Anda di halaman 1dari 31

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Sejarah Islam telah melalui tiga periode, yaitu periode klasik (650-1250), periode pertengahan (1250-1800 M), dan periode modern (1800-sekarang). Pada periode klasik, Islam mengalami kemajuan dan masa keemasan. Hal ini ditandai dengan sangat luasnya wilayah kekuasaan Islam, adanya integrasi antarwilayah Islam, dan adanya kemajuan di bidang ilmu dan sains. Pada abad pertengahan, Islam mengalami kemunduran. Hal ini ditandai dengan tidak adanya lagi kekuasaan Islam yang utuh yang meliputi seluruh wilayah Islam, dan terpecahnya Islam menjadi kerajaan-kerajaan yang terpisah. Kerajaan-kerajaan itu antara lain: Dinasti Usmani di Turki, Dinasti Safawi di Persia, Dinasti Mughol di India. Kerajaan-Kerajaan tersebut merupakan tiga kerajaan terbesar pada masa itu. Dan keadaan politik umat Islam secara keseluruhan baru mengalami kemajuan kembali setelah muncul dan berkembangnya tiga kerajaan besar Islam tersebut. Puncak kemajuan yang dicapai oleh Kerajaan Usmani terjadi pada masa pemerintahan Sultan Sulaiman al-Qanuni (1520-1566 M), puncak kemajuan Kerajaan Safawi pada masa pemerintahan Abbas I (1588-1628 M), dan puncak kemajuan Kerajaan Mughal pada masa Sultan Akbar (1542-1605 M). Setelah masa tiga orang raja besar di tiga kerajaan tersebut, kerajaan tersebut mulai mengalami kemunduran. Akan tetapi, proses kemunduran itu berlangsung dalam kecepatan yang berbeda-beda. Di Kerajaan Mughal, setelah Akbar, untuk beberapa lama pemerintahan masih dipegang oleh raja-raja besar,

yaitu Jehengir (1605-1628 M), Syah Jehan (1628-1658 M) dan Aurangzeb (1658- 1707 M). Ketiga raja Mughal ini masih dapat mempertahankan kemajuan yang dicapai pada masa Akbar. Baru setelah Aurangzeb, Kerajaan Mughal mengalami kemunduran yang agak drastis. Kerajaan ini berakhir pada tahun 1858 M.\

Kerajaan Usmani, setelah Sultan Sulaiman al-Qanuni wafat masih tetap kuat, bahkan masih mampu melakukan ekspansi ke beberapa daerah Eropa Timur. Berbeda dengan dua kerajaan besar yang lain, Kerajaan Usmani adalah yang terbesar. Karena itu, meskipun banyak mengalami kemunduran yang cukup drastis di akhir abad ke-17 dan abad ke-18 M, ia tetap dipandang sebagai sebuah Negara besar yang disegani lawan. Kerajaan ini baru berakhir pada abad ke 20-M. Kemunduran yang paling drastis di alami Kerajaan Safawi. Setelah Abbas, raja-raja Kerajaan Safawi adalah orang-orang yang lemah yang mengakibatkan kerajaan ini dengan cepat mengalami kemunduran. Hanya satu abad setelah ditinggal Abbas, kerajaan ini mengalami kehancuran. Untuk mengetahui perkembangan dari awal berdirinya sampai kemunduran ketiga kerjaan tersebut tentu perlu adanya pengkajian lebih rinci. Oleh karena itu dalam makalah ini akan dibahas pembahasan mengenai sejarah perkembangan tiga kerajaan besar islam pada abad pertengahan.

B. Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah dalam makalah ini adalah:

1. Bagaimana sejarah perkembangan Kerajaan Turki Ustmani di Turki?

2. Bagaimana sejarah perkembangan Kerajaan Safawi di Persia?

3. Bagaimana sejarah perkembangan Kerajaan Mughol di India?

C. Tujuan

Adapun tujuan dibuatnya makalah ini adalah:

1. Untuk mengetahui sejarah perkembangan Kerajaan Turki Ustmani di Turki.

2. Untuk mengetahui sejarah perkembangan Kerajaan Safawi di Persia.

3. Untuk mengetahui sejarah perkembangan Kerajaan Mughol di India.

D. Manfaat Adapun manfaat dibuatnya makalah ini adalah:

1. Mengetahui tiga kerajaan besar Islam diabad pertengahan.

2. Memberikan pengetahuan dan wawasan yang lebih bagi penulis dan rekan mahasiswa yang lain tentang sejarah peradaban islam pada abad pertengahan yang ditandai dengan munculnya tiga kerajaan besar.

3. Bisa mengkaji negara-negara yang dulunya dikuasai oleh tiga kerajaan besar tersebut.

BAB II

PEMBAHASAN

BAB II PEMBAHASAN Gambar 1.1 Wilayah Peradaban Islam Masa Tiga Kerajaan Besar Sumber : http://eryridwan.blogspot.co.id

Gambar 1.1 Wilayah Peradaban Islam Masa Tiga Kerajaan Besar Sumber : http://eryridwan.blogspot.co.id

A. DINASTI USMANI DI TURKI a. Sejarah

Dinasti Usmani berasal dari suku bangsa pengembara Qayigh Oghuz yang dipimpin oleh Sulaiman Syah. Dia mengajak anggota sukunya untuk menghindari serbuan bangsa Mongol yang menyerang dunia Islam yang berada di bawah kekuasaan Dinasti Khawarizmi Syah pada tahun 1219-1220. Sulaiman dan anggota sukunya lari ke arah barat dan meminta perlindungan kepada Jalaludin, pemimpin terakhir Dinasti Khawarizmi Syah di Transoxiana. Jalaluddin menyuruh Sulaiman agar pergi ke arah barat (Asia Kecil), kemudian mereka

menetap disana dan pindah ke Syam dalam rangka menghindari serangan Mongol. Dalam usahanya pindah ke Syam itu, pemimpin orang-orang Turki mengalami kecelakaan dan hanyut di sungai Eufrat yang tiba-tiba pasang karena banjir besar pada tahun 1228. Akhirnya mereka terbagi menjadi dua kelompok, yan pertama ingin pulang ke negeri asalnya, dan yang kedua meneruskan perjalanannya ke Asia Kecil. Kelompok kedua berjumlah sekitar 400 keluarga yang dipimpin oleh Ertoghol bin Sulaiman. Mereka menghambakan dirinya pada Sultan Alauddin dari Dinasti Saljuk Rum yang pemerintahannya berpusat di Konya, Anatolia, Asia Kecil. Tatkala dinasti saljuk berperang melawan Romawi Timur (Bizantium), Ertoghol membantunya, sehingga Dinasti Saljuk mengalami kemenangan. Sultan merasa senang dan memberinya wilayah kekuasaan yang berbatasan dengan Bizantium, dan mereka menjadikan Sogud sebagai pusat pemerintahannya (Ali Sodikin, dkk, 2003:152).

