Anda di halaman 1dari 20

KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, Saya
panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan Rahmat,
Hidayah, dan Inayah-Nya kepada Saya, sehingga Saya dapat menyelesaikan makalah
tentang Penugasan Audit Syariahini. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah
kepada Nabi Muhammad SAW. Makalah ilmiah ini telah Saya susun dengan maksimal
dan mendapatkan bantuan dari berbagai pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan
makalah ini. Untuk itu Saya menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak
yang telah berkontribusi dalam pembuatan makalah ini.

Terlepas dari semua itu, Saya menyadari sepenuhnya bahwa masih ada
kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu
dengan tangan terbuka Saya menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar Saya
dapat memperbaiki makalah ilmiah ini.

Akhir kata Saya berharap semoga makalah ilmiah tentang Penugasan Audit
Syariah ini dapat memberikan manfaat maupun inspirasi terhadap pembaca dan dengan
penilaian yang baik.

Cirendeu,26 Oktober 2019

Penyusun

1
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ....................................................................................................... 1
DAFTAR ISI...................................................................................................................... 2
BAB I .................................................................................................................................. 3
PENDAHULUAN ............................................................................................................. 3
1.1 Latar Belakang ......................................................................................................... 2
1.2 Rumusan Masalah .................................................................................................... 5
1.3 Tujuan Makalah ....................................................................................................... 5
BAB II ................................................................................................................................ 4
PEMBAHASAN ................................................................................................................ 4
2.1 Konsep Dasar Penerimaan dan Penugasan Audit .................................................... 4
2.2 Surat Penugasan Audit ............................................................................................. 7
2.3 Persetujuan terhadap Perubahan Surat Penugasan ................................................. 10
2.4 Ruang Lingkup Audit .............................................................................................. 7
2.5 Perencanaan Audit ................................................................................................. 10
2.6 Contoh Surat Penugasan .......................................................................................... 7
BAB III............................................................................................................................... 4
PENUTUP.......................................................................................................................... 4
A. Kesimpulan ............................................................................................................... 5
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................................ 6

2
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Kegiatan yang dilakukan dalam suatu audit sangat tergantung kepada
perusahaaan yang telah diaudit. Apabila klien merupakan perusahaan kecil maka
audit cukup dilakukan oleh satu atau dua orang auditor dengan waktu pengerjaan
audit yang relatif tidak begitu lama, dan dengan honorarium audit yang tidak begitu
besar. Namun berbeda pada perusahaan raksasa dengan ratusan anak perusahaan,
maka dibutuhkan auditor dengan jumlah yang banyak dan waktu pengerjaanpun
membutuhkan waktu yang tidak sebentar bahkan bahkan berbulan-bulan dan
honorarium audit yang sangat tinggi.
Sebelum menerima suatu penugasan auditor harus memastikan bahwa penugasan
tersebut akan dapat diselesaikan sesuai dengan semua standar profesional, termasuk
standar auditing. Sedangkan untuk penetapan perencanaan yang tepat merupakan
pekerjaan yang cukup sulit dalam melaksanakan audit yang efisien dan efektif.
1.2 Rumusan Masalah
a. Bagaimana Konsep dasar Penerimaan dan Penugasan Audit?
b. Bagaimana Surat Penugasan Audit?
c. Bagaimana Persetujuan terhadap Perubahan Surat Penugasan?
d. Bagaimana Ruang Lingkup Audit?
e. Apa itu Perencanaan dan Audit?
f. Seperti apa Contoh surat Penugasan?
1.3 Tujuan Makalah
a. Memberikan wawasan baru terhadap Audit Syariah Lembaga Pengelolaan
Zakat.
b. Sebagai bahan diskusi kelas pada Matakuliah Audit Syariah Lembaga
Pengelolaan Zakat.
c. Mampu menerapkan hal yang positif dalam Model Pengelolaan Zakat di
kehidupan sehari-hari.
3
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Konsep Dasar Penerimaan dan Penugasan Audit

