Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN PENDAHULUAN

“KEJANG DEMAM PADA ANAK”


Ditujukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Keperawatan Anak
Dosen pengampu : Ida Ariani, M.Kep.,Ns.Sp. Kep.An.

KELOMPOK 7
Disusun oleh :

1. Rahmahani Aisyah (113119010)

2. Aditya Wahyu K. (1131190

PROGRAM STUDI PROFESI NERS


STIKES AL-IRSYAD AL-ISLAMIYYAH CILACAP
TAHUN 2019/2020
LAPORAN PENDAHULUAN
“KEJANG DEMAM”

A. Definisi
Kejang demam atau febrile convulsion adalah bangkitan kejang yang
terjadi pada kenaikan suhu tubuh (suhu aksila lebih dari 37,5⁰C, suhu rektal
lebih dari 38⁰C) yang disebabkan oleh proses ekstrakranium, tanpa adanya
infeksi pada sistem saraf pusat, gangguan elektrolit, atau metabolik lain.
Kejang demam merupakan kelainan neurologis yang paling sering di jumpai
pada anak, terutama pada balita umur 6 bulan sampai 4 tahun. Anak yang
pernah mengalami kejang tanpa demam, kemudian kejang demam kembali
tidak termasuk dalam kejang demam. Kejang disertai demam pada bayi
berumur kurang dari 1 bulan tidak termasuk dalam kejang demam. Bila anak
berumur kurang dari 6 bulan atau lebih dari 5 tahun mengalami kejang
didahului demam, pikirkan kemungkinan lain misalnya infeksi SSP, atau
epilepsi yang kebetulan terjadi bersama demam.

B. Etiologi
Kejang dibedakan menjadi intrakranial dan ekstrakranial.
1. Intrakranial meliputi:
a. Trauma (perdarahan): perdarahan subarachnoid, subdural atau
ventrikuler
b. Infeksi: bakteri, virus, parasit misalnya meningitis
c. Kongenital: disgenesis, kelainan serebri
2. Ekstrakranial, meliputi:
a. Gangguan metabolik: hipoglikemia, hipokalsemia, hipomagnesia,
gangguan elektrolit (Na dan K) misalnya pada pasien dengan riwayat
diare sebelumnya.
b. Toksik: intoksikasi, anestesi lokal, sindroma putus obat.
c. Kongenital: gangguan metabolisme asam basa atau ketergantungan dan
kekurangan piridoksin.
C. Manifestasi Klinis
Gejala yang timbul saat anak mengalami kejang demam antara lain
adalah anak mengalami demam (terutama demam tinggi atau kenaikan suhu
tubuh yang terjadi secara tiba-tiba) kejang tonik, klonik, pingsan yang
berlangsung selama 30 detik sampai 5 menit (hampir selalu terjadi pada anak-
anak yang mengalami kejang demam). Kejang demam dapat dimulai dengan
kontraksi yang tiba-tiba pada otot kedua sisi tubuh anak. Kontraksi pada
umumnya terjadi pada otot wajah, badan, tangan dan kaki. Anak dapat
menangis atau merintih akibat kekuatan kontraksi otot. Anak akan jatuh
apabila dalam keadaan berdiri.
Postur tonik (kontraksi dan kekakuan otot menyeluruh yang biasanya
berlangsung selama 10-30 detik), gerakan klonik (kontraksi dan relaksasi otot
yang kuat dan berirama, biasanya berlangsung selama 1-2 menit), lidah atau
pipinya tergigit, gigi atau rahangnya terkatup rapat, inkontinensia
(mengeluarkan air kemih atau tinja diluar kesadarannya), gangguan
pernapasan, apneu (henti napas), dan kulitnya kebiruan (Sri, 2013).
Setelah mengalami kejang, biasanya:
1. Akan kembali sadar dalam beberapa menit atau tertidur selama 1 jam atau
lebih.
2. Terjadi amnesia (tidak ingat apa yang telah terjadi) sakit kepala.
3. Mengantuk.
4. Linglung sementara dan sifatnya ringan.
5. Jika kejang tunggal berlangsung kurang dari 5 menit maka kemungkinan
terjadi cidera otak atau kejang menahun sangat kecil (Dessy, 2010).

