Anda di halaman 1dari 20

LAPORAN PRAKTIKUM

TANAMAN PADI DI DATARAN SEDANG

Disusun Guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah Dasar Agronomi

Dosen Pengampu : Renan Subantoro, SP., M.Sc.

Disusun Oleh :

Kelompok 2

Inayah Rahmawati Putri U. 164010038


Dessriana Eka W. 164010028
Nafis Khoerodin 164010039
Eko Wahyu Widodo 164010016
Bennias Adi 164010069
Bagus Aji 154010040

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS WAHID HASYIM SEMARANG

2017

i
LEMBAR PENGESAHAN

LAPORAN PRAKTIKUM
TANAMAN PADI DI DATARAN SEDANG

Laporan praktikum ini telah disetujui pada tanggal :

Disusun Oleh :

Mahasiswa Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian


Universitas Wahid Hasyim Semarang

Inayah Rahmawati Putri Utami Dessriana Eka Wicaksono


NIM : 164010038 NIM : 164010028

Nafis Khoerodin Eko Wahyu Widodo


NIM : 164010039 NIM : 164010016

Benias Adii Bagus Aji


NIM : 164010027 NIM : 154010040

Mengetahui, Semarang, 17 Juni 2017

Dosen Mata Kuliah Dasar Agronomi Asisten Paraktikum

Renan Subantoro, SP., M.Sc. Karsani


NPP : 0603067202 NIM : 144010070

ii
KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr. Wb.

Segala puji bagi Allah SWT dzat yang menciptakan alam semesta beserta isinya.
Dengan rahmat, karunia serta inayah-Nyalah akhirnya makalah ini bisa selesai disusun.
Sholawat serta salam kami sampaikan pula kepada junjungan kita Nabi besar
Muhammad SAW, beserta keluarga sahabat-sahabat dan para pengikutnya sampai akhir
zaman.

Laporan ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah “Dasar Agronomi”
yang diberikan kepada kami. Adapun laporan ini berjudul Tanaman Padi di Dataran
Sedang..

Kami mengucapkan terima kasih kepada orang-orang yang telah membantu


dalam pembuatan makalah ini, antara lain :

1. Bapak Renan Subantoro, SP.,M.Sc., selaku dosen pengampu.


2. Orang tua kami yang selalu membantu, baik secara moril dan materil.

Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, namun kami
tetap berharap agar kehadiran makalah ini tetap membawa manfaat. Kesempurnaan
hanya milik Allah SWT, kami minta maaf jika terdapat kekurangan dalam pembuatan
makalah ini.

Wassalamualaikum Wr. Wb

Semarang, 17 Juni 2017

Penyusun

iii
DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL ......................................................................................... i

LEMBAR PENGESAHAN ................................................................................. ii

KATA PENGANTAR ....................................................................................... iii

DAFTAR ISI ...................................................................................................... iv

BAB I PENDAHULUAN ................................................................................... 1

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ......................................................................... 3

BAB III METODE PRAKTIKUM ..................................................................... 7

BAB IV PEMBAHASAN .................................................................................... 9

BAB V PENUTUP ............................................................................................ 14

DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................ 15

LAMPIRAN ...................................................................................................... 16

iv
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar belakang
Padi (Oryza sativa) adalah bahan paku pangan yang vital bagi Indonesia,
dimana mayoritas petani Indonesia membudidayakan tanaman padi. Tanaman
padi merupakan komoditas tanaman pangan utama yang menjadi jantung bagi
petani Indonesia karena padi dikonsumsi setiap hari oleh manusia. Padi sebagai
tanaman pangan semusim, sehingga tanaman padi dapat dibudidayakan secara
terus menerus. Tanaman padi merupakan tanaman lahan basah atau sawah
dengan sistem tergenang. Petani di Indonesia dalam melakukan budidaya
tanaman padi disudutkan pada berbagai masalah dalam melaksanakan budidaya
tanaman. Semakin sempitnya lahan-lahan pertanian yang disebabkan oleh alih
fungsi lahan menjadi non pertanian membuat komoditas padi di Indonesia
semakin tahun menurun kuantitasnya. Sistem pertanian yang dilakukan oleh
petani kebanyakan menggunakan penanaman secara intensif.
Tanaman padi tumbuh di daerah dengan iklim tropis dan subtropis
dengan gari lintang 45 lintang utara dan 45 lintang selatan dengan kondisi
panas dan kelembaban yang tinggi. Tanaman padi menghendaki sinar matahari
penuh selama 12 jam. Berbagai sistem tanam yang dilakukan oleh petani, namun
sistem tanam jajar legowo mulai banyak diterapkan di Indonesia. Berdasarkan
permasalahan yang mendasar pada cuaca dan iklim di negara tropis sangat sulit
untuk ditentukan. Penanaman tanaman padi sebaiknya serentak untuk
memperoleh hasil produksi yang maksimal dan mencegah berkembangnya hama
dan penyakit. Produktivitas tanaman padi sangat ditentukan oleh beberapa faktor
penting yang perlu mendapat perhatian.

