Anda di halaman 1dari 4

Sebelum lanjut ke ceritanya, aku mau bilang terimakasi untuk sudah memberi bintang dan komentarnya.

Semoga kalian suka dengan cerita ini. Jangan lupa bintang dan komentarnya ya
Kuyy langsung aja ya.

Sebuah mobil sport terparkir rapi di depan café “Pallate”. Cowok yang tak lain adalah pengemudi dari
mobil itu turun dan membuka pintu yang berada disamping pengemudi. Seorang cewek cantik turun dari
mobil itu. Iya Cantik. Cantik banget malah. Dengan hidung mancung, kaki jenjang, kulit putih bersih,
bibir mungil. Bahkan dengan make up seadanya itu pun, cewek itu benar-benar cantik.
Cowok itupun memegang tangan cewek itu dengan posesif. Terlihat jelas bahwa mereka berpacaran.
Pasangan kekasih yang sangat cocok. Gimana nggak, cowoknya juga cakep banget bray. Cowok itu cakep
banget. Wajahnya benar-benar tampak tegas dengan hidung mancung, putih bersih, ditambah lesung pipi
yang melekat erat dipipi cowok itu ketika dia tersenyum. Serasi banget kan.
Sesampai mereka dimeja kosong café itu, cowok itu menarik kursi dan mempersilahkan pacarnya itu
untuk duduk. Lalu cowok itu duduk di hadapannya.
“Kamu mau pesen apa ay?” tanya cowok itu dengan suara berat yang terkesan seksi itu. Nggak. Nama
cewek itu bukan ay tapi itu adalah singkatan dari kata sayang jadi ay.
“aku mau pesen steak yang medium aja sama orange jus” jawab cewek itu dengan senyumnya. Keliatan
banget kalo dia sangat bahagia saat ini. Senyumnya tak pernah luntur dari wajahnya itu.
“oke”jawab cowok itu dengan menampilkan lesung pipinya karena dia tersenyum saat ini. Sangat manis.
Bisa diabetes author ini.
“Steaknya yang medium dua, orange jus satu dan americanonya satu”lanjutnya kepada pelayan yang ada
disampingnya saat ini.
“Baik saya ulangi. Steak medium dua, orange jus satu dan Americano satu. Saya permisi dulu”ucap
pelayan itu setelah mendapat anggukan dari cowok itu.
Tak sedikit pengunjung yang menatap dan mengagumi pasangan itu. Ada yang bilang kalo cewek itu
beruntung banget. Ada juga yang bilang cowok itulah yang sangat beruntung. Banyak banget pengunjung
bahkan pelayan yang ada di café itu yang merasa iri.
Sesaat kemudian pesanan merekapun datang. Cowok itu tampak serius memotong steak yang ada
didepennya sambil sesekali ngeliatin senyuman manisnya kepada pacarnya itu. Setelah selesai memotong
steak, cowok itupun menukar steaknya yang sudah dia potong kecil-kecil dengan steak pacarnya yang
baru dipotong beberapa itu.
“Makasi sayang”ucap cewek itu sambil malu-malu. Pipinya terlihat merona. Ini bukan pertama kalinya
cowok didepannya ini buat pipinya blushing. Memang mereka baru pacaran satu minggu. Tapi, cowok
dihadapannya ini sudah sangat ahli membuat pipinya blushing seperti sekarang. Iya semua ulah pacar
dihadapannya ini.
“Hmmm sama-sama ay” jawab cowok itu lagi-lagi sambil tersenyum dan mengelus puncak kepala
pacarnya itu.
Oh ayolah. Siapapun yang bakalan liat ini pasti akan bilang kalo mereka adalah pasangan yang cocok dan
sangat romantis dan pasti banyak juga cewek cewek yang akan bilang kalo cowok itu terlampau
sempurna. Udah cakep pake banget, peka pake banget, kaya pake banget, romantic pake banget, pinter
pake banget. Pokoknya semua pake banget. Tapi inget ya, nggak ada manusia yang sempurna ataupun
terlampau sempurna termasuk cowok ini.
Mereka berdua tampak makan dengan santai sambil diiringi candaan pendek. Hingga handphone cowok
itu berdering dan menampilkan *bela negara* pada layar hapenya. Nggak butuh waktu lama cowok
itupun langsung menjawab telpon itu tanpa ragu.