Penerimaan penugasan merupakan tahap awal dalam suatu audit laporan, laporan
keuangan adalah mengambil keputusan untuk menerima (menolak) suatu
kesempatan untuk menjadi auditor untuk klien yang baru, atau untuk melanjutkan
sebagai auditor bagi klien yang sudah ada. Pada umumnya keputusan untuk
menerima (menolak) ini sudah dilakukan sejak enam hingga sembilan bulan sebelum
akhir tahun buku yang akan diperiksa.1
Dalam profesi akuntan publik, terjadi persaingan yang cukup ketat antar kantor
akuntan publik untuk mendapatkan klien. Bagi suatu kantor akuntan publik, klien
bisa merupakan klien baru atau klien lama (yang sudah ada) yang diharapkan akan
melanjutkan memberikan penugasan audit pada tahun atau tahun-tahun berikutnya.
Pergantian auditor bisa terjadi karena bebagai alasan, yaitu:
1. Klien merupakan hasil merger (penggabungan) antara beberapa perusahaan
yang semula memiliki auditor masing-masing yang berbeda.
2. Ada kebutuhan untuk mendapat perluasan jasa professional.
3. Tidak puas terhadap kantor akuntanpublik yang lama.
4. Ingin mencari auditor dengan honorarium audit yang lebih murah.
5. Penggabungan antara beberapa kantor akuntan publik.2
Auditor tidak wajib menerima setiap permintaan untuk melakukan audit laporan
keuangan yang diajukan oleh calon kliennya. Apabila auditor memutuskan untuk
menerima suatu penugasan audit, maka auditor harus memikul tanggungjawab
profesional terhadap masyarakat, klien, dan terhadap anggota profesi akuntan publik
yang lain. Auditor harus menjaga kelangsungan kepercayaan masyarakat terhadap
profesi dengan menjaga independensi, integritas, dan obyektivitas. Terhadap anggota

1
Haryono Jusup, Auditing, (Yogyakarta : Penerbit Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi YKPN, 2001),
hlm. 169.
2
Mulyadi, Auditing, (Jakarta: Salemba Empat, 2002), hlm. 122.
4
lain seprofesi, auditor bertanggungjawab untuk turut meningkatkan dan menjaga
nama baik profesi, serta meningkatkan kemampuannya dalam memberi pelayanan
kepada masyarakat. Pertimbangan dalam memutuskan untuk menerima penugasan
juga berhubungan langsung dengan kemampuan auditor untuk memenuhi
persyaratan seperti diminta oleh standar auditing serta kode etik akuntan.
Perikatan adalah kesepakatan kedua belah pihak untuk mengadakan suatu ikatan
perjanjian. Dalam perikatan audit, klien mengadakan suatu ikatan perjanjian dengan
auditor. Klien menyerahkan pekerjaan audit atas laporan keuangan kepada auditor
dan auditor sanggup melaksanakan pekerjaan audit tersebut berdasarkan kompetensi
profesionalnya. Langkah awal pekerjaan audit adalah pengambilan keputusan untuk
menerima atau menolak perikatan audit dari calon klien atau untuk menghentikan
atau melanjutkan perikatan audit dari klien berulang.3

Setidaknya ada 6 tahapan seorang auditor dalam memutuskan apakah audit


dapat di terima / tidak, diantaranya:

1. Mengevaluasi Integritas Manajemen.


Laporan keuangan adalah tanggungjawab manajemen. Audit atas
laporan keuangan bertujuan untuk memberikan pendapat atas laporan
keuangan yang disajikan oleh manajemen. Untuk dapat menerima
perikatan audit, auditor berkepentingan untuk mengevaluasi integritas
manajemen, agar auditor mendapatkan keyakinan bahwa manajemen
perusahaan klien dapat dipercaya, sehingga laporan keuangan yang
diaudit bebas dari salah saji material sebagai akibat dari adanya
integritas manajemen.
2. Mengidentifikasi kondisi khusus dan risiko luar biasa.
Hal-hal yang berhubungan dengan pengambilan keputusan untul
menerima penugasan dalam Tahap ini, antara lain:
a) Mengidentifikasi pemakaian laporan audit;
b) Mendapatkan informasi tentang stabilitas keuangan dan legal calon
klien pada masa depan;

3
Mulyadi, Auditing, (Jakarta: Penerbit Salemba Empat, 2002), hlm. 123.
5
c) Mengevaluasi auditabilitas perusahaan klien.

