Anda di halaman 1dari 22

LAPORAN PENDAHULUAN

ABSES SUBMANDIBULA

Disusun Oleh
FAJAR ARDIAN AJI PRADANA

(201902040042)

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI NERS


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PEKAJANGAN PEKALONGAN
2019
LAPORAN PENDAHULUAN ABSES MANDIBULA

A. Definisi
Abses adalah infeksi kulit dan subkutis dengan gejala berupa kantong berisi nanah.
(Siregar, 2014). Sedangkan abses mandibula adalah abses yang terjadi di
mandibula. Abses dapat terbentuk di ruang submandibula atau salah satu
komponennya sebagai kelanjutan infeksi dari daerah leher. (Smeltzer dan Bare,
2011)
Abses adalah kumpulan tertutup jaringan cair, yang dikenal sebagai nanah, di suatu
tempat di dalam tubuh. Ini adalah hasil dari reaksi pertahanan tubuh terhadap
benda asing (Mansjoer A, 2000). Abses adalah tahap terakhir dari suatu infeksi
jaringan yang diawali dengan proses yang disebut peradangan (Bambang, 2005).
Abses adalah infeksi kulit dan subkutis dengan gejala berupa kantong berisi nanah.
(Siregar, 2004). Sedangkan abses mandibula adalah abses yang terjadi di
mandibula. Abses dapat terbentuk di ruang submandibula atau salah satu
komponennya sebagai kelanjutan infeksi dari daerah leher. (Smeltzer dan Bare,
2001)
B. Etiologi
Menurut Siregar (2004) suatu infeksi bakteri bisa menyebabkan abses melalui
beberapa cara antara lain:
1. Bakteri masuk kebawah kulit akibat luka yang berasal dari tusukan jarum yang
tidak steril
2. Bakteri menyebar dari suatu infeksi dibagian tubuh yang lain
3. Bakteri yang dalam keadaan normal hidup di dalam tubuh manusia dan tidak
menimbulkan gangguan, kadang bisa menyebabkan terbentuknya abses.
Menurut Hardjatmo Tjokro Negoro, PHD dan Hendra Utama, (2011), abses
mandibula sering disebabkan oleh infeksi didaerah rongga mulut atau gigi.
Peradangan ini menyebabkan adanya pembengkakan didaerah submandibula yang
pada perabaan sangat keras biasanya tidak teraba adanya fluktuasi. Sering
mendorong lidah keatas dan kebelakang dapat menyebabkan trismus. Hal ini
sering menyebabkan sumbatan jalan napas. Bila ada tanda-tanda sumbatan jalan
napas maka jalan napas hasur segera dilakukan trakceostomi yang dilanjutkan
dengan insisi digaris tengah dan eksplorasi dilakukan secara tumpul untuk
mengeluarkan nanah. Bila tidak ada tanda- tanda sumbatan jalan napas dapat
segera dilakukan eksplorasi tidak ditemukan nanah, kelainan ini disebutkan
Angina ludoviva (Selulitis submandibula). Setelah dilakukan eksplorasi diberikan
antibiotika dsis tinggi untuk kuman aerob dan anaerob.
Abses bisa terbentuk diseluruh bagian tubuh, termasuk paru-paru, mulut,
rektum, dan otot. Abses yang sering ditemukan didalam kulit atau tepat dibawah
kulit terutama jika timbul diwajah

