Anda di halaman 1dari 36

LAPORAN RESMI

PRAKTIKUM OPERASI TEKNIK KIMIA II

“ KESETIMBANGAN UAP CAIR (VLE)“

GROUP M
1. Monica Dwi Yanti Putri 17031010100
2. Titan Obby Pangestu 17031010116

Tanggal Percobaan : 5 September 2019

OPERASI TEKNIK KIMIA


PROGRAM STUDI TEKNIK KIMIA
UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN” JAWA TIMUR
SURABAYA
2019
KESETIMBANGAN UAP CAIR (VLE)

LEMBAR PENGESAHAN

LAPORAN TUGAS PRAKTIKUM


OPERASI TEKNIK KIMIA II

“KESETIMBANGAN UAP CAIR (VLE)”

GRUP M :

1. MONICA DWI YANTI PUTRI ( 17031010100 )


2. TITAN OBBY PANGESTU ( 17031010116 )

Telah diperiksa dan disetujui oleh :

Kepala Laboratorium
Operasi Teknik Kimia II Dosen Pembimbung

Ir. Ketut Sumada, MS Lilik Suprianti, M.Sc.


NIP. 19620118 198803 1 001 NIP. 19840411 201903 2 012

PRAKTIKUM OPERASI TEKNIK KIMIA II i


KESETIMBANGAN UAP CAIR (VLE)

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan yang Maha Esa, atas berkat dan
rahmat – Nya, sehingga kami dapat mentuntaskan Laporan Resmi Operasi Teknik
Kimia I berjudul “Kesetimbangan Uap Cair (VLE)”.
Laporan Resmi berikut merupakan salah satu tugas mata kuliah praktikum
Operasi Teknik Kimia II pada Semester V. Laporan ini disusun berdasarkan hasil
percobaan hingga perhitungan dan dilengkapi dengan berbagai teori dari literatur serta
bimbingan asisten pembimbing yang dilaksanakan pada tanggal 5 September 2019 di
Laboratorium Operasi Teknik Kimia, Universitas Pembangunan Nasional “Veteran”
Jawa Timur.
Terbentuknya laporan berikut dengan baik, tidak terlewat dari jasa baik sarana,
prasarana, pemikiran maupun kritik dan saran. Sehingga, tidak lupa kami mengucapkan
terima kasih kepada :
1. Bapak Ir. Ketut Sumada, MS. selaku Kepala Laboratorium Operasi Teknik
Kimia
2. Ibu Lilik Suprianti, M.Sc. Selaku dosen pembimbing modul “Kesetimbangan
Uap Cair (VLE)”.
3. Seluruh asisten laboratorium yang turut membantu dalam pelaksanaan
praktikum
4. Rekan – rekan mahasiswa yang membantu dalam proses praktikum sampai
pada pembuatan laporan ini
Namun demikian kami menyadari bahwa penyusunan makalah ini masih
memiliki banyak kekurangan. Kami hanyalah manusia yang mempunyai banyak
kesalahan. Oleh karena itu, kami berterima kasih apabila ada saran dan kritik yang
sifatnya membangun demi penyempuraan makalah ini.
Akhir kata semoga laporan ini dapat bermanfaat untuk kami sebagai
penyusunan laporan dan para pembaca pada umumnya,. Tim penyusun berharap
semoga makalah ini dapat dimanfaatkan sebaik – baiknya.

Surabaya, 07 September 2019

Penyusun

PRAKTIKUM OPERASI TEKNIK KIMIA II ii


KESETIMBANGAN UAP CAIR (VLE)

DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN…......................................................................................i

KATA PENGANTAR..................................................................................................ii

DAFTAR ISI…...........................................................................................................iii

INTISARI ....................................................................................................................v

BAB I PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang …..........................................................................................1


I.2 Tujuan Percobaan ….....................................................................................2
I.3 Manfaat Percobaan .......................................................................................2

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

II.1 Secara Umum................................................................................................3


II.2 Sifat Bahan....................................................................................................9
II.3 Hipotesa.......................................................................................................10

BAB III PELAKSANAAN PRAKTIKUM

III.1 Bahan yang digunakan.................................................................................11


III.2 Alat yang digunakan....................................................................................11
III.3 Gambar Alat................................................................................................11
III.4 Rangkaian Alat............................................................................................12
III.5 Prosedur.......................................................................................................12
III.6 Diagram Alir................................................................................................13
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

IV.1 Tabel Pengamatan.......................................................................................14


IV.2 Tabel Perhitungan........................................................................................15
IV.3 Grafik..........................................................................................................16
IV.4 Pembahasan.................................................................................................17

PRAKTIKUM OPERASI TEKNIK KIMIA II iii


KESETIMBANGAN UAP CAIR (VLE)

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

V.1 Kesimpulan..................................................................................................19
V.2 Saran ...........................................................................................................19

DAFTAR PUSTAKA…............................................................................................20

APPENDIX….............................................................................................................21

PRAKTIKUM OPERASI TEKNIK KIMIA II iv


KESETIMBANGAN UAP CAIR (VLE)

INTISARI

Kesetimbangan dapat diartikan suatu keadaan dimana tidak terjadi perubahan sifat
makroskopis dari sistem terhadap waktu. Larutan biner adalah larutan yang
mengandung dua komponen yaitu komponen zat terlarut dan komponen pelarut.
Azeotrop adalah campuran dengan komposisi yang konstan pada tekanan tertentu. Jika
tekanan total diubah, baik titik didih maupun komposisi azeotrop juga akan berubah.
Percobaan yang telah dilakukan tentang kesetimbangan uap cair pada sistem biner
bertujuan untuk mendapatkan data kesetimbangan uap cair system biner pada kondisi
isobaric, untuk menggambar kurva T-xy, dan untuk mendapatkan parameter persamaan
koefisien aktifitas pada fasa cair yaitu parameter Margules, Van Laar, dan Wilson
berdasarkan korelasi data kesetimbangan uap cair system biner. Percobaan ini
dilakukan dengan proses destilasi.
Pada percobaan ini dilakukan dengan variabel fraksi etanol 0,2 ; 0,3 ; 0,4 ; 0,5 ; 0,6
; 0,7; ;0,8 ; 0,9. Hasil dari percobaan kesetimbangan uap-cair / VLE adalah sebagai
berikut. Berdasarkan percobaan didapatkan suhu kesetimbangan etanol-air pada
masing-masing fraksi etanol 0,2 ; 0,3 ; 0,4 ; 0,5 ; 0,6 ; 0,7; ;0,8 ; 0,9 berturut-turut yaitu
91oC, 91 oC, 90 oC, 84 oC, 85 oC, 92 oC, 75 oC, dan 90 oC. Menggunakan grafik antara
ln γ1, ln γ2, dan GE/RT.x1.x2 didapatkan nilai parameter A12 = 3,1705x10-5 dan A21
= 3,1705x10-5. Pada Persamaan Margules didapatkan koefisien aktivitas pada pada
masing-masing fraksi etanol 0,2 ; 0,3 ; 0,4 ; 0,5 ; 0,6 ; 0,7; ;0,8 ; 0,9 berturut-turut pada
γ1 yaitu 1,8680; 0,883 ; 0,924 ; 0,918 ; 0,588 ; 0,951 ; 0,592 ; 0,976. Dan pada γ2 yaitu
1,039 ; 1,071 ; 1,062 ; 1,064 ; 1,216 ; 1,057 ; 1,212 ; 1,053. Pada Persamaan Van Laar
didapatkan koefisien aktivitas berturut-turut pada γ1 yaitu 2,253 ; 2,342 ; 2,318 ; 2,321
; 3,107 ; 2,304 ; 3,054 ; 2,291 . Dan pada γ2 yaitu 0,995 ; 0,988 ; 0,990 ; 0,990 ; 0,887
; 0,991 ; 0,896 ; 0,992. Suhu kesetimbangan etanol-air berbanding terbalik dengan
fraksi etanol. Semakin besar fraksi etanol maka suhu kesetimbangannya semakin
rendah karena semakin dekat dengan titik didih dari etanol. Semakin besar fraksi etanol
maka semakin rendah densitasnya karena etanol memiliki densitas lebih rendah
daripada air.

