Anda di halaman 1dari 15

PEMASANGAN INFUS

(29 Juli 2019)

A. Tindakan

Tindakan yang dilakukan adalah pemasangan infus pada Tn. M dengan

diagnosa anemia hemolitik.

B. Justifikasi tindakan

Tindakan ini dilakukan untuk akses pemberian produk darah atau transfusi

darah pada pasien, serta akses masuknya obat kedalam tubuh pasien melalui IV.

C. Teori singkat tindakan

Pemasangan infus adalah tindakan yang dilakukan pada pasien dengan cara

memasukkan obat melalui pmbuluh darah vena dalam jumlah dan waktu tertentu

dengan menggunakan infus set. Tindakan ini merupakan tindakan live saving pada

pasien yang kehilangan cairan banyak, dehidrasi, dan syok sehingga keberhasilan

tindakan perlu diperhatikan (Mubarak, Indrawati, & Suasanto, 2015).

Indikasi Infus adalah mengganti cairan yang hilang akibat perdarahan,

dehidrasi karena panas atau akibat suatu penyakit, kehilangan panas akibat luka bakar

yang luas (Mubarak, Indrawati, & Susanto, 2015).

Kontra indikasi dari pemasangan infus adalah inflamasi (bengkak, nyeri,

demam) di lokasi pemasangan infus dan pemberian obat-obat yang berpotensi iritan

pada vena kecil (Jacob, Rekha, & Tarachnand, 2014)

Lokasi Pemasangan Infus :


Standar Prosedur Operasional (SPO) pemasangan infus (Subandono. J.,

Ariningrum. D, 2018).

Tujuan pemasangan infus:

1) Mengembalikan dan mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit

tubuh

2) Akses pemberian obat

3) Transfusi darah dan produk darah

4) Memberikan nutrisi parental dan suplemen nutrisi

Langkah-langkah pemasangan infus:

1) Mencuci tangan

2) Memberitahukan tindakan yang akan dilakukan dan melakukan validasi nama

pasien

3) Pasien diminta berbaring dengan posisi senyaman mungkin

4) Mengidentifikasi vena yang akan menjadi lokasi pemasangan infus

5) Memasang infus set pada kantung infus :

a. Buka tutup botol cairan infus

b. Tusukkan pipa saluaran udara, kemudian masukkan pipa saluran infus


c. Tutup jarum dibuka, cairan dialirkan keluar dengan membuka keran

selang sehingga tidak ada udara pada saluran infus, lalu dijepit dan

jarum ditutup kembali. Tabung tetesan diisi sampai ½ penuh

d. Gantungkan kantung infus beserta salurannya pada tiang infus

6) Gunakan sarung tangan

7) Lengan penderita bagian proksimal dibendung tourniquet

8) Lakukan desinfeksi vena dengan alkohol dari atas ke bawah dengan sekali

hapus

9) Buka abocath dan mengecek apakah ada kerusakan atau tidak

10) Menusukkan abocath pada vena yang dipilih dengan bevel jarum keatas.

11) Bila jarum berhasil masuk kedalam lumen vena, akan terlihat darah mengalir

keluar

12) Tarik jarum tajam dalam kateter vena kira-kira 1cm ke arah luar kira-kira 1cm

untuk membebaskan ujung kateter dari jarum agar jarum tidak melukai

dinding vena bagian dalam. Dorong kateter vena sejauh 0,5cm-1cm kedalam

untuk menstabilkannya.

13) Lepaskan ujung jari yang memfiksasi bagian proksimal vena. Dorong seluruh

bagian kateter vena yang berwarna putih ke dalam vena

14) Tourniquet dilepaskan

15) Pasang infusset dan hubungkan ujungnya dengan kantung infus

16) Penjepit selang infus dilonggarkan untuk melihat kelancaran tetesan

17) Bila tetesan lancar, pangkal jarum direkatkan pada kulit menggunakan plester

18) Tetesan diatur sesuai kebutuhan

19) Jarum dan tempat suntikan ditutup dengan plester

20) Bereskan alat-alat pada tempatnya.