C. Patofisiologi
Jika bakteri menyusup kedalam jaringan yang sehat, maka akan terjadi infeksi.
Sebagian sel mati dan hancur, meninggalkan rongga yang berisi jaringan dan se-
sel yang terinfeksi. Sel-sel darah putih yang merupakan pertahanan tubuh dalam
melawan infeksi, bergerak kedalam rongga tersebut, dan setelah menelan
bakteri.sel darah putih akan mati, sel darah putih yang mati inilah yang membentuk
nanah yang mengisis rongga tersebut. Akibat penimbunan nanah ini, maka
jaringan disekitarnya akan terdorong jaringan pada akhirnya tumbuh di sekeliling
abses dan menjadi dinding pembatas. Abses hal ini merupakan mekanisme tubuh
mencegah penyebaran infeksi lebih lanjut jika suatu abses pecah di dalam tubuh
maka infeksi bisa menyebar kedalam tubuh maupun dibawah permukaan kulit,
tergantung kepada lokasi abses.
Menurut FKUI (2010), antibiotika dosis tinggi terhadap kuman aerob dan anaerob
harus diberikan secara parentral. Evaluasi abses dapat dilakukan dalam anasksi
lokalal untuk abses yang dangkal dan teriokalisasi atau eksplorasi dalam narkosis
bila letak abses dalam dan luas. Insisi dibuat pada tempat yang paling berfluktuasi
atau setinggi 05 tiroid, tergantung letak dan luas abses. Pasien dirawat inap sampai
1-2 hari gejala dan tanda infeksi reda. Suatu abses seringkali membaik tanpa
pengobatan, abses akan pecah dengna sendirinya dan mengeluarkan isinya.kadang
abses menghilang secara perlahan karena tubuh menghancurkan. infeksi yang
terjadi dan menyerap sisa-sisa infeksi, abses pecah dan bisa meninggalkan
benjolan yang keras. Untuk meringankan nyeri dan mempercepat penyembuhan,
suatu abses bisa ditusuk dan dikeluarkan isinya. Suatu abses tidak memiliki aliran
darah, sehingga pemberian antibiotik biasanya sia-sia Antibiotik biasanya
diberikan setelah abses mengering dan hal ini dilakukan untuk mencegah
kekambuhan. Antibiotik juga diberikan jika abses menyebarkan infeksi kebagian
tubuh lainnya.
D. PATHWAYS
E. Manifestasi Klinis
Menurut Smeltzer dan Bare (2010), gejala dari abses tergantung kepada lokasi dan
pengaruhnya terhadap fungsi suatu organ saraf. Gejalanya bisa berupa :
1. Nyeri
2. Nyeri tekan
3. Teraba hangat
4. Pembengakakan
5. Kemerahan
6. Demam
Suatu abses yang terbentuk tepat dibawah kulit biasanya tampak sebagi
benjolan. Adapun lokasi abses antar lain ketiak, telinga, dan tungkai bawah. Jika
abses akan pecah, maka daerah pusat benjolan akan lebih putih karena kulit
diatasnya menipis. Suatu abses di dalam tubuh, sebelum menimbulkan gejala
seringkali terlebih tumbuh lebih besar. Abses dalam lebih mungkin menyebarkan
infeksi keseluruh tubuh.
Adapun tanda dan gejala abses mandibula adalah nyeri leher disertai
pembengkakan di bawah mandibula dan di bawah lidah, mungkin berfluktuasi.

F. Pemeriksaan Diagnostik
Menurut Siregar (2004), abses dikulit atau dibawah kulit sangat mudah
dikenali. Sedangkan abses dalam sering kali sulit ditemukan. Pada penderita abses,
biasanya pemeriksaan darah menunjukkan peningkatan jumlah sel darah putih.
Untuk menetukan ukuran dan lokasi abses dalam bisa dilkukan pemeriksaan
rontgen,USG, CT, Scan, atau MR.

G. Komplikasi
Komplikasi/dampak yang mungkin terjadi akibat dari Abses mandibula menurut
Siregar (2004) adalah:
1. Kehilangan gigi
2. Penyebaran infeksi pada jaringan lunak dapat mengakibatkan selulitis wajah
dan Ludwig’s angina
3. Penyebaran infeksi pada tulang rahang dapat mengakibatkan osteomyelitis
mandibula atau maksila
4. Penyebaran infeksi pada daerah tubuh yang lain, menghasilkan abses serebral,
endokarditis, pneumonia, atau gangguan lainnya.

