Anda di halaman 1dari 13

PENULISAN KARYA ILMIAH

PENATAAN HUTAN GUNUNG KAWI SEBAGAI TAHURA TREND ZAMAN NOW


DI DESA PETUNGSEWU DAN KUCUR, KECAMATAN DAU, KABUPATEN
MALANG, JAWA TIMUR

Diusulkan oleh :
(Oktapia Febriani; NPM; 2161000220045; 2016)
(Rida Juniarti; NPM; 216100220023; 2016)
(Yovina Nia Anggelisa; NPM; 2161000220060; 2016)
(Lusia Santiana Mbere; NPM; 2161000220081; 2016)
(Lindawati; NPM; 2161000220036; 2016)

IKIP BUDI UTOMO


MALANG
2019
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Menurut Ketua Profauna Indonesia, Rosek Nursahid, pihaknya bersama
organisasi nirlaba yang concern terhadap konservasi satwa dan pelestaraian alam,
P-WEC (Petungsewu Wildlife Education Center) telah melakukan berbagai upaya
konservasi satwa dan pelestarian satwa di Desa Petungsewu. “Dari berbagai
kegiatan dan kerjasama yang dilakukan dengan teman-teman P-WEC, kita
berkeyakinan, Desa Petungsewu dan Kucur sangat berpotensi untuk dijadikan desa
wisata ramah burung”, terang Rosek, Selasa (28/05/2019).
Menurutnya, ada dua alasan mendasar mengapa Desa Petungsewu dan Kucur
potensial dijadikan kawasan desa wisata berbasis konservasi satwa dan pelestarian
lingkungan. Pertama, hutan atau habitat buatan seluas 5 hektar di Desa Petungsewu,
saat ini dihuni 48 jenis burunglokal dan keragaman hayati flora yang terdiri dari 100
jenis tumbuhan serta satwa liar lain, seperti lutung jawa, kucing hutan, dan musang.
Kondisi habitat buatan yang menyerupai habitat aslinya dengan keanekaragaman
hayati yang ada, serta didukung adanya Desa Petungsewu dan Kucur, maka
kawasan ini cocok untuk dijadikan kawasan TAHURA konservasi, dengan
memberdayakan masyarakat sekitar hutan tersebut.
Kedua, dari penelitian sebelumnya di Desa Jatimulyo, Yogyakarta, Ketua
Profauna Indonesia melihat dengan memanfaatkan potensi alam yang ada, satwa
dilestarikan di alam bebas tanpa diganggu dan habitat ditata sedemikian rupa,
ternyata hal ini dapat meningkatkan perekonomian Desa Jatimulyo (Hidayah &
Rahayu, n.d.). Taman Hutan Raya (TAHURA) merupakan kawasan pelestarian alam
sebagai tempat koleksi tumbuhan dan satwa alami atau buatan. Dimanfaatkan bagi
kepentingan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, masyrakat, menunjang
budidaya, budaya, pariwisata dan rekreasi (Ii & Pustaka, 2010). Maka hutan dan
habitat buatan untuk satwa dan flora yang terdapat di Desa Petungsewu dan Kucur
dapat dijaga keasrian lingkungan agar satwa dan berbagai flora yang ada dihutan
tersebut tidak punah, serta peneliti akan melakukan penataan hutan gunung kawi
menjadi tahura trend zaman now yang akan menjadi daya tarik wisatawan dalam
bentuk konservasi, alasan kami ingin menata hutan ini sbagai tahura trend zaman
now karena selama ini gunung kawi hanya dikenal sebagai tempat mistis untuk
persembahan dalam hal budaya, memberikan pengetahuan tentang satwa dan flora
yang ada di hutan tersebut, dan meningkatkan perekonomian Desa Petungsewu dan
Kucur.
Keberadaan hutan dan habitat buatan tidak semata-mata akibat interaksi alami
antara komponen botani, mikroorganisme, mineral tanah, air dan udara, melainkan
juga adanya peran manusia dan kebudayaannya. Kreasi budaya yang
dikembangkan dalam interaksinya dengan hutan, berbeda-beda antar kelompok
masyarakat. Oleh karena itu, diperlukan penataan di Hutan Gunung Kawi sebagai
tahura trend zaman now Desa Petungsewu dan Kucur, selain itu juga diperlukan
suatu kajian tentang potensi tegakan serta kondisi hutan dan habitat buatan,
sehingga hutan dan habitat buatan Gunung Kawi dapat dikelola dan dilestarikan.
Berdasarkan uraian di atas maka peneliti tertarik melakukan kajian untuk Penataan
Hutan Gunung Kawi Sebagai TAHURA Trend Zaman Now di Desa Petungsewu dan
Kucur, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang, Jawa Timur.