Ertoghol yang meninggal pada tahun 1289 meninggalkan seorang putra bernama Usman. Dari nama Usman inilah kemudian muncul Dinasti Usmani. Usman ini pula yang dianggap sebagai pendiri Dinasti Usmani. Sebagaimana ayahnya, dia abanyak berjasa kepada Sultan Alauddin dengan keberhasilannya menaklukkan benteng-benteng Bizantium. Pada tahun 1300, bangsa Mongol menyerang Dinasti Saljuk, dan Sultan Alauddin terbunuh. Dinasti Saljuk pun terpecah menjadi beberapa kerajaan kecil. Pada saat itu, Usman menyatakan kemerdekaannya dan berkuasa penuh atas daerah-daerah yang didudukinya. Sejak itulah Dinasti Usmani dinyatakan berdiri dan penguasa pertamanya adalah Usman bin Ertoghol atau yang dikenal dengan sebutan Usman I (Ali Sodikin, dkk,

2003:151).

Gambar : Peta Kekuasaan Khilafah Utsmani Sumber : alfath.org a. Perluasan Wilayah Setelah Usman mengumumkan

Gambar : Peta Kekuasaan Khilafah Utsmani

Sumber : alfath.org

a. Perluasan Wilayah

Setelah Usman mengumumkan dirinya sendiri sebagai Padyisah Al- Usman (Raja Besar Keluarga Usman), dia mulai memperluas wilayahnya dengan cara mengirimkan surat kepada pemimpin daerah sekitarnya yang berisi 3 pilihan, yaitu tunduk dan memeluk agama Islam, membayar jizyah, atau diperangi. Untuk mendukung hal itu, anak Usman, Orkhan yang saat itu menjabat sebagai panglima perang membentuk pasukan tangguh yang dikenal dengan Yeniseri. Pasukan tersebut merupakan tentara utama Dinasti Usmani yang terdiri dari bangsa Georgia dan Armenia yang baru masuk islam. Para pasukan Yeniseri tersebut dididik dengan keras. Mereka diwajibkan belajar ilmu-ilmu dunia dan juga ilmu- ilmu agama. Mereka juga dididik oleh para tentara-tentara yang sudah berpengalaman, sehingga tak diragukan lagi kemampuan fisik mereka jauh diatas tentara-tentara lainnya (Syafiq A. Mughni, 1997: 54).

Meskipun baru didirikan, Dinasti Usmani begitu kuat dan sangat ditakuti. Banyak dari mereka yang tunduk dan memeluk islam, sebagian yang lain mau membayar jizyah, tetapi ada pula yang bersekutu dengan suku Tartar untuk melawannya. Usman pun tak gentar menghadapinya, dan akhirnya berhasil menaklukkan musuh-musuhnya. Usman beserta anaknya, Orkhan, menyerang daerah barat Bizantium hingga selat Bosphorus. Daerah ini adalah bagian bumi Eropa yang pertama kali diduduki Dinasti Usmani (Samsul Munir, 2009:195).

Ekspansi yang lebih besar terjadi pada masa Sultan Murad I. Di masa ini, Dinasti Usmani berhasil menguasai Balkan, Andrianopel (sekarang bernama Edirne, Turki), Macedonia, Sofia (Bulgaria), dan seluruh wilayah Yunani. Melihat kemenangan yang diraih Sultan Murad I, kerajaan-kerajan Kristen di Balkan dan Eropa timur menjadi murka. Mereka lalu menyusun kekuatan yang terdiri atas Hungaria, Bulgaria, Serbia, Transylvania, dan Wallacia (Rumania) untuk menggempur pasukan Usmani. Meskipun Sultan Murad I gugur dalam pertempuran, pihak Usmani tetap meraih kemenangan. Ekspansi berikutnya dilanjutkan oleh putranya, Bayazid I. Pada tahun 1931, pasukan Bayazid I dapat merebut benteng Philadelpia dan Gramania atau Kirman (Iran). Dengan demikian, Dinasti Usmani secara bertahap tumbuh menjadi kerjaaan besar (Ali Sodikin, dkk,

2003:155).

Puncak ekspansi Dinasti Usmani yaitu pada masa Sultan Muhammad II yang dikenal dengan gelar Al-Fatih (sang penakluk). Pada masanya, dilakukan ekspansi secara besar-besaran. Kota penting yang ditaklukkannya yaitu Konstantinopel. Sultan Muhammad Al-Fatih masih berumur 17 Tahun ketika menaklukkan Konstantinopel pada tanggal 28 Mei 1453. Setelah memasuki kota, Sultan Muhammad Al-Fatih mengganti nama kota menjadi Istambul, dan menjadikannya sebagai ibukota Dinasti Usmani. Sultan juga mengubah gereja terbesar dan termegah waktu itu, Hagia Sophia, menjadi masjid (Samsul Munir,

2009:199).

Gambar : Sultan Muhammad All-Fatih Sumber : Globalmuslim.com Ada lima faktor yang menyebabkan Dinasti Usmani

Gambar : Sultan Muhammad All-Fatih

Sumber : Globalmuslim.com

Ada lima faktor yang menyebabkan Dinasti Usmani berhasil melakukan perluasan wilayah-wilayah Islam. (1) Kemampuan orang-orang turki dalam strategi perang yang dikombinasikan dengan cita-cita memperoleh ghanimah (harta rampasan perang). (2) Sifat dan karakter orang-orang Turki yang selalu ingin maju dan tidak pernah diam serta gaya hidupnya yang sederhana, sehingga memudahkan tujuan penyerangan. (3) Semangat jihad dan ingin mengembangkan Islam. (4) Letak Istambul yang sangat strategis sebagai ibukota kerajaan. Istambul terletak di antara dua benua dan dua lautan, dan pernah menjadi pusat kebudayaan Macedonia, Romawi Timur, maupun Yunani. (5) Kondisi kerajaan-kerajaan di sekitarnya sedang dalam kekacauan, sehingga memudahkan penaklukannya (Ali Sodikin, dkk, 2003:156)

b. Sistem Pemerintahan

Bentuk kerajaan Turki Usmani didasarkan kepada sistem feodal yang ditiru langsung dari kerajaan Bizantium. Dalam sistem pemerintahan, sultan adalah penguasa tertinggi dalam bidang agama, politik, pemerintahan, bahkan masalah-masalah perekonomian (Ratu Suntiah, dkk, :139). Raja-raja Dinasti

Usmani bergelar Sultan sekaligus Khalifah. Sultan menguasai kekuasaan duniawi, sedangkan Khalifah menguasai bidang agama/spiritual/ukhrawi. Mereka mendapatkan kekuasan secara turun-temurun, akan tetapi tidak harus putra pertamanya yang berhak menjadi penggantinya. Ada kalanya putra kedua atau putra ketiga yang menjadi pengganti. Bahkan pada perkembangan selanjutnya, pergantian kekuasaan diserahkan pada saudara sultan, bukan anaknya (Ali Sodikin, dkk, 2003:157).

Dalam menjalankan pemerintahannya, sultan/khalifah dibantu oleh seorang mufti atau yang lebih dikenal Syaikhul Islam dan Shadrul Alam. Syaikhul Islam mewakili sultan/khalifah dalam melaksanakan wewenang agamanya, sedangkan Shadrul Alam (perdana menteri) mewakili kepala negara dalam menjalankan wewenang dunianya (Ali Sodikin, dkk, 2003:157).

