Anda di halaman 1dari 16

BAB I

PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang
Budaya Islam adalah istilah yang banyak digunakan dalam akademi sekuler untuk
mendeskripsikan praktik budaya orang Islam. Karena agama Islam muncul pada abad ke-
6 di Arab, bentuk awal budaya Muslim kebanyakan merupakan budaya Arab. Dengan
berkembangnya kerajaan-kerajaan Islam, Muslim saling berhubungan dan berasimilasi
dengan budaya Persia, Turki, Mongol, India, Melayu, Berber dan Indonesia
Pada umumnya Islam, peradaban Islam di dunia telah memberikan pengaruh besar
bagi perkembangan suatu negara, begitupun Indonesia yang mayoritas penduduknya
beragama Islam. Sejak zaman pra sejarah penduduk kepulauan Indonesia di kenal sebagai
pelayar-pelayar yang sanggup mengarungi lautan lepas. Sejak awal abad masehi sudah ada
rute-rute pelayaran dan perdagangan antara kepulauan Indonesia dengan berbagai daerah di
Asia Tenggara. Pelabuhan penting di Sumatera dan Jawa antara abad ke-1 – ke-7 M sering di
singgahi pedagang Asing. Pedagang-pedagang muslim dari Arab, Persia dan India juga ada
sampai ke kepulauan Indonesia untuk berdagang pada abad ke-7 ketika Islam pertama kali
berkembang di Timur Tengah.
Malaka merupakan pusat lalu - lintas perdagangan dan pelayaran karena hasil hutang
dan rempah-rempah dari seluruh pelosok nusantara di bawah di Cina dan India. Dari berita
Cina dapat diketahui bahwa pada masa dinasti tang orang-orang sudah ada di kantong dan
Sumatra. Perkembangan pelayaran dan perdagangan antara Asia bagian barat dan timur
disebabkan oleh kerajaan Islam di bawah Bani Umayyah dan kerajaan Cina zaman di nasti
Tang.
Penduduk kepulauan Indonesia masuk Islam bermula dari penduduk pribumi di koloni
pedagang muslim itu. Menjelang abad ke-13, masyarakat muslim sudah ada di samudra
Pasai, Perlak, Palembang di Sumatra. Di Jawa makan Fatimah binti Maimun di Leran Gresik
475 H, sampai berdirinya kerajaan-kerajaan Islam.
Berdasarkan latar belakang diatas, kelompok ingin memebahas dan mengetahui lebih
jelas tentang bagaimana kebudayaan Islam di Indonesia itu sendiri.

1
1.2.Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan kebudayaan Islam ?
2. Bagaimana sejarah masuknya kebudayaan Islam di Indonesia ?
3. Nilai-nilai dan akulturasi Islam terhadap kebudayaan Indonesia ?
4. Apa saja peninggalan kebudayaan Islam di Indonesia ?
5. Pengaruh Islam terhadap kebudayaan Nusantara ?

1.3.Tujuan
1. Mengetahui apa yang dimaksud dengan kebudayaan Islam
2. Memahami bagaimana sejarah masuknya kebudayaan Islam di Indonesia
3. Mengetahui nilai-nilai dan akulturasi Islam terhadap kebudayaan Indonesia
4. Mengetahui apa saja peninggalan kebudayaan Islam di Indonesia
5. Mengetahui pengaruh Islam terhadap kebudayaan Nusantara

