Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN PENDAHULUAN

SINDROM NEFROTIK PADA ANAK

MAKALAH

Oleh :

1. SRI WERDININGSIH (113119028)


2. FITRIYAH MUSLIMAH WATI (113119001)

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN

STIKES AL IRSYAD AL ISLAMIYYAH CILACAP

2019
LAPORAN PENDAHULUAN

SINDROM NEFROTIK PADA ANAK

A. Pengertian

Sindrom nefrotik adalah keadaan klinis yang disebabkan oleh kerusakan


glomerulus karena ada peningkatan permebilitas glomerulus terhadap protein plasma
menimbulkan proteinuria,hipoalbuminemia,hiperlipidemia,dan edema (Betz and
Showden,2009).
Sindrom nefrotik adalah penyakit dengan gejala edema,proteinuria,
hipoalbuminemia,hiperkolesteremia. Kadang-kadang terdapat hematurian,hipertensi,dan
penurunan fungsi ginjal (Nuraruf dan Kusuma,2013).
Berdasarkan pengertian diatas sindrom nefrotik pada anak merupakan kumpulan
gejala yang terjadi pada anak dengan karakteristik
proteinuria,hipoalbuminemia,hiperlipidemia yang disertai edema.

B. Etiologi
Menurut Arif Mansjoer,2000 :488, sebab pasti belum diketahui. Umunya dibagi menjadi :
1. Sindrom nefrotik bawaan
Diturunkan sebagai resesif autosom atau karena reaksi fetomaternal
2. Sindrom nefrotik sekunder
Disebabkan oleh parasit malaria, penyakit kolagen, glomerulonefritis akut,
glomerulonefrits kronik, trombosis vena renalis, bahan kimia (trimetadion, paradion,
penisilamin, garam emas, raksa), amiloidosis, dan lain-lain.
3. Sindrom nefrotik idiopatik (tidak diketahui penyebabnya)
C. Patofisiologi
Menurut Suriadi dan Rita yuliani, 2001 :217 :
1. Meningkatnya permeabilitas dinding kapiler glomerular akan berakibat pada
hilangnya protein plasma dan kemudian akan terjadi proteinuria. Lanjutan dari
proteinuria menyebabkan hipoalbuminemia. Dengan menurunnya albumin,
tekanan osmotik plasma menurun sehingga cairan intravaskuler berpindah ke
dalam interstitial. Perpindahan cairan tersebut menjadikan volume cairan
intravaskuler berkurang, sehingga menurunkan jumlah aliran darah ke renal
karena hypovolemi.
2. Menurunnya aliran darah ke renal, ginjal akan melakukan kompensasi dengan
merangsang produksi renin – angiotensin dan peningkatan sekresi anti diuretik
hormon (ADH) dan sekresi aldosteron yang kemudian terjadi retensi kalium dan
air. Dengan retensi natrium dan air akan menyebabkan edema.
3. Terjadi peningkatan kolesterol dan trigliserida serum akibat dari peningkatan
stimulasi produksi lipoprotein karena penurunan plasma albumin dan penurunan
onkotik plasma
4. .Adanya hiper lipidemia juga akibat dari meningkatnya produksi lipopprtein
dalam hati yang timbul oleh karena kompensasi hilangnya protein, dan lemak
akan banyak dalam urin (lipiduria)
5. Menurunya respon imun karena sel imun tertekan, kemungkinan disebabkan oleh
karena hipoalbuminemia, hiperlipidemia, atau defesiensi seng
D. Pathway Sindrom Nefrotik
E. Manifestasi Klinik
Menurut Betz, Cecily L.2002 : 335
1. Manifestasi utama sindrom nefrotik adalah edema. Edema biasanya bervariasi dari
bentuk ringan sampai berat (anasarka). Edema biasanya lunak dan cekung bila
ditekan (pitting), dan umumnya ditemukan disekitar mata (periorbital) dan berlanjut
ke abdomen daerah genitalia dan ekstermitas bawah.
2. Penurunan jumlah urin : urine gelap, berbusa
3. Pucat
4. Hematuri
5. Anoreksia dan diare disebabkan karena edema mukosa usus.
6. Sakit kepala, malaise, nyeri abdomen, berat badan meningkat dan keletihan umumnya
terjadi.
7. Gagal tumbuh dan pelisutan otot (jangka panjang)

