Anda di halaman 1dari 6

Nama : Khairunnisa Devina Irawan

Kelas : 9D

Tugas : Cerpen

“AYAH”

1 tahun yang lalu, ayah meninggalkan aku, ibu, kakak dan keluarga lainnya. Ayah
mempunyai penyakit yang sudah lama hinggap ditubuhnya yaitu penyakit Diabetes atau bisa
disebut juga dangan penyakit gula dan penyakit yang belum lama hinggap dituguhnya yaitu
jantung. Ayah menghembuskan nafas terakhirnya pada hari Rabu tanggal 3 Mei 2018 di
Rumah Sakit KS tepatnya pada jam 04.30 WIB.

-27 April 2018-

Ayah sempet drop ditempat kerjanya, ayah langsung menelfon ibu agar ayah dijemput ditempat
kerjanya, ibu langsung membawa ayah yang sudah lemas ke Rumah Sakit. Kata dokter ayah
harus dirawat karna badanya yang begitu lemas. Setelah pulang sekolah, aku dijemput ibu,
awalnya aku bingung ini bukan arah kerumah melainkan arah ke Rumah Sakit, aku bertanya ke
pada ibu.

“bu ini mau kemana?” tanya aku,

“kerumah sakit” jawab ibu,

“siapa yang sakit?” Tanya aku dengan perasaan bingung dan heran,

“ayah, tadi ayah semepet nelfon ibu kayanya badanya katanya lemes” jawab ibu kembali

Aku kaget dan bingung, kenapa ayah tiba tiba sakit?, padahal tadi pagi masih baik baik saja.
Sesampainya di Rumah Sakit, aku langsung turun dari mobil dan mengunggu ibu yang sedang
mengunci mobil. Aku dan ibu langsung masuk kedalam Rumah Sakit, sesampainya diruangan
ayah aku langsung bersalaman dan memeluknya dan betanya.

“ayah sakit apa?” tanya aku kepada ayah, yang sedang terbaring lemas ditempat tidur

“ayah ga papa, cuma kecapean doang ko” jawab ayah yang sedang lemas

Aku tersenyum, aku tahu ayah bukan kecapean doang melainkan penyakit yang dideritanya
mulai kambuh lagi. Beberapa jam kemudian, aku disuruh pulang sama ibu karna besok masih
hari sekolah. Aku berpamitan dengan ayah dan aku bilang kalau “ayah harus sembuh” ayah
hanya mengangguk. Sesampainya aku dirumah, aku langsung ambil wudhu dan berdoa agar
penyakit ayah disembuhkan dan dihilangkan.

Besoknya, aku kembali lagi ke Rumah Sakit untuk melihat keadaan ayah. Ternyata diruangan
ayah sudah banyak teman-teman kerja ayah yang sedang menjenguk, aku bersalaman kepada
ayah dan teman-temanya juga. Hari mulai sore, teman-teman ayah izin untuk pulang. Setelah
beberapa menit kemudian keluarga dari ayah pun datang, aku bersalaman, aku izin untuk ke
luar dari ruangan dan berniat untuk membeli makan karna lapar. Setelah membeli makan aku
kembali keruangan dan diruangan ternyata sudah ada dokter yang akan memeriksa ayah, ayah
diperiksa, dikasih suntikan, pokoknya segala macem deh. Kemudian dokter keluar ruangan,
orang orang yang berada didalam ruangan pun saling berbincang bincang, bertanya kepada
ayah. “sakit apa?”, “bagaimana keadaannya” dan sebagainya. Tak terasa hari mulai gelap,
mereka pun berpamitan, walaupun ada beberapa orang yang menginap diruangan untuk gantain
menjaga ayah. Aku,ibu dan kakaku pun ikut pulang, untuk beristirahat karna sudah ada yang
menggantikan untuk menjaga ayah, karna dari hari pertama ibu yang menginap, maka dari itu
ibu meminta salah satu dari keluarga ayah yang menggantikannya menginap karna ibu juga
lagi kurang sehat.

