Anda di halaman 1dari 32

WRAP UP

BLOK BIOMEDIK 2
SKENARIO “MAHASISWA BELAJAR PEMBELAHAN SEL”

KELOMPOK B16
ROZAAN AFAAF MAHASHIN (1102018337)
MUHAMMAD ALFIN AL FAISAL (1102018338)
SONIA CHANDRA GRENOVIVA R.A (1102018339)
NINA YOLANDA PUTRI (1102018340)
WINITA (1102018341)
MAULIDYA FARADIBA (1102018342)
DAFFA RIZQI FAUZI (1102018354)
PUJA KHAIRUNNISA (1102018355)

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS YARSI 2017/2018
Jl. Letjen. Suprapto, Cempaka Putih, Jakarta 10510
Telp. 62.21.4244574 Fax. 62.21.4244574
DAFTAR ISI
Daftar Isi ................................................................................................................................. 2
Skenario .................................................................................................................................. 4
Kata Sulit ................................................................................................................................ 5
Pertanyaan ............................................................................................................................... 5
Jawaban ................................................................................................................................... 6
Hipotesis ................................................................................................................................. 7
Sasaran Belajar........................................................................................................................ 8
LO.1 Memahami dan Menjelaskan Oksigen untuk Tubuh
LO1.1 Memahami dan Menjelaskan Definisi Oksigen ………………………………..10
LO1.2 Memahami dan Menjelaskan Fungsi Oksigen………………………………….10
LO.2 Memahami dan Menjelaskan Hipoksia
LO2.1 Memahami dan Menjelaskan Definisi Hipoksia …………………………………12
LO2.2 Memahami dan Menjelaskan Jenis-jenis Hipoksia ………………………………12
LO2.3 Memahami dan Menjelaskan mekanisme Hipoksia..................................………..13
LO2.4 Memahami dan Menjelaskan Gejala Hipoksia........................................................14
LO2.5 Memahami dan Menjelaskan penyebab Hipoksia...................................................14
LO2.6 Memahami dan Menjelaskan dampak Hipoksia…………………………………..15
LO2.7 Memahami dan Menjelaskan penanganan Hipoksia……………………………....16
LO2.8 Memahami dan Menjelaskan pencegahan Hipoksia……………………………....17
LO.3 Memahami dan Menjelaskan Hipotermia
LO3.1 Memahami dan Menjelaskan Definisi Hipotermia………………………………. .18
LO3.2 Memahami dan Menjelaskan Jenis-jenis Hipotermia……………………………. .18
LO3.3 Memahami dan Menjelaskan mekanisme Hipotermia………………………….....19
LO3.4 Memahami dan Menjelaskan Gejala Hipotermia……………………………….....22
LO3.5 Memahami dan Menjelaskan penyebab Hipotermia……………………………… 23
LO3.6 Memahami dan Menjelaskan faktor resiko Hipotermia……………………………23
LO3.7 Memahami dan Menjelaskan penanganan Hipotermia…………………………….24
LO3.8 Memahami dan Menjelaskan pencegahan Hipotermia……………………….........25

2
LO.4 Memahami dan Menjelaskan acute mountain sickness
LO4.1 Memahami dan Menjelaskan Definisi acute mountain sickness………………… 26
LO4.2 Memahami dan Menjelaskan Jenis-jenis acute mountain sickness……………….26
LO4.3 Memahami dan Menjelaskan gejala acute mountain sickness……………………27
LO4.4 Memahami dan Menjelaskan penyebab acute mountain sickness………………..27
LO4.5 Memahami dan Menjelaskan penanganan acute mountain sickness……………..28
Hukum berprasangka Baik Kepada Allah SW…………………………………………….29
Daftar Pustaka ...................................................................................................................... …31

3
SKENARIO 1
Dua pendaki Gunung Sumbing terpaksa dievakuasi oleh tim SAR Kabupaten
Temanggung Jawa Tengah. Mereka dilaporkan mengalami hipoksia akut dan hipotermia.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Tengah melaporkan peristiwa hipotermia
terjadi karena kurangnya persiapan saat mendaki. Menurut keterangan dokter yang merawat dua
pendaki tersebut, jika keadaan hiportemia tidak segera ditangani dapat menyebabkan kegagalan
fungsi tubuh yang lebih dikenal sebagai Acute Mountain Sickness.

4
KATA SULIT
1. Hipoksia
2. Acute Mountain Sickness
3. Akut
4. Hipotermia
5. Evakuasi

PERTANYAAN
1. Apa hubungan antara Hipoksia & Hipotermia ?
2. Organ apa yang terkena pada Hipoksia ?
3. Apa saja jenis-jenis Hipoksia ?
4. Perbedaan Acute Mountain Sickness dengan Hipoksia
5. Apa gejala pada Hipoksia & Hipotermia
6. Pada ketinggian berapa akan muncul Acute Mountain Sickness ?
7. Persiapan seperti apa yang diperlukan agar tidak terkena Hipotermia ?
8. Mengapa Hipoksia dapat menyebabkan kegagalan fungsi tubuh ?
9. Apa tata laksana pada kasus Acute Mountain Sickness ?
10. Apa gejala yang muncul pada seseorang jika terkena Acute Mountain Sickness ?
11. Apa faktor penyebab Hipoksia ?
12. Mengapa pada ketinggian tekanan oksigen menurun ?

5
ANALISA
1. Hipoksia adalah kondisi kekurangan oksigen pada jaringan tubuh yang terjadiakibat
pengaruh perbedaan ketinggian. Hipoksia terjadi karena adanya defisiensyoksigen yang
mengakibatkan kerusakan sel akibat penurunan respirasi oksidatif aerobsel. Hipoksia
adalah suatu kumpulan gejala yang bersifat mendadak akut yang timbuloleh karena
jumlah oksigen yang tidak cukup pada jaringan tubuh akibat penurunantekanan parsial
oksigen dalam udara pernapasan.
2. Jantung, Paru-paru, Otak
3. Hipoksik, Hipoksia Staknan/ Hipoperfusi, Hipoksia Anemik, Histotoksik
4. Hipoksia bisa menyebabkan Acute Mountain Sickness
5. Gejala pada Hipoksia adalah adanya masalah pernafasan, batuk, nafas cepat, nafas
berbunyi, masalah saluran Kardiovaskular, perubahan warna kulit. Gejala pada
Hipotermia adalah bibir bewarna biru, menggigil terus menerus, merinding.
6. 1500 mdpl-2400 mdpl
7. Menjaga kondisi tubuh, mempersiapkan obat pribadi, pakaian lebih tebal, membawa
minuman hangat non kafein, mengontrol diri, mental.
8. O2 diangkut pembuluh darah, jika darah kekurangan O2 menyebabkan keracunan di dalam
tubuh ada sel yang membawa O2.
9. Diberhentikan dan dikeluarkan dari kondisi tersebut, Menghangatkan tubuh, meminum
obat (diberi oksigen).
10. Sakit kepala, mual, muntah, lelah, peningkatan denyut jantung, sesak nafas.
11. Kekurangan O2, adanya cairan di paru-paru, rendahnya sel darah merah, asma yang
parah.
12. Semakin tinggi O2, oksigen semakin rendah karena tekanan menjadi rendah.

6
HIPOTESIS
Seseorang yang mengalami Hipoksia Akut dan Hipotermia, tubuh mengalami kekurangan O2,
sehingga meresponkan dengan cara menurunkan suhu tubuh untuk mengurangi proses
metabolisme. Dalam penurunan suhu tubuh inilah menyebabkan Hipotermia dan dapat
menimbulkan gejala pada Hipoksia adalah adanya masalah pernafasan, batuk, nafas cepat, nafas
berbunyi, masalah saluran Kardiovaskular, perubahan warna kulit. Gejala pada Hipotermia
adalah bibir bewarna biru, menggigil terus menerus, merinding. Kondisi ini menyebabkan Acute
Mountain Sickness dengan gejala sakit kepala, mual, muntah, lelah, peningkatan denyut jantung,
sesak nafas, gejala ini muncul pada ketinggia 1500-2400 mdpl. Pada kondisi ini kita bisa
melakukan tata laksana dengan cara diberhentikan dan dikeluarkan dari kondisi tersebut,
Menghangatkan tubuh, meminum obat (diberi oksigen).