3. Menilai kemampuan untuk memenuhi standar umum Auditing.


4. Menyiapkan surat penugasan Audit.
5. Penentuan Kemampuan Auditor dalam menggunakan Kemahiran
Profesionalnya.4

Tahapan perencanaan Audit memegang peran penting dalam audit. Hal ini
karena kesuksesan audit sangat di tentukan oleh perencanaan audit secara matang.
Perencanaan audit meliputi pengembangan strategi menyeluruh untuk
merencanakan pelaksanaan audit. Perencanaan audit sangat dipengaruhi oleh
informasi yang diperoleh dalam tahap pertimbangan penerimaan penugasan audit.
Dalam perencanaan audit, auditor harus mempertimbangkan informasi mengenai
integritas manajemen, kekeliruan, dan pelanggaran hukum klien dalam
merencanakan audit. Luas dan kelengkapan perencanaan audit sangat bergantung
pada ukuran dan kompleksitas perusahaan klien, pengalaman auditor dengan klien,
pengetahuan dan kemampuan auditor beserta seluruh staf nya. Perencanaan audit
dilakukan antara tiga hingga enam bulan sebelum akhir tahun buku klien. 5

4
A. Rusdiana, dan Aji Saptaji, Auditing Syari’ah, Cet. 1, (Bandung: CV Pustaka Setia, 2018),
hlm. 229-231.
5
Ibid., hlm. 233.
6
2.2 Surat Penugasan Audit

Baik klien maupun auditor berkepentingan untuk mengirim surat perikatan,


lebih baik sebelum dimulainya suatu perikatan, untuk menghindari salah paham
berkenaan dengan perikatan tersebut. Surat perikatan dapat pula
mendokumentasikan dan menegaskan penerimaan auditor atas penunjukan
perikatan, tujuan dan lingkup audit, dan luasnya tanggung jawab auditor kepada
klien dan bentuk laporan.

Surat penugasan audit biasa di kenal dengan sebutan audit engagement letter.
Surat penugasan audit adalah surat yang berisikan diantaranya:

1. Tujuan perjanjian antara auditor dan perusahaan mengenai ikhtisar


pemeriksaan laporan keuangan.
2. Tanggal pelaksanaan serta tanggal penyelesaian audit.
3. Tugas-tugas auditor dalam melakukan audit.
4. Batasan-batasan tanggungjawab auditor dalam melakukan audit.
5. Bantuan apa saja yang akan diberikan oleh perusahaan guna
keberlangsungan proses auditing.
6. Besarnya rincian biaya Audit.

Biasanya dengan dibuatkan nya suart penugasan audit, hal tersebut berisikan
perjanjian antara pihak auditor dengan pihak perusahaan. Maka akan memperjelas
tingkat tanggungjawab yang di lakukan seorang auditor. Sehingga, hal ini dapat di
gunakan sebagai alat informasi bagi para pemakai laporan keuangan bahwa auditor
tidak bertanggung jawab atas terjadinya hal-hal atau peristiwa yang tidak berkaitan
dengan perjanjian yang telah di sepakati oleh kedua belah pihak.

Surat perikatan audit dibuat oleh auditor untuk kliennya yang berfungsi untuk
mendokumentasikan dan menegaskan penerimaan auditor atas penunjukkan oleh
klien, tujuan dan lingkup audit, lingkup tanggungjawab yang dipikul oleh auditor
bagi kliennya, kesepakatan tentang reproduksi laporan keuangan auditan, serta
bentuk laporan yang akan diterbitkan oleh auditor. Baik auditor maupun kliennya

7
berkepentingan terhadap surat perikatan audit karena dalam surat tersebut, berbagai
kesepakatan penting tentang perikatan audit didokumentasikan sehingga dapat
mencegah terjadinya kesalahpahaman yang mungkin timbul antara auditor dan
kliennya. Surat penugasan audit umumnya berisi:

1. Tujuan audit atas laporan keuangan;


2. Tanggung jawab manajemen atas laporan keuangan;
3. Lingkup audit, termasuk penyebutan undang-undang, peraturan,
pernyataan dari badan professional yang harus dianut oleh auditor;
4. Bentuk laporan atau bentuk komunikasi lain yang akan digunakan
oleh auditor;
5. Fakta bahwa audit memiliki keterbatasan bawaan bahwa kekeliruan
dan kecurangan material tidak akan terdeteksi;
6. Pengaturan reproduksi laporan keuangan auditan;
7. Kesanggupan auditor untuk menyampaikan informasi tentang
kelemahan signifikan dalam pengendalian intern yang ditemukan
oleh auditor dalam auditnya;
8. Akses ke berbagai catatan, dokumentasi dan informasi lain yang
diharuskan dalam kaitannya dengan audit;
9. Dasar yang digunakan oleh auditor untuk menghitung fee audit dan
pengaturan penagihannya.6

6
Sofyan S. Harahap, Auditing dalam Perspektif Islam, (Jakarta: Pustaka Quantum, 2002), hlm.
192.
8
2.3 Persetujuan Terhadap Perubahan Surat Penugasan

Menerima Dan Melanjutkan Penugasan, Sehubungan dengan keputusan


ini, kewajiban auditor ialah mengidentifikasi dan menilai faktor risiko yang
relevan dalam menentukan apakah auditor menerima (accept) atau menolak
(decline) penugasan audit tersebut. Jika ia menjadi auditor pada tahun atau
periode sebelumnya, berdasarkan penilaian risikonya, ia harus menentukan
untuk melanjutkan (continue) atau menolak (decline) penugasan audit
tersebut; dan mmenyepakati dan mendokumentasikan syarat-syarat perikatan
(terms of the engagement).Langkah pertama dalam proses menerima/
melanjutkan klien adalah menilai kemampuan KAP melaksanakan penugasan
dan risiko terkait.

Sebuah proses audit syariah membutuhkan sebuah batasan yang menentukan


sejauh mana proses audit itu perlu dilakukan. Batasan audit syariah ini dapat untuk
membentuk ruang lingkup auditor dalam pemeriksaan, tujuannya agar tugas kerja
seorang auditor syariah dapat ditentukan dengan jelas.

Dari hasil penelitian Mardiyah dab Mardiyan (2015) menyatakan bahwa ruang
lingkup pemeriksaan audit syariah di Indonesia baru mencakup dua hal yaitu:
pemeriksaan audit pada laporan keuangan (termasuk Islamic Social Report dan
Corporate Social Responbility) dilakukan oleh auditor internal maupun auditor
eksternal dan pemeriksaan kepatuhan syariah produk Lembaga Keuangan Syariah
yang dilakukan oleh Dewan Pengawas Syariah (DPS). Mengingat DPS belum
memiliki pedoman pemeriksaan yang jelas, sehingga bisa saja DPS yang satu telah
melakukan pemeriksaan diluar aspek kepatuhan syariah pada produk LKS sedangkan
yang lain belum. Maka hal tersebut mengindikasikan audit syariah yang berjalan
mayoritas cakupannya adalah perihal kesesuaian laporan keuangan dengan standar
yang standar yang berlaku serta kesyariahan produk.

9
Di Malaysia Kasim dkk (2009) menyatakan bahwa ada tekanan dari pihak
eksternal untuk melaporkan perilaku sosial dan kinerja organisasi dalam semua
hubungan mereka dengan masyarakat, individu dan organisasi lainnya, artinya pihak
eksternal menekan IFI’s untuk menyelenggarakan audit sosial. Kemudian muncul
keinginan untuk memperluas ruang lingkup audit syariah. Namun hal tersebut
terkendala oleh kurangnya keahlian, spesifikasi dan definisi tentang ruang lingkup
praktek audit syariah.

Auditing Lembaga Keuangan Syariahmenjadi alasan dalam gap yang dimaksud.


Dengan mentalitas kapitalistik dan kurangnya kesadaran tentang pelebaran ruang
lingkup dalam sosial dan lingkungan serta audit kinerja adalah beberapa alasan
sehingga sulit memperluas ruang lingkup. Dengan demikian kesenjangan ada
antara, “the desired” dan “the actual” (Kasim dan Sanusi, 2013).