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana karakteristik padi yang tumbuh di dataran sedang ?
2. Bagaimana cara pembudidayaan tanaman padi yang baik ?
3. Apa saja hama dan penyakit yang menyerang tanaman padi ?

1
C. Tujuan
1. Mengetahui karakteristik padi yang tumbuh di dataran sedang
2. Mengetahui cara-cara pembudidayaan tanaman padi yang baik
3. Mengetahui hama dan penyakit yang menyerang tanaman padi

2
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Teknik Budidaya Tanaman Padi


1) Pemilihan Bibit
Pekerjaan penanaman didahului dengan pekerjaan pencabutan bibit di
pesemaian. Bibit yang akan dicabut adalah bibit yang sudah berumur 25-40 hari
(tergantung jenisnya), berdaun 5-7 helai. Sebelum pesemaian 2 atau 3 hari tanah
digenangi air agar tanah menjadi lunak dan memudahkan pencabutan.
Caranya, 5 sampai 10 batang bibit kita pegang menjadi satu kemudian
ditarik ke arah badan kita, usahakan batangnya jangan sampai putus. Ciri-ciri
bibit yang baik antara lain:

· Umurnya tidak lebih dari 40 hari

· Tingginya kurang lebih dari 40 hari

· Tingginya kurang lebih 25 cm

· Berdaun 5-7 helai

· Batangnya besar dan kuat

· Bebas dari hama dan penyakit

Bibit yang telah dicabut lalu diikat dalam satu ikatan besar untuk
memudahkan pengangkutan. Bibit yang sudah dicabut harus segera ditanam,
jangan sampai bermalam. Penanaman padi yang baik harus menggunakan
larikan ke kanan dan kiri dengan jarak 20 x 20 cm, hal ini untuk memudahkan
pemeliharaan, baik penyiangan atau pemupukan dan memungkinkan setiap
tanaman memperoleh sinar matahari yang cukup dan zat-zat makanan secara
merata.

Dengan berjalan mundur tangan kiri memegang bibit, tangan kanan


menanam, tiap lubang 2 atau 3 batang bibit, dalamnya kira-kira3 atau 4 cm.
usahakan penanaman tegak lurus jangan sampai miring.Usahakan penanaman

3
bibit tidak terlalu dalam ataupun terlalu dangkal. Bibit yang ditanam terlalu
dalam akan menghambat pertumbuhan akar dan anakannya sedikit. Bibit yang
ditanam terlalu dangkal akan menyebabkan mudah reba atau hanyut oleh aliran
air. Dengan demiikian jelas bahwa penanaman bibit yang terlalu dalam maupun
terlalu dangkal akan berpengaruh pada hasil produksi.

2) PEMELIHARAAN
a) Pengairan
Air merupakan syarat mutlak bagi pertumbuhan tanaman padi sawah.
Masalah pengairan bagi tanaman padi sawah merupakan salah satu factor
penting yang harus mendapat perhatian penuh demi mendapat hasil panen
yang akan datang.
Air yang dipergunakan untuk pengairan padi di sawah adalah air yang
berasal dari sungai, sebab air sungai banyak mengandung lumpur dan
kotoran-kotoran yang sangat berguna untuk menambah kesuburan tanah dan
tanaman. Air yang berasal dari mata air kurang baik untuk pengairan sawah,
sebab air itu jernih, tidak mengandung lumpur dan kotoran.

b) Penyiangan dan Penyulaman


Setelah penanaman, Apabila tanaman padi ada yang mati harus segera
diganti (disulam). Tanaman sulam itu dapat menyamai yang lain, apabila
penggantian bibit baru jangan sampai lewat 10 hari sesudah tanam.
Selain penyulaman yang perlu dilakukan adalah penyiangan agar
rumput-rumput liar yang tumbuh di sekitar tanaman padi tidak bertumbuh
banyak dan mengambil zat-zat makanan yang dibutuhkan ttanaman padi.
Penyiangan dilakukan dua kali yang pertama setelah padi berumur 3 minggu
dan yang kedua setelah padi berumur 6 minggu.