7
SASARAN BELAJAR
LO.1 Memahami dan Menjelaskan Oksigen untuk Tubuh
LO1.1 Memahami dan Menjelaskan Definisi Oksigen
LO1.2 Memahami dan Menjelaskan Fungsi Oksigen
LO.2 Memahami dan Menjelaskan Hipoksia
LO2.1 Memahami dan Menjelaskan Definisi Hipoksia
LO2.2 Memahami dan Menjelaskan Jenis-jenis Hipoksia
LO2.3 Memahami dan Menjelaskan mekanisme Hipoksia
LO2.4 Memahami dan Menjelaskan Gejala Hipoksia
LO2.5 Memahami dan Menjelaskan penyebab Hipoksia
LO2.6 Memahami dan Menjelaskan dampak Hipoksia
LO2.7 Memahami dan Menjelaskan penanganan Hipoksia
LO2.8 Memahami dan Menjelaskan pencegahan Hipoksia
LO.3 Memahami dan Menjelaskan Hipotermia
LO3.1 Memahami dan Menjelaskan Definisi Hipotermia
LO3.2 Memahami dan Menjelaskan Jenis-jenis Hipotermia
LO3.3 Memahami dan Menjelaskan mekanisme Hipotermia
LO3.4 Memahami dan Menjelaskan Gejala Hipotermia
LO3.5 Memahami dan Menjelaskan penyebab Hipotermia
LO3.6 Memahami dan Menjelaskan faktor resiko Hipotermia
LO3.7 Memahami dan Menjelaskan penanganan Hipotermia
LO3.8 Memahami dan Menjelaskan pencegahan Hipotermia
LO.4 Memahami dan Menjelaskan acute mountain sickness
LO4.1 Memahami dan Menjelaskan Definisi acute mountain sickness
LO4.2 Memahami dan Menjelaskan Jenis-jenis acute mountain sickness
LO4.3 Memahami dan Menjelaskan gejala acute mountain sickness
LO4.4 Memahami dan Menjelaskan penyebab acute mountain sickness

8
LO4.5 Memahami dan Menjelaskan penanganan acute mountain sickness

9
LO.1. Memahami dan Menjelaskan Oksigen untuk Tubuh

LO. 1.1. Memahami dan Menjelaskan Definisi oksigen


Oksigen (O2) adalah salah satu komponen gas dan unsur vital, berperan penting
dalam proses tubuh secara fungsional. Oksigen merupakan kebutuhan paling utama
bagi tubuh , diperlukan pada proses metabolism aerobic yang merupakan proses
mengubah glukosa menjadi ATP dan CO2. (Biokimia Harper). Energy ATP
dibutuhkan oleh manusia untuk melakukan berbagai aktivitas, menyerap makanan,
membangun kekebalan tubuh, juga penghancuran beberapa racun sisa metabolism.
LO. 1.2. Memahami dan Menjelaskan Fungsi oksigen
Oksigen diperlukan untuk berjalannya metabolism aerobic (yang membutuhkan
O2). Glukosa yang menjadi bahan bakar utama bagi sebagian jaringan di proses
melalui lisntasan glikolisis, lalu fosforilasi oksidatif, kemudian masuk dalam lintas
siklus asam sitrat, dan kemudia hasil-hasilnya diproses pada tahap transfer electron
yang menghasilkan energy ATP. Ketiga tahap dalam metabolism aerobic yang
utama tersebut memerlukan O2 dalam prosesnya (Biokimia Harper).

Oksigen masuk kedalam tubuh dalam proses inspirasi pada system pernapasan.
Kemudian terjadi proses difusi antara udara dalam alveolus dengan darah di dalam
kapiler pulmonal, yang saling menukarkan O2 dengan CO2. Kemudian darah yang
berada pada paru-paru memasuki vena pulmonalis, di hantarkan menuju jantung
lalu di pompa ke seluruh tubuh arteri.(Sherwood). O2 diangkut oleh darah dalam
jumlah besar oleh Hb dalam eritrosit (Biokimia Harper).

Dalam 1 sel darah merah (eritrosit) terdapat 280jt molekul Hb. Hb merupakan
sejenis protein yang terdiri atas 4 rantai polipeptida, yang tiap satunya mengandung
satu pigmen non-protein berbentuk seperti cincin yang disebut sebagai kelompok
heme aktif yang mengandung ion Fe2+. Ion Fe2+ tersebut mengikat satu molekul O2.
Sehingga secara keseluruhan, 1 Hb mengikat 4 molekul O2. Pada kondisi normal,
darah arteri memasuki jaringan tubuh dengan tekanan parsial 95mmHg dengan
saturasi Hb >97%. Kemudia aliran balik vena bertekanan 40mmHg dengan saturasi
Hb 75-80%.

Kekurangan kadar O2 dalam tubuh dapat menyebabkan metabolism tidak


sempurna, hipoksia, dan terganggunya fungsi kerja organ tubuh. Kehilangan suplai
O2 5-10 detik pun dapat menimbulkan kehilangan kesadaran, dan lebih lanjutnya
mengakibatkan kerusakan otak yang irreversible.

Oksigen penting untuk makhluk hidup karena merupakan unsur penting dari DNA
dan hampir semua bahan biologis penting lainnya.Dua per tiga tubuh manusia
terdiri dari oksigen. Sel manusia membutuhkanoksigen untuk mempertahankan
kelangsungan metabolism. Karena oksigen merupakan komponen penting pada
pembentukan Adenosin Trifosfat (ATP). ATP adalah sumber energi untuk
melakukan aktivitas seluler secara maksimal danmemelihara efektivitas segala
fungsi tubuh.Kebutuhan tubuh terhadap oksigen merupakan kebutuhan yang
sangatmendasar dan mendesak. Tanpa oksigen dalam waktu tertentu, sel tubuh akan

10
mengalami kerusakan yang menetap dan menimbulkan kematian. Otak
merupakanorgan yang sangat sensitif terhadap kekurangan oksigen. Otak masih
mampu menoleransi kekurangan oksigen antara tiga sampai lima menit. Apabila
kekurangan oksigen berlangsung lebih dari lima menit, dapat terjadi kerusakan sel
otak secarapermanen (Kozier dan Erb 1998). Bila oksigen yang tersedia banyak
maka mitokondria akan memproduksi ATP.Tanpa oksigen, mitokondria tidak akan
membuat ATP. Jika oksigen dalam jumlahyang sedikit, tubuh akan tetap
menghasilkan ATP pada sitosol melalui prosesglikolisis dan merupakan reaksi
anaerob. Tapi jumlah yang dihasilkan tidak sebanyak yang dihasilkan mitokondria.
Oleh karena itu, jika tubuh terus menerusdalam keadaan tanpa oksigen maka
sel akan kehilangan fungsinya.

Transpor Oksigen dalam Darah

Oksigen dapat diangkut dari paru-paru ke jaringan melalui dua jalan: secara fisik
larut dalam plasma atau secara kimia berikatan dengan Hb sebagai oksiHb (HbO2).
Ikatan kimia oksigen dengan Hb ini bersifat reversible dan jumlah sesungguhnya
yang diangkut dalam bentuk ini mempunyai hubungan nonlinear dengan tekanan
parsial O2 dalam darah arteri (PaO2), yang di tentukan oleh jumlah oksigen yang
secara fisik larut dalam plasma darah. Selanjutnya, jumlah oksigen yang secara fisik
larut dalam plasma mempunyai hubungan langsung dengan tekanan parsial oksigen
dalam alveolus (PAO2). Jumlah oksigen juga bergantung pada daya larut oksigen
dalam plasma. Hanya sekitar 1% dari jumlah oksigen total yang diangkut ke
jaringan-jaringan ditranspor dengan cara ini. Cara transport seperti ini tidak
memadai untuk mempertahankan hisup walaupun dalam keadaan istirahat
sekalipun. Sebagian besar oksigen diangkut oleh Hb yang terdapat dalam sel darah
merah. Dalam keadaan tertentu (misalnya: keracunan karbon monosikda atau
hemolysis massif dengan insufisiensi Hb), oksigen yang cukup untuk
mempertahankan hidup dapat diangkut dalam bentuk larutan fisik dengan
memberikan pasien oksigen bertekanan lebih tinggi dari tekanan atmosfer (ruang
oksigen hiperbarik).