F. Komplikasi Sindrom Nefrotik

1. Infeksi (akibat defisiensi respon imun)


2. Tromboembolisme (terutama vena renal)
3. Emboli pulmo
4. Peningkatan terjadinya aterosklerosis
5. Hypovolemia
6. Hilangnya protein dalam urin
7. Dehidrasi

G. Pemeriksaan Penunjang
Menurut Betz, Cecily L, 2002 : 335 :

1. Uji urine
 Protein urin – meningkat
 Urinalisis – cast hialin dan granular, hematuria
 Dipstick urin – positif untuk protein dan darah
 Berat jenis urin – meningkat
2. Uji darah
 Albumin serum – menurun
 Kolesterol serum – meningkat
 Hemoglobin dan hematokrit – meningkat (hemokonsetrasi)
 Laju endap darah (LED) – meningkat
 Elektrolit serum – bervariasi dengan keadaan penyakit perorangan.
3. Uji diagnostic
Biopsi ginjal merupakan uji diagnostik yang tidak dilakukan secara rutin
H. Penatalaksanaan Sindrom nefrotik
1. Istirahat sampai edema tinggal sedikit
2. Diet protein 3 – 4 gram/kg BB/hari
3. Diuretikum : furosemid 1 mg/kgBB/hari. Bergantung pada beratnya edema dan
respon pengobatan. Bila edema refrakter, dapat digunakan hididroklortiazid (25 – 50
mg/helama pengobatan diuretik perlu dipantau kemungkinan hipokalemi, alkalosis
metabolik dan kehilangan cairan intravaskuler berat.
4. Kortikosteroid : Selama 28 hari prednison diberikan per oral dengan dosis 60 mg/hari
luas permukaan badan (1bp) dengan maksimum 80 mg/hari.
Kemudian dilanjutkan dengan prednison per oral selama 28 hari dengan dosis 40
mg/hari/1bp, setiap 3 hari dalam satu minggu dengan dosis maksimum 60 mg/hari.
Bila terdapat respon selama pengobatan, maka pengobatan ini dilanjutkan secara
intermitten selama 4 minggu
5. Antibiotika bila ada infeksi
6. Digitalis bila ada gagal jantung.
KONSEP KEPERAWATAN