c) Pemupukan
Pemupukan bertujuan untuk menambah zat-zat dan unsur-unsur makanan
yang dibutuhkan oleh tanaman di dalam tanah. Untuk tanaman padi, pupuk
yang digunakan antara lain:

4
1. Pupuk alam, sebagai pupuk dasar yang diberikan 7-10 hari sebelum
tanaman dapat digunakan pupuk-pupuk alam, misalnya: pupuk hijau, pupuk
kandang, dan kompos. Banyyaknya kira-kira 10 ton / ha.

2. Pupuk buatan diberikan sesudah tanam, misalnya: ZA/Urea, DS/TS, dan


ZK. Adapun manfaat pupuk tersebut sebagai berikut:

 ZA/Urea : menyuburkan tanah, mempercepat tumbuhnya anakan,


mempercepat tumbuhnya tanaman, dan menambah besarnya gabah.
 DS/TS : mempercepat tumbuhnya tanaman, merangsang pembungaan
dan pembentukan buah, mempercepat panen.
 ZK : memberikan ketahanan tanaman terhadap hama / penyakit, dan
mempercepat pembuatan zat pati.
d) Perlindungan dari hama dan penyakit
Pencegahan hama dan penyakit dapat dilakukan dengan memperoleh
bibit yang baik, pemeliharaan secara optimal juga pemberian pestisida sesuai
dengan hama peyerangnya.
3) Pemanenan
Padi perlu dipanen pada saat yang tepat untuk mencegah kemungkinan
mendapatkan gabah berkualitas rendah yang masih banyak mengandung butir
hijau dan butir kapur. Padi yang dipanen mudah jika digiling akan menghasilkan
beras pecah. Saat panen padi dapat dipengaruhi oleh musim tanam.
Pemeliharaan tanaman dan pertumbuhan, serta tergantung pula pada jenisnya.
Secara umum padi dipanen saat berumur 80-110 hari apabila tanaman padi
menunjukkan ciri-ciri berikut berarti tanaman sudah siap dipanen:
 Bulir-bulir padi dan daun bendera sudah menguning.
 Tangkai menunduk karena sarat menanggung butir-butir padi atau gabah
yang bertambah berat.
 Butir padi bila ditekan terasa keras dan berisi, jiak dikupas tidak berwarna
kehijauan atau putih agak lembek seperti kapur.
a) Cara Panen
Alat panen yang tepat penting agar panen menjadi mudah dilakukan
biasanya padi dipanen dengan ani-ani atau sabit.Ani-ani umumnya

5
digunakan untuk memanen jenis padi yang sulit rontok sehingga dipanen
beserta tangkainya, contohnya jenis padi bulu. Namun, alat ini tidak cocok
digunakan untuk penanaman padi sawah.
Sabit digunakan untuk memanen padi yang mudah rontok, misalnya padi
coreh. Namun, karena alat ini dapat memungut hasil lebih cepat serta lebih
gampang memotong batang padi maka alat ini kini lebih banyak digunakan
untuk panen.
b) Perontokan
Perontokan dapat dilakukan dengan menggunakan mesin perintih tresher,
atau menggunakan perontok kaki pedal tresher. Selain itu perontokkan
secara sederhana dapat dilakukan dengan memukulkan batangan padi ke
kayu atau “kotak gebuk” dimana sebelumnya dihamparkan plastik untuk
menampung butir padi yang berhamburan.
c) Pengeringan
Tujuan utama pengeringan ialah untuk menurunkan kadar air gabah
dapat tahan lama disimpan. Selain itu gabah yang masih basah sulit diproses
menjadi beras dengan baik.Bulir- bulir gabah daapt dijemur dengan cara
dihamparkan di atas lantai semen yang bersih dapat pula dihamparkan di atas
plastik. Dalam cuaca panas, sinar matahari mampu mengeringkan gabah
dalam waktu 2-3 hari.
d) Pemisahan kulit gabah
Tahap terakhir usaha bertanam padi ialah menghasilkan beras yang dapat
ditanak menjadi nasi sebagai makanan pokok.Mula-mula gabah yang sudah
dikeringkan perlu dipisahkan dengan gabah hampa atau kotoran yang
mungkin terbawa selama perontokan atau pengeringan, caranya dapat
dengan ditampi. Pemisahan kulit gabah dapat dilakukan dengan huller atau
mesin, cara ini praktis dan cepat. Namun untuk daerah yang tidak memiliki
huller, pemisahan dapat dilakukan dengan penumbuhan padi menggunakan
alu dan lumpang.