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Kebudayaan Islam
Kebudayaan Islam adalah penjelmaan iman dan al-a’malussalihat dari seorang
muslim atau segolongan kaum muslimin atau kebudayaan Islam ialah manifestasi keimanan
dan kebaktian dari penganut Islam sejati. Sedangkan menurut sarjana dan pengarang Islam,
Sidi Gazalba mendinisikan kebudayaan Islam ialah cara berpikir dan cara merasa Islam yang
menyatakan diri dalam seluruh segi kehidupan dari segolongan manusia yang membentuk
kesatuan sosial dalam suatu ruang dan suatu waktu.
Dasar dari kebudayaan Islam adalah kitab Allah (Al-qur’an) dan Sunnah Rasul-Nya.
Apabila ada segala hasil, corak dan ragam kebudayaan yang bertentangan dengan ajaran
agama Allah dan ajaran Rasul-Nya, bukanlah kebudayaan Islam namanya, sekalipun yang
menciptakannya mereka-mereka yang menamakan dirinya orang Islam.
Kebudayaan Islam di defenisikan dikelompokkan kedalam enam kelompok sesuai
dengan tinjauan dan sudut pandang masing-masing membuat defenisi. Kelompok pertama
menggunakan pendekatan deskriptif dengan menekankan pada sejumlah isi yang terkandung
didalamnya seperti definisi yang dipakai oleh tailor bahwa kebudayaan itu adalah
keseluruhan yang amat kompleks meliputi ilmu pengetahuaan, kepercayaan, seni, hukum,
moral, adat istiadat dan berbagai kemampuan serta kebiasaan yang diterima manusia sebagai
anggota masyarakat
Kelompok kedua menggunakan pendekatan historis dengan menekankan pada
warisan sosial dan tradisi kebudayaan seperti definisi yang dipakai oleh Park dan Burgess
yang menyatakan bahwa kebudayaan suatu masyarakat adalah sejumlah totalitas dan
organisasi dan warisan sosial yang diterima sebagai sesuatu yang bermakna yang dipengaruhi
oleh watak dan sejarah hidup suatu bangsa. Dari berbagai tujuan dan sudut pandangan
tentang definisi kebudayaan, menunjukkan bahwa kebudayaan itu merupakan sesuatu
persoalan yang sangat luas.
Al-quran memandang kebudayaan itu merupakan suatu proses, dan meletakkan
kebudayaan sebagai eksistensi hidup manusia.Kebudayaan merupakan suatu totalitas
kegiatan manusia yang meliputi kegiatan akal hati dan tubuh yang menyatu dalam suatu
perbuatan. Jadi secara umum kebudayaan islam adalah hasil akal, budi, cipta rasa, karsa, dan
karya manusia yang berlandaskan pada nilai-nilai tauhid. Islam sangat menghargai akal
manusia untuk berkiprah dan berkembang.

3
Kebudayaan ialah gabungan antara tenaga fikiran dengan tenaga fikiran dengan
tenaga lahir manusia ataupun hasil daripada gabungan tenaga batin dan tenaga lahir manusia.
Apa yang difikirkannya itu dilahirkan dalam bentuk sikap, maka hasil daripada gabungan
inilah yang dikatakan kebudayaan. Jadi kalau begitu, seluruh kemajuan baik yang lahir
ataupun yang batin walau dibidang apapun dianggap kebudayaan.Sebab hasil daripada daya
pemikiran dan daya usaha tenaga lahir manusia akan tercetuslah soal-soal politik, pendidikan,
ekonomi,seni, pembangunan dan kemajuan-kemajuan lainnya.
Agama Islam adalah wahyu dari Allah SWT yang disampaikan kepada Rasulullah
SAW yang mengandung peraturan-peraturan untuk jadi panduan hidup manusia agar selamat
dunia dan akhirat.Agama islam bukanlah kebudayaan,sebab ia bukan hasil daripada tenaga
fikiran dan tenaga lahir manusia.Tetapi islam mendorong berkebudayaan dalam berfikir,
berekonomi, berpolitik, bergaul, bermasyarakat, berpendidikan, menyusun rumah tangga dan
lain lain.jadi, sekali lagi dikatakan, agama islam itu bukan kebudayaan, tapi mendorong
manusia berkebudayaan.
Kehidupan insani yang begitu luhur dan cemerlang itu belum ada dalam kehidupan
manusia lain yang pernah mencapainya, keluhuran yang sudah meliputi segala segi
kehidupan apalagi yang kita lihat suatu kehidupan manusia yang sudah bersatu dengan
kehidupan alam semesta sejak dunia ini berkembang sampai akhir zaman, berhubungan
dengan pencipta alam dengan segala karunia dan pengamppunannya. Kalau tidak karena
adanya kesunggguhan dan kejujuran Muhammad menyampaikan risalah Tuhan, niscaya
kehidupan yang kita lihat ini lambat laun akan menghilangkan apa yang telah diajarkannya
itu.
Pada masa awal perkembangan islam, sistem pendidikan dan pemikiran yang
sistematis belum terselenggara karena ajaran islam tidak diturunkan sekaligus. Namun
demikian isyarat al quran sudah cukup jelas meletakkan pondasi yang kokoh terhadap
pengembangan ilmu dan pemikiran.
Dalam menggunakan teori yang dikembangkan oleh Harun nasution, dilihat dari segi
perkembangannya, sejarah intelektual islam dapat dikelompokkan kedalam kedalam tiga
masa yaitu masa klasik antara tahun 650-1250M. Masa pertengahan, tahun 1250-1800M dan
masa modern yaitu sejak tahun 1800 sampai sekarang.

