Anda di halaman 1dari 14

1273 Keragaan generasi pertama hasil persilangan ...

(Ruby Vidia Kusumah)

KERAGAAN GENERASI PERTAMA HASIL PERSILANGAN CUPANG ALAM ( Betta imbellis)


DENGAN CUPANG HIAS (Betta splendens) STRAIN SOLID MERAH HALFMOON
Ruby Vidia Kusumah, Siti Murniasih, Eni kusrini, dan Sawung Cindelaras
Balai Penelitian dan Pengembangan Budidaya Ikan Hias
Jl. Perikanan No. 13, Pancoran Mas, Depok 16436
E-mail: kusumah_rv@yahoo.com

ABSTRAK

Betta splendens merupakan satu di antara 70 spesies cupang (Betta spp.) yang tersebar di kawasan Asia
Tenggara dan telah mengalami upaya pemuliabiakan. Proses tersebut meliputi pengembangan beberapa
karakter mulai dari warna, ukuran, dan bentuk sirip (tujuan ornamental), hingga daya tahan, serta kekuatan
tubuh (tujuan adu). Untuk kedua tujuan tersebut, para breeder melakukan persilangan antara B. splendens
dengan spesies wild Betta dari satu kelompok spesiesnya, contoh Betta imbellis. Strain merah solid merupakan
bentuk pengembangan warna ikan cupang hias (B. splendens) sedangkan strain halfmoon merupakan
pengembangan bentuk dan ukuran siripnya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis keragaan generasi
pertama hasil persilangan cupang alam (Betta imbellis) dengan cupang hias (Betta splendens) strain merah
solid halfmoon. Beberapa parameter mulai dari keragaan warna, bentuk, dan ukuran sirip menjadi karakter
yang diamati setelah anakan berumur ± 6 bulan. Proses pengamatan dilakukan secara visual maupun dari
hasil analisis foto digital yang diambil saat cupang mengembangkan siripnya. Berbagai informasi yang
diperoleh disampaikan secara deskriptif. Hasil persilangan menunjukkan bahwa gen extended red yang
berasal dari strain solid merah halfmoon tampak lebih dominan mempengaruhi warna anakan. Bentuk sirip
anakan juga tampak lebih melebar membentuk strain delta tail (satu tahap sebelum halfmoon) dan dari
seluruh anakan yang dihasilkan, tak ada satupun variasi siripnya yang berbentuk halfmoon.

KATA KUNCI: bentuk badan, Betta imbellis, Betta splendens, halfmoon, hibridisasi, warna

PENDAHULUAN
Betta imbellis Ladiges, 1975 dan Betta splendens Regan, 1910 merupakan dua spesies ikan air
tawar dari famili Osphronemidae yang masing-masingnya lebih dikenal sebagai cupang alam dan
cupang hias. Dalam bentuk liarnya, dua spesies ikan cupang ini sulit dibedakan antara satu sama
lainnya. Kemiripan karakter morfologi menempatkan B. imbellis dalam satu kelompok spesies yang
sama dengan B. splendens (Goldstein, 2004; Ruber et al., 2006; Sriwattanarothai et al., 2010). Dalam
istilah biologi, kelompok spesies yang memiliki kekerabatan dekat dengan batas pemisah (perbedaan
karakter morfologi) yang tidak jelas atau cryptic disebut sebagai complex spesies (Wikipedia, 2010).
Oleh karena itu, B. imbellis beserta tiga spesies lainnya (B. smaragdina, B. Mahachai, dan B. stiktos)
juga seringkali dikenal dengan sebutan complex spesies B. splendens (Panitvong, 2002; Goldstein,
2004; Ruber et al., 2006; Sriwattanarothai et al., 2010).
Berdasarkan data morfometrik yang dilaporkan Sriwattanarothai et al. (2010), perbedaan B. imbellis
dan B. splendens secara jelas hanya terlihat dari proporsi panjang kepala (HL) per panjang standar
(SL)-nya saja. B. imbellis memiliki panjang kepala (HL) berkisar antara 22,33%-28,44% SL; lebih besar
dibandingkan B. splendens yang berkisar antara 16,27%-19,05% SL. Sebagai karakter pembeda lainnya,
BettySplendens (2003) menyatakan bahwa derajat iridescent pada sisik-sisik B. imbellis secara alami
lebih tinggi dibandingkan B. splendens. Kondisi ini terjadi sebagai upaya untuk mengimbangi kondisi
air yang lebih gelap (gambut) di habitat asalnya (BettySplendens, 2003).
Beberapa strain warna baru cupang hias telah berhasil dikembangkan dari persilangan inter spesies
antara B. splendens domestikasi dengan cupang alam, termasuk B. imbellis (van Esch, 2008a). Beberapa
karakter tubuh mulai dari warna, ukuran, dan bentuk sirip (tujuan ornamental), hingga daya tahan
serta kekuatan tubuh (tujuan adu) berhasil diperoleh dari proses pengembangan tersebut (Monvises
et al., 2009). Khusus untuk tujuan ornamental, kelompok strain warna metalik (Copper, Gold, Platinum)
Prosiding Indoaqua - Forum Inovasi Teknologi Akuakultur 2012 1274