6
BAB III

METODE PRAKTIKUM

A. Metode Dasar

Metode yang digunakan dalam praktikum ini adalah metode deskriptif


analisis yaitu prosedur pemecahan masalah yang diselidiki dengan
menggambarkan keadaan obyek-obyek praktikum (status kelompok manusia,
obyek, set kondisi, sistem pemikiran ataupun suatu kelas peristiwa pada masa
sekarang dan gambaran secara sistematis, aktual dan akurat mengenai fakta-fakta,
sifat-sifat hubungan antar fenomena yang diselidiki) dan hasil dari deskriptif
analisis dijelaskan dalam sebuah informasi (Nazir, 1999)

B. Metode Pengambilan Sampel Responden

Metode sampel penentuan responden petani menggunakan metode purposive


sampling. Purposive sampling adalah metode pengambilan responden yang
dilakukan sengaja tetapi dengan pertimbangan tertentu (Made, 2006).

C. Cara Pengambilan Data

1. Wawancara

Pengumpulan data melalui bertanya secara langsung kepada para responden.

2. Pengamatan (Observasi)

Observasi langsung ke tempat kejadian yang akan diteliti dengan mengamati


subyek baik secara formal maupun non formal dengan memberikan berbagai
pertanyaan yang berkaitan dengan praktikum.

3. Kajian Pustaka

Peneliti mengumpulkan data dari sumber pustaka atau hasil praktikum terdahulu
dengantujuan menguatkan praktikum.

D. Jenis Data

Data yang digunakan dalam peneltian ini adalah data primer dan data sekunder

1. Data Primer
Data Primer adalah datayang diperoleh dari sumber pertama, dimana data
primer ini diperoleh dari hasil wawancara secara langsung kepada para
responden.

7
2. Data sekunder
Data sekunder diperoleh dengan jalan mencari, membaca, menganalisa
dan mengutip literatur-literatur dari berbagai lembaga atau instansi yang ada
hubungannya dengan praktikum.

E. Waktu dan Tempat Praktikum


1. Hari dan tanggal : Minggu, 2 Juni 2017
2. Waktu : 10.30-12.00 WIB
3. Tempat : Desa Wasen Lama Gunung Pati Semarang

8
BAB IV

PEMBAHASAN

A. Keadaan Umum Daerah


1. Keadaan Alam
Desa Wasen Lama merupakan desa yang berda di kecamatan gunung pati.
Desa tersebut dibatasi sebelah selatan Desa Kandri yang merupakan Desa
Wisata.

Kecamatan Gunung Pati merupakan daerah pengembangan kota yang


memiliki luas wilayah 5.399.085 ha. Jumlah penduduknya mencapai 70.901 jiwa
atau 20.608 kk yang terhimpun dari 89 RW dan 418 RT.

Desa Wasen Lama yang masih nampak alamiah dengan pepohonan rindang
dan hawanya yang sejuk memiliki masyarakat yang mayoritas bermata
pencaharian bertani.

Desa Wasen Lama merupakan salah satu desa di Kecamatan Gunung Pati
yang terletak pada dataran tinggi dengan tingkat suhu rata-rata 27-40o C. Curah
hujan rata-rata setiap tahunn di daerah ini sekitar 200mm. Kondisi tersebut
menyebabkan sebagian besar masyarakat mencari nafkah dibidang pertanian.

Desa Wasen Lama terletak 19 km ke arah pusat Kota Semarang, dengan


kekayaan alam yang melimpah menjadikan kawasan ini sangat sesuai untuk
pengembangan agribisnis. Lahan yang mereka kelola selama ini merupakan
lahan milik warga, namun dengan berjalannya waktu pemerintah mencoba untuk
bekerjasama dengan warga dalam meningkatkan nilai guna hasil pertanian agar
dapat bersaing dengan daerah lain.

2. Keadaan Pertanian
Desa Wasen Lama merupakan daerah pertanian dataran sedang, daerah
tersebut sangat berpotensi untuk ditanami padi, karena sistem pengairan yang
lumayan bagus dan jarang terjadi kekeringan

9
Luas tanah sawah terdiri dari sawah tadah hujan dan sawah pengairan
teknis, tanah pekarangan, tegalan, hutan, perkebunan dll. Tanah sawah
pengairannya berdasarkan aliran air sungai. Jenis tanaman yang dibudidayakan
meliputi : padi, jagung, kacang-kacangan, buah-ah dan sayur-sayuran.