A. Pengkajian
1. Identitas.
Umumnya 90 % dijumpai pada kasus anak. Enam (6) kasus pertahun setiap
100.000 anak terjadi pada usia kurang dari 14 tahun. Rasio laki-laki dan
perempuan yaitu 2 : 1. Pada daerah endemik malaria banyak mengalami
komplikasi sindrom nefrotik.
2. Riwayat Kesehatan.
a. Keluhan utama.
Badan bengkak, muka sembab dan napsu makan menurun
b. Riwayat penyakit dahulu.
Edema masa neonatus, malaria, riwayat GNA dan GNK, terpapar bahan
kimia.
c. Riwayat penyakit sekarang.
Badan bengkak, muka sembab, muntah, napsu makan
menurun, konstipasi, diare, urine menurun.
3. Riwayat Kesehatan Keluarga.
Karena kelainan gen autosom resesif. Kelainan ini tidak dapat ditangani
dengan terapi biasa dan bayi biasanya mati pada tahun pertama atau dua tahun
setelah kelahiran.
4. Riwayat Kehamilan dan Persalinan
Tidak ada hubungan.
5. Riwayat kesehatan lingkungan.
Endemik malaria sering terjadi kasus NS.
6. Imunisasi.
Tidak ada hubungan.
7. Riwayat Pertumbuhan dan Perkembangan.
 Berat badan = umur (tahun) X 2 + 8
 Tinggi badan = 2 kali tinggi badan lahir.
 Perkembangan psikoseksual : anak berada pada fase oedipal/falik dengan
ciri meraba-raba dan merasakan kenikmatan dari beberapa daerah
erogennya, senang bermain dengan anak berjenis kelamin beda, oedipus
kompleks untuk anak laki-laki lebih dekat dengan ibu, elektra kompleks
untuk anak perempuan lebih dekat dengan ayah.
 Perkembangan psikososial : anak berada pada fase pre school (inisiative vs
rasa bersalah) yaitu memiliki inisiatif untuk belajar mencari pengalaman
baru. Jika usahanya diomeli atau dicela anak akan merasa bersalah dan
menjadi anak peragu.
 Perkembangan kognitif : masuk tahap pre operasional yaitu mulai
mempresentasekan dunia dengan bahasa, bermain dan meniru,
menggunakan alat-alat sederhana.
 Perkembangan fisik dan mental : melompat, menari, menggambar orang
dengan kepala, lengan dan badan, segiempat, segitiga, menghitung jari-
jarinya, menyebut hari dalam seminggu, protes bila dilarang, mengenal
empat warna, membedakan besar dan kecil, meniru aktivitas orang
dewasa.
 Respon hospitalisasi : sedih, perasaan berduka, gangguan tidur,
kecemasan, keterbatasan dalam bermain, rewel, gelisah, regresi, perasaan
berpisah dari orang tua, teman.
8. Riwayat Nutrisi.
Usia pre school nutrisi seperti makanan yang dihidangkan dalam keluarga.
Status gizinya adalah dihitung dengan rumus (BB terukur dibagi BB standar)
X 100 %, dengan interpretasi : < 60 % (gizi buruk), < 30 % (gizi sedang) dan
> 80 % (gizi baik).
9. Pengkajian Persistem.
 Sistem pernapasan.
Frekuensi pernapasan 15 – 32 X/menit, rata-rata 18 X/menit, efusi pleura
karena distensi abdomen
 Sistem kardiovaskuler.
Nadi 70 – 110 X/mnt, tekanan darah 95/65 – 100/60
mmHg, hipertensi ringan bisa dijumpai.
 Sistem persarafan.
Dalam batas normal.
 Sistem perkemihan.
Urine/24 jam 600-700 ml, hematuri, proteinuria, oliguri.
 Sistem pencernaan.
Diare, napsu makan menurun, anoreksia, hepatomegali, nyeri daerah
perut, malnutrisi berat, hernia umbilikalis, prolaps anii.
 Sistem muskuloskeletal.
Dalam batas normal.
 Sistem integumen.
Edema periorbital, ascites.
 Sistem endokrin
Dalam batas normal
 Sistem reproduksi
Dalam batas normal.
 Persepsi orang tua
Kecemasan orang tua terhadap kondisi anaknya.

B. Diagnosa Keperawatan
1. Kelebihan volume cairan berhubungan dengan kehilangan protein
sekunder terhadap peningkatan permiabilitas glomerulus.
2. Perubahan nutrisi kuruang dari kebutuhan berhubungan dengan malnutrisi
sekunder terhadap kehilangan protein dan penurunan napsu makan.
3. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan imunitas tubuh yang menurun.
4. Kecemasan anak berhubungan dengan lingkungan perawatan yang asing
(dampak hospitalisasi).
5. Perubahan proses keluarga berhubungan dengan anak yang menderita
penyakit serius.
6. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan kelelahan.
7. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan perubahan penampilan
8. Resiko tinggi kerusakan integritas kulit berhubungan dengan edema,
penurunan pertahanan tubuh.
9. Resiko tinggi kekurangan volume cairan (intravaskuler) berhubungan
dengan kehilangan protein dan cairan, edema.