yang kini dikenal oleh banyak pecinta ikan cupang hias, dipercaya berasal dari proses persilangan ini
(Parnell, 2005). Perkembangan lebih jauh dari kelompok warna ini pada tahap selanjutnya telah
menciptakan strain warna lainnya yang kini dikenal dengan nama Dragon (Parnell & van Esch, 2009).
Strain solid merah merupakan salah satu jenis warna populer yang dimiliki ikan cupang hias
(Betta splendens). Pada bentuk liar (wild type), distribusi warna merah ini secara normal terbatas hanya
pada sirip pelvic, anal, dan ekor dengan posisi tepat berada di atas lapisan warna hitam (melanophore).
Satu-satunya warna yang sering muncul di atas permukaannya adalah warna iridescent biru ataupun
hijau (Sonnier, 2006). Upaya peningkatan terhadap kerapatan (densitas) dan luasan pigmen merah
normal telah berhasil mengembangkan strain warna merah solid yang tampak merata menutupi
seluruh permukaan tubuh. Mutasi ini kemudian dikenal dengan nama Extended Red dan bersifat
dominan dibanding warna merah normal yang berasal dari bentuk liarnya (Sonnier, 2006). Berdasarkan
standar aturan IBC, strain solid merah termasuk dalam kategori Non-Iridescent dan Non-Opaque
(Tabel 4). Keberadaan warna iridescent (termasuk metalik) merupakan kesalahan besar hingga berat
yang masing-masingnya dapat mengurangi nilai sebanyak 9 dan 17 poin. Sedangkan keberadaan
warna opaque termasuk dalam kesalahan sangat serius yang menyebabkan diskualifikasi (IBC, 2006).
Selain variasi pada warna tubuhnya, Betta splendens hias juga memiliki beberapa bentuk persiripan,
dua di antaranya adalah plakat dan halfmoon. Plakat merupakan tipe ikan cupang dengan sirip ekor
pendek. Salah satu bentuk tipe ini adalah plakat tradisional yang umumnya terlihat pada cupang
alam. Sedangkan halfmoon merupakan ikan cupang dengan ukuran sirip panjang dan lebar yang
mengelilingi badannya mulai dari punggung sampai bagian anal sehingga tampak membentuk
setengah lingkaran atau bahkan melebihi 180° saat mengembang. Sebagai upaya untuk mengimbangi
ukuran siripnya yang panjang, Betta splendens halfmoon mengembangkan percabangan jari-jari siripnya
(Gambar 1). Menurut van Esch (2010), persilangan yang dilakukan antara strain plakat tradisional
dengan halfmoon telah berhasil mengembangkan tipe plakat halfmoon yang juga sering dikenal dengan
nama “shortmoon”. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis keragaan generasi pertama (F-1)
hasil persilangan cupang alam (Betta imbellis) dengan cupang hias (Betta splendens) yang berasal dari
strain merah solid halfmoon.

Gambar1. Percabangan jari-jari sirip ekor induk jantan

METODE PENELITIAN

Deskripsi Indukan
Induk betina yang dipakai dalam penelitian ini merupakan jenis ikan cupang alam dari spesies
Betta imbellis, sedangkan induk jantan digunakan berasal dari cupang hias Betta splendens strain
merah solid halfmoon. Secara detail deskripsi indukan yang dimaksud dijelaskan pada Tabel 1.
1275 Keragaan generasi pertama hasil persilangan ... (Ruby Vidia Kusumah)

Tabel 1. Karakteristik setiap indukan yang digunakan

Induk cupang alam betina Induk cupang hias jantan (Betta splendens )
(Betta imbellis ) strain Merah solid halfmoon

Warna: merah cerah dengan penyebaran warna


Warna: coklat-hitam buram dengan sedikit
yang merata (solid) menutupi seluruh
iridescent hijau-biru pada sisik-sisik tubuh
permukaan tubuhnya. Warna iridescent pada
serta membran-membran di sirip punggung,
tubuh dan membran sirip ekor tampak
ekor dan anal.
mengotori penyebaran warna tersebut.

Warna digital: Warna digital:


Badan: Cokelat (H = 78o, S = 33%, B = 51%);
Badan: Merah (H = 6o; S = 85%; B = 54%),
Hitam (H = 164o, S = 37%, B = 12%);
Iridescent (H = 330o; S = 49%; B = 53%)
Iridescent (H = 190o, S = 62%, B = 90%)
Sirip: Cokelat (H = 79o, S = 33%, B = 29%);
Sirip: Merah (H = 1o; S = 88%; B = 43%),
Hitam (H = 162o, S = 53%, B = 7%); Iridescent
Iridescent (H = 281o; S = 40%; B = 53%)
(H = 179o, S = 62%, B = 75%)
Persiripan: berukuran pendek dengan Persiripan: sirip punggung, ekor, dan anal
pembelahan jari-jari sirip terjadi hanya satu tampak bergabung membentuk strain
H: Hue; S: Saturation; B: Brightness

Analisis Keragaan Anakan

Analisis warna
Warna yang diturunkan pada anakan diamati langsung secara visual maupun dari hasil analisis
foto digital pada bagian badan dan sirip berdasarkan metode Kusumah et al. (2011a).
Pengukuran morfologi
Berbagai karakter tubuh diukur menggunakan caliper digital dengan ketelitian hingga mencapai
0,01 mm. Karakter yang diambil secara lengkap tampak ditunjukkan pada Gambar 2. Karakter panjang
standar (SL) dan panjang awal sirip ekor-ujung sirip ekor (S-CL) diambil persentasenya terhadap
panjang total (TL) sedangkan berbagai karakter lainnya (Gambar 2) diambil persentasenya terhadap
panjang standar (SL). Sebelum dilakukan pengukuran, ikan dibius menggunakan phenoxy ethanol
dengan konsentrasi 0,3 ml/L air. Pengukuran dilakukan di dalam cawan petri yang berisi obat bius
tersebut.
Prosiding Indoaqua - Forum Inovasi Teknologi Akuakultur 2012 1276

Catatan: Pengukuran karakter morfometrik bukan dilakukan untuk keperluan taksonomi. Beberapa
karakter morfometrik (TL, SL, S-CL, PAL, dan A-CL) diukur berdasarkan standar aturan yang diajukan
van Esch (2010) untuk menganalisis keseimbangan proporsi tubuh ikan cupang hias (Betta splendens).
Karakter lainnya diukur sesuai Gambar 2.