Tanah pengarangan yang dibudidayakan meliputi buah-buahan (mangga,


pisang, kelapa, jambu, nangka). Hutan di Desa Kalisegoro yang merupakan
tanah negara. Jenis tanaman yang diusahakan sebagian besar merupakan
tanaman tahunan yaitu pohon jati

B. Identitas Responden
Responden yang kami ambil untuk praktikum ini adalah petani padi di Desa
Wasen Lama yaitu Ibu Muslihah. Beliau berusia 56 tahun dan sudah sejak kecil
bertani padi. Walaupun beliau tidak berpendidikan formal, beliau termasuk petani
yang kreatif mennciptakan inovasi dalam pertanian.
Jumlah anggota keluarga 4 orang yang terdiri dari 1 orang suami dan 2 orang
anak. Suami ibu Muslihah juga berprofesi sebagai petani. Lahan yang digunakan
dalam usaha tani padi ini seluas 2000 m2. Sumber pengairannya berasal dari air
irigasi ( Kalen ).

C. Karakteristik Padi di Dataran Sedang


No Uraian Keterangan
1. Syarat benih bermutu Varietas bersertifikat dengan tingkat
kemurnian 98% dan daya tubuh 90%

2. Penyiapan benih sebelum disemai Seleksi benih dilakukan untuk


memperoleh benih yang benar dengan
cara dicuci bersih dan direndam dalam
air
3. Teknik penyemaian padi Persemaian basah

4. Varietas padi yang ditanam Jenis syehera

5. Jenis pupuk Posku,MPK,urea

10
6. Tinggi tanaman padi 30-35 cm

7. Jumlah daun 4-5 helai

8. Jumlah malai 3-4 tangkai

9. Jumlah bulir 40-45 bulir

10. Jumlah tangkai dalam 1 rumpun 3-4 tangkai

D. Cara Pembudidayaan Padi


Areal persawahan pada umumnya yang hendak ditanami padi harus terlebih
dahulu diolah dan diberi perlakuan khusus agar nantinya dapat menghasilkan
padiyang maksimal. Dalam sebuah setudi kasus yang saya teliti di suatu persawahan
padi di daerah dataran sedang tepatnya di desa kalisegoro dalam pengolahan tanah
sendiri masaih menggunakan cara-cara manual dan tradisional.dari aspek perrairan
kawasan ini meng tercukupi oleh ketersediaan air dikarnakan posisi sawah yang
berada di sekitar pantai ± 1 km dari laut dan berdekatan dengan sungai besar
sehingga untuk pengolahan sawah tidak terlalu sulit meski cara pengolahannya
menggunakan cara manual.
Adapun cara penanaman padi para petani juga menggunakan cara manual
karena apabila menggunakan mesin tanam yang modern hasilnya tidak efesien, oleh
sebab itu petani cenderung menggunakan cara manual. Untuk penanaman sendiri
dalam setahun petani dapat menanam padi bisa sampai 3 kali karena dipengaruhi
ketersediaan air dari sungai di sekitar nya. Petani juga hanya mengandalkan air
hujan.
1. Pengolahan lahan
Dilakukan beberapa tahapan seperti : pembersihan tanaman pengganggu
(rambang) dengan menggunakan parang (dilakukan penebasan ),selain penebasan
ada juga petani yang menggunakan herbisida sistematik maupun kontak untuk
membasmi tanaman tersebut, malah ada yang menggunakan 2 metode tersebut di
atas secara bersamaan. Penyangkulan tanah atau pembajakan mesin traktor dan
pemberian pupuk (urea)
2. Waktu tanam

11
Waktu tanam di lakukan pada bulan oktober hingga september hal ini
biasanya bertepatan dengan awal musim hujan, karena hujan kadang tidak pasti
biasanya para petani menunggu hujan tiba (atau hanya mengandal kan sistem
tadah hujan ) baru melakukan penanaman.
3. Penanaman
Para para petani sempat melakukan penanaman dengan cara di tunggal
namunada juga beberapa petani melakukan dengsn teknik sebar.
4. Pemeliharaan
Hal yang tidak pernah di lakukan petani setempat adalah melakukan
penyiraman, mereka hanya menggunakan curah hujan untuk kebutuhan air pada
tanaman mereka, trapi ketika air di sungai para petani juga mengambil perairan
dari sungai. Penyiangan terhadap gulma dengan cara penyemprotan herbisida
sedangkan pemupukan di lakukan pada saat penyiapan lahan selanjutnya petani
tidak melakukan lagi. Dosis pupuk yang di gunakan oleh petani terkadang tidak
sesuai dengan anjuran mereka menggunakan nya asal-asala, jarang menggunakan
perhitungan yang sebenarnya.
5. Panen
Panen dilakukan masih dengan cara tradisiopnal yaitu dengan cara penebasan
semua tanaman padi kemudian di dos atau istilah nya di rontokan dengan mesin dan
gotong royong.

