Anda di halaman 1dari 14

MAKALAH PRAKTEK PKK 5 DIV

KEBIDANAN

Ditulis Oleh:
Rita Rosida

Nining hodijah

Sally pratama

Nurul aisah

Elis

PROGRAM STUDI PRAKTEK PKK 5


FAKULTAS ILMU-ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS NASIONAL
JAKARTA
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Mastitis adalah peradangan payudara,yang dapat disertai atau tidak disertai.Penyakit ini
biasanya menyertai laktasi sehingga disebut “Mastitis Laktasional/Mastitis Puerperalis”.
Kadang keadaan ini dapat menjadi fatal bila tidak diberi tindakan yang adekuat.
Mastitis adalah reaksi systemic (seperti demam) yang terjadi 1 – 3 minggu setelah
melahirkan sebagai komplikasi sumbatan saluran air susu, dan putting susu lecet atau luka.
Mastitis adalah infeksi dan peradangan pada mamma (tertutama pada primpara) dan
terjadi luka pada putting susu, mungkin juga peredaran darah.
Mastitis adalan infeksi bacterial yang sering terjadi pada pasca partum semasa awal
laktasi jika organisme berhasil masuk dan mencapai jaringan payudara melalui fisura pada
putting.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apakah yang dimaksud dengan mastitis?
2. Bagaimaakah epidemiologi mastitis?
3. Apa saja penyebab mastitis?
4. Apa yang dimaksud statis ASI?
5. Bagaimanakan infeksi mastitis?
6. Apa saja tanda dan gejala mastitis ?
7. Apa saja faktor predisposisi mastitis ?
8. Bagaimana patologi dan gambaran klinis mastitis?
9. Bagaimanakah pencegahan mastitis?
10. Bagaimana penanganan mastitis?
11. Bagaimanakah dampak jangka panjang mastitis?

1.3 Tujuan Penulisan


1. Menjelaskan definisi mastitis
2. Menjelaskan epidemiologi mastitis
3. Menjelaskan penyebab mastitis
4. Menjelaskan statis ASI
5. Menjelaskan infeksi mastitis
6. Menjelaskan tanda dan gejala mastitis
7. Menjelaskan faktor predisposisi mastitis
8. Menjelaskan patologi dan gambaran klinis mastitis
9. Menjelaskan pencegahan mastitis
10. Menjelaskan penanganan mastitis
11. Menjelaskan dampak jangka panjang mastitis
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 PENGERTIAN
Mastitis adalah peradangan payudara,yang dapat disertai atau tidak disertai.Penyakit
ini biasanya menyertai laktasi sehingga disebut “Mastitis Laktasional/Mastitis Puerperalis”.
Kadang keadaan ini dapat menjadi fatal bila tidak diberi tindakan yang adekuat.
Mastitis adalah reaksi systemic (seperti demam) yang terjadi 1 – 3 minggu setelah
melahirkan sebagai komplikasi sumbatan saluran air susu, dan putting susu lecet atau luka.
Mastitis adalah infeksi dan peradangan pada mamma (tertutama pada primpara) dan
terjadi luka pada putting susu, mungkin juga peredaran darah.
Mastitis adalah infeksi bacterial yang sering terjadi pada pasca partum semasa awal
laktasi jika organisme berhasil masuk dan mencapai jaringan payudara melalui sisura pada
putting.
Abses payudara(pengumpulan nanah local di dalam payudara) merupakan komlpikasi
berat dari mastitis.Keadaan ini menyebabkan beban penyakit yang berat dan memerlukan biaya
yang sangat besar.Selain itu, menurut penelitian mastitis dapat meningkatkan resiko penularan
HIV melalui menyusui.

2.2 EPIDEMIOLOGI
1. Insiden
Mastitis terjadi pada semua populasi,dengan atau tanpa kebiasaan menyusui.Insiden ini
sangat bervariasi,dari sedikit sampai 33% wanita menyusui,tetapi biasanya di bawah 10%.
2. Mula timbul
Mastitis paling sering timbul pada minggu kedua dan ketiga pasca kelahiran.Dengan
sebagian besar laporan menunjukkan bahwa 74% sampai 95% kasus terjadi dalam 12 minggu
pertama.Namun mastitis dapat terjadi pada setiap tahap laktasi,termasuk pada tahun kedua.