Keterangan:
TL : Panjang total SL : Panjang standar
HL : Panjang kepala CD : Lebar panjang ekor
CL : Panjang sirip ekor HB : Tinggi badan
BD : Panjang awal sirip anal-awal sirip punggung
PL : Panjang sirip pelvic AL : Panjang sirip anal
PAL : Panjang ujung bibir-awal sirip anal
A-CL : Panjang awal sirip anal-awal jari-jari sirip ekor
S-CL : Panjang awal-ujung sirip ekor

Gambar 2. Pengukuran karakter tubuh

Karakter meristik hanya dihitung dari jumlah percabangan jari-jari sirip ekor. Proses pengamatan
dilakukan langsung secara visual maupun analisis terhadap foto digital yang diambil dalam akuarium
15 cm x 5 cm x 20 cm saat ikan cupang mengembangkan seluruh siripnya. Penghitungan dilakukan
secara manual.
Analisis data
Analisis data dilakukan secara deskriptif terhadap berbagai karakter tubuh pada generasi pertama
(F-1) hasil persilangan ikan cupang hias (Betta splendens) merah solid halfmoon dengan cupang alam
(Betta imbellis).
HASIL DAN PEMBAHASAN

Keragaan Warna

Analisis langsung secara visual


Warna pada ikan cupang tersusun berlapis oleh empat tipe sel mulai dari: (i) sel pigmen kuning
(xanthopore); (ii) sel pigmen merah (erythtropore); (iii) sel pigmen hitam (melanophore); hingga (iv)
lapisan paling atas adalah sel warna iridescent (iridophore). Selanjutnya, setiap lapisan (layer) warna
ini mengontrol sejumlah sifat pewarnaan yang muncul pada tubuh. Lapisan kuning memiliki
1277 Keragaan generasi pertama hasil persilangan ... (Ruby Vidia Kusumah)

kemampuan untuk menghilangkan pigmen merah, hitam, dan iridescent. Lapisan merah berisi karakter
extended red, pengurangan merah, non red, dan sirip variegated. Lapisan hitam berisi karakter
kambodian, blonde/bright, dan melano. Terakhir, lapisan iridescent berisi karakter warna iridescent,
spread iridocyte, dan non-blue (van Esch, 2004).
Proses pemuliabiakan yang dilakukan terus-menerus pada ikan cupang hias (Betta splendens) selama
puluhan bahkan ratusan tahun yang lalu telah berhasil mengembangkan berbagai strain, pola, serta
kombinasi warna yang menghiasi permukaan badannya. Berdasarkan standar aturan kontes
International Betta Congress (IBC), strain-strain ini selanjutnya dikelompokkan dalam empat kategori
warna, mulai dari: (1) warna dasar (solid) dengan satu warna pada seluruh permukaan tubuhnya (i.
warna dasar gelap: merah, hitam; biru, abu, hijau, turquoise; dan ii. warna dasar terang: oranye,
kuning, cellophane, opaque, pastel) (Tabel 4); (2) dwiwarna (bicolors) dengan dua warna yang kontras
antara satu dengan lainnya (contoh kambodian, badan berwarna terang sedangkan sirip berwarna
gelap); (3) kombinasi (patterned) dengan pola warna yang bermacam-macam (butterfly, marble,
multiwarna, dan grizzled); hingga (4) warna metalik yang dihasilkan dari kromatofor pemberi refleksi
warna kuning yang menyebar di seluruh badannya (metalik copper, metalik teal, metalik hijau, metalik
kuning/emas (gold), metalik pastel, metalik opaque, platinum) (IBC, 2006).

Tabel 2. Pembagian warna dasar ikan cupang hias

Non-Iridescent Iridescent
Keadaan
Non-Opaque Opaque Non-Opaque Opaque
Biru
Hitam Abu
Gelap Belum ada Belum ada
Merah Hijau
Turquoise
Kuning Pastel biru Opaque biru
Terang Oranye Belum ada Pastel hijau Opaque hijau
Clear Pastel putih Opaque putih
Sumber: International Betta Congress (IBC) (2006)

Persilangan inter spesies yang dilakukan para breeder antara Betta splendens hias dengan spesies
lain dalam kelompoknya, contoh B. imbellis, telah berhasil mengembangkan strain warna baru pada
ikan cupang hias (van Esch, 2008a). Namun, menurut Kusumah et al. (2011b), variasi warna yang
dihasilkan dari persilangan inter spesies ini cenderung kurang beragam dibandingkan persilangan
inter strain warna pada ikan cupang hias (Betta splendens).
Berdasarkan pengamatan langsung secara visual, warna anakan hasil persilangan antara cupang
alam (Betta imbellis) dengan cupang hias (Betta splendens) strain merah solid halfmoon juga tampak
kurang beragam. Anakan yang dihasilkan umumnya masuk dalam kelompok dwiwarna badan gelap
(Gambar 3b, 3d, dan 3e). Menurut IBC (2006), titik berat penilaian cupang dwiwarna adalah dua
warna yang ada pada sirip dan badan harus terlihat jelas terpisah di bagian sambungan antara
badan dan sirip. Selain itu, kekontrasan juga menjadi hal penting dalam penilaian kategori cupang
ini. Keberadaan warna tambahan lainnya pada badan dan sirip merupakan suatu kesalahan seperti
halnya kategori kesalahan pada ikan cupang warna dasar (IBC, 2006).
Warna sirip anakan yang dihasilkan tampak didominasi oleh penyebaran warna merah yang merata
(Gambar 3). Kondisi ini menunjukkan bahwa keberadaan gen extended red yang berasal dari indukan
jantan (solid merah halfmoon) cenderung mempengaruhi penampilan warna sirip anakan dibandingkan
induk betinanya. Selain warna tersebut, pada bagian ujung sirip ekor, juga muncul warna hitam
transparan melingkar yang tampak sebagai garis pinggir (lis) atau pita (band) (Gambar 3 dan 4).
Prosiding Indoaqua - Forum Inovasi Teknologi Akuakultur 2012 1278

Keberadaan warna hitam transparan yang melingkari ujung sirip ekor anakan ini menjadi suatu
karakter unik yang tampak seperti halnya pola warna butterfly yang ada pada ikan cupang hias (Betta
splendens). Menurut standar kontes IBC, butterfly dikategorikan dalam kelompok warna kombinasi
(patterned) yang memperlihatkan pola warna sirip yang membentuk pita (band). Pita yang terbentuk
idealnya harus memenuhi setengah bagian sirip pada setiap siripnya (IBC, 2006). Pola pita yang
dimiliki anakan pada sirip ekor terlihat masih belum sempurna. dan perlu dikembangkan lebih jauh
melalui selektif breeding untuk mencapai strain butterfly yang ada pada cupang hias. Selain warna
hitam transparan, warna merah pada sirip juga masih kotor dengan warna iridescent (Gambar 3) yang
diduga berasal dari kedua indukannya.
Badan tampak berwarna gelap (coklat tua-hitam) yang berasal dari pewarisan sifat induk betina
(cupang alam, Betta imbellis). Warna coklat tua-hitam tubuh ini terkadang juga tampak mengalami
pemudaran sehingga menyebabkan tubuh seringkali memperlihatkan warna yang cenderung kemerah-
tuaan (Gambar 3a, 3c, dan 3e). Warna iridescent hijau hingga biru muda keunguan juga tampak
mewarnai sisik-sisik di bagian permukaan badan. Baik anakan betina maupun jantan menunjukkan
warna yang serupa (Gambar 3).