D. Hasil Tindakan

Hasil dari tindakan ini yaitu terpasangnya infus NaCL 0.9% 20 TPM, dengan

tujuan untuk mencegah terjadinya ketidakseimbangan cairan dan elektrolit, pemberian

obat injeksi lewat iv, dan pemberian produk darah atau transfusi darah. Hal-hal yang

perlu diperhatikan saat melakukan pemasangan infus adalah pemilihan vena dan

ukuran abocath yang tepat sehingga tidak memberikan kesalahan dalam penusukan

yang dapat menganggu kenyamanan pasien dan risiko phlebitis. Selang infus tidak

boleh berisi udara dengan ujung jarum dalam keadaan steril dan posisi jarum

menghadap keatas saat penusukan dengan posisi jarum 15°-30°.

Tindakan yang dilakukan pada pasien dimulai dengan persiapan alat yang

digunakan dan juga persiapan pasien, setelah itu ke pasien. Menyambungkan infusset

dengan konekta dan cairan Nacl 0,9% lalu mengalirkan cairan tersebut agar infusset

tidak berisi udara, selanjutnya mengidentifikasi vena yang tepat. Setelah vena sudah

didapat, terlebih dahulu gunakan sarung tangan dan melakukan desinfeksi satu kali

hapus dengan alkohol swab lalu dekatkan IV kateter ke pasien dengan posisi jarum

menghadap keatas pada posisi 15°-30°, tusuk vena pasien dan bila terdapat darah

dalam IV kateter dan kondisi vena baik (tidak ada tanda-tanda bengkak dan nyeri

hebat), maka sambungkan infusset dengan IV kateter lalu alirkan cairannya.

Selanjutnya memberikan plester hypafix ke IV kateter agar tidak goyang atau

tercabut. Kemudian mengatur tetesan infus sesuai instruksi Dokter.

E. Analisa Tindakan

Pemasangan infus adalah tindakan invasif dan merupakan tindakan yang

selalu dilakukan di rumah sakit. Pemasangan infus di rumah sakit denga teori secara

umum sudah sesuai. Alat-alat yang digunakan lengkap, prosedur tindakan sesuai, dan

prinsip-prinsip safety diperhatikan dengan baik sehingga aman bagi pasien dan
petugas. Tindakan pemasangan infus tetap di perhatikan agar sesuai dengan standar

operasional prosedur sehingga dapat meminimalkan permasalahan yang di timbulkan

dari tindakan pemasangan infus tersebut seperti phlebitis (Priyanto, 2013).

F. Hambatan

Selama tindakan pemasangan infus tidak ada kendala baik peralatan yang

disediakan dan pasien sendiri. Namun perlu lebih fokus dalam pemilihan vena dan

ukuran IV kateter yang tepat sehingga tidak mengalami kegagalan dalam pemasangan

infus dan pasien merasa nyaman dalam menerima tindakan tersebut.

G. Kesimpulan dan saran

Pemasangan infus adalah tindakan untuk memenuhi kebutuhan cairan dan

elektrolit, akses masuk obat dan produk darah (transfusi darah). Pemasangan infus

pada Tn. M sudah sesuai denga teori baik peralatan, prosedur, dan prinsip-prinsipnya.

Diharapkan prosedur tersebut tetap dipertahankan dan perlu ditingkatkan. Perawat

perlu memperhatikan teknik sterilisasi sehingga dapat mengurangi tranmisi

mikroorganisme pada pasien dan perawat sendiri dan diharapkan risiko plebitis tidak

terjadi.
PEMASANGAN KATETER

(12 Agustus 2019)

A. Tindakan

Tindakan yang dilakukan adalah pemasangan kateter pada Ny.S.N dengan

diagnosa MBC metastase ke otak.

