Anda di halaman 1dari 14

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Masalah kesehatan darurat secara umum dapat dengan mudah dan
diidentifikasi karena kejadiannya sangat menonjol (naked eyes). Dengan
demikian, identifikasi masalah kesehatan darurat sangat mudah untuk
dilakukan. Misalnya, identifikasi dini menyangkut perlunya atau prediksi
kemungkinan akan terjadinya epidemic. Untuk melakukan adanya surveilans
yang mengikuti keberadaan dan penanggulangan keadaan yang mengarah
kepada epidemic. Selain itu, upaya mengidentifikasi masalah kesehatan darurat
dan sekaligus mengungkap faktor-faktor terkait dengan terjadinya masalah
maka epidemiologi berusaha melakukan penelitian atau dalam keadaan situasi
tertentu.
Melakukan investigasi itu maka diperlukansuatu sistem yang cepat.
Epidemiologi mengajukan beberapa metode untuk kejadian rapid assessment
misalnya dengan melakukan survey cepat. Bentuk suevei cepat ini, sesuai
namanya dilaksanakan dalam waktu yang relative singkat, sehingga tidak
mendalam memang harus bersifat praktis. Misalnya, terhadap gempa bumi,
dilakukan suatu survey cepat dalam suatu bentuk wyjud tersendiri berupa Rapid
Health Assessment untuk mengetahui yang terjadi pasca bencana dan
kebutuhan kesehatan yang berkaitan. Masalah yang diteliti adalah jumlah dan
jenis korban yang memiliki kerusakan-kerusakan yang terjadi, penyakit-
penyakit yang terjadi dan tindakan yang perlu segera dilakukan.

Epidemiologi merupakan ilmu pengetahuan terapan yang mempelajari


tentang timbulnya penyakit atau masalah kesehatan yang menimpa masyarakat.
dimana ilmu pengetahuan epidemiologi digunakan community health nursing

1
B. Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah dalam makalah berjudul “Epidemiologi Gawat


Darurat”, yaitu antara lain:
1. Jelaskan pengertian epidemiologi dalam kegawat darurat?
2. Jelaskan bagaimana epidemik penyakit pasca bencana?

C. Tujuan
1. Dapat mengetahui dan mengerti pengertian epidemiologi dalam
kegawat daruratan.
2. Dapat mengetahui dan mengerti bagaimana epidemic penyakit pasca
bencana alam.

D. Manfaat
1. Manfaat bagi Tim Penulis
Dapat menambah pengetahuan dan pengalaman dalam membuat karya
ilmiah dan menambah wawasan khususnya tentang Epidemiologi
kegawat daruratan dan ruang lingkupnya.
2. Manfaat bagi pembaca
Menjadi bahan masukan dalam menambah khasanah ilmu pengetahuan
terutama mengenai konsep epidemiologi kegawatan daruratan, ruang
lingkupnya dan mengerti epidemic penyakit pasca bencana.

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Definisi dan Sejarah Epidemiologi


Sejarah Perkembangan Ilmu Epidemilogi Menurut asal katanya
epidemiologi terdiri dari kata Epi = pada; Demos = penduduk / rakyat;
logos = ilmu, jadi epidemiologi adalah ilmu yang mempelajari hal-hal
yang terjadi pada populasi / penduduk (rakyat). Definisi ini merupakan
definisi yang sangat luas serta dapat diterapkan pada keadaan apapun
yang terjadi pada penduduk. Umumnya definisi ini mencakup hal yang
berkaitan erat dengan studi epidemi. Definisi lainnya menyebutkan
epidemiologi sebagai ilmu yang mempelajari penyebaran,
perkembangan atau perluasan suatu penularan penyakit di dalam suatu
kelompok penduduk atau masyarakat. Berkembangnya suatu keadaan
masalah yang dialami oleh penduduk tidak hanya penyakit menular,
namun juga penyakit tidak menular, penyakit yang terkait dengan gizi,
penyakit jiwa, kecelakaan lalu lintas, bencana alam peledakan
penduduk, dan lain-lain. Epidemiologi pada mulanya diartikan sebagai
studi tentang epidemi. Hal ini berarti bahwa epidemiologi hanya
mempelajari penyakit-penyakit menular saja tetapi dalam
perkembangan selanjutnya epidemiologi juga mempelajari penyakit-
penyakit non infeksi, sehingga dewasa ini epidemiologi dapat diartikan
sebagai studi tentang penyebaran penyakit pada manusia di dalam
konteks lingkungannya. Mencakup juga studi tentang pola-pola
penyakit serta pencarian determinan-determinan penyakit tersebut.
Dapat disimpulkan bahwa epidemiologi adalah ilmu yang mempelajari
tentang penyebaran penyakit serta determinan-determinan yang
mempengaruhi penyakit tersebut.