(a) (b) (c)

(d) (e) (f)

Gambar 3. Warna generasi pertama anakan yang dihasilkan (a-e: anakan jantan, f:
anakan betina yang kehilangan warnanya akibat stres)

Analisis secara digital


Kusumah et al. (2011a) mendeskripsikan teknik karakterisasi dan kuantifikasi warna pada ikan,
khususnya ikan hias. Metode analisis warna ini dilakukan secara komputerisasi terhadap warna-
warna yang dihasilkan oleh setiap pixel pembentuk gambar digital (raster). Proses ini murah, obyektif,
akurat, serta memudahkan Analisis warna yang ada pada tubuh ikan. Beberapa parameter mulai dari
jenis warna (hue) hingga kualitas warna (tingkat kejenuhan (saturation) dan tingkat kecerahan
(brightness)) ikan dapat dianalisis melalui pengukuran warna dari foto digital. Nilai digital yang
dihasilkan selanjutnya dapat dianalisis secara statistika. Banyak penelitian yang berhubungan dengan
warna serta kualitas warna dapat dianalisis menggunakan metode ini, mulai dari bidang taksonomi
(Byers, 2006; Pavlidis et al., 2006; Chapman & Fitz-Coy dalam Yasir & Qin, 2009), bidang evolusi
(Hoekstra, 2006; Hofreiter & Schoneberg, 2010), bidang kesehatan hewan (Clotfelter et al., 2007),
bidang fisiologi (Szisch et al., 2002; Yasir & Qin, 2009), dan bidang nutrisi (Booth et al., 2004;
Kalinowski et al., 2005).
Berdasarkan analisis foto digital, warna, dan kualitas warna yang dihasilkan pada generasi pertama
ikan cupang hasil persilangan disajikan pada Tabel 2. Pada badan, nilai digital warna yang diperoleh,
1279 Keragaan generasi pertama hasil persilangan ... (Ruby Vidia Kusumah)

dikarakterisasi oleh jenis warna (hue) dasar cokelat (346°-6°, mean = 3°) disertai warna hitam (244°-
24°, mean = 351°) dan iridescent (187°-318°, mean = 229°), sedangkan pada sirip dikarakterisasi
oleh warna dasar merah (357°-7°, mean = 4°) disertai warna iridescent (195°-335°, mean = 251°).
Warna cokelat pada badan masih termasuk dalam kisaran warna merah (330° > hue merah > 30°)
pada model warna HSB (Hue Saturation Brightness) namun memiliki kualitas warna yang berbeda
dibandingkan warna merah pada sirip. Tingkat kejenuhan (saturation) (56%-73%, mean = 63%) dan
kecerahan (brightness) (30%-62%, mean = 43%) warna merah pada badan memiliki nilai yang lebih
rendah dibandingkan pada sirip (saturation: 77%-87%, mean = 80%; brightness: 62%-80%, mean =
71%). Kondisi ini menyebabkan warna badan yang tampak cenderung berwarna merah tua-cokelat.
Warna iridescent pada sirip dan badan masih berada dalam kisaran yang tidak jauh berbeda, baik
jenis warna (hue); tingkat kejenuhan (saturation); maupun tingkat kecerahannya (brightness). Warna
merah pada sirip anakan masih berada pada jenis warna (hue) yang sama dengan indukan jantannya
namun memiliki tingkat kecerahan yang lebih tinggi. Secara lengkap nilai warna digital yang dimaksud
tampak tersaji pada Tabel 1 dan 3.

Tabel 3. Warna anakan generasi pertama berdasarkan analisis gambar digital

Sirip Badan
Parameter
Merah Iridescent Cokelat Hitam Iridescent
Hue (o) 4 251 3 351 229
Kisaran 357-7 195-335 346-6 244-24 187-318
Saturation (%) 80 31 63 28 33
Kisaran 77-87 27-65 56-73 23-51 23-51
Brightness (%) 71 67 43 20 70
Kisaran 62-80 54-90 30-62 12-30 59-94
Setiap parameter (hue, saturation, dan brightness) berada dalam mean

Keragaan Tubuh

Bentuk dan jari-jari sirip


Selain memiliki variasi pada warna badannya, Betta splendens hias juga memiliki beberapa tipe
persiripan. Berdasarkan BettySplendens (2010), tipe persiripan tersebut dapat dibagi menjadi 12
strain, antara lain: (1) plakat, (2) round tail, (3) veil tail, (4) spade tail, (5) delta tail, (6) super delta tail, (7)
halfmoon, (8) rose tail, (9) double tail, (10) comb tail, (11) crown tail (serit), dan (12) feather tail.
Plakat berasal dari bahasa Thailand yaitu “pla kad” yang berarti ikan aduan (biting fish). Ikan
cupang ini memiliki tipe sirip pendek yang terbagi menjadi : (1) plakat dalam bentuk liarnya (wild
type) (bentuk ikan cupang tangkapan alam), (2) plakat kontes tradisional (bentuk liar asimetris dengan
beberapa perbaikan), dan (3) plakat kontes modern (banyak percabangan pada sirip ekor, pelebaran
pada sirip dorsal, anal/ventral yang panjang, pengembangan warna pada tipe simetris dan asimetris),
hingga (4) plakat aduan (cupang yang diseleksi untuk kemampuan berkelahi) (BettySplendens, 2004a;
van Esch, 2008c).
Plakat tradisional kontes pada ikan cupang harus memiliki sirip ekor simetris dengan bentuk
yang membundar atau sedikit berbentuk sekop. Sirip ekor yang ideal memiliki bentangan sudut
180° dengan jumlah jari-jari sirip primer (primary ray) sebanyak 12-13 buah dan satu kali mengalami
pembelahan (primary splitting) (van Esch, 2010).
Delta tail (DT) merupakan satu tahap persiripan menuju strain halfmoon dengan bentuk sirip ekor
panjang seperti kipas. Tipe ikan cupang ini memiliki sirip ekor yang lebih lebar dibandingkan sirip
plakat dan lebih kecil dibandingkan sirip halfmoon. Jika delta tail memiliki sudut sirip yang lebih
besar dari 130° maka mereka disebut super delta tail. Super delta tail jauh lebih disukai karena sering
Prosiding Indoaqua - Forum Inovasi Teknologi Akuakultur 2012 1280

