Anda di halaman 1dari 20

1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


DHF (Dengue Haemorraghic Fever) pada masyarakat awam sering disebut
sebagai demam berdarah. Menurut para ahli, demam berdarah dengue disebut
sebagai penyakit (terutama sering dijumpai pada anak) yang disebabkan oleh virus
Dengue dengan gejala utama demam, nyeri otot, dan sendi diikuti dengan gejala
pendarahan spontan seperti; bintik merah pada kulit,mimisan, bahkan pada
keadaan yang parah disertai muntah atau BAB berdarah.
Demam Berdarah Dengue (DBD) atau Dengue Haemorrhagic Fever (DHF)
adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh virus Dengue Famili Flaviviridae,d
engan genusnya adalah flavivirus. Virus ini mempunyai empat serotipe yang
dikenal dengan DEN-1, DEN-2, DEN-3 dan DEN-4. Selama ini secara klinik
mempunyai tingkatan manifestasi yang berbeda, tergantung dari serotipe virus
Dengue. Morbiditas penyakit DBD menyebar di negara-negara Tropis dan
Subtropis.
Disetiap negara penyakit DBD mempunyai manifestasi klinik yang berbeda. Di
Indonesia Penyakit DBD pertama kali ditemukan pada tahun 1968 di Surabaya
dan sekarang menyebar keseluruh propinsi di Indonesia. Timbulnya penyakit
DBD ditenggarai adanya korelasi antara strain dan genetik, tetapi akhir-akhir ini
ada tendensi agen penyebab DBD disetiap daerah berbeda. Hal ini kemungkinan
adanya faktor geografik, selain faktor genetik dari hospesnya. Selain itu
berdasarkan macam manifestasi klinik yang timbul dan tatalaksana DBD secara
konvensional sudah berubah. Infeksi virus Dengue telah menjadi masalah
kesehatan yang serius pada banyak negara tropis dan sub tropis.
1.2 Tujuan Penulisan
1.2.1 Tujuan Umum
Mahasiswa dapat memahami asuhan keperawatan gawat darurat pada klien
DHF (Dengue Haemorraghic Fever).
1.2.2 Tujuan Khusus
Mahasiswa dapat menjelaskan :
1) Definisi
2) Etiologi
3) Manifestasi Klinik
4) Gambaran Klinis

1
2

5) Klasifikasi
6) Patofisiologi
7) Pathway
8) Pemeriksaan Penunjang
9) Penatalaksanaan
10) Pengkajian Keperawatan
3

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi
DHF adalah penyakti febris akut, seringkali disertai dengan sakit kepala,
nyeri tulang atau sendi dan otot, ruam dan DHF ditandai dengan 4 manifestasi
utama demam tinggi, fenomena hemoragik, sering dengan hepatomegali dan pada
kasus berat disertai tanda kegagalan sirkulasi (WHO. 2008)
DHF adalah virus dengue yang berukuran 35-45, virus ini dapat
berkembang terus dalam tubuh manusia dan nyamuk. Virus ini termasuk dalam
genus Flaviridae. Dengue virus mempunyai 4 serotipe yang dikenal dengan DEN
1, DEN 2, DEN 3, dan DEN 4 (Satari,2006). Masa inkubasi penyakit berkisar
antara 1 hingga 4 hari, timbul demam. Diagnosis DBD mendasarkan pada antigen-
antibodi yang baru bisa dideteksi pada hari ke 3 atau 4 setelah demam
berlangsung, atau hari ke 7 setelah infeksi berlangsung.
DHF (Dengue Hemorhagic Fever) adalah penyakit demam akut dengan ciri-
ciri demam manifestasi pendarahan dan bertendensi mengakibatkan renjatan yang
dapat menyebabkan kematian. Puncak demam berdarah terjadi pada musim hujan
yaitu bulan Desember sampai dengan Maret. Apabila menemukan kasus demam
berdarah harus segera dilaporkan kurang lebih 24 jam. DHF disebarkan melalui
gigitan nyamuk aedes aegpty sebagai vektor utama di daearh lain vektor dapat
berperan misalnya aedes albopictus, aedes sculellavis, dan aedes polynesiensis
(Sundari, 2007).
2.2 Etiologi
Penyebab DHF adalah gigitan nyamuk aedes albaictus padborn virus dan
aedes aegypti, sampai sekarang dikenal 4 jenis virus yang dapat menimbulkan
demam dengue atau demam berdarah. Dibagi menjadi 4 derajat : DEN 1, DEN 2,
DEN 3, dan DEN 4 (Ngastiyah, 2005).
Penyakit demam berdarah dengue (DBD) penyakit menular yang disebabkan
oleh virus dengue dan ditularkan melalui gigitan nyamuk aedes aegypti. Penyakit ini
ditularkan oleh orang yang dalam darahnya terdapat virus dengue bersama dengan
liur nyamuk inilah virus dengue dipindahkan kepada orang lain. Virus dengue
terdapat di daerah tropis dan sub tropis (FKUI, 2006).
DHF disebabkan oleh aedes aegypti, virus dengue ini termasuk ke dalam
arbovirus carthiopod (orthiopod bornevirus) grub B, terdiri dari 4 tipe yaitu
4