No Diagnosa Tujuan & Intervensi Rasional


Keperawatan Kriteria Hasil
1 Kelebihan Tujuan : Mandiri : Perlu untuk menentukan
volume cairan Pasien tidak Kaji masukan yang fungsi ginjal, kebutuhan
berhubungan menunjukkan relatif terhadap keluaran penggantian cairan dan
dengan bukti-bukti secara akurat. penurunan resiko
kehilangan akumulasi cairan Timbang berat badan kelebihan cairan.
protein (pasien setiap hari (ataui lebih Mengkaji retensi cairan
sekunder mendapatkan sering jika Untuk mengkaji ascites
terhadap volume cairan diindikasikan). dan karena merupakan
peningkatan yang tepat) Kaji perubahan edema : sisi umum edema.
permiabilitas ukur lingkar abdomen Agar tidak mendapatkan
glomerulus. pada umbilicus serta lebih dari jumlah yang
Kriteria hasil: pantau edema sekitar dibutuhkan
Penurunan mata. Untuk mempertahankan
edema, ascites Atur masukan cairan masukan yang diresepkan
Kadar protein dengan cermat. Untuk menurunkan
darah meningkat Pantau infus intra vena ekskresi proteinuria
Output urine Untuk memberikan
adekuat 600 – Kolaborasi : penghilangan sementara
700 ml/hari Berikan kortikosteroid dari edema.
Tekanan darah sesuai ketentuan.
dan nadi dalam Berikan diuretik bila
batas normal. diinstruksikan.
2 Perubahan Tujuan : Mandiri : Monitoring asupan nutrisi
nutrisi kuruang Kebutuhan Catat intake dan output bagi tubuh
dari kebutuhan nutrisi akan makanan secara akurat Gangguan nuirisi dapat
berhubungan terpenuhi Kaji adanya anoreksia, terjadi secara
dengan hipoproteinemia, diare. perlahan. Diare sebagai
malnutrisi Kriteria Hasil : Pastikan anak mendapat reaksi edema intestinal
sekunder Napsu makan makanan dengan diet Mencegah status nutrisi
terhadap baik yang cukup. menjadi lebih buruk.
kehilangan Tidak terjadi Beri diet yang bergizi membantu pemenuhan
protein dan hipoprtoeinemia Batasi natrium selama nutrisi anak dan
penurunan Porsi makan yang edema dan trerapi meningkatkan daya tahan
napsu makan. dihidangkan kortikosteroid tubuh anak
dihabiskan Beri lingkungan yang asupan natrium dapat
Edema dan menyenangkan, bersih, memperberat edema usus
ascites tidak ada. dan rileks pada saat yang menyebabkan
makan hilangnya nafsu makan
Beri makanan dalam anak
porsi sedikit pada agar anak lebih mungkin
awalnya untuk makan
Beri makanan spesial untuk merangsang nafsu
dan disukai anak makan anak
Beri makanan dengan untuk mendorong agar
cara yang menarik anak mau makan
untuk menrangsang nafsu
makan anak
3 Resiko tinggi Tujuan : Mandiri : Meminimalkan masuknya
infeksi Tidak terjadi Lindungi anak dari organisme.
berhubungan infeksi orang-orang yang Mencegah terjadinya
dengan imunitas Kriteria hasil : terkena infeksi melalui infeksi nosokomial.
tubuh yang Tanda-tanda pembatasan Mencegah terjadinya
menurun. infeksi tidak ada pengunjung. infeksi nosokomial.
Tanda vital dalam Tempatkan anak di Membatasi masuknya
batas normal ruangan non infeksi. bakteri ke dalam tubuh.
Ada perubahan Cuci tangan sebelum Deteksi dini adanya
perilaku keluarga dan sesudah tindakan. infeksi dapat mencegah
dalam Lakukan tindakan sepsis.
melakukan invasif secara aseptik Untuk meminimalkan
perawatan. Gunakan teknik mencuci pajanan pada organisme
tangan yang baik infektif
Jaga agar anak tetap Untuk memutus mata
hangat dan kering rantai penyebar5an
Pantau suhu. infeksi
Ajari orang tua tentang Karena kerentanan
tanda dan gejala infeksi terhadap infeksi
pernafasan
Indikasi awal adanya
tanda infeksi
Memberi pengetahuan
dasar tentang tanda dan
gejala infeksi
4 Kecemasan Tujuan : Validasi perasaan takut Perasaan adalah nyata dan
anak Kecemasan anak atau cemas. membantu pasien untuk
berhubungan menurun atau Pertahankan kontak tebuka sehingga dapat
dengan hilang dengan klien. menghadapinya.
lingkungan Kriteria hasil : Upayakan ada keluarga Memantapkan hubungan,
perawatan yang Kooperatif pada yang menunggu meningkatan ekspresi
asing (dampak tindakan Anjurkan orang tua perasaan.
hospitalisasi). keperawatan untuk membawakan Dukungan yang terus
Komunikatif pada mainan atau foto menerus mengurangi
perawat keluarga ketakutan atau kecemasan
Secara verbal yang dihadapi.
mengatakan Meminimalkan dampak
tidak takur. hospitalisasi terpisah dari
anggota keluarga.