1.2 Rumusan Masalah


Adapun rumusan masalah dari penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Bagaimana Penataan Hutan Gunung Kawi sebagai Tahura Trend Zaman Now di
Desa Petungsewu dan Kucur?
2. Bagaimana partisipasi masyarakat dalam mendukung Penataan Hutan Gunung
Kawi sebagai Tahura Trend Zaman Now di Desa Petungsewu dan Kucur ?

1.3 Tujuan Penelitian


Tujuan penelitian adalah sebagai berikut :
1. Mengetahui bagaimana Penataan Hutan Gunung Kawi sebagai Tahura Trend
Zaman Now.
2. Mengetahui bagaimana partisipasi masyarakat dalam mendukung Penataan
Hutan Gunung Kawi sebagai Tahura Trend Zaman Now.

1.4 Manfaat Penelitian


Manfaat penelitian ini adalah sebagai data dan informasi bagi pihak terkait dalam
upaya penataan Hutan Gunung Kawi sebagai Tahura Trend Zaman Now Desa
Petungsewu dan Kucur.
BAB II
Landasan Teori Dan Kondisi Saat Ini

2.1 Hutan Gunung Kawi


Gunung Kawi merupakan kawasan yang berada didekat kota Malang, yang
memiliki banyak kearifan lokal salah satunya sebagai tempat wisata religi
(keagamaan) yang telah dikenal sejak dahulu sebagai salah satu objek menarik dari
keragaman yang ada di Indonesia (Hariyanto, 2017). Di kawasan Gunung Kawi
terdapat hutan yang memiliki luas 5 hektar dengan berbagai keanekaragaman
hayati di Desa Petungsewu dan Kucur.