Dalam ilmu keperawatan dikenal istilah community health nursing


(CHN) atau keperawatan kesehatan masyarakat, dimana ilmu

3
pengetahuan epidemiologi digunakan CHN sebagai alat meneliti dan
mengobservasi pada pekerjaan dan sebagai dasar untuk intervensi dan
evaluasi literatur riset epidemiologi. Metode epidemiologi sebagai
standard kesehatan, disajikan sebagai alat untuk memperkirakan
kebutuhan masyarakat. Monitoring perubahan status kesehatan
masyarakat dan evaluasi pengaruh program pencegahan penyakit, dan
peningkatan kesehatan.
Riset/studi epidemiologi memunculkan badan pengetahuan (body of
knowledge) termasuk riwayat asal penyakit, pola terjadinya penyakit,
dan faktor-faktor resiko tinggi terjadinya penyakit, sebagai informasi
awal untuk CHN. Pengetahuan ini memberi kerangka acuan untuk
perencanaan dan evaluasi program intervensi masyarakat, mendeteksi
segera dan pengobatan penyakit, serta meminimalkan kecacatan.
Program utama pencegahan difokuskan pada menjaga jarak perantara
penyakit dari host/tuan rumah yang rentan, pengurangan kelangsungan
hidup agent, penambahan resistensi host dan mengubah kejadian
hubungan host, agent, dan lingkungan. Kedua, program mengurangi
resiko dan screening, ketiga : strategi mencegah pada pribadi perawat
denganbody of knowlwdge yang berasal dari riset epidemiologi, sebagai
dasar untuk pengkajian individu dan kebutuhan kesehatan keluarga dan
intervensi perencanaan perawatan.
Epidemiologi merupakan suatu ilmu yang mempelajari pola
kesehatan dan juga penyakit yang disertakan juga dengan faktor yang
terkait di tingkat populasi. Epidemiologi adalah suatu model
cornerstone penelitian kesehatan masyarakat dan juga membantu
menyebarkan serta juga menginformasikan kedokteran yang berbasis
eveidence based medicine sebagai pengidentifikasian faktor risiko
penyakit serta juga menentukan pendekatan penanganan khusus yang
optimal. Untuk lebih jelasnya dibawah ini merupakan beberapa
pengertian epidemiologi yang dikemukakan oleh beberapa para ahli.

4
Epidemiologi merupakan suatu paham ilmu yang mempelajari
penyebaran serta juga Determinan penyakit masyarakat keadaan
kesehatan yang ada pada masyarakat dan penerapannya ialah sebagai
pengendalian penanganan masalah kesehatan. Epidemiologi tersebut
juga bisa di sebut dengan istilah Riset. Center Of Disease Control
(2002)

B. Epidemiologi dalam kegawadaruratan


Epidemiologi dalam kegawadaruratan merupakan bagian dari ilmu
epidemiologi yang merupakan pendekatan sistematis yang dipakai untuk
mendiagnosis masalah kesehatan di masyarakat yang mengalami kondisi
gawat darurat sehingga diharapkan masalah tersebut dapat ditanggulangi
dengan segera. Di masa lampau epidemiologi hanya terbatas untuk
mempelajari keadaan epidemi (wabah) dan inipun hanya terhadap wabah
penyakit-penyakit infeksi saja. Dewasa ini epidemiologi dipakai untuk
mempelajari segala aspek kehidupan. Dipakai untuk mempelajari frekuensi,
distribusi dan faktor-faktor penyebab penyakit maupun bukan penyakit,
penyakit infeksi maupun non infeksi dalam segala situasi sampai dengan
keadaan bencana.