4
2.2. Sejarah Masuknya Islam di Indonesia
Negara Indonesia mengikhtisarkan asal kedatangan Islam menjadi tiga teori besar.
Pertama, teori Gujarat, India. Islam dipercayai datang dari wilayah Gujarat – India melalui
peran para pedagang india muslim pada sekitar abad ke-13 M. kedua, teori makkah. Islam
dipercaya tiba di Indonesia langsung dari timur tengah melalui jasa para pedagang arab
muslim sekitar abad ke-7 M.ketiga, teori Persia.
Islam tiba di Indonesia melalui peran para pedagang asal Persia yang dalam
perjalanannya singgah ke Gujarat sebelum ke nusantara sekitar abad ke-13 M.melalui
kesultanan tidore yang juga menguasai tanah papua, sejak abad ke-17, jangkauan terjauh
penyebaran Islam sudah mencapai semenanjung onin di kabupaten fakfak, papua barat,
Hamka berpendapat bahwa pada tahun 625 M sebuah naskah tiongkok mengkabarkan bahwa
menemukan kelompok bangsa arab yang telah bermukim di pantai barat Sumatra.
Islam telah dikenal di Indonesia pada abad pertama hijriah atau 7 masehi, meskipun
dalamfrekuensi tidak terlalu besar hanya melalui perdagangan dengan para pedagang muslim
yang berlayar ke Indonesia untuk singgah untuk beberapa waktu.

Islam masuk ke indonesia melalui beberapa saluran antara lain sebagai berikut
1. Saluran Perdagangan
Pada taraf permulaan, saluran Islamisasi adalah perdagangan. Kesibukan lalu
lintas perdagangan pada abad ke-7 hingga ke-16 M membuat pedagangan-pedangan
muslim (Arab, Persia dan India) turut ambil bagian dalam perdangan dari negeri-
negeri bagian barat, tenggara dan timur benua asia. Saluran Islamisasi melalui
perdagangan ini sangat menguntungkan karena para raja dan bangsawan turut serta
dalam kegiatan perdagangan, bahkan mereka menjadi pemilik kapal dan saham.
2. Saluran Perkawinan
Dari sudut ekonomi, para pedagang muslim memiliki status sosial yang lebih
baik dari pada kebanyakan pribumi, sehingga penduduk pribumu terutama putri-putri
bangsawan, tertarik untuk menjadi istri saodagar-saodagar itu. Sebelum kawin,
mereka di Islamkan lebih dahulu. Setelah mereka mempunyai keturunan, lingkungan
mereka makin luas. Akhirnya, timbul kampung-kampung, daerah-daerah, dan
kerajaan-kerajaan muslim. Dalam perkembangan berikutnya, adapula wanita muslim
yang dikawini oleh keturunan bangsawan, tentu saja setelah yang terakhir ini masuk
Islam terlebih dahulu.

5
3. Saluran Tasawuf
Pengajar-pengajar Tasawuf atau para sufi, mengajarkan teosofi yang
bercampur dengan ajaran yang sudah di kenal luas oleh masyarakat Indonesia.
Diantara ahli-ahli Tasawuf yang memberikan ajaran mengandung persamaan dengan
alam pikiran Indonesia pra-Islam itu adalah Hamzah Fansuruh di Aceh, Syaik Lemah
Abang, dan Sunan Panggung di Jawa. Ajaran mistik seperti ini berkembang di abad
ke-19 M bahkan di abad ke-20 M ini.
4. Saluran Pendidikan
Islamisasi juga dilakukan melalui pendidikan, baik pesantren maupun pondok
yang di selenggarakan oleh guru-guru agama, kiai-kiai, dan ulama-ulama. Di
pesantren atau pondok itu, calon ulama, guru agama dan kiai mendapat pendidikan
agama. Setelah keluar dari pesantren, mereka pulang ke kampung masing-masing
kemudian berdakwa ke tempat tertentu mengajarkan Islam. Misalnya, pesantren yang
didirikan oleh Raden Rahmat di Ampel Denta Surabaya dan Sunan Giri di Giri.
5. Saluran Kesenian
Saluran Islamisasi melalui kesenian yang paling terkenal adalah pertunjukan
wayang. Dikatakan, Sunan Kalijaga adalah tokoh yang paling mahir dalam
mementaskan wayang. Dia tidak pernah meminta upah pertunjukan, tetapi ia meminta
para penonton untuk mengikutinya mengucapkan kalimat syahadat. Sebagian besar
cerita wayang masih di petik dari cerita Mahabharata dan Ramayana, tetapi didalam
cerita itu disisipkan ajaran dan nama-nama pahlawan Islam. Kesenian-kesenian lain
juga dijadikan adalah Islamisasi, seperti sastra (hikayat, badad, dan sebagainya), seni
bangunan, dan seni ukir.
6. Saluran Politik
Di Maluku dan Sulawesi Selatan, kebanyakan rakyat masuk Islam setelah
rajanya memeluk Islam terlebih dahulu. Pengaruh politik raja sangat membantu
tersebarnya Islam di daerah ini. Kebangkitan Islam semakin berkembang membentuk
organisasi-organisasi sosial keagamaan.
Pengetahuan mereka akan kemiskinan, kebodohan, dan ketertindasan
masyarakat Indonesia, pada saatnya mendorong lahirnya organisasi sosial, seperti
Budi Utomo, Taman Siswa, Jong Java, Jong Sumatranen Bond, Jong Ambon, Jong
Selebes, dan lain sebagainya.