Gambar 2.1

Gambar 2.2

Gambar 3.1
2.2 Tahura
Dalam UU No. 5 Tahun 1990 Kawasan Taman hutan raya merupakan kawasan
pelestarian alam sebagai tempat koleksi tumbuhan dan satwa alami atau buatan.
Dimanfaatkan bagi kepentingan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, masyrakat,
menunjang budidaya, budaya, pariwisata dan rekreasi (Ii & Pustaka, 2010). Dari
pegertian taman hutan raya (Grand forest park) merupakan bentuk pelestarian alam
terkombinasi, antara lain pelestarian eks-situ dan in-situ sehingga sebuah tahura
dapat ditetapkan baik dari hutan alam maupun hutan buatan. Namun demikian,
fungsi sebuah hutan raya adalah sebagai etalase keanekaragaman hayati, tempat
penelitian, tempat penangkaran jenis, serta juga sebagai tempat wisata. Koleksi
tanaman dalam tahura sebagian besar ( sekitar 80 %) haruslah tanaman lokal
( bioregion) dimana taman hutan raya tersebut berada dan sisanya boleh diisi
dengan tanaman dari bioregion lain.
Adapun kriteria dalam penataan sebagai kawasan Taman Hutan Raya :
1. Merupakan kawasan dengan ciri khas baik asli maupun buatan baik kawasan
yang ekosistemnya masih utuh ataupu kawasan yang ekosistemnya sudah
berubah;
2. Memiliki keindahan alam dan gejala alam; dan
3. Mempunyai luas yang cukup dan memungkinkan untuk pembangunan koleksi
tumbuhan dan satwa baik jenis asli maupun buatan.
Kawasan Taman Hutan Raya dikelola oleh pemerintah dan dikelola dengan
upaya pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa beserta
ekosistemnya. Dalam kawasan taman hutan raya dikelola berdasarkan suatu
rencana pengelolaan yang disusun dari kajian aspek-aspek ekologi, teknis, ekonomis,
dan sosial budaya (UPT Taman Hutan Raya Raden Soerjo, 2010).
Rencana pengelolaan taman hutan raya bertujuan dalam pengelolaan, dan
garis besar kegiatan yang menunjang upaya perlindungan, pengawetan, dan
pemanfaatan kawasan.
Upaya pengawetan kawasan taman hutan raya dilaksanakan dalam bentuk
kegiatan:
1. Perlindungan dan pengamanan
2. Inventarisasi potensi kawasan
3. Penelitiaan dan pengembangan yang menunjang pengelolaan
4. Pembinaan dan pengembangan tumbuhan dan satwa. Pembinaan dan
pengembangan bertujuan untuk koleksi.
Beberapa kegiatan yang dapat mengakibatkan perubhan fungsi kawasan hutan
raya adalah :
1. Merusak kekhasan potensi sebagai pembentuk ekosistem
2. Merusak keindahan dan gejala alam
3. Mengurangi luas kawasan yang telah ditentukan
4. Melakukan kegiatan usaha yang tidak sesuai dengan rencana pengolahan dan
atau rencana pengusahaan yang telah mendapat persetujuan dari pejabat yang
berwenang.
Sesuatu kegiatan yang dapat dianggap sebagai tindakan permulaan melakukan
kegiatan yang berakibat terhadap perubahan fungsi kawasan adalah :
1. Memotong, memindahkan, merusak atau menghilangkan tanda batas kawasan.
2. Membawa alat lazim digunakan untuk mengambil, menangkap, berburu,
menebang, merusak, memusnahkan dan mengangkut sumberdaya alam dan
dari dalam kawasan.
Sesusai dengan fungsinya, taman hutan raya dapat dimanfaatkan untuk :
1. Penelitian dan pengembangan ( kegiatan penelitian meliputi penelitian dasar dan
penelitian untuk menunjang pengolahan kawasan terebut ).
2. Ilmu pengetahuan
3. Pendidikan
4. Kegiatan penujang budidaya
5. Pariwisata alam dan rekreasi
6. Pelestarian budaya (Yudha, 2010).
Beberapa hutan pendidikan di Indonesia dikelola oleh Universitas, termasuk
Hutan Pendidikan Gunung Walat (IPB) dan Hutan Pendidikan Wanagama (UGM). Di
Provinsi Lampung, Hutan Pendidikan Konservasi Terpadu (HPKT) berada di dalam
kawasan Tanaman Hutan Raya Wan Abdul Rachman ( TAHURA WAR).
Keanekaragaman pohon dapat dijadikan penciri (indicator) tingkat komunitas
bedasarkan organisasi biologinya. Keanekaragaman pohon ini juga digunkan untuk
menyatakan struktur komunitas, dan juga untuk mengukur stabilitas komunitas untuk
menjaga dirinya tetap stabil dari gangguan – gangguan komponen lainnya.
Pemanfaatan lahan pada daerah penyangga berpengaruh terhadap kelestarian
kawasan lindung yang akan dijadikan tahura. Aktifitas masyarakat yang tinggi untuk
kegiatan budidaya pada daerah penyangga kawasan Tahura akan membuka
peluang bagi masyarakat menambah kawasan Tahura yang dapat menyebabkan
masalah kerusakan bagi lingkungan. Hal tersebut disebabkan karena masyarakat di
sekitar Tahura belum memahami arti pentingnya kelestarian hutan, sehingga dalam
pemanfaatan lahan tidak disertai dengan upaya untuk mempertahankan fungsinya
sebagai kawasan konservasi (Sari & Sutikno, 2011).
Ditinjau dari kondisi tahura semestinya kawasan ini menjadi salah satu titik
penting di kota bandung. Kondisi ini di identikan dengan Bogor yang memiliki kebun
raya Bogor dan Malang dengan Kebun raya Purwodadi- Pasuruan. Maka dari itu
tidak semua kota memiliki potensi hutan pada wilayah kawasannya yang sangat
mungkin untuk dapat dikembangkan menjadi salah satu tahura (W, Rahadhian, R, &
W, 2014).
BAB III
KEGIATAN DAN ANALISIS PERMASALAHAN