Frekuensi dan distribusi penyakit/kejadian pada masyarakat


berdasarkan beberapa variabel pada manusianya sendiri (PERSON), dimana
penyakit tersebut diketemukan (PLACE), dan kapan terjadi (TIME) serta
faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya penyakit tersebut,
mengemukakan alasan-alasan ilmiah, kenapa pada populasi, tempat dan
waktu tertentu sesuatu penyakit lebih tinggi atau lebih rendah frekuensinya,
kemudian mencari jalan untuk menanggulangi atau mencegah penyakit
tersebut. Disamping itu, dalam Epidemiologi kegawadaruratan akan dibahas
lebih kepada penerapan epidemiologi dalam situasi gawat darurat untuk
membantu dalam mengatasi masalah kesehatan masyarakat secara nyata .

5
Dalam epidemiologi, ada beberapa masalah kesehatan yang biasanya
memerlukan penyelidikan lebih lanjut. Masalah kesehatan ini mungkin saja
berbeda antara daerah yang satu dengan yang lain atau penyakit yang satu
dengan yang lain. Faktor-faktor yang memengaruhi epidemiologi adalah:

 Paparan lingkungan, misalnya logam berat, timbal, dan polusi-polusi


udara yang dapat memicu asma.
 Penyakit infeksi menular, misalnya influenza dan pneumonia.
 Penyakit tidak menular, misalnya jenis kanker tertentu atau bayi lahir
dengan cacat bawaan.
 Cedera, karena adanya peningkatan masalah sosial seperti kasus
kekerasan dalam rumah tangga atau meningkatnya kriminalitas di
masyarakat.

Masalah kesehatan darurat secara umum dapat dengan mudah dan


diidentifikasi karena kejadiannya sangat menonjol (naked eyes). Dengan
demikian, identifikasi masalah kesehatan darurat sangat mudah untuk
dilakukan. Misalnya, identifikasi dini menyangkut perlunya atau
prediksi kemungkinan akan terjadinya epidemic. Untuk melakukan
adanya surveilans yang mengikuti keberadaan dan penanggulangan
keadaan yang mengarah kepada epidemic. Selain itu, upaya
mengidentifikasi masalah kesehatan darurat dan sekaligus mengungkap
faktor-faktor terkait dengan terjadinya masalah maka epidemiologi
berusaha melakukan penelitian atau dalam keadaan situasi tertentu.
Sebagai sampel contoh pada saat bencana di Sulawesi yaitu bahwa
sebanyak 4438 orang dalam kondisi gawat darurat ( Luka berat /rawat
Inap) Data BNPB 7 November 2018. Selain itu kematian akibat cidera
juga semakin marak .

Gambaran umum epidemiologi kasus trauma


Kematian akibat cedera diproyeksikan meningkat dari 5,1 juta
menjadi 8,4 juta

6
(9,2% dari kematian secara keseluruhan) dan diestimasikan
menempati peringkat ketiga disability adjusted life years (dalys) pada
tahun 2020. Masalahcedera memberikan kontribusi pada kematian
sebesar 15%, beban penyakit 25% dan kerugian ekonomi 5% growth
development product (GDP).
Di indonesia,kerugian ekonomi akibat cedera khususnya untuk lalu
lintas diperkirakan sebesar 2,9% pendapatan domestik bruto (PDB).
Kecelakaan lalu lintas merupakan penyebab terbanyak terjadinya cedera
di seluruh dunia.
Kecelakaan lalu lintas menempati urutan ke-9 pada DALYdan
diperkirakan akan menempati peringkat ke-3 di tahun 2020. Sedangkan
di negara berkembang urutan ke-2.
Cedera akibat kecelakaan lalu-lintas adalah penyebab utama
kematian dan disabilitas (ketidakmampuan) secara umum terutama di
negara berkembang .

Gambaran umum kasus trauma akibat kecelakaan lalu lintas


Kejadian kecelakaan lalu lintas meningkat dalam jumlah maupun
jenisnyadengan perkiraan angka kematian dari 5,1 juta pada tahun 1990
menjadi 8,4 juta pada tahun 2020 atau meningkat sebanyak 65% (Depkes,
2006).

Berdasarkan WHO, setiap harinya hampir 16000 orang meninggal


karena cedera (injury)dan beberapa ribu orang lagi mengalami cacat
permanen.Pada tahun 1998, kecelakaan di jalan raya merupakan penyebab
utama kejadian kematian di dunia.Pada tahun 2002 kecelakaan kendaraan
bermotor ini menempati peringkat sebelas dari data penyebab kematian di
dunia.