B. Justifikasi tindakan

Tindakan ini dilakukan karena terjadi rembesan pada kateter dan urine waktu

penggantian kateter setelah terpasang selama 10 hari .

C. Teori singkat tindakan

Pemasangan kateter adalah tindakan pengosongan kandung kemih dengan

menggunakan selang plastik dimasukkan melalui uretra dan masuk melalui kandung

kemih (Perry&Potter. 2009)

Indikasi pemasangan kateter (Perry&Potter, 2009) adalah :

1) Retensi urin

2) Pasien yang akan menjalani operasi

3) Memonitor saluran urin secara akurat

4) Pasien dengan kehilangan kandung kemih

5) Pasien dengan multiple trauma

6) Mengurangi iritasi urin pada luka atau ulkus

Kontra indikasi dari pemasangan kateter adalah pasien yang mampu berkemih

spontan dan pasien dengan cedera urethra atau ureter (Perry&Potter, 2009).

Standar Prosedur Operasional (SPO) pemasangan kateter :

Tujuan pemasangan infus:

Menggosongkan kandung kemih atau memasukkan cairan ke kandung kemih (irigasi

kandung kemih).
Prinsip pemasangan kateter adalah:

1) Perhatikan sterilisasi

2) Pastikan balon fiksasi sudah berada di dalam kandung kemih sebelum diisi air

3) Jangan memaksakan masuknya kateter jika ada tahanan saat memasukkannya,

karena dapat mentyebabkan trauma/kerusakan uretra.

Persiapan alat:

1) Sarung tangan steril

2) Jelly

3) Cairan antiseptik

4) Bola kapas

5) Forcep

6) Syringe yang berisi air untuk mengisi balon kateter

7) Kateter urin dengan ukuran yang sesuai

8) Alas kain

9) Sarung tangan, basin berisi air hangat, sabun, handuk

10) Urin bag, safety pin

11) Tempat specimen jika diperlukan

Langkah-langkah pemasangan kateter:

1) Mengucapkan salam terapeutik dan melakukan validasi

2) Melakukan kontrak waktu dengan pasien untuk pelaksanaan tindakan

3) Mencuci tangan

4) Mempersiapkan alat

5) Meletakkan alas tahan air di bawah bokong klien

6) Memposisikan klien :
 Wanita: posisi dorsal recumbent dengan lutut flexi dan kedua kaki

direntangkan

 Laki-laki: posisi supine dengan kaki abduksi

7) Menutup area pinggang kecuali area perianal dengan kain

8) Menggunakan sarung tangan, melakukan vulva atau perianal hygiene dengan

sublimat dan mengeringkannya.

9) Membuka set kateter urin ditempatkan di alas steril

10) Menggunakan sarung tangan steril untuk membuka bungkusan set kateter

steril. Mengecek apakah balon berkembang sempurna dengan memasukkan

cairan dan menarik semua cairan kembali ke dalam spuit.

11) Mengambil kateter dan berikan jelly di ujung kateter dengan tetap

mempertahankan teknik steril.

12) Memasukkan kateter ke dalam uretra sampai urin mengalir. Untuk klien laki-

laki posisikan penis tegak lurus 90° dengan tubuh saat memasukkan kateter.

Memasukkan kateter sepanjang 5-7,5cm untuk klien wanita dewasa, 22,5cm

untuk klien laki-laki dewasa, tidak mendorong, tidak mendorong bila

ditemukan tahanan.

13) Memindahkan tangan non dominan dari labia atau penis jika urin mengalir ke

selang kateter. Memegang selang kateter 2 cm dari muara meatus uretra agar

kateter tidak terdorong keluar.

14) Menghubungkan kateter dengan urin bag.

15) Masukkan kateter kurang lebih 5cm setelah urin keluar. Mengisi balon dengan

aqua steril 20-30cc (sesuai petunjuk pada kemasan kateter) kemudian tarik

kateter perlahan untuk memastikan balon kateter sudah terfiksasi dengan baik

di dalam kandung kemih.