Bangladesh dan Brunai Darusalam belum diketahui dengan jelas ruang lingkup
audit syariah, namun jika merujuk pada hasil penelitian Yacoob (2012), ruang
lingkup audit syariah di sana mengacu pada dua aspek seperti hal nya Indonesia,
yaitu audit pada laporan keuangan dan audit kepatuhan syariah suatu produk yang
dikeluarkan oleh lembaga keuangan syariah di masing-masing negara tersebut. Hal
tersebut mengacu pada standar yang mereka jadikan acuan yaitu AAOIFI.

Perdebatan mengenai ruang lingkup audit syariah ini memang masih terjadi.
Namun AAOIFI sudah merepresentasikan ruang lingkup audit syariah itu sendiri.
Sebuah audit syariah memang semestinya mencakup dua hal tersebut, yaitu tentang
penilaian laporan keuangan syariah tersebut dan menilai kepatuhan suatu lembaga
keuangan syariah dalam mematuhi prinsip- prinsip syariah itu sendiri, baik itu
berkenaan dengan produk maupun operasional perusahaan secara umum.

10
2.4Ruang Lingkup Audit

Ruang lingkup audit syariah tentu berbeda dengan audit konvensional.


Audit syariah memiliki ruang lingkup yang lebih luas karena auditor
diharapkan dapat berurusan dengan peraturan dan pedoman yang lebih luas.
Hal ini berkaitan dengan tugas auditor syariah yang juga harus melakukan uji
kepatuhan syariah. Mereka harus memastikan bahwa manajemen telah
mengikuti prinsip bebas riba’ dan halal yang telah ditentukan oleh DPS
(Haniffa, 2010). Fokus auditor syariah bukan hanya pada aspek keuangan,
lebih daripada itu, auditor syariah nharus bisa memastikan produk, jasa, dan
semua kegiatan yang dilakukan oleh LKS telah sesuai dengan prinsip syariah
(Yaacob, 2012).
Khan (1985) dan Uddin, Ullah, & Mossain (2013) mengungkapkan bahwa
auditor syariah berperan sebagai pihak yang memberikan jaminan pada
investor yang menyediakan dana dengan akad mudharabah berdasarkan
prinsip bagi hasil bahwa laba atau (rugi) yang dinyatakan oleh manajemen
adalah benar. Para pemegang kepentingan terutama investor, memerlukan
jaminan bahwa LKS yang mereka danai telah mengelola dana yang mereka
berikan dengan efektif dan efisien serta sesuai dengan peraturan dan prinsip
syariah.Tanpa adanya jaminan dari auditor, maka investor akan
merasadibutuhkan untuk merumuskan opini (Izzatika & Lubis, 2016).

Tidak seimbangnya kompetensi dibidang keuangan dan akuntansi dengan


bidang syariah, sertifikasi yang belum optimal, dan minimnya lembaga
pendidikan serta pelatihan yang menyediakan kurikulum akuntansi/audit
syariah memengaruhi minimnya auditor syariah yang kompeten di Indonesia
(Izzatika & Lubis, 2016).

11
Bukan hanya dari sisi kuantitas, kualitas auditor syariah pun masih belum
memadai. Kualifikasi auditor syariah selalu dipertanyakan mengingat belum
adanya suatu lembaga khusus yang menyediakan program sertifikasi bagi
auditor syariah. Padahal, sertifikasi merupakan hal krusial karena dapat
menjadi tolok ukur kompetensi yang dimiliki oleh auditor syariah. Jika
auditor syariah yang melakukan penugasan audit pada LKS tidak memenuhi
kualifikasi, maka hal tersebut akan menyebabkan tidak optimalnya proses
audit, sehingga menghasilkan laporan audit yang tidak relevan dalam
mengungkapkan kepatuhan syariah sebuah LKS.

Adanya perbedaan fungsi atau peran, ruang lingkup serta kerangka kerja
yang dimiliki oleh auditor syariah dengan auditor pada lembaga keuangan
konvensional, menimbulkan kebutuhan akan kompetensi yang berbeda pula.
Itu sebabnya, dibutuhkan sertifikasi yang berbeda dengan auditor pada
umumnya karena ujian sertifikasi yang sudah ada masih belum
mencantumkan materi mengenai teknik dan proses audit syariah. Salah satu
sertifikasi yang mendukung dalam bidang syariah adalah SAS yang
dilaksanakan oleh IAI, namun SAS belum mencantumkan materi terkait
teknis serta audit syariah, sehingga SAS masih dinilai belum cukup jika
digunakan untuk menguji kompetensi auditor syariah.