“Halo mbul. Bel-“ pertanyaan cowok itu terpotong karena mendengar isakan tangis dari cewek
diseberang sana. “kamu dimana?”lanjutnya dengan wajah yang kentara sekali kalo dia sangat khawatir.
“dirumah. Aku butuh kamu”jawab cewek diseberang sana dengan susah payah sambil diiringi isakan.
“15 menit lagi aku sampe”ucap cowok itu.
Ia tau dan sangat sadar kalo ada cewek yang notabene adalah pacarnya saat ini. Tapi dia tidak
menghiraukan itu. Baginya cewek diseberang sanalah yang lebih penting. Bahkan jauh lebih penting
daripada cewek yang ada dihadapannya ini.
“Tadi Bella telfon dia butuh aku sekarang kamu pulang pake taksi ya ini uangnya makananya aku yang
bayar sekarang”ucap cowok itu dalam satu tarikan nafas. Dia terlalu terburu-buru saat ini. Lalu cowok itu
meletakkan uang 200 ribuan di atas meja.
“Tapi kan ini udah malem. Masa aku pulang pake taks-“ucapannya terpotong karena pacarnya itu sudah
pergi dari hadapannya. Wajahnya sudah merah padam bercampur kaget. Ini bukan pertama kalinya dia
ditinggal pacarnya hanya karena sahabat pacarnya itu. Dipikirannya sekarang bagaimana bisa pacarnya
itu meninggalkan dia sendiri di café ini saat malam. Setidaknya pacarnya itu harus menemaninya bukan?.
Atau bahkan mengantarnya pulang dulu. Cewek itupun menangis. Dia sudah lelah diperlakukan seperti
ini. Oke baiklah. Kan author udah bilang, nggak ada manusia yang sempurna. Cowok itu terlalu ahli
membuat cewek disekitarnya menangis.
***
Sebuah mobil sport terparkir dihalaman rumah mewah. Cowok itu turun dengan tergesa gesa.
“MANA SI BRENGSEK ITU?! BRENGSEK ITU BUAT ULAH APA LAGI?!”teriak cowok itu
Tanpa menjawab pertanyaan cowok yang merupakan sahabatnya itu, cewek itu langsung berhambur ke
pelukan cowok itu. Mengerti akan situasi saat ini, cowok itupun diam dan mengelus rambut cewek itu.
Cowok itu sedikitpun nggak ngerasa jijik dengan bajunya yang saat ini basah karna air mata dan ingus
cewek itu. Dikepalanya hanya satu bagaimana cara menenangkan sahabatnya ini dan membuat
sahabatnya ini tersenyum kembali. Bohong kalo cowok itu nggak ngerasa nyaman. Dia sangat merasa
nyaman dan hangat tentunya karena pelukan itu. Setelah beberapa saat bertahan dengan posisi itu, cewek
bernama Bella itupun melepas pelukannya. Mereka duduk di sofa itu.
“Aku tadi liat dia pelukan sama cewek lain”ucap Bella dengan sedikit serak
“Kan aku udah bilang, putusin dia. Dia nggak baik buat kamu. Aku nggak seneng ya ngeliat kamu
nangisin cowok brengsek kaya dia. Udah berapa kali dia nyakitin kamu. Kok kamu malah mau aja balik
lagi sama dia Bel” ucap cowok itu panjang lebar, tangannya sudah terkepal menahan amarahnya. Ingin
rasanya dia memukul habis laki-laki brengsek itu jika dia ada disini saat ini
“Evans, kamu itu nggak ngerti. Aku bener bener cinta sama dia. Dia segalanya. Kamu yang playboy gonta
ganti cewek mana ngerti apa yang aku rasain sekarang. Kamu kan nggak pernah ngerasain cinta tulus
sama orang” kesal Bella kepada cowok dihadapannya yang bernama Evans karena dia selalu saja
disalahkan. Nggak sadar apa ini cowok dia nggak ada bedanya sama cowok yang dia sebut itu.