Pada tingkat jaringan, oksigen akan melepaskan diri dari Hb ke dalam plasma dan
berdifusi dari plasma ke sel-sel jaringan tubuh untuk memenuhi kebutuhan jaringan
yang bersangkutan. Meskipun kebutuhan jaringan bervariasi, namun sekitar 75%
Hb masih berikatan dengan oksigen pada waktu Hb kembali ke paru dalam bentuk
darah vena campuran. Jadi hanya sekitar 25% oksigen dalam darah arteri yang di
gunakan untuk keperluan jaringan. Hb yang telah melepaskan oksigen pada tingkat
jaringan disebut Hb tereduksi. Hb tereduksi bewarna ungu dan menyebabkan warna
kebiruan pada darah vena, seperti yang kita lihat pada vena superfisia, misalnya
pada tangan, sedangkan HbO2 bewarna merah terang dan menyebabkan warna
kemerah-merahan pada darah arteri.

11
LO.2 Memahami dan Menjelaskan Hipoksia
LO2.1 Memahami dan Menjelaskan Definisi Hipoksia
Hipoksia adalah kondisi kekurangan oksigen pada jaringan tubuh yang
terjadiakibat pengaruh perbedaan ketinggian. Hipoksia terjadi karena adanya
defisiensyoksigen yang mengakibatkan kerusakan sel akibat penurunan respirasi
oksidatif aerobsel. Hipoksia adalah suatu kumpulan gejala yang bersifat mendadak
akut yang timbuloleh karena jumlah oksigen yang tidak cukup pada jaringan tubuh
akibat penurunantekanan parsial oksigen dalam udara pernapasan.

LO2.2 Memahami dan Menjelaskan Jenis-jenis Hipoksia


Hipoksia dibagi atas empat jenis Hipoksia Hipokinetik, Hipoksemia,
Overventilasi Hipoksia, Hipoksia Hipotoksik.
A. Hipoksemia
kekurangan oksigen di darah arteri . Terbagi atas 2 jenis yaitu Hipoksemia
Hipotonik dan Hipoksemia isotonic .
 Hipoksemia Hipotonik terjadi dimana tekanan oksigen darah arteri rendah karena
karbondioksida dalam darah tinggi dan hipoventilasi .
 Hipoksemia isotonic terjadi dimana oksigen normal , tetapi jumlah oksigen yang
dapat diikat hemoglobin sedikit . Hal ini terdapat pada kondisi anemia dan
keracunan karbondoksida

B. Hipoksia Hipokinetik (stagnant anoksia/anoksia bendungan)


Hipoksia Hipokinetik yaitu terjadi akibat adanya bendungan atau sumbatan .
Hipoksia Hipokinetik dibagi ke dalam 2 jenis yaitu Hipoksia Hipokinetik
ischemic dan Hipoksia Hipokinetik Kongesif
 Hipoksia Hipokinetik ischemic terjadi dimana kekurangan oksigen pada jaringan
disebabkan karena kurangnya suplai darah ke jaringan tersebut akibat penyempitan
arteri

 Hipoksia Hipokinetik Kongesif terjadi akibat penumpukan darah secara berlebihan


atau abnormal baik local maupun umum yang mengakibatkan suplai oksigen ke
jaringan terganggu , sehingga jaringan kekurangan oksigen

C. Overventilasi Hipoksia yaitu Hipoksia yang terjadi karena aktivitas yang berlebihan
sehingga kemampuan penyediaan oksigen lebih rendah dari penggunaannya

D. Hipoksia Hipotoksik yaitu keadaan dimana darah di kapiler jaringan mencukupi


tetapi jaringan tidak dapat mencukupi , tetapi jaringan tidak dapat menggunakan
oksigen karena pengaruh racun sianida . Hal tersebut mengakibatkan oksigen

12
kembali dalam darah vena dalam jumlah yang lebih banyak daripada normal
(oksigen darah vena meningkat)

LO2.3 Memahami dan Menjelaskan mekanisme Hipoksia


Patofisiologi Hipoksia

Pada saat berada di daerah ketinggian, tubuh kita merespon fisiologi yang efesien.
Sebagian besar masalahnya disebabkan oleh kekurangan oksigen. Karena tekanan
atmosfer menurun berbanding terbalik dengan ketinggian bertambah, pada ketinggian
2.000 M di atas permukaan laut, setiap volume udara mengandung kira-kira 20% lebih
sedikit oksigen, dan pada ketinggian 4.000 M, udara mengandung 40% lebih sedikit
oksigen. Kekurangan oksigen mempengeruhi sebagian besar fungsi tubuh.

Pada saat O2 berkurang di sekitar kita, maka tubuh akan kekurangan O2 . ini
menyebabkan sel sel tubuh kita terhambat dalam menjalankan fungsi metabolisme.
Pada otak akan memberi respon kepada otot-otot pernafasan untuk berkontraksi cepat
karena tubuh membutuhkan pasokan O2 yang lebih banyak. Hal ini menyebabkan
frekuensi nafas menjadi cepat bertujuan untuk mencukupi O2 dalam menjalankan
fungsi metabolism sel. Jika ini terjadi secara terus menenrus akan menyebabkan
kelelahan otot pada tubuh.
Resiko klinis akan menyebabkan hipoksia akut. Kondisi tersebut yaitu penurunan
kemampuan adaptasi peningkatan frekuensi pernapasan, denyut jantung naik. Jika
berlanjut terus terjadi gangguan pandangan, bahkan perubahan proses mental. Pada
tahapan kritis, tingkat kesadaran berangsur hilang, Pada tahap akhir bisa terjadi kejang
dilanjutkan dengan henti napas.

13
Mekanisme Hipoksemia

FIO2 rendah (ketinggian tempat)


Gangguan Difusi
Hipoventilasi Alveolar
Ketidakseimbangan V/Q
Rasio V/Q rendah (perfusi yang terbuang , pirau fisiologik , perfusi vena mirip
campuran , efek pirau)
Pirau Vena ke arteria (campuran vena sejati, pirau kanan ke kiri)
Pirau anatomis kanan ke kiri
Intrakardia
Intrapulmonar
Pirau kapiler ALVEOLAR (pirau mirip pirau anatomis)
Atelektasis
Pneumonia yang terkonsolidasi
Edema atau eksudat alveolar

LO2.4 Memahami dan Menjelaskan Gejala Hipoksia


Gejala Hipoksia
 Bingung
 Frekuensi pernapasan meningkat
 Badan dingin berkeringat
 Denyut jantung meningkat terus melemah

LO2.5 Memahami dan Menjelaskan Penyebab Hipoksia

 Ketidakseimbangan V/Q ketidakseimbangan ventilasi dan perfusi adalah penyebab


utama hipoksemia , seperti pneumonia , embotil paru

14
 Terjadinya purau (shunting) darah dari sisi sirkulasi kanan ke kiri menyebabkan
terjadinya bypass paru, sehingga tidak terjadi oksigenasi . Dugaan klinis piaru bila
kadar oksigen inspirasi yang tinggi tidak meperbaiki PO2
 Hipoksemia pada ketinggian
 Hipoksia dapat terjadi karena defisiensi oksigen pada tingkat jaringan sehingga sel-sel
tidak memperoleh oksigen yang cukup akibatnya metabolisme sel terganggu.Hipoksia
dapat terjadi karena O2 paru yang tidak memadai karena keadaan ekstrinsik.
 Penyakit paru, hipoventilasi karena peningkatan tahanan saluran nafas
ataupemenuhan paru menurun.
 Shunt vena ke arteri.
 Transpor dan pelepasan oksigen yang tidak memadai.5)
 Pemakaian oksigen yang tidak memadai pada jarinagn disebabkan keracunanenzim
sel, kekurangan enzim sel karena defisiensi vitamin B.
 Emosi seperti rasa takut, cemas, dan marah dapat meningkatkan kebutuhanterhadap
oksigen.
 Gaya hidup seperti kebiasaan merokok dapat memengaruhi status oksigenasi

LO2.6 Memahami dan Menjelaskan Dampak Hipoksia


Klasifikasi penyebab terjadinya Hipoksia
1. Kadar O2 menurun
2. Gangguan pada aliran darah
3. Kemampuan darah membawa O2
4. Gangguan pada sel/ organ

Hipoksia Kronik
Hipoxic pulmonary vasoconstriction terutama terjadi pada arteri pulmonalis kecil,
dimana hipoksia alveoli merupakan,faktor penyebab utama. Akibat nyata dari hipoksia
alveoli adalah proses muskularisasi pada arteri pulmonalis berdiameter kurang dari 70
um, yang pada keadaan normal hanya mengandung satu lapisan elastik tanpa otot
polos. Hypoxic pulmonary vasoconstriction pembuluh darah paru menyebabkan
hipertensi pulmonal, hipertrofi dan dilatasi ventrikel kanan serta hipoksia kronis
ditandai dengan meningkatnya rangsangan pada bone marrow, dimana kadar P02
dipertahankan pada 80 mm Hg, sesuai dengan kurva disosiasi oksihemoglobin.