2.3 PENYEBAB
Penyebabnya adalah stasis ASI dan infeksi.Stasis ASI biasanya merupakan penyebab
primer,yang dapat disertai atau berkembang menuju infeksi.
Menurut “Gunther”,mastitis diakibatkan oleh stagnasi ASI di dalam payudara dan
bahwa pengeluaran ASI yang efisien dapat mencegah keadaan tersebut.Selain itu infeksi bila
terjadi bukanlah primer, tetapi diakibatkan oleh stagnasi ASI sebagai media pertumbuhan
bakteri
Menurut “Thomson dkk.” Menghasilkan bukti tentang pentingnya statis ASI,meraka
menghitung leukosit dan bakteri dalam ASI dari payudar dengan tanda klinis mastitis dan
menghitung klasifikasi sbb:
 Stasis ASI
 Inflamasi noninfeksiosa(mastitis noninfeksiosa)
 Mastitis infeksiosa
Mereka menemukan bahwa stasis ASI(leokosit <106 dan bakteri <103) membaik
hanya dengan terus menyusui.Mastitis Noninfeksiosa (leokosit >106 dan bakteri <103)
membutuhkan tindakan pemerasan ASIsetelah menyusui.Mastitis Infeksiosa (leokosit >106
dan bakteri >103) hanya dapat diobati dengan efektif dengan pemerasan ASI dan antibiotika
sistemik.
Tanpa pengeluaran ASI yang efektif,mastitis noninfeksiosa sering berkembang
menjadi mastitis infeksiosa,dan mastitis infeksiosa menjad pembentukan abses.

2.4 STATIS ASI


Terjadi jika ASI tidak dikeluarkan dengan efisien dari payudara.Hal ini terjadi bila
payudara terbendung segera setelah melahirkan,atau setiap saat bila bayi tidak menghisap
ASI.Selain itu kenyutan bayi yang buruk pada payudara,pengisapan yang tidak
efektif,pembatasan frekuensi atau durasi menyusui,sumbatan pada saluran ASI,suplay ASI
yang sangat berlebihan,menyusui untuk anak kembar dua atau lebih.
Bendungan payudara menurut “Nelson tahun 1753” hal ini tidak dapat terjadi bila bayi
disusui segera setelah lahir.Sehingga stasis ASI terhindarkan.Sedangkan menurut “Naish tahun
1948” pentingnya pengeluaran ASI yang segara pada tahap awal mastitis atau kongesti untuk
mencegah perkembangan penyakit dan pembentukan abses.

2.5 INFEKSI
Organisme yang paling sering ditemukanpada mastitis dan abses payudara adalah
organisme koagulase-positif, Staphylococcus aureus dan Stap. Albus, Escherichiacioli,
Streptococcus kadang-kadang ditemukan.
2.6 TANDA DAN GEJALA
1. Payudara terasa nyeri
2. Teraba keras dan tampak memerah
3. Permukaan kulit dari payudara yang terkena infeksi juga tampak seperti pecah-pecah
4. Badan terasa demam seperti hendak flu

2.7 FAKTOR PREDISPOSISI


1. Umur
Wanita berumur 21-35 tahun lebih sering menderita mastitis daripada wanita dibawah usia 21
tahun dan di atas 35 tahun
2. Paritas
Primipara ditemukan sebagai factor resiko
3. Serangan sebelumnya
Serangan mastitis pertama cenderung untuk berulang
4. Melahirkan
Komplikasi melahirkan dapat meningkatkan resiko mastitis
5. Gizi
Misalnya asupan garam dan lemak yang tinggi,anemia,gizi buruk
6. Faktor Kekebalan dalam ASI
Faktor ini dapat memberikan mekanisme pertahanan dalam payudara.Tetapi menurut studi di
Gambia menyatakan bahwa kadar factor ini rendah,pertahanan ini rendah,pertahanan efektif
dapat berkurang,dan resiko mastitis berulang meningkat
7. Stres dan kelelahan
Misalnya wanita yang merasa nyeri dan demam sering merasa lelah dan ingin istirahat,tetapi
tidak jela apakah kelelahan dapat menyebabkan keadaan ini atau tidak
8. Pekerjaan di luar rumah
Misalnya seorang ibu bekerja paruh waktu,lalu interval menyusui yang panjang dan
kekurangan waktu untuk pengeluaran ASI yang adekuat
9. Faktor local dalam payudara
Misalnya jenis kulit,reaksi kulit terhadap matahari, alergi, ruam, pemajanan terhadap suhu
dingin tidak Nampak mempengaruhi insiden mastitis
10. Trauma
Misalnya kekerasan dalam rumah tangga,yang dialami banyak wanita di masyarakat,dan sering
terjadi selama laktasi.
2.8 PATOLOGI DAN GAMBARAN KLINIS
1. Bendungan
Terjadi karena payudara terisi sangat penuh dengan ASI dan cairan jaringan.Sehingga aliran
vena dan limfatik tersumbat,aliran susu terhambat,terjadi tekanan pada saluran ASI dan alveoli
meningkat.Sehingga menyebabkan payudara bengkak dan edematus
2. Sumbatan saluran payudara
Terjadi akibat obsruksi benda padat,tetap dapat pula terjadi akibat pengeluaran ASI yang tidak
efisien dari bagian payudara
3. Mastitis Noninfeksiosa
Terjadi karena peningkatan interleukin,sehingga terjadi respon inflamasi pada jalur para seluler
yang berhubungan erat dengan sel pensekresi ASI di alveoli payudara
4. Faktor Imun dalamASI
Terjadi akibat rendahnya sejumlah factor protektif dalam ASI,sehingga pertahanan yang efektif
berkurang
5. Mastitis Infeksiosa
Terjadi bila stasis ASI tidak sembuh,dan proteksi oleh factor imun dalam ASI dan oleh respon
inflamasi kalah.
6. Mastitis Subklinis
Diagnosisnya dari adanya peningkatan rasio natrium-kalium dalam ASI,dan peningkatan
konsentrasi interleukin.Peningkatan tersebut dapat menunjukkan bahwa sedang terjadi respon
inflamasi,walaupun tidak ada tanda klinis
7. Abses Payudara
Payudara yang laktasi,seperti jaringan terinfeksi lain,melokalisasi infeksi dengan membentuk
sawar jarinagn granulasi yang mengelilinginya.Jaringan ini akan menjadi kapsul abses,yang
terisi dengan pus.Terdapat benjolan yang membengkak yang sangat nyeri dengan
kemerahan,panas,edema kulit di atasnya.Bila tidak segara ditangani benjolan akan akan
menjadi berfluktuasi dengan perubahan warna kulit dan nekrosis

