangan 50,000 32 Kotak 1,600,000
Baju kandang 200,000 500 Potong 100,000,000
Sepatu kandang 75,000 50 Pasang 3,750,000
Flash disk 16 GB 100,000 4 Buah 400,000
Kertas HVS 70 g 100,000 20 Rim 800,000
Printer 1,000,000 3 Buah 3,000,000
Tinta printer 100,000 2 Paket 200,000
Subtotal 205,444,000
Pengeluaran Lain-lain
Biaya Pelatihan 13,500,000
Biaya tak terduga 32,000,000
subtotal 45,500,000
TOTAL BIAYA 802,144,000

Tabel 5 Rincian anggaran dana kegiatan survey penyakit CRD pada ayam broiler di Kabupaten
Bogor pada tahun kelima
Kebutuhan Harga (Rp) Jumlah Satuan Frekuensi Total (Rp)
Tim Pelaksana
Ketua Pelaksana 500,000 1 Orang 40 hari 12,000,000
Kesekretariatan 200,000 1 Orang 40 hari 6,000,000
Bendahara 200,000 1 Orang 40 hari 6,000,000
Supervisor 400,000 8 Orang 40 hari 128,000,000
Dokter hewan 500,000 8 Orang 40 hari 160,000,000
Paramedis 200,000 16 Orang 40 hari 128,000,000
Tenaga enumerator
200,000 6 Orang 40 hari 24,000,000
dan pengolah data
Pegawai logistik
100,000 8 Orang 40 hari 16,000,000
dan transportasi
Subtotal 468,000,000
Operasional
Bensin 8 mobil 12,000 60 Liter 40 hari 28,800,000
Bensin 8 sepeda
12,000 30 Liter 40 hari 14,400,000
motor
Konsumsi 25,000 50 Paket 40 hari 40,000,000
Subtotal 83,200,000
Logistik
Uji ELISA 150,000 500 Sampel 75,000,000
Uji Rapid 20,000 500 Sampel 10,000,000
Syringe 3 ml 65,000 23 Kotak 1,170,000
Needle 21G 20,000 23 Kotak 360,000
Alkohol 70% 1 L 14,500 8 Botol 116,000
Kapas gulung 21,000 8 Gulung 168,000
Microtube EDTA 165000 40 Kotak 6,600,000
Kertas label 5,000 8 Bungkus 40,000
Cooling box 6 L 120,000 10 Buah 1,200,000
Ice pack 26,000 40 Buah 1,040,000
Sarung tangan 50,000 32 Kotak 1,600,000
Baju kandang 200,000 500 Potong 100,000,000
Sepatu kandang 75,000 50 Pasang 3,750,000
Flash disk 16 GB 100,000 4 Buah 400,000
Kertas HVS 70 g 100,000 20 Rim 800,000
Printer 1,000,000 3 Buah 3,000,000
Tinta printer 100,000 2 Paket 200,000
Subtotal 205,444,000
Pengeluaran Lain-lain
Biaya Pelatihan 14,500,000
Biaya tak terduga 31,000,000
subtotal 45,500,000
TOTAL BIAYA 802,144,000

Lampiran 3
Tabel 1 Rincian anggaran dana kegiatan pengendalian penyakit CRD pada ayam broiler di
Kabupaten Bogor pada tahun pertama

Frekuensi Harga/unit
Keterangan Jumlah Total (Rp)
(hari) (Rp)
Personil
Ketua Pelaksana 1 20 350,000 7,000,000
Kesekretariatan 1 20 260,000 5,200,000
Bendahara 1 20 260,000 5,200,000
Supervisor 8 20 300,000 48,000,000
Dokter hewan 8 20 400,000 64,000,000
Paramedic 16 20 250,000 80,000,000
Tenaga penyuluh 8 20 250,000 40,000,000
Pegawai logistik dan
8 20 150,000 24,000,000
transportasi
Subtotal 273,400,000
Operasional
Bahan bakar mobil 500 20 12,000 120,000,000
Bahan bakar motor 200 20 9,500 38,000,000
Biaya gedung
4 4 3,000,000 48,000,000
penyuluhan
Konsumsi 51 20 20,000 20,400,000
Subtotal 226,400,000
Logistik

Vaksin CRD 50000 2500000 ekor 30000 1500000000

Desinfektan 100 30,000 3,000,000


Label 10 5,000 50,000
Sarung tangan 30 50,000 1,500,000
Kertas HVS 20 40,000 800,000
Tinta printer 10 100,000 1,000,000
Subtotal 1,506,350,000
Pengeluaran lain-lain
Biaya pelatihan 4 2 15,000,000 120,000,000

Biaya tak terduga 66,652,000 66,652,000

Subtotal 186,652,000
Total biaya 2,192,802,000

Tabel 2 Rincian anggaran dana kegiatan pengendalian penyakit CRD pada ayam broiler di
Kabupaten Bogor pada tahun kedua
Frekuensi Harga/unit
Keterangan Jumlah Total (Rp)
(hari) (Rp)
Personil