membawa sifat halfmoon (Setsuna, 2004). Sedangkan menurut BettySplendens (2004b) tipe sirip ini
juga merupakan penurunan kualitas bentuk dari sirip ekor halfmoon dan banyak ditemukan dalam
pemijahan halfmoon.
Halfmoon merupakan perkembangan lebih lanjut dari tipe sirip delta tail. Perpaduan yang saling
menutup antara sirip ekor, anal, dan dorsal yang panjang pada saat mengembang akan membentuk
setengah lingkaran. Secara khusus, strain halfmoon harus memiliki sirip ekor di mana kedua ujungnya
harus tepat membentuk sudut 180° atau lebih. Bagian tepi sirip ekor harus lurus atau melengkung
ke arah luar, tidak berbelok ke bagian dalam (BettySplendens, 2004c). Pada strain ini, sirip ekor harus
simetris berbentuk huruf “D” dengan jumlah jari-jari sirip primer (primary ray) sebanyak 12-13 buah.
Pembelahan (primary splitting) terjadi mulai dari pembelahan kedua (secondary splitting) yang memiliki
empat jari-jari hingga pembelahan keempat (quarternary splitting) yang memiliki 16 jari-jari (van
Esch, 2010).
Persilangan antara plakat tradisional dengan strain halfmoon yang memiliki sirip panjang telah
mendorong pengembangan tipe plakat halfmoon. Secara keseluruhan penampilan ikan ini berbentuk
asimetris dan merupakan penggabungan karakter antara plakat tradisional (asimetris) dengan halfmoon.
Selain pembelahan jari-jari pada sirip ekor, persilangan dengan halfmoon juga menyebabkan
pembelahan jari-jari pada sirip anal dan dorsal yang juga berpengaruh pada bentuk dan volume.
Pengembangan plakat asimetris lebih lanjut mendorong pembentukan tipe plakat lainnya yaitu plakat
simetris yang juga dikenal dengan istilah “shortmoon” yang memiliki keseimbangan persiripan seperti
halnya tipe sirip panjang halfmoon (van Esch, 2010).
Bentuk sirip anakan F-1 jantan hasil persilangan cupang hias (Betta splendens) strain merah solid
halfmoon (HM) dengan cupang alam (Betta imbellis), menunjukkan tipe persiripan delta tail (DT). Tipe
persiripan ini tampak melebar dan memanjang namun tidak ada satupun yang menunjukkan tipe
persiripan setengah lingkaran seperti halnya pada strain halfmoon atau bahkan bentuk sirip pendek
yang sama dengan strain plakat (PK) tradisional indukan betinanya. Tipe sirip delta tail ini tidak
menunjukkan penggabungan sirip anal pada sirip ekor saat mengembang, sedangkan sirip punggung
terkadang menunjukkan penggabungan. Dari anakan jantan yang diperoleh menunjukkan bahwa
kedua indukan, baik jantan (halfmoon) maupun betina (cupang alam), tampak saling memberikan
pengaruh pada bentuk delta tail ini. Induk halfmoon membuat sirip yang dimiliki anakan melebar,
sedangkan jenis plakat tradisional dari cupang alam menutupi kehadiran karakter halfmoon. Pada
anakan betina, tampak memperlihatkan bentuk yang mirip dengan indukan betina cupang alam
yang memperlihatkan tipe persiripan plakat tradisional (Gambar 4).
Jari-jari sirip merupakan tulang-tulang kecil yang muncul mulai dari dasar sirip hingga akhir yang
mendukung bukaan membran pada sirip. Percabangan jari-jari sirip ini biasanya diukur pada sirip
ekor, meskipun sirip punggung maupun anal ikan cupang juga seringkali menunjukkan banyak
percabangan. Pada bentuk liarnya (wild type), ikan cupang hanya mengalami satu kali percabangan
(primary rays) pada jari-jari sirip ekornya. Sedangkan pada bentuk modernnya, ikan cupang kontes
yang dikembangkan kesimetrisan dan rentangan sirip ekornya seringkali membutuhkan lebih dari
dua kali percabangan. Sebagai contoh halfmoon, strain ini tidak pernah memiliki jari-jari sirip kurang
dari empat buah (BettySplendens, 2006).Jari-jari sirip dapat mengalami percabangan hingga tiga
atau bahkan empat kali yang dimulai dari dasar sirip ekor. Jari-jari sirip primer (primary ray) mengalami
percabangan pertama menjadi jari-jari sekunder (secondary ray). Pada ikan cupang modern, jari-jari
ini kembali bercabang (percabangan kedua) menjadi jari-jari tersier (tertiary ray) yang memiliki empat
jari-jari sirip. Jika jari-jari ini mengalami percabangan yang ketiga maka disebut jari-jari sirip kuartener
(quarternary ray) yang memiliki jumlah akhir sebanyak 16 jari-jari sirip (BettySplendens, 2006). Banyak
atau sedikitnya jumlah percabangan ini ditentukan oleh tipe dan ukuran sirip yang terbentuk. Pada
strain halfmoon, karena sirip ekornya panjang dan lebar maka percabangan yang dimiliki berjumlah
banyak, sedangkan pada strain plakat, biasanya jumlah percabangannya tidak terlalu banyak
(Indobettas, 2011).
Jari-jari sirip ekor anakan F-1 jantan menunjukkan kisaran mulai dari tidak adanya percabangan
(nol kali) hingga mengalami dua kali percabangan (secondary split). Dari proses ini jumlah jari-jari
sirip primer (primary rays) di pangkal sirip ekor adalah sebanyak 13 buah yang kemudian bercabang
1281 Keragaan generasi pertama hasil persilangan ... (Ruby Vidia Kusumah)

hingga memiliki jumlah sebanyak 29-39 buah jari-jari di ujung sirip ekor (Gambar 4). Hasil ini
membuktikan bahwa pelebaran ukuran sirip yang diturunkan dari induk jantan memberikan pengaruh
pada anakan untuk mengembangkan percabangan jari-jari siripnya.