D. Klasifikasi
Secara klinis, klasifikasi kejang demam ada dua yaitu : kejang demam
sederhana (Simple febrile seizure) dan kejang demam kompleks (Complex
febrile seizure) keduanya memiliki prognosis dan kemungkinan rekurensi.
1. Kejang demam sederhana: Kejang bersifat umum (biasanya seluruh tubuh
kejang, tangan ke atas dan mata terbalik), sering terjadi pada anak (sekitar
80% dari seluruh kejang demam), lama bangkitan berlangsung kurang dari
15 menit, dalam waktu periode demam tidak ada bangkitan kejang
berulang dalam 24 jam, kemungkinan epilepsi di kemudian hari.
2. Kejang demam kompleks: Lama bangkitan kejang lebih dari 15 menit,
manifestasi kejang bersifat lokal (sebagian anggota tubuh saja), didapatkan
bangkitan kejang berulang lebih dari 1 kali dalam waktu 24 jam,
kemungkinan epilepsi di kemudian hari sangat jarang (4%).

E. Patofisiologi
Tujuan dari pengaturan suhu adalah mempertahankan suhu inti tubuh
sebenarnya pada set level sekitar 36,5 – 37,5⁰C. Berbeda dengan hipertermia
pasif, set level meningkat ketika demam. Demam terutama terjadi pada
infeksi sebagai reaksi fase akut dan terdapat hubungannya untuk mengatasi
infeksi tersebut.9 Demam dapat disebabkan infeksi bakteri, virus, maupun
parasit, misalnya infeksi saluran napas atas. Tidak diketahui secara pasti
mengapa demam dapat menyebabkan kejang pada satu anak dan tidak pada
anak lainnya, namun diduga ada faktor genetik yang berperan. Setiap anak
juga memiliki suhu ambang kejang yang berbeda, ada yang kejang pada suhu
38⁰C, ada pula yang baru mengalami kejang pada suhu 40⁰C.
Perubahan kenaikan temperatur tubuh berpengaruh terhadap nilai
ambang kejang dan eksitabilitas neural, karena kenaikan suhu tubuh
berpengaruh pada kanal ion dan metabolisme seluler serta produksi ATP.
Pada keadaan demam kenaikan suhu 1˚C akan mengakibatkan kenaikan
metabolisme basal 10-15% dan kebutuhan oksigen akan meningkat 20%.
Pada seorang anak berumur 3 tahun sirkulasi otak mencapai 65% dari seluruh
tubuh dibandingkan dengan orang dewasa yang hanya 15%. Oleh karena itu,
kenaikan suhu tubuh dapat mengubah keseimbangan dari membran sel
neuron dan dalam waktu yang singkat terjadi difusi dari ion kalium maupun
ion natrium melalui membran tersebut dengan akibat terjadinya lepas muatan
listrik. Lepas muatan listrik ini demikian besarnya sehingga dapat meluas ke
seluruh sel maupun ke membran sel sekitarnya dengan bantuan bahan yang
disebut “neurotransmitter “ dan terjadi kejang. Tiap anak mempunyai
ambang kejang yang rendah, kejang telah terjadi pada suhu 38˚C sedang anak
dengan ambang kejang yang tinggi kejang baru terjadi bila suhu mencapai ≥
40˚C.
Kejang demam yang berlangsung singkat pada umumnya tidak
berbahaya dan tidak meninggalkan gejala sisa. Tetapi kejang yang
berlangsung lama (≥ 15 menit) biasanya disertai apnea, meningkatnya
kebutuhan oksigen dan energi untuk kontraksi oleh skelet yang akhirnya
terjadi hipoksemia, hipotensi arterial disertai denyut jantung yang tidak
teratur dan suhu tubuh makin meningkat yang disebabkan makin
meningkatnya aktivitas otot, dan selanjutnya menyebabkan metabolisme otak
13 meningkat. Rangkaian kejadian di atas adalah faktor penyebab hingga
terjadinya kerusakan neuron otak selama berlangsungnya kejang lama
(Lumbantobing, 2007). Faktor terpenting adalah gangguan peredaran yang
mengakibatkan hipoksia sehingga meninggikan premeabilitas kapiler dan
timbul edema otak yang mengakibatkan kerusakan sel neuron otak.
Kerusakan pada daerah medial lobus temporalis setelah mendapat serangan
kejang yang berlangsung lama dapat menjadi ‘’matang’’ di kemudian hari
sehingga terjadi serangan epilepsi yang spontan. Karena itu kejang demam
yang berlangsung lama dapat menyebabkan kelaianan di otak hingga terjadi
epilepsi (Ngastiyah, 2005).
Sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat 3 interaksi faktor sebagai
penyebab kejang demam, yaitu: 1) imaturitas otak dan termoregulator, 2)
demam, dimana kebutuhan oksigen dan metabolisme meningkat, 3)
predisposisi genetik.