H. Penatalaksanaan Medis
Menurut FKUI (2010), antibiotika dosis tinggi terhadap kuman aerob dan
anaerob harus diberikan secara parentral. Evaluasi abses dapat dilakukan dalam
anastesi lokal untuk abses yang dangkal dan terlokalisasi atau eksplorasi dalam
narkosis bila letak abses dalam dan luas. Insisi dibuat pada tempat yang paling
berfluktuasi atau setinggi 0,5 tiroid, tergantung letak dan luas abses. Pasien dirawat
inap sampai 1-2 hari gejala dan tanda infeksi reda.
Suatu abses seringkali membaik tanpa pengobatan, abses akan pecah dengan
sendirinya dan mengeluarkan isinya,.kadang abses menghilang secara perlahan
karena tubuh menghancurkan infeksi yang terjadi dan menyerap sisa-sisa infeksi,
abses pecah dan bisa meninggalkan benjolan yang keras.
Untuk meringankan nyeri dan mempercepat penyembuhan, suatu abses bisa
ditusuk dan dikeluarkan isinya. Suatu abses tidak memiliki aliran darah, sehingga
pemberian antibiotik biasanya sia-sia antibiotik biasanya diberikan setelah abses
mengering dan hal ini dilakukan untuk mencegah kekambuhan. Antibiotik juga
diberikan jika abses menyebarkan infeksi kebagian tubuh lainnya.