Akibat dari hipoksia kronik


Akibat klinis hipoksia kronis seperti vasokonskiksi, perubahan struktur pada
terminal arteri pulmonalis, polisitemia, ikut andil terhadap terjadinya hypoxic
pulmonary hypertension. Tekanan alveoli oksigen di bawah 75 mm Hg, sering pada
hipoksia kronis karena bronchitis kronis, emphysema, keadaan hlpoventilasi atau
hipoksia pada ketinggian.Keadaan hipoksia kronis akan mengakibatkan proses
muskularisasi dan remodeling dari pernbuluh darah paru

15
LO2.7 Memahami dan Menjelaskan Penanganan Hipoksia
Penanganan pada Hipoksia

Penanganan yang dapat dilakukan terhadap penderita hipoksia adalah:

1.Pemberian oksigen merupakan tindakan memberikan oksigen ke dalam saluran pernafasan


dengan alatbantu oksigen. Pemberian oksigen dapat dilakukan meallui tiga cara, yaitu
melaluikanula, nasakm dan masker. Pemberian oksigen ini ditujukan untuk
memenuhikebutuhan oksigen dan mencegah terjadinya hipoksia.

Penanganan pada daerah tinggi

2. Turun segera Dengan turun segera dari ketinggian dapat menyembuhkan gejala
dalam beberapa jam, namun misi naik gunung dapat tertunda

3. Istirahat di ketinggian yang samaDiharapkan terjadinya proses


aklimatisasi(penyesuaian ketersediaan O2 yangmenurun di dataran tinggi), namun
gejala baru akan hilang dalam 24-48 jam.

4. Istirahat dan minum Acetazolamide, atau Deksametason, atau keduanyaDengan


Acetazolamide, gejala dapat hilang dalam 12-24 jam, namun ada efek samping obat.
Sedangkan pada Deksametason dapat menghilangkan gejala dalambeberapa jam, namun hanya
menyembunyikan gejala dan tidak terjadi proses aklimatisasi.

5. Terapi oksigen hiperbarik Gejala akan hilang dalam beberapa menit, namun hanya
dapat meningkatkan jumlahO2 yang larut dalam darah arteri, sehingga memberikan
arti yang terbatas padahipoksia stagnan, anemik, histotoksik, dan hipoksik.

Terapi Hipoksemia : Terapi O2


O2 konsentrasi tinggi diberikan selama resusitasi atau bila terjadi purau
intrapulmonal yang signifikan (pneumonia berat, asma , edema paru) . Konsentrasi ≥
60% bias dicapai hanya dengan system tertutup , seperti pemasangan masker wajah
yang ketat seperti endotrakea. Harus tersedia aliran darah yang tinggi dan menghindari
pengambilan ulang udara pernapasan. Dibutuhkan kehati-hatian tinggi dalam
memberikan oksigen konsentrasi tinggi pada gagal napas tipe II karena bias
menyebabkan narcosis CO2 dan kematian
O2 konsentrasi lebih rendahn : ada 2 jenis alat untuk mengalirkan oksigen dengan
konsentrasi 30-50% dengan satu atau macam tampilan. Penting untuk memahami
perbedaan antara kedua tampilan : masker sekali pakai yang murah dengan cabang
nasal mengalirkan oksigen dalam konsentrasi yang berbeda – beda (tidak terkendali) .
Aliran oksigen konstan namu tercampur dengan jumlah udara dalam ruangan yang
beragam tergantung pada pola pernapasan pasien . Bila terjadi hipoventilasi akan
terjadi kenaikan konsentrasi oksigen inspirasi . Kondisi O2 yang terbatas satu macam
pada keadaan

16
LO2.8 Memahami dan Menjelaskan Pencegahan Hipoksia
1.Jangan menggunakan helikopter ketika menuju dataran tinggi dan usahakan jalan
kepuncak mulai dari ketinggian dibawah 3000m.

2.Hindari merokok, minum alkohol, obat anti depresan karena dapat


memperlambatlaju pernafasan.

3.Menjaga asupan nutrisi, terutama zat besi, folat, vitamin B-12 dan B-6.

17
LO.3 Memahami dan Menjelaskan Hipotermia
LO3.1 Memahami dan Menjelaskan Definisi Hipotermia
Hipotermia adalah keadaan darurat medis. dimana mekanisme tubuh kehilangan
panas lebih cepat daripada yang dapat dihasilkan. Keadaan ini menyebabkan suhu
tubuh menurun drastis dibawa suhu normal. Suhu tubuh normal yaitu 36,5 0C –
37,50C. Hipotermia terjadi ketika suhu tubuh menurun drastis yaitu dibawah 950F
(350C)
Suhu inti (core temperature) menggambarkan suhu organ-organ dalam (kepala,
dada, abdomen) dan dipertahankan sangat konstan mendekati sekitar 370C. Suhu
kulit (shell temperature) menggambarkan suhu kulit tubuh, jaringan subkutan,
batang tubuh. Suhu ini berfluktuasi dipengaruhi oleh suhu lingkungan. Suhu tubuh
rata-rata (mean body temperature) merupakan suhu rata-rata gabungan suhu inti
dan suhu kulit.

LO3.2 Memahami dan Menjelaskan Jenis-jenis hipotermia


A. Tingkat hipotermia
 Ringan. Pada tingkat ini, tanda awal bisa dilihat dari jari-jari tangan dan kaki
yang pucat dan kaku. Hal ini disebabkan oleh vasoconstriction, yaitu reaksi
tubuh terhadap suhu yang dingin dengan melakukan pengurangan suplai darah
ke tangan dan kaki untuk menjaga suhu inti tubuh. Jika tangan Anda pucat dan
kaku, itu menunjukkan bahwa seluruh tubuh Anda kedinginan. Pada tingkat
ini, Anda masih dapat melakukan fungsi motorik seperti berjalan dan bicara.
 Sedang. Ketika temperatur tubuh Anda terus-menerus turun, maka fungsi
mental dan fisik Anda juga akan ikut menurun. Lemah, bersikap aneh,
linglung, lupa, dan sering terjatuh merupakan salah satu gejala pada tingkat ini.
 Parah. Ketika suhu tubuh turun di bawah 32°C, korban Hipotermia akan
berhenti menggigil. Warna kulit pada bibir dan jari akan kebiruan atau pucat,
karena kandungan oksigen yang rendah dalam darah (cyanosis). Detak jantung
akan melambat dan melemah. Pada tingkat ini, sulit untuk merasakan denyut
nadi.
B. Jenis-jenis hipotermia
a. Accidental hypothermia terjadi ketika suhu tubuh inti menurun hingga 35°c.
b. Primary accidental hypothermia merupakan hasil dari paparan langsung terhadap
udara dingin pada orang yang sebelumnya sehat.
c. Secondary accidental hypothermia merupakan komplikasi gangguan sistemik
( seluruh tubuh ) yang serius. Kebanyakan terjadinya di musim dingin ( salju ) dan
iklim dingin.

18
cedera yang berhubungan dengan dingin dalam
kombinasi dengan hipotermia meliputi:
 Bengkak karena kedinginan yang
dangkal ulcers kulit yang terjadi ketika
seorang individu yang cenderung
berulang kali terkena dingin.
 Frostbite melibatkan beku dan
kerusakan jaringan. Tubuh terpajan
terhadap suhu yang sangat rendah,
daerah permukaan dapat membeku.
Menyebabkan terbentuknya Kristal es
dalam sel
 Parit kaki atau Pencelupan kaki ini
disebabkan oleh paparan berulang
basah, non-beku suhu. Dingin diuresis, mental kebingungan, hiperglikemia,
serta hepatic disfungsi mungkin juga ada.