dengue tipe 1, 2, 3, 4. DHF terjadi pada keadaan dimana tipe ganda dari virus
dengue ditularkan secara serentak (Sundari, 2007).
Demam dengue dan disebabkan oleh virus dengue yang termasuk dalam
genus Flavi virus merupakan virus dengan diameter 30 nm. Terdapat 4 serotipe
virus yaitu DEN 1, DEN 2, DEN 3, dan DEN 4 yang semua dapat menyebabkan
DHF. Ke-4 serotipe ditemukan di Indonesia dengan DEN 3 merupakan serotipe
terbanyak (Aru W. Sudoyo, 2006).
2.3 Manifestasi Klinik
Penyakit ini ditandai dengan demam mendadak tanpa sebab yang jelas
disertai gejala lain lemah, nafsu makan menurun, demam tinggi, hematomegali
dan kegagalan sirkulasi. Anak dengan DHF umumnya menunjukkan peningkatan
suhu tiba-tiba disertai dengan kemerahan wajah, anoreksia, muntah, sakit, kepala,
juga sakit tenggorokan (WHO, 2008)
Manifestasi klinik dari DHF dengan diawali demam tinggi selama 2-7 hari,
pendarahan bawah kulit (peteki, ekimosis, hematoma) epistoksis, malena,
pembesaran hati, renjatan yang ditanadi oleh nadi lemah, cepat disertai tekanan
nadi menurun (menjadi 20 mmHg/kurang) tekanan darah menurun (tekanan
sistolo menurun sampai 80 mmHg/kurang) disertai kulit yang teraba dingin dan
lembab terutama pada ujung hidung, jari dan kaki penderita menjadi gelisah,
timbul sianosis disekitar mulut (Effendi, 2008).
2.3.1 Kriteria dengue tampa atau dengan bahaya :
1) Bertempat tinggal di daerah endemik dengue
2) Demam disertai 2 dari hal berikut :
(1) Mual, muntah
(2) Ruam kulit
(3) Sakit dan nyeri
(4) Uji tourniquet positif
(5) Lekopenia
(6) Adanya tanda bahaya
2.3.2 Tanda bahaya adalah
1) Nyeri perut
2) Muntah berkepanjangan
3) Terdapat akumulasi cairan
4) Perdarahan mukosa
5) Letargi, lemah
6) Pembesaran hati > 2 cm
5

7) Kenaikan hematokrit seiring dengan penurunan jumlah trombosit yang


cepat.
2.3.3 Kriteria Dengue Berat
1) Kebocoran plasma berat yang dapat menyebabkan syok (DSS),
akumulasi cairan dengan distress pernafasan.
2) Perdarahan hebat sesuai klinisi
3) Gangguan organ berat, hepar (AST atau ALT ≥1000, gangguan
kesadaran, gangguan jantung dan organ lain).
Untuk mengeyahui adanya kecenderungan perdarahan dapat dilakukan uji
tourniquet, walaupun banyak faktor yang mempengaruhi uji ini tetapi sangat
membantu diagnosis, sensitivitas uji ini sebesar 30% sedangkan spesifiksitasnya
mencapai 82%.
2.4 Gambaran Klinis
Gambaran klinis penderita dengue terdiri atas 3 yaitu fase febris, febris kritis
dan fase pemulihan.
1) Fase Febris
Biasanya demam mendadak tinggi 2-7 hari, disertai muka kemrahan,
eritema kulit, nyeri seluruh tubuh, mialgia, arthralgia dan sakit kepala. Pada
beberapa kasus ditemukan nyeri tenggorokan, infeksi faring dan konjungtiva,
anoreksia, mual dan muntah. Pada fase ini dapat pula ditemukan tanda perdarahan
seperti ptekie, perdarahan mukosa, walaupun jarang dapat pula perdarahan
pervaginam dan perdarahan gastrointestinal.
2) Fase Kritis
Terjadi pada hari ke 3-7 sakit dan ditandai dengan penurunan suhu tubuh
disertai dengan kenaikan permeabilitas kapiler dan timbulnya kebocoran plasma
yang biasanya berlangsung selama 24-48 jam. Kebocoran plasma sering didahului
oleh lekopeni progresif disertai penurunan hitung trombosit. Pada fase ini dapat
terjadi syok.
3) Fase Pemulihan
Bila fase kritis terlewati maka terjadi pengembalian cairan dari
ekstravaskuler ke intravaskuler secara perlahan pada 48-72 jam setelahnya.
Keadaan umum penderita membaik, nafsu makan pulih kembali, hemodinamik
stabil dan diuresis membaik.
 Dengue Berat
Dengue berat harus dicurigai bila pada penderita dengue ditemukan :
6