I. Konsep Keperawatan
1. Pengkajian Keperawatan
Data yang harus dikumpulkan dalam pengkajian yang dilakukan pada kasus
abses mandibula menurut Doenges, (2001) adalah sebagai berikut :
a. Aktifitas/istirahat
Data Subyektif : Pusing, sakit kepala, nyeri, mulas.
Data Obyektif : Perubahan kesadaran, masalah dalam keseimbangan cedera
(trauma).
b. Sirkulasi
Data Obyektif: kecepatan (bradipneu, takhipneu), pola napas
(hipoventilasi, hiperventilasi, dll).
c. Integritas ego
Data Subyektif: Perubahan tingkah laku/ kepribadian (tenang atau
dramatis)
Data Obyektif : cemas, bingung, depresi.
d. Makanan dan cairan
Data Subyektif : Mual, muntah, dan mengalami perubahan selera makan.
Data Obyektif : Mengalami distensi abdomen.
e. Nyeri dan kenyamanan
Data Subyektif : nyeri pada rahang dan bengkak
Data Obyektif : Wajah meringis, gelisah, merintih.
f. Pernafasan
Data Subyektif : Perubahan pola nafas.
Data Objektif: Pernapasan menggunakan otot bantu pernapasan/ otot
aksesoris.
2. Dignosa keperawatan
Pre Operatif
a. Nyeri Akut
b. Hipertermi
c. Ansietas
d. Gangguan Integritas Kulit
Intra Operatif
a. Resiko Infeksi
Post Operatif
a. Nyeri Akut
b. Hipotermi
3. Intervensi Keperawatan
Pre operatif
Daftar Diagnosa NOC NIC
Nyeri akut Kontrol nyeri Manajemen Nyeri
Setelah dilakukan tindakan keperawatan 1. Lakukan pengkajian nyeri
selama lebih dari 1x24 jam klien dapat komprehensif yang meliputi lokasi,
mengatasi nyerinya ditandai dengan : karakteristik, onset/durasi, frekuensi,
1. Dapat mengenali kapan nyeri terjadi kualitas, intensitas atau beratnya nyeri
2. Klien dapat menggunakan tindakan dan faktor pencetus
pengurangan nyeri tanpa analgesic 2. Berikan informasi mengenai nyeri
3. Klien melaporkan perubahan terhadap 3. Ajarkan prinsip-prinsip manajemen
gejala nyeri pada professional kesehatan nyeri
4. Klien mengenali apa yang terkait dengan 4. Kurangi atau eliminasi faktor-faktor
gejala nyeri yang dapat mencetuskan nyeri dan
Klien melaporkan nyeri yang terkontrol meningkatkan nyeri
5. Gali bersama pasien faktor-faktor yang
dapat menurunkan dan memperberat
nyeri
6. Kolaborasi dengan pasien, orang
terdekat dan tim kesehatan lainnya
untuk memilih dan
mengimplementasikan tindakan
penurun nyeri non farmakologi, sesuai
kebutuhan
Cemas berhubungan Anxiety control Anxiety Reduction
dengan krisis situasi 1. Gunakan pendekatan yang menenangkan
1. Klien mampu mengidentifikasi dan
ditandai dengan dan meyakinkan
mengungkapkan gejala cemas.
peningkatan 2. Jelaskan semua prosedur termasuk
2. Mengidentifikasi, mengungkapkan,
ketegangan, gemetar sensasi yang dirasakan yang mungkin akan
dan menunjukkan teknik mengontrol
dan gelisah dialami
cemas.
3. Berikan informasi factual terkait
3. Vital sign dalam batas normal.
diagnosis, perawatan dan prognosi
4. Postur tubuh, ekspresi wajah, bahasa
4. Berada disisi klien untuk meningkatkan
tubuh dan tingkat aktivitas
rasa aman dan mengurangi ketakutan
menunjukkan berkurangnya
5. Dengarkan klien
kecemasan
6. Kontrol stimulus untuk kebutuhan klien
yang tepat
Hipertermi Setelah dilakukan tindakan keperawatan 1. Monitor suhu sesering mungkin
selama 1x24 jam diharapkan suhu tubuh 2. Monitor warna dan suhu kulit
kembali normal dengan Kriteria Hasil : 3. Monitor tekanan darah, nadi dan RR
1. Suhu tubuh dalam rentang normal 4. Monitor penurunan tingkat kesadaran
2. Nadi dan RR dalam rentang normal 5. Monitor WBC, Hb, dan Hct
3. Tidak ada perubahan warna kulit dan 6. Monitor intake dan output
tidak ada pusing 7. Berikan anti piretik
8. Berikan pengobatan untuk mengatasi
penyebab demam
9. Selimuti pasien
10. Berikan cairan intravena
11. Kompres pasien pada lipat paha dan
aksila
12. Tingkatkan sirkulasi udara
13. Berikan pengobatan untuk mencegah
terjadinya menggigil
Ketidak Efektifan NOC: Respiratory status : Ventilation NIC: Manajemen jalan nafas
Pola Nafas Respiratory status : Airway patency  Posisikan pasien untuk
 Vital sign Status Setelah dilakukan memaksimalkan ventilasi
tindakan keperawatan selama  Pasang mayo bila perlu
………..pasien menunjukkan  Lakukan fisioterapi dada jika perlu
keefektifan pola nafas, dibuktikan  Keluarkan sekret dengan batuk atau
dengan kriteria hasil: suction
 Mendemonstrasikan batuk efektif  Auskultasi suara nafas, catat adanya
dan suara nafas yang bersih, tidak suara tambahan
ada sianosis dan dyspneu (mampu  Berikan bronkodilator -
mengeluarkan sputum, mampu …………………..