Khalifah Dinasti Turki Usmani Dalam sekian lama kekuasaannya sekitar 165 tahun berkuasa, tidak kurang dari 38 sultan, yang sejarah kekuasaan mereka bisa di bagi menjadi lima periode.

sejarah kekuasaan mereka bisa di bagi menjadi lima periode. Gambar : Khalifah Turki Utsmanii Sumber :

Gambar : Khalifah Turki Utsmanii Sumber : mirajnewes.com Periode pertama

Periode I (1299-1402) : pertumbuhan dan perkembangan kekuasaan yang disusul dengan perluasan wilayah hingga menyeberang ke daratan Eropa. Sultan-sultannya adalah sebagai berikut:

1. Usman I

1299-1326

2. Orkhan (putera Usman I)

1326-1359

3. Murad (putera Orkhan)

1359-1389

4. Bayazid I Yildirim (Putera Murad)

1389-1402

Periode Kedua Periode ini ditandai dengan restorasi kerajaan dan cepatnya pertumbuhan sampai ekspansi wilayah yang terbesar. Sultan-sultannya adalah:

1. Muhammad I (Putera Bayazid I)

1 403-1421

2. Murad II (Putera Muhammad I)

1421-1451

3. Muhammad II Fatih (Putera Murad II)

1451-1481

4. Bayazid II (Putera Muhammad II)

1481-1512

5. Salim I (Putera Bayazid II)

1512-1520

6. Sulaiman I Qanuni (Putera Salim I)

1520-1566

Periode Ketiga Periode ini ditandai dengan kemampuan Usmani untuk mempertahankan wilayahnya, sampai lepasnya Hungaria. Namun kemunduran

segera terjadi. Sultan sultan yang berkuasa pada periode ini, yaitu :

1. Salim II (Putera Sulaiman I)

1566-1573

2. Murad III (Putera Salim II)

1573-1596

3. Muhammad III (Putera Murad III)

1596-1603

4. Ahmad I (Putera Muhammad III)

1603-1617

5. Mustafa I (Putera Ahmad I)

1617-1618

6. Usman II (Putera Ahmad I)

1618-1622

7. Mustafa I (Yang kedua kalinya)

1622-1623

8. Murad IV (Putera Ahmad I)

1623-1640

9. Ibrahim I (Putera Ahmad I)

1640-1648

10. Muhammad IV (Putera Ibrahim I)

1648-1687

11.

Sulaiman III (Putera Ibrahim I)

1687-1691

12. Ahmad II (Putera Ibrahim I)

1691-1695

13. Mustafa II (Putera Muhammad IV)

1695-1703

Periode Keempat Periode ini ditandai dengan secara berangsur-angsur surutnya kekuatan kerajaan dan pecahnya wilayah di tangan para penguasa wilayah. Sultan-sultannya adalah sebagai berikut:

1. Ahmad III (Putera Muhammad IV)

1703-1730

2. Mahmud I (Putera Mustafa II)

1730-1754

3. Usman III (Putera Mustafa II)

1754-1757

4. Mustafa III (Putera Ahmad III)

1757-1774

5. Abdul Hamid (Putera Ahmad III)

1774-1788

6. Salim III (Putera Mustafa III)

1789-1807

7. Mustafa IV (Putera Abd. Al-Hamid I)

1807-1808

8. Mahmud II (Putera Abd. Al-Hamid II)

1808-1839

Periode Kelima Periode ini ditandai dengan kebangkitan kultural dan administratif dari negara di bawah pengaruh ide-ide barat (terjadi modernisasi). Sultan-sultanya adalah:

1. Abdul Majid I (Putera Mahmuud II)

1839-1861

2. Abdul Aziz (Putera Mahmud II)

1861-1876

3. Murad V (Putera Abd. Majid I)

1876-1876

4. Abdul Hamid II (Putera Abd. Majid I)

1876-1909

5. Muhammad V (Putera Abd. Majid I)

1909-1918

6. Muhammad IV (Putera Abd. Majid I)

1918-1922

7. Abdul Majid II

1922-1924

Sampai kemudian jatuh pada 1924. Berdirilan Republik Islam Turki1

1 Rahmawati, Moh. Azizuddin. Peradaban Islam di Turki Usmani. Jur. Vol. 1 tahun 2013

c. Masa Kejayaan Dinasti Turki Usmani Pada awalnya kerajaan Turki Usmani hanya memiliki wilayah yang sangat kecil, namun dengan adanya dukungan militer, tidak beberapa lama Turki Usmani menjadi kerajaan yang besar bertahan dalam kurun waktu yang lama.

Kemajuan dan perkembangan ekspansi kerajaan Turki Usmani yang demikian luas dan berlangsung cepat itu diikuti pula oleh kemajuan-kemajuan dalam bidang bidang kehidupan yang lain, diantaranya sebagai berikut:

1. Bidang Kemiliteran

Para pemimpin kerajaan Turki Usmani adalah orang-orang yang kuat, sehingga kerajaan dapat melakukan ekspansi dengan cepat dan luas. Namun, kerajaan Turki Usmani mencapai masa keemasannya bukan semata-mata karena keunggulan

masa keemasannya bukan semata-mata karena keunggulan politik para pemimpinnya. Akan tetapi yang terpenting

politik para pemimpinnya. Akan tetapi yang terpenting diantaranya adalah keberanian, ketrampilan, ketangguhan, dan kekuatan militernya yang sanngup bertempur kapan saja dan dimana saja.

Orkhan pemimpin Turki Usmani yang pertama kali mengorganisasi kekuatan militer dengan baik serta taktik dan strategi tempur yang teratur. Pada periode ini tentara Islam pertama kali masuk ke Eropa.

Gambar : Seragam Polisi di zaman Khilafah Utsmaniah

Sumber : Hizbuttahririndonesia.com

Pertama, tentara Sipahi (tentara reguler) yang mendapatkan gaji tiap bulannya. Kedua, tentara Hazeb (tentara ireguler) yang di gaji pada saat mendapatkan harta rampasan perang (Mal al-Ghanimah). Ketiga, tentara Jenissary atau Inkisyariyah (tentara yang direkrut pada saat berumur 12 tahun, kebanyakan adalah anak-anak Kristen yang dibimbing Islam dengan disiplin yang kuat). Pasukan inilah yang

dapat mengubah negara Turki Usmani menjadi mesin perang yang paling kuat dan memberikan dorongan yang amat besar dalam penaklukan negeri-negeri non muslim.

berhasil

mereformasi

dan

membentuk

tiga

pasukan

utama

tentara.

Orkhan juga membenahi angkatan laut karena ia mempunyai peranan yang besar dalam perjalanan ekspansi Turki Usmani. Pada abad ke-16, angkatan laut Turki Usmani mencapai puncak kejayaan, karena dengan cepat dapat menguasai wilayah yang amat luas baik di Asia, Afrika, maupun Eropa.