16) Melepas sarung tangan, melakukan fiksasi luar kateter urin dengan plester

17) Merapikan klien dan mengatur posisi klien agar nyaman

18) Membersihkan dan merapikan alat

19) Mengevaluasi respon klien

20) Mencuci tangan

21) Mendokumentasikan tindakan dan respon klien.

D. Hasil Tindakan

Hasil dari tindakan ini yaitu terpasangnya kateter, dengan tujuan untuk

mengurangi iritasi urin pada luka atau ulkus. Hal-hal yang perlu diperhatikan saat

melakukan pemasangan kateter adalah teknik sterilisasi sehingga tidak terjadi

transmisi mikroorganisme, sebelum diisi air pastikan balon fiksasi sudah berada di

dalam kandung kemih. Saat memasukkan kateter jangan dipaksakan jika ada tahanan

karena dapat menyebabkan trauma atau kerusakan uretra.

Tindakan yang dilakukan pada pasien dimulai dengan persiapan alat yang

digunakan dan juga persiapan pasien, setelah itu ke pasien, kemudian mengatur posisi

dorsal recumbent, menutup dengan kain dari area pinggang sampai area perianal

pasien. Memakai sarung tangan bersih dan melakukan desinfeksi pada area vulva

dengan kasa betadine. Dimulai dari labia mayora dengan teknik satu kasa, setelah itu

labia minora dan terakhir bagian tengah dengan menggunakan masing-masing satu

kasa. Membuka set kateter dan ditempatkan pada tempat yang steril, tempatkan jelly

pada tempat yang steril. Setelah itu menggunakan sarung tangan steril membuka

bungkusan kateter kemudian sambungkan kateter dengan urin bag dan ujung kateter

diberikan jelly, dan memasukkan kateter ke uretra pasien sampai ke pangkal kateter.

setelah urin mengalir di selang kateter, kemudian mengisi balon dengan aqua steril 30

cc (disesuaikan dengan petunjuk pada kemasan kateter) kemudian menarik kateter


perlahan keluar untuk memastikan balon sudah terfiksasi dengan baik di dalam

kandung kemih. Melepas sarung tangan dan melakukan fiksasi di luar kateter dengan

hipafix, mengatur posisi pasien yang nyaman, membereskan alat-alat, mengevaluasi

respon klien kemudian mencuci tangan dan mendokumentasikan tindakan yang telah

dilakukan, jumlah dan warna urin yang keluar.

E. Analisa Tindakan

Pemasangan kateter di rumah sakit secara umum sudah sesuai dengan teori

alat-alat yang dibutuhkan lengkap, tapi beberapa hal yang perlu diperhatikan yaitu

prinsip safety bagi pasien dan petugas, dimana tidak melakukan cuci tangan sebelum

tindakan sehingga dapat menyebabkan transmisi mikroorgannisme,selain itu ada

beberapa prosedur yang tidak dilakukan diantaranya memasang alas tahan air atau

perlak di bawah bokong pasien sehingga saat selang kateter dimasukkan, urin pasien

terlebih dahulu keluar dan membasahi kain dan linen pasien, tidak dilakukan

pengecekan apakah balon berkembang sempurna dengan cara memasukkan cairan dan

menarik cairan kembali kedalam spuit, ini penting dilakukan agar kateter dapat

terfiksasi dengan baik dalam kandung kemih.

kejadian risiko saluran kemih dapat diturunkan dengan pembersihan daerah

perianal sebelum pemasangan kateter. Di rumah sakit pembersihan dilakukan dengan

Povidone Iodine 10%. Relatif risk reduction pada penelitian ini adalah 0,23 yang

berarti jika NaCl 0,9% digunakan sebagai agen pembersih area perianal sebelum

pemasangan kateter urin menetap, maka kejadian risiko ISK dapat diturunkan sebesar

23% dari sebelumnya. Hasil penelitian ini menunjukkan NaCl 0,9% lebih efektif

menurunkan risiko ISK dibandingkan Povidone Iodine 10% pada pembersihan area

perianal pada pasien yang akan dilakukan tindaka n kateterisasi. Hal ini terjadi karena
NaClmenyebabkan perubahan tekanan osmotik pada sel sehingga terjadi pengeluaran

air dari sel-sel bakteri ke bagian ekstraseluler yang dapat menyebabkan kematian sel.