12
2.5 Perencanaan Audit

Tahap perencanaan audit memegang peran penting dalam audit. Hal ini
karena kesuksesan audit sangat ditentukan oleh perencanaan audit secara matang.
Perencanaan audit meliput pengembangan strategi menyeluruh untuk
merencanakan pelaksanaan audit. Perencanaan audit sangat dipengaruhi oleh
informasi yang diperoleh dalam tahap pertimbangan penerimaan penugasan audit.
Dalam perencanaan audit, auditor harus mempertimbangkan informasi mengenai
integritas manajemen, kekeliruan dan pelanggaran hukum klien dalam
merencanakan audit. Luas dan kelengkapan perencanaan audit sangat bergantung
pada ukuran dan kompleksitas perusahaan klien, pengalaman auditor dengan
klien, pengetahuan dan kemampuan auditor beserta seluruh stafnya.

Perencanaan audit dilakukan antara tiga hingga enam bulan sebelum akhir
tahun buku klien. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam perencanaan audit,
yaitu sebagai berikut.7

1. Menghimpun Pemahaman Bisnis Klien dan Industri Klien


Penghimpunan pemahaman bisnis dan industri klien dilakukan dengan tujuan
untuk mendukung perencanaan audit yang dilakukan auditor, yaitu sebagai
berikut.
a. Pemahaman bisnis klien
Pemahaman tersebut digunakan untuk merencankan lingkup audit,
memperkirakan masalah-masalah yang mungkin timbul dan menentukan atau
memodifikasi prosedur audit yang direncanakan. Hal yang berkaitan dengan
bisnis dan industri klien yang perlu dipahami auditor adalah:
1) Jenis bisnis dan produk klien.

7
Haryono Josep hlm. 170-187
13
2) lokasi dan karakteristik operasi klien, seperti metoda produksi dan
pemasaran
3) Jenis dan karakteristik industri
4) eksistensi ada tidaknya pihak terkait yang mempunyai hubungan erat
dengan klien,
Misalnya sama-sama anak perusahaan dari suatu holding company.
5) peraturan pemerintah yang memengaruhi bisnis dan industri klien
6) Karakteristik laporan yang harus diberikan kepada instansi tertentu
b. Pemahaman Auditor tentang bisnis Klien dan Industri Klien
Pemahaman auditor tentang bisnis klien dan industri klien dapat diperoleh melalui
hal berikut.
1) Me-review kertas kerja tahun lalu. Dalam penugasan audit ulangan,
auditor bisa memperoleh pengetahuan tentang klien dengan me-review kertas
kerja tahun lalu. Selain itu, kertas kerja menunjukan masalah yang muncul dalam
audit pada tahun lalu yang mungkin akan berlanjut pada tahun-tahun selanjutnya.
Bagi klien baru, kertas kerja yang disusun auditor pendahulu bisa membantu.
Klien harus memberi izin pada auditor pengganti untuk me-review kertas kerja
tahun lalu.
2) Me-review data industri dan data bisnis klien. Untuk memperoleh
pengetahuan tentang bisnis klien, auditor bisa
a) Me-review anggaran dasar dan anggaran rumah tangga perusahaan.
b) Membaca notulen rapat dewan komisaris dan dewan direksi untuk
mendapatkan informasi-informasi tertentu.
c) Analisis laporan keuangan tahunan dan interim, laporan pajak penghasilan,
dan laporan ke instansi-instansi terkait.
d) Mempelajari berbagai peraturan pemerintah yang relevan.
e) Membaca kontrak-kontrak yang berlanjut.