1) Bukti kebocoran plasma seperti hematokrit yang tinggi atau meningkat


secara progresif adanya efusi pleura atau asites, gangguan sirkulasi atau
syok (takikardi, ekstermitas yang dingin, waktu pengisian kapiler (CRT >
3detik), nadi lemah atau tidak terdeteksi, tekanan nadi yang menyempit
atau pada syok lanjut tidak terukurnya tekanan darah).
2) Adanya perdarahan yang signifikan
3) Gangguan kesadaran
4) Gangguan gastrointestinal berat (muntah berkelanjutan, nyeri abdomen
yang hebat atau bertambah, ikterik).
5) Gangguan organ berat ( gagal hati akut, gagal ginjal akut,
ensefalopati/ensefalitis, kardiomiopati dan manifestasi tak lazim lainnya.
2.5 Klasifikasi
Demam berdarah diklasifikasikan menjadi 4 tingkatan keparahan dimana
derajat III dan IV dianggap paling berbahaya. Adanya trombositopenia dengan
disertai hemokonsentrasi. Adapun derajat DHF adalah : (Ngastiyah, 2005).
1. Derajat I : Demam disertai dengan gejala konstitusional non spesifik,
satu-satunya manifestasi perdarahan adalah tes tourniket (+) positif atau
mudah memar.
2. Derajat II : Perdarahan spontan selain manifestasi pasien pada derajat I
biasanya bentuk perdarahan kulit atau pendarahan lain.
3. Derajat III : Kegagalan sirkulasi darah dengan adanya nadi cepat dan
lemah, tekanan darah menurun (kurang dari 20 mmHg) atau hipotensi
disertai kulit yang dingin dan lembab, gelisah.
4. Derajat IV : Renjatan berat dengan nadi tak teraba dan tekanan
darah yang tidak dapat diukur.
2.6 Patofisiologi
Fenomena patologis yang utama pada penderita DHF adalah meningkatnya
permeabilitas dinding kapiler yang mengakibatkan terjadinya pembesaran plasma
ke ruang ekstra seluler. Hal pertama yang terjadi setelah virus masuk ke dalam
tubuh penderita adalah viremia yang mengakibatkan penderita mengalami demam,
sakit kepala, mual, nyeri otot, pegal-pegal diseluruh tubuh, ruam atau bintik-bintik
merah pada kulit (petekie), hiperemie tenggorokan dan hal lain yang mungkin
terjadi seperti pembesaran kelenjar getah bening, pembesaran hati (hepatomegali)
dan pembesaran limpa (splenomegali) (Effendy, 2008).
Peningkatan permeabilitas dinding kapiler mengakibatkan berkurangnya
volume plasma, terjadinya hipotensi, hemokonsentrasi dan hipoproteinemia serta
7