bernafas dg mudah, tidakada pursed …………………….
lips)  Berikan pelembab udara Kassa
 Menunjukkan jalan nafas yang basah NaCl Lembab
paten (klien tidak merasa tercekik,  Atur intake untuk cairan
irama nafas, frekuensi pernafasan mengoptimalkan keseimbangan.
dalam rentang normal, tidak ada  Monitor respirasi dan status O2
suara nafas abnormal) Bersihkan mulut, hidung dan secret
trakea
 Tanda Tanda vital dalam rentang  Pertahankan jalan nafas yang paten
normal (tekanan darah, nadi,  Observasi adanya tanda tanda
pernafasan hipoventilasi
 Monitor adanya kecemasan pasien
terhadap oksigenasi
 Monitor vital sign
 Informasikan pada pasien dan
keluarga tentang tehnik relaksasi
untuk memperbaiki pola nafas.
 Ajarkan bagaimana batuk efektif
 Monitor pola nafas
Ketidakseimbangan NOC: NIC : Manajemen Nutrisi
nutrisi kurang dari  Nutritional status: Adequacy of  Kaji adanya alergi makanan
kebutuhan tubuh nutrient  Kolaborasi dengan ahli gizi untuk
 Nutritional Status : food and Fluid menentukan jumlah kalori dan nutrisi
Intake yang dibutuhkan pasien
 Weight Control Setelah dilakukan  Yakinkan diet yang dimakan
tindakan keperawatan mengandung tinggi serat untuk
mencegah konstipasi
selama….nutrisi kurang teratasi  Ajarkan pasien bagaimana membuat
dengan indikator: catatan makanan harian.
 Albumin serum  Monitor adanya penurunan BB dan gula
 Pre albumin serum darah
 Hematokrit  Monitor lingkungan selama makan
 Hemoglobin  Jadwalkan pengobatan dan tindakan
 Total iron binding capacity tidak selama jam makan
 Jumlah limfosit  Monitor turgor kulit
 Monitor kekeringan, rambut kusam,
total protein, Hb dan kadar Ht
 Monitor mual dan muntah
 Monitor pucat, kemerahan, dan
kekeringan jaringan konjungtiva
 Monitor intake nuntrisi
 Informasikan pada klien dan keluarga
tentang manfaat nutrisi
 Kolaborasi dengan dokter tentang
kebutuhan suplemen makanan seperti
NGT/ TPN sehingga intake cairan yang
adekuat dapat dipertahankan.
 Atur posisi semi fowler atau fowler
tinggi selama makan
 Kelola pemberan anti emetik:.....
 Anjurkan banyak minum
 Pertahankan terapi IV line
 Catat adanya edema, hiperemik,
hipertonik papila lidah dan cavitas oval
Defisit Volume NOC: NIC : Manajemen Cairan
Cairan - Fluid balance  Pertahankan catatan intake dan output
- Hydration yang akurat
- Nutritional Status : Food and Fluid  Monitor status hidrasi ( kelembaban
Intake membran mukosa, nadi adekuat, tekanan
Setelah dilakukan tindakan keperawatan darah ortostatik ), jika diperlukan
selama….. defisit volume cairan teratasi  Monitor hasil lab yang sesuai dengan
dengan kriteria hasil: retensi cairan (BUN , Hmt , osmolalitas
urin, albumin, total protein )
 Mempertahankan urine output  Monitor vital sign setiap 15menit – 1
sesuai dengan usia dan BB, BJ urine jam
normal,  Kolaborasi pemberian cairan IV
 Tekanan darah, nadi, suhu tubuh  Monitor status nutrisi
dalam batas normal  Berikan cairan oral
 Tidak ada tanda tanda dehidrasi,  Berikan penggantian nasogatrik sesuai
Elastisitas turgor kulit baik, output (50 – 100cc/jam)
membran mukosa lembab, tidak ada  Dorong keluarga untuk membantu
rasa haus yang berlebihan pasien makan
 Orientasi terhadap waktu dan  Kolaborasi dokter jika tanda cairan
tempat baik berlebih muncul meburuk
 Jumlah dan irama pernapasan  Atur kemungkinan tranfusi
dalam batas normal  Persiapan untuk tranfusi
 Elektrolit, Hb, Hmt dalam batas  Pasang kateter jika perlu
normal  Monitor intake dan urin output setiap 8
 pH urin dalam batas normal jam
 Intake oral dan intravena adekuat
Intra Operatif
Daftar diagnosa NOC NIC
Resiko infeksi - Immune Status Infection Control (Kontrol infeksi)
- Knowledge : Infection control 1. Bersihkan lingkungan setelah
- Risk control dipakai pasien lain
2. Pertahankan teknik isolasi
Setelah dilakukan tindakan 3. Gunakan sabun antimikrobia untuk
keperawatan dalam 1x24 jam cuci tangan
diharapkan klien terhindar dari resiko 4. Cuci tangan setiap sebelum dan
infeksi dengan Kriteria Hasil : sesudah tindakan kperawtan
1.Klien bebas dari tanda dan gejala 5. Gunakan baju, sarung tangan
infeksi sebagai alat pelindung
2.Jumlah leukosit dalam batas normal 6. Pertahankan lingkungan aseptik
selama pemasangan alat
7. Ganti letak IV perifer dan line
central dan dressing sesuai dengan
petunjuk umum
8. Gunakan kateter intermiten untuk
menurunkan infeksi kandung
kencing
9. Tingktkan intake nutrisi
10. Berikan terapi antibiotik bila perlu