Dari analisis yang dilakukan WHO pada tahun 2002, pada negara –
negara yangmempunyai tingkat kapita yang tinggi, kejadian kecelakaan di
jalan raya menempati urutan ke–14 dari data penyebab kematian.
Sedangkan pada negara– negara yang mempunyai tingkat kapita rendah,

7
kecelakaan di jalan raya menempati urutan ke – 10 dari data penyebab
kematian.

Laporan WHO menyatakan bahwa saat ini tingkat kecelakaan


transportasi jalan di dunia telah mencapai 1,2 juta korban meninggal dan
lebih dari 30 juta korban luka-luka/cacat akibat kecelakaan lalu lintas per
tahun (2.739 jiwa dan luka –luka 63.013 jiwa perhari).Berdasarkan data
Riskesdes tahun 2007, didapatkan bahwa hasil analisis menunjukkan bahwa
proporsi cedera akibat lalu lintas secara nasional sebesar 27,0%.5 Menurut
wilayah provinsi terlihat bahwa proporsi cedera tertinggi terdapat di
Provinsi Yogyakarta (44,7%) dan terendah di Provinsi Nusa Tenggara
Timur (15,1%). Terdapat 17 provinsi yang mempunyai angka proporsi
cederanya melebihi angka nasional. Menurut kelompok umur, cedera akibat
kecelakaan lalu lintas mayoritas dialami oleh kelompok umur dewasa (1559
tahun) yaitu sebesar 38,8% dan untuk masing-masing untuk kelompok
umur. Selanjutnya diikuti oleh proporsi cedera akibat kecelakaan lalu lintas
pada lanjut usia (lansia) yaitu 13,3% dan anak-anak sekitar 11,3 %. Cedera
akibat kecelakaan lalu lintas lebih tinggi pada laki-laki yaitu 31,9%
dibandingkan dengan perempuan yaitu sekitar 19,8%. Adapun menurut
tingkat pendidikan, cedera akibat kecelakaan lalu lintas menunjukkan
bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan maka proporsi cedera makin
besar.

Berdasarkan pada status pekerjaan, proporsi cedera karena


kecelakaan lalu lintas paling banyak ditemukan pada yang bekerja sebagai
pegawai yaitu 55%, wiraswasta sekitar 46,9% dan pekerja lainnya sekitar
42,7%. Menurut tipe daerah, proporsi kejadian cedera akibat kecelakaan
transportasi lebih tinggi pada wilayah perkotaan yaitu sebesar 30,4%
dibandingkan dengan di pedesaan yaitu sekitar 24,2%. Menurut status
ekonomi berdasarkan tingkat pengeluaran per kapita menunjukkan semakin
tinggi status ekonomi maka semakin tinggi pula proporsi cedera akibat
kecelakaan lalu lintas.

8
Di bali, berdasarkan data badan pusat statistik provinsi bali
menunjukkan bahwa sejak tahun 2007-2011, kecelakaan lalu lintas di Bali
mengalami peningkatan dari tahun ke tahun, tercatat pada tahun 2007: 1419;
2008: 1469; 2009: 1793; 2010: 2441; 2011: 3003.6 Menurut wilayah
kabupaten/kota terlihat bahwa jumlah kejadian kecelakaan tertinggi
terdapat di kabupaten Denpasar (832) dan terendah ditemukan di kabupaten
bangli (41). Akibat dari kecelakaan tersebut jumlah kejadian meninggal
sejak tahun 2007 – 2011 tercatat pada tahun 2007:589; 2008: 545; 2009:
569; 2010: 606: 2011: 601.6Akibat kecelakaan lalu lintas juga
menyebabkan luka – luka, tercatat kejadian luka barat sejak tahun 2007-
2012 mengalami peningkatan, yaitu pada tahun 2007: 901; 2008: 933;2009:
1012; 2010: 1370; 2011: 1555, sedangkan kejadian luka ringan pada tahun
2007: 1153; 2008: 1177; 2009: 1768; 2010: 2449; 2011: 3278.
Menurutwilayah kabupaten/kota terlihat bahwa jumlah kejadian luka berat
dan ringan berturut-turut akibat kecelakaan tertinggi terdapat di Kabupaten
Denpasar (612) dan terendah ditemukan di Kabupaten Bangli.