F. Komplikasi
Kerusakan sel otak yaitu meningitis adalah sebuah kondisi ketika selaput
(meningitis) yang mengelilingi system saraf pusat, yaitu otak dan sum-sum
tulang belakang mengalami peradangan sehingga menyebabkan kecerdasan
dan perkembangan tidak optimal. Kelumpuhan terjadi pada penderita yang
mengalami demam kejang yang lama (berlangsung ≥ setengah jam) baik
bersifat umum maupun kejang fokal. Penurunan IQ pada anak yang
sebelumnya mengalami gangguan perkembangan atau kelainan neurologic
ditemukan IQ yang lebih rendah, menyebabkan gangguan belajar dan tingkah
laku tidak terbukti muncul pada anak dengan riwayat kejang (Lumbantobing,
2007).
Kejang demam dapat mengakibatkan :
1. Kemungkinan berulangnya kejang demam. Kejang demam akan berulang
kembali pada sebagian kasus. Faktor risiko berulangnya kejang demam
adalah riwayat kejang demam dalam keluarga, usia kurang dari 12 bulan,
temperatur yang rendah saat kejang, dan cepatnya kejang setelah demam.
Bila seluruh faktor tersebut ada, kemungkinan berulangnya kejang demam
adalah 80%, sedangkan bila tidak terdapat faktor tersebut kemungkinan
berulangnya kejang demam hanya 10%-15%.Kemungkinan berulangnya
kejang demam paling besar adalah pada tahun pertama.
2. Faktor risiko terjadinya epilepsi. Faktor risiko lain adalah terjadinya
epilepsi di kemudian hari. Faktor risiko menjadi epilepsi adalah: kelainan
neurologis atau perkembangan yang jelas sebelum kejang demam pertama,
kejang demam kompleks, dan riwayat epilepsi pada orang tua atau saudara
kandung. Masing-masing faktor risiko meningkatkan kemungkinan
kejadian epilepsi sampai 4%-6%, kombinasi dari faktor risiko tersebut
meningkatkan kemungkinan epilepsi menjadi 10%-49%.Kemungkinan
menjadi epilepsi tidak dapat dicegah dengan pemberian obat rumat pada
kejang demam.
3. Kemungkinan mengalami kecacatan atau kelainan neurologis. Kejadian
kecacatan sebagai komplikasi kejang demam tidak pernah dilaporkan.
Perkembangan mental dan neurologis umumnya tetap normal pada pasien
yang sebelumnya normal. Penelitian lain secara retrospektif melaporkan
kelainan neurologis pada sebagian kecil kasus, dan kelainan ini biasanya
terjadi pada kasus dengan kejang lama atau kejang berulang baik umum
atau fokal.

G. Penatalaksanaan
Anak yang sedang mengalami kejang, prioritas utama adalah menjaga
agar jalan nafas tetap terbuka. Pakaian dilonggarkan, posisi anak dimiringkan
untuk mencegah aspirasi. Sebagian besar kasus kejang berhenti sendiri, tetapi
dapat juga berlangsung terus atau berulang. Pengisapan lendir dan pemberian
oksigen harus dilakukan teratur, kalau perlu dilakukan intubasi.Keadaan dan
kebutuhan cairan, kalori dan elektrolit harus diperhatikan. Suhu tubuh dapat
diturunkan dengan kompres air hangat (diseka) dan pemberian antipiretik.
Biasanya kejang demam berlangsung singkat dan pada waktu pasien
datang kejang sudah berhenti. Indikasi rawat inap apabila ada salah satu
kriteria sebagai berikut :
1. Saat kejang demam terjadi pada usia dibawah 6 bulan
2. Terjadi hiperpireksia
3. Merupakan kejang demam yang pertama kali
4. Merupakan kejang demam kompleks
5. Terdapat kelainan neurologis.
Penatalaksanaan yang dilakukan saat pasien di rumah sakit antara lain :
1. Saat timbul kejang maka penderita diberikan diazepam intravena secara
perlahan dengan panduan dosis untuk berat badan yang kurang dari 10 kg
dosisnya 0,5-0,75 mg/kg BB, di atas 20 kg 0,5 mg/kg BB. Dosis rata-rata
yang diberikan adalah 0,3 mg/kg BB. Dosis rata-rata yang diberikan
adalah 0,3 mg/kg BB/kali pemberian dengan maksimal dosis pemberian 5
mg pada anak kurang dari 5 tahun dan maksimal 10 mg pada anak yang
berumur lebih dari 5 tahun. Pemberian tidak boleh melebihi 50 mg
persuntikan.
2. Setelah pemberian pertama diberikan masih timbul kejang 15 menit
kemudian dapat diberikan injeksi diazepam secara intravena dengan dosis
yang sama. Apabila masih kejang maka di tunggu 15 menit lagi kemudian
diberikan injeksi diazepam ketiga dengan dosis yang sama secara
intramuskuler.
3. Pembebasan jalan nafas dengan cara kepala dalam posisi hiperektensi
miring, pakaian dilonggarkan, dan pengisapan lendir.
4. Pemberian oksigen, untuk membantu kecukupan perfusi jaringan.
5. Pemberian cairan intravena untuk mencukupi kebutuhan dan memudahkan
dalam pemberian terapi intravena. Dalam pemberian cairan intravena
pemantauan intake dan output cairan selama 24 jam perlu dilakukan,
karena pada penderita yang berisiko terjadinya peningkatan tekanan
intrakranial kelebihan cairan dapat memperberat penurunan kesadaran
pasien. Kebutuhan cairan pada anak meliputi :