2.9 PENCEGAHAN
a. Senam laktasi (menggerakkan lengan secara berputar sehingga sendi bahu ikut bergerak kea
rah yang sama guna membantu memperlancar peredaran darah dan limfe di payudara.
b. Perbaikan pemahaman penatalaksanaan menyusui
Misalnya mulai menyusui dalam satu jam atau lebih setelah melahirkan, memastikan bahwa
bayi mengenyut payudara dengan baik
c. Tindakan rutin sebagai bagian perawatan kehamilan
Misalnya bayi harus mendapat kontak dini dengan ibunya dan mulai menyusui segera setelah
tampak tanda-tanda kesiapan,biasanya dalam jam pertama atau lebih
d. Penatalaksanaan yang efektif pada payudara yang penuh dan kencang
Misalnya ibu harus dibantu memperbaiki kenyutan pada payudara oleh bayinya untuk
memperbaiki pengeluaran ASI
e. Perhatian dini terhadap semua tanda stasis ASI
Ibu harus tahu cara merawat payudara dan tanda stasis ASI atau mastitis sehingga mereka dapat
mengobatinya sendiri di rumah dan mencari pertolongan secepatnya bila keadaan tersebut tidak
menghilang
f. Perhatian dini pada kesulitan menyusui lain
Pemberian pengetahuan dan keterampilan dari petugas kesehatan untuk para ibu agar
dukungan menyusui terus menerus harus tersedia di masyarakat,serta pemberian pengobatan
secar dini
g. Pengendalian infeksi
Misalnya petugas kesehatan harus mencuci tangan setiap kali setelah kontak dengan ibu dan
bayi,kontak kulit dini dan rawat gabung bayi dengan ibu,pemijatan,salep dan semprotan
payudara (penisilin, klorheksidin)

2.10 PENANGANAN
1. Sumbatan Payudara
 Pastikan posisi bayi dan kenyutan baik
 Jelaskan perlunya menghindari factor yang dapat menyumbat aliran ASI,misalnya pakaian
ketat dll.
 Mendorong ibu untuk menyusui sesering dan selama bayi menghendaki tanpa batasan
 Menyarankan ibu menggunakan panas basah,mis: kompres hangan atau pancuran hangat
2. Mastitis
 Konseling suportif
 Memberikan dukungan,bimbingan.keyakinan kembali tentang menyusui yang aman untuk
diteruskan,bahwa ASI dari payudara yang terkena tidak akan memhahayakan bayi,serta
payudar kan pulih bentuk maupun fungsinya
 Pengeluaran ASI yang efektif
 Bantu ibu perbaiki kenyutan bayi pada payudara
 Dorong ntuk sering menyusui selama bayi menghendaki serat tanpa batasan
 Bila perlu peras ASI dengan tangan atau pompa atau botol panas sampai menyusui dapat
dimulai lagi
 Terapi antibiotika
Terapi ini diindikasikan pada:
 Hitung sel dan koloni bakteri dan biakan yang ada serta menunjukkan infeksi
 Gejala berat sejak awal
 Terlihat putting pecah-pecah
 Gejala tidak membaik setelah 12-24 jam setelah pengeluaran ASI diperbaiki
 Dan dapat diberikan antibiotika seperti: Antibiotika Beta-lakta-mase
 Pengobatan simtomatik
 Diterapi dengan anlgesik (mis: Ibuprofen,Parasetamol)
 Istirahat atau tirah baring dengan bayinya
 Penggunaan kompres hangat pada payudara
 Yakinkan ibu untuk cukup cairan
 Pendekatan terapeutik lain (mis: penyinggiran pus,tindakan diit,pengobatan
herbal,menggunakan daun kol untuk kompres dingin
3. Abses Payudara
 Terapi bedah (pengeluaran pus dengan insisi dan penyaliran)
 Dukungan untuk menyusu