Ada beberapa cara mengatasi masalah epidemiologi dalam


kedaruratan :
1. Pertolongan terhadap kelaparan
Para ahli epidemiologi telah mengembangkan survei baru dan
metode untuk secara cepat menilai status nutrisi penduduk yang
mengungsi& dan usaha pertolongannya sebagai prioritas
utama% Selanjutnya memonitor status nutrisi populasi sebagai
respon atas kualitas dan tipe makanan yang dibagikan%
perkiraaan epidemiologi secara cepat membuktikan ketidak
tersediaan secara optimal dari distribusi makanan sementara
kondisi kesehatan terus/menerus berubah% Sejak itulah &
pengawasan nutrisi dan distribusi makanan menjadi bagian dari
usaha pertolongan penanggulangan kelaparan & terhadap
penduduk yang mengungsi

9
2. Kontrol Epidemik : Kantor pengaduan
Para epidemiologis selanjutn'a mesti terlibat dalam aspek lain
kondisi pasca bencana& yaitu : Antisipasi berkembangnya
desas/desus tentang penyebaran - mewabahnya penyakit kolera
ataupun typus% untuk itulah sebuah kantor pengaduan dapat
memberikan fungsi yang amat penting dalam memonitor
berkembangnya issu/issu yakni dengan menyelidiki yang
benar/benar bermanfaat serta kemudian mengin.ormasikan
kepada khalayak umum akan bahaya yang mungkin terjadi%
Konsep ini amat berman.aat tidak hanya untuk penduduk terkena
musibah dinegara/negara berkembang tetapi juga terhadap
lingkungan kota& negara/negara industry
3. Surveilans pencegahan Kematian& Sakit dan cedera
Masalah kesehatan yang berkaitan dengan bencana besar
biasanya lebih luas& tidak hanya ketakutan terhadap penyakit-
penyakit wabah yang mungkin terjadi & namun sering diukur
berapa jumlah orang yang meninggal & terluka parah atau
berapa banyak yang jatuh sakit
4. Surveilans Kebutuhan perawatan Kesehatan
Pada bencana yang terkait dengan jumlah korban yang
cukup banyak dengan cedera yang berat contoh : ledakan&
tornado, ataupun penyakit yang parah kecelakaan nuklir&
epidemi,& maka kemampuan untuk mencegah kematian dan
menurunkan kesakitan yang berat akan sangat tergantung pada
pera)atan medis yang tepat dan adekuat memadai, atau
tergantung pada pengiriman korban pada pusat-pusat layanan
yang menyediakan peralatan medis yang tepat.

C. Epidemik Penyakit Pasca Bencana


Bencana alam yang terjadi selalu menyisakan kepedihan yang
mendalam. Baik berupa gempa bumi, tanah longsor, banjir, gunung meletus,
ataupun tsunami. Banyak korban nyawa, fisik, dan harta akibat bencana

10
yang terjadi. Bencana menyebabkan korban yang selamat, kehilangan
keluarga, sahabat, harta, bahkan tempat tinggal. Bencana ini selanjutnya
menyebabkan berbagai masalah kesehatan. Menurut Ketua Umum PB IDI
Fachmi Idris, secara umum, masalah kesehatan utama setelah bencana
adalah trauma fisik seperti luka dan patah tulang. Kemudian, selama dan
sesudah masa itu korban bencana yang selamat dan tinggal di pengungsian
juga terancam penyakit jika upaya antisipasinya tidak memadai. Berbagai
penyakit yang muncul pascabencana alam antara lain malaria, ISPA, diare,
leptospirosis, kolera, dan infeksi kulit.