Gambar 4. Bentuk delta tail dengan ukuran sirip lebih


lebar serta percabangan jari-jari sirip

Ukuran badan
Sriwattanarothai et al. (2010) mengidentifikasi perbedaan di antara spesies ikan cupang yang
berasal dalam kelompok Betta splendens secara molekular dan morfologi. Berdasarkan data morfometrik,
B. imbellis dan B. splendens sulit dibedakan antara satu dengan lainnya. Banyak karakter yang diukur
umumnya memperlihatkan kisaran nilai yang saling tumpang-tindih (overlapping) antara satu dengan
lainnya sehingga membingungkan keberadaan batas pemisah di antara kedua spesies ini (complex
species). Berdasarkan pendekatan ini, B. imbellis dan B. splendens dapat dibedakan dengan jelas hanya
dari karakter proporsi panjang kepala (HL) per panjang standarnya (SL) saja. B. imbellis memiliki
panjang kepala (HL) berkisar antara 22,33%-28,44% SL, lebih besar dibandingkan B. splendens yang
berkisar antara 16,27%-19,05% SL.
Tabel 4 menunjukkan data morfometrik beberapa karakter tubuh generasi pertama ikan cupang
hasil persilangan dalam persentase terhadap panjang total dan persentase terhadap panjang standar.
Berdasarkan persentase panjang standar, panjang kepala (HL) anakan berkisar antara 29,12%-31,71%

Tabel 4. Data morfometrik karakter anakan F-1 cupang hasil persilangan

Morfometrik Jantan Betina


(%) Kisaran Mean ∑ Kisaran Mean ∑
Panjang total
SL 54,78-6873 58,94 7 71,43-76,2 74,43 5
S-CL 33,67-44,76 40,98 7 24,93-28,49 27,1 5
Panjang standar
TL 145,49-182,56 170,49 7 131,24-139,99 134,43 5
HL 29,12-31,71 30,64 7 28,9-139,9 29,45 5
PAL 41,12-46,48 43,19 6 34,02-46,93 42,7 4
A-CL 48,23-63,52 58,51 6 53,86-60,07 56,14 4
AL 48,09-57,73 53,63 7 48,29-57,75 53,99 5
CL 44,01-73,64 65,89 7 27,85-35,26 31,26 5
CD 16,68-21,31 18,91 7 16,76-19,17 17,73 5
HB 30,4-35,12 32,68 7 31,1-40,11 34,89 5
BD 36,75-39,1 37,82 7 36,31-39,75 38,14 5
PL 38,67-57,43 51,29 6 26,62-31,32 28,48 4
Prosiding Indoaqua - Forum Inovasi Teknologi Akuakultur 2012 1282

panjang standar untuk jantan dan 28,90%-30,44% panjang standar untuk betina. Proporsi ini jauh
lebih besar dibandingkan hasil pengukuran yang dilakukan Sriwattanarothai et al. (2010) terhadap
karakter tubuh yang sama.
M Berdasarkan data morfometrik tersebut, anakan jantan dan betina dapat dibedakan dari
perbandingan nilai rata-rata antara panjang standar dengan panjang awal-ujung sirip ekor (SL:S-CL).
Pada anakan jantan perbandingan tersebut adalah 58,94%:40,98% TL sedangkan pada anakan betina
74,43%:27,10% TL. Perbandingan karakter antara mean panjang ujung bibir-awal sirip anal dengan
panjang awal sirip anal-awal jari-jari sirip ekor (PAL:A-CL) tidak dapat menjelaskan perbedaan tersebut.
Anakan jantan dan betina menunjukkan proporsi yang hampir sama, 43,19%:58,51% SL dan
42,70%:56,14% SL. Karakter lainnya yang juga membedakan jantan dan betina ini antara lain adalah:
panjang total (TL) (170,49 m >< 134,43 f % SL), panjang sirip pelvic (PL) (51,29 m >< 28,48 f % SL),
dan panjang sirip ekor (CL) (65,89 m >< 31,26 f % SL) (Tabel 4; Gambar 5).

Gambar 5. Persentase karakter morfometrik dalam persentase


panjang standar pada F-1 jantan dan betina

Standar tubuh ideal


van Esch (2010) mengajukan standar dimensi badan ikan cupang hias yang ideal untuk kontes.
Dibantu oleh Stefan George Psarakos, standar yang diajukan tersebut mampu divisualisasikan dalam
bentuk gambar tiga dimensi (Gambar 6). Menurut IBC (2006), karakter-karakter yang termasuk dalam
kriteria dimensi tubuh ini antara lain adalah : (a) ukuran (badan, sirip, keduanya); (b) simetri; (c)
proporsi; dan (d) bentuk (badan, sirip, keduanya).
Berdasarkan standar aturan ini, van Esch (2010) menitikberatkan standar tubuh ideal pada
kesimetrisan (symmetry) dan keseimbangan (balance) tubuh. Simetris diartikan sebagai suatu kondisi
di mana bagian atas dan bawah badan ikan mendekati bentuk yang sama seperti halnya gambar
yang tampak di cermin ketika garis tengah bayangan horizontal digambarkan. Sedangkan
keseimbangan diartikan sebagai proporsi persiripan yang seimbang dalam hubungannya dengan
badan. Beberapa karakter morfologi mulai dari bentuk badan, persentase panjang badan dan panjang
sirip ekor, jumlah jari-jari sirip, hingga proporsi tubuh diajukan sebagai standar ukuran untuk
menggambarkan bentuk badan yang ideal (van Esch, 2010).
Berdasarkan standar yang diajukan tersebut, van Esch (2010) menyatakan bahwa bentuk dan
dimensi badan strain plakat tradisional memiliki proporsi ideal antara panjang standar (SL) dengan
panjang awal-ujung sirip ekor (S-CL) sebesar 75%:25% TL sedangkan untuk strain halfmoon sebesar
60%:40% TL. Perbandingan antara panjang ujung bibir-awal sirip anal (PAL) dengan panjang awal
sirip anal-awal jari-jari sirip ekor (A-CL) adalah sebesar 40%:60% SL pada semua jenis strain sirip ikan
cupang hias (van Esch, 2010) (Gambar 6).
Perbandingan panjang standar (SL) dengan panjang awal-ujung sirip ekor (S-CL) anakan jantan
(58,94%:40,98% TL) memenuhi kriteria strain halfmoon (~60%:40% TL) namun masih memiliki bentuk
1283 Keragaan generasi pertama hasil persilangan ... (Ruby Vidia Kusumah)