Kebutuhan
Tabel 2.1. Kebutuhan Cairan Rata2 Untuk
BB kg Cairan/Kg
Anak Balita Umur
BB
0 – 3 Hari 3 150
3-10 hari 3,5 125-150
3 bulan 5 140-160
6 bulan 7 135-155
9 bulan 8 125-145
1 tahun 9 120-135
2 tahun 11 110-120
4 tahun 16 100-110
6 tahun 20 85-100
10 tahun 28 70-85
14 tahun 35 50-60

H. Pencegahan
Disarankan edukasi kepada orang tua, jika anak menderita demam jangan
sampai menjadi demam tinggi yang dapat memicu bangkitan kejang demam,
dan dapat mengurangi kecemasan orang tua. Hal ini untuk menurunkan
morbiditas, juga untuk menghindarkan adanya dampak buruk bangkitan
kejang demam pada anak. Kejang selalu merupakan peristiwa yang
menakutkan bagi orang tua. Pada saat kejang sebagian besar orang tua
beranggapan bahwa anaknya akan meninggal. Kecemasan ini harus dikurangi
dengan cara yang diantaranya menyakinkan bahwa kejang demam umumnya
mempunyai prognosis baik, memberitahukan cara penanganan kejang,
memberikan informasi mengenai kemungkinan kejang kembali, pemberian
obat untuk mencegah rekurensi memang efektif tetapi harus diingat adanya
efek samping. Beberapa hal yang harus dikerjakan bila kembali kejang :
1. Tetap tenang dan tidak panic
2. Kendorkan pakaian yang ketat terutama disekitar leher
3. Bila tidak sadar, posisikan anak terlentang dengan kepala miring.
Bersihkan muntahan atau lendir di mulut atau hidung. Walaupun
kemungkinan lidah tergigit, jangan memasukkan sesuatu kedalam mulut.
4. Ukur suhu, observasi dan catat lama dan bentuk kejang.
5. Tetap bersama anak selama kejang
6. Berikan diazepam rektal. Jangan diberikan bila kejang telah berhenti.
7. Bawa ke dokter atau rumah sakit bila kejang berlangsung 5 menit atau
lebih.
I. Pathways