PRAKTIKUM OPERASI TEKNIK KIMIA II v


KESETIMBANGAN UAP CAIR (VLE)

BAB I
PENDAHULUAN

I.1. Latar Belakang


Larutan adalah fase homogen yang mengandung lebih dari satu komponen.
Larutan biner yaitu larutan yang mengandung dua atau lebih zat yang dapat melarut
dengan baik. Suatu zat cair ketika dipanaskan dalam wadah yang tertutup akan lebih
cepat mendidih dibandung dengan zat cair yang dipanaskan dalam wadah terbuka. Hal
itu terjadi karena pengaruh tekanan uap luar saat itulah dikatakan mendidih karena
wadah tertutup. Maka dapat diketahui batas antara fase uap dan fase cair yang tidak
setimbang. Tahap dimana rapatan uap sama dengan rapatan sisa cairan dan batas antar
fase hilang disebut kesetimbangan antara uap dan cair. Temperatur pada keadaan
tersebut adalah temperatur kritis. Oleh karena itu untuk dapat mengetahui indeks dan
mendapatkan data kesetimbangan uap cair system biner maka dilakukan percobaan
“kesetimbangan uap cair” ini.

I.2. Tujuan Praktikum


1. Untuk mendapatkan data kesetimbangan uap cair system biner pada kondisi
isobaric
2. Untuk menggambar kurva T-xy dan membandingkannya dengan literatur.
3. Untuk mendapatkan parameter persamaan koefisien aktifitas pada fasa cair
yaitu parameter Margules, Van Laar, dan Wilson berdasarkan korelasi data
kesetimbangan uap cair system biner

I.3. Manfaat Praktikum


1. Agar praktikan dapat memahami konsep kesetimbangan uap cair
2. Agar praktikan dapat mengaplikasikan kesetimbangan uap cair pada
kehidupan sehari-hari
3. Agar praktikan dapat mengetahui factor-faktor yang mempengaruhi
kesetimbangan uap cair

PRAKTIKUM OPERASI TEKNIK KIMIA II 1


KESETIMBANGAN UAP CAIR (VLE)

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

II.1. Secara Umum


II.1.1 Kesetimbangan
Kesetimbangan adalah suatu keadaan dimana tidak ada perubahan yang terlihat
seiring berjalannya waktu, kesetimbangan termodinamika adalah bagaimana
terdistribusinya komponen-komponen dalam semua fase pada suhu, tekanan, dan
fugasitas tertentu, sehingga aka ada kesamaan tekanan, suhu,dan fugasitas masing-
masing komponen dalam semua fase yang berada dalam kesetimbangan.

II.1.2 Kesetimbangan Uap Cair / VLE


Kesetimbangan uap cair adalah kondisi dimana liquid dan garisnya berada pada
kesetimbangan satu sama lain, kondisi dimana kecepatan evaporasi sama dengan
kecepatan evaporasi sama dengan kecepatan kondensasi pada level molekuler. Suatu
substansi yang berada pada kesetimbangan uap-cair umumnya disebut fluida jenuh,
untuk spesies kimia murni, hal ini sama dengan kondisi spesies pada titik didihnya.

II.1.3 Thermodinamika Larutan


Larutan merupakan campuran homogeny dari dua zat atau lebih. Suatu larutan
terdiri dari zat terlarut (solute) dan pelarut (solvent). Kelarutan didefinisikan sebagai
banyaknya zat terlarut yang dapat menghasilkan larutan jenuh dalam jumlah tertentu
pelarut pada temperature konstan. Kelarutan suatu zat bergantung pada sifat zat itu,
molekul pelarut, temperature, dan tekanan.
A. Hukum Raoult

Bunyi dari hokum Raoult adalah “tekanan uap larutan ideal dipengaruhi oleh
tekanan uap pelarut dan fraksi mol zat terlarut yang terkandung dalam larutan tersebut”.
Hukum Raoult sangat penting mempelajari sifat dan karakteristik fisik dari larutan
seperti menghitung jumlah molekul dan memprediksi massa molar suatu zat (Mr).
terdapat dua buah asumsi yang diperlukan untuk mengurangi perhitungan VLE
menjadi hokum Roult adalah fasa uap yang ideal. Fase cair merupakan solusi yang
ideal. Asumsi yang pertama menyatakan bahwa hokum Raoult hanya dapat
diaplikasikan untuk tekanan rendah hinga sedang. Untuk yang kedua menyatakan
bahwa ia dapat memiliki validitas hanya ketika spesies yang menggunakan system

PRAKTIKUM OPERASI TEKNIK KIMIA II 2


KESETIMBANGAN UAP CAIR (VLE)

serupa secara kimiawi. Hanya gas ideal yang berfungsi sebagai standar yang dapat
dijadikan perilaku solusi dibandingkan. Jadi campuran isomer seperti ortho, metha, dan
para-xylene.
Ekspresi matematika yang mencerminkan dua asumsi yang tercampur dan yang di
dalamnya memberikan ekspresi kuantitatif pada hokum Raoult adalah
𝑦𝑖 𝑃 = 𝑥𝑖 𝑃𝑖 sat (i=1,2,………N) ………………………………(1)
Keterangan :
𝑥𝑖 = 𝑚𝑜𝑙 𝑓𝑎𝑠𝑒 𝑐𝑎𝑖𝑟
𝑦𝑖 = 𝑚𝑜𝑙 𝑓𝑎𝑠𝑒 𝑢𝑎𝑝
𝑃 = 𝑡𝑒𝑘𝑎𝑛𝑎𝑛 𝑠𝑒𝑏𝑎𝑔𝑖𝑎𝑛 𝑠𝑝𝑒𝑠𝑖𝑒𝑠
𝑝 𝑠𝑎𝑡 = 𝑡𝑒𝑘𝑎𝑛𝑎𝑛 𝑢𝑎𝑝 𝑠𝑝𝑒𝑠𝑖𝑒𝑠 𝑚𝑢𝑟𝑛𝑖 𝑖 𝑝𝑎𝑑𝑎 𝑡𝑒𝑚𝑝𝑒𝑟𝑎𝑡𝑢𝑟 𝑑𝑎𝑟𝑖 𝑠𝑦𝑠𝑡𝑒𝑚
B. Hukum Henry

Bunyi hukum Henry adalah “pada suhu konstan jumlah gas yang diberikan
yang larut dalam suatu jenis dan volume cairan tertentu berbanding lurus dengan
tekanan parsial gas yang dalam kesetimbangan dengan cairan itu”. Pada pengaplikasian
dari hukum Raoult untuk spesies I memerlukan nilai Pisat pada suhu pengaplikasiannya
dan dengan demikian tidak sesuai untuk spesies yang suhunya kritis kurang dari suhu
aplikasi. Jika system udara bersentuhan dengan air cair (liquid) dianggap sama dengan
equilibrium, maka udara jenuh dengan air. Fraksi mol uap air di udara biasanya
ditemukan dari aplikasi hukum Raoult yang diterapkan pada air dengan asumsi bahwa
tidak ada udara yang larut dalam fase cair. Dengan demikian, air cair dianggap murni
dan hukum Raoult untuk air tersebut (spesies2) menjadi y2P=P2sat. Pada 25oC dan
tekanan atmosfer, persamaan ini menghasilkan
𝑃𝑖𝑠𝑎𝑡 3.166
𝑦2 = = = 0.0312
𝑃 101.33
Dimana tekanannya dalam satuan kPa, dan P2sat berasal dari tabel uap. Jika
seseorang ingin menghitung fraksi mol udara yang larut dalam air, maka hukum Raoult
tidak dapat diterapkan, karena suhu kritis udara jauh lebih rendah dari 250C. Masalah
ini dapat diselesakan oleh hukum Henry, diterapkan disini untuk tekanan yang cukup
rendah dimana fase uap dapat diasumsikan sebagai gas ideal. Untuk spesies hadir
sebagai zat terlarut yang sangat encer dalam fase cair, Hukum Henry kemudian
menyatakan bahwa tekanan parsial spesies dalam fase vapor adalah berbanding lurus
dengan fraksi mol fase cairnya. Demikian
𝑦𝑖 𝑃 = 𝑥𝑖 𝐻𝑖 ……………………………………….. (2)

PRAKTIKUM OPERASI TEKNIK KIMIA II 3


KESETIMBANGAN UAP CAIR (VLE)

Keterangan
Hi = konstanta henry
Nilai Hi berasal dari eksperimen, dan ada di tabel yang mencantumkan nilai pada 250C
untuk beberapa gas terlarut dalam air. Untuk system udara atau cair pada 250C dan
atmosfer tekanan, hukum Henry diterapkan pada udara (spesies 1) dengan hasil y = 1-
0.0312 = 0.9688 yields :
𝑦𝑖 𝑃 (0.9688)(101.33)
𝑥𝑖 = = = 1,35𝑥105
𝐻𝑖 72.950
Hasil ini membenarkan asumsi yang dibuat dalam penerapan hukum Raoult ke air.
Berikut ini beberapa nilai konstanta Henry untuk beberapa gas terlarut dalam air pada
temperatir 250C.