6
2.3. Nilai-Nilai Islam Dalam Budaya Indonesia
Di zaman modern, semangat dan pemahaman sebahagian generasi muda ummat islam
khususnya mahasiswa di Perguruan Tinggi mempelajari dan mengamalkan ajaran islam.
Mereka berpandangan bahwa islam yang benar adalah segala sesuatu yang ditampilkan oleh
nabi Muhammad SAW, secara utuh termasuk nilai-nilai budaya Arabnya. Kita tahu islam itu
dari beliau, dan yang mengingkari kerasulannya adalah kafir. Nabi Muhammad SAW, adalah
seorang rasul allah dan harus di ingat bahwa beliau adalah orang Arab.
Dalam kajian budaya sudah tentu apa yang ditampilkan dalam perilaku kehidupannya
terdapat nilai-nilai budaya lokal. Sedangkan nilai-nilai islam itu bersifat universal.
Dalam perkembangan dakwah islam di indonesia, para penyiar agama mendakwakan ajaran
islam melalui bahasa budaya, sebagaimana dilakukan oleh para wali di tanah jawa. Karena
kehebatan para Wali Allah dalam mengemas ajaran islam dengan bahasa budaya setempat,
sehingga masyarakat tidak sadar bahwa nilai-nilai islam telah masuk dan menjadi tradisi
dalam kehidupan sehari-hari mereka.

2.4. Wujud Akulturasi Kebudayaan Islam di Indonesia


Sebelum Islam masuk dan berkembang, Indonesia sudah memiliki corak kebudayaan
yang di pengaruhi oleh agama hindu dan budha. Dengan masuknya Islam, Indonesia kembali
mengalami proses akulturasi yang meluruskan kebudayaan baru yaitu kebudayaan Islam
Indonesia. Masuknya Islam tersebut tidak berarti kebudayaan hindu dan budha hilang.bentuk
budaya sebagai hasil dari proses akulturasi. Sedikit memberikan uraian berikut ini yaitu:
1. Seni Bangunan
Wujud akulturasi dalam seni bangunan dapat dilihat dari bangunan masjid, makam,
istana.
2. Seni Rupa
Tradisi Islam tidak menggambarkan bentuk manusia/ hewan. Seni ukui relief yang
menghias masjid, makam Islam berupasaluran tumbuh-tumbuhan namun terjadi pula
sinkretisme, agar dapat keserasian.
3. Aksara dan Seni Sastra
tersebarnya agama Islam ke Indonesia maka berpengaruh terhadap bidang aksara atau
tulisan, yaitu masyarakat mulai mengenal tulisan Arab, bahkan berkembang tulisan
arab melayu atau biasa dikenal dengan istilah arab gundul. Dengan demikian wujud
akulturasi dalam seni sastra tersebut terlihat dari tulisan atauaksara yang dipergunakan

7
yaitu menggunakan huruf arab melayu (arab gundul) dan isi ceritanya juga ada yang
mengambil hasil sastra yang berkembang pada jaman Hindu.

2.5. Peninggalan Kebudayaan Islam di Indonesia


Agama Islam muncul pada Abad ke-6 M kemudian masuk ke Indonesia pada abad ke-
7 M dan mulai berkembang pada abad ke-13 M. Perkembangan Islam di Indonesia hampir di
seluruh Kepulauan Indonesia. Bertolak dari kenyataan tersebut, Islam banyak menghasilkan
peninggalan sejarah yang bercorak Islam di Indonesia yang sangat beraneka
ragam.Peninggalan-peninggalan itu antara lain sebagai berikut:

1. Kaligrafi
Kaligrafi adalah salah satu karya kesenian Islam yang paling penting. Kaligrafi
Islam yang muncul di dunia Arab merupakan perkembangan seni menulis indah dalam
huruf Arab yang disebut khat. Seni kaligrafi yang bernafaskan Islam merupakan
rangkaian dari ayat-ayat suci Al-qur’an. Tulisan tersebut dirangkai sedemikian rupa
sehingga membentuk gambar, misalnya binatang, daun-daunan, bunga atau sulur, tokoh
wayang dan sebagainya. Contoh kaligrafi antara lain yaitu kaligrafi pada batu nisan,
kaligrafi bentuk wayang dari Cirebon dan kaligrafi bentuk hiasan.
2. Kraton
Kraton atau istana dan terkadang juga disebut puri, merupakan badari kota atau
pusat kota dalam pembangunan. Kraton berfungsi sebagai pusat pemerintahan dan
sebagai tempat tinggal raja beserta keluarganya. Pada zaman kekuasaan Islam, didirikan
cukup banyak kraton sesuai dengan perkembangan kerajaan Islam. Beberapa contoh
kraton yaitu kraton Cirebon (didirikan oleh Fatahillah atau Syarif Hidayatullah tahun
1636), Istana Raja Gowa (Sulawesi Selatan), Istana Kraton Surakarta, Kraton Yogyakarta,
dan Istana Mangkunegaran.
3. Batu nisan
Batu nisan berfungsi sebagai tanda kubur. Tanda kubur yang terbuat dari batu bentuknya
bermacam-macam. Pada bangunan batu nisan biasanya dihiasi ukir-ukiran dan kaligrafi.
Kebudayaan batu nisan diduga berasal dari Perancis dan Gujarat. Di Indonesia,
kebudayaan tersebut berakulturasi dengan kebudayaan setempat (India).
Beberapa batu nisan peninggalan sejarah di Indonesia antara lain sebagai berikut :

8
a. Batu Nisan Malik as-Saleh : Batu nisan ini dibangun di atas makam Sultan Malik as-
Saleh di Lhokseumawe, Aceh Utara. Sultan Malik as-Saleh adalah raja pertama dari
kerajaan Samudra Pasai.
b. Batu Nisan Ratu Nahrasiyah : Batu nisan ini dibangun di atas makam ratu Samudra
Pasai bernama Nahrasiyah. Ia meninggal pada tahun 1428. Nisan itu dihiasi kaligrafi
yang memuat kutipan Surat Yasin dan Ayat Kursi.
c. Batu Nisan Fatimah binti Maimun : Batu nisan ini dibuat sebagai tanda makam
seorang wanita Islam yang bernama Fatimah binti Maimun. Batu nisan ini terdapat di
Leran, Gresik, Jawa Timur.
d. Batu Nisan Sultan Hasanuddin : Batu nisan ini dibangun di atas makam raja Makasar.
Makam Sultan Hasanuddin berada dalam satu kompleks dengan pemakaman raja-raja
Gowa dan Tallo.Pada makam tersebut, dibuat cungkup berbentuk kijing. Cungkup itu
terbuat dari batu berbentuk prisma. Kemudian batu itu disusun berbentuk limas.
Bangunan limas terpasang dengan alas berbentuk kubus dan di dalamnya terdapat
ruangan. Pada ruangan inilah terdapat makam beserta batu nisan.

4. Bentuk Mesjid
Sejak masuk dan berkembangnya agama Islam di Indonesia banyak mesjid didirikan dan
termasuk mesjid kuno, di antaranya mesjid Demak, mesjid Kudus, mesjid Banten, mesjid
Cirebon, mesjid Ternate, mesjid Angke, dan sebagainya.
a. Mesjid Angke
Mesjid ini terletak di Jalan Tubagus Angke, Jakarta Barat yang dibangun pada
abad ke-18. Mesjid ini beratap tumpang dua. Mesjid Angke merupakan mesjid tua
yang masih terlihat kekunoannya. Mesjid ini memiliki gaya arsitektur dan hiasan yang
cantik, merupakan perpaduan antara gaya Jawa, Cina, Arab, dan Eropa. Mesjid ini
dibangun pada tahun 1761. Pengaruh agama Islam menimbulkan tempat ibadah yang
namanya bermacam-macam. Tempat ibadah ukuran kecil disebut langgar, yang
berukuran sedang disebut mesjid, dan yang ukuran besar disebut mesjid agung atau
mesjid Jami. Mesjid merupakan tempat peribadatan agama Islam (tempat orang
melakukan salat). Mesjid juga berperan sebagai tempat penggemblengan jiwa dan
pribadi-pribadi Islam yang hidup di tengah-tengah masyarakat.