F. Hambatan

Pada prosedur pemasangan kateter tidak ditemukan kendala yang berarti.

G. Kesimpulan dan saran

Pemasangan kateter yang dilakukan pada Ny. S.N di rumah sakit pada

umumnya sudah sesuai dengan teori, tetapi perlu diperhatikan prinsip safety pada

pasien dan petugas kesehatan, dan ada beberapa prosedur tidak dilakukan yaitu

memasang alas tahan air atau perlak dibawah bokong pasien dan sebelum

memasukkan kateter urin ke uretra sebaiknya mengecek apakah balon berkembang

sempurna dengan memasukkan cairan dan menarik cairan kembali ke dalam spuit,

sehingga untuk kedepannya diharapkan prosedur tersebut perlu dilakukan dan

ditingkatkan.
BED MAKING
(29 Juli 2019)

A. Tindakan

Tindakan yang dilakukan adalah bed making pada Ny. F dengan diagnosa

medis Thypoid.

B. Justifikasi terhadap tindakan

Tindakan ini dilakukan untuk mengganti alat tenun kotor dengan alat tenun

yang bersih pada tempat tidur klien sehingga dapat memberikan lingkungan yang

bersih, tenang, dan nyaman serta dapat menghilangkan hal-hal yang dapat mengiritasi

kulit.

C. Teori singkat tindakan

Bed making adalah tindakan yang dilakukan pada pasien dengan

menggantikan alat tenun kotor dengan alat tenun yang bersih, sehinngga dapat

memberikan lingkungan yang bersih, tenang, dan nyaman bagi pasien (Kozier, 2010).

SOP Bed making (Buku Panduan Praktik Profesi Keperawatan Dasar Universitas

Hasanuddin) :

Tujuan Bed making:

1. Untuk memberikan lingkungan yang besrsih, tenang, dan nyaman

2. Untuk menghilangkan hal yang dapat mengiritasi kulit dengan menciptakan alat

tidur dan selimut yang bebas dari kotoran atau lipatan

3. Untuk meningkatkan gambaran diri dan harga diri klien dengan menciptakan

tempat tidur yang bersih, rapi, dan nyaman

4. Untuk mengontrol penyebab mikroorganisme


D. Langkah-langkah Bed making

1. Mencuci tangan

2. Memberikan salam terapeutik dan memberitahu tindakan yang akan dilakukan

3. Menjaga privacy pasien dengan menutup tirai atau pintu kamar

4. Turunkan penghalang tempat tidur pada tempat perawat berdiri dan mengatur

posisi baring klien yang supine atau mendatar, bila perlu mengangkat bantal.

5. Miringkan klien ke arah yang berlawanan dengan posisi perawat

6. Lepaskan alat tenun yang terdapat di bawah kasur dari kepala ke kaki tempat

tidur. Melipat alat tenun tersebut ke arah klien, pertama-tama stik laken, laken

besar kemudian melipat sampai ke bawah bokong klien, punggung dan bahu

7. Letakkan alat tenun bersih ditengah kasur, arah memanjang:

 Membuka lipatan laken besar ke arah perawat berdiri hingga menutupi

separuh dari tempat tidur pada ujung kepala dan kaki tempat tidur ke

bawah kasur

 Laken besar di bawah perlak dan stik laken di bawah perlak

 Menarik alat tenun dengan tepat sehingga tidak terdapat lipatan/kerutan

pada bagian tengahnya

8. Lakukan hal yang sama pada laken di kaki tempat tidur

9. Buka lipatan perlak dan stik laken ke arah perawat berdiri kemudian melipat

bagian yang menjuntai ke lantai bawah kasur. Melakukan dengan rapi sehingga

tidak ada kerutan di atasnya.