5 Perubahan Tujuan : Kenali masalah keluarga Mengidentifikasi


proses keluarga Pasien (keluarga) dan kebutuhan akan kebuutuhan yang
berhubungan mendapat informasi, dukungan dibutuhkan keluarga
dengan anak dukungan yang Kaji pemahaman Keluarga akan beradaptasi
yang menderita adekuat keluarga tentang terhadap segala tindakan
penyakit serius. Kriteria hasil : diagnosa dan rencana keperawatan yang
perawatan dilakukan
Tekankan dan jelaskan Agar keluarga juga
profesional kesehatan mengetahui masalah
tentang kondisi anak, kesehatan anaknya
prosedur dan terapi Mengoptimalisasi
yang dianjurkan, serta pendidikan kesehatan
prognosanya terhadap
Gunakan setiap Untuk memfasilitasi
kesempatan untuk pemahaman
meningkatkan Keluarga dapat
pemahaman keluarga mengidentifikasi perilaku
Keluarga tentang anak sebagai orang yang
penyakit dan terapinya terdekat dengan anak
Ulangi informasi Mempermantap rencana
sesering mungkin yang telah disusun
Bantu keluarga sebelumnya
mengintrepetasikan
perilaku anak serta
responnya
Jangan tampak terburu-
buru, bila waktunya
tidak tepat
6 Intoleransi Tujuan : Pertahankan tirah baring tirah baring yang sesuai
aktifitas Anak dapat awal bila terjadi edema gaya gravitasi dapat
berhubungan melakukan hebat menurunkan edema
dengan aktifitas sesuai Seimbangkan istirahat ambulasi menyebabkan
kelemahan. dengan dan aktifitas bila kelelahan
kemampuan dan ambulasi aktivitas yang tenang
mendapatkan Rencanakan dan berikan mengurangi penggunaan
istirahat dan aktivitas tenang energi yang dapat
tidur yang Instruksikan istirahat menyebabkan kelelahan
adekuat bila anak mulai merasa mengadekuatkan fase
lelah istirahat anak
Berikan periode istirahat anak dapat menikmati
Kriteria hasil : tanpa gangguan masa istirahatnya
7 Gangguan citra Tujuan : Gali masalah dan Untuk memudahkan
tubuh Agar dapat perasaan mengenai koping
berhubungan mengespresikan penampilan Meningkatkan harga diri
dengan perasaan dan Tunjukkan aspek positif klien dan mendorong
perubahan masalah dengan dari penampilan dan penerimaan terhadap
penampilan mengikutin bukti penurunan edema kondisinya
aktivitas yang Dorong sosialisasi Agar anak tidak merasa
sesuai dengan dengan individu tanpa sendirian dan terisolasi
minat dan infeksi aktif Agar anak merasa
kemampuan Beri umpan balik diterima
anak. posisitf

Kriteria hasil :
8 Resiko tinggi Tujuan : Mandiri : memberikan kenyamanan
kerusakan Kulit anak tidak Berikan perawatan kulit pada anak dan mencegah
integritas kulit menunjukkan Hindari pakaian ketat kerusakan kulit
berhubungan adanya Bersihkan dan bedaki dapat mengakibatkan area
dengan edema, kerusakan permukaan kulit yang menonjol tertekan
penurunan integritas : beberapa kali sehari untuk mencegah
pertahanan kemerahan atau Topang organ edema, terjadinya iritasi pada
tubuh. iritasi seperti skrotum kulit karena gesekan
Ubah posisi dengan dengan alat tenun
sering ; pertahankan unjtuk menghilangkan aea
Kriteria hasil: kesejajaran tubuh tekanan
dengan baik karena anak dengan
Gunakan penghilang edema massif selalu
tekanan atau matras letargis, mudah lelah dan
atau tempat tidur diam saja
penurun tekanan sesuai untuk mencegah
kebutuhan terjadinya ulkus
9 Resiko tinggi Tujuan : Mandiri :  Untuk mendeteksi
kekurangan Klien tidak Pantau tanda vital bukti fisik
volume cairan menunjukkan Kaji kualitas dan penipisan cairan
(intravaskuler) kehilangan frekwensi nadi  Untuk tanda
berhubungan cairan Ukur tekanan darah shock
dengan intravaskuler Laporkan adanya hipovolemik
kehilangan atau shock penyimpangan dari  Untuk mendeteksi
protein dan hipovolemik normal shock
cairan, edema. yang hipovolemik
diyunjukkan  Agar pengobatan
pasien minimum segera dapat
atau tidak ada dilakukan
DAFTAR PUSTAKA

http://nisya257chubby.blogspot.com/2012/04/askep-sindrom-nefrotik-pada-anak.html