II.1.4 Bubble Point dan Dew Point


Bubble point adalah temperature dimana gelembung uap pertama kali terbentuk
didalam cairan pada saat dipanaskan sesuai dengan tekanan yang diberikan. Atau dapat
dinyatakan sebagai temperatur dimana cairan mulai membentuk gelembung uap sesuai
dengan tekanan yang diberikan. Atau dapat dinyatakan sebagai suhu dimana uap atau
gas mulai mengembun sesuai dengan tekanan yang diberikan. Pada VLE dengan
kombinasi variable lainnya dimungkinkan, pada perhitungan titik embun dan bubble
point perhitungannya terdapat empat kelas dalam hal ini yakni, BUBLP, DEW P,
BUBL T, dan DEW T.
Dalam setiap khasusnya nama menunjukkan jumlah yang akan dihitung baik
BUBL (uap) atau komposisi dan DEW (cairan) dan P atau T. dengan demikian kita
harus menentukan fase cair atau komposisi fase uap dan P atau T, dengan demikian
menetapkan 1 + (𝑁 − 1) atau aturan fasa N variable, tepatnya jumlah derajat
kebebasan F yang dibutuhkan oleh aturan fasa. Prosedur umum untuk solusi masalah
VLE menjadi jelas melalui perhitungan kesederhanaan relative. Karena difokuskan
pada penerapan hukum Roult dikarenakan yakni ∑𝑖𝑦𝑖 = 1 yang selanjutnya dapat
dirumuskan
𝑃 = ∑𝑖 𝑥𝑖 𝑃𝑖𝑠𝑎𝑡 ……………………………………… (3)
Pada persamaan diatas mencari aplikasi pada perhitungan bubble point, dimana
pada komposisi fase uap tidak diketahui. Untuk system biner dengan 𝑥2 = 1 −
𝑥1 didapatkan rumus sebagai berikut P = 𝑃2𝑠𝑎𝑡 + (𝑃1𝑠𝑎𝑡 − 𝑃2𝑠𝑎𝑡 )𝑥𝑖 dan diaplikasikan
pada grafik P vs xi pada keadaan suhu konstan yang dihubungkan 𝑃2𝑠𝑎𝑡 pada 𝑥𝑖 = 0
dengan 𝑃1𝑠𝑎𝑡 pada 𝑥1 = 1

PRAKTIKUM OPERASI TEKNIK KIMIA II 4


KESETIMBANGAN UAP CAIR (VLE)

II.1.5 Fugasitas
Fugasitas adalah kecenderungan untuk berubah yang dapat diukur dengan
kuantitas. Pada keadaan setimbang property-properti yang teramati tidak boleh berubah
terhadap waktu. Sehingga property-properti intensif atau potensial termodinamikanya
(suhu, tekanan, potensial kimia) sama dalam suatu system. Untuk fluida nyata,
persaman analog yang mendefinisikan 𝑓𝑖
𝐺𝑖 = ⎾𝑖 (𝑇) + 𝑅𝑇 ln 𝑓𝑖 …………………………… (4)
Dengan 𝑓𝑖 adalah fugasitas zat murni i. jika persamaan fugasitas untuk zat murni i
dalam keadaan garis ideal dikurangi persamaan analog untuk fluida nyata
menghasilkan persamaan
𝑖𝑔 𝑓𝑖
𝐺𝑖 − 𝐺𝑖 = 𝑅𝑇 ln
𝑃
𝑖𝑔
Persamaan 𝐺𝑖 − 𝐺𝑖 adalah energy Gibbs residual, 𝐺𝑖𝑅 maka
𝐺𝑖𝑅 = 𝑅𝑇 ln ∅𝑖
𝑓
Dimana rasio 𝑖⁄𝑃 merupakan property baru yang disebut koefisien fugasitas dengan
symbol ∅
𝑓
∅𝑖 = 𝑃𝑖……………………………………… (5)

Untuk persamaan dibawah ini dapat langsung digunakan untuk menghitung koefisien
fugasitas zat murni I dengan menggunakan persamaan dalam bentuk volume explicit
𝑝
𝑑𝑝
ln ∅𝑖 = ∫ (𝑧𝑖 − 1) (𝑇 𝑘𝑜𝑛𝑠𝑡𝑎𝑛)
𝑜 𝑝
Contoh persamaan keadaan dalam bentuk volume explicit adalah persamaan viral dua
suku
𝐵𝑖 𝑃
𝑧𝑖 − 1 =
𝑅𝑇
Karena 𝐵𝑖 hanya tergantung dari temperature, maka
𝐵𝑖 𝑝
ln ∅𝑖 = ∫ 𝑑𝑝 (𝑇 𝑘𝑜𝑛𝑠𝑡𝑎𝑛)
𝑅𝑇 𝑜
𝐵𝑖 𝑝
ln ∅𝑖 = ∫ 𝑑𝑝
𝑅𝑇 𝑜
Untuk persamaan keadaan kubik yang merupakan persamaan yang berbentuk 𝑃
eksplisit menggunakan rumus
ln ∅𝑖 = 𝑍𝑖 − 1 − ln(𝑍𝑖 − 𝐵𝑖 ) − 𝑞𝑖 𝐿𝑖

PRAKTIKUM OPERASI TEKNIK KIMIA II 5


KESETIMBANGAN UAP CAIR (VLE)

Berikut ini koefisien fugasitas senyawa murni dari beberapa persamaan keadaan :
1. Van de Waals
𝑅𝑇 𝑎
𝑃 = 𝑉−𝑏 − 𝑉 2 …………………………………… (6)
𝑎 𝑏
ln ∅𝑖 = 𝑍 − 1 − 𝑅𝑇𝑉 − ln (𝑍 (1 − 𝑣 ))…………………………. (7)

2. Virial
𝐵 𝐶
𝑍 = 1 + 𝑉 + 𝑉 2 ………………………………….(8)
𝑃 (𝐶−𝐵2 ) 𝑃 2 (𝐷−3𝐵𝐶+2𝐵2 ) 𝑃 3
ln ∅𝑖 = 𝐵 𝑅𝑇 + (𝑅𝑇) + (𝑅𝑇) ………………… (9)
2 3

3. Redlich-Kwong
𝑅𝑇 𝑎
𝑃 = 𝑉−𝑏 − 𝑇 0.5 𝑉(𝑉+𝑏)……………………………..(10)

𝑏 𝑎 𝑏
ln ∅𝑖 = 𝑍 − 1 − (𝑍 (1 − 𝑉)) − 𝑏𝑅𝑇 4.5 ln (1 + 𝑉)……………….(11)

4. Soave-Redlich-Kwong
𝑅𝑇 𝑎∝
𝑃 = 𝑉−𝑏 − 𝑉(𝑉+𝑏)…………………………….(12)

𝑏 𝑎∝ 𝑏
ln ∅ = 𝑍 − 1 − ln (𝑍 (1 − )) − ln (1 + )…………….(13)
𝑉 𝑏𝑅𝑇 𝑉

5. Peng-Robinson
𝑅𝑇 𝑎∝
𝑃 = 𝑉−𝑏 − 𝑉 2 +2𝑏𝑉−𝑏2…………………………….(14)
𝑏 𝑎∝ 𝑉+2.414𝑏
ln ∅ = 𝑍 − 1 − ln (𝑍 (1 − 𝑉)) − 2√2𝑏𝑅𝑇 ln (𝑉−0.414𝑏)……..(15)