sirip yang belum sempurna. Sedangkan anakan betina (74,43%:27,10% TL) masuk dalam kriteria
strain plakat tradisional (~75%:25% TL). Perbandingan karakter antara mean panjang ujung bibir-
awal sirip anal dengan panjang awal sirip anal-awal jari-jari sirip ekor (PAL:A-CL) tidak dapat
menjelaskan adanya perbedaan tersebut. Anakan jantan dan betina menunjukkan proporsi yang
hampir sama, 43,19%:58,51% SL dan 42,70%:56,14% SL (~60%:40 %SL) (Tabel 4).
KESIMPULAN

Gambar 6. Bentuk dan dimensi badan ideal ikan cupang hias, plakat
tradisional (kiri), halfmoon (kanan) (van Esch, 2010)

Keragaan generasi pertama hasil persilangan antara cupang alam (Betta imbellis) dengan cupang
hias (Betta splendens) strain solid merah halfmoon menunjukkan kemiripan karakter yang saling
dipengaruhi oleh kedua induknya. Warna sirip cenderung didominasi oleh penyebaran warna merah
yang merata yang berasal dari dari gen extended red indukan jantan. Pada bagian ujung sirip ekor,
juga muncul warna hitam transparan melingkar yang tampak sebagai garis pinggir (lis) atau pita
(band) pada strain butterfly dari kelompok warna kombinasi (patterned). Badan tampak berwarna gelap
(coklat tua-hitam) yang berasal dari pewarisan sifat induk betina (cupang alam, Betta imbellis). Warna
coklat tua-hitam tubuh ini terkadang juga tampak mengalami pemudaran sehingga menyebabkan
tubuh seringkali memperlihatkan warna yang cenderung kemerah-tuaan. Warna iridescent hijau hingga
biru muda keunguan juga tampak mewarnai sisik-sisik di bagian permukaan tubuh. Baik anakan
betina maupun jantan menunjukkan warna yang serupa. Berdasarkan model warna digital HSB,
warna badan dikarakterisasi oleh jenis warna (hue) dasar cokelat (346°-6°, mean = 3°) disertai warna
hitam (244°-24°, mean = 351°) dan iridescent (187°-318°, mean = 229°), sedangkan sirip dikarakterisasi
oleh warna dasar merah (357°-7°, mean = 4°) disertai warna iridescent (195°-335°, mean = 251°).
Tingkat kejenuhan (saturation) (56%-73%, mean = 63%) dan kecerahan (brightness) (30%-62%, mean =
43%) warna merah pada badan memiliki nilai yang lebih rendah dibandingkan pada sirip (saturation:
77%-87%, mean = 80%; brightness: 62%-80%, mean = 71%). Bentuk sirip anakan jantan tidak
menunjukkan keberadaan strain halfmoon. Sirip yang dihasilkan berupa strain delta tail dengan jari-
jari sirip mengalami percabangan hingga dua kali (secondary split). Jumlah jari-jari sirip primer (primary
rays) di ujung sirip ekor sebanyak 13 buah yang kemudian bercabang hingga berjumlah 29-39 buah
Prosiding Indoaqua - Forum Inovasi Teknologi Akuakultur 2012 1284

di ujung sirip ekor. Sedangkan sirip anakan betina tampak menunjukkan strain yang sama dengan
bentuk persiripan induk betina (plakat tradisional). Berdasarkan data morfometrik, panjang kepala
(HL) anakan berkisar antara 29,12%-31,71% SL untuk jantan dan 28,90%-30,44% SL untuk betina.
Anakan jantan dan betina dapat dibedakan dari perbandingan nilai mean antara panjang standar
dengan panjang awal-ujung sirip ekor (SL:S-CL). Pada anakan jantan perbandingan tersebut adalah
58,94%:40,98% TL sedangkan pada anakan betina 74,43%:27,10% TL. Karakter lainnya yang juga
membedakan jantan dan betina ini antara lain adalah: panjang total (TL) (170,49 m >< 134,43 f %
SL), panjang sirip pelvic (PL) (51,29 m >< 28,48 f % SL), dan panjang sirip ekor (CL) (65,89 m ><
31,26 f % SL).
UCAPAN TERIMA KASIH
Terima kasih disampaikan kepada Bapak Sudarto, Bapak Chumaidi, dan Ibu Darti Satyani atas
saran dan koreksi untuk perbaikan makalah.
DAFTAR ACUAN
BettySplendens. 2003. Copper Gold. http://bettysplendens.com/articles/page.imp? articleid= 772.
Diakses 2 Maret 2010 pukul 1:51:32 PM.
BettySplendens . 2004a. The Plakat. http://bettysplendens.com/articles/page.imp? articleid=944. Diakses
2 Maret 2010 pukul 12:10:49 PM.
BettySplendens. 2004b. The Delta Tail. http://bettysplendens.com/articles/page. imp?articleid=760
Diakses 2 Maret 2010 pukul 12:15:03 PM.
BettySplendens. 2004c. The Half Moon. http://bettysplendens.com/articles/page. imp?articleid=758.
Diakses 2 Maret 2010 pukul 12:11:25 PM.
BettySplendens. 2006. Branching and Fin Rays. http://bettysplendens.com/articles/
page.imp?articleid=1642. Diakses 2 Maret 2010 pukul 4:58:35 PM.
Booth, M.A., Warner-Smith, R.J., Allan, G.L., & Glencross, B.D. 2004. Effects of dietary astaxanthin
source and light manipulation on the skin colour of Australian snapper Pagrus auratus (Bloch &
Schneider, 1801). Aquaculture Research, 35: 458-464.
Byers, J.A. 2006. Analysis of Insect and Plant Colors in Digital Images Using Java Software on the
Internet. Ann. Entomol. Soc. Am., 99(5): 865-874.
Clotfelter, E.D., Ardia, D.R., & McGraw, K.J. 2007. Red ûsh, blue ûsh: trade-offs between pigmentation
and immunity in Betta splendens. Behavioral Ecolog., p. 1,139–1,145.
Goldstein, R.J. 2004. The Betta Handbook. New York: Barron’s Educational Series, Inc.
Hoekstra, H.E. 2006. Genetics, development and evolution of adaptive pigmentation in vertebrates:
short review. Heredity, 97: 222–234.
Hofreiter, M., & Schoneberg, T. 2010, The genetic and evolutionary basis of colour variation in
vertebrates. Cellular and Molecular Life Sciences, 67: 2,591–2,603.
IBC. 2006. Buku Standar Kontes IBC Edisi Juli 2011. diterjemahkan oleh Joty Atmadjaja.
Indobettas. 2011. The Rays. http://www.indobettas.com/forum/viewtopic.php?f=47 &t=2171. Diakses
25 Januari 2011 pukul 12:03:05 PM.
Kalinowski, C.T., Robaina, L.E., Fernandez-Palacios, H., Schuchardt, D., & Izquierdo, M.S. 2005. Effect
of different carotenoid sources and their dietary levels on red porgy (Pagrus pagrus) growth and
skin colour. Aquaculture, 244 (2005) 223– 231.
Kusumah, R.V., Kusrini, E., Murniasih, S., Prasetio, A.B., & Mahfudz, K. 2011a. Analisa Gambar Digital
sebagai Metode Karakterisasi dan Kuantifikasi Warna pada Ikan Hias. J. Ris. Akuakultur, 6(3): 381-
392.
Kusumah, R.V., Kusrini, E., Murniasih, S., & Cindelaras,S. 2011b. Keragaan Warna Keturunan F-1 pada
Persilangan Inter Strain dan Inter Spesies Ikan Cupang (Betta spp.). Makalah dipresentasikan dalam
Seminar Nasional Perikanan Indonesia 2011, STP-KKP.
Monvises, A., Nuangsaeng, B., Sriwattanarothai, N., & Panijpan, B. 2009. The Siamese ûghting ûsh:
well-known generally but little-known scientiûcally. Science Asia, 35: 8–16.
1285 Keragaan generasi pertama hasil persilangan ... (Ruby Vidia Kusumah)