Faktor utama yang mendorong kemajuan di lapangan kemiliteran ini adalah tabiat bangsa Turki itu sendiri yang bersifat militer, berdisiplin, dan patuh terhadap peraturan. Yang mana tabiat ini merupakan tabiat yang mereka warisi dari nenek moyangnya di Asia Tengah.2

2. Bidang Pemerintahan

Suksesnya Ekspansi Turki Usmani selain karena ketangguhan tentaranya juga dibarengi pula dengan terciptanya jaringan pemerintahan yang teratur. Dalam mengelola wilayah yang luas para raja-raja Turki Usmani senantiasa bertindak tegas. Dalam struktur pemerintahan, sultan sebagai penguasa tertinggi. Dibantu oleh shadr al-a‘zham (perdana menteri) yang membawahi pasya (gubernur). Gubernur mengepalai daerah tingkat I. di bawahnya terdapat beberapa orang al-

2 Fahrizal. http://www.jejakpendidikan.com/2015/03/kejayaan-peradaban-turki-usmani.html

Zanaziq atau ‗Alawiyah (bupati). Contohnya, ketika Turki Usmani dipimpin oleh Murad II. Beliau adalah seorang penguasa yang saleh dan dicintai rakyatnya, ia juga seorang yang sabar, cerdas, berjiwa besar, dan ahli ketatanegaraan. Bahkan Murad II banyak mendapat pujian dari sejarawan barat. Selain itu, di masa pemerintahan Sultan Sulaiman I untuk mengatur urusan pemerintahan negara disusun sebuah kitab undang-undang (Qanun) yang diberi nama Multaqa al-Abhur yang menjadi pegangan hukum bagi kerajaan Turki Usmani.3

3. Bidang Pendidikan Institusi pendidikan pada masa Turki Usman mula-mula didirikan oleh Sultan Orkhan (1326-1359),24 Sistem pengajaran yang dikembangkan adalah menghafal matan-matan meskipun murid tidak mengerti maksudnya, seperti menghafal matan al-Jurumiah, matan Taqrib, matan Alfiah, matan Sultan dan lain-lain. Murid-murid setelah menghafal matan itu barulah mempelajari syarahnya, kadang-kadang serta khasiyahnya.25 Sedangkan Ilmu pengetahun keislaman seperti fiqih, tafsir, ilmu kalam dan lain-lain tidak mengalami perkembangan. Kebanyakan penguasa Usmani cenderung bersikap taqlid dan fanatik terhadap suatu mazhab dan menentang mazhab yang lain. Melihat kondisi ini maka Khoirul Anam dalam tulisannya yang berjudul Melacak Paradigma Pendidikan Islam:

Sebuah Upaya Menuju Pendidikan yang Memberdayakan, mengemukakan

dengan kemunduran Islam-terutama setelah

sebagai berikut: ―…

kejatuhan Bagdad tahun 1258 M--, pendidikan dalam dunia Islam pun ikut mengalami kemunduran dan ke-jumud-an. Sehingga, pendidikan tidak lagi mampu menjadi sebuah 'sarana pendewasaan' umat. Dengan kata lain, sebagaimana dinyatakan Fazlur Rahman, pendidikan menjadi tidak lebih dari sekedar sarana untuk mempertahankan dan melestarikan nilai-nilai 'lama' (tradisional) dari ancaman 'serangan' gagasan Barat yang dicurigai akan meruntuhkan tradisi Islam, terutama 'standar' moralitas Islam. Pendidikan tidak lagi mampu menjadi sebuah proses intelektualisasi yang merekonstruksi paradigma (pola pikir) peserta didik melalui

seiring

3 Fahrizal. http://www.jejakpendidikan.com/2015/03/kejayaan-peradaban-turki-usmani.html

interpretasi secara continue dengan berbagai disiplin ilmu sesuaim perkembangan

Akibatnya, pendidikan Islam melakukan proses 'isolasi' diri sehingga

pendidikan Islam akhirnya termarginalisasi dan terhadap perkembangan pengetahuan maupun tehnologi.4

jaman…

perkembangan pengetahuan maupun tehnologi.4 jaman… Turki mengembangkan ilmu pengetahuan dengan cara mendirikan

Turki mengembangkan ilmu pengetahuan dengan cara mendirikan percetakan Istambul pada tahun 1727 M. sebagai cara mempermudah acces buku- buku pengetahuan, mencetak buku-buku tentang ilmu kedokteran, ilmu kalam, ilmu pasti, astronomi, sejarah, kitab hadis, fikih, dan tafsir. Selain itu, pada tahun 1717 M beliau mendirikan lembaga terjemah yang bertugas menerjemahkan buku-buku dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan ke dalam bahasa Turki. Dengan demikian upaya pembaruan pendidikan yang dilakukan Sultan Ahmad III lebih pada upaya menciptakan satu lembaga pendidikan yang di dalamnya mengajarkan ilmu-ilmu yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat, bangsa dan negara. Upaya ini terus dilakukan sampai beliau wafat, dan kemudian dilanjutkan oleh Sultan Salim III. Sultan Salim III (1789-1807 M), memperkenalkan program pembaharuan yang dikenal dengan nama Nizam Jadid. Rencana pembaruan itu meliputi pembentukan korp militer baru, perluasan sistem perpajakan dan pelatihan untuk mendidik para kader bagi rzim baru, namun fakta berbicara lain, rencana yang dikemukakan oleh Sultan Salim ternyata tidak mendapat dukungan para ulama dan kelompok militer Yeniseri, yang akhirnya ia sendiri menjadi korban rencana pembaharuan tersebut. ia digulingkan pada tahun

4 Rahmawati, dkk. Jurnal Peradaban Islam vol 1 tahun 20013

1807.33 Meskipun demikian, program pembaharuan tersebut baru terealisasi pada periode Sultan Mahmud II, Tanzimat dan Usmani Muda. Berikut ini adalah ulama-ulama yang terkenal pada masa Turki Usmani:

1. Syaikh Hasan bin Ali Ahmad al-Syabi‘iy yang termasyur dengan al-

Madabighy. Ia adalah pengarahng Khasiyah Jam’ul dan Syarah al- Jurmiyah (w. 1179 H./1756 M.).

2. Syamsuddin Ramali (w. 1004 H./1595 M) pengarang Nihayah.

3. Ibn Hajar al-Haijsyamy (w. 975 H./1567 M.) pengarang Tuhfa.

4. Muhammad bin Abdur Razaq, Murthadhod al-Husaini al-Zubaidi

pengarang sejarah al-Qamus, bernama tajjul Urusy (w. 1205 H/1790 M).

5. Syaikh Hasan al-Kafrawy al-safiy al-Azhary (w. 1202 H./1787 M.)

pengarang syarah-syarah dan khaisiroh-khaisiroh.

6. Syaikh Muhammad bin Ahmad bin arfah al-Dusuqy al-maliki 9w. 1230

H./1814 M) ahli filsafat dan ilmu falak serta ilmu ukur. Sementara perpustakaan yang termasyur pada masa Turki Utsmani pada 1300-1808 M adalah :

yang termasyur pada masa Turki Utsmani pada 1300-1808 M adalah : 4. Bidang Budaya 16 |

4. Bidang Budaya

Pengaruh dari ekspansi wilayah Turki Usmani yang sangat luas, sehingga kebudayaannya merupakan perpaduan macam-macam kebudayaan. Diantaranya adalah kebudayaan Persia, Bizantium, dan Arab.

Dari kebudayaan Persia, mereka banyak mengambil ajaran-ajaran tentang etika dan tata krama dalam istana raja-raja. Dari Bizantium, organisasi pemerintahan dan kemiliteran banyak diserap. Sedangkan dari Arab, mereka banyak menyerap ajaran-ajaran tentang prinsip-prinsip ekonomi, sosial kemasyarakatan, keilmuan, dan bahasa/huruf.

Orang-orang Turki Usmani memang terkenal sebagai bangsa yang suka dan mudah berasimilasi dengan bangsa asing dan terbuka untuk menerima kebudayaan luar.