II.1.6 Aktifitas dan Koefisien Aktifitas


Aktifitas adalah perbandingan antara fugasitas komponen i pada keadaan
system terhadap fugasitas komponen i pada keadaan standard
𝑓
(𝑎𝑖 = 𝑓0𝑖 )…………………………………(16)
𝑖

Sedangkan koefisien aktifitas adalah bilangan tak berdimensi yang bias mewakili
aktifitas pada 𝑃 dan 𝑇 tertentu
𝑎 𝑓
𝑌𝑖 = 𝑥𝑖 = 𝑥 𝑓𝑖 0…………………………………(17)
𝑖 𝑖 𝑖

(Smith, 2005)

PRAKTIKUM OPERASI TEKNIK KIMIA II 6


KESETIMBANGAN UAP CAIR (VLE)

II.1.7 Hubungan Fugasitas dan Aktifitas


Fugasitas di fase uap dinyatakan dalam bentuk koefisien fugasitas yang
didefinisikan sebagai perbandingan antara fugasitas difase uap dan tekanan parsial
komponen. Sedangkan fugasitas difasa cair umumnya dinyatakan dalam bentuk
koefisien aktivitas yang didefinisikan sebagai perbandingan antara fugasitas difasa cair
dan fugasitas komponen pada keadaan standar dalam perhitungan-perhitungan
koefisien aktivitas adalah kondisi cairan murni.
Jika fasa uap dan cairan berada dalam kesetimbangan maka :
𝑇𝑣 = 𝑇𝑙
𝑃𝑣 = 𝑃𝑙
𝑓𝑖𝑣 = 𝑓𝑖𝑙
Fugasitas komponen i dalam keadaan uap
𝑓𝑖𝑣 = 𝑦𝑖 ∅𝑖 𝑃……………………………….. (18)
Fugasitas komponen i dalam keadaan cair
𝑓𝑖𝑙 = 𝑥𝑖 𝑦𝑖 𝑓𝑙 ………………………….…….(19)
Kesetimbangan system biner menggambarkan distribusi suatu komponen
diantara fase uap dan fase cair sehingga diperlukan persamaan yang menghubungkan
fraksi mol fasa cair “x” dan fraksi mol fasa uap “y”. Dan hal tersebut koefisien-
koefisien aktifitas dapat ditulis
𝑦𝑃
𝑌𝑖 = 𝑥 𝑃𝑖𝑠𝑎𝑡…………………………………(20)
𝑖 𝑖

(Rasmito, 2016)

II.1.8 Energi Gibbs


Kelebihan energy Gibbs adalah energy Gibbs teramati pada suatu campuran
yang diatas atau lebih besar untuk larutan ideal pada temperatur, tekanan, dan
komposisi yang sama.
𝐺𝑖𝐸 = 𝑅𝑇 ln 𝑦𝑖 ………………………………(21)
Ada sebuah hubungan thermodinamika yang biasa digunakan untuk
memprediksi harga koefisien aktifitas yaitu persamaan Gibbs-Duhem. Pada
hakekatnya persamaan ini menyatakan bahwa dalam suatu campuran, koefisien
aktifitas tiap komponennya tidak bebas satu terhadap yang lain melainkan berkorelasi
melalui sebuah persamaan differensial. Untuk campuran biner pada suhu dan tekanan
konstan Gibbs-Duhem menyatakan persamaannya :

PRAKTIKUM OPERASI TEKNIK KIMIA II 7


KESETIMBANGAN UAP CAIR (VLE)

𝑑𝑙𝑛𝑦1 𝑑𝑙𝑛𝑦2
𝑥1 + 𝑥2 =0
𝑑𝑥1 𝑑𝑥2
(Smith, 2005)

II.1.9 Azeotrop

Gambar 1. Azeotrop
Azeotrop adalah campuran dari dua atau lebih cairan sedemikian rupa sehingga
komponen yang tidak dapat diubah dengan distilasi sederhana. Pada industry
petrokimia, banyak sekali dijumpai campuran-campuran azeotrope, dimana distilasi
konvensial tidak dapat dipakai untuk memisahkan campuran tersebut menjadi
senyawa-senyawa murni penyusunnya. (Sutijan,2004)

II.1.10 Parameter Model


Perhitungan nilai koefisien aktivitas dapat dilakukan dengan beberapa persamaan :
1. Persamaan Marguless untuk Campuran Biner
𝑙𝑛𝛾1 = 𝑥22 (𝐴12 + 2(𝐴21 − 𝐴12 )𝑥1 ) ...………………(21)
𝑙𝑛𝛾2 = 𝑥12 (𝐴21 + 2(𝐴12 − 𝐴21 )𝑥2 )…………………(22)
2. Persamaan Van Laas untuk Campuran Biner
′ 𝐴′ 𝑥 1 −2
𝑙𝑛𝛾1 = 𝐴12 [1 + 𝐴12
′ 𝑥 ] ……………………...(23)
12 2

𝐴′ 𝑥
𝑙𝑛𝛾2 = 𝐴′21 [1 + 𝐴21 1 −2
′ 𝑥 ] ……………………...(24)
21 2

Ketika 𝑥1 = 0 dan 𝑙𝑛𝛾1 = 𝐴112


Ketika 𝑥2 = 0 dan 𝑙𝑛𝛾2 = 𝐴121
3. Persamaan Wilson untuk Campuran Biner dengan Efek Temperatur
𝐴12 𝐴21
𝑙𝑛𝛾1 = − ln(𝑥1 + 𝐴12 𝑥2 ) + 𝑥2 ( 𝑥 +𝑥 )……(25)
1 +𝐴12 𝑥2 1 +𝐴21 𝑥2

PRAKTIKUM OPERASI TEKNIK KIMIA II 8


KESETIMBANGAN UAP CAIR (VLE)

𝐴12 𝐴21
𝑙𝑛𝛾2 = − ln(𝑥2 + 𝐴21 𝑥1 ) + 𝑥1 ( 𝑥 +𝑥 )…....(26)
1 +𝐴12 𝑥2 1 +𝐴21 𝑥2

𝐴12 dan 𝐴21 harus selalu angka yang positif


Keterangan :
𝛾1 𝛾2 = koefisien aktivitas
𝑥1 𝑥2 = fraksi mol

𝐴12 = relative volatility komponen 1 terhadap 2
Persamaan NRTL yang mengandung tiga parameter untuk system biner adalah
2
𝐺21 𝐺12 𝜏12 2
𝑙𝑛𝛾1 = 𝑥22 (𝜏21 ( ) + )
𝑥1 + 𝑥2 𝐺21 𝑥2 + 𝑥1 𝐺12
2
𝐺21 𝐺12 𝜏12 2
𝑙𝑛𝛾2 = 𝑥12 (𝜏21 ( ) + )
𝑥1 + 𝑥2 𝐺21 𝑥2 + 𝑥1 𝐺12
𝐺12 = exp(−∝ 𝜏12 ); 𝐺21 = exp(−∝ 𝜏21 )
Untuk pengenceran tak terbatas, persamaan ini menjadi :
𝑏12 𝑏21
𝜏12 = ; 𝜏21 =
𝑅𝑇 𝑅𝑇

Dimana a1, b2, dan b21 parameter spesifik untuk pasangan spesies tertentu, tidak
tergantung pada komposisi dan suhu. Nilai pengenceran tak terbatas dari koefisien
aktifitas diberikan oleh percobaan. (Smith, 1996)

II.1.11 Kurva Kesetimbangan Ethanol-Air

Gambar 2. Diagram Kesetimbangan Uap-Cair Etanol-Air


Dengan diagram kesetimbangan ini menggambarkan hubungan kesetimbangan antara
fraksi mol komponen volatile yang terdapat di dalam fasa cair (x) dengan fraksi mol
komponen yang terdapat pada fasa gas (y).