Penelitian yang dilakukan di Desa Petungsewu dan Kucur, Kabupaten Malang


yaitu salah satunya gunung kawi yang terdapat hutan dengan memiliki berbagai
keanekaragaman hayati yang belum dilakukan penataan hutan. Oleh karena itu
peneliti ingin melakukan penataan hutan Gunung Kawi sebagai Taman Hutan Raya
menjadi salah satu objek wisata masa kini (trend zaman now) yang akan memberi
manfaat bagi penelitian, pendidikan, ilmu pengetahuan serta meningkatkan
perekonomian masyrakat di Desa Petungsewu dan Kucur. Dalam penelitian ini
peneliti menggunakan metode survei dan wawancara kepada masyrakat desa
Petungsewu dan Kucur. Metode analisis data yang digunakan yaitu deskriptif dan
kualitatif, karena penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dan kualitatif.
Untuk membatasi permasalahan dalam penelitian, maka yang dimaksut dalam
penataan hutan gunung kawi sebagai taman hutan raya ( TAHURA) trend zaman
now, difokuskan di wilayah hutan desa petung sewu dan kucur. Merupakan
penelitian untuk mendapatkan deskripsi fisik yang jelas tentang objek yang di teliti
dengan di sertai pengamatan, mencatatan dan pemotretan ( dokumentasi) forpomant
kondisi eksisting lokasi penelitian. Wawancara terstruktur dan mendalam adalah data
yang diperoleh dengan melakukan wawancara mendalam melalui informan pangkal
dan informan kunci sesuai dengan kriteria yang telah di tentukan. Data yang
diperoleh dari setiap informan akan di cocokan satu sama lain untuk mendapatkan
data yang lebih detail (Christiani & Adikampana, 2014).
Kondisi tata ruang yang mengalami perubahan dengan adanya KEK Singosari,
maupun Tol Mapan, dinas terkait bisa memetakan wilayah pariwisatanya mana saja
yang layak dibuat konservasi, mana yang budaya atau sentra wisata kulinernya.
Pemerintahan Desa dan badan Perwakilan Desa Kucur, Kecamatan Dau,
Kebupaten Malang, mengesahkan peraturan desa (perdes) Nomor 3 tahun 2009
tentang perlindungan satwa liar. Desa yang terletak dikaki gunung kawi ini
mengeluarkan peraturan daerah yang mengatur upaya konservasi dan perlindungan
satwa liar. Diantaranya mengatur, kelestarian lingkungan hidup dan larangan
perburuan jenis satwa liar. Selain itu peraturan desa ini juga mengatur kelestarian
hutan dan pepohonan yang menjadi habitat serta sumber pakan satwa liar, jenis
tumbuhan yang unik atau langka atau tegakan pohon yang terletak didekat sumber
air, jurang, dan anak sungai.
Gambar 3.1