10. Pasang kembali penghalang tempat tidur dan pindah ke sisi yang lain kemudian

menurunkan penghalang pada sisi tersebut.

11. Bantu klien bergeser ke sisi lain di mana alat tenun telah di pasang.
12. Lepaskan/mengangkat lipatan alat tenun kotor yang terdapat di bawah kasur

13. Pindahkan alat tenun kotor dengan menggulungnya dan permukaan yang kotor

ada di sebelah dalam. Masukkan laken kotor ke dalam tempat alat tenun kotor.

14. Buka lipatan alat tenun bersih di atas kasur dari kepala ke kaki.

15. Bantu klien ke posisi mendatar

16. Bentuk sudut laken pada bagian kepala dan kaki

17. Buka lipatan perlak dan stik laken

18. Pasang selimut pada dada klien. Memberitahu klien untuk memegang ujung

lipatan atas dan perawat memegang ujung lipatan yang lainnya bersamaan dengan

ujung-ujung selimut yang kotor, kemudian perawat menarik lipatan selimut lke

arah kaki tempat tidur ke bawah kasur.

19. Masukkan sisi selimut yang terdapat pada kaki tempat tidur ke bawah kasur.

20. Pasang kembali penghalang tempat tidur.

21. Ganti sarung bantal : dengan membuka sarung bantal kotor dan memasukkan ke

dalam bak/ tempat alat tenun kotor dan ganti dengan sarung bantal yang bersih.

22. Angkat kepala klien dan meletakkan bantal di bawahnya.

23. Kembalikan klien ke tempat tidur seperti semula kemudian membuka tirai/pintu.

24. Bersihkan dan merapikan alat pada tempat semula.

25. Cuci tangan

26. Mengevaluasi respon klien.

27. Mendokumentasikan tindakan dan respon klien.

E. Analisa tindakan

Tindakan bed making antara yang dilakukan di rumah sakit dengan teori

secara umum dengan teori secara umum telah sesuai. Alat tenun yang digunakan

untuk bed making lengkap, prosedur tindakan sudah sesuai, prinsip-prinsip bed
making juga diperhatikan dengan baik. Bed making merupakan tindakan yang hampir

setiap hari dilaksanakan untuk memberikan kenyamanan pada pasien. Terdapat

beberapa hal yang perlu diperhatikan adalah privasi klien, alat pelindung diri, dan

komunikasi yang dilakukan pada pasien. Dalam melakukan tindakan bed making

perawat diharapkan menggunakan alat pelindung diri seperti handscoen dan masker.

Perlu diperhatikan juga bahwa linen yang kotor ketika dilepas dari tempat tidur klien

harus dalam keadaan tergulung dengan bagian kotor berada pada bagian dalam

gulungan serta tidak mengibaskan linen yang kotor di daerah sekitar pasien.

Pembuangan linen kotor infeksius dan non infeksius sudah sesuai dengan tempat yang

di sediakan. Pada saat melakukan bed making kita juga bisa langsung menilai

kemampuan pasien saat melakukan proses tersebut.

F. Hambatan

Selama melakukan tindakan bed making tidak ada kendala yang dapat

menghambat proses tindakan tersebut. Hanya di butuhkan komunikasi yang baik

selama proses berlangsung.

G. Kesimpulan dan saran

Bed making adalah tindakan yang dilakukan untuk memberikan lingkungan

yang bersih, tenang dan nyaman bagi pasien sehingga dapat mencegah iritasi pada

kulit dan meningkatkan harga diri pasien. Tindakan bed making yang dilakukan pada

Ny. P sesuai dengan teori yang ada baik tersedianya peralatan tenun yang dibutuhkan,

prosedur dan prinsip-prinsip, dan komunikasi dalam melakukan bed making.