LO3.3 Memahami dan Menjelaskan mekanisme hipotermia


A. Mekanisme tubuh kehilangan panas
Tubuh manusia menghasilkan panas melalui metabolisme dan olahraga.
Untuk mempertahankan suhu konstan, produksi panas harus menyeimbangkan
berbagai cara di mana tubuh dapat kehilangan panas ke lingkungan.

 Konduksi
3% perpidahan panas dari kulit kelingkungan melalui mekanisme konduksi.
Konduksi adalah perpindahan panas secara langsung dari permukaan tubuh ke
benda benda padat, seperti kursi atau tempat tidur. Sebaliknya, pengeluaran
panas melalui konduksi ke udara mencerminkan pengeluaran panas tubuh yang
cukup besar (kira-kira 15%) walaupun dalam keadaan normal.

19
 Konveksi
Perpindahan panas dari tubuh melalui aliran udara. Sebenarnya, panas
pertama – tama harus dikonduksikan ke udara dan kemudian dibawa melalui
aliran udara konveksi. Sejumlah kecil konveksi hamapir selalu terjadi di sekitar
tubuh akibat kecenderungan udara disekitar kulit untuk naik ketika menjadi
panas. Oleh karena itu, pada orang telanjang yang duduk diruangan yang
nyaman tanpa gerakan udara yang besar, akan kehilangan sekitar 15 % dari
total panas yang keluar melalui konduksi ke udara kemudian melalui konveksi
udara yang menjauhi tubuhnya.

 Radiasi
Seperti pada gambar, orang telanjang yang sedang duduk pada suhu kamar
yang normal, sekitar 60% pengeluaran panasnya melalui radiasi. Pengeluaran
panas melalui radiasi berarti pengeluaran dalam bentuk gelombang panas
inframerah, suatu jenis gelombang elektromagnetik. Tubuh manusia
memancarkan gelombang panas kesegala penjuru.

 Evaporasi
kehilangan panas karena menguapnya cairan ketuban pada permukaan tubuh.
Bila air berevaporasi dari permukaan tubuh, panas sebesar 0.58 kalori
(kilokalori) akan hilang untuk setiap satu gram air yang mengalami evaporasi.
Evaporasi melalui kulit dan paru yang tidak kelihatan ini tidak dapat
dikendalikan untuk tujuan pengaturan suhu karena evaporasi tersebut
dihasilkan dari difusi molekul air terus menerus melalui permukaan kulit dan
system pernafasan.

B. Pengatuan suhu tubuh – peran hipotalamus


Suhu tubuh organisme dikendalikan di bagian otak yang disebut hipotalamus.
Hipotalamus adalah pusat pengaturan suhu tubuh untuk mengenali perubahan suhu
tubuh dan meresponnya dengan tepat. Dalam tubuh organisme menghasilkan panas
dari proses metabolisme di dalam sel yang mendukung fungsi vital tubuh.
Hipotalamus posterior menggabungkan sinyal sensorik suhu pusat dan perifer.
Area hipotalamus yang dirangsang oleh sinyal sensorik terletak secara bilateral pada
hipotalamus posterior
kira-kira setinggi

korpus mamilaris. Sinyal


sensorik suhu dari area
preoptik di hipotalamus
anterior juga dihantarkan
ke dalam area
hipotalamus posterior ini.
Di sini sinyal dari area
preoptik dan sinyal dari
bagian tubuh yang lain
dikombinasikan dan

20
digabung untuk mengatur reaksi pembentukan panas atau reaksi penyimpanan panas
di dalam tubuh.
Dalam kondisi lingkungan yang semakin dingin, tubuh otomatis membutuhkan
panas. Maka, hipotalamus akan bekerja untuk mengenali perubahan suhu ini. Dengan
begitu, tubuh akan menggigil dalam bentuk respon perlindungan tubuh untuk
menghasilkan suhu panas melalui aktivitas otot.

Mekanisme Peningkatan-Suhu Saat Tubuh Terlalu Dingin


1. vasokonstriksi kulit di seluruh tubuh. Hal ini disebabkan oleh rangsangan
rangsangan dari pusat simpatis hipotalamus posterior.
2. Piloereksi. Piloereksi berarti rambut “berdiri pada akarnya”. Rangsang-simpatis
menyebabkan otot arektor pili yang melekat ke folikel rambut berkontraksi, yang
menyebabkan rambut berdiri tegak. Berdirinya rambut memungkinkan
pembentukan lapisan tebal “isolator udara” yang bersebelahan dengan kulit,
sehingga pemindahan panas ke lingkungan sangat ditekan.
3. Peningkatan thermogenesis (pembentukan panas). Pembentukan panas oleh
sistem metabolisme meningkat dengan memicu terjadinya menggigil, rangsang
simpatis untuk pembentukan panas,
dan sekresi tiroksin.

Rangsang hipotalamus terhadap


menggigil terletak pada bagian
dorsomedial dari hipotalamus posterior
dekat dinding ventrikel ketiga adalah suatu
area yang disebut pusat motorik primer
untuk menggigil. Area ini normalnya
dihambat oleh sinyal dari pusat panas di
area preoptik-hipotalamus anterior tetapi
dirangsang oleh sinyal dingin dari kulit
dan medulla spinalis. Pusat ini meneruskan
sinyal yang menyebabkan menggigil
melalui traktus bilateral turun ke batang
otak, kemudian ke dalam kolumna lateralis
medulla spinalis, dan akhirnya ke neuron-
neuron motorik anterior. Sinyal ini tidak
teratur dan sinyal ini meningkatkan tonus
otot rangka di seluruh tubuh dengan
meningkatkan aktivitas neuron-neuron motorik anterior. Ketika tonus meningkat di
atas nilai kritis tertentu, proses menggigil dimulai. Selama proses menggigil
maksimum, pembentukan panas tubuh dapat meningkat hingga sebesar empat sampai
lima kali lipat dari normal.
Peningkatan perangsangan simpatis maupun norepinefrin dan epinefrin dalam
darah dapat menyebabkan peningkatan kecepatan metabolisme seluler dengan cepat.
Efek ini disebut thermogenesis kimia atau thermogenesis tanpa menggigil yang
dihasilkan dari kemampuan norepinefrin dan epinefrin untuk memisahkan fosforilasi

21
oksidatif yang berarti kelebihan makanan akan dioksidasi dan dengan cara tersebut
akan melepaskan energi dalam bentuk panas tanpa menyebabkan pembentukan ATP.
Derajat thermogenesis kimia yang terjadi hampir selalu sebanding dengan jumlah
lemak cokelat dalam jaringan organisme. Lemak cokelat sangat kaya akan saraf-saraf
simpatis yang melepaskan norepinefrin, yang merangsang ekspresi jaringan
mitochondrial uncoupling protein (disebut juga termogenin) dan meningkatkan
thermogenesis.
Peningkatan keluaran tiroksin sebagai penyebab peningkatan pembentukan panas
jangka panjang. Pendinginan di area preoptik-hipotalamus anterior juga
meningkatkan pembentukan hormone neurosekretorik thyrotropin-releasing hormone
(hormone pelepas tirotropin) oleh hipotalamus. Hormon ini diangkut melalui vena
porta hipotalamus ke kelenjar hipofisis anterior, tempat hormone merangsang sekresi
thyroid-stimulating hormone (hormone perangsang tiroid). Thyroid-stimulating
hormone merangsang peningkatan keluaran tiroksin oleh kelenjar tiroid. Peningkatan
tiroksin akan menggiatkan uncoupling protein dan meningkatkan kecepatan
metabolisme seluler di seluruh tubuh. Peningkatan metabolisme ini tidak terjadi
segera tetapi membutuhkan waktu beberapa minggu pajanan terhadap dingin untuk
membuat kelenjar tiroid menjadi hipertrofi dan mencapai tingkat sekresi tiroksin yang
baru.
Efek rangsangan udara dingin yang terus-menerus pada kelenjar tiroid mungkin
dapat menjelaskan insiden goiter tiroid toksik yang jauh lebih tinggi pada orang yang
tinggal di iklim yang lebih dingin daripada orang yang tinggal di iklim yang lebih
panas.
Jantung dan hati juga dapat menghasilkan suhu panas untuk tubuh tetapi saat di
lingkungan dingin, organ tersebut kurang menghasilkan suhu panas untuk tubuh
karena dalam kondisi suhu tubuh yang rendah akan memperlambat aktivitas otak,
pernafasan dan detak jantung.