Pada umumnya masalah kesehatan pasca bencana dapat dibagi


dalam 3 fase:
1. Penyakit akut pasca bencana
Yaitu penyakit yang berhubungan langsung dengan bencana yang
terjadi. Misalnya, kasus gempa bumi di Padang tanggal 30 September
2009, penyakit yang berhubungan langsung dengan gempa adalah
cedera akibat reruntuhan. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa
cedera utama akibat gempa adalah cedera kepala dan patah tulang .
2. Penyakit ikutan pada beberapa hari-minggu pasca bencana
1) Malaria
Penyakit malaria dapat timbul misalnya saat
masyarakat berada di pengungsian ( tenda-tenda darurat ),
nyamuk anopheles bisa menginfeksi korban-korban
bencana.
2) DBD
Misalnya banjir, air yang tergenang dapat
menyebabkan bersarangnya nyamuk aides aigypti.
Kemudian menginfeksi korban-korban bencana
3) Diare dan penyakit kulit
Penyakit ini bisa menginfeksi korban bencana karena sanitasi
yang jelek. Misalnya kuman-kuman penyebab diare seperti ;
Vibrio kolera, Salmonella dysentriae pada genangan banjir,

11
diare akibat kurangnya asupan air bersih karena saluran air
bersih dan sanitari yang rusak
4) ISPA ( Infeksi Saluran Pernapasan Atas )
ISPA terjadi karena masuknya kuman atau mirkoorganisme
ke dalam tubuh manusia dan berkembang biak sehingga
menimbulkan gejala penyakit
5) Leptospirosis
Leptospirosis adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi
bakteri leptospira berbentuk spiral dan hidup di air tawar.
Penyakit ini timbul karena terkontaminasinya air oleh air seni
hewan yang menderita leptospirosis. Biasanya penyakit ini
terdapat pada korban banjir.
6) Tipes
Penyakit tipes sebenarnya juga berkaitan erat dengan faktor
daya tahan tubuh seseorang. Oleh sebab itu, untuk mencegah
terkena penyakit tipes, masyarakat harus menjaga kondisi
tubuh dengan makan makanan bergizi dan jangan sampai
kelelahan
3. Masalah kesehatan mental akibat bencana
Penyakit psikologis / Trauma berkepanjangan akibat
reaksi stres akut saat bencana bisa menetap menjadi
kecemasan yang berlebihan. Akibat kehilangan rumah,
kehilangan anggota keluarga atau bisa juga trauma karena
ketakutan yang mendalam.

12
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Epidemiologi dalam kegawadaruratan merupakan bagian dari ilmu
epidemiologi yang merupakan pendekatan sistematis yang dipakai untuk
mendiagnosis masalah kesehatan di masyarakat yang mengalami kondisi
gawat darurat sehingga diharapkan masalah tersebut dapat ditanggulangi
dengan segera .

Dalam epidemiologi, ada beberapa masalah kesehatan yang biasanya


memerlukan penyelidikan lebih lanjut. Masalah kesehatan ini mungkin saja
berbeda antara daerah yang satu dengan yang lain atau penyakit yang satu
dengan yang lain. Faktor-faktor yang memengaruhi epidemiologi adalah:

 Paparan lingkungan, misalnya logam berat, timbal, dan polusi-polusi


udara yang dapat memicu asma.
 Penyakit infeksi menular, misalnya influenza dan pneumonia.
 Penyakit tidak menular, misalnya jenis kanker tertentu atau bayi lahir
dengan cacat bawaan.
 Cedera, karena adanya peningkatan masalah sosial seperti kasus
kekerasan dalam rumah tangga atau meningkatnya kriminalitas di
masyarakat.

B. Saran

Setelah memahami tentang Epidemiologi diharapkan


mahasiswa mampu menerapkan ilmu Epidemiologi dalam kehidupan
sehari – hari. Dikarenakan bahayanya penyakit menular dan penyakit
tidak menular diharapkan masyarakat mampu mencegahnya

13
DAFTAR PUSTAKA
Achmad, S., Aziz, M.A., Aftab, A., Ullah, Z.,Ahmad,M.A.,Mustan,A. (2017).
Epidemiology of dengue in Pakistan, present prevalence and guidelines for future
control. International Journal of Mosquito Research. Vol.4, No.6, 2532.
Ariani, A.P. (2016). DBD Demam Berdarah Dengue. Yogyakarta: Nuha Medika
Dinkes Prov. DKI Jakarta. (2017). Surveilans Epidimiologi DKI Jakarta. Jakarta.
Irianto, K. (2014). Epidimiologi Penyakit Menular & Tidak Menular Panduan
Klinis. Bandung: CV Alfabeta.
Ryadi Slamet, A.L., Wijayanti, T. (2012). Dasar-Dasar Epidemiologi. Jakarta:
Salemba Medika.

14