efusi dan renjatan (syok), hemokonsentrasi (peningkatan adanya kebocoran > 20


%) menunjukkan atau menggambarkan adanya kebocoran (perembesan) ke
plasma (plasma leakge) sehingga nilai hematokrit menjadi penting untuk patokan
pemberian cairan intravena (Effendy, 2008).
Fenomena patofisiologi utama yang menentukan berat penyakit dan
membedakan DHF dari demam ialah meningginya permeabilitas dinding
pembuluh darah, menurunnya volume plasma, terjadi hipotensi, trombositopenia
dan diatesis hemoragik. Pada kasus berat renjatan terjadi pada secara akut.
Peningkatan permeabilitas dinding kapiler mengakibatkan berkurangnya volume
plasma (terjadi hipotensi, dll) (Sundari, 2007).
Peningkatan permeabilitas dinding kapiler mengakibatkan berkurangnya
volume plasma, terjadi hipotensi, hemokonsentrasi (peningkatan hematokrit > 72
%) menunjukkan atau menggambarkan adanya kebocoran (perembesan) plasma
sehingga hematokrit menjadi penting untuk patokan pemberian cairan intravena,
oleh sebab itu pada penderita DHF sangat dianjurkan untuk memantau hematokrit
darah berkala untuk mengetahui beberapa persen hamkonsentrasi yang terjadi
(Sundari, 2007).
Virus dengue masuk kedalam tubuh inang kemudian masuk kedalam sel
target yaitu makrofag. Sebelum mencapai sel target maka respon imun spesifik
dan non-spesifik akan berusaha menghalanginya. Aktivitas komplemen pada virus
dengue diketahui meningkat seperti C3a dan C5a mediator-mediator ini
menyebabkan permeabilitas kapiler, celah endotel melebar lagi. Akibat kejadian
ini maka terjadi ektravasasi cairan dari intravaskuler ke ekstravaskuler dan
menyebabkan terjadinya tanda kebocoran plasma seperti hemokonsentrasi,
hipoproteinemia, efusi pleura, asites, penebalan dinding vesica fellea dan syok
hipovolemik. Kenaikan permeabilitas kapiler ini berimbas pada terjadinya
hemokonsentrasi, tekanan nadi menurun dan tanda syok lainnya merupakan salah
satu patofisiologi yang terjadi pada DBD (Primal S, 2010).
8

2.7 Pathway
Infeksi dengue

Viremia
  
Sistem imun menurun Kompek antigen Depresi sumsum
 dan anti bodi tulang
Leukopenia  
 Reaksi imunlogik Penurunan jumlah
Melepas zat pirogen  dan fungsi trombosit
dan endogen Aktifitas 
 komplemen Trombositopenia
Merangsang pusat  
pengatur suhu Permeabilitas Hepatomegali PK : Resti
 vaskuler naik  pendarahan
Demam  Mendesak lambung 
 Kebocoran plasma  Pendarahan
 Mual, muntah (Ptekie, perdarahan,
Hiperkonsentrasi
Volume plasma  gusi, epistaksis,
  Perubahan nutrisi perdarahan
Cemas Hemokonsentrasi kurang kebutuhan lambung)
  tubuh 
Kurang volume Hipotensi
Hospitalisasi cairan 
 Syok hipovolemi
Penurunan O2 
dalam otak Hipoxia jaringan
 
Nyeri kepala Gangguan perfusi
jaringan

Kematian
9

2.8 Pemeriksaan Penunjang


Pada penderita DHF ditemukan abnormalitas : abnormalitas hemoglobin
yang paling sering selama syok klinis adalah peningkatan hematokrit 20 % atau
lebih besar dari nilai masa penyembuhan, trombositopenia (kurang dari
100.000/mm3), leukositosis ringan (jarang melebihi 10.000 /mm3) dengan 1-5 %
sel turk. Perpanjangan waktu perdarahan dan berkurangnya tingkat protrombin
(jarang kurang dari 40% dibanding kontrol) terutama setelah periode syok dan
asidosis yang lama, kadar fibrinogen dapat meningkat. Uji ternikuel memberikan
hasil yang positif pada awal penyakit kecuali pada anak yang hampir meninggal
(Sundari, 2007).
2.9 Penatalaksanaan
1. Medis
Pada dasarnya pengobatan penderita DHF bersifat simtomatik dan suportif
a. Pemasangan infus
Tujuan pemasangan infus adalah pemberian cairan melalui intravena
jenis cairan dapat berupa NaCl , RL jika terjadi renjatan hebat dapat
memakai plasma atau ekspander plasma. Kecepatan permukaan
adalah 20 ml/kg BB/jam dan bila renjatan telah diatasi kecepatan
tetesan dikurangi menjadi 10 ml/kg BB/jam.
b. Pemberian obat antipiretik sebaiknya dari golongan asetaminofen,
eukinin/dipiron, pemberian anti biotik bila terdapat kekhawatiran
infeksi sekunder.
c. Pemasangan NGT (nasogastric tube) bertujuan untuk mengeluarkan
cairan lambung pada perdarahan pencernaan atas.
d. Tranfusi darah, tranfusi darah dilakukan pada pasien :
1) Pasien dengan perdarahan membahayakan (hematomesis dan
melena)
2) Pasien DSS (dengue shok syndrom) pada permukaan berkala
menunjukkan penurunan kadar Hb dan Ht.
2. Keperawatan
Penatalaksanaan perawatan pada pasien DHF adalah:
a. Tirah baring atau istirahat total
b. Diet makanan lunak
c. Minum banyak (2,5 lt/24 jam) dapat berupa susu, teh manis, sirup,
beri air tawar ditambah garam.
10