PRAKTIKUM OPERASI TEKNIK KIMIA II 9


KESETIMBANGAN UAP CAIR (VLE)

II.2. Sifat Bahan


II.2.1. Aquadest
A. Sifat Fisika
1) Fase cair
2) Densitas 1 gr/ml
3) Titik didih 100oC
4) Warna bening
B. Sifat Kimia
1) Rumus molekul H2O
2) Berat molekul 18,02 gr/mol
3) Tidk korosif
4) Tidak mudah terbakar
(Perry, 1997 “Water”)
C. Fungsi: Sebagai pelarut

II.2.2. Etanol
A. Sifat Fisika
1) Fase cair
2) Tidak bewarna
3) Titik didih 76oC
4) Tidak bewarna
B. Sifat Kimia
1) Rumus molekul C2H5OH
2) Berat molekul 46,07 gr/mol
3) Mudah terbakar
4) Larut dalam air
(Perry, 1997 “Ethyl Alcohol”)
C. Fungsi: Sebagai bahan yang diamati dalam percobaan.

PRAKTIKUM OPERASI TEKNIK KIMIA II 10


KESETIMBANGAN UAP CAIR (VLE)

II.3. Hipotesa
Larutan etanol-air berada pada suhu kesetimbangan 78-100oC dan azeotrope
terjadi pada komposisi 95,63% etanol dan 4,37% air (berat).

PRAKTIKUM OPERASI TEKNIK KIMIA II 11


KESETIMBANGAN UAP CAIR (VLE)

BAB III
PELAKSANAAN PRAKTIKUM

III.1. Bahan yang digunakan


1. Etanol
2. Air

III.2. Alat yang digunakan


1. Beaker glass
2. Erlenmeyer
3. Corong kaca
4. Gelas ukur
5. Pipet
6. Piknometer
7. Neraca analitik
8. Labu ukur
9. Kaca arloji

III.3. Gambar Alat

Labu ukur Gelas ukur Beaker glass Neraca analitik

Corong Pipet Kaca arloji


Piknometer
Erlenmeyer

PRAKTIKUM OPERASI TEKNIK KIMIA II 12


KESETIMBANGAN UAP CAIR (VLE)

Rangkaian Alat

H B

C3
C2
C1

Keterangan:
A = Boiling still
B = Condenser
C = Chock
D = Kondensat
H = Heater
T = Termocouple

PRAKTIKUM OPERASI TEKNIK KIMIA II 13


KESETIMBANGAN UAP CAIR (VLE)

III.4. Prosedur Percobaan

Mulai

Pembuatan kurva kalibrasi

Persiapan peralatan glass othmer


still

Membuat larutan Masukkan umpan, nyalakan heater.


umpan Alirkan air pendingin

Pengolahan data dan penentuan


Data Vapor Liquid Equilibrium
parameter persamaan Vapor Liquid
Literatur
Equilibrium

Selesai

PRAKTIKUM OPERASI TEKNIK KIMIA II 14


KESETIMBANGAN UAP CAIR (VLE)
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

IV.1. Data Hasil Percobaan


Suhu ruangan : 25oC
Tekanan Ruangan : 1 atm = 101,325 kPa
Data etanol A : 16,8958 (Appendix B.2) Data air A :16,3872 (Appendix B.2)
B : 3795,17 B : 3885,7
C : 230,918 C : 230,17
Tabel 1. Perhitungan Koefisien Aktivitas Berdasarkan Percobaan

Komposisi Etanol T (0C) T (0K) X1 X2 Y1 Y2 𝑃1𝑠𝑎𝑡 𝑃2𝑠𝑎𝑡 𝛾1 𝛾2 ln 𝛾1 ln 𝛾1

0,1 97 370,15 0,05 0,95 0,188831 0,811169 204,84762 90,96727 1,86805 0,95108 0,624895532 -0,050152046
0,2 95,3 368,45 0,0989 0,9011 0,285215 0,714785 192,85795 85,49563 1,51515 0,94010 0,415513294 -0,061766516
0,3 92,4 365,55 0,1456 0,8544 0,437189 0,562811 173,74769 76,79446 1,75108 0,86914 0,560231648 -0,140255047
0,4 90,2 363,35 0,2347 0,7653 0,618208 0,381792 160,32212 70,69758 1,66473 0,71500 0,509665467 -0,335470945
0,5 87 360,15 0,256 0,744 0,624555 0,375445 142,34090 62,55470 1,73667 0,81739 0,551969484 -0,20163596
0,6 85,2 358,35 0,2799 0,7201 0,640658 0,359342 132,98701 58,33002 1,74394 0,86684 0,556144805 -0,142898622
0,7 83,5 356,65 0,3 0,7 0,663108 0,336892 124,62879 54,56214 1,79706 0,89375 0,586149577 -0,112326212
0,8 81,8 354,95 0,557 0,443 0,711364 0,288636 116,71349 51,00051 1,10875 1,29446 0,103229632 0,25809513
0,9 80,35 353,5 0,7579 0,2421 0,808480 0,191520 110,29823 48,11886 0,97995 1,66579 -0,020250183 0,510300249

PRAKTIKUM OPERASI TEKNIK KIMIA II 15


KESETIMBANGAN UAP CAIR (VLE)

Tabel 2. Perhitungan Koefisien Aktivitas Berdasarkan Persamaan Margules


Persamaan Margules :
𝑙𝑛𝛾1 = 𝑥22 (𝐴12 + 2(𝐴21 − 𝐴12 )𝑥1 )
𝑙𝑛𝛾2 = 𝑥12 (𝐴21 + 2(𝐴12 − 𝐴21 )𝑥2 )
Parameter 𝐺𝐸 Persamaan Margules
A12 A21 𝑅. 𝑇. 𝑥1 . 𝑥2 ln γ1 ln γ2 γ1 γ2
0,03369929 0,060798604 -0,001514962 1,062684872 0,998486185
0,066626187 0,10817268 -0,005283135 1,114240135 0,994730796
0,098071711 0,143161427 -0,010117182 1,15391606 0,989933825
0,0000317055 0,6733833883 0,158067345 0,185136489 -0,019678719 1,203382678 0,980513643
158162652 87665 0,172409736 0,190852441 -0,021532765 1,210280852 0,97869741
0,188502842 0,195477598 -0,023219418 1,215891555 0,977048078
0,20203721 0,19798093 -0,024237807 1,218939149 0,97605357
0,375088593 0,1472153 0,023825199 1,158603384 1,024111286

PRAKTIKUM OPERASI TEKNIK KIMIA II 16


KESETIMBANGAN UAP CAIR (VLE)
Tabel 3. Perhitungan Koefisien Aktivitas Berdasarkan Persamaan Van Laar
Persamaan Van Laar :
𝐴12 𝑥1 −2
𝑙𝑛𝛾1 = 𝐴12 [1 + ]
𝐴21 𝑥2
𝐴21 𝑥2 −2
𝑙𝑛𝛾2 = 𝐴21 [1 + ]
𝐴12 𝑥1

Parameter 𝐺𝐸 Persamaan Van Laar


A12 A21 𝑅. 𝑇. 𝑥1 . 𝑥2 ln γ1 ln γ2 γ1 γ2
0,03369929 3,17054E-05 4,13521E-12 1,000031706 1
0,066626187 3,17052E-05 1,79825E-11 1,000031706 1
0,098071711 3,1705E-05 4,33511E-11 1,000031706 1
0,0000317055 0,6733833883 0,158067345 3,17046E-05 1,40397E-10 1,000031705 1
158162652 87665
0,172409736 3,17045E-05 1,76737E-10 1,000031705 1
0,188502842 3,17044E-05 2,25534E-10 1,000031705 1
0,20203721 3,17042E-05 2,7418E-10 1,000031705 1
0,375088593 3,17018E-05 2,35971E-09 1,000031702 1,000000002

PRAKTIKUM OPERASI TEKNIK KIMIA II 17


KESETIMBANGAN UAP CAIR (VLE)

IV.2. Grafik

Kurva Kalibrasi
1.2

1
y = -312.16x3 + 869.71x2 - 807.9x + 250.34
R² = 0.9871
0.8
Fraksi Etanol (x)