“Nggak. Kamu salah Bel. Aku tau rasanya jatuh cinta sama orang makanya aku marah kalo kamu
disakitin sama dia. Lagipula siapa yang buat aku jadi playboy gini? Ini demi kamu. Demi ngelupain
perasaan ke kamu. Bego. Dasar cewek nggak peka”. Batin Evans
“Tapi aku nggak suka ya ngeliat kamu nangis begini. Dia nggak pantes kamu tangisin” jawab Evans
kesal.
“Aku butuh kamu vans” ucap Bella yang tidak ingin berdebat panjang dengan sahabatnya ini. Tangisnya
pun pecah kembali dipelukan Evans.
Baik. Mari aku perkenalkan cowok yang bernama Evans ini.
Nama Lengkap : Evans Rhys Pratama
Nama Panggil : Evan, Vans
Ciri-ciri : Tubuh tegap, Hidung mancung kaya prosotan, Kulit putih mulus, wajahnya tegas, Tatapannya
tajam pokoknya cakep nya setara dengan dewa. Kegantengannya tak terdefinisikan.
Hobi : Nyanyi, dance, basket
Dia seorang playboy. Sebenarnya dia paling anti dan nggak mau nyakitin cewek. Karena kalo dia nyakitin
cewek sama aja kaya dia nyakitin mamanya. Tapi ini adalah cara terakhir yang bisa dia lakuin untuk
berusaha ngelupain perasaannya sama Bella. Bella sahabatnya dari kecil. Mereka kenal karena mereka
tetanggaan. Sering main bareng sampe susah banget kalo mau di pisahin. Sebenarnya alasan mereka
berteman baik adalah karena Bela selalu membela Evans kalo lagi di buli di sekolahannya. Mungkin dari
sanalah perasaan tak wajar ini muncul hingga saat ini. Evans menyimpan perasaannya bukan hanya
karena tak ingin kehilangan sosok Bela yang sangat dia perlukan dalam hidupnya, tapi juga karena dia
ingin menjaga persahabatnnya dengan Arcel pacar Bela sekaligus sahabat dia dan Bela. Toh
sebagaimanapun Arcel membuat Bela menangis. Ujung-ujungnya dia juga yang akan membuat Bela
tertawa. Sama seperti dia saat ini. Dia menangis karena Bela. Tapi Bela jugalah alasannya tertawa.
Wajah Bela tampak tenang. Deru nafasnya mulai teratur. Bela sudah tidur. Perlahan tanpa ingin
membangunkan Bela, Evans dengan hati-hati membawa dan menidurkan Bela di ranjang kamar Bela.
Evans pun keluar kemudian mengangkat telfon yang sudah ntah berapa kali telfon itu bordering.
“Kenapa” ujar Evans to the point
“Kenapa kamu bilang? Aku udah telfon kamu ratusan kali dan sekarang waktu kamu jawab kenapa kamu
bilang?” Jelas sekali sang penelfon sedang kesal dan marah tentunya.
“Ya trus aku harus bilang apa hmm?” tanya Evans yang sudah mulai jengah dengan pacarnya itu. Iyap,
yang menelfon Evans saat ini adalah pacarnya yang tadi dia tinggal di café.
“Aku heran ya sama kamu. Aku ditinggal di café sendirian. Disuruh pulang sendiri pake taxi. Kamu kira
aku nggak punya hati? Ini bukan pertama, kedua atau pun ketiga kali kamu udah lakuin ini keaku van”
jawab cewek itu
“Ya kan karna udah sering harusnya kamu sadar dong. Ya inilah aku. Sifat aku ya gini. Harusnya kamu
ngerti dan terima ajalah” ucap Evans yang sudah lelah. “Belum selesai kesel gua sama Arcel, ini cewek
malah nambah beban pikiran gua aja sih” batin Evans
“Kamu itu sayang nggak sih sama aku. Kamu lebih milih dia daripada aku. Kalo ka-“
“Oke kita putus. Itu kan yang lo mau bilang?! Udah ya. Kita putus” potong Evans dan langsung
mematikan telfon itu. Dia sudah sangat lelah. Batinnya meronta ingin di bebaskan
“Sampai kapan gua harus kaya gini. Berapa cewek yang harus gua sakitin demi gua bisa lupain
perasaan gua ini” batin Evans. Dia pun mengusap kepalanya kasar.