Infeksi bakteri, virus, Rangsang mekanik


dan parasit dan biokimia

Reaksi inflamasi Gangguan keseimbangan


cairan dan elektrolit

Proses demam Perubahan konsentrasi ion di


ekstraseluler

Hipertermia Ketidakseimbangan potensial


membran ATP ASE

Resiko kejang Difusi Na dan K Resiko cidera


berulang

Pengobatan perawatan
Kejang Kesadaran
kondisi, prognosis, lanjut
dan diit

Lebih dari 15 menit Reflek menelan


Kurang pengetahuan

Perubahan suplay Penumpukan sekret


darah ke otak

Resiko aspirasi
Resiko kerusakan
sel neuron otak

Ketidakefektifan perfusi jaringan cerebral


J. Fokus Keperawatan
1. Pengkajian
Hal-hal yang perlu dikaji pada pasien dengan kejang demam menurut
greenberg (1980 : 122-128) :
a. Riwayat keperawatan
1) Adanya riwayat kejang demam pada pasien dan keluarga
2) Adanya riwayat infeksi seperti saluran pernafasan atas, OMA,
pneumonia, gastroenteritis, faringitis, bronkopneumonia, varisela
dan campak.
3) Adanya riwayat trauma kepala
b. Pengkajian fisik
1) Adanya peningkatan : suhu tubuh,nadi,dan pernafasan,kulit teraba
hangat
2) Ditemukan adanya anoreksia, mual, muntah dan penurunan berat
badan
3) Adanya kelemahan dan keletihan
4) Adanya kejang
5) Pada pemeriksaan laboratorium darah ditemukan adanya
peningkatan kalium,jumlah cairan cerebrospiral meningkat dan
berwarna kuning
c. Riwayat psikososial atau perkembangan
1) Tingkat perkembangan anak terganggu
2) Adanya kekerasan penggunaan obat-obatan seperti obat penurunan
panas
3) Pengalaman tentang perawatan sesudah/sebelum mengenai anaknya
pada waktu sakit
d. Pengetahuan keluarga
1) Tingkatkan pengetahuan keluarga yang kurang
2) Keluarga kurang mengetahui tanda dan gejala kejang demam
3) Ketidakmampuan keluarga dalam mengontrol suhu tubuh
4) Keterbatasan menerima keadaan penyakitnya
2. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa yang mungkin muncul pada pasien dengan kejang demam :
a. Hipertermia berhubungan dengan efek langsung dari sirkulasi
endotoksin pada hipotalamus
b. Perfusi jaringan cerebral tidak efektif berhubungan dengan reduksi
aliran darah ke otak
c. Kurang pengetahuan orang tua tentang kondisi, prognosis,
penatalaksanaan dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan
kurangnya informasi
d. Resiko tinggi cidera berhubungan dengan aktivitas kejang
e. Resiko Aspirasi berhubungan dengan penurunan tingkat kesadaran

3. Intervensi Keperawatan

No Dx.Keperawatan NOC NIC


1 Hipertermia b.d Tujuan: seletah dilakukan Temperatur regulation
proses penyakit, tindakan keperawatan 1. Monitor suhu minimal
peningkatan laju selama 3 x 24 jam. tiap 2 jam
metabolisme diharapkan suhu dalam 2. Rencanakan monitor
rentang normal suhu secara continue
NOC : Thermoregulation 3. Monitor tanda-tanda
 Suhu tubuh dalam hipertensi
rentang normal 4. Tingkan intake cairan
 Nadi dan RR dalam dan nutrisi
rentang normal 5. Monitor nadi dan RR
 Tidak ada perubahan
warna kulit dan tidak
pusing
Indikator skala:
1 : esktrem
2 : berat
3 : sedang
4 : ringan
5 : tidak ada gangguan
3 Ketidakefektifan Tujuan: setelah dilakukan 1. Monitor Td, nadi, suhu,
Perfusi Jaringan tindakan keperawatan RR
Cerebral b/d selama proses keperawatan 2. Catat adanya fluktuasi
reduksi aliran diharapkan suplai darah ke tekanan darah
darah ke otak otak dapat kembali normal 3. Monitor jumlah dan
NOC : status sirkulasi irama jantung
 TD sistolik dalam batas 4. Monitor bunyi jantung
normal 5. Monitor tekanan darah
 TD diastole dalam batas saat klien berbaring,
normal duduk, berdiri
 Kekuatan nad dalam Status Neurologis
batas normal 1. Monitor tingkat