d. Pemberian kompres dingin, antibiotik diberikan bila terdapat


kemungkinan terjadi infeksi sekunder.
2.10 PENGKAJIAN KEPERAWATAN
1. Pengkajian primer
Airway
- Adakah Obstruksi jalan nafas : Lendir, spasme
- Kondisi trauma :
- Adakah tanda Sianosis Sekitar mulut atau bibir
Breathing
- RR di atas rentang normal
- Suara abnormal : Wheezing, Ronkhi
Circulation
- TD, Nadi, Suhu
- Capilary refill : < 2 dtk
- Warna kulit: Pucat atau tidak, sianosis
Disability
- Composmentis,apatis, somnolent, supor, koma
- Nilai GCS : E4M5V6 Total GCS 15
- Pupil : Isokor /anisokor
- Reaksi pupil terhadap cahaya : Positif/negatif
2. Pengkajian sekunder
Keluhan utama : pasien mengeluh demam
Riwayat sekarang : klien datang dengan riwayat demam beberapa hari
sebelum masuk rumah sakit, klien tampak lemas, dan dicek laboratorium
terdapat hasil yang tidak normal seperti trombositopenia.
AMPLE
a) Alergi : klien mempunyai alergi makanan, obat, alergi debu / polusi
dan udara dingin atau tidak
b) Medication ( pengobatan yang didapat)
c) Past illness : febris
d) Last meal : makanan terakhir dimakan
e) Event : klien riwayat demam/febris sebelum masuk rumah sakit
PEMERIKSAAN HEAD TO TOE
 Kepala : wajah simetris atau tidak, mukosa bibir kering atau tidak, mata
konjungtiva , telinga / hdung tidak atau keluar discharge.
 Leher : sejajar , tidak ada pembesaran JVP , tidak ada jejas
11

 Dada : simetris atau tidak, penggunaan otot bantu nafas , nafas pendek ,
pursed lip , dyspnea
 Paru-paru : sonor
 Jantung : ictus kordis teraba di midclavicula intercosta 4-5 sinistra , tidak
ada suara tambahan S3.
 Abdomen : simetris , tidak ada luka , peristaltik usus 12x/menit , tympani,
tidak ada ascites , tidak ada nyeri tekan.
 Ekstremitas : tidak ada jejas , fraktur , ekstremitas sejajar
 Genetalia : normal , tidak ada keluhan
 Integumen : turgor kulit elastis atau tidak, capilary refill < 3 detik , akral
dingin , tidak ada pitting oedem.
3. Diagnosa Keperawatan
1. Defisit volume cairan berhubungan dengan kegagalan mekanisme
pengaturan.
2. Hipertermi berhubungan dengan proses penyakit.
3. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan
dengan ketidakmampuan memasukkan dan mencerna makanan karena
faktor biologis (anoreksia).
4. Nyeri akut berhubungan dengan agen cedera biologis.
1
1

4. Rencana Keperawatan
No Diagnosa Keperawatan NOC NIC
1 Defisit Volume Cairan b.d kegagalan Setelah dilakukan tindakan keperawtan Fluid management
mekanisme pengaturan selama … diharapkan klien: 1. Pertahankan catatan intake dan output yang akurat
Definisi : Penurunan cairan intravaskuler, Fluid balance 2. Monitor status hidrasi ( kelembaban membran
interstisial, dan/atau intrasellular. Ini mengarah
1. Mempertahankan urine output sesuai mukosa, nadi adekuat, tekanan darah ortostatik ), jika
ke dehidrasi, kehilangan cairan dengan dengan usia dan BB, BJ urine normal, diperlukan
pengeluaran sodium HT normal 3. Monitor hasil lAb yang sesuai dengan retensi cairan
2. Tekanan darah, nadi, suhu tubuh dalam (BUN , Hmt , osmolalitas urin )
Batasan Karakteristik : batas normal 4. Monitor vital sign
- Kelemahan Hydration 5. Monitor masukan makanan / cairan dan hitung intake
- Haus 3. Tidak ada tanda tanda dehidrasi, kalori harian
- Penurunan turgor kulit/lidah Elastisitas turgor kulit baik, membran 6. Kolaborasi pemberian cairan IV
- Membran mukosa/kulit kering mukosa lembab, tidak ada rasa haus 7. Monitor status nutrisi
- Peningkatan denyut nadi, penurunan tekanan yang berlebihan 8. Berikan cairan
darah, penurunan volume/tekanan nadi 9. Berikan diuretik sesuai interuksi
- Pengisian vena menurun 10. Berikan cairan IV pada suhu ruangan
- Perubahan status mental 11. Dorong masukan oral
- Konsentrasi urine meningkat 12. Berikan penggantian nesogatrik sesuai output
- Temperatur tubuh meningkat 13. Dorong keluarga untuk membantu pasien makan
- Hematokrit meninggi 14. Tawarkan snack ( jus buah, buah segar )
- Kehilangan berat badan seketika (kecuali 15. Kolaborasi dokter jika tanda cairan berlebih muncul
pada third spacing) meburuk
Faktor-faktor yang berhubungan: 16. Atur kemungkinan tranfusi
- Kehilangan volume cairan secara aktif 17. Persiapan untuk tranfusi
- Kegagalan mekanisme pengaturan