Gambar 3.2
BAB IV
SUMBANGAN PEMIKIRAN

Hutan atau habitat buatan seluas 5 hektar di Desa Petungsewu, saat ini dihuni
48 jenis burunglokal dan keragaman hayati flora yang terdiri dari 100 jenis tumbuhan
serta satwa liar lain, seperti lutung jawa, kucing hutan, dan musang. “Dari
pemantauan yang dilakukan sejak Desember 2018 hingga Mei 2019, kami mencatat
ada 48 jenis aves atau burung yang terdiri dari bermacam-macam. Bahkan tercatat
ada 7 jenis elang, maupun binatangliar lainnya di kawasan yang dikembangkan P-
WC. Dua jenis burung lokal, seperti burung kacamata (Zosterops palpebrosus) dan
Bentet kelabu (Lanius schach) saat ini sudah punah karena penangkapan liar secara
massif”, ungkap Rosek. Peneliti disini menekankan pada penataan hutan gunung
kawi di Desa Petungsewu dan Kucur sangat berpotensi untuk dijadikan taman hutan
raya trend zaman now untuk pemeliharaan keasrian hutan terutama 100 jenis
tumbuhan yang terdapat dihutan tersebut.
Berdasarkan permasalahan yang dibahas di atas maka peneliti ingin
melakukan penataan pada hutan gunung kawi sebagai taman hutan raya trend
zaman now di desa petungsewu dan kucur. Karena pada desa tersebut memiliki
berbagai potensi yang harus dikembangkan, peneliti berharap dengan adanya
penataan taman hutan raya ini untuk meningkatakan potensi dan sebagai sumber
mata pencariian untuk warga desa setempat. Dengan adanya penataan hutan
gunung kawi kita dapat belajar tentang kelestarian alam lewat tahura yang di jadikan
sebagai tempat rekreasi, dan petualangan serta mengenal berbagai jenis tumbuhan
yang ada hutan tersebut. Didesa ini juga memiliki suasana yang alami, yang sejuk
dengan pemandangan yang menenangkan hati.
Hutan gunung kawi ditawarkan dalam beberapa program edukasi informal
yang dijadikan lokasi yang sangat menarik mulai dari program ekosisitem sungai,
ekosistem hutan, mengenal serangga, melihat berbagai keragaman satwa liat,
pengamatan burung, recycle dan reuse. Sebelumnya hutan gunung kawi ini di kenal
sebagai tempat mistis oleh warga, karena hutan tersebut memiliki sejarah religius
yang sangat kental sehingga saat ini juga masih menjadi budaya oleh orang
setempat dan masyarakat luas, maka dari itu peneliti bermaksud untuk melalukan
penataan pada hutan gunung kawi sebagai tahura trend zaman now agar orang tidak
hanya menyatakan bahwa hutan tersebut adalah tempat mistis tetapi pada hutan
gunug kawi ini memiliki wisata yang sebelumnya orang tidak kenal salah satunya
adalah kawasan konservasi alam yang akan di tata oleh peneliti.
Penataan tanaman yang akan dilakukan oleh peneliti di hutan gunung kawi
yaitu mengidentifikasi berbagai jenis tanaman yang ada disekitar hutan tersebut,
kemudian peneliti akan mengklasifikasikan tanaman yang sesuai dengan jenis
tumbuhan yang ada dihutan tersebut kemudian peneliti juga akan melakukan
penanaman beberapa tumbuhan yang belum ada dihutan tersebut.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan
Berdasarkan kajian di atas peneliti melihat dari banyaknya potensi alam dan
keanekaragaman hayati perlu dilakukan pelestarian kembali menjadi kawasan
konservasi dengan cara melakukan penataan hutan gunung kawi sebagai tahura
trend zaman now di Desa Petungsewu dan Kucur, Kecamatan Dau, Kabupaten
Malang. Khususnya penataan tahura sebagai tempat penelitian, ilmu pengetahuan,
pendidikan, masyrakat, menunjang budidaya, budaya, pariwisata dan rekreasi.
Peneliti lebih menekankan pada pelestarian berbagai tumbuhan yang terdapat
dihutan tersebut.

Saran
Peneliti berharap mendapat dukung dari berbagai pihak baik dari warga
setempat maupun pemerintah sehingga dalam proses penataan hutan gunung kawi
sebagai tahura trend zaman now dapat berjalan lancar dan dapat menjadikan hutan
tersebut sesuai dengan tujuan penelitian.
DAFTAR PUSTAKA

Christiani, B. widhi, & Adikampana, I. made. (2014). Potensi dan Strategi


Pengembangan Taman Hutan Raya (TAHURA) Ngurah Rai Sebagai Produk
Ekowisata. 2(1), 91–101.
Hariyanto, B. (2017). Potret Keragaman Dan Kearifan Lokal DiGunung Kawi.
Universitas Sunan Kalijaga Yogyakarta, 18(2), 1–14.
Hidayah, N. I., & Rahayu, S. (n.d.). Pemberdayaan Masyrakat Dalam
Pengembangan Desa Wisata Jatimulyo, Girimulyo, Kulon Progo, Daerah
Istimewa Yogyakarta. 1–13.
Ii, B. A. B., & Pustaka, T. (2010). No Title. 4–14.
Sari, N., & Sutikno, F. R. (2011). OPTIMALISASI FUNGSI DAERAH PENYANGGA
KAWASAN TAMAN HUTAN RAYA RADEN SOERJO ( STUDI KASUS : DESA
SUMBER BRANTAS KOTA BATU ). 3, 47–54.
W, tito gunawan, Rahadhian, R, A., & W, C. (2014). Menggali Potensi Kesejarahan
TAHURA ( Taman Hutan Raya ) Ir . H Djuanda dalam Pengembangan Arsitektur
Kawasan Pariwisata yang berbasis pada Eco-culture Kasus Studi : Curug Dago.
Retrieved from file:///E:/Semester 7/ekowisata/TAHURA/128-214-1-PB.pdf