Ketua Pelaksana 1 20 350,000 7,000,000


Kesekretariatan 1 20 260,000 5,200,000
Bendahara 1 20 260,000 5,200,000
Supervisor 8 20 300,000 48,000,000
Dokter hewan 8 20 400,000 64,000,000
Paramedic 16 20 250,000 80,000,000
Tenaga penyuluh 8 20 250,000 40,000,000
Pegawai logistik
8 20 150,000 24,000,000
dan transportasi
Subtotal 273,400,000
Operasional
Bahan bakar mobil 500 20 12,000 120,000,000
Bahan bakar motor 200 20 9,500 38,000,000
Biaya gedung
4 4 3,000,000 48,000,000
penyuluhan
Konsumsi 51 20 20,000 20,400,000
Subtotal 226,400,000
Logistik
2500000
Vaksin CRD 50000 30000 1500000000
ekor
Desinfektan 100 30,000 3,000,000
Label 10 5,000 50,000
Sarung tangan 30 50,000 1,500,000
Kertas HVS 20 40,000 800,000
Tinta printer 10 100,000 1,000,000
Subtotal 1,506,350,000
Pengeluaran lain-
lain
Biaya pelatihan 4 2 15,000,000 120,000,000

Biaya tak terduga 60,652,000 60,652,000

Subtotal 180,652,000
Total biaya 2,186,802,000

Tabel 3 Rincian anggaran dana kegiatan pengendalian penyakit CRD pada ayam broiler di
Kabupaten Bogor pada tahun ketiga
Frekuensi Harga/unit
Keterangan Jumlah Total (Rp)
(hari) (Rp)
Personil
Ketua Pelaksana 1 20 350,000 7,000,000
Kesekretariatan 1 20 260,000 5,200,000
Bendahara 1 20 260,000 5,200,000
Supervisor 8 20 300,000 48,000,000
Dokter hewan 8 20 400,000 64,000,000
Paramedic 16 20 250,000 80,000,000
Tenaga penyuluh 8 20 250,000 40,000,000
Pegawai logistik dan
8 20 150,000 24,000,000
transportasi
Subtotal 273,400,000
Operasional
Bahan bakar mobil 500 20 12,000 120,000,000
Bahan bakar motor 200 20 9,500 38,000,000
Biaya gedung
4 4 3,000,000 48,000,000
penyuluhan
Konsumsi 51 20 20,000 20,400,000
Subtotal 226,400,000
Logistik
2500000
Vaksin CRD 50000 30000 1500000000
ekor
Desinfektan 100 30,000 3,000,000
Label 10 5,000 50,000
Sarung tangan 30 50,000 1,500,000
Kertas HVS 20 40,000 800,000
Tinta printer 10 100,000 1,000,000
Subtotal 1,506,350,000
Pengeluaran lain-
lain
Biaya pelatihan 4 2 11,000,000 88,000,000

Biaya tak terduga 62,652,000

Subtotal 150,652,000
Total biaya 2,156,802,000

Tabel 9 Rincian anggaran dana kegiatan pengendalian penyakit CRD pada ayam broiler di
Kabupaten Bogor pada tahun keempat
Frekuensi Harga/unit
Keterangan Jumlah Total (Rp)
(hari) (Rp)
Personil
Ketua Pelaksana 1 20 350,000 7,000,000
Kesekretariatan 1 20 260,000 5,200,000
Bendahara 1 20 260,000 5,200,000
Supervisor 8 20 300,000 48,000,000
Dokter hewan 8 20 400,000 64,000,000
Paramedic 16 20 250,000 80,000,000
Tenaga penyuluh 8 20 250,000 40,000,000
Pegawai logistik dan
8 20 150,000 24,000,000
transportasi
Subtotal 273,400,000
Operasional
Bahan bakar mobil 500 20 12,000 120,000,000
Bahan bakar motor 200 20 9,500 38,000,000
Biaya gedung
4 4 3,000,000 48,000,000
penyuluhan
Konsumsi 51 20 20,000 20,400,000
Subtotal 226,400,000
Logistik
2500000
Vaksin CRD 50000 30000 1500000000
ekor
Desinfektan 100 30,000 3,000,000
Label 10 5,000 50,000
Sarung tangan 30 50,000 1,500,000
Kertas HVS 20 40,000 800,000
Tinta printer 10 100,000 1,000,000
Subtotal 1,506,350,000
Pengeluaran lain-
lain
Biaya pelatihan 4 2 13,500,000 108,000,000

Biaya tak terduga 65,652,000

Subtotal 173,652,000
Total biaya 2,179,802,000

Tabel 5 Rincian anggaran dana kegiatan pengendalian penyakit CRD pada ayam broiler di
Kabupaten Bogor pada tahun kelima
Frekuensi Harga/unit
Keterangan Jumlah Total (Rp)
(hari) (Rp)
Personil
Ketua Pelaksana 1 20 350,000 7,000,000
Kesekretariatan 1 20 260,000 5,200,000
Bendahara 1 20 260,000 5,200,000
Supervisor 8 20 300,000 48,000,000
Dokter hewan 8 20 400,000 64,000,000
Paramedic 16 20 250,000 80,000,000
Tenaga penyuluh 8 20 250,000 40,000,000
Pegawai logistik
8 20 150,000 24,000,000
dan transportasi
Subtotal 273,400,000
Operasional
Bahan bakar
500 20 12,000 120,000,000
mobil
Bahan bakar
200 20 9,500 38,000,000
motor
Biaya gedung
4 4 3,000,000 48,000,000
penyuluhan
Konsumsi 51 20 20,000 20,400,000
Subtotal 226,400,000
Logistik
2500000
Vaksin CRD 50000 30000 1500000000
ekor
Desinfektan 100 30,000 3,000,000
Label 10 5,000 50,000
Sarung tangan 30 50,000 1,500,000
Kertas HVS 20 40,000 800,000
Tinta printer 10 100,000 1,000,000
Subtotal 1,506,350,000
Pengeluaran
lain-lain
Biaya pelatihan 4 2 14,500,000 116,000,000

Biaya tak terduga 64,652,000

Subtotal 180,652,000
Total biaya 2,186,802,000