5. Bidang Keagamaan

Agama dalam tradisi masyarakat Turki Usmani mempunyai peranan besar dalam lapangan sosial dan politik. Masyarakat digolong-golongkan berdasarkan agama, dan kerajaan sendiri sangat terikat dengan syariat sehingga fatwa ulama menjadi hukum yang berlaku.

Pada masa pemerintahan Sulaiman al-Qanuni rakyat muslim diwajibkan harus sholat lima kali dan berpuasa di bulan Ramadhan. Jika ada yang melanggar tidak hanya dikenai denda namun juga sanksi badan. Sehingga sultan Sulaiman al- Qanuni bukan hanya sultan yang paling terkenal di kalangan Turki Usmani, akan tetapi pada awal ke 16 beliau adalah kepala negara yang paling terkenal di dunia. Beliau seorang penguasa yang shaleh, dan juga berhasil menerjemahkan Al- Qur‘an dalam bahasa Turki.

Bahkan pada saat Eropa terjadi pertentangan antara katolik, mereka diberi kebebasan dalam memilih agama dan diberikan tempat di Turki Usmani. Bahkan Lord Cerssay mengatakan, bahwa pada zaman dimana dikenal ketidakadilan dan kedzaliman Katolik Roma dan Protestan, maka Sultan Sulaiman yang paling adil

dengan rakyatnya meskipun ada yang tidak beragama Islam.

Di kerajaan Turki Usmani Tarekat juga mengalami kemajuan. Tarekat yang paling

terkenal ialah tarekat Bektasyi dan tarekat Maulawi. Kedua Tarekat banyak dianut

oleh kalangan sipil dan militer. Tarekat Bektasyi mempunyai pengaruh yang sangat dominan di kalangan Jenissary, sehingga mereka sering disebut dengan tentara Bektasyi. Sementara tentara Maulawi mendapat dukungan dari para penguasa dalam mengimbangi Jenissary Bektasyi.

Di lain pihak, kajian-kajian ilmu keagamaan seperti: Fiqh, ilmu kalam, Tafsir, dan

Para

penguasa lebih cenderung untuk menegakkan satu paham (Madzab) keagamaan dan menekan Madzab lainnya. Contoh Sultan Abd Al-Hamid II begitu fanatik terhadap aliran Ash-‗Ariyah. Akibat kelesuan di bidang ilmu keagamaan dan fanatik yang berlebihan, maka ijtihad tidak berkembang.

boleh

dikatakan

tidak

mengalami

perkembangan

yang

berarti.

B. DINASTI SYAFAWI DI PERSIA(1501 -1732) M

Safi al-Din (pendiri tarekat safawiyah), menurut satu riwayat adalah keturunan musa al-Kazhim, imam ketujuh Syi‘ah Itsna ‗Asyariah. Tarekat ini mengubah gerakan keagamaan menjadi gerakan politik.Gerakan politik pertama

dilakukan oleh Isma‘il Ibn Haidar (1501 M) dengan menaklukan anatolia (ketika

itu berada di dalam kekuasaan Qara Yaqunlu dan Aq-Qayunlu dari Turki). Isma‘il

Ibn Haidar ( Isma‘il) adalah khalifah pertama dinasti Safawi dan menjadikan Syi‘ah sebagai madzhab resmi negara ( Sutinah , dan Maslani , 2017 : 132)

Keadaan politik dinasti syafawi mulai bangkit kembali setelah Abbas 1 naik tahta dari tahun 1587- 1629 yang menata administasi negara dengan cara yang lebih baik (Marshal G.S hodson, t.th.:38). Masa kekuasaan Abbas 1 merupakan puncak kejayaan kerajaan syafawi. Secara politik ia mampu mengatasi berbagai kemelut di dalam negeri yang menggangu stabilitas negara dan berhasil merebut kembali wilayah wilayah yang pernah di rebut oleh kerajaan lain pada masa raja raja sebelumnya. Usaha usaha yang di lakukan Abbas 1 berhasil

membuat kerajaan safawi menjadi kuat. Setelah itu Abbas 1 mulai memusatkan perhatiannya keluar dengan berusaha merebut kembali wilayah kekuasaannya yang hilang (Badri Yatim.1997:143).

Persaingan antara Safawi dengan Turki Ustmani ditandai dengan perang berkepanjangan. Perang berlangsung selama kepemimpinan Isma‘il I (1501-1524 M), Tahmasp (1524-1576 M), Ismail II (1588-1577 M) dan Muhammad Khudabanda Turki Ustmani (1577-1587 M). Akhirnya Abbas I (1576-1628 M) .Dengan perjanjian itu Abbas I harus menyerahkan Azerbaijan, Georgia, dan sebagian Khuziztan kepada Turki Ustmani ; dan kepemimpinan Abbas I berjanji tidak akan menghina tiga khalifah pertama dalam khutbah jumat. Masa pemerintahan Abbas I merupakan zaman keemasan dinasti Safawi.

Abbas I merupakan zaman keemasan dinasti Safawi. Gambar 1.3 Wilayah Dinasti Safawi Sumber :

Gambar 1.3 Wilayah Dinasti Safawi

a. Berikut urutan penguasa kerajaan Safawi :

1. Isma'il I (1501-1524 M)

2. Tahmasp I (1524-1576 M)

3. Isma'il II (1576-1577 M)

4. Muhammad Khudabanda (1577-1587 M)

5. Abbas I (1587-1628 M)

6.

Safi Mirza (1628-1642 M)

7. Abbas II (1642-1667 M)

8. Sulaiman (1667-1694 M)

9. Husein I (1694-1722 M)

10. Tahmasp II (1722-1732 M)

11. Abbas III (1732-1736 M)

b. Kemajuan Dinasti Syafawi

Kemajuan peradaban dinasti safawiyah tidak hanya terbatas dalam bidang politik tetapi kemajuan dalam berbagai bidang:

1. Bidang keagamaan

Pada masa Abbas,dalam bidang keagamaan yang menanamkan sikap toleransi terhadap politik keagamaan tau lapang dada yang amat besar. Paham syi‘ah tidak lagi menjadi paksaan bahkan orang sunni dapat hidup bebas mengerjakan ibadahnya (Hamka. 1981:70).

2. Bidang arsitektur

Kerajaan safawi telah berhasil menciptakan isfahan, ibukota kerajaan menjadi kota yang sangat indah. Di kota ini berdiri bangunan bangunan besar dengan arsitektur bernilai tinggi dan indah seperti masjid, rumah sakit, sekolah, jembatan raksasa di atas zende rud, dan istana chihil sutun. Dalam kota isfahan terdapat 162 masjid, 48 akademi, 1802 penginapan dan 273 pemandian umum (Marshal G.S hodgson.1981:40).

3. Bidang ekonomi

Kerajaan syafawi pada massa Abbas 1 ternyata telah memacu perkembangan perekonomian syafawi, terlebih setelah kepulauan hurmuz di kuasai dan pelabuhan gumrun diubah menjadi bandar Abbas. Yang merupakan

salah satu jalur dagang laut antara timur dan barat yang biasa di perebutkan oleh belanda, inggris, dan perancis sepenuhnya telah menjadi milik kerajaan syafawi. Di samping sektor perdagangan, kerajaan syafawi juga mengalami kemajuan di sektor pertanian terutama di daerah bulan sabit subur( Badri Yatim.1997:144).