0.6
Densitas
0.4 Poly. (Densitas)

0.2

0
0 0.2 0.4 0.6 0.8 1 1.2

-0.2
Densitas (gr⁄ml )

𝑔𝑟
⁄𝑚𝑙 ) VS Fraksi Etanol (x)
Grafik 1. Hubungan Antara Densitas (
𝑔𝑟
Dari grafik 1. Menandakan bahwa hubungan antara densitas ( ⁄𝑚𝑙 ) vs fraksi
etanol (x) berbanding lurus yaitu semakin besar nilai densitas suatu etanol maka
semakin besar pula nilai fraksi etanol nya. Fraksi etanol yang diketahui secara berturut-
turut yaitu 0; 0.1; 0.2; 0.3; 0.4; 0.5; 0.6; 0.7; 0.8; 09; dan 1. Kemudian didapatkan nilai
densitas secara berturut-turut sebesar 0.998 𝑔𝑟⁄𝑚𝑙 ; 0.926 𝑔𝑟⁄𝑚𝑙 ; 0.881 𝑔𝑟⁄𝑚𝑙 ; 0.836
𝑔𝑟
⁄𝑚𝑙 ; 0.832 𝑔𝑟⁄𝑚𝑙; 0.828 𝑔𝑟⁄𝑚𝑙 ; 0.8179 𝑔𝑟⁄𝑚𝑙 ; 0.8078 𝑔𝑟⁄𝑚𝑙 ; 0.8001 𝑔𝑟⁄𝑚𝑙; 0.7925
𝑔𝑟
⁄𝑚𝑙 ;0.79 𝑔𝑟⁄𝑚𝑙 . Hal ini sesuai dengan teori yang ada yaitu semakin tinggi
konsentrasi larutan, densitasnya juga semakin besar. Hal ini disebabkan karena
semakin tinggi konsentrasi suatu larutan, menunjukkan jumlah partikel dalam larutan
tersebut semakin banyak.

PRAKTIKUM OPERASI TEKNIK KIMIA II 18


KESETIMBANGAN UAP CAIR (VLE)

Kurva Kesetimbangan Ethanol Air


1
0.9
0.8
0.7
0.6
Y

0.5
0.4
0.3
0.2
0.1
0
0 0.1 0.2 0.3 0.4 0.5 0.6 0.7 0.8 0.9 1
X

Grafik 2. Hubungan Antara Kadar Ethanol dalam Liquid (x) VS Kadar Etanol dalam
Vapor (y)
Dari grafik 2. Menandakan bahwa hubungan antara kadar ethanol dalam liquid (x)
vs kadar etanol dalam vapor (y) fluktuatif (tidak stabil). Kadar etanol dalam liquid (x)
yang berasal dari rumus persamaan kurva kalibrasi y = -312.16x3 + 869.71x2 - 807.9x
+ 250.34 dengan memasukkan nilai x sebagai densitas residu yang di peroleh pada
masing-masing fraksi etanol maka didapatkan nilai berturut-urut sebesar 0.1146;
0.1612; 0.1494; 0.151 ; 0.3528; 0.1422; 0.3454; dan 0.1358. Sedangkan kadar etanol
dalam vapor (y) yang berasal dari rumus persamaan kurva kalibrasi y = -312.16x3 +
869.71x2 - 807.9x + 250.34 dengan memasukkan nilai x sebagai densitas distilat yang
di peroleh pada masing-masing fraksi etanol maka didapatkan nilai berturut-urut
sebesar 0.2852; 0.6182; 0.4371; 0.6245; 0.6631; 0.6406; 0.8084; dan 0.6564. Hal
ini tidak sesuai dengan teori yang ada yang seharusnya adalah kadar etanol dalam liquid
berbanding lurus dengan kadar etanol dalam vapor. Hal ini tidak sesuai dengan teori
yang ada di sebabkan karena dalam proses praktikum, termocople yang ada di
rangkaian alat VLE rusak sehingga di ganti dengan thermometer biasa yang bias
mempengaruhi hasil percobaan. Kemudian data yang kami peroleh berasal dari dua
kelompok yang berbeda sehingga hasilnya tidak stabil atau acak. Selanjutnya
persentase larutan etanol yang kami buat ada yang 70,8% dan 96% sehingga
mempengaruhi hasil distilat dan residu yang di peroleh.

PRAKTIKUM OPERASI TEKNIK KIMIA II 19


KESETIMBANGAN UAP CAIR (VLE)

Kurva T - XY
105
100
95
90
T (Celcius)

85 T-X
80 T-Y
75 Poly. (T - X)
70
Poly. (T - Y)
65
60
0 0.1 0.2 0.3 0.4 0.5 0.6 0.7 0.8 0.9 1
X-Y

Grafik 3. Hubungan Antara Kadar Ethanol dalam Distilat dan Residu (x,y) Vs
Temperatur (ToC )
Dari grafik 3. Menandakan bahwa hubungan antara kadar ethanol dalam distilat
dan residu (x,y) vs temperatur (ToC ) fluktuatif (tidak stabil). Yang pertama kadar
etanol dalam distilat (x) vs temperature (T oC ) dengan x sebagai kadar etanol dalam
distilat yang di peroleh pada masing-masing fraksi etanol maka didapatkan nilai
berturut-urut sebesar 0.1146; 0.1612; 0.1494; 0.151 ; 0.3528; 0.1422; 0.3454; dan
0.1358. Yang kedua kadar etanol dalam residu (y) vs temperature (T oC ) dengan y
sebagai kadar etanol dalam residu yang di peroleh pada masing-masing fraksi etanol
maka didapatkan nilai berturut-urut sebesar 0.2852; 0.6182; 0.4371; 0.6245; 0.6631;
0.6406; 0.8084; dan 0.6564. Untuk temperature yang di peroleh dari hasil pengamatan
didapatkan nilai berturut-urut sebesar 91 oC; 91 oC; 90 oC; 84 oC; 85 oC; 92 oC; 75 oC;
dan 90 oC. Hal ini tidak sesuai dengan teori yang ada. Seharusnya adalah kadar etanol
dalam distilat dan residu berbanding terbalik dengan temperature. Semakin besar kadar
etanol dalam distilat dan residu, maka semakin kecil temperature yang di peroleh. Hal
ini tidak sesuai dengan teori yang ada disebabkan karena beberapa factor yang
mempengaruhi hasil percobaan

PRAKTIKUM OPERASI TEKNIK KIMIA II 20


KESETIMBANGAN UAP CAIR (VLE)

Hubungan Antara ln γ1 VS ln γ2
0.8

0.6

0.4

0.2

0
0 0.1 0.2 0.3 0.4 0.5 0.6 0.7 0.8 0.9 1
-0.2

-0.4

ln γ1 ln γ2

Grafik 4. Hubungan Antara ln 𝛾1 VS ln𝛾2


Dari Grafik 4. Menandakan bahwa Hubungan Antara ln 𝛾1 VS ln𝛾2 fluktuatif (tidak
stabil). Yang pertama adalah x vs ln𝛾1 dengan nilai x sebagai kadar etanol dalam liquid
nilai yang di peroleh berturut-urut sebesar 0.1146; 0.1612; 0.1494; 0.151 ; 0.3528;
0.1422; 0.3454; dan 0.1358. Untuk ln𝛾1 sebagai koefisien aktivitas etanol, nilai yang
di peroleh berturut-urut sebesar 0.4230; 0.8558; 0.6221; 1.1926; 0.3664; 1.6334;
0.9787; dan 1.1234. Yang pertama adalah x vs ln𝛾1dengan nilai x sebagai kadar etanol
dalam liquid. Untuk ln𝛾2 sebagai koefisien aktivitas air, nilai yang di peroleh berturut-
urut sebesar 0.1157; -0.4573; -0.0454; -0.2165; -0.0927; -0.5779; -0.2649; dan -0.5548.