14
f) Membaca publikasi-publlikasi yang berkaitan dengan industri dan
perdagangan untuk mempelajari perkembangan bisnis dan industri
mutakhir.

c. Melakukan Peninjauan ke tempat Operasi Klien

Dari peninjauan langsung ke pabrik, auditor akan mengetahui tata letak pabrik,
proses operasi (produksi), fasilitas pergudangan, dan hal-hal yang bisa
menimbulkan masalah. Selama peninjauan ke kantor, auditor akan mendapat
pengetahuan tentang jenis dan lokasi catatan akuntansi dan kebiasaan kerja para
karyawan.

d. Mengajukan Pertanyaan pada Dewan Komisaris ataupun Komite Audit


Komite audit dari dewan komisaris bisa memberikan penjelasan penting kepada
auditor mengenai bisnis dan industri klien. Komite audit juga bisa memberikan
informasi kepada auditor tentang perubahan penting dalam manajemen
perusahaan dan struktur organisasi.

e. Mengajukan Pertanyaan pada Manajemen


Pertanyaan yang diajukan kepada manajemen menyangkut keterlibatan personel
klien dalam pembuatan daftar-daftar dan analisis untuk auditor.

f. Menentukan Hubungan Istimewa


Prinsip akuntansi yang berlaku umum mencakup kaharusan membuat
pengungkapan khusus dan dalam hal tertentu menetapkan perlakuan akuntansi
khusus, untuk transaksi dengan pihak-pihak yang mempunyai hubungan istemewa

15
2. Mempertimbangkan Dampak Pernyataan Akuntansi dan Auditing
Mempertimbangkan dampak dari pernyataan akuntansi dan auditing tertentu
yang relevan.8
a. Alasan auditor merencanakan penugasan dengan tepat
1) Memungkinkan auditor mendapatkan bukti yang tepat yang mencukupi
pada situasi yang dihadapi.
2) Membantu menjaga biaya audit tetap wajar.
3) Menghindari kesalahpahaman dengan klien
b. Pelibatan auditor merencanakan penugasan dengan tepat
1) Memutuskan akan menerima seorang klien baru atau melanjutkan
pelayanan untuk klien yang telah ada.
2) Mengidentifikasi alasan klien menginginkan atau membutuhkan audit.
3) Memperoleh pemahaman klien tentang cara-cara penugasan untuk
menghindari kesalahpahaman
4) Memilih staf untuk penugasan, termasuk apabila membutuhkan spesialis
audit.

3. Melakukan Prosedur Analitis


Prosedur analitis adalah evaluasi informasi keuangan yang dilakukan dengan
mempelajari hubungan logis antara data keuangan dan nonkeuangan. Prosedur
analitis meliputi perbandingan jumlah-jumlah yang tercatat dengan ekspestasi
auditor.9
a. Tujuan penggunaan prosedur analitis dalam tahapan perencanaan.
8
Alvin A. Arens et.al., Auditing dan jasa assurance, Jakarta:Erlangga, 2008, hlm.270
9
Op. Cit Mulyadi hlm.140
16
1) Membantu auditor dalam merencanakan sifat, saat, dan luas prosedur audit
lainnya.
2) Pengujian subtansif untuk memperoleh bukti tentang asersi tertentu
(berhubungan dengan saldo rekening atau jenis transaksi).
3) Review menyeluruh informasi keuangan dalam laporan keuangan setelah
diaudit.
b. Manfaat penggunaan prosedur analitis dalam tahapan perencanaan
1) Meningkatkan pemahaman auditor atas usaha klien
2) Mengidentifikasi hubungan yang tidak biasa dan fluktuasi yang tidak
diharapkan dalam data yang bisa menunjukan bidang-bidang yang
kemungkinan mencerminkan risiko salah saji.
c. Penggunaan prosedur analitis dalam tahapan perencanaan
1) Mengidentifikasi perhitungan/perbandingan yang akan dibuat
Prosedur analisis yang digunakan dalam perancanaan bisa berbeda-beda
bergantung pada besarnya kompleksitas perusahaan klien, ketersediaan
data, dan pertimbangan auditor. Jenis perhitungan dan perbandingan
yang umum digunakan, meliputi perbandingan data absolut, analisis
vertikal, analisa rasio, dan analisis tren.
2) Mengembangkan ekspektasi atau harapan
Dalam mengembangkan ekspektasi ini, auditor dapat menggunakan data
keuangan dan data nonkeuangan. Sumber informasi yang digunakan
untuk mengembangkan harapan antara lain :
a) Informasi keuangan klien periode-periode yang lalu dengan
mempertimbangkan perubahan yang diketahui.
b) Hasil antisipasi berdasarkan anggaran formal dan peramalan
c) Hubungan antara elemen-elemen informasi keuangan pada suatu
periode
d) Data industri