9
b. Mesjid Demak
Mesjid Demak didirikan pada masa pemerintahan Raden Patah. Bangunan mesjid
terletak di Kadilangu, Demak. Mesjid ini beratap tumpang yang mirip dengan bentuk
pura Hindu. Mesjid Demak didirikan dengan bantuan para wali (walisongo).
Pembangunan mesjid dipimpin langsung oleh Sunan Kalijaga. Keunikan mesjid ini
terletak pada salah satu tiang utamanya, yakni terbuat dari bahan pecahan-pecahan
kayu yang disebut tatal (soko tatal).
c. Mesjid Kudus
Mesjid Kudus didirikan oleh Sunan Kudus. Bentuk bangunan masjid ini memiliki ciri
khusus. Bagian menaranya menyerupai candi Hindu.
d. Mesjid Banten
Mesjid Banten didirikan pada abad ke-16. Bangunannya memiliki atap tumpang
sebanyak lima tingkat. Kemungkinan model bangunan seperti ini untuk
menggambarkan derajat yang dapat diraih seseorang dalam Islam. Menara mesjid
Banten dibangun oleh arsitektur Belanda bernama Cardel. Itulah sebabnya, menara
tersebut bergaya Eropa menyerupai mercusuar.
e. Mesjid Cirebon
Mesjid Cirebon didirikan pada abad ke-16 M, ketika Kerajaan Cirebon berkuasa.
Bentuk atap mesjid Cirebon juga berupa atap tumpang, terdiri atas dua tingkat

5. Seni Pahat
Seni pahat seiring dengan kaligrafi. Seni pahat atau seni ukir berasal dari Jepara, kota
awal berkembangnya agama Islam di Jawa yang sangat terkenal. Di dinding depan mesjid
Mantingan (Jepara) terdapat seni pahat yang sepintas lalu merupakan pahatan tanaman
yang dalam bahasa seninya disebut gaya arabesk, tetapi jika diteliiti dengan saksama di
dalamnya terdapat pahatan kera. Di Cirebon malahan ada pahatan harimau. Dengan
demikian, dapat dimengerti bahwa seni pahat di kedua daerah tersebut (Jepara dan
Cirebon), merupakan akulturasi antara budaya Hindu dengan budaya Islam.

6. Seni Pertunjukan
Diantara seni pertunjukan yang merupakan seni Islam adalah seni suara dan seni tari. Seni
suara merupakan seni pertunjukan yang berisi salawat Nabi dengan iringan rebana. Dalam
pergelarannya para peserta terdiri atas kaum pria duduk di lantai dengan membawakan
lagu-lagu berisi pujian untuk Nabi Muhammad Saw. yang dibawakan secara lunak,

10
namun iringan rebananya terasa dominan. Peserta mengenakan pakaian model Indonesia
yang sejalan dengan ajaran Islam, seperti peci, baju tutup, dan sarung.

7. Tradisi atau Upacara


Tradisi atau upacara yang merupakan peninggalan Islam di antaranya ialah Gerebeg
Maulud. Perayaan Gerebeg, dilihat dari tujuan dan waktunya merupakan budaya Islam.
Akan tetapi, adanya gunungan (tumpeng besar) dan iring-iringan gamelan menunjukkan
budaya sebelumnya (Hindu Buddha). Kenduri Sultan tersebut dikeramatkan oleh
penduduk yang yakin bahwa berkahnya sangat besar, yang menunjukkan bahwa
animisme-dinamisme masih ada. Hal ini dikuatkan lagi dengan adanya upacara
pembersihan barang-barang pusaka keraton seperti senjata (tombak dan keris) dan kereta.
Upacara semacam ini masih kita dapatkan di bekas-bekas kerajaan Islam, seperti di
Keraton Cirebon dan Keraton Surakarta.

8. Karya Sastra
Pengaruh Islam dalam sastra Melayu tidak langsung dari Arab, tetapi melalui Persia dan
India yang dibawa oleh orang-orang Gujarat. Dengan demikian, sastra Islam yang masuk
ke Indonesia sudah mendapat pangaruh dari Persia dan India. Karya sastra masa Islam
banyak sekali macamnya, antara lain sebagai berikut.
a. Babad, ialah cerita berlatar belakang sejarah yang lebih banyak di bumbui dengan
dongeng. Contohnya: Babad Tanah Jawi, Babad Demak, Babad Giyanti, dan
sebagainya.
b. Hikayat, ialah karya sastra yang berupa cerita atau dongeng yang dibuat sebagai
sarana pelipur lara atau pembangkit semangat juang. Contoh, Hikayat Sri Rama,
Hikayat Hang Tuah, Hikayat Amir Hamzah dan sebagainya.
c. Syair, ialah puisi lama yang tiap-tiap bait terdiri atas empat baris yang berakhir
dengan bunyi yang sama. Contoh: Syair Abdul Muluk, Syair Ken Tambuhan, dan
Gurindam Dua Belas.
d. Suluk, ialah kitab-kitab yang berisi ajaran Tasawuf, sifatnya pantheistis, yaitu
manusia menyatu dengan Tuhan. Tasawuf juga sering dihubungkan dengan
pengertian suluk yang artinya perjalanan. Alasannya, karena para sufi sering
mengembara dari satu tempat ke tempat lain. Di Indonesia, suluk oleh para ahli
tasawuf dipakai dalam arti karangan prosa maupun puisi. Istilah suluk kadang-kadang