Panitvong, N. 2002. B. sp. Mahachai. http://smp.ibcbettas.org/articles/B_sp_ Mahachai.html. Diakses


12 Mei 2010 pukul 4:25:52 PM.
Parnell, V. 2005. Metallics and Masks. http://bettysplendens.com/articles/page.imp? articleid= 784.
Diakses 2 Maret 2010 pukul 1:55:03 PM.
Parnell, V. & van Esch, J.H.M. 2009. “Dragons” - A new era in the world of “bling-bling” bettas!. Flare
(Journal of the IBC) - November/December 2009, 43(3).
Pavlidis, M., Papandroulakis, N., & Divanach, P. 2006. A method for the comparison of chromaticity
parameters in fish skin: Preliminary results for coloration pattern of red skin Sparidae. Aquaculture,
258: 211–219.
Ruber, L., Britz, R., & Zardoya, R. 2006. Molecular phylogenetics and evolutionary diversiûcation of
labyrinth ûshes (Perciformes: Anabantoidei). Systematic Biology, 55: 374–397.
Setsuna. 2004. Tail and Fin Forms In Betta Splendens. http://www.aquaticcommunity .com/bettafish/
tailfinforms.php. Diakses 28 Januari 2011 pukul 9:31:04 AM.
Sonnier, J. 2006. Betta Genetics: Red Color in Bettas. http://www.bettas-jimsonnier.com/genetics3.htm.
Diakses 4 Agustus 2010 pukul 3:45:09 PM.
Sriwattanarothai, N., Steinke, D., Ruenwongsa, P., Hanner, R., & Panijpan,B. 2010. Molecular and
morphological evidence supports the species status of the Mahachai ûghter Betta sp. Mahachai
and reveals new species of Betta from Thailand. Journal of Fish Biology, 77: 414–424.
Szisch, V., van der Salm, A.L., Bonga, S.E.W., & Pavlidis, M. 2002. Physiological colour changes in the
red porgy, Pagrus pagrus, following adaptation to blue lighting spectrum. Fish Physiology and
Biochemistry, 27: 1–8.
Van Esch, J.H.M. 2004. Color defenitions & genetics. http://bettaterritory.nl/BT-AABcolor genetics.htm.
Diakses 4 Agustus 2010 12:25:50 PM.
Van Esch, J.H.M. 2008a. Understanding metallic genetics. Flare (Journal of the IBC) - May/June 2008,
Volume 41, No. 6.
Van Esch, J.H.M. 2008b. The New Bettas4all Show Standard. Bettas4AllShowStandard/
Bettas4AllShowStandard.html. Diakses 28 Januari 2011 pukul 9:16:39 AM.
Van Esch, J.H.M. 2008c. Proposal for adjustment of the IBC plakat standards. Flare (Journal of the IBC) -
March/April 2008, Volume 41, No. 5.
Van Esch, J.H.M. 2010. Development of the new Bettas4all Standard – Phase I. http://bettaterritory.nl/BT-
Bettas4allStandard.htm. Diakses 9 Februari 2011 pukul 09:35:01.
Wikipedia. 2010. Species complex. http://en.wikipedia.org/wiki/Species_complex Diakses 20 Agustus
2010 pukul 9:11:40 AM.
Yasir, I. & Qin, J.G. 2009. Effect of Light Intensity on Color Performance of False Clownûsh, Amphiprion
ocellaris Cuvier. Journal Of The World Aquaculture Society, 40(3): 337-350.
Prosiding Indoaqua - Forum Inovasi Teknologi Akuakultur 2012 1286

DISKUSI

1. Sularto

Pertanyaan:
Bagaimana jika teknik ginogenesis agar diterapkan supaya menghasilkan benih jantang yang
lebih banyak?
Tanggapan;
Memang banyak pembudidaya yang menginginkan jumlah benih jantan yang lebih banyak tetapi
kedepannya tetap harus ada betina untuk keberlanjutan budidaya cupang