4. Bidang ilmu pengetahuan

Berkembangnya ilmu pengetahuan masa kerajaan syafawi tidak lepas dari suatu doktrin mendasar bahwa kaum syi‘ah tidak boleh taqlid dan pintu ijtihad selamanya terbuka. Kaum syi‘ah tidak seperti kaum sunni yang mengatakan bahwa ijtihad telah terhenti dan orang mesti taqlid saja. Kaum syi‘ah tetap berpendirian bahwasannya mujtahid tidak terputus selamanya (Hamka. 1987:70).

Beberapa ilmuan yang selalu hadir di majelis istana, yaitu: Baha Al-Din Al-Syaerazi seorang filosof dan Muhammad Bagir Ibn Muhammad Damad, seorang filosof ahli sejarah, teolog seorang yang pernah mengadakan observasi mengenai kehidupan lebah (Badri Yatim.1997:144).

5. Bidang kesenian

Kemajuan tampak begitu jelas dengan gaya arsitektur bangunannya, seperti terlihat pada masjid syah yang di bangun tahun 1603 M. Unsur seni lainnya terlihat dalam bentuk kerajinan tangan, kerajinan karpet, permadani, pakaian. Seni lukis mulai di rintis sejak zaman Tamasp 1, raja ismail pada tahun 1522 M. Membawa seorang pelukis Timur ke Tabriz, pelukis itu bernama Bizhard (Marshal G.S Hodson, t.t.:40). Pada zaman Abbas 1 berkembanglah kebudayaan, kemajuan, dan keagungan pikiran mengenai seni lukis, pahat, syair

(Hamka.1987:70).

a. Ulama yang muncul pada zaman safawi di persia 1) Baha‘al-Din al-‗Amili (generalis ilmu pengetahuan) 2) Sadr al_din al-syirazi (filosof), dikenal dengan mulia Shandra (w.1641

M).92

3) Muhammad Bagir Ibn Muhammad Damad ( filosof, ahli sejarah, dan teolog). Beliau pernah melakukan penelitian ( observasi )tentang kehidupan lebah. Ia wafat pada tahun 1631 M.

C. DINASTI MUGHAL DI INDIA (1526-1857 M)

Dinasti Mughal berdiri seperempat abad setelah berdirinya Dinasti Syafawi. Jadi, di antara tiga kerajaan besar Islam tersebut kerajaan Mughal-lah yang termuda. Dinasti Mughal bukanlah kerajaan Islam pertama di anak Benua India (Badri Yatim,2008:145).

Islam pertama di anak Benua India (Badri Yatim,2008:145). Gambar 1.4 Wilayah Kerajaan Mughal di India Sumber

Gambar 1.4 Wilayah Kerajaan Mughal di India

Dinasti Mughal di India didirikan oleh Zahiruddin Muhammad Babur (1482-1530 M), salah satu cucu dari Timur Lenk dari etnis Mongol, keturunan

Jengis Khan. Ekspansinya ke India dimulai dengan penundukan penguasa setempat yaitu Ibrahim Lodi dengan Alam Khan (Paman Lodi) dan gubernur Lohere(Siti Maryam, dkk. 2002: 184). Ia berhasil munguasai Punjab dan berhasil menundukkan Delhi, sejak saat itu ia memproklamirkan berdirinya kerajaan Mughal. Proklamasi 1526 M yang dikumandangkan Babur mendapat tantangan dari Rajput dan Rana Sanga didukung oleh para kepala suku India tengah dan umat Islam setempat yang belum tunduk pada penguasa yang baru itu, sehingga ia harus berhadapan langsung dengan dua kekuatan sekaligus. Tantangan tersebut dihadapi Babur pada tanggal 16 Maret 1527 M di Khanus dekat Agra. Babur memperoleh kemenangan dan Rajput jatuh ke dalam kekuasaannya.

Penguasa Mughal setelah Babur adalah Nashiruddin Humayun atau lebih dikenal dengan Humayun (1530-1540 dan 1555-1556 M), puteranya sendiri (Siti Maryam, dkk. 2002: 184). Sepanjang pemerintahanya tidak stabil, karna banyak terjadi perlawanan dari musuh-musuhnya. Bahkan beliau sempat mengungsi ke Persia karna mengalami kekalahan saat melawan pemberontakan Sher Khan di Qonuj, tetapi beliau berhasil merebut kembali kekuasaanya pada tahun 1555 M berkat bantuan dari kerajaan safawi. Namun setahun kemudian 1556 M beliau meninggal karna tertimpa tangga pepustakaan, dan tahta kerajaan selanjutnya dipegang oleh putranya yang bernama Akbar.

Akbar mengganti ayahnya pada saat usia 14 tahun, sehingga urusan kerajaan diserahkan kepada Bairam Khan, seorang syi‘i. Pada masa pemerintahanya, Akbar melancarkan serangan untuk memerangi pemberontakan sisa-sisa keturunan Sher Khan Shah yang berkuasa di Punjab. Pemberontakan lain dilakukan oleh Himu yang menguasai Gwalior dan Agra. Pemberontakan tersebut disambut oleh Bairam Khan sehingga terjadi peperangan dahsyat, yang disebut panipat 2 tahun 1556 M. Himu dapat dikalahkan dan ditangkap kemudian dieksekusi. Dengan demikian, Agra dan Kwalior dapat dikuasai penuh (Mahmudun Nasir,1981:265-266).

Setelah Akbar dewasa, ia berusaha menyingkirkan Bairam Khan yang sudah mempunyai pengaruh kuat dan terlampau memaksakan kepentingan aliran

syi‘ah. Bairam Khan memberontak, tetapi dapat dikalahkan oleh Akbar di Jullandur tahun 1561 M.

Setelah itu masa kejayaan kerajaan Mughal berhasil dipertahankan oleh putra beliau (akbar) yaitu Jehangir yang memerintah selama 23 tahun (1605-1628 M). Namun Jehangir adalah penganut Ahlussunah Wal Jamaah, sehingga Din-i- Illahi yang dibentuk ayahnya menjadi hilang pengaruhnya(Siti Maryam, dkk. 2002: 185).

Sepeninggalan Jehangir, pucuk kekuasaan kerajaan Mughal di pegang oleh Sheh Jehan yang memerintah Mughal selam 30 tahun (1628-1658 M). Pada masa pemerintahanya banyak muncul pemberontakan dan perselisihan dalam internal keluarga istana. Namun semua itu dapat diatasi oleh beliau, bahkan beliau berhasil memperluas kekuasaanya Hyderabat, Maratha, dan Kerajaan Hindu lain yang belum tunduk kepada pemerintahan Mughal. Keberhasilan itu tidak bisa lepas dari peran Aurangzeb, putera ketiga dari Sheh Jehan.

Pengganti Sheh Jehan yaitu Aurangzeb, beliau berhasil menduduki tahta kerajaan setelah berhasil menyingkirkan para pesaingnya (saudaranya). Pada masanya kebesaran Mughal mulai menggema kembali, dan kebesaran namanya- pun disejajarkan dengan pendahulunya dulu, yaitu Akbar.