Besoknya aku kembali lagi ke Rumah Sakit untuk mengantarkan beberapa pakaian ganti.
Kemidian terdengar suara ketukan pintu “tok tok tok”, ternyata yang megetuk pintu adalah
seorang dokter yang datang untuk memeriksa keadan ayah, dan betapa terkejutnya aku dan
keluarga ketika dokter berkata tentang penyakit ayah, ternyata ada satu penyakit yang berada
ditubuh ayah, ternyata penyakit itu baru singgah dan baru ketahuan dibadan ayah, yaitu
penyakit jantung, sebelumnya ayah tidak ada penyakit jantung, dan hari ini baru ketauan. Aku
tak kuat menahan air mata, aku dan keluarga yang lain pun menangis mendengar berita buruk
ini, aku terdiam, aku tidak tau harus ngomong apalagi, yang saat ini yang bisa kulakukan untuk
ayah hanya berdoa, berdoa dan berdoa agar penyakit ayah segera disembuhkan.

“ya Allah, kenapa engkau memberikan cobaan yang begitu berat untuk keluarga ku” ucap aku
didalam hati sambil menahan air mata

“yang Allah, sembuhkanlah ayah, aku rindu bermain dengannya, bercanda dengannya” ucap ku
kembali didalam hati sambil bercucuran air mata karna sudah tak tahan untuk menahannya
lagi.

Ternyata pada tanggal 2 Mei 2018, ayah sudah boleh dibawa pulang karna kondisinya yang
sudah sehat. Tetepi dokter menyarankan ayah untuk rajin olahraga agar jantungnya kembali
sehat dan normal kembali.

Aku senang saat ayah berada dirumah karna saat ayah dirumah ayah lebih sering tersenyum,
tertawa, waulaupun aku tau dia sedang menahan rasa sakit, tetapi dia berusaha untuk
tersenyum agar tidak menghawatirkan anak anaknya. Dengan perasaan khawatir aku sesekali
bertanya, karna dari tadi ayah hanya duduk di luar (ruangtamu), dan sesekali pun ayah
memegang dadanya karna menahan sakit.

“ayah?, ayah sakit?, mau kedokter?” tanya aku dengan perasaan khawatir

“engga, engga papa ko, ayah sehat” jawabnya dengan wajah tersenyum

“yang bener?, ayo kedokter nanti dianter sama lipa” Tanya aku kembali

Ayah hanya menggeleng, yang berarti jawabnnya “tidak”, dan aku hanya mengangguk dan
kembali masuk kedalam. Sesekali juga ayah keluar rumah, walaupun hanya didepan teras.
Ayah sesekali menyapa orang orang yang meleawatinya, dan sesekalipun ayah berbincang
bincang dengan salah satu tetangga deket rumah, bercerita kalau terkadang dadanya terasa
sakit, tetangga itu menyarankan ayah untuk oralahraga seperti, berenang, jogging dan
sebagainya.

Malam harinya, ayah kembali drop, dia hanya berbaring ditempat tidur sambil menahan rasa
sakit didadanya. Sesekali aku menanyakan “mau kedokter atau tidak” tetapi ayah selalu
menjawab “tidak”. Teman teman ayah yang tiba tiba datang pun ikut membujuk ayah agar
ayah dibawa keumah sakit, setelah beberapa menit akhirnya ayah mau dibawa kerumah sakit.
Aku dan kakaku ingin sekali ikut, tetapi tidak boleh karna kata aku harus sekolah besok. Aku
dan kakaku memeluk ayah sebelum dibawa kerumah sakit dan berkata

“ayah harus sembuh” kata aku sambil menangis

“iya, ayah sembuh ko doain aja ya” jawab ayah sambil menahan tangisnya

“ayahnyaa harus sembuh, akunya takut” kata kakaku sambil sesenggukan karna menangis

“udah, ayah ga papa ga usah takut ya, jagain adek kamu” jawab ayah sambil tersenyum

Kami bedua hanya mengangguk. Akhirnya ayah dibawa kerumah sakit oleh teman temannya,
ibu dan om ku

-03 Mei 2018-

Waktuk menunjukkan pukul sekitar jam 03.20, dering telpon bergetar, “drrtt” “drrtt” ternyata
yang menelpon adalah omku yang berada dirumah sakit dan yang mengangat telpon itu adalah
tanteku.