Post Operatif
Daftar Diagnosa NOC NIC
Nyeri akut Kontrol nyeri Manajemen Nyeri
Setelah dilakukan tindakan 7. Lakukan pengkajian nyeri
keperawatan selama lebih dari 1x24 komprehensif yang meliputi lokasi,
jam klien dapat mengatasi nyerinya karakteristik, onset/durasi,
ditandai dengan : frekuensi, kualitas, intensitas atau
5. Dapat mengenali kapan nyeri terjadi beratnya nyeri dan faktor pencetus
6. Klien dapat menggunakan tindakan 8. Berikan informasi mengenai nyeri
pengurangan nyeri tanpa analgesic
7. Klien melaporkan perubahan 9. Ajarkan prinsip-prinsip manajemen
terhadap gejala nyeri pada nyeri
professional kesehatan 10. Kurangi atau eliminasi faktor-faktor
8. Klien mengenali apa yang terkait yang dapat mencetuskan nyeri dan
dengan gejala nyeri meningkatkan nyeri
Klien melaporkan nyeri yang 11. Gali bersama pasien faktor-
terkontrol faktor yang dapat menurunkan dan
memperberat nyeri
12. Kolaborasi dengan pasien,
orang terdekat dan tim kesehatan
lainnya untuk memilih dan
mengimplementasikan tindakan
penurun nyeri non farmakologi,
sesuai kebutuhan
Hipotermi Termoregulasi Temperature regulation
Setelah dilakukan tindakan 1. Monitor suhu minimal tiap 2 jam
keperawatan selama 1x24 jam 2. Rencanakan monitoring suhu
diharapkan suhu tubuh klien dalam secara kontinyu
batas normal dengan kriteria hasil : 3. Monitor TD, nadi, dan RR
Kriteria Hasil : Nadi dan RR dalam 4. Monitor warna dan suhu kulit
rentang normal 5. Monitor tanda-tanda hipotermi
6. Tingkatkan intake cairan dan
nutrisi
7. Selimuti pasien untuk mencegah
hilangnya kehangatan tubuh
Vital sign Monitoring
1. Monitor TD, nadi, suhu, dan RR
2. Catat adanya fluktuasi tekanan
darah
3. Monitor sianosis perifer
4. Monitor adanya cushing triad
(tekanan nadi yang melebar,
bradikardi, peningkatan sistolik)
5. Identifikasi penyebab dari
perubahan vital sign
DAFTAR PUSTAKA

Brunner and Suddarth’s. 2012. Buku Ajar Keperawatan Medical Bedah Edisi 8
volume 2. Jakarta : EGC.
Wilkinson, Judith M. 2011. Buku Saku Diagnosis Keperawatan: diagnosis
NANDA, intervensi NIC, kriteria hasil NOC. Jakarta: EGC.
Corwin, Elizabeth J. 2009. Buku Saku Patofisiologi. Jakarta: EGC.