Adapun usaha-usaha Aurangzeb dalam memajukan kerajaan Mughal diantaranya menghapuskan pajak, menurunkan bahan pangan dan memberantas korupsi, kemudian ia membentuk peradilan yang berlaku di India yang dinamakan fatwa alamgiri sampai akhirnya meninggal pada tahun 1707 M. Selama satu setengah abad, India di bawah Dinasti Mughal menjadi salah satu negara adikuasa. Ia menguasai perekonomian Dunia dengan jaringan pemasaran barang-barangnya yang mencapai Eropa, Timur Tengah, Asia Tenggara dan Cina. Selain itu, India juga memiliki pertahanan militer yang tangguh yang sukar ditaklukkan dan kebudayaan yang tinggi.

Dengan besarnya nama kerajaan Mughal, banyak sekali para sejarawan

muncul seorang

yang mengkaji tentang kerajaan ini. Dan pada masa itu telah

sejarawan yang bernama Abu Fadl dengan karyanya Akhbar Nama dan Aini Akhbari, yang memaparkan sejarah kerajaan Mughal berdasarkan figure pemimpinnya (Ikram, 1967:247).

Dinasti ini memiliki sultan-sultan yang besar dan mencapai puncak kejayaannya pada abad ke-17, yaitu Akbar (1556-1606), Jengahir (1605-1627), Syah Jehan (1628-1658), dan Aurangzeb (1659-1707) (Dedi Supriyadi,

2008:261).

Penguasa-penguasa Mughal setelah Aurangzeb tidak berdaya dan tidak mampu mengembalikan supremasi Mughal. Penguasa-penguasa Mughal sesudah Aungzeb antara lain: Bahadur Syah (1707-1712), Azimus Syah (1712), Tihandar Syah (1713), Farukh Syiyar (1713-1719), Muhammad Syah (1719-1748). Pengganti Muhammad Syah adalah Ahmad Syah (1748-1754), diteruskan Alamgir II (1754-1759), Sah Alam (1761-1806). Mulai pada tahun 1761 kerajaan Mughal yang sudah tidak berdaya diserang oleh Ajmad Shah Durrani dari Afghan pada pertempuran Pannipat. Sejak itu pelan tapi pasti Dinasti Mughal hancur dan lenyap dari India (Ali Sodikin, dkk, 2003:219-220)

a. Kemajuan Kerajaan Mughal

Kemajuan yang dicapai pada masa dinasti Mughal merupakan sumbangan yang berarti dalam rangka mensyiarkan dan membangun peradaban Islam di India.

Kemajuan-kemajuan tersebut antara lain :

1. Bidang Politik dan Militer

Sistem yang menonjol adalah politik sulh e-kul atau toleransi universal, yaitu pandangan yang menyatakan bahwa derajat semua penduduk adalah sama. Sistem ini sangat tepat karena mayoritas masyarakat India adalah Hindu sedangkan Mughal adalah Islam (Ali Sodikin, dkk, 2003:220). Dalam urusan pemerintahan, pada masa Akbar menyusun pentadbiran secara teratur yang jarang taranya, sehingga Inggris satu setengah abad kemudian setelah menaklukan India,

tidak dapat memilih jalan lain, hanya meneruskan administrasi Sultan Akbar (Dedi Supriyadi, 2008:262).

Di bidang militer, pasukan Mughal dikenal sebagai pasukan yang kuat. Akbar Khan menjalankan pemerintahan bersifat militeristik, pemerintahan pusat dipimpin oleh raja; pemerintahan daerah dipimpin oleh kepala komandan (Sipah salat); dan pemerintahan sub-daerah dipimpin oleh komandan (Faudjat). Di samping itu, Akbar pun membentuk Din Ilahi dan juga mendirikan Mansabdhari (lembaga pelayanan umum yang berkewajiban sejumlah pasukan) (Jaih Mubarok,

2008:244).

2. Bidang Ekonomi

Kontribusi Mughal di bidang ekonomi adalah memajukan pertanian terutama untuk tanaman padi, kacang, tebu, rempah-rempah, tembakau dan kapas.

Di samping pertanian, pemerintahan juga memajukan industri tenun,

pertambangan dan perdagangan. Di samping untuk kebutuhan dalam negeri, hasil industri ini banyak diekspor ke luar negeri seperti Eropa, Arabia, dan Asia Tenggara bersaman dengan hasil kerajinan, seperti pakaian tenun dan kain tipis

bahn gordyn yang banyak diproduksi di Gujarat dan Bengal. Untuk meningkatkan

produksi,Jehangir mengizinkan Inggris (1611 M) dan Belanda (1617 M) mendirikan pabrik pengolahan hasil pertanian di Surat (Ali Sodikin, dkk,

2003:220).

3. Bidang Seni dan Arsitektur

Ciri yang menonjol dari arsitektur Mughal adalah pemakaian ukiran dan marmer yang timbul dengan kombinasi warna-warni. Bangunan sejarah yang ditinggalkan periode ini adalah Tajmahal di Aqra, Benteng Merah, Jama Masjid, istana-istana, dan gedung-gedung pemerintahan di Delhi (Ali Sodikin, dkk, 2003:221) .

Gambar 1.5 Bangunan Indah Taj Mahal di Aqra Sumber : http://www.fascinatingplanet.com Sementara dalam bidang sastra

Gambar 1.5 Bangunan Indah Taj Mahal di Aqra Sumber : http://www.fascinatingplanet.com

Sementara dalam bidang sastra yang paling menonjol adalah karya gubahan penyair istana, baik yang berbahasa Persia maupun bahasa India. Pada masa Akbar berkembang bahasa urdu, yang merupakan perpaduan dari berbagai bahasa yang ada di India. Penyair India yang terkenal adalah Malik Muhammad Jayadi seorang sastrawan sufi yang menghasilkan karya besar yang berjudul Padmavat , sebuah karya alegoris yang mengandung pesan kebajikan jiwa manusia.

Karya seni yang masih dapat dinikmati sekarang dan merupakan karya seni terbesar yang dicapai kerajaan Mughal adalah karya-karya arsitektur yang indah dan mengagumkan. Pada masa Akbar dibangun istana Fatpur Sikri di Sikri, villa dan mesjid-mesjid yang indah. Pada masa Syah Jehan dibangun mesjid berlapiskan mutiara dan Taj Mahal di Agra,Mesjid Raya Delhi dan istana indah di Lahore(Dedi Supriyadi, 2008:263).

4. Bidang Ilmu Pengetahuan

Di bidang pengetahuan kebahasaan Akbar telah menjadikan tiga bahasa nasional, yaitu bahasa arab sebagai bahasa agama, bahasa Turki sebagai bahasa bangsawan dan bahasa Persia sebagai bahasa istana kesusastraan (Dedi Supriyadi, 2008:221). Di bidang ilmu agama berhasil dikodifikasikan hukum Islam yang dikenal dengan sebutan Fatwa-Alamgiri (Ali Sodikin, dkk, 2003:221).

D. KEMUNDURAN TIGA KERAJAAN BESAR

a. Kemunduran Dinasti Usmani di Turki

Faktor-faktor kemunduran yaitu:

yang

menyebabkan

kerajaan

Turki

Usmani

mengalami

1. Wilayah kekuasaan yang sangat luas; kerajaan Turki Usmani sering terlibat perang secara terus-menerus sehingga susah untuk menjaga daerah yang telah dikuasai.