11
dihubungkan dengan tindakan zikir dan tirakat. Suluk yang terkenal, di antaranya:
Suluk Sukarsah, Suluk Wijil, Suluk Malang Semirang.

2.6. Pengaruh Islam Dalam Kebudayaan Nusantara


Pengaruh Islam dalam kebudayaan nusantara telah berlangsung sejak beberapa abad
yang lampau. Proses akulturasi antara nilai-nilai keislaman yang masuk melalui jalur
perdagangan dari Gujarat dengan unsur-unsur budaya lokal menghasilkan karakter yang khas
pada kebudayaan masyarakat muslim di Indonesia.
Kombinasi antara dua entitas budaya yang berbeda ini, di samping juga unsur-unsur
kebudayaan Hindu-Buddha yang masuk sebelumnya dan kebudayaan barat yang masuk pada
era kolonial, menghasilkan keragaman budaya yang sangat kaya.
Seiring waktu, kekayaan budaya ini mengalami pasang dan surut, sehingga berbagai
upaya pelestarian dibutuhkan agar tidak ditelan zaman. Hal inilah yang mendasari munculnya
gagasan pendirian Museum Istiqlal di kawasan wisata Taman Mini Indonesia Indah. Museum
yang berdiri berdampingan dengan Museum Bayt Al-Qur'an ini sejak awal dicita-citakan
untuk merepresentasikan kekayaan karya seni budaya Indonesia bernapaskan Islam.
Keragaman suku membuat peninggalan budaya Islam di setiap daerah di Indonesia
masing-masing memiliki warna tersendiri. Hal ini terlihat dari banyaknya koleksi benda
peninggalan dari berbagai daerah yang ditampilkan di museum ini. Benda-benda peninggalan
yang terdiri dari karya arsitektur, senjata, manuskrip, hiasan, busana, beraneka jenis kerajinan
tangan, dan karya seni kaligrafi diharapkan dapat membuka mata masyarakat awam akan
kekayaan budaya Islam yang dimiliki nusantara.
Di antara koleksi museum ini antara lain arsip foto arsitektur masjid-masjid di
berbagai pelosok tanah air. Di samping itu, ditampilkan pula beraneka jenis pakaian
tradisional yang mencerminkan pengaruh keislaman yang kuat seperti busana tradisional
Aceh, aneka tenun songket dari beberapa daerah di Sumatera, dan aneka motif tekstil baik
tradisional maupun kontemporer. Terdapat pula beberapa naskah kuno berbahasa arab,
berbagai guci tanah liat, dan replika batu nisan yang menjadi bukti awal eksistensi
keberadaan masyarakat Islam di Indonesia.

12
Hasil Kebudayaan Masyarakat Indonesia pada Masa Islam
Hasil kebudayaan pada saat masa Islam di wilayah Indonesia sangat beraneka ragam
bentuknya, diantaranya dalam bentuk bangunan masjid, keraton, makam atau nisan, tulisan
kaligrafi serta karya sastra.
1. Masjid
Masjid merupakan tempat untuk ibadah bagi para pemeluk agama Islam. Bangunan
masjid yang berasal dari masa kerajaan-kerajaan beragama Islam di wilayah Indonesia
diantaranya bangunan Masjid Demak (Demak,Jawa tengah), Masjid Menara Kudus
(Kudus,Jawa tengah), Masjid Sendang Duwur (Tuban, Jawa timur), Masjid Agung
Kasepuhan (Cirebon,Jawa barat), Masjid Sunan Ampel (Surabaya, Jawa timur), Masjid
Baiturakhman (Banda Aceh), Masjid Angke (daerah Jakarta), serta Masjid Ketangka
(Makassar).