12
2

2 Hipertermia b.d proses penyakit Setelah dilakukan tindakan keperawtan Fever treatment
selama … diharapkan klien: 1. Monitor suhu sesering mungkin
Definisi : suhu tubuh naik diatas rentang normal 2. Monitor IWL
Thermoregulation 3. Monitor warna dan suhu kulit
Batasan Karakteristik: 1. Suhu tubuh dalam rentang normal 4. Monitor tekanan darah, nadi dan RR
- kenaikan suhu tubuh diatas rentang normal 2. Nadi dan RR dalam rentang normal 5. Monitor penurunan tingkat kesadaran
- serangan atau konvulsi (kejang) 3. Tidak ada perubahan warna kulit 6. Monitor WBC, Hb, dan Hct
- kulit kemerahan dan tidak ada pusing 7. Monitor intake dan output
- pertambahan RR 8. Berikan anti piretik
- takikardi 9. Berikan pengobatan untuk mengatasi penyebab
- saat disentuh tangan terasa hangat demam
10. Selimuti pasien
Faktor faktor yang berhubungan : 11. Lakukan tapid sponge
- penyakit/ trauma 12. Kolaborasipemberian cairan intravena
- peningkatan metabolisme 13. Kompres pasien pada lipat paha dan aksila
- aktivitas yang berlebih 14. Tingkatkan sirkulasi udara
- pengaruh medikasi/anastesi 15. Berikan pengobatan untuk mencegah terjadinya
- ketidakmampuan/penurunan kemampuan menggigil
untuk berkeringat
- terpapar dilingkungan panas Temperature regulation
- dehidrasi 1. Monitor suhu minimal tiap 2 jam
- pakaian yang tidak tepat 2. Rencanakan monitoring suhu secara kontinyu
3. Monitor TD, nadi, dan RR
4. Monitor warna dan suhu kulit
5. Monitor tanda-tanda hipertermi dan hipotermi
6. Tingkatkan intake cairan dan nutrisi
7. Selimuti pasien untuk mencegah hilangnya
kehangatan tubuh
8. Ajarkan pada pasien cara mencegah keletihan
akibat panas
9. Diskusikan tentang pentingnya pengaturan suhu
dan kemungkinan efek negatif dari kedinginan

13
10. Beritahukan tentang indikasi terjadinya keletihan
dan penanganan emergency yang diperlukan
3

11. Ajarkan indikasi dari hipotermi dan penanganan


yang diperlukan
12. Berikan anti piretik jika perlu
Vital sign Monitoring
1. Monitor TD, nadi, suhu, dan RR
2. Catat adanya fluktuasi tekanan darah
3. Monitor VS saat pasien berbaring, duduk, atau
berdiri
4. Auskultasi TD pada kedua lengan dan bandingkan
5. Monitor TD, nadi, RR, sebelum, selama, dan setelah
aktivitas
6. Monitor kualitas dari nadi
7. Monitor frekuensi dan irama pernapasan
8. Monitor suara paru
9. Monitor pola pernapasan abnormal
10. Monitor suhu, warna, dan kelembaban kulit
11. Monitor sianosis perifer
12. Monitor adanya cushing triad (tekanan nadi yang
melebar, bradikardi, peningkatan sistolik)
3 Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari Setelah dilakukan tindakan keperawtan Nutrition Management
kebutuhan tubuh selama … diharapkan klien: 1. Kaji adanya alergi makanan
Nutritional Status : food and Fluid Intake 2. Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan
Definisi : Intake nutrisi tidak cukup untuk 1. Adanya peningkatan berat badan sesuai jumlah kalori dan nutrisi yang dibutuhkan pasien.
keperluan metabolisme tubuh. dengan tujuan 3. Anjurkan pasien untuk meningkatkan intake Fe
2. Berat badan ideal sesuai dengan tinggi 4. Anjurkan pasien untuk meningkatkan protein dan
Batasan karakteristik : badan vitamin C
- Berat badan 20 % atau lebih di bawah ideal 3. Mampumengidentifikasi kebutuhan 5. Berikan substansi gula
- Dilaporkan adanya intake makanan yang nutrisi 6. Yakinkan diet yang dimakan mengandung tinggi
kurang dari RDA (Recomended Daily 4. Tidak ada tanda tanda malnutrisi serat untuk mencegah konstipasi
Allowance) 5. Menunjukkan peningkatan fungsi 7. Berikan makanan yang terpilih (sudah
- Membran mukosa dan konjungtiva pucat pengecapan dari menelan dikonsultasikan dengan ahli gizi)
- Kelemahan otot yang digunakan untuk 6. Tidak terjadi penurunan berat badan 8. Ajarkan pasien bagaimana membuat catatan makanan
menelan/mengunyah yang berarti harian.