2. Kelemahan para penguasa; Sepeninggal Sulaiman Al-Qanuni, Dinasti Usmani diperintah oleh sultan-sultan yang lemah, baik kepemimpinannya maupun kepribadiannya, sehingga mudah ditaklukkan bangsa lain. Heterogenitas penduduk; sebagai kerajaan yang sangat besar, tentunya masyarakatnya terdiri dari berbagai agama, aras, etnis yang berbeda sehingga diperlukan pengambilan keputusan yang benar-benar bijaksana.

3. Budaya korupsi; korupsi merupakan hal yang umum terjadi dalam Dinasti Usmani, sehingga mengakibatkan rapuhnya moral pemerintah. Pemberontakan tentara Yeniseri; tentara Yeniseri adalah tentara terkuat, sehingga jika para pasukan Yeniseri memberontak pasti pemerintah kalah.

4. Merosotnya perekonomian; akibat perang yang tiada henti, perekonomian merosot karena penguasa hanya mementingkan perang.

5. Stagnasi dalam lapangan ilmu dan teknologi; Dinasti usmani kurang berhasil dalam mengembangkan ilmu dan teknologi, sehingga tidak mampu menghadapi persenjataan musuh dari Eropa yang semakin maju (Samsul Munir, 2009:208-209).

b. Kemunduran Dinasti Syafawi di Persia

Setelah Abbas 1, dinasti safawi mengalami kemunduran. Sulaiman, pengganti Abbas 1, melakukan penindasan dan pemerasan terhadap ulama sunni dan memaksakan ajaran syi‘ah kepada mereka. Penindasan semakin parah terjadi pada zaman sultan husein, pengganti sulaiman. Penduduk afgan (saat itu bagian dari Iran) di paksa untuk memeuk syi‘ah dan di tindas. Penindasan ini melahirkan pemberontakan yang di pimpin oleh Mahmud Khan (Amir Kandahar) sehingga berhasil menguasai Herat, Masyhad, dan kemudian merebut isfahan (1772 M). setelah itu, safawi diserang oleh Turki Usmani dan Rusia. Wilayah Armenia dan beberapa wilayah azerbaijan direbut oleh Turki Usmani , sedangkan beberapa wilayah propinsi laut kaspia di jilan, mazandaran dan asteraban direbut oleh Rusia (Ira M.Lapidus,op.cit.,:299).

Setelah sebagian besar wilayah dikuasai oleh Afghan, Turki Usmani dan

Rusia, Nadir Syah (dinasti Asfhariah) karena mendapat dukungan dari suku Zand

di Iran Barat menundukan dinasti safawiyah. Nadir Syah (bergelar Syah Iran)

memadukan Sunni-Syi‘ah untuk mendapat dukungan dari Afgan dan Turki Usmani; dan ia mengusulkan agar madzhab fiqih ja‘fari (Syi‘ah) dijadikan madzhab hukum yang kelima oleh ulama Sunni. Dinasti safawi pimpinan Nadir Syah kemudian di taklukan oleh dinasti Qajar (Ibid:300).

c. Kemunduran dan Kehancuran Kerajaan Mughal

Setelah satu setengah abad dinasti Mughal berada di puncak kejayaannya, para pelanjut Aurangzeb tidak sanggup mempertahankan kebesaran yang telah dibina oleh sultan-sultan sebelumnya. Pada abad ke-18 M kerajaan ini memasuki masa-masa kemunduran. Kekuasaan politiknya mulai merosot, suksesi kepemimpinan di tingkat pusat menjadi ajang perebutan, gerakan sparatis Hindu

di India Tengah, Sikh di belahan utara dan Islam di bagian timur semakin lama

semakin mengancam(Badri Yatim,2008:159).

Pada masa Aurangzeb, pemberontakan terhadap pemerintahan pusat memang sudah muncul, tetapi dapat diatasi. Pemberontakan itu bermula dari

tindakan-tindakan Aurangzeb yang dengan keras menerapkan pemikiran puritanisme. Setelah ia wafat, penerusnya rata-rata lemah dan tidak mampu menghadapi problema yang ditinggalkan (Badri Yatim,2008:159).

Sementara itu, para pedagang inggris (EIC) untuk pertama kalinya diizinkan oleh Jehangir menanamkan modal di India yang didukung oleh kekuatan bersenjata menjadi semakin kuat menguasai wilayah pantai. (Ratu Suntiah,

2010:147).

Ada beberapa faktor yang menyebabkan kekuasaan dinasti Mughal itu mundur pada satu setengah abad terakhir dan membawa kepada kehancurannya pada tahun 1858 M, yaitu:

1. Terjadi stagnasi dalam pembinaan kekuatan militer sehingga operasi militer Inggris di wilayah-wilayah pantai tidak dapat segera dipantau oleh kekuatan maritim Mughal. Begitu juga kekuatan pasukan darat. Bahkan, mereka kurang terampil dalam mengoperasikan persenjataan buatan Mughal sendiri.

2. Kemerosotan moral dan hidup mewah di kalangan elit politik, yang mengakibatkan pemborosan dalam penggunaan uang negara.

3. Pendekatan Aurangzeb yang berlampau ―kasar‖ dalam melaksanakan ide- ide puritan dan kecenderungan asketisnya, sehingga konflik antar agama sangat sukar diatasi oleh sultan-sultan sebelumnya.

4. Semua pewaris tahta kerajaan pada paruh terakhir adalah orang-orang lemah dalam bidang kepemimpinan.

3.1 Kesimpulan

BAB III

KESIMPULAN

Tiga kerajaan Islam penting diciptakan pada akhir abad 15 dan awal abad 16: Kerajaan Usmani di Turki, Kerajaan Mughal di India, dan Kerajaan Safawi di Persia. Tiga Kerajaan penting tersebut tampak lebih memusatkan pandangan mereka pada tradisi demokratis Islam, dan membangun imperium absolute. Hampir setiap segi kehidupan umum dijalankan dengan ketepatan sistematis dan birokratis dan berbagai kerajaan mengembangkan sebuah administrasi yang rumit. Ketiga kerajaan besar ini seperti membangkitkan kembali kejayaan Islam setelah runtuhnya Bani Abbasiyah. Namun, kemajuan yang dicapai pada masa tiga kerajaan besar ni berbeda dengan kemajuan yang dicapai pada masa klasik Islam. Kemajuan pada masa klasik jauh lebih kompleks. Di bidang intelektual, kemajuan di zaman klasik. Dalam bidang ilmu keagamaan, umat Islam sudah mulai bertaklid kepada imam-imam besar yang lahir pada masa klasik Islam. Kalau pun ada mujtahid, maka ijtihad yang dilakukan adalah ijtihad fi al- mazhab, yaitu ijtihad yang masih berada dalam batas-batas mazhab tertentu. Tidak lagi ijtihad mutlak, hasil pemikiran bebas yang mandiri. Filsafat dianggap bid‘ah. Kalau pada masa klasik, umat Islam maju dalam bidang politik, peradaban, dan kebudayaan, seperti dalam bidang ilmu pengetahuan dan pemikiran filsafat, pada masa tiga kerajaan besar kemajuan dalam bidang filsafat kecuali sedikit berkembang di kerajaan Safawi Persia dan ilmu pengetahuan umum tidak didapatkan lagi. Kemajuan yang dapat dibanggakan pada masa ini hanya dalam bidang politik, kemiliteran, dan kesenian, terutama arsitektur.