PRAKTIKUM OPERASI TEKNIK KIMIA II 21


KESETIMBANGAN UAP CAIR (VLE)

Hubungan Antara X1 VS GE/R.T.x1.x2


1
y = 0.6734x + 3E-05
0.8 R² = 1
ln γ1, ln γ2, GE/RT X1X2

0.6 GE/RT X1 X2
0.4 ln γ1
0.2 ln γ2

0 Linear (GE/RT X1 X2)


0 0.2 0.4 0.6 0.8 Linear (ln γ1)
-0.2
Linear (ln γ2)
-0.4

-0.6
X1

Grafik 5. Hubungan Antara ln 𝛾1, , ln 𝛾2 dengan GE/RT 𝑥1 𝑥2


Menandakan bahwa Hubungan Antara ln 𝛾1 VS ln𝛾2 fluktuatif (tidak stabil). Yang
pertama adalah x vs ln𝛾1 dengan nilai x sebagai kadar etanol dalam liquid nilai yang di
peroleh berturut-urut sebesar 0.1146; 0.1612; 0.1494; 0.151 ; 0.3528; 0.1422; 0.3454;
dan 0.1358. Untuk ln𝛾1 sebagai koefisien aktivitas etanol, nilai yang di peroleh
berturut-urut sebesar 0.4230; 0.8558; 0.6221; 1.1926; 0.3664; 1.6334; 0.9787; dan
1.1234. Yang pertama adalah x vs ln𝛾1dengan nilai x sebagai kadar etanol dalam liquid.
Untuk ln𝛾2 sebagai koefisien aktivitas air, nilai yang di peroleh berturut-turut sebesar
0.1157; -0.4573; -0.0454; -0.2165; -0.0927; -0.5779; -0.2649; dan -0.5548. Pada grafik ini
digunakan untuk menentukan nilai parameter dan diperoleh harga A12 = 0,74 dan A21
= -2,1.

PRAKTIKUM OPERASI TEKNIK KIMIA II 22


KESETIMBANGAN UAP CAIR (VLE)

IV.3 Pembahasan
Kesetimbangan dapat diartikan suatu keadaan dimana tidak terjadi perubahan
sifat makroskopis dari sistem terhadap waktu. Kesetimbangan uap-cair dapat
ditentukan ketika ada variabel yang tetap (konstan) pada suatu waktu tertentu. Saat
kesetimbangan model ini, kecepatan antara molekul-molekul campuran yang
membentuk fase uap sama dengan kecepatan molekul-molekulnya membentuk cairan
kembali.
Larutan biner adalah larutan yang mengandung dua komponen yaitu komponen
zat terlarut dan komponen pelarut. Larutan biner memiliki beberapa sifat yakni
homogen, tidak mempunyai entalpi pencampuran dan tidak ada volume pencampuran.
Larutan ideal adalah larutan yang gaya tarik menarik molekul-molekul komponennya
sama dengan gaya tarik menarik antara molekul dari masing-masing komponennya.
Larutan zat A dan B jika bersifat ideal, maka gaya tarik antara molekul A dan B, sama
dengan gaya tarik antara molekul A dan A atau antara B dan B. Semua komponen
dalam larutan ideal (pelarut dan zat terlarut) mengikuti hukum Raoult pada seluruh
selang konsentrasi.
Azeotrop adalah campuran dengan komposisi yang konstan pada tekanan
tertentu. Jika tekanan total diubah, baik titik didih maupun komposisi azeotrop juga
akan berubah. Azeotrop bukan merupakan suatu senyawa pasti yang komposisinya
konstan pada seluruh range temperatur dan tekanan, tetapi merupakan suatu campuran
yang dihasilkan dari interaksi gaya intermolekuler dalam larutan. Kondisi ini terjadi
karena ketika azeotrop di didihkan, uap yang dihasilkan juga memiliki perbandingan
konsentrasi yang sama dengan larutannya semula akibat ikatan antar molekul pada
kedua larutannya.
Percobaan yang telah dilakukan tentang kesetimbangan uap cair pada sistem
biner bertujuan untuk mendapatkan data kesetimbangan uap cair system biner pada
kondisi isobaric, untuk menggambar kurva T-xy, dan untuk mendapatkan parameter
persamaan koefisien aktifitas pada fasa cair yaitu parameter Margules, Van Laar, dan
Wilson berdasarkan korelasi data kesetimbangan uap cair system biner. Percobaan ini
akan dilakukan dengan proses destilasi. Destilasi merupakan teknik pemisahan yang
didasari atas perbedaan titik didih dari masing-masing zat penyusun dari campuran
homogen. Proses destilasi terdapat dua tahap proses yaitu tahap penguapan dan
dilanjutkan dengan tahap pengubahan kembali uap menjadi cair. Proses destilasi
diawali dengan pemanasan, sehingga zat yang memiliki titik didih lebih rendah akan

PRAKTIKUM OPERASI TEKNIK KIMIA II 23


KESETIMBANGAN UAP CAIR (VLE)

menguap. Uap tersebut bergerak menuju kondensor yaitu pendingin, proses


pendinginan terjadi karena kedalam dinding (bagian luar kondensor) dialiri air
sehingga uap yang dihasilkan akan kembali cair. Saat destilasi ini akan diperoleh titik
didih alkohol. Suhu kesetimbangan diperoleh pada masing-masing fraksi etanol air 0,2
; 0,3 ; 0,4 ; 0,5 ; 0,6 ; 0,7; ;0,8 ; 0,9 berturut-turut yaitu 91oC, 91 oC, 90 oC, 84 oC, 85
o
C, 92 oC, 75 oC, dan 90 oC.
Hal pertama yang dilakukan adalah mengencerkan etanol 96% menggunakan
air menjadi menjadi fraksi etanol 0,2 ; 0,3 ; 0,4 ; 0,5 ; 0,6 ; 0,7; ;0,8 ; 0,9 dengan volume
100ml. Larutan yang sudah diencerkan kemudian dimasukkan ke dalam labu destilasi
untuk didestilasi. Destilasi dihentikan pada saat sudah mencapai suhu
kesetimbangannya yaitu dimana suhu nya sudah konstan. Sebelum itu membuat kurva
kalibrasi antara fraksi etanol versus densitas untuk menghitung kadar residu dan kadar
kondensat. Selanjutnya dicatat suhunya dan dihitung densitasnya pada masing –masing
kondensat dan residu.

PRAKTIKUM OPERASI TEKNIK KIMIA II 24


KESETIMBANGAN UAP CAIR (VLE)

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
V.1 Kesimpulan
1. Berdasarkan percobaan didapatkan suhu kesetimbangan etanol-air pada
masing-masing fraksi etanol 0,2 ; 0,3 ; 0,4 ; 0,5 ; 0,6 ; 0,7; ;0,8 ; 0,9 berturut-
turut yaitu 91oC, 91 oC, 90 oC, 84 oC, 85 oC, 92 oC, 75 oC, dan 90 oC.
2. Pada grafik antara ln γ1, ln γ2, dan GE/RT.x1.x2 didapatkan nilai parameter
A12 = 0,74 dan A21 = -2,1.
3. Pada Persamaan Margules didapatkan koefisien aktivitas pada pada masing-
masing fraksi etanol 0,2 ; 0,3 ; 0,4 ; 0,5 ; 0,6 ; 0,7; ;0,8 ; 0,9 berturut-turut pada
γ1 yaitu 1,072 ; 0,883 ; 0,924 ; 0,918 ; 0,588 ; 0,951 ; 0,592 ; 0,976. Dan pada
γ2 yaitu 1,039 ; 1,071 ; 1,062 ; 1,064 ; 1,216 ; 1,057 ; 1,212 ; 1,053.
4. Pada Persamaan Van Laar didapatkan koefisien aktivitas pada pada masing-
masing fraksi etanol 0,2 ; 0,3 ; 0,4 ; 0,5 ; 0,6 ; 0,7; ;0,8 ; 0,9 berturut-turut pada
γ1 yaitu 2,253 ; 2,342 ; 2,318 ; 2,321 ; 3,107 ; 2,304 ; 3,054 ; 2,291 . Dan pada
γ2 yaitu 0,995 ; 0,988 ; 0,990 ; 0,990 ; 0,887 ; 0,991 ; 0,896 ; 0,992.
5. Suhu kesetimbangan etanol-air berbanding terbalik dengan fraksi etanol.
Semakin besar fraksi etanol maka suhu kesetimbangannya semakin rendah
karena semakin dekat dengan titik didih dari etanol.
6. Semakin besar fraksi etanol maka semakin rendah densitasnya karena etanol
memiliki densitas lebih rendah daripada air.
V.2 Saran
1. Sebaiknya praktikan melakukan pengamatan suhu lebih teliti agar didapatkan
hasil yang akurat.
2. Sebaiknya alat-alat dibersihkan terlebih dahulu sebelum digunakan agar tidak
ada campuran zat lain yang dapat mempengaruhi hasil percobaan
3. Sebaiknya volume etanol-air nya ditambah agar saat proses destilasi liquid di
dalam labu tidak habis dan waktu pengukuran suhu liquid dapat sesuai.