14
- Luka, inflamasi pada rongga mulut 9. Monitor jumlah nutrisi dan kandungan kalori
4

- Mudah merasa kenyang, sesaat setelah 10. Berikan informasi tentang kebutuhan nutrisi
mengunyah makanan 11. Kaji kemampuan pasien untuk mendapatkan nutrisi
- Dilaporkan atau fakta adanya kekurangan yang dibutuhkan
makanan
- Dilaporkan adanya perubahan sensasi rasa Nutrition Monitoring
- Perasaan ketidakmampuan untuk 1. BB pasien dalam batas normal
mengunyah makanan 2. Monitor adanya penurunan berat badan
- Miskonsepsi 3. Monitor tipe dan jumlah aktivitas yang biasa
- Kehilangan BB dengan makanan cukup dilakukan
- Keengganan untuk makan 4. Monitor interaksi anak atau orangtua selama makan
- Kram pada abdomen 5. Monitor lingkungan selama makan
- Tonus otot jelek 6. Jadwalkan pengobatan dan tindakan tidak selama
- Nyeri abdominal dengan atau tanpa patologi jam makan
- Kurang berminat terhadap makanan 7. Monitor kulit kering dan perubahan pigmentasi
- Pembuluh darah kapiler mulai rapuh 8. Monitor turgor kulit
- Diare dan atau steatorrhea 9. Monitor kekeringan, rambut kusam, dan mudah patah
- Kehilangan rambut yang cukup banyak 10. Monitor mual dan muntah
(rontok) 11. Monitor kadar albumin, total protein, Hb, dan kadar
- Suara usus hiperaktif Ht
- Kurangnya informasi, misinformasi 12. Monitor makanan kesukaan
13. Monitor pertumbuhan dan perkembangan
Faktor-faktor yang berhubungan : 14. Monitor pucat, kemerahan, dan kekeringan jaringan
Ketidakmampuan pemasukan atau mencerna konjungtiva
makanan atau mengabsorpsi zat-zat gizi 15. Monitor kalori dan intake nuntrisi
berhubungan dengan faktor biologis, psikologis 16. Catat adanya edema, hiperemik, hipertonik papila
atau ekonomi. lidah dan cavitas oral.
17. Catat jika lidah berwarna magenta, scarle
4 Nyeri akut b.d agen cedera biologis Setelah dilakukan tindakan keperawtan Pain Management
selama … diharapkan klien: 1. Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif
Definisi : Pain control, termasuk lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi,
Sensori yang tidak menyenangkan dan 1. Mampu mengontrol nyeri (tahu kualitas dan faktor presipitasi
pengalaman emosional yang muncul secara penyebab nyeri, mampu menggunakan 2. Observasi reaksi nonverbal dari ketidaknyamanan
aktual atau potensial kerusakan jaringan atau tehnik nonfarmakologi untuk 3. Gunakan teknik komunikasi terapeutik untuk

15
menggambarkan adanya kerusakan (Asosiasi mengurangi nyeri, mencari bantuan) mengetahui pengalaman nyeri pasien
5