“halo?,” ucap tanteku sambil mengenggam hp nya dan diarahkan ketelinga.

“a…ayah masuk ICU dan kritis sekarang” ucap om ku dengan gemetaran dan menahan
tangisnya
Betapa terkejutnya tenteku ketika mendengar berita yang disampaikan oleh suaminya itu,
tanteku bergegas membangunkan ku dan kakakku yang sedang tertidur pulas.

“caaa… caaa... bangunn” ucap tanteku sambil menggoyang goyangkan tubuhku yang sedang
tertidur pulas

“hoaamm…, kenapa mba?” jawab aku yang mengantuk

“ayo ke Rumah Sakit, ayah kritis” ucap tante ku kembali

“HAH…?” ucap aku yang langsung duduk karna kaget dalam keadaan setengan sadar dan
setengah tidak.

Aku langsung berlari ke kamar untuk membangunkan kakakku. Dan setelah aku dan kakakku
terbangun, tanteku bercerita kalo sekarang ayah dengan kritis, aku yang mendengar berita itu,
aku langsung menangis sesenggukan. Tanteku menyarankan untuk melaksanakan sholat,
walaupun belum waktunya subuh. Setelah melaksanakan sholat kami langsung siap-siap dan
memesan taxi online dan langsung menuju rumah sakit. Sesampainya dirumah sakit, aku
langsung berlari menuju ruang ICU.

Setelah sampai depan ruang ICU aku melihat om ku yang sedang berdiri, aku memeluknya,
dia menyarankan agar aku masuk kedalam untuk melihat keadaan ayah. Aku masuk bersama
kakak dan tanteku, dan betapa terkejutnya aku ketika melihat ayah terbaring lemas dan
badannya penuh dengan selang selang yang aku tidak tahu selang apa itu, aku tak kuat
menahan air mataku disitu, aku menangis, aku beteriak, aku tidak tahan melihat ayah yang
seperti itu. Ibu memelukku, merangkulku dan menginsyarat aku agar diam dan berdoa saja
untuk ayah. Aku berjalan menuju ayah yang sedang terbaring lemas, aku memeluknya dan
menangis kembali dan mencoba menghapus airmataku yang sedang mengucur deras dan
berbisik ketelinganya “ayah harus sembuh, biar bisa main bareng lagi, ayah sembuh ya” aku
kembali menteskan air mata, aku kembeli menghapus air mata ku dan mencium kening nya.
Aku duduk disebelah ruangan ayah, dan betapa terkejutnya aku ketika aku mendengar samar
samar suara dokter yang berkata.

“maaf, suami ibu tidak bisa tertolong lagi” ucap salah satu suster kepada ibu

Ya, tepat sekali pada jam 04. 30 ayah menembuskan nafas terakhirnya. Aku yang terkejut
dengan hal itu pun langsung berlari menuju ayah, aku menangis, aku menggoyang goyangkan
tubuhnya yang dingin sambil berkata “ayaahhh bangun, bangunn yahh” ucapan itu terus aku
ulang ulang sambil menangis sesenggukkan, walaupun itu tidak ada hasinya.