2. Keraton
Bangunan Keraton merupakan istana tempat tinggal bagi raja atau sultan bersama
sanak keluarganya. Bangunan keraton/istana kerajaan Islam ada di Jawa, dan beberapa
lainnya ada di daerah pulau Sumatra, bangunan keraton/istana merupakan sebuah karya
arsitek yang umumnya memadukan antara kebudayaan setempat dengan sebuah
kebudayaan dari Islam. Keraton-keraton yang pembangunanya berasal dari masa kerajaan
– kerajaan bercorak Islam di wilayah Indonesia diantaranya Keraton Kaibon di Banten,
Keraton Kasepuhan di Banten, Keraton Kasunanan serta Keraton Pakualaman di Daerah
Istimewa Yogyakarta dan Surakarta, Keraton Kasultanan di Aceh, dan Istana Maimun di
medan.

3. Makam
Makam merupakan tempat dikebumikannya seseorang yang telah meninggal
dunia (wafat). Makam-makam para raja atau makam para orang kaya/bangsawan dibuat
secara sangat megah serta permanen. kebanyakan makam kuno yang bercorak Islam

13
terdiri dari tiga komponen utama yaitu Jirat, Nisan, dan bangunan Cungkup. Jirat atau
Kijing merupakan bangunan yang biasanya terbuat dari batu yang di tembokkan serta
mempunyai bentuk persegi panjang. Nisan merupakan tonggak pendek yang biasanya
terbuat dari batu atau kayu yang akan ditanam diatas Jirat. Biasanya pada nisan ada
beberapa tulisan-tulisan sebagai tanda peristiwa atau sejarah orang yang
dikubur/makamkan. Sedangkan bangunan cungkup merupakan sebuah bangunan yang
mirip rumah yang dibangun di atas Jirat (untuk melindungi Jirat dari cuaca panas serta
hujan).

Makam-makam yang ditemukan berasal dari masa kerajaan bercorak Islam di


wilayah Indonesia diantaranya makam dari Sultan Malik al Saleh (Aceh darusallam),
makam dari Fatimah Binti Maimun (Jawa Timur), makam dsari Maulana Malik Ibrahim
(Jawa Timur), makam dari Sultan Suryansyah (Kalimantan), makam dari Sultan
Hasanuddin (Sulawesi Selatan), dan banyak lagi.

4. Kaligrafi
Kaligrafi merupakan seni melukis yang indah dengan cara merangkai huruf-huruf
Arab atau dari ayat Al Qur’an menjadi banyak bentuk yang diinginkan. Seni kaligrafi
umumnya terdapat pada dinding-dinding suatu bangunan masjid yang utamanya pada
bagian mihrabnya, gerbang/gapura masjid, gerbang/gapura makam, dan juga di nisan-
nisan kubur.

14
5. Karya Sastra
Karya sastra yang biasanya dihasilkan pada saat masa kerajaan-kerajaan Islam
kebanyakan berisikan ajaran khusus seperti ilmu tasawuf atau budi pekerti atau perilaku
yang baik, maupun tentang filsafat kemasyarakatan. Kesusastraan umumnya juga ditulis
dalam berbagai bentuk, seperti suluk (berisi tentang ajaran tasawuf), syair, hikayat, serta
babad. Karya-karya sastra yang saat pembuatanya berasal dari masa kerajaan - kerajaan
Islam di wilayah Indonesia diantaranya Suluk Sukarsa, Suluk Wujil, Syair Perahu, Syair
si Burung Pingai, Hikayat Amir Hamzah, dan Babad Tanah Jawi.

15
BAB III
PENUTUP

3.1.Kesimpulan
Kebudayaan Islam ialah cara berpikir dan cara merasa Islam yang menyatakan
diri dalam seluruh segi kehidupan dari segolongan manusia yang membentuk
kesatuan sosial dalam suatu ruang dan suatu waktu. Dasar dari kebudayaan Islam
adalah kitab Allah (Al-qur’an) dan Sunnah Rasul-Nya. Adapun peninggalan-
peninggalan kebudayaan Islam yaitu seperti lukisan kehidupan Islam, Al-khithabah,
seni bahasa, seni bangunan, dan pembangunan mesjid. Sedangkan peninggalan
kebudayaan Islam di Indonesia ialah seperti kaligrafi, kraton, batu nisan, bentuk
mesjid, seni pahat, seni pertunjukan, tradisi atau Upacara dan karya sastra.

3.2. Saran
Dalam makalah ini kelompok sarankan kepada para pembaca untuk
mempelajari sejarah Islam dengan begitu dapat menambah wawasan kita dalam
mengetahui perkembanagn kebudayaan agama Islam di Indonesia sehingga dapat
menambah rasa wawasan danpenegtahuan mengenai keterkaitanbudaya Indonesia
dengan ajaran agama Islam.

16