Studi Nyeri Internasional): serangan mendadak 2. Melaporkan bahwa nyeri berkurang 4. Kaji kultur yang mempengaruhi respon nyeri
atau pelan intensitasnya dari ringan sampai dengan menggunakan manajemen 5. Evaluasi pengalaman nyeri masa lampau
berat yang dapat diantisipasi dengan akhir yang nyeri 6. Evaluasi bersama pasien dan tim kesehatan lain
dapat diprediksi dan dengan durasi kurang dari Pain Level, tentang ketidakefektifan kontrol nyeri masa lampau
6 bulan. 3. Mampu mengenali nyeri (skala, 7. Bantu pasien dan keluarga untuk mencari dan
Batasan karakteristik : intensitas, frekuensi dan tanda nyeri) menemukan dukungan
- Laporan secara verbal atau non verbal Comfort level 8. Kontrol lingkungan yang dapat mempengaruhi nyeri
- Fakta dari observasi 4. Menyatakan rasa nyaman setelah nyeri seperti suhu ruangan, pencahayaan dan kebisingan
- Posisi antalgic untuk menghindari nyeri berkurang 9. Kurangi faktor presipitasi nyeri
- Gerakan melindungi 5. Tanda vital dalam rentang normal 10. Pilih dan lakukan penanganan nyeri (farmakologi,
- Tingkah laku berhati-hati non farmakologi dan inter personal)
- Muka topeng 11. Kaji tipe dan sumber nyeri untuk menentukan
- Gangguan tidur (mata sayu, tampak capek, intervensi
sulit atau gerakan kacau, menyeringai) 12. Ajarkan tentang teknik non farmakologi
- Terfokus pada diri sendiri 13. Berikan analgetik untuk mengurangi nyeri
- Fokus menyempit (penurunan persepsi 14. Evaluasi keefektifan kontrol nyeri
waktu, kerusakan proses berpikir, 15. Tingkatkan istirahat
penurunan interaksi dengan orang dan 16. Kolaborasikan dengan dokter jika ada keluhan dan
lingkungan) tindakan nyeri tidak berhasil
- Tingkah laku distraksi, contoh : jalan-jalan, 17. Monitor penerimaan pasien tentang manajemen nyeri
menemui orang lain dan/atau aktivitas,
aktivitas berulang-ulang)
- Respon autonom (seperti diaphoresis,
perubahan tekanan darah, perubahan nafas,
nadi dan dilatasi pupil)
- Perubahan autonomic dalam tonus otot
(mungkin dalam rentang dari lemah ke
kaku)
- Tingkah laku ekspresif (contoh : gelisah,
merintih, menangis, waspada, iritabel,
nafas panjang/berkeluh kesah)
- Perubahan dalam nafsu makan dan minum
Faktor yang berhubungan :
Agen injuri (biologi, kimia, fisik, psikologis)

16
6
17

BAB 3
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Dengue Haemorrhagic Fever ( DHF ) adalah penyakit yang disebabkan oleh
virus dengue, sejenis virus yang tergolong arbovirus dan masuk ke dalam tubuh
penderita melalui gigitan nyamuk Aedes aegypty (betina).
Virus dengue yang ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti yang terdiri dari 4
tipe yaitu DEN-1, DEN-2, DEN-3, DEN-4 (baca : virus dengue tipe 1-4). infeksi
oleh satu tipe virus dengue akan memberikan imunitas yang menetap terhadap
infeksi virus yang bersangkutan pada masa yang akan datang. Namun, hanya
memberikan imunitas yang sementara dan parsial terhadap infeksi virus lainnya.
Wabah dengue juga telah dissertai Aedes albopictus, Aedess polinienssiss, Aedess
sscuttellariss tetapi vector tersebut kurang efektif dan kurang berperan karena
nyamuk-nyamuk tersebut banyak terdapat didaerah perkebunan dan semak-semak,
sedangkan Aedes aegypti banyak tinggal di sekitar pemukiman penduduk.
3.2 Saran
Di dalam kehidupan sehari-hari sebaik nya menerapkan 3 M yaitu menguras
menutup dan mengubur supaya terhindar dari demam berdarah.
18

DAFTAR PUSTAKA

Dini Sundari dkk. (2007). Demam Berdarah (Dengue) Pada Anak, ui-Press,
Jakarta

Effendi, C. (2008). Perawatan klien DHF. EGC. Jakarta

Marion Johnson, dkk. (2000). Nursing Outcomes Classification (NOC) Second


Edition. Mosby.

Mc. Closkey dan Buleccheck. (2000). Nursing Interventions Classification (NIC)


Second Edition. Mosby.

Nanda. (2014). Diagnosis Keperawatan Definisi dan Klasifikasi 2012 – 2014.


Jakarta. EGC

Ngastiyah. (2005). Perawatan Anak Sakit. Penerbit buku Kedokteran EGC.


Jakarta.

Satari, Sp.A. (2005). Pengenalan Dini Demam Berdarah Dengue, Jurnal


Oktober