 Tekanan vena sentral kesadaran

dalam batas normal 2. Monitor tingkat orientasi

 Rata-rata TD dalam 3. Monitor status ttv

batas normal 4. Monitor GCS

Indikator skala
1 : ekstrem
2 : berat
3 : sedang
4 : ringan
5 : tidak terganggu
4 Kurang Tujuan: setelah dilakukan Teaching: diease proses
pengetahuan tindakan keperawatan 1. Berikan penilaian
orang tua tentang keluarga mengerti tentang tentang penyakit
kondisi, kondisi pasien pengetahuan pasien
prognosis, NOC : knowledge; diease tentang proses penyakit
penatalaksanaan proses yang spesifik
dan kebutuhan  Keluarga menyatakan 2. Jelaskan patofisiologis
pengobatan b.d pemahaman tentang dari penyakit dan
kurang informasi penyakit kondisi bagaimana hal ini
prognosis dan program berhubungan dengan
pengobatan anatomi fisiologi dengan
 Keluarga mampu cara yang tepat
melaksanakan prosedur 3. Gambarkan tanda dan
yang dijelaskan secara gejala yang biasa muncul
benar pada penyakit, dengan
 Keluarga mampu cara yang tepat
menjelaskan kembali apa
yang dijelaskan
perawat/tim kesehatan
lainnya
Indikator skala
1 : tidak pernah dilakukan
2 : jarang dilakukan
3 : kadang dilakukan
4 : sering dilakukan
5 : selalu dilakukan
4 Resiko cidera Tujuan: setelah dilakukan Mencegah Jatuh
tindakan keperawatan 1. Identifikasi factor
selama proses kognitif atau psikis dari
keperawatandiharapkan pasien yang dapat
resiko cidera dapat di menjadikan potensial
hindari, dengan kriteria jatuh dalam setiap
hasil keadaan
NOC : Pengendalian resiko 2. Identifikasi karakteristik
 Pengetahuan tentang dari lingkungan yang
resiko dapat menjadi potensia
 Monitor lingkungan jatuh
yang dapat menjadi 3. Monitor cara berjalan,
resiko keseimbangan dan
 Monitor kemasan tingkat kelelahan dengan
personal ambulasi
 Kembangkan strategi 4. Instruksikan pada pasien
efektif pengendalian untuk memanggil asisten
resiko kalau bergerak
 Penggunaan sumber
daya masyarakat untuk
pengendalian resiko
Indikator skala:
1 = sangat adekuat
2 = adekuat
3 = kadang-ladang adekuat
4 = sedikit adekuat
5 = tidak adekuat
5. Resiko Aspirasi Tujuan: seletah dilakukan Aspiration precaution
tindakan keperawatan 1. Monitor tingkat
selama 3 x 24 jam. kesadaran, reflek batuk
Diharapkan, resiko aspirasi dan kemampuan
dapat dicegah menelan
NOC : Respiratory status : 2. Monitor status paru
ventilation, aspiration pelihara jalan napas
control 3. Lakukan suction jika
 Dapat bernapas dengan diperlukan
mudah, frekuensi 4. Hindari makan apabila
pernapasan normal residu masih banyak
 Pasien mampu menelan, 5. Posisikan tegak 90
mengunyah tanpa terjadi derajat atau sejauh
aspirasi mungkin
 Jalan napas paten,
mudah bernapas, tidak
merasa tercekik dan
tidak ada suara napas
abnormal
Indikator skala:
1 = sangat adekuat
2 = adekuat
3 = kadang-ladang adekuat
4 = sedikit adekuat
5 = tidak adekuat
DAFTAR PUSTAKA

Unit Kerja Koordinasi Neurologi. 2006. “Konsensus Penatalaksanaan Kejang


Demam”.Ikatan Dokter Anak Indonesia. Cetakan ke Dua. Jakarta: Badan
Penerbit IDAI.

Melda Deliana. 2002. “Tata Laksana Kejang Demam pada Anak”. Sari Pediatri,
vol. 4, no. 2, hal: 59-62.

Lewis DW. 2011. Neurologi: Kejang (Serangan Paroksisimal). Dalam Ilmu


Kesehatan Anak Essensial Nelson. Edisi Keenam. Oleh Marcdante KJ,
Kliegman RM, Jenson HB, Behrman RE. Singapore: Elsivier. hal. 736-743

Reza M, Eftekhaari TE, Farah M. 2008. “Febrile Seizures: Faktors Affecting


Risk of Recurrence”. J Pediatr Neurol, vol. 6, page: 341-344.

Fuadi, Bahtera T, Wijayahadi N. 2010. “Faktor Risiko Bangkitan Kejang


Demam pada Anak”. Sari Pediatri, vol. 12, no. 3, hal: 142-149.

Soebandi, A. 2014. “ Kejang Demam Tidak Seseram yang Dibayangkan”.


Diunduh tanggal 10 Maret 2015.http://idai.or.id/public-
articles/klinik/keluhan-anak/kejang-demam-tidak-seseram-yang-
dibayangkan.html

Nurarif, Amin Huda & Kusuma Hardi. 2015. Aplikasi Asuhan Keperawatan
Berdasarkan Diagnosa Nanda NIC-NOC Jilid 2. Yogyakarta. MediAction