LO3.4 Memahami dan Menjelaskan Gejala hipotermia


Gejala umum yang muncul adalah:

 Gemetaran
 Bergumam
 Nafas lambat dan dangkal
 Kikuk atau kurang koordinasi
 Mengantuh atau energy sangat rendah
 Kebingungan atau kehilangan memori
 Hilang kesadaran
 Denyut nadi rendah

Seseorang dengan hipotermia biasanya tidak menyadari kondisinya karena gejala


sering dimulai secara bertahap. Juga, pemikiran yang membingungkan terkait dengan

22
hipotermia mencegah kesadaran diri. Pemikiran yang membingungkan juga dapat
menyebabkan perilaku pengambilan risiko.
Hipotermia mempengaruhi setiap sistem organ tubuh manusia. Sistem saraf pusat
(SSP) pada awalnya dilindungi dari hipotermia oleh mekanisme autoregulasi tubuh,
tetapi SSP menjadi tertekan ketika suhu inti turun. Bahkan pada hipotermia ringan,
pasien dapat mengalami bicara yang tidak jelas, kebingungan, gangguan penilaian dan
amnesia. Karena hipotermia memburuk, pasien berkembang dari lesu menjadi koma,
refleksnya menghilang, dan SSP berhenti mengatur sistem kardiovaskular.
Gejala-gejala kognitif sangat berbahaya, karena mereka mencegah pasien
mengambil tindakan yang diperlukan untuk menyelamatkan diri. Contoh paling
ekstrem dari pengambilan keputusan yang ganjil dalam hipotermia adalah membuka
pakaian secara paradoks. Sejumlah besar (lebih dari 20% dalam satu seri kasus) pasien
hipotermik sedang hingga berat mulai merasa sangat hangat dan menanggalkan
pakaian mereka saat masih terkena unsur-unsur.
Ketika suhu jaringan turun, metabolisme sel melambat. Otak yang dingin lamban
dan tidak berfungsi optimal, tetapi juga membutuhkan lebih sedikit oksigen dan bahan
bakar metabolik untuk tetap hidup. Sudah diakui selama beberapa dekade bahwa
hipotermia dapat memperlambat perkembangan cedera otak anoxic.

LO3.5 Memahami dan Menjelaskan penyebab hipotermia


Penyebab hipotermia paling umum adalah paparan kondisi cuaca dingin atau air
dingin. Tetapi paparan yang terlalu lama pada lingkungan yang lebih dingin dari
tubuh Anda dapat menyebabkan hipotermia jika Anda tidak berpakaian dengan tepat
atau tidak dapat mengontrol kondisi.

Kondisi spesifik yang mengarah ke hipotermia meliputi:

 Mengenakan pakaian yang tidak cukup hangat untuk kondisi cuaca.


 Menginap terlalu lama di luar dingin
 Tidak bisa keluar dari pakaian basah atau pindah ke lokasi yang hangat dan
kering.
 Jatuh ke air, seperti kecelakaan perahu.
 Tinggal di rumah yang terlalu dingin, entah dari pemanasan yang buruk atau
terlalu banyak pendingin udara

LO3.6 Memahami dan Menjelaskan faktor resiko hipotermia

 Kelelahan. Toleransi Anda untuk dingin berkurang ketika Anda lelah. Usia yang lebih
tua. Kemampuan tubuh untuk mengatur suhu dan rasa dingin dapat berkurang seiring
bertambahnya usia. Dan beberapa orang dewasa yang lebih tua mungkin tidak dapat
berkomunikasi ketika mereka kedinginan atau pindah ke lokasi yang hangat jika
mereka merasa kedinginan.
 Usia sangat muda. Anak-anak kehilangan panas lebih cepat daripada orang dewasa.
Anak-anak juga dapat mengabaikan kedinginan karena mereka terlalu bersenang-
senang untuk memikirkannya. Dan mereka mungkin tidak memiliki penilaian untuk

23
berpakaian dengan benar dalam cuaca dingin atau untuk keluar dari dingin ketika
mereka seharusnya.
 Masalah mental. Orang dengan penyakit mental, demensia, atau kondisi lain yang
mengganggu penilaian mungkin tidak berpakaian dengan tepat untuk cuaca atau
memahami risiko cuaca dingin. Orang dengan demensia mungkin berkeliaran dari
rumah atau tersesat dengan mudah, membuat mereka lebih mungkin terdampar di luar
dalam cuaca dingin atau basah.
 Alkohol dan penggunaan narkoba. Alkohol dapat membuat tubuh Anda terasa
hangat di dalam, tetapi itu menyebabkan pembuluh darah Anda mengembang,
sehingga kehilangan panas lebih cepat dari permukaan kulit Anda. Respons menggigil
alami tubuh berkurang pada orang-orang yang telah minum alkohol. Selain itu,
penggunaan alkohol atau narkoba dapat mempengaruhi penilaian Anda tentang
kebutuhan untuk masuk ke dalam atau memakai pakaian hangat dalam kondisi cuaca
dingin. Jika seseorang mabuk dan pingsan dalam cuaca dingin, dia kemungkinan akan
mengalami hipotermia.
 Kondisi medis tertentu. Beberapa gangguan kesehatan memengaruhi kemampuan
tubuh Anda untuk mengatur suhu tubuh. Contohnya termasuk tiroid yang kurang aktif
(hipotiroidisme), nutrisi yang buruk atau anorexia nervosa, diabetes, stroke, artritis
yang parah, penyakit Parkinson, trauma, dan cedera tulang belakang.
 Obat-obatan. Beberapa obat dapat mengubah kemampuan tubuh untuk mengatur
suhunya. Contohnya termasuk antidepresan tertentu, antipsikotik, obat nyeri narkotik
dan obat penenang

LO3.7 Memahami dan Menjelaskan penanganan hipotermia

 Penanganan Hipotermia Ringan.


Jika seseorang sadar dan tidak kelelahan, namun menunjukkan tanda Hipotermia
ringan seperti gemetaran, kaki dan/atau tangan pucat, Anda dapat menangani-nya
dengan cara meningkatkan aktifitas fisik atau memberi makanan dan minuman
manis yang hangat. Pastikan pula korban mengenakan topi, scarf, dan sarung
tangan. Perlu kita ketahui, kepala merupakan sumber utama kehilangan panas
tubuh, sekitar 20% – 40% kehilangan panas tubuh terjadi pada bagian leher dan
kepala. Angka ini akan meningkat menjadi 70% – 80% jika Anda tidak
mengenakan topi atau scarf untuk melindungi bagian tubuh ini.
Jika memungkinkan, Anda dapat menghangatkan korban Hipotermia dengan
membaringkan-nya di tanah dengan memanfaatkan matras, sleeping bag, pakaian
ganti, dan apa saja yang dapat mengurangi kehilangan panas tubuh secara
konduksi. Pastikan Anda tidak mengganti pakaian korban sampai korban berada di
dalam shelter. Mengganti pakaian korban dalam kondisi lingkungan yang terbuka,
basah, dan berangin malah akan memperparah kondisi korban.

 Penanganan Hipotermia Sedang.


Pada tingkat ini, kondisi fisik korban Hipotermia akan menurun. Korban tidak
mampu melakukan aktifitas karena tidak memiliki cukup tenaga. Selain itu, korban
juga menunjukkan tingkah laku yang aneh. Untuk menanganinya, Anda dapat

24
menghangatkan korban sama seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya.
Alumunium foil dapat dimanfaat untuk menutupi sleeping bag agar panas tubuh
yang dihasilkan tidak menguap ke lingkungan sekitar. Untuk membantu korban
memproduksi panas tubuh lebih cepat, Anda dapat meletakkan sumber panas ke
sejumlah pembuluh darah: leher, ketiak, dan groin. Semakin dingin temperatur
korban, maka semakin hati-hati penanganan-nya. Jantung akan semakin sensitif
terhadap sentuhan fisik, sehingga memudahkan korban Hipotermia mengalami
gagal jantung.