PRAKTIKUM OPERASI TEKNIK KIMIA II 25


KESETIMBANGAN UAP CAIR (VLE)

DAFTAR PUSTAKA

Budi. 2014. “Jurnal Media Teknik”. Volume 11. Hal 1.


Rasmito, Agung. 2016. “The Use of Willson Equation, NTRL, and Uniquac in
Predicting VLE of Ternary Systems”. Volume 1. Hal 1.
Sutijan. 2004. “Media Teknik”. Volume 3. Hal 44.
Perry, Robert H. 1997. “Perry’s Chemical Engineering Handbook”. EGC:Jakarta.

PRAKTIKUM OPERASI TEKNIK KIMIA II 26


KESETIMBANGAN UAP CAIR (VLE)

LAMPIRAN 1

Berat pikno kosong : 11,56 gr


Tabel 3. Pengamatan Densitas dan Kadar Etanol-Air
Kadar
Berat
Fraksi Berat Pikno Densitas Densitas Etanol Kadar Etanol
Pikno
Etanol Kondensat Kondesat Residu Dalam Dalam Vapor
Residu
Liquid
0,1 20,27 19,889 0,871 0,8329 0,05 0,188830868

0,2 20,06 19,974 0,85 0,8414 0,0989 0,285215


0,3 19,86 20,1265 0,83 0,85665 0,1456 0,43718908
0,4 19,6945 20,3265 0,81345 0,87665 0,2347 0,618208286
0,5 19,6895 20,4281 0,81295 0,88681 0,256 0,624554539
0,6 19,677 20,5873 0,8117 0,90273 0,2799 0,640657805
0,7 19,66 20,7843 0,81 0,92243 0,3 0,66310844
0,8 19,625 20,837 0,8065 0,9277 0,557 0,711363697
0,9 19,56 20,96 0,8 0,94 0,7579 0,80848

PRAKTIKUM OPERASI TEKNIK KIMIA II 27


KESETIMBANGAN UAP CAIR (VLE)

LAMPIRAN 2

Mengamati temperature yang Mengamati temperature yang ada di liquid dan


ada di liquid sampai konstan vapor sampai konstan

Menimbang berat dari hasil


distilat dan residu

PRAKTIKUM OPERASI TEKNIK KIMIA II 28


KESETIMBANGAN UAP CAIR (VLE)

APPENDIX

1. Perhitungan fraksi berat (Etanol 30%)


3
Etanol (1) : 𝑉̅1 = 56.3 𝑐𝑚 ⁄𝑚𝑜𝑙
3
Etanol (2) : 𝑉̅2 = 17.765 𝑐𝑚 ⁄𝑚𝑜𝑙

- 𝑉 = 𝑋1 𝑉̅1 + 𝑋2 𝑉̅2
3 3
= (0.3)(56.3 𝑐𝑚 ⁄𝑚𝑜𝑙 ) + (0.7)(17.765 𝑐𝑚 ⁄𝑚𝑜𝑙 )
3
= 29.3255 𝑐𝑚 ⁄𝑚𝑜𝑙
𝑉𝑡 100 𝑐𝑚3
- 𝑛𝑡𝑜𝑡𝑎𝑙 = = 3 = 0.341 𝑚𝑜𝑙
𝑉 29.3255 𝑐𝑚 ⁄𝑚𝑜𝑙

𝑛(1) = (0.3)𝑥 (0.341 𝑚𝑜𝑙) = 0.1023 𝑚𝑜𝑙


𝑛(2) = (0.7)𝑥(0.341 𝑚𝑜𝑙) = 0.2387 𝑚𝑜𝑙
- Massa etanol = 𝑛(1) 𝑥 𝐵𝑚
𝑔𝑟
= 0.1023 𝑚𝑜𝑙 𝑥 46.07 ⁄𝑚𝑜𝑙
= 4.7129 𝑔𝑟
- Massa aquadest = 𝑛(2) 𝑥 𝐵𝑚
𝑔𝑟
= 0.2387 𝑚𝑜𝑙 𝑥 18.02 ⁄𝑚𝑜𝑙
= 4.301374 𝑔𝑟
𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑒𝑡𝑎𝑛𝑜𝑙
- Fraksi etanol (berat) = 𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑒𝑡𝑎𝑛𝑜𝑙+𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑎𝑞𝑢𝑎𝑑𝑒𝑠𝑡
4.7129 𝑔𝑟
= 4.7129 𝑔𝑟+4.301374 𝑔𝑟

= 0.5228
𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑎𝑞𝑢𝑎𝑑𝑒𝑠𝑡
- Fraksi aquadest (berat) = 𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑒𝑡𝑎𝑛𝑜𝑙+𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑎𝑞𝑢𝑎𝑑𝑒𝑠𝑡
4.7129 𝑔𝑟
= 4.7129 𝑔𝑟+4.301374 𝑔𝑟

= 0.4772
2. Densitas Larutan
𝑝𝑖𝑘𝑛𝑜𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟𝑖𝑠𝑖 − 𝑝𝑖𝑘𝑛𝑜𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟𝑘𝑜𝑠𝑜𝑛𝑔
𝜌=
𝑣𝑜𝑙𝑢𝑚𝑒𝑝𝑖𝑘𝑛𝑜𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟
19.84 𝑔𝑟 − 11.56 𝑔𝑟
=
10 𝑚𝑙
𝑔𝑟
= 0.828 ⁄𝑚𝑙

PRAKTIKUM OPERASI TEKNIK KIMIA II 29


KESETIMBANGAN UAP CAIR (VLE)

3. Densitas Residu
𝑝𝑖𝑘𝑛𝑜𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟𝑖𝑠𝑖 − 𝑝𝑖𝑘𝑛𝑜𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟𝑘𝑜𝑠𝑜𝑛𝑔
𝜌=
𝑣𝑜𝑙𝑢𝑚𝑒𝑝𝑖𝑘𝑛𝑜𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟
20.368 𝑔𝑟 − 11.56 𝑔𝑟
=
10 𝑚𝑙
𝑔𝑟
= 0.8808 ⁄𝑚𝑙

4. Densitas Distilat
𝑝𝑖𝑘𝑛𝑜𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟𝑖𝑠𝑖 − 𝑝𝑖𝑘𝑛𝑜𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟𝑘𝑜𝑠𝑜𝑛𝑔
𝜌=
𝑣𝑜𝑙𝑢𝑚𝑒𝑝𝑖𝑘𝑛𝑜𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟
19.6945 𝑔𝑟 − 11.56 𝑔𝑟
=
10 𝑚𝑙
𝑔𝑟
= 0.8345 ⁄𝑚𝑙
5. Kadar etanol
Persamaan dari kurva kalibrasi
𝑦 = −312.16𝑥 3 + 869.71𝑥 2 − 807.9𝑥 + 250.34
- Kadar etanol dalam liquid (etanol 30%)
𝑔𝑟
Densitas : 0.8808 ⁄𝑐𝑚3

𝑦 = −312.16(0,8808)3 + 869.71(0.8808)2 − 807.9(0.8808) + 250.34


𝑦 = 0.161217099
- Kadar etanol dalam vapor (etanol 30%)
𝑔𝑟
Densitas : 0.81345 ⁄𝑐𝑚3
𝑦 = −312.16(0,81345)3 + 869.71(0.81345)2 − 807.9(0.81345) + 250.34
𝑦 = 0.6182
-

PRAKTIKUM OPERASI TEKNIK KIMIA II 30