2.11 DAMPAK JANGKA PANJANG


Seiring dengan waktu serta dengan terapi mastitis dan abses payudara yang
adekuat,pemulihan akan lengkap dan dengan melanjutkan laktasi biasanya payudara
diharapkan dapat berfungsi normal.
Akan tetapi terapi yang terlambat,tidak tepat,tidak adekuat dapat mengakibatkan
kekambuhan,lesi yang lebih luas,bahkan kerusakan jaringan permanen.Episode mastitis
berulang dapat menyebabkan timbulnya inflamasi kronis dan kerusakan payudara ireversibel.
2.12 CONTOH KASUS
Ny.A umur 27 tahun datang ke Puskesmas DTP Bayah pada tanggal 04 Mei 2017. Ibu
mengeluh bayinya tidak mau menyusu, penghisapan tidak adekuat pada bayi, payudara terasa
nyeri, teraba keras dan tampak memerah, permukaan kulit dari payudara pecah-pecah, dan
badan terasa demam.

Kesimpulan :
Ny.A umur 27 tahun P2A0 5 hari dengan mastitis

Penatalaksanaan :
 Konseling suportif
 Memberikan dukungan,bimbingan.keyakinan kembali tentang menyusui yang aman untuk
diteruskan,bahwa ASI dari payudara yang terkena tidak akan memhahayakan bayi,serta
payudar kan pulih bentuk maupun fungsinya
 Pengeluaran ASI yang efektif
 Bantu ibu perbaiki kenyutan bayi pada payudara
 Dorong ntuk sering menyusui selama bayi menghendaki serat tanpa batasan
 Bila perlu peras ASI dengan tangan atau pompa atau botol panas sampai menyusui dapat
dimulai lagi
 Terapi antibiotika
Terapi ini diindikasikan pada:
 Hitung sel dan koloni bakteri dan biakan yang ada serta menunjukkan infeksi
 Gejala berat sejak awal
 Terlihat putting pecah-pecah
 Gejala tidak membaik setelah 12-24 jam setelah pengeluaran ASI diperbaiki
 Dan dapat diberikan antibiotika seperti: Antibiotika Beta-lakta-mase
 Pengobatan simtomatik
 Diterapi dengan anlgesik (mis: Ibuprofen,Parasetamol)
 Istirahat atau tirah baring dengan bayinya
 Penggunaan kompres hangat pada payudara
 Yakinkan ibu untuk cukup cairan
 Pendekatan terapeutik lain (mis: penyinggiran pus,tindakan diit,pengobatan
herbal,menggunakan daun kol untuk kompres dingin
2.13 Tujuan Praseptor
Tujuan dari Pelatihan Preseptor Mentor Bagi Clinical Instructure ini antara lain:
Memahami konsep dasar peran CI di tatanan klinik, Memahami peran dalam setiap tahapan
proses pembelajaran klinik, Memahami peran, fungsi dan tugas-tugas sebagai pembimbing
praktek klinik kebidanan, Mampu melaksanakan bimbingan klinik kebidanan pada
mahasiswa kebidanan, Mampu melaksanakan evaluasi terhadap peserta didik baik mahasiswa
yang mencakup pengetahuan, sikap serta keterampilan sesuai dengan pedoman/instrumen
evaluasi, Menjadi contoh (role model) bagi mahasiswa sebagai bidan professional di
lingkungan kerjanya.
Clinikcal Instruktur (CI) merupakan salah satu SDM yang penting dalam proses
pembelajaran praktik pelayanan kebidanan. CI merupakan SDM yang melaksanakan
bimbingan klinik di lahan praktik dalam rangka pencapaian kompetensi yang ditetapkan
dengan memberikan pengalaman nyata dan bimbingan klinik. Diharapkan dengan
pembimbingan klinik oleh CI yang telah mengikuti pelatihan, maka proses bimbingan
mahasiswa di lahan praktik sesuai dengan tujuan pembelajaran klinik.
2.14. 5 Tahapan Preseptor
1) Hadapkan mahasiswa pada kasus
2) Eksplorasi data pendukung kasus
3) Anjurkan rumus umum
4) Puji hal positif
5) Koreksi kesalahan