 Penanganan hipotermia parah


Detak jantung korban Hipotermia akan sulit terdeteksi. Evakuasi harus dilakukan
sesegera mungkin. The Wilderness Medical Society menganjurkan untuk tidak
melakukan proses CPR jika korban masih bernafas

LO3.8 Memahami dan Menjelaskan pencegahan hipotermia

 Menggunakan pakaian yang hangat


 Menggunakan kaos tangan
 Memperhatikan irama berjalan agar ketersediaan oksigen dalam tubuh cukup
 Membawa makanan yang dapat cepat dimetabolisme menggantikan energy yang
hilang.

25
LO.4 Memahami dan Menjelaskan Acute Mountain Sickness
LO4.1 Memahami dan Menjelaskan Definisi acute mountain sickness
Para pendaki , pemain ski , dan petualang yang melakukan perjalanan ke dataran tinggi
kadang-kadang dapat mengembangkan acute mountain sickness . Nama lain untuk
kondisi ini adalah penyakit ketinggian atau edema paru ketinggian tinggi . Biasanya
terjadi pada sekitar 8.000 kaki atau 2.400 meter diatas permukaan laut. Pusing , mual ,
sakit kepala,dan sesak napas adalah beberapa gejala kondisi ini. Sebagian besar contoh
penyakit ketinggian ringan dan cepat sembuh . Dalam kasus yang jarang,penyakit
ketinggian bias menjadi parah dan menyebabkan komplikasi dengan paru-paru dan
otak .

LO4.2 Memahami dan Menjelaskan Jenis-jenis acute mountain sickness


1. Kondisi Neurologis : AMS & HACE
Kondisi ini disebabkan oleh ketinggian,mulai dari AMS ke bentuk yang lebih
serius yaitu HACE (High Altitude Cerebral Edema).
AMS termasuk gejala seperti sakit kepala (gejala yang berat dan terus
menerus), kelesuan,mengantuk,pusing,kedinginan,mual,muntah, dan sulit tidur. Gejala
selanjutnya termasuk iribilitas,kesulitan berkonsentrasi,anoreksia,insomnia,dan
peningkatan sakit kepala.
HACE termasuk kedalam gejala berat dari AMS dan hasil dari edema
vasogenic cerebral dan hipoksia cerebral seluler. Biasanya terjadi pada ketinggia diatas
2500 mdpl (8.250 kaki) namun dapat terjadi di ketinggian yang lebih rendah.
2. HAPE Akut
HAPE (High Altitude Pulmoneri Edema) adalah penyebab utama kematian dari
ketinggian. Ciri khasnya adalah tekanan paru yang sangat tinggi diikuti oleh edma
paru. Biasanya ketinggian diatas 3000 meter (9840 kaki),meskipun terjadi pada tingkat
yang lebih rendah. Gejala awal dapat muncul 6-36 jam setelah tiba didaerah dataran
tinggi. Termasuk batuk kering yang terus menerus,sesak nafas yang menyebabkan
kelelahan,sakit kepala,penurunan latihan,pengakuan gejala awal dapat memungkinkan
untuk turun sebelum melumpuhkan opema edema pulmonal.
3. Penyakit gunung subakut
Hal ini paling sering terjadi pada individu yang tidak mendapatkan aklimatisasi dan
pada ketinggian tinggi (diatas4.500 meter) untuk periode waktu yang lama . Gejala
dyspnea dan batuk mungkin karena hipertensi pulmonal hipoksia , pulmonal , diuretic
dan kembali ke ketinggian yang rendah
4. Penyakit gunung kronik
Kondisi yang tidak biasa ini terlihat pada penduduk dengan gagal jantung yang tinggi.
Pengobatannya dengan istirahat yang cukup

26
LO4.3 Memahami dan Menjelaskan Gejala acute mountain sickness
Gejala akut umumnya terjadi di dalam dorongan untuk bergerak ke ketinggian yang
lebih tinggi . Mereka bervariasi tergantung pada tingkat keparahan kondisi anda
Penyakit gunung akut ringan
 Pusing
 Sakit kepala
 Nyeri otot
 Insomnia
 Mual dan muntah
 Iritabilitas
 Kehilangan nafsu makan
 Pembengkakan tangan , kaki, dan wajah
 Denyut jantung cepat
 Napas pendek
Penyakit gunung akut berat
 Batuk
 Sesak dada
 Kulit pucat dan perubahan kulit
 Inabilitas untuk berjalan
 Penarikan social
LO4.4 Memahami dan Menjelaskan penyebab acute mountain sickness
Ketinggian yang lebih tinggi memiliki tingkat oksigen yang lebih rendah dan
penurunan tekanan udara . Ketika kita berpergian dengan pesawat , mengemudikan

27
kendaraan atau mendaki gunung atau bermain ski tubuh kita mungkin tidak memiliki
cukup waktu untuk menyedsuaikan dirii , ini dapat menyebabkan acute mountain
sickness . Mendorong diri untuk mendaki lebih cepat , misalnya dapat menyebabkan
acute mountain sickness
LO4.5 Memahami dan Menjelaskan penanganan acute mountain sickness
Penanganan untuk AMS bervariasi tergantung tingkat keparahannya. Anda
mungkin dapat menghindari komplikasi hanya dengan kembali ke ketinggian yang
lebih rendah. Rawat inap diperlukan jika dokter anda menentukan bahwa anda
memiliki bengkak dibagian otak atau cairan diparu-paru. Anda mungkin diberikan
oksigen jika anda memiliki masalah pernapasan. Ada beberapa cara untuk mengobati
kondisi yang lebih ringan,yaitu:
 Kembali ke ketinggian yang lebih rendah
 Mengurangi tingkat aktivitas Anda
 Beristirahat,setidaknya sehari sebelum pindah ke ketinggian yang lebih tinggi
 Menghindrasi dengan air

28
HUKUM SIKAP BERPRASANGKA BAIK KEPADA ALLAH DAN SIKAP DOKTER
MUSLIM
Untuk mengingatkan dan menjelaskan pentingnya prasanvja baik kepada allah . Watsila ibnu Al-
Asqa menuturkan bahwa Rasulullah SAW bersabda “ Allah SWT. Berfirman ‘Aku bersama
prasangka hamba-ku,entah dia menyangka baik atau menyangja buruk.”
Ibnu Mas’ud r.a bersumpah dengan nama Allah dan berkata , tdaklah seseorang berprasangka
baik kepada allah kecuali dia memeneriak apa yang diinginkannya. Sebab ,seluruh kebaikan ada
di tangan Nya. Jika seseorang hamba berprasangak baik kepada Nya , sudah pasti Dia akkan
memeberikan apa yang ada dalam sangkaanya. Sebab , orang yang berprasangkan baik kepada
allah , niscaya Dia akan mewujudkan apa yang di sangkaanya.
Setelah berprasangka baik kepada Allah , kita juga harus meyakini bahwa semua yang ditetapkan
Allah pasti terjadi. Ini merupakan slaah satu rukun iman yang wajib di patuhi. Nabi SAW.
Bersabda, “ Tidaklah seseorang mencapai hakikat iman sebelum ia memahami bahwa apa yang
menimpa nya tidak mungkin salah dan menimpa yang lain dan apa yang meninmpa orang lain
tidak mungkin menimpa dirinya.” Dengan keyakinan itu ,niscaya ia akan meridai takdir yang
ditetapkan allah dan tidak ikut mengatur dalam semua urusan.
Prasangak baik kepada Allah mengahruskan seseorang tidak bersedih menghadapi segala
masalah dan tidak mengkhawatirkan apa yang akan terjadi. Sikap kedua mengahruskan hamba
bersikap tenang, senang, dan tidak meminta-minta kepada mahluk disaat membutuhkan sesuatu
Berprasngka baik kepada Allah dusebut juga dengan “ HUSNUZHAN” yaitu selalu meyakini
bahwa apa saja yang Allah berikan kepada manusia baik yang menyenangkan maupun yang
menyedihkan ,pasti bermanfaat bagi manusia itu sendiri, sebagaimana yang terkandung di dalam
Al-Qur’an dan hadist:
‫اط ًل َٰ َهذَا َخلَ ْقتَ َما َربَّنَا‬ َ َ‫ار َعذ‬
ُ ‫اب فَ ِقنَا‬
ِ َ‫س ْب َحانَكَ ب‬ ِ َّ‫الن‬
Artinya : “ .... Ya Tuhan Kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha suci
Engkau, Maka peliharalah Kami dari siksa neraka.” (QS. Ali Imran 191)
Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dia berkata, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
َّ ‫ تَعَالَى‬: ‫ظ ِن ِع ْندَ أَنَا‬
‫ّللاُ يَقُو ُل‬ َ ‫ل فِي ذَك ََرنِي َوإِ ْن نَ ْفسِي في ذَك َْرتُهُ نَ ْف ِس ِه فِي ذَك ََرنِي فَإ ِ ْن ذَك ََرنِي إِذَا َمعَهُ َوأَنَا بِي َع ْبدِي‬ ‫ذَك َْرتُهُ َم أ‬
‫ل فِي‬ ‫ب َو ِإ ْن ِم ْن ُه ْم َخي أْر َم أ‬ َّ َ‫ب َو ِإ ْن ذ َِراعًا ِإلَ ْي ِه تَقَ َّربْتُ ِب ِشب أْر ِإل‬
َ ‫ى تَقَ َّر‬ َّ َ‫أَت َ ْيتُهُ َي ْمشِي أَت َانِي َو ِإ ْن َباعًا ِإلَ ْي ِه تَقَ َّربْتُ ذ َِراعًا ِإل‬
َ ‫ى تَقَ َّر‬
ً‫البخاري رواه( ه َْر َولَة‬، ‫ رقم‬7405 ‫ ومسلم‬، ‫ رقم‬2675 )