17
e) Hubungan antara informasi keuangan dengan informasi nonkeuangan
yang relevan

3) Melakukan perhitungan/perbandingan
Tahap ini menyangkut pengumpulan data yang akan digunakan untuk
menghitung jumlah absolut dan selisih presentase antara jumlah tahun ini dan
jumlah tahun yang lalu, menghitung data terbaru, rasio-rasio, dan sebagainya
4) Menganalisis data dan mengidentifikasi perbedaan signifikan
Bagian penting dari analisis adalah identifikasi fluktuasi dalam data yang
tidak diharapkan atau tidak ada fluktuasi yang diharapkan yang bisa memberi
petunjuk meningkatnya risiko tersajinya salah saji. Elemen paling kritis dalam
proses ini adalah memutuskan besarnya selisih atau fluktuasi yang akan diselidiki
lebih lanjut.
5) Menyelidiki selisih tak diharapkan yang signifikan
Selisih tak diharapkan harus diselidiki. Hal ini menyangkut peninjauan
kembali metode dan faktor-faktor yang digunakan dalam mengembangkan
ekspektasi dan mengajukan pertanyaan kepada manajemen.
6) Menentukan pengaruh atas perencanaan audit
Selisih signifikan yang tidak dapat dijelaskan alasan terjadinya harus
dipandang sebagai indikasi kenaikan risiko salah saji dalam rekening atau
rekening-rekening yang tercakup dalam perhitungan atau perbandingan. Dalam
keadaan demikian, auditor melakukan pengujian mendalam atas rekening tersebut.
Dengan mengarahkan perhatian auditor pada tempat-tempat yang memiliki risiko
besar, prosedur analisis bisa memberikan kontribusi yang besar pada pelaksanaan
audit yang lebih efektif dan efesien.

18
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

Zakat memang harus diperhatikan lebih serius dan mendalam lagi dalam
pengelolaan nya. Pemerintah memang sangat berperan penting dalam
pemungutan zakat kepada masyarakat karena bersandar pada firman Allah
dalam QS. At- Taubah ayat 103. Tapi balik lagi kepada sikap awareness dari
seorang Muslim nya itu sendiri yang ingin menunaikan kewajiban berzakatnya.
Dan suatu negara juga harus memiliki sistem dan sumber daya yang di
butuhkan untuk pengelolaan zakat secara efektif dan efisien. Sistem dan
sumber daya pemerintah ini juga harus tersebar merata ke seluruh pelosok
negeri, memastikan bahwa zakat di jalankan dengan menjunjung tinggi asas
keadilan. Berikutnya, negara juga harus memberikan kepastian hukum atau
membuat regulasi yang dapat memperkuat institusi zakat nya itu sendiri.

19
DAFTAR PUSTAKA

 Jusuf, Haryono. 2001.Auditing, (Yogyakarta: Penerbit Sekolah Tinggi Ilmu


Ekonomi YKPN).
 Harahap, Sofyan S. 2002.Auditing dalam Perspektif Islam, (Jakarta: Pustaka
Quantum).
 Saptaji, Aji. dan Rusdiana, A. 2018. Cet. 1. Auditing Syari’ah, (Bandung:
CV. Pustaka Setia).
 Mulyadi. 2002. Auditing, (Jakarta: Penerbit Salemba Empat).
 Dewi, S.K., & Sawarjuwono, 2019, Tantangan Auditor Syariah: Cukupkah
Hanya dengan Sertifikasi Akuntansi Syariah,Jurnal Dinamika Akuntansi
Dan Bisnis, 6(1), 17–28.r
 Arens, A. A et.al. 2008. Auditing dan Jasa Assurance: pendekatan
Terintegrasi. Edisi Kedua Belas. (Jakarta: Erlangga)

20