2.14 Daftar Tilik Perawatan Mastitis
PENUNTUN BELAJAR
KASUS
NO LANGKAH / TUGAS
1 2 3 4 5
PERSIAPAN
1. Mempersiapkan alat dan bahan.
2. Menyapa ibu dan memberitahu ibu tentang tindakan yang akan dilakukan.
PELAKSANAAN
3. Mencuci tangan sebelum tindakan dan keringkan.
4. Menyiapkan posisi ibu, baju bagian atas dibuka dan meletakkan handuk di
bahu dan pangkuan ibu.
5. Mengompres kedua putting susu dan areola mamae dengan menggunakan
kapas yang telah diolesi minyak kelapa/baby oil selama 2-5 menit.
6. Membersihkan putting susu dan areola mamae dengan kapas.
7. Melicinkan kedua telapak tangan dengan minyak kelapa/baby oil.
8. Mengurut payudara dimulai ke arah atas, lalu ke samping.
9. Mengurut payudara secara melintang, telapak tangan mengurut ke depan, lalu
kedua tangan dilepas dari payudara secara perlahan-lahan.
10. Menyokong payudara kiri dengan tangan kiri, lalu dua atau tiga jari tangan
kanan membuat gerakan memutar sambil menekan mulai dari pangkal
payudara dan berakhir pada putting susu.
11. Menyokong payudara kiri dengan satu tangan, sedangkan tangan kanan
mengurut payudara dengan sisi kelingking dari arah tepi ke arah putting susu.
12. Menyokong payudara dengan satu tangan, sedangkan tangan lain mengurut
payudara dengan tangan mengepal dari arah tepi ke arah putting susu.
13. Mengompres payudara dengan waslap menggunakan air hangat dan air dingin
secara bergantian.
14. Membantu ibu untuk memakai kembali pakaiannya dan menganjurkan ibu
untuk memakai BH yang menyokong payudara.
15. Membereskan alat-alat dan mencuci alat-alat yang telah dipakai
Mencuci tangan setelah melakukan tindakan dan keringkan.
SKOR NILAI = ∑ NILAI X 100%
45
TANGGAL

PARAF PEMBIMBING
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Mastitis dan abses payudara merupakan kondisi yang sering terjadi dan dapat dicegah
ddengan mudah. Penyakit ini terutama disebabkan oleh pengeluaran ASI yang tidak efisien dan
juga olek infeksi bakteri. Dalam hal ini ibu perlu mengetahui tanda-tanda dini dari
mastitis,stasis ASI, dan sumbatan saluran payudara.Selain itu ibu harus tetap menyusui,karena
menyusui itu baik untuk memperbaiki pengeluaran ASI maupun membantu proses
penyembuhan.
Mastitis dapat dicegah dengan
1) Senam laktasi (menggerakkan lengan secara berputar sehingga sendi bahu ikut bergerak kea
rah yang sama guna membantu memperlancar peredaran darah dan limfe di payudara.
2) Perbaikan pemahaman penatalaksanaan menyusui
3) Tindakan rutin sebagai bagian perawatan kehamilan
4) Penatalaksanaan yang efektif pada payudara yang penuh dan kencang
5) Perhatian dini terhadap semua tanda stasis ASI
6) Perhatian dini pada kesulitan menyusui lain
7) Pengendalian infeksi

3.2 Saran
Penulis menyadari makalah yang penulis susun ini masih jauh dari sempurna, untuk itu
semoga makalah ini dapat dijadikan acuan dalam pembuatan makalah selanjutnya, dan
diharapkan adanya perbaikan-perbaikan untuk makalah selanjutnya dengan pokok bahasan
yang sama.
DAFTAR PUSTAKA

 WHO, Mastitis Penyebab dan Penatalaksanaannya. 2003. Perpustakaan Nasional


 www.google.com
 Krisnadi R. Sosie. Obstetri Patologi. 2005. EGC. Jakarta
 Mansjoer, Arif. Kapita Selekta Jilid I. 2001. Media Aesculapius. Jakarta
 Price, A. Sylvia. Patofisiologi Jilid I. 2006. EGC. Jakart