“Allah Ta’ala berfirman, 'Aku tergantung persangkaan hamba kepadaKu. Aku bersamanya kalau
dia mengingat-Ku. Kalau dia mengingatku pada dirinya, maka Aku mengingatnya pada diriKu.
Kalau dia mengingatKu di keramaian, maka Aku akan mengingatnya di keramaian yang lebih
baik dari mereka. Kalau dia mendekat sejengkal, maka Aku akan mendekat kepadanya sehasta.
Kalau dia mendekat kepada diri-Ku sehasta, maka Aku akan mendekatinya sedepa. Kalau dia
mendatangi-Ku dengan berjalan, maka Aku akan mendatanginya dengan berlari." (HR bukhari,
no. 7405 dan Muslim, no. 2675)

29
Dengan demikian husnuzaan kepada Allah dapat tumbuh dan berkembang pada diri seseorang
apabila dilandasi oleh aqidah atau keyakinan yang kuat. Diantara sikap yang harus di wujudkan
sebagai dasar alam berhusnudzan kepada Allah adalah seperti berikut:
1. Meyakini bahwa Allah itu Maha Esa ( Tauhid )
2. Bertakwa kepada Allah SWT
3. Beribadah dan berdoa kepada Allah
4. Beserah diri kepada Allah ( Tawakal )
5. Menerima dengan ikhlas semua keputusan Allah
Contoh-contoh perilaku Husnuzaan kepada Allah SWT
1. Syukur
Yaitu berterima kasih kepada Allah SWT dan pengakuan yang tulus atas nikmat dan
karunia-Nya, melalui ucapan,sikap, dan perbuatan
2. Sabar
Yaitu upaya menahan diri dalam melakukan sesuatu atau meninggalkan sesuatu untuk
memcapai ridha Allah.

SIKAP DOKTER MUSLIM


Sikap kedokteran mengatur kehidupan tingkah laku seourang dokter dalam mengabdikan diri nya
terhadap manusia baik yang sakit maupun yang sehat. Sikap dokter muslim yaitu:
1. 5S ( senyum, salam, sapa, sopan, santun)
2. Memulai sesuatu dengan basmallah dan mengakhirinya dengan hamdallah
3. Menghadirkan seorang perawat atau keluarga pasien apa bila memeriksa pasien lawan
jenis
4. Dokter muslimah selalu memakai jilbab
5. Menepati janji ketika berjanji
6. Menegakkan kejujuran
7. Mmpertanggung jawabkan tindakan yang dilakukan nya
8. Berprinsip jika pasiennya sembuh bukan dia yang menyembuhkan tapi allah SWT
9. Selalu meminta informed consent
10. Mengikuti perkembangan IPTEK
11. Melaksanakan ibadah mahdhah
12. Mampu menjadi imam shalat, khatib jum’at dan mempimpin doa(bagi lulusan laki-laki)
13. Mampu memberi ceramah agama
14. Mengingatkaan pasien nya yang Muslim untuk melakukan ibadah mahdhah
15. Mengingatkan pasiennya untuk berobat dengan obat yang halal
16. Mengingatkan pasiennya untuk makan/minuman yang halal
17. Mampu menjelaskan landasan Al-Qur’an dan Hadist yang relevan terhadap isu
kedokteran/keshatan yang telah ada fatwanya
18. Dalam hal tidak tahu fatwa sebuah isu kedokteran/kesehatan dia selalu menghubungi
pakar dibidang itu
19. Mengadakan pengajian keluarga
20. Menajaga kerahasian informasi passienya

30
Daftar pustaka

Guyton and Hall. Textbook of medical physiology12th ed. 2014.


Crawshaw L, Wallace H, Dasgupta S: Thermoregulation. In Auerbach P (Ed.), Wilderness
medicine, 5th edition. Mosby Elsevier: Philadelphia, pp. 110-124, 2007.

8. Marieb E, Hoehn K: Human anatomy and physiology, 8th edition. Pearson Benjamin
Cummings: San Francisco, pp. 953, 2010.

Sherwood L. Human Physiology : From cells to systems 6th ed. Belmont,Calif :


Thomson/brooks/cole;2007
Slyvia A. Price. Patofisiologi konsep klinis proses porses penyakit edisi 6. 2002
Heath D, William DR. Man at high altitude. 2nd ed. Churchill Livingstone; Edinburgh: 1981.
Peter HH, Robert CR. High altitude illness. N Engl J Med. 2001;345:104–114.
Manual of health for the armed forces. Director General Armed Forces Medical
Services. 2003;vol 1:75–78.
Honigman B, Theis MK, Koziol-McLain J. Acute mountain sickness in a general tourist
population at moderate altitudes. Ann Intern Med. 1993;118:587–592. [PubMed]
Hackett PH, Rennie D. The incidence, importance and prophylaxis of acute mountain
sickness. Lancet. 1976;2:1149–1155. [PubMed]
Grissom CK, Roach RC, Sarnquist FH, Hackett PH. Acetazolamide in the treatment of acute
mountain sickness: clinical efficacy and effect on gas exchange. Ann Intern Med. 1992;116:461–
465. [PubMed]
Ferrazzini G, Maggiorini M, Kriemler S, Bartsch P, Oelz O. Successful treatment of acute
mountain sickness with dexamethasone. Br Med J (Clin Res Ed) 1987;294:1380–1382.
[PubMed]
Dumont L, Mardirosoff C, Tramer MR. Efficacy and harm of pharmacological prevention of
acute mountain sickness: quantitative systemic review. BMJ. 2000;346:1631–1636 [PubMed]
Virmani SK. High altitude pulmonary oedema: an experience in eastern Himalaya. MJAFI. 1997,
July;53(3):163–168.
http://www.jurnal.unsyiah.ac.id/JKS/article/download/9474/7466
http://id.shvoong.com/medicine-and-health/epidemiology-public-health/2026989-hipoksia-
kekurangan-oksigen/#ixzz1gYANSPia
Isselbacher, et all. 2005. Prinsip-Prinsip Ilmu Penyakit Dalam. Vol 1 Ed 13
Davey Patrick. 2002. At a Glance MEDICINE. Jakarta :Penerbit buku erlangga. Pp172-173

31
Asmadi.2008. Teknik Prosedural Keperawatan Konsep dan Aplikasi Kebutuhan Dasar Klien.
Jakarta : Penerbit Salemba Medika. Pp 25

32