Aku dan kakakku disuruh keluar dari ruangan ICU untuk menenangkan diri, karna suara
tangisanku yang kencang dan aku juga tidak mau mengganggu pasieen-pasien lain yang sedang
berada didalam. Setelah aku ke luar dari ruangan, aku langsung memberi tahu kepada omku
kalo ayah sudah tiada lagi. Om ku menangis mendengar berita ini. Om ku langsung memberi
tahu kepada keluarga ayah kalau ayah sudah tiada, mendengar hal itu mereka langsung
bergegas untuk ke Rumah Sakit. Yap, ternyata mereka datang, mereka langsung masuk untuk
menemui ayah, aku yang masih diluar pun masih sesenggukan dan menangis, karna aku tidak
pernah menyangka ayah akan pergi secepat itu meninggalkanku. Aku bingung, ini seperti
mimpi, aku tak percaya kenapa begitu cepat dia meninggalkanku. Aku berbicara sendiri
didalam hati.

“ayah sekarang udah tenang, udah ga ngerasain sakit lagi, semoga ayah diterima disisi
ALLAH, nanti kita bertemu disurga ya” ucap ku didalam hati sambil menangis.

Setelah beberapa saat, aku terkejut ketika melihat tetangga-tetangga rumah dan teman-teman
kerja ayah yang datang tiba tiba, mungkin mereka diberi tahu oleh omku kalau ayah sudah
tidak ada, aku menyalimi satu-satu dari mereka. Mungkin mereka diberi tahu oleh omku karna
ayah sudah tidak ada, makanya mereka datang ramai-ramai ke Rumah Sakit

Ayah dipindahkan keruangan lain untuk dibacakan yassin sebelum dimandikan. Setelah
dibacain yassin, ayah dipindahkan keruangan pemandian jenazah. Disitu aku menangis
kembali, karna tak tahan melihat ayah. Aku, ibu dan kakakku disuruh oleh salah satu petugas
yang memandikan jenazah ayah untuk ikut memandikan jenazahnya.

Setelah dimandikan, jenazah ayah pun di kafani dan diberi kapas di kedua lubang hidungnya.
Mukanya yang pucat,dingin dan memutih, aku tak kuat untuk melihatnya. Aku menghapus
airmata ku dan kembali menyium pipinya yang dingin untuk terakhir kalinya, dan aku berucap
pelan “semoga ayah tenang disana”.

Kemudian, jenazah ayah dibawa kerumah memakai mobil ambulans untuk disholatkan. Setelah
disholatkan jenazah ayah dibawa kerumah terlebih dahulu. Setelah itu aku dan sekeluarga
langsung berangkat ke Kuningan, Jawa Barat, dimana jenazah ayah akan dimakamkan, karna
keluarga dari ayah meminta untuk dimakamkan di Kuningan. Jenazah ayah dibawa oleh mobil
ambulans bersama ibu, akun dan sisanya memakai mobil pribadi. Aku izin untuk tidak masuk
sekolah karna ikut kepemakaman ayah.

Setelah sampai Kuningan, aku sudah melihat banyak sekali kerumunan orang-orang disekitar
keranda yang didalamnya terdapat jenazah ayah. Kami pun langsung bergegas ke pemakaman
karna keburu sore. Setelah sampai pemakaman, jenazah ayah langsung dimasukkan kedalam
lubang yang sangat gelap, setelah jenazah ayah masuh kedalam lubang, lubang itu pun ditutup
rapat dan diberi bunga-bunya yang amat wangsi sekali. Aku disitu beserta keluarga tidak bisa
berhenti menangis. Karna mersakan telah kehilangan seseorang yang sangat di sayangi. Disitu
kami membaca yassin bersama dan mendoakannya agar tenang di sisi ALLAH SWT.
“Untuk ayah tercinta yang lebih dulu pergi, tersenyumlah disurga.”

“Tetaplah menjadi ayah yang selalu memperhatikan, dan mendoakan anakmu ini walaupun
dari alam yang berbeda.”

“Aku yang ada disini akan selalu mendoakanmu.”

“Ayah, aku rindu”