Dalam budidaya tanpa olah tanah untuk mengendalikan gulma di gunakan


pestisida sebelum pemberian herbisida dilakukan. Gulma terutama alang-alang di
rebah kan atau di bakar dulu, setelah tumbuh sekitar 60 cm (tidak sedang berbunga)
baru di adakan penyemprotan.

E. Pengendalian Hama Dan Penyakit


Hama yang di temui biasanya tikus,burung,wereng, dan ulat hal ini dikarenakan
lahan persaawahan masih dekat dengan perkampungan. Penyakit yang sering ditemui
biasanya daun menimbulkan bercak-bercak dan kekuning-kuningan sebelum waktu
nya. Sementara untuk pengendalian hama burung para petani menggunakan orang-
orangan,untuk hama tikus mereka melakukan pengendalian alami dengan

12
memanfaatkan predator sebagai pemangsa misal kucing atau anjing. Beberapa hama
yang menyerang tanaman padi milik petani :
1. Wereng
a) Penyerang batang padi : wereng padi coklat (Nilaparvata lugens), wereng
padi berpunggung putih (Sogatella furcifera)
b) Wereng penyerang daun padi: wereng padi hijau (Nephotettix apicalis
dan N. impicticep). Merusak dengan cara mengisap cairan batang padi
dan dapat menularkan virus.
c) Gejala: tanaman padi menjadi kuning dan mengering, sekelompok
tanaman seperti terbakar, tanaman yang tidak mengering menjadi kerdil.
d) Pengendalian : bertanam padi serempak, menggunakan varitas tahan
wereng seperti IR 36, IR 48, IR- 64, Cimanuk, Progo dsb, membersihkan
lingkungan, melepas musuh alami seperti laba-laba, kepinding dan
kumbang leba, dan penyemprotan BVR.

2. Hama tikus (Rattus argentiventer)


a) Menyerang batang muda (1-2 bulan) dan buah.
b) Gejala : adanya tanaman padi yang roboh pada petak sawah dan pada
serangan hebat ditengah petak tidak ada tanaman.
c) Pengendalian : pergiliran tanaman, tanam serempak, sanitasi, gropyokan,
melepas musuh alami seperti ular dan burung hantu, penggunaan NAT
(Natural Aromatic).
3. Burung
a) Menyerang menjelang panen, tangkai buah patah, biji berserakan.
b) Pengendalian : Mengusir dengan bunyi-bunyian atau orang-orangan.

13
BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan
1. Padi merupakan bahan paku pangan yang vital bagi Indonesia, dimana
mayoritas petani Indonesia membudidayakan tanaman padi.
2. Karakteristik padi yang ditanam oleh responden adalah padi syehera
3. Penanganan terhadap hama padi bisa dilakukan secara alamiah yaitu dengan
rantai makanan yang beradi di sawah dan diberi pestisida dengan dosis
secukupnya

B. Saran
Perlu adanya manajemen usaha tani yang baik sehingga diperoleh
perhitungan keuntungan yang benar guna meningkatkan produksi dan
pendapatan petani.

14
DAFTAR PUSTAKA

Azwar, S. 2003. Metode Penelitian. Pustaka Pelajar. Yogyakarta.

Made, I. 2006. Metodologi Penelitian Sosial Ekonomi . Penerbit Andi. Yogyakarta.

Nazir, M. 1999. Metode Penelitian. Cetakan Keempat. Ghalia Indonesia. Jakarta

Sugiyono, 2008. Metode PenelitianKuantitatif, Kualitatif dan R & D. Bandung :


Penerbit Alfabeta.

15
LAMPIRAN

Kelompok 2 bersama Bu Muslikhah Wawancana dengan Bu Muslikhah

Padi IR 69 Padi Beras ketan

Area Sawah yang terkena banjir Alat ngedos

Hasil panen Awewe Awewe

16